Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2012

AN NAFS, NAFAS YANG NAFAS

Kuperhatikan pikiranku.
Diujungnya ada selaksa materi.
Diujung lainnya lagi ada kumpulan peristiwa-peristiwa.
Diujung yang lainnya lagi ada gunungan angka dan huruf.
Ya ampuun….
Semuanya menawanku.
Untuk menjadikannya sebagai MAQAMKU.
Semuanya mencengkramku.
Untuk menjadikannya sebagai MAQAMKU.
Semuanya meminta perhatianku.
Untuk menjadikannya sebagai MAQAMKU.
Semuanya menyita waktuku.
Untuk menjadikannya sebagai MAQAMKU.
Pusiiiiing….

Kuperhatikan perasaanku.
Ada sempit dan lapang silih berganti sesuai dengan pikiranku.
Ada sedih dan gembira silih berganti seirama dengan pikiranku.
Ada nestapa dan bahagia silih berganti mengiringi pikiranku.
Ada cinta dan benci silih berganti mengikuti pikiranku.
Ya ampuun…
Semuanya berlomba untuk menjadikannya sebagai MAQAMKU.
Semuanya membuatku capek…
Semuanya membuatku lunglai..
Semuanya membuatku lelah…
Semuanya membuatku sakit…
Brakkkk…

Aku ingin lari dari pikiranku.
But how…
Bagaimana bisa aku lari dari pikiranku sendiri?.
Wong itu adalah MAQAMKU sendiri.
Karena aku telah menjadi pikiranku itu sejak puluhan tahun yang lalu.
Sejak lama sekali…

Aku juga ingin lari dari perasaanku.
But also how…
Bagaimana bisa aku lari dari perasaanku sendiri?.
Wong itu adalah MAQAMKU sendiri.
Karena aku telah menjadi perasaanku itu sejak aku lahir sampai sekarang.
Sejak lama sekali…

Sampai suatu saat…
Kuperhatikan saja nafasku.
Hanya ada angin yang keluar masuk paru-paruku.
Lalu kuletakkan pikiranku bersama angin.
Bersama angin ketemukan getaran-getaran,
Ada getaran yang kasar,
Ada getaran yang halus.
Dan ada pula getaran tanpa getaran.

Sejenak kubermain dalam getaran-getaran itu..
Ooo…, Ooo…, Ooo…
Aha…, Aha…, Aha…
Eh…, Eh…, Eh…
Asyiik…
Masyuk…

Kulihat kembali pikiranku…
Lho…
Diujungnya sekarang ada selaksa ooo…
Diujung lainnya sekarang ada kumpulan aha…
Diujung yang lainnya lagi sekarang ada gunungan eh…
Ya ampuun…., ternyata…
Semuanya juga menawanku.
Untuk menjadikannya sebagai MAQAMKU.
Semuanya juga mencengkramku.
Untuk menjadikannya sebagai MAQAMKU.
Semuanya juga meminta perhatianku.
Untuk menjadikannya sebagai MAQAMKU.
Semuanya juga menyita waktuku.
Untuk menjadikannya sebagai MAQAMKU.

Akupun kembali dibuat sibuk…
Sibuk oleh semua ooo.
Sibuk oleh segala aha…
Sibuk oleh rupa-rupa eh..
Sibuk berasyik-masyuk…

Kuperhatikan kembali perasaanku
Juga ada sempit dan lapang silih berganti, tapi itu sesuai dengan ooo.
Juga ada sedih dan gembira silih berganti , tapi itu seirama dengan aha.
Juga ada nestapa dan bahagia silih berganti, tapi itu mengiringi eh.
Juga ada cinta dan benci silih berganti, tapi itu mengikuti ooo…, aha…, dan eh…
Amboiii…
Sekarang kok ada rasa nikmat yang mengalir…
Nikmat akan pengakuan…
Nikmat mengaku bisa ooo.
Nikmat mengaku bisa aha.
Nikmat mengaku bisa eh.

Akupun terkekeh…
Akupun sumringah…
Akupun bangga…

Aduh…
Sekarang kadangkala kok juga ada rasa marah yang mengalir
Marah karena tidak diakui…
Marah tidak diakui bisa ooo.
Marah tidak diakui bisa aha.
Marah tidak diakui bisa eh.

Akupun meradang…
Akupun menantang…
Akupun menghadang…

Semuanya kembali membuatku lunglai..
Semuanya kembali membuatku lelah…
Semuanya kembali membuatku sakit…
Karena semua ooo…, aha…, eh…, itu ingin menawankau.
Agar aku bersedia menjadikannya sebagai MAQAMKU.
Brakkkk…

Sampai suatu saat…
Aku bersedia untuk mundur selangkah menuju ujung nafasku
Menuju ujung angin.

Ada yang diam…
Yang diam yang menggerakkan angin.
Yang diam inilah ternyata NAFASKU yang sebenarnya.
Ya…
Ternyata nafasku bukanlah angin.
Tapi nafasku adalah yang diam.
Yang diam yang menggerakkan angin.

Kuperhatikan nafasku itu
Diam…
Pikiranku ikut diam.
Perasaanku ikut tenang.
Akupun ikut diam…
Diam…
Karena memang hakekatku adalah yang diam.
Diam untuk menyerah…
Tapi menyerah kepada siapa?.
Menyerah kemana?.

Kulihat Al Qur’an…
Lalu kulihat pula Al Hadist…
Keduanya menunjukkan Ada Yang Sebenarnya Ada…
Ada Perbendaharaaan Tersembunyi
Allah…
Yang Maha Diam…
Yang Maha Diam…, tapi juga Yang Bergerak Maha Lembut
Yang Maha Diam…, tapi juga Yang Maha Aktif
Yang Maha Diam…, tapi juga Yang Maha Sibuk
Maha Aktif menabar KUN.
Maha Sibuk menebar Iradat.
Maha Aktif dan Maha Sibuk merangkai Qudrat.

Tiba-tiba…
Aku jadi tidak berkutik …
Aku menyerah kepada Sang Maha Diam.
Aku takluk kepada Sang Maha Tersembunyi.
Aku habis dihadapan Sang Perbendaharaan Tersembunyi.

Aku hanya diam untuk menyerah.
Menyerah untuk DIISI…
Menyerah untuk DIPENUHI…

Diisi…
Diisi oleh rasa tenang yang amat sangat…
Tenang diatas tenang
Tenang diatas segala rasa tenang yang pernah ada

Dipenuhi….
Dipenuhi oleh rasa bahagia yang amat sangat…
Bahagia diatas bahagia…
Bahagia diatas segala rasa bahagia yang pernah ada.

Tenang dan Bahagia yang membuatku terloncat.
Terloncat kealam penyaksian…

Alastu birabbikum…
Bala syahidna…, bala syahidna…
Bala syahidna…, bala syahidna…
Bala syahidna…, bala syahidna…

Dan akupun rela untuk TIADA…
Tiada lagi MAQAM-MAQAM bagiku…

Aku tak lebih hanyalah sekedar seorang hamba ALLAH yang rela untuk DIKUASAI-NYA.
Aku tak lebih hanyalah sekedar seorang hamba ALLAH yang rela untuk DIAJARI-NYA.
Walau itu hanya untuk sekejap mata sekalipun,
Itu cukuplah bagiku…, cukup sekali…
Karena aku memang bukan siapa-siapa…
Dan bukan apa-apa…………

Salamun qaulan mirrabbirrahiim…

Iklan

Read Full Post »

Ternyata Intisari dari syariat yang Beliau bawa, yang tercantum dengan indah di dalam Al Qur’an dan Al Hadist sebenarnya hanya satu saja, yaitu untuk memberitahu semua manusia tentang ADA ALLAH. Ya Ada Allah yang benar-benar NYATA ada didepan kita. AZ ZAHIRU. Allah yang bukan batu, bukan benda mati, bukan sesuatu yang DIAM. Tapi Allah Yang Maha Merespon, Maha Menjawab setiap do’a dan panggilan panggilan kita. Ada proses DIALOGIS antara kita dengan Allah disetiap saat dan dimanapun juga kita berada.

Proses DIALOGIS kita dengan Allah itulah yang kemudian disebut oleh Allah sebagai ILHAM atau WAHYU. Dimana Allah menyusupkan kedalam dada kita suatu keadaan atau suasana secara UTUH yang membuat kita tidak ragu sedikitpun untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu itu. Keadaan atau suasana itu mewakili sebuah kejadian atau peristiwa yang akan kita hadapi setelah proses dialogis itu terjadi. Misalnya, kalau Allah sudah berkenan memberikan kita sesuatu, sebelum sesuatu itu sampai ketangan kita, rasa senangnya atau bisa pula rasa tidak enaknya sudah ada terlebih dahulu didalam dada kita. Itulah perintah Allah. Kita tinggal patuhi saja perintah itu.

Dua hal TAMBAHAN ini pulalah yang akan didapatkan oleh siapapun juga yang mau mengikuti contoh dari Beliau dalam beragama, berilmu, dan berkarya. Siapapun diantara kita yang mau mencontoh dan mengikuti apa-apa yang Beliau lakukan, akan bisa merasakan pula puncak kebahagiaan (ekstasis) seperti yang dialami oleh Beliau dan Sahabat-sahabat Beliau. Itu terjadi tatkala kita bersedia pula menjadi hamba yang FANA dihadapan Allah Yang Maha Agung.

Rasulullah mencontohkan kepada kita tentang FANA ini, paling tidak, dalam 3 hal:

1. Patuh kepada Kehendak Allah yang telah tetapkan-Nya terhadap Alam Semesta berupa FITRAH ALAM yang tidak akan pernah berubah sepanjang masa, termasuk terhadap fitrah tubuh dan otak manusia. Fitrah VAKOG. Sehingga Beliau menjadi rahmat bagi alam semesta beserta isinya. Otak Beliau cerdas, tubuh Beliau kuat, keberadaan Beliau bermanfaat dan mencerahkan bagi kawan dan lawan, bahkah Beliau juga bermanfaat terhadap hewan, tumbuh-tumbuhan, dan kaum Jin.

Semakin kita patuh kepada kehendak Allah dalam bentuk fitrah alam ini, maka hasilnya juga akan semakin baik. Tapi baiknya masih SEPERTIGA seperti yang telah diterangkan diatas. Sedangkan baik yang DUA PERTIGA lagi akan didapatkan dalam bentuk:

2. Patuh kepada Kehendak Allah dengan cara menjalankan syariat yang diperintahkan oleh Allah. Sehingga Beliau benar-benar shalat, puasa, zakat, dzikir, seakan-akan Beliau besok benar-benar mau meninggal. Sehingga Beliau menjalankannya secara TOTALITAS, dan…

3. Patuh terhadap Kehendak Allah dalam bentuk Ilham, Wahyu, yang sampaikan-Nya melewati hati Beliau yang sangat bening. Sehingga Beliau nggak ada habisnya, nggak ada matinya, nggak ada “hang”-nya ketika berhadapan dengan berbagai masalah, kesulitan, dan pertanyaan umat. Selalu ada way out. Selalu ada solusi…

Jadi FANA yang sesungguhnya adalah dalam bentuk kepatuhan total kita kepada Allah tanpa reserve. Melakukan segala sesuatu tanpa melalui kehendak hawa nafsu kita, tapi melalui Kehendak Allah yang disusupkan-Nya kedalam dada kita. Fana yang bukan dalam bentuk ekstasis dengan hilangnya kesadaran kita seperti orang yang sedang sakau, atau seperti orang sehabis mengkonsumsi zat psikotropika, seperti ganja, opium, atau sejenis tumbuh-tumbuhan yang sering dipakai oleh penduduk di pedalaman hutan Amazon, Brazil.

Dengan Fana dalam bentuk kepatuhan ini, apapun yang kita kerjakan, kita berhak untuk membaca Bismillahirrahmanirrahiim, mengatasnamakan Allah. Bukan mengatasnamakan hawa nafsu kita sendiri. Bismillah kok masih tercampurbaur dengan gejolak hawa nafsu kita sendiri, ya nggak gitu lah…

Dan yang pasti, semua kepatuhan itu tiada lain adalah kenikmatan belaka. Tapi bentuk kenikmatannya pasti tidak akan didapatkan oleh siapapun juga kalau hanya dengan mengandalkan prosesi olah VAKOG. Mau percaya atau tidak, itu masalah lain lagi. Toh tulisan ini juga hanya sebuah alternatif cara berpikir saja setelah untuk beberapa saat saya seperti DISURUH DIAM. Ternyata dari diam itu saya dibawa oleh Allah untuk memahami titik-titik simpul dari berbagai tali-temali pemikiran yang pernah saya ketahui dan jalani selama ini. Sehingga tiada lain yang bisa saya ucapkan kecuali hanya: laa ilaha illa anta, subhaanaka, inni kuntu minazhzhalimiin….

Diatas semua itu, tentu saja semua tidak terlepas dari Masalah hidayah (petunjuk Allah) belaka.

Sesungguhnya kamu tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (Al Qashash 28: 56)

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah orang yang mendapat petunjuk, dan barang siapa yang dibiarkan-Nya sesat, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang bisa memberinya petunjuk (waliyam mursyida). (al Kahfi 17).
Catatan; Karena memang Waliyam Mursyida yang sebenarnya itu tidak lain adalah Allah sendiri. Bukan siapa-siapa diantara manusia, seperti yang diyakini oleh banyak orang selama ini.

SELESAI….

Alhamdulillah..
Sungguh ini adalah Sebuah Kado istimewa dari Allah,
untuk Perkawinan Perak kami, (06 Desember 1987-2012)

Wallahu a’lam…
Wassalam….
Deka
Cilegon, 6 Desember 2012

Read Full Post »

IB:
Menikmati sajian dan tulisan mas Deka. Menikmati dengan tenang. Santai. Nikmat. Menikmati sajian itu seumpama menikmati minuman segar. Berbagai aroma dan rasa. Mencicipi sedikit demi sedikit. Mengecapnya. Menghirup dan minum penuh rasa nikmat. Berbagai aroma rasa yang unik. Namun sangat dikenali. Apapun rasa yang disajikan ada bahan dasar yang sama. Ada unsur yang meliputi semua sajian ini. Yaitu air. Betul. Air yang segar yang menyegarkan. Yang membiarkan setiap rasa meliputi dan diliputinya. Entah itu asin. Manis. Pahit. Entah itu teh. Susu. Jeruk. Atau apapun. Semua dibawa dan diliputinya. Seteguk demi seteguk saya nikmati hidangan yang mas Deka alirkan.

Apapun variasi rasa minuman yang mas Deka sajikan. Dalam sedetik saya mampu merasakan rasa airnya. Dimanapun atau dalam bentuk apapun selalu saya kenali rasa air yang meliputi semua minuman itu. Yang membawa semua rasa itu. Air itu meliputi dan membawa rasa untuk saya nikmati. Dan saya hanya perlu membuka jiwa membuka seperti sekat semipermeabel. Atau menjadi seperti busa atau sepon yang menyerap semua cairan itu.

Memposisikan jiwa untuk mengamati dan menikmati “rasa” atas sajian hidangan tulisan tersebut. Ya… Betul-betul menikmati rasanya. Sekali lagi saya sebut dan jelaskan. Rasanya. Bukan bahasanya. Bukan pula isinya. Bukan maknanya. Bukan fahamnya. Tetapi rasa. Rasa yang mas Deka sampaikan.

Seumpama saya mendengarkan musik “sedih” yang ingin disampaikan pencipta lagu. Saya merasakan kesedihan sang pencipta itu. Sederhana sekali. Saya tidak menggunakan akal atau fikiran. Tetapi rasa atau hati saat menikmati sajian dari mas Deka. Maka sayapun tidak bertanya apapun.

Saya hanya berkomentar atau menilai atau mengobservasi. Mengamati. Atau tepatnya menikmati rasa yang tengah mas Deka hidangkan. Atau merasakan apa yang mas Deka sampaikan. Diam. Hening. Menerima. Lalu membuat catatan untuk kebaikan diri sendiri tentunya. Insya Allah.

Membaca kejadian atas tulisan ini dan sambutan saya seolah sederhana dan biasa namun kalau diamati dengan jujur dan dengan hati. Akan nampak luar biasa dan aneh. Seolah kebetulan. Namun terasa pas dan pasti. Diawali dari hening. Diam. Berlanjut saya membalas. Begitu anehnya. Mengapa?.

Karena saya meyakini adanya daya yang meliputi diri saya untuk menulis ini. Tanpa daya ini maka saya tidak mampu menuliskan apapun untuk mas Deka. Anehnya bahkan keinginan menulispun tidak ada sama sekali. Seolah dicabut dan lenyap. Hilang sama sekali. Sehingga beberapa bulan ini kita tidak ada komunikasi.

Namun sebaliknya ketika daya ini menguasai dan ingin berkomunikasi atau menuliskan sesuatu kepada mas Deka. Rasanya juga sulit ditahan. Tidak mampu menahan sama sekali. Menjadi sebuah siksaan bila tidak dilakukan. Saya menuliskan hanya sekedar menuliskan saja. Apakah bermanfaat?. Tidak tahu. Apakah ditanggapi atau tidak juga tidak ada masalah. Karena saya menulis bukan untuk saya dan bukan pula untuk mas Deka. Karena adanya sebuah dorongan. Sebuah keharusan yang memaksa.

Dorongan atau daya itu sangat lembut menguasai dada. Empuk. Lembut. Dingin mengusap. Mengalir seperti air sejuk. Mengalir seperti aliran angin segar. Ketika aliran ini menyentuh kulit akan seperti iringan semut beriring. Berdenyut lembut. Seperti rongga luas nan tenang. Teduh dan nyaman. Seperti sebuah ruang yang amat luas di rongga dada. Atau seperti tubuh ini tembus hawa dan menyatu dengan udara luar dan alam raya. Demikian kalau dijabarkan atau dituliskan. Namun kalau disingkat hanya satu. Yaitu adanya keyakinan. Keyakinan itu ada rasanya. Dan penampakannya dalam bentuk informasi. Informasi (kun) menampakkan realitas dalam bentuk energy. Energy ini mampu diamati dalam bentuk gelombang atau gerak atau getar atau dzikir. Jadi seperti ada energy di rongga dada. Seperti ada gelombang yang mampu menembus kulit dada. Sehingga bergetarlah kulit dada. Saat mas Deka menyajikan hidangan. Saat air yang disajikan terserap maka bergetarlah kulit dari dada dan menyebar.

Sayapun hanya perlu tunduk pasrah dan mengikuti daya ini. Kalau diam ya hanya diam. Kalau mengamati ya diikuti. Kalau didorong menulis maka sayapun menuliskannya. Menuliskan apa adanya. Tidak perduli apakah diterima atau tidak. Hanya berserah diri. La haula wala quwata ila billah.

Deka:
Besok tanggal 6 desember rangkaian cerita tentang diam dan langit selesai saya upload, setelah itu saya akan kembali diam, mungkin itu untuk menunggu kalam yang turun kepada mas IB 🙂

IB:
Sejak akhir Ramadhan. Sayapun diam. Tidak menulis. Diam membaca. Hening menerima. Mengulang dan mengulang. Ke depan hanya siap menunggu 🙂 .

Menunggu daya itu mengarahkan ke mana. Karena kalau ditentang. Rasanya sangat berat dan menyakitkan. Dunia terasa runtuh. Sempit. Kering. Sengsara. Apatis. Semua rasa sakit di jiwa. Susah. Gelisah. Gundah atau bahasa yang lainnya.

Padahal realitasnya sama saja. Namun bisa saja rasa jiwa ini berubah total. Siksaan yang tidak mampu saya tahan. Betul-betul jiwa tersiksa.

Namun ketika mampu harmoni lalu bisa dalam hitungan detik jiwa telah berada dalam rasa syurga yang tak mampu saya tuliskan dan sampaikan.

Mampu merasakan banyak hal. Merasakan denyut alam. Merasakan gerak kehidupan. Menyapa gerak burung. Merasakan lembutnya anugerah angin. Nikmatnya air. Nikmatnya nafas. Nikmatnya penglihatan. Pendengaran. Nikmatnya iman yang tak bisa dituliskan.

Entahlah. Saya tidak melakukan apapun. Hanya seperti sebuah kunci sejak awal dalam sebuah kata sederhana: “Bersedia menerima Allah”.

Lalu Dia mempergilirkan semua rasa satu demi satu. Lalu Dia mengalirkan kefahaman satu demi satu. Untuk kemudian hilang atau diganti yang lain. Jadi hanya menjadi observer atau media saja.

Deka:
Menikmati hidup keseharian yang sedang diatur oleh Allah saja sebenarnya Mas. Karena kita, pada hakekatnya, tidak melakukan apa-apa. Sepertihalnya kita tidak melakukan apa-apa untuk bernafas…

IB:
Tepat. Itu yang saya jalani. Kita sedang diperjalankan.
Kita dusuruh pesiar dan menikmati journey.
Lalu kita diharap tenang dan puas serta ridho atas journey itu.
Maka mari kita nikmati perjalanan kita dengan senyum.
Dengan tangan terbuka lebar menyambut semua rencana yang sedang menanti di hadapan kita.
Sungguh betapa indah dan bahagianya hidup ini. Ah…, bila saja banyak orang yang bisa menyadarinya…
Salam hangat.
Selamat siang.
Selamat beraktifitas.
Segala puji bagi Allah.
Salam sejahtera.

Deka:
Alaikum salam mas IB

Resonansi Dua Sahabat Dari Dua Benua
Deka & IB
5 Desember 2012

Read Full Post »

DARI DIAM DAN HENING 13.

Yang Beliau sombong-sombongkan, Yang selalu Beliau sebut-sebut dan gadang-gadangkan adalah Allah, bukan diri Beliau sendiri.

Apa-apa Allah, apa-apa dari Allah. Kalau Beliau melarang sesuatu, Beliau pasti mengatakan bahwa itu karena Allah yang melarangnya. Ketika Beliau memerintahkan sesuatu, Beliau mengatakan bahwa itu Allah yang memerintahkannya. Tidak ada sedikitpun pengakuan dan kesombongan Beliau terhadap diri Beliau sendiri. Saat Beliau melakukan sesuatu, Beliau mengatakan bahwa itu Beliau lakukan hanya karena dorongan Allah, Bismillah…, bukan karena dorongan hawa nafsu Beliau sendiri. Inilah makna FANA yang sesungguhnya.

Selama ini FANA ini sering kita maknai seperti orang dalam keadaan mati, KARAM, Ekstasi. Orang baru bisa dianggap fana kalau dia sudah tidak ingat apa-apa lagi, termasuk tidak ingat kepada dirinya sendiri. Orang fana menurut konsep seperti ini tidak bisa melakukan apa-apa. Akan tetapi kefanaan Rasulullah justru membuat Beliau sibuk dan aktif sekali membangun peradaban umat manusia. Hasilnya banyak. Fana Beliau adalah dalam bentuk kepatuhan total Beliau terhadap Kehendak Allah. Beliau menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan larang-larang Allah. Untuk semua itu, Beliau tidak pernah berpikir tentang kenapa. Beliau hanya “sami’na wa atha’na, saya dengar dan saya patuhi ya Allah”, kata Beliau. Kepatuhan total Beliau seperti inilah yang kemudian melahirkan syariat Islam. Syariat yang bukan dalam bentuk hafalan. Tapi syariat dalam bentuk budi pekerti dan akhlak yang membentuk peradaban terindah pada zaman yang sangat gelap dan angkara murka saat itu. Syariat yang membuat Beliau MENJADI orang Islam, bukan orang yang hanya paham Islam saja tanpa bisa menjadi orang Islam.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

DARI DIAM DAN HENING 12.

Kita sangat kenal dengan kisah-kisah saat Rasulullah ingin dibunuh oleh kaum Kafir Quraisy. Rumah Beliau sudah dikepung. Tapi karena didepan Beliau Ada Allah Yang Maha Menjaga (Al Muqit), Yang Maha Memberi Keamanan (Al Mu’min), Yang Maha Melindung (Al Waliy), maka Beliaupun tenang-tenang saja. Dengan santai malah Beliau bisa keluar rumah yang sedang terkepung itu meninggalkan para pengepungnya yang terheran-heran penuh ketidakpercayaan. Bagaimana bisa Muhammad lolos dari pengepungan mereka yang sangat ketat dan kuat. Di dalam Gue Tsur pun begitu. Saat Abu Bakar Ra, khawatir kalau-kalau orang-orang kafir Quraisy menemukan Rasulullah dan Abu Bakar yang sedang bersembunyi didalam Gua itu dari pengejaran mereka, Beliau juga hanya berkata kepada Abu Bakar Ra. : “jangan takutlah, Ada Allah kok”. Saat Abu Bakar Ra. bisa “duduk” pula dalam posisi keyakinan seperti yang dimiliki oleh Rasulullah, maka segala rasa takut dan khawatir Abu Bakar Ra pun menguap dengan seketika.

Kapanpun Beliau berbicara, pastilah yang Beliau bicarakan itu tentang Allah, tentang Kehebatan Allah. Saat hujan turun, Beliau sangat merasakan sekali bahwa Allah sebenarnya sedang berbicara kepada semua makhluk-Nya: “bukankah Aku yang menurunkan hujan yang dengannya semua kehidupan bisa tumbuh dan berkembang?. Bahkan Beliaupun paham kapan saatnya hujan itu menjadi sebentuk siksaan dan peringatan keras kepada seluruh umat manusia yang sudah tidak lagi bisa menyadari dan merasakan Ada Allah dihadapan mereka.

Saat Beliau ragu-ragu untuk memerangi paman, saudara, sepupu, dan teman-teman dekat Beliau, manusiawi sekali sebenarnya keraguan Beliau itu, Beliau menyerahkan keraguan Beliau itu kepada Allah yang selalu ada dan nyata dihadapan Beliau. Lalu Allah menurunkan ayat bahwa bukan engkau yang melempar saat engkau melempar itu, tapi Allah yang melempar, bukan engkau yang memanah saat engkau memanah itu, tapi Allah yang memanah. Akhirnya Beliaupun, tanpa beban apa-apa lagi, berperang dengan saudara-saudara sekampung Beliau. Perang saudara. Duar…

Sebenarnya keadaan yang Beliau perlihatkan juga ada sebuah kesombongan, sebuah keangkuhan. Sebuah keadaan yang tidak pernah takut, khawatir, dan sedih terhadap peristiwa dan kejadian apapun. Tapi yang Beliau sombongkan adalah…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

IB:
“Membumikan jalan ke langit”. Sebuah ungkapan aneh. Luar biasa. Paradoks. Tidak masuk akal dan logika. Ketidakmungkinan yang pasti. Kepastian yang sepertinya tidak mungkin. Sebuah kegaiban yang nyata. Sebuah kenyataan yang gaib.

Sebuah poros yang ujung dan sebuah ujung yang poros. Sesuatu yang ada tapi tidak mampu diindera (tidak ada). Sesuatu yang tidak ada tapi mampu dirasa. Maka ungkapan ini seolah menghujam jauh ke dalam dada menembus jiwa. Masuk ke dalam kegaiban ruh. Mengikat dan menariknya keluar menjadi realitas.

Deka:
Saya juga hanya bisa terpana setelah tulisan itu jadi mas…

IB:
Ya mas Deka.
Begitulah adanya pengajaran Allah.
Kita hanya terpana dan terpana.
Hanya dengan satu jurus “oooo”.
Oo begitu. Ooo begini. Ooo itu… Oo ini.
Jadi hanya mengamati. Membiarkan jari ini menjadi alat saja.
Setelah jadi maka kita akan semakin bersyukur.
Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah atas pengajaran ini. Begitulah kira-kira.
Ketika belajar maka kita diajari ilmu baru ya seperti itu. Hanya dengan satu jurus… Ooo saja.
Kalau tengah mengajar atau jadi guru. Tidak boleh mengajar ilmu baru. Tetapi hanya apa yang kita tahu.
Dan hanya menyempurnakan atas apa yang sudah diketahui. Begitulah proses belajar dan mengajar.
Harus menjadi murid yang baik di hadapan Allah.

Ada ungkapan yang menarik dan tepat serta nenghujam tentang mikraj ini. Yaitu “didekatkan”.
Jadi proses ini mutlak tidak mungkin atas usaha diri sendiri. Harus ada kekuatan di luat diri. Dan di luar dimensi ruang waktu. Karena kita yang berada di dalam ruang waktu ini tidak akan mungkin mampu melewati jarak ruang waktu itu sendiri.
Pengetahuan modern membuktikan ruang waktu itu elastis. Yaitu melengkung. Dan di dalam ruang black hole itu sendiri bisa didekatkan yang biasa disebut sebagai worm hole. Contoh senderhana. Seekor semut yang merayap di batas lidi terpaksa harus menempuh perjalanan sepanjang lidi ini. Namun manusia atau juga kera yang berada di ruang yang lebih tinggi memiliki daya dan kekuatan untuk melengkungkan kedua ujung lidi ini agar kedua ujungnya bertemu. Maka tanpa usaha yang payah semut itu hanya melangkah di bumi lidi telah nenempuh perjalanan ketika ujung lidinya dikembalikan ke tempatnya. Bayangkan satu lidi di rumah mas Deka dan ujung lidi satunya di rumah saya. Maka semut itu dengan cepat singgah ke rumah saya.

Bayangkan seandainya ujung lidi itu bumi tempat saya sujud. Lalu di lengkungkan dan didekatkan sampai ke syurga ke hadapan Allah. Maka saat saya berdiri ruh saya masih menginjakkan kakinya di bumi. Dengan lengkungan ujung lidi ini maka saat saya sujud maka ruh saya sudah menginjakkan kaki di hadapan Allah. Sederhana dan mudah. Kalau Allah menghendaki.

Tidak mungkin yang pasti. Kepastian yang tidak mungkin.
Karena semuanya itu bukan usaha kita semata. Kita hanya membuat gerakan sujud sederhana. Namun Allah yang mendekatkan “ruang-waktu” dalam kesadaran kita. Bukankah ruang-waktu itu hanya ada dalam kesadaran kita. Saat kita tidur ruang-waktu itu tidak ada?. Ruang-waktu itu ada hanya bagi yang sadar. Ruang-waktu hanya bermakna bagi yang sadar.

Demikian sekedar berbagi. Juga sambil mengikuti alun gerak tulisan ini. Mengikuti irama dan nada menuju langit.

Deka:
Effortless seperti kata orang bule:)

IB:
Betul. Effortless. Semua rasa itu sangat sederhana.
Diangkat dan digantiNya dengan sesuatu rasa yang lain.
Terima kasih atas tulisan dan tentu saja. Terutama bersyukur kepada Allah.
Kepada Allah atas anugerah dan karunia-Nya.
Karena saya tidak melakukan apa-apa.
Saya hanya pasrah. Ikhlas. Bersyukur. Ridho. Berterima kasih. Rela. Sujud.
Sebagaimana halnya orang lain.

Deka:
Alhamdulillah, have a nice day bersama keluarga di benua AAA mas 🙂

IB:
Salam hangat.
Salam buat rekan yang lain. Salam sejahtera.

Resonansi Dua Sahabat Dari Dua Benua
Deka dan IB
2 Desember 2012

Read Full Post »

Akan tetapi sebaliknya, kalau diri kita yang sudah menjadi Alam ini, yang sebenarnya pada saat itu baru pada TITIK AWAL NAFSUL MUTHMAINNAH, kita tidak mau datang memenuhi panggilan Allah yang sangat mesra itu, maka seketika itu juga, tanpa jeda sedikitpun, kita akan DILAMBAI oleh berbagai materi yang memenuhi diri kita yang sudah menjadi Alam ini.

Semuanya menawarkan berbagai ilmu dan kehebatan. Kita akan menjadi gudang ilmu dan limpahan kehebatan. Ada yang bisa menguasai angin, ada yang bisa menguasai vibrasi dan quantum dengan mudah, ada yang bisa menguasai penyembuhan penyakit dengan hebat, ada yang bisa menjadi dukun santet yang mumpuni. Satu kata untuk mewakili semuanya…, SAKTI.

Biasanya contoh-contoh kesaktian yang bisa didapatkan pada wilayah kesadaran alam ini adalah: beladiri dan pengobatan. Misalnya, muncul berbagai kemampuan untuk pagar ghaib agar orang-orang bisa tidak kena kejahatan baik dari sesama manusia maupun makhluk halus; orang seperti bisa terbebas dari pengeroyokan, kejahatan hipnotis, bencana alam. Ada yang bisa memindah-mindahkan hujan; ada yang bisa mengobati berbagai penyakit seperti dengan cara Sim Salabim, ada yang merasa bisa untuk ilmu pengasihan. Dan sebagainya. Intinya…, kesemuanya itu adalah untuk kesenangan HAWA NAFS belaka.

Wah sekali sebenarnya kalau begini, akan tetapi kita akan selalu ditawan oleh semua materi dan ilmu-ilmu itu. Kemana-mana kita akan dipaksa oleh mereka untuk membesar-besarkan diri mereka. Kita dipaksa mereka untuk menyebut-nyebut (mendzikiri) diri mereka kemanapun kita pergi. Membesar-besarkan dan mendzikiri materi-materi dan ilmu-ilmu…

Walaupun didalamnya ada praktek-praktek dzikir dan pengajiannya, namun Allahnya entah diletakkan pada nomor ke berapa. Allahnya hanya NYEMPIL untuk disebut-sebut nama-Nya. Seolah-olah itu sudah islami banget. Seolah-olah semua kehebatan itu memang sudah sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dzikir kok tujuannya untuk sakti. Kasihan sekali umat ini yang begitu mudahnya untuk diombang ambingkan.

Padahal kesaktian-kesaktian itu, baik yang didapat melalui konsentari dengan menyebut-nyebut nama Allah dan wiridan, maupun dengan tidak menyebut-nyebut nama Allah dan wiridan, hasilnya adalah sama, yaitu adanya sebentuk RASA BISA, RASA HEBAT, RASA BERILMU. Dan itulah yang menyebabkan kita MERASA ADA TERUS. Dan pastilah saat itu Allah tidak ada didepan kita. Karena Allah tidak akan pernah sudi berada didepan orang-orang yang merasa bisa, merasa hebat, dan merasa berilmu…

Sekarang kita mau pilih yang mana?, terserah kita saja. Yang pasti panggilan Allah itu tetap bergema sepanjang masa menunggu DIRI yang sudah MUTHMAINNAH yang bersedia datang kepada Allah dengan sukarela dan ridha…

Yang pasti adanya…, kalau kita sudah punya Allah, Ada Allah didepan kita, maka shalatlah dihadapan Allah, bekerjalah dihadapan Allah, berkaryalah dihadapan Allah. Tepatnya bertemulah dengan Allah di dunia ini, kita nggak perlu harus jalan-jalan ke langit yang ketujuh segala. Maka shalat kita akan lama dan penuh sikap sopan dan santun (tumakninah). Dan Allah pasti akan mencukupkan kita dan menjaga kita dari segala hal. Semua itu sesuai dengan Kehendak, Rencana, dan Pikiran Allah sendiri, Bukan karena kehendak, rencana, dan pikiran kita. Sungguh Allah sebaik-baik pembuat Kehendak, Rencana, dan Pikiran. Allah sebaik-baik pembuat MAKAR.

Al Qur’an, juga sudah memfasilitasi kita untuk itu:
Wa’bud rabbaka hatta yak tiyakal yaqiin, dan sembahlah Tuhanmu sehingga datang kepadamu keyakinan. (Al Hijr 15, ayat 99).
Alaa innahum fii miryatin min liqaai rabbihim, alaa innahu bikullisyaiin muhiithun, ingatlah sesungguhnya mereka dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan Mereka. Ingatlah, sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu… (Fussilat 41, ayat 54).
Wamakaruu wamakarallahu wallahu khairul makiriin, dan mereka membuat MAKAR, dan Allah membuat MAKAR, dan Allah sebaik-baik pembuat MAKAR (Ali Imran 3: 54)

Kalau sudah begitu, pasti Allah akan memberikan kita kecukupan. Allah akan menyelesaikan masalah kita dengan cara-cara yang tidak kita duga. Kalau kita buntu dengan pekerjaan kita, sementara Allah ada dihadapan kita, belum lagi kita mengucapkan do’a minta tolong kita kepada-Nya, Dia sudah menolong kita dengan cara-cara yang tak terduga. Respon Allah lebih cepat dari permintaan kita. Keadaan atas pertolongan Allah itu sudah ada duluan, sehingga ucapan do’a kita itu lebih mengarah kepada hanya untuk mengiyakan jawaban Allah atas segala permasalah kita.

Akan tetapi, kalau Allah tidak ada dihadapan kita, maka shalat kita akan menjadi shalat orang yang munafik. Saat kita berdoapun, kita akan berdo’a dengan memerintah-merintah Allah. Makanya banyak diantara kita kecewa kalau do’a kita tidak terkabul seperti yang kita inginkan.

Jadi untuk menjawab pertanyaan mbak yasmin diatas, tentang mi’raj dalam shalat, maka jawabannya singkat saja:

Jadilah diri yang Muthmainnah, diri yang sudah menjadi ALAM, lalu IHSAN-lah, sadari dan rasakan ada Allah didepan kita, maka seketika itu juga kita akan berdialog langsung dengan Allah di dalam shalat kita. Dan keadaan saat itu persis sama dengan saat Rasulullah Muhammad SAW bertemu Allah dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

Wallahua’lam
Wassalam
Deka

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: