Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2016

Masih Adakah Masalah?

Sebenarnya…

Tidak ada lagi pertanyaan…

Tidak ada lagi proses memikir-mikirkan,

Tidak ada lagi merasa telah, sedang, atau akan memutuskan sesuatu perkara.

Tidak ada lagi kekaguman pada apa-apa yang tergelar.

Tidak ada lagi kekaguman pada apa-apa yang terlihat.

Tidak ada lagi kekaguman atas apa-apa yang terdengar.

Tidak ada lagi kekaguman atas apa-apa yang terbaca.

Semua sudah jelas dan terang benderang.

 

Setiap permasalahan apapun juga ternyata sudah tersedia sekaligus jawaban dan solusinya.

Setiap perkataan hanyalah sekedar penzahiran.

Setiap pengungkapan hanyalah sekedar penzahiran.

Setiap perbuatan hanya sekedar penzahiran.

Setiap penemuan hanya sekedar penzahiran.

Setiap penampakan hanya sekedar penzahiran.

Setiap mimpi juga hanya sekedar penzahiran.

Setiap yang taqwa hanyalah sekedar penzahiran.

Setiap yang fujur/fasik hanyalah sekedar penzahiran

Setiap kebaikan hanyalah sekedar penzahiran.

Setiap keburukan hanyalah sekedar penzahiran.

Setiap kebohongan hanyalah sekedar penzahiran.

Setiap kejujuran hanyalah sekedar penzahiran.

Setiap yang halal hanyalah sekedar penzahiran.

Setiap yang haram hanyalah sekedar penzahiran.

Bahkan syurga dan neraka juga hanyalah sekedar penzahiran.

Penzahiran dari sifat-sifat yang sudah ditetapkan.

Penzahiran dari sifat-sifat yang telah dituliskan.

Telah Dituliskan dan Ditetapkan sejak Firman KUN…

Tulisan dan ketetapan yang sudah tidak akan ada lagi perubahan.

Tulisan dan ketetapan yang sudah tidak akan ada lagi perbaikan.

Karena setiap perubahan dan perbaikan itu juga sudah dituliskan dan ditetapkan.

Tulisan dan ketetapan yang tidak menyisakan sedikitkan ruang untuk kelupaan. Tidak ada yang dilupakan…

Karena yang menulis dan menetapkan itu adalah Allah, Dzat Yang Maha Bijaksana.

 

Tidak ada lagi si menyesal atau si tidak menyesal.

Tidak ada lagi si berdosa atau si tidak berdosa.

Tidak ada lagi si takut atau si tidak takut.

Bahkan tidak ada lagi si beriman ataupun si kafir.

 

Tidak ada banyak pelaku…

Tidak ada banyak pemeran…

Sebab pemeran dan pelakunya hanyalah Satu. Tunggal.

Pelaku tunggal itu adalah sedikit dari Dzat-Nya.

Pemeran tunggal itu adalah sedikit dari Dzat-Nya.

Allah lah yang bergurau senda dengan sedikit Dzat-Nya itu.

Sedikit Dzat-Nya yang diberi-Nya sifat-sifat.

Sedikit Dzat-Nya yang diberi-Nya tugasan-tugasan.

Sedikit Dzat-Nya yang dipakaikan-Nya topeng-topeng.

 

Sifat atau Topeng yang tak akan tertukar-tukar.

Sifat atau Topeng yang berjalan seiring dengan Waktu.

Sifat atau Topeng yang diberi-Nya Awal dan Akhir

Sifat atau Topeng yang diberi-Nya Umur.

Sifat atau Topeng yang diberi-Nya Arahan berupa Ilham.

Sifat atau Topeng yang difasilitasi-Nya Infrastruktur.

 

Sifat atau Topeng yang diberi-Nya Jalan sendiri-sendiri.

Setiap Sifat atau Topeng akan berjalan pada jalannya sendiri-sendiri.

Setiap Sifat atau Topeng akan dipermudah sesuai dengan bagiannya.

 

Sifat atau Topeng yang menzhahirkan ribuan Peristiwa.

Sifat atau Topeng yang menzhahirkan ribuan Kejadian.

Sifat atau Topeng yang menzhahirkan ribuan Perbuatan.

Sifat atau Topeng yang menzhahirkan ribuan Keadaan.

 

Yang buta hanya akan melihat pada peristiwa-peristiwa.

Yang buta hanya akan melihta pada kejadian-kejadian.

Yang buta hanya akan melihat pada perbuatan-perbuatan.

Yang buta hanya akan melihat pada keadaan-keadaan.

 

Yang celik (melihat) sudah terpandang pada Lauhul Mahfuz berjalan yang berkelap-kelip bak pelita.

Pelita di dalam ceruk yang tak tembus cahaya.

Kelap-kelip yang tak pernah henti sampai waktu yang telah ditentukan.

Kelap-kelip yang tak pernah padam sampai waktu yang telah ditetapkan.

Karena bahan bakarnya adalah Dzat-Nya.

Dzat-Nya yang sedikit saja dari keseluruhan Dzat-Nya yang Maha Indah.

Dzat yang tidak di timur dan tidak di barat.

Dzat yang meliputi…

 

Dan tiada yang wujud kecuali hanyalah Dzat-Nya sahaja.

Dzat Wajibul Wujud.

Dzat-Nya yang diberi-Nya Tugasan untuk menzhahirkan berbagai Mungkinul Wujud.

 

Siapa yang buta di dunia, maka ia akan buta pula di akhirat.

Siapa yang celik di dunia, maka ia akan celik pula di akhirat.

 

Ada masalah ?…

Iklan

Read Full Post »

MENGENAL ANASIR DIRI

 

tahu diri

(As Sajdah ayat 7-9)

  • Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
  • Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).
  • Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kepadanya RUH (ciptaan)-NYA,
  • Dan Dia menjadikan bagi kamu:

PENDENGARAN,

PENGLIHATAN, dan

HATI;

  • (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.

 

(Asy Syams ayat 7-8)

Demi Jiwa serta penyempurnaannya

Maka Allah MENGILHAMKAN kepada JIWA (NAFS) itu JALAN KEFASIKAN dan KETAKWAANNYA…

 

Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam kitab (Lauhul Mahfuz). Al Araaf (7):37.

Orang-orang golongan bahagia mereka akan dipermudahkan untuk melakukan amalnya orang-orang bahagia. Adapun golongan orang celaka, dia juga pasti akan mengarah pada amalnya orang-orang celaka. Terjemahan Sahih Muslim Bk.4, 575 (1994); Terjemahan Sahih Al Bukhari Bk. 8, 402 (1987).

 

Kenalilah diri ini dengan ILMU dari Al Qur’an dan Al Hadist, maka kita tidak perlu lagi mencari-cari JATI DIRI kita dengan berbagai cara yang aneh-aneh, penuh acting dan lamunan serta khayalan.

 

Mengenali diri lewat Ilmu hanya butuh waktu satu atau dua menit saja.

 

Mengenali diri lewat lamunan dan khayalan butuh waktu yang lama dan praktek yang sangat aneh-aneh…

 

Maka ketika kita melihat seseorang dengan segala tingkah, polah, dan kurenahnya, maka kita sudah paham saja dengan ILHAM apa yang sedang diturunkan Allah kedalam HATI nya. Apakah Ilham Takwa atau Ilham Fujur.

 

Kita sudah paham saja bahwa dia tidak akan pernah bisa menolak peranannya sesuai dengan ilham yang sedang dia terima itu. Sebab dia akan dipermudah untuk menjalankan peranannya itu. Dia juga diilhamkan dengan alasan-alasan yang sangat tepat dan masuk akal atas peranannya itu. Logis sekali.

 

Kita juga sudah paham saja bahwa pemeran hakiki dari peranan itu sebenarnya adalah Dzat… yang tidak berjantina dan tidak bersifat.

 

Peranan dan pemeran dari peran-peran yang terlihat itu hanyalah Sifat-sifat yang menutupi Dzat saja. Dan Sifat-sifat itu tak lain dan tak bukan adalah KETETAPAN ALLAH jua.

 

Lalu kitapun paham bahwa ternyata Allah lah, melalui Ketetapan-Nya (QADA dan QADAR) yang sudah TIDAK berubah lagi sejak Firman KUN, yang sedang bersenda gurau dengan sedikit Dzat-Nya……

 

Tidak ada lagi tanya “kenapa ?…”

Tidak ada lagi memikirkan dan menetapkan, “seharusnya begini dan begitu…”.

Karena tanya KENAPA , MENETAPKAN, serta MEMIKIRKAN itu adalah tanda-tanda bahwa kita MASIH WUJUD. Padahal kalau kita kenal Allah dan kenal diri kita, maka kita akan sadar bahwa diri kita adalah TIDAK WUJUD.

Lalu kitapun hidup macam biasa saja: kalau lapar, makan; kalau haus, minum; kalau diberi tugasan, laksanakan; kalu ngantuk, tidur; kalau capek, istirahat…; kalau lucu, tersenyum; kalau sedih, menangis. Seperti anak kecil saja….

Kalau harus marah, ya marah…!. Tapi kita sudah paham pula bahwa yang memarahi dan yang dimarahi adalah Dzat juga.

Mata melihat

Telinga mendengar

Tapi MULUT JAHIT atau TUTUP dari berkata-kata.

Diam dan tersenyumlah dengan senyuman MAKRIFATULLAH

 

 

 

Read Full Post »

Dampak Yang Mengherankan…

Jum’at, 26 Juli 2015 (9 Ramadhan 1436 H)

Sebulan Penuh Dampak dari Pengenalan-Nya Begitu terasa terutama SADAR AKAN DZAT. Tepat Hari 6Jum’at, 26 Juli 2015 (9 Ramadhan 1436 H) sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup insya allah.

Menjelang sholat Jum’at. Diriku mulai mengangis tiada henti sejak dari perjalanan ke masjid, Sholat Tahyatul Masjid, Sampai pada saat khotbah. Perasaan Rindu kepada Allah yang tak tertahankan memaksaku Untuk Naik. Aneh mungkin awalnya karena ini pertama bagi saya. Seperti ada yang menarik dari atas tubuh ini terangkat sampai di suatu taman yang indah dengan sebuah Istana yang megah. Air mancur yang keluar dari tanah menyirami bunga-bunga yang indah bermekaran. Kemudian saya di bawa ke istana tersebut, disitu saya melihat beberapa orang yang sedang berkumpul seperti orang sedang rapat dengan meja bundar di tengahnya. Hanya saja orang tersebut yang nampak hanya cahaya putih saja. Kemudian saya dibawa ke kamar saya. Di situ saya duduk kemudian ada USTADZ HUSSIEN berdiri depan dengan orang yang hanya nampak cahaya saja serta bertambah lagi orang di sampingnya, sebelah belakangnya juga, terus begitu sampai membentuk seperti barisan akan upacara saja, tak terhitung jumlahnya terus bertambah padahal kamar saya sempit.

Kemudian ustadz memberikan sebuah kotak putih bersinar dan saya ambil, setelah saya terima langsung seketika sadar kembali di masjid semula. Heran, aneh, diri ini bertanya-tanya apa bener tadi itu ustadz ??…

Entah itu apa itu namanya saya tidak paham. Awalnya, tak hanya itu saya juga merasa sejak saat itu ada yang aneh dengan kepala saya. Kepala ini terasa ringan sekali seperti tidak punya kepala saja hehe…. Dan Sejak saat itu juga saya merasakan keanehan-keanehan yang tak pernah di alami sebelumnya.

PERTEMUAN DENGAN ARIF BILLAH USTADZ HJ HUSSIEN bin ABDUL LATIFF

Semakain kuat Perasaan ingin jumpa dengan ustadz tak bisa tertahankan. Mulai mencari-cari informasi mengenai ustadz. Sampai saya mendapat nomer Hp Mak Tuti dan di masukkan dalam grup yamas. Tapi kala itu masih via Whatsapp tapi ustadz tidak masuk dalam group tersebut.

Sabar, Tabah menanti kabar kapan bisa bertemu ustadz. Tak lama berselang dari Group Yamas yang awalnya Whatsapp beralih ke Telegram. Dan inilah jalan awal bisa berkomunikasi dengan ustadz, meski hanya via Chat di Group Sosmed.

Mulai kenal dan akrab satu sama lain dengan anggota Yamas, meski tak pernah berjumpa sebelumnya. Semakin bercucuran air mata ini hendak bertemu ustadz yang tak kunjung tercapai. Tengah asik berbincang dengan Sahabat Yamas via telegram. Tiba-tiba ustadz mengirim chat di group, dan saya menyapa ustadz entah kenapa ustadz membalas kalau Beliau Hendak Mengangkat saya sebagai Asisten 2. Heran bercampur haru. Padahal waktu itu saya belum pernah berjumpa dengan Ustadz sama sekali. Saya pikir Ustadz salah ketik atau apa. Ternyata tidak.

Semakin besarlah keinginan untuk berjumpa dengan ustadz. Sampai Akhirnya bisa berjumpa dengan Ustadz di Seminar Makrifatullah Malang. Air Mata tak tertahankan ketika diri yang hina dina ini bisa memeluk ustadz yang diRindui selama ini.

Di situlah kedekatan saya dengan ustadz dan sahabat Yamas mulai terjalin. Semakin mantap dengan ajaranya setelah bertemu langsung dengan Sang “KALAM”.

Sungguh Suatu Anugerah yang besar Allah swt berikan kepada saya Suatu pengenalan yang selama ini saya cari. Allah SWT berikan melalui ARIFF BILLAH USTADZ HJ. HUSSIEN. Syukur Alhamdulillah saya ucapkan atas pengenalan ini, meski tergolong muda tapi ini sudah ketetapan-Nya sejak “Kun” sebelum aku diciptakan.

KESAN SETELAH MEMPELAJARI ILMU INI

Bermula dari pembukaan pintu makrifat membuat diri ini berubah drastis, mulai dari Midset, Cara Pandang, bahkan Prilaku berubah dari yang biasanya. Semakin Sadar akan KewujudanNya. Tak banyak bicara cukup lihat dan perhatikan yang terjadi di depan mata. Redha akan Ketentuan Allah SWT. Semakin sadar kalau dalam kondisi ini kita harus banyak “DIAM”.

Ketika keluarga saya tau kalau saya belajar ilmu makrifat, tolakan yang sangat keras dari keluarga saya. Karena bagi mereka ilmu ini sangat susah di dapat. Hanya orang pilihan saja yang akan dapat, apalagi diusia yang tergolong belia membuat mereka tak percaya awalnya. Sampai satu ketika ada ada seseorang yang alim tapi saya tidak kenal, dia tau keadaan saya, tanpa saya berkata apapun sebelumnya dan menceritakan semua kepada keluarga saya, mengapa saya bisa sampai dikenalkan dengan ilmu ini. Bahkan sampai saat ini saya di anggap sebagi anaknya.

Berangkat dari dukungan orang tua semakin mantap saya untuk belajar ilmu ini melalu ARIF BILLAH USTADZ HJ. HUSSIEN Bin ABDUL LATIFF, meski kebanyakan lewat internet, tidak menyurutkan Tekad untuk belajar banyak mengenai ilmu ini.

Demikianlah sedikit perjalan yang saya alami bisa menjadikan pelajaran dan motivasi bagi kita untuk lebih semangat belajar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mohon maaf jika ada salah kata maupun makna dalam penulisan di atas.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Read Full Post »

Dibawah ini adalah sebuah pengalaman dari rekan muda kita Mujiburrahman (Karyawan sebuah BUMN di Balikpapan)

Bismillahirrahmanirrahim…
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bermula Dari Latar belakang keluarga sederhana, yang kental dengan agama. Hanya saja diriku lebih memilih untuk mengenyam pendidikan umum mulai dari TK,SD, SMP dan SMA. Berbeda dengan kebiasaan keluarga yang kebanyakan mengenyam pendidikan di Madrasah. Tapi kewajibanku sebagai seorang muslim alhamdulillah tetap aku jalankan sebagaimana mestinya. Bahkan sejak SD kelas 5 saya sudah di kenalkan dengan amalan-amalan dari orang tua yang tujuannya agar bertemu Nabiullah Khidir, “Kata Beliau. Hehe…hehe…

MASA KETIKA SMP

Bermodalkan keluarga yang kental dengan agama. Selain beribadah, dan mengenyam pendidikan agama di sekolah. Diriku mulai menggali informasi mengenai islam lebih dalam. Tidak jauh-jauh saya bertanya dengan orang tua saya. Karena beliaulah saksi sejarah dengan segudang pengalaman ketika masih adanya orang-orang kekasih Allah (waliullah) di sekitar tempat tinggal saya, yang tidak lain termasuk dalam keluarga saya. Maka diceritakanlah mengenai kakek saya. Dengan Segudang ilmu dan kelebihan yang dimilikinya. Mulai disitulah saya dikenalkan dengan istilah “Makrifat”.

MASA KETIKA SMA

Singkat cerita ketika saya berada di bangku kelas 3. Perasaan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt amatlah besar. Tidak hanya itu keriduan untuk berjumpa sang baginda nabi MUHAMMAD SAW tak tertahankan. Sejak saat itu saya merasakan nikmatnya membanyacakan Sholawat Nabi lebih-lebih saat “MAHLUL QIYAM”, Air mata pun tak tertahankan begitu yakinnya pada saat itu kalau Nabi MUHAMMAD SAW Hadir. Disinilan awal mula kecintaanku dengan baginda Nabi. Meski sejak dari kecil saya sudah terbiasa membaca Sholawat Nabi (Dhiba’), tapi pada masa inilah mulai merasakan akan kecintaan kepada Baginda. Entah akan di bawa kemana Sejujurnya diri ini, Ingin sekali bertemu. Jalan apa yang harus saya pakai untuk bisa mendekatkan diri dengan-Mu dan Rosul-Mu (Nabi Muhammad SAW). Kecuali dengan jalan ibadah kepada Allah SWT.

MASA KETIKA KULIAH

Dunia kuliah bagi saya sangatlah singkat karena saya tidak sempat menyelesaikan kuliah saya, karena saya lebih memilih langsung kepada dunia kerja. Hanya saja pengalaman di masa ini begitu besar. Dengan tekad bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah swt. Sejak inilah diriku merasakan nikmatnya ibadah yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Segala ibadah yang tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah saya jalani.

Di masa ini saya dikenalkan dengan yang namanya keyakinan kepada Allah swt. Tidak hanya itu, keinginan untuk menimba ilmu agama islam sangatlah besar, sampai-sampai waktu itu saya minta MONDOK kepada orang tua saya, saya bilang kalau ingin menjadi seperti kakek. Pinter ilmu agama, dekat dengan Allah swt, segala hidupnya untuk berjuang di jalan Allah SWT. Tapi tk diijinkan. Sampai akhirnya saya diterima kerja di salah satu perusaan BUMN dan saya memutuskan untuk berhenti kuliah.

MASA DUNIA KERJA

Dengan jarak yang sangat jauh. Antara keluarga yang berbeda pulau. Tergolong jauh bagiku seorang anak bungsu di usia 17 tahun harus berpisah dengan keluarga untuk bekerja dengan tujuan membantu perekonomian keluarga, Karena keluarga saya tergolong keluarga tidak mampu. Saya pikir dengan kesibukan dalam pekerjaan akan memperngaruhi tekad saya untuk mempelajari keislaman akan berkurang, ternyata sebaliknnya di masa ini perasaan rindu kepada Allah dan rosul-NYA begitu menggebu-gebu.

Sampai saya teringat kembali dengan yang Istilah “Makrifat”, oleh sebab itu mulailah saya mencari-cari kembali mengenai ilmu makrifat lebih dalam. Berbeda ketika SMP yang hanya modal cerita orang tua. Sekarang saya mulai mencari-cari, meski hanya melalui internet. Bermacam-macam ajaran mengenai makrifat yang saya dapat. Hanya saja itu semua hanya gambaran mengenai ilmu makrifat itu sendiri, tidak langsung kepada titik permasalahan.

Saya ingat satu istilah yaitu “kemana kamu menghadap, yang di lihat hanyalah Allah swt” di salah satu situs yang menjelaskan mengenai orang yang telah sampai kepada maqom makrifat. Dari yang awalnya belajar dengan membaca artikel saya beralih kepada belajar via youtube.

Langsung saja, saya belajar dari video-video syarahan wali-wali yang sudah wafat mengenai ilmu makrifat. Tapi saya rasa masih ada yang kurang. Dari situlah saya ingin sekali bertemu dengan kekasih Allah (Waliullah) untuk belajar langsung mengenai ilmu makrifat. Akhirnya saya Meminta kepada Allah swt agar dipertemukan dengan seorang guru yang bisa mengajarkan Ilmu Makrifatullah.

Tak lama berselang, akhirnya tepat tanggal 26 Juni 2015 saya menemukan Syarahan SEMINAR MAKRIFATULLAH DI SEMARANG di Youtube oleh ARIF BILLAH USTADZ HUSSIEN. Dari situlah awal saya belajar ilmu Makrifatullah, Inilah ilmu yang saya cari selama ini, saya mulai paham mengenai istilah “kemana kamu menghadap, yang dilihat hanyalah [wajah] Allah swt” Dari situlah saya sadar mengenai DZAT.

Air mata bercucuran, Air inguspun tak bisa di tahan. Sedar akan KEWUJUDAN Allah SWT. Yang membuat diri ini ketakutan seperti menjadi BURONAN saja. Hehe..hehe..

Terpojok di kamar, ketakutan. Mungkin ini yang dinamakan dengan “KESEDARAN YANG JATI”.

Bersambung

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: