Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2019

(oleh Utd Hussien Bin Abdul Latiff)

Berkayuh sampan
Di Laut Hidup,
Yang di penuhi oleh pulau-pulau,
Setiap satu hanya
Ada satu penghuni
Mereka hidup bergaya tersirat,
Tersirat oleh lumrah-lumrah,
Yang memenuhi
Kepulauan itu
Termasuk segala ruang dan tempat
Lumrah-lumrah yang sedia ada
Sebelum mereka ditempatkan disitu
Mereka mengikut Lumrah yang ada
Tiada pilihan, tiada tukaran.

Namun aku tidak di kepulauan
Kerana sudah aku pulangkan
Ku pulangkan pulau ke Empunya
Maka berbekal sampan ini
Berkayulah aku di Laut Hidup
Menyerah penuh kepadaNya
Yang Empunya Laut dan pulau

Maka berjagalah Aku bila berkayuh
Tersinggah jangan kepulauan
Lalu terperangkap
Lumrah-lumrah
Yang sukar dapat dilepaskan.
Maka sentiasalah
Aku berawas
Sambil mengayuh
Di Laut Hidup
Yang luas terbentang.

Dalam aku mengayuh Laut
Terpandangku
Ramai sampan
Sepertiku,
Sepertiku, mereka pulangkan pulau
Kepada yang Empunya
Lalu bersampan
Di Laut Hidup.

Apabila ku dekati
Aku terperanjat
Melihat Rasulullah
Sahabat-sahabat,
Orang beriman
Berada di sampan sampan itu
Berkayuh di Laut Hidup sepertiku.

Maka turunlah badai yang mengerunkan
Lalu memukul sampan-sampan
Yang ada,
Yang di hadapan
Sampan Rasulullah
Namun ku lihat
ramai lagi sampan
berhampiran baginda
Rupanya sampan nabi-nabi dahulu

Sesudah itu badai memukul pula
Sampan-sampan semua sahabat
Namun badai tidak sekuat dulu yang
Memukuli sampan Rasulullah dan para Nabi.
Sesudah itu badai datang kepada kami
Namun tidak sekuat dialami
Para sahabat nabi

Beginilah ragam di Laut Hidup
Sentiasa diuji
kekentalan Kita
Masih mahu
memegang ke taliNya serta berkata,”Cukup Allah swt bagiku!”

Bagaimana badai memukul
serta hidup menderita
namun ku terasa
puas lagi redha
kerana dapat bergantung hanya kepadaNya
juga terlepas aku
dari lumrah-lumrah
Pulau Hidup
Yang sangat
merbahaya lagi
menghayalkan.

Maka ku kayuh
Akan sampanku
Di Laut Hidup
Berpegang teguh kepada satu:
“Hidup dan matiku hanya untukNya!”

Maka kayuhku akan sampanku
Di Laut Hidup
Serah sepenuh
Kepada yang Empunya
Hidup dan matiku
DitentukanNya.

Apabila ku lihat
Ke belakangku
Ramai Sampan
Hampiriku
Dikayuh oleh anak-anak muda
Keadaan cemas kelihatan bingung
Seperti Rusa masuk kampung

Maka mereka mendekati sampanku lalu berkata,”Apa yang harus kami buat Pak Tua bersampan di Laut Hidup?”

Maka aku menjawab, “Teruskan mendayung di Laut Hidup berpaut hanya kepada yang Empunya walaupun dipukul badai yang kuat. Namun jangan sekali-kali kamu dekati atau Naik ke pantai Pulau Hidup, kerana akan kamu dijerat oleh lumrah-lumrah yang memenuhi segala ruang dan tempat Pulau itu.”

Lalu sambung aku kepada mereka,”Ingatlah anak muda duduklah kamu dalam sampanmu dan jangan sekali-kali kamu turun ke Pulau Hidup, kerana kamu sudah dahulu pulangkan Pulau kamu kepada yang Empunya.”

Sambungku lagi,”Ketahuilah anak muda Pulau Hidup itulah pentas Empunya dan siapa ada di Pulau itu adalah senimanNya. Lumrah-lumrah itu adalah skripNya.”

Lalu aku pun berkayuh meninggalkan mereka sambil  berpesan,”Ingat anak muda kalau kamu turun ke Pulau Hidup maka akan kamu dapati bahawa kamu tiada pilihan melainkan berlakon mengikut skrip Empunya.,,, Selamat Tinggal anak muda!”

Semasa mendayung sampanku, terlihatku peristiwa yang aneh,
Seorang tua di dalam sampannya yang sedikit jauh dari pantai Pulau Hidup, memanggil-manggil akan kenalannya yang asyik bergaya mengikut lumrah-lumrah di Pulau itu.
Setelah lama dan kepenatan ia menunggu dan memanggil akan temannya lalu dibocorkan kesemua Sampan yang berada di pantai itu.
Apabila temannya sudah puas bermain dengan lumrah Hidup lalu mahu menaiki  Sampan untuk bersama rakannya yang menunggunya di Sampan maka alangkah terperanjatnya melihat semua Sampan di Pantai itu sudah dibocorkan. Justeru itu berkata ia kepada sahabat yang di Sampan,”kerana sudah kesemua sampan-sampan ini dibocorkan maka tidaklah dapat aku mengikutimu!”
Maka sahabatnya yang berada di Sampan berkata,” Di sinilah sempadan perpisahan Kita, selamat Tinggal Musa!”.

 

Note:

Lumrah = unwritten rules or norms,

Contoh Lumrah,

Lapar + makan

Ngantuk + tidur

Haus + minum

Sedih + nangis

Kerusi + duduk

Gembira + ketawa

 

Lumrah adalah sesuatu yg Kita buat tanpa disedari. Sesuatu kebiasaan atau kelaziman

 

 

 

 

 

 

Iklan

Read Full Post »

Oleh sahabat saya “BO”

 

“Innalloha yab’atsu lihadzihil ummati ala ro’si kulli miati sannatin man yujaddidu laha diinaha”. (HR. Abu Daud no. 3740).

 

Sesungguhnya pada setiap penghujung seratus tahun Allah SWT akan mengutus untuk umat ini orang yang akan memperbaharui Agama mereka.

 

Al-Tajdid menurut bahasa maknanya berkisar pada “Al-Ihyau”: menghidupkan, “Al-Ba’tsu”: membangkitkan, “Al-Iadatu”: mengembalikan.

 

Makna-makna ini memberikan gambaran tentang 3 unsur, yaitu:

Wujudu kauniyah: keberadaan sesuatu,

Bala aw Durus: hancur atau hilang, kemudian

Al-Ihyau aw Al-Iadatu: dihidupkan dan atau dikembalikan.

 

Kata Tajdid merupakan Bahasa Arab yang berkata dasar dari akar kata: jaddada – yujaddidu – tajdiidan, yang artinya memperbaharui.

 

Kata ini kemudian menjadi jargon dalam gerakan pembaharuan Islam, agar terlepas dari Bid’ah, Takhayul, dan Khurafat serta hal-hal yang bersifat Syirik.

 

Dalam Tajdid itu bukan saja berbicara tentang Pembaharuan, tapi juga tentang Pemurnian.

 

Pembaharuan dengan melakukan kreasi dan inovasi Metodologi berupa konsep yang memudahkan dalam memahami ajaran Islam yang sebenarnya, berupa pemahaman Wahyu Allah yang tertuang dalam Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah SAW (Hadits).

 

Pemurnian dengan mengembalikan pemahaman ajaran Islam sebagaimana aslinya dari ajaran Allah dan RasulNya yang masih murni dari pengaruh Bid’ah, Takhayul, Khurafat dan Syirik.

 

Dikatakan Pembaharuan sebagai sebuah Metodologi yang baru bukan berarti benar-benar baru, dimungkinkan bisa jadi hal tersebut sudah pernah ada namun karena keterbatasan referensi dan pemahaman kita hal tersebut terdengar baru.

 

Begitu luar biasa plan Allah dengan “menurunkan” hamba-hambaNya baik yang dalam kurun Satu Abad sekali, maupun yang dalam kurun Satu Milenium sekali dll. Baik yang Allah nyatakan maupun yang Allah rahasiakan ataupun yang Allah bukakan hanya bagi sebagian kecil orang saja. (Wallahu a’lam).

 

Alhamdulillah saya pernah bertemu dengan seorang hamba Allah sebagaimana tertuang dalam Testimoni saya di Yamas, bahwa Beliau memperoleh “mandat” untuk menyampaikan pemahaman Ma’rifatullah dan Dzikrullah berdasarkan Ilham yang Beliau terima, untuk kurun waktu Satu Abad sekali untuk seluruh dunia hanya satu orang.

 

Beliau biidzinillah pernah berbicara kepada saya bahwa sepeninggal Beliau nanti akan ada orang (Hamba Allah) yang akan menyampaikan pemahaman seperti Beliau namun lebih jelas dan terperinci. Beliau pun berbicara InsyaAllah kamu (maksudnya saya “BO”) akan Allah pertemukan dengan Beliau itu.

 

Alhamdulillah proses waktu Allah memperjalankan saya untuk bertemu dengan Beliau Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff sebagai Mujaddid yang Allah turunkan dalam kurun waktu Satu Milenium atau Seribu tahun sekali untuk seluruh umat di dunia dan hanya satu orang.

 

Dibalik persamaan dari kedua Beliau hamba pilihan Allah tersebut ada sisi perbedaan yang membedakan antara Mujaddid kurun waktu Satu Abad dengan Mujaddid kurun waktu Satu Milenium.

 

Beliau yang dalam kurun waktu Satu Abad itu pada awalnya sekitar tahun 60-an membimbing ajaran pokok selama lebih kurang Satu Bulan nonstop, lalu sekitar tahun 70-an menjadi Satu Minggu, lalu sekitar 80-an menjadi hanya Satu hari saja s/d menjelang Beliau wafat. (Jujur saya belum / tidak tau persis kurikulum yang diringkas tersebut terdiri dari apa saja).

 

Berdasarkan keterbatasan pemahaman saya, diantara perbedaan itu diantaranya, yaitu:

 

  1. Beliau yang satu abad itu membimbing pemahaman Ma’rifatullah itu secara simpel, yaitu intinya mengimani Allah sebagai Yang laisa kamislihi syaiun.

 

Imam Al-Ghozali menyatakan bahwa standar minimal keimanan hamba Allah yang diselamatkan, yaitu mengimani/ menyakini Allah sebagai Yang laisa kamislihi syaiun.

 

Sedangkan Beliau hamba Allah sang Mujaddid dalam kurun waktu satu Milenium yaitu Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff memberikan Syarahan Ma’rifatullah dengan mengenalkan kita dengan Allah dan menumbuhkan keimanan bahwa Dia laisa kamislihi syaiun. Namun terkait penciptaan kita dikenalkan ajaran Ma’rifatullahl dengan “konsep Dzatiyah”.

 

Husnudzhon saya bila sebelumnya Ma’rifatullah dan Iman Billah dalam standar minimal keimanan, maka Beliau Arif Billah mengenalkan Allah dalam standar maksimal keimanan. (Wallahu a’lam).

 

  1. Beliau yang dalam kurun Satu Abad mengajarkan Dzikrullah, menerangkan hanya sebatas praktek Amaliyahnya persis sebagaimana yang diajarkan Beliau yang dalam kurun waktu Satu Milenium, namun penjelasan dalil secara simpel.

 

Sedangkan Beliau Arif Billah kurun waktu satu Milenium menjelaskannya dengan dalil-dalil Al-Qur’an Hadits yang lebih detil / secara terperinci.

 

  1. Beliau yang kurun waktu Satu Abad, hanya sebatas menyampaikan yang benar saja dari Ajaran (Ilmu) Allah dan RasulNya.

 

Sementara Beliau yang kurun waktu Satu Milenium, selain menyampaikan yang benar juga meluruskan yang salah/ keliru.

 

Diantara ajaran yang diluruskan, yaitu :

  • Ajaran Thoriqoh (Tasawuf jalan Wali-wali);
  • Ajaran Robithoh;
  • Ajaran Nur Muhammad;
  • Ajaran Wahdatul Wujud termasuk didalamnya ajaran Hulul, Ittihad, Manunggaling Kawulo Gusti, dll.

 

Beruntung sekali kita Allah anugerah kan dengan keberadaan Beliau Sang Mujaddid yang merupakan Pembaharu Ajaran Islam dan mengembalikan pemurnian ajaran Islam (atau Bang Yusdeka senang dengan istilah “Restorasi”), yang menyampaikan ajaran Islam secara Kaffah (komprehensif).

 

Wallahu a’lam.

 

 

Tambahan Penjelasan oleh Sahabat saya “MZ”

 

Yang saya fahami dari Ustadz ialah mujaddid yang 100 tahun 1 orang ialah mujaddid yang membaharukan akan syariat.

 

Kalau mujaddid yang membaharukan dalam tasawuf ialah 1000 tahun 1 orang

 

Dari massa Imam Al Ghazali hingga ke Ustadz Hussien BA Latiff, Ustadzlah satu satu nya mujaddid yang bertaraf Arifbillah yang mengajarkan tasawuf jalan nabi nabi. Hanya 1 orang saja, yaitu Ustadz 1000 tahun 1 orang. Lain dari itu bukanlah mujaddid dalam tasawuf.

 

Di antara masa Imam Al Ghazali dan masa Ustadz Hussien BA Latiff, semua tentang ketuhanan (tasawuf) tidak bisa di jadikan aqidah. Hanya beliaulah yang mempunyai susunan ilmu tentang makrifatullah, sehingga bisa mengajar.

 

Ustadz memberi contoh: seperti huruf A sampai Z ustadz tahu susunan nya: abcdefj dst, sehingga Beliau bisa mengajar dan mempunyai mandat untuk mengajar. Sedangkan yang lain tidak mempunyai susunan nya. Mereka bisa faham ini A, ini D, ini H dan lain lain, tetapi mereka tidak tahu susunannya yang benar, sehingga mereka tidak bisa bisa mengajar. Dan juga orang-orang yang membaca kitab-kitab mereka malah bingung dan bisa tersesat

 

 

Tambahan Penjelasan oleh Sahabat saya “AT”

 

Apa yang disampaikan Bang “MZ” sesuai dengan apa yang disampaikan Ustadz.

Memang banyak orang yang makrifat namun tidak kesemuanya mempunyai kemampuan untuk menyampaikan/mengajarkan dalam artian bertaraf Arifbillah.

 

Ibarat ABJAD, banyak orang tahu ini A, ini D, ini Z, ini B tapi mereka tidak mengenali susunanya ABCDE dst.

 

Ustadz pun sebelum menyampaikan/mengajar juga sudah faham ini H, ini J, ini N namun belum memahami susunannya. Barulah setelah dikasih mandat oleh Rosulullah Muhammad SAW lengkap dengan kunci dan susunannya, Ustadz baru mampu menyampaikan/mengajar.

 

Namun sekali lagi yang perlu ditegaskan disini, Ustadz sering menekankan bahwasannya beliau hanya pemegang kunci makrifatullah.

Artinya untuk hal2 lain berkenaan syariah, fikh dsb di luar makrifatullah, masing-masing ada pemegang kunci/ahlinya.

 

 

Tambahan Penjelasan oleh sababat saya “BO”

 

Tulisan saya itu untuk beberapa hal sudah saya konfirmasi dengan Beliau Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff secara langsung pada saat pertemuan (Syarahan) di Kaliurang- Yogyakarta.

 

Saya pun ada mendapatkan penjelasan, bahwa secara umum Mujaddid yang kurun waktu Satu Abad lebih didominasi pada Mujaddid dalam bidang Syariat.

 

Bila masih ada yang belum pas saya serahkan kepada Allah Yang Maha memegang (memiliki) kunci semua Ilmu. (Astaghfirullah. Wallahu alam).

 

Inti dari tulisan saya, saya ingin menggugah para sahabat tentang betapa keberuntungan yang sangat besar terkait keberadaan Beliau, oleh karena itu manfaatkanlah peluang dan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, namun jangan pula disalah artikan.

 

Jangan hanya berhenti pada sifat, dalam hal ini:

 

Sifat: Beliau Arif Billah

Hakikat: Peranan Dzatnya

Ma’rifat: Allah itu sendiri.

 

Terkait dengan hal itu ada cerita sejarah yang cukup menarik, yaitu pada saat Nabi Muhammad Rasulullah SAW wafat.

 

Sahabat Rasulullah SAW yang bernama Umar bin Khattab RA tidak mempercayainya sekalipun Beliau membuka sendiri kain penutup wajah Rasulullah SAW.

 

Sahabat Umar RA berkata: ada orang dari kaum munafik yang mengira bahwa Rasulullah SAW telah wafat. Demi Allah sebenarnya tidak meninggal, melainkan dia pergi kepada Robbnya seperti Musa bin Imran….

 

Sungguh Rasulullah akan kembali seperti Musa juga….

 

Sahabat Abu Bakar As-Siddik RA menenangkan Umar bin Khatab RA: Sabar, sabarlah Umar, dengarkanlah….

 

Namun Umar bin Khatab RA masih tetap tidak mau tenang, sehingga sahabat Abu Bakar RA:

Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah Abu Bakar RA berkata: Saudara-saudara barang siapa yang mau menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah meninggal dunia, tetapi barang siapa yang mau menyembah Allah, maka Allah selalu hidup dan tak akan pernah mati.

 

Kemudian Abu Bakar RA membacakan firman Allah pada surat Ali Imron ayat 144:

 

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (Murtad), maka dia tidak dapat mendatangkan mudhorot kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

 

Setelah itu Umar bin Khattab RA tersungkur ke tanah, beliau akhirnya tersadar bahwa Nabi Muhammad Rasulullah SAW telah wafat.

 

 

Tambahan Penjelasan oleh “YDK”

 

Beliau Ustsdz Hussien BA Latiff, beberapa kali berkata bahwa: “Beliau hanyalah KALAM (tempat keluarnya Ilmu), sedangkan yang mengajar adalah ILMU itu sendiri. Itulah sebabnya banyak orang yang bisa bermakrifatullah tanpa kehadiran dan bertemu dengan Beliau. Banyak sekali yang sudah bermakrifatullah melalui Chanel Youtube “farhan4u2c”, dan “yamasindonesia”.

 

Akan tetapi, fakta bahwa adalah sebuah kesempatan emas untuk bisa bertemu dengan Beliau, walau hanya sekali saja, adalah satu hal yang lain lagi yang sangat sayang untuk dilewatkan. “Believe it ot not…”.

 

Oleh sebab itu:

 

ALHAMDULILLAH nya InsyaAllah kita bisa bertemu bagi yang belum pernah bertemu dan bisa bersilaturahmi lagi bagi yang sudah pernah bertemu dengan Beliau Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff, pada:

Tanggal: 26 s/d 29 April 2019.

Tempat: Hotel Asoka Luxury di Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung- Indonesia.

Acara: Seminar Makrifatullah, Era Globasisasi dan Ibadah, Keredhaan, dan Arah Tujuan Ummah.

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: