Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2016

 

Setelah Samiri, distorsi ajaran Nabi Ibrahim berikutnya terjadi pada bangsa Yahudi yang sebelumnya juga mengamalkan ajaran Nabi Musa yang terkumpul dalam Kitab Perjanjian Lama. Yahudi itu sendiri bisa berarti orang yang bertaubat, atau kembali ke jalan yang benar, dan bisa pula berarti bangsa yang berasal dari ketururan Yahuda. Dia salah seorang anak dari nabi Ya’qub.

Dalam perkembangannya, agama Yahudi, yang tadinya juga adalah agama yang monoteisme, berubah menjadi agama yang meyakini bahwa Allah memiliki anak, yaitu Uzair (Ezra).

Artinya : “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putera Allah”. Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At Taubah : 30).

Sekitar 600 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa AS, muncullah Sidharta Gautama. Dia sudah dituliskan pula bahwa dia akan bertugas untuk memperbaiki distorsi yang sudah terjadi dari ajaran Nabi Ibrahim AS yang dipraktekkan oleh orang-orang Hindu. Akan tetapi tugas dia ternyata hanya lebih banyak ditujukan untuk memperbaiki kerohanian umat di zamannya saja. Saat itu orangpun mulai memilah antara kehidupan jasmani dan kehidupan rohani. Kehidupan jasmani dianggap mereka hanya akan membawa orang untuk mengejar-ngejar kemewahan duniawi. Orang-orang akan berebut mengejar kemewahan duniawi itu sehingga seringkali pertumpahan darah antar sesama umat manusiapun terjadi.

Sidharta Gautama, yang sebenarnya adalah anak seorang Raja, malah sering meninggalkan kemewahan kehidupan Istana. Dia dengan sengaja menyengsarakan dirinya sampai kebatas yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang biasa. Dia seringkali duduk menyepi berlama-lama ditempat-tempat yang sunyi untuk melakukan meditasi. Dia meninggalkan kehidupan keduniaan dan hanya fokus kepada mengosongkan pikirannya dari berbagai hal yang berkenaan dengan kehidupan keduniaan itu.

Sampai pada suatu saat, dibawah sebuah pohon yang dikabarkan bernaman Bodhy Satwa, dia berhasil mendapatkan pencerahan. Minda atau hatinya bercahaya. Hatinya berubah jadi lembut dan penuh kasih sayang. Mereka tidak mengejar harta, takhta dan wanita. Mereka lebih banyak hidup dalam keprihatinan. Tidak menyakiti makhuk lain apalagi sampai membunuhnya. Dan sejak itupun dia mulai mempunyai banyak pengikut.

Setelah Sidharta Gautama wafat, terjadi pulalah pengkultusan yang sangat berlebihan kepadanya. Dirinya mulai dianggap sebagai Tuhan yang akan dijadikan pengikutnya sebagai objek sesembahan. Pengikutnyapun mulai membuat patung dirinya seperti juga dulu Samiri membuat patung lembu dari emas. Dari sinilah kemudian muncul ajaran baru yang terdistorsi dari ajaran Nabi Ibrahim. Ajaran itu kemuddian berkembang sampai sekarang dengan nama ajaran Budha atau Budhisme.

Alasan untuk membuat patung Budha itupun tentu saja mudah ditebak. Bahwa untuk mendapatkan hati yang bercahaya, lembut dan penuh kasih sayang seperti yang dulu didapatkan oleh Sidharta Gautama itu alangkah sulitnya. Itu membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi. Oleh sebab itu merekapun menciptakan objek antara sebagai sarana mereka untuk menghentikan pikiran mereka. Objek itu haruslah sebuah objek yang sangat mereka kultuskan. Sehingga dengan memandang dan berkonsentrasi kepada objek itu, pikiran merekapun bisa menjadi tenang dan tidak bergolak lagi. Sehingga dari keadaan inilah banyak pula orang yang beragama Budha mendapatkan minda yang bercahaya, serta hati yang lembut dan penuh kasih sayang.

Jadi pengakuan mereka akan sama saja dengan pengakuan pengikut Samiri bahwa mereka bukan menyembah Patung Budha. Tetapi patung Budha itu hanyalah sebagai alat bantu mereka saja untuk berhenti dari memikirkan berbagai macam hal, terutama saat mereka beribadah atau bermeditasi.

Dalam perkembangannya, baik di dalam agama Hindu dan Budha itu sendiri, maupun di dalam ajaran-ajaran lainnya yang dasar-dasarnya diambil dari agama Hindu dan Budha, kemudian berkembang pula berbagai objek pikir untuk menghentikan pikiran ini. Misalnya muncul tata cara pengolahan cakra-cakra yang diyakini mereka adalah sebagai pusat-pusat energi yang ada di dalam tubuh manusia. Dengan menatap dan berkonsentrasi kepada cakra-cakra itu, maka pusat energi itu akan menjadi aktif, sehingga energi yang muncul itu dapat mereka gunakan untuk berbagai hal dan keperluan. Salah satu pecahan agama Budha yang banyak berkembang adalah ajaran Taoisme yang banyak dianut oleh orang-orang di dataran Cina.

Sampai saatnya ke zaman Nabi Isa as terjadi pula hal yang sama dengan apa yang terjadi di zaman Nabi-Nabi terdahulu. Ajaran Nabi Isa as, yang pada awalnya juga adalah penerus ajaran Nabi Ibrahim, menjadi terdistorsi pula ditangan penerus-penerus Beliau. Setelah kewafatan Beliau, puncak distorsi yang mereka buat adalah dengan menjadikan Isa as sebagai anak Tuhan. Dan bahkan menjadikan Beliau sebagai Tuhan itu sendiri. Salah satu Tuhan dari Tuhan yang tiga. Sebuah konsep yang kemudian dikenal sebagai konsep Trinitas, yang juga sangat sulit untuk dimengerti oleh umat Nasrani sendiri. Sehingga sampai sekarang Agama nasranipun terpecah belah menjadi empat sekte besar, yaitu Kristiani, Katolik, Anglikan, dan Protestan.

Bersambung

Read Full Post »

Sebelum Nabi Ibrahim sudah ada 5 orang Nabi lain yang di utus Allah, yaitu Nabi Adam as, Idris as, Nuh as. Hud as, dan Shaleh as. Akan tetapi di zaman Nabi-Nabi yang awal itu belum begitu kentara adanya distorsi terhadap pengenalan terhadap Allah. Yang terjadi saat itu hanyalah masalah kepatuhan dan masalah ketidakpatuhan kepada Allah saja. Jadi belum tercatat di dalam Al Qur’an tentang adanya pemahaman yang melenceng tentang pengenalan kepada Allah.

Begitu juga di zaman Nabi Ibrahim as, walaupun saat itu sudah ada para penyembah patung berhala, termasuk ayah Beliau sendiri, namun sejarah pendistorsian pertama yang berkelanjutan dari ajaran agama Hanif yang dibawa oleh Nabi-Nabi tersebut, termasuk Nabi Ibrahim as, boleh dikatakan mulai terjadi di zaman Nabi Musa. Karena Nabi Ibahim as sendiri, sebelum Beliau mendakwahkan ajaran agama Hanif itu, Beliau juga mengalami proses yang sangat fenomenal untuk bisa kembali mengenal Allah (makrifatullah).

Pada awalnya, Beliau sempat mengira bahwa Allah yang harus Beliau sembah adalah bintang, bulan, dan matahari. Akan tetapi akhirnya Beliau sampai juga pada pengenalan kepada Allah yang sebenarnya. Bahwa Allah yang sebenarnya adalah Allah yang tidak sama dengan bintang, dengan bulan dan dengan matahari itu. Allah yang tidak sama dengan apa-pun juga. Allah yang tiada rupa dan tiada umpama. Laisa kamitslihi syai’un.

Sepeninggal Nabi Ibrahim As, pengenalan Beliau terhadap Allah yang Laisa kamitslihi syai’un ini kemudian diteruskan oleh Nabi-Nabi yang lainnya. Ada Nabi Ismail as, Luth as,…, sampai kepada Nabi Musa as. Dan di zaman Nabi Musa as inilah baru sejarah mencatat adanya pendistorsian ajaran Nabi Ibrahim as oleh salah seorang pengikut Nabi Musa as yang bernama SAMIRI bersama beberapa orang temannya.

Samiri dan teman-temannya itu nampaknya sangat kesulitan dalam memahami Allah yang tidak serupa dan tidak seumpama itu. Karena dia ingin melihat, merasakan, dan membayangkan bagaimana rupa dan umpama Allah. Sesuatu hal yang wajar saja sebenarnya yang mereka inginkan itu. Bahkan sekarangpun banyak juga orang yang ingin membayangkan rupa dan dan umpama Allah seperti yang diinginkan oleh Samiri dan teman-temannya dahulu kala.

Hal pertama yang mereka lakukan adalah dengan membuat patung lembu dari emas. Sebenarnya Samiri dan pengikutnya itu masih percaya kepada Tuhan Yang Esa seperti yang diajarkan oleh Nabi Musa, sebagai pelanjut tradisi Nabi-Nabi sebelumnya. Akan tetapi dalam menyembah Tuhan Yang Esa itu mereka merasa sangat kesulitan. Karena Tuhan yang ingin mereka sembah itu tidak ada rupa dan tidak ada umpama. Oleh sebab itu, kata mereka, agar mereka bisa berkonsentrasi dalam menyembah Tuhan, maka merekapun membuat sebuah patung emas dalam bentuk rupa sapi betina.

Ketika mereka ditanya kenapa mereka menyembah patung sapi itu, mereka menjawabnya bahwa mereka sebenarnya bukan menyembah patung sapi itu. Mereka hanya menjadikan patung sapi itu sebagai alat bantu mereka untuk berkonsentrasi saja. Yang mereka sembah tetap adalah Tuhan Yang Esa. Dengan melihat patung itu, mereka merasa sudah tidak memikirkan hal-hal yang lain lagi. Pikiran mereka jadi fokus hanya kepada satu hal saja, yaitu kepada patung sapi itu. Setelah mereka merasa tidak memikirkan apa-apa lagi, kecuali hanya berkonsentrasi kepada rupa sapi itu, maka barulah mereka merasa bisa untuk fokus menyembah Tuhan Yang Esa.

Sekilas alasan mereka ini kelihatan logis sekali. Karena sampai sekarangpun banyak pula umat Islam yang pikirannya lari kesana kemari saat mereka melakukan shalat. Ini pengulangan sejarah Samiri dan pengikutnya saja sebenarnya. Makanya tidak sedikit umat Islam yang merasa baru bisa shalat lebih khusyu ketika mereka berada di depan Ka’bah. Banyak umat Islam yang bisa menangis saat shalat di depan Ka’bah, terutama bagi mereka yang baru pertama kali melihat Ka’bah. Tetapi, pada besok-besoknya, pada shalat yang kesekian kalinya di depan Ka’bah, suasana kejiwaan umat Islam itu, di dalam shalat, sudah kembali seperti biasa. Gramyangan kembali.

Kembali kepada Samiri dan pengikutnya, yang sudah terdistorsi dari ajaran Nabi Ibrahim. Sepeninggal mereka, keturunan merekapun menyebar ke berbagai penjuru benua. Terutama ke anak benua India. Semakin lebar perbedaan rentang waktu antara Samiri dengan para penerus ajarannya itu, maka makin besar pulalah distorsi ajaran-ajaran yang terbentuk. Mulailah mereka mengenal dewa-dewi.

Akan tetapi, walaupun mereka memuja dan menyembah dewa-dewi, namun secara samar-samar mereka masih ingat bahwa suatu saat dulu pernah ada orang yang memberitahukan bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah Tuhan yang tidak ada rupa dan tidak ada umpama. Orang yang membawa ajaran itu adalah IBRAHIM. Karena ingatan mereka sangat samar-samar tentang sejarah itu, maka mereka menamakan saja, Tuhan yang tidak ada rupa dan tidak ada umpama itu, dengan nama BRAHMAN atau Brahma. Tuhannya Ibrahim. Sehingga kemudian jadilah Brahma itu menjadi dewa utama yang mereka sembah disamping dewa-dewa yang lainnya. Inilah kemudian, barangkali, yang berkembang menjadi agama HINDU yang masih eksis sampai saat ini. Sebagai buah yang lain dari ajaran Samiri yang masih eksis sampai sekarang adalah bahwa umat Hindu masih tetap menjadikan sapi sebagai binatang keramat dan yang disucikan.

Bersambung

 

Read Full Post »

Mengintip Arena Panggung Pembelajaran.

Sebagai petunjuk awal, Allah sudah menegaskan di dalam Al Qur’an bahwa:
1. Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah, (Adh Dhariyat 51: 49).

2. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat saja, tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa-apa yang telah kamu lakukan, (An Nahl 16: 93).

Dan sebagai realitas dari petunjuk awal yang diberikan oleh Allah di dalam Al qur’an ini antara lain adalah bahwa, sebagai wadah pembelajaran, panggung itu, by design, pastilah berisikan hal dan keadaan yang berpasang-pasangan.

Secara kelamin ada lelaki dan ada perempuan, ada jantan dan dan betina, ada putik dan ada benangsari. Secara wujud ada zahir dan ada batin. Secara pandangan mata ada gelap dan ada terang. Secara pendengaran ada sunyi dan ada hingar bingar. Secara rasa ada panas dan ada dingin, ada rasa dan ada hambar, dan sebagainya.

Panggung pembelajaran itu, by purpose, juga harus berisikan peristiwa berpasang-pasangan yang berkenaan dengan kebaikan dan keburukan, pembentukan dan penghancuran, kehidupan dan kematian, keimanan dan kekafiran, kepahaman dan kebodohan, dan berbagai keadaan dualitas peristiwa dan perbuatan lainnya yang di dalam Al Qur’an diringkas menjadi istilah TAKWA dan FUJUR (FASIK). Dua-duanya WAJIB ada. Tidak bisa tidak.

Pemeran takwa dan fujur itupun juga wajib ada. Sebab kalau tidak ada fujur, maka orang tidak akan tahu apa itu takwa. Keduanya sudah terencana dengan sangat baik dan sangat sempurna. Siapa melakukan apa, akan mendapatkan apa, serta akan merasakan apa, sudah tertulis dengan sangat-sangat amat detail. Tidak ada yang bisa memilih dia akan melakukan apa, akan mendapatkan apa, dan akan merasakan apa. Tidak ada yang bisa merubah apa-apa yang sudah tertulis itu. Kalaupun ada perubahan, maka rincian dari perubahan itupun sudah tertulis dengan detail.

Jadi disini sudah benar-benar tidak ada lagi celah sedikitpun bagi siapa saja untuk berkata-kata: “saya bisa begini, saya bisa begitu, ini terjadi gara-gara itu, kalau tidak ada saya pasti hasilnya akan beda”, dan perkataan-perkataan lainnya yang menyiratkan adanya kewujudan bagi diri seseorang. Jika masih ada orang yang berkata-kata begitu, maka orang-orang yang sudah tahu “Rahasia Akbar” hanya akan tersenyum-senyum saja mendengarnya. Karena ia sudah paham bahwa kata-katanya yang terucap itupun sudah berada dalam bingkai rencana Allah semata…

Bagi pemeran LANGSUNG dari sebuah peran, apakah itu peran takwa ataupun peran fujur, peran itu benar-benar menguras pikiran, tenaga, dan perasaannya. Darah yang keluar adalah darah benaran, bukan darah buatan. Air mata yang keluar juga adalah air mata benaran, bukan air mata karena pengaruh bawang merah. Sakit yang dirasakan adalah sakit benaran, bukan sakit-sakitan.

Begitu juga bagi pemeran-pemeran TIDAK LANGSUNG sebuah peran, ketika mereka melakukan “framing” bahwa mereka seakan-akan sedang berada dipihak pemeran utama sebuah peristiwa yang sedang terjadi, artinya mereka sedang “binding” dengan pemeran utama itu, maka merekapun akan dilamun dan dihempaskan oleh berbagai perasaan.

Bagi pemeran langsung ataupun pemeran tidak langsung itu, kebahagian dan kepedihan datang silih berganti sesuai dengan setting waktu terjadinya sebuah peristiwa. Dan semuanya itu sangatlah menguras EMOSI. Bisa membuat orang terloncat kaget, berteriak histeris, menangis, marah, benci, dan bahkan pingsan dan mati seketika. Masak sih skenario bikinan Allah kalah greget dan kalah mengejutkan dengan skenario bikinan manusia seperti dalam film horor, film opera sabun, dan film-film lainnya. Ya nggak lah…

output_g9winv

 

Sebagai pemeran Utama (Protagonis) di dalam permainan itu adalah Manusia dan Jin, sedangkan pemeran yang akan selalu menyusahkan pemeran utama (Antagonis) adalah Iblis atau Syaitan. Peran-peran lainnya seperti peran Tritagonis, Deutragonis, Foil, Tetragonis, Compiden, Reisonneur, Yuticiling, dan lain-lainnya seperti dalam sebuah drama buatan manusia tentu saja ada. Misalnya ada malaikat, ada hewan dan lain-lain. Akan tetapi peran yang terpenting yang perlu dicermati sebagai sarana untuk pembelajaran umat manusia adalah peran Protagonis dan Antagonis yang dimainkan oleh manusia itu sendiri dan syaitan.

Itu perlu karena manusia itu sendiri sudah direncanakan oleh Allah untuk tidak hanya bisa menjalankan peran Protagonis saja akan tetapi juga peran Antagonis, serta peran-peran lainnya itu di dalam kehidupan sesama manusia. Itulah hebatnya rencana yang telah dibuat Allah untuk manusia.

Diantara sesama manusia itu sendiri ada pemeran utama yang akan selalu memerankan peran Protagonis, yaitu Para Nabi dan Para Rasul. Mereka semua mengingatkan sebuah sistem pembalasan yang lurus (Dinul Qayyim) atas setiap keadaan yang mungkin dialami oleh umat manusia. Kalau kebaikan, maka pembalasan lurusnya adalah pahala. Kalau sudah pahala, maka pembalasan lurusnya adalah kesenang di dunia dan syurga di akhirat kelak. Kalau keburukan, pembalasan lurusnya adalah dosa. Kalau sudah dosa, maka pembalasan lurusnya kepedihan di dunia dan neraka di akhirat kelak. Design dari awal sudah begitu. Dan itu tidak akan pernah berubah sampai akhir. Dalam perjalanannya, tidak akan ada pula yang terbalik-balik dan tertukar-tukar.

Misi utama mereka adalah untuk mengenalkan kepada umat yang hidup di zaman mereka untuk menyerah secara total kepada takdir yang telah dibuat, didesign, dan ditetapkan oleh Allah untuk setiap ciptaan-Nya, termasuk untuk setiap umat manusia itu sendiri. Menyerah total kepada takdir itulah yang disebut sebagai Islam (Dinul Islam). Sikap sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami patuhi. Karena dalam keberserahan kepada takdir itulah baru manusia akan bisa melihat kebaikan atas setiap kejadian dan peristiwa. Karena disitu ada bahan pembelajaran dari Allah yang Maha Bijaksana.

Dengan berislam, maka umat manusia sudah tidak akan melihat lagi adanya si kambing hitam yang akan dijadikan sebagai penyebab dari terjadinya suatu masalah yang tidak baik. Mereka juga tidak melihat lagi adanya si kambing putih yang akan mereka jadikan sebagai bahan sanjung-sanjungan untuk setiap kebaikan yang terjadi. Karena dengan pengenalan mereka terhadap kewujudan yang ada, mereka sudah dapat melihat bahwa pemeran dari peran baik dan buruk itu hanya satu pemeran belaka, yaitu sedikit Dzat-Nya saja. Allah sendirilah yang sedang mengatur dan bermain-main dengan sedikit Dzat-Nya itu. Sedangkan kebaikan dan keburukan itu sendiripun bagi mereka hanyalah sebatas bahan pembelajaran semata.

Keadaan seperti ini digambarkan dengan sangat indah oleh Syeikh Abdul Qadir Al Jilani sebagai berikut: Pada hakikatnya tidak ada pelaku atau penggerak atau yang mendiamkan kecuali Allah swt tidak ada baik dan tidak ada jahat, tidak ada rugi dan tidak ada untung dan tidak ada faedah dan tidak ada anugerah dan tidak ada sekatan, tidak ada terbuka dan tidak ada tertutup, tidak ada mati dan tidak ada hidup, tidak ada mulia dan tidak ada hina hina, tidak ada kaya dan tidak ada papa, bahkan segala-galanya adalah di dalam tangan Allah semata.

Untuk lebih mudahnya, kalau dalam sebuah permaian sepak bola, maka kesebelasan A, lawannya kesebelasan B, para penyerang, back, penjaga gawang, pemain sayap, penonton yang mendukung kesebelasan A, penonton yang mendukung kesebelasan B, wasit, hakim garis, bahkan bola dan gawang, semua itu pada hakekatnya dimainkan oleh SATU wujud saja, yaitu sedikit Dzat-Nya. Jadi apa yang mau dipermasalahkan?.

Selepas Rasulullah SAW, sebagai Nabi dan Rasul terakhir, wafat, maka peran protagonis inipun ternyata juga bisa diperankan oleh orang-orang biasa. Mereka adalah orang-orang mengikuti dan melanjutkan peran Rasulullah SAW walaupun mereka bukanlah Nabi dan bukan pula Rasul. Tapi mereka melanjutkan tradisi Nabi dan Rasul untuk mau BERSERAH TOTAL KEPADA TAKDIR. Itulah ISLAM.

Sedangkan untuk pemeran peran antagonisnya, atau orang-orang yang selalu menyusahkan dan berbuat jahat kepada Nabi dan Rasul, adalah orang-orang yang berkarakter dan berperilaku seperti Namrud, Fir’aun, Jalut, Abu Lahab, dan lain-lain sebagainya, termasuk Dajjal untuk peranan dimasa yang akan datang.

Peran mereka semua adalah untuk mendistori sikap umat manusia dari sikap yang diajarkan oleh para Nabi Dan Rasul dalam menghadapi takdir. Titik awal dari pendistorsian itu adalah melencengnya pengenalan umat manusia terhadap Allah (makrifatullah). Melenceng dalam bermakrifatullah, maka melenceng pulalah umat manusia dalam melihat kewujudan. Melenceng dalam melihat kewujudan, maka melenceng pulalah umat manusia dalam melakukan penghormatan dan penyembahan. Melenceng dalam penyembahan dan penghormatan, maka melenceng pulalah umat manusia dalam bersikap kepada Allah maupun kepada sesama manusia.

Bersambung…

Read Full Post »

Sehingga pada akhirnya tidak ada satu alasanpun bagi semua ciptaan untuk tidak menjalankan perannya masing-masing. Semuanya mau tidak mau, terpaksa atau tidak, akan menjalankan perannya sesuai dengan skrip atau skenario yang sudah tergantung dilehernya masing-masing pula. Just do it …

just-do-it-2

Oleh sebab itu, tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakutkan dan dikhawatirkan. Karena semuanya terjadi “on pupose of Allah”. Nggak mungkin Allah akan berbuat zalim kepada Dzat-Nya sendiri. Allah jauh lebih sayang kepada ciptaan-Nya dibadingkan dengan sayang seorang ibu kepada anaknya. Adapun kalau, di dalam berbagi peranan itu, terlihat ada yang terluka, yang berdarah-darah, yang sakit, dan bahkan yang mati, tapi semua itu hanyalah sandiwara Dzat belaka. Masak ada Dzat yang luka, yang berdarah-darah, yang sakit, ataupun yang mati. Dzat hanya sedang menjalankan peranan saja sesuai dengan skrip atau skenario yang harus terzahir.

Bak dalam sebuah film atau sandiwara buatan manusia, dimana sehabis shooting habis-habisan, seusainya semua pemain akan duduk bersama-sama minum kopi, makan-makan, dan tertawa ria, sambil merayakan keberhasilan mereka dalam melakonkan peranan-peranan sesuai dengan skrip atau skenario yang telah ditetapkan sebelumnya. Semuanya akhirnya duduk happy, walaupun ketika di dalam film atau sandiwara itu mereka harus saling bermusuhan dan bahkan saling bunuh-bunuhan.

Begitu jugalah kelak di kampung akhirat, semua orang, termasuk iblis sekalipun, akan duduk “happy” di dalam naungan RAHMAN dan RAHIM Allah… karena: Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat. Dia telah membagi daripadanya sebuah rahmat untuk seluruh makhluk ciptaanNya. Dan dengan rahmat tersebut mereka saling berkasih sayang. Dan dengan rahmat tersebut binatang liar berbelas kasih kepada anak-anaknya. Dan Dia menunda sembilan puluh sembilan rahmat sisanya untuk Dia berikan pada-pada hambaNya pada hari kiamat.Sunan Ibnu Majah Bk.4, 1011 (1993)

Dan disinilah pentingnya kita mengetahui bahwa tugas kekhalifahan manusia yang sebenarnya itu adalah untuk membawa kembali iblis dan syaitan agar mereka mau kembali beriman kepada Allah…, sehingga Allah bisa membuktikan kata-kata-Nya kepada iblis, saat iblis tidak mau sujud kepada Nabi Adam ketika Nabi Adam diciptakan, bahwa mereka tidak mengetahui sedikitpun apa-apa yang ada dalam rencana besar Allah.

Dan tugas untuk mengajak iblis kembali beriman itu adalah amat sangat sulit. Oleh sebab itu Allah telah membuat sebuah mekanisme pembelajaran yang sangat hebat bagi umat manusia untuk menyongsong tugas yang sangat berat itu. Umat manusia digembleng oleh Allah dengan berbagai bencana, kesulitan, kesusahan, sehingga dari situ umat manusia bisa belajar. Manusia bisa belajar untuk mengatasi akibat dari gempa bumi, banjir, dan kebakaran. Manusia bisa belajar untuk mengatasi batasan jarak dalam bepergian. Manusia bisa belajar untuk mempertahankan diri dalam berbagai peperangan. Manusia bisa belajar kesehatan dari berbagai penyakit yang datang silih berganti.

Sehingga pada suatu saat kelak, akan terbentuklah sebuah masyarakat yang kehidupannya sangat kuat dan indah. Saat itu: Permusuhan hilang dan keracunan dalam apa bentuk pun menjadi biasa, kanak-kanak memasukkan tangannya ke mulut ular yang berbisa tidak mendapat kemudharatan. Begitu juga kanak-kanak perempuan yang bermain dengan singa yang buas. Serigala seperti menjadi anjing menjaga kambing-kambing. Bumi dipenuhi kedaimaian seperti air (yang tenang) dalam bejana. Terjemahan Ibnu Majah Bk. 4, 808 (1993)

Semuanya akan dipandu oleh skrip atau skenario maha sempurna untuk berjalan menuju zaman penuh pengharapan itu secara otomatis. Begitu sempurnanya rencana itu berjalan secara otomatis, sehingga orang-orang yang buta mata hatinya akan melihat:

• Bahwa segala sesuatu yang terjadi, itu terjadi hanya dengan sendirinya. Sehingga mereka berkesimpulan bahwa peran Allah tidak ada sama sekali.
• Bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada tumbuhan, hewan, dan manusia adalah semata-mata sebuah kemampuan berevolusi yang dipunyai oleh tumbuhan, hewan, dan manusia itu untuk menaklukkan tantangan hidup yang mereka lalui.

Kalau begitu, masih samakah orang yang buta dengan orang yang melihat?. Masih samakah orang yang tahu dengan orang yang jahil atau bodoh?.

Bersambung

Read Full Post »

Sekarang, masihkan kita punya ruang untuk TIDAK menyerah dan TIDAK tunduk kepada semua ketetapan-Nya itu?. Masihkah kita punya ruang untuk berkata bahwa kita bisa mengubah rencana-Nya itu dengan usaha kita?. Masihkan kita bisa berkata: “kita harus merencanakan dan berusaha untuk melaksanakan sesuatu dengan sebaik-baiknya, namun Allahlah yang akan menentukan dan memutuskan hasilnya?”. Masihkan kita punya ruang untuk berkata bahwa: “yang baik adalah dari Allah, sedangkan yang buruk adalah dari kesalahan dan kebodohan kita sendiri?”. Bahkan masihkah kita punya ruang untuk membandingkan Allah dengan iblis melalui ungkapan: “kebaikan adalah karena kita mengikuti Allah, dan keburukan adalah karena kita mengikuti iblis?”.

Kalau kita merasa masih punya ruang untuk berkata-kata seprti itu, maka berarti kita masih belum berserah secara total kepada Allah. Kita belum Islam (menyerah) secara menyeluruh (Kaffah). Dan semua itu terjadi karena kita merasa masih WUJUD. Kita merasa masih Ada. Ada aku. Karena ada aku, maka sebagai akibatnya kitapun merasa punya kepemilikan. Milikku. Kita merasa memiliki ini. Kita merasa memiliki itu. Karena kita merasa memiliki, maka kitapun merasa punya hak untuk membela apa-apa yang kita miliki itu.

Dan… disinilah sebenarnya letaknya segala permasalahan yang kita hadapi, bahwa kita masih merasa wujud….

Karena kita merasa wujud, maka kita akan segera saja muncul perasaan kita bahwa kita berhak untuk saling bercanggah. Kita lalu membangun pertentangan dengan sesama makhluk, dengan sesama manusia lain yang juga merasa wujud. Dan yang sangat fatal akibatnya adalah ketika kita merasa berhak pula untuk bercanggah dengan Allah. Kita merasa berhak untuk menentang takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah. Kita merasa berhak untuk mengubah takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Kita tidak ridho, kita tidak menyerah, sehingga pada saat itu sebenarnya kita sudah keluar dari Islam.

Biasanya kalau membaca artikel seperti ini akan muncul sanggahan-sanggahan seperti ini:

• Kalau begitu saya tidak boleh marah dong kepada anak saya kalau anak saya nakal?.
• Kalau begitu saya harus diam saja dong kalau agama saya dilecehkan orang, kalau al Qur’an dinistakan orang, kalau ulama dihinakan orang?.
• Kalau begitu saya harus pasrah saja dong, diam saja tidak melakukan apa-apa, dalam menjalani hidup saya ini?.
• Buat apa dong saya diberikan kekuatan oleh Allah kalau tidak saya pakai untuk berusaha?.
• Kalau saya tidak boleh berpikir, untuk apa dong saya diberikan otak.
• Kalau saya tidak boleh memutuskan, buat apa dong ilmu dan pengetahuan yang saya miliki?. Kan dengan ilmu dan pengetahuan itulah saya menjadi tahu tentang benar dan salah, tentang baik dan buruk, sehingga saya bisa memutuskan dan menetapkan sesuatu itu benar atau salah, baik atau buruk.

Nampak tak?. Saya…, saya…, saya, aku…

Kalau anda merasa bahwa anak itu adalah anak milik anda, maka marahlah. Kalau anda merasa agama itu adalah agama milik anda, kalau al qur’an itu adalah milik anda, kalau ulama itu adalah milik anda, atau kalau anda sendiri merasa menjadi ulama, maka marahlah. Akan tetapi…, cobalah perhatikan dengan seksama bahawa anda tidak akan pernah bisa marah kalau Allah tidak mengilhamkan rasa marah itu kepada anda, kalau Allah tidak memberikan izin kepada anda untuk marah, kalau Allah tidak menetapkan bahwa anda harus marah, kalau Allah tidak menuliskan bahwa pada saat itu anda harus marah.

Kalau anda merasa bisa pasrah, diam saja dengan tidak melakukan apa-apa, maka pasrahlah. Akan tetapi lihatlah dengan teliti bahwa anda tidak akan pernah bisa diam dan tidak melakukan apa-apa kalau anda tidak dituliskan, ditetapkan, dan diijinkan untuk diam dan tidak melakukan apa-apa. Paling tidak anda akan dipaksa oleh fitrah tubuh anda sendiri untuk makan dan minum yang kesemuanya itu membutuhkan anda untuk melakukan sesuatu untuk mendapatkannya.

Kalau anda merasa bisa berusaha untuk melakukan sesuatu, berusahalah. Akan tetapi coba perhatikan sejenak, bahawa anda tidak akan pernah bisa berusaha kalau Allah tidak menetapkan, menuliskan, dan mengijinkan anda untuk berusaha atau melakukan sesuatu.

Kalau anda merasa memiliki otak itu dan merasa memiliki pikiran itu, maka berpikirlah. Akan tetapi lihatlah dengan seksama bahawa anda tidak akan pernah bisa berpikir kalau Allah tidak mengilhamkan kepada anda pikiran itu, kalau Allah tidak mengizinkan, menuliskan, dan menetapkan bahwa saat itu anda harus berpikir. Tidak akan.

Kalau anda merasa bahawa ilmu dan pengetahuan itu adalah milik anda, dan anda merasa berhak pula untuk memutuskan dan menetapkan, maka putuskanlah dan tetapkanlah bahwa sesuatu itu baik dan buruk, bahwa sesuatu itu benar dan salah. Akan tetapi cobalah lihat dengan seksama pula bahawa anda tidak akan pernah bisa memutuskan dan menetapkan kalau anda tidak diijinkan, tidak ditetapkan, dan tidak dituliskan oleh Allah untuk memutuskan dan menetapkan. Karena untuk memutuskan dan menetapkan itu butuh Ilham dari Allah sebagai penzahiran dari rencana, ketetapan, dan ijin yang telah direncanakan-Nya untuk anda lakukan.

Kalau anda ada yang bingung setelah membaca artikel ini, maka itu adalah sebuah pertanda saja, bahwa anda sebenarnya tengah diperjalankan untuk mengalami sebuah perubahan paradigma. Karena tidak semua orang yang direncanakan oleh Allah untuk bisa membaca artikel ini. Artinya, cakrawala anda tengah dibuka dan dimekarkan oleh Allah untuk bisa membangun kembali sebuah peradaban yang dulu pernah dibangun dengan sangat baik oleh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, yaitu peradaban Islam.

Peradaban yang membuat beliau semuanya bisa berserah total kepada Allah. Karena beliau-beliau disadarkan dengan sangat telak bahwa segala kejadian dan peristiwa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang akan terjadi, semuanya itu benar-benar adalah sesuatu yang telah direncanakan oleh Allah. Sesuatu yang terjadi “by design, on purpose, very well organized, meaningfull).

Dan yang lebih membuat beliau-beliau itu takluk dan menyerah total kepada Allah adalah bahwa penzahiran dari semua rencana itupun terjadi secara OTOMATIS pula. Setiap penzahiran hanya menunggu waktu saja lagi tentang kapan awal waktu ia akan dizahirkan dan kapan akhir waktu ia kembali akan dimatikan atau ditamatkan.

Semuanya terjadi secara otomatis. Karena bahan baku atau unsur untuk penzahiran semua peran-peran itu sudah disiapkan-Nya sejak FIRMAN KUN, yaitu sedikit Dzat-Nya. Rencana bagi setiap penzahiran peran itupun sudah selesai ditetapkan-Nya mulai dari peran awal sampai peran akhir. Rencana itu tersimpan di dalam sebuah rencana Induk kehidupan (Lauhul Mahfuz) yang sangat amat rahasia sekali.

Tidak hanya itu, tempat atau arena pergelaran untuk penzahiran peran-peran itupun sudah disiapkan-Nya pula dengan sangat matang, yaitu suatu tempat yang sangat kecil di dalam Diri-Nya Sendiri. Saking kecilnya tempat itu, sehingga bandingan tempat itu dengan Diri-Nya yang sesungguhnya adalah ibarat sebutir pasir ditengah-tengah padang pasir yang sangat luas, atau ibarat setetes air masin di dalam lautan yang sangat luas. Kecil sekali dan tidak berarti apa-apa bagi-Nya.

Akan tetapi bagi semua makhluk-Nya, tempat yang sangat-sangat kecil bagi Allah itu, akan berubah menjadi sebuah tempat yang amat sangat luas. Tempat yang tidak ada seorangpun yang bisa mengira-ngira berapa besarnya, berapa luasnya, dan berapa tingginya.

Dan yang sangat penting adalah bahwa untuk melindungi segala pemeran yang bermain di dalam tempat yang sangat kecil itu dari hangus dan terbakar oleh Keagungan Diri-Nya, maka tempat itupun telah ditutupi-Nya pula dengan 70 tabir cahaya. Nur ‘alan Nur. Cahaya diatas cahaya. Cahaya yang berlapir-lapis. Sehingga tempat itupun menjadi sebuah tempat sangat pas dan sangat aman bagi setiap ciptaan untuk menjalankan peranannya masing-masing dengan selesa (mudah dan menyenangkan).

LM Sekarang (2).jpg

Bersambung

Read Full Post »

Jadi…, Islam maknanya adalah sebuah maqam atau kedudukan yang akan membawa kita menjadi orang yang tahu diri. Kita dapat mendudukkan semua permasalahan pada tempatnya yang sebenarnya. Bahwa pada semua peristiwa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi:
• Semuanya sudah ditulis dan sudah direncanakan oleh Allah. Tidak ada sesuatu apapun yang dilupakan-Nya pada Rencana yang sudah Dia Tetapkan itu, walau untuk hal-hal yang berkenaan dengan sesuatu lebih kecil dari atom.
• Semuanya sudah diizinkan oleh Allah untuk terjadi.
• Semuanya adalah yang TERBAIK, karena ia dirancang oleh Allah Yang Maha Bijaksana.
• Tidak ada sesiapa yang bisa mengubahnya, karena setiap perubahan yang terjadi itupun sudah tertulis dan terencana dengan baik dan detail.
• Siapa melakukan apa dan akan mendapatkan balasan apa, itupun sudah ditulis dan sudah ditetapkan.
• Setiap makhluk yang lahir, tidak terkecuali manusia, sudah membawa catatan yang digantungkan dilehernya masing-masing. Catatan itu berisikan lika-liku jalan yang harus ditempuh, serba-serbi keadaan yang akan dialami selama dalam perjalanan, serta Awal dan Akhir dari perjalanan yang akan dilalui oleh masing-masing.
• Allah tidak sedikitpun berbuat zalim kepada siapapun juga dengan setiap peristiwa dan kejadian itu.
• Bahkan Ada hikmah (bahan pelajaran) disebalik semua kejadian dan peristiwa itu, yang hanya akan bisa dibaca oleh orang-orang yang sudah ditetapkan sebagai pembelajar.
• Dan yang paling menakjubkan adalah bahwa semua rencana dan ketetapan itu sudah selesai dibuat dan ditetapkan sejak Firman Kun. Rencana dan Ketetapan itu sudah tersimpan sangat rapih dan sangat Rahasia di dalam sebuah Kitab Rancangan Sandiwa Kehidupan Yang Sangat Sempurna (Lauhul Mahfuz), menunggu waktu penzahiran demi penzahiran dari rencana yang sudah ditetapkan dengan sangat matang itu.
• Tidak hanya itu, untuk bisa terzahirnya Pergelaran Sandawara Kehidupan itu, tentu harus ada Unsur yang menjadi Bahan Baku untuk membentuk semua penzahiran itu. Dan untuk itu, Allah sudah memfasilitasinya pula dengan menjadikan Dzat-Nya sendiri sebagai Wajibul Wujud dari penzahiran semua ciptaan pemeran Sandiwara Kehidupan itu. Karena sebelum ada apa-apa, memang hanya Dzat-Nya sendiri saja yang Ada. Nanti pada bagian yang lain kita akan melihat bagaimana indahnya Pahaman Dzatiyah dalam memaknai hakekat dari semua ciptaan dibandingkan dengan Pahaman Wahdatul Wujud dan Pahaman Nur Muhammad.
Kalau kita bisa paham dengan hal-hal seperti ini, maka barulah kita akan mudah pula untuk percaya kepada Rukun Iman yang ke-6, yaitu bahwa kita percaya kepada adanya takdir baik dan takdir buruk, yang kedua-duanya, datang dari Allah.

Oleh sebab itu, kepada siapakah sebenarnya penghormatan harus kita berikan sebesar-besarnya?.

Dengan memercayai rukun iman ke-6 ini, maka secara mencengangkan kita, mau tidak mau, akan memberikan penghormatan yang sebesar-besarnya HANYA kepada Allah. Penghormatan kita akan Kemahasempurnaan Rancangan-Nya, penghormatan kita akan Kemahabijaksanaan-Nya, penghormatan kita akan Kemahateguhan-Nya, penghormatan kita akan Kemahawujudan-Nya, penghormatan kita akan Kemahakekuasaan-Nya. Sebuah penghormatan yang, entah kenapa, seringkali menguras airmata kita.

Ya…, airmata kita tiba-tiba saja jatuh bercucuran saat kita melakukan shalat, atau saat kita Ingat kepada Allah (dzikrullah), ataupun saat kita melihat betapa hebatnya pergelaran sandiwara kehidupan yang terbentang luas dihadapan mata kita. Karena saat MATA kita memandang gelaran sandiwara itu, kita sudah bisa paham bahwa semua itu hanyalah bentangan sifat-sifat yang sangat beragam belaka; Sedangkan MATAHATI kita sudah tajam pula untuk bisa melihat bahwa yang berperan itu sebenarnya (hakekatnya) adalah Dzat-Nya; Sementara HATI hati kitapun menjadi semakin kenal pula kepada Allah (Makrifatullah). Sehingga akhirnya iman kita kepada Allahpun akan semakin bertambah pula dari waktu ke waktu. Iman kepada Allah inilah yang akan mengantarkan kita untuk TIDAK melakukan penghormatan dan pengkultusan yang sangat berlebih-lebihan lagi kepada sesama makhluk ciptaan-Nya.

Slide7

Bersambung

 

Read Full Post »

Untuk membantu agar umat manusia bisa kembali mendapatkan alamat atau tempat berpegangan yang kokoh dan sangat kuat, maka Allah telah mengutus sekitar 124.000 Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, sejak dari Nabi Adam AS sampai dengan Nabi Muhammad SAW. Disinilah terlihat betapa besarnya kasih sayang Allah kepada seluruh umat manusia.

Nabi dan Rasul sejak dari Nabi Ibrahim AS, sampai dengan Rasulullah Muhammad SAW, semuanya mengajarkan tentang sebuah sistem yang di dalamnya berlaku pembalasan yang lurus (dinul qayyim (QS 30:30)) yang tidak akan pernah berubah sejak dari awal masa penciptaan semua ciptaan sampai dengan musnahnya kembali semua ciptaan itu, sehingga pada akhirnya yang tinggal abadi hanyalah Allah sendiri. Beliau-beliau itu mengenalkan kepada umat manusia agar agar kembali bisa MENYERAH TOTAL kepada aturan-aturan Allah (takdir) yang pembalasannya lurus-lurus saja. Tidak ada yang dipermain-mainkan. Kalau kita begini maka yang akan kita hadapi dan rasakan adalah begitu. Lurus-lurus saja. Dan semua aturan serta pembalasannya yang lurus itu tidak akan pernah berubah sejak dari awal sampai dengan akhir masa bagi kehidupan setiap ciptaan.

MENYERAH TOTAL KEPADA TAKDIR itulah sebenarnya yang disebut sebagai ISLAM (DINUL ISLAM). Inilah yang menjadi intisari dari ajaran Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul. Nabi Ibrahim menyerah total kepada takdir ketika Beliau dilemparkan oleh umat Beliau ke dalam api yang menyala-nyala. Nabi Musa menyerah total kepada takdir ketika Beliau berhadapan dengan jalan buntu ketika Beliau dan pengikut Beliau di buru oleh Fir’aun. Di depan adalah laut, sedangkan dibelakang Beliau adalah Fir’aun dan tentaranya. Nabi Isa as menyerah total kepada takdir ketika Beliau menerima cobaan sebagai seorang yang miskin, pengkhianatan muridnya, menghadapi fitnah, hendak diusir dan dibunuh oleh kaum Bani Israil. Nabi-nabi dan Rasul-Rasul yang lainpun tidak kalah rumitnya takdir yang Beliau lalui. Tak kalah beratnya takdir yang dilalui oleh Rasulullah Muhammad SAW. Akan tetapi semuanya telah mencontohkan tentang bagaimana sikap berserah yang sebenarnya kepada Allah dalam bentuk penerimaan total atas takdir Allah yang telah ditetapkan oleh Allah untuk Beliau-Beliau hadapi. Sehingga Rasul dan Nabi itupun terlepas dari ikatan belenggu dan bingkai segala permasalahan. Walaupun permasalahan demi permasalahan tetap datang silih berganti kepada Beliau-Beliau, namun semua permasalah itu seperti DETACHED (terpisah) dengan Beliau.

Kalaulah mau diringkas, Islam atau penerimaan total terhadap takdir itu akan membuat kita menjadi:
1. RIDHO terhadap setiap takdir yang datang menghampiri kita.
2. Mulut kita lebih banyak DIAM dan terkunci. Bibir kita seperti terjahit erat. DIAM. Sesungguhnya berkhidmat kepada Allah itu terdiri dari sepuluh bahagian, sembilan darinya terletak dalam diam. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 94 (1980).
3. Kita tidak akan merungut atas apa-apa yang menimpa kita.
4. Kita tidak bertanya kenapa…?, terhadap prolematika yang datang kepada kita.
5. Kita tidak mengandai-andaikan, jika begini tadinya pastilah hasilnya akan jadi berbeda.
6. Kita tidak memutus-mutuskan sesuatu adalah salah atau sesuatu adalah benar.
7. Kita tidak menetap-netapkan seseorang masuk neraka atau masuk syurga.
8. Kita tidak memikir-mikirkan segala sesuatu sampai akhirnya kita menjadi pusing sendiri.

Dengan sikap menyerah total terhadap takdir seperti ini (ISLAM), maka kitapun jadi terpisah dari bingkai segala macam permasalan (detached). Kita menjadi orang yang bebas dan merdeka.

islam3

 

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: