Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2015

Dan untuk memasuki alam Hakekat itu:

  • Kita tidak butuh usaha yang aneh-aneh dan sulit-sulit,
  • Kita tidak butuh untuk berdzikir atau wiridan sebanyak ratusan ribu kali,
  • Kita tidak butuh membersih-bersihkan Jantung atau Qalb,
  • Kita tidak butuh membersihkan lathaif-latahif atau cakra-cakra,
  • Kita tidak perlu capek-capek sampai muter-muter dan guling-gulingan ditanah,
  • Kita tidak perlu mencari-cari getaran,
  • Kita tidak perlu mengatur-atur nafas kita untuk berdzikir,
  • Sungguh, kita tidak perlu ilmu yang sulit-sulit.
  • Bahkan kita tidak perlu melakukan apa-apa.

 

Kita cukup HANYA MENYADARI, atau kalau belum bisa menyadari, kita cukup hanya BERIMAN saja dulu, bahwa:

  • DISEBALIK semua atribut yang ada pada DIRI KITA,
  • Disebalik SEMUA MAKHLUK mulai dari yang terkecil sampai ke yang terbesar,
  • Disebalik bumi dan 7 lapis langit,
  • Disebalik Sidratul Muntaha (kerajan Allah),
  • Disebalik Syurga dan Neraka,
  • Disebalik Air Maha Massive di bawah Arasy,
  • Disebalik Arasy Allah yang tak terperikan besarnya,
  • dan disebalik 70 lapis Cahaya yang tak ada orang yang mengetahui berapa ketebalannya,

ADA Dzat-Nya yang sedikit, THE SMALL ESSENSE, yang menjadi WAJIBUL WUJUD bagi tercipta dan terzhahirnya semua makhluk itu.

 

Artinya, diri kita sendiri dan semua makhluk ini pada Hakekatnya TIDAKLAH WUJUD. Karena KEWUJUDAN diri kita dan semua makhluk ini hanyalah semata-mata karena adanya The Small Essense, Dzat Yang Wajibul Wujud. DZATULLAH. Yaitu SEDIKIT atau SEJUMPUT KECIL dari Dzat Allah atau Diri Allah sendiri.

 

Jadi untuk memasuki alam Hakekat itu kita cukup hanya melakukan satu langkah kecil dan sederhana saja, yaitu: “LAA MAUJUD DZATILLAH…, tidak ada kewujudan kecuali hanya Dzat Allah”. Masuk sudah kita ke alam Hakekat.

 

Lalu setiap MATA kita memandang apa saja dan kearah mana saja, setiap PANCA INDERA kita mendeteksi dan menginderai apa saja, maka kita akan segera saja dikejutkan oleh kenyataan bahwa sekarang MATA HATI sudah menjadi SANGAT TAJAM untuk memandang keberadaan DZATULLAH disebalik semua yang tergelar dan terhidang dihadapan kita itu.

 

  • Saat MATA kita melihat warna dan nyala, melihat bentuk dan rupa, melihat huruf dan angka, mata HATI KITA malah tidak melihat apa-apa.
  • Saat TELINGA kita mendengarkan suara dan nada, MATA HATI kita malah tidak mendengar apa-apa.
  • Saat HIDUNG kita mencium bau semerbak wangi, MATA HATI kita malah tidak membaui apa-apa.
  • Saat LIDAH kita merasakan kelezatan berbagai rasa, MATA HATI kita malah tidak merasakan kelezatan apa-apa.
  • Saat KULIT tubuh kita mendeteksi berbagai fenomena, MATA HATI kita malah tidak mendeteksi fenomena apa-apa.

 

MATA HATI kita tetap hanya terpandang kepada SATU WUJUD saja, yaitu DZATULLAH. Dzat yang tidak bisa dirupa-rupakan, yang tidak bisa diwarna-warnakan, yang tidak bisa dirasa-rasakan, dan yang tidak bisa dideteksi-deteksi dengan alat apa saja. Mata Hati kita terpandang kepada Dzat Yang Ghaib, dimana mata atau panca indera kita tidak akan pernah bisa untuk menggapainya. Mata hati kitapun juga hanya bisa sampai melihat kepada yang kosong. Tidak terbayang apa-apa, tidak terasa apa-apa, tidak ada rupa apa-apa.

 

Para meditator dan para pedzikirpun sebenarnya banyak yang rela untuk melakukan berbagai hal yang sulit dan berat demi untuk mendapatkan keadaan atau hal yang berkenaan dengan Alam Hakekat ini. Namun yang berhasil mencapainya boleh dikatakan hanyalah beberapa orang saja diantara puluhan ribu orang. Sulit sekali, dan juga rahasia sekali ilmunya.

 

Alam Hakekat ini pulalah yang telah dijalani oleh Rasulullah SAW saat Beliau Mi’raj sebelum Beliau menemui Allah di balik 70 Tabir cahaya, diatas Arsy Allah yang Agung. Ternyata Alam Hakekat itu bukanlah akhir dari perjalanan Beliau. Sebab dari Alam Hakekat itu Beliau masih diperjalankan selangkah lagi oleh Allah untuk memasuki Alam Makrifat.

 

Artinya, sebelum Beliau bertemu dan berbicara LANGSUNG dengan Allah, Beliau terlebih dahulu harus meninggalkan semua alam ciptaan, termasuk Arsy Allah Yang Agung. Bahkan Jibril AS sekalipun, juga tidak boleh ada.

 

Rasulullah datang sendiri, dengan tidak membawa apa-apa dan tidak membawa siapa-siapa. Beliau datang menghadap dalam keadaan sendirian. Beliau dituntun Allah untuk meninggalkan Alam Hakekat untuk kemudian memasuki Alam Makrifat. Beliau dituntun untuk menafi-kan Dzatullah yang sedikit, the small essense, lalu Beliau Beliau dituntun pula untuk mengIsbathkan Dzat Allah yang Maha Indah yang ada disebalik Tabir 70 Cahaya di hadapan Beliau. Laa Maujud Illallah…, lalu terjadilah perjumpaan antara Beliau dengan Allah dibalik tabir.

 

Sebab tabir 70 lapis cahaya ini haruslah tetap ada, karena kalau tidak ada, maka Beliau akan hangus terbakar karena terpandang kepada Keagungan Dzat-Nya Yang Maha Indah. Beliau hanya diperlihatkan kepada SELAPUT Keagungan Dzat-Allah Yang Maha Indah yang membungkus Lauhul Mahfuz, yang tak ubahnya seperti Bulan Mengambang di langit lepas. Kecil sekali, sehingga Beliau katakan bahwa selaput Dzat itu seperti bisa Beliau tutup dengan telapak tangan Beliau.

 

Bersambung…

Iklan

Read Full Post »

Kalau kita bermain-main dengan getaran ini, maka getaran itu akan menjadi pakaian kita. Kita akan dikuasai oleh getaran itu. Kita akan menjadi budak dari getaran itu berikut dengan makhluk-makhluk lain (jin) yang ada bersama getaran itu. Kalau getaran itu kita anggap mengandung power, maka Dzat yang ada pada getaran itu akan meresponnya dengan memberikan power kepada kita. Inilah yang terjadi dengan orang-orang yang berkecimpung dengan ilmu kontak.

 

Kalau getaran itu kita anggap mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan, baik untuk jarah pendek maupun jarak jauh, maka Dzat yang ada pada getaran itu akan meresponnya dengan mengantarkan anggapan kita itu kepada orang yang percaya kepada kehebatan kita dalam bidang penyembuhan itu.

 

Kalau kita menganggap bahwa Allah ada didekat kita, bahkan Allah meliputi kita, maka ketika kita memanggil-manggil nama Allah, dengan kesadaran kita bahwa Allah ada di dekat kita dan meliputi kita, maka Dzat yang ada disekitar kita, yang meliputi kita akan meresponnya dengan memberikan getaran-getaran tertentu yang bisa kita rasakan. Getaran itu bahkan bisa menggoyangkan badan atau tubuh fisik kita dengan lembut ataupun dengan keras. Sehingga dengan begitu kita semakin percaya bahwa Allah memang benar-benar ada di dekat kita dan meliputi kita. Hal seperti inilah yang saya lakukan d awal tahun 2001 sampai dengan tahun 2010.

 

Bahkan baru-baru ini, ada seorang teman saya dari kota Ternate berkirim sms kepada saya sebagai berikut:

 

Assalamualaikum Pak. Saya “M” dari Ternate

 

Saya sudah lama membaca dan mempraktekan beberapa yang tertulis di buku2nya Pak Deka dan Ust AS. Tapi dalam prakteknya ada beberapa “kejadian” atau “sensasi” di dalam pelaksanaan shalat dan zikir. Pada saat shalat, saya merasa ada semacam “tarikan” ke arah atas sehingga kadang2 posisi saya berdiri ketika shalat bertumpu dengan kedua ujung jari kaki. Kemudian pada saat zikir, pun sama. Ada semacam “tarikan” ke arah atas sehingga posisi duduk saya berubah dan kadang bertumpu dengan menggunakan kedua lutut. Bisa di jelaskan “fenomena” apa yang terjadi ?. Dan bagaimana solusinya ?

 

Wassalam. Terima kasih

 

Pengalaman saya juga seperti itu, bahkan lebih seru lagi. Dan itu ternyata di konfirm oleh pengalaman beberapa orang yang mengalami hal yang sama dengan yang saya alami itu, tidak hanya dizaman yang lalu, tetapi juga pada saat sekarang ini.

 

Dulu saya diajarkan bahwa diujung getaran itu ada Allah yang menggerakkan partikel dan gelombang, seperti juga Allah yang menggerakkan keluar masuknya nafas saya, seperti juga Allah yang menggerakkan bumi dan matahari. Makanya saat itu, untuk mengenal Allah saya cukup dengan merasa-rasakan getaran di dalam dada, saya cukup merasakan gerak keluar masuk nafas, saya cukup bergerak kesana kemari mengikuti getaran-getaran alam seperti sedang berlatih taichi ataupun tarian sufi. Saat itu memang ada sensasi tubuh ini menjadi meluas, ada sensasi badan ini naik keatas menuju bintang-bintang, yang katanya itu adalah MI’RAJ.

 

Semakin dijalani, semakin terasa pula kesendirian saya. Kemanapun saya pergi meluas, setinggi apapun sensasi yang saya dapatkan, karena masih berjalan, maka saya malah merasa semakin ada. Pada suatu kali saya mulai dikejutkan dengan kenyataan bahwa saya mulai menjadi malas untuk beribadah. Saya tidak pernah lagi puasa sunnah, shalat sunnah, membaca Al Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya. Bangun jam 3 subuh, malah saya duduk diluar rumah berlatih memandang alam, merasakan getaran-getaran yang seperti bergelombang ingin naik dari dada saya keatas. Gerakan gelombang naik dari dada menuju keatas itu menimbulkan sensasi atau rasa EKSTASIS mirip orgasme. Semua itu saya lalui saja, karena memang saya belum lagi menemukan ilmu yang akan menyeret saya untuk keluar dari keadaan itu.

 

Bahkan dengan bekal ilmu tasawuf yang ada di dalam buku Madarijus Salikin pun, saya seperti sangat susah untuk keluar dari keadaan seperti diatas. Madarijus Salikin hanya saya rasakan sampai pada tahap memperlembut apa-apa yang telah saya dapatkan sebelumnya. Namun ada sedikit perubahan, bahwa jam 3 malam bukan lagi saya pakai untuk berlatih hal diatas. Alhamdulillah saya sudah mulai Shalat tahajud, sebagai pengganti dzikir (patrap).

 

Akan tetapi, syukur Alhamdulillah, sejak awal tahun 2014 yang lalu sampai sekarang, dengan berbekal Ilmu Hakekat, Makrifatullah dan Dzikrullah yang disampaikan oleh Ustad Hussien BA Latiff, maka saya seperti disadarkan bahwa apa-apa yang saya praktekkan dan alami dahulu itu masih belum sampai kepada alam Makrifatullah. Bahkan kepada Alam Hakekat saja saya belum sampai, apalagi untuk sampai kepada Alam Makrifatullah. Masih sangat jauh…

 

Sebab getaran-getaran itu masihlah berada pada tatanan alam sifat-sifat saja. Getaran-getaran itu juga adalah Makhluk. Tidak lebih. Jadi ia masih berada di alam keramaian ciptaan. Sedangkan untuk memasuki alam Makrifatullah, maka kita terlebih dahulu haruslah bersedia untuk meninggalkan dan menanggalkan alam sifat-sifat itu untuk kemudian masuk selangkah ke alam Hakekat, yaitu Alam yang berhubungan dengan Dzat-Nya yang sedikit, the small essense.

 

Bersambung

Read Full Post »

Makanya tidak aneh sebenarnya, ketika kita memasuki suatu tempat atau rumah orang lain yang masih asing bagi kita, maka saat itu akan ada rasa asing pula yang akan kita rasakan. Hal ini akan terasa terutama bagi kita yang sudah sangat peka dengan getaran-getaran seperti ini, atau bagi seorang bayi yang ikut bersama kita. Sang bayi bisa jadi menangis dan gelisah tanpa ada alasan yang jelas.

 

Kalau di tempat atau di rumah itu sering terjadi pergaduhan, pertengkaran, atau kekerasan diantara para penghuninya, maka Dzat yang ada di tempat atau rumah itupun akan merasa tertekan, terluka, dan tersakiti. Keadaannya atau getarannya akan tersimpan di dalam Dzat yang ada dirumah tersebut. Rasanya juga tidak enak. Makanya kita seringkali merasa gelisah, takut, dan bahkan tidak bisa tidur di tempat atau di rumah yang baru sama sekali kita injak. Karena kita belum familiar dengan Dzat yang ada di tempat atau rumah tersebut.

 

Akan tetapi kalau di rumah atau di tempat yang baru pertama kali kita kunjungi itu para penghuninya sudah terbiasa dengan sikap yang baik, damai, sering dilantunkan bacaan Al Qur’an, selalu dipakai shalat, dan perbuatan baik lainnya, maka getaran kebaikan itu akan tersimpan pula di dalam Dzat yang ada dirumah atau tempat tersebut. Dzat akan gembira. Bahagia. Kita yang masuk kedalam rumah atau tempat itupun akan bisa pula merasakannya. Seakan-akan kita sudah familiar dengan keadaan rumah tersebut. Feel at home banget kata orang…

 

Inilah menariknya, bahwa ternyata untuk setiap peristiwa dan kejadian itu, akan ada pula getaran-getaran, keadaan-keadaan atau hal-hal yang akan ikut menyertainya. Untuk setiap kejadian dan peristiwa yang telah berlalu, getaran atau hal dari kejadian dan peristiwa itu akan ikut pula berlalu. Namun…, walaupun sudah berlalu, getaran dan hal itu akan tetap tersimpan menjadi MEMORI di dalam Dzat yang ada disebalik kejadian dan peristiwa yang sudah berlalu itu.

 

Misalnya begini…, kalau di suatu tempat pernah terjadi sebuah kecelakaan hebat yang merengut nyawa puluhan orang. Maka Dzat yang ada di tempat kecelakaan itu terjadi akan ikut pula MENYIMPAN memori kepedihan, kesakitan, ketakutan, kemarahan, kesedihan, dan perasaan-perasaan negatif lainnya yang dirasakan oleh Dzat yang ada di sebalik tubuh setiap korban, Dzat yang ada di sebalik kendaraan yang kecelakaan, dan Dzat yang ada disebalik tanah tempat terjadinya kecelakaan itu. Memori-memori itu adalah dalam bentuk GETARAN-GETARAN. Makanya kalau seseorang yang sudah terbiasa merasakan getaran-geteran, ketika ia memasuki daerah bekas kecelakaan itu, ia akan bisa merasakan kembali memori getaran-getaran itu. Keadaan atau suasananya mencekam begitu.

 

Begitu juga kalau kita memasuki sebuah hutan yang lebat, atau lapangan yang luas yang di dalamnya mungkin saja dahulu kala banyak binatang yang hidup saling berbunuhan untuk dapat bertahan hidup, maka Dzat yang ada di hutan itu juga akan menyimpan memori getaran yang penuh dengan tekanan dan kepedihan dari Dzat yang ada pada binatang tersebut. Suasananya juga akan mencekam sekali.

 

Satu hal…, getaran-getaran yang keadaannya penuh dengan tekanan dan kepedihan itu, ternyata sangat disukai pula oleh makhluk lain dari golongan JIN.  Itulah ternyata yang menjadi salah satu sarana bagi mereka untuk mengecoh manusia yang lemah imannya dan bagi orang-orang yang tidak bisa MENGINGATI ALLAH (dzikrullah) yang ingin bermain-main dengan getaran-getaran itu.

 

Berbagai contoh tentang permainan getaran ini adalah, program teve tentang cerita misteri dan mistis, pemburu hantu, dunia lain, dan praktek perdukunan lainnya. Pada zaman modern sekarang, permainan getaran ini nampaknya telah lebih meluas lagi memasuki ranah orang-orang terpelajar, yang ternyata memang sangat mudah terpengaruh dengan hal-hal yang seperti ini dengan dalih sebagai metoda ilmiah yang tidak ada hubungannya dengan agama tertentu, dan katanya tidak bersentuhan pula dengan bangsa JIN. Ada hipnoterapi, ada pengobatan dan penyembuhan ini dan itu, ada dzikir ini dzikir itu, dan sebagainya. Penjelasannya bisa kelihatan sangat ilmiah sekali.

 

Misalnya dengan memakai penjelasan gelombang, cahaya, partikel, getaran dan sebagainya, dan tentu saja ada pula beberapa ayat-ayat kitab suci yang dipakai untuk mendukungnya, hasilnya dianggap sebagai sebuah hal atau peristiwa yang ilmiah dan alamiah saja, dengan disana-sini diembel-embeli pula dengan sedikit simbol-simbol agamis. Akhirnya jadilah kita menjadi orang seperti dewa-dewi modern sebagai pengganti dari dewa-dewi kuno yang nampaknya sudah mulai pudar dari ingatan manusia zaman sekarang. Sehingga iblis dari golongan Jin pun bisa tersenyum dan tertawa renyah menyaksikan apa-apa yang telah kita lakukan itu. Karena dengan begitu kita telah berhasil menjadi teman akrabnya dengan sukses. “Barang siapa yang berpaling dari ingat kepada Allah Yang Maha Rahman, Kami adakan baginya syaitan, maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya (QARINU), Az Zukhruf 43: 36).

 

Bersambung…

Read Full Post »

Sebuah Pertanyaan dari Pak Pandanaran…

Pak Deka yg dirahmati Allah..

Telah sampailah disini. Sebuah taraf ilmu yg begitu tinggi.
Saya ingin bertanya secara jujur. Bila Allah menghendaki.
Insya Allah.
Sesampai disini dan membaca tulisan awal Bapak sendiri.
Membandingkan isi,. Suasana dan rasanya.
Mungkin saja Bapak akan merasa tulisan awal Bapak adalah tulisan kanak-kanak di banding tulisan saat ini.

Namun ada ribuan atau jutaan orang di sana. Saat membaca tulisan awal Bapak pun mendapat pencerahan.
Meyakini..membenarkan dan bahkan menjalankan dst.

Nah saya ingin bertanya..
Tulisan awal Bapak pun masih sangat mudah dan banyak dikaji
Dipelajari.. diikuti.
Bagaimana rasa .. jiwa.. fikiran Bapak saat melihat
Mereka atau bahkan saya sendiri misalnya
Yg teguh berpegang atas apa yg Bapak sampaikan dahulu.
Bagaimana bila saya mati dalam keyakinan itu
Keyakinan sebagaimana tulisan awal Bapak
Dan kami belum mengerti
Atau belum sampai atas apa yg Bapak sampaikan saat ini..

Saya mohon sudilah kiranya Bapak menjawab dan menjelaskan.

Bila saya bertanya panjang lebar.. apakah Bapak pun mau menjelaskan secara panjang lebar?.

Mohon maaf bila ada kalimat yg tidak pada tempatnya.

Doa saya untuk kebahagiaan Bapak.
Semoga rahmat dan karunia Allah melimpah untuk Bapak.

 

Jawaban singkat…

Assalamualaikum..

Bapak/Sdr Pandanaran yang baik.
Tidak ada niatan saya untuk menulis sebenarnya. Tetapi entah kenapa, saya sudah menulis saja apa-apa yang tertulis di dalam blog ini sejak berbilang tahun yang lalu.

Ternyata tulisan-tulisan saya itu memang seperti ada periodesasinya. yaitu periode belajar PATRAP, periode belajar Shalat Khusyu, dan terakhir periode saya belajar Makriftullah, Dzikrullah, Rukun Iman ke-6.

Alhamdulillah saya sungguh beruntung diizinkan dan diberi kesempatan oleh Allah untuk mereguk berbagai sumber Ilmu yang tentu saja hakekatnya semua ilmu itu adalah berasal dari Allah jua. Kalaupun ada yang bisa merasakan manfaat dari tulisan-tulisan saya itu, maka itu semata-mata adalah atas Kehendak dan Hidayah Allah juga adanya. Sebab saya tidak bisa membuat orang mengerti tentang apa-apa yang saya tulis itu. Saya hanya menulis apa yang saya alami. Barangkali itulah sebabnya kenapa tulisan itu terlihat seperti mengalir begitu saja. Sebab saya bukanlah seorang ustadz, saya bukanlah seorang ulama, apalagi guru. Bukan. Saya hanya seorang biasa, terlalu biasa malah.

Kalau ada sahabat yang bisa merasakan manfaat dari tulisan-tulisan saya pada periode Patrap dan Shalat Khusyu dulu, ya Alhamdulillah saja. Saya juga ikut berbahagia. Sangat bahagia malah. Berarti apa-apa yang saya alami saat periode-peride itu juga dialami oleh sahabat semua. Kalaupun ada yang masih bertahan sampai sekarang pada pelajaran-pelajaran yang saya tulis pada periode itu, ya itu sudah takdir yang harus sahabat jalani. Bagi saya itu sudah diluar kemampuan saya untuk mengatur-aturnya. Tidak ada hak saya untuk meminta sahabat untuk mengikuti tulisan-tulisan saya pada periode sekarang ini.

Allah akan mengajarkan siapa-siapa yang Dia kehendaki dengan ilmu-ilmu yang sesuai untuk menjalankan takdir yang sudah dituliskan untuknya. Setiap orang akan meninggal dengan membawa takdirnya masing-masing. Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada yang bisa dituntut dari orang lain, karena diakhirat kelak kita semua akan menjalani takdir kita sesuai dengan apa-apa yang sudah ditetapkan untuk kita.

Akan tetapi, ada satu pola yang sama dari tulisan-tulisan saya dari periode ke periode, yaitu saya hanya ingin mengabarkan tentang Allah, mengabarkan tentang Rasulullah dengan segala kekurangan saya. Hanya saja saya menuliskan bahwa Periode terakhir yang saya alami, semuanya menjadi lebih mudah dan lebih memberikan dampak atau pukulan yang kuat kepada rohani saya. Shalat saya masih tetap seperti ketika saya di Shalat Center dulu, hanya saja dalam hal sisi kerohaniannya saya memakai cara yang sekarang ini saya pakai. Itu bukan berarti bahwa apa-apa yang saya pelajari dulu itu adalah tidak benar. Bukan begitu. Hanya saja, saya merasa sangat bodoh saja untuk bisa mengerti pelajaran-pelajaran yang saya terima saat itu. Kebodohan saya seperti menhalangi saya untuk bisa mengerti ilmu-ilmu yang diajarkan kepada saya waktu itu. Dan itu terjadi dalam waktu yang tidak singkat. Tahunan, bahkan belasan tahun. 

Dan dengan berbekal kebodohan saya tersebut, saya menyerah keapada Allah. Saya berhenti belajar untuk beberapa saat untuk hanya duduk diam minta petunjuk Allah. Dan Alhamdulilah Allah menjawabnya melalui Mas Guntar yang suatu saat dulu mengirimkan link youtube Farhan4u2c kepada group fb saya. Sejak itulah saya seperti dibukakan pintu ilmu demi ilmu oleh Allah yang LANTARAN pembawanya adalah Arif Billah Ustad Hussien BA Latiff. Dan apa-apa kepahaman yang diberikan oleh Allah kepada saya tentang ilmu dari Ustad Hussien itulah yang kemudian saya tulis sebenarnya. Tentu saja itu hanya sebatas bahasa yang saya mengerti saja. 

Saran saya untuk mas Pandanaran hanya satu, selalulah minta tuntunan kepada Allah agar kita bisa ingat kepada Allah, agar kita bisa bersyukur kepada Allah, dan agar kita bisa khusyu dalam beribadah kepada Allah. Dan kuncinya hanya satu saja, Dzikrullah…, Dzikrullah…, dan Dzikrullah… Tidak ada kunci yang lain. Dan untuk bisa Dzikrullah itu, SATU persyaratan mutlaknya adalah Kita WAJIB terlebih dahulu Mengenal Allah dengan kesadaran Yang Jati, Makrifatullah.

Nah carilah siapa-siapa yang bisa mengenalkan kita dengan Allah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, untuk kemudian kita teguh dan istiqamah saja dalam Mengingati Allah yang sudah kita kenali itu, Dzikrullah. Sebab umur kita boleh jadi sudah sangat pendek untuk berlama-lama dalam belajar. Kita hanya butuh: ketika shalat kita bisa tetap ingat kepada Allah; diluar shalat kita juga masih bisa menjaga ingatan kita untuk tetap kepada Allah; kita jadi sangat bersemangat dalam melakukan ibadah-ibadah sunnah; jika kita punya masalah, maka kita tinggal duduk di bilik khalwat untuk meminta petunjuk dan tuntunan kepada Allah.

Saya tidak menjadi apa-apapun, juga tidak jadi masalah bagi saya. Cukuplah Allah bagi saya…

Demikian MAs PAndanaran yang bisa saya sampaikan…

Wassalamualaiku warahmatullahi wabarakatuh..

Deka…

Read Full Post »

Yang sangat mengherankan sebenarnya adalah, bahwa dengan memahami kebenaran hakekat seperti ini secara terus menerus, maka sikap kita terhadap semua ciptaan atau makhluk apapun juga, yang ada disekitar kita, juga akan menjadi berubah dengan sangat drastis sekali. Firasat kita akan semakin tajam dalam memandang dan berperilaku terhadap sesama manusia bahkan terhadap semua semua makhluk ciptaan Allah yang lainnya.

Misalnya, kita sudah menjadi tidak sanggup lagi untuk menghina, mencaci, mengutuk, membenci, memarahi, melukai, apalagi sampai membunuh sesama manusia yang ada disekitar kita. Karena bukankah mereka itu adalah Dzat-Nya Yang Zhahir?. Dan disebalik diri merekapun ada pula Dzat-Nya Yang Bathin. Jelas sekali bahwa antara diri kita dengan diri mereka ternyata hakekatnya persis SAMA. Sama-sama Dzatullah. Kita sebenarnya adalah Zero…, Nul…!. Mereka juga sebenarnya adalah Zero.., Nul…

Kita akan merasakan hantaman yang sangat keras ketika kita akan melakukan hal-hal yang tidak baik atau yang menyakitkan bagi orang lain. Ketika kita ingin:

  • menghina orang lain, bukankah Allah bisa berkata: “Aku telah dihinanya…”.
  • mencaci orang lain, bukankah Allah bisa berkata: “Aku telah dicacinya…”.
  • mengutuk orang lain, bukankah Allah bisa berkata: “Aku telah dikutuknya…”.
  • membenci orang lain, bukankah Allah bisa berkata: “Aku telah dibencinya…”.
  • memarahi orang lain, bukankah Allah bisa berkata: “Aku telah dimarahinya…”.
  • melukai apalagi sampai membunuh orang lain, bukankah Allah bisa berkata: “Aku telah dilukainya…, Aku telah dibunuhnya…”.

Lalu sanggahan kita akan bagaimana untuk membantah-Nya?.

Makanya tidak heran, kalau kita sudah sangat memahami hakekat yang seperti ini, adakalanya sikap kita kepada binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan, dan bahkan benda-benda yang ada disekitar kita, atau yang kita temui saat kita beraktifitas, juga akan menjadi lain sekali. Aneh sekali malah.

Kita inginnya berbual mesra dengan mereka. Kita tidak ingin merusak dan menyakiti mereka. Kita tidak ingin menghancurkan dan membunuh mereka. Karena kita seperti bisa merasakan kedekatan kita dengan mereka. Mereka telah seperti menjadi sahabat-sahabat kita. Sahabat karena sesama Dzatullah. Sahabat dalam sunyi…

Bayangkan, dirumah…, kita ingin berbual dengan kursi, dengan dinding, dengan pintu, dengan sajadah.

“Terima kasih sahabat…, engkau telah jaga rumah ini agar tidak dimasuki pencuri”, kata kita kepada dinding, pintu, jendela, dan kunci.

“Maaf sahabat…, engkau saya duduki ya…”, kata kita kepada kursi.

“Terima kasih ya sahabat…, engkau telah relakan dirimu untuk saya injak-injak dalam shalat saya…”, kata kita kepada sajadah.

Pokoknya kita adakalanya bisa menjadi orang yang sangat aneh. Orang yang bisa berbicara dengan kucing, ayam, kecoak, tikus, dan bahkan dengan nyamuk seperti orang yang sedang berbicara dengan sahabat lamanya saja.

Kita jadi tidak berani untuk meludah sembarangan, membuang sampah sembarangan, mengotori tanah dengan sampah tanpa alasan yang jelas. Kita tidak butuh lagi kata-kata mutiara seperti “jangan membuang sampah sembarang”, dan sebagainya. Tidak perlu. Kita sudah menjadi tidak enak sendiri. Karena Mata hati kita sudah tajam memandang bahwa tanah itupun adalah Dzat-Nya Yang Zhahir, dan disebalik tanah itupun ada pula Dzat-Nya Yang Bathin. Sahabat kita. Sehingga kita jadi sangat sungkan untuk mengotorinya. Kadangkala mau menginjak tanah itu kita bisa minta maaf dulu kepada tanah tersebut. “Maaf ya sahabat…, engkau saya injak…”.

Saat makan dan minumpun, kita maunya berbual dulu dengan makanan dan minuman yang akan kita santap itu. “Maaf ya sahabat…, engkau saya makan dan minum, karena makan dan minum adalah fitrah yang harus saya jalankan untuk menghidupkan sel-sel tubuh saya…”.

Kalau ini bisa kita dawamkan, maka suatu saat, tidak berapa lama kok, kita bisa menggigil kedinginan menyadari akan kebenaran hakekat yang seperti ini. Pada tingkat yang ekstrim, ada orang yang sampai-sampai tidak berani berjalan, tidak berani makan dan minum untuk beberapa lama.

Akan tetapi semua keadaan atau hal tersebut akan bisa segera hilang kalau kita menyadari bahwa Rasulullah SAW pun makan, minum, dan berjalan menginjak tanah. Jadi kita contoh Beliau SAW saja…

Dan anehnya…, setiap pembicaraan yang kita lakukan, ternyata seperti TEREKAM pada benda-benda, binatang-binatang, dan tumbuh-tumbuhan yang kita perlakukan seperti sahabat kita itu. Ia tersimpan dalam bentuk GETARAN atau bisa pula dalam bentuk KEADAAN HAL di dalam DZAT yang ada disebalik diri para sahabat kita itu.

Bersambung

Read Full Post »

  • Ketika Allah berfirman dalam Hadist Qudsi berikut ini:

 

“Hai anak Adam, Aku telah sakit, tetapi engkau tidak menjenguk-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana cara saya menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Tuhan penguasa alam semesta? Allah menjawab: Apakah engkau tidak mengetahui bahwa seorang hamba-Ku bernama Fulan sedang sakit tetapi engkau tidak mau menjenguknya. Sekiranya engkau mau menjenguknya, pasti engkau dapati Aku di sisinya.

 

Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberikan makan kepada-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya saya memberi makan kepada-Mu, sedang Engkau Tuhan penguasa alam semesta? Allah berfirman: Ketahuilah, apakah engkau tidak peduli adanya seorang hamba-Ku, si Fulan, telah datang meminta makan kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya makan. Ketahuilah, sekiranya engkau mau memberinya makan, pasti engkau akan menemukan balasannya di sisi-Ku.

 

Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberi-Ku minum. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Tuhan penguasa semesta alam? Allah berfirman: hamba-Ku, si Fulan, minta minum kepadamu tetapi engkau tidak mau memberinya minum. Ketahuilah, sekiranya engkau memberinya minum, pasti engkau akan menemui balasannya di sisi-Ku. [HR. Muslim]”,

 

maka yang dimaksudkan oleh Allah dengan ungkapan “Aku telah sakit…, Aku minta makan, Aku minta minum …”, itu adalah keadaan yang sedang dialami oleh Dzat-Nya Yang Zhahir. Sebab kita sudah paham pula bahwa semua ciptaan ini pada hakekatnya juga adalah Dzat-Nya Yang Zhahir, yang berasal dari the small essense, atau Dzat-Nya yang Bathin. Bak kata pepatah, “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”. Segala sesuatu atau ciptaan yang berasal dari Dzatullah, pastilah tidak akan diberi nama selain dari Dzatullah pula. Perbedaan ciptaan yang satu dengan yang lainnya hanyalah dalam hal sifat-sifat saja…

 

Begitulah seterusnya, setiap kali kita melihat ciptaan, kejadian, peristiwa, apapun juga, maka kita sudah tahu bahwa itu adalah Dzat-Nya. Ketika kita, misalnya,  melihat diri kita dari ujung rambut sampai kepada ujung kaki, maka kita sudah paham sepaham-pahamnya bahwa semuanya itu adalah Dzat-Nya semata. Dzat-Nya Yang Zhahir. Sehelai rambut kita adalah Dzat-Nya, seiris tipis kulit kita adalah Dzat-Nya, sepasang mata kita danjuga alat indera kita yang lainnya juga adalah Dzat-nya. Jantung kita, paru-paru kita, ginjal kita, otak kita, lever kita, dan seluruh organ internal kita yang lainnya juga adalah Dzat-Nya. Jadi…, jelas sekali sebenarnya bahwa seluruh sel tubuh kita tak lain dan tak bukan adalah DZAT-NYA YANG ZHAHIR.

 

JIWA kita yang terdiri dari Hati/Minda dan Ruh, yang merupakan diri kita yang bathin, juga adalah Dzat-Nya. Bahkan sampai kepada pikiran dan perasaan kita, semua itu juga adalah Dzat-Nya. Karena semuanya itu adalah penzhahiran dari Dzat-Nya yang sedikit, the small essense.

 

Kalau kita sudah paham dengan hal yang seperti ini, maka kita juga akan benar-benar TIDAK berani lagi untuk BERKATA dan MENGAKU “aku” kepada siapapun juga. Karena ternyata kita benar-benar TIDAK WUJUD sama sekali. Sebab Yang Wujud ternyata adalah Dzatullah yang sedang memikul tanggung jawab dari Allah untuk berperan sesuai dengan peran-peran yang tertentu, pada waktu dan tempat yang tertentu pula. Karena kita tidak wujud, maka sebenarnya kita juga TIDAK MEMILIKI apa-apa. ZERO…, NUL…

 

Bersambung

Read Full Post »

Begitu juga ketika Allah berfirman bahwa Dia adalah Allah:

 

  • Yang Maha Melihat, maka Yang Allah maksudkan itu adalah bahwa Dia Maha Melihat segala apapun juga yang ada dan yang terjadi pada semua ciptaan di dalam Lauhul Mahfuz MELALUI Dzat-Nya Yang sedikit, the small essense.

 

  • Yang Maha Mendengar, maka Yang Allah maksudkan itu adalah bahwa Dia Maha Mendengar segala apapun juga yang ada dan yang terjadi pada semua ciptaan di dalam Lauhul Mahfuz MELALUI Dzat-Nya Yang sedikit, the small essense.

 

  • Yang Maha Mengawasi, maka Yang Allah maksudkan itu adalah bahwa Dia Maha Mengawasi segala apapun juga yang ada dan yang terjadi pada semua ciptaan di dalam Lauhul Mahfuz MELALUI Dzat-Nya Yang sedikit, the small essense.

 

  • Yang Maha Mengetahui, maka Yang Allah maksudkan itu adalah bahwa Dia Maha Mengetahui segala apapun juga yang ada dan yang terjadi pada semua ciptaan di dalam Lauhul Mahfuz MELALUI Dzat-Nya Yang sedikit, the small essense.

 

  • Yang Maha Berkuasa, maka Yang Allah maksudkan itu adalah bahwa Dia Maha Berkuasa atas segala apapun juga yang ada dan yang terjadi pada semua ciptaan di dalam Lauhul Mahfuz MELALUI Dzat-Nya Yang sedikit, the small essense.

 

Sebab DI LUAR Lauhul Mahfuz, tidak ada sesuatu apapun yang Akan Dia Lihat, akan Dia Dengar, akan Dia Awasi, akan Dia Ketahui, dan akan Dia Kuasai. Karena apapun yang ada diluar Lauhul Mahfuz semata-mata adalah Diri-Nya Sendiri, Dzat-nya Yang Maha Indah. Dzat-Nya Yang Maha Suci dari segala prasangka, praduga, khayalan, dan lamunan. Maha Tinggi dan Maha Besar-Nya sendiripun juga tidak akan pernah terduga-sangka dan tidak terkhayal-lamunkan oleh siapapun juga kecuali hanya bagi Dia Sendiri. Dia sungguh Laisa Kamistlihi Syai’un bagi seluruh makhluk.

 

Ketika Allah berkata bahwa Dia adalah Allah:

 

  • Yang Maha Halus, maka Yang Allah maksudkan dengan Yang Maha Halus itu adalah Dzat-Nya Yang sedikit, the small essense yang akan tetap ada disebalik semua ciptaan. Sekecil apapun ciptaan itu terzhahir, seperti misalnya atom, partikel Higgs Bosson, dan bahkan kalau ada yang lebih kecil lagi dari itu, maka disebalik semua itu pasti ada Dzat-Nya yang menjadi Wajibul Wujud bagi terzhahirnya kesemuanya itu.

 

  • Yang Meliputi segala sesuatu, maka yang Allah maksudkan dengan Yang Maha Meliputi itu adalah Dzat-Nya Yang sedikit, the small essense. BUKAN Allah sendiri yang meliputi segala sesuatu, sebab ternyata dengan padangan seperti itu akan berujung kepada Pahaman Wahdatul Wujud. Akan tetapi Yang Maha Meliputi itu adalah the small essense, yang tidak saja berada disebalik semua ciptaan, akan tetapi juga meliputi semua ciptaan itu dengan Kemaha-halusan yang hanya akan bisa terdeteksi oleh Hati yang sudah sangat bening dan bersih, dan dengan Mata Hati yang sudah TIDAK lagi dalam keadaan buta dan tuli.

 

  • Yang ada dimana-mana, seperti halnya juga dengan Yang bersamamu dimanapun kamu berada, Maka yang dimaksudkan oleh Allah itu juga adalah Dzat-Nya Yang sedikit, the small essense. Kemanapun kita menghadapkan wajah kita, atau pandangan mata hati kita, kekiri, kekanan, kebawah, keatas, kedepan, kebelakang, maka MATAHATI kita hanya akan melihat kenyataan the small essense, Dzatullah. Dzat yang tidak ada rupa, tidak ada warna, tidak ada huruf, tidak ada suara, tidak ada. Dzat yang Laisa Kamistlihi Syai’un.

 

Bersambung…

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: