Feeds:
Pos
Komentar

Setelah pengenalan kepada Allah itu, maka kita akan bisa mengenal mana yang Allah, dan mana yang bukan Allah. Seperti halnya juga dengan kita mengenal anak kita, kalau anak kita itu dikumpulkan dengan 100 anak yang lain di depan kita, lalu kita disuruh memilih dan menunjukkan mana yang anak kita, maka dengan sangat mudah kita akan menunjukkan mana yang anak kita. Anak kita itu tidak akan tertukar dengan anak orang lain.

Oleh sebab itu, ketika kita ditanya tentang siapa Tuhan kita, dengan cepat dan tanpa berpikir sedikitpun, secara otomastis kita bisa segera langsung menjawabnya: “Tuhanku adalah Allah…”. Dan untuk menjawab itu, kita TIDAK PERLU terlebih dahulu membayangkan, merupakan, mengumpamakan, mengasosiasikan Allah dengan sesuatu apapun juga.

Begitu juga saat kita shalat. Walaupun didepan kita diletakkan orang berbagai berhala, atau iblis meletakkan berbagai gambaran di dalam pikiran kita melalui TELEPATI, namun kita tetap saja meneruskan shalat kita tanpa terganggu sedikitpun dengan berbagai berhala itu. Karena kita sudah mengenal Allah yang kita sembah. Ketika mereka mengatakan: “Kok kamu shalat menyembah berhala yang di depan kamu?”. Dengan enteng kita bisa menjawab: “Yang saya sembah adalah Allah. Bukan berhala itu. Berhala itu bukan Tuhanku. Itu Tuhan kamu!”.

Yang tidak kalah pentingnya adalah, setelah pengenalan kita kepada Allah, kita bisa mengenal tentang KEBENARAN akan KEWUJUDAN, KEBESARAN, dan KEESAAN Allah sebagai Tuhan kita, sehingga setelah itu tidak akan ada lagi kejahilan, pertanyaan, dan pencarian kita tentang Allah. Tuhan Semesta Alam. Dengan ilmu makrifatullah itu, maka terbukalah kepada kita pintu pengenalan atas KEBENARAN akan maksud dari ayat-ayat makrifatullah. Pengenalan disini bukan saja MENGETAHUI AYAT-AYATNYA saja akan tetapi juga MEMAHAMI BAGAIMANA maksud dari ayat-ayat makrifatullah itu.

Misalnya, ilmu makrifatullah tidak hanya mengetahui sekedar dalam tatanan bahasa saja tentang “Dia Maha Meliputi segala sesuatu, Fusshilat (41): 54)”, akan tetapi juga “memahami BAGAIMANA ALLAH Maha Meliputi segala sesuatu”. Begitu juga dengan ayat-ayat yang lain seperti:

• Dia Yang Maha Besar, Ar Rad (13): 9, dan bagaimana Dia Maha Besar.

• Allah yang Maha Luas, Al Hajj (22): 62, dan Bagaimana Dia Maha Luas.

• Dia-lah Yang Maha Tinggi, Al Mukmin (40): 12, dan bagaimana Dia Maha Tinggi.

• Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Al Hadid (57): 3, dan bagaimana Dia Yang Awal dan Yang Akhir.

• (Dia-lah) Yang Zahir dan Yang Batin, Al Hadid (57): 3, dan bagaimana Dia Yang Zahir dan Batin

• Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?, Al Mulk (67): 14, dan bagaimana Dia Maha Halus dan Maha Mengetahui

• Tiada sehelai daun jatuh tanpa Dia mengetahuinya, Al An’aam(6): 59, dan bagaimana Dia Mengetahui.

• Allah sentiasa Meliputi akan tiap-tiap sesuatu, An Nisa (4): 126, dan bagaimana Dia Meliputi

• Dia Maha Meliputi segala sesuatu, Fusshilat (41): 54)., dan bagaimana Dia Maha Meliputi

• Demi Dzat yang menguasai diriku!, Sahih Muslim Bk.1, 57 (1994), Bagaimana Dia Menguasai

• Sesungguhnya Dia Maha Melihat, Al Mulk (67):19, Bagaimana Dia Melihat

• Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu, syarah-hadits-jibril-tentang-islam-iman-dan-ihsan.

• Sesungguhnya Allah Mengetahui segala sesuatu, Al Hijr (15):25., dan bagaimana Dia Mengetahui

• Dan Allah Maha mengetahui segala isi hati, At Taghabun (64):4

• Dialah yang Maha Mendengar, Al Mukmin (40):56, Bagaimana Dia Maha Mendengar

• Allah Maha Mengawasi segala sesuatu, Al Mujadilah (58):7., dan bagaimana Dia Maha Mengawasi

• Dan Allah jualah yang memiliki timur dan barat, maka ke mana sahaja kamu menghadap di situ ada wajah Allah, Al Baqarah (2):115, dan Bagaimana Wajah Allah Yang dimaksudkan. Sehingga ungkapan shalat: inni wajjahtu wajhiya…, kudadapkan wajahku kepada Wajah-Nya, menjadi terang dan clear.

• Dia bersama kamu di mana sahaja kamu berada, Al Hadid (57):4, dan bagaimana Dia bersama kita.

• Kami lebih dekat kepadanya dari urat nyawanya, Qaaf (50):16., dan bagaimana Dia Lebih Dekat.

• Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allah yang melempar, Al Anfaal (8):17.

• Dia Istiwa diatas Arsy, Thaha (20): 5, dan bagaimana Dia Istiwa itu.

• Anak Adam melukaiKu dengan mencaci Masa kerana Masa itu adalah Aku, Sunan Abu Dawud Vol. 3, 1452 (1990).

• Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, An Nur (24):35

 

Dengan terbukanya rahasia penggenalan kepada Allah dan terbuka pula pemahaman kita tentang ayat-ayat makrifatullah diatas, maka kita tidak perlu lagi mencari-cari Allah. Sehingga ketika kita menyembah Allah, maka kita benar-benar bisa terhindar dari mensyirikkan Allah dengan sesuatu yang bukan Allah. Setelah itu kita tinggal hanya memperkemaskan peribadatan kita kepada-Nya, sebagai tanda bahwa kita adalah sebenar-benar hamba-Nya yang patuh dan tunduk kepada-Nya, dan menghormati-Nya dengan sebenar-benar dan selayak-layaknya penghormatan. Dan selama kita melaksanakan ibadah-ibadah wajib maupun sunnah itu, maka ingatan kita akan selalu fokus kepada Allah yang sudah kita kenal. Ini yang paling penting.

Oleh sebab itu tepat sekali kalau dikatakan bahwa ilmu makrifatullah itu adalah lmu yang paling dasar yang perlu kita miliki sebelum kita melakukan suatu peribadatan atau amalan tertentu sebagai tanda penghormatan kita kepada Allah. Ia adalah ibarat sebuah pijakan anak tangga pertama kita dalam beribadah. Ia seperti sebuah tumpuan pertama agar kita bisa melakukan ibadah-ibadah kita dari waktu ke waktu. Kalau pijakan pertama kita itu kuat, maka langkah kita yang berikutnya akan menjadi ringan, lapang, dan mudah. Kalau tumpuan pertama kita itu kokoh, maka aktifitas ibadah kita yang selanjutnya akan menjadi nyaman dan mengasyikkan.

Sebaliknya kalau tumpuan dan pijakan pertama kita itu masih sangat lemah, atau bahkan kurang jelas sama sekali, maka itu adalah sebuah pertanda awal bahwa ibadah-ibadah yang akan kita lakukan selanjutnya akan sulit, berbelit dan susah. Kita akan masih banyak bertanya dan galau tentang Allah, kita masih akan sibuk mencari Allah, kita masih akan banyak berusaha untuk dapat tersambung-sambung dengan Allah. Sementara itu, ditengah-tengah permasalahan kita itu, kita bisa melihat dengan sangat jelas tentang KEBENARAN akan kehebatan Allah atas segala sesuatu yang ada di alam semesta tempat dimana kita hidup ini. Tapi kita tidak berhasil mendapatkan manfaat dari kebenaran yang kita lihat itu. Kita masih tetap bingung dan risau seperti sedang mencari-cari sesuatu yang tak kunjung bersua…

Iklan

Banyak orang yang menyangka dan berkata bahwa hakekat/makrifatullah itu adalah sebuah ilmu yang sangat tinggi. Katanya ia adalah puncak pencerahan seperti cahaya yang dipancarkan kedalam hati seorang hamba yang telah melalui berbagai riyadah seperti tadzkiyatunas (penyucian diri) yang sangat berat, keras, dan dalam waktu yang lama pula. Atau paling tidak ia dipercayai hanya diberikan Allah kepada orang-orang khusus selevel waliullah atau orang-orang yang dianggap suci.

 

Ada pula orang yang menganggap bahwa ilmu hakekat/makrifatullah ini sama sekali tidak boleh dibicarakan apalagi ditulis. Ya dianggap sebuah ilmu rahasia yang tidak boleh dibuka dengan lidah (pembicaraan) dan tulisan. Membacanya saja juga sudah dilarang, apalagi menuliskannya. Barang siapa yang mencoba membaca, membicarakannya, dan menulisnya konon ia dianggap sudah KAFIR. Karena ia adalah ilmu tentang rasa, ilmu tentang batin, ilmu tentang SIRR yang konon katanya dahulu juga tidak diajarkan bebas oleh Rasulullah dan para Sahabat Beliau. Katanya, yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabat Beliau adalah MODAL dari ilmu hakekat/makrifat itu, yaitu ilmu syariat berupa ilmu muamalah dan ibadah.

 

Akan tetapi sejak munculnya kajian makrifatullah oleh Arif Billah Ustadz Hussien Bin Abdul Latiff, ilmu makrifatullah itu sudah berubah. Ia adalah ilmu yang sangat mudah dipelajari dan dipahami. Lalu dengan pembukaan pintu ilmu makrifatullah itu, maka terbuka pulalah berbagai ilmu yang tadinya tidak pernah terpikirkan apalagi untuk dipahami. Semua menjadi terang benderang dan jelas, sehingga setelah itu kita hanya tinggal memperbaiki ibadah-ibadah wajib maupun sunnah saja. Dan ternyata ilmu makrifatullah itu adalah sebuah ilmu yang wajib dipelajari diawal-awal sebelum kita melakukan ibadah-ibadah tersebut. Pantas sekali ada unngkapan bahwa: “Awaluddin Makrifatullah, awal dari agama adalah mengenal Allah”.

 

Ilmu Makrifat adalah sebuah ilmu paling dasar atau paling awal yang harus kita punyai sebelum kita melakukan sesuatu perbuatan atau amalan. Ilmu Makrifat artinya adalah ilmu untuk mengenal KEBENARAN sesuatu yang kita sembah dan hormati sampai TUNTAS atau SELESAI. Setelah itu tidak ada lagi pertanyaan, pencarian, lamunan, khayalan-khayalah, dan bahkan pergaduhan  kita dengan sesuatu yang kita sembah dan hormati itu. Kita hanya tinggal melakukan berbagai aktifitas secara bersungguh-sungguh untuk membuktikan penyembahan dan penghormatan kita kepadanya.

 

Sedangkan Ilmu Makrifatullah adalah sebuah Ilmu yang bertujuan untuk MENGENALKAN ALLAH kepada kita sebagai Tuhan yang akan kita sembah dan hormati sepanjang hidup kita. Oleh sebab itu ilmu makrifatullah ini adalah sebuah ILMU yang Paling Dasar, paling Fundamental, atau paling Awal, yang harus kita ketahui sebelum kita bisa menyembah dan menghormati Allah dengan penyembahan dan penghormatan yang sebenar-benarnya. Penyembahan kepada Allah yang tidak terkotori sedikitpun oleh syirik atau menyekutukan Allah dengan sesuatu ciptaan-Nya. Penghormatan kepada Allah dengan penghormatan kita yang tidak terkotori oleh persepsi dan sangkaan-sangkaan kita kepada-Nya.

 

Oleh sebab itu, sangatlah keliru kalau ada yang mengatakan bahwa ilmu makrifatullah ini adalah sebuah ilmu puncak yang sangat tinggi dan sangat sulit untuk mendapatkannya. Ia malah ilmu paling awal yang harus kita ketahui sebelum kita beribadah dan menyembah Allah. Makanya ungkapan, Awaluddin Makrifatullah, bahwa awal dari aktifitas beragama adalah dengan mengenal Allah, sangatlah relefan untuk kita pakai.

 

 

 

PERAN ILMU MAKRIFATULLAH.

 

ILMU MAKRIFATULLAH adalah sebuah ilmu yang berperan untuk mengantarkan kita langsung sampai kepada Allah. Setelah pengenalan itu, maka kita juga sudah tidak perlu lagi memikirkan tentang bagaimana cara-cara pertemuan dengan Allah. Ilmu makrifatullah itu membawa kita untuk bisa langsung bertemu dengan Allah, sehingga dengan begitu kita akan terhindar dari proses bertele-tele dan mengada-ada yang penuh dengan lamunan untuk bertemu dan sampai kepada Allah.

 

Kalau kita belum mengenal Allah dengan sebagaimana mestinya, maka kita seakan-akan akan masih harus berjalan dan mengembara tak tentu arah untuk mengenal-Nya, untuk datang kepada-Nya, untuk berhubungan dengan-Nya, untuk tersambung dengan-Nya. Kita seakan-akan masih harus mencari-cari pijakan dan tumpuan kita dalam beribadah kepada-Nya. Umur kita habis dalam masa pencarian yang tak tentu ujung pangkalnya itu. Selama proses itu, kita mengira telah melakukan amalan-amalan tertentu dengan penuh semangat, dan dalam waktu yang lama, akan tetapi apa-apa yang kita lakukan itu ternyata hanyalah sebatas lamunan dan khayalan belaka. Alangkah menyedihkan sekali. Umur kita hilang untuk mengerjakan sesuatu yang sia-sia…

 

Kalaupun ada hasilnya, itupun tidak lebih dari hasil yang didapatkan melalui proses afirmasi pikiran dan olah kesadaran seperti yang saat ini dikenal dalam Teknik Hipnoterapi dan NLP. Paling tinggi kita hanya akan mendapatkan rasa tenang di dalam pikiran kita. Karena kita memang dibawa atau diafirmasi untuk hanya mengingat atau memikirkan satu objek pikir tertentu saja pada suatu rentang waktu tertentu, misalnya fokus kepada gerakan nafas kita dan sebagainya.  Karena ingatan atau pikiran kita hanya fokus kepada gerakan nafas kita, maka tentu saja itu akan mendatangkan rasa tenang, walau hanya sesaat. Tenangnya sih tetap ada, tapi hanya tenang yang sementara. Begitu dapat masalah, kita kembali goyang dan berantakan. Bahagianya memang ada, akan tetapi bahagianya hanya sekelas bahagia mendengarkan irama musik saja.

 

Jadi, sebagai sebuah PENGENALAN kepada Allah, maka Makrifatullah itu haruslah sesuatu yang sangat sederhana sekali. Ia sebenarnya lebih berhubungan dengan sebuah ILMU dari pada berbagai PRAKTEK, AMALAN, ataupun LELAKU. Sebagai Ilmu, maka Makrifatullah itu haruslah sangat mudah sekali untuk dipahami. Ia haruslah sangat sederhana sehingga ia bisa dipahami oleh semua orang dengan sangat mudah. Begitu ilmunya sudah diketahui, maka setelah itu tidak akan ada lagi pertanyaan dan keraguan kita tentang Allah.  Sebab dengan ilmu itu, semua pertanyaan kita tentang Allah sudah biasa terjawab dengan sangat amat jelas sekali.

 

Untuk mendapatkan Ilmu Makrifatullah itu bukanlah dalam bentuk amalan-amalan yang sulit dan rumit seperti anggapan kebanyakan orang selama ini. Ia tidak butuh prasyarat laku dan praktek yang susah dan berbelit-belit. Ia tidak mempersyaratkan pengertian-pengertian yang membutuhkan banyak lamunan dan khayalan untuk mendapatkannya. Ia bahkan tidak membutuhkan sebuah alat bantu apapun untuk memahaminya.

 

Makrifatullah itu haruslah sangat mudah sekali untuk di jalankan dan diamalkan. Sebab kalau ia sulit untuk di jalankan dan diamalkan, maka selesailah sudah. Agama yang mengajarkan makrifatullah itu akan ditinggalkan orang. Ibarat sebuah warung atau toko, kalau untuk masuk ke dalam warung atau toko itu sangat sulit, tidak nyaman, dan bahkan menakutkan, maka warung atau toko itu akan tutup dengan cepat. Karena tidak ada orang yang akan masuk atau singgah ke dalam toko atau ke warung itu untuk berbelanja.

Ahmad Saifudin:
Assalamualaikum. Ustad mohon nasehat, insyaAllah saya paham tentang LM [Lauh Mahfudz], tetapi rasanya masih sulit berada didalam keadaan itu.
Salam ustad.

Rozi Jogja:
Seperti hal nya bang udin, saya juga begitu ustad. selalunya bolak balik.

Ustadz Hussien Abd Latiff:
• Ahmad & Faozi. Bila kamu mendapat ujian yang amat berat serta sukar dipikul, dan pada masa itu hanya Allah swt sahaja yang dapat membantu. Maka pada masa itulah kamu akan berpaut kepada Allah swt dan mengharapkan pertolongNya. Sesudah Dia melepaskanmu dari ujian yang dasyat itu maka insya-Allah, hatimu tidak akan berbolak balik lagi.

• Ramai yang sudah melalui ini, dan sesudah itu tidak lagi hati mereka berbolak balik. Seperti Rosli Surabaya, Jasdur dan lain-lain.

• Ada orang mengerti dengan ilmu, ada hanya mengerti dengan latihan, namun tetap Allah swt yang mengajar.

• Orang-orang kafir masa dahulu tidak faham akan siksa Allah swt di hari kemudian, dan minta dari Nabi mereka turunkan siksa itu, maka diturunkan dan mereka menjadi sejarah.

Rozi Jogja:
Terima kasih ustad. Tatkala berdoa itulah sangat sulit keluar dari pintu depan. Apakah memang begitu ustad?

Ustadz Hussien Abd Latiff:
Apa yg sulit?

Rozi Jogja:
Keluar dari rasa wujud’ ustad.

Ustadz Hussien Abd Latiff:
• Doa mesti dari “pintu depan” seperti juga makan & minum, tidak boleh “pintu belakang”.
• Kalau “pintu belakang” tidak payah doa, makan dan minum, akhirnya wassalam kerana kelaparan dan kehausan.
• Tidak wujud bersandarkan ilmu iaitu kita nafikan kewujudan kita dengan ilmu, bukan pakai bom.
• Seperti kamu naik sepeda yang cantik tetapi kamu tahu sepeda itu bukan milikmu tetapi milik rakan mu.
• Begitu juga dalam hidup keseharian kamu, seperti makan, minum, shalat, doa dan sebagainya (ini yang Rasulullah saw suruh iaitu hidup macam biasa), tetapi dalam minda kamu ilmu kamu menyedarkan “kamu tidak wujud”, yang berinteraksi ialah DzatNya.

• Nah, sudah sedar mahu buat apa ya? Jawapan, “ROC.” [Relax One Corner]

Yusdeka:
Pak Ustadz, mohon penjelasan tentang capture ini yang saya ambil dari dzikrullah 6 (ihsan). “Jangan fanakkan diri. Diri masih wujud. Jangan hilangkan diri”.

Ustadz Hussien Abd Latiff:
“Jangan menghilangkan wujudmu” maknanya hidup macam biasa. Masa makan maka makanlah, masa minum maka minumlah, masa shalat maka shalatlah, masa dzikir maka dzikirlah dan sebagainya. Justeru kamu tidak boleh ngatakan, “Oh aku ngak wujud maka apa perlu aku shalat atau dzikir!”

Rio:
• Ustadz…. barulah saya paham bedanya approach sholat dan “naik”.
• Kalau sholat, itu “pintu depan”. Kita melihat kebesarannya, kita memujiNya, kita minta ampun, meminta perlindungan. Semua pintu depan. Kita melihat kebesaran DIA lewat macam-macam kejadian dalam hidup, lalu kita sholat kita membesarkan DIA lewat puji-pujian.
• Kalau pintu belakang, kita “naik” ROC. Tak ada apapun.
• Kebesaran-Nya, Ampunan-Nya, dan sebagainya itu adalah sifat-sifat yang hanya bisa ditafsir dari “depan”. maka Sholat itu melihat-Nya dari “depan”.
• Kalau pintu belakang dan ROC, kita tak tengok apa-apapun.
• Betulkah pemahaman begitu ustadz?
• Sudah lama saya penasaran, kenapa ustadz tak gunakan approach sholat sebagai latihan spiritual? Tetapi ustadz gunakan “naik“.
• Baru saya paham, kalau sholat itu meletakkan puji-pujian untukNya karena kebesaran Dia yang kita tengok dari pintu Depan.
• Kalau Naik dan ROC di pintu belakang itu latihan menghapus segala-galanya. Bahkan kebesaranNya pun bukan yang kita tuju.
• Wallahualam ustadz. mohon koreksi bila keliru

Ustadz Hussien Abd Latiff:
• Benar Rio sekarang baru dapat jus durian sebelum ini belum boleh.
• Walaupun shalat pintu depan tetapi minda mesti ingat Allah swt
• Bila kita NST kita tinggalkan yang lain dibawah. Seperti Shaikh Abdul Qadir Jilani berkata masuklah pintu khalwatmu seorang diri dan tinggalkan yang lain di luar pintu khalwatmu.
• Apa makna khalwat iaitu berdua-duan dengan Allah swt (tanpa minum jus durian).

 

Sahry Ramadhan:
• Ustad, kenapa dulu saat ikut tarekat, minat dan keinginan terus hanya berusaha sebanyak-banyaknya dzikir (baik jahar maupun siir). Sedangkan shalat-shalat sunnah, dan mengajipun kurang dilaksanakan.

• Tetapi tassawuf jalan nabi-nabi dengan dzikrullah yang diajarkan ustad lebih kerasa ke dalam bathin, tetapi justru terbalik aktifitas fisik ingin sebanyak-banyaknya melaksanakan shalat-shalat sunnah serta mengaji Al Quran, dan kecenderungan belajar kembali syariah minatnya menjadi lebih tinggi? Kenapa berbeda ya ustad suasananya? Tetapi minat juz es duren tetap tak berobah…

Ustadz Hussien Abd Latiff:
• Tarikat berzikir untuk mendapatkan makrifat.
• Kita sudah makrifat dan kini memperkemaskan diri untuk beribadah lebih bagus untuk Allah swt: seperti ingat Allah sentiasa, shalat malam, puasa sunat, membaca al Quran dll serta pegang Syariah dengan kuat. Kerana Rasulullah saw ada bersabda bahawa kalau kita pegang al Quran & As Sunnah kita tak akan sesat. Maka ini dua komponen adalah tulang belakang Syariah.

Shalat:
Seperti seorang ibu hidup di rumah dua lantai. Dia ada di lantai satu bersama ahli keluarga yang lain sedang makan durian serta minum jus durian tapi mindanya hanya teringat anaknya yang baru satu bulan yang berada dibilik di lantai dua.

Jasadnya dilantai satu (hidup macam biasa makan durian & minum jusnya) tapi minda nya di lantai dua.

Dzikrullah
Pula dia naik ke lantai dua (tinggalkan semua yang ada dilantai satu) dan masuk ke bilik babynya itu untuk berdua-duan melepaskan rasa cinta rindu & sayang kpd babynya.

Masuk pintu belakang seperti rasa bosan dan sebagainya lalu masuk bilik stor yang kosong dan ROC.

NST:
Pula seperti dalam kantor bekerja tetapi kerana kerjanya sudah terkebiasaan (terlampau rutin) maka bisa kerja seperti robot ngak payah berfikir. Tetapi kalau ada sesuatu yang akan merubahkan suasana ini usah memikirkannya. Masuk pejabat Boss dan buat lampuran. Boss ada “Smart Alex” (seorang yg suka memandai) mahu merubah kehidupan rutin pejabat ini. Boss tolong lihat perbuatannya ini dan beri jawapan.
Harap kiasan di atas memberi pencerahan kepada semua, insya-Allah.

(Puisi Makrifatullah Ustadz Hussien BA Latiff)

 

Dalam kebingungan apa erti hudupku

Dunia mentertawakanku

Tiada yang mahu memahamiku

Aku dicerca dihina selalu

 

Mengapa membuatku begitu, oh teman

Aku hanya mencari kepahaman

Betulkah ada Wujudnya Tuhan?

Betulkah kita ini dijadikan?

 

Kalau ada Tuhan, dimana Dia?

Puas aku mencari-cari-Nya

Namun tidak aku bersua

Mengapaku susah mendapati-Nya?.

 

Tersuaku seorang sahabat

Yang sudah bermakrifat

Maka diberiku pendapat

Yang memberiku manfaat

 

Berkata sahabatku bernama Ali

Yang dicari itu sedang sembunyi

Lapisan hijab menutupi

Tidak dapat dilihat dengan mata ini

 

Sahabatku Ali menyambung lagi

Untuk melihat Yang Tersembunyi

Lapisan hijab mesti ketepi

Baru itu, Dia akan dijumpai

 

Ali berkata lapisan akan terbuka

Bukan menggunakan kedua mata

Tetapi menggunakan mata akal minda

Insya-Allah, Dia akanku jumpa

 

Maka kutanggalkan lapisan itu

Satu persatu dengan mindaku

Apabila yang terakhir gugur disitu

Terukir sebuah senyum dibibirku

 

Maka hilanglah segala kedukaan

Juga segala kesunyian dan ketakutan

Kerana aku telah sedar dari lamunan

Dzat-Mu berada di balik lapisan

 

Kini aku bahagia selalu

Kerana Dzat-Mu sentiasa di sisiku

Kau memahamiku setiap waktu

Kau penghibur di waktu susahku

 

Sewaktu wajahku dipukul mentari

Bangkitku dari alam baiduri

Hatiku ini tidak rasa takut lagi

Dzat-Mu ada disampingku ini

 

Dalam perjalanan sahara hidupku

Jatuh bangun dipukul pasir dan debu

Namun Dzat-Mu sentiasa di sisiku

Melindungi dan menyelamatkanku

 

Maka bagaimana bolehku berduka

Apabila ku tahu Dzat-Mu ada

Menemaniku sentiasa

Setiap hari, setiap masa.

 

Bila terasa ketandusan

Kau turunkan air si hujan

Bila terasa kelaparan

Perbagai makanan Kau sajikan

 

Hidupku kini tenteram dan tenang

Badai menyerang sudah hilang

Setiap hari ku rasa senang

Berteman Dzat-Mu yang kusayang

 

Maka tersenyum aku selalu

Kerana kini aku sudah tahu

Di sebalik lapisan hijabmu

Dzat-Mu sentiasa menemaniku

 

Janganlah aku dikata nesta

Kerana dilihat senyum atau berkata

Kepada sesuatu dimatamu tiada

Kerana dimata akalku Dzat-Nya ada

 

Jangan kau ingat aku gila kini

Kerana lakuanku tidak kau fahami

Kau tidak akan mengerti

Sebelum Pengenalan kau perolehi

 

Sekiranya padamu datang Pengenalan

Pada masa itu baru kau ketahuan

Disebalik hijab berlapisan

Dzat-Nya denganmu berpandangan

 

Kini aku sungguh-sungguh bahagia

Mengetahui  Dzat-Nya ada bersama

Letih dan lelah sudah tiada

Hidupku cerah aman sentosa

 

Maka tinggalkanku bersendirian

Tanpa fahaman kawan jadi lawan

Biarkan Dzat-Nya menjadi teman

Teman hidupku sepanjang zaman….

Ilmu, adalah salah satu makhluk ciptaan Allah yang sangat penting bagi umat manusia. Ilmu itulah yang akan membawa umat manusia untuk memahami berbagai hal yang berguna bagi umat manusia itu sendiri dalam menjalankan kehidupannya di dunia ini. Oleh sebab itu, ilmulah yang akan membedakan kualitas atau kedudukan seseorang dibandingkan dengan orang yang lain. Ilmu pulalah yang akan membedakan MACAM dan JENIS ibadah serta amalan-amalan yang akan dijalankan oleh seseorang. Berbeda ilmu seseorang, maka berbeda pulalah kualitas, kedudukan, ibadah, dan amalan seseorang itu dengan yang lainnya.

 

Ilmu itu akan mengambil tempat di dalam HATI manusia, sehingga hati manusia itu akan mengontrol diri manusia itu sendiri untuk bertindak, bersikap, beramal, dan berperilaku sesuai dengan ilmu yang ada di dalam hatinya. Karena memang hati itu adalah PILOT atau PENGENDALI bagi diri seorang manusia yang akan menentukan kemana dirinya mau dibawa. Jadi boleh dikatakan bahwa dengan melihat tindakan, sikap, amal, dan perilaku seseorang, maka kita sudah dapat memahami ilmu macam apa yang ada di dalam hatinya.

 

Diri manusia terdiri dari empat unsur yang saling berhubungan, yaitu: Tubuh, Nyawa, Ruh, dan Hati. Nyawa akan selalu berpadu dengan Tubuh selama HAYAT masih dikandung badan. Ruh dan Hati bisa berpadu satu dan bisa pula terpisah. Ketika Ruh dan Hati berpadu satu, ia disebut sebagai JIWA. Ketika Ruh Dan Hati tidak perpadu, masing-masing disebut dengan namanya sendiri-sendiri, yaitu Hati dan Ruh. Sedangkan Hati itu sendiri terdiri dari unsur tiga serangkai yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya, yaitu Minda, Pendengaran, dan Penglihatan. Dengan ketiga unsur inilah hati bisa melakukan proses untuk berpikir, memahami, mendengar, dan melihat. Pada bagian lain akan dijelaskan tentang anasir atau unsur diri manusia ini lebih lengkap.

 

Sebagai ciptaan, maka Ilmu itu sangatlah banyak sekali. Kalau semua ilmu itu mau ditulis, walaupun habis semua pepohonan dijadikan pena dan air tujuh lautan yang dijadikan sebagai tinta atau dakwat untuk menulisnya, namun ilmu itu belum akan habis-habisnya untuk dituliskan.

 

“Katakanlah : “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”, (Al-Kahfi: QS 18: 109)

 

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”, (Luqmaan: QS 31; 27)

 

Yang tidak banyak orang yang tahu adalah bahwa semua ilmu itu sudah diciptakan oleh Allah SWT sejak firman KUN. Begitu Firman KUN tersabda, maka lengkaplah segala sesuatu terencana, tertulis, dan tersimpan dengan sangat amat rapi di dalam Lauhul Mahfuz. Termasuk segala Ilmu dan Pengetahuan.  Ilmu itu akan diturunkan kepada umat manusia sesuai dengan masa yang sudah ditetapkan dan ditempat mana ia akan dibutuhkan oleh umat manusia itu untuk membangun peradabannya.

 

Oleh sebab itu, sebenarnya, hakikinya, tidak ada seorangpun yang berhak untuk mengatakan bahwa dia adalah penemu, founder, atau pencipta dari suatu ilmu atau pengetahuan. Karena Ilmu itu hanya sekedar muncul begitu saja keluar dari Lauhul Mahfuz pada saat yang telah ditentukan melalui wadah-wadah tertentu yang waktu kemunculannya melalui wadah tertentu juga sudah ditetapkan Allah SWT sejak Firman KUN.

 

Dan WADAH tempat dimana keluarnya Ilmu itu dari “sarangnya” (Luhul Mahfuz) disebut sebagai KALAM-KALAM ALLAH. Sedangkan bahasa yang keluar dari wadah itu untuk menjelaskan berbagai keadaan dan peristiwa disebut sebagai BAHASA KALAM, yaitu bahasa yang dengannya Allah SWT memberikan Pelajaran dan Pendidikan kepada Umat Manusia tentang berbagai hal yang tadinya tidak diketahui oleh umat manusia, sehingga dengan bahasa kalam itu umat manusia menjadi mengerti dan paham tentang berbagai fenomena, peristiwa, dan keadaan.

 

“Alladzi ‘allama bil Qalam, ‘allamal insaana maa lam ya’lam, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”, Al Alaq (QS 96: 4-5).

 

Dengan ilmu itulah manusia berubah dari pandir menjadi cerdas, dari buta menjadi celik dan melihat, dari bingung menjadi paham, dari bodoh menjadi tahu. Dan dengan ilmu itu pulalah Allah mengantar setiap orang untuk menjalani takdir atau destiny-nya sejak ia memasuki pintu kelahiran sampai ia kemudian masuk kembali ke pintu kematian.

 

Andaikata kamu mengenali Allah Ta’ala dengan sebenar-benar pengenalan, niscaya kamu akan diajarkan-Nya suatu ilmu yang tiada lagi sesudahnya sifat kejahilan.  Sayid Ahmad Rifai, Benteng Ahli Hakikat, 33 (1994).

 

Yang menarik adalah bahwa semua ilmu itu, sebagai ciptaan, ia juga akan hidup dan mempunyai umur. Selagi ilmu itu masih hidup dan umurnya belum habis, serta masih bermanfaat bagi manusia, maka ia akan tetap ada walaupun kalam-kalam Allah yang menyampaikannya sudah tidak ada lagi pada suatu masa tertentu. Ketika kalam penyampai ilmu itu terhenti, maka perjalan dan perkembangan ilmu itu menujua yang lebih baik dan sempurna juga akan terhenti untuk sementara waktu. Ia menunggu munculnya kalam-kalam selanjutnya yang akan menyambung perjalanan ilmu itu dengan kualitas yang jauh melampaui ilmu tersebut sebelum ia terhenti.

 

Artinya, ilmu-ilmu itu akan tetap hidup melintasi zaman dan masa, sampai ia tidak dibutuhkan lagi oleh umat manusia untuk menjalani dan membangun kehidupannya. Kalau sudah tidak dibutuhkan lagi, maka suatu ilmu tertentu akan mati. Ia hanya akan menjadi sejarah yang akan dikenang-kenang oleh umat manusia di zaman yang akan datang. Bahwa pernah pada suatu waktu dulu hidup sebuah ilmu tentang A, B, atau C, sedangkan pada saat sekarang, ilmu-ilmu lama itu sudah tidak terpakai lagi.

 

Oleh sebab itu, orang-orang yang gemar memperdebatkan dan memperebutkan ilmu, itu sebenarnya sama saja dengan orang yang sedang bertengkar dan gontok-gontokan tentang berapa jumlah tetesan air di dalam lautan atau butiran pasir di padang pasir. Sesuatu yang tidak akan pernah selesai dan hanya akan menghabiskan waktu mereka saja untuk melakukannya. Sesuatu yang sangat tidak perlu banget, terutama bagi orang-orang yang sudah paham tentang hakekat dari semua ciptaan. Karena memang semua ilmu yang akan diperdebatkan itu sudah ada sejak FIRMAN KUN. Kemunculan ilmu-ilmu itupun sudah direncakan Allah pada saat yang tepat dan melalui kalam-kalam-Nya yang tepat pula. Ia sudah diijinkan untuk terbentang dan menyebar ketempat-tempat yang membutuhkannya. Kemunculannyapun sudah direncanakan Allah untuk meramaikan sandiwara dalam kehidupan umat manusia. Sandiwara yang sangat kaya dengan berbagai pertunjukan SIFAT-SIFAT, misalnya baik dan buruk, kotor dan bersih, jahat dan kasih, mati dan hidup, dan lain-lain sebagainya. Sandiwara yang sungguh penuh dengan ragam warna yang membentuk pelangi kehidupan.

 

Sebagai wadah penyampaian Ilmu, maka Kalam-kalam Allah SWT adalah sangat banyak sekali. Seorang guru adalah kalam Allah bagi muridnya, ibu dan bapak adalah kalam Allah bagi anak-anaknya, juga anak-anak adalah kalam bagi ibu dan bapaknya, dosen adalah kalam Allah bagi mahasiswanya, ustadz adalah kalam Allah bagi santri-santrinya, para hakim adalah kalam Allah bagi para pencari keadilan, polisi dan tentara adalah Kalam Allah untuk pencari keamanan, lebah dan semut serta binatang-binatang lainnya juga adalah kalam-kalam Allah bagi para pencari ilmu-ilmu lainnya, dan sebagainya.

 

Al Quran sebagai sumber ilmu, juga adalah salah satu Kalam Allah yang menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi seluruh umat manusia. Siapapun yang mau mengkaji Al Quran, maka ia akan mendapatkan ilmu yang sangat berlimpah di dalamnya. Selama ini terjadi perdebatan yang sangat seru tentang kedudukan Al Quran ini apakah ia ciptaan ataukah bukan. Ada yang berpendapat bahwa Al Quran ini adalah ciptaan, namun ada pula yang berpendapat bahwa Al Quran ini bukanlah ciptaan. Akan tetapi, nanti dapat dipahami, bahwa dengan berbekal ilmu makrifatullah yang didalamnya sudah tidak ada lagi keraguan, maka Al Quran itu dapatlah dikatakan sebagai CIPTAAN. Karena ia berada di dalam Lauhul Mahfuz. Dimana, apapun yang ada di dalam lauhul mahfuz pastilah ciptaan. Ia baru ada setelah Firman KUN.

 

Artinya dapatlah dipahami bahwa setiap ciptaan adalah kalam-kalam Allah sebagai tempat bagi keluarnya suatu Ilmu untuk dipahami oleh umat manusia. Bahkan suatu bencana yang sangat dahsyat dan memakan korban mati yang sangat banyakpun, ia juga adalah Kalam Allah yang sedang mengajarkan suatu ilmu kepada manusia-manusia yang mau membaca dan mempelajarinya.

 

Kalau ilmu itu sudah saatnya untuk muncul, maka akan selalu ada kalam-kalam Allah yang akan menjadi perantara Allah bagi turunnya ilmu itu kepada umat manusia. Ilmu itu akan menyebar sendiri mencari orang-orang yang berjodoh dengannya. Kalau seseorang berjodoh dengan sebuah ilmu, maka ilmu itu akan menjadi jinak dengannya. Ciri-ciri bagi seseorang yang mempunyai sebuah ilmu yang sudah jinak dengannya adalah ia akan mudah paham dengan ilmu itu, ia akan mudah ingat dengan ilmu itu, dan ia akan mudah pula untuk menyampaikan ilmu itu kepada orang lain. Artinya ia telah menjadi kalam Allah pula bagi orang lain yang akan menjadi perantara Allah dalam menyampaikan ilmu itu kepada orang lain. Sebaliknya, kalau ilmu itu masih belum jinak dengan seseorang, maka orang itu akan mudah lupa dengan ilmu itu, ia akan mudah ragu-ragu dengan ilmu itu, atau bahkan ia akan tidak paham sama sekali dengan ilmu itu.

 

Bentuk lain dari Kalam Allah untuk mengantarkan ilmu kepada manusia bisa pula berupa ILHAM. Melalui ilham ini, ilmu itu sampai ke dalam hati manusia dengan sangat cepat tanpa terlebih dahulu melalui proses belajar, membaca, dan mendengar. Ilmu itu langsung masuk kedalam hati seseorang, sehingga seseorang itu langsung mengerti dan paham tentang sesuatu secara tiba-tiba. Ilmu yang proses turunnya kepada seseorang dengan cara yang seperti ini bisa pula disebut sebagai ILMU LADUNNI.

 

Kepada Nabi-nabi dan Rasul-Rasul Allah, perantara atau kalam Allah tempat turunnya Ilmu itu bukan lagi disebut ilham, tetapi WAHYU. Melalui wahyu itulah turunnya ilmu yang akan disampaikan oleh para Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Allah itu, yang jumlahnya 124.000 orang, untuk disampaikan kepada umatnya masing-masing. Wahyu terakhir turun kepada Rasulullah Muhammad Saw, sebagai Nabi dan Rasul terakhir dari 124.000 Nabi dan Rasul-rasul Allah yang diutus oleh Allah kepada seluruh umat manusia. Setelah kewafatan Rasulullah Muhammad Saw, maka tidak ada lagi ilmu yang turun melalui saluran WAHYU. Yang ada hanyalah ilmu yang turun melalui saluran ILHAM. Dengan begitu, maka tidak ada lagi syariat baru yang turun setelah kewafatan Beliau, yang berkenaan dengan ibadah-ibadah Penyembahan kepada Allah.

Artikel ini dibuat untuk menjawab pertanyaan Bapak Nafik beberapa waktu yang lalu.

Pertanyaan Bapak Nafik:

Apakah kami harus meninggalkan ajaran ustadz Abu Sangkan dan kitabnya madarijussalikin (ibnul qoyyim aljauziyyah)?. Karena kami dulu sering mengikuti pelatihannya dan sekarang masih suka mengikuti live streamingnya di facebook Beliau.

Karena kami baca di web ini bahwa Bapak sudah meninggalkan ajarannya. Tolong dijawab….
Agar kami tidak bingung dan tidak terjerumus dalam kesesatan.

 

Jawaban:

Assalamuaiakum:

Bapak Nafik yang baik:

Pertanyaan bapak ini nanti akan saya jawab dengan sebuah Artikel berjudul Ilmu…

Tetapi pada dasarnya tanggapan saya adalah sebagai berikut:

Saya tidak akan mengatakan bahwa ajaran yang sedang Beliau kembangkan saat ini adalah sesat atau salah. Saya hanya sangat kesulitan memahami dan melatih apa-apa yang Beliau ajarkan kepada saya selama ini. Lebih dari 10 tahun saya mengikuti Beliau, saya masih belum bisa menangkap intisari dari apa-apa yang Beliau ajarkan. Sepertinya ada missing link yang belum saya ketemukan dengan Beliau, sehingga saya lebih banyak bersikap utopia atau bermimpi untuk mendapatkan ilham yang nampaknya itu yang sangat Beliau utamakan, yaitu ILHAM TAQWA.

Saya bingung ketika Beliau dan satu atau dua teman saya yang lainnya mengatakan kepada saya bahwa:

  • “ini adalah ilham yang turun nih, tangkap…, atau kerasa nggak …”
  • “ilhamnya tuh datang dari sebelah kanan…, dari kiri…, atau mutar-mutar dari kiri kekanan atau sebaliknya.
  • “diturunkan “ketenangan” ke dalam hatimu…, tetapi tenangnya itu bukan dari hasil pikiranmu…”.
  • “ilham itu akan dapat kalian tangkap saat kalian bisa FANA. Yaitu saat semua yang ada dihadapan kalian sudah hilang lenyap, termasuk diri kalian sendiri”.
  • “Saat engkau shalat, kalian harus bisa merasakan respon dari Allah, karena kalian tidak menyembah benda Mati. Kalian menyembah Dzat Yang Hidup”.
  • “kalian harus merasakan adanya rasa sambung antara batinmu dengan batin Allah…”.

Dan berbagai keadaan lainnya yang sangat sulit untuk saya pahami dan dapatkan selama mengikuti Beliau. Sehingga saya lebih banyak mencari-cari, walaupun di dalam shalat sekalipun, tentang bagaimana sih sebenarnya rasa dari keadaan yang Beliau jelaskan itu.

Dan alhamdulillah missing link itu berhasil saya dapatkan dengan sangat clear dari Ustad Hussien BA Latiff melalui syarahan-syarahan Beliau baik dari youtube maupun paparan secara langsung yang Beliau berikan di berbagai seminar yang saya ikuti.

Begitulah, dengan dibukakan pintu Makrifatullah oleh Beliau (Ustad Hussien BA Latiff), maka ilmu-ilmu yang dulu saya tidak bisa mengerti dan saya buta sama sekali, secara sangat mengejutkan bisa saya pahami dengan mudah. Bahkan ilmu keredhaan yang menjadi dasar dari Rukun Iman ke-6, yang sangat sulit untuk dipahami dan dijalani, menjadi begitu sederhana terpampang di depan saya.

Sehingga dengan mencengangkan, saya dengan leluasa bisa menerima pernyataan Ustadz Abu Sangkan saat mengeluarkan saya dari segala aktifitas yang berbau shalat center: “ilmu kamu sesat, dan kamu jangan dekat-dekat lagi dengan shalat center”. Dengan berbekal ilmu keredhaan ternyata pernyataan Beliau itu bisa saya terima dengan redha. Karena memang hal itu sudah diizinkan dan ditetapkan oleh Allah sejak firman Kun untuk Beliau ucapkan pada saatnya, dan semuanya berhikmah. Clear sekali.

Oleh sebab itu, bagi bapak Nafik sendiri, terpulang kepada bagaimana perjodohan bapak dengan sebuah ilmu. Kalau Bapak berjodoh dengan ilmu yang diajarkan oleh Ustad Abu Sangkan, dan sampai saat ini masih kuat untuk mengikutinya, ya Pak Nafik akan tetap disana, tentu saja dengan segala suka dukanya pula. Akan tetapi kalau Bapak Nafik berjodoh pula dengan Ilmu dari Ustadz Hussien BA Latiff, seperti yang saya alami dan juga yang  dialami oleh sahabat-sahabat saya yang lain, maka bapak akan dipaksa oleh ilmu itu sendiri untuk mempelajarinya sampai bapak mengerti dan bisa menerimanya sebagai dasar bagi bapak untuk menjalani hidup bapak di hari depan.

Demikian yang bisa saya jawab. Selalulah berdoa agar bapak diberikan kemudahan dalam beriman, berislam, dan berihsan. Karena sesungguhnya agama itu sangat mudah, dan carilah ilmu yang akan mempermudah bapak dalam beragama. Mudah tapi yang mempunyai dampak atau pukulan yang membentuk sebuah luka di dalam JIWA. Ketika kita mendapatkan ilmu itu pukulannya membuahkan luka yang membuat kita sampai mencucukan air mata dan kenikmatan dalam beribadah berhari-hari dan bahkan berbulan-bulan. Bekas luka itu seperti menjadi keloid yang mudah terbuka dan berdarah kembali pada waktu-waktu tertentu, sehingga dengan begitu kita akan dibawa kembali masuk kepada keadaan yang sebenarnya dari ilmu itu.

Demikian…, Wassalamualikum…

Banyak orang terbiasa bercerita tentang peritiwa-peristiwa luar biasa yang telah dilaluinya dimasa lalu. Kadangkala peristiwa itu sangat menakjubkan, banyak surprise, tidak masuk diakal manusia sama sekali. Ada orang yang pada awalnya dia hanyalah orang yang sangat biasa-biasa saja, atau malah merasa seperti orang bodoh dibandingkan dengan rekan-rekan sejawatnya, lalu pada suatu saat dia menjadi orang yang berhasil melalui suatu permasalahan melebihi orang-orang yang dulunya dianggap adalah orang yang lebih hebat dan lebih cerdas darinya.

 

Ada pula orang yang bisa lolos dari sebuah ujian di sekolah yang kalau menurut orang lain ia tidak akan mampu untuk lolos dari ujian itu. Akan tetapi dengan cara yang terduga, dia berhasil lolos dengan nilai yang sangat menakjubkan. Seakan-akan saat ujian itu dia sudah tahu apa-apa yang akan diujikan, atau tiba-tiba saja saat itu tangannya bisa menulis atau menggambar diluar kebiasaannya untuk menjawab apa-apa yang diujikan.

 

Ada pula kejadian-kejadian tak terduga yang dialui oleh seseorang pelamar kerja, sehingga dengan kejadian tak terduga itu ternyata nasibnya berubah drastis seratus delapan puluh derajat. Misalnya dari pada awalnya dia tidak lolos test lamaran kerja disebuah perusahaan, akan tetapi sebuah keadaan yang tak terduga ternyata telah membalikkan keadaannya, sehingga dia bisa diterima kembali untuk bekerja diperusahaan itu.

 

Banyak sekali peristiwa tak terduga yang diluar nalar dan pikiran kita yang malah terjadi pada diri kita. Peristiwa-peristiwa yang kita lalui itu seperti mengantarkan kita menuju masa yang sedang kita hadapi saat ini. Mengantarkan kita menuju sebuah destiny yang kita sendiri juga tidak tahu bagaimana akhirnya nanti. Yang kita tahu hanyalah bahwa pada akhirnya kita akan mati dan meninggalkan ragam serta rupa warna kehidupan ini.

 

Umumnya dalam bercerita itu, kita biasanya bermuara kepada salah satu dari tiga golongan orang dalam memaknai takdir, yaitu:

 

  1. Orang yang MERASA WUJUD dan merasa BISA pula untuk BERBUAT serta BERUSAHA.
  2. Orang yang MERASA WUJUD akan tetapi ia merasa TIDAK BISA BERBUAT dan BERUSAHA.
  3. Orang yang MERASA WUJUD, kadang dia merasa BISA dan kadang merasa TIDAK BISA untuk BERBUAT dan BERUSAHA.
  4. Orang yang sadar bahwa sebenarnya dia TIDAK WUJUD. Titik.

 

Golongan satu, dua, dan tiga disebut sebagai golongan orang-orang yang masih buta dan tidak tahu. Sedangkan golongan keempat adalah golongan orang-orang yang sudah celik, melihat dan tahu tentang apa dan bagaimana kejadian yang sebenarnya.

 

 

 

 

Golongan Orang Yang Buta dan Tidak Tahu dan Tidak Paham

 

  1. Yaitu bagi orang yang merasa WUJUD dan dan dia merasa pula BISA untuk berbuat serta berusaha, maka ceritanya akan diwarnai dengan pengakuan-pengakuannya, misalnya:

 

  • Saya senantiasa berdo’a kepada Allah agar saya diberikan segala kebaikan dan kemudahan dalam kehidupan saya.
  • Saya senantiasa menggembeleng diri dengan berbagai bekal ilmu yang saya perlukan kelak dalam menjalani hidup saya. Saya pelajari ilmu-ilmu selagi orang lain tidur dan lalai. Saya ikuti traning-traning dan coaching dari berbagai guru hebat yang sangat berhasil didalam hidupnya.
  • Saya selalu mengembangkan pikiran positif di setiap saat sehingga yang datang kepada saya adalah hal-hal yang positif pula.
  • Saya tidak hanya berdo’a seperti itu, akan tetapi saya juga berusaha melakukan hal-hal terbaik yang bisa saya lakukan melebihi apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang kebanyakan. Walaupun begitu HASIL AKHIRNYA tetap Allah yang menentukan. Saya hanya berkewajiban berdo’a dan berusaha. Sedangkan hasil akhirnya adalah dari Allah.
  • Apa-apa yang baik yang saya lakukan dan dapatkan, semua itu adalah semata-mata dari Allah. Sedangkan apa-apa yang buruk yang saya lakukan dan dapatkan semua itu adalah karena kebodohan dan kesalahan saya sendiri.

 

  1. Dan bagi orang yang merasa WUJUD, akan tetapi ia merasa bahwa sebenarnya ia TIDAK BISA berbuat dan berusaha sendiri, maka ceritanya akan diwarnai oleh nuansa bahwa dirinya adalah orang yang tak berdaya, atau orang yang teraniaya, atau orang yang menjadi korban dari sebuah peristiwa atau keadaan. Biasanya orang yang seperti ini akan menyalahkan takdir atas apa-apa yang dia alami. Misalnya:

 

  • Sebenarnya saya tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya takdir Allah saja yang membuat saya bisa seperti ini.
  • Saya sebenarnya tidak ingin berbuat jahat seperti ini, tetapi takdir Allah berbicara lain, sehingga jadilah saya berbuat jahat.
  • Hanya karena takdir saja saya bisa berbuat baik seperti ini.
  • Saya hanya bisa berdoa saja, sedangkan hasilnya yang akan saya dapatkan adalah semata-mata tergantung takdir dari Allah.

 

  1. Dan bagi orang yang merasa WUJUD, dimana terkadang dia merasa BISA dan terkadang dia merasa TIDAK BISA untuk BERBUAT dan BERUSAHA, maka dia akan merasa bermain aman. Ia seperti berada di jalan tengah. Ungkapannya sangat santun sekali, seakan-akan ia adalah gabungan dari kelompok satu dan dua diatas. Adakalanya dia merasa bisa merubah Nasibnya, terutama untuk hal-hal yang berada di dalam kendalinya. Adakalanya pula ia merasa tidak bisa merubah nasibnya untuk hal-hal yang tidak bisa dia kendalikan.

 

 

Untuk ketiga golongan diatas, karena mereka masih merasa wujud maka akan selalu pula ADA SAYA dan KEPEMILIKAN SAYA. Oleh sebab itu, selalu pula akan ada pengakuan-pengakuan, misalnya: Ada usaha saya, ada doa saya, ada akitifitas saya, dan ada hasil-hasil atas apa yang saya lakukan. Atau bisa pula sebaliknya: saya sebenarnya tidak bisa-apa-apa, saya sebenarnya hanya pasrah saja, saya hanya ikut saja kehendak dan takdir Allah, dan sebagainya.

 

 

Golongan Orang Yang Celik, Melihat, Tahu, dan Paham

 

Sedangkan bagi orang-orang yang sudah paham bahwa sebenarnya mereka adalah TIDAK WUJUD, karena yang wujud adalah Dzat-Nya yang sedang bersenda gurau, maka bagi mereka sudah tidak ada lagi “saya” dan “kepemilikan saya”. Sehingga dengan begitu bagi mereka juga sudah tidak ada lagi pasal bahwa “saya bisa atau tidak bisa berbuat dan berusaha”. Mereka sudah paham bahwa yang sebenarnya, hakikinya, Allahlah yang sedang bergurau senda dengan sedikit Dzat-Nya.

 

Begitulah…, bagi kalian yang sudah tidak buta, dan kalian juga sudah tahu dan paham, maka semua cerita itu bagi kalian hanyalah sebuah “Old Matines” (Tayangan Lama) di dalam Biskop Ilahi yang tengah kalian saksikan. Keadaan cerita-cerita lama yang menakjubkan dan diluar kendali kalian. Bahwa kalian sedang menyaksikan sesuatu yang sudah di plotkan sesuai dengan Kehendak Allah yang satu, dan Dia pulalah (melalui Dzat-Nya) yang MEMELIHARA semua keadaan agar mengikuti Kehendak-Nya yang satu itu.

 

Alhamdulillah…, Konsep Bioskop Ilahi, Pintu Depan, Pintu Belakang dan ROC, walaupun semua itu adalah di dalam Alam Maya (Virtual Reality), tetapi semua itu sudah menjadi NYATA kepada kalian.

 

SEDARKAN bahawa kalian sekarang sudah berada jauh dari kaki gunung (Foot of the Mountain) dan sekarang sudah berada di Base-Camp (Tempat Penginapan sebelum ke Puncak Gunung).

 

Dan di base-camp itu kalian sedang membina kemah-kemah (Camps) untuk RELAK sambil menghantarkan Virtual Message (VM) berupa Dzikrullah dan ibadah-ibadah sunnah agar supaya pada saatnya nanti ada TALI yang diturunkan dari Puncak Gunung untuk menarik kalian sampai ke Puncak Gunung, sehingga kalian kelak bisa berada di atasnya yang pandangannya enak lagi nyaman. Inilah yang disebut dengan Tarikan Ilahi untuk masuk ke Alam Maya Sakinah.

 

Maka tunggulah di Base-Camp itu dan jangan berhenti menghantar VM berupa dzikrullah dan ibadah-ibadah sunnah sambil pasrah.

 

(Kumpulan beberapa nasihat Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff).

 

 

 

%d blogger menyukai ini: