Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2013

Mengurai Benang Kusut.

Dari uraian diatas, kita sekarang bisa memahami bahwa setiap manusia ternyata dibekali oleh Allah dengan 3 fitrah keinginan yang paling dasar. Yaitu: 1. fitrah ingin untuk berkembang biak; 2. fitrah ingin untuk mempertahankan hidup dari segala ancaman dan gangguan; dan 3. fitrah ingin untuk hidup dalam keadaan yang lebih baik dari kehidupan sebelum-sebelumnya.

Fitrah yang pertama dan kedua, yaitu fitrah ingin untuk berkembang biak dan fitrah ingin untuk mempertahankan hidup dari segala ancaman, sebenarnya juga dimiliki oleh hewan ternak maupun hewan melata. Tanpa fitrah itu semua manusia dan hewan akan punah dari permukaan bumi ini. Alat yang dipakai oleh manusia dan hewan untuk menjalankan fitrah itu juga hampir sama, yaitu lapisan otak bagian dalam (limbik system). Ketika bagian limbik ini disentuh oleh sebentuk daya, maka saat itu bermulalah segala aktifitas yang kita (dan hewan) perlukan untuk berkembang biak dan untuk membela diri dari mara bahaya.

Namun pada hewan proses itu berhenti hanya sampai pada pemenuhan fitrah pertama dan fitrah kedua itu saja. Sedangkan untuk kita, Allah memberikan satu kelebihan lagi, yang akan membuat kita sangat berbeda dengan hewan. Sangat berbeda. Kelebihan itu adalah dalam bentuk fitrah ke tiga, yaitu kita ingin untuk hidup dalam keadaan yang lebih baik…, lebih baik…, dan lebih baik lagi… dari waktu ke waktu.

Untuk menjalankan fitrah ketiga ini, fitrah ingin untuk lebih baik, kita dibekali oleh Allah dengan lapisan otak luar atau CORTEX yang lebih besar dan lebih compleks dibandingkan dengan yang dimiliki oleh hewan. Bagian cortex inilah nantinya yang akan kita gunakan untuk menemukan dan menyempurnakan berbagai cara agar kita bisa hidup lebih baik dalam segala hal.

Agar lapisan cortex ini bisa berfungsi dengan baik, maka kita perlu membuatnya aktif pada saat-saat dibutuhkan. Untuk mengaktifkannya, alatnyapun sudah disiapkan oleh Allah dengan sangat sempurna. Yaitu melalui proses melihat dengan mata, mendengar dengan telinga, membaui dengan hidung, mengecap dengan lidah, atau merasakan dengan kulit kita. Alat-alat ini lebih kita kenal dengan istilah Panca Indera, atau VAKOG dalam istilah Neuro Linguistic Programming (NLP).

Untuk setiap proses dan kejadian yang melewati panca indera kita itu, ada bagian-bagian tertentu dari lapisan cortex kita yang menyala, berpendar, dan bercahaya. Saat itu seperti ada aliran listrik arus lemah yang mengalir pada tempat-tempat tertentu didalam cortex kita. Nyala listrik lemah itu kemudian mengaktifkan kode DNA tertentu yang akan menyebabkan adanya sekresi hormon tertentu kedalam aliran darah kita. Kode DNA yang menyala dan jenis hormon yang akan dikeluarkan itu sangat tergantung pada “penerimaan” atau “penolakan” kita terhadap apa yang kita lihat, kita dengar, kita baui, kita kecap, dan kita rasakan itu.

Kalau kita “menerima” apa-apa yang masuk kedalam otak kita melalui panca indera kita itu tanpa perlawanan sedikitpun, maka kode DNA yang akan aktif adalah kode yang akan mensekresikan hormon ENDORPHINE dan beberapa hormon variannya kedalam aliran darah kita. Akibat dari adanya sekresi hormon endorphine itu didalam darah kita, sel-sel tubuh kita akan saling bergetar dalam sebuah harmoni dengan alam yang ada disekitar kita. Otot-otot kita akan kendor, tubuh kita menjadi rileks, dan nafas kitapun akan menjadi halus seperti nafas bayi yang sedang tidur. Sebagai imbalannya, muncul pula sebentuk rasa bahagia yang memenuhi relung dada kita. Nyaman sekali. Kita seperti berada dalam lautan kebahagian. Kalaulah kemudian kita memulai aktifitas kita saat dada kita sedang dialiri oleh rasa bahagia seperti itu, maka hasilnya dapat dipastikan akan berlipat ganda dibandingkan kalau kita mengerjakan sesuatu dalam ketiadaan rasa bahagia itu didalam dada kita. Bedanya sangat jauh.

Sebaliknya kalau kita “menolak” setiap apa-apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita baca, kita bau, kita rasakan, maka sebenarnya saat itu kita seakan-akan sedang berada pada suatu tempat yang disana penuh dengan mara bahaya yang sedang mengancam. Boleh jadi penolakan kita itu kita lakukan bukan dalam bentuk kata-kata penolakan seperti “tidak begitu, kamu salah”, dan sebagaimya, tapi cukup dengan hanya sekedar memperlihatkan sikap-sikap tubuh tertentu saja yang bermakna penolakan, maka pengaruhnya akan sama saja.

Begitu menolak, seketika itu juga otak kita seakan-akan diperintahkan untuk mensekresikan hormon ADRENALIN dan beberapa hormon turunannya kedalam pembuluh darah kita. Sel-sel tubuh kita secepat kilat menimbun energi. Otot-otot kita menegang, punggung kita membungkuk membentuk huruf C. Nafas kita mulai memburu dan tersengal-sengal karena tubuh kita membutuhkan oksigen lebih banyak yang diperlukan untuk menimbun energi di dalam sel-sel tubuh kita. Tekanan dan aliran darah kita meningkat dengan tajam, Denyut jantung kita menggelora lebih cepat.

Berbarengan dengan itu, sebentuk rasa yang menjepit muncul didalam dada kita. Rasanya sungguh tidak enak. Dada kita serasa sempit sekali. Sementara sel-sel tubuh kita penuh dengan energi yang siap kita lontarkan kepada musuh kita, tekanan dan denyut jantung kita meningkat dari biasanya. Kalau keadaan seperti ini berlanjut terus selama beberapa menit, atau beberapa jam, atau bahkan hari, maka beberapa sel-sel tubuh kita akan segera terbakar, atau terpacu untuk berkembang secara liar membentuk kanker. Stroke dan serangan jantung sih rasanya tinggal menunggu waktu yang tidak terlalu lama untuk menyerang kita.

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Begitu tercetus ungkapan “ana khairu minhu…” dari mulut kita, maka seketika itu juga sebentuk daya kembali menyentuh kode DNA tertentu di dalam sel-sel otak kita. Kode itu mengaktifkan tombol pemacu sekresi hormon adrenalin dan berbagai bentuk hormon turunannya di dalam otak kita. Pembuluh darah kitapun kemudian dibanjiri oleh hormon adrenalin tersebut. Setiap sel di dalam tubuh kita menjadi siap siaga seperti halnya sedang menghadapi ancaman yang akan menganggu kelangsungan hidup kita dan keturunan kita. Punggung kita akan sedikit membungkuk dan membentuk huruf C. Sikap tubuh seperti ini mirip sekali dengan sikap tubuh Bruce Lee, sang legenda Jet Ku Ne Do, dihadapan musuh-musuhnya. Bentuk tubuh seperti huruf C ini juga terjadi pada beberapa hewan, seperti ular cobra, singa, dan bintang-binatang lainnya ketika mereka merasa terusik. Sebenarnya, sikap tubuh seperti ini adalah sebagai pertanda bahwa saat itu setiap sel di dalam tubuh kita telah siap sedia untuk membertahankan diri dari ancaman orang lain yang kita anggap akan melemahkan posisi kita dihadapannya.

Satu persatu tindakan kita untuk membela rasa lebih kita dibandingkan dengan orang lain itu bermunculan. Mulai dari umbaran kata-kata, yang tentu saja sangat tajam dan pedih menyilet perasaan, sampai dengan tindakan fisik dari yang sangat ringan sampai dengan tindakan pembunuhan massal atas suatu kaum terhadap kaum yang lainnya. Semua itu seperti dengan sangat mudahnya kita lakukan. Alasan-alasannya pun seperti bisa kita temukan dengan pas. Tindakan-tindakan yang kita lakukan itu sangatlah emosional sekali. Dan untuk melaksanakannya kita membutuhkan energi yang sangat besar. Semakin sering kita berada dalam keadaan siaga penuh seperti ini, semakin banyak pula energi yang akan kita butuhkan.

Lalu dari mana sumber energinya kita dapatkan?.

Pertama, energi itu akan diambil dari dalam darah kita. Kemudian kalau itu tidak cukup, maka energi itu akan diambil dari sel-sel yang paling lunak dan paling lemah di dalam tubuh kita, misalnya dari hati (lever), jantung, otak, dan ginjal. Organ-organ dalam inilah yang terlebih dahulu akan kena dampaknya. Makanya semakin sombong dan angkuh seseorang, maka semakin mudah pula lever, jantung, ginjal, dan otaknya bermasalah. Karena saat dia mengumbar kesombongannya itu, energi dari organ-organ dalamnya disedot dengan sangat rakusnya, sehingga organ itu akan kekurangan energi. Fungsi setiap selnya menjadi tidak normal. Lalu berbagai penyakitpun bermunculan dengan sangat mudahnya. Kanker, stroke, lever, dan gagal ginjal, adalah sedikit dari sekian banyak penyakit yang akan bermunculan di dalam dirinya dengan mudahnya

Karena, saat kita mengaku lebih baik dari orang lain itu muncul, pembuluh darah kita dibanjiri oleh adrenalin, rasanya pun ada. Kita merasa seperti dijepit oleh keadaan yang ada disekitar kita. Rasanya pedih, sempit. Gelombang nafas kita jadi tersengal-sengal. Lalu ada kepedihan yang sangat mendalam tiba-tiba muncul dari dalam dada (sudur) kita. Pedih sekali…

Saat itu ada dua kemungkinan tindakan yang akan kita lakukan. Kalau kita berada pada posisi sebagai seorang yang sedang berkuasa dibandingkan dengan orang lain, maka segala ucapan dan tindakan kita akan menyebabkan penderitaan dan kepedihan pula bagi orang lain. Ketika orang lain tidak berkutik dihadapan kita, maka sejenak akan muncul rasa nikmat di dalam dada kita. Rasa nikmat mengaku bahwa kita lebih dalam hal ini dan itu dari orang lain.

Sebaliknya kalau saat itu kita kalah kuat dari lawan kita, maka kita akan bertindak sebagai orang yang tersakiti atau sebagai orang yang menjadi korban (terzalimi). Karena kita merasa jadi korban dan disakiti, maka kitapun akan berusaha untuk mencari teman agar rasa sakit dan pedihnya menjadi korban dan orang yang disakiti itu bisa kita share dengan orang lain. Begitu kita mendapat teman yang sama-sama merasa jadi korban dan disakiti, maka muncul pula sejenak rasa nikmat didalam dada kita. Rasa nikmat sebagai sesama korban dan sesama orang yang disakiti. Bahwa bukan kita saja yang jadi korban dan orang yang disakiti. Ternyata ada orang lain yang sama-sama jadi korban seperti kita. Kita merasa jadi orang-orang yang senasib dan sepenanggungan.

Nantinya sharing kepedihan seperti ini akan melahirkan tirani-tirani mayoritas maupun tirani-tirani minoritas ditengah-tengah masyarakat. Akibat kedua-duanya sama saja. Sama-sama menebarkan kepedihan diantara sesama umat manusia. Buahnya adalah kita akan saling bertukar kemarahan, kebencian, ketakutan, kekhawatiran, kesedihan, kekecewaan, kebohongan, dan berbagai emosi negatif lainnya dengan orang-orang yang ada disekitar kita. Bahkan saling bertukar nyawapun bisa kita lakukan dengan sangat mudahnya, semudah membalik telapak tangan.

Kalaulah dalam keadaan seperti ini kita kemudian mempunyai keturunan, maka hampir dapat dipastikan bahwa kode genetika DNA, yang membawa kita untuk menimbulkan kepedihan bagi orang lain sedang menyala, akan kita turunkan pula kepada anak keturunan kita. Kode genetika yang kita turunkan itu persis sama dengan kode genetik yang dimiliki oleh Fir’aun saat dia hidup dahulu kala. Dengan begitu, tentu saja akibatnya sudah dapat kita prediksi dengan mudah. Dahsyat dan mengerikan. Karena hal itu boleh dikatakan adalah pengulangan sejarah masa lalu saja di zaman kita sekarang ini. Hanya saja sekarang ini dampaknya jauh lebih dahsyat dan lebih kolosal dibandingkan dengan dampak dimasa Fir’aun dulu.

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Saat kita berhadapan dengan orang lain, entah kenapa, dengan sangat mudah kita bisa berkata bahwa kita ini lebih baik dari orang lain itu. Ketika ada orang lain dihadapan kita, ada sebentuk daya yang membuat kita untuk segera merasa lebih pintar, atau merasa lebih cerdas, atau merasa lebih baik, atau merasa lebih hebat, atau merasa lebih gagah, atau merasa lebih berkuasa, atau merasa lebih kaya dari orang lain itu. Bahkan kita bisa pula merasa bahwa kita lebih beriman, lebih taqwa, lebih shaleh, atau berbagai perasaan lebih-lebih lain darinya.

Satu kalimat “aku lebih baik darimu” saja, yang dulu diucapkan oleh Iblis terhadap Adam, akibatnya sudah sedemikan hebatnya. Iblis terlempar dari kehidupan syurgawi yang bergelimang kenikmatan ke kehidupan neraka yang penuh dengan siksaan dan angkara murka. Apalagi kalau semua perasaan lebih kita dari orang lain seperti diatas berkumpul menjadi satu di dalam diri kita, dan itu berlanjut terus menerus sepanjang hidup kita, tentu akibatnya akan sangat mengerikan sekali. Bahkan bisa-bisa kita menjadi penerus-penurus Fir’aun di zaman kita sekarang ini.

Misalnya, kalau kita hanya jadi orang biasa, maka kita akan menjadi masalah besar bagi orang-orang yang ada disekitar kita. Kalau kita seorang lurah, atau walikota, atau gubernur, wakil rakyat, atau bahkan seorang presiden, maka kita, segera saja, akan menjadi sumber penderitaan bagi rakyat yang kita pimpin.

Kalau di dalam sebuah perusahaan telah muncul perasaan “aku lebih baik” antara satu karyawan dengan karyawan yang lain, apalagi itu terjadi disemua level, maka perusahaan itu sebenarnya sedang menungu waktu untuk collapse.

Beberapa waktu yang lalu, kita telah menyaksikan dengan sangat terang benderang, bahwa ketika ada seorang pimpinan sebuah negara superpower merasa lebih baik, lebih kuat, dan lebih hebat dari rakyat sebuah negara lain, maka dengan sangat mudahnya dia akan membunuhi rakyat di negara lain itu. Dia dengan sangat pongah akan menghancurkan negara lain itu sambil dia tetap tersenyum sumringah. Berbagai alasan dia ciptakan seakan-akan apa yang dia lakukan itu masuk akal dan dibenarkan oleh siapapun juga. Padahal, sebenarnya apa yang dia lakukan itu tidak lebih dari apa yang dilakukan oleh Fir’aun dulu. Sebenarnyalah, dia adalah Fir’aun yang hidup di zaman sekarang ini.

Dampak yang lebih menakjubkan dari kalimat “ana khairu minhu…” itu adalah, bahwa kita menjadi terpisah antara satu dengan yang lainnya. Terpisah disini bukan saja terpisah secara fisik saja, tapi terpisah pula secara pikiran dan perasaan. Yang dekat seperti menjadi jauh. Anak bisa terpisah dari ibu dan bapaknya, suami bisa terpisah dari istrinya, saudara bisa terpisah dari saudaranya, teman bisa terpisah dari temannya, atasan bisa terpisah dari bawahannya, pimpinan bisa terpisah dengan rakyatnya. Bahkan orang-orang yang bertuhankan Tuhan yang sama, bernabikan Nabi yang sama, berkitab suci yang sama, akan terpecah belah pula menjadi berbagai golongan dan kelompok yang saling merasa asing satu sama lainnya.

Lalu terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Kita terpisah menjadi berkelompok-kelompok, bergolong-golongan. Setiap kelompok dan golongan akan saling mengatakan “ana khairu minhu…, ana khairu minhu…, ana khairu minhu…” kepada kelompok dan golongan lainnya… Sehingga nyaris tidak ada lagi kita yang bisa duduk dalam kondisi “keadaan awal” seperti yang dikatakan oleh Al Qur’an. Bahwa seluruh umat manusia pada awalnya sebenarnya berasal dari diri yang satu, min nafsin waa hidah…

Karena kita merasa terpisah satu sama lainnya, maka kitapun akan terus menerus berada dalam keadaan kekurangan daya untuk menjalankan kehidupan kita ini dengan mudah, nyaman, dan penuh kebahagiaan. Semuanya menjadi serba sulit, rumit, dan penuh dengan kepedihan. Tidak ada lagi kemudahan, tidak ada lagi kedamaian, tidak ada lagi sukacita diantara kita. Bahkan tidak ada lagi kasih sayang diantara sesama kita. Sementara itu, kita selalu meyakini bahwa kita punya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang (Ar Rahman, Ar Rahim). Akan tetapi tetesan Kasih dan Sayang Allah itu tidak mampu lagi kita tangkap untuk kemudian kita salurkan kembali kepada orang-orang yang ada disekitar kita. Aneh sekali…

Keterpisahan kita dan kita merasa lebih baik dari orang lain itu, saat ini, ternyata telah memasuki semua wilayah kehidupan kita, mulai dari lingkungan rumah tangga, sampai dengan di lingkungan dimana kita berada, seperti di jalan raya, di sekolah, ditempat bekerja, dan sebagainya. Bahkan keterpisahan dan rasa lebih baik dari orang lain itu ternyata tanpa kita sadari telah latih setiap hari selama hidup kita. Kalau tidak percaya, mari kita lihat perilaku yang kita latih di jalan raya. Sebab arena tempat latihan kita yang sangat sempurna ternyata adalah di jalan raya ini.

Ketika kita punya kendaraan baru, apa saja, maka kita melatih diri kita agar orang lain tidak mengganggu jalan kendaraan kita. Kita seakan-akan telah menjadi kendaraan dan jalan itu sendiri. Siapapun yang menghalangi jalan kita, dengan garang dia akan kita klakson sampai orang itu terkaget-kaget. Kita selalu ingin berada didepan saat kita mengendarai kendaraan itu. Kalau ada yang mendahului kita, maka kita akan memakinya didalam hati. Saat itu kita seperti merasa dikalahkan orang lain. Orang mau menyeberang jalanpun kita buat agar mereka tidak jadi menyeberang. Ketika ada tanda-tanda yang melarang kita untuk berhenti, berjalan, atau parkir, entah kenapa kita melatih diri kita untuk melanggarnya. Disuruh berhenti, kita malah tetap jalan. Disuruh jalan, kita malah inginnya berhenti disana. Dilarang parkir, kita malah inginnya parkir disana. Disuruh hati hati saat lampu kuning, kita malah tancap gas lebih kencang lagi. Dan kalau kita sudah begitu, sejenak ada rasa senang yang menjalar di dalam darah kita. Makanya kita ingin mengulanginya kembali diwaktu-waktu berikutnya.

Sungguh, saat ini proses kita mengendarai kendaraan bermotor itu, jenis apapun juga, sudah menjadi pembentuk karakter kita yang sangat sempurna. Ketika berkendara itu kita mulai dengan kesombongan kita, maka setiap hari kita melatih kesombongan kita itu. Sehingga kesombongan kita semakin mantap dan kuat. Begitu juga dengan hal-hal negatif lainnya seperti, ketidakacuhan kita terhadap peraturan, tidak menghargai orang lain, pemarah, pemberingas, pokoknya saya harus di depan, suka memepet kendaraan orang lain, dan sebagainya. Entah kenapa kita jarang sekali melatih hal-hal yang saya sampaikan dalam artikel sebelumnya kalau tidak salah artikel “https://yusdeka.wordpress.com/2010/03/12/amalan-apa-dong/. Atau memakai dan melatihnya dalam shalat kita, dzikir kita, tadzkiyatunafs kita, puasa kita dan sebagainya. Sebab semuanya itu sebenarnya mirip dengan kita mengendarai kendaraan itu. Nanti hal ini akan dibahas dalam artikel “Yang berjalan dan yang kembali”

Puluhan tahun kita melatih hal-hal seperti itu, sehingga itupun telah menjadi perilaku yang mendarah daging bagi kita. Sehingga kita tidak punya ruangan lagi didalam pikiran dan perasaan kita untuk menghargai, memberi rahmat, memberkahi, dan merasa jadi diri yang satu dengan orang-orang yang ada disekitar kita. Kita merasa terasing dalam keramaian.

Proses apa pula sebenarnya yang terjadi?.
Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Para Penerus Fir’aun, dan Iblis.

Seiring dengan bertambahnya umur dan isi otak (pengetahuan) kita, bertambah pula suatu perasaan aneh di dalam jiwa kita, bahwa kita selalu ingin “merasa lebih” dari orang lain. Kita ingin lebih pintar, lebih hebat, lebih kaya, lebih kuat, lebih makmur, dan lebih apa saja dari orang lain. Sebenarnya perasaan ingin merasa lebih dari orang lain ini juga adalah sebuah fitrah yang sengaja disusupkan Allah kepada jiwa seluruh umat manusia. Bahkan pada hewanpun, rasa lebih ini juga ada, tapi itu hanya pada tingkat yang paling dasar saja, yaitu hanya sebatas rasa paling kuat, seperti yang diperlihatkan oleh seekor singa jantan pengembara terhadap singa jantan dari sebuah kelompok singa lainnya.

Ketika seekor singa jantan dewasa muda pengembara sudah merasa lebih kuat dari singa jantan penguasa di kelompok lain, maka dia akan menantang singa jantan penguasa itu untuk memperebutkan sekelompok singa betina yang berada dibawah perlindungan singa penguasa lama itu. Bisanya, cepat atau lambat, singa penguasa lama itu akan kalah. Kalau singa penguasa lama itu tidak melarikan diri, maka dia akan dibunuh oleh singa jantan muda pendatang baru itu. Ketika singa pendatang itu telah menjadi pemimpin baru, dia akan membunuh semua anak dari singa pemimpin lama agar singa penguasa baru itu segera bisa mempunyai keturunan dari darah dagingnya sendiri. Seakan dia tengah berkata: “aku dan keturunanku lebih baik dari singa penguasa lama dan keturunannya”. Cuma saja ini kan kata yang tidak terucap olehnya.

Dan beberapa tahun kemudian hal yang sama akan terjadi pula pada singa pemimpin baru tersebut. Dia akan dikalahkan pula oleh singa pendatang baru lainnya. Begitulah cara Allah melestarikan kehidupan singa dari zaman ke zaman. Bahwa hanya singa-singa yang terbaiklah yang akan bisa meneruskan genetikanya kepada generasi berikutnya. Jadi tujuannya tidak lebih dari usaha mereka untuk berkembang biak dan menjaga diri dan anak keturunannya agar bisa bertahan hidup ditengah-tengah perubahan alam yang sangat keras.

Daya yang menyalakan kode DNA kita yang menyebabkan kita merasa ingin merasa lebih dari orang lain ini sebenarnya juga adalah sebuah fitrah manusia saja. Fitrah inilah yang akan menggiring kita untuk bisa membangun peradaban kita dari tingkat yang sekarang ini ketingkat yang lebih tinggi. Fitrah ini berguna untuk menjaga agar fitrah kita untuk berkembang biak dan menjaga kelangsungan hidup keturunan kita bisa berjalan dengan lebih baik, lebih mudah dan lebih nyaman dari yang sebelumnya. Sehingga dengan itu kita bisa mengatasi segala kesulitan di zaman kita sekarang maupun di zaman anak cucu kita kelak dikemudian hari.

Dari fitrah untuk ingin hidup lebih baik seperti ini, kita telah membuktikan lahirnya berbagai teknologi baru yang memang sangat memudahkan kita untuk menjalani kehidupan kita. Makanya kalau kita tidak mau menjalankan fitrah ini dimanapun kita berada, berarti kita sudah kehilangan modal utama kita untuk bisa bertahan hidup dan berkembang biak. Akibatnya sudah dapat dipastikan bahwa kita akan ditinggalkan oleh roda peradaban zaman tanpa ampun. Walapun kita masih tetap hidup, tapi kita sudah tidak masuk hitungan. Kita malah cenderung menjadi beban bagi kehidupan itu sendiri.

Fitrah agar kita bisa hidup lebih baik ini, baru akan menimbulkan masalah ketika kita berhadapan dengan orang lain, kita pikir kita ini jauh lebih baik dari orang lain. “Aku lebih baik darinya”, kata kita dengan sombongnya. Ungkapan ini sama dengan ucapan iblis ketika dia dihadapkan kepada penciptaan Adam: “Ana khairu minhu…, aku pasti lebih baik dari Adam…”, katanya dengan meradang. Ketika itu dia melihat Adam hanya tercipta dari tanah, sementara dia sendiri melihat dirinya tercipta dari api. Maka si iblispun mengucapkan kata-kata pengakuannya itu dengan lantang… Ana khairu minhu… Ana khairu minhu…, Ana khairu minhu… Dan gaung dari kata-katanya itu kemudian bergema menembus batas zaman demi zaman. Ya…, sebongkah kalimat kesombongan iblis itu, ternyata vibrasinya masih terasa pengaruhnya sampai ke zaman kita sekarang ini. Terutama ketika kita berhadapan dengan orang lain.

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Sebaliknya, ketika getaran perasaannya yang muncul setelah dia berpikir tentang uang itu adalah rasa “berkelimpahan”, maka daya tadi akan mengantarkannya untuk sering memberi kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Daya itu merubah kode DNA yang membuat otaknya mengeluarkan hormon endorpin saat dia memberi itu. Hormon itu memberikan rasa bahagia, sehinggag dia akan selalu dialiri oleh rasa bahagia setiap dia memberikan hartanya kepada orang lain.

Rasa bahagia itu mengalir ke setiap sel tubuhnya. Wajahnya, sinar matanya, dan tindak-tanduknya dipenuhi oleh rona dan aroma kebahagiaan, yang kemudian kesemuanya itu akan menyeret orang lain yang berada disampingnya untuk berbahagia pula. Rasan bahagianya itu seperti bisa menular kepada orang lain. Karena setiap orang yang berhubungan dengannya merasa berbahagia pula, maka orang lain itupun akan membantunya dengan mudah ketika dia membutuhkan bantuan. Kalaupun dia seorang pebisnis, maka bisnisnya akan maju dan berkembang dengan sangat pesatnya.

Bagi orang-orang yang telah mempunyai rasa berkelimpahan itu, ada sikap yang tidak berubah pada dirinya. Bahwa semakin bisnisnya maju, dia malah semakin banyak memberi. Karena dia memang selalu merasa berkelimpahan. Dari keadaan seperti inilah kemudian muncul istilah ZUHUD. Yaitu orang-orang yang punya banyak harta, tetapi jiwanya selalu dialiri oleh rasa berkelimpahan. Sehingga hartanya itu akan selalu dialirkannya kembali untuk siapapun yang membutuhkannya.

Dia sedikitpun tidak terikat dengan hartanya itu. Para sahabat Nabi malah sampai-sampai menyerahkan separuh atau bahkan seluruh hartanya untuk orang lain. Jadi zuhud itu bukanlah orang yang miskin dan tidak punya apa-apa. Zuhud itu adalah orang yang kaya raya secara materi, tapi jiwanya dipenuhi oleh vibrasi rasa berkelimpahan. Sehingga hartanya itu dengan sangat mudahnya mengalir kepada orang lain dalam bentuk zakat, infaq, sedekah, waqaf, yang jumlahnya bisa sebanyak harta yang dia punyai.

Dan dengan sangat mencengangkan, setiap harta yang telah dia keluarkan itu, akan diganti oleh Allah dengan jumlah yang berlipat ganda. Seperti ada sebuah daya yang sangat besar yang bekerja pada sel-sel DNA orang lain yang memaksa agar orang lain itu segera mengganti hartanya yang telah dia keluarkan untuk orang lain itu. Gantinya itu bisa dalam bentuk harta kembali, dan bisa pula dalam bentuk bantuan tenaga fisik dari orang lain yang tidak terduga sebelumnya. Kalau mereka berbisnis, bisnisnya maju dengan pesat. Mereka saling memberi dengan perasaan ridho sama ridho.

Dan dari sini pulalah kemudian muncul kebiasaan untuk saling memberi antara satu orang dengan orang yang lainnya. Tapi saling memberinya itu sungguh jauh berbeda dengan praktek-praktek untuk saling mencari keuntungan bagi dirinya sendiri seperti yang banyak dilakukan oleh para koruptor dan para penyogoknya di zaman sekarang ini. Saat di kampung dulu, sudah puluhan tahun berlalu, aktifitas saling memberi seperti ini sungguh menjadi sebuah kenangan indah yang sulit untuk dilupakan begitu saja.

Kalau dia kemudian mempunyai keturunan, sementara kode genetika yang memberinya rasa berkelimpahan itu sedang menyala, maka kode itupun akan diwariskan pula kepada anaknya. Sehingga anaknyapun akan siap pula menjadi orang-orang yang berkelimpahan dikemudian hari. Kecuali kalau Allah berkehendak lain terhadap anaknya itu.

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Begitu dia berhasil mencuri, menggarong, maling, atau korupsi, maka daya itu seperti hilang begitu saja dari sel-sel tubuh dan darahnya. Sejenak dia akan merasa nyaman. Stress released. Cuma saja setelah itu sel-sel tubuhnya itu akan kembali kekurangan energi, sehingga untuk memenuhi sel-sel tubuhnya kembali dengan energi, maka kode DNA agar tubuhnya bisa melakukan aktifitas mempertahankan hidupnya kembali menyala. Dan langkah berikutnya yang akan dia ambil sudah dapat diterka bahwa dia akan kembali mencuri, maling, garong, korupsi dengan cara-cara yang lebih canggih dan lebih kolosal dari apa-apa yang telah dia lakukan sebelumnya. Sebab, kalau tadinya dia hanya korupsi Rp. 100 juta, kemudian dia korupsi lagi dengan jumlah yang sama, maka rasanya sudah hambar. Sebab otaknya sudah bosan dengan jumlah Rp. 100 juta itu. Otaknya baru akan menghasilkan rasa ekstasis lagi kalau korupsinya sudah jadi semilyar atau dua milyar, misalnya.

Andai kata kemudian dia tertangkap, diadili, dan kemudian divonis dengan masa hukuman yang lebih rendah dari tuntutan jaksa, misalnya jaksa menuntutnya 10 tahun lebih, tapi manjelis hakim menjatuhkan vonisnya menjadi 4 tahun penjara, maka dia masih bisa untuk tersenyum sumringan. Bahkan dia bisa mengucapkan sebuah kalimat sakral “alhamdulillah” dengan penuh keharuan.

Kenapa bisa begitu?. Itu karena, ketika tombol kode DNA yang mengantarkannya untuk bisa mencuri atau korupsi sedang menyala, berarti mencuri dan korupsi itu buat dia adalah sebuah kebenaran yang harus dia jalani dan patuhi. Makanya ketika dia tertangkap dan dihukum, tapi hukumannya jauh dibawah tuntutan jaksa, maka dia akan merasa gembira dan bersyukur. Terlebih lagi, karena dia sudah terbiasa mengucapkan alhamdulillah sejak dari kecil, maka secara naluriah ucapan alhamdulillah itu akan terucap pula dari mulutnya dengan lancar dan fasih, dan dia sampai sujud pula. Tidak ada sedikitpun rasa malu yang tampak dari raut wajahnya.

Disamping itu, karena vibrasi perasaannya selalu merasa kekurangan, maka dia akan sangat sulit sekali mengeluarkan hartanya, walau hanya sedikit, untuk membantu orang lain. Pelit, medit, dan kikir adalah istilah-istilah cocok untuk menggambarkan perilaku orang-orang yang seperti ini.

Selanjutnya ketika kode DNA untuk mencuri dan korupsi itu sudah menyala, kemudan dia menikah dan punya keturunan, maka kode DNA itupun akan diturunkan pula kepada anak keturunannya. Dan ketika itu pula, pastilah daya tadi akan mengantarkan anak keturunannya untuk cenderung pula untuk mencuri dan korupsi. Kecuali kalau Allah punya kehendak lain untuk keturunan mereka itu.

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Para Pencuri dan Koruptor…

Kasus para pencuri, apalagi para koruptor ini, sekarang sedang menjadi sorotan hebat di negara kita. Pencuri atau Koruptor yang dimaksud disini adalah siapapun yang berani mengambil hak-hak orang lain dengan cara-cara yang tidak halal, tidak baik, dan tidak benar demi untuk kepentingan dirinya sendiri. Yang membedakan antara pencuri, maling, dan koruptor itu hanyalah intensitas dan cakupan aktifitas yang dilakukan oleh para pelakunya. Kalau dia pencuri, maka kelasnya adalah kelas kecil-kecilan. Kalau dia maling, maka kelasnya adalah kelas menengah sampai besar. Kalau dia menjadi maling sekaligus garong, dia bisa pula melakukan tindakan tambahan lain seperti pemerkosaan dan pembunuhan, terutama kalau dia ketahuan oleh orang lain ketika dia melakukan aktifitas pemalingan dan penggarongan itu. Sedangkan koruptor kelasnya adalah mulai dari kelas ikan kakap sampai dengan kelas ikan paus. Sawah, gunung, laut, pulau, perusahaan, istitusi negara, dan bahkan negarapun bisa dia makan.

Walaupun intensitas dan cakupan aktifitasnya berbeda seperti itu, akan tetapi proses yang terjadi di dalam tubuh para pelakunya persis sama. Proses itu terjadi mulai dari sejak dia bangun tidur, berlanjut selama dia beraktifitas di siang hari, dan baru berakhir ketika dia tidur kembali.

Begitu dia membuka mata terbangun dari tidurnya dipagi hari, sebelum dia melakukan apa-apa dan sebelum berpikir apa-apa, dia sudah disergap terlebih dahulu oleh ruang pikirannya yang berisikan bibit-bibit pikiran tentang UANG.

Sebenarnya bibit pikiran tentang uang ini sangat netral sekali sifatnya. Karena begitu kita memikirkan tentang uang, sebenarnya saat itu pula sebentuk “daya” akan menyentuh tombol-tombol kode genetika (DNA) kita untuk kemudian memaksa otak kita untuk mengaktifkan hormon-hormon dan enzim-enzim yang membuat kita mampu melakukan berbagai aktivitas untuk “mempertahankan hidup” kita. Fitrah sekali sebenarnya ketika itu.

Yang akan membedakan antara kita satu sama lainnya, setelah bibit pikiran kita tentang uang itu muncul di dalam benak kita, adalah perasaan apa yang muncul di dalam dada kita setelah itu. Perasaan yang mengikuti pikiran pertama kita itu begitu pentingnya untuk kita amati. Sebab dari sanalah bermulanya tindakan-tindakan yang akan kita lakukan berikutnya. Perasaan itu lebih tepat dikatakan sebagai vibrasi rasa. Sebab rasa itu punya getaran atau vibrasi tertentu. Vibrasi rasa yang muncul mengikuti bibit pikiran kita tentang uang itu ada dua macam. Yaitu vibrasi rasa “kekurangan” disatu sisi, dan vibrasi rasa “berkelimpahan” disisi yang lainnya.

Bagi para pencuri, maling, garong, dan koruptor, perasaan yang muncul di hati mereka mengikuti bibit pikiran mereka tentang uang adalah vibrasi rasa “kekurangan”. Ada perasaan tidak cukup di dalam “dirinya” tentang uang yang telah dia punyai. Karena dia merasa tidak cukup, maka daya tadi mengantarkannya untuk masuk kedalam ruang pikiran berikutnya yang berisikan tentang “siapa” lagi yang bisa dia makan, “dimana” dia akan melakukan aktifitas untuk pemenuhan rasa kekurangannya itu, dan pikiran-pikiran kotor lainnya. Segera saja setelah itu, seperti dicurahkan dari langit, dia akan menemukan berbagai taktik, cara, metoda, tipuan, pembohongan, intrik, agar rencana pencurian dan korupsinya itu bisa terwujud. Semua itu seakan-akan muncul begitu saja di dalam benaknya.

Bahaya apapun akan diterjangnya. Rasa takutnya, kalau-kalau dia tertangka oleh penegak hukumpun, akan tertutupi oleh rasa ketakutannya akan kekurangan harta. Bahkan diapun tidak takut andai kata nyawanya sendiri yang akan menjadi taruhannya. Aliran darahnya, sel-sel tubuhnya dipenuhi oleh daya yang memacu keluarnya hormon adrenalin. Hormon yang pada awalnya bertujuan untuk menghasilkan kekuatan agar dia bisa bertahan hidup dari berbagai ancaman dan halangan. Daya dan hormon yang pada awalnya sangat fitrah itu, kemudian berubah menjadi daya yang bertujuan untuk merusak hak orang lain. Dengan mudahnya dia akan mengambil harta orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Bahkan dia tega untuk merusak dan menghilangkan hak-hak rakyat di dalam sebuah negara.

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: