Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2012

Deka and IB dalam resonasi “Membumikan Jalan Ke Langit”

Messages:
———
Deka:
Mas IB saya kirim artikel baru lengkap; “Membumikan Jalan Ke Langit”.
Salam deka

IB:
Alhamdulillah. Saya benar mampu merasakan apa yang mas Deka tuliskan.
Saya mampu menjadi saksi rasa seperti yang dimaksudkan.
Sebuah rasa yang luar biasa.
Sebuah pelajaran yang sangat sederhana.
Sedemikian sederhananya.
Hanya diam menerima.
Menerima aliran.
Menikmati aliran itu dan mengamati serta merasakan.
Namun ketika ingin dituliskan.
Kebingungan.
Apa yang ingin dituliskan lagi.
Semua begitu sederhana.
Semua kembali hanya menerima.
Menikmati.
Merasakan.
Menerima Allah dengan rela.
Menerima dengan ikhlas.
Menerima dengan ridho.
Sangat sederhana.
Tapi tulisan tak akan mampu mengungkapkannya.
Sayang sekali.
Sayang sekali.
Teramat sedikit yang mau dan mampu menjadi sesederhana ini.
Aah… Seandainya mereka tahu.
Bahwa yang dicari itu hanya di depan mata saja.
Hanya perlu membuka mata hati.
Namun sangat sulit ternyata membuka mata hati itu.
Sayang sekali.
Seandainya saja mereka mengerti.
Dan semoga pula sayapun mampu teguh.
Untuk selalu membuka mata hati.
Melihat sesuatu dengan sederhana.
Dalam semangat penerimaan Tuhan.

Deka:
Inilah makna tadzkiyatunnafs yang sebenarnya, membuka mata hati…
Bukan berusaha membersih-bersihkan hati.
Karena hanya Allahlah yang bisa membersihkan hati kita

IB:
Tepat. Terima kasih sharingnya. 🙂
Andai bisa diceritakan betapa nikmat rasanya.
Padahal justru hanya berserah diri saja.
Effortless
Padahal hanya perlu ikut..

Salam Dari Dua Benua…
Deka and IB

Iklan

Read Full Post »

Membumikan Jalan Ke Langit 1/7

Yasmin (Mawar Berduri), pada tanggal 28 November 2012, menulis sebentuk pertanyaan tanggapan atas artikel “Dari Diam dan Hening 10, yang sebenarnya mewakili tanya seluruh umat manusia sejak berbilang zaman:

“Ungkapan yang bisa ku utarakan hanyalah “orang-orang yang sholat belum tentu khusyu, tapi …….orang-orang yang khusyu, mungkin sholat, mungkin juga belum……? Dasarnya adalah : Alloh berfirman : “Asshalatu mi’radjal muslimin” : sholat itu mi’rajd nya kaum muslimin. Pertanyaannya pernahkah kita merasa mi’rajd, ketika sholat ?????? (Mawar Berduri)”.
——-&&——

Pertanyaannya singkat sekali, tapi alangkah dalamnya kegalauan yang tersirat didalamnya. Karena ini menyangkut suatu peristiwa yang hampir saja menjadi sebuah legenda yang tidak akan pernah kita pahami, kecuali hanya dengan kepala terangguk-angguk diantara percaya dan tidak percaya. Peristiwa itu adalah Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Muhammad SAW. Sebuah peristiwa yang nyaris saja membuat kita umat islam menjadi seorang pemimpi ulung, utopist. Umat yang memimpikan terbang kelangit ke tujuh, Mi’raj, untuk bertemu Allah seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu.

Baginda Rasulullah pernah berkata: “Ashshalatu mi’radjul mukminin, sholat itu mi’rajd nya kaum beriman”. Sederhana saja sebenarnya makna ungkapan Beliau itu. “Shalatlah, niscaya kalian akan mengalami suasana mi’raj seperti yang ku alami…”. Makanya ketika Abu Bakar Ra., di beritahu Beliau tentang peristiwa Isra’ Mi’raj itu, dan Abu Bakar Ra, diajarkan oleh Rasulullah memposisikan dirinya pada posisi yang tepat, segera saja Abu Bakar mengiyakan dan membenarkan Beliau: “Shadaqta ya Rasulullah…”. Sejak itu, selama hidupnya, Abu Bakar tidak mempunyai tanya sedikitpun tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu yang padanannya ternyata adalah SHALAT. Sehingga Abu Bakarpun diberi gelar tambahan oleh Rasulullah sebagai ash Shiddiq. Jadilah Abu Bakar terkenal sebagai Abu Bakar ash Shiddiq…

Tapi kalau kita, umat islam pada umumnya, sungguh sangat berbeda. Kita, sudah sejak berbilang zaman yang lalu sampai sekarang, telah TERHIJAB dengan kalimat Mi’raj itu. Begitu kita mengingat-ngingat peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu, kita selalu saja dibawa untuk membaca sejarah yang penuh dengan peristiwa-peristiwa mencengangkan, mulai dari penglihatan Nabi atas pedihnya azab neraka, nikmatnya anugerah syurgawi, sampai dengan proses tawar menawar jumlah rakaat shalat antara Rasulullah dengan Allah dari 50 waktu menjadi 5 waktu shalat dalam sehari semalam. Setiap ada peringatan Isra’ dan Mi’raj, selalu itu dan itu saja yang diulang-ulang. Namun manfaatnya sangat minim sekali kalau tidak mau dikatakan tidak ada.

Malahan karena tercampur baur dengan pemahaman konsep MOKSA dalam agama Hindu dan Budha, serta lamunan KAHYANGAN seperti dalam cerita dewa dewi, maka kitapun mengidam-idamkan untuk bisa pula melakukan perjalanan Mi’raj kelangit yang ketujuh. Ya…, kita ingin pula Mi’raj, Moksa naik sampai kelangit yang ke tujuh. Akibatnya, ya nggak bisa!. Wong konsep-konsep Mi’raj dan Moksa seperti itu hanya dongeng sebelum tidur saja kok yang boleh jadi bisa terwujud dalam alam mimpi kita. Kalau kita tetap ingin melakukan hal yang seperti itu, maka maknanya tidak lebih dari sebatas permainan ARAH PIKIRAN kita saja. Jadinya rumit seperti yang telah saya ulas dalam artikel “dari diam dan hening”.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

DARI DIAM DAN HENING 11.

Lalu Bagaimana dengan Rasulullah Muhammad SAW?.

Keadaan Rasulullah Muhammad SAW, sebenarnya sama dengan keadaan diatas. EKSPRESIF sekali. Saat Beliau berbicara dengan para Sahabat Beliau, maka bicara Beliau itu sangat-sangat ekspresif. Apa-apa yang Beliau Bicarakan itu seperti NYATA dan ADA dihadapan Beliau. Tapi yang Beliau bicarakan itu sangat berbeda dengan topik pembicaraan ala olah VAKOG seperti yang telah dibahas diatas. Yang beliau sampaikan adalah Sebuah Keagungan.

Ya…, Beliau selalu berbicara tentang Keagungan Allah. Bingkai pembicaraan Beliau adalah segala sesuatu tentang Allah. Saat Beliau berbicara tentang Allah, jelas sekali Beliau tidak asal berbicara. Allah yang sedang Beliau bicarakan itu benar-benar ADA tepat dihadapan Beliau. Sehingga Beliau bisa berbicara dengan PAS tentang Dzat Allah, tentang Af’al Allah, Tentang Sifat-Sifat dan Nama-Nama Allah. Pas sekali apa-apa yang Beliau bicarakan itu dengan kenyataan Allah. Mata Beliau dengan pas berbicara, seluruh sel-sel nerve Beliau berbicara, perasaan Beliau berbicara, ekspresi Beliau berbicara. Sehingga para sahabatpun semakin yakin bahwa Beliau adalah utusan Allah.

Beliau juga bisa bercerita dengan sangat PAS tentang kehidupan dan kematian, tentang syurga dan neraka, tentang masa lalu dan masa yang akan datang. Bahkan Beliau juga bisa bercerita tentang para sahabat yang sedang shalat dibelakang Beliau, mana diantara mereka yang khusyu dan mana yang tidak khusyu. Karena semua keadaan itu sudah ada dihadapan Beliau sehingga Beliau hanya tinggal menyampaikan dan menjabarkannya kedalam bahasa yang dipahami oleh sahabat-sahabat Beliau.

Karena Ada Allah dihadapan Beliau, maka Beliaupun tidak pernah merasa takut, khawatir, dan sedih lagi terhadap berbagai peristiwa dan keadaan, apapun, yang datang dan pergi menjambangi hidup dan kehidupan Beliau. Apa-apa, Belau selau Berkata: ” jangan takut…, Ada Allah; jangan khawatir…, Ada Allah; jangan sedih…, Ada Allah”.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

DARI DIAM DAN HENING 10.

Ya…., kebanyakan kita shalat nya seperti seorang artis yang sedang berakting dihadapan orang banyak. Jika penontonnya banyak, atau paling tidak ada beberapa orang, maka akting kitapun akan menjadi semakin mantap dan ‘khusyu’. Akan tetapi begitu tidak ada penontonnya, maka kitapun inginnya buru-buru meninggalkan panggung sandiwara. Al Qur’an menyatakan bahwa shalat yang seperti ini adalah shalat seorang munafik. Shalat yang pas sekali pura-puranya. Seperti aksi panggung seorang artis.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka MENGINGAT ALLAH (note by ydk: menyadari dan merasakan Allah) kecuali sedikit sekali. (An Nisaa 142)

Belum lagi contoh-contoh lainnya, seperti betapa banyak diantara kita umat islam ini yang dengan tenang bisa melakukan korupsi, mencuri, maling, memalak, selingkuh, berzina, memperkosa, dan berbagai perilaku jahat lainnya, hanya karena kita tidak bisa menyadari dan merasakan ADA Allah di depan kita. Dimana perilaku-perilaku jahat itu tidak hanya dilakukan oleh orang biasa, tetapi juga banyak dilakukan oleh orang-orang yang katanya terhormat di DPR, di dunia Pemerintahan, bahkan di dunia Pendidikan. Dan tiba-tiba saja di negara kita telah bermunculan kaum ngamukan. Dimana emosi anak bangsa kita dengan sangat mudah tersulut walau dengan alasan yang sangat-sangat sepele sekali, apalagi dengan alasan yang lebih besar.

Itu semua kita lakukan karena kita selalu saja berpikiran bahwa kita hanya bisa bertemu Allah diakhirat kelak. Di dunia?. Nggak mungkinlah kita bisa berjumpa Allah. Itulah sebab ketika dikatakan bahwa Ada Allah didepan kita, dengan cengar-cengir dan cengengesan kita malah memperlihatkan ekspresi ketidakpercayaan kita. Tidak ada rasa takut kita sedikitpun kepada-Nya. Karena memang sudah puluhan tahun kita di doktrin dengan keras bahwa kita hanya bisa bertemu Allah nanti diakhirat. Bahkan saat dikatakan ada Malaikat-Malaikat Allah yang mencatat semua perilaku kita, tidak sedikitpun menimbulkan rasa sungkan kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela diatas.

Malah kita jauh lebih takut kepada jin, iblis, pocong, dari pada takut kepada Allah. Kita bisa merinding habis, gemetar, dan bahkan pingsan ketika dikatakan ada jin disamping kita. Karena banyak cerita yang sampai kepada kita bahwa ada jin, iblis pocong, setan ada disekitar kita, maka kita bisa bercerita dengan seru dan penuh ekspresi tentang jin, syetan, dedimit, dan makhluk halus lainnya dibandingkan dengan ketika kita bercerita tentang Allah. Makanya ketika kita bercerita tentang Jin, Syetan, dan Makhluk Halus lainnya itu, seluruh sistem syaraf kita seperti ikut terlibat dan berbicara. Mimik wajah kita, perasaan takut kita, adrenalin yang mengalir didalam darah kita, seperti bersatu padu membentuk karakter kita. Karakter takut Jin.

Kalau kita sudah pernah pula merasakan dan bereksperimen dengan berbagai seluk beluk ilmu getaran atau Vibrasi, baik itu getaran alam, getaran pribadi, getaran hawa nafsu, yang kesemuanya itu sangat mudah berinteraksi dengan getaran jin, dan getaran mahluk halus lainnya, apalagi kalau kita bisa mengolah vibrasi-vibrasi itu menjadi berbagai ilmu yang luar biasa dan nyaris tak masuk akal, maka kitapun akan bisa bercerita tentang semua itu dengan sangat ekspresif dan meledak-ledak. Bahasa yang keluar dari mulut kita saat bercerita itu seperti berasal dan muncul dari jaringan nerve kita yang paling dalam. Sangat ekspresif sekali…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

DARI DIAM DAN HENING 9.

Yang lebih menimbulkan nestapa kita adalah, kalau kita pakai selendang dan sarung Allah itu, kita TAKABBUR, maka Allah menjadi TIADA dihadapan kita. Coba bayangkan, nggak ada Allah!. Akibatnya kita akan merasa sangat bebas melakukan apa saja untuk memuaskan dahaga diri kita yang tak pernah habis.

Ketiadaan Allah ini disebabkan karena dengan konsep olah VAKOG itu, seluas dan selapang apapun pikiran dan hati yang kita rasakan, sehehing apapun keadaan yang kita dapatkan, tetap saja yang ada adalah kita sendiri. Diri kita yang luas, hati kita yang tenang, pikiran kita yang hening. Sehingga kemudian muncullah keadaan dimana kita seperti menjadi Dia. Dia seperti menjadi kita. Aku adalah Dia, Dia adalah aku. Fir’aun dulu menyatakannya dengan lebih tegas lagi: “Aku adalah Tuhan…”. Kalau dizaman kita sekarang ini pernyataan keakuan kita itu kita ucapkan dengan kebanggan yang lebih renyah: “aquuu…, aqiuuu…”

Sebaliknya kalau kita bersedia menanggalkan dan menyerahkan selendang dan sarung Allah itu dengan santun kepada-Nya, dan kita biarkan Allah sendiri memakai selendang-Nya dan sarung-Nya itu dihadapan kita, maka segera saja kita yang akan menjadi TIADA. Pasti.

Jika Allah ada, maka pastilah kita tiada. Sebaliknya, jika kita ada, maka pastilah Allah jadi tiada. Ah…, ungkapan apa pula ini?. Lho… jangan bingung dulu. Ini bukan sebuah ungkapan yang rumit untuk dipahami kok. Sederhana sekali sebenarnya.

Mari kita pahami kalimat-kalimat itu melalui sebuah contoh berikut ini. Yaitu tentang sebuah aktifitas yang secara rutin dilakukan oleh kita, umat islam, yaitu shalat.

Selama ini yang membuat kita TIDAK bisa khusyu di dalam shalat, kan karena kita tidak bisa MENYADARI dan MERASAKAN kehadiran Allah dihadapan kita (IHSAN). Kita selama shalat nyaris tidak menyadari dan merasakan ADA Allah dihadapan kita. Yang ada saat kita shalat itu adalah diri kita sendiri yang sedang berkelana menjelajahi berbagai objek pikir, yang entah kenapa, dengan tiba-tiba telah berdatangan silih berganti kehadapan kita.

Karena kita tidak mampu menyadari dan merasakan ada Allah dihadapan kita, maka kitapun secara otomatis akan sangat sedikit sekali mengingat-Nya. Walaupun kita sedang mengucapkan takbiratul ihram didalam shalat, Allahu Akbar, Allah Maha Besar, akan tetapi ucapan kita itu seperti ucapan seorang artis yang tengah berpura-pura menjadi orang yang sedang terpesona kepada kebesaran sesuatu. Padahal saat berucap Allahu Akbar itu, sebenarnya saat itu tidak ada sedikitpun ketakutan kita dan kekaguman kita, kepada kemahabesaran Allah. Tidak ada. Astagfirullah…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

DARI DIAM DAN HENING 8

Lha…,Ya…, nggak ada yang salah kok!. Malah yang didapatkan dalam olah VAKOG itu sudah sangat sesuai dengan hukum-hukum yang dibuat oleh Allah untuk tatanan VAKOG manusia, yang ujung-ujungnya bermuara pada otak kita. Semakin tekun kita berlatih olah VAKOG itu, maka hasilnyapun akan semakin bagus pula yang kita dapatkan. Bahkan para pengolah VAKOG itu terlihat jauh lebih baik dari yang tidak mengolahnya sama sekali. Bukankah itu bagus?. Yap…, sangat bagus, tapi bagusnya baru SEPERTIGA. Ha…??.

Ya…, dan dalam yang sepertiga itupun akan selalu ada yang lebih hebat dari yang hebat sebelumnya. Bak kata pepatah, diatas gunung masih ada gunung, diatas awan masih ada awan. Selalu ada yang lebih hebat dan yang lebih lemah. Banyak sekali varian yang bisa tercipta. Tapi hakekatnya ya masih disitu-situ juga. Berada di tataran VAKOG. Karena memang seperti itulah sifat dari dimensi olah VAKOG itu.

Walau pada para pengamal beberapa tarekat tertentu bagusnya lebih dari sepertiga, karena mereka bisa terlihat sangat dekat dengan Allah. Bahkan mereka bisa berdzikir sebanyak denyutan jantung berdenyut. Namun nuansa olah VAKOG nya tetap saja sangat kentara, dan itupun sangat bersinggungan sekali dengan olah CAKRA dalam agama Hindu dan Budha. Tentu saja sulit dan rumitnya itu lho yang tidak terbantahkan.

Akibatnya dan hasilnya apa?.

Hasil yang didapatpun sebenarnya tidak banyak. Diakui atau tidak diakui, hasilnya adalah dalam sebentuk pengakuan kita, sebungkah kebanggaan kita terhadap apa-apa yang telah kita capai. Kita bangga atas apa-apa yang bisa kita lakukan dan kita wujudkan. Kita menjadi begitu sumringah dan berbinar dengan diri kita dan segala kemampuannya. Kita akan bercerita dengan PAS sekali terhadap keadaan diri kita. Terhadap metoda kita, terhadap kelompok kita, terhadap buah pikiran kita. Gue banget gitu lho, kata kita dengan penuh ekspresi membesarkan diri kita sendiri. Tanpa kita sadari, kita menjadi TAKABBUR. Merasa AKBAR. Dan apa-apa yang kita dapatkan itulah yang akan menjadi KEBENARAN bagi kita.

Kitapun bisa bisa kemana-mana bercerita panjang lebar tentang kebanggaan dan kebenaran kita itu. Kita bisa berlama-lama, berhari-hari, berbulan-bulan lamanya asyik bercerita tentang kebanggaan diri dan kebenaran kita itu. Aku bisa ini dan itu, aku lebih baik lho darimu, aku ini benar lho. Inilah pengakuan yang tak terucap dari bibir kita. Tapi itu kelihatan sekali dengan pas melalui mimik muka kita, sinar mata kita, intonasi perkataan kita, ekspresi kita, dan aktifitas yang kita lakukan. Pokoknya asyik gitu. Dan tentu saja ada kegembiraan dan kebahagiaan kita didalamnya. But…, tetap saja semua kebahagiaan itu masih berada pada tatanan otak kita, olah VAKOG. Kebahagiaan yang menipu kata Al Allah didalam Al Qur’an.

Dan juga ternyata, bentuk pengakuan dan kebanggaan kita terhadap diri kita sendiri inilah sebenarnya yang telah menjadi panghalang (hijab) terkuat kita ketika kita ingin menghadap kepada Allah. Sebab Allah sudah menyatakan dengan tegas bahwa pengakuan, kebanggaan, dan kesombongan, TAKABBUR itu adalah “selendang” milik-Nya. Keangkuhan adalah Sarung Allah. Makanya Allah menyatakan bahwa hanya Dialah Yang AKBAR. Yang Takabbur. Bukan kita…

Kesombongan adalah selendang-Ku, keangkuhan adalah sarung-Ku, oleh karena itu barang siapa yang mengambilnya dari-Ku, maka Aku akan mencampakkannya ke neraka, Hadist Qudsi.

Sungguh keras sekali teguran Allah kepada kita agar kita tidak coba-coba memakai selendang dan sarung Allah berupa Kesombongan dan Keangkuhan dalam bentuk apapun. Makanya kalau kita memakai selendang dan sarung Allah itu, segera saja kita akan dicemplungkan Allah kedalam neraka yang kalau di dunia ini adalah siksaan hebat yang berada didalam dada kita sendiri. Sungguh, siapa yang tersiksa didunia ini, maka dia akan tersiksa pula diakhirat kelak. Barang siapa yang buta hatinya didunia ini maka diakhirat kelak hatinya juga akan buta.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

DARI DIAM DAN HENING 7.

Adapula di dalam praktek sebuah aliran mainstream islam, suasana yang tenang dan damai itu didapatkan oleh pemrakteknya setelah terlebih dahulu kumpulan jamaahnya melakukan sebuah proses membangkitkan emosi sedih dan marah para jamaah yang hadir. Jadi masih dalam tatanan olah VAKOG juga. Emosi sedih dan amarah jamaah itu dibangkitkan dengan cara mengingat-ingat penderitaan cucu Nabi, terutama Husein Radhiallahuanhu, kemudian diikuti dengan proses mengingat-ingat kemuliaan Imam Ali RA dibandingkan dengan Sahabat Nabi yang lain seperti Abu Bakar RA, Umar Ibnul Khattab RA, dan Usman Bin Affan RA, bahkan juga dibandingkan dengan Aisyah RA (istri Nabi Muhammad SAW).

Bahkan pada taraf tententu mereka sampai pada taraf melaknat para Sahabat dan Istri Nabi itu. Adakalanya jamaah melakukan proses menyakiti diri sendiri seperti memukul-mukul kepala dan dada dengan tangan, sambil mengucapkan kata-kata berirama monoton yang frekuensinya makin lama makin tinggi. Bahkan di negara Islam Iran, proses menyakiti diri itu dilakukan dengan cara jamaahnya memukul-mukulkan besi, rantai, atau bahkan pedang ketubuh dan kepala mereka, sampai tubuh mereka bercucuran darah. Itu bisa pula ditambah dengan adanya sekelompok jamaah yang membawa duplikat seperti potongan kepala manusia yang sedang berdarah-darah. Katanya itu adalah duplikat dari kepala Imam Husein RA yang dijadikan bola dan ditendang oleh lawan-lawan politik Imam Husein saat terjadinya peristiwa Karbala yang berdarah-darah.

Pada puncak emosi sedih dan marah itu, banyak jamaahnya yang menangis, terharu, dan merasa satu di dalam penderitaan Imam Husein RA. Setelah semua emosi itu keluar dan tersalurkan, maka jamaah pun akan merasakan rasa tenang, damai dan bahagia. Sehingga untuk masa-masa berikutnya, jamaah yang ingin mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan melalui proses pelepasan emosi, akan berulangkali datang ketempat yang menyelenggarakan acara-acara seperti itu.

Pada tingkat yang lebih ringan, biasanya pengajian-pengajian yang didalamnya sang Ustadz bisa membangkitkan emosi jamaahnya sampai mereka bisa menangis, akan banyak dikunjungi oleh jamaahnya, walau mereka mungkin berasal dari tempat yang jauh. Apalagi kalau Ustadz nya, seperti sim salabim, bisa menyembuhkan berbagai penyakit jamaahnya dengan hanya berbekal sedikit olah VAKOG dan do’a-do’a.

Falun Gong dan Reiki, dengan gerakan-gerakan, simbol-simbol, dan cara-cara olah nafasnya yang tertentu, juga bisa disejajarkan dengan semua metoda yang sudah diterangkan diatas. Bedanya nanti hanyalah dalam hal olah objek pikir dan olah aktifitas fisiknya saja. Tapi semuanya berada dalam sebuah tatanan yang sama yaitu pada tatanan olah VAKOG, yang pada zaman modern sekarang mengerucut pada ilmu-ilmu dan praktek-praktek yang dikembang oleh pengolah VAKOG dari dunia barat yang menumbuhsuburkan HYPNOTISME, NLP, dan OLAH VIBRASI atau ENERGI GETARAN QUANTUM yang memang sedang sangat disenangi oleh banyak orang di indonesia saat ini, bahkan beberapa ustadz pun ada yang sangat menggandrunginya.

Sungguh luar biasa sekali kalau kita bisa memanfaatkan dan memanipulasi VAKOG atau alat indera kita sesuai dengan sifatnya masing-masing….

Lalu apa salahnya dengan hal-hal yang seperti diatas itu?.
Bersambung
Deka

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: