Feeds:
Pos
Komentar

Oleh sebab itu mari kita lihat dari mana awal dari semuanya itu datang dari pandangan kacamata Makrifatullah. Arief Billah Ustadz Hj. Hussien BA Latiff telah membukakan Rahasia itu dalam beberapa syarahan Beliau.

Koncinya adalah, kita TIDAK BISA MENDAHULUI ALLAH.

Apapun juga yang kita lakukan dan ucapkan, apakah itu kalimat-kalimat motivasi seperti diatas, pikiran positive, ketenangan pikiran, dan sebagainya, semuanya itu DIDAHULUI oleh TELAH tertulisnya apa-apa yang kita lakukan itu di Lauhul Mahfuz sejak Firman Kun. Tanpa ada rencana yang sudah tertulis itu, maka kita tidak akan pernah bisa melakukannya.

Apa-apa yang terucap dari mulut kita, maka seperti itu pulalah yang sudah tertulis di Lauhul Mahfuz. Waktu hanya menjadi unsur pemantik (trigger) saja agar ucapan kita itu keluar dari mulut kita. Sebelum waktunya, ucapan itu masih dalam bentuk rencana. Begitu hari H, jam J, detik D berdentang, maka ucapan itupun mengalir dari mulut kita tanpa ada distorsi sedikitpun dari rencana yang sudah ditetapkan itu. Semuanya begitu. Tidak ada kecuali.

Hanya saja ada beda antara orang yang sudah tahu dan yang sudah makrifat kepada Allah dengan orang-orang yang masih buta dan tuli dalam memahami proses ini.

Bagi orang-orang yang masih buta dan tuli, orang-orang yang masih tidak tahu, maka pikiran-pikiran positive yang di lakukan itu, atau ucapan-ucapan motivasi yang di sampaikan itu, semuanya mereka kira adalah sebagai hasil dari buah pikiran mereka sendiri. Artinya pikiran positive itu mereka anggap bahwa mereka sendirilah yang menciptakannya.

“Sayalah yang berpikiran positive…”,
“Sayalah yang berperilaku positive…”,
“Sayalah yang bertindak positive…”,
“Sayalah yang telah mengubah usaha saya kearah yang positive…”,
“Sehingga wajar saja saya juga mendapatkan hal-hal yang positive dari apa-apa yang saya lakukan itu”, umbar mereka dengan gagahnya. Angkuh sekali.

Ketika mereka menginginkan sesuatu, mereka akan berkata: “aku sudah mendapatkan keinginanku itu pada saat ini. Semesta sudah mengabulkannya”.

Ketika mereka sakit, mereka cukup berkata: “aku sudah sembuh dari sakitku pada saat ini”. Kalau mereka beragama, mereka akan menambahnya pula dengan kata-kata: “Tuhan sudah mengabulkannya”.

Ketika mereka bermasalah, mereka akan berkata: “aku sudah tahu jawabannya, aku sudah tahu solusinya, aku sudah bisa menyelesaikannya. Tuhan sudah membantuku untuk menyelesaikannya”.

Ketika ada orang yang lain yang sakit, lalu mereka berkata: “aku akan mendo’akanmu agar Allah kembali menyehatkanmu seperti sediakala”.

Lihatlah betapa angkuhnya ucapan-ucapan mereka yang seperti itu. Seakan-akan Allah adalah suruhan mereka. Mereka seakan-akan bisa MENDAHULUI ALLAH.

Kalau memang apa-apa yang mereka ucapkan itu benar-benar terkabul, maka disitulah nikmatnya mereka mengaku dan membesarkan diri mereka. “aku do’akan mereka, aku motivasi mereka, aku rubah mind set mereka menjadi postive, sehingga “Alhamdulillah” Allah mengabulkankannya. Pakai kata alhamdulillah pula mereka untuk menambah getar keakuan mereka itu.

Akan tetapi, kalau orang-orang yang sudah CELIK, orang-orang yang sudah tidak buta dan tidak tuli, orang-orang yang sudah tahu, orang-orang yang sudah bermakrifat kepada Allah, mereka akan berkata lain. Mereka sudah paham dari mana datangnya pikiran positive itu. Mereka juga sudah paham kenapa mereka bisa mengucapkan kalimat-kalimat motivasi yang bernuansa positive itu dengan lancar. Dan mereka juga sudah tahu, kenapa pikiran mereka yang positive itu bisa terkabul dalam waktu yang tidak begitu lama. Ada pengkabulan dan pendzahiran dari pikiran dan kata-kata positive yang mereka ucapkan itu.

Mari kita lihat prosesnya.

Ketika mereka punya masalah, dengan takjub mereka melihat bahwa masalah itu sudah tertulis di Lauhul Mahfuz sejak Firman Kun. Dengan penuh rasa takjub pula, mereka segera saja bergegas untuk berkata: “INSYA ALLAH, dengan Izin dan Perkenan Allah, masalah saya sudah selesai saat ini”.

Saat mengucapkan kalimat ini, mereka sudah menyadari dengan penuh bahwa kalimat yang mereka ucapkan itupun sudah tertulis pula di Lauhul Mahfuz sejak Firman Kun, persis dengan apa yang mereka ucapkan itu.

Selanjutnya, karena sudah tertulis, dan mereka diberikan pula OTORITAS untuk mengucapkannya, maka tentu saja solusi dan jawaban-jawaban dari masalah mereka itu juga sudah tertulis pula di Lauhul Mahfuz. Waktulah yang mendzahirkan masalah mereka itu, waktu jugalah yang mendzahirkan pikiran positive dan ungkapan-ungkapan mereka yang bernuansa postitive itu, dan waktu pulalah yang mendzahirkan solusi-solusi dari permasahan mereka itu.

Cara selesainya masalah mereka itu bisa pula mereka lihat dengan sangat takjub. Masalah mereka itu bisa selesai dengan jalan mereka dipertemukan dengan jawaban yang sangat jitu dari permasalahn mereka itu. Atau bisa pula masalah-masalah mereka itu cair dan longgar dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Seakan-akan cair dengan sendirinya.

Mereka bisa melihat dengan sangat tajam bahwa masalah yang mereka hadapi itu semata-mata mereka hanyalah dikenai oleh masalah itu. Karena memang masalah itu sudah tertulis harus mengenai mereka pad waktu yang sudah ditentukan.

Begitu juga pikiran positive atau ucapan-ucapan positive yang mereka ucapkan itupun mereka juga sudah tahu bahwa pikiran dan mulut mereka hanya sekedar sebagai alat untuk untuk memikirkan dan mengucapkan hal-hal yang positive itu saja. Mereka hanya TERKENA sebuah rencana yang sudah ditetapkan.

Begitu mereka mendzahirkan pikiran dan ucapan-ucapan positiv itu, maka saat itu mereka merasa seperti telah diberikan KUASA atau OTORITAS oleh Allah untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang menimpa diri mereka itu. Akan tetapi, walaupun mereka ada kuasa itu, ucapan mereka yang terucap dari mulut mereka tetap saja ucapan-ucapan yang MENDAHULUKAN Allah dengan ungkapan INSYA ALLAH. Ucapan mereka SELALU diawali dengan INSYAALLAH. Dengan berkat Ijin dan Perkenan Allah…, maka ini dan itu sudah terjadi.

Bersambung…

Oleh sebab itu muncul pulalah teknik-teknik yang bertujuan untuk membunuh keinginan yang katanya berasal dari hawa nafsu kita itu. Caranya adalah dengan menenangkan pikiran kita. Membunuh atau menjinakkan pikiran-pikiran yang ada di dalam benak kita. Menjinakkan “Monkey Mind”.

Sehingga muncul pula ungkapan-ungkapan motivasi sebagai berikut:

• Tenangkanlah pikiranmu, maka hidupmu akan tenang, masalahmu akan hilang, hidupmu akan sehat”.
• Lenyapkanlah keinginanmu, sebab kalau keinginanmu sudah lenyap, zero, maka keinginan Allah lah yang akan terlaksana.

Teknik yang paling populer untuk menjinakkan dan menenangkan pikiran ini adalah dengan cara MEDITASI, yang tingkatannya ada beberapa macam. Misalnya:

1. Mengamati satu objek atau berkonsentrasi pada satu titik secara terus menerus,
2. Mengamati berbagai objek pikir yang silih berganti datang dan pergi dari pikiran kita dalam waktu yang lama,
3. Dan yang paling mudah adalah dengan mengamati dan mengikuti gerak dari sesuatu yang bisa kita rasakan gerakannya dalam waktu yang agak lama.

Salah satu titik yang paling sering dipakai untuk berkonsentrasi adalah ujung hidung. Dengan mata terbuka ataupun tertutup, kita bisa berkonsetrasi ke ujung hidung tersebut dalam waktu yang lama. Karena pikiran kita hanya berisikan satu titik saja, maka secara otomatis pikiran-pikiran yang lainnya akan hilang, sehingga memunculkan efek tenang kepada ruh kita yang ada di dalam dada kita.

Karena berkonsentrasi pada satu titik seperti titik di ujung hidung ini sangat sulit untuk bertahan lama, karena pikiran itu memang senangnya bergerak, maka keinginan pikiran itu bisa kita penuhi dengan mengamati saja kemana pikiran kita bergerak. Kita hanya mengamati saja pikiran kita itu bergerak dari satu objek pikir kepada objek pikir yang lain. Sampai pada suatu saat, tidak ada lagi objek pikir yang bisa diikuti oleh pikiran kita, sehingga pikiran kita itu menjadi kosong begitu saja. Karena pikiran kita sudah kosong, maka ruh yang berpusat di dalam dada kitapun akan tenang begitu saja.

Konsentrasi dengan cara mengamati pikiran ini pun sangat sulit dan bisa memakan waktu yang berhari-hari. Makanya banyak pula orang yang melakukan konsentrasi dengan mengamati gerak dari nafasnya. Sehingga pada akhirnya pikirannya berhenti untuk berpikir.

Akitifitas meditasi seperti ini, apakah mau ditambah dengan mantra-mantra atau tidak, hasilnya tidak akan banyak berbeda. Tapi tenangnya tetap ada, dan pengaruh positive-nya juga tetap ada.

Tapi belum pernah ada yang membahas dari mana datangnya pikiran positive itu, dari mana munculnya NeuroPalsticity itu, dan dari mana munculnya keinginan dan proses menjadi tenang karena kita melakukan meditasi-meditasi itu.

Bersambung.

Ilmu Tentang Pikiran Positive.

Sekarang marilah kita membahas lebih dalam lagi tentang sebuah ilmu yang sering disebut-sebut orang sebagai Ilmu tentang Pikiran Positive.

Banyak trainers dan choachers masa kini yang berkata-kata untuk memberikan motivasi untuk keberhasilan kita:

• Berpikir positive adalah kunci untuk Sukses.
• Berpikirlah yang positive, maka yang baik-baik akan segera datang kepadamu.
• Apa yang kami pikirkan akan datang balik kepadamu.
• People see that thinking positive and having a positive attitude can play a large role in their life. Positive thinking can be very powerful and by putting it to work in your life; you can reap the positive benefits.
• Your mind is a powerful thing. When you fill it with positive thoughts, your life will start to change.

Makanya bermunculan berbagai kalimat-kalimat motivasi yang sangat menggugah perasaan seperti:

• Sukses adalah HAK-KU.
• Aku bisa…
• Aku hebat…
• Aku bisa mengubah dunia…
• Dan sebagainya.

Seakan-akan dengan hanya berpikiran positive dan ucapan-ucapan penuh motivasi seperti itu, maka selesailah pulalah masalah-masalah yang menimpa kita. Dan selanjutkanya kita hanya menunggu semesta mengatur hasil dari apa-apa yang kita pikirkan itu untuk terwujud.

Kita juga sudah melihat sebelumnya bagaimana berbagai terapis menggunakan pula pikiran yang positive ini untuk menyembuhan penyakit, mendatangkan rezki, mendapatkan pekerjaan dan jabatan, dan sebagainya. Pokoknya top deh.

Ilmu mengatur pikiran positive ini pulalah yang menjadi dasar dari The Law of Atraction yang sempat sangat populer ditengah-tengah masyarakat beberapa waktu yang lalu. Sebab banyak sekali orang yang bersaksi bahwa ketika dia berpikir tentang sesuatu, maka sesuatu itupun berhasil didapatkannya tidak beberapa lama kemudian.

Misalnya, ada seseorang yang ingin memiliki sebuah mobil, lalu mereka memakai teknik the Law of Atraction untuk mendapatkannya. Mereka membayangkan mobilnya. Mereka tulis dan gambarkan keinginan mereka itu. Mereka meyakinkan diri mereka bahwa mereka SUDAH memiliki mobil itu, lalu keyakinan itu mereka naikkan keangkasa raya dengan keyakinan bahwa semesta akan merespon dan mendukung keinginan mereka itu dengan cara-cara yang tak terduga. Dan entah kenapa, memang banyak yang berhasil mendapatkan impian mereka itu.

Makanya pada setiap awal tahun ada orang yang sangat getol membikin resolusi tentang apa-apa yang mereka inginkan sampai pada ahir tahun nanti. Seakan-akan dengan resolusi yang mereka buat itu mereka sudah meraih apa-apa yang mereka inginkan itu.

Apalagi kalau kita melihat perkembangan berbagai ilmu saat ini yang diberikan oleh orang-orang terkenal, seperti Ilmu: terapi tanpa batas, motivasi, keyakinan, ketegasan, impian, vibrasi dan quark, mandiri dan berani tanpa batas, energi dan ketiadaan, spiritualias universal, dan lain-lain sebagainya. Semua ilmu itu paling tidak telah memberikan dampak yang sangat positive bagi orang-orang yang memraktekkannya.

Dalam bidang kesehatanpun, sekarang kita mengenal istilah “NeuroPlasticity” yang menyatakan bahwa kita dapat mempengaruhi sel-sel neuron di dalam otak kita untuk melakukan penyembuhan sendiri terhadap berbagai penyakit yang ada di dalam tubuh kita. Caranya hanya dengan mengatakan:

• aku sudah sembuh…,
• aku sudah sehat…,
• aku sudah pulih dari sakitku…,
• dan sebagainya”.

Dan banyak kita yang terkagum-kagum dengan hasilnya. Banyak sekali muncul testimoni atau kesaksian yang mengatakan akan kebenaran dari pernyataan-pernyataan diatas. Hampir 100% berhasil.

Yang bingung adalah umat Islam. Sebagian besar umat islam berada dalam kegamangan kalau berbicara tentang ilmu berpikiran positive ini. Mau ikut mengatakan hal-hal yang sama seperti itu, kita takut dikatakan sombong. Mau tidak ikut, kok ilmu seperti ini sangat menarik sekali dan ada pula bukti-buktinya yang terhampar di depan mata kita. Bagaimana ini?.

Apalagi kalau dikatakan pula bahwa BERDO’APUN ada kesan bahwa kita sedang memerintah-merintah Allah untuk mengabulkan apa-apa yang kita inginkan. Seakan-akan apa yang kita do’akan itu semuanya adalah keinginan-keinginan kita sendiri. Sebab ada pula orang yang menakuti-nakuti kita bahwa keinginan-keinginan kita itu adalah berasal dari HAWA NAFSU kita sendiri. Sedangkan Allah, katanya, juga punya Keingian Sendiri. Lalu keinginan kita itu akan berhadap-hadapan dengan keinginan Allah. Dan yang menang pastilah keinginan Allah, begitulah katanya.

Bersambung

 

Ketika seseorang dijadikan sebagai KALAM oleh Allah untuk menyampaikan suatu Ilmu, maka ia akan diberikan KEDUDUKAN oleh Allah sesuai dengan Ilmu yang akan disampaikannya itu.

Seorang yang diberi tugas oleh Allah sebagai KALAM-NYA untuk menyampaikan Ilmu berhitung, membaca, dan menulis, maka kedudukannya disebut sebagai GURU terhadap anak muridnya. Begitu juga dengan Kalam-kalam Allah yang lain.

Dengan begitu dapatlah dikatakan bahwa setiap orang yang bekerja pada suatu pekerjaan, profesi, ataupun keahlian, sebenarnya dia adalah KALAM-KALAM Allah yang sedang bertugas untuk menjadi alat atau sarana bagi turunnya ILMU dari Lauhul Mahfuz sesuai dengan pekerjaan, profesi, ataupun keahlian dari Kalam-kalam itu.

Jadi, seorang dokter, jaksa, hakim, polisi, insinyur, tukang kebun, sopir, dan profesi-profesi lainnya, sebenarnya mereka sama saja. Yaitu mereka hanya sekedar KALAM-KALAM Allah saja, sebagai tempat untuk turunnya ILMU dari Lauhul Mahfuz berupa Ilmu Kesehatan, ilmu keadilan, ilmu rekayasa, ilmu keamanan, ilmu kebersihan, ilmu mengendarai mobil, dan ilmu-ilmu lainnya, yang bisa dipakai pula oleh orang lain yang belum tahu untuk sarana belajar.

Selama seseorang masih mempunyai tugasan menjadi KALAM Allah sebagai alat untuk turunnya Ilmu-ilmu tertentu dari Lauhul Mahfuz kepada orang-orang lain, maka selama itu pulalah ILHAM itu akan turun ke dalam mindanya dengan sangat cepat. Ilham itu akan mengingatkannya tentang apa-apa yang harus disampaikannya, apa yang harus ditulisnya, apa yang harus digambarnya, apa yang harus dibuatnya sesuai dengan tugasannya itu.

Bahkan pencuri dan koruptorpun sebenarnya adalah kalam-kalam Allah juga untuk mendzahirkan peran-peran yang berdasarkan kepada ilmu yang bersifat kefasikan. Makanya ilham yang turun kepada pemeran kefasikan itupun adalah Ilham tentang kefasikan. Begitu ilham tentang kefasikan itu turun kepada kalam-kalam itu, maka kalam-kalam itupun tidak bisa menolak dan menghindar dari peran kefasikan itu. Mereka akan melakukan peran kefasikan itu dengan sangat pas dan bersungguh-sungguh.

Oleh sebab itu, barang siapa yang sudah ditetapkan oleh Allah di dalam Lauhul Mahfuz untuk bisa membaca dan mempelajari lebih banyak kalam-kalam Allah dari berbagai sumber, maka diapun akan mendapatkan ILMU yang lebih banyak pula daripada orang-orang yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk menjadi orang-orang yang tidak mempunyai terlalu banyak ilmu.

Kalau seseorang sudah dituliskan di dalam Lauhul Mahfuz untuk mempunyai suatu ILMU, maka Ilmu itu akan sampai kepada orang itu dengan cara-cara dan jalan yang kadangkala seperti tidak terduga-duga. Ilmu itu sendirilah yang akan mengejar orang-orang yang berjodoh dengannya. Dan Ilmu itu akan turun secara-berulang-ulang dalam bentuk ILHAM ataupun melalui perantara Kalam-kalam Allah yang lainnya, sampai orang itu bisa mengerti dan paham betul dengan ilmu itu. Setelah itu diapun akan menjadi Kalam pula bagi menyebarnya ilmu tersebut kepada kalam-kalam yang lainnya. Begitulah seterusnya…

Akan tetapi kalau di dalam Lauhul Mahfuz sudah tertulis pula bahwa seseorang tidak berjodoh dengan sebuah ilmu, maka walaupun ilmu sudah terpapar begitu gamblang dihadapan matanya, sudah berulang-ulang pula disampaikan ke telinganya, namun dia tetap TIDAK bergeming sedikitpun untuk menerimanya. Matanya seperti buta, telinganya seperti tuli, pikirannya seperti kosong begitu saja dari ilmu tersebut. Sehingga diapun menjadi Kalam bagi orang lain sebagai contoh tentang bagaimana jadinya kalau seseorang tidak berjodoh dengan sebuah ilmu.

Lebih lanjut lagi, ILMU itu juga adalah sebuah ciptaan yang juga hidup. Pada awalnya Ia tersimpan rapi di dalam Lauhul Mahfuz. Begitu ia sudah harus terdzahir, maka ia pun turun berupa ILHAM kepada Kalam-kalam yang akan menyuarakan dan akan membukakan rahasia-rahasianya kehadapan KHALAYAK ramai. Dengan berbekal ilmu itulah kemudian terjadi perubahan PERADABAN pada sekelompok orang sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Sebab tanpa sebuah Ilmu, maka tidak akan mungkin terjadi proses perubahan peradaban pada suatu bangsa kearah yang lebih baik dan yang lebih mudah.

Walaupun kalam atau orang yang menyampaikan ilmu itu untuk pertama kalinya sudah tiada, namun ilmu itu tetap akan bergerak menemukan kalam-kalam baru untuk meneruskan tongkat estafet ilmu itu ke generasi berikutnya. Kalau di dalam Luhul mahfuz sudah tertulis pula bahwa ilmu itu akan berkembang kearah yang lebih baik, maka pada zaman kalam-kalam berikutnya pastilah terdzahir ilmu yang lebih baik pula dari ilmu yang sebelumnya. Selalu begitu.

Jadi tidak ada seorangpun yang bisa disebut sebagai pencipta dari sebuah ilmu. Dan tidak ada pula orang yang bisa menyebut dirinya sebagi founder, atau penemu, atau bahkan PEMILIK dari sebuah ilmu, atau sistem, atau tata cara untuk melakukan sesuatu. Sebab ilmu, sistem, tata cara itu sudah ada dan sudah tercipta sejak firman Kun pertama kali di sabda oleh Allah. Sejak itu, ia sudah tersimpan rapi di dalam Lauhul Mahfuz untuk menunggu pendzahirannya mengikuti waktu yang sudah ditentukan. Orang yang lidahnya, atau tangannya menjadi tempat keluarnya ilmu itu tidak lebih dari hanyalah berperan sebagai Kalam Allah saja.

Salah satu Kalam Allah yang berisikan ilmu yang sangat hebat adalah Al Qur’an. Ia terdzahir dari Lauhul Mahfuz ke alam manusia melalui Kalam Allah yang lainnya, yaitu melalui lidah Rasulullah Muhammad SAW. Dan Rasulullah SAW pun mendapatkannya melalui Kalam Allah yang lainnya pula, yaitu melalui Malakat Jibril.

Dan sampai sekarang, Al Qur’an itu adalah salah satu Kalam Allah yang paling banyak tersebar di permukaan bumi dari zaman ke zaman. Karena ia memuat ILMU yang paling dibutuhkan oleh umat manusia, yaitu ilmu kehidupan. Kehidupan antara semua ciptaan dengan Tuhannya, yaitu Allah Swt.

Sungguh, barang siapa yang banyak berinteraksi dengan Al Qur’an, berarti dia telah berinteraksi dengan sebuah sumber ilmu yang di dalamnya tidak akan ditemukan sedikitpun kemudharatan. Allahu Akbar….

Bersambung…

KALAMULLAH…, ILMU dan ILHAM

Selanjutnya mari kita naikkan pemahaman kita setingkat lebih tinggi dari yang sebelumnya.

Kita sudah tahu bahwa semua ciptaan adalah pendzahiran dari sedikit Dzat-Nya yang telah disabda-Nya dengan firman KUN.

Dengan sabda Kun itu, maka seketika itu juga, dari Dzat-Nya yang sedikit itu, terbentanglah sebuah Rencana Induk yang berisikan siapa memerankan apa, yang akan menghasilkan berbagai kejadian dan peristiwa. Jadi Rencana Induk itu memuat segala hal yang akan dialami oleh semua ciptaan sejak dari suatu awal yang sudah ditentukan sampai pada suatu akhir yang sudah ditentukan pula. Rencana Induk itu disebut juga sebagai Kitab Lauhul Mahfuz.

Rencana Induk itu sudah sangat lengkap dan tidak akan ada perubahan lagi di dalamnya, karena ia dibuat dan direncanakan oleh Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna. Didalam Rencana Induk itupun sudah tertulis dan ditetapkan siapa akan melakukan apa, siapa akan berjalan kemana, siapa akan mengalami apa, siapa akan mendapatkan apa, siapa akan menghasilkan apa, siapa akan bermanfaat apa, siapa akan menghasilkan hikmah apa, dan berbagai hal dan keadaan lainnya yang berhubungan erat dengan suatu ciptaan tertentu.

Dari Dzat-Nya yang sedikit itu, terdzahir pulalah WAKTU yang akan menjadi pengontrol untuk menentukan kapan awal dan akhir bagi terjadinya berbagai peritiwa. Secara pasti, pada waktu-waktu yang telah ditetapkan terdzahirlah apa yang harus terdzahir. Tidak ada sesiapa yang bisa menahan pendzahiran itu.

Pendzahiran dari Dzat-Nya yang sedikit itu bukan hanya sekedar berupa Rencana Induk yang berisikan semua aktifitas dan waktu-waktu pendzahiran bagi semua aktifitas itu. Akan tetapi PEMERAN TUNGGAL untuk menjalankan Rencana Induk itupun adalah Dzat-Nya yang sedikit itu juga. Karena memang tidak ada unsur atau wujud lain yang selain dari Dzat-Nya itu yang ada untuk menjalankan rencana itu.

Seiring dengan waktu yang berdentang, Dzat-Nya itu kemudian mengambil peranan dari Lauhul Mahfuz untuk mendzahirkan berbagai pemeran dan peran-peran yang akan dimainkannya. Permainan itu akan membentuk sebuah harmoni yang sangat agung di dalam kerangka sebuah sandiwara Allah terhadap sedikit Dzat-Nya.

Dalam permainan itu, perputaran waktu akan mengubah lusa menjadi esok, esok menjadi hari ini, hari ini menjadi kemaren, kemaren menjadi dua hari yang lalu, dan seterusnya.

Apa-apa yang terjadi pada hari ini, pada hari kemaren ia masih berupa sebuah rencana yang sudah sangat matang, berikut dengan semua persyaratan dan hikmah yang ada di dalamnya, untuk bisa terdzahir pada hari ini.

Begitu juga apa-apa yang terdzahir pada hari ini, pada hari esok dia akan berubah pula menjadi sejarah yang sudah tidak bisa dipengaruhi lagi oleh siapapun juga.

Semua perubahan itu terjadi secara OTOMATIS. Tidak ada lagi campur tangan Allah untuk menjalankan, mengubah, dan bahkan untuk menyempurnakannya. Karena Rencana Induk itu memang sudah amat sangat sempurna. Maha Sempurna. Tidak ada sedikitpun yang dilupakan-Nya, walau hanya untuk sebutir atom sekalipun.

Manusia saja, saat ini bisa membuat sebuah sistem yang berjalan tanpa henti secara otomatis. Hal ini bisa dilihat di dalam sebuah pabrik mobil masa kini yang bisa berproduksi secara otomatis dari sejak awal sampai pada akhirnya terbentuknya sebuah mobil. Masak sih Allah tidak mampu membuat sistem yang berada di dalam Lauhul Mahfuz juga berjalan secara otomatis. Pasti bisa lah…

Sejak firman Kun, berjalan pulalah siztem otomatis yang telah diciptakan oleh Allah di dalam Lauhul Mahfuz. Pemeran tunggalnya adalah Sedikit Dzat-Nya sendiri. Setiap saat Dzat-Nya akan mengambil peranan akan melalui Lauhul Mahfuz. Begitu Dzat-Nya melewati Lauhul Mahfuz, maka Dzat-Nya itu akan diberi baju berupa SIFAT-SIFAT yang sangat beragam.

Dan sifat-sifat inilah kemudian yang akan terlihat saling berinteraksi satu sama lainnya dengan sangat indahnya pada suatu waktu yang telah ditentukan. Interaksi itu akan membentuk berbagai cerita, membawa berbagai hikmah, mengandung berbagai bahan pelajaran bagi orang-orang yang berakal dan yang mau menggunakan fikirannya.

Sebab setiap sifat yang terdzahir itu akan bercerita persis sama dan sebangun dengan sebuah rencana yang sudah tertulis di dalam kitab Lauhul Mahfuz, yang penulisannya sudah selesai pula sejak firman KUN. Cerita-cerita atau bahasa-bahasa itu memuat sesuatu ILMU yang sangat berguna bagi manusia dalam membangun peradabannya. Ilmu itu akan terpancar keluar melalui berbagai SARANA atau ALAT yang disebut dengan KALAM-KALAM ALLAH. Melalui bahasa dari KALAM itulah manusia diberi PENGETAHUAN atau ILMU oleh Allah.

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Al Alaq (96) 4:5

Jadi semua ciptaan sebenarnya adalah ALAT atau SARANA bagi Allah untuk menyampaikan KALAM-NYA. Melalui kalam-kalam itulah ILMU yang sudah tersimpan rapi di dalam Lauhul Mahfuz akan turun dan mengalir sampai kepada Manusia. Proses turunnya Ilmu dari Lauhul Mahfuz kepada Kalam-Kalam itu, yang berlangsung dengan sangat cepat, disebut juga dengan ILHAM.

Berbagai makhluk atau ciptaan itu sebenarnya diberi tugas sebagai Kalam-Kalam Allah, yang dengan perantaraan Kalam-kalam itulah Allah memberikan Pengetahuan kepada manusia. Beberapa kalam Allah itu diantaranya adalah: Malaikat, Manusia, Jin, Hewan, Tananam, Unggas, Al Qur’an, Kitab, Media, Bintang-bintang, Matahari, Bulan, Bumi, dan sebagainya.

Kepada manusia turunlah Ilham tentang bagaimana caranya untuk menjadi taqwa atau fujur. Kepada lebah, turunlah Ilham tetang bagaimana dia membuat sarang dan madu. Kepada burung, turunlah ilham tentang bagaimana dia terbang dan bernyanyi. Kepada bumi turunlah Ilham tentang bagaimana dia berputar pada garis edarnya. Bahkan kepada bumi turunlah Ilham tentang bagaimana ia akan mengajarkan manusia tentang gempa bumi, gunung meletus, banjir, kebakaran, dan sebagainya.

Sungguh banyak sekali sarana (kalam) bagi Ilmu untuk turun kepada manusia agar manusia itu bisa BELAJAR, IQRA. Sehingga pantaslah untuk dikatakan bahwa: “Barangsiapa yang mau IQRA (membaca dan belajar dari Kalam), maka ia akan menuai Paham”. Dan itu adalah sebuah nikmat yang tak terperikan.

Bersambung…

Kepada Beliau diberikan Ilham oleh Allah untuk menjelaskan dengan sejelas-jelas dan segamblang-gamblangnya tentang HAKEKAT dari SEMUA CIPTAAN, sehingga dengan seketika itu juga Pahaman Wahdatul Wujud dan Pahaman Nur Muhammad langsung kena LIPAT dan tidak punya tempat lagi untuk dipakai, terutama bagi saya pribadi.

Pahaman yang Beliau kembangkan adalah Pahaman Dzatiyah. Dengan berdasarkan Pahaman Dzatiyah ini, ayat-ayat Makrifatullah yang kepahamannya sudah dicari-cari orang sejak seribu tahun yang lalu, dengan berbagai cara yang sulit dan dalam waktu yang lama, tiba-tiba saja menjadi sangat mudah untuk dipahami dan dalam waktu yang sangat singkat pula. Sungguh menakjubkan sekali. Kalaulah itu bukan Ilham dari Allah kepada Beliau, tidak mungkin ilmu yang Beliau sampaikan itu menjadi sebegitu mudah dan eloknya untuk dinikmati.

Inti sari Ilmu Makrifatullah yang Beliau sampaikan adalah bahwa: “Orang yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya niscaya sudah pasti ia mengenal bahwa ia tiada mempunyai wujud bagi dirinya”. Dan ternyata ungkapan inipun juga sudah disampaikan pula oleh Imam Ghazali, lihat Ihya Ulumiddin Bk. 7, 427 (1981).

Bahwa kewujudan dari semua makhluk adalah sebagai penzahiran dari Dzat-Nya yang telah disabda-Nya dengan Firman Kun. Dzat-Nya itulah yang menjadi Dzat Wajibul Wujud bagi pendzahiran semua ciptaan yang disebut juga dengan Dzat Mungkinul Wujud. Oleh sebab itu semua ciptaan itupun sebenarnya masih Dzat-Nya juga, tapi Dzat-Nya yang sudah berbajukan beragam SIFAT-SIFAT.

Untuk memahami bagaimana HUBUNGAN antara Allah dengan semua ciptaan-Nya, analogi hubungan antara “lautan”, “air”, dan “sebongkah kecil batu es” seukuran 2x2x2 Cm3 bisa dipakai dengan sangat mengasyikkan. Tapi kita tidak berbicara tentang DZAT Allah. Karena tidak ada yang tahu seperti apa Dzat Allah. Jadi perumpamaan ini adalah hanya mengenai HUBUNGAN antara Allah dengan Makhluk-Nya saja. Hati-hati.

Anggaplah sebongkah kecil batu es itu adalah perumpamaan dari semua ciptaan yang telah digabungkan menjadi satu. Artinya semua ciptaan mulai dari ciptaan di alam micro cosmos sampai kepada ciptaan di alam macro cosmos, dari alam atom-atom sampai kepada galaksi-galasksi di alam semesta yang sangat luas, atau bahkan sampai kepada 7 lapis langit, sidratul muntaha, lapisan air, arasy Allah yang Maha Agung, dan 70 lapis tirai Nur yang menaungi semua ciptaan itu, kalau semuanya itu di gabungkan menjadi satu, maka semuanya itu bisa dimasukkan kedalam sebongkah kecil batu es itu. Lalu sebongkah kecil batu es itu kemudian terapung di dalam lautan yang sangat luas.

Sekarang mari kita lihat bagaimana hubungan antara lautan dengan sebongkah kecil batu es itu:

Yang Awal.
Sebelum menjadi batu es, pada awalnya yang ada adalah sedikit air masin yang berada di dalam keseluruhan air lautan yang banyak dan luas. Sedikit air masin itu tidaklah berarti sama sekali kalau dibandingkan dengan keseluruhan air di dalam lautan itu. Akan tetapi sedikit air masin itu tidak berpisah sedikitpun dengan seluruh air yang ada dilautan itu. Air masin yang sedikit itu hanyalah bagian yang sangat kecil saja dari air di dalam lautan.

Lalu akibat dikenai oleh suatu hukum dan ketetapan-ketetapan yang telah ditetapkan sebelumnya, sedikit air masin itu kemudian membeku dan berubah menjadi sebongkah batu es. Seakan-akan dari sedikit air masin itu terdzahirlah sebongkah batu es, yang SIFATNYA berbeda dengan sedikit air masin itu.

Bagi orang yang buta, ketika dia melihat batu es yang mengapung dilautan itu, dia hanya semata-mata melihat batu es itu saja yang terapung-apung dilautan. Dia akan berkata: “itu batu es…, itu batu es…!”. katanya penuh semangat. Dia melihat batu es itu terpisah dengan lautan seperti terpisahnya ikan yang ada di dalam lautan dengan lautan itu sendiri. Hanya saja mereka memandang bahwa batu es itu tidak bebas bergerak seperti bebasnya ikan bergerak di dalam air.

Akan tetapi bagi orang yang sudah celik, orang yang tidak buta dan sudah tahu, dia akan melihat berbeda dengan cara pandang orang yang buta itu tadi. Orang yang celik itu sudah tahu bahwa pada HAKEKATNYA batu es itu adalah air juga. Dia sudah paham bahwa disebalik batu es itu sebenarnya yang ada adalah air juga. Tidak terpisah antara batu es itu dengan air yang membetuknya dari awal.

Walaupun matanya melihat bahwa batu es itu berbeda rupa dengan air yang membentuknya, tapi dia sudah paham pula bahwa perbedaan itu hanyalah sekedar perbedaan dalam hal SIFAT saja. Begitu “matanya” melihat kepada batu es itu, “mata hatinya” atau “mata batinnya” tetap masih bisa melihat bahwa hakekat dari batu es itu sebenarnya adalah air juga.

Yang Akhir…
Untuk membuktikan bahwa hakekat dari batu es itu adalah air, maka batu es itu haruslah lebur, lenyap menjadi tiada. Wujud batu es itu haruslah berakhir. Ketika batu es itu mencair, lebur, lenyap, maka ia akan kembali menjadi sedikit air yang tadinya menjadi unsur awal pembentuk dari batu es itu. Sungguh batu es itu berawal dari sedikit air dan kembali akan berakhir menjadi sedikit air.

Batu es itu berawal dari air dan akan kembali menjadi air. Yang awal adalah air, dan yang akhir adalah air juga.

 

Yang Dzahir dan Yang Bathin.

Lebih lanjut lagi, Batu es itu hanyalah sekedar sifat dari air saja yang membeku selama waktu yang telah ditentukan. Jadi Dzahirnya yang terlihat mata adalah batu es, sedangkan Bathinnya yang terlihat oleh “mata hati” adalah air.

Yang Meliputi…
Seluruh bongkahan batu es itu diliputi oleh air. Tidak ada sel-sel di dalam batu es itu yang tidak diliputi oleh air. Kemanapun batu es itu melihat maka yang terlihat olehnya adalah air, bukan lautan.

Setelah mengenal bahwa hakekat dari batu es itu sebenarnya hanyalah sedikit air saja, maka dengan tanpa berpikir-pikir lagi, kita akan dapat memakrifatkan asal dari air itu, yaitu lautan. Bahwa sedikit air masin itu hanyalah bagian yang sangat kecil saja dari semua air yang ada dilautan. Tidak akan ada lagi pertanyaan untuk itu. Jelas dan clear.

Oleh sebab itu jelas pulalah alasan kenapa batu es tersebut tidak bisa mengatakan bahwa dia adalah lautan. Tidak bisa. Sebab dia terlalu amat kecil dibandingkan dengan lautan.

Batu es itu juga tidak bisa berkata bahwa kalau dia bergerak-gerak, maka yang menggerakkannya itu adalah lautan. Tidak bisa. Karena bergerak-geraknya dia hanya disebabkan oleh gerakan sedikit air yang ada di sebalik baut es itu. Air yang ada dibalik batu es itulah yang bergerak-gerak, sehingga batu es itupun kelihatan seperti bergerak-gerak. Dan tentu saja gerakan air yang ada di sebalik batu es itu merupakan imbasan dari KEHENDAK dari air samudera secara keseluruhan.

Dengan demikian jelas sekali bahwa antara batu es, sedikit air masin yang menjadi pembentuk batu es itu, dan air yang ada di dalam lautan, semuanya berada dalam satu kesatuan WUJUD. Tidak terpisah antara batu es, sedikit air masin, dan seluruh air yang berada di dalam lautan itu. Semuanya adalah Air.

Makanya lautan bisa berkata bahwa batu es itu juga adalah dirinya. Tetapi sebaliknya batu es itu tidak bisa mengatakan bahwa dirinya adalah lautan. Bahkan untuk mengatakan bahwa dirinya wujudpun, batu es itu tidak bisa sama sekali. Karena kewujudannya itu sendiri hanyalah karena ada sedikit air yang diberi baju dengan sifat batu es saja. Batu es itu sendiri sebenarnya hanya air saja. Jadi sebenarnya batu es itu sendiri adalah tidak wujud… Tidak ada. Karena pada hahekatnya ia sendiri adalah sedikit air sahaja, yang menjadi bahagian yang sangat kecil dari air yang ada di dalam lautan…

Dengan analogi yang sama, maka semua makhluk yang ada DI DALAM Lauhul Mahfuz dapatlah dikatakan TIDAK WUJUD. Karena kewujudan semua makhluk itu hanyalah semata-mata karena Allah telah menyabda sedikit DIRI-NYA dengan Firman KUN, sehingga dari sedikit DIRI-NYA itu kemudian terbentuklah DZAT Wajibul Wujud yang akan mendzahirkan semua ciptaan yang ada di dalam Lauhul Mahfuz itu.

Dzat Wajibul Wujud itu bisa kita singkat dengan Dzat-Nya atau Dzat saja. Bukan Allah. Karena Dzat yang dimaksudkan itu hanyalah sedikit saja dari Diri-Nya yang sesungguhnya yang Maha Besar. Inilah yang menjadi perbedaan yang sangat penting dengan Pahaman Wahdatul Wujud yang mengatakan bahwa Dzat yang menjadi Wajibul Wujud bagi semua ciptaan adalah Seluruh DIRI Allah. Dari seluruh Diri Allah itulah kemudian tercipta semua ciptaan.

Setelah Paham tentang Dzat Wajibul Wujud ini, maka selanjutnya, Dzahir dan Bathin dari semua makhluk itu adalah Dzat-Nya sendiri. Yang Dzahir adalah Dzat-Nya yang telah diberinya baju berupa SIFAT-SIFAT, sedangkan Yang Bathin adalah Dzat-Nya yang tidak bersifat, tidak berupa, dan tidak berumpama.

Artinya yang ada disebalik semua ciptaan itu adalah Dzat-Nya. Disebalik semua gerakan semua makhluk adalah gerakan dari Dzat-nya, kehidupan dari semua makhluk adalah kehidupan dari Dzat-Nya, apapun aktivitas dari semua makhluk itu, pada hakekatnya semua itu terjadi karena adanya aktivitas dari Dzat-Nya saja.

Dengan begitu maka tertutup rapatlah semua kemungkinan bagi kita untuk mengucapkan kata-kata syatahat, seperti mengatakan “aku adalah Allah”, atau “nafasku digerakkan Allah”, atau “kata-kataku adalah kata-kata Allah”, dan kata-kata syatahat model lama lainnya, seperti yang diucapkan oleh wali-wali pada zaman dahulu kala.

Jangankan untuk berkata-kata syatahat, untuk mengaku “aku” saja kita sudah tergigit lidah. Karena jelas sekali bahwa kewujudan kita yang sebenarnya adalah kewujudan dari Dzat-Nya sahaja. Kita ternyata TIDAK WUJUD.

Kalau sudah begini, barulah kita dengan RIDHA bisa menerima apapun juga yang terjadi di dalam Lauhul Mahfuz ini, baik yang menimpa diri kita, keluarga kita, keturunan kita, suku kita, bangsa kita, atau bahkan seluruh bangsa-bangsa yang ada di dunia ini sejak dari dulu sampai akhir zaman kelak.

Kita bisa RIDHA, karena apapun yang terjadi, semuanya berada dalam kerangka Perencanaan Allah Yang Maha Sempurna. Dan yang akan menjalankan dan mendzahirkan semua rencana itupun ternyata adalah Dzat-Nya juga yang berada di dalam Lauhul Mahfuz. Tidak ada pemeran yang lain.

Oleh sebab itu, apapun peristiwa, kejadian, dan pendzahiran yang terlihat oleh mata kita, maka bagi kita (orang yang sudah mengenal Hakekat dan Makrifat), “mata hati” atau “mata batin” kita sudah bisa tajam untuk melihat bahwa disebalik semuanya itu semata-mata adalah aktivitas Dzat-Nya sahaja. Sedangkan ingatan kita sudah bisa pula terkunci dengan sangat kuat kepada hanya Mengingat Allah sahaja. Hati atau pikiran kita sudah tidak pergi kemana-mana lagi untuk mengingat-ngingat hal-hal lain yang tidak perlu sedikitpun untuk kita ingat-ingat.

Mata memandang Sifat, mata hati melihat Dzat, dan Hati (minda) Mengingat Allah. Sehingga kitapun bisa dengan tersenyum melihat pergelaran sandiwara Allah terhadap Dzat-Nya sendiri. Senyum Makrifatullah. Senyum melihat Allah bermain-main dan bergurau senda dengan sedikit Dzat-Nya.

Bersambung….

Begitu jugalah yang terjadi di dunia spiritual di dalam berbagai agama, termasuk agama Islam yang mengikuti Paham Spiritual Wali-wali ataupun juga paham Tarekat.

Warna dari paham spiritual yang seperti ini adalah dengan menganggap bahwa bahwa Allah dan Ciptaan adalah dua wujud yang saling berasingan akan tetapi dua wujud yang saling berasingan itu juga saling BERINTERAKSI satu sama lainnya karena keduanya berada pada ruang dan waktu yang sama, yaitu DISINI dan SAAT INI.

Makanya ada wali-wali yang mengatakan bahwa akhirat itu ada disini; barat dan timur itu ada disini; Mekkah itu ada disini; Medinah itu ada disini. Bahkan merekapun bisa mengatakan bahwa Allah pun ada DISINI.

Ketika mereka ditanya: “Mana Allah yang ada DISINI?”. Maka dengan gagahnya mereka berkata: “INI lho…!”; Ini yang menggerakan nafasmu; Ini yang menggerakkan jantungmu; Ini yang menggerakkan angin; Ini yang menggerakkan bintang-bintang; Ini yang menggerakkan alam semesta; Ini…!”, kata mereka dengan penuh berteka teki.

Sebenarnya spiritualitas Islam yang dibawa oleh wali-wali dan tarekat itu ingin mengubah paradigma bahwa kewujudan itu sebenarnya hanya SATU, yaitu hanya ALLAH SAJA. Sedangkan makhluk sebenarya adalah tidak wujud. Tujuannya sudah betul sebenarnya. Akan tetapi jalan masuk untuk menyatakan bahwa makhluk itu sebenarnya adalah tidak wujud ternyata tidak mereka ketemukan dengan mudah. Mereka terus berputar-putar terlebih dahulu di dalam alam lamunan. Tetapi mereka tetap tidak menemukan kepahaman seperti yang seharusnya.

Ada mereka yang mengatakan bahwa makhluk, terutama manusia, adalah Cerminan atau Citra dari Allah. Ada pula mereka yang mengatakan bahwa Allah dan manusia (makhluk) itu adalah ibarat dua muka koin yang berbeda pada satu koin yang sama. Muka koin yang satu adalah manusia atau makhluk, dan muka koin yang lain adalah Allah.

Maka agar melihat Wujud Allah, maka hilangkanlah wujud makhluk. Selagi masih kelihatan wujud makhluk, maka wujud Allah akan lenyap. Kalau sudah melihat wujud Allah, maka wujud makhluk akan sirna. Proses melenyapkan wujud diri inilah yang paling sulit untuk dilakukan. Karena dengan melenyapkan wujud diri ini, maka berarti lenyap pulalah “aku”. Padahal semua manusia nyaris merasa mempunyai “aku”, yang sudah dipupuk begitu lama sehingga “aku” itu begitu kuatnya ada pada setiap manusia.

Dari sinilah kemudian muncul istilah “aku” (dengan a kecil) untuk wujud manusia, dan “Aku” (dengan A besar) untuk Allah. Kalau ingin melihat “Aku”, maka “aku” harus lenyap. Oleh sebab itu “aku” harus nol, zero, agar yang ada adalah “Aku” yang memberikan kekuatan dan kehebatan penuh kepada “aku” yang sudah nol atau zero. Atau dalam istilah kerennya: “DARI ZERO MENJADI HERO”.

Kalau sudah merasa Zero, maka barulah setelah itu mereka merasa bisa jadi Hero. Jadi orang yang tak terkalahkan, menjadi orang yang diberkahi, menjadi orang yang dijaga, menjadi orang yang beruntung terus-menerus, menjadi orang yang tak terkalahkan, menjadi orang yang selalu diberi jalan keluar dari segala permasalahnnya. Karena dengan jadi Zero itu mereka merasa bahwa ada Allah dbelakang mereka, yang menyokong mereka 100 %.

Untuk menjadi Zero inilah proses spiritual Islam menerusi cara wali-wali ataupun tarekat mengembangkan berbagai cara atau metoda baru yang berasal dari proses coba-coba dan dari proses “meramu” atau “meracik” cara-cara baru yang bahannya diambil dari berbagai sumber di luar apa-apa yang pernah diajarkan oleh Rasullullah SAW. Makanya caranyapun sangat banyak dan beragam.

Ada yang dalam pencarian wujud yang satu itu, yaitu Allah, mereka masuk dari pintu bahwa muka koin yang satu adalah nafas, dan muka koin yang lain adalah Allah. Nafas adalah yang digerakkan, dan Allah adalah yang menggerakkan nafas itu. Maka secara tidak langsung mereka telah mengatakan bahwa Allah mereka hanya sebesar “sesuatu” yang menggerakkan nafas mereka itu. Kecil sekali. Oleh sebab itu NATIJAHNYA (pukulannya) juga kecil sekali, kalau mau dikatakan tidak ada sama sekali. Paling-paling hanya hanya sekedar “keter-keter” dan “kejet-kejet” sedikit saja. Namun, terutama bagi yang pertama kali merasakannya, senangnya NDAK KETULUNGAN. Seakan-akan dia sudah bisa merasakan respon Allah yang menggerakkan nafasnya.

Demikianlah, secara terus menurus, mereka harus mengganti terus muka koin yang satu itu dengan makhluk-makhluk yang lainnya yang lebih besar dan yang lebih besar lagi, sehingga muka koin yang satu lagi, yaitu Allah mereka akan menjadi bertambah besar pula. Setiap pergantian dari muka koin yang satu kepada muka koin yang lain pada muka koin yang sama itulah yang menyebabkan adanya SENSASI BERJALANNYA kesadaran mereka dari satu makhluk kepada makhluk yang lainnya.

Jadi yang mereka perjalankan itu sebenarnya adalah PIKIRAN mereka yang berjalan dari satu makhluk kepada makhluk lainnya. Muka koin yang satu yang paling besar yang bisa mereka bayangkan adalah Alam Semesta. Dengan mengisi PIKIRAN dan INGATAN mereka dengan Alam semesta berikut dengan segala atributnya, seperti geraknya dan cahayanya, maka merekapun mengafirmasikan (menghunjamkan) kedalam keyakinan mereka bahwa pada muka koin yang lainnya, disebalik alam semesta itu, ada Allah yang menggerakkan dan yang memberikan cahaya kepada alam semesta itu.

Dengan begitu, maka secara otomatis Allah merekapun hanya akan menjadi Allah yang sebesar alam semesta itu pula. Mereka akan sangat kesulitan untuk memahami tentang Allah Yang Maha Besar, Allah Yang Maha Tinggi, Allah Yang Maha Luas. Apalagi untuk bisa memahami tentang Allah Yang Awal, Allah Yang Akhir, Allah Yang Dzahir, Allah Yang Bathin.

Disinilah bahayanya kalau kita memakai jangkar atau anchor berupa makhluk dalam mengenal Allah. Kita akan menjadi tidak menghormati Allah sebagaimana mestinya. Astagfirullah…

Dan bahaya yang paling terkenal dari pahaman yang menyamakan Allah dengan Mahluk seperti dua muka koin pada satu mata uang koin adalah munculnya kata-kata SYATAHAT, seperti yang pernah dibahas sebelumnya, yang menjadi ciri-ciri khas dari Pahaman Wahdatul Wujud, dan juga Pahaman Nur Muhammad.

Pahaman yang menyatakan bahwa Allah ada dimana-mana, Allah ada disini, tindakan makhluk pada HAKEKATNYA adalah tindakan Allah sendiri. Kalau Allah dikatakan ada dimana-mana, tentu Allah ada pula di dalam genggaman tangan mereka, atau Allah ada didalam kotoran mereka. Alangkah kecil dan hinanya Allah mereka kalau begitu.

Pahaman ini pulalah yang menyebabkan terjadilah pengagungan yang sangat berlebihan kepada diri mereka sendiri. Lalu muncullah kata-kata yang sangat terkenal: “aku tidak ada yang ada adalah Allah”, “kata-kataku tidak boleh dilawan, karena kata-kataku adalah kata-kata Allah”, “Allah tidak ada, yang ada adalah aku”, dan kata-kata lainnya yang menandakan bahwa sebenarnya ia sedang berada dalam dalam keadaan yang sangat membingungkan.

Ini pulalah paham yang saya pakai dulu SEBELUM saya memahami Makrifatullah (Pengenalan Kepada Allah) seperti yang disampaikan oleh Ariff Billah Ustadz Hj. Hussien BA Latiff. Pahaman dulu itu pernah saya bukukan dalam buku “Membuka Ruang Spiritual”. 

Bersambung….

%d blogger menyukai ini: