Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2013

Sebuah Sharing dari seorang Teman…
____________________________________

Lihatlah… dan lihatlah wahai sang sadar

matahari yang telah semakin membara di ufuk

memanggang tanah, seolah ingin membakar setiap sudutnya

tidakkah kau rasakan wahai sang sadar

gemeretak kemarahan sang ibu pertiwi mulai murka

berderap, bergemeluruh, menggeliatkan tanah dan gunung api

gemuruh air telah siap dimuntahkah

untuk mengubur dan membumi hanguskan….

masih adakah lagi engkau yang sadar

….

dan kemarilah merunduk

membujuk sang pertiwi yang mulai murka

….

lihatlah bangsa ini ini telah porak poranda

sebuah negeri telah menjadi negeri sempurna bagi korupsi

telah begitu akur, teratur tertib dan berjamaah

saling bantu membantu dalam korupsi

telah hilang rasa malu menjadi pencuri

seolah menjadi pahlawan karena korupsi

amati dan lihatlah, dimana-mana

ketika dukun dan paranormal menjadi pujaan

dielu-elu karena kesaktian

menjadi panutan dan suri tauladan

telah hilang rasa ketuhanan

….

lihatlah dan lihatlah sekali lagi dengan teliti

ketika para dai dan ulama yang seharusnya memberikan tuntunan

malah menjadi tontonan, lawakan bak para selebriti ternama

dikawal geng motor dan para ajudan

lupa dengan ajaran Tuhan

….

lihatlah dan lihatlah, dimanakah bangsa yang peramah

ketika yang nampak hanyalah aroma kemarahan

wajah-wajah beringas berhias kopiah

gahar, garang dan kasar, tanpa perasaaan

melempar, menampar, memukul, menyeret

memburu mereka yang tak sepaham,

mengerjar dan menghancurkan

kebencian, caci maki, saling serang, dan saling bunuh

penjarahan, keserakahan, penindasan di antara sesama manusia

masih adakah kasih sayang sesama manusia?.

tidakkah kau dengar berita kabar angin?

anak menyelingkuhi ibunya

ayah memperkosa putrinya

pemuda beramai-ramai memperkosa balita

manusia memperkosa manusia

seks bebas bisa dibeli, pemuka kaum agama menyebar uang

bak don yuan membagi-bagikan harta dan rayuan kepada wanita

membuat bola mata melotot seolah hendak loncat keluar tak percaya

(dimanakah Tuhan bagi dia)

dan harta hasil mencuri harta rakyat jelata

atau kabar angin tentang sang petinggi negeri

berselancar di dunia maya menyingkap paha-paha terbuka

tanpa merasa dosa dan salah (dimanakah Tuhan).

hukum rimba meraja lela

siapa kuat dia menang

siapa kuat dia benar

dimanakah kutemukan manusia yang berhati

ketika para jin dan lelembut di puja puji

dimanakah lagi kucari cinta

ketika yang nambah adalah bangkai-bangkai yang berjalan

manusia yang kehilangan hati….

maka lihatlah kemarahan sang ibu

….

duhai ibu segala ibu…ibu pertiwi yang menanggung beban

wahai para pemandu dan pendahulu negeri

wahai para syuhada dan para leluhur yang arif bijaksana

wahai ruh-ruh yang tetap hidup di alam sana

… sudah saatnyakah untuk kembali turun

menenteramkan negeri yang telah carut marut

sebelum sang ibu melaksanakan perintah

basahi jiwa-jiwa yang lembut

suburkan hati anak negeri

taburkan kasih sayang dan saling mencinta

satukan dalam persaudaraan

…….

lihatlah dan lihatlah

fasilitas umum dihancurleburkan

iblis merasuk berwajah ramah

syetan, gondoruwo, wewe gombel, kuntilanak telah menjadi rekan sepermainan

….

ooh negeriku … negeri para ulama …negeri para biarawan, negeri para cendekiawan,

negeri para ruhaniwan, negeri yang dibangun dari tetas darah mereka

negeri yang dilandasi cinta dan kasih sayang Tuhan, negeri yang berdiri atas berkah dan rahmat Tuhan Yang Esa

kemana lagi jiwa dan hati mereka, yang telah menukar dengan makhluk jadi-jadian

dimana-mana yang nampak adalah wajah beringas

salah sedikit membentak

beda pendapat sedikit murka

ditegur sedikit marah

siap bertarung dan siap murka

ooh negeriku…

berbekal jidat hitam dan teriakan keras seakan surga di tangan

mengacung-acungkan parang dan membantai sesama

duhai negeri …negeri para ulama…negeri para pertapa, pendeta, dan biarawan

aku menangis untukmu …aku berduka untukmu

….

kepadamu ibuku …ibu pertiwi

dimanakah kau pingit “satria-satriamu”

apakah terus saja kau simpan dan sembunyikan

apakah sudah cukup waktunya

ataukah menunggu kehancuran yang lebih lagi

….

aku menunggunya

biar kusiapkan sutera di hati

kusampaikan salam sejahtera atas kedatangan para satria

ijinkan kucuci ujung jari kaki hatimu

dan kupersilahkan duduk di singgasana negeri

di atas reruntuhan hati yang tersebar entah kemana

….

telah kudengar teriakanmu ibu

dentuman-dentuman dan geraman dari gunung-gunungmu yang menggelegar

hentakan-hentakan kaki-kakimu yang menggetarkan bumi

gemuruh pasukan airbah yang siap menerjang

aku mendengar rintihanmu

di langit barat kau merintih

di ujung timur kau berduka

kau sapa burung yang terbang ketakutan

kau cari satwa-satwa yang tak lagi tersisa

kau tangisi pepohonan yang semakin lenyap

tanah yang hijau telah gundul menghitam

….

aku merasakan dukamu ibu … aku mengerti sedihmu

kehancuran hatimu yang telah remuk dan tak lagi berbentuk

serpihan-serpihan hatimu yang tersebar di seantero negeri

tetes-tetes darahmu mengalir bersama derita anak-anak negeri

….

betapa lemah aku menatapmu

hanya bersimbah air mata dan air mata

tak mampu aku mengucap

malu aku menatapmu

dulu kau begitu cantik dan anggun

kini begitu terkoyah dan hampir telanjang

sedemikian sedikit anak-anak negeri yang mau mendengarmu

mendengar keluhanmu, mendengar jeritanmu

lengkingan sakitmu, menghujam jantungku dalam-dalam

erangan tangismu mengusik jiwaku

sedihmu membawaku terlempar ke masa indahmu

….

kutunggu engkau memanggil anak-anakmu

anak yang mencintaimu tanpa pamrih

anak-anak negeri yang memiliki hati

memiliki cinta kasih bagimu ibu negeri

masihkah aku memiliki waktu untuk melihatmu

kembali kokoh, tegak, anggun, cantik dan berwibawa

sebagai pengayom seluruh anak negeri

…..

ijinkan aku mengirim elegi ini

karena tanganku terlalu lemah untuk membelamu

Semoga terbaca oleh mereka yang terasing

yang terpingit oleh keadaan, yang terhimpit oleh susana

mereka yang memiliki hati, hati SANG SATRIA

hati yang terpingit dalam wingit dan sucinya dada.

Merekalah Sang Ksatria alam, kekasih hati ibu pertiwi.

Ijinkan kusampaikan salam hormatku

selamat datang para ksatria.

Wassalam
Deka
On Behalf Seorang Teman di Benua Australia…

Read Full Post »

BERAMAL SHALEH DAN BERSYUKUR

Allah berkata di dalam Al Qur’an bahwa:

• “…., Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan AMAL YANG SHALEH dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya (SYIRIK)”, (Al Kahfi, 18:110).

• “Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: “ sesungguhnya jika kamu BERSYUKUR, pasti Kami akan menambah (NI’MAT) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”, (Ibrahim 14: 7).

Dua ayat ini sangat terkait satu sama lainnya. Ayat-ayat yang akan memberikan kita sebuah motivasi yang sangat besar agar kita bersemangat untuk beramal shaleh. Ya…, ayat-ayat yang sangat sederhana ini, sebenarnya mengandung makna yang sangat besar bagi kita yang ingin bertemu dengan Allah. Kalau bagi yang ingin bertemu Allah nanti di akhirat, mungkin ayat ini tidak terlalu memberi motivasi yang besar baginya.

Kedua ayat ini menggambarkan sebuah PROSES UTUH yang harus dilalui oleh seluruh umat manusia. Tanpa kecuali. Yaitu proses agar kita bisa mencapai tingkatan sebagai hamba Allah, Khalifatullah di muka bumi ini. Tanpa melakukan proses utuh seperti ini, berarti ada langkah yang tidak kita jalani, sehingga proses yang kita lalui itu jadi menggantung. Karena menggantung, maka sebagai konsekuensinya kita akan dibebani oleh sebuah rasa seperti kita tidak sampai kepada akhir dari perjalanan kita. Dan itu sangat menyiksa sekali.

Mari kita lihat logikanya.

Tujuan Allah untuk menciptakan manusia sebenarnya adalah untuk bisa saling Beramal Shaleh bagi sesama. Yaitu agar kita bisa saling berbuat baik untuk sesama manusia. Bukan untuk saling merusak dan saling menghancurkan satu sama lainnya.

Amal shaleh itu sendiri berarti ada sesuatu yang kita hasilkan dari tetes keringat kita sendiri. Ada sebuah penciptaan yang lahir dari tangan kita. Betapapun kecilnya. Walau hanya sekecil membuang pecahan kaca ditengah jalan yang bisa melukai orang lain, itu sudah termasuk kategori amal shaleh juga namanya. Apalagi kalau dari tangan kita bisa bermunculan kreasi-kreasi yang bisa membuat diri kita dan orang lain menjadi MUDAH dan SENANG dalam menjalani hidup ini. Alangkah besarnya nikmat yang bisa kita rasakan.

Sempurnanya amal shaleh kita itu adalah ketika bisa mengambil peran yang tidak mudah untuk kita jalani. Amal shaleh itu tidak akan bisa kita lakukan kalau kita malah lari kepada hal-hal yang mudah seperti bertapa di puncak gunung atau bersembunyi di tempat yang sepi. Walaupun itu kelihatannya bertapa dan menyepi itu sulit, tapi sebenarnya hal itu mudah sekali kita lakukan.

Yang sulit adalah bagaimana kita masih bisa beribadah dan beramal shaleh ditengah-tengah keramaian hidup bermasyarakat. Ya…, amal shaleh itu berarti berkarya dengan memilih jalan yang rumit. Bukan jalan yang asal jadi.

Prosesnya BERKARYA itu umumnya begini:

• Berkarya itu IDEALNYA adalah dimulai dari IDE yang berhasil kita tangkap di dalam diri kita. Kemudian IDE tersebut kita perjuangkan untuk kita wujudkan.
• Melalui berbagai contoh dan perumpamaan yang sudah digelar Allah di alam semesta ini, kita belajar, kita menyimpan data yang kita lihat dan pelajari itu di dalam benak kita.
• Data-data itu lalu kita analisa, kita simpulkan, sehingga kitapun bisa menarik sebuah ILMU dari sesuatu yang tadinya hanya berupa IDE.
• Ilmu tersebut bilamana kita terapkan akan menjadi teknologi / rancang bangun.
• Dengan gabungan antara ilmu dan teknologi, kita akan mewujudkan ide yang dimaksud.
• Setelah ide tersebut terwujud, maka sudah semestinya hasilnya bisa kita NIKMATI.
• Di titik inilah, kebanyakan manusia terhenti, yakni lupa bersyukur. Dan tentunya menjadi lupa pula untuk mengenal Allah.

Begitu kita selesai melakukan sebuah KARYA, akan ada rasa selesainya, ada rasa bahagia yang muncul di dalam dada kita. Kalau tidak selesai, pasti rasa bahagianya tidak full. Rasa bahagia itu muncul karena kita telah berhasil menciptakan sesuatu dan kita bisa pula menikmati hasilnya untuk memudahkan kita dalam menjalani kehidupan. Munculnya rasa senang dan bahagia di dalam dada kita inilah yang dimaksudkan dengan NIKMAT oleh ayat tersebut diatas. Cuma saja banyak diantara kita yang berhenti hanya pada sekedar sampai merasakan rasa nikmat itu tadi. Kita lupa untuk BERSYUKUR. Dan kita lupa pula bahwa IDE kita itu sebenarnya adalah IDE ALLAH yang disusupkan-Nya ke dalam dada kita.

Bersyukur berarti kita telah membebaskan dada kita dari BEBAN rasa NIKMAT itu sendiri. Karena dibebani oleh rasa bahagia itu sungguh berat dan tidak enak. Kita tidak kuat untuk membawa-bawanya sendirian dipundak kita. Kita ingin segera share, kita ingin segera membagi rasa bahagia kita itu dengan orang lain. Makanya kita selalu ingin bercerita kepada orang lain bahwa kita saat ini sedang bebahagia, karena kita telah berhasil melakukan ini dan itu, kita telah berhasil menciptakan kreasi / karya ini dan itu.

Semua orang punya fitrah untuk melepaskan BEBAN kenikmatan seperti ini, tak kecuali bagi orang-orang atheis sekalipun. Kita ingin menyampaikan bahwa saat ini kita telah selesai melakukan sesuatu. Kita telah menjalankan tugas kita dengan sebaik-baiknya. Keinginan untuk menyempaikan pencapaian prestasi yang telah kita lakukan itu demikian membebani kita. Berat sekali rasanya. Makanya kita ingin bercerita kepada orang lain ketika kita sudah selesai melakukan sesuatu. Kita sudah mendapatkan sesuatu yang sangat membahagiakan kita. Kita seperti ingin mengantarkan beban itu kepada seseorang yang bisa mengambil beban bahagia itu dari dada kita.

Dengan bercerita kepada orang lain, kita merasakan beban yang ada didalam dada kita sedikit agak berkurang. Agak lega begitu. Tetapi pada saat yang sama, kita sedang menunggu pemenuhan rasa nikmat yang berkurang itu tadi agar bisa dipenuhi kembali. Pemenuhannya itu adalah dalam bentuk PUJIAN. Kita ingin orang lain segera memuji apa yang telah kita lakukan.

Untuk bisa mendapatkan pujian orang seperti ini adalah fitrah manusia juga. Kita ingin dipuji oleh orang tempat kita berbicara itu. Paling tidak kita ingin melihat ekspresi wajah penuh kekaguman dari orang itu kepada kita. Apalagi kalau orang itu menyatakan ucapan terima kasih atau sedikit pujiannya kepada kita. Itu sudah cukup menimbulkan rasa bahagia baru di dalam diri kita. Rasa bahagia yang kita rasakan kembali menjadi penuh kembali. Dada kita kembali dibebani oleh rasa bahagia yang harus kita bagikan dengan orang lain. Maka kitapun ingin bercerita kemana-mana, kalau perlu semua orang tahu bahwa kita sedang berbahagia karena kita telah berkarya, telah selesai beramal shaleh. Kita ada dan berkarya.

Tapi kalau mereka tidak punya ekspresi pujian atau terima kasihnya, kita akan merasakan ada yang kurang di dalam diri kita. Maka kita akan pergi kemana-mana untuk melakukan kebaikan-kebaikan lagi agar bisa dilihat pula oleh orang lain. Semakin banyak orang yang kita bantu, maka semakin banyak pula kemungkinan bahwa kita akan mendapatkan nikmat karena saat itu kita sebenarnya sedang membantu diri kita sendiri, dan itu ditambah pula dengan nikmat pujian walau hanya dari beberapa orang saja.

Alamat untuk menyatakan rasa bahagia kita ketika kita sudah selesai melakukan suatu pekerjaan, lebih-lebih pekerjaan itu adalah pekerjaan yang mulia dan berguna bagi orang banyak, amal shaleh, inilah nantinya yang akan membedakan kita satu sama lainnya.

Alamat itu haruslah alamat terakhir kemana kita bisa melepaskan beban kebahagiaan kita yang membuat kita merasa ada. Kita ingin sejenak untuk membuang keberadaan kita. Karena selama kita belum menyerahkan pencapaian kita itu kepada sesuatu, kita akan selalu dibebani oleh rasa keberhasilan kita itu. Tepatnya kita ingin mengucapkan rasa syukur kita. Sebab dengan mengucapkan rasa syukur itu, berarti kita telah membebaskan diri kita dari beban RASA BERHASIL akibat dari kesuksesan kita melakukan sesuatu.

Bunda Theresa melepaskan bebannya kepada Tuhan. Benar sudah. Tapi ketika dia menyebut nama Tuhan itu, biar dia bisa berkonsentrasi, dia tetap memakai perantara Objek Pikir berupa Yesus Kristus yang bisa digambarkan sebagai orang yang berjenggot, seperti yang digambarkan dan dibuatkan patungnya itu. Sayang sekali sebenarnya. Tapi ya…, itulah jalannya yang diperlihatkan oleh Allah kepada kita sebagai ayat-ayat-Nya yang nyata didepan mata kita.

Didalam Islam, dengan sangat mencengangkan, Rasulullah telah berhasil mencontohkan kepada kita cara untuk meniadakan beban dari adanya rasa nikmat dan bahagia itu dengan jalan BERSYUKUR kepada Allah. Kita diajarkan Beliau untuk MENGEMBALIKAN rasa bahagia itu kepada Allah. Sebab kalau kita mengembalikan rasa bahagia itu kepada yang selain Allah, beban rasa bahagia itu tidak akan pernah bisa hilang dari dalam dada kita. Dan itu sangat menyiksa sekali.

Oleh sebab itu, ketika dada kita sedang dipenuhi oleh rasa bahagia dan nikmat karena kita telah berhasil melakukan suatu amal shaleh, maka pada saat itu pulalah saat yang paling PAS dan CEPAT bagi kita untuk berjumpa dengan Allah. Kita tinggal hadapkan wajah kita ke wajah-Nya, lalu kita ucapkan: “Alhamdulillah…, Alhamdulillah…”. Pujian ini, nikmat ini, bahagia ini, adalah Milik-Mu Ya Allah. Kita hanya menghadap saja…, lalu biarkanlah Allah sendiri yang akan mencabut rasa bahagia dan nikmat itu dari dalam dada kita. Itu terasa sekali dicabutnya beban rasa bahagia yang membebani dada kita, sehingga dada kitapun menjadi LONGGAR dan LAPANG.

Kalau kita salah arah dalam mengembalikan rasa syukur kita itu kepada yang selain Allah, artinya kita SYIRIK, maka rasa tersiksa yang terus meneruslah yang akan kita alami.

Tepat sekali memang ayat apa yang disampaikan Allah didalam ayat Al Qur’an diatas. Sebab, begitu kita menyerahkan kembali rasa bahagia kita itu kepada Allah, bahwa rasa bahagia itu adalah anugerah Allah semata, maka dengan seketika itu pula kita akan tidak dibebani lagi oleh rasa bahagia kita itu. Kita tidak perlu lagi menyampaikannya atau share rasa bahagia itu dengan orang lain. Cukup Allah saja yang tahu. Inilah makna SYUKUR yang sebenarnya.

Setelah itu, Allah sendiri yang akan membuatkan alasan-alasan berikutnya untuk kita agar kita segera melakukan amal shaleh berikutnya, dan berikutnya lagi. Alasan-alasan itu, menurut orang lain, boleh jadi hanya sebuah alasan yang sederhana banget, tapi dalam kesederhanaan itu sungguh terkandung sebuah rasa bahagia yang teramat sangat. Rasa bahagia yang membuat orang bisa bertahan berjam-jam menonton OVJ menjadi tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan rasa bahagia yang langsung di turunkan oleh Allah kedalam dada kita seperti ini.

Dan…, jika dengan berbekal segumpal padat rasa bahagia seperti itu, kemudian kita berdiri untuk shalat…, subhanallah…, suasananya sungguh tak terkatakan. Baru takbiratul ihram saja, dada kita sudah di gedor-gedor oleh rasa bahagia yang turun mengalir dan mengalun seperti gelombang ombak di lautan. Dari awal sampai salam, shalat kita itu seperti ada ISINYA. Bahagia itu datang, lalu membasuh ruang dada kita, kemudian reda dan diam sejenak, lalu gelombang rasa bahagia berikutnya datang seperti ingin menyapu bersih semua kerak hitam di dalam dada kita sampai kesudut-sudut yang terdalam dan paling tersembunyi.

Kalau kita berhasil melakukan hal-hal seperti, maka manfaat yang kita dapatkan insyaalah akan sama dengan manfaat yang didapatkan oleh Rasulullah, Sahabat-sahabat Beliau, Wali-Wali Allah dan orang-orang shaleh sepanjang masa.

Sehingga dengan begitu kitapun akan duduk bersama-sama dalam Tahiyyat menghadap Allah. Saling memberi salam dari Allah. Saling bersyahaat bersama-sama.

“Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”
“(kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang.”

Ya Allah, maafkanlah kedunguan hamba selama ini, yang sibuk mencari kebahagiaan kesana kemari, sementara kebahagian itu ternyata hanya ada di sisi-Mu ya Allah…

Ya Allah, maafkanlah kedunguan hamba selama ini, yang sibuk mencari kesehatan kesana kemari, sementara kesehatan itu ternyata hanya ada di sisi-Mu ya Allah…

Ya Allah, maafkanlah kedunguan hamba selama ini, yang sibuk mencari kekayaan kesana kemari, sementara kekayaan itu ternyata hanya ada di sisi-Mu ya Allah…

Ya Allah, maafkanlah kedunguan hamba selama ini, yang sibuk mencari kehormatan kesana kemari, sementara kehormatan itu ternyata hanya ada di sisi-Mu ya Allah…

Ya Allah, maafkanlah kedunguan hamba selama ini, yang sibuk mencari rasa aman .kesana kemari, sementara rasa aman itu ternyata hanya ada di sisi-Mu ya Allah…

Ya Allah, maafkanlah kedunguan hamba selama ini, yang sibuk mencari syurga kesana kemari, sementara syurga itu ternyata hanya ada di sisi-Mu ya Allah…

Ya Allah, maafkanlah kedunguan hamba selama ini, yang sibuk mencari IMAN, KHUSYU, SABAR, IKHLAS, IHSAN, ZUHUD, WARA, TAWAKKAL, RIDHA, SYUKUR, dan perilaku TAQWA lainnya kesana kemari, sementara semuanya itu ternyata hanya ada di sisi-Mu ya Allah…

Ya Allah, maafkanlah kedunguan, kebodohan, dan ketololan hamba selama ini, yang selalu ingin menjauh dari-Mu…

Allahumma shalli “ala Muhammad wa ala ali Muhammad.

Wallau a’lam

Selesai
Cilegon, 25 April 2013

Read Full Post »

Padahal kalau kita datang menghadap santun kepada Allah, dan kita panggil-panggil Namanya, kita puja Dia, kita Dzikiri Dia, maka GETARAN yang muncul sangatlah halus sekali. Walaupun kita juga bisa menangis, bahkan air mata kita bisa bercucuran sebesar-besar biji jagung, namun tangisan kita itu tak ubahnya seperti tangisan seseorang yang sedang mengungkapkan rasa bahagianya.

Kadangkala tubuh kita juga bergetar agak keras, kita agak kaget dan terpekik. Tapi itu hanya berlangsung sebentar saja. Itu hanya sebagai pertanda saja bahwa kita sedang dituntun oleh Allah untuk memasuki sebuah wilayah RUHANI yang selama ini belum pernah kita masuki. Rasanya seperti ditarik begitu. Kalau kita rilekskan tubuh kita, kita rela saja, maka tarikan itu akan menjadi sangat halus sekali seperti kita menarik seutas benang dari dalam tepung terigu. Kita ikuti saja tarikan itu sampai berhenti.

Kalau sudah berhenti, maka kita tinggal diam di wilayah itu untuk sabar menunggu pengajaran-pengajaran baru dari Allah yang ada di wilayah itu. Diam dan berhenti untuk menunggu pengajaran itu disebut dengan WUQUF. Kita berhenti dengan sabar…!. Sampai kemudian kita ARAFAH, diberi tahu, dikenalkan. Sampai Allah sendiri mengajarkan kita tentang hal-hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Tentang rahasia-rahasia yang ada di wilayah itu.

Kadangkala kita hanya diajarkan tentang sujud. Sujud kita rasanya sangat berbeda dengan sujud-sujud yang pernah kita lakukan sebelum-sebelumnya. Sujud yang sangat dalam dan sangat santun.

Kadangkala kita hanya diajarkan untuk menyebut nama Allah Tiba-tiba kita didorong untuk menyebut nama Allah. Tapi saat kita menyebut nama Allah itu sangat berbeda dengan kita nenyebut nama Allah selama ini. Sebutan kita itu seperti munculnya dari dalam dada kita yang paling dalam. Dan rasanya lebih kuat dari rasa-rasa yang pernah kita alami sebelumnya.

Kadangkala kita diberi pelajaran oleh Allah bagaimana rasanya kalau Allah berkenan menurunkan Rahmat dan Berkah-Nya kepada kita. Bahkan Rahmat dan Berkah yang diturunkan Allah kepada orang lainpun akan terasa pula bagi kita.

Kalau sudah selesai pengajaran itu, maka akan ada rasa selesainya. Rasa terputus begitu. Lalu tinggal kita ungkapkan rasa syukur kita kepada Allah. Bisa dengan ucapan alhamdulillah, dan sebagainya. Selanjutnya kita kembali menghadap kepada Allah. Menunggu tarikannya, menunggu kita dimasukkan oleh Allah sendiri kedalam wilayah baru yang belum kita ketahui, untuk menerima pengajaran-pengajaran baru dari-Nya.

Disini sudah tidak ada lagi peran guru kita sebenarnya. Guru kita saat itu adalah Allah sendiri. Kita berguru kepada Allah. Kalaupun guru kita saat itu ada disamping kita, namun proses yang terjadi hanyalah proses saling mendo’akan antara dua hamba Allah dihadapan Allah, Sang Maha Guru.

Oleh sebab itu, kita harus sangat berhati-hati untuk mencari guru yang bisa mengajarkan kita tentang perjalanan ruhani, terutama kalau kita ingin pulang kerumah kita yang Hakiki, yaitu disisi Allah. Guru kita itu juga harus sudah melepaskan akunya kepada kepada pemilik aku yang sebenarnya, yaitu Allah. Guru kita itu sudah tidak mengaku guru lagi. Beliau juga mengaku sebagai murid yang siap untuk bersama-sama dengan kita diajar oleh Guru yang sebenarnya, yaitu oleh Allah Rabbul alamin. Allah, Sang Maha Guru bagi alam semesta.

Bagaimana caranya untuk mengetahui apakah guru kita itu sudah melepaskan akunya kepada Allah, atau belum ?. Lihat saja prakteknya. Bagaimana caranya, bagaimana prosesnya, dan bagaimana hasilnya. Karena, boleh jadi guru kita itu dalam menjalankan prakteknya sudah menyebut-nyebut nama Allah, sudah membaca ayat-ayat Al Aqur’an dan A Hadist, tapi caranya, prosesnya, dan hasilnya belum sama atau malah melenceng jauh dari petunjuk Allah yang ada di dalam Alqur’an dan apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Kenapa kita harus bawa-bawa Rasulullah dan Al Qur’an segala untuk mendapatkan hanya sekedar rasa AMAN, SEHAT, KAYA, DIHORMATI, dan BAHAGIA?. Kalau untuk masuk SYURGA sih ya lah harus. Kalau hanya untuk bisa merasa aman, sehat, kaya, dihormati, dan bahagia dengan cara-cara lain kan juga bisa?. Nggak bawa-bawa agamapun orang-orang juga bisa mendapatkannya dengan mudah. Kita sering sekali mendengarkan sanggahan seperti ini dari orang-orang disekitar kita.

Untuk menjawabnya kita cukup membalikkan pertanyaannya itu sebagai berikut: “kenapa saya harus mencari contoh, tauladan, dan petunjuk orang yang sembarangan dan dari orang-orang yang tidak jelas untuk hal-hal yang sangat saya dambakan setiap hari?. Apakah saya salah kalau saya mengambil contoh dari orang yang terbaik yaitu Rasulullah dan Kitab Yang terbaik untuk dijadikan Peta Perjalanan ruhani yang sudah diakui oleh sekian milyar orang selama ribuan tahun?”. Apakah salah ?.

Karena Rasulullah ini pulalah yang ditiru dan di copy oleh para Sahabat-sahabat Beliau, oleh orang-orang shaleh setelah Beliau, dan oleh Wali-wali Allah sepanjang zaman. Dengan meniru Rasulullah, berarti aku Beliau-Beliau itu sudah mereka serahkan pula untuk sesuai dengan aku Rasulullah. Sementara aku Rasulullah sendiri sudah benar-benar tiada. Karena setiap berkata-kata, Beliau selalu mengatakan bahwa Beliau hanyalah Rasulullah, Hamba Allah, Sahaya Allah. Abdullah. Dan apapun yang Beliau katakan dan lakukan itu adalah apa-apa yang diperintahkan oleh Allah saja. Tidak ada sedikitpun yang berasal dari pikiran dan hawa nafsu Beliau. Dan semua itu pasti bersesuaian dengan Al Qur’an.

MENGCOPY RASULULLAH…

Mengcopy Rasulullah berarti kita sedang berusaha untuk bersilaturrahim dengan Beliau. Aku kita sedang berusaha untuk seirama dengan aku Beliau. Kita ingin bersilaturrahim dengan Beliau. Namun kita tidak tidak tahu Beliau wajah Beliau. Kalau kita mencoba bersilaturrahim dengan Beliau dengan cara kita memanggil-manggil nama Beliau, banyak orang yang bernama Muhammad juga, kalau kita panggil-panggil sifat Beliau, banyak yang bisa meniru-niru sifat Beliau. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa bersilaturrahim dengan Beliau. Kita ingin menyerahkan aku kita kepada aku Beliau, karena aku Beliau telah Beliau serahkan pula kepada Allah sebagai pemilik Aku yang sebenarnya. Artinya kita ingin mencontoh Sunnah Beliau.

Maka untuk kita bisa melakukan hal-hal seperti Berikut:

• Sampaikanlah kepada Allah Kesaksian kita bahwa kita telah MENGIMANI Beliau sebagai Utusan Allah yang akan kita jadikan sebagai Suri tauladan kita dalam BERKETUHANAN.

Kita bersyahadat untuk Beliau dihadapan Allah.

Hadapkan wajah kita ke wajah Allah dan ucapkan:
Aku berlindunglah kepada Allah dari segala gangguan syetan yang terkutuk.
Aku melakukan semua ini semata-mata adalah atas perintah Allah…
Asyhadu an laa ilaha illallah…
Wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah…

• Sampaikan kepada Allah bahwa Mohon Allah berkenan untuk menyampaikan Salam hormat kita, salam sejahtera dari kita buat Beliau dan keluarga Beliau.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad…

Jadi Muhammad yang ingin kita tiru itu adalah Muhammad Yang Rasulullah. Muhammad yang seperti itu hanya ada satu saja. Tidak ada yang lain. Dengan begitu secara rohani kita akan segera terhubung dengan Beliau. Tepatnya rohani kita dihubungkan oleh Allah dengan Beliau.

Lalu setelah itu kita tinggal mengikuti Perbuatan-Perbuatan Beliau dan Perkataan-Perkataan Beliau atau AF’AL beliau saat berhadapan dengan Allah (hablumminallah) dan saat berhadapan dengan umat Beliau (hablumminannas).

Kita ikuti saja, kita tiru saja, kita copy habis saja apa-apa yang berhubungan dengan AF’AL Beliau saat berhadapan dengan Allah (Hablumminallah). Jangan kita tambah-tambah dengan yang lain, karena itu tidak ada gunanya. Karena AF’AL Beliau itulah yang telah menyebabkan Beliau bisa melepaskan keakuan Beliau kepada Allah, sehingga Beliau hanya mengaku sekedar sebagai hamba sahaya Allah. Kalau kita tambah-tambahi berarti kita tidak mengcopy AF’AL Beliau dengan benar, sehingga hasilnyapun akan sangat berbeda dengan apa yang didapatkan oleh Rasulullah. Padahal tujuan kita untuk mengcopy AF’AL Rasulullah itu adalah agar kita bisa pula mendapatkan manfaat seperti yang didapatkan oleh Rasulullah dalam berketuhanan.

AF’AL Beliau itu yang paling tinggi nilainya dan paling MUTAWATIR riwayatnya adalah SHALAT YANG KHUSYU. Inilah metoda dzikir yang paling tinggi. Inilah cara tercepat untuk bisa bertemu dengan Allah. Ashshalatu mi’rajul mukminin. Sungguh shalat ini adalah cara MI’RAJ bagi orang-orang yang beriman, yang suasana dan keadaannya persis sama dengan suasana dan keadaan yang dialami oleh Rasulullah dalam Peristiwa Isra’ – Mi’raj. Makanya Abu Bakar dan para sahabat yang lainnya serta wali-wali Allah, begitu melakukannya seperti yang dilakukan oleh Rasulullah, segera membenarkannya. Ooo…, Benar ya Rasulullah… Sadaqta…

Kemudian barulah kita contoh pula beberapa dzikir yang biasa Beliau ucapkan tatkala Beliau sedang menghadap Allah. Kita ikuti pula Puasa Beliau, Zakat Beliau, Haji Beliau. Kita tidak perlu menambah-nambahnya dengan aktifitas lain yang tidak berasal dari aktifitas Rasulullah dan para sahabat Beliau dalam menghadap Allah.

Misalnya, kalau Beliau hanya melakukan ibadah Haji hanya sekali, ya kita juga tidak usah melaksanakan ibadah Haji itu berkali-kali. Sekali saja cukup, tapi harus sampai ARAFAH. Sampai kita benar-benar bisa menyerahkan keakuan kita keharibaan Allah. Kalau kita punya uang lebih, banyak kok cara lain untuk memanfaatkan harta kita itu yang bisa kita lakukan. Misalnya membangun sekolah, membantu anak yatim, membangun negara, dan sebagainya.

Sedangkan yang berkenaan dengan hal-hal yang berhubungan dengan sesama manusia (hablumminallah), kita lakukan saja apa-apa yang sesuai dengan fitrah kita masing-masing. Kita tinggal beramal shaleh untuk menjadi berguna bagi sesama manusia. Kita lakukan semua itu dengan sebaik-baiknya. Inilah yang disebut sebagai Amal Shaleh kita yang akan kita serahkan kepada Allah saat kita ingin berjumpa dengan-Nya.

Yang penting adalah bagaimana agar kita bisa meniru ruhani Rasulullah yang bisa merasakan seluruh ruhani umat Beliau sehingga Beliau selalu berkata kepada Allah agar ummat Beliau selalu dirahmati oleh Allah. Bahkan saat Beliau mau wafat saja, keadaan Ruhani Beliau itu tetap tidak berubah. Beliau berbicara kepada Allah, “Ya Allah…, ummati… ummati…”

Bersambung
Deka

Read Full Post »

RAHASIA MENCARI SANG TELADAN…

Dibagian awal kita sudah membahas bahwa selama hidup, kita mendambakan untuk mendapatkan paling tidak 6 hal berikut, yaitu rasa AMAN, SEHAT, KAYA, DIHORMATI, BAHAGIA, dan kalau bisa Masuk SYURGA pula. Karena kita tidak tahu cara mendapatkannya, maka kitapun belajar kepada orang-orang yang berkata bahwa dia pernah mendapatkan hal-hal itu di dalam hidupnya. Keadaan seperti inilah yang menyebabkan berkembangnya proses ajar mengajar, contoh mencontoh, antara kita dengan seseorang yang kita anggap sebagai guru kita.

Dizaman sekarang ini, dimana informasi mengalir dengan sangat masif kepada kita, banyak orang yang mengiklan dirinya bahwa dia punya cara agar apa-apa yang kita dambakan itu bisa tercapai melalui caranya. Dia ingin kita menjadikan dirinya sebagai teladan atau panutan buat kita. Ada si A, B, C, D, E… XY, dan sebagainya. Banyak sekali. Apalagi beberapa dari mereka ada juga yang mendapatkan rekomendasi dari orang-orang yang dianggap sebagai tokoh masyarakat. Sehingga iklan dirinya itu membuat kita tertarik juga.

Kalau kita mau menjadikannya sebagai panutan kita, maka mau tidak mau kita akan menjadikan diri kita sebagai bayangan atau copyan dari dirinya dalam kehidupan kita. Kita copy apa yang dia bicarakan, bagaimana gaya dan tekniknya dalam berbicara. Sehingga begitu kita berbicara, orang sudah tahu bahwa kita ini sudah belajar apa dan gurunya siapa.

Misalkan kita sudah punya seorang guru. Karena kita bisa bertemu muka dengannya, maka terpenuhilah syarat agar pada waktu-waktu selanjutnya kita bisa melakukan silaturrahim dengannya walau hanya melalui alam pikiran kita. Yaitu dengan cara kita mengingat-ingat wajahnya (zatnya), namanya, sifatnya, dan perbuatannya. Kemudian kita ulang-ulang apa yang telah diajarkannya kepada kita. Kita berusaha untuk mengcopy dirinya. Atau dalam istilah spiritual disebut kita bersedia menyerahkan aku kita kepada akunya.

Mari kita lihat prosesnya.

Sebelumnya kita sudah bahas, bahwa aku kita sebenarnya adalah tidak terbatas. Aku guru kita itu juga tidak terbatas. Aku siapapun juga adalah tidak terbatas. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa aku itu sebenarnya hanya ada satu, yaitu aku yang tidak terbatas.

Yang membedakan dan membatasi antara aku kita dengan aku dia adalah pikiran kita dan pikirannya. Kumpulan 100 bayi yang baru lahir yang diletakkan di satu ruangan, dikatakan mempunyai aku yang satu, walau tubuhnya ada seratus. Karena memang pada saat itu mereka masing-masing belum punya pikiran. Sehingga belum ada 100 aku. Kalau ada seorang saja yang menangis, biasanya bayi-bayi yang lain juga ikut-ikutan menangis. Karena mereka merasa bahwa mereka semua adalah satu diri saja.

Kalau kemudian masing-masing anak tersebut diberikan sebuah pikiran bahwa namanya si A, B, C, D…., maka ketika kita panggil si A, maka yang merasa dirinya adalah si A, biasanya akan lebih aktif memberikan responnya terhadap panggilan kita itu. Sedangkan bayi-bayi yang lainnya kurang atau tidak memberikan responnya sama sekali. Itu terjadi, karena aku bayi-bayi itu yang tadinya satu, telah kita pisah-pisahkan satu sama lainnya dengan memberi nama-nama dan panggilan-panggilan kepada masing-masing bayi itu. Makanya sekarang seperti ada seratus aku.

Tapi tadi kita sudah membuktikan bahwa aku kita adalah satu. Yaitu Aku yang sendiri dan sangat luas. Kalau kita memikirkan orang yang kita anggap sebagai guru kita, maka saat itu artinya kita bersedia menyerahkan aku kita kepada akunya. Aku kita menjadi tiada. Yang ada adalah akunya guru kita itu. Makanya tindakan kita seperti ingin menyamai-nyamai tindakan-tindakan guru kita itu. Makanya kita juga ingin menyamai-nyamai kemampuan-kemampuan guru kita itu.

Hal yang sama juga terjadi dengan guru kita itu. Aku dia sebenarnya juga tidak ada, yang ada adalah aku dari gurunya dulu. Buktinya dia juga seperti berusaha untuk menyamai tindakan-tindakan dan kemampuan-kemampuan gurunya dulu. Begitulah seterusnya.

Dan cara inilah yang dipakai oleh beberapa tarekat untuk melestarikan praktek-praktek ritualnya agar seragam bentuk dan caranya untuk semua penganutnya saat melintasi zaman dan benua. Setiap mereka akan melakukan dzikir, maka mereka harus terlebih dahulu membayangkan wajah gurunya. Mereka mencoba untuk mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh gurunya dulu. Guru dari gurunya itupun melakukan hal yang sama.

Masalahnya adalah, mereka mungkin hanya tahu dan bertemu dengan generasi gurunya saja. Mereka tidak pernah bertemu dengan generasi guru dari gurunya, atau guru buyutnya, atau guru dari guru buyutnya. Mereka tidak pernah bertemu. Sementara dalam pakem tarekat tertentu, membayangkan wajah guru mereka dan menyebut-nyebut silsilah guru-guru ilmu tarekat itu adalah sebuah KEWAJIBAN bagi para murid tarekat itu untuk memulai dzikirnya.

Kalau membayangkan wajah guru kita saja, bahayanya sudah sangat besar. Apalagi kalau kita disuruh menyebut silsilah nama-nama pembawa ilmu itu dari masa kita sekarang sampai ke masa Rasululllah. Mari kita lihat bahayanya.

Membayangkan wajah guru kita, berarti kita menyerahkan aku kita kepada aku guru kita itu. Aku kita menjadi terpenjara oleh aku guru kita. Sementara aku guru kita itu juga hanya berhenti sampai di aku gurunya yang mengajarkannya praktek tarekat itu. Artinya guru kita itupun akunya masih ada. Dia belum sampai melepaskan akunya. Apalagi kalau guru kita itu punya akunya sendiri. Dia punya pikirannya sendiri yang juga belum diserahkannya kepada pemilik aku yang sebenarnya, yaitu Allah. Alangkah sangat berbahayanya bagi kita. Sebab menghentikan aku kita DI ALAMAT yang salah seperti inilah yang disebut sebagai SYIRIK.

Ya… Syirik. Dan tanpa kita sadari, dengan begitu kita telah menjadikan aku kita menjadi sangat sempit, se sempit aku guru kita.

Yang lebih berbahaya adalah, saat kita disuruh untuk menyebut-nyebut nama silsilah pembawa tarekat itu, misalnya generasi setelah guru kita, atau generasi guru buyut kita, sebutlah namanya AMIR bin BADU. Artinya objek pikir kita saat itu adalah kepada nama-nama dalam silsilah itu. Ketika kita menyebut namanya dengan pikiran terpusat, maka disinilah biasanya terjadi PROSES RESONANSI kita dengan makhluk-makhluk getaran lainnya, seperti JIN, syetan, dan lain-lain sebagainya.

Sebab begitu kita lalai dan berpaling dari Allah Yang Maha Rahman, maka Allah ternyata segera mengirimkan syetan kepada kita. Syetan itulah nantinya yang akan menjadi sahabat karib kita. Dan syetan itu pulalah yang akan menghalangi kita untuk melihat alam malakut…

Saat kita menyebut nama AMIR bin BADU, siapa yang menjamin bahwa nama yang kita sebut itu adalah menunjukkan nama buyut guru kita itu. Biasanya saat beginilah muncul pendompleng berupa makhluk getaran lainnya. Sangat besar kemungkinan saat itu kita akan saling beresonansi dengan jin, syetan, atau iblis yang merupakan mahkhluk-makhluk getaran juga. Sebab saat kita berpaling dari Allah, maka kita pasti akan masuk ke alam-alam getaran seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Sebab wilayah kita sama dengan wilayah mereka. Kita jadi berkawan dengan mereka.

Reaksinya biasanya, muncul tangis histeris dan meraung-raung, tubuh bergetar-getar dengan tidak beraturan, tertawa-tawa sendiri, berbicara tidak karuan sendiri, dan sebagainya. Kalau proses ini tidak berhenti, maka pada beberapa kasus akan menyebabkan seseorang berperilaku seperti orang gila. Keadaan seperti inilah yang menyebab munculnya pameo bahwa kalau ingin berspiritual harus ada MURSYID nya. Kalau tidak pakai mursyid, nanti gurunya adalah syetan.

Dalam konteks yang seperti ini, ya…!. Sebab orang yang dianggap mursyid itu dianggap bisa melepaskan keadaan muridnya yang berperilaku seperti kesyetanan itu. Dan si mursyid itu akan melakukannya dengan memakai akunya. Akunya akan melawan aku si murid yang sedang dikuasai oleh getaran aku lain yang sedang menguasainya. Disini terjadi proses kuat-kuatan aku. Akunya guru kita dan akunya makhluk getaran lainnya.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

MENGENAL ALLAH DENGAN ALLAH.

Di bagian terdahulu kita sudah membahas bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Gaib, Maha Tersembunyi. Sementara itu, agar kita bisa bersilaturahim dengan sesuatu, maka biasanya kita akan melakukan pengenalan-pengenalan terlebih dahulu terhadap Zat, Asma’, Sifat, dan Af’al dari sesuatu itu.

Karena Zat, Asma’, Sifat, Af’al Allah menyatu seluruhnya pada Allah.

ZAT-NYA –> ALLAH,
NAMANYA –> ALLAH,
SIFATNYA –> ALLAH,
AF’ALNYA –> ALLAH,

maka hanya dengan menyebut dan memanggil-manggil NAMA ALLAH, sebenarnya saat itu kita sudah menyebutkan sekaligus ZATNYA, NAMANYA, SIFATNYA, dan PERBUATANNYA.

Agar kita tidak salah-salah arah dalam menghadap ketika kita memanggil-manggil Allah itu, maka kita harus tahu WUJUD ALLAH. WAJAH ALLAH tempat kemana kita akan menghadapkan wajah kita setiap saat. Sebab kalau kita salah arah, ketika kita memanggil nama-Nya, maka saat itu berarti kita hanya sedang mengucapkan MANTRA-MANTRA saja seperti yang diucapkan oleh dukun-dukun atau paranormal-paranormal lainnya untuk menenangkan pikiran kita. Dan untuk mengetahui Wujud-Nya, tidak ada cara lain kecuali dengan melihat Petunjuk Allah tentang Diri-Nya di dalam Al Qur’an.

Sebab Allah Sendiri sudah menerangkan tentang Diri-Nya di dalam Al Qur’an. Jelas sekali keterangan Allah itu, tanpa ada kata-kata metaphora yang mempunyai arti yang mengambang. Bahwa:

Sesungguhnya Allah Meliputi Segala Sesuatu…, Innallaha bikullisyain muhith…,
Sesungguhnya Dia Meliputi Segala Sesuatu…, Innahu bikullisyain muhith…

Sekarang mari kita amati…
Karena Dia Meliputi Segala Sesuatu, maka
Barat berada dalam Liputan-Nya
Timur berada dalam Liputan-Nya.
Segala Pandangan kita berada dalam Liputan-Nya.
Segala Pendengaran kita berada dalam Liputan-Nya
Kemanapun kita menghadap, kita menghadap pada Liputan-Nya.
Yang Dekat berada dalam Liputan-Nya.
Yang Sangat dekat berada dalam Liputan-Nya.
Yang kecil berada dalam Liputan-Nya.
Yang sangat kecil berada dalam Liputan-Nya.
Zarrah berada dalam Liputan-Nya.
Yang Tinggi teramat Tinggi berada dalam Liputan-Nya.
Yang Luas teramat luas berada dalam Liputan-Nya.
Orang kafir berada dalam Liputan-Nya
Seluruh manusia berada dalam Liputan-Nya

Karena Segala Sesuatu berada dalam liputan-Nya, maka
Dia berbeda dengan apa-apa yang Dia Liputi.
Dia tidak sama dengan apapun yang Dia Liputi.
Karena dia meliputi segala sesuatu, maka
Dia pastilah Tunggal.
Satu
AHAD.

Kemanapun kita menunjuk, maka sebenarnya kita sedang menunjuk kepada Wujud-Nya.

Saat kita menunjuk Wujud-Nya, berarti kita sedang menunjuk kepada Zat-Nya.
Saat kita menunjuk Wujud-Nya, berarti kita sedang menunjuk kepada Nama-Nya.
Saat kita menunjuk Wujud-Nya, berarti kita sedang menunjuk kepada Sifat-Nya.
Saat kita menunjuk Wujud-Nya, berarti kita sedang menunjuk kepada Af’al-Nya.
Saat kita menunjuk Wujud-Nya, berarti kita sedang menunjuk kepada Kekuasaan-Nya.
Saat kita menunjuk Wujud-Nya, berarti kita sedang menunjuk kepada Kekuatan-Nya.
Saat kita menunjuk Wujud-Nya, berarti kita sedang menunjuk kepada Keperkasaan-Nya.

Saat kita memanggil Allah, berarti kita sedang memanggil Zat-Nya.
Saat kita memanggil Allah, berarti kita sedang memanggil Nama-Nya..
Saat kita memanggil Allah, berarti kita sedang memanggil Sifat-Nya..
Saat kita memanggil Allah, berarti kita sedang memanggil Af’al-Nya..
Saat kita memanggil Allah, berarti kita sedang memanggil Kekuasaan-Nya..
Saat kita memanggil Allah, berarti kita sedang memanggil Kekuatan-Nya..
Saat kita memanggil Allah, berarti kita sedang memanggil Keperkasaan-Nya..

MANA?… ya… INI…
DIMANA ?. ya… DISINI…
KAPAN?…. ya… SAAT INI…

Lalu masih adakah ruang untuk kita menyatakan pengakuan kita?. Walau hanya sekilas?.
Sungguh tidak ada…!. Saat itu kita benar-benar habis tak bersisa. Kita hanya bisa bersikap sebagai seorang SAHAYA dihadapan Allah, Sang Maha Raja Dunia dan Akhirat.

Sahaya yang selalu menjaga pandangannya setiap saat agar tidak berpaling dari Wajah Raja-Nya yang Maha Meliputi Segala Sesuatu. Sehingga satu persatu Rahasia atau SIRR-NYA dicurahkan-Nya kepada Sang SAHAYA-NYA… Allah akan menuntun kita untuk memahami Diri-Nya, mendekati Diri-Nya, Rukuk dan Sujud kepada-Nya…

Sahaya akan diperkenalkan satu persatu dengan hal-hal sulit untuk sahaya pahami, seperti yang banyak diceritakan dalam buku-buku hebat seperti Madarijus Salikin, Risalah Qusairiyah, dan buku-buku karya imam-iman besar lainnya, walau dengan bahasa yang berbeda.

Karena sahaya sudah mengaku sahaya dihadapan Allah, maka sahayapun akan dibuat sibuk pula oleh Allah untuk menyampaikan apa-apa tentang Allah. Menyampaikan apa-apa yang di suruh-suruh oleh Allah untuk kusampaikan demi kebaikan orang-orang di sekelilingku.

Ya Allah…, hamba bersedia menjadi SAHAYAMU…

Abu Hurairah ra berkata bahwa Nabi saw bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, “Aku menurut sangkaan [zhanniy] hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepada-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam dirinya [fi nafsihiy], maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku [fi nafsiy]. Jika ia ingat kepada-Ku dalam kelompok, maka Aku mengingatnya dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil.”

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku sukai, daripada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sunat-sunat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku menjadi Pendengaran untuk pendengarannya, Penglihatan untuk penglihatannya, Tangan untuk perbuatannya dan Kaki untuknya berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya, jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku lakukan, seperti kebimbangan-Ku terhadap jiwa [nafsi] hamba-Ku yang beriman yang tidak senang mati, sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadap-Nya [Hadits Bukhari – Muslim].

Bersambung
Deka

Read Full Post »

JALAN UNTUK TIADA

Sementara itu di dalam ISLAM, keadaan aku yang sudah tidak terikat dengan apa-apa seperti ini barulah TITIK AWAL yang harus kita dapatkan sebelum kita bisa memulai PROSES Beriman, Berislam, Berihsan dengan nyaman.

Ya…, BARU TITIK AWAL. Posisi yang sudah dibangga-banggakan oleh banyak meditator selama ini, POSISI PUNCAK Rohani, ternyata itu barulah POSISI AWAL di dalam bangunan agama ISLAM. Dan titik ini juga merupakan TITIK AKHIR tempat aku menyerah segala ilmu yang kupunyai kepada Allah Sang Empunya segala Ilmu.

Kenapa TITIK AWAL ISLAM?.

Karena memang disitulah realitas kalimat SYAHADAT NAFI berawal. Yaitu menafikan segala sesuatu yang begitu banyaknya yang berusaha merebut perhatianku untuk aku jadikan sebagai Tuhan-tuhanku. Aku bersedia memasuki Wilayah Kepatuhan yang didalamnya ada para Malaikat, Nabi-nabi, Orang shaleh, dan Wali-wali Allah, untuk kemudian aku hanya menjalankan apa-apa yang diperintahkan dan disuruh-suruhkan kepadaku.

Dari arti istilah “ISLAM” saja yang berati berserah, patuh, dan ikut kepada kehendak Allah, aku sudah bisa memahami maknanya. Yaitu bersediakah aku untuk TIDAK MENGAKU?. Bersediakah aku untuk melepaskan pengakuanku-pengakuanku atas semua hal yang sebenarnya SANGAT BISA untuk aku akui sebagai milikku?. Karena semua itu bisa berubah wujud menjadi Tuhan-tuhanku yang akan menjadi pusat perhatianku setiap saat. Misalnya:

• Bersediakah aku untuk mengaku tidak hebat?.
• Bersediakah aku untuk mengaku tidak sakti?.
• Bersediakah aku untuk mengaku tidak kuat?.
• Bersediakah aku untuk mengaku tidak berkuasa?.
• Bersediakah aku untuk mengaku tidak berdaya?.
• Bersediakah aku untuk mengaku tidak melihat?.
• Bersediakah aku untuk mengaku tidak mendengar?.
• Bersediakah aku untuk mengaku tidak merasakan?.
• Bersediakah aku untuk mengaku tidak hidup?.
• Bersediakah aku untuk mengaku tidak tahu?.

Padahal, seperti yang sudah dibahas diatas, mengaku itu ada nikmatnya tersendiri. Nikmat Mengaku.

Kalau aku bersedia, saat aku sudah sendirian seperti ini, dimana sudah tidak ada lagi pikiran-pikiranku yang akan menghalangi jalanku untuk pulang ke rumahku yang HAKIKI, maka akupun kemudian meruntuhkan pengakuanku… Dengan begitu runtuh pulalah segala ilmu yang kupunyai. Aku hanya sekedar diberi tahu oleh Allah ilmu-ilmu yang aku perlukan dalam menjalankan tugas kehambaanku.

Saat aku yang sendirian seperti itu, dimana aku sudah tidak melihat apapun lagi yang bisa kujadikan sebagai Tuhan-tuhanku, suasana seperti itu bisa disebut sebagai realitas dari sepenggal kalimat syahadat LAA ILAHA…, Tiada apa-apa lagi yang bisa kupertuhankan. Aku menafikan adanya tuhan-tuhan… NAFI…

Kemudian aku tinggal berjalan selangkah lagi untuk menemukan TITIK AKHIR dari perjalananku. Inilah Rumahku yang sebenarnya. Dimana aku dengan rela menyerahkan pengakuanku itu kepada pemilik pengakuan yang sebenarnya. Aku BERIMAN, Aku YAKIN dan PERCAYA bahwa semua itu adalah MILIK ALLAH. Aku lalu menyerahkan segala pengakuanku kepada Allah.
… ILLA ALLAH…, kecuali hanya Allah… ISBAT..
LAA ILAAHA ILLALLAH…, Tiada apa-apa lagi yang bisa kupertuhankan, kecuali hanya ALLAH saja…. Dengan begitu, jadi lengkaplah syahadatku… NAFI dan ISBAT.

Langkah selanjutnya hanyalah proses tanpa henti untuk menyerahan pengakuan kita itu kepada Allah. Kita tinggal melanjutkan saja langkah yang telah kita awali tadi diatas setahap demi setahap. Yaitu tahapan-tahapan untuk aku tidak mengaku-ngaku lagi. Inilah yang disebut sebagai perjalanan SPIRITUAL. Yaitu proses hilang lenyapnya pengakuan-pengakuan kita, karena kita telah bersedia untuk memberikannya kepada Zat yang Berhak untuk mengaku-ngaku, yaitu Allah. Sehingga kita tidak terbebani lagi dengan berbagai rasa, termasuk rasa berhasil kita, yang akan membebani kita selama dalam perjalanan kita menempuh kehidupan kita. Kita bebas, lega, longgar.

Tahapan itu, misalnya saja, seperti berikut:
• Aku kembali mengamati Yang LUAS,
• INI…
• Aku kembali mengamati Yang SENDIRI,
• INI…
• Aku kembali mengamati Yang tiada apa-apa,
• INI..
• Lalu aku hanya tinggal memanggil-manggil PEMILIKNYA.

• Aku MENGIMANI bahwa pemilik Yang Luas INI, adalah ALLAH…
• Aku MENGIMANI bahwa pemilik Yang Sendiri INI, adalah ALLAH…
• Aku MENGIMANI bahwa pemilik Kesendirian INI, adalah ALLAH…
• Aku YAKIN dan PERCAYA bahwa pemiliknya adalah ALLAH…

• Lalu ku panggil Nama-Nya dengan santun dan merendah-rendah
• Ya Allah…, Ya Allah…., Ya Allah…
• Memanggil-manggil Nama-Nya itu, untuk beberapa kali saja sudah cukup sebenarnya.
• Suaraku pun tidak perlu keras-keras sampai berteriak-teriak.
• Santun saja, lembut saja…
• Karena beberapa saat kemudian, Dia pasti akan memberikan Respon-Nya.
• Dengan perlahan segala pengakuankupun seperti diambil.
• Terasa betul bahwa segala pengakuanku tiba-tiba saja menjadi copot. Habis
• DERR…

Karena memang yang berhak untuk mengaku-ngaku ternyata memang hanyalah Allah. Begitu aku selesai menyerahkan pengakuanku itu. Dengan cara tidak mengaku apa-apa, tidak mengaku siapa-siapa, maka lengkaplah perjalananku.

Akupun lalu mengubah panggilanku terhadap diriku menjadi hanya sekedar saya…, hamba sahaya, atau sahaya…, atau abdi… Karena ternyata memang hanya Dialah, Allah, yang berhak mengaku-ngaku mengatakan “ANA…, ANA… ANA…, AKU…, AKU…, AKU…, AKU…”.

Sedangkan Sahaya hanya bisa berucap dihadapan-Nya dengan ucapan-ucapan yang menandakan betapa tidak berharga sahaya, betapa tidak ada apa-apa sahaya, betapa tidak berkutiknya sahaya dihadapan-Nya:

Subhanallah…
Alhamdulillah…
Laa ilaha illallah….
Allahu Akbar…
Laa haula wala quwwata illa billah.

Kemudian, tatkala Dia berkata:

Innani anallah laa ilaha illa ana, fa’budni aqimishshalah lidzikri….
Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, sembahlah Aku, dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Maka sahayapun hanya tinggal patuh menjalankan Perintah-Nya itu. Sahayapun mendirikan shalat, seperti juga Rasulullah mendirikan Shalat, sebagai Dzikir yang tertinggi di dalam Islam. Tidak ada satupun dzikir lain yang bisa melebihi Dzikir Shalat ini. Tidak ada. Kemudian juga sahaya tinggal menjalankan Puasa, Dzakat, Sedekah, Haji, dan amalan-amalan Sunnah lainnya.

Dan tak lupa sahaya selalu berusaha untuk mewujudkan IDE-IDE Allah yang diturunkan-Nya ke dalam dada sahaya untuk kemudian menjadikannya berbagai penemuan yang akan memudahkan kehidupan orang lain. Di perusahaan, di lingkungan, dimana sahaya bekerja sahaya berusaha berbuat yang terbaik. Kemudian sambil menikmati segala kemudahan dari perwujudan Ide-ide Allah itu tadi, tak lupa sahaya mengucapkan syukur sahaya yang tak terhingga kepada-Nya.

Ketika sahaya mendapatkan berbagai masalah hidup, sahaya berdoa kepada Allah, dan sahaya menunggu, dengan harap-harap cemas, solusi macam apa yang akan disampaikan oleh Allah kepada sahaya. Saat sahaya ingin berkarya, sahaya menunggu-nunggu perintah dan izin dari Allah tentang karya macam apa yang harus sahaya lakukan.

Kerjaan sahaya setiap saat hanyalah berusaha dengan sekuat tenaga menghadap kepada-Nya untuk menyerahkan segala sesuatu yang bisa atau memungkinkan sahaya untuk mengaku-ngaku. Perjuangan sahaya seumur hidup.

• Saat sahaya merasa seperti hebat, kemudian sahaya serahkan kehebatan itu kepada Allah. Ya Allah…, hebat ini adalah milik-Mu. Derr…, sampai sahaya benar-benar tidak merasa hebat sedikitpun.
• Saat sahaya merasa seperti sakti, maka sahaya serahkan kesaktian itu kepada Allah. Ya Allah…, sakti ini adalah milik-Mu. Derr…, sampai sahaya benar-benar tidak merasa sakti sedikitpun.
• Saat sahaya merasa seperti kuat, maka sahaya serahkan kekuatan itu kepada Allah. Ya Allah…, kuat ini adalah milik-Mu. Derr…, sampai sahaya benar-benar tidak merasa kuat sedikitpun.
• Saat sahaya merasa seperti berkuasa, maka sahaya serahkan kekuasaan itu kepada Allah. Ya Allah…, kekuasaan ini adalah milik-Mu. Derr…, sampai sahaya benar-benar tidak merasa berkuasa sedikitpun.
• Saat sahaya merasa seperti berdaya, maka sahaya serahkan daya itu kepada Allah. Ya Allah…, daya ini adalah milik-Mu. Derr…, sampai sahaya benar-benar tidak merasa berdaya sedikitpun.
• Saat sahaya bisa melihat, maka sahaya serahkan rasa melihat itu kepada Allah. Ya Allah…, melihat sahaya ini adalah semata-mata pemberian-Mu. Derr…, sampai sahaya benar-benar merasa bahwa sahaya tidak bisa melihat apa-apa tanpa peran serta Allah.
• Saat sahaya bisa mendengar, maka sahaya serahkan rasa mendengar itu kepada Allah. Ya Allah…, mendengar sahaya ini adalah semata-mata pemberian-Mu. Derr…, sampai sahaya benar-benar merasa bahwa sahaya tidak bisa mendengar apa-apa tanpa peran serta Allah.
• Saat sahaya bisa merasa, maka sahaya serahkan rasa merasa itu kepada Allah. Ya Allah…, rasa merasa sahaya ini adalah semata-mata pemberian-Mu. Derr…, sampai sahaya benar-benar merasa bahwa sahaya tidak bisa merasakan apa-apa tanpa peran serta Allah.
• Saat sahaya merasa hidup, maka sahaya serahkan rasa hidup itu kepada Allah. Ya Allah…, hidup sahaya ini adalah semata-mata pemberian-Mu. Derr…, sampai sahaya benar-benar merasa bahwa sahaya tidak bisa hidup tanpa peran serta Allah.
• Saat sahaya merasa tahu, maka sahaya serahkan rasa tahu itu kepada Allah. Ya Allah…, tahu sahaya ini adalah semata-mata pemberian-Mu. Derr…, sampai sahaya benar-benar merasa bahwa sahaya tidak bisa tahu tanpa peran serta Allah.
• Karena memang SEMUA ITU hanyalah sekedar ANUGERAH ALLAH saja buat sahaya…
• DERR…,
• Sahaya akhirnya hanya sekedar bersandar dan ndlosor saja di dalam Liputan-Nya.
• Tenggelam….
• Huu… Allah…
• Huu… Allah…
• Huu…, Huu…, Huu…
• Dan seterusnya… terserah DIA saja….

Walaupun dijalan ini aku sudah tiada, yang ada adalah sahaya, namun hukum-hukum universal ,seperti yang telah diterangkan diatas tadi, tetap akan berlaku untuk sahaya. Tapi sahaya hanya diberi oleh Allahku hukum-hukum tersebut sesuai dengan kebutuhan sahaya untuk menjalankan tugas sahaya. Semakin besar tugas sahaya, maka semakin besar pula hukum-hukum tersebut dibuatkan oleh Allah untuk sahaya.

Satu persatu sahaya diperkenalkan oleh Allah tentang semuanya itu, yang tidak lain dan tidak bukan ternyata adalah QUDRAT ALLAH. Qudrat Allah yang punya UKURAN-UKURAN dan PERISTIWA-PERISTIWA, yang sering disebut orang sebagai QADAR dan QADA. Yaitu kejadian-kejadian (QADA) yang mempunyai ukuran-ukuran atau intensitasnya masing-masing (QADAR).

Sahaya didudukkan oleh Allah di atas Qudrat-Nya, sehingga sahaya bisa menyaksikan bahwa segala sesuatu yang tergelar ini tidak lain dan tidak bukan adalah AF’AL Allah. Perbuatan Allah. Dia sangat sibuk mengatur segala yang tergelar dan segala yang tersembunyi. Dan Qudrat Allah itu sangat patuh kepada IRADAT ALLAH atau KEHENDAK ALLAH.

Satu persatu, sahaya dipahamkan oleh Allah untuk membedakan mana kehendak sahaya yang berasal dari dorongan hawa nafsu sahaya dan mana pula yang berasal dari Allah yang disusupkan dan diturunkan-Nya ke dalam dada sahaya berupa ILHAM.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Lalu mereka hanya berhenti di akunya itu. Karena mereka tidak mengerti lagi bagaimana caranya untuk tidak mengaku-ngaku aku, makanya banyak meditator yang berusaha untuk hidup terlunta-lunta. Mereka hidup tanpa rumah, tanpa keluarga, dan berbaju kumal. Tujuannya adalah untuk menghilangkan akunya. Banyak juga yang kemudian berusaha untuk melakukan meditasi selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Mereka Menyiksa diri mereka sendiri. Tanpa menikah dan tanpa rumah, tanpa segala-galanya. Mereka ingin dipandang hina dan tidak berguna oleh orang lain. Keadaan seperti ini banyak sekali bisa kita jumpai di INDIA.

Di dalam cerita silat Kho Ping Hoo juga seringkali digambarkan ada seorang yang ilmunya sudah sangat tinggi sekali sehingga tidak ada satu orang lagipun yang bisa mengalahkannya. Dia akan merasa sendirian. Agar akunya tidak mengada, maka dia berusaha untuk mengasingkan diri kepuncak-puncak gunung yang diliputi oleh kabut dan halimunan. Sampai akhirnya dia hilang seperti ditelan bumi. Namanya kemudian hanya akan diingat orang sebagai sebuah legenda yang pernah menggegerkan dunia persilatan.

Keadaan seperti inilah yang dianggap sebagai pencapai tertinggi bagi seorang meditator. Posisi inilah yang dianggap sebagai TITIK TERTINGGI atau TITIK AKHIR yang bisa dicapai oleh seorang meditor, tapi sebenarnya masih artificial. Ya…, Pengalaman Puncak Artificial.

Karena titik tertinggi, maka tidak jarang meditator itu merasa bahwa dirinya adalah Tuhan. Diri yang paling kuasa. Diri yang bisa melakukan apapun juga. Karena memang saat itu memang hanya dia sendiri yang ada. Yang ada didepannya hanya kekosongan yang maha luas dan tidak ada apa-apa. Oleh sebab itulah sering muncul ungkapan yang sangat terkenal dikalangan meditator  “Aku adalah Dia, Dia adalah aku”. TAT TWAM ASI. Dan ini juga sangat menyiksa sekali sebenarnya. Nggaak percaya?. Coba deh…

Pengalaman Puncak Artificial seperti inilah yang akan dialami oleh orang-orang yang merasa mendapatkan pencerahan akibat mengalami suatu penderitaan yang sangat hebat, atau berada dalam suatu tekanan hidup yang sangat besar, atau menyiksa dirinya sampai kebatas maksimum yang dapat dipikul oleh tubuhnya. Enkart Tole, pengarang buku “The Power of Now”, mengalaminya. Stefan Hawkins mengalaminya, Penemu-penemu ilmu pengetahuan lainnya juga mengalaminya. Sidharta Gautama Mengalaminya. Bunda Theresa mengalaminya.

Tapi walaupun masih Artificial, hasilnya sangatlah hebat. Bunda Theresa, misalnya, sangat terkenal pengabdiannya untuk membantu orang-orang papa, miskin, penyakitan, dan penuh kekurangan hidup. Dia seperti hidup penuh KASIH SAYANG kepada semua orang-orang seperti itu, sehingga dia dikenal hampir diseluruh dunia.

Kenapa Beliau bisa memberikan kasih sayang yang sedemikian besarnya kepada orang-orang yang mederita seperti itu?. Jawabannya sebenarnya sederhana. Pada posisi kesadaran dia sebagai aku yang sendirian dan sangat luas seperti diatas, ketika dia melihat orang-orang yang menderita, penderitaan orang-orang itu telah menjadi penderitaan dia sendiri. Sehingga diapun dialiri oleh kesenangan dan kebahagia ketika dia membantu orang-orang yang berada dalam penderitaan itu. Sebab saat itu dia, dengan kesadaran akunya yang sudah luas itu, ketika dia membantu orang lain, pada hakikatnya dia sedang membantu dirinya sendiri.

Kebahagian seperti inilah yang akan dialami oleh semua pekerja sosial yang sangat banyak tersebar diseluruh permukaan bumi. Bagus?. Ya…bagus sekali. Karena semua itu memang adalah fitrah manusia yang kalau kita jalani akan menimbulkan kebahagiaan buat diri kita sendiri.

Cuma tetap saja ada sebuah fitrah yang selalu mengalir begitu kuatnya di dalam diri kita, yaitu fitrah untuk berterima kasih. Fitrah untuk bersyukur yang nanti akan kita bahas dalam bagian tersendiri.

DUA JALAN YANG MEMBENTANG LUAS.

Dalam keadaan aku yang sendirian seperti ini, tak ubahnya seperti aku sedang berada di wilayah AMBANG. Wilayah antara. Aku berada dipersimpangan jalan. Aku bisa memilih antara aku bisa MENGADA atau aku bersedia untuk TIADA. Aku dihadapkan pada dua pilihan jalan yang terbentang luas dihadapanku.

Aku tak ubahnya seperti sedang berada di sebuah lantai yang sangat tipis yang membatasi dua wilayah yang sangat berbeda. Jika aku memandang kebawah, maka aku segera melihat ALAM KETIDAKPATUHAN. Berbagai keramaian pikiran, getaran, dan energi saling menggulung dan tumpang tindih. Dan aku bebas sekali untuk menggunakan semuanya itu. Sebaliknya, jika ku palingkan pandanganku keatas, aku dihadapkan dengan ALAM KEPATUHAN. Untuk masuk kesana, aku harus menanggalkan kedua “terompahku”. Karena semua yang ada disana sedang bersujud patuh, tidak berkutik, tidak berani berkata-kata, tidak berani bertanya, bahkan untuk mengangkat kepalapun tidak ada yang berani tanpa diperintahkan. Kebeningan dan kelembutan menyergap semuanya.

Aku bebas untuk memilih wilayah mana yang akan kumasuki dan kulalui :

Pilihan itu adalah:
• Jalan Pertama, Jalan Ketidakpatuhan, memintaku agar aku segera menyatakan keakuanku itu, dalam bentuk berbagai ilmu dan kemampuan, sehingga aku menjadi orang yang sakti, hebat, kuat. Ada berbagai hukum dan kepastian yang bisa aku olah dan aku manfaatkan sebagai tanda bahwa aku ada. Apakah aku akan mengambil segala ilmu, kehebatan, dan kesaktian itu yang sedang menggodaku agar aku mendekat kepadanya?. Sehingga aku bisa mengaku, Atau…

• Aku memilih jalan kedua, Jalan Kepatuhan, dimana aku harus bersedia untuk melepaskan keakuanku itu kepada sesuatu yang paling berhak untuk mengaku-ngaku itu, sehingga akupun akhirnya bisa berjalan dengan lega, lapang, longgar tanpa pengakuan akan apapun juga. Karena kalau aku bersedia untuk tidak mengaku, maka akupun tidak akan pernah dimintakan pertanggungjawaban atas apa–apa yang tidak aku akui. Aku sudah tiada, sehingga hilanglah segala urusan yang akan dinisbahkan kepadaku.
Dimana, Jalan kedua inilah yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul Allah, Para Wali Allah dan orang-orang Shaleh di sepanjang zaman.

Jalan Penuh Ilmu…

Karena aku masih belum mau untuk tiada, hawa nafsuku dan pikiranku masih menawanku, maka akupun memilih Jalan Ketidakpatuhan. Jalan penuh ilmu. Aku ingin mengada, aku ingin eksis. Aku ingin lebih sakti, lebih baik dari siapapun juga. Aku bersedia patuh kepada hukum getaran dan hukum-hukum universal lainnya yang telah disiapkan oleh Allah untuk bekalku mengada.

Ya…, dititik “aku” inilah TITIK AKHIR perjalanan ruhaniku, dan sekaligus TITIK AWAL bagiku untuk mendapatkan berbagai ILMU KESAKTIAN bermula. Karena saat itu, aku yang sendirian ini sedang berada dalam keadaan KONSENTRASI PENUH. Aku berada dikekinian waktu dan tempat. Aku berada disini pada detik ini untuk MENGADA. Aku SIAP untuk melakukan proses berbagai keilmuan yang akan membuat diriku menjadi SAKTI. Aku sudah berhasil. Aku sudah bertemu dengan DIRIKU sendiri. Aku sudah tahu siapa aku. Yaitu aku yang berilmu dan sakti… Dengan begitu aku Siap MENGADA.

Pada titik “aku” ini pulalah yang akan menjadi TITIK AWAL dari perjalanan TANPA AKHIRKU yang akan aku JALANI karena aku sudah tidak tahu lagi dimana alamat tempat pemberhentianku yang terakhir. Aku akan menjadi seorang pejalan abadi. Berbagai alam sedang menantiku untuk aku masuki, termasuk ALAM ASTRAL yang sangat mengasyikkan.

Begitu aku berpikir tentang suatu ilmu, maka yang muncul pertama kali adalah GETARAN dari ILMU itu. Ilmu getaran. Jika aku mengolah getaran itu dengan cara-cara tertentu, maka getaran itu akan berujung pada penciptaan sebuah materi atau energi sebagai hasil dari ilmu yang aku pikirkan tadi. Hasilny itulah yang akan aku jadikan sebagai bukti tentang kesaktianku. DUAR… Bisa…, Jadi….

Paling tidak ada 12 hukum universal yang sedang melambai-lambaikan tangannya agar aku memanfaatkannya. Allah memberiku fasilitas dan hukum-hukum yang sangat wah dan penuh kepastian yang bisa kupakai untuk mengaku-ngaku…, yaitu:

1. The Law of Divine Oneness
Bahwa aku hidup di dunia berada dalam sebuah kesatuan. Aku terhubung dengan segala sesuatu yang ada dan yang terjadi di alam semesta ini. Semua yang aku lakukan, katakan, pikirkan dan percayai akan mempengaruhi orang lain dan alam semesta di sekitarku.

2. The Law of Vibration

Bahwa segala sesuatu di alam semesta ini bergerak, bergetar, dan berjalan mengikuti pola-pola melingkar. Hal ini berlaku untuk semua materi dan energi yang ada di dunia fisik, maupun untuk pikiran, perasaan, keinginan, dan kehendak di dunia Etheric. Setiap suara, hal atau keadaan, dan bahkan aktiftas berpikir memiliki frekuensi getarannya sendiri-sendiri yang unik.

3. The Law of Action
Aku harus melakukan tindakan-tindakan nyata untuk mendukung dan mengujudkan pikiran, mimpi, emosi dan kata-kataku.

4. The Law of Correspondence
Hukum ini menyatakan bahwa prinsip-prinsip atau hukum-hukum fisika yang menjelaskan dunia fisik – energi, cahaya, getaran, dan gerak akan memiliki prinsip-prinsip yang berkesesuaian atau kesamaan masing-masing di dunia eterik atau alam semesta. “Seperti apa di atas, seperti itu pulalah di bawah”, “Seperti apa di dalam batin kita, seperti itu pulalah di luar atau lahiriah kita”.

5. The Law of Cause and Effect
Bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi secara kebetulan atau di luar Hukum Universal. Setiap tindakan yang aku lakukan memiliki reaksi atau konsekuensi yang akan kurasakan sendiri. “aku akan menuai apa yang telah aku tabur”. Atau dalam istilah agama Hindu disebut sebagai Hukum KARMA.

6. The Law of Compensation
Hukum ini adalah Hukum Sebab Akibat yang berkenaan dengan berkah dan kelimpahan yang disediakan bagiku. Efek dari perbuatanku yang diberikan kepadaku dalam bentuk hadiah, uang, warisan, persahabatan, dan berkah.

7. The Law of Attraction
Hukum ini menunjukkan bagaimana aku menciptakan hal-hal, peristiwa, dan orang-orang yang datang dan pergi ke dalam hidupku. Pikiranku, perasaanku, perkataanku, dan tindakanku akan menghasilkan energi yang yang akan menarik energi yang sesuai dan seirama dengan energi yang ku berikan. Energi negatif menarik energi negatif dan energi positif menarik energi positif.

8. The Law of Perpetual Transmutation of Energy
Bahwa aku memiliki kekuatan di dalam diriku untuk mengubah kondisi hidupku. Getaranku yang lebih tinggi akan mengkonsumsi dan mengubah getaranmu yang lebih rendah. Dengan demikian, aku dan kamu dapat mengubah energi dalam kehidupan kita dengan memahami Hukum Universal dan menerapkan prinsip-prinsipnya sedemikian rupa untuk melakukan perubahan. Hukum ini sangat powerful

9. The Law of Relativity
Bahwa setiap orang akan menerima serangkaian masalah (Tes Inisiasi) untuk tujuan memperkuat Cahaya di dalam dirinya. Aku mempertimbangkan setiap tes atau permasalah ini menjadi tantangan dan aku tetap terhubung dengan hatiku ketika aku memecahkan permasalahan ini. Hukum ini juga mengajarku untuk membandingkan masalahku dengan masalah orang lain dan meletakkan segala sesuatunya dalam perspektif yang tepat. Tidak peduli betapa buruknya situasi dimana aku berada, selalu ada orang lain yang berada dalam posisi yang lebih buruk dariku. Itu semua relatif.

10. The Law of Polarity
Hukum ini menyatakan bahwa segala sesuatu adalah sebuah kontinum dan memiliki hal-hal yang berlawanan. Ada dua kutub yang saling berlawanan. Aku dapat menekan dan mengubah pikiran yang tidak aku inginkan dengan berkonsentrasi pada kutub pemikiran yang berlawanan. Ini adalah hukum getaran mental.

11. The Law of Rhythm
Hukum ini menyatakan bahwa segala sesuatu bergetar dan bergerak dengan ritme yang tertentu. Ritme ini menetapkan musim, siklus, tahap perkembangan, dan pola. Setiap siklus mencerminkan keteraturan alam semesta. Aku tahu tahu bagaimana caranya untuk naik di atas bagian negatif dari sebuah siklus dengan tidak pernah terlalu bersemangat atau membiarkan hal-hal negatif untuk menembus kesadaran mereka.

12. The Law of Gender
Bahwa segala sesuatu memiliki prinsip-prinsip sifat maskulin (YANG) dan feminin (YIN) masing-masing yang merupakan dasar bagi semua ciptaan. Untuk memulai Spirituality, energi maskulin dan feminin yang ada di dalam diriku harus aku seimbangkan untuk menjadikanku seseorang yang benar-benar bisa menciptakan sesuatu bersama Tuhan.

Jika aku ambil, aku olah, dan aku manfaatkan semua fasilitas itu, maka aku yang tadinya sudah bebas merdeka, sendirian, kemudian berubah menjadi budak dari ilmu kesaktian itu. Aku dipaksa oleh ilmu kesaktian itu untuk mengabdi kepadanya. Aku akan dipaksa pergi kemana-mana, sibuk modar-mandir, untuk mencerita-ceritakan kesaktianku itu. Ketika aku melakukan itu, aku seperti menceritakan diriku sendiri. Aku seperti mengiklankan diriku sendiri. Aku juga dipaksa oleh ilmuku itu untuk mengajak-ngajak orang lain agar dia mau pula mengabdi kepadanya. Aku akan berusaha sekuat tenaga, sekuat upaya, sekuat gaya, sepenuh taktik sampai orang lain itu bisa pula menjadi hamba dari kesaktian seperti yang aku miliki itu.

Karena kesaktian itu sudah berubah menjadi diriku sendiri, kalau kesaktianku itu dilecehkan, dihina, atau tidak dihargai, bahkan ditantang oleh orang lain, maka itu namanya menantang aku… Aku akan lawan siapa saja yang tidak menghargai diriku itu. Aku akan membela diriku. Membela kesaktianku.

Akan tetapi, kalau kesaktianku dihargai orang, dikagumi orang, dipuja orang, maka aku akan merasa sangat bahagia, aku sangat merasa senang. Aku bisa tersenyum dengan sumringah. Aku akan terkekeh kesenangan. Angkuhku pun kemudian tumbuh dan berkembang dengan semakin subur.

Disinilah adanya NIKMAT MENGAKU. Dan nikmat ini pulalah yang menyebabkan orang-orang yang berilmu, orang-orang yang sakti enggan untuk melepaskan kesaktiannya, untuk melepaskan ilmunya. Mereka enggan untuk tidak menjadi siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa.

Allah telah menciptakan HIJAB-NYA yang sangat sempurna di depanku berupa ILMU dan HUKUM-HUKUM-NYA yang bisa ku anggap hanya sekedar hukum alam atau hukum universal biasa saja. Dan itupun bisa ku olah dan ku akui sebagai kehebatanku sendiri yang akan memberiku rasa NIKMAT MENGAKU.

Dia bersembunyi (GAIB) dibalik Ilmu dan Hukum-hukum-Nya itu dengan sangat sempurna sekali. Sungguh…

Dan yang pasti diwilayah pengakuan ini pulalah tempat yang dipakai dan dihuni oleh IBLIS, JIN, dan SYETAN. Sehingga ketika aku berada di wilayah ini, persinggungan-persinggunganku dengan mereka sangat mudah sekali, semudah mengedipkan mata.

Az Zukhruf 36:
Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (tidak ingat kepada Allah), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan). Maka syatan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya (corona).

Al Mujaadilah 19:
Syaitan itulah yang menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: