Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2016

Junjung Ingatan Allah-1

Kepada Pemilik Gambar Ini, entah siapa,

Saya mohon ijin untuk memodifikasinya sedikit dan memuatnya di dalam Blog ini.

 

Dzikrullah:

INGAT ALLAH, Minda atau Hati menjadi Bersih dari SAMPAH-SAMPAH PIKIRAN…

Kadangkala sampai membuat Minda atau Hati menjadi Bercahaya…

 

Read Full Post »

Sampai pada tataran ILMU HAKEKAT ini maka BERAKHIRLAH semua ilmu, selesailah segala pembahasan. Kita sudah sampai pada titik akhir pengertian dan kepahaman. Kita hanya tinggal BERMAKRIFAT saja lagi, bahwa Dzat yang sedikit itu adalah bagian kecil dari Dzat Allah Yang Maha Indah. Dzat yang sedikit itu adalah Milik Allah. Seperti halnya sebutir pasir yang adalah milik dari padang pasir. Seperti setetes air masin yang adalah adalah milik dari lautan. Seperti telapak tangan yang adalah adalah milik kita.

Akhirnya kita menjadi sadar bahwa kita dan seluruh makhluk yang ada di dalam Lauhul Mahfuz TIDAK akan pernah MENGERTI, MENGETAHUI, dan MENGENAL tentang Allah secara KESELURUHAN. Atom-atom yang berada di dalam sebutir pasir tidak akan pernah tahu tentang padang pasir. Partikel-partikel yang ada di dalam setetas air masin tidak akan pernah tahu tentang lautan. Jari-jari tangan kita tidak akan pernah mengerti tentang kita. Tidak akan pernah.

Kita hanya akan diberi SEDIKIT pegertian, pengenalan, dan pengetahuan oleh Allah tentang KEKUATAN-NYA, PERBUATAN-NYA, SIFAT-SIFAT-NYA, KEHEBATAN-NYA, KEKUASAAN-NYA, dan apa-apa yang terangkum dalam 99 Nama-Nya Yang Indah, Asma ul Husna, yang telah Dia curahkan kepada Sedikit Dzat-Nya yang akan membentuk Lauhul Mahfuz. Dan yang kita mengerti, kita kenal, dan kita ketahui itu pastilah sangat kecil pula dibandingkan dengan KEKUATAN-NYA, PERBUATAN-NYA, SIFAT-SIFAT-NYA, KEHEBATAN-NYA, KEKUASAAN-NYA yang SEBENARNYA. Itu PASTI.

Antara alam Makrifat yang MAHA LUAS dengan alam Hakekat yang MAHA HALUS itu dibatasi oleh 70 lapis Cahaya atau Nur. Itu agar Alam Hakekat dengan segala makhluk yang ada di dalamnya tidak hancur dan musnah terbakar akibat Keagungan dan Keindahan dari Dzat Allah Yang Maha Indah. Akan tetapi tidak terpisah antara Alam Makrifat dengan Alam Hakekat. Sebab Alam Hakekat adalah bagian yang SANGAT KECIL dari Alam Makrifat.

Dengan begitu maka Keagungan Dzat Allah akan tetap terjaga. Rahasia tentang Allah akan tetap tersimpan rapi sampai kapanpun juga. ABADI. Rahasia itu akan tetap menjadi rahasia tanpa ada seorangpun yang akan mengetahui-Nya, walau Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah sekalipun.

Oleh sebab itu, dengan seketika runtuhlah pahamanan-pahaman: Wahdatul Wujud, Nur Muhammad, Hulul, Ittihad, Fana Fillah, Baqa Billah, dan pahaman-pahaman nyleneh lainnya. Semuanya tidak ada dasarnya sama sekali, kecuali hanyalah khayalan dan prasangka saja. Siapapun juga akan bisa mengalami hal atau keadaan yang seperti itu kalau kita TIDAK MEMULAI praktek keberagamaan kita dengan Ilmu Makrifatullah, dan ditambahi pula dengan TERSALAHNYA kita dalam memasuki PINTU untuk BERHUBUNGAN dengan Allah.

Jika kita salah dalam bermakrifat, ia akan membuat kita salah pula dalam bersikap. Kita akan selalu mengaku-ngaku MERASA WUJUD dan MEMILIKI atas sesuatu kepada orang lain maupun kepada Allah; atau kita bisa pula sudah merasa TIDAK WUJUD, akan tetapi kita MENGAKU-NGAKU bahwa yang wujud di dalam diri kita adalah Allah; atau kita sudah mengaku tidak wujud, tapi kita MENGAKU-NGAKU bahwa diri kita dikuasai oleh Allah, dan sebagainya.

Sebaliknya, jika kita benar dalam bermakrifat, ia akan membawa kita untuk mudah memahami bahwa ternyata kita sebenarnya tidak punya kewujudan atas diri kita, setelah itu TITIK. Mulut kita tertutup dan terjahit untuk mengaku-ngaku.

Orang yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya niscaya sudah pasti ia mengenal bahawa ia tiada mempunyai wujud bagi dirinya. Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk. 7, 427 (1981).

Terangkat tutup yang menutupi sehingga jelaslah kenyataan kebenaran Allah pada semuanya itu dengan sejelas- jelasnya laksana mata memandang yang tidak diragukan lagi. Imam Ghazali, Ihya Ilumiddin Bk.1, 97 (1981).

Ketahuilah bahawa Yang Maujud yang paling terang dan nyata ialah Allah Ta’ala. Dan ini menghendaki kepada Makrifatullah. Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk.7, 478 (1981).

Jika kita benar dalam bermakrifat, ia juga akan membawa kita untuk sangat mudah menjadi RHIDO terhadap semua ketentuan dan ketetapan Allah yang terjadi terhadap diri kita maupun terhadap orang lain disekeliling kita. Karena semua itu memang sudah dirancang dengan rancangan yang TERBAIK oleh Dzat Yang Maha Sempurna. Yaitu Allah.

Selanjutnya, jika kita salah dalam memasuki PINTU untuk berhubungan dengan Allah, maka kita akan segera dibawa oleh QARIN memasuki pintu-pintu yang malah akan semakin menjauhkan kita dari Allah. Macam-macamlah pikiran yang dimunculkannya di dalam minda atau hati kita, walau saat kita sedang shalat sekalipun, sehingga jadilah shalat kita menjadi shalat orang munafik. Karena Qarin memang cukup hanya mempengaruhi kita melalui Minda atau Hati kita yang sedang dalam keadaan TIDAK mengingat Allah.

Ada kita akan dibawa oleh Qarin perputar-putar memasuki pintu harta, pintu anak, pintu istri/suami, pintu jabatan, pintu kekuasaan, pintu ilmu-ilmu, dan lain-lain. Ada pula kita yang dibawa terlebih dahulu oleh Qarin untuk memasuki berbagai pintu BERHALA sebelum kita merasa yakin untuk bisa berhubungan dengan Allah. Kita boleh jadi masih bisa nyebut-nyebut nama Allah, akan tetapi minda atau hati kita sebenarnya sedang diajak oleh qarin untuk mengingat berhala-berhala yang tak terhitung jumlahnya.

Sebaliknya, jika kita benar dalam memasuki pintu untuk berhubungan dengan Allah, maka minda atau hati kita secara otomatis akan menjadi kosong seperti minda atau hati seorang bayi atau anak kecil. Kalau sudah begitu, ketika kita shalat, maka shalat kita akan menjadi khusyuk. Qarin menjadi bingung untuk mengirimkan khayalan-khayalan kedalam minda atau hati kita karena pintu-pintu tempat si qarin memasukkan lamunan-lamunan itu ke dalam hati atau minda kita sudah tertutup rapat. Sebab HANYA ada SATU PINTU saja di dalam HATI atau MINDA kita yang sedang terbuka lebar, yaitu PINTU INGATAN KEPADA ALLAH.

Ya…, kita hanya dan hanya dapat berhubungan dengan Allah melalui SATU PINTU saja, yaitu Pintu Ingatan kepada Allah (pintu Dzikrullah). Fadzkuruni Adzkurkum…, ingatlah kamu kepada-Ku, Aku akan ingat pula kepadamu. Tidak ada sejarah yang mencatat selama ini yang mengartikan ayat itu dengan: sadarlah kepada-KU, Aku akan sadar pula kepadamu. Tidak ada, memangnya Allah bisa tidak sadar apa?. Pingsan?.

INGAT ALLAH, maka Allah akan ingat kita. Mudah dan sederhana sekali sebenarnya. Semudah dan sesederhana kita mengingat ibu kita, mengingat diri kita, bahkan semudah kita mengingat durian, mangga, pisang, dan sebagainya.

Hanya saja BEDANYA adalah:
Ketika kita mengingat ibu kita, MATAHATI kita mungkin bisa melihat wajah beliau di dalam minda atau hati kita;
Ketika kita mengingat durian, mangga, pisang, dan lain-lain, MATAHATI kita mungkin bisa melihat kulitnya, warnanya, isinya, dan lain-lain di dalam minda atau hati kita;
Ingat kepada Allah punya keistimewaan TERSENDIRI. Bahwa ketika kita MENGINGAT ALLAH (dzikrullah), maka MATAHATI kita TIDAK bisa melihat apa-apa di dalam hati atau minda kita. Matahati kita melihat KOSONG. Karena Allah memang tidak serupa dan tidak seumpama.
Bahkan ketika kita mengingat diri kita, matahati kita juga TIDAK PERLU mengeja nama kita, atau melihat wajah kita terlebih dahulu di dalam minda atau hati kita, setelah itu baru kita bisa ingat dengan diri kita. Tidak perlu begitu.

Dan kalau minda atau hati kita sudah kosong karena kita mengingat Allah, maka minda atau hati kita akan tidak berkocak lagi. Minda atau hati kita akan menjadi TENTERAM. Kalau Minda atau Hati sudah TENTERAM, maka RUH kita juga akan segera menjadi TENTERAM. Karena keadaan RUH mengikuti bagaimana keadaan Minda atau Hati.

Minda atau Hati adalah dua nama untuk SATU entitas saja, yaitu entitas HATI YANG HALUS yang sebenarnya bersama RUH. Hati yang halus ini ada yang menyebutnya HATI dan ada pula yang menyebutnya MINDA. Tapi yang dimaksudkan itu adalah sama, yaitu hati yang halus. Silahkan lihat kembali artikel “Menelisik Anasir Diri”.

Kata-kata al QULUB (hati) ini mempunyai dua pengertian:

Al Qalbu (hati jantung) ialah segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri; dan Al Qalbu (hati) dalam arti yang halus bersifat ketuhanan dan Rohaniah yang ada hubungan dengan hati jasmani tadi. Imam Ghazali, Keajaiban hati, 1 (1979); Ihya Ilumiddin Bk. 4, 7 (1981).

Dalam hal ini minda berarti “hati” dalam arti yang halus (arti kedua). Imam Ghazali, Keajaiban hati, 4-5 (1979); Ihya Ilumiddin Bk. 4, 10 (1981).

Nah, sekarang menjadi jernih sekali. Bahwa jika Hati tenteram, maka Ruh akan ikut tenteram pula. Hati dan Ruh disebut dengan Jiwa (NAFS). Jadi Hati dan Ruh yang sudah tenteram itu bisa disebut juga dengan JIWA YANG TENTERAM (NAFSUL MUTHMAINNAH). Sekarang dapatlah kita mengerti bahwa jiwa yang tenteram itu hanya dan hanya akan bisa kita dapatkan dengan jalan HATI atau MINDA kita sedang MENGINGAT ALLAH (Dzikrullah).

Ingatlah, hanya (dan hanya) dengan MENGINGAT ALLAH (Dzikrillah) sajalah QULUB (hati atau minda) menjadi TENTRAM. (QS ar-Ra‘d [13] : 28)

Jadi jelaslah sekarang, Jiwa yang Tenteram, Nafsul Muthmainnah, adalah BUAH dari HATI YANG SELALU MENGINGATI ALLAH. Dan Allah yang kita ingat itu adalah Allah yang telah kita kenal melalui pembukaan Ilmu Makrifatullah yang Jati. Kenal Allah maka kenal pulalah kita kepada diri kita bahwa sebenarnya kita adalah TIDAK mempunyai kewujudan atas diri kita. Sehingga akhirnya kitapun menjadi RIDHO atas segala ketetapan yang telah Allah tuliskan untuk kita jalani dan hadapi.

Jadi tepatlah untuk dikatakan bahwa Nafsul Muthmainnah adalah buah yang sangat ranum dari Makrifatullah, Dzikrullah, dan Keridhoan. Pada titik inilah kita baru akan MULAI BISA menghadapi berbagai cobaan, bencana, problematika, dan ujian di dalam hidup ini dengan tersenyum. Senyum Makrifatullah. Dan pada titik ini pulalah kita baru akan MULAI MAMPU untuk menjalankan Syariat Islam seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dengan sangat nyaman, menyenangkan, dan penuh gairah.

Karena Syariat Islam inilah yang akan sanggup membawa kita untuk menjadi manusia yang berkualitas Khalifah Allah di dunia ini, yang akan membangun peradaban dan kasih sayang bagi sesama umat manusia dan alam sekitarnya.

Sebab dalam keadaan JIWA yang TENTERAM dan TANPA KEWUJUDAN DIRI seperti ini, kalau tidak ada Syariat Islam, maka kita akan sangat mudah sekali tergelincir untuk menjadi seorang PERTAPA. Karena memang pada keadaan seperti ini, Jiwa kita sudah menjadi TIDAK KARUAN. Mau menginjak tanah kita jadi sungkan, karena disebalik tanah itu kita tahu ada Dzat-Nya. Mau makan dan minum kita jadi tidak sanggup, karena disebalik makanan dan minuman itu kita sadar ada Dzat-Nya.

Akan tetapi syukur Alhamdulillah, Rasulullah SAW telah memberikan contoh kepada kita untuk menjalankan syariat dan juga sekaligus menjadi orang biasa. Beliau berjalan dan bergerak, Beliau makan dan minum, Beliau membangun peradaban. Siang hari Beliau bekerja dengan penuh gairah, Malam hari Beliau beribadah dengan sangat mendalam dan sepenuh hati. Kita tinggal hanya mencontoh Beliau saja sesuai dengan kemampuan yang telah Allah berikan kepada kita…

Wallahu a’lam bissawab…

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh….

SELESAI

Read Full Post »

Makrifatullah Berbuah Ranum-8a

8.Alhamdulillah, dengan hanya bermodalkan sedikit kepahaman dan pengertian seperti ini, yang diberikan oleh Allah kepada saya atas berbagai Syarahan Ilmu oleh Ustadz Hussien BA Latiff yang memang sangat tinggi dan mendalam, rasanya sudah lebihlah dari cukup bagi saya.

Tidak semua syarahan Beliau memang yang berhasil saya pahami. Akan tetapi apa-apa yang telah ditakdirkan Allah untuk menjadi bagian saya, itu telah benar-benar telah membuat saya lepas dari segala kesulitan, kerumitan, dan lakuan yang bertele-tele seperti yang dulu saya lalui sebelum saya mendapatkan ilmu Makrifatullah ini dan Ilmu-ilmu lanjutan lainnya dari Ustadz Hussien BA Latiff.

Ini akan saya pakai sebagai bekal bagi saya dalam menjalankan SYARIAT dan SUNNAH-SUNNAH Nabi SAW yang sebenarnya juga sangatlah mudah dan sederhana sekali, menjelang hari KEMATIAN saya.

Saya hanya tinggal memperkemaskan diri dalam beribadah dengan menambahkan syariat yang wajib dengan amalan-amalan yang sunnah. Misalnya Shalat Malam (tahajud), puasa sunnah sebanyak mungkin, sedekah, membaca Al Qur’an, menjalankan kezuhudan semampu saya, berbuat baik pada sesama dalam bekerja dan bermasyarakat, berpegang pada syarak, dan selalu berdo’a untuk mendapatkan Rahman dan Rahim Allah, serta selalu tetap menjaga rasa takut saya kepada Allah.

Hari-hari saya tinggal duduk BERKHALWAT di dalam BASE CAMP. HATI atau MINDA saya pertahankan terjaga untuk selalu INGAT KEPADA ALLAH (Dzikrullah) yang tak serupa tak seumpama, MATAHATI saya hanya terlihat kepada Dzat-Nya yang wujud di sebalik semua SIFAT-SIFAT yang tergelar di depan PANCA INDERA.

 

KESADARAN saya selalu di jaga untuk MEMASUKI arena pertunjukan Drama Kehidupan melalui PINTU MAKRIFATULLAH. Bahwa Dzat-Nyalah yang ada ada disebalik semua SIFAT-SIFAT yang terzhahir ini. Kemanapun mata saya memandang, matahati saya hanya terpandang pada Dzat-Nya yang tak berupa, tak berumpama. Dan Dzat-Nya itu hanyalah SEDIKIT SAJA dari keseluruhan Dzat-Nya yang Maha Indah.

Sebab Lauhul Mahfuz TEMPAT dimana terjadinya semua perubahan dan penzhahiran sifat-sifat itu besarnya hanyalah sebesar SEBUTIR PASIR di padang pasir, atau SETETES AIR MASIN di dalam lautan, dibandingkan dengan keseluruhan Dzat-Nya Yang Maha Indah.

Sehingga tidak ada lagi tempat bagi saya, walau sedikitpun, untuk tumbuh dan berkembangnya perkataan-perkataan syatahat dari mulut saja, seperti dalam pahaman Wahdatul Wujud, Nur Muhammad, Hulul, Ittihad, Emanasi, dan pahaman-pahaman aneh lainnya.

Kalau ada “tugasan”, saya tinggal turun dari base camp untuk menjalankan tugasan itu sambil Hati atau Minda saya tetap terjaga agar selalu mampat dan padat dengan ingatan kepada Allah (Dzikrulah).

Kemanapun saya pergi dan apapun yang saya kerjakan, INGATAN KEPADA ALLAH tetap selalu saya JUNJUNG. Rasanya saya seperti seorang perempuan yang sedang menjujung “talam makanan” pada sebuah perhelatan adat di Sumatera Barat. Hati atau Minda saya terasa PADAT dan PEJAL. Tidak ada ingatan yang aneh-aneh yang berseliweran datang dan pergi di dalam minda saya.

Junjung Ingatan Allah-1

Sedangkan MATAHATI saya hanya memandang KELUAR melalui CORONG MATA, seperti seseorang yang sedang memandang benda atau objek di meja preparasi sampel melalui mikroskop. Atau matahati saya hanya memandang keluar seperti seseorang yang sedang memandang keluar melalui jendela sebuah rumah. Rasanya saya seperti sedang memandang dari dalam ke luar. Apa-apa yang di luar tidak teregistrasi di dalam. Saya hanya mengamatinya saja.

Matahati saya hanya seperti sedang mengamati sebuah SISTEM yang sedang berjalan mengikuti sebuah ATURAN yang sangat sempurna. Keadaan itu seperti sistem yang sedang berjalan secara otomatis di dalam sebuah Pabrik Mobil yang sudah beroperasi secara otomatis. Tidak ada campur tangan saya dalam mengatur sistem itu. Yang saya lakukanpun hanyalah sebatas apa yang memang sudah menjadi tugasan saya untuk kesempurnaan berjalannya sistem tersebut. Dan tugasan saya itupun sebenarnya hanyalah bagian yang sangat kecil sekali dan tidak berati di dalam keseluruhan sistem yang sedang berjalan itu.

Yang sangat mengherankan adalah, lama kelamaan dalam keadaan seperti itu, saya merasakan bahwa ternyata yang menjalankan tugasan itu sebenarnya adalah JIWA, yaitu Minda atau Hati BERSAMA Ruh. Sedangkan TUBUH dan seluruh ANGGOTA TUBUH saya terasa hanyalah seperti sebuah BAJU saja bagi JIWA. Tubuh saya terasa menjadi sangat rileks sekali saaat menjalanan tugasan itu.

Dari keadaan itu, barulah saya mengerti bawah saat Hati atau Minda sudah bersama Ruh, itulah yang disebut dengan Jiwa (Nafs). Saat itu terasa sekali bahwa sebenarnya yang melihat adalah Ruh, yang mendengar adalah Ruh, yang membaui adalah Ruh, yang mengecap adalah Ruh, yang merasakan adalah Ruh, yang bergerak adalah Ruh, yang bertindak adalah Ruh, yang berjalan adalah Ruh, yang mengangkat adalah Ruh, yang bergejolak dengan berbagai perasaan adalah Ruh.

Sedangkan Minda atau Hati adalah tempat dimana Ruh menerima ILHAM, atau ILMU PENGETAHUAN, atau TUGASAN-TUGASAN yang harus dijalankan oleh Ruh. Apakah itu ilham fujur atau ilham Taqwa, itulah yang harus dijalankan oleh Ruh. Ilham itulah yang akan membawa saya untuk melalui dan menjalani TAQDIR saya dari waktu ke waktu.

Setiap ada masalah dan problamatika dalam menjalankan tugasan itu, saya tinggal balik dan kembali kepada Allah. Saya “naik” ke Base Camp dan duduk diam memohon petunjuk dan pertolongan kepada Allah. Setelah ada petunjuk dari Allah, saya kembali turun dari base camp untuk menjalankan tugasan sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan oleh Allah selama saya duduk di dalam base camp itu.

Kalau satu tugasan sudah selesai, saya bersegera naik kembali ke dalam base camp untuk menunggu tugasan berikutnya. Kalau belum ada tugasan baru, saya tinggal RILEX ONE CORNER (ROC). Kalau nggak ada kerjaan jangan cari kerjaan. Rileks. Bina kekuatan batin. Bina ingatan kepada Allah. Saya tinggal lebih memperkemaskan diri untuk bisa beribadah dengan lebih baik, sampai saya kembali mendapatkan tugasan baru.

Dan semua tugasan itupun saya jalankan hanya sebagai tugasan atas Dzat terhadap Dzat saja. Saya yang diberikan tugasan pada hakekatnya adalah Dzat yang sedang menjalankan tugasan, dan apa-apa atau siapa-siapa yang sedang dikenai oleh tugasan saya itu sebenarnya juga adalah Dzat.

Jadi yang terjadi hanyalah sekedar interaksi antar Dzat saja yang sedang menjalankan ketetapan-ketetapan yang telah dirancang oleh Allah terhadap sedikit Dzat-Nya sejak firman KUN, yang nantinya akan mendzahirkan sifat-sifat pada waktu yang telah ditentukan.

Misalnya:
Yang menolong adalah Dzat, yang ditolong adalah Dzat;
Yang diajar adalah Dzat, yang mengajar juga adalah Dzat;
Yang menjual adalah Dzat, yang membeli juga adalah Dzat;

Yang menyayangi adalah Dzat, yang disayangi juga adalah Dzat;
Yang mengasihi adalah Dzat, yang dikasihi juga adalah Dzat;
Yang menganiaya adalah Dzat, yang dianiaya juga adalah Dzat;
Yang membenci adalah Dzat, yang dibenci juga adalah Dzat;
Yang menghina adalah Dzat, yang dihina juga adalah Dzat;
Yang membohongi adalah Dzat, yang dibohongi juga adalah Dzat;

Suami adalah Dzat, istri juga adalah Dzat;
Orang tua adalah Dzat, anak juga adalah Dzat;
Atasan adalah Dzat, bawahan juga adalah Dzat;
Yang memimpin adalah Dzat, yang dipimpin juga adalah Dzat;

Yang diangkut kendaraan adalah Dzat, kendaraan yang mengangkut juga adalah Dzat;
Yang celaka adalah Dzat, yang mencelakakan juga adalah Dzat;
Yang membunuh adalah Dzat, yang dibunuh juga adalah Dzat;
Yang menembak adalah Dzat, yang ditembak juga adalah Dzat;
Yang menanam adalah Dzat, yang ditanam juga adalah Dzat;
Yang menjaga adalah Dzat, yang dijaga juga adalah Dzat;
Yang menghukum adalah Dzat, yang dihukum juga adalah Dzat;
Yang mencuri adalah Dzat, yang dicuri juga adalah Dzat;
Yang mempunyai adalah Dzat, yang dipunyai juga adalah Dzat;

Yang beragama A adalah penzhahiran Dzat
Yang beragama B adalah penzhahiran Dzat Juga
Yang beragama C,D,E juga adalah penzhahiran Dzat.
Dan sebagainya….

Dengan begitu, maka jadilah semua yang terjadi itulah adalah YANG TERBAIK, karena ia berasal dari RENCANA yang dibuat oleh Allah Yang Maha Sempurna. Sehingga kitapun menjadi RIDHO atas segala yang tergelar, yang terjadi, dan yang terzhahir. Karena semuanya ternyata adalah Lauhul Mahfuz yang sedang berjalan menerusi waktu.

Kemanapun mata kita memandang, ternyata disebalik semua yang terpandang itu adalah Dzat semata wayang. Tunggal. Dengan begitu barulah kita sadar bahwa ternyata kita tidak punya ruang sedikitpun untuk mengaku-ngaku.

Sebab semua yang terdzahir, tercipta, dan terlaksana, ternyata hanyalah sifat-sifat yang terdzahir saja akibat dari Dzat sedang menjalankan peran sesuai dengan Scrip atau skenario yang sudah ditetapkan Allah sejak Firman Kun. Pemerannya hanya SATU, yaitu sedikit DZAT-Nya. Sedangkan Sifat yang terdzahir adalah BANYAK sesuai dengan peran-peran yang harus terlaksana.

Jadi, Dzatlah sebenarnya yang sedang bersenda gurau. Hal ini tak ubahnya seperti jari kelinking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, dan jari jempol yang saling sedang menjalankan peran yang berbeda-beda. Walaupun kelihatanya peran itu berbeda-beda, tapi yang sedang bersenda gurau sebenarnya tetap adalah satu, yaitu TELAPAK TANGAN.

Dalam Pandangan Ilmu Hakekat, Telapak tanganlah sebenarnya yang menjadi HAKEKAT dari semua perilaku dan sifat-sifat yang dimainkan oleh jari-jari tangan itu. Jadi jari-jari tangan itu tidak berhak untuk mengatakan dialah yang berperan A, B, C, D, atau E. Karena yang sebenarnya sedang bermain-main ternyata adalah Telapak Tangan. Jari-jari tangan hanyalah sekedar KENA menjalankan peran ketika telapak tangan sedang bergerak-gerak dan bermain-main karena kita gerak-gerakkan dan main-mainkan.

 

Bersambung ke bagian terakhir

Read Full Post »

7.Akan tetapi, kalau Minda atau Hati kita kosong, tapi kosongnya hati atau minda kita itu TIDAK melalui proses mengingati Allah (Dzikrullah), maka itu malah akan membuat hati atau minda kita itu menjadi MATI. Matahati kita juga akan ikut menjadi BUTA untuk bisa melihat HAKEKAT.

Kesalahan PALING BESAR yang dilakukan manusia dalam keadaan seperti ini adalah bahwa dia akan melihat HAKEKAT dari semua ciptaan dan peristiwa adalah ALLAH sendiri. Alam adalah Allah, Allah adalah Alam. Dari kesalahan seperti inilah nantinya dia akan masuk ke dalam pahaman Wahdatul Wujud. Yaitu paham yang tidak bisa lagi membedakan antara Allah dengan makhluk-Nya. Karena antara makhluk dan Allah sudah menjadi satu. Adakalanya dia akan berkata “makhluk tidak wujud, yang wujud adalah Allah”. Adakalanya dia berkata “Allah tidak wujud, yang wujud adalah makhluk, karena Allah dia anggap sudah masuk kedalam tubuh manusia”. Hulul, Ittihad, Fana Fillah, Baqa Billah, dan sebagainya adalah buah yang sangat pahit dari kesalahan dalam mengenal Hakekat seperti ini.

Untuk menjelaskan Pahaman Wahdatul Wujud, Hulul Ittihad, Fana Fillah, Baca Billah ini adalah dengan memberikan perumpamaan hubungan antara Allah dengan makhluk-Nya adalah seperti hubungan antara ANGIN dengan DEBU-DEBU yang diterbangkan ANGIN.

Menurut pahaman ini, ketika kita melihat DEBU-DEBU yang beterbangan, maka sebenarnya yang bergerak menerbangkan debu-debu itu adalah ANGIN. Anginlah sebenarnya yang wujud dan beraktifitas, sedangkan debu hanyalah diam dan menyerah kepada angin yang bergerak. Yang wujud adalah Angin sedangkan debu adalah sang fana, tidak wujud. Kita baru bisa menyadari angin yang menjadi hakekat dari debu yang beterbangan setelah kita melihat dan merasakan adanya debu yang beterbangan.

Dengan berpahaman seperti ini, kita mau tidak mau harus menyadari adanya DUA kewujudan. Kewujudan pertama adalah ANGIN dan kewujudan kedua adalah DEBU. Angin adalah wujud yang aktif dan bergerak, sedangkan debu adalah wujud yang pasif dan diam, atau FANA. Dan dari sini pulalah bermula sulitnya proses yang harus kita tempuh. Sangat sulit sekali. Bagaimana caranya agar kita yang sebelumnya merasa wujud harus rela untuk menjadi tidak wujud atau fana.

Makanya kemudian bermunculanlah cara-cara baru, yang tadinya tidak dicontohkan oleh Nabi SAW, untuk memfanakan diri kita. Jalan tasawuf menerusi cara-cara Dzikir WALI-WALI tarekat, atau jalan dengan menunggangi GETARAN-GETARAN, atau jalan dengan menjalankan pikiran masuk ke dalam perasaan-perasaan di dalam dada yang dianggap adalah NAFS, atau jalan dengan masuk menyadari DAYA NAFAS, atau jalan dengan mengikuti gerakan tubuh yang berputar-putar atau bergerak-gerak secara tidak beraturan. Semuanya itu adalah beberapa contoh saja dari cara-cara baru tersebut yang telah berkembang ditengah-tengah masyarakat saat ini.

Dengan melalui proses tersebut, kemudian kita merasa sudah bisa menjadi DEBU yang diam dan pasrah digerakkan oleh angin, FANA, maka tinggal selangkah lagi kita untuk berkata-kata: “yang bergerak bukanlah saya tapi anginlah yang bergerak”. Dan dari sinilah kemudian munculnya kata-kata SYATAHAT yang dulu juga diucapkan oleh sufi-sufi terkenal Al Hallaj, Syeikh Siti Jenar, Nasim Al Halabi, Abu Bakar Al Syibli, Abu Yazid Al Bustami, Abu Al Gais ibn Jamil Al Yamani. Mereka berkata-kata SYATAHAT seperti itu katanya dalam keadaan KEMABUKAN (EKSTASIS) SPIRITUAL.

Kata-kata syatahat yang diucapkan mereka dulu itu misalnya adalah, Akulah Al Haq, Allah adalah aku sendiri, Akulah Tuhan, Yang ada dalam jubahku hanyalah Allah, Maha suci aku, jadilah aku maha kuasa atas segala sesuatu, dan sebagainya.

Atau kalau tidak Allah yang dia katakan yang menjadi Hakekat dari semua ciptaan, dia akan mengatakan bahwa Hakekat dari semua ciptaan itu adalah Nur Muhammad. Lalu Nur Muhammad itu akan menjadi sesuatu yang dicari-carinya untuk mendekatkannya kepada Allah. Itu akan sama sulit dan berbelitnya dengan Pahaman Wahdatul Wujud Diatas. Lalu akan muncul pertanyaan: “kalau begitu Hakekat dari Nur Muhammad itu sendiri apa?”.

Artinya, kalau dia bersandar kepada Pahaman Nur Muhammad, dia sebenarnya belum selesai memahami hakekat. Sebab Hakekat artinya adalah Yang Penghabisan. Sedangkan Nur Muhammad belumlah yang penghabisan. Karena menurut Pahaman Nur Muhammad, hakekat dari Nur Muhammad itu sebenarnya adalah SETENGAH dari Dzat Allah.

Oleh sebab itu dengan mengatakan bahwa Nur Muhammad adalah hakekat dari semua ciptaan adalah sangat keliru sekali. Sebab kalau sudah mengenal hakekat, maka tidak ada lagi setelah hakekat itu kecuali hanya Pemilik Hakekat, yaitu Allah. Setelah mengenal DZAT YANG SEDIKIT sebagai hakekat dari semua ciptaan, maka kita tinggal menyelesaikan pengenalan kita bahwa Pemilik Dzat Yang sedikit itu adalah Allah, Dzat Keseluruhan Yang Maha Indah dan Maha Agung. Inilah yang nantinya disebut dengan Makrifatullah.

Karena salah mengenal Hakekat dan takut dikatakan wahdatul wujud, ada pula orang yang berkata-kata syatahat dengan sedikit polesan, misalnya: bukan aku yang bergerak, tapi Allahlah yang menggerakkanku; bukan aku yang bernafas, tapi Allah yang menafaskanku; bukan aku yang marah, tapi Allahlah yang marah; melawan aku berarti melawan Allah; bukan aku yang shalat, tapi Allah yang menyalatkanku; dan sebagainya.

Sungguh berani sekali dia berkata-kata seperti itu. Sebab terlalu kecil Allah baginya kalau begitu. Allah sudah menjadi wujud yang BERTEMPAT. Ada didepannya, ada bersama nafasnya, ada bersama gerakannya, ada bersama denyut jantungnya, ada bersama perbuatannya, bahkan ada bersama getaran-getaran yang dirasakannya.

Yang lebih kurang ajar lagi adalah, ketika dia berbuat sebuah kesalahan, dengan enteng dia juga berkata bahwa Allahlah yang telah menakdirkannya untuk berbuat salah itu. Misalnya, ketika dia beristri 2, 3, 4, atau bahkan lebih, mulutnya dengan mudah berkata bahwa Allah lah yang telah menakdirkannya beristri banyak itu. Ketika dia bercerai dengan istri/suaminya, dengan ringan dia berkata bahwa Allahlah yang telah menakdirkannya bercerai dengan istri/suaminya. Ketika dia dipenjara karena sebuah kesalahan, mulutnya nyinyir berkata bahwa Allah telah menakdirkannya masuk penjara.

Semua kesalahan, kesengsaraan, kebodohannya itu mau dia limpahkan kepada Allah. Dia tidak sadar bahwa ketika dia mengatakan hal seperti itu, dia sebenarnya sudah menyatakan ada dua kewujudan. Yaitu ada dia dan ada Allah yang telah menyengsarakannya. Dengan begitu maka runtuhlah Tauhidnya. Dan apa-apa yang dia sangkakan dan katakan itu sungguh sebuah kejahilan dan kebohongan yang sangat besar. Maha suci Allah dari apa-apa yang dia anggap dan khayalkan seperti itu.

Karena kita sudah mengaku wujud seperti itu, maka pada saat seperti itu pulalah Allah akan segera mengirim syaitan yang akan berperan menjadi teman akrab kita, yang disebut juga dengan QARIN.

“Barang siapa yang berpaling dari Ingat (Dzikr) kepada Yang Maha Rahman, Kami akan adakan baginya syaitan yang menyesatkan, maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya (QARIN)”. Az Zukhruf 36.

Qarin inilah nantinya yang akan selalu MENGINGAT-INGATKAN kita kembali akan kehebatan, kepemilikan dan kewujudan kita, sehingga kitapun akan selalu bercanggah dan bergaduh tidak saja dengan orang lain, tetapi juga dengan Allah. Kita menjadi tidak redha dengan apapun yang menimpa kita. Kita akan selalu protes kepada setiap keadaan yang kita alami. Kita akan selalu menilai keadaan sebagai sesuatu yang menyengsarakan kita.

Qarin ini pulalah kemudian yang akan membantu dan mengantarkan kita untuk MERASA menjadi raja-raja kecil di dunia, menjadi sang perkasa dan sakti mandraguna, atau menjadi dewa-dewi. Ia akan selalu menghembus-hembus dan mengirimkan was-was ke dalam MINDA atau HATI kita, yang dalam bahasa sekarang disebut TELEPATI, agar kita selalu mengaku-ngaku akan kewujudan kita dengan segala atribut kita dihadapan manusia dan bahkan dihadapan Allah.

Karena merasa wujud, maka dengan ringannya kita akan berkata-kata: “ini aku lho, ini karyaku lho, ini nih anakku yang hebat dan sukses, ini nih cucuku yang cantik atau ganteng, ini hartaku, ini jabatanku, ini…, ini milikku. Padahal hahekatnya tidak ada satupun yang menjadi milik kita. Karena HAKEKAT dari semuanya adalah sedikit Dzat-Nya semata.

Akibatnya kita menjadi tidak bisa lagi merasakan Impak atau Pukulan dari Sifat Jamal dan Jalal Allah terhadap diri kita. Karena saat itu RUH kita juga telah berubah menjadi KAKU dikarenakan kita sudah wujud, minda atau hati kita yang sudah mati untuk mengingat Allah, dan matahati kita yang sudah buta untuk melihat hakekat. Sehingga RUH kitapun menjadi tidak sensitif lagi untuk merasakan Sifat Jamal dan Jalal Allah.

Dan keadaan seperti ini persis dengan apa yang dulu dialami oleh iblis, Fir’aun, Namrud, Qarun, Abu Lahab, dan penerus-penerusnya di setiap zaman. Barangkali, Hitler, Stalin, Hirohito, Goerge Bush, Putin, Assad, Saddam Hussen, Ariel Sharon, Netanyahu, para Biksu Rohingya, atau siapa saja yang dengan mudah melakukan TEROR dan menumpahkan darah sesama umat manusia yang lainnya, serta siapapun yang masih berlagak dengan penuh kesombongan, bisa dikatakan sebagai para penerus iblis dan fir’aun yang hidup di zaman kita sekarang ini.

Bersambung

Read Full Post »

6.Impak atau Pukulan kepada JIWA kita saat minda atau hati kita kosong karena kita sedang mengingat Allah adalah, Allah akan sering memperlihatkan Sifat JAMAL dan JALAL-NYA kepada kita, yang bisa ditangkap dan dirasakan oleh RUH. Inilah yang membuat airmata kita meleleh dan bercucuran.

Ketika Allah memperlihatkan Sifat Jamal-Nya kepada kita, maka air mata kita akan meleleh-leleh, karena RUH kita bisa merasakan kasih dan sayang Allah yang tak terbatas kepada kita dan kepada alam semesta ini melalui Dzat-Nya yang sedikit.

Ketika Allah memperlihatkan Sifat JALAL-NYA kepada kita, maka air mata kita juga akan jatuh bercucuran dan tubuh kita bisa menggigil ketakutan, karena Ruh kita dapat merasakan KEKUATAN dan KEMAHAHEBATAN Allah terhadap diri kita dan kepada Alam semesta ini melalui Dzat-Nya yang sedikit.

Impak seperti ini jugalah dulu yang dialami oleh Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah, dan orang-orang Allah yang lainnya disetiap zamannya. Rasulullah Muhammad SAW selalu bercucuran air mata saat Beliau Shalat Malam. Air mata Abu Bakar Siddiq AS selalu runtuh saat mendengarkan ayat-ayat Al Quran pada bagian-bagian tertentu…, dan seterusnya dan seterusnya terjadi pula pada sahabat-sahabat Beliau yang lainnya.

 

Bersambung

Read Full Post »

5.Seorang bayi hanya ingin meringkuk diam dipelukan ibunya. Apakah dia sedang ditimpa masalah atau bukan, dia tetap hanya ingin berada di dalam hangatnya pelukan ibunya. Pelukan ibunya adalah tempat dimana dia ingin berlama-lama disana. Disitulah “Bilik Khalwatnya” sepanjang hari.

Begitu jugalah yang dialami oleh orang yang sudah mengenal Allah (makrifatullah) dengan kesadaran yang JATI dan sudah bisa pula mengingat Allah (dzikrullah) secara berkekalan. Dengan mengingat Allah, minda atau hatinya langsung menjadi kosong, karena Allah memang tidak serupa dan tidak seumpama. Di dalam mindanya itu hanya ada satu keadaaan saja, yaitu keadaan ingat kepada Allah.

Keadaan minda atau hati yang kosong seperti inilah yang membuat hati atau minda itu menjadi TENTERAM dan tidak berkocak. Oleh sebab itu, setiap saat, apalagi ketika dia punya masalah, dia selalu “masuk dan naik” ke dalam minda atau hatinya untuk ingat dan berdo’a penuh harap kepada Allah. Dia selalu berpaut dengan Allah. Mindanya yang sudah KOSONG, karena dia selalu mengingat Allah, sudah dijadikannya sebagai “Bilik Khalwatnya” dalam setiap keadaan.
Bahkan dia juga sudah punya BASE CAMP sejengkal diatas ubun-ubunnya, sebagai tanda kepatuhannya kepada perintah Allah yang memerintahkannya untuk DATANG SEJENGKAL kepada Allah. Di tidak perlu datang kepada Allah dengan mengkhayal jauh-jauh datang sampai ke atas langit sana. Tidak perlu.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan AKU BERSAMANYA APABILA IA INGAT (DZIKR) KEPADAKU. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. JIKA IA MENDEKAT KEPADAKU SEJENGKAL MAKA AKU MENDEKAT KEPADANYA SEHASTA. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).”.

Di dalam base camp ini pulalah tempat terjadinya proses turunnya ILHAM kepadanya sebagai akibat dari telah terjadinya hubungan FADZKURUNI ADZKURKUM, hubungan ingat mengingat, antara dia dengan Allah. Dia telah ingat kepada Allah, sehingga Allah pun menyambut ingatannya itu dengan mengingatnya pula.

Base camp itulah sekarang yang menjadi bilik khalwatnya. Tidak peduli dia sedang berada di tempat yang ramai, tidak peduli dia dalam keadaan bersendirian, tidak peduli dia sedang bermasalah atau tidak, dia tetap selalu “duduk di base camp” menjaga hubungannya dengan Allah. Hubungan FADZKURUNI ADZKURKUM.

Saat di dalam base camp itu dia seakan-akan merasakan bahwa dia selalu berada dalam keadaan DARURAT dan butuh PERTOLONGAN. Setiap saat baginya adalah keadaan darurat. Sebab tidak ada yang dia ketahui tentang masa depan yang akan dia lalui, walau hanya satu detik yang akan datang, kecuali apa-apa yang Allah telah beritahukan kepadanya. Tidak ada apa-apa yang bisa dia pahami kecuali hanya atas apa-apa yang Allah berikan kepadanya kepahaman.

Tidak ada apa-apa yang bisa diakuinya sebagai miliknya untuk menjadi bekal baginya dalam menjalani hidup, kecuali hanya atas apa-apa yang Allah telah berikan bekal dan ijin kepadanya. Dia tidak akan pernah merasa bisa bernafas kalau dia tidak diberikan ijin oleh Allah untuk bernafas. Dia tidak akan pernah merasa bisa menggunakan anggota tubuh dan panca inderanya untuk berjalan, berbaring, bekerja, melihat, mendengar, membaui, mengecap, dan merasakan, kecuali hanya ketika Allah memberikan ijin kepadanya untuk menggunakan anggota tubuh dan panca inderanya itu.

Dia benar-benar bisa merasakan bahwa tidak ada siapa-siapa lagi tempatnya bergantung dan minta tolong kecuali hanya kepada Allah. Keadaan seperti ini persis sama dengan keadaan yang dialami orang yang sedang TERANIAYA berat dan orang yang dalam proses SAKARATUL MAUT. Suasana seperti inilah yang dia coba pertahankan setiap saat. Suasana laa haula wala quwwata illa billah…

Setiap saat baginya hanyalah rasa BERSYUKUR atas apa-apa yang Allah telah antarkan buatnya. Dan untuk mempertahankan sikap bersyukurnya itu, dia hanya butuh naik ke dalam base camp sejengkal diatas ubun-ubunnya, sembari dia selalu menjaga agar Hati atau Mindanya selalu ingat kepada Allah dan berdoa agar Allah selalu memberinya Rahmat dan Rahim-Nya.

Ya…, dia cukup hanya berhubugan dengan Allah melalui pintu ingatannya. Bukan dengan pintu RASA. Karena memang Allah telah memberi tahu umat manusia bahwa hanya melalui satu pintu itulah, pintu ingatan, kita akan bisa menjalin hubungan dengan Allah. Fadzkuruni adzkurkum…

Pintu itu bukan melalui pintu rasa seperti yang banyak disangka orang selama ini. Sebab pintu rasa itu masih berada di dalam tubuh dan alat indera kita, terutama di bagian dada kita. Padahal bagian-bagian tubuh kita dari mata kebawah adalah daerah GHURUR, daerah yang suka berkecamuk.

Dan juga, kalau melalui pintu rasa itu, kita akan membutuhkan satu atau lebih perantara yang bisa kita rasa-rasakan dan khayalkan. Kita juga harus mencoba merekayasa suatu hubungan-hubungan khayal antara perantara-perantara itu dengan Allah. Perantara-perantara itu misalnya adalah gerak, atau daya, atau getaran yang kita rekayasa itu berhubungan dengan Allah. Perantara yang seperti itu begitu halusnya, sehingga kelihatannya seperti bukan perantara. Karena ia memang bukan lagi dalam wujud materi seperti patung, pohon, atau bebatuan. Tentang hal ini nanti akan kita bahas lebih lanjut pada artikel yang lain.

 

 

Bersambung

Read Full Post »

4.Bagi orang-orang yang sudah mengenal Allah, Matahati juga mereka sudah tajam untuk dapat melihat bahwa disebalik semua peraturan-peraturan itu ada DZAT-Nya yang sedang menjalankan peraturan-peraturan itu yang menyebabkan terdzahirnya berbagai ciptaan dan peristiwa. Jadi Dzat-Nya lah sebenarnya yang menjadi HAKEKAT dari semua ciptaan dan peristiwa berikut dengan aturan-aturan yang melekat erat pada semua ciptaan dan peristiwa itu.

Sungguh sangat clear sekali. Minda atau Hati mereka hanya selalu mengingati Allah, dan kemanapun mereka melihat, matahati mereka hanya selalu terpandang kepada Dzat yang tidak berupa dan tidak berumpama. Mereka hanya melihat satu kewujudan saja, yaitu Dzat-Nya. Sehingga merekapun langsung menyadari bahwa sebenarnya mereka TIDAK mempunyai kewujudan atas diri mereka sendiri.

Semua SIFAT telah lenyap dari pandangan dan perasaan mereka. Tidak ada lagi luas dan sempit, tidak ada lagi hening dan riuh, tidak ada lagi diam dan ramai, tidak ada lagi getaran dan materi, tidak ada lagi dekat dan jauh, tidak ada lagi atas dan bawah, tidak ada lagi senang dan susah, tidak ada lagi sedih dan gembira, tidak ada lagi milik dan papa, tidak ada lagi hebat dan bodoh, tidak ada lagi hidup dan mati, tidak ada lagi gelap dan terang, tidak ada lagi kalah dan menang, tidak ada lagi bencana dan membangun, tidak ada lagi yang membunuh dan yang dibunuh… Tidak ada…

Yang ada hanyalah sedikit Dzat-Nya yang sedang bersandiwara. Dzat-Nya yang sedang menjalankan lakonan. Dan pada akhirnya, mereka hanya perlu meneguhkan MAKRIFAT mereka bahwa ternyata Allah lah sebenarnya yang sedang bergurau senda dan berlakon dengan Sedikit Dzat-Nya itu.

Keadaan tanpa KEWUJUDAN DIRI dan tanpa terlihat pada SIFAT-SIFAT seperti ini persis dengan keadaan yang dirasakan oleh seorang bayi. Air mata si bayi boleh jadi bercucuran menahan derita dan sakit, air ludahnya boleh jadi berlelehan menginginkan makanan dan minuman, tangannya boleh jadi sedang memegang berlian yang sangat mahal, bibirnya boleh jadi sedang tertawa dan tersenyum, namun mulutnya itu tetap hanya diam dari berkata-kata, apalagi mengaku-ngaku.

Apapun yang dialaminya, mulutnya tetap diam dan terkunci rapat. Ia tidak mengaku, ia tidak merungut, ia tidak mengeluh, ia tidak bertanya kenapa, ia tidak memikirkan begini dan begitu, ia tidak menetapkan inilah dan itulah yang seharusnya. Tidak. Keadaan seperti inilah makna sebenarnya dari FANA. Mulut seperti sudah TERJAHIT tak bisa bicara dan bersuara untuk menyatakan kewujudannya.

Sebab dengan hanya mengatakan “saya ini sebenarnya tidak wujud” saja, itu menandakan bahwa kita sebenarnya masih wujud. Karena kita berani BERKATA dan BESUARA untuk mengatakan “saya tidak wujud”. Tidak wujud kok masih bicara dan bersuara. Jadi fana itu bukanlah pingsan ataupun tidak sadarkan diri seperti yang banyak dipahami orang selama ini. Fana itu hanyalah sekedar tidak buka mulut saja kok. Tidak bicara. Diam walau apapun yang terjadi. Walau kita harus menangis menahan derita, walau kita harus meringis menahan sakit, mulut kita tetap diam dari berkata-kata.

 

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: