Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘SHALAT’ Category

Sehingga jadilah didalam shalat itu kita sedikit sekali mengingat dan menyembah Allah. Kita lebih banyak mengingat dan menyembah angan-angan kita daripada mengingat dan menyembah Allah, kita shalat dengan malas-malasan, kita seakan-akan baru bisa shalat dengan khusyu ketika ada orang lain yang memperhatikan shalat kita. Shalat orang munafik kata Al Qur’an (An Nisa 142).

Betapa tidak, ketika kita rukuk dan mengucapkan puja-pujaan yang seharusnya kepada Allah, saat itu kita malah sedang sibuk berada di alam angan-angan kita tentang harta-benda, anak-istri, dan tahta secara silih berganti. Kita juga sibuk menjaga yang kosong seperti filsafat china (IM-YANG). Tanpa kita sadari sebenarnya saat rukuk itu, kita telah rukuk, menyembah dan memuja kepada angan-angan kita itu. Filsafat yang kosong itu. Kosong tidak ada apa-apa. Padahal Allah bukanlah semua itu. Allah bukan angan-angan seperti itu. Itu hanya angan-angan kita saja yang difasilitasi oleh IBLIS.

Ya…, angan-angan kita itulah yang telah berubah menjadi tuhan-tuhan kita. Begitu pula ketika kita melakukan gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan shalat yang lainnya, kita sungguh sedikit sekali mengingat dan menyembah Allah di dalamnya. Sehingga shalat itu berubah menjadi sesuatu pekerjaan yang sangat membosankan.

Padahal seluruh gerakan dan bacaan di dalam shalat itu adalah ucapan-ucapan dan gerakan-gerakan orang yang sedang berhadap-hadapan dengan Allah. Ia sedang memuja Allah, ia sedang menyembah Allah, ia sedang menghormat Allah, ia sedang meminta dan berdo’a kepada Allah. Sehingga Allahpun berkenan menurunkan RIQQAH, berupa rahmat yang menggetarkan hati, kedalam dadanya. Bersamaan dengan RIQQAH itu mengalir pula KHATAR ILHAM yang merupakan informasi tentang sesuatu, yang tidak tergoyahkan, di dalam hatinya yang diperlukannya di dalam menjalani kehidupannya. Inilah Shalat orang beriman kata Al Qur’an (Al Baqarah 45-46).

Makanya orang yang diperintahkan oleh Allah untuk shalat itu adalah orang yang beriman, orang yang hatinya sudah sama dengan kata-katanya ketika dia mengatakan telah beriman kepada Allah. Imannya sudah menembus sampai kedalam lubuk hatinya yang terdalam. Hatinya itu sudah dapat berkomunikasi dua arah dengan Allah. IA telah mampu menangkap bahasa Allah berupa ILHAM dengan hatinya itu. Hatinya sudah dapat membedakan kapan Allah mendekat dan sayang kepadanya dan kapan pula Allah marah dan menjauh darinya. Ia telah dapat merasakan kehidupan bersama Allah. Kehidupan yang HIDUP dan DINAMIS bersama Allah. Bukan kehidupan MONOTON yang hanya mengikuti pikiran dan prasangka-prasangka atau angan-angannya sendiri.

Shalat itu bukan perintah untuk orang yang munafik. Sebab kalau orang munafik yang disuruh shalat, maka dia ingin cepat-cepat menyelesaikan shalatnya, karena yang dia dapatkan saat shalat itu hanyalah capek dan lelah saja. Sebab saat itu terjadi ketidaksinkronan di dalam dirinya antara alam batinnya dengan alam lahirnya. Saat shalat itu ia seperti berbicara dengan TEMBOK yang tidak bisa memberikan respon apa-apa. Makanya ia ingin cepat-cepat selesai.

Orang munafik itu, kalau didalam shalat saja ia mengalami keadaan diri yang tidak sinkron seperti ini, maka diluar shalatpun dia akan berada dalam ketidaksinkronan diri pula ketika dia berbicara dan melakukan berbagai kebaikan. Kebaikan-kebaikan yang dibicarakan dan dilakukannya itu hanyalah sampai ditenggorokan dan kulitnya saja. Kebaikan-kebaikan itu tidak sampai menembus dan mengisi lubuk hatinya yang terdalam.

Imannya tidak sampai menebus hatinya. Iman itu hanya sampai ditenggorokannya saja. Hatinya masih tetap terisi penuh dengan hawa nafsunya. Sehingga pada saat-saat tertentu, hawa nafsunya itu bermunculan keluar dari dalam hatinya membentuk kata-kata dan tindakannya yang penuh angkara murka. Bukan angkara murka yang main-main, tapi angkara murka yang beneran, angkara murka yang “khusyu”. Batiniah dan lahiriahnya sinkron untuk melakukan angkara murka itu.

Kalau dia marah, maka marahnya adalah marah benaran, bahkan sampai bisa membunuh orang lain. Kalau dia mencuri maka mencurinya adalah mencuri besar-besaran. Kalau dia korupsi, maka korupsinya adalah korupsi kelas wahid. Kalau dia berzina, maka berzinanya adalah berzina habis-habisan dan terus-terusan. Sebab ketika ia melakukan hal tersebut diatas, suasana batiniah dan lahiriahnya berada dalam keadaan yang sangat sinkron dan serasi. Penuh dan utuh.

Dan… ketika ia melakukan satu saja hal diatas, apalagi semuanya, sebenarnya imannya sudah tanggal dari dalam dadanya saat itu juga. Dia telah menjadi orang yang tidak beriman, walaupun saat itu dia tetap melakukan shalat, berdizikir, puasa, sedekah, bahkan melaksanakan haji. Tapi semuanya itu dilakukannnya dalam keadaan dada yang tidak beriman. Dada yang penuh dengan kemunafikan.

Nah masalah utama mayoritas umat Islam yang sangat mendesak untuk dicarikan solusinya saat ini adalah bagaimana caranya agar dimensi rohaniah umat Islam ini bisa bangkit seperti yang terjadi pada generasi Rasulullah, Sahabat, dan beberapa generasi terbaik setelah itu.

Kalau dilihat penyebab dari lenyapnya sisi rohaniah umat islam setelah generasi-generasi awal islam itu adalah hilangnya khusyu’ dari dada umat Islam. Dan ini sudah diperingatkan oleh Rasulullah sejak awal. Sahabat Hudzaifah radliyallahu ‘anhu mengatakan: “Pertama kali yang hilang dari agama kalian adalah khusyu’. Dan akhir yang akan hilang dari agama kalian adalah shalat. Betapa banyak orang melakukan shalat tetapi ia tidak memperoleh kebaikan. Hampir-hampir kamu masuk ke dalam masjid tak melihat seorang pun yang khusyu’” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 7/140, no. 34808. Hilyah al Auliya’, 1/281.)

Lalu…, adakah solusi yang sebenarnya (HAKIKI) untuk menghidupkan kembali sisi dimensi rohaniah kita itu, sehingga setiap saat ia bisa seirama dan senada dengan sisi dimensi lahiriah kita ?. Kalau ada, solusi itu haruslah mudah, aplicable untuk seluruh lapisan umat, dan sudah ada pula buktinya dari zaman ke zaman.

Jawabannya…, Ada…, dan itu sudah ditulis dengan sangat runut dan detail oleh Ustad Abu Sangkan dalam buku baru Beliau: “Menemukan Khusyu’ Yang Hilang”. Beliau telah merangkumnya dari beberapa kitab ulama besar zaman awal, lengkap dengan dalil-dalilnya dari Al Qur’an dan Al Hadist, caranya, keadaanya, dan hasilnya. Bukan dari pikiran dan hawa nafsu Beliau sendiri. Waktu mengeditnya saya bercucuran airmata menikmatinya…

Sahabat semua…, sampai berjumpa di alam batiniah dan lahirian yang ternyata sangat mencengangkan…

Wassalam
Deka

Iklan

Read Full Post »

Setiap ayat Al Qur’an adalah ibarat kacamata dua arah yang bisa melihat tembus pada kedua belah dimensi yang berseberangan, yaitu dimensi alam batiniah dan dimensi alam lahiriah. Akan tetapi, walaupun kedua dimensi itu kelihatan seperti berbeda, namun tatkala Al Qur’an bercerita tentang sesuatu, maka kedua dimensi itu akan tercakup dengan sangat mencengangkan.

Sungguh beruntunglah orang-orang yang dapat menangkap dan menembus kedua dimensi itu, dimensi lahiriah sekaligus dimensi batiniah, ketika ia membaca Al Qur’an. Karena setiap ayat Al Qur’an itu bercerita, ia ternyata bercerita tentang hal yang sama. Yaitu serba-serbi tentang Allah dan makhluk-Nya. Allah sebagai Dzat Yang Maha Gaib, mewakili dimensi alam batiniah. Sedangkan makhluk-Nya mewakili dimensi lahiriah yang exist (DZHAHIR) karena Yang Maha Ghaib itu berkenan Berkreasi dan Menyatakan keberadaan-Nya melalui makhluk-Nya itu.

Misalnya, ketika ayat Al Qur’an berkata tentang ALLAHU AKBAR, maka mata batiniah kita haruslah mampu membawa kita untuk menggigil seperti orang kedinginan, merinding, takut, dan takjub karena kita bisa merasakan Kemahabesaran Allah yang tak ada bandingannya, sementara mata lahiriah kita haruslah mampu pula membuat kita untuk tercengang, kagum, dan terkesima karena kita mampu melihat Kemahakuasaan Allah dalam menciptakan berbagai makhluk dan ragam kehidupan yang tergelar didepan mata kita. Sehingga dengan begitu akan muncul dampaknya pada keimanan kita kepada Allah. Yaitu, iman kita akan bertambah dan bertambah terus setiap kali kita membaca Allahuakbar itu.

Namun sayang, ketika membaca Al Qur’an, masih banyak umat islam yang hanya bisa melihat kesatu dimensi saja, hanya dimensi lahiriah saja atau hanya dimensi batiniah saja. Biasanya orang yang kental dengan dimensi lahiriah saja disebut sebagai orang SYARIAT, sedangkan orang yang banyak bergelut dengan dimensi batiniah saja biasa dinamakan sebagai orang HAKEKAT.

Biasanya kedua-duanya punya kesombongan dan keangkuhan sendiri-sendiri. Keangkuhan dan kesombongan orang syariat dan keangkuhan dan kesombongan orang hakekat. Akibatnya, seringkali kita lihat konfrontasi yang sangat ketat dan keras antara orang SYAREAT dengan orang HAKEKAT ini. Bahkan diantara sesama orang SYAREAT sendiri, atau diantara sesama orang HAKEKAT sendiri, juga seringkali terjadi konfrontasi yang sangat hebat. Sehingga dari sinilah munculnya golongan-golongan, kelompok-kelompok, atau aliran-aliran di dalam Islam. Masing-masing aliran itu seperti saling bermusuhan, saling berlomba, saling bersaing satu sama lainnya, sehingga jadilah umat Islam ini menjadi umat yang sangat ramai dan riuh rendah sekali. Padahal yang dibicarakan dan dikonfrontasikan itu adalah hal yang itu-itu juga, dan sudah berulang-ulang pula sejak berbilang zaman.

Keduanya juga masing-masing punya ciri-cirinya sendiri-sendiri. Orang syariat seringkali menampakkan keinginannya untuk merubah keadaan umat secara lahiriah disuatu wilayah dimana dia berada. Da’wahnya sangat transparan. Sering berbicara dan sangat bersemangat untuk merubah keadaan dengan tangannya sendiri.

Sedangkan orang hakekat biasanya ingin bersembunyi ditempat-tempat sunyi yang jauh dari hiruk pikuk dunia. Ia sering bermeditasi di hutan-hutan, karena Ia ingin menghindarkan dirinya dari keramaian dunia. Sebab dunia itu dianggapnya akan menghalanginya dari akhirat. Misalnya, ia ingin menghindar dari menikah, harta, dan pekerjaan. Metoda pengajarannya juga biasanya lebih lama dan lebih enakan dalam laku berdzikir dan meditasinya dari pada Shalat wajib dan shalat-shalat sunah. Bahkan kadang-kadang shalatnya juga sudah tidak dilakukannya lagi. Pengajarnya, yang biasa disebut sebagai “Sang Guru”, juga punya kesaktian atau kepintaran ilmu batin tertentu diatas rata-rata muridnya atau orang lain. Semakin misterius Sang Guru, semakin dikejar oleh orang-orang yang juga penikmat alam hakekat ini. Kata-kata Sang Guru hampir saja telah berubah seperti kata-kata Tuhan dihadapan murid-muridnya. Kata yang tidak boleh dibantah…

Cuma saja banyak yang tidak tahu dimana letak pokok permasalahanya yang menyebabkan munculnya dua sisi pemahaman yang sangat berbeda seperti itu. Padahal Syariat dan Hakekat itu ya SATU hal yang SAMA saja. Dua sisi yang tak terpisahkan dari satu hal yang SAMA. Hanya beda dimensinya saja. Ada dimensi LAHIRIAHNYA yang merupakan SYARIAT yang dilakukan, dan ada dimensi BATINIAHNYA yang merupakan keadaan batin (HATI) kita ketika kita melakukan Syariat itu. Hanya itu saja kok.

Nah…, yang terjadi hanyalah karena banyak umat Islam yang tidak mampu masuk ke dimensi batiniah ketika kita masuk dan berbicara tentang sebuah dimensi lahiriah. Sementara kita punya kedua dimensi itu sekaligus di dalam diri kita. Ya…, diri kita punya dimensi alam batiniah, dan sekaligus punya pula dimensi alam lahiriah. Karena kita hanya bisa masuk ke satu dimensi alam saja, maka akibatnya, kita menjalani hidup ini seperti makhluk yang tidak utuh. Kita seperti berjalan dengan kaki yang timpang. Dan anehnya itu sudah berlangsung sejak lama sekali dan diturunkan pula dari generasi ke generasi. Dan betah lagi…

Ketidak utuhan kita itu akan sangat terasa sekali di dalam shalat. Lahiriah kita memang shalat, sementara batiniah kita sedang berkelana di alam angan-angan. Menghadap kepada “yang kosongpun” sebenarnya adalah angan-angan juga. Karena banyak pula meditor yang di dalam shalatnya menghadap kepada sesuatu yang kosong didalam pikirannya. Yang didapatkan ketika shalat dengan konsep mengosongkan pikiran itu hanyalah rasa tenang saja. Karena saat tidak berpikir itu, menghadap kepada yang kosong, memang melahirkan tidak ada rasa apa-apa. Tenang saja. Saking tenangnya, ketika kita melakukan sesuatu yang tidak disukai Allahpun kita tenang-tenang saja. Damai dalam kesalahan…

Bersambung ke bagian ke dua.

Read Full Post »

Yang (TELAH) Hilang….

Cuplikan draft buku baru Ustad Abu Sangkan

Cukup sulit menguraikan makna khusyu’ dalam bentuk kata-kata, karena khusyu’ adalah sebuah pengalaman batin yang dirasakan oleh hati seseorang. Khusyu’ hanya terjadi jika iman dan kepercayaannya kepada Allah sangat tinggi. Khusyu’ bukanlah bentuk konsentrasi semacam orang melakukan praktek meditasi dalam agama Hindu atau praktek-praktek meditasi yang lainnya.

Khusyu’ adalah sebuah kesadaran ruhani seseorang yang mampu menembus dimensi ketuhanan serta ia mampu melakukan kontak komunikasi langsung dengan Tuhannya, sehingga semua urusan pribadinya dengan Tuhannya, yaitu Allah, dapat tersingkap dengan jelas. Ia mampu menangkap jawaban-jawaban Allah dalam setiap apa yang ia disampaikan Allah melalui batinnya. Ia sedang bermunajat, dan melakukan percakapan dibalik hijab dengan Allah sebagaimana yang dilakukan oleh para Nabi dan ahli makrifat, sehingga mereka menemukan kedamaian dan ketenangan didalam shalatnya.

Nabi bersabda: “Jika diantara kalian berdiri melakukan shalat, sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya , maka perhatikan bagaimana ia bersikap memohonnya ( HR. Hakim).

Nabi hampir-hampir tidak mau menyelesaikan shalatnya disebabkan ada rasa nikmat yang memenuhi jiwanya di dalam shalat itu. Tidak hanya itu, shalat merupakan solusi Beliau untuk memecahkan persoalan hidup dan urusan yang sulit diselesaikan. Inilah misi semua para Nabi dan Rasul, yaitu mengenalkan Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Esa kepada seluruh umat manusia.

Dan keadaan inilah yang (telah) hilang di dalam hati mayoritas kita umat islam sejak berbilang zaman, sehingga di dalam shalat kita jadinya seperti sedang berhadapan dengan TEMBOK.

Read Full Post »

Entah kenapa, malam ini Allahku berkenan memberikan cicipan yang sangat lezat dalam Shalat Malam yang kulakukan. Jam 01:00 aku dibangunkan oleh Allahku dari “matiku” melalui sebentuk rasa bahagia yang diturunkan-Nya terlebih dahulu ke dalam dadaku sebagai pembuka mataku. Kureguk sejenak rasa bahagia itu. Rasa bahagia itu mengalir bersama aliran darahku keseluruh sel-sel di dalam tubuhku. Tubuhku bergetar halus, hatiku bergetar halus, mataku bergetar halus. Sebutir cairan bening disudut matakupun ikut-ikutan pula bergetar halus. Kunikmati semua getaran halus yang berisikan rasa bahagia itu sampai selesai. Lalu kuucapkan sepatah kata yang sangat sederhana kepada Allahku: Alhamdulillah…

Saat berwudhu’, air yang kusapukan kepada anggota-anggota wudhu’ ku seperti berubah menjadi semut-semut halus yang masuk kedalam pori-pori kulitku. Semut-semut itu seperti menggelitik sel-sel tubuhku yang berada dibawah kulitku. Kunikmati saja wudhu’ku itu yang rasanya seperti aku sedang menikmati segarnya minuman air pegunungan ditengah-tengah rasa haus yang sedang menderaku…

Ketika kuucapkan Allahu Akbar sebagai pembuka shalatku, yang ada didalam dadaku hanyalah rasa imanku bahwa aku sedang berhadap-hadapan dengan Allahku. Allahku masih meletakkan HIJAB-NYA dihadapanku.

Allahku seperti masih menunggu kepastian imanku kepada-Nya. Boleh jadi saat itu imanku kepada-Nya masih pada tatanan iman yang palsu. Jangan-jangan Allahku masih belum percaya kepada ucapan takbirku kepada-Nya. Akupun menjadi cemas. Jangan-jangan Allahku menilai shalatku masih seperti shalatnya orang-orang munafik.

Dibelakang hijab-Nya akupun berkata-kata dengan penuh harap. Kukatakan tekatku untuk hanya akan menghadapkan wajahku kepada Wajah-Nya. Ku katakan aku hanya ingin menyerahkan diriku kepada-Nya bulat-bulat. Ku katakan aku bukan orang musyrik.

Ku katakan bahwa aku bersedia menjadi seorang yang beriman seperti berimannya Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wasallam kepada Allahnya. Semuanya itu kukatakan dengan perasaan penuh kecemasan. Aku khawatir, jangan-jangan Allahku masih belum percaya kepada apa-apa yang kukatakan dihadapan-Nya. Atau yang lebih ku takutkan lagi adalah, jangan-jangan Allahku masih berbeda dengan Allahnya Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

Tapi diakhir iftitahku, Allahku mengirimkan tanda-tanda keberadaan-Nya kepadaku. Allahku berkenan menurunkan kedalam dadaku sebentuk getaran halus yang membawa sekaligus sebuah kepahaman bahwa Allahku mulai percaya dengan ucapan-ucapanku itu. Karena aku beriman kepada Allahnya Muhammad, Allahul Haq, maka Allahku pun menyatakan kepercayaan-Nya kepadaku. Sungguh Allahku adalah AL MUKMIN…, Dzat Yang Maha Beriman kepada hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya.

Kepercayaan Allahku kepadaku itu kemudian mengubah suasana di dalam hatiku. Setiap ayat-ayat Al Fatihah yang ingin kubaca, setiap itu pula Allahku seperti terlebih dahulu ingin menyatakan tanda-tanda keberadaan-Nya kepadaku. Allahku lebih cepat dari ucapanku. Sehingga akhirnya setiap ucapanku yang keluar dari mulutku tidak lain hanyalah sebagai ungkapan kesaksianku, ungkapan mengiyakanku saja, atas kebenaran Allahku.

Ketika Allahku memenuhi dadaku dengan rasa Kasih dan Sayang-Nya, DERR…, lalu tiada kata lain yang bisa kuucapkan: Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin…, Arrahmaanirrahiim…”.

Ketika Allahku menurunkan Keagungan-Nya kedalam dadaku, DERR, lalu dengan kerongkongan yang tercekat aku hanya bisa berkata: “maalikiyau middiin…”.

Entah kenapa, aku jadi takut kehilangan Allahku. Aku jadi takut Allahku berpaling dariku. Karena aku sadar bahwa aku telah terlalu sering berpaling dari-Nya. Ya…, entah sudah berapa sering aku berpaling dari-Nya selama ini. Astagfirullahal azhim…

Ditengah-tengah rasa takutku itu, Allahku kemudian kembali meresapkan tanda-tanda keberadaan-Nya kedalam dadaku. DERR. Tanda bahwa hanya Dia yang bisa menolongku. “Bukankah hanya Aku yang bisa menuntunmu untuk mampu meniti jalan bagi orang-orang yang telah Kuberi nikmat, wahai hamba-Ku?. Bukankah hanya Aku pula yang bisa menuntunmu untuk mampu keluar dari jalan yang dilalui oleh orang-orang yang berpaling dari-Ku, wahai hamba-Ku?”. Bersamaan dengan itu, Allahku menurunkan kedalam dadaku rasa seperti aku sedang berada dalam Perlindungan dan Tuntunan Allahku, karena Dia memang adalah AL WALIYY. Maka akupun tidak mau lagi punya punya Pelindung dan Penuntun selain Allahku. “Iyyakana’budu…, wa iyyakanasta’iin”, ungkapku dengan terisak lembut.

Lalu berbilang rakaat kemudian, sampai sebelum witir raka’at terakhir, Allahku selalu, lagi dan lagi, tak henti-hentinya, memperlihatkan tanda-tanda keberadaan-Nya kepada-KU bahwa Dia adalah AL HAADII (Dzat Yang Maha Pemberi Petunjuk). Secara bergelombang dan telaten, Allahku mengajariku bagaimana aku harus rukuk kepada-Nya, bagaimana aku harus sujud yang benar-benar tertuju kepada-Nya. Kadangkala ruku dan sujudku begitu lama, karena saat itu aku benar-benar sedang menerima Petunjuk-Nya untuk memahami dan merasakan cara rukuk dan sujud yang benar. Sebab ternyata rukuk dan sujudku selama ini adalah rukuk dan sujud yang palsu.

Sekian puluh tahun aku mengira atau menyangka bahwa aku telah sujud dan rukuk kepada ALLAHUL HAQ. Dan ternyata sekian puluh tahun itu pula sujud dan rukukku adalah sujud dan rukuk yang penuh dengan kepalsuan. Karena selama itu, ternyata Allah yang aku pertuhankan, aku sujudi, dan aku rukuki itu berbeda dengan Allah yang dipertuhankan, dirukuki, dan disujudi oleh Muhammad SAW. Sehingga selama itu pula sujud dan ruku saya hanya seperti sujud dan rukuk sepihak saja. Ternyata yang kurukuki dan sujudi selama ini adalah persepsiku sendiri, pikiranku sendiri, sangka-sangkaanku sendiri tentang Allah.

Makanya “Allahku yang dulu” itu selalu baik dan menurut saja dengan segala keinginanku. Apa yang aku inginkan dan bayangkan, maka “Allahku yang dulu itu” selalu mengabulkannya. Ketika aku dulu berbuat salah ataupun bermaksiat, lalu aku cukup dengan beristigfar dan minta ampun sekedarnya saja kepada “Allahku yang dulu” itu sambil ditambahi disana-sini dengan beberapa teknik relaksasi, pengaturan nafas, dan permainan getaran, maka akupun bisa menjadi tenang. Tenangnya tenang benaran. Seakan-akan aku telah benar-benar diampuni oleh “Allahku yang dulu” itu. Karena aku berpikir bahwa aku sudah beristigfar, dan “Allahku yang dulu itu” maha pengampun, maka akupun menjadi tenang. Aku merasa seperti telah dimaafkan oleh “Allahku yang dulu itu”, karena memang aku berpikiran begitu.

Tapi malam, keadaannya sungguh berbeda sekali. Sebelum aku sempat minta ampun dalam duduk iftirasy diantara dua sujudku, Allahku yang sekarang, Allah Yang Haq, Allahnya Muhammad SAW, ternyata berkenan terlebih dahulu memasukkan tanda-tanda Pemaafan-Nya kedalam dadaku. Rasanya seperti seorang anak yang telah dimaafkan oleh ibunya. Ketika sang anak, yang pernah membuat ibunya menjauh karena perbuatannya sendiri yang menyakiti hati ibunya, tiba-tiba ibunya memanggilnya dan berkata: “Nak…, hari ini kau kumaafkan”. Walau hanya sepatah kalimat begitu. Tapi pengaruhnya sungguh luar biasa. Sang anak hanya bisa kaget, sang anak tiba-tiba saja merasa dialiri oleh rasa bahagia yang amat sangat, sang anak ingin tersungkur dihadapan ibunya, sang anak ingin menenggelamkan dirinya kedalam pelukan ibunya.

Sang anak seakan-akan ingin kembali masuk kedalam rahim ibunya. Rahim yang didalamnya pernah dia huni. Rahim yang didalamnya tidak ada rasa lapar dan haus. Rahim yang didalamnya tidak ada rasa takut dan khawatir. Rahim yang didalamnya dipenuhi oleh air laksana air syurgawi. Karena memang rahim seorang ibu adalah bayangan syurga yang sesungguhnya… Sang anak telah tenggelam kembali kedalam suasana rahim ibunya. Tidak ada tangisan, tidak ada ada apa-apa… Sang anak kemudian tersadar untuk masuk kembali kealam dunia ketika ibunya mengusap lembut kepalanya…

Aku dibuat mengerti oleh Allahku tentang Pema’afan-Nya yang asli. Aku jadi sadar bahwa rasa telah dimaafkan oleh “Allahku yang dulu” yang kurasakan selama ini ternyata hanyalah rasa tenang yang muncul akibat adanya hormon endorpin yang keluar membanjiri darahku ketika aku berpikiran positif. Rasa dimaafkan oleh Allahku selama ini ternyata adalah rasa maaf yang palsu. Rasa maaf akibat adanya sekresi hormonal saja. Karena saat dulu itu ternyata Allahku memang masih Allah yang palsu. Belum Allah Yang Haq.

Lalu akupun berucap: “Rabbigfirli…, ya Allah tetaplah ma’afkan hamba seperti pema’afan-Mu kali ini…”.

Ketika selesai sujud terakhir dalam shalat witir, Allahku kembali mengejutkanku. DERR. Allahku memasukkan kedalam dadaku rasa bahagia dari ribuan orang. Ada rasa seperti ribuan orang yang sedang berbagai pengalaman bahagia yang mengalir memasuki dadaku. Tapi aku yakin bahwa didalamnya belum ada Rasa Bahagia Rasulullah. Sebab kalaulah rasa bahagia Rasulullah dimasukkan oleh Allah kedalam dadaku, pastilah aku tidak akan kuat untuk menerimanya.

Aku sadar, bahwa boleh jadi proses berbagi rasa bahagia itu barulah pada tingkatan yang sangat rendah sekali. Tapi ketika aku berucap: “assalamua’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuh…, assalamu’alaina wa’ala ibadillahishshalihin….”, suasana yang diberikan oleh Allah kedalam hatiku, rasanya sudah sangat berlebihan bagiku. Karena aku merasa bahwa aku masih belum pantas untuk mendapatkan yang lebih dari itu.

Sebab aku sangat yakin bahwa nikmat Allah yang sebenarnya jauh lebih hebat dari nikmat dari nikmat yang kurasakan dalam shalat malam kali ini. Boleh jadi kadar nikmat yang kudapatkan itu barulah sebatas manis sebutir gula saja. Tapi sebutir gula itu boleh jadi pula berasal dari syurga.

Wallahu a’lam…
Deka 30 Juli 2013…

Read Full Post »

8/8 Shalat – Duduk Tasyahud

Dalam sujud kedua tersebut, Allah dengan suka rela (ridha) menerima kita hingga mendudukkan kita dan mempersilahkan kita memasuki jama’ah hamba-hamba-Nya dan memasuki surga-Nya sebagaimana difirmankan dalam QS Al Fajr 89: 29 – 30 dan menjadi bacaan shalat dalam duduk tasyahud akhir,

“Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”

Mereka yang sudah bersedia kembali dengan suka cita, akan mendapatkan cinta Ilahi. Cinta Allah ini dinyatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan sebagai berikut,

“Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku sukai, daripada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sunat-sunat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengaran untuk pendengarannya, penglihatan untuk penglihatannya, tangan untuk perbuatannya dan kaki untuknya berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya, jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku lakukan, seperti kebimbangan-Ku terhadap jiwa [nafsi] hamba-Ku yang beriman yang tidak senang mati, sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadap-Nya.”

dan mendapatkan ucapan selamat dari Yang Maha Pengasih sebagaimana disebutkan dalam QS Yaasiin 36: 58,

“(kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang.”

Serta QS Ar Raad 13: 23 – 24,

“(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

Yaa Allah, jadikanlah hamba-hamba-Mu ini selalu mampu melaksanakan shalat dengan penuh kecintaan untuk memuja-Mu, merendahkan diri di hadapan-Mu dan mengembalikan diri kami kepada-Mu. Dan jadikanlah shalat hamba-Mu ini menjadi kesenangan tertinggi bagi hamba-Mu.

Selesai
Wassalam
Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

7/8 Shalat – Sujud Kedua..

Allah ridha kepada hamba-Nya yang ridha, sebagaimana disebut dalam Qur’an surat Al Fajr 89 ayat 28 di atas. Yang diridhai atau Al Mardhiyyah bermakna sudah tahu sama tahu. Yang diridhai sudah bisa memahami wahyu Allah. Digambarkan dalam Al Qur’an surat Asy Syuura 42: 52,

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepada ruhmu (ruhan min amrina) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

Memahami berarti berkomunikasi. Berkomunikasi berarti menggunakan bahasa yang sama. Bahasa yang dimaksud adalah sesuatu yang dalam diri, sebelum kita berkehendak. Inilah Sirr atau yang lebih dalam lagi disebut dengan akhfa. Dinyatakan dalam Al Qur’an surat Thaha 20: 7,

“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.”

Buktikanlah pemahaman ini dengan membangkitkan sirr atau akhfa kita, kemudian serahkan sirr atau akhfa yang kita bangkitkan kepada Allah. Niscaya kalau ada kesepahaman, maka akan semakin mantap. Sedangkan bilamana tidak ada kesepahaman, maka akan diganti dengan yang lebih baik.

Lama-kelamaan kita akan semakin mudah memahami perintah Allah yang berarti kita semakin mengenal ruhani kita, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Isra’ 17 ayat 85,

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu dari Tuhan-ku perintah (min amri Rabbiy), dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.”

Pada tahap ini tidak ada lagi upaya yang bisa kita lakukan, kecuali kepasrahan total untuk bersedia kembali kepada Allah. Terserah Allah, dan pada kenyataannya akan muncul sikap berprasangka baik kepada Allah bahwa Allah meridhai kita, maka tubuh kita pun disujudkan kepada-Nya, untuk kembali kepada-Nya.

Bersambung
Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

6/8 Shalat – Duduk Di Antara Dua Sujud

Allah menyukai yang sukarela / rela / ridha kepada–Nya sebagaimana disebut dalam Qur’an surat Al Fajr 89 ayat 28, “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha lagi diridhai-Nya.”

Yang ridha (ar radhiyyah) adalah yang rela dengan apa yang diterimanya dan meyakini bahwa semuanya datang dari Allah demi kesempurnaan atau kebaikannya. Pada posisi ini, sang diri sudah moksa, yang ada adalah yang ridha, sehingga tidak dipanggil dengan an nafs ar radhiyyah atau diri yang ridha, tapi ar radhiyyah atau yang ridha, karena sudah rela kembali.

Untuk bisa mencapai keadaan rela ini, kita harus bisa menarik pelajaran dari apa-apa yang digelar di alam semesta ini, termasuk memahami jati diri kita. Pemahaman ini adalah hadiah dari Allah, yaitu dengan dibukakan lubb (lubuk hati) dirinya. Imam Sayyidina Ali kw menasehatkan bahwa lubb adalah tempat terbitnya tauhid. Mereka-mereka yang lubb-nya sudah dibukakan Allah, disebut sebagai Ulul Albab, sebagaimana dinyatakan dalam QS Ali Imran 3: 190-191,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ulil Albab),

(yaitu) orang-orang yang mengingat (dzikr) Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan (tafakkur) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.””

Juga di ayat lain dijelaskan tentang mereka yang disebut sebagai Ulil Albab, namun dihubungkan dengan pemahaman Al Qur’an, yaitu dalam QS Ali Imran 3: 7,

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat. Itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal (Ulil Albab).”

Untuk mengetahui tentang lubb kita ini, marilah kita merenungkan perihal diri kita, yaitu sebagai makhluk yang disebut hidup. Hidup manusia, bilamana kita amati tidak sama dengan hidup tumbuhan, hidup binatang, bahkan hidup homo erektus. Hidup manusia memiliki kemampuan menarik kesimpulan (memahami) tanpa data awal. Contoh kita bisa memahami ini pedas, ini cinta, aku tahu dan lain-lain tanpa diajari oleh orang-orang lain. Dan ini bukan kemampuan otak. Meski kemampuan otak mampu mengembangkan peradaban, sebagaimana homo erektus digambarkan memiliki kecerdasan, walau tidak semaju manusia. Manusia mampu mengembangkan peradaban, selain kemampuan otak yang lebih maju dari homo erektus, juga adanya ‘sesuatu’yang mampu memahami tanpa data awal. ‘Sesuatu’ ini adalah lubb yang merupakan bagian dari ruhani, sebagaimana dikisahkan dalam Qur’an surat Al Baqarah 2 ayat 30 -34,

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Jadi yang ridha, yang bersinggasana di lubb (lubuk hatinya) adalah sang ruhani itu sendiri. Sehingga pantaslah oleh Imam Ali kw disebut sebagai tempat terbitnya keimanan. Inilah yang dalam pengajaran orang-orang terdahulu disebut sebagai sang dalang. Dan dalang inilah yang mampu memahami kehendak Sang Penanggap yang merupakan gambaran atas perintah Ilahi, yang tentunya dilaksanakan oleh manusia sebagai wayangnya dalam wujud perkembangan peradaban di dunia.

Yang ridha hanya bisa menunggu keridhaan Yang Dituju, hanya bisa menanti penerimaan Allah. Mereka yang mampu mencapai posisi ini, tentunya memiliki ciri senantiasa bahagia dan hanya berharap kepada Allah dan yakin akan penerimaan Allah kepadanya. Apapun yang mereka terima dari Allah, dinikmati dengan bahagia. Mereka rela serela-relanya dengan ampunan, rahmat, penutupan aib, pengangkatan derajad, rezeki, petunjuk, kesehatan, ataupun pemberian maaf dari Allah, karena fokus mereka hanyalah Allah sendiri, bukan hadiah dari Allah lagi.

Bersambung
Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: