Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2016

SELESAI (TAMMAT)

Dengan selesainya artikel ‘Carut Marut Tentang Hati”, maka selesai pulalah tugas saya di Blog ini.

Saya tidak akan singgah di blog ini untuk jangka waktu yang lama.

Artinya tidak akan ada moderasi dari pertanyaan atau comment yang dikirimkan ke blog ini. (Opened)

Saya akan Relax one corner…, menjadi orang biasa…

basecamp

pancaran

Salam hangat buat para sahabat semua…

Iklan

Read Full Post »

Bagian terakhir…

Sekarang sampailah saya pada bagian terakhir dari artikel tentang HATI ini. Dimana saya akan bercerita sedikit tentang bagaimana Ustadz Hussien BA Latiff telah diberikan Ilham oleh Allah untuk mengembalikan letak maupun fungsi hati ini pada tempat yang semestinya. Ini bukan masalah percaya atau tidak lagi. Tapi sudah masuk pada tahapan kita diberi hidayah atau tidak oleh Allah untuk mendapatkan dan mengamalkan ilmu ini. Karena ilmu ini sudah begitu jelas dan tersebar luas dimana-mana. Banyak pula orang yang sudah merasakan manfaatnya.

Bahwa:

Beliau menggajarkan Dzikrullah dengan arti dan tata cara yang sesuai dengan maksud dari Dzikrullah itu sendiri. Yaitu, DIZKR maknanya adalah MENGINGAT, sehingga DZIKRULLAH tentulah maksudnya adalah MENGINGAT ALLAH. Dari sejak awal Islam maknanya adalah begitu. Tidak ada makna yang lain lagi.
Anasir diri kita yang bisa DZIKR (mengingat) itu adalah HATI. Tidak ada anasir diri kita yang lain yang fungsinya bisa untuk mengingat selain dari HATI ini.
Anasir diri kita yang bisa TAFAKUR (berpikir) juga adalah HATI.
Mengingat bukanlah proses berdzikir dengan berkomat-kamit, bukan mengucap dengan lidah, bukan menyebut lafaz tertentu dengan mulut, dan bukan pula menggerak-gerakan anggota tubuh tententu sambil membaca nama Allah.
Mengingat adalah sebuah proses batin, yang tanpa suara dan tanpa aksara, yang berlangsung di dalam HATI.
Letak atau dudukan HATI ini yang semestinya adalah di dalam BENAK, sehingga ia bisa disebut juga dengan MINDA. Oleh sebab itu Beliau mengajarkan bagaimana caranya agar HATI itu tidak sampai turun ke dalam DADA. Apalagi sampai turun sampai ke dalam lathaif atau cakra dasar. Tidak pernah. Karena kalau hati itu sampai turun ke dalam dada, apalagi sampai ke cakra dasar, maka hati itu akan segera menjadi buta, tuli, sakit, keras, kasar, dan bahkan bisa mati.
Untuk membersihkan HATI itu dari segala sampah sarap, maka satu-satunya cara adalah dengan Dzikrullah (mengingati Allah). Karena dengan mengingat Allah, hati itu otomatis akan menjadi KOSONG dari segala rupa dan umpama. Sebab Allah yang diingat itu memang tidak ada rupa dan tidak ada umpama.

dzikrullah1 (2)

dzikrullah2 (2)

 

basecamp

Setelah mengenal Allah (makrifatullah), paham pula dengan mengingat (Dzikrullah), maka Beliau mengajarkan pula ibadah-ibadah sunnah yang bisa menghidupkan HATI, sehingga mata hati bisa terjaga. Waktu akan mengantarkan pula orang-orang yang berjodoh dengan berbagai Hal dan Keadaan, misalnya untuk mendapatkan Hati yang bercahaya, sehingga bisa keluar Ruh dengan mudah untuk melakukan wisata jiwa. Atau bahkan bisa sampai Mata ketiga terbuka.

Yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana Beliau mengajarkan pula tentang Keridhaan dan Arah Tujuan Ummat dengan berbekal syarahan tentang Lauhul Mahfuz Yang sangat sempurna. Syarahan ini akan mengantarkan kita untuk menjadi beriman kepada Rukun Iman ke-6. Percaya kepada takdir baik dan buruk yang semuanya berasal dari Allah.
Beliau juga melengkapi pemahaman kita tentang bagaimana dan apa yang terjadi dengan RUH dan HATI ketika misalnya: Hati yang Rusak bagi orang gila dan orang yang sudah sangat tua; Hati yang Hilang bagi orang yang mengalami Trauma pada kepala; Hati yang terperangkap bagi orang yang mengalami L0CKED-IN SYNDROME; dan sebagainya.

Semua itu menunjukkan bahwa Beliau mengajarkan semua itu setelah Beliau mengalaminya sendiri terlebih dahulu. Jadi bukan angan-angan atau halusinasi seperti yang banyak diajarkan orang lain saat ini. Sebab berkenaan dengan RUH ini hanya sedikit saja yang bisa diketahui oleh manusia. Dan Beliau punya pengetahuan yang sedikit itu. Pengetahuan yang bukan dari buku, bukan dari coba-coba. Semuanya adalah pengalaman Beliau sendiri…

Dengan begitu maka selesailah artikel menganai Carut-Marut tetang Hati ini. Silahkan lihat dan temukan sendiri hati kita masing-masing. Sedang berada dimana hati kita itu. Apakah ia sudah duduk di Benak, atau apa ia masih berada di dalam Dada, atau ia masih berada di dalam benda-benda, atau bahkan ia masih berada di dengkul kita, silahkan cocokkan sendiri-sendiri saja.

Dan Allah akan memberikan ILHAM kepada kita masing-masing itu sesuai dengan kedudukannya masing-masing. Karena dengan begitulah kita DITAHAN oleh Allah untuk TETAP berada pada jalur TAKDIR kita masing-masing. Karena setiap kita pada hahekatnya memang hanyalah sedang menjalankan sebuah JALAN CERITA saja di zaman kita saat ini. Jalan cerita yang baik ataupun yang buruk yang sudah dituliskan untuk kita masing-masing jalankan dan perankan.

Demikian

Wassalamualaikum.

Read Full Post »

Dari berbagai alternatif letak hati yang telah dibahas diatas, dapat kita tarik seutas benang merah yang menghubungkan kesemuanya. Bahwa, pada berbagai pelaku MEDITASI, walaupun pada awalnya mereka meletakkan HATI mereka di dalam DADA mereka, atau bahkan bisa pula di Ujung Tulang ekor mereka, namun pada akhirnya mereka ingin meletakkan Hati mereka di tempat yang TINGGI diluar tubuh mereka.

Sebenarnya hal seperti itu tidak aneh sama sekali. Karena memang tempat bagi hati kita itu SEHARUSNYA atau IDEALNYA adalah di tempat yang tinggi di dalam tubuh kita, yaitu di dalam BENAK kita. Atau lebih idealnya lagi adalah sedikit diatas ubun-ubun kita. Misalnya sejengkal diatas ubun-ubun kita.

Namun Jalan Cerita yang tertulis di Lauhul Mahfuz ternyata sudah ditetapkan. Bahwa dimulai sejak 300 tahun setelah kewafatan Rasulullah SAW, selama berabad-abad lamanya umat Islam ternyata telah TERSALAH untuk menempatkan HATI ini yang selalu HANYA di dalam DADA saja. Setiap dikatakan HATI, maka umat Islam akan selalu mengatakan Hatinya itu adanya di dalam DADA.

Padahal Al Qur’an sudah mewanti-wanti bahwa kalau hati itu kita bawa TURUN KE DALAM DADA, maka Hati yang ada di dalam DADA itu akan otomatis berubah menjadi Hati yang TIDAK BISA MENGINGAT. Hal ini disebabkan karena Hati tersebut menjadi BUTA, TULI, TIDUR, TAKUT, KASAR, KERAS, ADA PENYAKIT, dan bahkan sampai menjadi TERKUNCI MATI.

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. Al Hajj (22):46

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Az Zumar (39):42

“…HATI yang takut…”, Al Mukminin (23):60

Dia memasukkan rasa takut dalam HATI mereka. Al Ahzab (33):26

Sekiranya kamu bersikap keras lagi berHATI kasar. Al Imran (3):159

“…Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ad penyakit…”, At Tawba (9): 125.

Orang-orang yang di dalam HATInya ada penyakit dan yang kasar HATInya. Al Hajj (22):53

Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi [al-Baqarah/2:74]

“… Dan Kami Kunci mati hati mereka…” Al A’raf (7): 100
Maka sejak itu, umat Islam pun menjadi sangat sibuk sekali melakukan poses pembersihan hatinya yang beradda di dalam DADA secara terus menerus. Karena pada Hati yang berada di dalam DADA itu akan ditemukan pula beberapa penyakit seperti:

Hasad (Iri hati)
Haqad (Dengki / benci)
Suuzzan (Prasangka buruk)
Kibir (Sombong)
Ujub (Merasa lebih sempurna diri dari orang lain)
Riya Memamerkan kelebihan)
Sum’ah (Cari-cari nama atau kemashuran)
Bukhul (Kikir)
Hubbul mal (Cinta kebendaan)
Tafahur (Membanggakan diri)
Ghadab (Pemarah)
Ghibah (Pengupat)
Namimah (Bicara ngelantur)
Kizib (Dusta)
Khianat (Munafik)
Dan sebagainya.

Dan untuk membersihkan penyakit tersebut sebenarnya mereka sudah tahu dalilnya, yaitu DZIKRULLAH. MENGINGAT ALLAH. Akan tetapi yang mereka lakukan bukanlah MENGINGAT ALLAH, tapi mereka malah BERKOMAT-KAMIT menyebut Allah, Allah, Allah. Atau Hu Allah, Hu Allah, Hu Allah. Atau La ilaha illah, la ilaha illah sebanyak-banyaknya dan selama mungkin. Semua ucapan itupun harus DITUMPUKAN, atau difokuskan, atau dihantamkan kedalam dada atau kedalam Lathaif tertentu. Tujuannya adalah agar semua penyakit HATI seperti diatas bisa dibakar, dihancurkan, dan dimusnahkan, sehingga diharapkan yang tersisa adalah sifat-sifat yang baik saja, seperti:

AS-SAKHAWAH : dermawan,
AL-QONA’AH : merasa puas,
AL-HILM : murah hati
AT-TAWADHU : rendah hati
AT-TAUBAH : kembali kepada Tuhan,
AS-SABR: sabar
AT-TAHAMMULU : Menahan diri.
AL-JUD : suka berbagi
AT-TAWAKAL : berserah diri kepada Alloh,
AL-IBADAHAS-SYUKR : berterima kasih kepada Allah
AR-RIDHA : rela terhadap ketentuan Tuhan
AL-KHOSYAH : takut melawan larangan Alloh,
KHUSN AL-KHULQ : sikap yang baik
TARKU MA SIWALLAH : meninggalkan segala sesuatu selain Alloh,
AL-LUTFBI AL-KHALQ : lemah lembut kepada makhluk,
AL-HAML ‘ALA S-SALAH : senantiasa mengajak kepada kemaslahatan,
AS-SAFH’AN DZUNUB AL-GAIR : memaafkan terhadap kesalahan orang lain,
AL-MAIL BI AL-KHALQ : simpatik kepada sesama makhluk,
Dan sebagainya.

Akan tetapi pada kenyataannya untuk bisa selalu mendapatan sifat-sifat yang baik tersebut, walau mereka sudah berdzikir seperti itu selama mungkin dan sebanyak-banyaknya, tetap saja alangkah sulitnya.

Yang agak susah adalah bagi orang-orang yang tidak mempunyai objek untuk dijadikan FOKUS sebagai tempat dimana hatinya akan berada. Akan tetapi mereka tahu bahwa ada ayat yang mengatakan bahwa hati yang berada di dalam dadanya itulah yang buta. Karena semua penyakit hati seperti diatas dapat mereka rasakan pula, maka yang mereka lakukan adalah MEMAKSA-MAKSAKAN diri mereka untuk TIDAK melakukan sifat-sifat yang tidak baik itu.

Makanya doktrinnya adalah JANGAN…, JANGAN…, JANGAN. Jangan Iri, Jangan Dengki, dan sebagainya. Dan pada saat yang sama mereka juga memaksa-maksakan diri mereka untuk melakukan sifat-sifat yang baik. Dan doktrinnya adalah Harus…, Harus…, Harus… Misalnya harus Dzikir, harus ridha, harus tawadhu, harus tawakkal. Dan lain-lain sebagainya. Dan semua orang juga sudah tahu bahwa semua itu alangkah sulitnya.

Sebagai dampaknya, oleh karena umat Islam lebih disibukkan dengan masalah hatinya yang tak kunjung selesai, maka akhirnya umat Islam pun dibuat lupa untuk membangun PERADABAN. Hal ini dibuktikan dengan hampir tidak ada lagi sumbangsih umat islam terhadap perkembangan ilmu dan teknologi sejak zaman itu sampai dengan beberapa abad kemudian.

Umat Islam telah menjadi sangat ketinggalan dalam melakukan proses IQRA (BELAJAR) terhadap berbagai fenomena alam. Hati umat Islam telah menjadi LEMOT untuk berpikir. Diberi sedikit masalah yang mudah saja, pikiran kita menjadi sangat sulit untuk mencernanya. Alih-alih menemukan solusi dari masalah tersebut, masalah itu malah menjadi kepikiran terus oleh kita selama berhari-hari.

Karena memang untuk membangun peradaban itu, untuk IQRA, dan untuk Berpikir, dibutuhkan HATI yang sudah terletak pada tempatnya yang semestinya, yaitu di dalam BENAK, sehingga Hati itupun menjadi Mudah untuk menerima Ilham, untuk membaca, untuk mendengar, dan untuk berpikir. Sang ULUL ALBAB, kata Al Qur’an.

HATI yang sudah menempati BENAK inilah yang bisa juga disebut sebagai AKAL, atau FU’AD, atau MINDA. Jadi HATI dengan MINDA atau dengan AKAL itu ya nggak ada bedanya. Itu-itu juga. Satu anasir dengan Penamaan yang berbeda saja. Begitu saja kok repot.

Bersambung

 

Read Full Post »

d)Bagi para Pemeditasi NAFAS, cara mereka lain lagi. Mereka tetap membawa Hati mereka untuk masuk ke dalam DADA mereka terlebih dahulu. Lalu setelah itu mereka mulai merasa-rasakan gerakan Nafas. Dengan begitu, maka otomatis hati mereka itu akan berada di dalam gerakan nafas itu.

HATI DI NAPAS (2)

Setelah itu barulah mereka bawa HATI mereka itu keluar dari orbit Tubuh mereka untuk merasa-rasakan sesuatu Fenomena yang ada di luar tubuh mereka. Fenomena yang muncul itu akan sangat tergantung kepada ILMU atau paradigma berpikir seperti apa yang mereka punyai sebelum mereka melakukan meditasi nafas itu. Ilmu yang paling umum adalah, mereka akan meyakini bahwa fenomena yang muncul itu itu adalah berhubungan dengan Allah.

Tujuan akhir dari semua poses itu sebenarnya sama saja dengan proses meditasi-meditasi yang lain, yaitu agar mereka bisa menjadi FANA juga. Mereka ingin agar Hati mereka sudah tidak diisi lagi oleh Ego mereka. Mereka ingin menjadi Zero, Tapi anehnya mereka juga sekaligus ingin menjadi Hero, menjadi Avatar. Teorinya sih begitu.
e)Begitu juga dengan Pemeditasi PERJALANAN RUHANI (PARA SALIKIN). Mereka juga memulai perjalanan HATI mereka dari Dalam DADA mereka. Lalu naik keatas dan keluar dari Kerongkongan atau Ubun-ubun mereka untuk menemukan berbagai Fenomena yang nantinya juga akan dihubungkan dengan Allah. Berjalan sampai menemukan respon atau sambutan yang katanya itu adalah sambutan dari Allah. Walaupun mereka tidak mengenal cakra atau lathaif, namun istilah-istilah seperti yang dimiliki oleh Pemeditasi Lathaif juga mereka punyai. Misalnya: MURAQABAH, MUSYAHADAH, TAMAKKUN; MUKASYAFAH; dan sebagainya.

perjalanan (3)

Pada para pemeditasi perjalanan ruhani ini perlu dicatat juga bahwa sebenarnya mereka ingin memperjalankan RUH mereka keluar dari tubuh mereka untuk berjumpa dan bersambung dengan Allah. Karena menurut paradigma perjalanan ruhani ini, Ruh itu adalah sesuatu anasir yang Suci dan ia berasal dari Allah. Maka Ruh itu dianggap sangat tahu JALAN untuk kembali kepada Allah. Hanya saja sekarang ini RUH itu tersandera oleh TUBUH dengan berbagai HAWA atau kecenderungannya. Makanya tubuh itu harus ditinggalkan.

Karena pusat RUH itu dianggap mereka di dalam DADA, maka mereka berusaha untuk menjalankan RUH ini mulai dari dalam Dada mereka lalu naik keatas melewati kerongkongan atau ubun-ubun menuju sesuatu yang TAK TERBATAS. Sampai bertemu suasana atau keadaan seperti tersambung kepada Allah yang ditandai dengan DERR, atau sebuah getaran halus di dalam dada.

Hanya saja banyak yang tidak tahu bahwa begitu kita berkonsentrasi ke dalam DADA, maka sebenarnya HATI kita juga menjadi TURUN ke dalam dada kita. Dan ketika kita berkonsentrasi terhadap sebuah perjalanan naik menuju keatas, maka sebenanrya hati kitalah yang bergerak naik keatas itu. Bukan RUH.

Sebab kalau RUH yang bergerak, maka persyaratannya adalah HATI kita haruslah sudah TENTERAM terlebih dahulu. Tanpa keadaan Hati yang tenteram, maka jangan harap Ruh kita itu akan bisa bergerak keluar meninggalkan tubuh kita seperti halnya sebuah perjalanan OoBE. Kalau masih tetap dipaksakan juga, maka tubuh kita akan berkelojotan, keter-keter, dan jumplitan. Kerongkongan kita juga terasa seperti orang yang yang sedang tercekik. Walaupun kita telah mengupayakan naik itu selembut mungkin, namun tetap saja yang bergerak naik itu hanyalah Hati saja. Bukan Ruh.

Sebab tanda-tanda umum kalau Ruh itu sudah keluar tubuh kita adalah kita akan bisa melihat Ruh kita itu melayang diatas tubuh kita (kalau saat itu HATI kita masih berada di Benak kita). Atau kita akan bisa melihat tubuh kita terbujur dibawah (kalau Hati dan Ruh kita sudah bersama-sama meninggalkan tubuh kita). Kalau belum ada tanda-tanda seperti ini, maka yang bergerak itu barulah Hati kita saja. Dan seterusnya, dan seterusnya….

Bersambung

Read Full Post »

b)Bagi para PEMEDITASI, letak hati ini bisa menjadi lebih rumit dan lebih kompleks lagi. Misalnya, bagi para PEMEDITASI CAKRA, letak hati mereka bisa menjadi sangat rumit dan berbelit-belit. Hati mereka bisa mereka bawa-bawa masuk ke tempat diantara Kelamin dan Anus, ke tulang Sulbi, ke dalam Kelamin, ke dalam Pusar, ke dalam Dada, ke tenggorokan, ke Kening, ke Ubun-Ubun, atau di atas ubun-ubun.

HATI DI CAKRA1 (2)

Di dalam setiap tempat atau cakra itu kemudian mereka berusaha pula menemukan berbagai fenomena seperti WARNA dan DAYA (Tenaga) yang sangat berbeda-beda antara satu cakra dengan cakra yang lainnya. Daya itu, yang mereka sebut Daya Kundalini, mereka rasakan atau bayangkan akn mengalir disepanjang tulang belakang mereka naik keatas menuju ubun-ubun mereka.

Semakin hati itu mereka bawa semakin keatas menuju ubun-ubun, maka warna yang mereka temukan juga semakin terang dan daya yang mereka rasakan juga semakin Halus tetapi sangat kuat. Lalu setelah itu mereka akan sibuk mengolah-olah Daya atau Warna-warna tersebut sampai mereka bisa mendapatkan banyak kelebihan dari orang-orang kebanyakan.
c)Bagi para PEMEDITASI LATHAIF (tarekat), HATI itu bisa mereka bawa-bawa untuk masuk ke dalam berbagai macam Lathaif atau Titik Konsentrasi dalam melakukan Wiridan, atau mereka namakan juga Berdzikir.

HTI DI qALB (2)

Misalnya, dalam sebuah Thariqat, ada 7 Lathaif yang harus mereka lalui. Artinya hati mereka, mereka bawa masuk kedalam Lathaif-lathaif itu, yang bermula di wilayah DADA (Latifah Qalb, Ruh, Sirr, Khafi, Akhfa), lalu naik ke KENING (Latifah Natiqa), lalu baru naik lagi melewati ubun-ubun sampai menyelimuti SELURUH TUBUH (Latifah Kullu Jasad). Jadi Pemeditasi Lathaif (tarekat) tidak mengenal adanya cakra-cakra yang berada di bawah wilayah Dada seperti yang dikenal oleh pemeditasi Cakra.

Cuma saja, aktifitas yang dilakukan oleh berbagai macam cara meditasi Lathaif adalah hampir sama saja, yaitu proses BERSIH-BERSIH pada setiap Lathaif tersebut. Sebab mereka juga sudah diberi pengetahuan bahwa pada setiap lathaif itu bersaranglah bermacam-maca sifat Baik dan Buruk. Sifat-sifat buruk itu harus digempur dan dihancurkan agar yang tersisa adalah sifat-sifat yang baik.

Jadi setiap hati mereka memasuki sebuah lathaif, maka hati mereka itu akan mengalami berbagai gejolak dan fenomena akibat dari proses bersih-bersih itu, sampai hati itu kemudian bisa merasakan suasana lathaif yang bersih dan tenang.

Setiap mereka berdzikir selalu begitu. Mereka mulai bersih-bersih di berbagai lathaif yang ada di dalam dada, lalu barulah kemudian mereka naik ke lathaif yang ada di dalam benak atau mirip dengan cakra mahkota di dalam meditasi cakra.

Bahkan mereka bukan hanya sampai pada bersih-bersih lathaif ini saja. Mereka akan terus melakukan riyadah-riyadah lain dengan membawa HATI mereka masuk ke dalam berbagai keadaan atau Maqam seperti: MAQAM MUSYAHADAH, MAQAM MUKASYAFAH, MAQAM MUKABALAH, MAQAM MUKAFAHAH, MAQAM FANAFILLAH, dan akhirnya berhenti di MAQAM BAQOBILLAH (“Fananya dalam kebaqoan Allah Swt, dan lenyapnya dalam kehadiran Allah Swt.”).

Sungguh ini sebuah proses yang sangat rumit, kompleks, dan lama sekali, sehingga sangat jaranglah orang yang bisa sampai kepada Maqam Baqabillah itu, kecuali hanya guru-guru tarekatnya saja, barangkali.

Bersambung

Read Full Post »

Mereka tinggal memperkemaskan diri mereka untuk melakukan ibadah-ibadah yang wajib maupun yang sunnah. Sampai kemudian Allah sendiri yang akan meninggikan derajat atau taraf mereka:

“Tidak ada cara yang dapat MENDEKATKAN hamba-Ku kepada-Ku seperti melaksanakan fardhu-fardhu-Ku dan sesungguhnya ia MENDEKATKAN diri kepada-Ku dengan melakukan hal-hal yang sunnah sehingga cintalah Aku kepadanya. Dan sesudah Aku mencintainya aku jadi kakinya yang dengannya ia berjalan, tangan yang dengannya ia memukul, lidah yang dengannya ia berkata , dan hatinya yang dengannya ia berfikir. Bila ia meminta kepada-Ku Aku memberi dan bilaia berdoa Aku menerima doanya”, (H Salim Bahreisy, 272 Hadits Qudsi, 76)

Maka kamu diberitahu – duduklah di tempat kamu dan jangan melampui batasan kamu sehingga didatangi jalan kepada kamu dari Allah yang memerintahkan kamu duduk dimana kamu berada. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 86 (1990)

Berpuashatilah kamu dengan apa yang ada padamu sehingga datang takdir Allah meninggikan taraf kamu. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 64 (1990).

Sampai pada suatu saat, Allah sendirilah yang akan berkenan untuk menjadikan HATI dan MATAHATI hamba-Nya itu menjadi TERJAGA.

Mataku tidur namun hatiku tidak. Sahih Al Bukhari Vol. 4, 495 (1987).

hati terjaga

Lalu dilain waktu hati hamba-Nya itu diberikan-Nya pula kemampuan untuk menjadi KASYAF dan mengalami berbagai macam HAL atau KEADAAN.

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. Qaaf (50):22.

Adakalanya juga, Hati hamba-Nya itu dianugerahi-Nya dengan CAHAYA yang sangat berkilauan, sehingga dengan cahaya yang berlimpah-ruah tersebut, akan membuat RUH dari hamba-Nya itu bisa terlepas dari jasadnya dengan sangat mudah.

Pada masa itu nampaklah satu nur dari hatimu dan lantas terzahir keluar. Ibarat cahaya lampu di malam yang gelap-gelita memancar keluar melalui tingkap-tingkap dan celah-celah dinding rumah dan menerangi di luar rumah itu, oleh terangnya cahaya di dalam rumah itu. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 148 (1990)

Makin tinggi makin bersinarlah nur Allah melimpahi hati sanubari baginda. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 148 (1990)

Lalu RUH bersama HATI, yang disebut juga sebagai JIWA, akan mudah pula melakukan WISATA JIWA ketempat-tempat yang pernah dikenal oleh Hatinya sebelumnya. Hati akan diantar oleh RUH untuk melakukan WISATA RUHANI. Dan perjalanan wisata jiwa seperti ini sebenarnya hanyalah main-mainan saja. Bukan sesuatu yang selalu dicari-cari atau diutamakan. Tetapi walaupun main-mainan, tetap saja itu sangat mengasyikkan.

Adakalanya pula, karena hatinya sudah sangat BERGEGAR-GEGAR dan TERGONCANG disebabkan karena Allah sedang memberikan kepadanya rasa takut yang amat sangat kepada Allah, atau bisa pula rasa rindu yang amat sangat kepada Allah, lalu Hati bersama Ruh dari hamba-Nya akan terasa NAIK dari dalam dada kekerongkongan. Ada rasa dingin yang naik dari dalam dadanya, terus naik kekerongkongan. Lalu naik melewati matanya, yang akan membuat matanya naik pula keatas. Matanya hanya tinggal putihnya saja. Sebab bagian matanya yang hitam sudah naik melewari kelopak mata bagian atasnya. Hati bersama Ruhnya itu kemudian masuk kedalam benaknya menuju bagian belakang kepala dan kemudian berputar balik ke depan menuju KENING. Dan saat itulah MATA KETIGANYA terbuka.

kasyaf (2)

oobe

 

mata ketiga

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka. Al Anfal (8):2; Hajj (22):35

Penzahiran atau manifestasi ini ada dua jenis – satu dinamakan JALAL (kebesaran dan keagungan) dan satu lagi dinamakan JAMAL (keindahan). Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 32 (1990)

Sesungguhnya orang-orang yang TAKUT kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka. Al Mulk (67):12.

Aku lebih mengenali Allah swt daripada kamu semua dan aku juga yang lebih TAKUT kepadaNya daripada kamu semua. Sahih Al Bukhari Vol. 1, 23 (1987)

Sayidina Ali ra pernah berkata bahawa beliau melihat sahabat-sahabat di waktu subuh rambut mereka kusut masai, pucat serta berdebu dan di antara mereka ada yang lutut mereka bertanda kerana kebanyakan sujud. Mereka bershalat sepanjang malam kerana Allah, membaca Quran, kadangkali mereka sujud begitu lama dan kadangkali berdiri begitu lama (dalam shalat mereka). Menjelang pagi mereka berzikir (ingat) kepada Allah sambil mengigil serta menangis sehingga basah pakaian mereka. Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk.7, 118 (1981).

Maka alangkah eloknya kalau semasa (roh seseorang dari kamu yang hampir mati) sampai ke kerongkongnya. Al Waqiaah (56):83

Sesungguhnya apabila roh dikeluarkan, mata mengikutinya. Sahih Muslim Bk.2, 90 (1994)

Mereka takutkan hari yang padanya berbalik-balik hati dan pandangan. An Nur (24):37
Dan KALAU ada diantara kita yang sampai kepada pencapaian seperti ini, maka pengalaman apa saja yang kita dapatkan, misalnya saat Allah memberikan Kekasyafan, keadaan HAL, Wisata Jiwa, ataupun Mata Ketiga terbuka, itu semuanya itu tidak perlu menjadi bahan cerita kita kepada orang lain. Tidak perlu. Karena semua itu semata-mata adalah PEMBERIAN dari Allah kepada kita. Bukan karena KEHEBATAN atau KETINGGIAN derajat kita dibandingkan dengan orang lain dihadapan Allah. Bukan.

Justru pemberian-pemberian itulah yang akan menjadi pertanda bahwa suatu saat kelak Allah akan memberikan sebuah TUGASAN KHUSUS kepada kita yang harus kita laksanakan. Tugas yang beratnya sama dengan tugasan Matahari yang menyinari bumi tanpa sempat untuk beristirahat sekejap pun.

Bersambung

Read Full Post »

Sekarang mari kita bedah letak Hati ini dari berbagai sudut pandang Paradigma berpikir yang ada.

a)Di dalam Al Qur’an, letak hati itu diberitahukan bisa di beberapa tempat. Yaitu: ia bisa berada di dalam DADA, atau ia bisa pula berada di KERONGKONGAN, atau ia bisa pula berada di dalam BENAK (ketika hati itu sedang menjalankan fungsi Melihat Mendengar, BERPIKIR, dan MENGINGAT).

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang DI DALAM DADA. Al Hajj (22) :46.

HATI DI DADA

Ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan HATImu naik menyesak sampai ke TENGGOROKAN dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Al Ahzab (33):10

Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat ketika HATI (menyesak) sampai di KERONGKONGAN. Ghafir (40):18

HATI DI TENGGOROK

Akan tetapi, SUBHANALAH, ternyata ada lagi satu tempat dimana hati itu harus berlabuh, dimana hati itu harus ditambatkan, dimana hati itu harus dijaga agar ia tidak turun lagi masuk ke dalam tubuh, apalagi sampai turun ke dalam DADA. Tempat itu adalah SEJENGKAL, atau bisa pula SEDEPA, atau bahkan bisa pula SEHASTA di atas ubun-ubun.

Sesungguhnya Allah swt telah berfirman, “Apabila hamba-Ku MENDEKATI Aku SEJENGKAL maka Aku mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati Aku SEHASTA maka Aku mendekatinya sedepa. Dan bila dia mendekati Aku SEDEPA, Aku akan datang menemuinya lebih cepat lagi.” Sahih Muslim Buku 4, 608 (1994).

basecamp

Inilah tempat dimana Hati ORANG-ORANG ALLAH berada. Yaitu, minimum SEJENGKAL diatas ubun-ubun, dan maximum SEDEPA diatas ubun-ubun. Bagi kita orang kebanyakan ini, sejengal diatas ubun-ubun saja itu sudah sangat lebih dari cukup. Sudah sangat berlebihan malah. Sebab kalau sedepa, apalagi sampai sehasta diatas ubun-ubun, kita akan semakin hilang dari kehidupan keduniaan. Kita akan hidup dalam keadaan sangat bersendirian.

Bagi orang-orang Allah, yang di panggil oleh Allah sebagai Hamba-Ku, mereka akan menjaga agar HATI selalu berada sejengkal diatas ubun-ubun mereka. Disinilah BASECAMP terakhir mereka. Mereka tinggal menjaga agar Hati mereka itu SELALU berisikan SATU PENGHUNI saja, yaitu INGATAN kepada Allah. Hati mereka akan mereka PENUHI dengan INGATAN kepada ALLAH saja.

Disinilah Bilik Khalwat mereka. Bilik yang isinya hanya satu penghuni saja, yaitu INGATAN kepada Allah (dzikrullah). Disinilah tempat dimana mereka hanya berdua-duaan saja dengan Allah. Apapun juga yang tidak berkenaan dengan Allah yang mencoba untuk masuk kedalam bilik khalwat itu, akan mereka penggal lehernya dengan pedang tauhid. Bahwa Allah tidak serupa dan tidak seumpama.

Mereka akan menjaga agar hati mereka itu tidak turun kebawah. Sebab begitu hati mereka turun, walau hanya sampai dibawah mata saja, apalagi sampai turun ke dalam dada mereka, maka Hati mereka itu akan segera saja mengalami gejolak yang tidak menentu. Hati mereka akan menjadi galau dan bahan bergolak hebat melihat begitu kejam dan bengisnya alam kehidupan dibawah sana.

Di dalam bilik Khalwat itu mereka juga sudah tidak mengolah-olah apa-apa lagi, mereka sudah tidak berjalan kemana-mana lagi, mereka sudah tidak pergi kemana-mana lagi. Bahkan mereka juga sudah tidak meminta apa-apa lagi.

Bersambung.

 

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: