Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2018

Slide1Slide2Slide3

Iklan

Read Full Post »

Alternatif Pemahaman Baru…

Akan tetapi syukurlah sekarang ini sudah ada ilmu baru yang lebih jelas untuk memahami kehidupan ini jika dilihat dari sisi pertunjukan perwayangan. Ilmu yang di sampaikan oleh Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff.

Ilmu ini bermula dari kepahaman bahwa Ciptaan adalah SIFAT, Dzat adalah HAKIKAT, dan Diri-Nya yang sedikit adalah MAKRIFAT. Tidak terpisah Diri-Nya yang sedikit itu dengan Diri-Nya Keseluruhan.

Tatkala Allah Swt berfirman KUN kepada sedikit Diri-Nya, maka sedikit Diri-Nya itu menjadi Makrifat bagi terciptanya Dzat yang juga akan menjadi Hakekat dari semua Ciptaan atau Sifat.

Sebenarnya sifat itu tidak ada atau tidak wujud kalau tidak ada Dzat. Dan Dzat itu sendiripun tidak akan ada atau tidak akan wujud kalau tidak ada Diri-Nya yang sedikit yang dikenai Allah Swt dengan Firman Kun.

Untuk memahami ketidakwujudan Ciptaan ini atau SIFAT maka kita hanya butuh ilmu NAFI ISBAT yang pemakainnya adalah sebagai berikut:

  1. Apabila dinafikan penzahiran ciptaan (Sifat) dan diisbatkan Dzat (Hakikat) maka dimanapun dan kemanapun kita memandang, maka kita hanya akan melihat Dzat yang meliputi.

Maka kewujudan kita ini (sifat) adalah seperti satu fatamorgana ataupun bayangan saja, yang kalau dilihat dari sudut sains disebut hologram.

Dengan mengambil analogi dari pertunjukan wayang kulit, kita dapat mengatakan bahwa:

Bayangan yang tertayang di layar putih itu adalah hasil dari gerakan-gerakan Wayang di sebalik layar putih itu yang digerakkan dan diatur oleh Ki Dalang. Bayangan itu adalah Sifat, Boneka itu adalah Dzat (Hakikat) dan Ki Dalang itu adalah Diri-Nya yang sedikit (Makrifat). Sedangkan Layar Putih tempat dimana tergelarnya pertunjukan wayang itu disebut juga sebagai Lauhul Mahfuz (LM).

  1. Dengan memahami pertunjukan wayang kulit itu, maka sebenarnya hidup kita ini adalah seperti bayangan wayang (SIFAT) saja yang tertayang di layar putih (Lauhul Mahfuz) itu, yang berasal dari pertunjukan boneka wayang (HAKEKAT) yang ada disebalik layar putih yang dimainkan oleh Ki Dalang (MAKRIFAT).

Dari sudut pertunjukan wayang kulit, maka hidup kita ini adalah ibarat si boneka kulit yang sedang bermain dengan bayang-bayangnya sendiri. Sedangkan yang memainkannya adalah Ki Dalang atau Diri-Nya yang sedikit saja. Dengan begitu, maka Allah Swt tetaplah terpelihara Kemahaan-Nya. Dia tetap menjadi Diri Yang Maha tersembunyi. Tidak ada sesiapapun yang mengetahui tentang Diri-Nya kecuali hanya Dia Sendiri. Tidak ada informasi tentang bagaimana Rupa dan Umpama dari Allah Swt. Dia tetap menjadi Maha Suci dari segala umpama dan rupa yang dibuat oleh manusia. Yang kita tahu adalah tentang sedikit Diri-Nya saja yang telah mendzahirkan sebuah pertunjukan kehidupan makhluk yang berada di dalam Lahul Mahfuz. Yang masih mungkin kita ketahui hanyalah sebatas apa-apa yang ada di dalam Lauhul Mahfuz saja. Sedangkan apa-apa yang diluar Lauhul Mahfuz tetap menjadi Maha Rahasia yang tersembunyi rapat bagi semua makhluk ciptaan-Nya.

Oleh sebab itu, bukan saja kita tidak wujud, tetapi kita juga tidak ada pilihan dan tidak ada campur tangan dalam pengurusan kehidupan kita. Kita juga tidak boleh bersuara. Kita hanya boleh diam.

Begitulah hidup kita yang oleh Imam Ghazali dikatakan bahwa: “kalau kamu kenal Tuhanmu dan kamu kenal dirimu maka kamu tahu bahwa kamu adalah tidak wujud”.

Karena tidak wujud itukah, si Luncai berkata: “Biarkan, Biarkan”.

Dan Pak Pandir berkata:

“Ada mata lihat

Ada telinga dengar

Ada mulut diam

Tepuklah tangan

Buatlah tak tahu”.

  1. Sesudah mengetahui akan kebenaran ini, maka hendaklah kita membuat kepasrahan atau penyerahan sepenuhnya kepada Takdir. Namun disamping itu,  hiduplah seperti biasa. Kalau lapar makan (nasi briyani) dan kalau lepas makan, makan pula dessert atau pencuci mulut (Durian King) dan kalau haus minum (lemon teh O panas tanpa gula). Heh, menu ini macam biasa dengar?
  1. Selain dari hidup macam biasa dan diam, Naik (NST= Naik – Serah – Tunggu) dan ROC (Relax One Corner) di pintu belakang sambil ingat Allah swt (Dzikrullah) sebanyak mungkin, dan juga menjalankan ibadah-ibadah fardhu lagi dikuatkan dengan ibadah-ibadah sunat.

Terus berhubung dengan Allah swt seperti FirmanNya,”Kau ingat Aku, Aku ingat kau.”

Duduk diam di pintu belakang jangan selalu turun naik. Bina serta mantapkan lagi Base-Camp. Jangan meminta dinaikan kedudukan kita dalam alam rohani. Terus ROC dan Dzikrullah dan pasrah serta berpuashati dengan keadaan kita sehingga Dia menaiktaraf kedudukan kita, dan memberi kita tugasan…

Kalau tidak ROC serta “act blur”, tak ada kerja (tugasan) jangan cari kerja (tugasan).

&&&&

Lalu pemahaman mana yang terbaik dan yang mau dipakai?. Itu semua tergantung kepada perjodohan ilmu. Siapa yang berjodoh dengan ilmu atau paham yang mana. Dan itu sudah dituliskan sejak Firman Kun.

Salam…

Read Full Post »

Sharing dari Mas Arya Luhur…

 

Ass. Wr. Wb

 

Mohon ijin sekedar sharing pak Deka.

Saya orang jawa yg sekedar suka wayang kulit. Saya sejak awal sudah ngerti dan membenarkan kalau lakon manusia tak ubahnya seperti lakon dalam pagelaran wayang kulit. TAPI YA ITU… NGERTI YANG SEKEDAR LEWAT BELUM MENDARAH DAGING.

 

Tak lihat dan tak angen2… mengenai wayang kulit.

Sebelum pagelaran wayang kulit digelar… yang ada cuman tanah kosong. Tapi lakon script cerita yang akan digelar sudah ada beserta siapa saja wayang yang akan berlakon yang tersimpan rapi dalam kotak. Mulai dari panggung, layar, gong, alat tabuh musik sampai sinden disiapkan dengan baik sebelum dimulai pagelaran.

 

Setelah semua siap… cerita kehidupanpun dimulai.. ada lakon Petruk Dadi Ratu… Semar Adek Gunung.. sampai cerita kehidupan yang carut marut Perang Mahabarata. Bahkan cerita bagaimana Sang Bima mencari jati diri.

 

Saya sadar siapa yang berbicara sebagai Resi Durna, siapa yang berlakon sebagai Kyai Semar, siapa yang akan memerankan sebagai Kurawa dan generasinya. Siapa yang memerankan sebagai Kawula Alit menjadi Petruk Bagong dan Gareng. Semua adalah apa kata Sang Dalang.

 

Sering kali aku terhanyut oleh jalan cerita di dalang wayang.. lupa kalau cerita, percakapan, perkelahian, iri dengki, sifat luhur yang tergelar dalam wayang adalah murni dari Sang Dalang. Bagaimana mungkin wayang bisa bergerak sendiri, bisa membuat lakon sendiri tanpa ada Sang Dalang.

 

Setelah mengikuti pelajaran takdir dari tulisan pak deka… semua semakin menjadi jelas dan gamblang… kita tidak ubannya sebagai wayang yang digerakan oleh Dalang. Tinggal bagaimana rasa kita sebagai wayang ini bisa mendarah daging.

 

Pelajaran dari menonton wayang sangat bagus sebagai perumpamaan pelajaran takdir.

 

Demikian sharing dari saya… terima kasih kepada pak deka atas tulisan2 mengenai takdir. Semoga Gusti Allah senantiasa melimpahkan Rohmat kepada pak deka.

 

Wass. Wr. Wb.

 

 

Sedikit Tambahan dari Deka:

 

Terima kasih Mas Arya Luhur.

 

Kehidupan ini memang bak seperti wayang saja. Hanya saja dalam memahami permainan Wayang dan Dalang ini ada beberapa pandangan yang berbeda satu dengan yang lainnya tentang siapa sebenarnya Sang Dalang ini. Kalau mengenai wayangnya sendiri, mungkin perbedaannya tidak banyak. Bahwa apapun yang dilakukan dan dibicarakan oleh lakon-lakon wayang, maka wayang itu sebenarnya tidak bisa apa-apa. Wayang itu hanya diam. Wayang itu hanya mati dan tidak bergerak. Semua pembicaraan, semua gerakan, dan semua perbuatan dari wayang itu adalah pembicaraan, gerakan, dan perbuatan dari Sang Dalang. Sampai disini semua orang bisa paham dengan baik.

 

Lalu siapakah Ki Dalang ini?. Ini yang agak bermasalah…

 

Kalau kita lihat lebih mendalam lagi, Ki Dalangpun sebenarnya hanyalah memainkan skenario atau jalan cerita yang sudah ditetapkan terlebih dahulu oleh Ki Pananggap, yaitu orang yang meminta Ki Dalang untuk memainkan sebuah jalan cerita wayang untuk menghibur diri Ki Penanggap sendiri atau keluarga dan orang-orang terdekat dari Ki Penanggap itu. Artinya Ki Dalang hanyalah patuh kepada aturan dan kehendak dari Sang Penanggap yang punya kehendak dan aturan dalam permainan wayang yang akan ditayangkan. Ki Dalang tidak bisa keluar dari aturan dan kehendak Ki Penanggap itu dalam menjalankan sebuah jalan cerita pada waktu tertentu.

 

Nah…,  sejak panggung perwayangan dibuka sampai dengan akhir cerita, maka Ki Penanggap sudah tidak ikut campur tangan lagi di dalam panggung cerita pewayangan itu. Karena ia sudah tahu bahwa Ki Dalang itu sudah memiliki semua kepintaran dan kuasa untuk berbuat, berbicara, bergerak, berpikir, memahami, dan sebagainya yang sangat dibutuhkannya untuk mendalang.

 

Sejak saat itu Ki Dalanglah yang berperan dan bersandiwara. Ki Dalanglah yang berbicara, berlakon, bergerak, berkelahi, dan berbagai aktifitas. Akan tetapi karena Ki Dalang hanya sendirian, maka untuk menyemarakkan panggung sandiwara itu, lalu ia menzahirkan semua yang dia lakukan itu dalam bentuk wujud yang bisa dilihat oleh panca indera, yaitu dalam bentuk berbagai rupa dan umpama yang disebut dengan karakter wayang.

 

Lalu penontonpun bisa melihat dan hanyut terbawah oleh serunya jalan cerita yang sedang di dalangkan oleh Ki Dalang. Penonton hanya dapat melihat bayangan dari gerakan wayang-wayang itu yang terpantul dilayar putih di depan mata para penonton. Seakan-akan yang bergerak, yang berbicara, dan yang berlakon adalah wayang-wayang. Ada banyak rupa dan sifat yang tertayang dilayar putih itu. Ada yang namanya Hanoman, ada Rama, Shinta, Rahwana. Ada pula Yudistira, Bima, Arjuna, dan para Pandawa lainnya, ada pula Durna, Kresna, Kurawa, dan sebagainya. Bentuk dan rupanya dibuat oleh sang dalang berbeda-beda dan berupa-rupa, agar sifat-sifat dari nama-nama diatas bisa dibedakan satu dengan yang lainnya.

 

Nah…, bagi penonton yang buta, ia melihat yang berlakon itu adalah wayang saja. Para wayanglah yang berbicara, bergerak, berperang, berdamai, dan melakukan semua aktifitas dilayar panggung itu. Hanya sebatas itu saja yang ia tahu.

 

Namun ada pula yang sudah tahu bahwa disebalik layar putih itu, yang menggerakkan wayang-wayang itu sehingga wayang itu seperti bisa berbicara dan berbuat, adalah Ki Dalang. Mereka sudah tahu itu. Akan tetapi sayangnya, analogi pertunjukan wayang ini dalam memaknai kehidupan manusia dan semua ciptaan, banyak pula yang tidak sampai tuntas memahaminya. Banyak yang hanya berhenti sampai kepada memahami peran Wayang dan Ki Dalang itu saja, sehingga kesimpulan yang mereka ambil juga tidak komprehensif atau dangkal saja.

 

Salah satu ciri-ciri dari kesimpulan yang dangkal itu adalah, bahwa dalam memaknai siapa sebenarnya Ki Dalang itu jika dilihat dalam perspektif hubungan makhluk dan Sang Pencipta, sering sekali orang keliru menyimpulkan bahwa bagi semua makhluk atau wayang, maka Sang Pencipta itu adalah Ki Dalang itu sendiri.

 

Dengan pandangan begini, maka mereka menyimpulkan bahwa yang bergerak, berlakon, berbicara, dan beraktifitas ketika semua makhluk bergerak, berlakon, berbicara, dan beraktifitas, hakekatnya adalah Allah Swt sendiri. Zahirnya adalah makhluk, sedangkan batinnya adalah AllahSwt. Akhirnya mereka tidak bisa lagi membedakan antara Allah Swt dan makhluk. Allah Swt ia sekaligus makhluk, makhluk ia sekaligus Allah Swt. Sama seperti mereka yang sudah tidak bisa membedakan lagi antara besi dengan panas pada sebatang besi yang sudah membara kemerah-merahan karena dibakar oleh bara api. Besi dan panas api itu sudah bersatu dan tidak bisa lagi dibedakan. Pahaman Inilah yang disebuat sebagai Pahaman Wahdatul Wujud.

 

Dari anggapan seperti inilah kemudian yang menimbulkan pahaman yang mengatakan bahwa seorang manusia pada hakekatnya juga adalah Allah Swt atau Tuhan yang akan disembah-sembah oleh manusia. Salah satu contohnya yang masih tersisa sampai sekarang adalah anggapan kaum Nasrani bahwa Yesus adalah Tuhan yang akan disembah-sembah oleh mereka.

 

Tentu saja dengan anggapan seperti ini, Allah swt sudah BUKAN lagi menjadi Wujud Yang serba Maha, Maha Esa, Maha Besar, Maha Tinggi, dan sebagainya. Karena bak seperti wayang, kehebatan, kepintaran, dan kekuasaan Ki Dalang hanyalah sebatas kehebatan, kepintaran, dan kekuasaan yang diperlihatkan oleh wayang-wayang itu saja. Artinya, Kehebatan, kepintaran, dan kekuasaan Allah Swt hanyalah sebatas apa-apa yang bisa diperlihatkan oleh makhluk ciptaan-Nya saja. Tentu ini tidak masuk akal.

 

Atau kalau tidak sampai begitu, ada yang mengatakan bahwa Ki Dalang itu adalah Nur Muhammad. Sedangkan wayang-wayang itu adalah ciptaan yang hanya bisa bergerak dan berbuat karena adanya Nur Muhammad yang menggerakkan dan menghidupkan semua ciptaan itu. Setelah kenal dan berjumpa dengan Nur Muhammad barulah barulah seseorang itu akan bisa mengenal kepada Allah, atau bermakrifatullah.

 

Ada pula yang mengatakan bahwa Ki Dalang ini adalah Ruh-Nya yang ditiupkan-Nya ke dalam badan manusia. Dimana Ruh-Nya yang ditiupkan-Nya ke dalam badan manusia itu adalah bagian dari Ruh-Tuhan juga. Sedangkan jasad dikatakan mereka adalah ibarat wayang, dan Allah adalah ibarat Ki Penanggap. Jadi analoginya adalah menjadi sebagai berikut, Allah sebagai Ki Penanggap, Ruh-Nya sebagai Ki Dalang, dan Jasad sebagai Wayang yang digerakkan oleh Ki Dalang atau Ruh-Nya. Kalau mereka sudah berhasil mengembalikan Ruh-Nya kepada Allah sebagai pemilik-Nya, maka mereka disebut sudah Fana.

 

Namun pandangan-pandang seperti ini tetap saja mempunyai banyak sisi kelemahan. Yaitu orang sangat mudah sekali tersilap untuk menuhankan sesama manusia, atau ciptaan lainnya, atau menuhankan diri mereka sendiri. Dan proses untuk melakukan pembersihan diri agar mereka sampai kepada tahap bermakrifatullah seperti itu sangatlah lama dan berbelit-belit sekali.

 

Bersambung ke 2/2

Read Full Post »

TIGA SKENARIO DAKWAH ISLAM

Utd Hussien Abdul Latiff:

Anakku, ingatlah akan nasihat Ayah ini untukmu dan zuriatmu di hari depan, insya-Allah:

 

Da’wah Agama Islam bisa di kumpulkan dalam 3 scenario atau kumpulan:

 

  1. Kumpulan lama –

 

Di mana dakwahnya sangat keras dan dipenuhi dengan ancaman neraka, siksa, hukuman, balasan, jihad dll.

 

Ini adalah kerana pada masa itu tiada perundangan seperti sekarang ini. Kerana  itu jenayah, maksiat, permusuhan, perkauman, perbezaan status (kedudukan) dll., menjadi norma (norm) kehidupan pada masa itu. Anak perempuan tidak digemari dan ditanam hidup-hidup, isteri dijual-beli dan manusia juga dijual beli sebagai hamba. Disamping itu, permusuhan kepada Agama Islam pun sangat hebat. Maka tidak heranlah kenapa dakwah pada masa itu sangat keras. Secara jumhur, ramai dari mereka yang tidak tahu menulis dan membaca.

 

  1. Kumpulan sekarang –

 

Menekan lebih kepada ilmu. Maka di sana-sini manusia mengejar ilmu. Ramai kita di bahagian Asia menghantar anak kita ke Negara-negara barat untuk mempelajari ilmu-ilmu yang dapat membantu masyarakat kita untuk maju mencapai peradaban yang tinggi. Dengan ilmu-ilmu ini bermacam kelengkapan moden dapat diadakan yang membantu peradaban dunia seperti internet, handphone, TV, pesawat, roket, setelit, kenderaan-kenderaan yang bermutu, institusi-institusi pelajaran tinggi, pusat-pusat penyelidikan, perkilangan (industry) yang modern lagi bermutu, perumahan-perumahan yang mempunyai kelengkapan yang baik seperti air, listrik, toilet dll., perkembangan ilmu pengobatan yang moden, dan banyak lagi kelengkapan-kelengkapan yang bermutu.

 

Disamping itu, ramai di antara kita menghantar anak-anak kita ke negeri barat untuk mempelajari ilmu-ilmu yang bermutu. Kerana itu,  Allah swt menghantar  22 juta umat Islam ke negara-negara barat untuk bukan saja menimba ilmu tetapi juga berintegerasi dengan mereka.

 

Setiap negara juga mempunyai perundangan yang mantap untuk melindung rakyat mereka serta mencegah yang mungkar.

 

Dalam zaman ini yang berjalan dengan pesat sekali adalah turunnya ilmu:

  • Makrifatullah – Manusia sekali lagi dikenalkan kepada Allah swt seperti berulang lagi peristiwa, “Alastu birabbikum”.
  • Keredhaan – Penerimaan akan Takdir keseluruhannya yang membawa kepada keamanan keseluruh dunia.
  • Alternatif Dakwah – Yang mengeratkan silaturrahim di antara agama, bangsa, negara, suku-suku, puak-puak, individu dll sehingga membawa kepada perpaduan (kesatuan) seluruh dunia.
  • Terapi Rohani (TR) – Insya-Allah, TR dapat mengatasi masalah-masalah dunia seperti dadah(nakoba), arak,. judi, jenayah, kenakalan remaja, cerai-berai, murung dll.

 

Ini semua adalah karena manusia sibuk mengejar akan kehidupan dunia sehingga mereka lupa kepada Allah swt, sehingga Allah swt melupakan mereka pula. Hanya dengan mengembalikan mereka kepada mengingati Allah swt, barulah masalah-masalah yang disebutkan tadi dapat di atasi. Oleh sebab itu sangat penting Terapi Rohani ini tersebar luas.

 

Kerana ini adalah zaman berilmu maka dakwahnya perlu bersandar kepada berbahas dan diskusi  dengan baik atas landasan hikmah, pelajaran, ilmu, pengetahuan dll.

 

  1. Kumpulan Hari Depan –

 

Inilah masanya kita sebagai Al Mahdi (Khalifah Allah swt) membawa balik syaitan-syaitan kepangkal jalan serta menyembah Allah swt, Tuhan yang satu.

 

Dalam dakwah kepada mereka kita tidak boleh menggunakan kekerasan atau ugutan (ancaman), karena seperti dikatakan, “Sejahat-jahat manusia, sebaik-baiknya jin,”

 

Kita juga tidak dapat berdakwah kepada mereka melalui bahasan dan diskusi berasaskan ilmu. Karena syaitan-syaitan tidak berperadaban dan tidak berilmu. Karena itulah Allah swt menekankan supaya kita jangan berdakwah dengan mereka secara paksa, yaitu melalui kekerasan atau berdebat atau berbahas dengan ilmu kita. Dakwah kita mestilah dengan Kasih Sayang.

 

Sehubungan dengan ini, Allah swt ada berfirman bahwa Dia akan sematkan sifat kasih sayang kepada orang-orang yang beriman. Maka apabila kita sudah mencapai perpaduan (persatuan) serta peradaban dan ketakwaan yang tinggi, Allah swt akan menganugerahkan kita  sifat kasih sayang.

 

Dengan sifat kasih sayang inilah kita dapat mengembalikan mereka kepangkal jalan serta menyembah Allah swt, Tuhan yang Satu. Dengan ini juga kita dapat membuktikan bahwa perlantikkan kita sebagai Khalifah oleh Allah swt adalah satu keputusan yang bijak. Karena kitalah yang membawa mereka kembali menyembah Allah swt. Oleh sebab itu firmanNya,”Tidak Aku jadikan jins dan manusia melainkan untuk menyembahKu,” adalah benar.

 

Yusdeka Putra:

What next yang sangat clear ayah… Alhamdulillah.

Read Full Post »

“Makrifatullah itu barulah dasar atau fondamen bagimu untuk bisa beribadah kepada-Nya tanpa mensyirikkan-Nya. Dan juga dengan makrifatullah itu kamu mulai sadar pula bahwa sebenarnya kamu adalah tidak wujud, karena kamu memang sudah dapat melihat dengan matahatimu akan kewujudan Dzat-Nya kemanapun mata kamu memandang”.

 

“Akan tetapi kamu akan sangat mudah untuk jatuh kembali ke dalam lumpur kehidupan seperti yang kamu alami dulu sebelum kamu bermakrifatullah. Begitu kamu tidak ingat kepada Allah swt, maka habislah kamu. Kamu akan turun kembali untuk bergaduh dengan Allah Swt dan juga dengan sesama manusia seperti yang kamu lakukan dulu-dulu”.

 

“Oleh sebab itu, ayah akan lanjutkan nanti bimbingan ayah kepadamu untuk menapaki tangga-tangga berikutnya dari tangga-tangga ilmu tasawuf jalan Nabi-nabi”. Pada tangga ke 3 sampai ke-7, ayah akan terangkan kepadamu dengan sejelas-jelasnya, agar kamu bisa paham dengan sepaham-pahamnya. Ayah akan sampaikan tentang:

 

  1. Lauhul Mahfuz, Kebijaksanaan-Nya = Apabila Dia firman “Kun”, plan (rencana) selama 12 milyar tahun sudah tersedia. Dia berfirman lagi bahwa semua sudah ada dalam plan sebelum ia diciptakan.

 

  1. Ujian, Pengetahuan-Nya = Disebalik Ujian (Takdir) ada ilmu, hikmah, pelajaran, keadilan, kebaikan dll. Kalau kita tidak melihat apa yang terkandung disebalik Ujian, Allah swt tidak akan datang menolong.

 

  1. Penyerahan, Kesempurnaan-Nya = Tidak satu pun Dia lupakan walau lebih kecil dari atom. Oleh sebab itu hendaklah kita kembalikan milik kepada pemilikNya.

 

  1. Keredhaan, Kebesaran-Nya = Semua bergantung kepada Allah yang Satu lagi Maha Agung. Menerima Dia bisa berbuat apa saja kepada milikNya.

 

  1. Maqam, Kedudukan kita = Sesudah kita faham dengan baik semua yang diperkatakan maka tidak akan ada masalah lagi kita dengan Allah swt:

 

  • Maka duduklah kita di Pintu Belakang (Base-Camp). Sokong keredhaan kita yang jitu ini dengan Dzikrullah dibantu dengan ibadah-ibadah sunat selain dari ibadah-ibadah fardhu. Sambil menunggu jemputan ilahi membawa kita ke kefanaan, lalu ke alam sakinah sebelum dijemput masuk. Duduklah kita di dalam alam sakinah itu sampai diberi tugasan. Setelah diberi tugasan, turunlah kita dari alam sakinah untuk menjalankan tugas.
  • Apabila kita dijemput masuk ke alam sakinah, kita sudah mendapat maqam kita. Seperti kita dilantik sebagai salah seorang calon Menteri dalam Jabatan Perdana Menteri (PM). Maka masuklah kita dalam jajaran di Jabatan PM serta berada dalam naungannya. Sesuai dengan firmanNya menjemput jiwa-jiwa yang tenteram kembali kepada-Nya dan masuklah dalam jemaah-Nya dengan rasa puas lagi diredhai.
  • Maka duduklah kita di situ bersama-sama menteri-menteri yang lain tetapi tidak ada portfolio dan di dalam naungan Perdana Menteri (PM). Karena belum ada tugasan yang diberikan oleh PM.
  • Maka apabila kita diberi portfolio (tugasan) maka keluarlah kita dari Jabatan PM dan masuklah kita kejabatan kita (tugasan) seperti menjadi Menteri Agama dalam Jabatan Agama atau menjadi Menteri menjawat lain-lain portfolio. Namun begitu kita tetap melapor terus kepada PM dan masih dalam pemantauannya.
  • Begitu juga sesudah mendapat tugasan keluarlah kita dari alam sakinah dan masuk kita kepada Maqam tugasan kita. Seperti Khidir, berjalan di muka bumi ini menjalankan (maqam) tugasannya.

 

 

Yang perlu kamu perhatikan selanjutnya adalah, urusan kamu adalah sampai di basecamp, dan selanjutnya adalah urusan Allah yang tidak bisa kamu capuri sedikitpun.

 

(Urusan kamu)

  1. Link (Ingat Allah)
  2. Rangkaian Maya (VPN), (Jalur khusus, yang tidak akan diketahui oleh orang awam).
  3. Base Camp

—————————————-

(Urusan Ilahi)

  1. Fana
  2. Alam Maya
  3. Alam Maya Sakinah
  4. Ambient Light
  5. Seterusnya

 

Kamu hanya perlu berusaha dari (a) sampai (c). Di (c) iaitu Base Camp, Syeikh Abdul Qadir Al Jailani berkata bila sudah tercapai peringkat ini (Base Camp), hendaklah kalian berpuas hati dan jangan meminta-minta dinaikkan kedudukan kalian. Teruskan Link (ingat Allah) kalian.

 

Dari (1) sampai (5), ini adalah Urusan Ilahi. Kamu tidak sedikitpun campur tangan dalam urusan ini. Di bahagian ini yang kamu terasa Dia menyambut Link kamu lalu membawamu kepada kemabukkan dan terjadi peringkat (1) hingga (5) tanpa campur tangan kamu.

 

Sungguh perjalanan tawawuf jalan nabi-Nabi ini adalah sebuah proses yang sangat berguna untuk dipakai di hari depan…

 

Sampai disini maka selesailah artikel “Bedanya Si Buta dengan Si Celik” ini ditulis. Sebuah jalan cerita yang menggambarkan sebuah perjalanan hidup seseorang, yang boleh jadi dilalui pula oleh banyak orang, untuk menemukan kembali cahaya makrifatullah di dalam hidupnya.

SELESAI

Wassalamualaikum…

Read Full Post »

Ia lalu mencoba menggambarkan keadaanya dimasa lalu itu dalam sebuah bagan yang sederhana, yaitu:

 

SEBELUM MAKRIFAT

 

 

Lalu ayahnya melanjutkan keterangannya tentang bagan Tasawuf jalan Nabi-Nabi itu.

 

“Pada tangga kedua, saat mana kamu sudah mengenal Allah, maka barulah matamu celik atau melihat. Matahatimu sudah mulai tajam melihat bahwa kemanapun matamu memandang, maka matahatimu itu sudah dapat melihat bahwa disebalik apa-apa yang kamu lihat dengan matamu itu, sebenarnya ada Dzat-Nya yang menjadi Hakekat dari semua ciptaan itu. Dan ingatanmu pun sudah sangat tajam pula menembus hakekat itu untuk selalu mengingat kepada Makrifat, yaitu mengingat Allah swt sebagai pemilik dari Hakekat itu”.

 

“Dengan mengenal Allah Swt, artinya kamu sudah bermakrifatullah, maka mulailah kamu bisa beribadah kepada-Nya dengan tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu rupa dan umpama seperti apapun juga. Artinya, tidak ada satu rupa dan umpama seperti apapun juga yang menghalangimu dengan Allah Swt. Tidak ada berhala apapun antara kamu dengan Allah Swt, sehingga dengan begitu terasa betullah bagimu kedekatanmu dengan Allah swt. Lalu kamu sudah mulai bisa pula untuk selalu mengingat Allah swt di dalam ibadah-ibadahmu, diluar ibadahmu, dan dalam kehidupanmu sehari-hari”.

 

“Yang tidak kamu sadari adalah, bahwa sekarang kamu sebenarnya sudah paham pula dengan kekata Imam Ghazali bahwa:

 

  • “Orang yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya niscaya sudah pasti ia mengenal bahwa ia tiada mempunyai wujud bagi dirinya”. Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk. 7, 427 (1981).

 

  • Dimana, pernyataan Imam Al Ghazali ini ternyata disokong pula oleh ayat Al Qur’an sbb.: “Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?”, QS Mariam (19): 67”.

 

Kamu sudah paham  bahwa yang wujud sebenarnya adalah Dzat-Nya yang sedang bersenda gurau. Allah Swt Sendirilah yang bergurau senda dengan Dzat-Nya. Tidak ada yang lain.

 

“Lalu apakah sampai pada taraf makrifatullah ini sudah cukup?, kan itu yang ingin kamu ketahui?, tanya ayahnya balik bertanya kepadanya.

 

“Betul ayah, apakah sampai pada tangga makrifatullah itu sudah cukup bagi ananda?, tanyanya seperti sedang berguman. Karena ia memang ingin sekali mengetahui kelanjutan dari ilmu yang diajarkan oleh ayahnya kepadanya.

 

Bersambung

 

Read Full Post »

Demikianlah ayahnya menuntunnya mulai dari pengenalan kembali kepada Cahaya Makrifatullah, kemudian setelah itu ia hanya tinggal secara istiqamah mengingat Allah, baik di dalam shalat, di luar shalat, saat berdiri, saat duduk, saat berbaring, saat bekerja, saat berjalan, saat menyetir kendaraan. Dan juga memperbenahi ibadah-ibadahnya baik yang wajib maupun yang sunnah-sunnah.

 

Dengan begitu pahamlah ia dengan apa yang dulu pernah dikatakan oleh Imam Ghazali, bahwa Awaluddin Makrifatullah, awal agama adalah dengan mengenal Allah. Karena memang segala peribadatan itu ternyata memerlukan fondasi yang sangat kuat dan kokoh agar ibadah itu bisa ia lakukan dengan sebaik-baiknya. Ibadah yang tidak mensyirikkan Allah Swt dengan sesuatu apapun juga. Pengenalan kepada Allah itulah fondasinya. Dan diatas fondasi itulah baru ia bisa melakukan ibadah-ibadah dengan sangat mengasyikkan.

 

“Apakah selesai sampai disitu ayah”, tanyanya suatu ketika kepada ayahnya.

 

Ayahnya hanya tersenyum sambil memperlihatkan sebuah bagan kepadanya:

 

Tangga TAsawuf Jalan Nabi-Nabi

 

“Inilah bagan atau tangga-tangga dari tasawuf jalan Nabi-nabi wahai anakku. Kamu lihatlah bahwa kamu baru saja menapakkan kakimu di tangga kedua”.

 

“Sebelumnya kamu adalah seperti orang yang buta wahai anakku. Engkau beribadah dalam keadaan kamu belum lagi mengenal Allah yang kamu sembah, sehingga tanpa kamu sadari kamu seringkali tergelincir kepada ibadah-ibadah yang mensyirikkan Allah swt. Dan yang paling parah yang kamu lakukan adalah kamu Menyoal Allah atas berbagai kejadian dan peristiwa yang kamu alami ataupun yang dialami oleh orang lain yang kamu ketahui. Itu karena kamu merasa wujud di hadapan Allah swt. Karena kamu merasa wujud maka kamu menyoal dan mempertanyakan Allah Swt atas berbagai hal. Seakan-akan Allah Swt menganiaya kamu, Allah Swt tidak adil kepadamu. Sehingga kamu sering bertanya: “kenapa begini ya Allah…?, seharusnya kan begini ya Allah, andaikan begini ya Allah…”, dan sebagainya”.

 

“Begitu juga kamu dengan sesama manusia seperti berada di dalam gelimang lumpur kehidupan yang sangat kotor dan bau. Perbedaan pandangan, perbedaan suku dan bangsa, apalagi perbedaan agama hampir selalu membuatmu ingin saling melaknat, saling bertengkar, saling berkelahi, bahkan ingin saling berbunuh-bunuhan satu sama lainnya. Kamu seperti haus dengan darah untuk saling berperang dan saling menghancurkan. Kamu ingin orang yang berbeda denganmu disiksa, dilaknat, dan dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka jahanam. Begitu sadisnya kamu kepada sesama umat manusia saat kamu sedang buta itu”.

 

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: