Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2013

Kuistirahatkan jiwaku
Kuistirahatkan keinginanku
istirahat dengan sebenar-benar istirahat.
merasakan diri tengah beristirahat

istirahat dari memikirkan masalah
istirahat dari segala pertentangan agama dan ajaran
istirahat dari segala perbedaan faham
istirahat dari segala doktrin-doktrin yang menekan
istirahat dari memikirkan beban kehidupan
istirahat dari memikirkan kesenangan (semu)
istirahat dari memikirkan keluarga, anak, istri dan lainnya (yang tak berguna)
istirahat dari memikirkan pekerjaan,
istirahat dari memikirkan kekayaan
istirahat dari apa saja yang kita miliki
istirahat total dari semua itu
istirahat yang sesungguhnya

kurasakan benar-benar istirahat ini
kunikmati istirahat ini
hanya duduk bercengkerama dan berbincang dengan Tuhan, berdua
ya hanya itu, yang lain harus diistirahatkan

istirahat dalam sebuah bahasa agama yaitu SHABAR, TAKWA
shabar dalam menerima ketentuan yang ada disini dan disaat ini
takwa dalam proses “berjalan” jiwa dengan sangat hati-hati
dalam sebuah wujud mata uang yang disebut: IKHLAS

Semua ini ditujukan demi Sang Pemilik Hidup,
Dia menyebut dirinya dengan sebutan yang indah: ALLAH

relaks, santai, lepas, kosong
tubuh terasa seumpama membran, tembus hawa

kurasakan badan melentur santai
kurasakan pori-pori kulit terbuka segar
udara di luar menembus badan
sepertinya hanya lewat semata

kurasakan kekosongan otak yang murni
tak mengkhayal dan memikirkan yang belum terjadi
mengheningkan cipta,

kurasakan kelegaan hati
kurasakan ketentraman
kurasakan kedamaian
kurasakan ketiadaan diri
kurasakan hilangnya ego
kurasakan kekosongan
kurasakan istirahat ini
istirahat yang sebenar istirahat
kurasakan sebagai sebuah meditasi

Puasa, Sholat dan Ibadah yang lainnya
adalah saat kembalinya kesadaran jiwa kepada Sang Pemilik kesadaran
(seumpama kondisi tidur layaknya)
karena ibadah (puasa, sholat dsb) adalah istirahat kesadaran (raga dan jiwa)
dan terutama istirahat jiwa dari segala kepenatan dunia
mencapai keseimbangan kesadaran

Puasa dan Sholat adalah tempat istirahat yang sebenarnya
karena tempat itu berada di dalam diri kita
bukan di luar.

Puasa dan juga Sholat adalah proses pulang
pulang ke rumah yang sebenarnya dan beristirahat
rumah alami yang selalu diimpi dan diharapkan
rumah peristirahatan yang sebenarnya
yaitu rumah kita

Rumah itu adalah ketentraman jiwa.
Akupun lalu beristirahat dalam Damai

Deka on behalf of Someone

Iklan

Read Full Post »

Entah kenapa, malam ini Allahku berkenan memberikan cicipan yang sangat lezat dalam Shalat Malam yang kulakukan. Jam 01:00 aku dibangunkan oleh Allahku dari “matiku” melalui sebentuk rasa bahagia yang diturunkan-Nya terlebih dahulu ke dalam dadaku sebagai pembuka mataku. Kureguk sejenak rasa bahagia itu. Rasa bahagia itu mengalir bersama aliran darahku keseluruh sel-sel di dalam tubuhku. Tubuhku bergetar halus, hatiku bergetar halus, mataku bergetar halus. Sebutir cairan bening disudut matakupun ikut-ikutan pula bergetar halus. Kunikmati semua getaran halus yang berisikan rasa bahagia itu sampai selesai. Lalu kuucapkan sepatah kata yang sangat sederhana kepada Allahku: Alhamdulillah…

Saat berwudhu’, air yang kusapukan kepada anggota-anggota wudhu’ ku seperti berubah menjadi semut-semut halus yang masuk kedalam pori-pori kulitku. Semut-semut itu seperti menggelitik sel-sel tubuhku yang berada dibawah kulitku. Kunikmati saja wudhu’ku itu yang rasanya seperti aku sedang menikmati segarnya minuman air pegunungan ditengah-tengah rasa haus yang sedang menderaku…

Ketika kuucapkan Allahu Akbar sebagai pembuka shalatku, yang ada didalam dadaku hanyalah rasa imanku bahwa aku sedang berhadap-hadapan dengan Allahku. Allahku masih meletakkan HIJAB-NYA dihadapanku.

Allahku seperti masih menunggu kepastian imanku kepada-Nya. Boleh jadi saat itu imanku kepada-Nya masih pada tatanan iman yang palsu. Jangan-jangan Allahku masih belum percaya kepada ucapan takbirku kepada-Nya. Akupun menjadi cemas. Jangan-jangan Allahku menilai shalatku masih seperti shalatnya orang-orang munafik.

Dibelakang hijab-Nya akupun berkata-kata dengan penuh harap. Kukatakan tekatku untuk hanya akan menghadapkan wajahku kepada Wajah-Nya. Ku katakan aku hanya ingin menyerahkan diriku kepada-Nya bulat-bulat. Ku katakan aku bukan orang musyrik.

Ku katakan bahwa aku bersedia menjadi seorang yang beriman seperti berimannya Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wasallam kepada Allahnya. Semuanya itu kukatakan dengan perasaan penuh kecemasan. Aku khawatir, jangan-jangan Allahku masih belum percaya kepada apa-apa yang kukatakan dihadapan-Nya. Atau yang lebih ku takutkan lagi adalah, jangan-jangan Allahku masih berbeda dengan Allahnya Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

Tapi diakhir iftitahku, Allahku mengirimkan tanda-tanda keberadaan-Nya kepadaku. Allahku berkenan menurunkan kedalam dadaku sebentuk getaran halus yang membawa sekaligus sebuah kepahaman bahwa Allahku mulai percaya dengan ucapan-ucapanku itu. Karena aku beriman kepada Allahnya Muhammad, Allahul Haq, maka Allahku pun menyatakan kepercayaan-Nya kepadaku. Sungguh Allahku adalah AL MUKMIN…, Dzat Yang Maha Beriman kepada hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya.

Kepercayaan Allahku kepadaku itu kemudian mengubah suasana di dalam hatiku. Setiap ayat-ayat Al Fatihah yang ingin kubaca, setiap itu pula Allahku seperti terlebih dahulu ingin menyatakan tanda-tanda keberadaan-Nya kepadaku. Allahku lebih cepat dari ucapanku. Sehingga akhirnya setiap ucapanku yang keluar dari mulutku tidak lain hanyalah sebagai ungkapan kesaksianku, ungkapan mengiyakanku saja, atas kebenaran Allahku.

Ketika Allahku memenuhi dadaku dengan rasa Kasih dan Sayang-Nya, DERR…, lalu tiada kata lain yang bisa kuucapkan: Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin…, Arrahmaanirrahiim…”.

Ketika Allahku menurunkan Keagungan-Nya kedalam dadaku, DERR, lalu dengan kerongkongan yang tercekat aku hanya bisa berkata: “maalikiyau middiin…”.

Entah kenapa, aku jadi takut kehilangan Allahku. Aku jadi takut Allahku berpaling dariku. Karena aku sadar bahwa aku telah terlalu sering berpaling dari-Nya. Ya…, entah sudah berapa sering aku berpaling dari-Nya selama ini. Astagfirullahal azhim…

Ditengah-tengah rasa takutku itu, Allahku kemudian kembali meresapkan tanda-tanda keberadaan-Nya kedalam dadaku. DERR. Tanda bahwa hanya Dia yang bisa menolongku. “Bukankah hanya Aku yang bisa menuntunmu untuk mampu meniti jalan bagi orang-orang yang telah Kuberi nikmat, wahai hamba-Ku?. Bukankah hanya Aku pula yang bisa menuntunmu untuk mampu keluar dari jalan yang dilalui oleh orang-orang yang berpaling dari-Ku, wahai hamba-Ku?”. Bersamaan dengan itu, Allahku menurunkan kedalam dadaku rasa seperti aku sedang berada dalam Perlindungan dan Tuntunan Allahku, karena Dia memang adalah AL WALIYY. Maka akupun tidak mau lagi punya punya Pelindung dan Penuntun selain Allahku. “Iyyakana’budu…, wa iyyakanasta’iin”, ungkapku dengan terisak lembut.

Lalu berbilang rakaat kemudian, sampai sebelum witir raka’at terakhir, Allahku selalu, lagi dan lagi, tak henti-hentinya, memperlihatkan tanda-tanda keberadaan-Nya kepada-KU bahwa Dia adalah AL HAADII (Dzat Yang Maha Pemberi Petunjuk). Secara bergelombang dan telaten, Allahku mengajariku bagaimana aku harus rukuk kepada-Nya, bagaimana aku harus sujud yang benar-benar tertuju kepada-Nya. Kadangkala ruku dan sujudku begitu lama, karena saat itu aku benar-benar sedang menerima Petunjuk-Nya untuk memahami dan merasakan cara rukuk dan sujud yang benar. Sebab ternyata rukuk dan sujudku selama ini adalah rukuk dan sujud yang palsu.

Sekian puluh tahun aku mengira atau menyangka bahwa aku telah sujud dan rukuk kepada ALLAHUL HAQ. Dan ternyata sekian puluh tahun itu pula sujud dan rukukku adalah sujud dan rukuk yang penuh dengan kepalsuan. Karena selama itu, ternyata Allah yang aku pertuhankan, aku sujudi, dan aku rukuki itu berbeda dengan Allah yang dipertuhankan, dirukuki, dan disujudi oleh Muhammad SAW. Sehingga selama itu pula sujud dan ruku saya hanya seperti sujud dan rukuk sepihak saja. Ternyata yang kurukuki dan sujudi selama ini adalah persepsiku sendiri, pikiranku sendiri, sangka-sangkaanku sendiri tentang Allah.

Makanya “Allahku yang dulu” itu selalu baik dan menurut saja dengan segala keinginanku. Apa yang aku inginkan dan bayangkan, maka “Allahku yang dulu itu” selalu mengabulkannya. Ketika aku dulu berbuat salah ataupun bermaksiat, lalu aku cukup dengan beristigfar dan minta ampun sekedarnya saja kepada “Allahku yang dulu” itu sambil ditambahi disana-sini dengan beberapa teknik relaksasi, pengaturan nafas, dan permainan getaran, maka akupun bisa menjadi tenang. Tenangnya tenang benaran. Seakan-akan aku telah benar-benar diampuni oleh “Allahku yang dulu” itu. Karena aku berpikir bahwa aku sudah beristigfar, dan “Allahku yang dulu itu” maha pengampun, maka akupun menjadi tenang. Aku merasa seperti telah dimaafkan oleh “Allahku yang dulu itu”, karena memang aku berpikiran begitu.

Tapi malam, keadaannya sungguh berbeda sekali. Sebelum aku sempat minta ampun dalam duduk iftirasy diantara dua sujudku, Allahku yang sekarang, Allah Yang Haq, Allahnya Muhammad SAW, ternyata berkenan terlebih dahulu memasukkan tanda-tanda Pemaafan-Nya kedalam dadaku. Rasanya seperti seorang anak yang telah dimaafkan oleh ibunya. Ketika sang anak, yang pernah membuat ibunya menjauh karena perbuatannya sendiri yang menyakiti hati ibunya, tiba-tiba ibunya memanggilnya dan berkata: “Nak…, hari ini kau kumaafkan”. Walau hanya sepatah kalimat begitu. Tapi pengaruhnya sungguh luar biasa. Sang anak hanya bisa kaget, sang anak tiba-tiba saja merasa dialiri oleh rasa bahagia yang amat sangat, sang anak ingin tersungkur dihadapan ibunya, sang anak ingin menenggelamkan dirinya kedalam pelukan ibunya.

Sang anak seakan-akan ingin kembali masuk kedalam rahim ibunya. Rahim yang didalamnya pernah dia huni. Rahim yang didalamnya tidak ada rasa lapar dan haus. Rahim yang didalamnya tidak ada rasa takut dan khawatir. Rahim yang didalamnya dipenuhi oleh air laksana air syurgawi. Karena memang rahim seorang ibu adalah bayangan syurga yang sesungguhnya… Sang anak telah tenggelam kembali kedalam suasana rahim ibunya. Tidak ada tangisan, tidak ada ada apa-apa… Sang anak kemudian tersadar untuk masuk kembali kealam dunia ketika ibunya mengusap lembut kepalanya…

Aku dibuat mengerti oleh Allahku tentang Pema’afan-Nya yang asli. Aku jadi sadar bahwa rasa telah dimaafkan oleh “Allahku yang dulu” yang kurasakan selama ini ternyata hanyalah rasa tenang yang muncul akibat adanya hormon endorpin yang keluar membanjiri darahku ketika aku berpikiran positif. Rasa dimaafkan oleh Allahku selama ini ternyata adalah rasa maaf yang palsu. Rasa maaf akibat adanya sekresi hormonal saja. Karena saat dulu itu ternyata Allahku memang masih Allah yang palsu. Belum Allah Yang Haq.

Lalu akupun berucap: “Rabbigfirli…, ya Allah tetaplah ma’afkan hamba seperti pema’afan-Mu kali ini…”.

Ketika selesai sujud terakhir dalam shalat witir, Allahku kembali mengejutkanku. DERR. Allahku memasukkan kedalam dadaku rasa bahagia dari ribuan orang. Ada rasa seperti ribuan orang yang sedang berbagai pengalaman bahagia yang mengalir memasuki dadaku. Tapi aku yakin bahwa didalamnya belum ada Rasa Bahagia Rasulullah. Sebab kalaulah rasa bahagia Rasulullah dimasukkan oleh Allah kedalam dadaku, pastilah aku tidak akan kuat untuk menerimanya.

Aku sadar, bahwa boleh jadi proses berbagi rasa bahagia itu barulah pada tingkatan yang sangat rendah sekali. Tapi ketika aku berucap: “assalamua’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuh…, assalamu’alaina wa’ala ibadillahishshalihin….”, suasana yang diberikan oleh Allah kedalam hatiku, rasanya sudah sangat berlebihan bagiku. Karena aku merasa bahwa aku masih belum pantas untuk mendapatkan yang lebih dari itu.

Sebab aku sangat yakin bahwa nikmat Allah yang sebenarnya jauh lebih hebat dari nikmat dari nikmat yang kurasakan dalam shalat malam kali ini. Boleh jadi kadar nikmat yang kudapatkan itu barulah sebatas manis sebutir gula saja. Tapi sebutir gula itu boleh jadi pula berasal dari syurga.

Wallahu a’lam…
Deka 30 Juli 2013…

Read Full Post »

Pertanyaan Dari Pak Husaini Muhammad , Sabtu 20 Juli 2013

Assalamu’alaikum Pak Deka,

Apa kabarnya Pak? Insya Allah, Bapak dan keluarga selalu sehat dan dalam lindungan Allah swt.

Sudah lama sekali saya tidak berkomunikasi dengan Pak Deka, namun saya selalu terinspirasi dan terus mengikuti tulisan tulisan Pak Deka yang terbaru.

Pada kesempatan ini saya ingin mengetahui lebih dalam hal i’tikaf di Masjid.
Bagaimana sebenarnya Rasulullah melakukan i’tikaf itu?
Apakah butuh waktu periode tertentu untuk yang disebut i’tikaf tersebut?
Apa saja yang dilakukan saat kita melakukan i’tikaf dalam masjid tersebut?

Mohon penjelasan Pak Deka.

Terima kasih
Wassalam

Husaini di Medan

—$$—

Alternatif Ulasan saja…

Alaikum salam Pak Husaini,

Mengenai Iktikaf ini hukum-hukum dan dalilnya bisa kita tanya ke Mr. Google, dan jawaban-jawabannya pasti seragam. Misalnya, bahwa dalilnya:

Dari Abu Hurairah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.

Tempat iktikafnya adalah di masjid, karena ada ayat Al Qur’an yang mendalilinya:
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187).

Dan lengkap pula dengan tata caranya, dan amalan-amalannya, misalnya:
1. Tidak melakukan jima’ (senggama), berdasarkan ayat i’tikaf diatas:
2. Tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tujuan i’tikaf, seperti keluar untuk bersenggama dengan istri di rumah, keluar untuk menekuni pekerjaannya, ataupun melakukan profesinya di tempat i’tikafnya [1], keluar untuk bertransaksi jual-beli, ataupun melakukan transaksi jual-beli di masjid, dan semisalnya.
3. Tidak keluar dari tempat i’tikaf untuk urusan yang tidak bersifat harus dilakukan. Adapun keluar untuk urusan yang bersifat harus dilakukan, hal itu boleh. Urusan tersebut meliputi hal-hal yang bersifat tabiat manusiawi seperti kebutuhan buang hajat dan makan minum, atau yang bersifat aturan syariat seperti wudhu, mandi janabah, dan shalat Jum’at.
4. Disunnahkan menyibukkan diri dengan berbagai macam ibadah khusus, seperti shalat sunnah mutlak di waktu-waktu yang tidak terlarang, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, serta beristighfar.
5. Disunnahkan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun yang lainnya.
6. Tidak mengapa baginya untuk berbicara sebatas hajat dan berbincang-bincang dengan orang lain dalam batas yang dibolehkan dalam syariat, baik secara langsung maupun melalui telepon, selama hal itu masih dalam masjid tempat beri’tikaf.

Bahkan beberapa kali saya berkunjung kebeberapa masjid, begitu lewat jam 00:00 tengah malam, ada jamaah yang kemudian menggelar pengajian kitab kuning tertentu sampai jam 02:00 dinihari. Ada pula yang asyik shalat, membaca Al Qur’an, berdzikir dengan semangat 45, atau hanya sekedar duduk diam tafakur.

Kelihatan sekali kita umat islam ini punya sebuah impian yang pekat agar, terutama pada waktu-waktu 10 malam terakhir ramadhan, bisa mendapatkan malam Lailatul Qadar selagi kita sibuk beribadah seperti itu.

Allah mengatakan di dalam Al Qur’an bahwa pada malam Lailatul Qadar itu, Malaikat dan Ar RUH (yang biasa diterjemahkan sebagai JIBRIL), dengan izin Allah, turun ke bumi membawa AMR atau perintah-perintah dari Allah. Amr yang dibawa oleh para Malaikat itu akan memberikan manfaat (pahala) kepada orang-orang yang mendapatkan AMR Allah itu selama 1000 bulan kedepan atau sekitar 83 tahunan.

Sekarang muncul beberapa pertanyaan yang sangat menggelitik, bahwa ADA URUSAN APA Malaikat dan Ar RUH itu turun dan sempat-sempatnya membawa AMR Allah itu kepada kita?. Apakah kita punya URUSAN dengan Allah, sehingga Allahpun punya URUSAN dengan kita, yang menyebabkan Allah mengutus Malaikat dan AR RUH untuk menjawab urusan kita itu?.

Selama ini mungkin banyak diantara kita yang ujug-ujug melakukan I’tikaf pada 10 malam terakhir ramadhan tanpa membawa urusan apa-apa dengan Allah. Kita datang dengan tangan hampa. Kita hanya ingin mendapatkan pahala 1000 bulan dari amalan yang kita lakukan pada malam itu. Dan semuanya itu adalah untuk diri kita dan keluarga kita sendiri. Sampai akhir ramadhan pun kita tidak tahu apakah kita berhasil mendapatkan malam 1000 bulan itu atau tidak. Walaupun pada suatu pagi di 10 malam terakhir itu kita mendengar cerita-cerita bahwa pagi itu sangat tenang, lembut dan cahaya matahari temaram, yang katanya itu adalah tanda-tanda telah terjadi malam 1000 bulan pada malamnya, namun kita tetap tidak pasti, apakah kita telah berhasil mendapatkan malam itu ketika kita beribadah saat itu.

Begitu pula, kalau kita lihat apakah bekas-bekas kita telah mendapatkan malam 1000 bulan itu sudah mulai terjadi pada diri kita, juga kita tidak bisa membedakannya dengan apa-apa yang kita lakukan dan dapatkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Nyaris sama saja…

Jadi sebagai alternatif cara bertindak saja, marilah kita mulai mencoba untuk mendatangi Allah di 10 malam terakhir ramadhan ini dengan membawa URUSAN untuk membantu Allah memperjuangkan agama-Nya. Islam. Kita hanya datang dengan menyatakan kesiapan kita secara tulus dan teguh. Bawalah urusan itu kepada Allah, sehingga Allahpun kemudian mempunyai urusan dengan kita. Ketika Allah sudah punya urusan pula dengan kita, maka urusan Allah kepada kita itu pastilah dalam bentuk pemberian segala fasilitas yang dengannya kita bisa menjalankan urusan kita dengan sempurna untuk memperjuangkan agama Allah

Kita panggil Allah, kita seru Allah dengan suara lembut, tidak dengan suara keras, dan tidak pula dengan suara lemah. Panggillah Dia dengan suara pertengahan. Tidak usah emosi. Ya Allah…, Ya Rahman…, atau panggillah Dia dengan Nama-Nama-Nya Yang Indah yang lainnya. Lalu sampaikan pula urusan kita untuk bersedia membantu agama-Nya kepada-Nya.  Sampai kemudian turun RIQQAH sebagai jawaban Allah terhadap seruan-seruan kita itu.

Sebab kalau Allah ada di dekat kita dan menjawab seruan-seruan kita, maka akan terasa sekali dekat-Nya dan jawaban-Nya. Ada tanda-tanda yang dikirim atau diturunkan-Nya kedalam dada kita sebagai pertanda bahwa Dia sedang dekat dengan kita dan menjawab seruan-seruan kita. Tanda-tanda itu adalah berupa Rahmat yang diturunkan-Nya kedalam dada kita. Ada RIQQAH yang terasa bergetar lembut mengalir masuk kedalam dada kita. Getaran RIQQAH itu seperti membasuh segala rasa yang ada selama ini didalam dada kita. Kadar rasanya jauh lebih dahsyat daripada rasa tetang yang dihasilkan oleh proses sekresi hormonal sebagai hasil dari olah pikiran yang kita lakukan.

Ketika Riqqah ini turun, dada kita seperti dicelup. Kedalam dada kita turun getaran yang sangat halus sehingga dada kita itu di isi dengan cita rasa kelezatan, kelembutan, kepekaan, kehalusan, keindahan. Adakalanya dada kita itu dipenuhi dengan citra ketipisan dan kerapuhan sehingga mudah pecah dan berderai ketika bersentuhan dengan pepujian kita kepada Allah. Adakalanya muncul citra rasa keanggunan, kehalusan, kerapian, keramahan yang membalut hati kita. Saat itu kita sulit untuk tidur karena seluruh tubuh kita dialiri rasa segar yang amat sangat. Rasa yang sulit untuk dibayangkan dan diterangkan, karena itu hanya bisa dirasakan sendiri. Adakalanya juga muncul rasa seperti kita sedang dipenuhi atau tenggelam (ISTIGRAQ) dalam cahaya keagungan Allah.

Pada malam-malam itu, tunggulah, diamlah, dengan penuh harap (Roja’) para Malaikat yang akan menyampaikan urusan Allah itu kepada kita. Tentang jawaban atas urusan kita dengan Allah yang telah kita sampaikan kepada Allah sebelumnya. Ketika malam itu, malam 1000 bulan, insyaallah akan ada serah terima antara kita dengan para malaikat tentang segala urusan yang Allah titipkan kepada mereka untuk disampaikan kepada kita. Sebagai bekal kita untuk menjalankan urusan kita yang manfaatnya akan terus ada untuk 1000 bulan ke depan. Itu semua terjadi karena Allah telah punya urusan dengan kita.

Mari kita berlomba-lomba membuat urusan dengan Allah. Sekecil apapun urusan yang kita bersedia untuk memikulnya, asal urusan itu adalah untuk membela agama Allah, Islam, insyaallah malaikat akan turun menyampaikan urusan Allah untuk mengujudkan tugas kita itu di salah satu malam pada 10 malam terakhir ramadhan bulan ini. Insyaallah masih ada waktu…

Wahai Allah nya Muhammad SAW.
Wahai Allah nya Ibrahim AS
Wahai Allah nya Musa dan Harun. AS.
Wahai Allah nya Isa AS
Wahai Allah nya para Nabi dan Rasul.
Wahai Allah nya para hamba-hamba Allah yang Shalih.

Hamba bersedia untuk menjadi Wali-Mu, Ya Allah…

Ya Allah…, Ya Rahman…
Ya Allah…, ya Rahman…
Ya Allah…, ya Rahman…

Wassalamualaikum
Deka, 13 Ramadhan 1434 H

Read Full Post »

Deka:
Assww. Entah kenapa. Saat ini saya ingin membaca al fatihah untuk Mas Imam. Al fatihah…

Imam:
Alhamdulillah. Rupanya “terhubung”. Saya tengah menghadapi masalah kerja. Kesulitan. Artinya saya melakukan kesalahan. Sebetulnya bukan kesalahan tetapi keteledoran. Kurang teliti. Saya merasa tertekan. Tidak seperti biasanya. Hari ini agak aneh. Biasanya masalah kerjaan sesulit apapun tidak terlalu saya ambil serius. Terima kasih.

Hari ini saya meyakini ada pesan gaib. Ternyata betul. Mas Deka mampu merasakan getar kesulitan saya. Alhamdulillah.

Deka:
Alhamdulillah, saya jadi ingat dengan ucapan Rasulullah kepada Abu Bakar: la tahzan, innallaha ma’ana…

Imam
Terima kasih. Sedikit menambahi. Bukan sedih atau khawatir. Tetapi badan yang merespon. Badan mendadak demam. Panas. Sakit. Lemah. Sedangkan hati tidak terlalu dipenuhi rasa. Itulah keanehan yang saya rasa. Jadi sulit dijelaskan. Jiwa mampu bertahan. Tetapi raga mendadak ambruk.

—-
Deleted and off…
—-

Imam:
Alhamdulillah sebelum tengah malam jam 12 kurang beberapa menit. Diketahui kesalahan di kantor. Kesalahan kecil tapi tidak terlihat. Dicari tidak ketemu. Kesalahan hanya dua titik saja. Alhamdulillah

Untuk kesehatan. Alhamdulillah setelah memasuki alam gelombang mendadak semua hilang. Lenyap hampir seluruhnya hanya terasa kurang tidur saja.

Jadi ingat. Dahulu mas Deka pernah menyebutkan saat sakit memasuki alam gelombang dan sembuh.

Sekarang mempraktekkan metode tersebut.

Deka
Saya ingat tulisan saya tentang grounded yang terjadi saat saya main golf.

Saat itu “stick” nyangkut ke tanah, bola golf terbang melenceng kemana mana, dan tangan saya sakit. Itu Karena saya tidak bisa memenuhi hukum keseimbangan dari Allah berupa gerak momentum

Begitu saya mengikuti gerak momentum, dengan sedikit gerak saja dan pada lintasan yang pas. Bolanya bisa melaju sangat kencang dan jauh:D

Grounded adalah cara Allah memberitahu kita bahwa kita sedang berada pada jalan yang salah, lintasan yang salah, dan power yang salah:D

Imam
Betul. Alhamdulillah. Saatnya kembali.

Saya coba ceritakan, kesalahan saya dalam pemrograman adalah kesalahan di pemrograman yang saya lakukan juga luar biasa anehnya. Sangat sederhana. Dan seperti sebuah pesan. Pesan dari programer. Pesan gaib.

Ok. Saya ceritakan kesalahan ini. Biar bisa difahami.

Saya menjalankan program untuk menampilkan sesuatu di layar dan program itu saya jalankan dan tulis dengan lambang |forward|. Program dijalankan.

Dan saya akan mengembalikan ke posisi semula (awal) yang seharusnya saya kembalikan dengan tulisan |reverse|. Kembali ke posisi awal. Dan program ini di dalam program yang lain. Jadi tidak mudah mencari titik salahnya. Semua tidak ada salahnya.

Tapi anehnya tampilan di layar rusak. Seolah program dipercepat dua kali. Mempercepat dan merusak segalanya. Sampai penat dan payah dan sangat sulit diamati.

Menjelang tengah malam baru diketahui kesalahannya yaitu lambang pagar yaitu | adalah yg melindungi default. Pagar ini melindungi agar defaultnya yang bekerja. Jadi menuliskannya harus reverse tanpa pakai pagar. Defaultnya adalah forward artinya selama masih ada pagar maka default yang bekerja otomatis.

Pagar harus dibuang dan dihilangkan. Kalau pagar tidak dihilangkan maka justru mempercepat program. Default program adalah menjalankan. Pagar adalah HIJAB.

Dua pagar yang melindungi program dijalankan. Apapun yang ditulis. Maka tetap saja yang bekerja bukan perintah kita tetapi default command dari programer awal.

Kalau ingin menuliskan maka harus menghilangkan tanda pagar.

Ahhh… sebuah pesan gaib yg luar biasa. Karena inilah yang mempengaruhi apa yang terlihat di layar. Inilah yang menjadi realitas.

Deka
Ada yang bersedia membuka hijab, lalu program akan jalan dengan sendirinya

Imam:
Saya memang telah menulis command. Sayangnya saya tidak membuang pagar (hijab)

Hijab itu ternyata bisa dibaca dengan bahasa lambang. Bukan dengan bahasa umum. Bukan dengan pemahaman. Hijab itu untuk melindungi default program yang berlaku umum. Maka untuk setiap diri harus membuka hijab ini agar mengerti program khususnya. Artinya menjalankan program khusus baginya.

Deka:
I like this statement…

Imam
Ketika hijab ini dibuka. Maka program ini hanya berlaku khusus atas apa yg dituliskan dan berlaku bagi dirinya.

Ini real dari pengamatan programing yaitu kesalahan saya. Aneh… ya sebuah pelajaran dari Maha Programer.

Deka
Ya…, ini bisa dipakai sebagai perlambang tentang hijab yang ada pada diri kita. Hijabuntuk diri kita itu sangat tebal. Jika hijab ini yang terjadi kepada kita. Tidak apa-apa. Duduklah dibalik hijab yang tebal itu: seolah kita berada dibalik dinding yang sangat kokoh !! Kita tidak bisa membayangkan seperti apa dibalik dinding itu, tetapi kita yakin” Ia” ada dibalik itu.

Berbisiklah …wahai Tuhanku aku ingin mengenal-Mu, tetapi aku tidak mampu, aku ingin dekat dengan-Mu tetapi aku tidak mampu menjangkau-Mu…
Diamlah diperbatasan ini sambil berbisik merendahkan suara menyebut Nama Allah.
Tunggulah dgn sabar sampai Allah yang akan membuka hijab mengenalkan diri-Nya. (ABS)

Walaupun hijab itu hanya dalam bentuk huruf atau titik…

Imam:
Alhamdulillah. Terima kasih. Alhamdulillah. Siap beraktivitas pagi ini.

Deka
Sama mas imam:)

Imam
Terima kasih tlh mengiringi memaknai pengajaran Allah.
Saya kirimkan Al Fatihah untuk mas Deka dan keluarga. Salam sejahtera.
Catatan: Ini Al Fatihah yang pertama yang saya kirimkan seumur hidup saya.

Deka
Al fatihah

Imam:
Dari yang terjadi seperti ini |…..| . Apapun yang kita tuliskan, ini tidak akan merubah. Karena yang bekerja hanya default. Command umum. Perintah yang satu, yaitu jalankan hukum umum. Untuk yang individu. Perintah khusus maka harus membuka dan menghilangkan |. Lalu command khusus barulah bisa dimasukkan difahami. Dijalankan oleh kesadaran.

Wassalam
Deka & Imam

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: