Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2014

MAKRIFATULLAH akan membawa kita untuk MENGENAL ALLAH. Sedangkan DZIKRULLAH akan mengantarkan kita untuk bisa MENGINGAT ALLAH yang sudah kita kenal itu di setiap waktu. Jadi menurut kacamata makrifatullah, urutan aktifitas yang harus kita lakukan adalah kita berusaha untuk mencapai MAKRIFATULLAH terlebih dahulu, lalu kemudian barulah kita berlatih melakukan DZIKRULLAH (mengingat Allah). Dzikrullah atau mengingat Allah setelah kita mengenal Allah itu, bisa kita lakukan kapan saja dan dimana saja. Nyaris tanpa batas. Tidak ada hitung-hitungannya, dan tidak ada pula cara-cara yang rumit dan bertele-tele. Yang terpenting adalah kita memakai alat mengingat yang tepat, lalu kita ISTQAMAH melakukannya. Hasil selanjutnya biarkanlah Allah sendiri yang akan memberikannya kepada kita. Kita tidak usah ngotot dan tergesa-gesa untuk mendapatkan ini dan itu. Istiqamah saja, selanjutnya adalah urusan Allah.

Sesuai dengan istilahnya, Dzikrullah – Mengingat Allah, maka dalam mengingat Allah itu kita tidak perlu bersuara, apalagi berteriak-teriak. Bahkan berbisikpun sebenarnya kita tidak perlu. Ya…, kita cukup hanya mengingat Allah, yang sudah kita kenal terlebih dahulu, dengan jalan kita masuk ke PINTU INGATAN kepada Allah. Setelah pintu ingatan kepada Allah itu kita masuki, maka kita tinggal duduk di dalam ruangan yang disana aktifitas kita hanya semata-mata ingat kepada Allah. Ruang itu bisa disebut sebagai RUANG SPIRITUAL. Dan setelah itu barulah kita BERIBADAH di dalam Ruang Spiritual itu sembari kita selalu mengingat Allah selama kita beribadah maupun nanti diluar ibadah.

Kalau makrifat kita sudah benar-benar tertuju kepada Allah (makrifatullah), maka kalau kemudian kita mencoba untuk mengingat Allah (dzikrullah), maka insyaallah akan diturunkan oleh Allah NATIJAH (benturan, dampak, impak) yang akan membuat kita mudah sekali merasa terharu, gampang sekali menangis bahagia, ada rasa sejuk di dalam dada kita, serta ada rasa tenang dan tenteram yang menjalar keseluruh sel-sel tubuh kita. Dan natijah itu sangatlah kuat sekali. Dalam istilah lainnya NATIJAH ini juga bisa disebut juga sebagai RIQQAH. Natijah atau Riqqah inilah yang membuat kita serasa hidup bersama Allah seperti dahulu kita pernah mengalaminya di alam Azali. Dan kalau kita kemudian melaksanakan shalat dalam keadaan seperti itu, sungguh alangkah lezatnya…, Lazzatul Iman… Ya Allah…, ingin rasanya shalat itu nggak ada akhirnya…

Akan tetapi kalau urutan aktifitasnya kita ubah dan kita balik menjadi DZIKRULLAH yang kita lakukan terlebih dulu, dengan cara kita mengulang-ulang membaca kalimat Thaayyibah sebanyak-banyaknya seperti: “Allah…, Allah…, atau Laa ilaha illallah, atau kalimat-kalimat lainnya”, dengan harapan setelah sekian lama kita berdzikir dengan cara seperti itu, kita kemudian bisa mencapai maqam MAKRIFATULLAH, maka hasilnya akan sangat berbeda sekali dengan hasil yang kita dapatkan melalui aktifitas menurut kacamata makrifatullah seperti diatas.

Urutan yang terbalik seperti ini biasanya akan kita lakukan kalau kita mengikuti praktek dzikir di dalam sebuah tarekat atau majelis dzikir lainnya. Kita akan mengulang-ulang menyebut nama Allah atau kalimat Tauhid sebanyak ribuan kali bahkan bisa sampai ratusan ribu kali selama berhari-hari dan bermalam-malam. Dalam hal ini, makna DZIKIR yang tadinya berarti MENGINGAT telah berubah menjadi makna MENYEBUT-NYEBUT atau MEMANGGIL-MANGGIL nama Allah secara berulang-ulang. Kegiatan seperti ini bisa juga disebut sebagai WIRIDAN, yang bisa dimaknai sebagai mengucap, memanggil, atau menyebut-nyebut.

Masalahnya adalah, selama kita melaksanakan WIRIDAN tersebut, saat itu INGATAN kita sedang tertuju atau akan kita tujukan kepada APA atau SIAPA?. Karena dengan cara seperti ini kita memang tidak atau belum diajarkan tentang makrifatullah, dengan harapan makrifatullah itu nanti akan kita dapatkan sendiri melalui wirid yang kita lakukan, maka ingatan kita bisa pergi kemana-mana. Untuk menghambat pikiran kita kemana-mana, maka mursyid atau pembimbing dzikir kita akan berusaha menahan ingatan kita itu tidak kemana-mana dengan berbagai cara.

Bersambung

Read Full Post »

Namun dalam hal Mengingat Allah, Dzikrullah, ini pulalah masalah terbesar umat manusia bermula dan berakar. Sebab kita hampir bisa mengingat segala sesuatu tanpa batas. Kita nyaris bisa mengingat semua ciptaan, lengkap dengan berbagai atribut dan karakternya masing-masing. Akan tetapi kita hampir saja gagal total dalam mengingat Allah. Kita sangat kesulitan dalam mengingat Allah. Sebentar saja kita sudah lelah, bosan, dan tertidur. Dalam keadaan seperti itulah kita harus menjalankan shalat dan ibadah-ibadah yang lainnya. Saat kita tidak sedang ingat kepada Allah, malah kita disuruh untuk menyembah-Nya, memuja-Nya, dan mencintai-Nya lebih dari mencintai apapun juga. Tentu saja itu sulit sekali kalau tidak mau dikatakan tidak bisa. Masak cinta hanya bertepuk sebelah tangan…

Sementara itu, ditengah-tengah badai kehidupan yang sering datang menerpa kita, sungguh… kita merindukan sebuah kehidupan yang penuh ketenteraman yang pernah kita reguk saat pertama kali kita hidup begitu dekat dan mesra dengan Allah di alam Azali. Ingatan kita tentang suasana alam azali itu sebenarnya tetap akan ada sampai kapanpun juga, walaupun hidup kita saat ini sedang berlumuran dosa sekalipun. Sebab kita pernah mengalaminya, kita pernah duduk begitu dekat dengan Allah. Kita kemudian berusaha mengingat-ingat kembali suasana alam azali itu dengan memasuki pintu ingatan kepada Allah.

Akan tetapi pintu ingatan kita kepada Allah itu ternyata telah tertutup rapat dan semakin rapat seiring dengan bertambahnya usia kita. Karena sejak kecil sampai sekarang, dengan sistem pendidikan dan pengajaran sekuler maupun pesantren seperti yang berkembang sekarang ini, kita ternyata telah membangun berbagai pintu ingatan yang malah menjauhkan kita dari pintu ingatan kepada Allah. Sehingga setiap saat pintu yang rajin kita masuki adalah pintu ingatan kita kepada segala sesuatu yang selain dari Allah itu. Misalnya, pintu ingatan kita kepada hal-hal yang berbau maksiat dan kotor jauh lebih mudah kita masuki dibandingkan dengan pintu ingatan kita kepada kebaikan. Pintu ingatan kita tentang hal-hal yang remeh temeh, hura-hura, dan canda ria, jauh lebih gampang kita masuki dari pada pintu ingatan kita kepada hal-hal yang membangun dan yang membutuhkan perhatian lebih serius. Apalagi pintu ingatan kepada Allah…, ampun sulitnya.

Dilematis sekali keadaan yang kita alami. Disatu sisi, ada kerinduan kita yang sangat kental untuk bisa kembali menikmati suasana kehidupan mesra bersama Allah. Disisi yang lainnya, jangankan bisa hidup mesra dengan Allah, bahkan untuk sekedar mengingat Allah saja kita nyaris sudah tidak sanggup lagi. Padahal tidak akan pernah ada ketenteram yang bisa kita dapatkan tanpa kita hidup mesra bersama dengan Allah. Sehingga kemudian muncullah ceruk pasar yang menjajakan pencapaian kebahagiaan dan ketenteraman itu melalui jalan atau cara-cara baru, mulai dari yang berbau agama sampai kepada yang murni sekuler, atau yang sekuler dengan dibungkus istilah-istilah agama islam disana-sini agar bisa diterima oleh umat islam yang awam.

Padahal kalaulah kita umat islam ini benar-benar paham dengan pokok permasalahan menahun yang sedang kita hadapi, lalu kita mengetahui solusinya, maka sungguh islam ini akan mampu mengguncangkan dunia seperti di zaman-zaman awal dulu. Sebab masalah-masalah umat islam ini hanya akan bisa diselesaikan jika umat islam:

1. Bisa bermakrifat kepada Allah dengan benar.
2. Lalu kita bisa mengingat Allah dengan benar.
3. Dan kita bisa pula menggunakan Akal atau Hati kita dengan benar.

Sehingga Fadzkurini Adzkurkum itu benar-benar terjadi antara kita dengan Allah, yang menyebabkan pengajaran dan petunjuk Allahpun akan mengalir pula kepada kita dengan deras tanpa henti…, Dan hal inilah yang akan kita bahas selanjutnya…

Tentang makrifatullah, sedikit banyaknya sudah diuraikan dalam serial artikel sebelumnya. Silahkan, bagi yang masih berkenan, membukanya kembali. Tetapi disana-sini nanti akan kita masuki kembali jika itu memang diperlukan. Sebab makrifatullah ini adalah sesuatu yang sangat penting dan prinsip sekali, yang akan menjadi landasan berpijak kita dalam menjalani kehidupan rohani atau berspiritual (bertasawuf).

Sebab salah dalam bermakrifat, bisa-bisa kita akan menuhankan manusia seperti umat kristiani menuhankan Yesus, atau menuhankan diri sendiri, atau menuhankan guru kita, atau menuhankan Nur Muhammad, atau malah sekalian tidak menuhankan siapa-siapa alias atheis. Salah dalam bermakrifat pulalah yang akan menyebabkan kita sangat sulit untuk menerima Taqdir Allah tanpa reserve. Padahal percaya kepada taqdir Allah ini adalah rukun iman yang ke-enam di dalam agama Islam. Gagal dalam menerima taqdir ini, maka sebenarnya gagal pulalah keimanan kita kepada Allah. Sungguh ngeri-ngeri sedap kalau mengingat akibatnya. Kelihatannya ringan, tapi alangkah sulitnya untuk dilaksanakan, terutama kalau kita belum mengenal Allah.

Nah marilah kita membuka dan mengurai sekat-sekat yang telah mengganggu kita tentang masalah Hati dan juga masalah mengingat Allah ini dengan perlahan dan sesederhana mungkin.

Bersambung

Read Full Post »

Sebab kalau sudah masuk ke dalam Alam Makrifat kepada Allah SWT itu, Alam Makrifatullah, maka kita akan menjadi orang-orang yang aneh dan ganjil, terutana dimata orang-orang syariat dan juga di mata orang-orang tarekat secara umum, apalagi dimata orang-orang awam. Seganjil dan seaneh Rasulullah SAW, para Sahabat Beliau, Uwais Al Qarni, Khidir AS, dan “orang-orang Allah” lainnya yang kadangkala sering masih disembunyikan oleh Allah sampai saatnya nanti dimunculkan oleh Allah ketika mereka sudah punya tugas tertentu dari Allah yang harus dilaksanakannya untuk kemaslahatan umat manusia.

Rasulullah SAW telah membuat orang-orang Yahudi merasa aneh dan ganjil. Mereka tidak mudah untuk mempercayai penglihatan mata mereka. Bagaimana bisa seorang pengembala kambing di gurun pasir dan tidak tahu pula tulis dan baca menyatakan dirinya telah diangkat oleh Allah sebagai Rasul-Nya. Kan seharusnya Allah mengangkat Rasul-Nya itu dari kalangan Yahudi sendiri yang menganggap dirinya adalah orang-orang yang terpilih, The choosen one.

Pada sisi lainnya, keanehan yang Beliau lakukan adalah, walaupun Beliau sudah dijamin untuk masuk syurga, namun Beliau masih tetap saja melakukan shalat dengan kualitas dan kuantitas yang jauh melebihi siapapun juga. Begitu juga keanehan Beliau terhadap seluruh umat Beliau, baik yang sudah beriman kepada Allah maupun yang belum, sangat menggambarkan fungsi Beliau sebagai Rahmat bagi semua manusia. Beliau tidak pernah menghina, menghardik, memaki, dan berkata kasar kepada semuanya. Sebab beliau telah melihat tanda-tanda Allah disebalik semua ciptaan Allah yang tergelar ini. Bahwa semuanya ternyata berasal dari sedikit Dzat-Allah yang terdzahir menjadi semua ciptaan. Semuanya ternyata bersahabat. Sahabat yang terjalin karena semuanya bersumber dari Dzat Yang satu, Dzat Allah yang sedikit yang dikurung oleh Allah sendiri di Lauhul Mahfuz.

Begitu juga Para Sahabat Beliau yang menjadi Khalifah, Uwais Al Qarni, Nabi Khidir As, dan orang-orang Allah yang lainnya, semuanya bersikap aneh dan ganjil jika dipandang dengan kacamata masyarakat umum. Sebab Beliau-beliau itu memang memakai kacamata lain, kacamata Makrifatullah. Kacamata yang mampu melihat tanda-tanda Allah disebalik semua ciptaan. Yaitu adanya Dzat Wajibul Wujud yang menjadi unsur dasar dari semua ciptaan. Tanpa adanya Dzat Wajibul Wujud ini, maka tidak akan pernah pula tercipta semua ciptaan.

Lensa dari Kacamata Makrifatullah itu adalah Lensa Hakikat, sebuah lensa yang bisa menangkap adanya Wujud Yang Batin disebalik Alam Yang Dzahir itu. Bahwa disebalik Alam Sifat ini ternyata ada Dzat Yang Batin yang terdzahir menjadi seluruh Ciptaan (Dzat Yang Dzahir) itu. Dan lensa hakikat ini hanya bisa dipakai dengan menggunakan Mata Hati atau Mata Akal. Bukan Mata Lahiriah.

Setelah Mata Hati kita berhasil melihat Wujud Dzat Yang Batin yang menjadi unsur awal dari terciptanya semua ciptaan ini, maka kita tinggal selangkah lagi untuk bermakrifat kepada Allah. Bahwa Dzat Yang Batin yang terdzahir itu hanyalah sedikit saja dari keseluruhan Dzat Yang Maha Indah, yang menamakan diri-Nya sendiri sebagai Allah. Dan kita akan berhenti disini. Tidak ada lagi sesudah Dzat Yang Maha Indah itu. Sesudah itu adalah kesesatan dan kejahilan. Dan setelah itu kita tinggal mengingat Allah di dalam Hati kita sepanjang masa. Kita mengingat Allah saat shalat, diluar shalat, saat berdiri, saat duduk, saat berbaring, saat bekerja, saat berdagang, saat apapun juga.

Jadi seseorang yang dikatakan sudah memakai kacamata Makrifatullah adalah ia yang telah mampu memandang dirinya dan semua ciptaan ini dengan UTUH. Bahwa ketika Mata Lahiriahnya melihat Sifat semua ciptaan, maka Mata Hatinya telah mampu pula melihat Wujud Dzat yang merupakan hakekat dari semua alam ciptaan itu, dan kemudian Hatinya telah mampu pula untuk mengingat Allah setiap saat sebagai alamat terakhirnya dalam bermakrifat.

Dari Sifat ia beranjak ke Hakekat untuk kemudian ia Bermakrifatullah. SIFAT – HAKEKAT – MAKRIFATULLAH. Ia meninggalkan alam Sifat untuk masuk ke Alam Hakekat lalu menuju ke Alam Makrifatullah. Dan alat yang dipakainya untuk itu adalah MATA LAHIRIAHNYA untuk memadang Sifat, MATA HATINYA untuk memandang Hakekat, dan HATINYA untuk Bermakrifatullah dengan mengingat Allah setiap saat.

Hati yang sudah mampu mengingat Allah setiap saat disebut Hati yang sudah berdzikir kepada Allah, dzikrullah. Sehingga untuk hati yang seperti itu berlakulah hukum ingat mengingat antara Allah dengan hamba-Nya. “FADZKURUNI ADZKURKUM…, ingatlah Aku dan Aku pasti akan ingat pula kepada kamu”, kata Allah di dalam Al Qur’an. Lalu dengan melalui Jalan Ingat Allah, Dzikrullah, itulah kemudian Allah akan berkenan memberikan pengajaran-pengajaran dan petunjuk-petunjuk-Nya kepada kita. Berkali-kali Allah juga menyatakan dengan gamblang bahwa: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”, ( Ar Ra’du 13: 28 ). Jelas sekali, tanpa ditutup-tutupi.

Bersambung

Read Full Post »

Alhamdulillah, sampai tahapan ini, kita sudah membahas begitu banyak hal yang telah membebani perjalanan umat islam yang bermula sejak abad ke 4 setelah Rasulullah SAW wafat yang ternyata berlanjut sampai sekarang ini. Beban itu bermula sejak dikenalkannya Istilah SYARIAT – TAREKAT – HAKEKAT – MAKRIFAT oleh orang-orang yang mencoba menggali kehidupan BERTASAWUF, yang sebenarnya sudah ada sejak zaman Rasulullah, melalui cara-cara baru yang disebut sebagai JALAN TAREKAT.

Sejak zaman itu, maka umat islam dalam beribadah terpecah menjadi dua kutub extrim, yaitu KUTUB SYARIAT yang menyatakan dirinya berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Al Hadist, dan KUTUB TAREKAT yang juga menyatakan dirinya berpegang teguh pada Al Qur’an dan Al Hadist pula. Tapi anehnya masing-masing kutub itu, Syariat dan Tarekat, malah saling menyalahkan yang lainnya dan saling membenarkan hanya dirinya sendiri. Semuanya sibuk sekali untuk membangun keakuannya masing-masing. Membangun kepemilikannya masing-masing.

Dari Kutub Syariat, kemudian lahirlah berbagai golongan yang bisa kita lihat eksistensinya sampai sekarang. Misalnya Sunni, Syiah, Qadariyah/Muktazilah, Jabariyah, Asy’ariyah, sampai kepada yang terbaru seperti Salafi, Wahabi, dan sebagainya. Semuanya keluar dengan doktrin yang sangat ketat dalam mempertahankan dogma pemikirannya masing-masing.

Dari kutub Tarekatpun muncul berbagai tarekat yang nantinya bisa dibedakan menurut nama pembawanya disaat awal pembentukannya. Misalnya Naqsyabandiyah, Syattariyah, Qadiriyah, dan Syadziliyah, Sammaniyah, Tijaniyah, Sanusiyah, dan sebagainya. Mungkin lebih dari 40-an aliran tarekat yang terdapat diseluruh dunia saat ini. Dari sebagian besar para pemraktek Tarekat ini kemudian munculnya paham Wahdatul Wujud, Ittihad, Hulul, Baqa-Billah, Nur Muhammad, Insan Kami, Syatahat, Rabitah Mursyid, dan sebagainya. Juga di dalam berbagai tarekat ini kemudian dikenal berbagai DZIKIR seperti Dzikir Lisan, Dzikir Qalb, dan Dzikir Sirr, yang tujuannya adalah untuk tujuannya adalah untuk membersihkan JIWA agar Jiwa pengamalnya tersebut bisa menangkap ILHAM untuk mencapai peringkat Makrifatullah. Sebuah peringkat yang sangat WAH, yang sangat sulit untuk dicapai oleh orang-orang biasa.

Untuk sesaat, marilah kita tinggalkan keramaian pembahasan alam Syariat dan Tarekat itu untuk kemudian kita masuk ke alam Hakekat menuju Alam Makrifat dengan memakai Kacamata Makrifatullah. Kita keluar dari pembahasan itu untuk mengamati bahwa Syariat dan Tarekat itu ternyata hanyalah ALAM SIFAT yang memang akan selalu ramai dan riuh rendah begitu kalau kita tetap bertahan di dalamnya. Kita tidak akan pernah habis-habisnya membahas Alam Sifat ini sampai kapanpun juga, selama kita masih punya mata, telinga, dan panca indera kita yang lainnya. Karena memang Alam Sifat ini adalah alam DZAHIR (lahiriah) yang bisa kita deteksi dengan mudah dengan menggunakan panca indera kita. Kalau nanti tidak cocok, silahkan kembali ke pembahasan alam Syariat dan Hakekat yang sangat ramai itu untuk menjalani hari-hari kita selanjutnya.

Kita ikuti saja contoh dari Rasulullah dalam berda’wah: “Engkau akan datang kepada suatu kaum Ahli Kitab. Karena itu, hendaklah yang pertama-tama engkau serukan kepada mereka ialah beriman kepada Allah Azza wa Jallah. Apabila mereka telah mengenal Allah, Makrifat kepada Allah, maka beritahulah mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam, Shahih Muslim Buku 1, 28 (1998). Sebab makrifat kepada Allah Ta’ala itulah yang merupakan asas atau dasar fondasi yang diatasnya akan didirikan segala macam kehidupan kerohanian. Salah dasarnya, maka salah pula bangunan kerohanian yang kita dirikan diatasnya.

Bersambung

Read Full Post »

Akan tetapi, ketika Allah telah menampakkan kepada mereka “tanda-tanda-Nya” di dalam diri Adam, hanya Malaikat sajalah yang akhirnya tersadar, sehingga iapun segera sujud tanpa reserve kepada Adam. Malaikatpun menyadari bahwa dengan melihat “tanda-tanda Allah” di dalam diri Adam seperti itu, maka jelaslah baginya bahwa Adam pun sebenarnya tidaklah wujud. Yang wujud adalah tanda-tanda Allah itu. Lalu Ia pun sujud kepada tanda-tanda Allah yang ada di depannya itu. Dengan sujud itu, maka malaikatpun dengan sendirinya rela pula untuk melepaskan wujudnya, melepaskan keakuan dan kepemilikannya terhadap dirinya.

Sedangkan Iblis tetap gagal menangkap “tanda-tanda Allah” yang ada di dalam diri Adam itu, sehingga ia pun bersikukuh untuk tetap tidak sujud kepada Adam sampai hari kiamat. Ia tetap hanya mampu melihat wujud Adam dengan segala sifat-sifat tanahnya yang kelak akan ia bandingkan terus dengan wujud dirinya yang berupa api dengan segala sifat-sifatnya pula. Ia akan tetap melihat adanya kewujudan dirinya dan kewujudan Adam ditengah-tengah Wujud Sang Wajibul Wujud Allah Swt. Sungguh saat itu juga tanggallah tauhid iblis sampai hari kiamat kelak.

Bukankah ketika kita juga merasa wujud yang ditandai dengan kita selalu mengatakan bahwa ini adalah aku dan ini adalah milikku, sebenarnya saat itu juga kita tengah kehilangan tauhid kita dihadapan Allah?. Karena saat itu ada dua wujud yang eksis, yaitu Wujud Dzat Wajibul Wujud, dan wujud makhluk yang mengaku wujud pula.

Ketika kita merasa wujud, maka kita dengan gagah berani sering berkata: “Apapun yang baik-baik yang saya lakukan adalah dari Allah, sedangkan yang buruk adalah dari saya dan hawa nafsu saya sendiri”. Walaupun kelihatannya kalimat ini sungguh-sungguh santun, tapi ia tetap bertentangan dengan rukun iman yang ke-6 yang menyatakan bahwa taqdir baik dan buruk itu semuanya berasal dari Allah…

Begitulah…, banyak orang yang telah mencoba untuk mencari jawaban tentang makna taqdir ini melalui berbagai pendekatan dan ilmu. Namun sebanyak itu pulalah muncul ragam jawaban yang membingungkan umat. Padahal untuk menjawabnya kita hanya perlu melihat “keanehan-keanehan” sikap yang dilakukan oleh Rasulullah dalam menyikapi perilaku ummat Beliau, baik yang sudah beriman kepada Allah maupun yang belum.

Nyaris Rasulullah SAW membenarkan semua yang dilakukan oleh para sahabat Beliau, walaupun yang dilakukan oleh para sahabat Beliau itu berbeda secara signifikan satu sama lainnya. Beliau hanya memperbaikinya sedikit di sana sini kalau memang itu perlu Beliau perbaiki agar sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah. Beliau juga membela seorang Baduy yang buang air kecil di dalam masjid dari amarah para sahabat, sehingga akhirnya si Baduy itu malah berbalik jadi menyatakan keimanannya kepada Allah dan Rasulullah.

Pada suatu ketika Rasulullah dilempari batu oleh para kafirun di Thaif, sampai-sampai malaikat sendiripun geram melihat mereka, sehingga malaikat itu ingin menenggelamkan para kafirun itu dengan tanah pegunungan saat itu juga. Tapi Rasulullah melarangnya dan malah berdo’a agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka, orang-orang yang kelak akan menyembah Allah.

Tanda-tanda Allah seperti apakah gerangan yang dilihat oleh Malaikat sehingga ia langsung sujud menyungkur kepada Adam?. Sebab kitapun sebenarnya harus (kalau tidak mau dikatakan wajib) mengenal tanda-tanda Allah itu, karena tanda-tanda Allah itu pulakah yang dilihat oleh Rasulullah terhadap umat Beliau (baik yang sudah beriman maupun yang belum beriman) sehingga Beliau tidak pernah sekalipun bersikap kasar kepada umat Beliau itu.

Tanda-tanda itu pulalah, pada suatu ketika, yang telah membedakan Musa As dan Khidir As dalam bersikap, sehingga akhirnya Beliau berduapun harus berpisah satu sama lainnya. Sebab ternyata pada saat itu Musa As gagal melihat tanda-tanda Allah itu, sementara Khidir As bisa melihatnya dengan jelas dan terang benderang.

Dan tanda-tanda itu hanya bisa dilihat dengan memakai “Kaca Mata Makrifatullah…”

Bersambung

Read Full Post »

Disinilah sebenarnya letak POKOK permasalahan seluruh umat manusia bermula. Yaitu adanya AKU, sehingga harus ada pula Milikku. Akulah yang MEMUTUSKAN, akulah yang bersikap, akulah yang menghukum, akulah yang berikhtiar, akulah yang memulai dan aku pulalah yang akan mengakhirinya.

Ketika kita mengalami sebuah peristiwa atau kejadian, kalau kita berpaham Jabariyah, maka kita akan keluar dengan sikap pasrah seperti berikut ini: “Karena aku merasa sudah tidak bisa lagi melawan taqdir Allah, maka aku PUTUSKAN aku akan menjadi orang yang pasrah saja. Orang yang menerima saja apapun kehendak Allah. Sebab apapun yang akan aku lakukan toh nasib dan taqdirku sudah ditetapkan oleh Allah seperti apa yang aku alami sekarang ini”. Lalu kitapun akan cenderung menjadi seperti orang yang berputus asa, dan tidak bergairah lagi dalam menjalani kehidupan ini.

Sedangkan kalau kita berpaham Qadariyah atau Muktazilah yang sebenarnya keduanya adalah sebelas dua belas saja alias sama, level intensitas keakuan dan kepemilikan kita secara otomatis akan menjadi lebih kental dan kuat dibandingkan dengan paham Jabariyah. Sebab ternyata dengan hanya mengubah-ubah dan mengatur-atur pola pikir kita, ternyata kita seperti bisa pula mengubah-ubah dan mengatur-atur nasib kita ataupun kejadiaan-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang akan kita dapatkan dan alami dikemudian hari. Kita seperti bisa untuk memilih kehidupan kita sendiri tanpa campur tangan Allah sedikitpun. Menarik sekali…, dan menggoda sekali. Nanti akan terbuka sendiri, kenapa hal seperti ini bisa terjadi…, insyaalah. Tell yea…, ini sebenarnya bukanlah masalah getaran atau vibrasi…

Masalah keakuan dan kepemilikan ini, tak terkecuali, ternyata juga menghinggapi kita ketika kita berpaham Asy’ariyah dalam menyikapi taqdir ini. Karena kita berada ditengah-tengah antara paham Jabariyah dan Qadariyah, maka kita lalu merasa lebih aman. Kita merasa tidak bersikap terlalu ekstrim FATALIS dan tidak pula terlalu ekstrim RASIONALIS. Aman…, kata kita. Sehingga kadangkala kita bisa bersikap Jabariyah yang ringan dan bisa pula bersikap Qadariyah yang minimalis. Kita bisa merasa telah BERIKHTIAR dan bisa pula sekaligus bersikap TAWAKKAL.

Ketiga paham ini sebenarnya Qur’ani dan Hadisti sekali. Sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadist untuk masing-masing paham itu. Akan tetapi kalau dilihat lebih dalam lagi, ternyata ketiga paham yang umumnya dipakai oleh umat manusia dalam menghadapi taqdir ini punya masalah mendasar yang sama, yaitu masalah kewujudan umat manusia di alam dunia ini.

Ya…, ketiganya masih wujud, karena dalam ketiga paham itu masih ada kita yang merasa bisa menetapkan dan memutuskan apa-apa yang akan kita lakukan, sehingga tanpa kita sadari saat itu juga runtuhlah Tauhid kita. Sebab disamping ada Wujud Allah sebagai Dzat Wajibul Wujud, ada pula wujud kita sebagai manusia yang berhak untuk memutuskan dan menetapkan. Karena kita merasa ada wujud kita, kita merasa wujud, maka kitapun merasa berhak pula untuk protes, bertanya-tanya, dan menetapkan sikap kita dihadapan Allah. Persis seperti sikap yang ditunjukkan oleh iblis dihadapan Allah ketika Nabi Adam pertama kali diciptakan oleh Allah.

“Aku ada, aku lebih baik dari Adam, Allah salah kalau menyuruhku sujud kepada Adam”, kata iblis kepada Allah. Lalu ketika Allah mengusirnya dari syurga, maka diapun menerimanya dengan terpaksa dan malah sempat berikrar bahwa dia akan tetap menggoda seluruh umat manusia agar nantinya umat manusia itu melawan kepada Allah seperti dirinya, kecuali bagi orang-orang Allah (mukhlashin).

Malaikat, dalam hal penciptaan Nabi Adam ini, pada awalnya sempat pula menyatakan kewujudannya dihadapan Allah. Ia mengatakan bahwa Allah mungkin keliru dalam menciptakan Adam ini, yang ciri-cirinya mirip sekali dengan makhluk penumpah darah sebelumnya, dan ia juga merasa bahwa sudah cukup hanya ia sajalah yang sujud dan bertasbih kepada Allah. Oleh sebab itu ia menganggap bahwa Allah tidak seharusnya menciptakan makhluk yang lain lagi selainnya.

Lihatlah, betapa pada awalnya Iblis dan Malaikat mempunyai sikap yang sama kepada Allah terhadap peristiwa penciptaan Adam ini. Mereka hanya melihat Adam dalam tatanan sifat yang begini dan begitu, sehingga merekapun berani atau tergoda untuk membantah Allah dengan berpatokan kepada sifat-sifat Adam itu. Karena mereka segera saja membandingkan sifat-sifat mereka dengan sifat-sifat Adam yang mereka lihat secara kasat mata.

Bersambung

Read Full Post »

Pertanyaan-pertanyaan tentang TAQDIR seperti ini rasanya sudah berumur ratusan tahun (terutama setelah abad ke 4 wafatnya Rasulullah SAW). Dan sejak itu tampaknya kita nyaris kehilangan jawaban yang bisa melegakan hati kita sebagai bekal kita dalam menghadapi berbagai hempasan gelombang kehidupan yang mendera. Betapa tidak, lembaran catatan sejarah umat manusia seperti tak henti-hentinya bercerita tentang jejak peradaban yang penuh dengan kepedihan, kegalauan, penderitaan, tetesan darah dan airmata, dengan diselingi di sana sini oleh canda ria, tawa ceria, dan kesumringahan, walau itu hanya sebentar saja. Jutaan nyawa manusia telah berguguran baik melalui jalan peperang yang hampir-hampir saja tak pernah berhenti sampai sekarang ini maupun melalui kecelakaan dan bencana alam yang datang silih berganti.

Tatkala zaman bertukar, maka berganti pula derajat kesadisan diantara sesama umat manusia. Perang sudah tidak membedakan lagi antara prajurit dengan anak-anak, wanita dan orang tua. Semuanya bisa mati secara bersamaan tanpa mereka sempat untuk saling bertanya-jawab satu sama lainnya tentang siapa mereka.

Belum lagi bencana alam yang datang bertubi-tubi menyambangi berbagai negara dan bangsa yang juga merenggut jutaan nyawa manusia dan hewan ternak, menghancurkan rumah dan sawah ladang, yang kesemuanya itu akan menguak jerit tangis yang menguras airmata dan simpati.

Ditengah-tengah tragik hidup yang seperti itu, kita masih diharuskan untuk beriman kepada TAQDIR ALLAH yang mengisyaratkan bahwa kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang baik maupun yang buruk itu, semuanya berasal dari aktifitas dan pengaturan Allah. Dalil-dalil Al Qur’an dan Al Hadistnyapun lengkap sekali kita punyai untuk kita jadikan sebagai patokan kita dalam bersikap.

Namun itulah masalahnya, dengan semua kelengkapan bahan dasar untuk bersikap itu, kita malah gagal untuk merangkainya menjadi sebuah bentuk sikap yang utuh. Kita gagal dalam bersikap menghadapi Taqdir Allah seperti sikap yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, Sahabat-sahabat Beliau, Tabi’in, Tabiut Tabi’in. dan juga Nabi-Nabi dan orang-orang shaleh pada Zaman Dahulu. Tanda-tandanya mudah saja kok untuk dilihat. Kita masih saja selalu bertanya dan bertanya dengan sangat lantang ataupun dengan setengah malu-malu: “Kenapa ini harus terjadi Ya Allah?; Kenapa begini Ya Allah?; Kenapa harus saya, keluarga saya, anak saya yang harus menanggungnya Ya Allah?. Kan yang seharusnya menanggung nestapa ini adalah dia, si itu, si ini, keluarga si anu?”

Atau kita bisa pula berlagak menjadi seorang hakim yang sangat bijaksana tatkala sebuah bencana alam menimpa suatu daerah. Dengan suara yang amat lantang kita bisa dengan mudah menghakimi penduduk di daerah tersebut: “Bencana itu terjadi karena penduduk di daerah itu sudah penuh dengan perbuatan maksiat, sehingga Allah menghukum mereka. Ini adalah hukuman Allah atas dosa-dosa mereka. Coba kalau penduduk di daerah itu menjadi orang yang beriman dan meninggalkan maksiat, insyaalah Allah akan menjauhkan bencana dari daerah tersebut”. Huh…, betapa beraninya kita menghakimi mereka seakan-akan kita tahu rahasia disebalik bencana itu.

Dan yang paling menggoda adalah keinginan kita untuk merasa memiliki suatu atribut atau kebanggaan akan sesuatu yang sedang berada di tangan kita. Tak peduli apakah sesuatu itu bersifat materil maupun sesuatu yang immateril seperti ilmu, rasa bahagia, khusyu, tenang, ikhlas, dan lain-lain sebagainya. Misalnya, kita akan sangat mudah sekali tergoda untuk dikatakan hebat, dibilang bisa ini dan bisa itu, dianggap memiliki ini dan itu, oleh orang lain. Kalaupun orang lain tidak mengakuinya, kita sendiri bisa mengklaimnya secara sepihak bahwa sesuatu itu adalah milik kita, atribut kita.

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: