Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘sarung’

DARI DIAM DAN HENING 9.

Yang lebih menimbulkan nestapa kita adalah, kalau kita pakai selendang dan sarung Allah itu, kita TAKABBUR, maka Allah menjadi TIADA dihadapan kita. Coba bayangkan, nggak ada Allah!. Akibatnya kita akan merasa sangat bebas melakukan apa saja untuk memuaskan dahaga diri kita yang tak pernah habis.

Ketiadaan Allah ini disebabkan karena dengan konsep olah VAKOG itu, seluas dan selapang apapun pikiran dan hati yang kita rasakan, sehehing apapun keadaan yang kita dapatkan, tetap saja yang ada adalah kita sendiri. Diri kita yang luas, hati kita yang tenang, pikiran kita yang hening. Sehingga kemudian muncullah keadaan dimana kita seperti menjadi Dia. Dia seperti menjadi kita. Aku adalah Dia, Dia adalah aku. Fir’aun dulu menyatakannya dengan lebih tegas lagi: “Aku adalah Tuhan…”. Kalau dizaman kita sekarang ini pernyataan keakuan kita itu kita ucapkan dengan kebanggan yang lebih renyah: “aquuu…, aqiuuu…”

Sebaliknya kalau kita bersedia menanggalkan dan menyerahkan selendang dan sarung Allah itu dengan santun kepada-Nya, dan kita biarkan Allah sendiri memakai selendang-Nya dan sarung-Nya itu dihadapan kita, maka segera saja kita yang akan menjadi TIADA. Pasti.

Jika Allah ada, maka pastilah kita tiada. Sebaliknya, jika kita ada, maka pastilah Allah jadi tiada. Ah…, ungkapan apa pula ini?. Lho… jangan bingung dulu. Ini bukan sebuah ungkapan yang rumit untuk dipahami kok. Sederhana sekali sebenarnya.

Mari kita pahami kalimat-kalimat itu melalui sebuah contoh berikut ini. Yaitu tentang sebuah aktifitas yang secara rutin dilakukan oleh kita, umat islam, yaitu shalat.

Selama ini yang membuat kita TIDAK bisa khusyu di dalam shalat, kan karena kita tidak bisa MENYADARI dan MERASAKAN kehadiran Allah dihadapan kita (IHSAN). Kita selama shalat nyaris tidak menyadari dan merasakan ADA Allah dihadapan kita. Yang ada saat kita shalat itu adalah diri kita sendiri yang sedang berkelana menjelajahi berbagai objek pikir, yang entah kenapa, dengan tiba-tiba telah berdatangan silih berganti kehadapan kita.

Karena kita tidak mampu menyadari dan merasakan ada Allah dihadapan kita, maka kitapun secara otomatis akan sangat sedikit sekali mengingat-Nya. Walaupun kita sedang mengucapkan takbiratul ihram didalam shalat, Allahu Akbar, Allah Maha Besar, akan tetapi ucapan kita itu seperti ucapan seorang artis yang tengah berpura-pura menjadi orang yang sedang terpesona kepada kebesaran sesuatu. Padahal saat berucap Allahu Akbar itu, sebenarnya saat itu tidak ada sedikitpun ketakutan kita dan kekaguman kita, kepada kemahabesaran Allah. Tidak ada. Astagfirullah…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: