Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2015

Ini adalah Artikel yang saya tulis di: yahoo.groups/dzikrullah di tahun 2005.

Artikel ini bisa dikomparasikan dengan artikel saya di tahun 2015, “PUASA KALI INI, SUNGGUH BERBEDA…”

Kita akan bisa melihat bagaimana cara Allah yang selalu memperbaiki pemahaman kita dari waktu ke waktu. Sungguh Dia akan mengajari kita apa-apa yang tidak kita ketahui dengan cara yang unik….

Target Apa Yang Kau Cari Teman ?

Bulan puasa seperti tahun-tahun yang lalu datanglah sudah. Bagi teman-teman yang berbahagia dan berpuasa, kita telah terlalu sering memang mendengarkan kuliah dan ungkapan-ungkapan bahwa puasa adalah untuk mendapatkan ketaqwaan, bahwa puasa adalah untuk mendapatkan ‘idul fitri, bahwa puasa adalah untuk membersihkan diri kita dari dosa, bahwa puasa adalah untuk untuk Tuhan, dan sebagainya….!.

Tapi cobalah perhatikan agak sejenak apa yang kita hasilkan dari puasa ke puasa. Sudah adakah pada diri kita ciri-ciri apa yang dikuliahkan kepada kita selama ini…?. Kalau belum atau paling tidak belum mantap gitu…, maka tidak ada salahnya, bagi yang mau, untuk mulai mematok sebuah target yang akan kita capai selama bulan puasa yang telah menyapa kita ini.

Target itu jangan hanya sekedar kita tamat baca Al Qur’an selama Ramadhan. Jangan pula hanya sekedar kita telah ikut shalat taraweh berbilang kali. Jangan juga hanya sekedar kita telah ikut i’tikaf di masjid selama beberapa hari. Dan jangan juga hanya sekedar kita telah menahan lapar dan haus selama 30 hari. Kalau hanya sekedar seperti ini, maka sejak zaman SD dulupun semua itu telah kita lakukan.

Tapi puasa itu ternyata mempunyai tujuan yang lebih mulia dari rutinitas di atas yang itu ke itu saja yang telah kita praktekkan selama ini.

Pada puasa itu ada sebuah proses untuk MERAHMATI NAFS (diri kita). Karena mata yang tidak dirahmati Allah akan membawa kita kepada pandangan yang kurang ajar. Telinga yang tidak dirahmati Allah akan membawa kita untuk mendengarkan hal-hal yang tidak baik. Perut yang tidak dirahmati Allah akan mendorong kita kepada memakan apa saja dengan cara apa saja. Otak yang tidak dirahmati akan menarik-narik dan mendorong kita ke sana sini tak tentu arah. Sulbi yang tidak dirahmati Allah akan mendorong kita kearah kemasiatan demi kemaksiatan.

Akan tetapi NAFS yang dirahmati, akan menjadikan :

  • Mata kita akan mengalirkan rahmat itu kepada mata-mata umat manusia lainnya.
  • Telinga kita akan mengalirkan rahmat itu kepada telinga-telinga umat manusia lainnya.
  • Perut kita akan masih menyisakan dan mengalirkan rahmat itu kepada perut-perut umat manusia lainnya.
  • Otak kita akan mengalirkan berbagai rahmat itu kepada otak-otak manusia lainnya.
  • Sulbi yang dirahmati akan menebarkan rahmat itu kepada sulbi suami atau istri kita.

Pada puasa itu juga ada sebuah proses agar kita bisa BERADA DI ATAS NAFS itu. Sehingga kita bisa membalik keadaan dari keadaan semula dimana Nafs yang mengendalikan kita menjadi sebaliknya kita yang mengendalikan Nafs itu.

Dan yang mampu mengendalikan NAFS itu hanyalah AR RUH. Maka salah satu buah dari puasa adalah bagaimana agar kita sadar dan ingat dari waktu kewaktu bahwa kita ini hakikinya adalah SANG KUSIR terhadap AN NAFS. Jadi…, bagaimana caranya agar buah dari puasa ini adalah agar kita mampu berada dalam kesadaran bahwa kita ini ternyata adalah AR RUH, yang suci, yang fitri, yang bening, yang tidak bergolak, yang selalu bersandar kepada Allah. Karena tiada lagi tempat bersandar dan bergantung ar-ruh ini kecuali hanya kepada Allah. Karena “Aku adalah milik Allah dan kepada Allah lah aku mengembalikan kesadaranku.

Lalu target apa yang kau cari teman…??.

Wass
Deka, 5 oktober 2005

Read Full Post »

BERKAH RAMADHAN YANG TERLUPAKAN.

 

Sekarang kita sudah hampir selesai melakukan puasa pada 10 hari pertama. Kita akan memasuki 10 hari yang kedua dan 10 hari yang ketiga puasa. Walaupun agak terlambat, namun untuk Pak Noor dan juga siap-siapa yang ditakdirkan untuk bisa mengikutinya, marilah kita lakukan mulai hari ini untuk kita puasa dari keterpesonaan terhadap sifat-sifat. Kita  puasa dari membicarakan sifat-sifat. Kita puasa dari berbicara tentang benda-benda, tentang makanan dan minuman, tentang kegiatan orang lain, dan tentang fenomena-fenomena yang ada disekitar kita.

 

Kita pejamkan MATA kita buat sejenak. Kita naikkan hitam bola mata kita sedikit kearah atas. Tindakan kita ini akan mengaktifkan MATA HATI kita. Lalu kita fokuskan pandangan MATA HATI kita itu memandang ke alam HAKEKAT. Kita pandang Dzat-Nya yang ada disebalik semua sifat-sifat dengan MATA HATI kita. Mata hati kita tidak akan melihat apa-apa. Harus tidak melihat apa-apa.

 

Sedangkan HATI kita selalu kita pakai untuk MENGINGATI ALLAH. Ya…, kita hanya perlu INGAT saja kepada ALLAH di dalam hati kita yang halus yang berhubungan dengan OTAK kita. Saat Hati kita mengingat Allah, kita hunjamkan pandang MATA HATI kita itu kepada HATI kita yang sedang MENGINGAT ALLAH itu. Mata hati kita itu tidak akan melihat apa-apa. Sebab Allah memang tidak ada rupa, tidak ada warna, tidak ada huruf, tidak ada suara. Tidak kelihatan apa-apa. Kalau kita melihat bayangan macam-macam, katakan saja “pergi kau…”, kau bukanlah Tuhan saya. Dan dengan seketika itu juga bayangan itu akan hilang dari pandangan mata hati kita.

 

Dengan kita tetap menaikkan hitam bola mata kita kieatas dalam keadaan mata tertutup, artinya MATAH HATI kita bisa kita tumpukan terus kepada HATI kita yang sedang mengingati ALLAH, maka INGATAN kita kepada ALLAH itu akan TERKUNCI. Ingatan kita akan terhalang untuk dimasuki oleh ingatan kepada apa saja yang lain selain dari ingatan kepada Allah.

 

Kalau hati kita sudah kita kunci untuk selalu mengingati Allah, maka secara otomatis Hati kita itu akan tidak bisa lagi dimasuki oleh iblis. Sebab iblis itu hanya akan bisa masuk kedalam hati kita ketika hati kita itu sedang tidak mengingat Allah.

 

Ketika hati kita INGAT HANYA kepada semua sifat-sifat seperti yang telah kita sebutkan diatas, maka lewat pintu ingatan itu pulalah iblis akan bisa mendompleng untuk masuk pula kedalam hati kita. Misalnya, kalau ingatan kita kepada makanan dan minuman secara terus menerus, maka iblis akan masuk kedalam hati kita melalui ingatan kita terhadap makanan itu. Sehingga kerjaan kita setelah itu adalah kita akan memburu makanan dan minuman keberbagai tempat. Kalau kita selalu ingat kepada pornografi, maka iblis akan segera masuk kedalam hati kita melalui pintu ingatan kita kepada pornografi itu, sehingga apapun yang berbau pornografi akan menjadi ajang perburuan kita.

 

Jadi, ciri-ciri hati kita yang sudah dimasuki iblis itu adalah, kita akan seringkali mengkhayal, kita akan dibawa masuk oleh iblis ke alam lamunan. Makanya ketika itu yang akan kita ingat-ingat adalah berbagai keanehan, berbagai kejahatan, berbagai keburukan, berbagai hal yang negatif. Atau bisa pula kita dibawa memasuki berbagai alam yang keadaannya saja yang kelihatan positif, baik, benar, tenang, dan bahagia, akan tetapi pada saat itu kita sebenarnya sedang LUPA BERAT kepada Allah.

 

Nah ternyata di bulan ramadhan ini Allah telah memudahkan kita untuk membersihkan hati kita dari susupan iblis. Karena setiap kali kita ingat kepada hal-hal yang selama ini halal untuk kita lakukan disiang hari, kita ingat bahwa kita sedang puasa, maka saat itu juga iblis akan TERIKAT dan tidak bisa masuk lagi kedalam hati kita, paling tidak selama kita puasa disiang hari. Itulah makna dari hadist yang mengtakan bahwa selama bulan ramadhan ini iblis dibelenggu. Itu terjadi karena kita tidak terlalu mengingat-ingat kesenangan dunia selama kita berpuasa disiang hari. Makanya iblis seperti terikat dan tidak berdaya untuk masuk kedalam hati kita.

 

Akan tetapi kalau hanya seperti ini yang kita lakukan, maka di malam hari, saat semua yang dihalalkan bagi kita sudah bisa kita lakukan kembali, maka ingatan kita kembali akan mengingati sifat-sifat seperti sediakala. Kembali mengingati sifat-sifat, artinya adalah kita membuka kembali pintu selebar-lebarnya bagi iblis untuk masuk kedalam hati kita.

 

Oleh sebab itu, selama bulan ramadhan ini, sungguh merupakan sebuah kesempatan yang sangat besar bagi kita untuk selalu ISTIQAMAH dalam mengingati Allah. Dengan mengingati Allah, maka HATI kita akan menjadi TENANG, BERSIH, dan BERCAHAYA. Hanya dan hanya dengan mengingati Allahlah Hati kita ini akan bersih, tenang, dan bercahaya. Dan hanya Hati yang sudah seperti inilah yang akan dapat menangkap turunnya Rahmat dan Ampunan Allah, serta menangkap turunnya malam kemulyaan, Lailatul Qadar. Malam yang bagi generasi Nabi-nabi dan Rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad hanya turun sekali dalam seribu bulan. Sedangkan bagi umat Nabi Muhammad, Allah telah berkenan menurunkan bulan kemulyaan itu disetiap bulan Ramadhan.

 

Oleh sebab itu, mumpung ramadhan masih tersisa sekitar dua puluh hari lagi, tidak ada kata terlambat bagi kita untuk mulai saat ini juga, untuk kita puasa yang sebenar-benarnya puasa. Yaitu kita puasa dari memandang segala SIFAT-SIFAT. Kita puasa dari memandang, mendengarkan, membaui, merasakan, menyicipi berbagai SIFAT-SIFAT yang selama ini membelenggu kita.  MATA HATI kita, kita jadi pertajam untuk bisa memandang Dzat-Nya (yang sedikit) yang ada disebalik semua sifat-sifat itu. Karena Dzat-Nya (yang sedikit) itulah sebenarnya yang Wujud, yang menjadi HAKEKAT dari semua sifat-sifat itu. Dan HATI kita, kita kunci agar bisa ISTIQAMAH untuk hanya mengingati Allah sahaja di setiap waktu. Dzikrullah.

 

Lalu di dalam shalat, kita berbicara, kita rukuk dan sujud menghormat kepada Allah yang sedang kita INGAT. Di luar shalat, kita berdiri, kita duduk, kita tiduran, kita berjalan, kita bekerja, kita meneliti, kita memimpin, dan sebagainya, semuanya itu kita lakukan dalam keadaan HATI yang selalu mengingati Allah.

 

Catatan kecil: Hati yang dimaksud disini bukanlah hati yang berada di dalam DADA, bukan jantung, bukan lever. Bukan. Tapi hati yang dimaksudkan itu adalah Hati yang halus atau Akal yang berkedudukan atau berkaitan erat dengan OTAK.

 

Dengan begitu, insyaallah, ramadhan kita kali ini akan jadi sangat berbeda dengan ramadhan-ramadhan kita yang sebelumnya.

 

Insyaallah…

 

Demikian ilham yang turun kali ini, semoga bermanfaat bagi Mas Noor Radman khususnya dan kepada siapa saja yang sempat membaca artikel ini umumnya.

 

Wassalamualaikum…

Read Full Post »

Setelah kita selesai mengenal diri kita yang ternyata adalah tidak wujud, maka kemudian kita bisa memalingkan mata kita untuk melihat kepada benda-benda yang ada disekitar kita. Kita bisa mulai dari melihat benda-benda yang kecil sampai dengan benda-benda yang sangat besar yang bertebaran di alam semesta raya.

 

Bahwa Hakekatnya Yang Wujud:

 

Disebalik butiran tanah adalah Dzat-Nya.

Disebalik bebatuan adalah Dzat-Nya.

Disebalik rerumputan adalah Dzat-Nya.

Disebalik pepohonam adalah Dzat-Nya.

Disebalik udara yang kita hirup adalah Dzat-Nya.

Disebalik hewan-hewan yang berkeliaran adalah Dzat-Nya.

Disebalik dinding rumah kita adalah Dzat-Nya.

Disebalik lantai yang kita injak adalah Dzat-Nya.

Disebalik kursi yang kita duduki adalah Dzat-Nya.

Disebalik makanan dan sayuran yang kita makan adalah Dzat-Nya.

Disebalik air yang kita minum adalah Dzat-Nya.

Disebalik piring, sendok, dan gelas yang kita pakai adalah Dzat-Nya.

Disebalik kendaraan yang kita kendarai adalah Dzat-Nya.

Disebalik semua suara dan bunyi adalah Dzat-Nya.

Disebalik bebauan adalah Dzat-Nya.

Disebalik planet-palnat adalah Dzat-Nya.

Disebalik bulan dan matahari adalah Dzat-Nya.

Disebalik bintang-bintang adalah Dzat-Nya.

Disebalik galaksi adalah Dzat-Nya.

Disebalik Dark Matter adalah Dzat-Nya.

Disebalik Dark Energy adalah Dzat-Nya.

Disebalik the observable Universe…….. adalah Dzat-Nya.

 

Bahkan bagi siapapun yang sudah terlanjur kesengsem dengan alam-alam getaran dan alam gelombang yang bisa mengayun dan meliuk-liukkan tubuh kita dengan gemulai kesana kemari. Sekarang cobalah sadari pula, walau hanya sebentar saja, bahwa Hakekatnya Yang Wujud:

 

Disebalik semua getaran adalah Dzat-Nya.

Disebalik semua gelombang adalah Dzat-Nya.

Disebalik cahaya adalah Dzat-Nya.

Disebalik kekuatan dan daya adalah Dzat-Nya.

 

Jadi, di dalam Lauhul Mahfuz, pada Hakekatnya (sebenar-benarnya) tidak ada satupun yang Wujud kecuali hanyalah Dzat-Nya semata-mata. Yang terzhahir menjadi Sifat-Sifat adalah Dzat-Nya yang disebut sebagai Dzat-Nya Yang Zhahir, dan disebalik Sifat-Sifat yang tetap TESEMBUNYI sebagai HAKEKAT adalah Dzat-Nya juga yang disebut sebagai Dzat-Nya Yang Bathin.

 

Tidak terpisah antara Yang Dzahir dengan Yang Bathin. Tidak terpisah antara Sifat dengan Hakekat. Sifat dan Hakekat itu tetap hanyalah satu. Karena Sifat dan Hakekat itu hanyalah gambaran dari Aktifitas dan Perlakukan Allah terhadap sedikit dari Dzat-Nya yang besarnya hanyalah seperti sebutir pasir di padang pasir, atau setetes air di dalam lautan, terhadap Dzat-Nya keseluruhan yang Maha Indah dan Maha Agung.

 

Setelah kita mengenali Sifat-sifat, kita akan segera pula menyadari akan HAKEKAT. Bahwa sebenarnya disebaik Sifat-sifat itu ada Dzat-Nya yang sedikit yang menjadi HAKEKAT dari semua sifat-sifat itu. TIDAK ada apa-apa lagi lagi setelah HAKEKAT kecuali hanya kita BERMAKRIFAT kepada Allah. Makrifatullah.

 

Artinya, setelah kita mengenal Allah, makrifatullah,  kita sudah tidak perlu lagi membahas-bahas apa-apa tentang Allah, tidak perlu berandai-andai lagi tentang Allah, tidak perlu membayang-bayangkan apa-apa lagi tentang Allah, tidak perlu melakukan perjalanan-perjalan apa-apa lagi untuk bertemu dengan Allah. Tidak perlu.

 

Kalau sudah Bermakrifat kepada Allah, Makrifatullah:

 

Kita mau membahas apa tentang Allah?, bukankah Dia Laisa kamistlihi syai’un?.

Kita mau membayangkan apa tentang Allah?, bukankah Dia Laisa kamistlihi syai’un?.

Kita mau mengandaikan apa tentang Allah?, bukankah Dia Laisa kamistlihi syai’un?.

 

Kita mau berjalan kemana lagi untuk menemui Allah?. Apa kita mau berjalan ke langit?. Atau Apa kita mau berjalan ke dalam diri kita sendiri?.

 

Kita mau menjalankan apa lagi untuk bertemu dengan Allah?. Apakah kita mau menjalankan RUH,atau mau menjalankan SOUL, kata orang bule, untuk bisa bertemu dengan Allah?.

 

Bukankah kita sebenarnya tidak pernah terpisah dengan Allah?. Bukankah semua kita ini, semua ciptaan, dan seluruh peristiwa-peristiwa, sebenarnya adalah gambaran atau sifat-sifat yang melekat pada SEDIKIT dari DZAT Allah sendiri?. Masak Dzat atau Diri Allah terpisah dengan Allah?.

 

Disinilah kita banyak yang keliru selama ini. Dari sifat-sifat, dari benda-benda, dari peristiwa-peristiwa, dari gejala-gejala getaran dan gelombang, kita terburu buru untuk berkata bahwa disebalik semua itu adalah Allah yang mengatur dan menggerakkannya.

 

Kita terlalu terburu-buru mengatakan bahwa yang menggerakkan nafas kita adalah Allah. Yang menggerakkan Alam adalah Allah. Yang menggetarkan gelombang adalah Allah. Yang memberi cahaya kepada alam adalah Allah. Sehingga tidak ada kegentaran dan keterkejutan kita sedikitpun saat kita menyebut nama Allah

 

Karena kalau kita mengatakan bahwa yang menggerakkan nafas kita adalah Allah, maka rasanya Allah adalah sangat kecil sekali. Kalau kita mengatakan bawa yang menggerakkan kita dan bintang-bintang adalah Allah, maka Allah yang seperti itu masih bisa kita bayangkan dan pikirkan. Masih terlalu kecil rasanya. Padahal yang kita temukan dan hadapi saat itu barulah Dzat-Nya yang Sedikit.

 

Walaupun kita sudah mencoba untuk melihat ke langit yang tinggi, dan kita sudah menengadah pula keatas sebagai isyarat bahwa kita sedang menghadap kepada Allah, namun semua usaha yang kita lakukan itu tetap saja tidak menimbulkan kegentaran dan keterkejutan kita kepada Allah. Sebab kesan kita terhadap Allah tetaplah masih terlalu kecil sekali.

 

Paling-paling yang akan kita rasakan adalah getaran-getaran dan gejolak dari RUH kita yang mulai menggoncangkan tubuh kita. Kita jadi bisa bergerak-gerak sendiri dengan gerakan-gerakan yang tidak kita atur-atur sedikitpun. Kita seperti bisa bergerak mengikuti sebuah aliran daya yang menyelimuti kita. Kita bisa pula berbicara sendiri seperti ngoceh begitu dengan kata-kata yang tidak kita atur-atur. Dalam istilah sekarang keadaa seperti itu disebut sebagai kondisi TRANCE.

 

Karena Ruh kita sudah mulai merasakan keadaan di luar dari tubuh kita, maka biasanya kita akan bisa pula menangis tersedu-sedu, bahkan sampai berteriak-teriak. Setelah tangisan dan teriakan itu, kemudian kita akan menjadi tenang. Kita kemudian akan berbinar-binar untuk mengatakan bahwa dengan melakukan sebuah ritual atau latihan tertentu kita bisa merasa TENANG dan BAHAGIA.  Dengan begitu maka kita segera saja akan DIJERAT untuk tetap melakukan RITUAL atau LATIHAN-LATIHAN itu dengan semangat 45. Kita tidak akan bisa lagi keluar dari keadaan yang telah kita anggap bisa membuat kita tenang dan bahagia.

 

Hanya saja jarang ada yang BISA mengkalibrasi TENANG dan BAHAGIA sebagai hasil dari latihan-latihan atau ritual-ritual tertentu itu dengan TENANG dan BAHAGIA yang berasal dari buahnya SHALAT. Sebab ternyata banyak yang berkata bahwa tenang dan bahagia yang ia dapatkan dari hasil latihan-latihan itu sama saja dengan tenang dan bahagia yang ia dapatkan ketika ia shalat. Bahkan ada yang sambil terkekeh-kekeh berkata bahwa tanpa shalatpun ia ternyata bisa tenang dan bahagia. Bisa Happiness katanya.

 

Kenapa hasilnya bisa sama?. Jawabannya hanya SATU, yaitu SHALAT kita ketika itu bukanlah SHALAT orang YANG INGAT KEPADA ALLAH. Kita shalat dalam keadaan LALAI. Kita sedikit sekali mengingat Allah, atau bahkan tidak ingat sama sekali kepada Allah, di dalam shalat itu. Ingatan kita malah terpaku kuat kepada sifat-sifat yang ada didepan kita. Banyak kita yang di dalam shalat itu kita malah sedang bermain getaran, kita malah mengingati getaran, kita malah mengingati tenang dan bahagia. Atau kalau kita tidak mengetahui itu semua, kita malah tidak sedang  mengingati apa-apa.

 

Kalau kita juga seperti itu, maka kemudian secara perlahan-lahan, shalat kita akan mulai bermasalah. Kita mulai malas untuk shalat shalat sunat, kita mulai longgar dalam menjaga waktu-waktu shalat. Kita mulai malas untuk membaca Al Qur’an, kita mulai malas untuk puasa-puasa sunat. Hanya karena takut akan dosa sajalah yang membuat kita masih memaksa-maksakan diri untuk shalat, dan juga puasa. Kalaulah tidak ada kata-kata DOSA itu, kita sudah akan meninggalkan shalat dan puasa itu. Karena kenyataannya orang yang tidak shalat dan tidak puasa, artinya orang yang non-muslim, yang melakukan latihan-latihan itupun tenang dan bahagianya sama dengan tenang dan bahagia yang kita rasakan. Inilah yang sebenarnya yang merusak dan menggerogoti akidah kita sebagai seorang muslim tanpa kita sadari.

Bersambung…

Read Full Post »

Noor Radman 2015/06/25 at 8:42 am

……@gmail.com

Assalamualaikum wr.wb.

Yth. Bapak Yusdeka.

Sudah beberapa tahun saya mengikuti tulisan2 bpk. dan Abu Sangkan, telah membuat perubahan yg sangat berarti bagi saya. Pa Deka telah menjadi seakan menjadi guru bagi saya meski tak kenal raut muka. dan terakhir saya mengenal Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff di Youtube setelah membaca tulisan pa Deka. Terkadang saya dalam doa saya berkirim alfatihah semoga bisa tersambung dengan bp.

Membaca kiriman Pa Abu melalui Facebook tentang Puasa, bahwa ibadah yang diwajibkan dibulan ramadhan adalah puasa. Bagi saya puasa khawas apalagi khawasul khawas merupakan sesuatu yang tak mungkin kami capai.

Saya bermohon kepada Allah agar melalui pa Deka kiranya dapat memberikan step by step cara berpuasa dalam bahasa yang sederhana dan dapat dipraktekkan bagi kami yang berpuasa sambil bekerja di kantor dan lain-lain. Berharap ramadhan yang tersisa ini dapat menjadi Ramadhan yang terindah. Semoga Allah mengabulkan. (sudah dulu pa Deka, air mata saya keluar). terima kasih. Dari saya Noor Radman

Wassalam Wr.Wb.

Jawaban Deka…

Alaikum salam Mas Noor Radman…

Mengenai Puasa, saya hanya ingin menyampaikan beberapa pengalaman sendiri yang saya alami dalam berpuasa kali ini.

Terus terang, pada awalnya puasa adalah sebuah ibadah yang sangat berat untuk saya lakukan. Sebab tujuannya adalah untuk mencapai sesuatu yang sepertinya hanya mudah untuk diucapkan tetapi sangat sumir untuk bisa dipahami apalagi untuk dialami, yaitu TAQWA. Akan tetapi selama puluhan tahun berpuasa, rasanya puasa yang saya lakukan itu ya begitu-begitu saja.

Walau pada saat yang sama saya juga sudah tahu bahwa puasa itu adalah untuk menghidupkan Ruh dengan cara “meleremkan” atau melemahkan jasad kita yang terbentuk dari unsur tanah, sehingga pada akhir ramadhan kita bisa kembali menjadi makhluk yang sudah kembali menjadi fitrah. Makhluk Ruhani. Saya sudah tahu itu. Namun pada kenyataannya semua itu tetap hanya seperti sebuah mimpi atau ilusi yang rasanya saya tak akan pernah sampai kesana.

Al-Ghazali (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata: “Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengenal (Allah) yang wajib disembah”. Dari situlah kemudian populer kalimat Awaluddin Makrifatullah, awal dari agama adalah mengenal Allah.

 

Berbekal dengan ungkapan tersebut, apakah itu hadist atau tidak saya tidak tahu, dengan sebuah sebab yang unik, saya kemudian dibawa untuk benar-benar mengenal Allah oleh Ustad Hussien BA Latiff. Dari syarahan Beliau yang sangat gamblang, saya akhirnya meyakini betul bahwa :

 

Pada awalnya hanya Allah saja Yang Ada. Pada awalnya tidak ada siapa-siapa dan apa-apa kecuali hanya Allah sahaja. Tidak ada yang Mengenali-Nya, tidak ada yang mengetahui-Nya, tidak ada yang tahu Namanya, tidak ada yang tahu kebesaran-Nya. Hanya Dia sahaja yang Ada. Hanya Dzat-Nya sahaja yang ada. Hanya Diri-Nya sahaja yang Ada.

 

Kemudian Allah berfirman KUN kepada setitik atau sedikit dari Dzat-Nya atau DIRI-NYA. Kemudian dari sedikit Dzat-Nya itu Dia Ciptakan semua Makhluk yang akan menjalankan peran-peran tertentu pada waktu-waktu yang tertentu pula.

 

Oleh sebab itu, semua ciptaan ini tak lain dan tak bukan adalah semata-mata (atau HAKEKATNYA) adalah penzhahiran dari setitik Dzat Allah yang telah Dia Sabda dengan Firman KUN itu. Dengan Sabda KUN itu, Dzat-Nya yang setitik itulah kemudian yang akan menzhahirkan Lauhul Mahfuz dengan segala tingkah polah (SIFAT) dari makhluk yang ada didalamnya.

 

Oleh sebab itu, sifat apapun yang dapat kita rasakan dan pikirkan, semua itu pastilah sempurna. Karena memang semua sifat itu pada hakekatnya berasal dari SATU SUMBER saja yaitu Dzat-Nya yang setitik. Dzat yang dimiliki oleh Allah Yang Maha Sempurna.

 

Konsekuensinya, apapun yang dapat kita pikirkan, kita lihat, kita dengarkan, kita rasakan, kita baui, dan kita raba, maka itu PASTI bukanlah Allah. Kemanapun kita menghadap, kemanapun kita berjalan, kemanapun kita mengarah, kemanapun kita pergi, baik secara jasmani maupun secara ruhani, maka yang kita TUJU itu tetap bukanlah Allah. Sebab semua itu hanyalah berasal dari setitik dari Dzat-Nya saja.

 

Oleh sebab itu apa yang paling tinggi yang bisa kita TEMUKAN disebalik semua yang BISA kita pikirkan, kita lihat, kita dengarkan, kita rasakan, kita baui, kita rabai, kita tujui, kita jalani, kita arahi, atau kita apakan saja, maka itu hanyalah Dzat-Nya yang setitik atau sedikit saja. Kita tidak boleh mengatakan bahwa itu adalah Allah. Terlalu kecil Allah kalau itu yang kita katakan Allah.

 

Jadi sebenarnya, pada hakekatnya, yang wujud:

 

Disebalik Jasad kita adalah Dzat-Nya.

Disebalik Nyawa kita adalah Dzat-Nya.

Disebalik Ruh kita adalah Dzat-Nya.

Disebalik Hati atau Akal kita adalah Dzat-Nya.

Disebalik Nafas kita adalah Dzat-Nya.

Disebalik Darah kita adalah Dzat-Nya.

Disebalik sel-sel tubuh kita adalah Dzat-Nya.

 

Sampai disini saja sebenarnya kita sudah SELESAI dalam mengenal diri kita sendiri. Bahwa sebenarnya kita ternyata adalah TIDAK WUJUD. Yang Wujud bagi diri kita sebenarnya adalah Dzat-nya yang sangat sedikit saja dari Dzat-Nya yang sedikit.

 

Al Ghazali mengkonfirmnya dengan mengatakan bahwa: “orang yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya niscaya sudah pasti ia mengenal bahwa ia TIADA mempunyai wujud bagi dirinya”, (Ihya Ulumudin Bk. 7, 427, (1981))

Bersambung…

Read Full Post »

Makhluk Dibatas Sepi.

 

Mungkin suatu saat kita pernah dilanda oleh sakit yang agak parah sehingga kita harus dirawat dirumah sakit. Siang hari, mungkin ada beberapa teman kita yang berkunjung untuk memperlihatan bahwa mereka punya perhatian kepada kita. Perawat dan dokter juga rajin berkunjung memeriksa kesehatan kita. Boleh jadi pula ada anak, istri atau suami kita yang menemani kita dari pagi sampai malam. Akan tetapi pada suatu saat, tatkala tengah malam datang menjambangi kita, mata kita ternyata masih belum bisa kita pejamkan dalam sebuah tidur yang lelap. Saat itu teman kita hanyalah botol cairan infus yang dengan telaten meneteskan cairannya kedalam tubuh kita. Tiba-tiba kita seperti merasakan sebuah kesepian yang sangat mencekam. Kita seperti sedang hidup di alam kesendirian. Sepi…, Sunyi…

 

Kita menjadi sedih dengan diri kita sendiri. Teganya diri kita yang sedang sakit ini memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai, dengan sahabat tempat kita bercanda ria, dengan teman sejawat di kantor atau ditempat kerja kita, dengan harta benda yang kita miliki, dengan  rumah kita, dengan kendaraan kita, dan sebagainya. Tubuh kita seperti sedang mencabut semua yang kita miliki dan senangi itu dari tangan kita.

 

Jarum jam terasa seperti begitu lambatnya bergerak. Rasanya kita ingin mempercepat putaran jarum jam itu agar ia bisa berlari kencang untuk menjemput pagi. Kita merasa tidak kuat menahan kesepian dan kesunyian itu sendirian. Kita seperti orang yang sedang merindukan munculnya cahaya matahari pagi. Karena dengan adanya cahaya matahari itu berarti kita merasa akan bisa bertemu kembali dengan orang-orang yang datang menjenguk kita. Tiba-tiba saja muncul kerinduan kita untuk mendengarkan kicauan burung-burung di pagi hari menyambut datangnya sinar matahari. Padahal sebelum-sebelumnya sinar matahari pagi dan nyanyian burung-burung itu tidak menjadi titik perhatian kita sama sekali.

 

Andaikan di dalam sakit itu kita tidak bisa bangun dari tempat tidur, perasaan kita lebih bergejolak lagi. Bagaimana kalau kita ingin BAB dan BAK?. Bagaimana kalau cairan infusnya macet?, bagaimana kalau… ?, bagaimana kalau…?. Seribu ingatan seperti datang bergelombang silih berganti memenuhi kepala kita. Malam itu seakan kita jalani dengan kesendirian yang menakutkan.

 

Kalaulah saat itu ada orang lain yang menemani kita tidur dirumah sakit itu, kita ingin mengadukan masalah kita itu kepadanya. Kita tidak kuat menanggungnya sendiri. Kita merindukan adanya orang lain tempat kita mencurahkan dan mengadukan segala permasalahan yang sedang kita rasakan itu. Kita merindukan adanya orang lain tempat kita berkata-kata, tempat kita berkeluh-kesah. Kita ingin mengurai kesendirian kita itu. Kita ingin berbagi penderitaan kita dengan orang-orang yang kita anggap dekat dengan kita selama ini…

 

Pada keadaan yang lain, tatkala kita telah beranjak tua dan sakit-sakitan, dan kita sudah dirawat dirumah saja, karena dirumah sakitpun keadaan kita tidak akan banyak berubah, maka keadaan yang akan kita alami bisa lebih menyedihkan lagi. Biasanya kita sudah tidak bisa apa-apa. Kita butuh berbagai pertolongan dari orang-orang terdekat kita untuk berbagai kegiatan keseharian kita. Mulai dari makan, minum, buang air, dan membersihkan badan. Kita sudah tidak bisa lagi melakukannya sendiri. Tubuh kita sudah lemah, letih, dan tidak berdaya lagi untuk melakukan apa-apa.

 

Waktu siang hari, mungkin masih banyak orang yang bisa membantu kita. Ada anak kita, ada menantu kita, ada cucu kita, ada suami/istri kita. Akan tetapi pada waktu tengah malam, semua mereka sudah tidur dengan lelap. Mereka sudah tidak sedikitpun memikirkan kita lagi. Tinggallah kita sendirian. Sepi ditengah keramaian. Kalau kita ingin BAB dan BAK, kitapun terpaksa melakukannya diatas tempat tidur. Karena kita telah dipasangi “pampers” seperti bayi.

 

Kita benar-benar telah menjadi seperti seorang bayi tua ditengah-tengah keluarga kita sendiri. Sebab, di dalam ingatan kita, kita merasa masih punya keluarga, kita masih punya anak, kita masih punya istri/suami. Kita masih merasa bahwa kita adalah orang tua mereka, kita adalah saudara mereka, kita adalah istri atau suami pasangan kita. Sementara kenyataannya kita sudah tidak bisa mengharapkan apa-apa dari orang-orang yang terdekat dengan kita itu.

 

Saat itulah kita akan merasa kesepian dan kesendirian yang sangat mencekam. Segala prasangka kita tentang keluarga kita, tentang kepemilikan kita terhadap mereka, ternyata hanyalah khayalan kita saja selama ini. Sebab kalau mereka adalah milik kita, maka kita akan bisa memegang mereka setiap saat sebagai tempat bergantung kita, sebagai tempat kita mencurahkan keluh-kesah dan penderitaan kita, sehingga kita bisa terlepas dari semua permasalahan kita itu.

 

Saat itu barulah kita sadar bahwa ternyata kita butuh tempat bergantung yang tidak akan pernah jauh dari kita. Kita butuh alamat kita berkeluh kesah yang selalu menemani kita setiap saat. Sebab apapun tempat kita bergantung dan berkeluh kesah selama ini ternyata adalah alamat yang palsu.

 

Disinilah pentingnya kita mengetahui sejak awal-awal alamat tempat kita bergantung yang sebenar-benarnya tempat bergantung. Karena semakin mendekati waktu uzur kita mengenali alamat tersebut, akan semakin lama pula kita mengalami penderitaan dan kepedihan di dalam hidup ini.

 

Kita akan selalu berada dibatas sepi…, kita akan selalu berada dibatas rindu…, sehingga kitapun akan selalu pula mencari dan mencari tempat yang bisa mengatasi rasa sepi kita, alamat yang bisa mengurai kerinduan kita. Namun sayangnya pencarian kita itu nyaris tak selesai-selesai juga. Karena kita selalu salah dalam memilih tempat bergantung dan berpegangan. Kita terpilih pada alamat yang palsu. Kita terpegang pada tempat yang ringkih…

 

Bersambung

Read Full Post »

Kalau tidak ingat, kita sama saja dengan mati…

Kalau tidak ingat, kita sama saja dengan gila…

Kalau tidak ingat, kita sama saja dengan tidur…

Kalau tidak ingat, kita sama saja dengan pingsan…

Kalau tidak ingat, mana ada sadar…

Kalau tidak ingat, mana ada jumpa…

Kalau tidak ingat, mana ada berbicara…

Kalau tidak ingat, mana ada berkata-kata…

Kalau tidak ingat, mana ada rindu…

Kalau tidak ingat, mana ada cinta…

Kalau tidak ingat, mana ada takut…

Kalau tidak ingat Allah, mana ada SHALAT…

Kalau tidak ingat Allah, mana ada DZIKIR…

Kalau tidak ingat Allah, mana bisa pula Allah akan Ingat kita…

Kalau tidak ada Ingatan dari Allah, mana bisa kita terhibur…

Kalau tidak ada Ingatan dari Allah, mana bisa kita terlipur…

Kalau tidak ada Ingatan dari Allah, mana bisa kita berpaut…

Kalau tidak ada Ingatan dari Allah, mana bisa kita bergantung…

Akan tetapi, kita tidak usah KHAWATIR. Ternyata pengenalan kita kepada Hakekat ini, selangkah lagi saja, kita akan segera saja diantarkan untuk Bermakrifat kepada Allah. Karena memang untuk bisa mengingat Allah itu, apalagi di dalam shalat, kita memerlukan Makrifatullah sebagai fondasinya.

Namun karena artikel ini hanya bertujuan untuk membahas tentang MENYADARI HAKEKAT, maka kita akan tutup artikel ini untuk kemudian, Insya Allah, kita berjumpa lagi pada artikel berikutnya: DUDUKNYA ORANG BERMAKRIFATULLAH

Walupun begitu, sebelum ditutup, ada baiknya kita simpulkan uraian panjang lebar diatas dalam sepatah dua kata berikut ini. Bahwa untuk memasuki Alam Hakekat, kita hanya perlu MENYADARI bahwa disebalik semua ciptaan, disebalik semua sifat-sifat, disebalik semua nama-nama, disebalik setiap peristiwa dan kejadian, SEBENARNYA, HAKIKINYA, ada DZATULLAH yang sedikit, yang sedang aktif memerankan Perintah dan Kehendak Allah untuk menzhahirkan apa-apa yang memang seharusnya terzhahir tepat pada masanya.

LAA MAUJUD ILLA DZATILLAH…, lalu kemana dan kepada apa saja PANCA INDERA kita melihat, mendengar, merasakan, membau, menyicipi segala SIFAT yang ada, maka MATA HATI kita hanya terpandang kepada SATU WUJUD saja, yaitu DZATULLAH, yang menjadi HAKEKAT bagi semua yang terdeteksi ataupun yang tidak terdeteksi oleh Panca Indera kita. Dzatullah itu Maha Halus dan Maha Meliputi segala sesuatu.

Kita tinggalkan segala SIFAT dari pandangan panca indera kita, untuk kemudian mata hati kita hanya terpandang kepada HAKEKAT sahaja, lalu setelah itu kita kukuhkan Hati kita untuk Bermakrifat kepada Allah…, sehingga kitapun dengan terbata-bata akan bisa berkata: LAA MAUJUD ILLALLAH…

Asyahaduanlla ilaha illallah

Wa asyhaduanna Muhammadan Rasulullah…

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad…

Demikian…

Wallahu a’lam…

Deka…

Read Full Post »

Bagi kita, yang tidak pernah mengalami peristiwa Mi’raj, Bertemu dan berkata-kata dengan Allah, seperti yang dialami oleh Rasulullah, ternyata Allah telah memfasilitasi kita agar kita juga bisa mengalami hal yang sama dengan apa yang dialami oleh Rasulullah di dalam peristiwa Mi’raj itu. Shalat itulah fasilitasnya ternyata.

 

Namun tentu saja ada yang bertanya-tanya, seberapa pentingkah Shalat itu bagi kita sebenarnya sehingga Allah sampai-sampai mewajibkan kita untuk melaksanakannya?. Begitu juga bagi Rasulullah SAW beserta para Sahabat Beliau ketika itu, Beliau sangat menjaga betul shalat Beliau, baik waktunya maupun tata cara pelaksanaannya, Beliau menikmati betul setiap rakaat yang Beliau kerjakan, tidak ada capek dan lelah sedikitpun yang Beliau rasakan, air mata dan isak tangis Beliau jangan ditanyalah berapa banyak dan seringnya Beliau tumpahkan.

 

Hal ini sangat berbeda dengan apa yang kita alami. Kita umumnya malah sebaliknya, Shalat kita kurang terjaga waktu dan tata caranya. Kita di dalam shalat jarang sekali merasakan nikmat yang membuat kita selalu ingin dan ingin lagi untuk shalat. Duh rasanya setiap rakaat yang kita lalui itu lama sekali, dan terasa sekali capek dan lelahnya. Boro-boro bisa menangis dan berisak tangis, yang kita dapatkan malah lebih sering rasa kantuk yang datang secara bergelombang. Di dalam shalat itu kita juga seperti orang yang sedang bermimpi dan melamun. Bacaan kita entah apa, ingatan kita entah kemana. Tidak sinkron antara AKTIFITAS yang kita lakukan dengan apa yang kita INGAT.

 

Malah ada beberapa teman yang mengaku sering berdzikir berkata: “kok lebih enak dan nikmat berdzikir dari pada shalat. Kenapa bisa begitu ya?”, katanya dengan terus terang. Jawabannya juga bermacam-macam. Misalnya, kalau dzikir bacaannya sedikit, sedangkan shalat bacaannya banyak dan ada malah bagian-bagian yang tidak kita mengerti. Ada pula yang berkata bahwa dzikir itu ibadah yang mudah dan bisa dilakukan kapan saja, sedangkan shalat banyak aturannya.

 

Dari jawaban diatas terlihat seperti ada KETERPISAHAN antara melaksanakan Shalat dengan Berdzikir. Shalat ya shalat, dzikir ya dzikir. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri. Asyiknya sendiri-sendiri. Padahal Al qur’an berkata bahwa: Aqimishshalata li dzikri, dirikanlah shalat dengan (untuk) mengingat Aku. Shalat dan Dzikir itu telah menjadi sebuah aktifitas saja. Yaitu SHALAT KEPADA YANG SEDANG KITA DZIKIRI. Kita sedang bertutur kata santun dan bersikap merendah kepada Allah yang sedang kita INGAT…

 

Dan ternyata disinilah letak permasalahan yang sebenarnya berada, yaitu pada kegiatan DZIKIR itu sendiri. Bagaimana kita memaknai Dzikir itu, dan bagaimana pula cara kita melakukannya. Kenapa dzikir yang umum dilakukan oleh umat islam sekarang ini BISA terasa lebih enak dan nikmat dibandingkan dengan shalat?. Ada salah apakah gerangan yang kita lakukan?.

 

Sebenarnya ada sebuah rahasia besar yang terkandung di dalamnya. Yaitu kita telah KEHILANGAN KERINDUAN kita untuk berjumpa dan berkata-kata mesra dengan Allah SWT. Keseharian kita telah berubah menjadi seperti seorang anak kecil yang sebenarnya sedang menderita kesepian, sangat sepi, tetapi kita hanya mencari kepuasan untuk sebentar dan sementara saja, dan itupun hanya dengan iming-iming sebutir permen atau gula-gula.

 

Kerinduan kita tidak pernah terlipur, kecintaan kita tak pernah berbalas, kekaguman kita tak pernah menggetarkan, ketakutan kita tidak pernah mencekam, sehingga ibadah kita, shalat kita, senandung kita, do’a-do’a kita, tidak pernah memberikan pukulan dan hantaman yang berarti kepada hati kita. Karena memang hati kita itu masih seringkali MENGINGATI apa-apa yang selain dari Allah SWT.

 

Hati kita tidak pernah sampai luka dan berparut seperti hati yang dimiliki oleh orang-orang Allah. Hati mereka itu sangat mudah luka, sangat mudah mengeluarkan darah kembali ketika RINDU mereka kepada Allah SWT datang membuncah, ketika cinta mereka kepada Allah datang bergelora, ketika takut mereka kepada Allah datang mencekam…, sehinggga air mata merekapun seringkali jatuh bercucuran tatkala Allah berkenan menyambut rindu, cinta, dan takut mereka.

 

Ini yang tidak kita punyai…. Karena hati kita masih saja kita isi dengan Ingatan kepada sesuatu yang selain dari Allah. Sehingga kita hanya jadi rindu dengan sesuatu yang bukan Allah, kita jadi cinta hanya kepada sesuatu yang bukan Allah, kita jadi takut hanya dengan sesuatu yang bukan Allah. HATI kita jadi KOSONG dari INGATAN KEPADA ALLAH, DZIKRULLAH…

 

Bersambung kebagian terakhir…

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: