Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2017

Salam Perpisahan

Dengan selesainya Artikel “IQRA, Membuka Cakrawala, Membangun Peradaban”, maka SELESAI pulalah TUGAS saya di Blog ini.

Saya mohon pamit untuk tidak mengisi Blog ini lagi dalam waktu yang LAMA. Semua komentar juga bebas masuk dan tidak akan dimoderasi.

Saya akan duduk Relax One Corner (ROC) sambil membina Base Camp. Saya akan membenahi kembali ibadah-ibadah saya yang selama ini banyak tercecer dan terabaikan…

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabaraakatuh…

Cilegon, 18 Januari 2017

Read Full Post »

Dengan begitu, maka tidak sedikitpun ruang bagi mereka untuk mengangkat harkat dan martabat diri mereka. Karena mereka hanya sekedar DIKENAI oleh rencana yang telah ditetapkan oleh Allah di Lauhul Mahfuz. Begitu yang tertera di Lauhul Mahfuz, maka begitu pulalah yang akan mereka alami dan lakukan di kehidupan sehari-hari di alam dunia.

Tidak ada peran apa-apa yang dapat mereka ciptakan dan lakukan sendiri yang terlepas dari Lauhul Mahfuz itu. Karena mereka sadar bahwa pada hakekatnya mereka memang tidak wujud. Yang wujud adalah Dzat-Nya yang sedang berlakonkan dan berbajukan sifat-sifat.

Mereka akan ridha terhadap apapun juga yang akan menimpa mereka. Tidak ada lagi tanya KENAPA yang terlontar dari mulut mereka. Tidak ada pula kata SEHARUSNYA yang akan mereka lontarkan ketika mereka melihat dan mengalami suatu masalah. Mereka tidak memikirkan dan menetapkan hal-hal yang memang tidak perlu mereka pikirkan dan tetapkan. Karena memang mereka tidak punya hak untuk memikirkan dan menetapkan sesuatu yang sudah ditetapkan direncanakan oleh Allah.

Terhadap apapun yang terjadi, mereka hanya menjadi TAKJUB akan kehebatan rencana yang telah Allah buat dan tetapkan. Mereka hanya melihat Lauhul Mahfuz yang sedang BERJALAN menerusi Waktu. Di dalam setiap kejadian itu ada pula berita, ada pelajaran, ada hikmah yang ditujukan untuk mereka sebagai bahan untuk BELAJAR tentang kehidupan.

MATA mereka melihat dimana-mana ada KALAM ALLAH, ada WADAH tempat keluarnya Bahasa yang disebut Bahasa Kalam. Sebuah bahasa yang sangat jelas, sejelas terangnya cahaya matahari, sejelas dinginnya gumpalan es, sejelas panas api yang membakar, sejelas goncangan gempa yang mengayun-ayun, sejelas tsunami yang bergulung-gulung, sejelas darah yang mengalir di dalam pembuluh darah, sejelas nafas yang bergerak keluar masuk paru-paru. Sejelas alam yang terkembang dan tergelar berikut dengan segala tingkah dan kurenahnya.

Mereka membaca semua bahasa Kalam itu dimanapun mereka berada dan kapanpun bahasa kalam itu terpancar keluar dari mulut-mulut Kalam Allah yang sangat banyak dan beragam jumlahnya. Mereka membacanya dengan sangat antusias. Karena memang bahasa Kalam itu ditujukan Allah untuk mereka. Untuk MANUSIA. Bukan untuk hewan, bukan untuk tumbuhan, dan bahkan bukan untuk syaitan.

Namun begitu, ketika MATA mereka melihat Kalam-Kalam Allah itu bertingkah dan berkurenah, MATA HATI mereka juga sudah sangat tajam untuk melihat bahwa dibalik semua Kalam Allah itu, yang SEBENARNYA, yang SESUNGGUHNYA, hanya ada Dzat-Nya yang sedang menjalankan PERAN. Sang Pemeran Tunggal. Bahwa Kalam-kalam itu pada hakekatnya tidaklah Wujud. Karena yang wujud adalah Sang Pemeran Tunggal itu. Dzat-Nya. Dzat yang berasal dari SEDIKIT DIRI-NYA yang telah disabda-Nya dengan Firman Kun.

Sedangkah HATI (MINDA) mereka berisikan hanya satu Penghuni saja, yaitu INGATAN kepada ALLAH (Dzikrullah). Hati mereka hanya akan mereka isi dengan ingatan kepada Allah sahaja.

JIWA (RUH + HATI) merekapun menjadi TENTERAM karena mereka sudah tahu bahwa Allah lah yang sedang bermain-main, bersenda gurau, bercanda ria dengan Dzat-Nya sendiri. Dengan sedikit Diri-Nya yang telah dia tetapkan menjadi Dzat Wajibul Wujud bagi tergelarnya semua pagelaran Gurau Senda Ilahi itu.

Karena mereka sudah paham bahwa Allah lah yang sedang bergurau senda dengan sedikit Diri-Nya Sendiri, tentulah Dia tidak akan Dzalim. Dia mau dzalim kepada siapa?. Dia sedang bermain-main dengan sedikit Diri-Nya sendiri kok?. Kalau Allah Dzalim berarti ada sesuatu selain dari Diri-Nya yang wujud yang didzalimi-Nya. Ini kan tidak. Yang wujud kan Hanya Allah. Yang Dia permain-mainkan hanya Sedikit Diri-Nya pula. Tentu Dia tidak Dzalim…

Selanjutnya, bila sedang TIDAK ADA TUGASAN, hari-hari mereka akan mereka isi dengan ibadah-ibadah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Atau paling tidak mereka akan memperkemaskan diri mereka dalam beribadah kepada Allah, selain yang wajib-wajib, seperti misalnya:

1. Banyak Duduk di Base Camp JANGAN TURUN (JANGAN BUKA MATA).
2. Rutin Shalat Tahajud 20 Rakaat dan 3 witir.
3. Rutin Puasa selama 5-6 hari dalam seminggu, kecuali dua Hari Raya dan 3 hari Tasyrik.
4. TURUN dari Base Camp hanya untuk Membaca Al Qur’an / Nazaman, atau untuk menjalankan tugas-tugas sebagai suami / istri, bapak / ibu, dan tugasan untuk mencari nafkah bagi keluarga.
5. Tiada kerja jangan cari kerja (misalnya kerja tambahan nak ingin mengajar makrifat dan sebagainya).
6. Relax One Corner dan Senyum Makrifat.
7. Takut dengan sebenar-benar takut kepada Allah.
8. Berpegang teguh kepada Allah swt.

Berpuashatilah kamu dengan apa yang ada padamu sehingga datang takdir Allah meninggikan taraf kamu. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 64 (1990).

Sampai disini, maka berakhirlah Artikel IQRA ini dalam rupa bahasa Tulisan.

Billahi taufiq wal hidayah….
Wassalamualaikum warah matullahi wabarakatuh.

Cilegon, 18 Januari 2017…

SELESAI

Read Full Post »

OTORITAS yang mereka punyai itu telah membawa serta pula POWER yang pas yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah mereka itu. Sehingga begitu mereka menggerakkan tangan dan kaki mereka untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah mereka itu, mereka akan SELALU berucap: “Bismillahirrahmanirrahim, dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang”.

Dan mereka sangat sadar bahwa gerakan tangan dan kaki mereka itupun terjadi mengikuti rencana gerakan tangan dan kaki seperti yang sudah tertulis di dalam Lauhul Mahfuz. Tidak lebih dan tidak kurang. Setiap kali mereka melihat HASIL atau SOLUSI dari permasalahan-permasalahan mereka itu, maka mengalirlah ucapan-ucapan puja dan pujian mereka kepada Allah:

• Subhanallah….
• Alhamdulillah…
• Laa ilaha illallah…
• Allahu Akbar…
• Laa haula wala quwwata illa billah…
• Astagfirullahal adzhiem…,
• Dan ungkapan Thayyibah sebagainya.

Begitulah seyogyanya orang-orang yang sudah Makrifatullah akan bersikap. Ketika dia sakit, tanpa ada keraguan lagi, mereka segera saja dia akan berucap: INSYA ALLAH, saya sudah sembuh saat ini”. Dan selanjutnya mereka hanya akan menjadi penyaksi saja bagaimana penyakit mereka itu akan hilang dari tubuh mereka. Apakah untuk sembuh itu mereka terlebih dahulu harus masuk rumah sakit atau tidak, bagi mereka itu sudah tidak ada masalah lagi. Mereka hanya melihat semuanya sebagai sebuah hukum sebab dan akibat saja. Hukum yang yang saling berhubungan satu hal dengan yang lainnya, yang menyebabkan penyakit mereka itu sembuh atau terurai dean sendirinya.

Apapun yang mereka alami, berikut dengan proses solusi dari apa-apa yang mereka alami itu, mereka melihatnya sebagai Lauhul Mahfuz yang berjalan. Tidak akan terjadi sesuatu kalau itu tidak tertulis di lauhul Mahfuz. Dengan begitu, hilanglah segala kecongkakan dan kesombongan dari hati mereka. Mereka akan selalu MENDAHULUKAN ALLAH.

Tetapi, walaupun begitu, mereka tidak pernah menjadikan Allah sebagai Yang TERTUDUH yang telah menyebabkan masalah-masalah mereka itu terjadi. Ketika mereka DIKENAI untuk melakukan sebuah perbuatan jahat dan buruk, mereka tidak akan pernah berkata: “ini sudah takdir saya, Allah sudah menetapkan saya berbuat buruk dan jahat seperti ini”. Mereka tidak akan pernah berkata begitu. TIDAK AKAN. Karena kalau mereka berkata begitu, berarti mereka telah menjadi WUJUD. Padahal mereka sudah sadar betul dan sudah paham betul bahwa sebenarnya mereka adalah TIDAK WUJUD.

Walaupun AKIBAT dari perbuatan jahat dan buruk yang mereka lakukan itu telah menyebabkan kesengsaraan baginya, mereka kehilangan harga diri, mereka direndahkan dan disakiti oleh orang lain, air mata mereka jatuh berderai-derai, NAMUN mulut mereka tetap DIAM. Mereka juga tidak merungut dan tidak ngedumel di dalam hati. Karena memang sebagai tanda-tanda ketidakwujudan itu, salah satunya adalah dengan cara diam dan tidak berkata-kata.

Begitu pulalah halnya dengan Do’a dan Usaha yang banyak digembar gemborkan orang sebagai sarana untuk untuk menguncangkan Arasy Tuhan agar Nasib kita bisa berubah menjadi Lebih Baik. Ungkapan-ungkapan sebagai berikut sangat kental sekali kita dengar dalam keseharian kita:

• Berdo’alah, jangan diam saja. Karena do’a itu akan mengubah keadaanmu.
• Berdo’alah karena Allah sudah berjanji untuk mengabulkan do’a hambanya yang berdo’a kepada-Nya.
• Lazimkanlah kamu berdzikir Tasbih, Tahmid, Tahlil agar kamu menjadi orang yang BERUNTUNG.
• Perbanyaklah sedekah agar rezki kamu ditambah oleh Allah dengan berlipat ganda.
• Perbanyaklah membaca Surat Waqiah, agar kamu mudah rezki.
• Ubahlah Nasibmu dengan mengubah Usahamu.

Bagi orang-orang yang buta, tuli, dan tidak paham, do’a dan usaha mereka itulah yang MENDAHULUI, barulah setelah itu Allah akan MERESPON Do’a dan Usaha mereka itu dengan cara Allah sendiri. Seakan-akan setiap saat Allah adalah pihak yang PASIF menunggu Doa dan Usaha mereka. Begitu ada doa dan usaha dari mereka, maka setelah itu barulah Allah merespon do’a itu untuk mengabulkannya sebagian atau seluruhnya, sehingga nasib mereka yang berdoa dan berusaha itu berubah.

Akan tetapi bagi orang-orang yang sudah berpandangan yang sangat tajam dalam mengenal hakekat dan makrifat, mereka akan selalu MENDAHULUKAN ALLAH. Bahwa do’a dan usaha yang mereka lakukan semata-mata hanyalah sebagai pendzahiran atas apa-apa yang telah tertulis di Lauhul Mahfuz dan telah direncanakan oleh Allah sejak Firman Kun. Tidak ada yang baru dari do’a dan usaha mereka itu. Dan tidak ada pula yang baru dari hasil dari do’a dan usaha mereka itu.

Mereka sudah sangat paham bahwa doa dan usaha mereka itu dengan hasil yang didapatkan dari do’a dan usaha mereka itu, semuanya berada dalam satu paket yang tak terpisahkan. Bahkan agar mereka bisa berdo’a dan berusaha itu, mereka paham pula bahwa Allah telah menetapkan segala persyaratan untuk terlaksananya do’a dan usaha mereka itu. Misalnya mereka masih bisa bernafas, jantung mereka masih berdenyut, mereka tidak lumpuh.

Dan yang paling penting lagi adalah bahwa mereka masih DIILHAMKAN atau masih diingatkan untuk berdo’a dan berusaha pada saat-saat tertentu. Sebab barang siapa yang sudah dituliskan bahwa mereka tidak akan berdoa dan tidak akan berusaha, maka mereka juga tidak akan diilhamkan dan dingatkan untuk berdo’a dan berusaha itu.

Untuk terkabulnya do’a mereka itu, dan agar usaha mereka itu bisa menghasilkan sesuatu, mereka juga paham bahwa Allah sudah mengatur pula segala prasyarat yang dibutuhkan untuk itu. Misalnya, pada saat itu tidak terjadi gempa bumi, tidak terjadi bencana alam, matahari masih bersinar dengan teduh, hujan masih turun membasahi bumi, dan berbagai prasyarat lainnya. Dan kesemuanya itu sudah ditetapkan sejak firman Kun.

Bersambung ke Bagian Terakhir…

Read Full Post »

Oleh sebab itu mari kita lihat dari mana awal dari semuanya itu datang dari pandangan kacamata Makrifatullah. Arief Billah Ustadz Hj. Hussien BA Latiff telah membukakan Rahasia itu dalam beberapa syarahan Beliau.

Koncinya adalah, kita TIDAK BISA MENDAHULUI ALLAH.

Apapun juga yang kita lakukan dan ucapkan, apakah itu kalimat-kalimat motivasi seperti diatas, pikiran positive, ketenangan pikiran, dan sebagainya, semuanya itu DIDAHULUI oleh TELAH tertulisnya apa-apa yang kita lakukan itu di Lauhul Mahfuz sejak Firman Kun. Tanpa ada rencana yang sudah tertulis itu, maka kita tidak akan pernah bisa melakukannya.

Apa-apa yang terucap dari mulut kita, maka seperti itu pulalah yang sudah tertulis di Lauhul Mahfuz. Waktu hanya menjadi unsur pemantik (trigger) saja agar ucapan kita itu keluar dari mulut kita. Sebelum waktunya, ucapan itu masih dalam bentuk rencana. Begitu hari H, jam J, detik D berdentang, maka ucapan itupun mengalir dari mulut kita tanpa ada distorsi sedikitpun dari rencana yang sudah ditetapkan itu. Semuanya begitu. Tidak ada kecuali.

Hanya saja ada beda antara orang yang sudah tahu dan yang sudah makrifat kepada Allah dengan orang-orang yang masih buta dan tuli dalam memahami proses ini.

Bagi orang-orang yang masih buta dan tuli, orang-orang yang masih tidak tahu, maka pikiran-pikiran positive yang di lakukan itu, atau ucapan-ucapan motivasi yang di sampaikan itu, semuanya mereka kira adalah sebagai hasil dari buah pikiran mereka sendiri. Artinya pikiran positive itu mereka anggap bahwa mereka sendirilah yang menciptakannya.

“Sayalah yang berpikiran positive…”,
“Sayalah yang berperilaku positive…”,
“Sayalah yang bertindak positive…”,
“Sayalah yang telah mengubah usaha saya kearah yang positive…”,
“Sehingga wajar saja saya juga mendapatkan hal-hal yang positive dari apa-apa yang saya lakukan itu”, umbar mereka dengan gagahnya. Angkuh sekali.

Ketika mereka menginginkan sesuatu, mereka akan berkata: “aku sudah mendapatkan keinginanku itu pada saat ini. Semesta sudah mengabulkannya”.

Ketika mereka sakit, mereka cukup berkata: “aku sudah sembuh dari sakitku pada saat ini”. Kalau mereka beragama, mereka akan menambahnya pula dengan kata-kata: “Tuhan sudah mengabulkannya”.

Ketika mereka bermasalah, mereka akan berkata: “aku sudah tahu jawabannya, aku sudah tahu solusinya, aku sudah bisa menyelesaikannya. Tuhan sudah membantuku untuk menyelesaikannya”.

Ketika ada orang yang lain yang sakit, lalu mereka berkata: “aku akan mendo’akanmu agar Allah kembali menyehatkanmu seperti sediakala”.

Lihatlah betapa angkuhnya ucapan-ucapan mereka yang seperti itu. Seakan-akan Allah adalah suruhan mereka. Mereka seakan-akan bisa MENDAHULUI ALLAH.

Kalau memang apa-apa yang mereka ucapkan itu benar-benar terkabul, maka disitulah nikmatnya mereka mengaku dan membesarkan diri mereka. “aku do’akan mereka, aku motivasi mereka, aku rubah mind set mereka menjadi postive, sehingga “Alhamdulillah” Allah mengabulkankannya. Pakai kata alhamdulillah pula mereka untuk menambah getar keakuan mereka itu.

Akan tetapi, kalau orang-orang yang sudah CELIK, orang-orang yang sudah tidak buta dan tidak tuli, orang-orang yang sudah tahu, orang-orang yang sudah bermakrifat kepada Allah, mereka akan berkata lain. Mereka sudah paham dari mana datangnya pikiran positive itu. Mereka juga sudah paham kenapa mereka bisa mengucapkan kalimat-kalimat motivasi yang bernuansa positive itu dengan lancar. Dan mereka juga sudah tahu, kenapa pikiran mereka yang positive itu bisa terkabul dalam waktu yang tidak begitu lama. Ada pengkabulan dan pendzahiran dari pikiran dan kata-kata positive yang mereka ucapkan itu.

Mari kita lihat prosesnya.

Ketika mereka punya masalah, dengan takjub mereka melihat bahwa masalah itu sudah tertulis di Lauhul Mahfuz sejak Firman Kun. Dengan penuh rasa takjub pula, mereka segera saja bergegas untuk berkata: “INSYA ALLAH, dengan Izin dan Perkenan Allah, masalah saya sudah selesai saat ini”.

Saat mengucapkan kalimat ini, mereka sudah menyadari dengan penuh bahwa kalimat yang mereka ucapkan itupun sudah tertulis pula di Lauhul Mahfuz sejak Firman Kun, persis dengan apa yang mereka ucapkan itu.

Selanjutnya, karena sudah tertulis, dan mereka diberikan pula OTORITAS untuk mengucapkannya, maka tentu saja solusi dan jawaban-jawaban dari masalah mereka itu juga sudah tertulis pula di Lauhul Mahfuz. Waktulah yang mendzahirkan masalah mereka itu, waktu jugalah yang mendzahirkan pikiran positive dan ungkapan-ungkapan mereka yang bernuansa postitive itu, dan waktu pulalah yang mendzahirkan solusi-solusi dari permasahan mereka itu.

Cara selesainya masalah mereka itu bisa pula mereka lihat dengan sangat takjub. Masalah mereka itu bisa selesai dengan jalan mereka dipertemukan dengan jawaban yang sangat jitu dari permasalahn mereka itu. Atau bisa pula masalah-masalah mereka itu cair dan longgar dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Seakan-akan cair dengan sendirinya.

Mereka bisa melihat dengan sangat tajam bahwa masalah yang mereka hadapi itu semata-mata mereka hanyalah dikenai oleh masalah itu. Karena memang masalah itu sudah tertulis harus mengenai mereka pad waktu yang sudah ditentukan.

Begitu juga pikiran positive atau ucapan-ucapan positive yang mereka ucapkan itupun mereka juga sudah tahu bahwa pikiran dan mulut mereka hanya sekedar sebagai alat untuk untuk memikirkan dan mengucapkan hal-hal yang positive itu saja. Mereka hanya TERKENA sebuah rencana yang sudah ditetapkan.

Begitu mereka mendzahirkan pikiran dan ucapan-ucapan positiv itu, maka saat itu mereka merasa seperti telah diberikan KUASA atau OTORITAS oleh Allah untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang menimpa diri mereka itu. Akan tetapi, walaupun mereka ada kuasa itu, ucapan mereka yang terucap dari mulut mereka tetap saja ucapan-ucapan yang MENDAHULUKAN Allah dengan ungkapan INSYA ALLAH. Ucapan mereka SELALU diawali dengan INSYAALLAH. Dengan berkat Ijin dan Perkenan Allah…, maka ini dan itu sudah terjadi.

Bersambung…

Read Full Post »

Oleh sebab itu muncul pulalah teknik-teknik yang bertujuan untuk membunuh keinginan yang katanya berasal dari hawa nafsu kita itu. Caranya adalah dengan menenangkan pikiran kita. Membunuh atau menjinakkan pikiran-pikiran yang ada di dalam benak kita. Menjinakkan “Monkey Mind”.

Sehingga muncul pula ungkapan-ungkapan motivasi sebagai berikut:

• Tenangkanlah pikiranmu, maka hidupmu akan tenang, masalahmu akan hilang, hidupmu akan sehat”.
• Lenyapkanlah keinginanmu, sebab kalau keinginanmu sudah lenyap, zero, maka keinginan Allah lah yang akan terlaksana.

Teknik yang paling populer untuk menjinakkan dan menenangkan pikiran ini adalah dengan cara MEDITASI, yang tingkatannya ada beberapa macam. Misalnya:

1. Mengamati satu objek atau berkonsentrasi pada satu titik secara terus menerus,
2. Mengamati berbagai objek pikir yang silih berganti datang dan pergi dari pikiran kita dalam waktu yang lama,
3. Dan yang paling mudah adalah dengan mengamati dan mengikuti gerak dari sesuatu yang bisa kita rasakan gerakannya dalam waktu yang agak lama.

Salah satu titik yang paling sering dipakai untuk berkonsentrasi adalah ujung hidung. Dengan mata terbuka ataupun tertutup, kita bisa berkonsetrasi ke ujung hidung tersebut dalam waktu yang lama. Karena pikiran kita hanya berisikan satu titik saja, maka secara otomatis pikiran-pikiran yang lainnya akan hilang, sehingga memunculkan efek tenang kepada ruh kita yang ada di dalam dada kita.

Karena berkonsentrasi pada satu titik seperti titik di ujung hidung ini sangat sulit untuk bertahan lama, karena pikiran itu memang senangnya bergerak, maka keinginan pikiran itu bisa kita penuhi dengan mengamati saja kemana pikiran kita bergerak. Kita hanya mengamati saja pikiran kita itu bergerak dari satu objek pikir kepada objek pikir yang lain. Sampai pada suatu saat, tidak ada lagi objek pikir yang bisa diikuti oleh pikiran kita, sehingga pikiran kita itu menjadi kosong begitu saja. Karena pikiran kita sudah kosong, maka ruh yang berpusat di dalam dada kitapun akan tenang begitu saja.

Konsentrasi dengan cara mengamati pikiran ini pun sangat sulit dan bisa memakan waktu yang berhari-hari. Makanya banyak pula orang yang melakukan konsentrasi dengan mengamati gerak dari nafasnya. Sehingga pada akhirnya pikirannya berhenti untuk berpikir.

Akitifitas meditasi seperti ini, apakah mau ditambah dengan mantra-mantra atau tidak, hasilnya tidak akan banyak berbeda. Tapi tenangnya tetap ada, dan pengaruh positive-nya juga tetap ada.

Tapi belum pernah ada yang membahas dari mana datangnya pikiran positive itu, dari mana munculnya NeuroPalsticity itu, dan dari mana munculnya keinginan dan proses menjadi tenang karena kita melakukan meditasi-meditasi itu.

Bersambung.

Read Full Post »

Ilmu Tentang Pikiran Positive.

Sekarang marilah kita membahas lebih dalam lagi tentang sebuah ilmu yang sering disebut-sebut orang sebagai Ilmu tentang Pikiran Positive.

Banyak trainers dan choachers masa kini yang berkata-kata untuk memberikan motivasi untuk keberhasilan kita:

• Berpikir positive adalah kunci untuk Sukses.
• Berpikirlah yang positive, maka yang baik-baik akan segera datang kepadamu.
• Apa yang kami pikirkan akan datang balik kepadamu.
• People see that thinking positive and having a positive attitude can play a large role in their life. Positive thinking can be very powerful and by putting it to work in your life; you can reap the positive benefits.
• Your mind is a powerful thing. When you fill it with positive thoughts, your life will start to change.

Makanya bermunculan berbagai kalimat-kalimat motivasi yang sangat menggugah perasaan seperti:

• Sukses adalah HAK-KU.
• Aku bisa…
• Aku hebat…
• Aku bisa mengubah dunia…
• Dan sebagainya.

Seakan-akan dengan hanya berpikiran positive dan ucapan-ucapan penuh motivasi seperti itu, maka selesailah pulalah masalah-masalah yang menimpa kita. Dan selanjutkanya kita hanya menunggu semesta mengatur hasil dari apa-apa yang kita pikirkan itu untuk terwujud.

Kita juga sudah melihat sebelumnya bagaimana berbagai terapis menggunakan pula pikiran yang positive ini untuk menyembuhan penyakit, mendatangkan rezki, mendapatkan pekerjaan dan jabatan, dan sebagainya. Pokoknya top deh.

Ilmu mengatur pikiran positive ini pulalah yang menjadi dasar dari The Law of Atraction yang sempat sangat populer ditengah-tengah masyarakat beberapa waktu yang lalu. Sebab banyak sekali orang yang bersaksi bahwa ketika dia berpikir tentang sesuatu, maka sesuatu itupun berhasil didapatkannya tidak beberapa lama kemudian.

Misalnya, ada seseorang yang ingin memiliki sebuah mobil, lalu mereka memakai teknik the Law of Atraction untuk mendapatkannya. Mereka membayangkan mobilnya. Mereka tulis dan gambarkan keinginan mereka itu. Mereka meyakinkan diri mereka bahwa mereka SUDAH memiliki mobil itu, lalu keyakinan itu mereka naikkan keangkasa raya dengan keyakinan bahwa semesta akan merespon dan mendukung keinginan mereka itu dengan cara-cara yang tak terduga. Dan entah kenapa, memang banyak yang berhasil mendapatkan impian mereka itu.

Makanya pada setiap awal tahun ada orang yang sangat getol membikin resolusi tentang apa-apa yang mereka inginkan sampai pada ahir tahun nanti. Seakan-akan dengan resolusi yang mereka buat itu mereka sudah meraih apa-apa yang mereka inginkan itu.

Apalagi kalau kita melihat perkembangan berbagai ilmu saat ini yang diberikan oleh orang-orang terkenal, seperti Ilmu: terapi tanpa batas, motivasi, keyakinan, ketegasan, impian, vibrasi dan quark, mandiri dan berani tanpa batas, energi dan ketiadaan, spiritualias universal, dan lain-lain sebagainya. Semua ilmu itu paling tidak telah memberikan dampak yang sangat positive bagi orang-orang yang memraktekkannya.

Dalam bidang kesehatanpun, sekarang kita mengenal istilah “NeuroPlasticity” yang menyatakan bahwa kita dapat mempengaruhi sel-sel neuron di dalam otak kita untuk melakukan penyembuhan sendiri terhadap berbagai penyakit yang ada di dalam tubuh kita. Caranya hanya dengan mengatakan:

• aku sudah sembuh…,
• aku sudah sehat…,
• aku sudah pulih dari sakitku…,
• dan sebagainya”.

Dan banyak kita yang terkagum-kagum dengan hasilnya. Banyak sekali muncul testimoni atau kesaksian yang mengatakan akan kebenaran dari pernyataan-pernyataan diatas. Hampir 100% berhasil.

Yang bingung adalah umat Islam. Sebagian besar umat islam berada dalam kegamangan kalau berbicara tentang ilmu berpikiran positive ini. Mau ikut mengatakan hal-hal yang sama seperti itu, kita takut dikatakan sombong. Mau tidak ikut, kok ilmu seperti ini sangat menarik sekali dan ada pula bukti-buktinya yang terhampar di depan mata kita. Bagaimana ini?.

Apalagi kalau dikatakan pula bahwa BERDO’APUN ada kesan bahwa kita sedang memerintah-merintah Allah untuk mengabulkan apa-apa yang kita inginkan. Seakan-akan apa yang kita do’akan itu semuanya adalah keinginan-keinginan kita sendiri. Sebab ada pula orang yang menakuti-nakuti kita bahwa keinginan-keinginan kita itu adalah berasal dari HAWA NAFSU kita sendiri. Sedangkan Allah, katanya, juga punya Keingian Sendiri. Lalu keinginan kita itu akan berhadap-hadapan dengan keinginan Allah. Dan yang menang pastilah keinginan Allah, begitulah katanya.

Bersambung

 

Read Full Post »

Ketika seseorang dijadikan sebagai KALAM oleh Allah untuk menyampaikan suatu Ilmu, maka ia akan diberikan KEDUDUKAN oleh Allah sesuai dengan Ilmu yang akan disampaikannya itu.

Seorang yang diberi tugas oleh Allah sebagai KALAM-NYA untuk menyampaikan Ilmu berhitung, membaca, dan menulis, maka kedudukannya disebut sebagai GURU terhadap anak muridnya. Begitu juga dengan Kalam-kalam Allah yang lain.

Dengan begitu dapatlah dikatakan bahwa setiap orang yang bekerja pada suatu pekerjaan, profesi, ataupun keahlian, sebenarnya dia adalah KALAM-KALAM Allah yang sedang bertugas untuk menjadi alat atau sarana bagi turunnya ILMU dari Lauhul Mahfuz sesuai dengan pekerjaan, profesi, ataupun keahlian dari Kalam-kalam itu.

Jadi, seorang dokter, jaksa, hakim, polisi, insinyur, tukang kebun, sopir, dan profesi-profesi lainnya, sebenarnya mereka sama saja. Yaitu mereka hanya sekedar KALAM-KALAM Allah saja, sebagai tempat untuk turunnya ILMU dari Lauhul Mahfuz berupa Ilmu Kesehatan, ilmu keadilan, ilmu rekayasa, ilmu keamanan, ilmu kebersihan, ilmu mengendarai mobil, dan ilmu-ilmu lainnya, yang bisa dipakai pula oleh orang lain yang belum tahu untuk sarana belajar.

Selama seseorang masih mempunyai tugasan menjadi KALAM Allah sebagai alat untuk turunnya Ilmu-ilmu tertentu dari Lauhul Mahfuz kepada orang-orang lain, maka selama itu pulalah ILHAM itu akan turun ke dalam mindanya dengan sangat cepat. Ilham itu akan mengingatkannya tentang apa-apa yang harus disampaikannya, apa yang harus ditulisnya, apa yang harus digambarnya, apa yang harus dibuatnya sesuai dengan tugasannya itu.

Bahkan pencuri dan koruptorpun sebenarnya adalah kalam-kalam Allah juga untuk mendzahirkan peran-peran yang berdasarkan kepada ilmu yang bersifat kefasikan. Makanya ilham yang turun kepada pemeran kefasikan itupun adalah Ilham tentang kefasikan. Begitu ilham tentang kefasikan itu turun kepada kalam-kalam itu, maka kalam-kalam itupun tidak bisa menolak dan menghindar dari peran kefasikan itu. Mereka akan melakukan peran kefasikan itu dengan sangat pas dan bersungguh-sungguh.

Oleh sebab itu, barang siapa yang sudah ditetapkan oleh Allah di dalam Lauhul Mahfuz untuk bisa membaca dan mempelajari lebih banyak kalam-kalam Allah dari berbagai sumber, maka diapun akan mendapatkan ILMU yang lebih banyak pula daripada orang-orang yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk menjadi orang-orang yang tidak mempunyai terlalu banyak ilmu.

Kalau seseorang sudah dituliskan di dalam Lauhul Mahfuz untuk mempunyai suatu ILMU, maka Ilmu itu akan sampai kepada orang itu dengan cara-cara dan jalan yang kadangkala seperti tidak terduga-duga. Ilmu itu sendirilah yang akan mengejar orang-orang yang berjodoh dengannya. Dan Ilmu itu akan turun secara-berulang-ulang dalam bentuk ILHAM ataupun melalui perantara Kalam-kalam Allah yang lainnya, sampai orang itu bisa mengerti dan paham betul dengan ilmu itu. Setelah itu diapun akan menjadi Kalam pula bagi menyebarnya ilmu tersebut kepada kalam-kalam yang lainnya. Begitulah seterusnya…

Akan tetapi kalau di dalam Lauhul Mahfuz sudah tertulis pula bahwa seseorang tidak berjodoh dengan sebuah ilmu, maka walaupun ilmu sudah terpapar begitu gamblang dihadapan matanya, sudah berulang-ulang pula disampaikan ke telinganya, namun dia tetap TIDAK bergeming sedikitpun untuk menerimanya. Matanya seperti buta, telinganya seperti tuli, pikirannya seperti kosong begitu saja dari ilmu tersebut. Sehingga diapun menjadi Kalam bagi orang lain sebagai contoh tentang bagaimana jadinya kalau seseorang tidak berjodoh dengan sebuah ilmu.

Lebih lanjut lagi, ILMU itu juga adalah sebuah ciptaan yang juga hidup. Pada awalnya Ia tersimpan rapi di dalam Lauhul Mahfuz. Begitu ia sudah harus terdzahir, maka ia pun turun berupa ILHAM kepada Kalam-kalam yang akan menyuarakan dan akan membukakan rahasia-rahasianya kehadapan KHALAYAK ramai. Dengan berbekal ilmu itulah kemudian terjadi perubahan PERADABAN pada sekelompok orang sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Sebab tanpa sebuah Ilmu, maka tidak akan mungkin terjadi proses perubahan peradaban pada suatu bangsa kearah yang lebih baik dan yang lebih mudah.

Walaupun kalam atau orang yang menyampaikan ilmu itu untuk pertama kalinya sudah tiada, namun ilmu itu tetap akan bergerak menemukan kalam-kalam baru untuk meneruskan tongkat estafet ilmu itu ke generasi berikutnya. Kalau di dalam Luhul mahfuz sudah tertulis pula bahwa ilmu itu akan berkembang kearah yang lebih baik, maka pada zaman kalam-kalam berikutnya pastilah terdzahir ilmu yang lebih baik pula dari ilmu yang sebelumnya. Selalu begitu.

Jadi tidak ada seorangpun yang bisa disebut sebagai pencipta dari sebuah ilmu. Dan tidak ada pula orang yang bisa menyebut dirinya sebagi founder, atau penemu, atau bahkan PEMILIK dari sebuah ilmu, atau sistem, atau tata cara untuk melakukan sesuatu. Sebab ilmu, sistem, tata cara itu sudah ada dan sudah tercipta sejak firman Kun pertama kali di sabda oleh Allah. Sejak itu, ia sudah tersimpan rapi di dalam Lauhul Mahfuz untuk menunggu pendzahirannya mengikuti waktu yang sudah ditentukan. Orang yang lidahnya, atau tangannya menjadi tempat keluarnya ilmu itu tidak lebih dari hanyalah berperan sebagai Kalam Allah saja.

Salah satu Kalam Allah yang berisikan ilmu yang sangat hebat adalah Al Qur’an. Ia terdzahir dari Lauhul Mahfuz ke alam manusia melalui Kalam Allah yang lainnya, yaitu melalui lidah Rasulullah Muhammad SAW. Dan Rasulullah SAW pun mendapatkannya melalui Kalam Allah yang lainnya pula, yaitu melalui Malakat Jibril.

Dan sampai sekarang, Al Qur’an itu adalah salah satu Kalam Allah yang paling banyak tersebar di permukaan bumi dari zaman ke zaman. Karena ia memuat ILMU yang paling dibutuhkan oleh umat manusia, yaitu ilmu kehidupan. Kehidupan antara semua ciptaan dengan Tuhannya, yaitu Allah Swt.

Sungguh, barang siapa yang banyak berinteraksi dengan Al Qur’an, berarti dia telah berinteraksi dengan sebuah sumber ilmu yang di dalamnya tidak akan ditemukan sedikitpun kemudharatan. Allahu Akbar….

Bersambung…

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: