Feeds:
Pos
Komentar

Untuk itu, sayapun melakukan hal-hal seperti berikut ini:

 

a. Saya me-recall atau membuka kembali saluran Dzikrullah yang sudah bersih dari segala sampah dan sarap.

b. Saya merilekskan tubuh saya se rileks-rileksnya. Tidak ada lagi ketegangan atau pengejangan otot diseluruh anggota tubuh saya. Tubuh saya seperti terduduk (kalau saya melakukannya sambil duduk), atau tergeletak (kalau saya melakukannya sambail tiduran), begitu saja mengikuti gaya grafitasi bumi. Biasanya akan masih tersisa ketegangan otot di geraham dan di bola mata. Inipun dirilekskan. Seakan-akan badan itu sudah dibuat tertidur.

 

Agak susah juga awalnya, karena biasanya badan kita akan menguji apakah ruh dan minda kita juga sudah tidur. Badan biasanya ingin bergerak, membalik, atau miring. Selama ruh dan minda tidak melayani keinginan tubuh itu, maka lama kelamaan tubuh benar-benar yakin bahwa ruh dan minda sudah tidur, lalu tubuhpun akan istirahat total pula.

 

Ternyata, walaupun tubuh sudah rileks, kepejalan diubun ubun yang sudah membentuk saluran dengan minda yang sedang mengingat Allah, masih bisa bertahan. Aneh juga.

 

c. Lalu Ruh yang sudah mengecil yang berada di dalam dada itu, yang ditandai dengan kita tidak bisa lagi merasakan keberadaan anggota tubuh kita, diniatkan mengikuti gerakan gelombang Nyawa yang juga sedang menggerakkan Nafas.

 

Mata hati, untuk sebentar saja, dibawa turun untuk merasakan gerakan gelombang nyawa yang sedang menggerakkan nafas, dan hampir secara otomatis Ruh pun ikut pula terbawa kepada gelombang nyawa itu. Lalu biarkan saja Ruh itu “duduk” bersandar kepada gerakan gelombang nyawa itu. Setelah itu mata hati kembali di fokuskan ke dalam corong atau saluran ingat Allah di dalam minda kita.

 

Saat itu terjadilah proses dimana Matahati mengarahkan Ruh untuk naik ke minda yang sudah membentuk saluran atau corong, sedangkan Gelombang Nyawa mendorong Ruh untuk naik dari dalam dada ke atas menuju minda.

 

Kalau Ruh sudah naik dari dalam dada menuju kerongkongan, dada akan terasa dingin atau sejuk. Itu hanya tanda-tandanya saja bahwa Ruh sudah bergerak. Jadi rasa itu TIDAK usah diambil peduli.

 

Dan kalau sudah begini, maka kejadian selanjutnya adalah hal-hal yang sangat pribadi dan tidak untuk diceritakan. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa proses “Lanah diyannahum subulana”, proses Allah swt memberi petunjuk itu terjadi di dalam saluran atau corong itu yang sudah bersih dan bercahaya itu.

 

Tapi hikmah yang dapat saya ambil adalah bahwa praktek apapun yang pernah saya lakukan dulu, sebelum ikut dengan Ustadz H HUSSIEN BA LATIFF, semuanya ada berhikmah.

 

Dari sanalah saya belajar tentang Jahadu, atau praktek yang bersungguh-sungguh selama berjam-jam dan bahkan berhari-hari.

 

Juga dari sanalah saya belajar tentang Fokus dan daya-daya.

 

Cuma saja saat dulu itu ALAT YANG DIPAKAI dan ARAH dan ALAMAT TUJUANNYA BELUM BETUL seperti yang sekarang yang diajarkan oleh Ustadz H HUSSIEN BA LATIFF.

Wallahu A’lam

Selesai

 

Iklan

Setelah Saluran tanpa rupa, tanpa warna, dan tanpa umpama itu terbentuk di dalam minda, barulah Ruh yang pusatnya ada di dalam dada bisa dinaikkan ke dalam kepala kita untuk bertemu dan bercantum dengan Hati si tiga serangkai (minda, penglihatah, dan pendengaran) menjadi Jiwa.

Awalnya untuk menaikkan Ruh dari dalam dada itu saya pakai cara lama, yaitu dengan SENGAJA mendorong daya Ruh dari dalam dada itu naik ke atas. Tapi dengan begitu saya langsung terperangkap pada suasana yang lama yang pernah saya alami. Suasana yang dulu pernah saya alami saat di Tarekat, Patrap, dan SC.  

Ah…, kalau cuma begini-begini juga hasilnya percuma dong belajar kepada Ustadz H HUSSIEN BA LATIFF. Pasti ada sesuatu yang belum pas nih, saya membatin.

Aha…, suatu saat muncul insight. Kenapa tidak dicoba memanfaatkan…

Suatu saat dulu Ustadz H HUSSIEN BA LATIFF pernah menerangkan tentang Proses kita Meninggal. Bahwa Saat sakaratul maut, GELOMBANG NYAWA akan mendorong RUH kita untuk naik ke kerongkongan, terus naik ke bola mata lalu masuk ke Minda untuk untuk kemudian keluar melalui kening kita. Beliau menyebutnya sebagai Proses terbukanya MATA KETIGA.

Tapi apa bentuk dari gelombang nyawa itu, dan bagaimana cara mempergunakannya untuk menggerakkan Ruh bisa naik ke kepala dalam hidup keseharian (bukan dalam keadaan sakaratusl maut) ?, menjadi sebuah pertanyaan di dalam minda saya.

Pertanyaan itu membawa saya kembali melihat syarahan Ustadz H HUSSIEN BA LATIFF yang berkenaan dengan Anasir Diri. Bahwa Nyawa adalah anasir diri yang membuat Badan kita bisa HIDUP, sehingga badan kita itu tidak membusuk dalam mengarungi perjalanan waktu.

Ternyata salah satu tanda atau indikator dari kehidupan itu yang paling mudah untuk dilihat dan dirasakan adalah gelombang NAFAS. DORONGAN daya Ruh yang menggerakkan paru-paru kita, yang berasal dari Gelombang NYAWA itu, begitu stabil membentuk gelombang nafas.

Nafas itu bergerak membawa udara keluar masuk paru-paru kita dengan membentuk gelombang Sinusoida. Nafas itu bergerak karena ada tenaga atau daya yang bekerja di dalam paru paru kita. Dan secara mengejutkan Pusat gerakan nafas kita, yang berada di dalam dada kita itu, ternyata sangat berdekatan dengan pusat kedudukan RUH kita yang juga berada di dalam dada kita. Tentu kesamaan ini bukan suatu kebetulan begitu saja. Pasti ada satu hikmah atau maksud tertentu yang bisa kita manfaatkan darinya.

Cluenya sudah ketemu, ada daya Ruh dan ada pula daya gelombang Nyawa. Dan tempat keduanya juga berpusat di dalam DADA kita. Walaupun keduanya berupa tenaga atau gelombang, namun masing-masingnya punya tugas yang sangat berbeda. Nyawa untuk menghidupkan raga, dan ruh untuk menggerakkan raga.

Akan tetapi mungkinkan Ruh dan Nyawa itu bisa saling berkolabirasi dan bekerja sama?. Kalau bisa, bagaimana caranya agar daya RUH itu bisa menumpang pada daya gelombang Nyawa seperti menumpangnya gerak paru paru dalam proses bernafas?.  

Salah satu cara yang kemudian saya coba adalah mencari bagaimana caranya agar daya RUH bisa mengalah kepada gelombang nyawa, lalu Ruh itu bisa bersandar kepada gelombang Nyawa. Untuk itu, Ruh harus bisa diam seperti diamnya paru-paru ketika digerakkan untuk bernafas oleh gelombang Nyawa.

Ternyata untuk itu, Ustadz H HUSSIEN BA LATIFF juga pernah mengajarkan tentang bagaimana cara untuk mendiamkan dan mengistirahatkan RUH, sehingga Ruh itu, yang pada keadaan biasa menyebar mengisi setiap bagian tubuh kita, bisa menjadi kecil dan menyusut lalu memasuki dada kita sebagai pusat atau tempat istirahatnya Ruh kita.

Bahwa untuk mengistirahatkan Ruh kita itu, kita hanya perlu merilekskan atau tepatnya menidurkan tubuh kita. Artinya sudah tidak ada lagi gerakan sekecil apapun disetiap jengkal anggota tubuh kita. Kalau sudah begitu pastilah Ruh kita secara otomatis akan menyusut dan mengecil lalu masuk kembali ke dalam dada kita. Jika sedikit saja ada bagian tubuh kita yang bergerak, maka Ruh kita akan kembali dengan cepat menyebar keseluruh tubuh kita. Artinya Ruh itu gagal untuk kita istirahatkan.

Bersambung

3. Daya dan Kekuatan yang berasal dari Ruh. Sebab Ruh itu sendiri adalah sumber tenaga untuk jiwa dan raga kita agar ia bisa beraktifitas.

Daya Ruh ini akan bekerja dengan baik ketika matahati bisa fokus INGAT kepada sesuatu. Pada awalnya Ruh ini akan ikut kemana matahati diarahkan. Tapi kalau Ruh itu sudah longgar dari ikatan tubuh, maka mata hatilah yang akan ikut kemana Ruh bergerak.

Ketika kita ingat kepada sesuatu, tapi kita tidak fokus kepada apa yang kita ingat itu, maka daya yang dihasilkan oleh Ruh itu juga sangat lemah atau hanya punya kekuatan dan pengaruh yang sekadarnya saja, sehingga perasaan kita juga jadi grambyangan begitu saja saat melakukan seuatu aktifitas. Hambar.

Dengan sangat mencengangkan, Ustadz H HUSSIEN BA LATIFF telah membukakan rahasia daya Ruh ini yang bisa dipakai untuk memperkuat koncian mata hati ini tanpa mempengaruhi tubuh kita sedikitpun. Tubuh kita tidak bergetar sedikitpun, walau ada peningkatan daya Ruh yang sedang kita gunakan. Sebab kalau pengunaan daya Ruh itu dimulai dari badan kita, misalnya dari dalam dada kita, maka dada kita akan digoncangkan oleh Ruh ini dengan kuat. Kalau dimulai dari tangan, maka tangan kita akan bergerak-gerak dengan pola tertentu, kalau di arahkan ke kaki, maka kita akan bisa berjalan dan bergerak meliuk-liuk dalam waktu yang lama.

Ustadz H HUSSIEN BA LATIFF telah mengajarkan bahwa ketika minda sedang mengingat Allah, kemudian dari belakang kepala mata hati di dorong keatas menuju ubun-ubun untuk mempertahankan ingatan kepada Allah itu. 

Pada awalnya saya tidak paham apa maksud dari proses ini. Tapi suatu saat saya mencoba melalukannya secara berulang ulang, lalu saya dipahamkan bahwa untuk bisa fokus itu ternyata dibutuhkan daya yang berasal dari Ruh untuk mempertahankan mata hati agar bisa fokus kepada apa yang kita ingat. Kalau tidak ada daya ruh ini maka, mata hati itu akan cepat menjadi jadi kendor dan tidak fokus. Dan ketika fokus matahati kita sudah kendor, maka HATI kitapun akan langsung jatuh ke dada kita, sehingga tidak lama lama kemudian kita akan tertidur pulas.

Oh… dorongan dari belakang kepala itu yang digambarkan Ustadz sebagai PINTU menuju ubun ubun itu ternyata cara tercantik untuk menggunakan daya Ruh. Hanya butuh sedikit daya Ruh saja untuk melakukannya.

Sebab kalau Ruh didorong dari pusatnya, yaitu dari dalam dada kita menuju keatas, seperti yang saya lakukan dulu kala dalam praktek Patrap dan SC, ternyata itu akan menggoncangkan badan. Badan dan dada kita tidak kuat untuk menerima pengerahan daya Ruh itu. Daya Ruh itu ternyata kuat sekali.

Akan tetapi, kalau daya Ruh itu diaktifkan dari belakang kepala menuju ke ubu-ubun, maka tubuh kita sudah tidak terpengaruh lagi. Daya itu langsung mengunci mata hati kita untuk fokus ke ubun-ubun. Lalu dengan sangat mengherankan Minda kita yang sedang ingat kepada Allah itu juga jadi ikut terpengaruh. Ingatan kepada Allah itu seperti menyebar dan mengisi seluruh kepala kita. Kepala kita, atau tepatnya seluruh otak kita, serasa dipenuhi oleh ingatan kepada Allah. Minda kita akan terasa pejal, padat, dan mampat. Ingatan kita seperti dikunci dan digembok agar hanya ingat kepada satu hal saja, yaitu ingatan kapda Allah swt.

Dari belakang kepala, Daya Ruh ikut menyokong dan mendorong mata hati untuk tetap fokus menahan ingat Allah naik ke ubun-ubun. Dan Lama kelamaan UBUN-UBUN akan terasa terasa LEBIH keras dan lebih pejal dari bagian minda yang lain. Lalu seakan akan dari belakang kepala kita terbentuk saluran naik menuju ubun-ubun kita. Saluran yang di dalamnya sudah tidak ada rupa dan umpama lagi.

Sampai disitu saja ternyata belumlah cukup. Ustadz H HUSSIEN BA LATIFF dengan sangat telaten membuka terus rahasia Dzikrullah berikutnya.

Bersambung

Makrifatullah adalah filsafat hidup tentang KETUHANAN yang sangat tinggi. Ustadz H HUSSIEN BA LATIFF telah menerangkannya dengan sangat gamblang dan sejelas-jelasnya. Karena Beliau memang diberi KUNCI untuk menerangkannya.

Makrifatullah akan membawa kita masuk kealam cara berfikir tentang Tuhan dan ciptaan-Nya. Ia akan membawa kita untuk tidak akan pernah lagi menuhankan ciptaan. Ia juga membawa kita agar tidak angkuh dan sombong, karena kita ternyata tidak wujud. Kita dibawa untuk mengenal Dia Yang Dahir dan Dia yang Bathin, dan beberapa sifat-sifat-Nya yang lain. Sampai disini saja sebenarnya sudah cukup. Karena Allah akan memberikan pengertian pengertian selanjutnya sesuai dengan kapasitas dan tugasan kita masing-masing. Ini satu hal…

Sedangkan Dzikrullah sendiri fungsi sebenarnya adalah sebagai PROSES untuk membuat SALURAN di dalam minda kita. Sebuah saluran atau corong tempat kemana JIWA kita nantinya akan terhubung, yaitu kepada Allah swt melalui proses INGAT MENGINGAT, FADZKURINI ADZKURKUM, dan juga tempat terjadi proses turunnya HIDAYAH atau PETUNJUK berupa Ilham kepada kita, LANAH DIYAN SUBULANA…

SALURAN itu haruslah sudah tanpa sekat dan tanpa Halangan. Karena kalau ada halangan dan rintangan, sekecil apapun, maka JIWA akan terhalang berkomunikasi dengan Allah swt. Segala bentuk halangan itu disebut juga sebagai berhala.

Ketika saluran itu sudah tanpa halangan dan rintangan, sudah tidak ada lagi berhala di dalamnya, maka barulah Jiwa akan bisa memasuki alam yang aman tenteram (muthmainnah).

Jadi jelaslah bahwa Dzikrullah itu bukanlah hanya sekedar BACAAN-BACAAN saja yang  berulang-ulang atau diwiridkan. Ia adalah proses membuat saluran hubungan jiwa kita dengan Allah swt.   Karena ia adalah sebuah proses, maka ia butuh alat yang tepat dan cara yang tepat pula untuk menekuninya. Ustadz H HUSSIEN BA LATIFF juga sudah menjelaskan dan menuntun kita untuk melakukannya…

Hanya saja dalam keseharian, kita tidak cukup istiqamah dalam menekuninya. Karena untuk bisa dzikrullah dengan istiqamah sehingga bisa membentuk saluran Ingat Allah ini ternyata juga membutuhkan beberapa hal sebagi berikut, yaitu:  

  1. “Walladzina jahadu fina, lanahdiyannahum subulana…”. Dan orang-orang yang bersungguh kepada Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…, Al Ankabut ayat 69.

Buah dari bersungguh sungguh ini adalah Ruh bisa naik ke dalam kepala dan bercantum (bersatu) dengan Hati membentuk JIWA.

Naiknya Ruh ke dalam kepala itu ditandai dengan adanya rasa dingin yang naik dari dalam rongga dada ke atas, dan rasa dingin itu kadangkala juga menyebar dan terasa ke seluruh tubuh. Kalau kita baru kali ini merasakannya, maka air mata kita akan mudah sekali jatuh bercucuran. Dan kalau kita membaca bacaan di dalam shalat, maka dada kita seperti bergemuruh ketika membaca bacaan itu.

Untuk bisa bersungguh sungguh ini, ternyata dibutuhkan pula kekuatan atau kendaraan agar kita tidak capek untuk melakukannya…

Kendaraan itu sebenarnya sudah diajarkan juga oleh Ustadz H HUSSIEN BA LATIFF, tapi kita tidak ngeh selama ini…

Nanti akan kita lanjut tentang jahadu dengan menaiki “kendaraan” ini. Kita lanjut dulu pada hal kedua,

2. Saluran di dalam minda kita itu harus sudah bersih dari segala sampah dan sarap. Minda harus sudah bersih dari segala sekatan dan rintangan berhala-berhala yang diakibatkan oleh rasa kepemilikan kita terhadap amwal, aulad, dan berbagai atribut keduniaan lainnya.

Satu-satunya cara untuk membersihkan minda itu yang sangat pas dan cepat adalah dengan MENGINGAT Allah (Dzikrullah). Tidak ada cara lain. Inilah tadzkiyatunnafs. Dengan mengingat Allah swt, secara otomatis saluran yang tadinya banyak di dalam minda kita yang isinya adalah berbagai sampah rupa-rupa dan sarap umpama-umpama, akan segera berubah menjadi hanya SATU saluran saja, yaitu saluran yang bersih dari segala rupa dan umpama.

Bagi yang baru berlatih, biasanya saluran itu belum bisa menetap jadi satu, kadangkala saluran berbagai rupa dan umpama yang lainnya itu masih suka muncul seperti dulu kala yang terjadi pada TV hitam putih yang kena ‘spleteran’ gelombang Handy Talky. Layar TV nya jadi bergoyang-goyang tidak stabil.

Agar saluran itu bisa stabil dan menetap, maka saluran itu harus dijaga dengan rapat dan ketat dari segala umpama dan rupa. Pintu ingatan itu harus ditutup rapat dari ingatan-ingatan lain selain dari ingatan kepada Allah swt. Penjaga pintu itu adalah Mata hati (penglihatan) dan telinga hati (pendengaran) kita. Untuk memungsikan mata hati ini, kita tutup rapat saja mata lahir, lalu mulai latih agar mata hati bisa naik dan fokus kepada ingatan Allah swt. Video Syarahan tentang “Pandangan Mata Hati” di yamasindo.org lengkap menerangkan tentang hal ini.

Mata hati ini adalah pengunci MINDA agar MINDA selalu hanya ingat pada satu hal saja, yaitu Ingat kepada Allah swt saja. Inilah yang diistilahkan sebagai FOKUS.

Kalau ingatan kita sudah dikunci untuk hanya ingat kepada Allah, maka ingatan kita kepada rupa-rupa dan umpama-umpama yang lain dengan cepat akan terhalang untuk memasuki minda kita.

Teknik kuncian mata hati ini juga sudah diajarkan oleh Ustadz H HUSSIEN BA LATIFF dengan lugas dan gamblang. Bahkan Beliau juga sudah menerangkan bagaimana ciri-cirinya.

Untuk saat-saat awal, konci itu harus terasa keras dan sulit di goyahkan. Oleh karena itu mata hati butuh daya atau dorongan pula untuk menahannya agar koncian itu bisa kokoh dan kuat.

Kalau koncian itu sudah kokoh dan kuat, otomatis ingatan kita kepada Allah swt pun akan bisa bertahan lama. Lalu lama kelamaan di dalam minda kita akan terbentuk sebuah corong atau saluran yang isinya tidak ada rupa dan tiada umpama. Sebuah corong atau saluran yang tanpa sekat dan tanpa halangan. Saluran dzikrullah. Keadaan seperti inilah sebenarnya yang menjadi dambaan yang dicari-cari oleh banyak orang.

Corong atau saluran itu tempatnya haruslah di minda di dalam kepala kita. Ia tidak boleh ditempat lain. Sebab kalau ia di cari dan dibuat di tempat lain, misalnya di dalam dada seperti di lathaif-lathaif dalam praktek tarekat, atau di langit yang tinggi seperti dalam praktek Patrap, atau di dalam nafas, dan ditempat-tempat lain-lain selain dari minda, maka RUH  kita langsung akan ditawan dan dicengkeram oleh getaran-getaran yang ada ditempat itu, yang salah satu ciri utamanya adalah tubuh kita akan diguncangkan atau digetarkan sesuai dengan frekuansi sesuatu yang bergetar itu.

Karena ada reaksi seperti itulah kemudian orang merasa bahwa hal yang mereka lakukan itu sudah benar adanya. Sehingga banyak pula orang yang terjebak dan tertahan lama disini.

Bersambung

Oleh Sahabat Taufiqur Rahman

Rabu, 10 Juli 2019

بسم الله الرحمن الرحيم

Dialah yang menciptakan segala sesuatu baik di langit maupun bumi berhikmah bagi yang dianugerahkan ilmu tentangnya.

Dialah yang menciptakan segala sesuatu baik yang kecil sekecil atom dan sejenisnya atau besar sebesar jagat alam angkasa raya dengan sempurna tanpa cela bagi yang diberikan wawasan pengetahuan atasnya.

Dialah yang menciptakan segala sesuatu secara adil dan bijaksana baik yang bisa terjangkau atau tidak akan pernah terjangkau oleh mata lahir manusia bagi mereka yang diberikan pemahaman atasnya kemudian memperkemaskan diri menjadi hamba yang beribadah dengan sesungguhnya dalam koridor syariah dan paling takut kepada-Nya.

Dialah yang menciptakan dan menganugerahkan ilmu yang sudah, sedang, belum diketahui dan bahkan yang sama sekali tidak akan pernah diketahui oleh mata batin mayoritas manusia baik orang-orang yang sudah wafat, masih hidup dan belum terlahir di dunia akan rahasia-rahasia-Nya bagi para kekasih-Nya.

Dialah yang mengatur atas izin-Nya segala di langit dan bumi secara rapi dan teliti semua kejadian yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi (dulu, kini dan nanti), tidak ada yang bisa lepas meski sekecil dzarrah (atom atau sejenisnya) sekalipun dari kekuasaan-Nya, pengasuhan-Nya, pengawasan-Nya bagi siapa saja yang diberikan keimanan dari-Nya.

Dialah yang menciptakan, mengasuh matahari bersinar terang benderang setiap saat tanpa kenal rasa lelah selalu memberikan kehangatan bagi siapa saja tanpa pilih kasih bagi manusia fujur atau takwa, segala jenis hewan, tumbuhan, atau apapun makhluk yang sama sekali manusia tidak pernah memahaminya kecuali atas anugerah-Nya.

هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ ٱلشَّمۡسَ ضِيَآءٗ وَٱلۡقَمَرَ نُورٗا وَقَدَّرَهُۥ مَنَازِلَ لِتَعۡلَمُواْ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلۡحِسَابَۚ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۚ يُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

(Surat Yunus, Ayat 5)

Dialah yang menciptakan, mengasuh bulan tersenyum simpul malu dalam berbagai rupa dan jenisnya atas izin-Nya.

Dialah yang mengasuh bintang-bintang mengintip para perindu akan kebesaran-Nya dari celah-celah langit yang gelap gulita sebagai saksi dan turut bertasbih memuji-Nya.

ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

(Surat Al-Baqarah, Ayat 22)

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.

(Surat Al-Hadid, Ayat 1)

Dialah yang mengasuh langit dan bumi serta isinya, malam dan siang yang terus bergandengan tangan, lautan dan daratan yang duduknya sejajar berdampingan, awan dan mega yang menari-nari lincah gemulai, berlari kesana-kemari berkejaran beriringan bersama angin yang riang gembira atas karunia-Nya.

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلۡفُلۡكِ ٱلَّتِي تَجۡرِي فِي ٱلۡبَحۡرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٖ فَأَحۡيَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٖ وَتَصۡرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلۡمُسَخَّرِ بَيۡنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.

(Surat Al-Baqarah, Ayat 164)

Dialah yang mengasuh burung-burung terbang ringan tinggi jauh melesat di awan mengepakkan kedua sayapnya menari-nari membelah udara dengan cuitan-cuitan merdu yang menghiasi indahnya dunia bagi yang tidak buta dan tuli mata hatinya.

أَلَمۡ يَرَوۡاْ إِلَى ٱلطَّيۡرِ مُسَخَّرَٰتٖ فِي جَوِّ ٱلسَّمَآءِ مَا يُمۡسِكُهُنَّ إِلَّا ٱللَّهُۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dapat terbang di angkasa dengan mudah. Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman.

(Surat An-Nahl, Ayat 79)

Dialah yang mengasuh akar menyeruak menjulur masuk ke dalam tanah untuk bisa tumbuh menjadi berbagai macam tanaman berwarna warni rasa, warna serta khasiatnya dan mengahasilkan jutaan buah-buahan yang beraneka ragam, bunga-bunga yang berbau harum semerbak nan indah cantik rupawan dipandang bagi yang memiliki kepekaan dari Rahman dan Rahim-Nya.

وَٱلۡحَبُّ ذُو ٱلۡعَصۡفِ وَٱلرَّيۡحَانُ

Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.

(Surat Ar-Rahman, Ayat 12)

Dialah yang mengasuh butiran lembut embun di pagi hari sejuk menyusup celah-celah di antara hamparan luas rimbunnya pepohonan, dedaunan dan ranting-ranting sebagai ganti jika hujan tidak menyiraminya bagi hamba yang bisa melihat dengan keimanan kepada-Nya.

وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمُ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ وَتَثۡبِيتٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ كَمَثَلِ جَنَّةِۭ بِرَبۡوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٞ فَـَٔاتَتۡ أُكُلَهَا ضِعۡفَيۡنِ فَإِن لَّمۡ يُصِبۡهَا وَابِلٞ فَطَلّٞۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari ridha Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

(Surat Al-Baqarah, Ayat 265)

Dialah yang mengasuh rusa, keledai, kambing, jerapah serta sejenisnya yang akan lari tunggang langgang terkejut terbirit-birit ditengah intaian singa yang sudah menunggu lama siap menerkam dan memakannya bagi yang mau mempelajari fenomena alam semesta atas ciptaan-Nya.

كَأَنَّهُمۡ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ

فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ

Seakan-akan mereka keledai liar yang lari terkejut,

Lari dari singa

(Surat Al-Muddatstsir, Ayat 50-51)

Dialah yang mengasuh kehidupan dan kematian, dari lahirnya seorang bayi mungil tidak berdaya beranjak tumbuh berkembang menjadi seorang remaja yang ceria, menjadi seorang dewasa yang kuat, hebat gagah perkasa dan berakhir kembali sedia kala menjadi pikun tua renta yang lemah lunglai tak berdaya bagi hamba yang mau menyadari atas sifat dhaifnya.

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ ثُمَّ يَتَوَفَّىٰكُمۡۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ لِكَيۡ لَا يَعۡلَمَ بَعۡدَ عِلۡمٖ شَيۡـًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٞ قَدِيرٞ

Dan Allah telah menciptakan kamu, kemudian mewafatkanmu, di antara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang tua renta (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahakuasa.

(Surat An-Nahl, Ayat 70)

Dialah yang mengasuh manusia memilih dan menetapkannya sebagai Khalifah di bumi dengan memberikan berbagai fasilitas “mind” yang bisa menampung luas dan dalamnya khazanah keilmuan, penjelasan, pengetahuan, pemahaman dari apa-apa yang sudah, sedang dan belum sama sekali mereka ketahui dari-Nya sebagai sarana menundukkan Iblis dan kroninya, langit dan bumi serta semua isinya untuk tunduk taat mengabdi, beribadah hanya kepada-Nya.

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

(Surat Al-Baqarah, Ayat 30)

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

(Surat Adz-Dzariyat, Ayat 56)

Dialah yang mengasuh manusia menjalankan peran fujur ataupun taqwa dengan sama-sama mudahnya sesuai peranannya masing-masing.

فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا

maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,

(Surat Asy-Syams, Ayat 8

Dialah yang mengasuh si fujur (aktor antagonis) menjalankan kefujurannya dengan mudah dan leluasa kemudian atas izin-Nya kembali taubat ke jalan rahmat dan keluasan maghfirah-Nya.

وَٱلَّذِينَ عَمِلُواْ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ثُمَّ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِهَا وَءَامَنُوٓاْ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعۡدِهَا لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ

Dan orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan, kemudian bertobat dan beriman, niscaya setelah itu Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang.

(Surat Al-A’raf, Ayat 153)

Dialah yang mengasuh si taqwa (aktor protagonis) menjalankan ketaqwaannya dengan rahmat-Nya pula mudah dan ringan tanpa ada aral melintang atas keredhaan-Nya.

وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٖ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ

Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

(Surat Al-An’am, Ayat 17).

Dialah yang mengasuh si sombong menjalankan kesombongannya sambil tertawa terbahak-bahak membusungkan dada tanpa ada rasa iba dan buta mata hatinya.

مِن فِرۡعَوۡنَۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَالِيٗا مِّنَ ٱلۡمُسۡرِفِينَ

Dari Fir‘aun, sungguh, dia itu orang yang sombong, termasuk orang-orang yang melampaui batas.

(Surat Ad-Dukhan, Ayat 31)

Dialah yang mengasuh si bohong untuk selalu berbohong dan selalu berbohong berkepanjangan.

۞لَّئِن لَّمۡ يَنتَهِ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ وَٱلۡمُرۡجِفُونَ فِي ٱلۡمَدِينَةِ لَنُغۡرِيَنَّكَ بِهِمۡ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَآ إِلَّا قَلِيلٗا

Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan engkau (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah) kecuali sebentar,

(Surat Al-Ahzab, Ayat 60)

Dialah yang mengasuh setiap makhluk memerankan “Jalan Ceritanya” masing-masing tanpa ada kuasa sedikitpun bisa mengelaknya.

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”

(Surat Ash-Shaffat, Ayat 96)

وَكُلَّ إِنسَٰنٍ أَلۡزَمۡنَٰهُ طَٰٓئِرَهُۥ فِي عُنُقِهِۦۖ وَنُخۡرِجُ لَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ كِتَٰبٗا يَلۡقَىٰهُ مَنشُورًا

Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka.

(Surat Al-Isra’, Ayat 13)

Dialah yang menciptakan semua ciptaan-Nya berada penuh dalam Pengasuhan-Nya. Karena semuanya memang TENTANG DIA, semuaanya adalah Milik-Nya, Hak-Nya, Dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya bagi mereka yang sudah dianugerahkan ilmu atasnya.

لَا يُسۡـَٔلُ عَمَّا يَفۡعَلُ وَهُمۡ يُسۡـَٔلُونَ

Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.

(Surat Al-Anbiya’, Ayat 23)

Dialah Allah Tuhan Alam Semesta, Sang Maha Mengasuh atas segala sesuatu, Maha Perkasa Lagi Maha Penyayang tanpa pilih kasih dan sayang.

وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ

Dan sungguh, Tuhanmu, Dialah yang Mahaperkasa, Maha Penyayang.

(Surat Asy-Syu’ara, Ayat 191)

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ

Sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak bersyukur) kepada Tuhannya,

(Surat Al-‘Adiyat, Ayat 6)

رَبِّ فَلَا تَجۡعَلۡنِي فِي ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku dalam golongan orang-orang zhalim.”

(Surat Al-Mu’minun, Ayat 94)

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

(Surat Al-A’raf, Ayat 23)

امين يارب العالمين

والله اعلم بالصواب

CC. Yusdeka Putra, Mbah Puryanto

Foto Kenangan di HOTEL ROYAL Jember,18 Februari 2018

Nasihat Arif Billah

Anakku yang dikasihi.  Untuk berdakwah supaya, Insya-Allah, Umat manusia bisa bersatu serta hidup harmoni maka hendaklah:

  1. kenalkan mereka kepada Allah swt terlebih dahulu. Itu yang dikatakan: Awaluddin Makrifatullah. Jangan memperomosikan Agama Islam atau Rasulullah saw sebelum mereka mengenali Allah swt. Karena itu, Rasulullah saw ada bersabda kenalkan kaum Yahudi yang mau beriman kepada Allah swt terlebih dahulu sebelum menekan shalat 5 waktu itu wajib.
  2. Senantiasa ingat kepada Allah swt (Dzikrullah) di dalam Shalat, di luar Shalat dan dalam hidup keseharian. Karena itu Allah swt ada berfirman supaya Kita ingat Dia di dalam Shalat, sesudah Shalat dan di dalam Hidup Keseharian (Jual-beli). “Mengingati Allah swt (Dzikrullah) tidaklah susah atau pelik. Kalau Kalian bisa mengingati diri Kalian tanpa membayangkan wajah kalian atau menuliskan nama Kalian di dalam Minda Kalian, maka tentu tidak sukar dan tidak mustahil bagi Kalian untuk bisa mengingati Allah swt tanpa  membayangkan-Nya atau menulis Nama-Nya di dalam Minda Kalian”.
  3. Penerimaan Takdir sepenuhnya. Karena ini ditetapkan oleh Allah swt, maka sudah tentu mempunyai Hikmah yang tidak terbatas. Ingatlah Rasulullah saw ada bersabda bahwa barangsiapa yang tidak menerima Takdir maka dia belum dikatakan beriman.
  4. Mengakui “Kedaulatan” Allah swt, iaitu Hak MutlakNya menghukum atau memberi ganjaran. Karena itu Dia berfirman bahwa celakalah sesiapa yang MEMIKIRKAN dan MENETAPKAN. Nabi Isa (as) bersabda bahawa celakalah mereka yang MENGAMBIL Pedang Keadilan dari tangan Tuhan.

Semoga anakku yang disenangi Dan dirindui mendapat pencerahan dalam tazkirah Ayahmu ini, aamin Ya Rabbil alamin!

Nasihat Arif Billah

Anakku yang disayangi. Untuk Kita dapat mengatasi masalah atau fitnah yang besar seperti yang disebutkan dahulu yang akan melanda umat Islam di hari muka maka Kita perlu kepada penjelasan yang jelas lagi yang bisa diterima oleh orang ramai. Dengan itu dapatlah kita menyatukan umat manusia menjadi ummah yang satu dan yang menyembah Tuhan yang satu.

Untuk mencapai matlamat ini, pertama-tama mestilah kita memperbetulkan dakwah Kita dahulu yang sudah tersalah landasan.

124,000 nabi-nabi (termasuk rasul-rasul) dihantar untuk: memperkenalkan Tuhan kepada umat manusia. Inilah tujuan yang satu dari satu Nabi kepada yang Nabi lain sehingga kepada Rasulullah saw, nabi yang terakhir. Oleh karena itulah Rasulullah saw bersabda bahwa: sekiranya kaum yahudi itu setuju beriman maka kenalkan mereka kepada Allah swt sebelum memberitahu mereka shalat 5 waktu itu wajib.

Maka kalau Kita peka, Kita akan sadar tujuan dakwah yang utama dan sebenarnya ialah mengenalkan Allah swt. Inilah topik atau perkara yang tidak asing pula bagi agama-agama yang lain. Karena ini juga adalah dakwah nabi-nabi mereka. Nabi Isa as juga ada bersabda: “kalau Kitab Taurat tidak dikorupsi, tidak Tuhan berikan Kitab Zabur kepada Daud dan kalau Kitab Zabur tidak dikorupsi maka Tuhan tidak akan berikan Kitab Injil kepadanya”. Karena yang hendak disampaikan hanyalah satu amanat saja Iaitu memperkenalkan Tuhan yang satu.

Namun perjalanan dakwah Kita hari ini ialah lebih FOKUS kepada memperkenalkan dan mengembangkan Agama Islam dari pada memperkenalkan Allah, Tuhan yang satu. Oleh karena itu, orang yang mau masuk Agama Islam prosedurnya SAAT INI adalah:

  1. Baca syahadah.
  2. Diajarkan rukun Islam dan rukun iman.
  3. Diajar shalat dan ayat-ayat al Quran yang perlu dibacai dalam shalat.

Namun kekurangannya adalah, tidak diajarkan tentang pengenalan kepada Allah swt, yang mestinya adalah dakwah yang paling utama. Oleh sebab itu yang menjadi populer ialah Agama Islam, bukan Allah swt. Sayangnya, natijah (dampak atau hasil) yang terjadi dari dakwah seperti ini adalah disebaliknya. Agama Islam menjadi Agama Islam yang ditakuti dan dibenci orang ramai (Islamophobia). Dan kita orang Islam tidak dapat diterima oleh banyak negara terutama Eropah, England (UK), Amerika Syarikat, China dll.

Sekiranya dakwah Kita adalah berkenaan dengan Pengenalan kepada Tuhan, maka ini tidak akan ditolak mereka. Karena perkara ini (pengenalan kepada Tuhan) juga adalah juga perkara utama dalam agama-agama sebelum Kita. akan tetapi, kalau dakwah Kita memperomosikan agama Islam maka ini adalah bukan saja perkara yang baru, tetapi juga tidak pernah mereka dengar. Ingatlah Allah swt hanya menamakan Agama yang Kita anut ini sebagai Islam diakhir-akhir dakwah Rasulullah saw bila turun firman menamakan Agama itu Islam. Sebelum itu Agama dikenali sebagai Agama Ibrahim, agama Musa, agama Isa dll. Maka “Islam” adalah sesuatu perkara yang baru yang tidak ada pekongsian bersama (common denomination) samasekali dengan agama-agama terdahulu.

Anakku, inilah tapak atau pijakan (step) pertama yang perlu Kita memperbetulkan untuk mengatasi fitnah yang besar yang akan melanda Umat Islam di hari muka (sebelum kedatangan Dajjal). Dengan itu Kita bisa, insya-Allah, menyatukan umat Dunia menjadi satu.

Semoga anakku mendapat pencerahan dari tazkirah Ayahmu ini, aamin Ya Rabbil alamin!

Anakku yang disayangi. Kalau Kalian perhatikan kesemua dakwah yang dijalankan di dunia Islam sampai saat ini, ianya tidak lain adalah Dakwah Islam. Apabila dakwah lebih tertumpu (terfokus) kepada Agama Islam, maka tekanannya ialah lebih kepada Syariah (Islam). Justeru itu, timbullah perselisihan dalam penerjemahan hukum-hakam dalam Syariah. Ini menimbulkan mazhab-mazhab seperti Shafei, Hanafi, Hambali, Maliki dll, yang sedikit masa dahulu membuahkan peperangan yang meragut (merenggut) banyak nyawa penganut-penganut Agama Islam serta harta benda mereka.

Penekanan Dakwah kepada Agama Islam juga membuahkan kepada mendewakan Nabi yang diutuskan iaitu Rasulullah saw, sehingga baginda dinobatkan menjadi Tuhan. Kononnya AHMAD tanpa M menjadi AHAD. Maka dengan begitu, tidak berbeda antara Rasulullah saw dan Allah swt.

Penganut Kristian juga berdakwah bukan untuk mengenalkan Tuhan tetapi untuk memperomosikan Agama Kristian. Justeru itu, dakwah mereka ini juga bersandarkan pada hukam-hakam syariah mereka. Lalu timbullah mazhab-mazhab mereka seperti Roman Katolik, Protestant, Presbyterian dll. Maka terjadi pulalh peperangan di antara mereka yang merenggut banyak nyawa serta kemusnahan harta benda.

Ta’asub kepada Nabi yang diutus kepada mereka, iaitu Nabi Isa (as), telah membuahkan pula Nabi mereka itu menjadi Tuhan atau anak Tuhan.

Kaum Yahudi juga berdakwah tentang Agama Yahudi (Judaism). Mereka juga bersandar kepada Syariah mereka. Maka timbul pulalah mazhab-mazhab seperti Othodok, Conservatif, Reconstruktif dll.

Inilah natijah (hasil) dari Dakwah yang tidak peka dan tidak tepat. Lihatlah kepada Rasulullah saw, apa yang didakwahkan baginda?. Baginda berdakwah memperkenalkan kaum Qureishy kepada Allah swt, Tuhan yang Satu. Ini membingungkan kaum baginda yang mempunyai banyak Tuhan dan berhala-hala yang disembah. Inilah dakwah baginda yang tidak kenal penat dan lelah.

%d blogger menyukai ini: