Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘POSITIONING’ Category

MENGINGAT ALLAH…

Saat mengingat Allah, tidak boleh ada bentuk / bayangan apapun, tulisan, suara, cahaya, warna, dan apapun juga di dalam fikiranmu. Semua itu bukanlah Allah, melainkan ciptaan.

Mengingat Allah adalah seperti mengingat namamu atau nama seseorang. Kamu tidak membayangkan namamu, tidak juga kamu mengeja namamu di dalam fikiranmu ketika seseorang memanggil namamu, melainkan kamu langsung meresponnya.

Maka dari itu, saat mengingat Allah, kamu tidak boleh memvisualisasikan/ membayangkan Allah, tidak juga mengeja nama-Nya. Cukup ingat Allah seperti kamu mengingat dirimu sendiri saat ada orang lain memanggil kamu. Atau seperti kamu ingat kepada orang tua kamu. Misalnya ingat kepada ibumu, atau bapakmu.

Allah telah berfirman bahwa tiada apapun serupa dengan Dia, tidak ada pengelihatan yang mampu mencapai-Nya. Simpelnya, Dia adalah Tuhan yang tidak tercapai oleh penglihatan matamu.

Untuk mengingat Allah dalam pikiranmu (minda), kamu harus membersihkan dulu pikiranmu itu dari segala kotoran.
Kekotoran atau pikiran yang kotor akan menghambat peningkatan spiritualmu. Seperti yang Nabi telah katakan, di dalam tubuh anak Adam terdapat segumpal daging, bila segumpal daging itu baik; maka baik pulalah pemiliknya, dan hal tersebut adalah HATI (hati yang halus/ minda / akal). Bukan hati LEVER atau JANTUNG.

Untuk membersihkan semua kotoran di dalam pikiranmu, lakukan hal berikut:

1. Tutup kedua mata fisikmu dan (dengan mata fisik yang masih tertutup) fokuskan kedua matamu secara internal menuju yang ada di dalam fikiranmu. HITAM bola matamu di naikkan sedikit keatas. Setelah itu, coba tarik kelopak matamu, kamu akan mendapati bahwa kelopak matamu seperti tertutup kuat / terkunci. Ini menandakan bahwa matamu sekarang sudah fokus secara internal. Matamu yang fokus secara internal itu (fokus meski dalam keadaan tertutup itu) disebut juga mata hati / mata mental / mata batin.

2. Sekarang, dengan menggunakan fikiranmu, baca ayat-ayat Al Quran berikut: Al Ikhlas 3x, Al Falaq 1x, An Nas 1x, Al fatihah 1x. Semua bacaan itu dilakukan di dalam fikiranmu atau secara mental, bukan kamu ucapkan dengan lidah atau mulutmu. Jika setelah membaca ayat2 tersebut, mata mental atau mata hatimu masih melihat bahwa fikiranmu masih belum bersih dan belum kosong, maka ulangi lagi membaca ayat-ayat diatas di dalam fikiranmu sampai mata hati atau mata mentalmu melihat bahwa di dalam fikiranmu sudah kosong atau bersih. Biasanya membersihkan pikiranmu dengan cara seperti itu cukup hanya dua putaran saja dalam sekali latihan.

3. Setelah fikiranmu bersih atau kosong, letakkan ingatan kepada Allah di dalam pikiranmu itu, atau ingatlah Allah segera di dalam fikiranmu, dan FOKUSKAN atau TUMPUKAN mata hatimu kepada INGATAN kepada ALLAH itu.

4. Tetaplah fokus selama kamu mampu. Jika kamu bisa terus menerus mempraktekkan ini, maka suatu saat ingatanmu kepada Allah akan terpatri / terkonci / berurat akar di dalam fikiranmu.

5. Begitu mata hatimu bisa fokus pada ingatan kepada Allah di dalam fikiranmu, bukalah pelan-pelan mata fisikmu, pada saat yang sama pertahankan mata mental atau mata hatimu fokus pada ingatan kepada Allah dalam fikiranmu tadi. Sekarang mata mentalmu tidak akan terganggu dengan apapun juga yang kamu lihat dengan mata fisikmu. Latihlah seperti ini secara ISTIQAMAH hingga kamu berhasil atau mahir.

Begitu kamu bisa mempertahankannya, mata mental atau mata hatimu akan fokus pada ingatan kepada Allah di dalam fikiranmu, meskipun saat itu mata fisikmu sedang terbuka. Sebagai latihan alternatif, kamu juga bisa memraktekkannya dalam keadaan mata fisikmu tertutup. Lakukalah masing-masingnya sekitar sepuluh menit.

Jika kamu melakukan praktek ini terus menerus, pada akhirnya mata mental / mata hatimu akan dapat fokus pada ingatan kepada Allah baik dengan mata fisik terbuka ataupun dengan mata fisik tertutup, setiap saat.

Mempertahankan ingatan kepada Allah di dalam fikiranmu, seperti kamu menyalakan lilin. Pastikan lilin itu menyala setiap saat, pastikan mata hatimu bisa tertumpu pada ingatanmu kepada Allah di dalam pikiranmu setiap saat, karena begitu padam, maka setan akan bermain di dalam fikiranmu.

Sekarang, dengan mata mental/ mata hatimu akan bisa pula menyaksikan “Dzat yang sedikit” meliputi segalanya, dan pada saat yang sama kamu juga akan mampu untuk fokus secara mental (dengan mata hati) pada ingatan kepada Allah di dalam fikiranmu / mindamu.

Inilah keadaan “IHSAN”, yang Nabi Muhammad SAW telah sabdakan:

Beribadahlah seperti melihat Allah, jika tidak mampu yakinkan bahwa Allah melihat kamu.

(Ustadz Hussien B. A Latiff, melalui terjemahan Rio Benny Arya)

—- &&& —-

DI DALAM SHALAT dan juga ketika kamu BERDO’A…

Lakukanlah SIKAP IHSAN seperti diatas, lalu kamu bacalah BACAAN SHALAT atau DO’A-DO’A secara NORMAL sesuai dengan ILMU FIKIH. Di dalam shalat mana yang harus kamu JAHAR-KAN ucapkanlah dengan JAHAR. Mana yang harus kamu SIRRI-kan, bacalah dengan BERBISIK dan JELAS. JANGAN hanya kamu baca DI DALAM PIKIRAN atau HATIMU…!!!.

Di dalam berdo’a, lakukanlah dengan berbisik kepada Allah yang sedang kamu ingat, Allah yang sedang kamu jumpai. Tidak perlu kamu berdo’a dengan suara keras dan berteriak-teriak.

Wassalam

Iklan

Read Full Post »

Ya Allah…, Engkau adalah Dzat Yang Maha Indah…

Ya Allah…, Engkau adalah Dzat Yang Maha Agung…

Ya Allah…, berkehendaklah terhadap SEDIKIT dari Dzat-Mu Sendiri, Dzat Yang Dzahir dan Yang Bathin.

Ya Allah…, berkehendaklah terhadap Dzat-Mu Yang Dzahir, yang berwujud dalam bentuk dan rupa semua Ciptaan.

Ya Allah…, berkehendaklah terhadap Dzat-Mu Yang Dzahir, yang membentuk semua Sifat yang terzahir.

Ya Allah…, berkehendaklah terhadap Dzat-Mu Yang Bathin, yang menjadi azas pokok atau hakekat dari semua ciptaan.

Ya Allah…, berkehendaklah terhadap Dzat-Mu Yang Bathin, yang menjadi fondamen atau hakekat bagi semua sifat yang terzahir.

Ya Allah…, berkehendaklan terhadap Dzat-Mu Yang Bathin, Yang Maha meliputi semua ciptaan dan sifat..

Ya Allah…, berkehendaklah terhadap Dzat-Mu Yang Bathin, yang Maha Halus.

Ya Allah…, berkehendaklah…, berkehendaklah…, berkehendaklah…

Hamba hanya bisa terdiam untuk bersaksi…

….

Read Full Post »

“Ma ashaba min mushibatin illa bi idznillah, waman yu’min billahi yahdi qalbahu, wallahu bikullisyai in ‘aliim..
Tidak ada sesuatu MUSIBAHPUN yang menimpa seseorang kecuali dengan IZIN ALLAH. Dan barang siapa yang BERIMAN kepada ALLAH niscaya Allah akan memberi HIDAYAH, PETUNJUK (yahdi) kepada HATINYA (Qalbahu). Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”, (QS At Taghabun 64: 11).

Masyarakat umumnya mengartikan musibah ini sebagai kejadian atau peristiwa yang menyedihkan, atau menyakitkan yang menimpa seseorang. Biasanya peristiwa itu terjadi akibat dari malapetaka, bencana, sakit, meninggal dunia, dan kehilangan segala sesuatu yang kita cintai (misalnya harta benda, pekerjaan, anak, istri, suami, orang tua), tidak tercapainya apa-apa yang kita inginkan, dan sebagainya.

Walaupun dalam beberapa keterangan, ketika kita mendapatkan kesenangan duniapun disebutkan pula sebagai musibah. Ayat yang mendasarinya biasanya adalah: “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”, (QS Al-Anbiyaa 21: 35).

Namun, dalam kesempatan ini, kita akan membahas masalah musibah ini hanya dari sisi yang sangat mendasar saja, yaitu bagaimana perbedaan SIKAP antara seorang yang BERIMAN dengan orang yang TIDAK BERIMAN dalam menghadapi musibah ini. Misalnya, bagaimana kita berperilaku ketika kita sakit berkepanjangan dan tak kunjung sembuh, atau apa yang kita LAKUKAN saat kita ingin keluar dari masalah kepahitan hidup yang tak kunjung selesai yang menghimpit kita. Dan seperti apa hasil dari sikap kita itu. Ya…, hasilnya apa?.

Sebab, ternyata banyak sekali kita yang mengaku-ngaku sudah BERIMAN, namun ketika kita ditimpa oleh musibah, kita tetap kalangkabut menghadapinya. Ketika kita berdo’a dan hasilnya tidak seperti yang kita harapkan, maka ujung-unjungnya kita banya yang lari ke praktek perdukunan tradisional ataupun perdukunan modern seperti hypnoterapi dan yang sejenisnya.

Kenapa bisa begitu?.

Jawabannya adalah sebuah kepastian. PASTI…!. Pastilah saat itu kita sedang TIDAK BERIMAN kepada ALLAH dan TIDAK BERIMAN pula kepada TAKDIRNYA. Karena tidak beriman, maka Allahpun PASTI tidak akan berkenan memberikan HIDAYAH atau PETUNJUK-NYA kepada HATI kita untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sedang kita hadapi.

Dan PASTI pula, kalau tidak ada petunjuk dari Allah, maka saat kita menyelesaikan masalah kita itu, kita hanya bermain-main dengan alam pikiran kita sendiri yang BERESONANSI sangat kuat dengan pikiran syetan dan iblis. Atau tepatnya, ketiadaan petunjuk dari Allah itu, menyebabkan syetanlah yang akan memberi petunjuk kepada kita untuk segala urusan kita. Mengerikan sekali sebenarnya…

“Barangsiapa yang BERPALING dari mengingat Tuhan yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan). Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya”. (Az Zukhruf 43 : 36)
“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa (seterusnya) untuk mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”. (Al Mujaadilah 58 : 19)

Ketika kita berpaling dari Allah Yang Maha Rahman, sehingga kita minta pertolongan kepada dukun ataupun terapi-terapi yang sejenisnya, maka saat itu juga iman kita telah tergadai. Kita menjadi musyrik. Semua amal baik yang kita lakukan selama ini, jadi habis tak tersisa. Menguap tak berbekas. Kita segera akan berteman yang sangat akrab (qarin, intimate friend) dengan syetan. Ini kata Al Quran lho.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Dalam artikel yang lalu kita sudah membahas tentang IHSAN yang sudah nyaris sudah tidak dikenali lagi oleh umat Islam, sehingga nestapa kehidupan pun datang dengan bertubi-tubi menimpa kita. Betapa tidak, karena tanpa IHSAN kita telah kehilangan salah satu penyangga kehidupan kita yang akan menghalangi kita dari melakukan perbuatan yang tidak baik. Mari kita lihat proses terhalangnya kita dari berbuat tidak baik itu.

Begitu Allah meletakkan rasa IHSAN ke dalam dada kita, hal pertama yang muncul di dalam hati kita adalah RASA MALU. Ya…, rasa malu kepada Allah. Bagaimana kita tidak akan malu, karena kita dibawa oleh Allah “masuk” ke dalam “suasana atau keadaan” bahwa Allah melihat segala perbuatan kita (Al ‘Alaq 96: 14), bahwa Allah selalu menjaga dan mengawasi kita (An Nissa’ 4: 1), bahwa Allah mengetahui pandangan mata kita yang mulai khianat dan juga apa yang disembunyikan oleh hati kita (Al Mukmin 40: 19). Ketiga ayat diatas muara pertamanya ternyata adalah RASA MALU kepada Allah. Rasa malu yang langsung diturunkan dan dimasukkan oleh Allah ke dalam hati kita. Bukan rasa malu yang dihasilkan dari proses berpikir yang kita lakukan.

Rasa Ihsan itu akan membuat dada kita “dipenuhi” oleh Allah dengan rasa malu. Kita merasa tidak berkutik untuk berbuat macam-macam dihadapan Allah. Sangat terasa sekali ketidakbisaan kita untuk menyurukkan muka kita, pandangan kita, dan hati kita kemananpun juga, sekalipun itu tersembunyi dari padangan mata manusia. Tidak ada tempat persembunyian sedikitpun bagi kita dari pandangan-Nya. Dan rasa malu itu bukan hanya sekedar kata-kata saja, tapi sebuah keadaan yang benar-benar menyelimuti hati kita.

Sebab ketiadaan rasa malu itu di dalam hati kita, membuat kita sanggup melakukan apa saja yang kita kehendaki, apa saja yang kita ingini, apa saja yang terlintas dalam angan-angan dan pikiran kita. Tanpa adanya rasa malu kepada Allah, kita akan sangat mudah untuk mencuri, korupsi, bermaksiat, suap menyuap, kongkalingkong, bertengkar, mengamuk, culas, bergunjing, malas-malasan, tidak berkarya, marah-marah, mengumbar syahwat, dengki dan tamak, bakhil dan kikir, sombong, angkuh, lalai dalam shalat, tidak khusyu, tidak taqwa.

Begitu juga, rasa malu itu membuat kita jadi malu untuk bermain-main dengan perjalanan-perjalanan jiwa yang menipu dan melalaikan?. Kita malu membawa jiwa kita untuk berkelana kealam-alam ASTRAL yang entah berada dimana, sementara Allah sedang ada dihadapan kita. Kita malu untuk bermain-main dengan jiwa orang lain melalui permainan hipnotis dan permainan pura-pura lainnya, sebab ada Allah di depan kita.

Dan yang terpenting adalah, ketika kita ditimpa oleh MUSIBAH kita malu untuk minta bantuan kepada dukun ataupun hypnoterapist. Malu…, karena saat datang ke dukun ataupun hipnoterapist itu sebenarnya kita sedang berkata: “wahai dukun tolonglah saya, wahai hipnoterapist bantulah saya, Allah saya ternyata TIDAK HEBAT, Allah saya tidak bisa menyelesaikan masalah saya, Allah saya tidak bisa memberi petunjuk (hidayah) kepada saya”. Saat itu kita sedang mengadukan Allah kepada mereka… Tidakkah ini sangat keterlaluan?.

Rasa malu itu pulalah yang akan membuat kita untuk MALU buru-buru mengangkat kepala kita dari rukuk dan sujud ketika SHALAT, malu untuk membaca bacaan shalat cepat-cepat, malu untuk melalai-lalaikan shalat. Sebab setiap bacaan dan sikap kita di dalam shalat itu ternyata dijawab oleh Allah dengan menurunkan suasana dan keadaan tertentu kedalam hati kita. Jawaban-jawaban Allah inilah yang membuat kita sangat merindukan shalat. Diluar shalatpun, kita jadi malu untuk menggadang-gadangkan apapun juga yang selain Allah. Kita maunya berbicara hanya tentang Allah…, tentang Allah…, tentang Allah…

Sungguh rasa malu kepada Allah adalah awal dari tanda-tanda keimanan kita kepada Allah. Itu sebagai pertanda bahwa rasa IHSAN sudah mulai mengisi hati kita. Dan asyiknya, rasa malu itu Allah sendiri yang memasukkan ke dalam hati kita…

Waallahu a’lam…
Deka

Read Full Post »

IHSAN, ADALAH PAGAR HATI KITA DALAM SEGALA AKTIFITAS…

Kalau di dalam shalat kita berhasil mendapatkan suasana IHSAN, maka dalam kehidupan sehari-hari diluar shalatpun insyaallah kita akan BISA bersikap IHSAN pula. Kita akan BERPUASA dengan ihsan, kita akan membayar ZAKAT dengan ihsan, kita akan melaksanakan HAJI dengan ihsan, kita akan BERDZIKIR dengan ihsan. Kita akan bergaul di dalam keluarga secara IHSAN, kita akan bermasyarakat dengan sikap IHSAN, kita akan bekerja secara IHSAN.

Khususnya dalam BERDZIKIR, sebelum kita mengucapkan kalimat-kalimat dzikir, kita TIDAK perlu lagi mengatur-ngatur OBJEK PIKIR kita terlebih dahulu agar OBJEK PIKIR itu bisa menjadi TUNGGAL. Misalnya, dengan cara pengaturan NAFAS, dengan bantuan titik-titik LATHAIF. Sebab makna kalimat dzikir itu yang sebenarnya bukanlah sebuah kalimat yang kita ucapkan berulang-ulang untuk mendapatkan sebuah sensasi rasa. Tapi kalimat dzikir itu adalah ungkapan kita atas keadaan yang sedang menyelimuti dada kita.

Misalnya, untuk mendapatkan sebuah rasa syukur, kita bisa mendapatkannya dengan dua cara:

Cara pertama, kita atur-atur objek pikir kita menjadi objek pikir tunggal seperti dengan mengamati dan mengikuti gerak keluar masuknya nafas kita, atau dengan berkonsentrasi ke lathaif tertentu, kemudian kita membaca berulang-ulang kalimat ya Allah…, Ya Syakuur… Boleh jadi setelah itu kita memang akan merasakan sebuah rasa atau suasana di dalam dada kita. Akan tetapi, karena diawalnya kita memulainya dengan keinginan untuk merasakan rasa syukur, ketika ada sebuah rasa muncul, maka kita sebutlah rasa itu sebagai rasa syukur. Jadi rasa syukurnya itu adalah rasa akibat dari proses pikiran.

Cara kedua, kita menunggu Allah menurunkan Riqqah rasa syukur itu kedalam dada kita. Seperti kisah yang terjadi dibawah ini:

“10/15/2013 05:27: Pak Salim, kemaren ada 4 orang ustad (umur 50 tahunan) dari Padang Panjang yang datang ke Bukittinggi, berlatih dan mendapatkan Riqqah. Mereka sudah kemana mana juga mencari Islam. Ada yang tamatan Gontor, IAIN, Tarekat, dan lain lain, tapi mereka mengaku tetap belum bertemu apa yang dicari.

Setelah berlatih dan mendapatkan Riqqah, mereka hanya berkata: “hari ini baru saya merasakan Ada Allah, hari ini saya baru IHSAN.

Dan dalam tahajud barusan, Allah ternyata juga menyatakan Terima Kasih Beliau kedalam dada saya. Rasanya nikmat sekali. Nikmat sekali pak. Ternyata Allah selalu menyatakan Terima Kasih (Syukur) Beliau untuk setiap kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain. Apa lagi kebaikan itu adalah mengenalkan Allah kepada mereka.

Sungguh Asy Syakuur adalah Nama dan Sifat Allah yang nyata. Ya Allah…, Ya Syakuur…, ya Allah…, ya Syakuur…”

Untuk cara pertama, kita melakukan olah pikir dan dzikir terlebih dahulu, lalu kemudian baru kita mendapatkan rasa. Tapi belum tentu rasa yang kita dapatkan itu adalah rasa yang sebenarnya. Boleh jadi rasa yang kita dapatkan itu adalah rasa akibat dari hasil HIPNOSA pikiran kita sendiri.

Sedangkan untuk cara kedua, kita cukup hanya berbuat amal shaleh saja dalam posisi IHSAN, kemudian pada saat-saat tertentu Allah akan menurunkan balasannya kepada kita berupa Riqqah yang didalamnya memuat rasa yang berbeda-beda. Rasa itu sendirilah yang akan kita ucapkan ketika kita berdzikir.

Dalam contoh diatas, misalnya, kalimat Asy Syakuur itu muncul dari bibir kita karena kita memang merasakan sekali rasa Syukur Allah itu masuk kedalam dada kita. Rasa ketika Allah mengenalkan Diri-Nya sebagai Asy Syakur itu akan sangat berbeda sekali dengan rasa ketika Allah ingin mengenalkan Diri-Nya sebagai Al Jalal atau Al Jamal-Nya. Cobalah kalau tidak percaya.

Selanjutnya, kalau kita punya masalah, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah, kita lakukan saja SHALAT untuk minta petunjuk dan tuntunan kepada Allah, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, pasti masalah kita akan selesai. Nggak ada yang tidak selesai. Semua selesai. Cuma selesainya menurut “Pikiran dan Kemauan Allah”, bukan menurut pikiran dan kemauan kita. Dan selesainya itu ada RASA selesainya. Kita sangat Ridho dengan penyelesaian dari Allah itu. Ada riqqah, ada rasa nikmat, ada rasa “suueeejuukk” yang menembus masuk kedalam dada kita. Masak punya masalah datang ke dunia perdukunan, baik yang tradisional maupun yang ada nuansa modernnya seperti Hipnotis, Hipnoterapy, dan yang sejenisnya.

Sebab Allah sendiri yang menyampaikan rahasia tentang bagaimana cara agar kita mendapatkan pertolongan Allah:

“Wasta’iinu bishshabri washshalah…, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya sabar dan shalat itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, yaitu orang-orang meyakini bahwa mereka saat itu menemui Tuhannya, dan bahwa saat itu mereka kembali kepada Tuhannya”. (Al Baqarah 45, 46)

Jadi kalau punya masalah, sabarlah (beriman pada TAKDIR Allah), lakukan SHALAT dengan IHSAN, akan ada Riqqah dan solusinya. Selesai deh masalah kita dengan cara yang tidak kita duga-duga.

Tegasnya…, dengan bersikap Ihsan, ada Allah di depan kita, masihkah kita berani untuk mencuri?, untuk korupsi?, untuk bermaksiat?, untuk suap menyuap?, untuk kongkalingkong?, untuk bertengkar?, untuk culas, untuk bergunjing?, untuk malas?, untuk tidak berkarya?, untuk marah-marah?, untuk mengumbar syahwat?, untuk dengki dan tamak?, untuk bakhil dan kikir?, untuk sombong?, untuk angkuh?, untuk lalai dalam shalat?, untuk tidak khusyu?, untuk tidak taqwa?, masihkah…?.

Dan yang tidak kalah pentingnya, kalau sudah Ihsan, ada Allah di depan kita, masih adakah ruang buat kita untuk bermain-main dengan perjalanan-perjalanan jiwa yang menipu dan melalaikan?. Perjalanan jiwa yang sangat-sangat bersentuhan dengan alam Jin dan Syetan. Seperti melakukan perjalanan ASTRAL, OBE, merogo Sukmo, dan bermain-main dengan Jiwa kita sendiri dan jiwa orang lain melalui praktek Hypnotis dan Hipnoterapy dan sejenisnya, yang kesemuanya itu “sebelas dua belas” saja sebenarnya dengan dunia perdukunan, tapi perdukunan yang telah dikamuflase dengan istilah-istilah modern dari Barat.

Sebab ternyata semua perbuatan buruk seperti itu dan perjalanan jiwa yang menipu dan melalaikan itu hanya akan bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak IHSAN saja. Orang yang merasa bahwa “TIDAK ada Allah DIDEPANNYA”. Orang yang tidak takut kepada Allah. Ia hanya takut kalau ada orang lain yang melihat perbuatan buruknya itu. Untuk menutup keburukannya itu, maka dia akan pura-pura berbuat baik di depan orang lain. Ia berbuat dalam keadaan hatinya terisi rasa RIA. Dan selama dia berbuat baik dalam keadaan ria itu, ia akan merasakan rasa capek dan lelah sekali.

Sungguh, IMAN, ISLAM, dan IHSAN adalah satu paket utuh yang tidak bisa dipisah-pisahkan dalam kehidupan kita sepanjang masa. Ia ibarat “tiga tungku sejarangan” yang akan memasak kehidupan kita di dunia ini untuk mencapai kebahagiaan dunia-akhirat. Kurang satu, maka masalah besar segera menunggu kita. Kita menjadi sengasara dunia-akhirat.

Dan IHSAN khususnya, akan memagari kita agar terjauh dan terpelihara dari segala bentuk aktifitas yang akan menjauhkan kita dari Allah. Bagaimana kita akan BERPALING ke wujud atau wajah yang lain, kalau Allah ADA di depan kita. Nggak akan…!. Karena Allah akan selalu MENYAPA kita dengan Riqqah-Nya, yang membuat kita selalu RINDU untuk bersama-Nya…, kita selalu MENGHARAP tuntunan-Nya, kita TAKUT kalau-kalau Dia tidak berkenan terhadap apa-apa yang kita lakukan, kita TAKUT kalau Dia meninggalkan kita, kita MALU untuk berpaling dari Wajah-Nya, kita HARAP dan CEMAS menunggu Rahmat-Nya, kita… jadi kehilangan kata-kata dihadapan-Nya…, ya Allah…, ya Allah… Pantas Rasulullah selalu menangis dalam shalat Tahajud Beliau, Abu Bakar menangis dalam shalat Beliau, para wali Allah dan para Shalihin menangis dalam shalat mereka

Sebagai penutup,

Riqqah adalah sebuah tanda yang dikirimkan oleh Allah kedalam dada kita bahwa Dia telah menerima kita, Allah telah ridha atas apa-apa yang kita lakukan dihadapan-Nya. Selama Allah belum menerima dan ridha kepada kita, jangan harap riqqah itu akan masuk kedalam dada kita. Tapi kalau riqqah itu ada, maka terjadilah proses di dalam dada kita. Hati kita terasa lembut dan bergetar. Kulit-kulit kita merinding. Kemudian hati kita menjadi lapang, siap untuk menerima Hidayah atau petunjuk-petunjuk Allah.

“Allah telah menurunkan (nazzala) sebaik-baik perkataan berupa kitab yang serupa mutu ayatnya secara berulang-ulang, menjadi merinding karenanya kulit-kulit orang-orang yang mereka takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut dan condong (talinu) kulit-kulit mereka dan dan hati mereka kepada mengingat Allah. Demikian itulah (cara) petunjuk Allah (turun). Dia memberi PETUNJUK dengan kitab itu kepada siapa yang yang Dia kehendaki, dan adapun siapa yang Allah sesatkan dia, maka tidak akan ada petunjuk baginya dari siapapun yang ingin memberinya petunjuk”. (Az Zumar 23).

Ustad Abu Sangkan pernah menerangkan dalam sebuah wejangan Beliau:

“Pada saat itu Ubay bin Ka’ab sedang membaca Al qur’an di sisi kanjeng Nabi Saw, tiba-tiba hati nya terasa “Al iqsi’raru wa taghayyuru fil jildin insani”, yaitu ada rasa lembut dan bergetar hatinya karena takut kepada Allah sehingga Rahmat Allah turun kedalam hati Ubay bin Ka’ab. Kadaan ini disebut ada Riqqah.

Tampak kelembutan dan kebahagiaan yang terpancar pada raut mukanya yang sudah mulai keriput.

Nabi bersabda ketika ditanya oleh salah satu sahabat : “bagaimana kami bisa mendapatkan keadaan hati yang dibukakan oleh Allah?.

“Qaala : idza dakhala nur Al qalba insaraha wan infasaha.” Apabila nur Allah masuk ke hati maka hati menjadi lapang dan lega. Nur Allah itu bukan sebuah kekuatan yang sampai mengguncang badan sampai terjatuh-jatuh. Tetapi kelembutan yang sangat halus yang kemudian melunaknya hati (layyinul qalb). Sebab kalau yang sampai terjungkal-jungkal itu berasal dari kekuatan emosinya yang sangat kuat. Makanya bagi nenek-nenek tidak mungkin mendapatkan keadaan yang sampai terjungkal-jungkal itu.

Bagi anak muda yang kuat emosinya maka ia akan bergetar semacam kesurupan dan terjatuh-terjatuh.

Kata Siti Asma binti Abu Bakar ketika ditanya soal ahli dzikir yang sampai terjatuh-jatuh, beliau menjawab “A’udzubillahi minasy syaithaanirrajim”. Aku tidak pernah melihat Rasulullah dan Sahabat melakukan hal seperti itu.

Lalu mengapa hal terjungkal-jungkal itu bisa terjadi?. Itu karena dorongan dari hawa nafsunya yang sangat besar, bukan dari getaran uluhiyah.

Terbukti ketika yang ikut anak muda getarannya makin keras, bagi yang emosinya sedang tinggi atau yang sedang ada rasa kecewa dihatinya, pasti teriakannya akan makin kuat. Itu bukan riqqah dan bukan pula rahmat.

Makanya tidak ada perubahan pada perilaku hatinya. Bahkan ia akan sulit untuk masuk ke alam ruhani. Karena alam ruhani hanya dapat dimasuki oleh hati yang ridho. Dan jiwa yang dapat ridho ini, salah satu penyebabnya adalah adanya ridho dari kedua orang tuanya.

Ridho ini tidak bisa ditangkap oleh hati yang keras dan sombong, dan tidak bisa pula ditembus dengan hawa nafsu”.

Alhamdulillah…,
Ya Allah…, maafkan hamba kalau hamba salah dalam menuliskan kalimat-kalimat ini. Sungguh hamba hanyalah orang yang bodoh tanpa ada Petunjuk dari-Mu.

Ya Allah…, bagi siapapun yang membaca artikel ini, berilah dia Hidayah-Mu, Petunjuk-Mu.

Ya Allah…, mohon sampaikan salam kami dan kerinduan kami kepada Rasulullah dan Keluarga Beliau, kepada para sahabat Beliau, dan kepada para Shalihin sepanjang zaman.

Ya Allah…

Wallahu a’lam

Selesai
Deka….

Read Full Post »

ISLAM, ADALAH CARA PARA NABI & RASUL MENGHADAP ALLAH YANG HAQ…

Kalau kita sudah percaya kepada ALLAH YANG HAQ, dan kita sudah percaya pula kepada TAKDIR NYA tanpa reserve, maka ketika itu berarti kita sudah selesai dengan Allah. Kita sudah tidak punya keraguan lagi terhadap Allah dan segala Aktifitas-Nya.

Dan terlebih lagi, Allah yang kita imani itu sudah memberikan respon-respon-Nya yang sangat luar biasa pula setiap kali kita berkomunikasi dengan-Nya, seperti yang dialami oleh Rasul-Rasul, Nabi-Nabi, para Shalihin, para Wali Allah, maka kita tinggal memperbaharui terus keimanan kita itu dengan cara kita sering-sering mengucapkan Syahadat kepada-Nya dan Syahadat kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW.

Asyahaduallaa ilaha illallah…
Wa asyhaduaanna Muhammadan Rasulullah…

Dengan mengucapkan Syahadat seperti ini, Rukun Islam Pertama, maka sebenarnya saat itu kita tengah bersumpah bahwa Tuhan kita adalah Allah, tidak ada Tuhan kita selain Allah. Dan kita bersumpah pula bahwa kita akan mengikuti apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam bertuhankan Allah.

Kalau iman kita kepada Allah dan Rasul-Nya sudah masuk kedalam dada kita, maka setiap kali kita mengucapkan syahadat itu, Allah akan menurunkan Riqqah-Nya ke dalam dada kita. Dengan Riqqah itu, rasa iman kita akan semakin meningkat dari hari ke hari. Setiap kali kita menyebut Nama Allah, setiap kali kita bershalawat kepada Rasulullah dan keluarga Beliau, itu akan menyejukkan dada kita. Kulit kita akan merinding dan bergetar seperti keadaan orang yang sedang kasmaran kepada Allah dan Rasulullah.

Selanjutnya, agar kita bisa menghadap dan berjumpa dengan Allah, Rasulullah telah mencontohkan ibadah SHALAT kepada kita. Keadaan yang Beliau alami ketika Shalat itu sama persis dengan keadaan ketika Beliau menjalani peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sehingga Beliaupun menegaskan: “Ash shalatu Mi’rajul mukminin, bahwa shalat adalah proses Mi’raj bagi orang-orang yang beriman kepada Allah”.

Oleh sebab itu, kita tinggal pakai saja shalat itu sebagai sarana kita untuk Mi’raj kepada Allah, untuk bertemu dengan Allah. Jangan kita cari lagi cara-cara yang lain. Untuk bertemu Allah itu tidak perlu dengan cara kita melakukan perjalanan Astral, bukan dengan cara OBE (Out of Body Experience), dan bukan pula dengan proses merogo Sukma.

Sebab perjalanan Astral, OBE, dan merogo sukmo, yang merupakan salah satu pencapaian yang sangat diidam-idamkan oleh sekian banyak orang, ternyata tidak lain hanyalah proses pengolahan pikiran saja. Yang pada akhirnya teknik ini akan membawa seseorang merasakan dirinya seperti telah menyatu dengan Tuhan. MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI. Sebuah konsep kejawen yang masih sangat populer sampai saat ini.

Akan tetapi untuk berjumpa Allah (Mi’raj) di dalam Shalat sangat berbeda dengan semua perjalanan pikiran diatas. Ketika Shalat, kita hanya perlu bersikap TADARRU’ dihadapan Allah. Kita yakini saja Allah ada di depan kita ( sikap IHSAN). Lalu kita rendahkan hati kita dihadapan Allah. Kita berkata-kata dengan santun kepada Allah, kita rukuk dengan tadarru’kepada Allah, kita sujud dengan tadarru’ kepada Allah.

Kita pelihara sikap TADARRU’ kita kepada Allah sejak dari awal shalat (takbiratul ihram), sampai dengan selesai shalat (salam). Kita tidak memalingkan hati kita kepada apapun selain hanya kepada Allah yang sedang ada dihadapan kita.

Dalam bersikap tadarru’ ini kita tidak perlu mengatur-ngatur tubuh kita agar rileks, kita tidak perlu berkonsentrasi dengan mengatur-ngatur nafas, kita tidak perlu memejam-mejamkan mata, kita tidak perlu konsentrasi ketempat sujud, kita tidak perlu memakai lathaif-lathaif sebagai alat untuk menghentikan pikiran, kita juga tidak perlu merasa-rasakan getaran (bagi yang sudah bisa merasakan getaran-getaran) dalam setiap gerakan. Kitapun tidak perlu merasa-rasakan rasa gembira dengan mengatakan bahwa saya sedang gembira. Kita tidak perlu membayang-bayangkan kegembiraan seperti kita sedang berada dipantai yang indah. Tidak perlu.

Kita hanya cukup bersikap Tadarru’ (merendahkan hati kita), dan kemudian berbicara dengan Allah dalam sikap tadarru’ itu. Suara kita tidak usah keras-keras dan berteriak-teriak, tapi juga tidak seperti orang bisu. Cukup sambil berbisik lembut saja, atau dengan suara yang tidak keras dan juga tidak rendah. Suara pertengahan.

Dasar ayatnyapun sederhana sekali:

“Ingatlah, sebutlah (nama) Tuhanmu di dalam hatimu dengan TADARRU’ (merendahkan hatimu) dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (Al A’raf 205).

Cara menyebut atau memanggil Allah itu juga sederhana saja:

“Katakanlah: “serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja yang kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kami mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah diantara keduanya””, (Al Isra 110).

Mari kita coba melatihnya barang beberapa saat. Melatihnya boleh sambil berdiri, atau sambil duduk, atau sambil berbaring. Tapi untuk tahap awal, lebih baik kita lakukan dengan berdiri atau duduk. Biar sikap tadarru’nya bisa kita rasakan.

• Sekarang duduklah bersimpuh…
• Berimanlah bahwa Allah ada DI DEPAN kita (tapi DIA nggak perlu di cari-cari dan dirasa-rasakan). Inilah salah satu cara untuk bersikap IHSAN. Allah ada didepan kita.
• Rendahkan hati kita kepada Allah (dimana letak hati kita, juga tidak perlu dicari-cari dengan cara berkonsentrasi).
• Dengan merendahkan hati kita, hampir secara otomatis dada kita juga akan menunduk agak rendah, begitu juga kepala kita. Kita jadi bisa melihat tempat sujud kita.
• Secara otomatis tubuh kita akan rileks, tapi rileksnya bukan dengan cara mengatur-atur tubuh dan pikiran.
• Dengan merendahkan hati kita, pikiran kitapun dengan seketika menjadi lerem. Kita tidak perlu lagi mengatur-ngatur dan mengarah-arahkan pikiran kita kepada sebuah objek fikir tertentu.
• Merendahkan hati kita itu tidak perlu dipaksa-paksa. Misalnya dengan merendahkan hati kita seperti hati kita itu sampai masuk menembus bumi. Tidak begitu. Sebab kalau begitu, kita artinya sedang memainkan alam PIKIRAN kita juga.
• Kita hanya perlu merendahkan hati kita kepada Allah yang ada di depan kita.
• Rasakan kerendahan hati itu.
• Kita bisa merasakan hati kita yang sedang merendah itu kok.
• Pertahankan posisi kerendahan hati kita itu untuk beberapa saat.
• Lalu dengan tetap merendahkan hati, ucapkanlah
o “audzubillahiminasysyaithaanirrajim”,
o “bismillahiraahmaanirrahiim”.
• Lalu serulah Allah dengan dengan TADARRU’
• Serulah Allah dengan hati yang tetap merendah, dengan suara yang santun…
• Panggillah Allah dengan selalu menjaga kerendahan hati kita.

• Ya Allah…, Ya Allah…, Ya Allah…
• Diamlah sebentar dengan rendah hati.

• Ya Allah…, Ya Allah…, Ya Allah…
• Diamlah sebentar dengan hati yang tetap rendah..

• Ya Rahman…, Ya Rahman…, Ya Rahman…
• Diamlah dengan hati penuh harap kepada Allah.

• Ucapkanlah : “Allahu Akbar…”
• Diamlah dengan kerendahan hati di depan Allah Yang Maha Besar…

Kalau anda tadi melakukannya dengan benar, hati anda benar-benar merendah, suara anda benar-benar santun, maka sekarang anda pasti sudah merasakan sesuatu…, dan anda juga pasti tahu apa yang terjadi dengan pikiran anda. Lalu lihatlah Al Qur’an dan Al Hadist sebagai pembanding atas apa-apa yang anda rasakan itu.

Sekarang cobalah berwudu dan lakukan hal yang sama seperti diatas, rasakanlah bedanya.

Kemudian dirikanlah shalat, lakukanlah sikap tadarru’ seperti diatas, dan rasakan pulalah beda rasanya.

Kalau posisi hati yang rendah (tadarru’) seperti itu bisa kita pertahankan selama dalam shalat, akan terjadi proses dialogis antara kita dengan Allah.

Share lah pengalaman anda itu, karena anda sedang menceritakan pengalaman anda sendiri.

Kalau posisi hati yang rendah (tadarru’) seperti itu bisa kita pertahankan selama dalam shalat, akan terjadi proses dialogis antara kita dengan Allah.

Ketika kita mengucapkan doa Iftitah: “Wajjahtu wajhiya…, akan terasa sekali saat itu hati kita sedang menghadap dan merendah kepada Allah. Hati kita seperti dipegang oleh Allah, sehingga hati kita itu tidak bisa lagi berpaling kepada segala sesuatu yang selain Allah…”.

Ketika kita membaca Al Fatihah, ketika kita Rukuk, I’tidal, Sujud, duduk Iftirasy, duduk Tawaruk, kalau kita melakukan semuanya itu dalam keadaan hati yang merendah-rendah dihadapan Allah, maka setiap ucapan kita ketika itu akan ada balasannya dari Allah. Riqqah…

Riqqah itu akan turun kedalam dada kita secara sambung bersambung tak henti-hentinya. Kadangkala riqqah itu turun dengan sangat deras, dada kita dingin, kulit-kulit kita merinding, rasa tenang dan nikmat akan menjalar dari hati kita menuju dan menyebar keseluruhan tubuh kita. Otak kitapun seperti berhenti dari berbagai proses berpikir yang selama ini telah melelahkan kita. Kalau sudah begini, kita ingin rasanya berlama-lama dalam shalat itu.

Kadangkala riqqah itu hanya turun sedikit dan jarang-jarang periodenya. Kalau begini duh…, rasanya rindu sekali agar Allah segera menurunkan riqqah-Nya ke dalam dada kita. Rindu sekali. Terasa sekali bahwa riqqah itu tidak bisa kita paksa-paksa dan kita rekayasa. Sungguh riqqah itu bisa turun kedalam dada kita hanya dengan sebab adanya Rahmat dan Kasih sayang Allah kepada kita. Dan untuk itu Allah punya alasan Sendiri. Maka cari tahulah alasan-alasan Allah menurunkan Rahmat itu kepada kita…

Akan tapi kadangkala riqqah itu tidak turun sama sekali ke dalam dada kita. Kalau riqqah itu tidak turun, shalat kita alangkah hambarnya. Sekalipun kita mencoba melama-lamakan shalatnya, tapi tetap saja tidak ada rasanya. Paling-paling rasanya hanya tenang dan hening begitu saja. Tidak ada nikmatnya. Tidak ada bahagianya. Hanya tenang, hening dan diam begitu saja, tapi garing…

Kalau sampai riqqah tidak turun seperti ini, maka pastilah saat itu kita sedang punya masalah BESAR dengan Allah. Pastilah saat itu hati kita sedang LALAI dari Allah, pastilah saat itu hati kita sedang BERPALING dari Allah.

Dan…, kalau kita sedang punya masalah dengan Allah, dimana hati kita berpaling dari Allah, maka hal pertama yang akan terpengaruh adalah hati kita itu pula. Hati kita itu akan segera dikerumuni oleh Syetan. Karena begitu hati kita lalai dari Allah, Allah segera mengirimkan dan memasukkan Syetan ke dalam hati kita itu. Syetan itulah yang akan menjadi sahabat karib kita (QARIN).

“Barangsiapa yang BERPALING dari mengingat Tuhan yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan). Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya”. (Az Zukhruf 43 : 36)

“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa (seterusnya) untuk mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”. (Al Mujaadilah 58 : 19)

Lalu hati kita menjadi keras, hati kita menjadi buta, hati kita menjadi mati. Karena hati kita dipenuhi oleh Syetan, maka tindakan-tindakan kitapun seperti tindakan orang yang sedang kesyetanan. Pikiran-pikiran kita akan membawa kita menjauh dari Allah. Hati kita jadi tertutup untuk melihat alam malakut. Dan kitapun tidak bisa lagi merasakan adanya Riqqah dari Allah yang hanya akan diturunkan-Nya kedalam hati orang-orang yang beriman.

Dengan ketiadaan riqqah seperti itu, walaupun hati kita serasa bisa luas sekali, tenang, dan hening, akan tapi tetap saja hati kita itu rasanya sempit sekali. Sehingga konflikpun menjadi sesuatu yang biasa bagi kita.

Akan tetapi, kalau riqqah itu bisa kita dapatkan di dalam shalat, maka ketika itu akan terasa sekali ada Allah di depan kita. Walaupun Dia tidak terlihat oleh mata kita, tidak teraba dengan panca indera kita, namun Dia selalu memberi tanda-tanda akan keberadaan-Nya di depan kita melalui HATI kita. Tanda-tanda itu berupa Riqqah, Ilham, dan Hidayah (petunjuk-petunjuk-Nya).

Inilah yang akan membuat kita INGIN selalu bersikap IHSAN kepada-Nya.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

IMAN kepada TAKDIR (baik atau buruk).

Rukun iman itu ada 6, yaitu: Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Nabi dan Rasul, Iman kepada kitab-kitab Allah, Iman kepada Hari Akhir, dan Iman kepada TAKDIR (baik-buruk). Diantara ke-6 rukun iman itu, beriman kepada rukun iman yang pertama dan yang terakhir adalah yang paling sulit untuk kita lakukan. Mari kita lihat dimana letak sulitnya.

Sebab, kalau iman kepada Malaikat, Nabi-Nabi, Kitab-kitab Allah, dan adanya Hari Akhir, rasanya kita tidak akan terlalu kesulitan untuk mengimaninya. Kita cukup mengatakan kita mengimaninya, dan setelah itu kita nyaris sudah selesai saat itu juga dengannya.

Tapi untuk beriman kepada Allah dan kepada Takdir-Nya, telah menjadi problematika umat manusia hampir disepanjang zaman. Bagaimana bisa kita beriman kepada sesuatu yang tidak terlihat, tidak terpikirkan, tidak terdengarkan, tidak teraba, sementara kita sudah terbiasa dengan sikap materialistis dalam menghadapi segala hal yang ada disekitar kita. Lalu bagaimana pula kita bisa menerima suatu keadaan yang kita sebut takdir buruk, sementara kita nyaris selalu menginginkan hanya takdir yang baik-baik saja yang akan kita lalui dan hadapi.

Untuk menerima takdir buruk Allah inilah yang menjadi problematika utama seluruh umat manusia dari sejak dulu sampai sekarang. Ketika kita menerima hal-hal yang baik dan sesuai dengan apa yang kita harapkan, biasanya kita memang bisa mengucapkan alhamdulillah dengan sangat sumringah sekali. Akan tetapi ketika kita menghadapi keadaan yang tidak kita inginkan, keadaan atau peristiwa yang kita sebut sebagi “takdir buruk”, maka kita selalu ingin menolaknya. Kita ingin takdir buruk itu menjauh dari kita. Dengan berkeluh kesah, kita berdo’a agar takdir buruk apapun juga tidak akan datang menghampiri kita. Kalaupun takdir buruk itu tetap menghampiri kita, kita akan berdoa dan berdoa agar takdir buruk segera berakhir.

Misalnya, ketika sebuah penyakit datang menghampiri kita, reaksi pertama kita adalah kita berkeluh kesah. Kita berdo’a agar penyakit kita segera sembuh. Sampai beberapa hari kita masih kuat untuk menerima sakit kita itu. Tapi ketika minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan bahkan tahun berganti tahun, penyakit kita itu tidak kunjung juga sembuh, maka kita akan mulai gelisah. Kita berdoa dan berdoa, kita berdzikir dan berdzikir agar penyakit kita itu cepat hilang dari diri kita.

Kalau dengan semua cara itu kita tetap tidak menemukan hasil apa-apa, maka mulailah kita mencari alternatif kesana kemari, kalau-kalau ada cara tertentu yang bisa menyembuhkan penyakit yang kita derita. Kita bisa datang kepada orang pintar, kita bisa datang kepada terapis-terapis, yang menurut iklannya, mereka sangat hebat-hebat. Atau kita bisa datang kepada majelis-majelis dzikir yang lokasinya sangat jauh dan terpencil. Semua itu kita lakukan dengan niat agar kita sembuh dari penyakit kita.

Kalau kita datang ke sebuah majelis dzikir, kita akan berusaha untuk berdzikir dan berdzikir, dengan harapan agar penyakit kita sembuh. Coba bayangkan, dzikir kita itu adalah untuk melawan takdir Allah berupa penyakit yang sedang menimpa kita. Sementara kita menyebutkan diri kita sebagai orang yang beriman kepada Allah, kita beriman kepada takdir Allah. Ini kan sangat bertentangan sekali.

Kalau dari berdzikir itu kita masih saja tidak bisa sembuh, maka hanya tinggal selangkah lagi kita akan datang kepada berbagai macam teknik terapi yang sedang mengepung kita dengan penawaran-penawarannya yang hebat. Lalu kalau begitu, iman kita kepada Allah diletakkan dimana?.

Padahal ada ayat al Qur’an yang berbunyi:

“Tidak ada sesuatu MUSIBAHPUN yang menimpa seseorang kecuali dengan IZIN ALLAH. Dan barang siapa yang BERIMAN kepada ALLAH niscaya Allah akan memberi PETUNJUK (yahdi) kepada HATINYA (Qalbahu). Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”, (QS At Taghabun 64: 11).

Ayat ini merupakan sebuah ayat yang sangat mendasar sekali bagi kita umat islam. Sangat mendasar sekali. Sebab ayat ini memberikan arahan kepada kita bahwa kalau ada sesuatu musibah yang menimpa kita, misalnya kita menderita sakit, kita kehilangan sesuatu, kita mengalami kecelakaan, maka kita diminta untuk percaya bahwa semua yang menimpa kita itu terjadi karena Allah sudah mengizinkannya untuk terjadi. Dengan begitu, tidak ada lagi kata-kata kita yang mengatakan bahwa: “musibah yang menimpa kita itu adalah gara-gara si A, gara-gara kita tidak patuh kepada guru, gara-gara kita kena santet, gara-gara kita kena ‘AIN seseorang, gara-gara kita kena keramat sebuah tempat, gara-gara ini… gara-gara itu…

Bukan…, kita mendapatkan takdir buruk itu, misalnya sakit, bukanlah gara-gara semua itu. Tapi musibah itu terjadi karena Allah sudah mengizinkan sakit itu menimpa kita. Makanya kita sakit. Sehingga kita berada dalam posisi seorang yang menerima sakit itu sebagai sesuatu yang sudah diizinkan oleh Allah menimpa kita. Dengan begitu, kita malah jadi semakin beriman kepada Allah. Kita tidak akan protes kepada Allah. Kita tambah beriman kepada Allah.

Kalau kita beriman kepada Allah, beriman kepada takdir buruk yang sedang menimpa kita, bahwa semua itu sudah melalui pertimbangan Allah yang sangat hebat, maka Allahpun akan menurunkan HIDAYAH atau petunjuk-Nya kedalam HATI kita.

Kembali lagi ke kaji kita, bahwa cara Allah memberi petunjuk itu adalah dengan menurunkan RIQQAH kedalam hati kita.
“Bukankah orang yang Allah telah lapangkan atau bukakan dada/hatinya untuk ISLAM lalu dia hidup diatas cahaya petunjuk dari Tuhannya?. Maka celakalah bagi yang telah membatu hatinya dari mengingat Allah, karena mereka saat itu berada dalam kesesatan yang nyata”. (Az Zumar 22)

“Allah telah menurunkan (nazzala) sebaik-baik perkataan berupa kitab yang serupa mutu ayatnya secara berulang-ulang, menjadi merinding karenanya kulit-kulit orang-orang yang mereka takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut dan condong (talinu) kulit-kulit mereka dan dan hati mereka kepada mengingat Allah. Demikian itulah (cara) petunjuk Allah (turun). Dia memberi PETUNJUK dengan kitab itu kepada siapa yang yang Dia kehendaki, dan adapun siapa yang Allah sesatkan dia, maka tidak akan ada petunjuk baginya dari siapapun yang ingin memberinya petunjuk”. (Az Zumar 23).

Jadi syarat untuk berlakunya proses seperti yang diterangkan dalam surat Az Zumar ayat 22-23 ini adalah bahwa kita harus sudah selesai dulu dengan masalah Iman kita kepada Allah dan iman kepada TAKDIR ALLAH (baik dan buruk) yang menimpa kita.

Selama kita belum tuntas dalam beriman pada rukun iman yang ke 6 ini, percaya kepada TAKDIR (baik/buruk), maka jangan harap Riqqah itu akan turun kedalam dada kita. Kalaupun kita bisa sampai menangis dalam berdoa, sementara kita masih tidak beriman pada takdir buruk dari Allah yang sedang menimpa kita, maka tangisan kita itu hanyalah sebatas tangisan emosional saja.

Tapi kalau kita kita sudah tuntas dalam beriman kepada takdir buruk yang menimpa kita, bahwa kita tetap beriman kepada Rahman dan Rahim-Nya Allah walau apapun musibah yang sedang menimpa kita, maka Allahpun akan memberi petunjuk-petunjuk-Nya kedalam hati kita. Riqqah Allah akan turun kedalam dada kita. Sering sekali. Walaupun kita sedang sakit, tiba-tiba kita merasa sangat bahagia, tiba-tiba dada kita dingin, hati kita talinu (tenang), kulit kita talinu (tenang). Kita tinggal hadapi saja semua proses pengobatan yang akan kita jalani. Kita ikuti pula petunjuk-petunjuk Allah yang diturunkan-Nya kedalam hati kita ketika Riqqah itu turun. Dalam menunggu kesembuhan itu, tidak lupa kita mempersiapkan diri untuk kembali kepada Allah. Karena boleh jadi dengan sakit itulah cara Allah untuk mengambil nyawa kita…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: