Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2015

Sekarang kita sudah mulai paham bahwa OTAK bertugas untuk menjembatani informasi antara HATI dengan RAGA, sehingga semua kata HATI akan bisa direspon oleh RAGA sebagaimana mestinya, dan semua aktifitas RAGA dapat pula dimonitor dan direspon oleh HATI tanpa kecuali

 

Selama ini banyak orang yang meyakini bahwa yang melihat, yang mendengar, dan yang merasa adalah OTAK kita. Misalnya dikatakan mereka bahwa seekor burung yang terlihat oleh mata, sinyal listik dari retina akan diteruskan oleh jaringan syaraf kebagian otak bagian belakang. Bagian otak belakang inilah kemudian melihat  gambaran burung seperti yang terlihat oleh mata.

 

Begitu juga dengan hal-hal lain yang bisa kita lihat, kita dengar, kita raba, kira rasa, dan kita cium, semuanya itu dikatakan mereka hanyalah sebagi GAMBARAN yang terjadi di dalam otak kita. Karena hanya gambaran, maka semua yang ada di dunia ini dikatakan mereka hanyalah  sebuah ILUSI saja. Sesuatu yang sebenarnya TIDAK ADA dan TIDAK NYATA. Yang ada sebenarnya adalah INFORMASI saja kata mereka. Informasi itu kemudian TERSIMPAN di dalam otak dalam bentuk memori, baik memori jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

 

Pertanyaannya adalah, SIAPA yang MELIHAT, MENDENGAR dan MERASAKAN semua informasi yang masuk ke dalam otak itu?. SIAPA pula yang MENYIMPAN informasi itu. Dan SIAPA pula yang bisa MENGINGAT kembali semua imformasi itu untuk kemudian MERANGKAI-RANGKAINYA menjadi sebuah PARADIGNA BERPIKIR untuk DILAKSANAKAN dan DIWUJUDKAN?.

 

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, maka muncullah berbagai FILSAFAT yang mencoba menguraikannya. Misalnya yang melihat, mendengar dan merasa itu adalah “aku”. Makanya semuanya bisa kita akui. Ini melihatku, mendengarku, merasaku, dan sebagainya.

 

Saat ditanya pula “aku” itu siapa, maka jawabannya juga bisa bermacam-macam. Ada yang mengatakan aku itu adalah JIWA, ada yang mengatakan aku itu adalah RUH, ada yang mengatakan aku itu adalah PIKIRAN. Namun jiwa dan ruh itupun masih bisa kita aku: ini jiwaku, ini ruhku, ini pikiranku, dan sebagainya.

 

Karena banyak kita yang masih bingung juga dengan semua jawaban-jawaban itu, maka akhirnya ada diantara kita yang mengatakan bahwa “aku” ini adalah “Aku”. Maksudnya aku ini adalah Allah. Sehingga ada yang mengaku bahwa saat dia melihat, maka yang melihat adalah Allah. Begitu juga dengan aktiftas-aktifitas yang lainnya, seperti: yang mendengar adalah Allah, yang marah adalah Allah, yang berbicara adalah Allah, dan pengakuan-pengakuan lainnya.

 

Tapi biarlah hal-hal itu berlaku seperti itu dulu. Kita terlebih dahulu akan melihat lebih dalam tentang otak yang ada di rongga kepala kita.

 

Jika OTAK ini rusak, yang disebabkan oleh berbagai hal, maka RAGA tidak akan mendapatkan INFORMASI apa-apa dari HATI. Karena dengan begitu tidak ada bagian yang bisa menghubungkan antara HATI dengan RAGA. Hati dan raga menjadi putus hubungan.

 

Sekarang, marilah kita lihat apa-apa yang bisa MERUSAK atau MENGHALANGI fungsi kerja otak:

 

  • KERUSAKAN FISIK OTAK: bisa karena stroke, Luka benturan, Lobotomy, kena Racun, kena Zat Kimia, dll.
  • KELELAHAN: tidur, pingsan, dll.
  • KEMEROSOTAN FUNGSI, seperti Penuaan, Alzheimer’s, dll.
  • PENYAKIT, seperti Thyroid, Diabetes, neurosyphilis , Kurang Gizi, Demam, dll.
  • DRUGS, seperti Anestesi, Halusinogen, LSD, ALKOHOL, dll.
  • BAWAAN GENETIK, seperti Bakat, IQ, Down Syndrom, dll.

 

Karena informasi dan data dari HATI sudah tidak bisa lagi sampai ke RAGA dengan sempurna, yang terjadi karena port interfacenya atau OTAK telah RUSAK, maka akibatnya juga akan terlihat pada RAGA. Misalnya: Raga menjadi Tidak Sadar; Raga kehilangan Fungsi Eksekusinya; Raga mengalami Penyimpangan Orientasi; Amnesia; Comma; Pelemahan Raga seluruhnya atau sebagian; Raga bingung membedakan Antara Pikiran Dan Realitas (GILA), dan sebagainya.

 

Walaupun  raga bermasalah akibat adanya kerusakan di dalam otak kita, namun JIWA (HATI dan RUH) tetap sadar dan tahu bahwa RAGANYA sedang bermasalah atau tidak berfungsi. Misalnya kalau kita Comma, RAGA kita tidak bisa bergerak, tetapi kita masih bisa mendengar pembicaraan orang-orang yang berada disekitar RAGA kita. Makanya seringkali kita melihat orang yang comma masih bisa meneteskan air mata. Atau bisa pula dia merasa sedang pergi kesuatu tempat seperti sedang melakukan perjalanan di luar tubuh begitu (out of body journey), dan perjalanan itu bisa dia ceritakan kalau dia kembali sadar dari commanya….”

 

Karena OTAK tak lebih dari hanya sebagai sebuah Port Interface saja antara HATI dan BODY, maka sebenarnya di dalam OTAK tidak ada tersimpan memory apapun juga. Karena ia bukanlah sebuah Storage atau tempat menyimpan MEMORI. Otak juga tidak berfungsi untuk menghasilkan EMOSI dan MOOD. Ia juga tidak melakukan proses PEMILIHAN atas berbagai alternatif solusi yang tersedia untuk menyelesaikan permasalahan kita.

 

Anasir diri kita yang bertanggung jawab untuk menyimpan memori, membangkitkan emosi dan mood, dan melaksanakan pilihan-pilihan adalah HATI. Sedangkan OTAK tidak melakukan proses apa-apa. Otak hanyalah sebuah ALAT PENYEMBUNG saja antara HATI dan RAGA. Semua informasi dari raga (Panca Indera) masuk ke dalam Hati melalui OTAK. Begitu juga semua KEHENDAK dan KEPUTUSAN yang telah diambil oleh HATI  yang akan DILAKSANAKAN atau DIEKSEKUSI oleh RAGA akan mengalir melalui OTAK ke pada bagian-bagian tertentu dari RAGA sehingga kehendak dan keputusan itupun bisa dilaksanakan oleh RAGA sesuai dengan fungsinya masing-masing.

 

Bersambung

Read Full Post »

Ternyata TIDAK. Sebab pada kegiatan shalat ini sebenarnya ada sebuah aktifitas luar biasa lainnya yang sangat bermanfaat sekali bagi ketenteram JIWA kita, yaitu aktifitas HATI yang MENGINGATI ALLAH (DZIKRULLAH). “Dirikanlah SHALAT untuk MENGINGAT AKU”, kata Allah.

 

Jadi shalat itu sebenarnya bukanlah sebuah aktifitas yang semata-mata hanya untuk MENGAMALKAN ILMU SHALAT saja. Bukan. Tapi di dalam SHALAT itu ada sebuah PROSES PEMBELAJARAN secara TERUS MENERUS yang akan sangat berguna bagi kita untuk memasuki kembali SUASANA kedekatan dan kemesraan kita dengan ALLAH.

 

Tapi, walaupun hampir semua orang juga sudah punya ilmu yang berbicara tentang KHUSYU, tentang keutamaan KHUSYU, dan bahkan ada ilmu pula tentang bagaimana cara-cara untuk mendapatkan KHUSYU itu, namun rasa bahagia (Aflaha), apalagi rasa TENTERAM (MUTHMAINNAH), masih sangat jarang  kita jumpai di dalam shalat yang kita lakukan itu. Ada memang beberapa diantara kita yang bisa merasakan rasa tenang, menangis, dan bahagia di dalam shalat itu. Akan tetapi sayangnya keadaan itu tidak bisa bertahan lama untuk kita rasakan dan nikmati.

 

Oleh sebab itu banyak pula orang yang sudah belajar shalat khusyu atau yang serupanya mulai mencari dan mencari lagi cara-cara lain yang barangkali bisa membuat HATINYA menjadi TENTERAM. Kebanyakan cara-cara lain itu sangat bersentuhan dengan ALAM-ALAM GETARAN dan ALAM-ALAM PERASAAN. Kalau badannya sudah bisa BERGETAR dan ada pula RASANYA, maka ada yang menamakannya itu sudah KHUSYU. Atau kalau pikirannya sudah tenang yang di dapat baik dengan cara INDUKSI HIPNOSA maupun dengan cara-cara MEDITASI lainnya, maka ada juga yang menamakan bahwa itu sudah KHUSYU.

 

Hanya saja banyak sekali umat Islam yang tidak paham bahwa sebenarnya ada sebuah KETENTERAM PUNCAK (the Ultimate Tranquility) yang bisa dirasakan oleh JIWA semata-mata karena Jiwa itu MENGINGAT ALLAH, DZIKRULLAH. Akan tetapi, karena JIWA itu belum sampai mendapatkan ketenteraman puncak, maka HATI akan lebih sering berada dalam keadaan terbolak balik. Hati yang terbolak balik itu (QALBU) memerintahkan RAGA untuk kadangkala berbuat kebaikan dan dilain kesempatan berbuat keburukan.

 

Kalau perintah HATI kepada RAGA berbolak balik antara BAIK dan BURUK, maka RUH akan merasakan hal yang berbolak balik pula antara BAHAGIA dan PEDIH secara silih berganti. Keadaan HATI yang terbolak balik ini disebut sebagai HATI yang bersifat QALBU. Hati yang tidak menetap, Hati si Katak Lompat. Keadaan HATI dan RUH yang bolak balik seperti itu disebut juga dengan NAFSUL AMMARAH, NAFSUL LAWWAMAH, NAFSUL SUFFIAH, dan sebaginya.

 

Sedangkan kalau HATI sudah menetap untuk memerintahkan KEBAIKAN demi KEBAIKAN, maka RUH juga akan menetap pula merasakan KEBAHAGIAAN demi KEBAHAGIAAN. HATI dan RUH yang sudah menetap dalam kebaikan dan kebahagiaan seperti ini disebut dengan JIWA YANG TENTERAM (AN NAFSUL MUTHMAINNAH).

 

Yaitu, Jiwa yang sudah SIAP untuk menjadi orang-orang Allah. Jiwa yang akan sering bertemu dengan sesama Orang-orang Allah,  baik bertemu secara JASMANI maupun bertemu secara ROHANI. Jiwa yang sudah tenteram ini pulalah yang akan mudah untuk menjalani proses MATI SEBELUM MATI. JIWA yang sudah bebas untuk keluar masuk RAGA untuk mengalami HAL demi HAL. Rasulullah SAW mengalami keadaan HAL ini lebih dari 100 kali dalam sehari.

 

Bersambung

Read Full Post »

Oleh sebab ketika seseorang beraktifitas, maka yang beraktifitas itu sebenarnya adalah JIWA, yaitu HATI dan RUH. Misalnya saat  ia BERBICARA, maka yang berbicara itu sebenarnya adalah JIWA. Sedangkan RAGA hanya berfungsi sebagai sekedar mesin biologis yang ikut BERKOMAT-KAMIT saja.

 

HATILAH yang akan menentukan pembicaraan jenis apa yang akan diucapkan. Apa-apa yang dibicarakan itu menentukan KUALITAS ISI HATI dari orang yang berbicara itu. OTAK akan menyambungkan informasi dari HATI itu kepada RAGA atau bagian-bagiannya yang bertanggung jawab sebagai robot-robot biologis untuk berbicara, yaitu Mulut, Hidung, Lidah, Pita Suara, dan Paru-Paru. Lalu RUH akan mengantarkan DAYA atau GERAK sehingga semua instrumen dari robot biologis itu akan bekerja sebagaimana mestinya.

 

Dengan begitu dengan mudah kita dapat MEMAHAMI apa ISI HATI dari seorang PIMPINAN  atau PEJABAT yang selalu berkata-kata tentang TOILET, COMBERAN, dan perkataan-perkataan KASAR lainnya ketika dia berbicara kepada orang lain atau kepada rakyat dan bawahannya. Tentu saja isi hatinya tidak lebih dari apa-apa yang dia katakan dan ucapkannya itu.

 

Kalau perkataannya adalah tentang TOILET, maka kualitas JIWANYA juga akan seperti itu. HATINYA berisi serba-serbi TOILET, RUHNYA akan merasakan rasa TOILET, dan RAGANYA akan diantarkan oleh RUH untuk berperilaku seperti orang yang sedang berada di dalam TOILET. Apalagi kalau TOILETNYA itu mampet dan tidak ada airnya, pintunya terkunci pula dari luar. Sehingga isinya adalah marah…, marah…, marah… dan memaki-maki saja.

 

Begitu juga dengan aktifitas-aktifitas lainnya. Misalnya shalat, yang takbir, yang membaca ayat-ayat, yang rukuk, yang sujud, yang berdo’a, yang salam, pelakunya adalah JIWA. Sedangkan RAGA hanyalah ROBOT BIOLOGIS yang mengikuti PERGERAKAN JIWA di dalam shalat itu.

 

Informasi tentang gerakan-gerakan dan bacaan shalat sudah kita pelajari sejak dari kita kecil. Informasi itu masuk ke dalam HATI kita melalui saluran di dalam OTAK KIRI kita. Informasi itu menjadi pengetahuan bagi HATI kita untuk melakukan SHALAT. Makanya begitu kita berniat untuk shalat, misalnya shalat subuh, maka semua gerakan, bacaan, dan jumlah rakaat shalat subuh itu bisa kita lakukan tanpa kita berpikir sedikitpun. Semuanya bisa berjalan seperti “ban berjalan” di dalam sebuah pabrik otomatis. Begitu HATI menginginkan atau berniat untuk shalat, RUH akan mengantarkan RAGA untuk melakukan gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan shalat secara otomatis sampai SALAM.

 

Lalu selesaikah sampai disitu?.

 

Bersambung…

Read Full Post »

FUNGSI INTERFACE

 

Sebelumnya mari kita kenal dulu bahwa istilah HATI = AKAL = MINDA = MIND, dan satu dengan yang lainnya bisa dipakai secara acak dengan arti yang tetap sama.

 

Kalau kita lihat fungsi dari OTAK ini bagi kehidupan kita, maka OTAK hanyalah sebuah jaringan INTERFACE super cepat tempat dimana terjadinya pertukaran INFORMASI antara HATI  (MIND) dengan RAGA (BODY). Apa-apa yang tergores dihati, akan dihantarkan melalui otak kepada raga, agar raga segera meresponnya dalam berbagai bentuk GERAKAN (MOTION), yang bisa berupa tindakan fisik, dan bisa pula dalam rupa perkataan-perkataan, baik yang tertulis maupun yang verbal.

 

Fungsi dari OTAK ini adalah sebagai sebuah ALAT PENGHUBUNG antara TUBUH BATIN dengan TUBUH DZAHIR. Penghubung antara JIWA dan RAGA, sehingga JIWA dan RAGA itu bisa saling berinteraksi secara baik. Kalau alat penghubung atau OTAK ini baik, maka  JIWA yang baik akan membuat RAGA juga menjadi baik. Begitupun sebaliknya, OTAK yang baik akan membuat RAGA yang prima juga akan menjadikan JIWA yang prima  pula.

 

Entitas yang menggerakkan RAGA (BODY) ini disebut dengan RUH. Tanpa peran dari RUH, maka RAGA tidak akan bisa BERGERAK. Jadi RUH adalah MOTOR PENGERAK yang akan MENGANTARKAN RAGA untuk memenuhi atau merealisasikan segala PERINTAH dari HATI. Dan disepanjang pergerakan RAGA beraktifitas itu, RUH akan menerima UMPAN BALIK berupa RASA dari aktifitas yang dilakukan RAGA itu. Rasanya tuh DISINI…, seperti berada di dalam DADA.

 

Kalau dibadingkan dengan sebuah Komputer, HATI adalah ibarat CPU sedangkan RAGA adalah ibarat PRINTER atau MONITOR yang akan memperlihatkan apa yang diproses oleh CPU. Sedangkan OTAK adalah ibarat PORT USB yang bisa menghubungkan antara CPU dengan PRINTER atau MONITOR. Hasil dari informasi atau data yang diproses atau digoreskan oleh CPU akan mengalir melalui Port USB ke MONITOR atau PRINTER.

 

Untuk memudahkan kepahaman saja, data atau informasi yang mengalir itu diantarkan oleh ARUS LISTRIK yang mengisi CPU maupun MONITOR dan PRINTER. Arus listrik ini bolehlah diumpamakan sebagai RUH dari sistem komputer itu, walau itu tidak sama betul. Sebab Arus listrik itu lebih pas disebut sebagai NYAWA dari sebuah sitem komputer. Arus listriknya mati, maka mati pulalah sitem komputer itu.

 

Jadi HATI atau MIND adalah SANG PENANGGUNG JAWAB, DRIVER, PILOT, KUSIR  atas segala hal yang akan TERJADI dan TERLAKSANA pada RAGA. Hatilah yang bertanggung jawab untuk membentuk PERSONALITY, MEMILIH keputusan-keputusan, MENGINGAT-INGAT (memory), membentuk EMOSI, MELIHAT, dan MENDENGAR.

 

Sedangkan RAGA berfungsi sebagai tempat penzhahiran dari apa-apa yang telah diproses dan diputuskan oleh HATI atau MIND. Dengan begitu, maka RAGA tak ubahnya hanya seperti ROBOT atau MESIN BIOLOGIS bagi SPIRIT (JIWA) untuk beraktifitas di Alam Materi.

 

Sementara itu RUH berfungsi untuk menggerakkan MESIN BIOLOGIS atau ROBOT JIWA itu sesuai dengan kehendak HATI. RUH pulalah yang akan menerima UMPAN BALIK dari kerja dan aktiftas RAGA itu dalam bentuk RASA yang akan diterima kembali oleh RUH.

 

Bersambung

Read Full Post »

Sekarang kita sudah bisa melihat dengan jelas bahwa HATI mempunyai PERAN yang sangat SENTRAL dalam kehidupan setiap diri manusia. Kita juga sudah paham bahwa HATI yang dimaksud itu adalah HATI yang HALUS (FU’AAD) atau HATI NURANI, seperti yang dikatakan juga oleh Iman Al Ghazali. HATI  yang dimaksudkan ini adalah HATI yang berhubungan erat dengan OTAK. Ia bukanlah HATI yang berhubungan dengan JANTUNG (HEART) dan bukan pula HATI yang berhubungan dengan LIVER.

 

Dengan memahami HATI yang seperti ini, maka dengan mudah kita juga akan bisa mementahkan dan mematahkan anggapan hampir SEMUA MANUSIA saat ini yang memercayai bahwa LETAK HATI yang HALUS itu adalah Di DALAM DADA, yang disebut dengan JANTUNG (Heart).

 

Sebab fungsi JANTUNG itu hanyalah untuk memompakan DARAH dan NUTRISI keseluruh tubuh selama kita masih HIDUP. Melalui darah yang dipompakan itu mengalir pulalah zat-zat pembangun tubuh dan juga dzat yang berguna bagi pertahanan tubuh dari penyakit, serta suplai energi yang kita perlukan untuk beraktifitas.

 

LIVER (HATI) berfungsi untuk: Menyaring darah, Membuat empedu, Memproses dan mengikat lemak termasuk kolesterol, Memetabolisme obat-obatan, Membuat protein-protein penting, Mengurai dan mendaurulang sel-sel darah merah, dan sebagainya.

 

Sedangkan HATI yang dimaksudkan Al Qur’an di dalam surat As Sajdah (32): 9 adalah HATI yang HALUS (HATI NURANI) yang berhubungan dengan RUH. Fungsi dari Hati yang Halus ini adalah UNTUK MENGINGAT, BERPIKIR. HATI, dan BERTAQWA (Al An’am  (6): 151-153). Hati yang HALUS itu juga mempunyai mata yang disebut dengan MATA HATI yang berfungsi untuk MELIHAT dan MENDENGAR.

 

Tidak ada satu dalilpun yang menyatakan bahwa JANTUNG (HEART) kita punya kemampuan UNTUK MENGINGAT dan BERPIKIR, misalnya untuk MENGINGAT ALLAH (DZIKRULLAH), dan mengingat hal-hal yang lainnya, apalagi untuk berpikir.

 

Ada memang HADIST Nabi yang yang bercerita tentang HATI yang sering dinamakan orang dengan QALBU. Abu Nu`aym menceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. berkata: “Sesungguhnya DI DALAM JASAD ada MUDGHAH; jika ia baik maka baiklah JASAD SELURUHNYA, jika ia rusak maka rusaklah JASAD SELURUHNYA; MUDGHAH itu adalah QALBU.

 

MUDGHAH secara bahasa artinya adalah BONGKAHAN atau GUMPALAN (LUMP) yang bentuknya SEPERTI DAGING, tapi ia bukanlah daging. Dalam bahasa Inggris ia disebut juga seperti chewed-like form (suatu yang telah kita kunyah-kunyah). Ia adalah bentuk PERTENGAHAN antara Gumpalan DARAH seperti LINTAH (LEECH atau ‘ALAQAH) dengan  gumpalan DAGING (LAHMAN). Sebab DAGING yang sudah berbentuk SEMPURNA yang membungkus tulang dalam  bahasa Arab disebut dengan LAHMAN (atau MUSCLE, MEAT dalam bahasa INGGRIS), lihat surat Al Mukminun ayat 14.

 

Dengan ciri-ciri seperti itu, maka MUDGHAH itu secara fisik ia TIDAK cocok disebut dengan JANTUNG. Sebab JANTUNG lebih cocok dengan ciri-ciri bagi LAHMAN atau MUSCLE. Ciri-ciri MUDGHAH itu lebih cocok secara fisik dengan ciri-ciri yang ada pada OTAK.

 

Dengan begitu kita dapat memahami suatu hubungan yang sangat erat antara HATI dan OTAK. Bahwa dalam keadaan NORMAl, HATI berkedudukan di dalam OTAK. Dengan kata lain Hati adalah entitas Yang Halusnya dan Otak adalah entitas yang Kasarnya.

 

Sekarang marilah kita lihat apa FUNGSI dari OTAK ini dalam kehidupan kita.

 

Bersambung.

Read Full Post »

Dari uraian AN NAFS diatas kita sudah dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam artikel sebelumnya:

  • APA YANG MENGINGAT ALLAH, jawabannya adalah HATI
  • DIMANA KITA MENGINGAT ALLAH, jawabannya adalah di dalam HATI yang berkedudukan di dalam OTAK. Bukan di dalam DADA.
  • APA HASIL MINIMUM YANG AKAN KITA DAPATKAN SETELAH KITA DAPAT MELAKUKANNYA, jawabannya adalah JIWA kita akan menjadi TENTERAM..
  • BAGAIMANA CARANYA AGAR KITA BISA MEMPERTAHANKAN INGATAN KITA KEPADA ALLAH ITU SECARA TERUS MENERUS, ini yang akan kita bahas berikutnya dengan menyarikan cara-cara yang diajarkan oleh Arif Billah, Ustadz Hussien BA. Latiff. Silahkan juga nikmati tayangan videonya di YOUTUBE: farhan4u2c.

 

Dan tentang cara yang Beliau sampaikan ini intinya adalah:

  • Setelah Mengenal Ilmu MAKRIFATULLAH,
  • Mengenal HATI, MATA HATI, RUH, JASAD, dan NYAWA,
  • Memahami KEREDHAAN yang merupakan INTI SARI dari RUKUN ISLAM ke-6.
  • Memahami Arti DZIKIR, yaitu MENGINGAT, bukan MENYEBUT.
  • Mengenal PINTU INGATAN.
  • Lalu barulah kita diajak untuk praktek MENGINGAT ALLAH.

 

Cara paling dasar untuk praktek mengingat Allah ini sudah saya tulis dalam artikel singkat yang berjudul “Mengingat Allah (Dzikrullah)”.

 

Tentu saja banyak cara-cara lain yang bisa kita pakai untuk program MENGINGAT ALLAH (dzikrullah) ini. Akan tetapi syukur Alhamdulillah, saya telah ditaqdirkan oleh Allah untuk bisa menyicipi dan memraktekkan berbagai metoda yang tujuannya dikatakan untuk MEMBERSIHKAN JIWA (tadzkiyatunnafs).

 

Dan dari sekian cara yang saya lakukan itu, cara yang diperkenalkan oleh Arif Billah, Ustadz Hussien BA. Latiff, adalah cara yang paling cepat dan paling mudah untuk saya lakukan. Dan Hasilnyapun melampaui hasil-hasil dari cara lain yang telah saya tempuh selama ini. Dan hal inipun sudah saya konfirmasi kepada beberapa sahabat saya yang lain, mereka juga mengatakan hal yang sama. Tapi boleh jadi ini sifatnya adalah pandangan subjektif saja.

 

Pada kesempatan lain, saya juga akan memaparkan beberapa pokok  hasil “pengamatan” saya atas apa-apa yang telah saya dapatkan dalam melakukan berbagai cara yang telah saya lalui itu secara ringkas. Semua paparan itu saya lakukan adalah untuk bahan pembelajaran saja bagi para sesama “pembelajar”. Karena disini kita bukan berbicara tentang benar dan salah. Tapi kita berbicara tentang kemanfaatan. Sebab semuanya adalah Ilmu-ilmu yang sudah diijinkan oleh Allah untuk terzhahir pada zamannya masing-masing. Dan itupun sudah ditaqdirkan pula untuk dipakai oleh orang-orang yang memang telah ditaqdirkan pula untuk memraktekkannya.

 

Oleh sebab itu, artikel An Nafs, Rahasia Sang Jiwa ini sudah patut pula kita akhiri. Kita akan lanjutkan pembahasan kita dalam Artikel Yang berikutnya: ANTARA DZIKIR ataukah NAFI ISBATH.

 

SELESAI

Wassalam.

 

Bersambung..

Read Full Post »

23. SAAT HATI diisi dengan INGATAN KEPADA ALLAH.

HATI akan menjadi TENTERAM

HATI akan menjadi TENANG.

 

OTAK akan berhenti BERKOCAK.

OTAK akan diam tak BEGEJOLAK.

 

SAAT HATI MENGINGATI ALLAH.

RUH akan TERSAMBUNG dengan ALLAH.

RUH tersambung dengan ALLAH karena direkat oleh HATI YANG MENGINGAT ALLAH.

TALI BUHUL antara RUH dengan ALLAH adalah INGATAN HATI KEPADA ALLAH.

 

TANDA sambung itu, ada RIQQAH yang TURUN MENGGUYUR RUH

RIQQAH itu membuat RUH merasa dingin yang teramat dingin.

 

TANDA sambung itu, ada pula ILHAM yang memenuhi HATI.

ILHAM itu berisikan ILMU yang mencengangkan dan mengherankan.

 

HATI yang TENTERAM akan MENARIK RUH untuk menjadi TENTERAM pula.

HATI yang TENANG akan MENGANTARKAN RUH untuk menjadi TENANG pula.

 

RUH akan TENTERAM karena IA merasa tersambung kembali dengan ALLAH.

RUH akan TENANG karena IA merasa terbuhul kembali dengan ALLAH.

 

RUH yang tenteram, tenteramnya tuh seperti terasa DISINI, di dalam DADA (SUDUR)

RUH yang tenang, tenangnya tuh seperti terasa DISINI, di dalam DADA (SUDUR).

Sebenarnya rasanya bukan di Dalam DADA (SUDUR).

Tapi rasanya ada di DALAM RUH. Ya…, di DALAM RUH…

Sedang RUH berhubungan dengan KULLU JASAD, Bukan hanya dengan Dada.

 

HATI dan RUH yang sudah TENANG dan TENTERAM disebut dengan:

ISI YANG TENANG & TENTERAM

JIWA YANG TENANG & TENTERAM

AN NAFSUL MUTHMA’INNAH.

 

SUNGGUH HANYA DENGAN MENGINGAT ALLAH JIWA AKAN MENJADI TENTERAM.

SUNGGUH HANYA DENGAN MENGINGAT ALLAH JIWA AKAN MENJADI TENANG.

 

24. JIWA yang TENTERAM bisa DIDEKATKAN SEJENGKAL kepada Allah.

JIWA yang TENTERAM bisa DIDEKATKAN SEHASTA kepada Allah.

 

TEMPAT yang SEJENGKAL itu disebut BILIK KHALWAT.

TEMPAT yang SEHASTA itu juga disebut BILIK KHALWAT.

 

BILIK KHALWAT hanya COCOK untuk DIISI dengan JIWA YANG TENTERAM.

JIWA AKAN TENTERAM HANYA saat HATI MENGINGATI ALLAH (DZIKRULLAH).

 

Sebab BILIK KHALWAT adalah tempat TURUNNYA ADZKURKUM.

Sebab BILIK KHALWAT adalah tempat TURUNNYA INGATAN dari ALLAH.

Sebab BILIK KHALWAT adalah tempat TURUNNYA RIQQAH.

Sebab BILIK KHALWAT adalah tempat TURUNNYA ILHAM…

SEMUANYA itu dari ALLAH.

 

BILIK KHALWAT PAMALI untuk DIISI dengan JIWA GELISAH dan JIWA AMARAH,

JIWA yang GELISAH muncul saat HATI TIDAK MENGINGATI ALLAH.

JIWA yang AMARAH muncul saat HATI TIDAK MENGINGATI ALLAH.

 

SAAT HATI TIDAK MENGINGATI ALLAH

ALLAH akan mengutus syaitan sebagai QARIN kita.

Syaitan akan menjadi Sahabat karib kita.

Syaitan akan menghembuskan KHAYALAN dan LAMUNAN ke dalam HATI kita.

KHAYALAN lalu seperti menjadi ADA.

LAMUNAN lalu seperti menjadi NYATA.

 

25. JIWA yang TENTERAM adalah JIWA yang SIAP untuk DIPANGGIL-PANGGIL oleh ALLAH.

JIWA YANG TENTERAM adalah JIWA yang SIAP untuk MATI SEBELUM MATI.

JIWA YANG TENTERAM adalah Jiwa yang bisa menjadikan Out of Body Experience (OBE) tak lebih dari hanya sebagai BARANG MAINAN.

JIWA YANG TENTERAM adalah JIWA yang bisa memasuki pertemuan Rohani di dalam Jamaah sesama “orang-orang Allah”.

 

26. Selanjutnya…?,

Tidak ada lagi pengalaman yang perlu diperbincangkan dan disharingkan di dalam artikel ini ataupun di dalam artikel lainnya.

Karena semuanya memang sudah berbicara dalam dimensi JIWA.

DIMENSI BATHIN.

Dimensi BADAN HALUS.

DIMENSI ISI.

Dimensi HATI dan RUH.

DIMENSI YANG TAK TERLIHAT OLEH PANDANGAN MATA.

Dimensi yang BUKAN untuk DICERITA-CERITAKAN.

Dimensi yang hanya UNTUK DIALAMI dan DIRASAKAN SENDIRI REALITASNYA.

Karena Ia bukanlah DONGENGAN

Karena Ia bukanlah ALAM KHAYALAN…

Demikianlah sekelumit Rahasia Sang Jiwa (AN NAFS) yang patut kita ketahui bersama. Tentu saja banyak uraian lain yang lebih bagus dari ini. Tapi insyaallah artikel ini akan memberikan nuansa yang tersendiri bagi kita semua.

 

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: