Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘INSPIRASI’ Category

(oleh Utd Hussien Bin Abdul Latiff)

Berkayuh sampan
Di Laut Hidup,
Yang di penuhi oleh pulau-pulau,
Setiap satu hanya
Ada satu penghuni
Mereka hidup bergaya tersirat,
Tersirat oleh lumrah-lumrah,
Yang memenuhi
Kepulauan itu
Termasuk segala ruang dan tempat
Lumrah-lumrah yang sedia ada
Sebelum mereka ditempatkan disitu
Mereka mengikut Lumrah yang ada
Tiada pilihan, tiada tukaran.

Namun aku tidak di kepulauan
Kerana sudah aku pulangkan
Ku pulangkan pulau ke Empunya
Maka berbekal sampan ini
Berkayulah aku di Laut Hidup
Menyerah penuh kepadaNya
Yang Empunya Laut dan pulau

Maka berjagalah Aku bila berkayuh
Tersinggah jangan kepulauan
Lalu terperangkap
Lumrah-lumrah
Yang sukar dapat dilepaskan.
Maka sentiasalah
Aku berawas
Sambil mengayuh
Di Laut Hidup
Yang luas terbentang.

Dalam aku mengayuh Laut
Terpandangku
Ramai sampan
Sepertiku,
Sepertiku, mereka pulangkan pulau
Kepada yang Empunya
Lalu bersampan
Di Laut Hidup.

Apabila ku dekati
Aku terperanjat
Melihat Rasulullah
Sahabat-sahabat,
Orang beriman
Berada di sampan sampan itu
Berkayuh di Laut Hidup sepertiku.

Maka turunlah badai yang mengerunkan
Lalu memukul sampan-sampan
Yang ada,
Yang di hadapan
Sampan Rasulullah
Namun ku lihat
ramai lagi sampan
berhampiran baginda
Rupanya sampan nabi-nabi dahulu

Sesudah itu badai memukul pula
Sampan-sampan semua sahabat
Namun badai tidak sekuat dulu yang
Memukuli sampan Rasulullah dan para Nabi.
Sesudah itu badai datang kepada kami
Namun tidak sekuat dialami
Para sahabat nabi

Beginilah ragam di Laut Hidup
Sentiasa diuji
kekentalan Kita
Masih mahu
memegang ke taliNya serta berkata,”Cukup Allah swt bagiku!”

Bagaimana badai memukul
serta hidup menderita
namun ku terasa
puas lagi redha
kerana dapat bergantung hanya kepadaNya
juga terlepas aku
dari lumrah-lumrah
Pulau Hidup
Yang sangat
merbahaya lagi
menghayalkan.

Maka ku kayuh
Akan sampanku
Di Laut Hidup
Berpegang teguh kepada satu:
“Hidup dan matiku hanya untukNya!”

Maka kayuhku akan sampanku
Di Laut Hidup
Serah sepenuh
Kepada yang Empunya
Hidup dan matiku
DitentukanNya.

Apabila ku lihat
Ke belakangku
Ramai Sampan
Hampiriku
Dikayuh oleh anak-anak muda
Keadaan cemas kelihatan bingung
Seperti Rusa masuk kampung

Maka mereka mendekati sampanku lalu berkata,”Apa yang harus kami buat Pak Tua bersampan di Laut Hidup?”

Maka aku menjawab, “Teruskan mendayung di Laut Hidup berpaut hanya kepada yang Empunya walaupun dipukul badai yang kuat. Namun jangan sekali-kali kamu dekati atau Naik ke pantai Pulau Hidup, kerana akan kamu dijerat oleh lumrah-lumrah yang memenuhi segala ruang dan tempat Pulau itu.”

Lalu sambung aku kepada mereka,”Ingatlah anak muda duduklah kamu dalam sampanmu dan jangan sekali-kali kamu turun ke Pulau Hidup, kerana kamu sudah dahulu pulangkan Pulau kamu kepada yang Empunya.”

Sambungku lagi,”Ketahuilah anak muda Pulau Hidup itulah pentas Empunya dan siapa ada di Pulau itu adalah senimanNya. Lumrah-lumrah itu adalah skripNya.”

Lalu aku pun berkayuh meninggalkan mereka sambil  berpesan,”Ingat anak muda kalau kamu turun ke Pulau Hidup maka akan kamu dapati bahawa kamu tiada pilihan melainkan berlakon mengikut skrip Empunya.,,, Selamat Tinggal anak muda!”

Semasa mendayung sampanku, terlihatku peristiwa yang aneh,
Seorang tua di dalam sampannya yang sedikit jauh dari pantai Pulau Hidup, memanggil-manggil akan kenalannya yang asyik bergaya mengikut lumrah-lumrah di Pulau itu.
Setelah lama dan kepenatan ia menunggu dan memanggil akan temannya lalu dibocorkan kesemua Sampan yang berada di pantai itu.
Apabila temannya sudah puas bermain dengan lumrah Hidup lalu mahu menaiki  Sampan untuk bersama rakannya yang menunggunya di Sampan maka alangkah terperanjatnya melihat semua Sampan di Pantai itu sudah dibocorkan. Justeru itu berkata ia kepada sahabat yang di Sampan,”kerana sudah kesemua sampan-sampan ini dibocorkan maka tidaklah dapat aku mengikutimu!”
Maka sahabatnya yang berada di Sampan berkata,” Di sinilah sempadan perpisahan Kita, selamat Tinggal Musa!”.

 

Note:

Lumrah = unwritten rules or norms,

Contoh Lumrah,

Lapar + makan

Ngantuk + tidur

Haus + minum

Sedih + nangis

Kerusi + duduk

Gembira + ketawa

 

Lumrah adalah sesuatu yg Kita buat tanpa disedari. Sesuatu kebiasaan atau kelaziman

 

 

 

 

 

 

Iklan

Read Full Post »

Oleh sahabat saya “BO”

 

“Innalloha yab’atsu lihadzihil ummati ala ro’si kulli miati sannatin man yujaddidu laha diinaha”. (HR. Abu Daud no. 3740).

 

Sesungguhnya pada setiap penghujung seratus tahun Allah SWT akan mengutus untuk umat ini orang yang akan memperbaharui Agama mereka.

 

Al-Tajdid menurut bahasa maknanya berkisar pada “Al-Ihyau”: menghidupkan, “Al-Ba’tsu”: membangkitkan, “Al-Iadatu”: mengembalikan.

 

Makna-makna ini memberikan gambaran tentang 3 unsur, yaitu:

Wujudu kauniyah: keberadaan sesuatu,

Bala aw Durus: hancur atau hilang, kemudian

Al-Ihyau aw Al-Iadatu: dihidupkan dan atau dikembalikan.

 

Kata Tajdid merupakan Bahasa Arab yang berkata dasar dari akar kata: jaddada – yujaddidu – tajdiidan, yang artinya memperbaharui.

 

Kata ini kemudian menjadi jargon dalam gerakan pembaharuan Islam, agar terlepas dari Bid’ah, Takhayul, dan Khurafat serta hal-hal yang bersifat Syirik.

 

Dalam Tajdid itu bukan saja berbicara tentang Pembaharuan, tapi juga tentang Pemurnian.

 

Pembaharuan dengan melakukan kreasi dan inovasi Metodologi berupa konsep yang memudahkan dalam memahami ajaran Islam yang sebenarnya, berupa pemahaman Wahyu Allah yang tertuang dalam Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah SAW (Hadits).

 

Pemurnian dengan mengembalikan pemahaman ajaran Islam sebagaimana aslinya dari ajaran Allah dan RasulNya yang masih murni dari pengaruh Bid’ah, Takhayul, Khurafat dan Syirik.

 

Dikatakan Pembaharuan sebagai sebuah Metodologi yang baru bukan berarti benar-benar baru, dimungkinkan bisa jadi hal tersebut sudah pernah ada namun karena keterbatasan referensi dan pemahaman kita hal tersebut terdengar baru.

 

Begitu luar biasa plan Allah dengan “menurunkan” hamba-hambaNya baik yang dalam kurun Satu Abad sekali, maupun yang dalam kurun Satu Milenium sekali dll. Baik yang Allah nyatakan maupun yang Allah rahasiakan ataupun yang Allah bukakan hanya bagi sebagian kecil orang saja. (Wallahu a’lam).

 

Alhamdulillah saya pernah bertemu dengan seorang hamba Allah sebagaimana tertuang dalam Testimoni saya di Yamas, bahwa Beliau memperoleh “mandat” untuk menyampaikan pemahaman Ma’rifatullah dan Dzikrullah berdasarkan Ilham yang Beliau terima, untuk kurun waktu Satu Abad sekali untuk seluruh dunia hanya satu orang.

 

Beliau biidzinillah pernah berbicara kepada saya bahwa sepeninggal Beliau nanti akan ada orang (Hamba Allah) yang akan menyampaikan pemahaman seperti Beliau namun lebih jelas dan terperinci. Beliau pun berbicara InsyaAllah kamu (maksudnya saya “BO”) akan Allah pertemukan dengan Beliau itu.

 

Alhamdulillah proses waktu Allah memperjalankan saya untuk bertemu dengan Beliau Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff sebagai Mujaddid yang Allah turunkan dalam kurun waktu Satu Milenium atau Seribu tahun sekali untuk seluruh umat di dunia dan hanya satu orang.

 

Dibalik persamaan dari kedua Beliau hamba pilihan Allah tersebut ada sisi perbedaan yang membedakan antara Mujaddid kurun waktu Satu Abad dengan Mujaddid kurun waktu Satu Milenium.

 

Beliau yang dalam kurun waktu Satu Abad itu pada awalnya sekitar tahun 60-an membimbing ajaran pokok selama lebih kurang Satu Bulan nonstop, lalu sekitar tahun 70-an menjadi Satu Minggu, lalu sekitar 80-an menjadi hanya Satu hari saja s/d menjelang Beliau wafat. (Jujur saya belum / tidak tau persis kurikulum yang diringkas tersebut terdiri dari apa saja).

 

Berdasarkan keterbatasan pemahaman saya, diantara perbedaan itu diantaranya, yaitu:

 

  1. Beliau yang satu abad itu membimbing pemahaman Ma’rifatullah itu secara simpel, yaitu intinya mengimani Allah sebagai Yang laisa kamislihi syaiun.

 

Imam Al-Ghozali menyatakan bahwa standar minimal keimanan hamba Allah yang diselamatkan, yaitu mengimani/ menyakini Allah sebagai Yang laisa kamislihi syaiun.

 

Sedangkan Beliau hamba Allah sang Mujaddid dalam kurun waktu satu Milenium yaitu Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff memberikan Syarahan Ma’rifatullah dengan mengenalkan kita dengan Allah dan menumbuhkan keimanan bahwa Dia laisa kamislihi syaiun. Namun terkait penciptaan kita dikenalkan ajaran Ma’rifatullahl dengan “konsep Dzatiyah”.

 

Husnudzhon saya bila sebelumnya Ma’rifatullah dan Iman Billah dalam standar minimal keimanan, maka Beliau Arif Billah mengenalkan Allah dalam standar maksimal keimanan. (Wallahu a’lam).

 

  1. Beliau yang dalam kurun Satu Abad mengajarkan Dzikrullah, menerangkan hanya sebatas praktek Amaliyahnya persis sebagaimana yang diajarkan Beliau yang dalam kurun waktu Satu Milenium, namun penjelasan dalil secara simpel.

 

Sedangkan Beliau Arif Billah kurun waktu satu Milenium menjelaskannya dengan dalil-dalil Al-Qur’an Hadits yang lebih detil / secara terperinci.

 

  1. Beliau yang kurun waktu Satu Abad, hanya sebatas menyampaikan yang benar saja dari Ajaran (Ilmu) Allah dan RasulNya.

 

Sementara Beliau yang kurun waktu Satu Milenium, selain menyampaikan yang benar juga meluruskan yang salah/ keliru.

 

Diantara ajaran yang diluruskan, yaitu :

  • Ajaran Thoriqoh (Tasawuf jalan Wali-wali);
  • Ajaran Robithoh;
  • Ajaran Nur Muhammad;
  • Ajaran Wahdatul Wujud termasuk didalamnya ajaran Hulul, Ittihad, Manunggaling Kawulo Gusti, dll.

 

Beruntung sekali kita Allah anugerah kan dengan keberadaan Beliau Sang Mujaddid yang merupakan Pembaharu Ajaran Islam dan mengembalikan pemurnian ajaran Islam (atau Bang Yusdeka senang dengan istilah “Restorasi”), yang menyampaikan ajaran Islam secara Kaffah (komprehensif).

 

Wallahu a’lam.

 

 

Tambahan Penjelasan oleh Sahabat saya “MZ”

 

Yang saya fahami dari Ustadz ialah mujaddid yang 100 tahun 1 orang ialah mujaddid yang membaharukan akan syariat.

 

Kalau mujaddid yang membaharukan dalam tasawuf ialah 1000 tahun 1 orang

 

Dari massa Imam Al Ghazali hingga ke Ustadz Hussien BA Latiff, Ustadzlah satu satu nya mujaddid yang bertaraf Arifbillah yang mengajarkan tasawuf jalan nabi nabi. Hanya 1 orang saja, yaitu Ustadz 1000 tahun 1 orang. Lain dari itu bukanlah mujaddid dalam tasawuf.

 

Di antara masa Imam Al Ghazali dan masa Ustadz Hussien BA Latiff, semua tentang ketuhanan (tasawuf) tidak bisa di jadikan aqidah. Hanya beliaulah yang mempunyai susunan ilmu tentang makrifatullah, sehingga bisa mengajar.

 

Ustadz memberi contoh: seperti huruf A sampai Z ustadz tahu susunan nya: abcdefj dst, sehingga Beliau bisa mengajar dan mempunyai mandat untuk mengajar. Sedangkan yang lain tidak mempunyai susunan nya. Mereka bisa faham ini A, ini D, ini H dan lain lain, tetapi mereka tidak tahu susunannya yang benar, sehingga mereka tidak bisa bisa mengajar. Dan juga orang-orang yang membaca kitab-kitab mereka malah bingung dan bisa tersesat

 

 

Tambahan Penjelasan oleh Sahabat saya “AT”

 

Apa yang disampaikan Bang “MZ” sesuai dengan apa yang disampaikan Ustadz.

Memang banyak orang yang makrifat namun tidak kesemuanya mempunyai kemampuan untuk menyampaikan/mengajarkan dalam artian bertaraf Arifbillah.

 

Ibarat ABJAD, banyak orang tahu ini A, ini D, ini Z, ini B tapi mereka tidak mengenali susunanya ABCDE dst.

 

Ustadz pun sebelum menyampaikan/mengajar juga sudah faham ini H, ini J, ini N namun belum memahami susunannya. Barulah setelah dikasih mandat oleh Rosulullah Muhammad SAW lengkap dengan kunci dan susunannya, Ustadz baru mampu menyampaikan/mengajar.

 

Namun sekali lagi yang perlu ditegaskan disini, Ustadz sering menekankan bahwasannya beliau hanya pemegang kunci makrifatullah.

Artinya untuk hal2 lain berkenaan syariah, fikh dsb di luar makrifatullah, masing-masing ada pemegang kunci/ahlinya.

 

 

Tambahan Penjelasan oleh sababat saya “BO”

 

Tulisan saya itu untuk beberapa hal sudah saya konfirmasi dengan Beliau Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff secara langsung pada saat pertemuan (Syarahan) di Kaliurang- Yogyakarta.

 

Saya pun ada mendapatkan penjelasan, bahwa secara umum Mujaddid yang kurun waktu Satu Abad lebih didominasi pada Mujaddid dalam bidang Syariat.

 

Bila masih ada yang belum pas saya serahkan kepada Allah Yang Maha memegang (memiliki) kunci semua Ilmu. (Astaghfirullah. Wallahu alam).

 

Inti dari tulisan saya, saya ingin menggugah para sahabat tentang betapa keberuntungan yang sangat besar terkait keberadaan Beliau, oleh karena itu manfaatkanlah peluang dan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, namun jangan pula disalah artikan.

 

Jangan hanya berhenti pada sifat, dalam hal ini:

 

Sifat: Beliau Arif Billah

Hakikat: Peranan Dzatnya

Ma’rifat: Allah itu sendiri.

 

Terkait dengan hal itu ada cerita sejarah yang cukup menarik, yaitu pada saat Nabi Muhammad Rasulullah SAW wafat.

 

Sahabat Rasulullah SAW yang bernama Umar bin Khattab RA tidak mempercayainya sekalipun Beliau membuka sendiri kain penutup wajah Rasulullah SAW.

 

Sahabat Umar RA berkata: ada orang dari kaum munafik yang mengira bahwa Rasulullah SAW telah wafat. Demi Allah sebenarnya tidak meninggal, melainkan dia pergi kepada Robbnya seperti Musa bin Imran….

 

Sungguh Rasulullah akan kembali seperti Musa juga….

 

Sahabat Abu Bakar As-Siddik RA menenangkan Umar bin Khatab RA: Sabar, sabarlah Umar, dengarkanlah….

 

Namun Umar bin Khatab RA masih tetap tidak mau tenang, sehingga sahabat Abu Bakar RA:

Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah Abu Bakar RA berkata: Saudara-saudara barang siapa yang mau menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah meninggal dunia, tetapi barang siapa yang mau menyembah Allah, maka Allah selalu hidup dan tak akan pernah mati.

 

Kemudian Abu Bakar RA membacakan firman Allah pada surat Ali Imron ayat 144:

 

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (Murtad), maka dia tidak dapat mendatangkan mudhorot kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

 

Setelah itu Umar bin Khattab RA tersungkur ke tanah, beliau akhirnya tersadar bahwa Nabi Muhammad Rasulullah SAW telah wafat.

 

 

Tambahan Penjelasan oleh “YDK”

 

Beliau Ustsdz Hussien BA Latiff, beberapa kali berkata bahwa: “Beliau hanyalah KALAM (tempat keluarnya Ilmu), sedangkan yang mengajar adalah ILMU itu sendiri. Itulah sebabnya banyak orang yang bisa bermakrifatullah tanpa kehadiran dan bertemu dengan Beliau. Banyak sekali yang sudah bermakrifatullah melalui Chanel Youtube “farhan4u2c”, dan “yamasindonesia”.

 

Akan tetapi, fakta bahwa adalah sebuah kesempatan emas untuk bisa bertemu dengan Beliau, walau hanya sekali saja, adalah satu hal yang lain lagi yang sangat sayang untuk dilewatkan. “Believe it ot not…”.

 

Oleh sebab itu:

 

ALHAMDULILLAH nya InsyaAllah kita bisa bertemu bagi yang belum pernah bertemu dan bisa bersilaturahmi lagi bagi yang sudah pernah bertemu dengan Beliau Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff, pada:

Tanggal: 26 s/d 29 April 2019.

Tempat: Hotel Asoka Luxury di Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung- Indonesia.

Acara: Seminar Makrifatullah, Era Globasisasi dan Ibadah, Keredhaan, dan Arah Tujuan Ummah.

Read Full Post »

Keadaan Di Alam Barzah -3

Anakku, sesudah jiwa Kita masuk ke Alam Bazakh dan apabila Jiwa kita pandang kembali kepada dunia maka datanglah kesedaran:

1. Dunia ini adalah pentas Ilahi. Tempat Dia bergurauan dan bermain-main seperti firmanNya, Dunia ini hanya senda gurau dan main-main.

2. Jasad Kita yang diciptakan bernyawa lagi berwatak. Dicontohkan dalam firmanNya sebagai seorang bayi di mana amal perbuatannya udah tersangkut di lehernya. Teringat akan Jasad Nabi Adam as terbujuh layu dalam Syurga selama 40 tahun.

3. Pelakon sebenarnya ialah Jiwa yg turun dari Alam Azali lalu masuk kepada Jasad yg bernyawa lagi berwatak. Lalu bermulalah Kehidupan kepada Jasad yg bernyawa itu. Seperti memasuknya duit siling kedalam lobang di kereta robot di pusat riadah setelah meletakkan anak Kita diatasnya lalu kereta itu bergeraklah diikuti alunan musik ke depan, ke belakang, ke kiri dan ke kanan.

4 Maka berlakonlah Jiwa berpakaian (jasad yg bernyawa) serta mengikut watak yg udah tersedia ada dengan pakaian itu. Inilah kehendakNya dan hanya ada Satu Kehendak. Maka ditegur Rasulullah saw bahawa kalau Dia mahu, Dia bisa menjadikan semua di dunia beriman kepadaNya apabila Baginda merasa hiba kerana ramai umat baginda masih belum beriman. Begitu juga apabila Rasulullah saw merasa hiba kerana ada yg dekat dengan baginda masih belum beriman maka Allah swt berfirman bahawa hanya Dia sahaja yg bisa membuat orang yg terdekat dengan baginda beriman.

5. Maka sedarlah Jiwa bahawa ia tiada sedikit pun campur tangan dalam pentas Ilahi. Seperti firmanNya bahawa tidak sedikit campur tangan Kita atas urusan ini.

6. Fahamlah Jiwa bahawa Kita tidak ada pilihan melainkan patuh tunduk kepada perwatakan yg sedia dengan pakaian (Jasad bernyawa) Kita itu. Inilah yg Syeikh Abdul Qadir Al Jilani berkata bahawa Kita tidak ada pilihan melainkan mengikut sahaja alunan perwatakan Kita atau Takdir Kita

7. Maka berlakonlah Jiwa sehingga dikunjungi kematian maka terlepaslah ia dari pakaian (Jasad bernyawa) dan perwatakan yg sedia ada lalu masuklah ia ke Alam Bazakh dalam keadaan ia yang asli (sebelum masuk kepada Jasad yg bernyawa itu).

Maaf anakku, mata ayah sekarang mahu masuk ke keadaan asli tidak mahu berlakon lagi… 😴😴😴

Read Full Post »

Keadaan di Alam Barzah-2

Anakku, sesungguhnya apabila kalian jejak ke Alam Bazakh segala talian dengan dunia Kita ini terputus samasekali. Contoh;

 

  1. Penyakit sama ada mental (seperti gila, pikun, dementia dll) atau fisikal (sakit kulit, kusta, kurap dll), semua penyakit ini tertinggal di dunia tidak ikut sama ke Alam Bazakh.

 

  1. Kecacatan mental (

Mental Incapacity) atau fisikal (OKU – Orang kurang upaya), kecacatan ini tertinggal di dunia tidak ikut bersama masuk Alam Bazakh.

 

  1. Pekak, bisu, buta, bahlul (idiots), sengau, rabun dll kecacatan tertinggal tidak ikut bersama ke Alam Bazakh.

 

  1. Keadaan ekonomi – miskin, kaya, papa dll keadaan ini tidak ikut bersama ke Alam Bazakh.

 

  1. Status atau kedudukan hidup Kita – Sultan, Presiden, Perdana Menteri, Menteri, Jeneral, Profesor, Hakim, Peguam Negara Penghulu, doktor, lawyer, jurutera, Akitek dll, kedudukan semua ini tidak ikut masuk ke Alam Bazakh

 

  1. Umur – bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa dan tua, semua umur ini tidak ikut bersama masuk ke Alam Bazakh. Di Alam Bazakh semua jiwa berumur 33 tahun.

 

  1. Pertalian – hamba sahaya, ibu-bapa, datuk-nenek dan seterusnya, suami isteri, anak, cucu dan seterusnya, saudara-mara, ipar duai dll, pertalian ini tidak ikut bersama ke Alam Bazakh.

 

  1. Kedudukan ukrawi – Mufti, Kadi, ulama, asatizah, Hakim, Hakam dll, kedudukan semua ini tidak ikut bersama ke Alam Bazakh.

 

  1. Kejahatan atau kemaksiatan – penjenayah,, penagih (nakoba, arak, Judi dll), penipu, “playboy” dll, tidak ikut bersama ke Alam Bazakh.

 

  1. Jantina – lelaki, perempuan, “apa kabar, bang” dll tidak ikut masuk bersama ke Alam Bazakh.

 

  1. Agama – Islam, Kristian, Hindu, Buddhist dll, tidak ikut ke Alam Bazakh.

 

  1. Ukuran badan – gemok, kurus, “slim” dll, tidak ikut ke Alam Bazakh.

 

  1. Selera makan Dan minum tidak ikut ke Alam Bazakh.

 

  1. Suara, cerdik, bodoh, bijak dll tidak ikut ke Alam Bazakh.

 

  1. Penyakit – kanker, leukamia, ahmar (stroke), masalah ginjal, natuk kering (TB), Aids atau HIV dll, tidak ikut ke Alam Bazaar.

 

Pendekkata, bagaimana Jiwa Kita di Alam Azali, begitu juga jiwa Kita di Alam Bazakh.

 

Maaf anakku, mata ayah nak masuk ke Alam Beradu dan kalian ngak bisa ikut bersama, harap maklum… 😴😴😴

 

 

Yusdeka

Pak Ustadz, mohon pencerahan tentang 3 hal ini yang sangat sering disebutkan: bahwa semua terputus kecuali tiga perkara :

Anak yang sholeh

Sodakoh jahriah

Ilmu yg diamalkan.

 

Utd Hussien Abdul Latiff:

Dari pandangan Syariah Saya, benar inilah yang ditinggalkan selepas Kita meninggal dunia.

 

Seperti  Musa as benar apabila beliau menegur Khidir as kerana memecah harta benda orang dan membunuh seorang kanak-kanak

 

Azri:

Assalamualaikum ustaz

Mohon maaf kerana bertanya dan mengharapkan tunjuk ajar daripada ustaz.

 

Kebanyakkan soalan timbul dikalangan jemaah malaysia pada penyataan

 

“pendekkata, bagaimana Jiwa Kita di Alam Azali, begitu juga jiwa kita di Alam Barzakh”.

 

Jawapan umur setiap ruh adalah 33 tahun sudah mereka ketahui.

Persoalan mereka adalah Adakah rupa ruh itu sama di alam azali dan alam barzakh seperti rupa kita 33 tahun di dunia.

 

Terima kasih ustaz.

 

Utd Hussien Abdul Latiff:

(B).”Begitu juga rupaku berubah, kembali ke rupa asli,

Rupa jiwaku semasa di Alam Azali.

Kesemua di Alam Bazakh berupa seperti ku,

Rupa yang berbeza dengan rupa di dunia,”

 

Semestinya rupa Kita berubah kerana rupa Kita mengikut kitab Takdir kita udah ditinggalkan di dunia. Justeru itu, rupa Jiwa Kita yang asli semasa di Alam Azali terlepas dari jasad dan dari skrip Kita lalu masuk ke Alam Bazakh.

 

Azri:

Pernah satu waktu dahulu, ustaz menceritakan perjumpaan ustaz dan abang ustaz di luar alam barzakh, adakah ustaz mengenali rupa abang ustaz didalam rupa azali, betul ke pemahaman saya ini ustaz.

 

🙏mohon maaf ustaz

 

Utd Hussien Abdul Latiff:

Jumpa di alam mimpi. Kalau Alam mimpi rupa seperti rupa di dunia.

 

Azri Acong:

Alhamdulillah ustaz

Terima kasih diatas pencerahan yg cukup jelas.

Mohon maaf sekali lagi kerana banyak soalan yg saya bawa pada malam ini.

Selamat beristirehat ustaz.

Read Full Post »

Keadaan di Alam Barzah-1

Penerangan puisi:

 

(A)”Maka terbukalah Pintu Alam Bazakh,

Maka jiwaku dijemput masuk ke Alam itu

Apabila masuk sahajaku ke dalamnya,

Maka tertanggal kesemua ikatanku kepada dunia.

Seperti aku dilahirkan semula lagi,

Tanpa apa jua ingatan serta memori lama.”

 

Semestinya ikatan dengan dunia, ingatan dan memori lama mesti hilang sebaik sahaja Kita masuk ke Alam Bazakh. Kalau tidak Alam Bazakh akan menjadi medan:

 

  1. Peperangan di antara musuh lama seperti Hitler, Stalin, Churchill, Firaun, Jeneral Yamashita dll

 

  1. Membalas dendam kerana dibunuh, dianiayah, difitnah, disiksa dll semasa di dunia.

 

  1. Maki hamun kerana layanan buruk yg diberi oleh ibu mertua, ipar duai, suami dan isteri, adik beradik dll semasa di dunia

 

  1. Pergaduhan kerana masih terikat dengan kongsi gelap, panas baran, dicaci, dihina dll semasa di dunia.

 

  1. Sambung perbuatan maksiat seperti Judi, kuda, loteri dll.

 

  1. Bertambah kuat ibadah.

 

(B).”Begitu juga rupaku berubah, kembali ke rupa asli,

Rupa jiwaku semasa di Alam Azali.

Kesemua di Alam Bazakh berupa seperti ku,

Rupa yang berbeza dengan rupa di dunia,”

 

Semestinya rupa Kita berubah kerana rupa Kita mengikut kitab Takdir kita udah ditinggalkan di dunia. Justeru itu, rupa Jiwa Kita yang asli semasa di Alam Azali terlepas dari jasad dan dari skrip Kita lalu masuk ke Alam Bazakh. Dengan pertukaran rupa  maka perhubungan dengan dunia juga terputus.

 

(C) “Maka ku pandang ke arah dunia yang ku tinggalkan.

Maka sedarlah aku, mereka dalam Lakonan,

Lakonan dunia yang mesti dijalankan

Mengikut Buku Kehidupan yang dinamakan Takdir,

Berlakonlah mereka sehingga akhir perjalanan,

Iaitu sampai ke akhir hayat mereka dituliskan,

Sesudah itu Jiwa mereka kembali ke Alam Bazakh,

Tempat berihat menunggu Hari Kebangkitan.”

 

Sesudah luput segala ikatan, ingatan dan memori berhubung dengan dunia maka sedarlah Kita pada saat itu bahawa Jiwa kitalah yang sebenar diri.

Diri yg tertinggal di dunia itu adalah hanya satu pakaian beragam (costume) yg dipakai sesuai dengan skrip Lakonan Kita. Pakaian dan skrip tertinggal apabila Kita meninggal dunia justeru Jiwa Kita yg memakai pakaian itu dan berlakon mengikut skrip terlepas lalu masuk ke Alam Bazakh suci lagi bersih. Justeru tiada permusuhan, maksiat, jenayah, hasad dengki, kianat dll di Alam Bazakh. Sesuai dengan firmanNya yg menjemput jiwa-jiwa yg tenteram kembali kepadaNya, masuklah dalam jemaahNya dan masuklah ke dalam syurgaNya dengan hati puas lagi diredhai.

 

Kefahaman akan keadaan di Alam Bazakh membolehkan umat Muhmmad menjadi satu serta, berharmoni serta dapat kenal mengenali sesama sendiri tanpa mengambilkira agama, bangsa, budaya dan rupa masing-masing. Sesuai dengan firmanNya bahawa Dia jadikan Kita bersuku-suku, berpuak-puak dan berbangsa-bangsa supaya dapat kita kenal mengenali di antara satu dengan lain.

 

 

Read Full Post »

Oleh Ustadz H Hussien BA Latiff.

27 Februari 2019

 

Setelah lama terlantarku di kamar,

Maka di awal pagi di dalam kedinginan rasa,

Terasa sesuatu bangkit dari ulu hatiku,

Sesuatu kesejukan yang menuju ke kerongkongku,

Dari situ, ia naik mendapatkan kedua mataku,

Lalu ia terbalikkan kedua mata hitamku,

Meninggalkan hanya keputihan biji mataku,

Justeru itu masuk ia ke dalam mindaku,

Lalu pergi ia kebelakang mindaku,

 

Sesampai ia ke hujung tempat mindaku,

Ia berpusing serta menuju pula ke hadapan mindaku,

Apabila sampai ke dahiku di atas kedua keningku,

Maka terbukalah jendela mata ke tiga,

Maka terkeluarlah ia dari jendela itu, rohku.

 

Rohku berbentuk mikro terapong di depan dahiku.

Sesudah itu, rohku ditolak gelombang,

Gelombang yang terbit dari denyutan nyawa,

Inilah yang dikatakan sakaratul maut,

 

Rohku ditolak sampai kepada sebuah pintu,

Pintu ini yang tertutup…, Pintu Alam Bazakh,

Maka tercegatku dihadapan pintu itu, menunggu.

 

Lalu terasa sesuatu di halkumku,

Maka terkeluarlah Minda batinku dari jasadku,

Lalu bersatulah dengan rohku yang menunggu,

 

Justeru itu, terberhentilah penafasanku,

Diikuti dengan nyawaku ditarik pergi.

Maka tinggallah jasadku terkulai sepi.

 

Maka terbukalah Pintu Alam Bazakh,

Maka jiwaku dijemput masuk ke Alam itu

Apabila masuk sahajaku ke dalamnya,

Maka tertanggal kesemua ikatanku kepada dunia.

 

Seperti aku dilahirkan semula lagi,

Tanpa apa jua ingatan serta memori lama.

Begitu juga rupaku berubah, kembali ke rupa asli,

Rupa jiwaku semasa di Alam Azali.

Kesemua di Alam Bazakh berupa seperti ku,

Rupa yang berbeza dengan rupa di dunia,

 

Maka ku pandang ke arah dunia yang ku tinggalkan,

Maka sedarlah aku, mereka dalam lakonan,

Lakonan dunia yang mesti dijalankan,

Mengikut Buku Kehidupan yang dinamakan Takdir,

Berlakonlah mereka sehingga akhir perjalanan,

Iaitu sampai ke akhir hayat mereka dituliskan,

Sesudah itu Jiwa mereka kembali ke Alam Bazakh,

Tempat berihat menunggu Hari Kebangkitan.

 

 

Catatan:

Halkum = Jakun = Adam’s apple

Yang menonjol di kerongkong lelaki

 

  1. Ada rasa DINGIN naik dari Ulu hati ke kerongkongan. Itulah gerakan RUH.
  2. Rasa dingin itu naik ke mata dan memutar bola mata ke atas. Bagian hitam bola mata naik, dan yang kelihatan hanyalah mata putih saja.
  3. Ruh terus di dorong masuk ke dalam kepala dan berputar ke belakang kepala.
  4. Dari belakang kepala Ruh itu di dorong bergerak ke depan ke arah Kening.
  5. Jendela di kening (mata ke tiga) terbuka, lalu ruh keluar dari jendela itu.
  6. Ruh itu bentuknya kecil, dan terapung begitu saja di depan DAHI.
  7. Lalu Ruh di dorong oleh gelombang menuju pintu yang tertutup, yaitu pintu Alam Barzah.
  8. Gelombang itu muncul dari denyutan NYAWA.
  9. Inilah yang dinamakan proses SAKARATUL MAUT.
  10. Ruh terdorong naik sampai Ruh tersebut terhenti di depan pintu Alam Barzah. Ruh itu menunggu hati atau minda batin yang masih tertinggal di jasad.
  11. Jakun terasa bergerak dan berbunyi ‘crk’, lalu hati atau minda batinpun terdorong pergi menyusul Ruh yang sudah menunggu di depan pintu Alam Barzah.
  12. Hati atau Minda Batin bersatu dengan RUH membentuk JIWA. Yang siap masuk ke Alam Barzah.
  13. Nafas berhenti, dan NYAWA ditarik dari Jasad untuk disimpan di Alam Nyawa.
  14. Jasad terkulai layu, dan lalu di kirim ke KUBURAN.
  15. Pintu Alam Barzah terbuka, lalu Jiwa di jemput masuk ke dalamnya.
  16. Begitu masuk Alam Barzah, maka segala ikatan dengan dunia terlepas.
  17. Rasanya seperti dilahirkan kembali seperti semula.
  18. Tidak ada lagi ingatan atau memori tentang kehidupan dunia.
  19. Rupa jiwa juga berubah seperti rupa asli ketika di alam azali.
  20. Rupa semua jiwa yang ada di alam Azali seperti itu. Rupa yang berbeda dengan rupa di alam dunia.
  21. Antara Alam Barzah dan Alam Dunia ada Batas yang tidak bisa ditembus.
  22. Dari Alam Barzah JIWA dapat melihat ke Alam Dunia. Tapi dari Alam Dunia MANUSIA tidak bisa melihat ke dalam Alam Barzah.
  23. Saat Jiwa dari Alam Barzah melihat ke Alam Dunia, sadarlah Jiwa itu bahwa istri (suami), saudara, handai taulan, anak-anaknya, yang masih hidup di dunia ternyata masih sedang menjalankan Peran atau Lakonan yang harus mereka jalankan sesuai dengan KITAB KEHIDUPAN mereka masing-masing, atau TAKDIR mereka. Mereka masih akan berlakon dan berperan di Alam Dunia itu, sesuai takdir mereka, sampai pada Akhir Perjalanan mereka masing-masing pula. Yaitu sampai akhir hayat mereka seperti yang sudah dituliskan dalam kitab takdir mereka masing-masing.
  24. Sesudah sampai akhir perjalanan mereka, maka kelak JIWA merekapun akan menyusul pula kembali ke Alam Barzah.
  25. ALAM BARZAH, adalah alam tempat Jiwa-Jiwa Beristirahat setelah penat menjalankan peranan atau lakonan di Alam Dunia.
  26. Jiwa-jiwa itu beristirahat menunggu Hari Kebangkitan.
  27. Di Alam Barzah itu sudah tidak ada skrip atau peranan yang akan dijalankan oleh Jiwa-Jiwa itu. Tidak ada lagi agama, tidak ada lagi makan dan minum, tidak ada lagi nafsu syahwat, tidak ada lagi ikatan keluarga.

Read Full Post »

DZAT ADALAH CIPTAAN PERTAMA

Anakku yang disayangi lagi dirindui, semasa Allah swt berfirman, “Kun”, maka memancarlah pertamakali cahaya ataupun wajah. Dan wajah inilah yang dinamakan Dzat.

Anakku, Dzat inilah ciptaan yang awal yang menjadi Wujud yang Wajib (Wajibul Wujud) kepada kesemua ciptaan yang lain yang dinamakan Mungkinul Wujud (wujud yang mungkin).

Karena kesemua ciptaan yang lain terzahir daripada Dzat, ini juga bermakna Dzat adalah Hakikat segala ciptaan.

Apabila terzahirnya ciptaan daripada Dzat, maka berupalah atau bersifatlah ciptaan itu, sehingga dipanggil sebagai Sifat.

Maka kesemua ciptaan itu adalah Sifat, sedangkan Dzat adalah Hakikatnya.

Seperti yang telah dikatakan bahwa Dzat adalah ciptaan pertama yang terzahir, namun Dzat ini mengikut Rasulullah saw, hanyalah selaput atau sebesar sebiji sawi kepada Allah swt. Ini berarti bahwa Dzat ini tercipta dari hanya sedikit Diri Allah swt.

Ini juga bermakna bahwa disebalik Dzat, atau Hakikat segala ciptaan yang lain (yang dinamakan “Sifat”), adalah Allah swt. Karena tidak bercerai ekor gajah dengan gajah.

Pengenalan ini yang dinamakan “Makrifatullah”. Prof Aboebakar Atjeh berkata bahwa Hakikat membawa kepada Makrifat.

Untuk menerangkan kesinambungan daripada Sifat kepada Hakikat, Kita bisa merujuk kepada firman Allah swt (yang bermaksud) bahwa apabila kesemua ciptaan dibinasakan yang tinggal adalah DzatKu. Maknanya apabila kesemua kewujudan Sifat atau ciptaan dinafikan atau dibinasakan yang tinggal adalah Dzat. Ini juga bisa dikatakan “Nafi-Isbat” iaitu Kita nafikan Sifat atau Ciptaan dan Kita isbatkan Hakikat atau Dzat.

Lalu, untuk merujuk kepada sinambungan Hakikat kepada Makrifat, Kita bisa merujuk kepada Hadith Rasulullah saw yang bermaksud bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Indah. Maknanya, apabila Kita nafikan kewujudan Dzat (Hakikat), maka disebaliknya adalah Allah swt (Makrifat). Ia juga bisa diartikan bahwa Dzat yang sungguh-sungguh Indah itu datang dari Allah swt.

Maka bolehlah disimpulkan bahwa Allah swt tetap Pencipta dan Dzat tetap ciptaan walaupun Dzat adalah yang awal yang terzahir daripada sedikit Diri Allah swt.

Maka wajah yang dikatakan itu bukanlah Nur Muhammad. Karena wajah ataupun Dzat adalah ciptaan walaupun ianya adalah ciptaan yang pertama. Sedangkan Nur Muhammad, seperti diterangkan oleh mereka yang berfahaman ini, adalah sebahagian dari Allah swt, dan tidak berbeda Muhammad dengan Allah. Iaitu “Ahmad” (nama Rasulullah saw dilangit sebelum dilahirkan) dibuang “m” menjadi “Ahad” (Allah yang Satu).

Dan juga firman Allah swt yang bermaksud bahwa, apabila kesemua ciptaan (Sifat) binasa yang tinggal adalah Dzatku (bukan Nur Muhammad).

Serta Hadith Rasulullah saw yang bermaksud, ” Demi diriku dalam genggaman Dzat” bukan “dalam genggaman Nurku”

Rio Benny Arya:
Terimakasih ustadz. Semakin menjelaskan duduk perkaranya.

Dahulu sebagian orang. Masih bingung, adakah dzat itu diciptakan juga? Terutama pertanyaan2 dari web. Sekarang semakin jelas bahwa dzat itulah ciptaan pertama.
TIRAI NUR
Anakku, Ayah mau menyentuh berkenaan dengan Tirai Nur

Menurut Rasulullah saw ada 70 Tirai Nur yang menyelubungi Loh Mahfuz dari Dzat yang di luar. Sekiranya terangkat Tirai Nur ini, maka siapa saja terpandang Dzat yang di luar pastilah ia binasa.

Untuk memahami Hadith ini, lihat kepada susunan di bawah ini:

1. Kalau terangkat Tirai ini, siapa (dalam Loh Mahfuz) terpandang Dzat yang di luar pastilah ia binasa. Jelas dari penerangan ini, bahwa Tirai Nur dijadikan oleh Allah swt khusus untuk melindungi Loh Mahfuz (termasuk semua yang di dalamnya) dari Dzat diluar yang membinasakan. Oleh sebab itu, walaupun Dzat ada di belakang Tirai Nur ini, namun Tirai Nur ini tidak binasa.

2. Siapa terpandang Dzat di belakang Tirai Nur (apabila ia terangkat) pastilah ia binasa.

Pertanyaannya adalah: apakah di luar Tirai Nur itu, semuanya adalah Dzat?

Untuk menjawab pertanyaan ini, harap ikuti penjelasan di bawah ini:

1. Dalam Surah An Nur 35, “… di dalam sebuah Lobang yang tidak tembus, ataupun bekas, itu ada Minyak Zaitun yang bercahaya…”. Minyak Zaitun ini adalah (kiasan untuk) Dzat. Maka Dzat yang di dalam bekas itu, bagian tengahnya terzahir menjadi Loh Mahfuz (Pelita) yang diselubungi oleh Tirai Nur (Kaca yang bersinar seperti bintang).

2. Contoh, apabila Kalian tekan plastercine dengan tangan Kalian, maka akan ada bekas di plastercine itu. Sesudah itu, kalian taruh air setengah penuh ke dalam bekas itu. Lalu apa yang terjadi?. Pertengahan air itu mengeras menjadi AIS (ES) dikelilingi oleh air yang belum menjadi AIS (ES) di dalam bekas itu.

Di sini:
(i) Bekas itu adalah Lobang yang tidak tembus,
(ii) Air itu adalah Minyak Zaitun ataupun Dzat,
(iii) Dan AIS (ES) itu adalah penzahiran Dzat yang menjadi:
a. Loh Mahfuz (Pelita) dan
b. Tirai Nur (Kaca).

3. Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa Dzat yang di luar yang dimaksudkan adalah Dzat yang di luar Tirai Nur tetapi masih di dalam bekas.
Rio Benny Arya:
Assalamualaikum ustadz, mohon izin menyampaikan pertanyaan dari Web Yamas

*Deddy Firmansyah*
Ustadz, 70 tirai nur itu pernah terbuka/tersingkap sekali pada saat dan di masa Nabi Musa As.
Begitukah kemungkinannya ustadz…?!. Seandainya memang benar bahwa Tirai Nur dahulu di jaman Nabi Musa pernah tersingkap, kenapa yang hancur mesti gunung sinai dan yang pingsan Nabi Musa AS saja. Bagaimana dengan makhluk lain di sekitarnya, apakah ikut hancur juga pada masa itu… Ustadz…??!!.

Utd Hussien Abdul Latiff:

1. Yang terbuka hanya SEDIKIT Tirai Nur yang Pertama. Bukan kesemua 70 Tirai.

Harus diingat, Rasulullah saw melihat ahli syurga dan Neraka. Bagaimana ini bisa terjadi?. Padahal belum ada Kiamat dan Hari Hisab. Jawabannya ialah Rasulullah saw melihat GAMBARAN. Oleh sebab itu ada para Saintis berkefahaman bahwa kewujudan ini adalah gambaran 2-D, iaitu melekat kepada sesuatu.

Sehubungan dengan ini, Kewujudan ini melekat kepada Loh Mahfuz. Di belakang Loh Mahfuz adalah Tirai Nur dan dibelakangnya adalah Dzat yang di luar.

Contoh, gambar atau foto itu terzahir dari kertas putih. Kalau hilangkan sedikit akan gambar itu, maka di tempat yang sedikit itu akan terlihat adanya sedikit kertas putih. Inilah sedikit dari kesemua kertas putih disebalik gambar itu. Maka kalau kertas putih itu adalah Tirai Pertama maka Allah swt hanya perlu menghilangkan sedikit gambaran kewujudan di Bukit Thursina untuk memperlihatkan Tirai Nur Pertama disebaliknya.

2. Ada firman Allah swt berkenaan Bukit Thursina ini di angkat di atas Nabi Musa as dan Nabi Musa as di suruh melihat ke arah Bukit Thursina. Juga ada firman menunjukkan Nabi Musa as turun di waktu Malam setelah mendapat wahyu daripada Allah swt. Dan telah dikatakan bahwa muka Nabi Musa as bercahaya hebat semasa turun waktu malam itu sesudah menerima wahyu itu.

Maka jelas Bukit Thursina ini (i) tinggi dan (ii) jauh daripada Nabi Musa as. Karena itu dia disuruh melihat kearah Bukit ini sebelum Tirai Nur Pertama tajjali. Lalu dia pingsan, namun Bukit itu dan apa juga yang ada di Bukit itu hancur luluh.
Anakku, ayah akan sambung lagi berkenaan Tirai Nur.

Serentak dengan Allah swt berfirman “Kun” terjadi:

1. Satu bebola cahaya (wajah) yang boleh membakar siapa yang terpandang akannya.

2. Bebola cahaya ini dipanggil Dzat.

3. Dzat ini tertangkup dalam satu lobang kecil yang tidak tembus atau tidak ada pintu keluar. Kecil, sekecil sebiji sawi mengikut Rasulullah saw. Kecil, lebih kecil dari sebiji pasir mengikut Nabi Isa as dan kecil, lebih kecil dari zarrah (atom) mengikut Sains.

4. Dzat ini walaupun bercahaya yang membinasakan sesiapa terpandang akannya. Namun dalam perut Dzat ini terzahir:

a. 70 Tirai Nur.

b. Loh Mahfuz.

Tirai Nur ini adalah terzahir di dalam perut Dzat. Oleh sebab itu, Dzat yang di luar menjadi batinnya. Maksudnya, Dzat yang di dalam terzahir menjadi Tirai Nur, oleh karena itu Dzat yang di luar menjadi batinnya.

Selain dari terzahirnya di dalam perut Dzat ini menjadi Tirai Nur, juga terzahir Loh Mahfuz (Pelan Induk)

Tirai Nur menangkup keseluruhan Loh Mahfuz, oleh kerena itu Tirai ur ini melindungi Loh Mahfuz dari Dzat yang di luar yang membinasakan sesiapa yang memandangnya.

5. Dzat ini juga yang menjadi awal Dan akhir dari ciptaan. Sesuai dengan Hadith bahwa engkaulah Dzat mendahulukan dan mengakhirkan. Seiring dengan firmanNya,”Inna lillahi wainna ilaihi rajiun!”

6. Dzat ini juga menjadi wajibul wujud kpd kesemua ciptaan.
Apa yang Ayah ingin tekankan adalah bahwa:

1. Tidak bercerai Dzat yang terzahir menjadi Tirai Nur dengan Dzat yang di luar yang menjadi batin dari Tirai Nur.

2. Loh Mahfuz adalah Pelan Induk yang melekat kepada Tirai Nur (2 dimensi).

3. Selagi Tirai Nur tidak terbuka, maka selamatlah Loh Mahfuz dari Dzat yang di luar yang menangkup Tirai Nur itu.
Mohd Zain Othman:
Assalamualaikum Ustadz. Berhubungkait dengan Tirai Nur yang baru saja ustaz uraikan, izinkan saya menyampaikan apa yang saya fahami tentang perkara itu, untuk diperbetulkan.

Serentak dengan Allah berfirman ‘Kun’ maka sedikit dari diri Allah, tak sampai sebesar zarah atau sebiji pasir telah terzahir dari Diri Allah, menjadi Dzat Yang Wajibul Wujud. Dan di dalam Dzat ini, yang kedudukannya tidak terkeluar dari tempat kelahirannya, yaitu di lubang atau bekas yang tidak tembus di dalam Diri Allah itu sendiri, ini saya katakan karena Allah itu senditi Maha Besar Maha Luas Maha Tinggi (tidak bertepi). Dengan lain2 perkataan LM itu sendiri berada di dalam diri Allah itu sendiri ( pendapat saya). Di sini saya ingin bertanya ustaz, apakah LM Tirai Nur, Air, dan Arash itu juga melekat pada Dzat Wajibul Wujudc( ciptaan awal apabila Allah berfirman ‘ Kun’. Sekian terima kasih kepada ustaz karena sudi membetulkan.
Utd Hussien Abdul Latiff:
Alhamdulillah, semua Mungkinul Wujud melekat kepada hakikatnya yang Wajibul Wujud iaitu Dzat.
Rio Benny Arya:
Ustadz, Kekata “kun” itu juga melekat kepada Dzat. Begitukah ustadz? Karena kalimat KUN ada di dalam Loh Mahfuz. Betulkah ustadz?
Utd Hussien Abdul Latiff:

SERENTAK dengan Firman “Kun”, maka terciptalah:

1. Dzat yang Wajibul Wujud.

2. Loh Mahfuz, iaitu pelan induk Allah swt yang termasuk di dalamnya Tirai Nur, perkataan “Kun”, dan lain-lain ciptaan yang Mungkinul Wujud. Harus diingat bahwa LM adalah Pelan Induk Allah swt untuk kesemua ciptaanNya yang Mungkinul Wujud.

Penganut Kristian berkata bahwa perkataan “Kun” adalah sebagian dari Tuhan. Mereka berkata bahwa Pertama ada perkataan (Kun), perkataan ini ada bersama Tuhan dan perkataan menjadi (sebahagian) Tuhan. Ini tidak benar karena Rasulullah saw ada bersabda bahwa Dzat-lah yang mendahulukan dan Dzat-lah mengakhirkan.

Maka jawapan kepada pertanyaan sahabat Rio ialah: Perkataan “Kun” itu berada di dalam LM bukan melekat kepada Dzat. Yang melekat kepada Dzat ialah LM.

Rio Benny Arya:
Alhamdulillah. Clear ustadz. Kun di dalam LM. LM melekat pada dzat.

Mohd Zain Othman:
Assalamualaikum ustaz dan keluarga semuga sehat walafiat dan di barkati Allah. Izinkan saya membuka persoalan pada awal pagi ini dengan pertanyaan:

Apakah maksud ‘melekat’ itu sama dengan “tiada bercerai” seperti tiada bercerai sifat dengan dzat wajibul wujud seterusnya tiada bercerai dengan dzat Yang Maha Indah atau tiada bercerai “mungkinul wujud dengan wajibul wujud” dan seterusnya. Mohon pencerahan ustaz, terima kasih.

Utd Hussien Abdul Latiff:
Benar, sahabatku Hj Zain
Anakku, apabila terzahir (berbunyi) perkataan “Kun” di dalam Pelan Induk Ilahi (Loh Mahfuz) maka karena pada ketika itu belum ada Masa lagi maka serentak dengan itu terjadi:

1. Lobang yang tidak tembus.
2. Dzat di dalam Lobang itu.
3. Terzahir Tirai Nur.
4. Terzahir Loh Mahfuz.
5. Berbunyi perkataan, “Kun” di dalam Loh Mahfuz.

Sesudah itu Allah swt memasukkan Tirai Nur dan Loh Mahfuz ke dalam enam Masa (atau Fasa). Mengikut Sains, 6 Masa ini adalah 12 biliun tahun, iaitu satu Masa sama dengan 2 biliun tahun.

Kiamat Pertama berlaku pada Masa kelima, iaitu Masa 10 biliun tahun apabila matahari gering.

Kiamat kedua berlaku pada akhir Masa keenam apabila Tirai Nur terlerai (terbuka), dan Dzat yang luar lalu membinasakan Tirai Nur serta Loh Mahfuz. Melainkan jika Allah swt menghendaki yang lain.

Pada Kiamat kedua, Dzat akan hilang, begitu juga lobang yang ada akan tertutup. Walhasil, yang tinggal hanyalah Allah swt yang Tunggal, yang tiada diketahui lagi dan tiada dikenali.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: