Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2018

IBADAH

 

Dulu…, setelah ia merasa makrifat kepada Allah, dan ia merasa sudah bisa pula bertemu dengan Allah, apalagi kalau shalatnya sudah bisa lama, dan sudah ada pula rasa sambungnya, maka ia mulai agak bingung. “What is next?”, katanya. Petanya tidak ada. Ia malah mulai merasa tidak nyaman untuk shalat berjamaah dimasjid, karena ia merasa terganggu dengan kecepatan orang-orang lain dalam shalat itu. Ia merasa imamnya yang kecepatanlah gerakan shalatnya, ia merasa orang-orang disekitarnya belum khusyuklah, dan sebagainya. Rasanya ia ingin sekali melatih orang-orang itu agar mereka bisa khusyuk di dalam shalat seperti shalatnya. Atau agar mereka bisa tersambung dengan Allah, agar dada mereka bisa terbuka untuk menerima keimanan.

 

Tetapi sekarang, ayahnya mengajarkannya agar ia berbenah diri saja dalam ibadah-ibadah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Ayahnya mengajarkannya untuk mengerjakan semua amalan itu dalam keadaan hatinya selalu ingat kepada Allah. Dan ternyata memang ibadah-ibadah itu dan juga dzikrullah, harus didasari oleh makrifatullah, pengenalan kembali kepada Allah, sehingga cahaya makrifatullah itu sendirilah yang akan membuat hatinya condong untuk dzikrullah dan melakukan ibadah-ibadah sunnah itu.

 

“Anakku, dengarlah nasihat ayah selanjutnya, setelah kamu dapat mendirikan shalat ataupun dzikr ataupun berdoa dengan hanya mengingati Allah swt tanpa mensyirikkanNya, maka hendaklah setelah itu kamu istiqamah dengan menambahkan lagi amalan kamu dengan ibadah-ibadah sunnah. Allah swt ada berfirman yang maksudnya”:

 

“Tidak ada cara yang dapat mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku seperti melaksanakan fardhu-fardhu-Ku dan sesungguhnya ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan hal-hal yang sunnah sehingga cintalah Aku kepadanya. Dan sesudah Aku mencintainya aku jadi kakinya yang dengannya ia berjalan, tangan yang dengannya ia memukul, lidah yang dengannya ia berkata , dan hatinya yang dengannya ia berfikir. Bila ia meminta kepada-Ku Aku memberi dan bilaia berdoa Aku menerima doanya”, (H Salim Bahreisy, 272 Hadits Qudsi, 76).

 

“Oleh sebab itu kamu lakukanlah amalan-amalan berikut ini secara istiqamah”:

 

  1. SHALAT MALAM

 

Bangunlah sembahyang Tahajud pada waktu malam, selain dari sedikit masa (yang tak dapat tidak untuk berehat),  Iaitu separuh dari waktu malam atau kurangkan sedikit dari separuh itu. Al Muzammil (73):2-4

 

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Al Israa (17):79.

 

“Kamu shalat tahajudlah 20 rakaat dan 3 rakaat witir. Lakukankan itu srtiap malam. Kalau engkau di dalam perjalanan, rakaatnya boleh kamu kurangi menjadi 8 rakaat dan 3 rakaat witir”.

 

Setelah empat rakaat, kamu bisa duduk rileks sebentar sambil kamu tetap ingat kepada Allah.

 

  1. PUASA SUNNAH.

 

“Puasa sunnah ini adalah ibarat jihadmu sendiri melawan hawa nafsumu, karena hawa nafsumu itu tidak pernah holiday”.

 

“Apabila ahli-ahli sufi berkata tentang taubat, jihad melawan nafsu, muraqabah (merasa kewujudan Allah swt), mereka disanjung oleh para muhaddithun, Muhammad Abdul Rauf, The Muslim Mind, 76 (1994)”.

 

“Seseorang yang berpuasa sehari kerana mengharapkan keredhaan Allah akan Allah jauhkan neraka pada hari itu dari mukanya sejauh perjalanan tujuh puluh tahun. At Tirmidzi Bk. 3, 199 (1993)”

 

“Anakku, Jumhur ulama’ termasuk Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad dan Imam Ishaq berpendapat bahwa seseorang itu boleh berpuasa sepanjang tahun kecuali 5 hari yang diharamkan”.

 

“Seseorang itu tidak diwajibkan berbuka kecuali pada 5 hari yang terlarang oleh Rasulullah (saw) iaitu: Idul Fitri, Idul Adha dan hari-hari Tasyriq” Terjemahan Sunan At-Tirmidzi, bk 2, 92, (1993)

 

“Harithah (ra) malam beribadah dan siang berpuasa sehingga merasakan seolah-olah melihat Aras Allah terkeluar daripada langit. Apabila ini diketahui oleh Rasulullah (saw), baginda telah bersabda bahwa Harithah (ra) sudah mengenal keimanan dan hendaklah dia beristiqamah dengan amalannya itu. Al Hujwiri, Kasyful Mahjub, 43 (1994); Abdul Qadir As Sufi, The Way of Muhammad, 29 (1975)”.

 

Dari sudut sains juga mengesahkan bahwa puasa adalah sesuatu yang dapat membantu kesehatan kita.

 

Washington, April 4 (IANS) Do you know that fasting, long associated with religious rituals, diets and political protests, also ensures good health and protects your heart? New evidence from the Intermountain Medical Centre Heart Institute in Utah shows that periodic fasting not only lowers one’s risk of coronary artery disease and diabetes, but also causes changes in blood cholesterol levels.

http://sg.news.yahoo.com/fasting-ensures-good-health-protects-heart-20110404-022033-539.html

 

“Oleh sebab itu kamu usahakanlah agar kamu bisa puasa sunnah itu, apakah senen-kamis, atau puasa dawud, atau senen sampai kamis, atau senen sampai jum’at atau sabtu. Saya sendiri puasa dari senen sampai Sabtu. Hari minggu saya tidak berpuasa, karena pada hari minggu itu sering ada hantaran undangan kepada saya untuk menghadiri pernikahan anaknya”.

 

Lalu sejak beberapa tahun terakhir ini, ia pun alhamdulillah bisa melakukan puasa sunnah seperti yang disarankan oleh ayahnya. Alhamdulillah ia sudah terbiasa berpuasa dari senen sampai jumat untuk setiap minggunya.

 

  1. SEDEKAH

 

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu nafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Ali Imran (3):92

 

 

  1. MEMBACA AL QURAN

 

Orang yang membaca Al Quran dan ia pandai membacanya akan (dikumpulkan) bersama para utusan yang mulia lagi berbakti. Dan orang yang membaca Al Quran dan merasa sukar maka baginya dua pahala. Sunan At Tirmidzi, Bk 4, 501 (1993)

 

Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, dicatatkan baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan itu dilipat gandakan menjadi sepuluh seumpamanya. Aku tidak katakan “Alif Laam Mim” itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Mim satu huruf. Sunan At Tirmidzi, Bk 4, 508 (1993)

 

  1. KEZUHUDAN

 

Nabi Muhammad saw wafat dengan tidak meninggalkan harta apa-apa. Hamka juga pernah menulis bahwa pada suatu hari Sayidina Umar Al Khattab (ra) memasuki bilik Rasulullah saw lalu dia menangis karena dia lihat bilik itu tidak berperhiasan dan hanya ada sebuah bangku yang alasnya adalah dari jalinan daun- daun kurma. Di dinding bilik itu ada tergantung sebuah guriba untuk berwudhu. Maka ditanya oleh Rasulullah (saw) sebab kenapa  Sayidina Umar (ra) menangis dan Umar menjawab:

 

Bagaimana aku tidak terharu ya Rasulullah (saw). Hanya sebegini keadaan yang ku dapati di bilikmu ini. Tidak ada perkakas, tidak ada kekayaan. Padahal seluruh kunci Masrik dan Mahgrib telah dalam gengamanmu, kekayaan telah berlimpah-limpah. Hamka, Perkembangan Tasauf dari Abad ke Abad, 64 (1976).

 

 

  1. SIFAT KASIH SAYANG

 

Sesungguhnya pada hari kiamat kelak Allah akan berfirman, “Manakah orang-orang yang saling mencintai karena KebesaranKu? Pada hari ini Aku akan menaungi mereka dalam Naungan-Ku, di mana tidak ada naungan sama sekali kecuali NaunganKu. Terjemahan Sahih Muslim Bk 4 :494

 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. Mariam (19):96

 

  1. BERPAUT KEPADA SYARIAH

 

Aku telah meninggal kepada kamu dua rujukan yang sekiranya kamu berpegang teguh kepada kedua-duanya kamu tidak akan sesat, iaitu Kitab Allah swt (Al Quran) dan Ahadith ku (As Sunnah). Al Muwatta, Vol. II, 544 (1994)

 

Bagi tiap-tiap umat Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan. Al Hajj (22):67

 

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.

Al Maidah (5):48

 

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Al Maidah (5):45

 

  1. SEBENAR-BENAR TAKUT KEPADA ALLAH SWT

 

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka… Al Mulk (67):12.

 

Uwais Al Qarni ada berkata (maksudnya):

 

“Saya hidup pada maqam takut kepada Tuhan iaitu suatu maqam, manakala seseorang itu sampai di sini, ia pun takut kepada Tuhan seperti ia berdosa membunuh semua manusia.” Hj Zainal Ariffin Abbas, Ilmu Tasawuf, 276-277 (1991)

 

Bersambung

Iklan

Read Full Post »

Di rumahnya, ia coba shalat dengan keadaan mindanya yang berisikan ingatan kepada Allah itu.

 

“Allahu Akbar…”, baru saja ia mengucapkan Allahu Akbar, bulu roma berdiri entah kenapa. Air matanya tiba-tiba merebak disudut-sudut matanya. Suaranya menjadi lirih dan seperti terisak halus.

 

“Arrahmaanirrahiim…”, isaknya jadi semakin keras. Seakan-akan ada kerinduannya yang sedang membuncah dan menemukan muaranya saat itu. Ia seperti merasakan kembali kasih sayang Allah yang sudah sangat lama sekali tidak pernah lagi ia rasakan.

Rukuk dan sujudnya menjadi rukuk dan sujud yang sangat berkesan baginya, walaupun ruku dan sujudnya itu tidak berlama-lama lagi seperti yang dulu-dulu ia lakukan. Karena saat sujud itu, di dalam mindanya tidak ada lagi ingatan kepada yang lain selain dari ingatan keapda Allah swt, maka di dalam sujudnya itu ia benar-benar merasa sangat-sangat amat dekat dengan Allah swt.

 

Dulu, saat ia berada dalam sebuah komunitas, di dalam sujudnya itu seperti ada jarak antara ia dengan Allah. Itu terasa karena saat sujud itu ia masih harus menjalankan sesuatu (rohanianya) dari dalam dadanya untuk tersambung dengan Allah. Karena ada rohaninya yang berjalan, maka ia merasa ada jarak antara ia dengan Allah saat itu. Makanya sujudnya itu harus ia lama-lamakan sampai ia bisa merasakan adanya rasa sambung antara rohaninya dengan rohani Allah. Kata gurunya dulu itu harus begitu. Harus ada rasa sambung antara rohaninya dengan rohani Allah. Kalau sudah ada rasa sambung itu, maka itu artinya sudah ada respon dari Allah. Seperti yang dimaksudkan ayat: “Fadzkuruni adzkurkum, ingatlah Aku, Aku akaa ingat kamu”, kata gurunya ketika itu.

 

Sekarang barulah ia paham tentang sabda Rasulullah saw, bahwa “Posisi seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia dalam posisi sujud.” HR. Muslim. Dan ternyata susana kedekatan seperti itu hanya dan hanya akan bisa ia rasakan ketika mindanya hanya berikan satu ingatan saja, yaitu ingatan kepada Allah.

 

Makanya ketika ia mengucapkan doa: ”rabbigfirlii…, warhamnii…, wajburnii…, warfa’nii, wardzuqnii…, wahdinii…, wa’aafinii… wa’fuannii”, ia merasakan bahwa saat itulah saat-saat terindah yang kembali bisa ia rasakan. Rasanya ia pernah merasakan suasana seperti itu dulu yang entah kapan waktunya. Cahaya Makrifat yang telah dikuakkan oleh ayahnya kepadanya, seperti kembali bisa ia rasakan.

 

“Assalamualaikum warah matullaah…”, katanya mengakhir shalatnya. Dan ketika itu pulalah ia merasakan seluruh beban berat yang menggandolinya selama ini menjadi hilang entah kemana. Ia seperti telah kembali menjadi orang yang merdeka…

 

Untuk sekian lama, ayahnya hanya berulang-ulang mengajarkannya tentang Dzikrullah itu. Bagaimana caranya ia seharusnya melihat berbagai ciptaan dan peristiwa yang ada dihadapan matanya. Bahwa walaupun matanya masih melihat ada SIFAT di depannya saling berinteraksi, namun matahatinya sudah sangat tajam untuk melihat bahwa disebalik sifat itu ada Dzat-Nya sebagai HAKEKAT yang sebenarnya sedang bergurau senda, dan mindanya sudah dapat pula menembus hakekat itu dengan pintu ingatannya untuk bertemu dengan MAKRIFAT, yaitu Allah swt.

 

Ingatannya mengingat kepada Allah swt, matahati melihat pada Dzat yang tidak serupa dan tidak seumpama, dan matanya melihat “sepintas lalu saja” kepada sifat-sifat yang ada di depan matanya. Dengan begitu, maka lama-lama sifat-sifat itu seperti sudah tidak teregistrasi lagi di dalam hati atau mindanya. Ia seperti dengan mudah melupakannya. Karena hatinya hampir selalu penuh dengan hanya ingatan kepada Allah swt…

 

Hanya saja, untuk memperjernih cahaya Makrifat yang telah mulai kembali bercahaya di dalam hatinya, ia diajarkan pula oleh ayahnya untuk melakukan berbagai ibadah-ibadah sunnah. Ayahnya sangat menekankan agar ia melakukan 8 ibadah berikut ini sekuat tenaganya, yaitu

 

  1. SHALAT MALAM (TAHAJUD)
  2. PUASA SUNNAH SEBANYAK-BANYAKNYA (KECUALI 5 HARI)
  3. BACA AL QURAN
  4. SEDEKAH
  5. ZUHUD
  6. HATI MAU BAIK
  7. BERPEGANG PADA SYARIAT
  8. SEBENAR TAKUT KEPADA ALLAH

 

Bersambung

Read Full Post »

Buat beberapa saat iapun dilatih oleh ayahnya untuk mengingat Allah. Ia mulai dari pintu doa. Ia diarahkan oleh ayahnya untuk berdoa. Ia fokuskan ingatannya hanya untuk ingat kepada Allah. Matahatinya ia tumpukan kepada mindanya yang sedang ingat kepada Allah itu. Lalu mulailah ia berdoa. Selama berdoa itu memang ia tidak perlu merupakan atau membayangkan seperti apa Allah swt tempat ia berdoa itu. Yang pasti untuk beberapa saat ia hanya ingat kepada Allah swt, dan ia menyampaikan doanya itu kepada Allah Swt yang sedang ia ingat itu.

 

Selesai berdoa, ayahnya memintanya untuk tetap fokus dalam mengingat Allah swt seperti saat ia berdoa tadi itu. Mata hatinya ia jaga agar tetap tertumpu pada ingatannya kepada Allah. Mata hatinya tidak turun ke matanya.

Ia tahan tumpuan itu agar matahatinya tidak turun ke bawah keningnya. Ia coba membuka kelopak matanya dengan jari-jarinya. Kelopak matanya itu agak sulit untuk dibuka. Ia coba mengendorkan fokus matahatinya itu dari mindanya, eh…, kelopak matanya itu mudah sekali dibukanya. Dengan sekejap ia bisa mengerti makna dari ingatan yang fokus dan ingatan yang tidak fokus.

 

Saat ia mengingat Allah swt dengan mindanya itu, matahatinya confirm dengan tidak melihat rupa apa-apa, tidak ada rupa dan tidak ada umpama. Dan pendengarannya juga confirm dengan tidak mendengar suara apa-apa.

 

Sambil tetap mengingat Allah, ia tengokkan matahatinya ke belakang kepalanya, matahatinya itu tidak melihat apa-apa. Ia tengokkan matahatinya itu kebeberapa tempat di dalam benaknya, matahatinya itu tetap confirm dengan tidak melihat apa-apa. Ingatannya kepada Allah tetap bisa ia pertahankan selama proses itu berlaku. Ia coba rukuk dan sujud, ingatannya kepada Allah masih bisa ia pertahankan. Ia coba melakukan beberapa gerakan dan bacaan shalat, ingatannya kepada Allah itu masih tetap belum tergoyahkan. Ia tidak ingat kepada yang lain selain hanya ingat kepada Allah yang sedang ia ingat.

 

Ayahnya kemudian memintanya untuk memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan, mencondongkan badannya ke depan dan ke belakang. Anehnya ingatannya kepada Allah swt masih tetap saja bisa bertahan. Hampir 30 menit ia melakukan apa-apa yang disuruhkan oleh ayahnya, dan hampir selama itu pula ingatannya selalu bisa ia pertahankan untuk hanya mengingat Allah swt.

 

Sekarang barulah ia paham bahwa yang bisa bertahan lama untuk dzikrullah itu adalah ingatan bukan sebutan atau bacaan. Selama ini yang ia tahu adalah bahwa dzikrullah sebanyak-banyak itu adalah ketika hatinya yang ada di dalam dadanya bisa menyebut-nyebut Allah-Allah-Allah dalam waktu yang lama. Beberapa orang gurunya terdahulupun berkata begitu. Konon gurunya terdahulu itu hatinya, yang katanya ada di dalam dadanya, sudah bisa berdzikir terus kepada Allah. Hati gurunya itu selalu menyebut Allah setiap saat. Dan itulah yang gagal ia dapatkan walaupun ia telah berlatih dengan gurunya terdahulu itu selama belasan tahun.

 

Ternyata memang yang ia lakukan dulu itu adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Dzikrullah ternyata maknanya adalah Mengingat Allah. Dan alat yang dipakai untuk mengingat Allah itu ternyata bukanlah dada atau hatinya yang ada di dalam dadanya. Bukan. Untuk Dzikrullah yang benar, yang dipakai adalah hati, akan tetapi hati yang dimaksudkan itu adalah hati yang halus yang terdiri dari 3 komponen, yaitu minda, penglihatan, dan pendengaran.

 

Dengan memaknai dzikrullah sebagai mengingat Allah, maka ini bersesuaian dengan ayat Al Quran yang menerangkan bahwa aktifitas Dzikrullah itu adalah seperti ia mengingat orang tua atau nenek moyangnya:

 

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka ingatlah Allah, sebagaimana kamu mengingat-ingat nenek moyangmu, atau bahkan ingatlah lebih dari itu…”, Al Baqarah 200.

 

Ternyata kesederhanaan Dzikrullah yang maknanya adalah mengingat Allah, seperti yang disebutkan oleh ayat itu, sudah tenggelam selama ratusan tahun dengan maraknya dzikir ala tarekat jalan wali-wali yang berkembang ditengah-tengah umat Islam. Dzikir seperti itulah ternyata, salah satu penyebab, yang telah membawa kemunduran bagi peradaban umat Islam. Karena sejak itu umat Islam sudah tidak mau lagi menggunakan Mindanya untuk mengingat Allah, sehingga minda itupun kosong dari ilham-ilham yang seharusnya akan mencemerlangkan peradaban umat Islam. Tetapi begitulah memang jalan cerita kehidupan yang harus dilalui oleh umat Islam…

 

Hal lain yang juga sangat mencengangkannya adalah bahwa Ingatan itu ternyata sangatlah tajam. Lebih tajam dari pisau setajam apapun. Ingatan itu dapat menembus apa saja yang tak terpandang oleh mata, yang tak terlihat oleh matahati, dan yang tertembus oleh tenaga sekuat apapun juga. Ia bisa menembus tembok dan dinding baja setebal apapun. Ia bisa menembus jarak, ruang, dan waktu. Ia bahkan bisa menembus Dzat sebagai hakikat dari seluruh ciptaan untuk bertemu dengan Makrifat, yaitu Allah Swt, sebagai akhir dari segala ingatan yang masih bisa diingat.

 

Sedangkan matahati paling kuat hanya bisa sampai melihat kepada Dzat, sebagai hakekat dari semua ciptaan. Dan cara matahati untuk bisa melihat Dzat itu juga tidak sulit, yaitu dengan hanya menafikan semua ciptaan dan mengisbatkan Dzat yang berada disebalik semua ciptaan itu.

 

Maksud dari menafikan itu adalah walaupun ia nampak kepada makhluk atau ciptaan yang ada didepan matanya, namun ciptaan itu tidak terdaftar, tidak dilayani, tidak dihiraukan oleh mindanya. Jadi menafikan itu bukan menghilangkan makhluk. Bukan. Tapi kalau pun terpandang, ia hanya memandangnya sekilas lalu saja. Dan setelah itu ia melupakannya begitu saja.

 

Berjam ia mencoba mengingat Allah swt dengan cara yang baru saja diajarkan oleh ayahnya, apakah ketika shalat, diluar shalat, dan ketika ia sedang bekerja. Dan hampir selama itu pula seakan-akan mindanya bisa berisikan hanya satu hal saja, yaitu INGATAN kepada ALLAH Swt.

 

Bersambung

Read Full Post »

5. Apabila kamu sudah membuat sepenuh tumpuan untuk mengingat Allah swt, maka terkuncilah kelopak mata kamu. Kelopak mata kamu yang terkunci itu agak sulit untuk kamu buka dengan tanganmu. Kalau kelopak matamu masih mudah untuk di buka, itu artinya ingatan kamu masih belum terkunci. Sesederhana itu saja tandanya wahai anakku.

 

koncian

koncian-2

 

Tutuplah semua segi itu dengan kesadaran tauhid kepada Allah. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 148 (1990)”

 

“Kesimpulan dari memakai pintu doa ini untuk mengingat Allah swt adalah, bahwa apabila kamu berdoa kepada Allah swt, apa yang berlaku adalah:

 

  1. Kamu mengingati Allah swt tanpa mensyirikkanNya.
  2. Kamu focus atau  membuat  sepenuh  tumpuan  (fokus) untuk mengingati Allah itu.
  3. Sesudah kamu focus barulah kamu mulai berdoa”.

 

“Cara yang sama juga kamu akan gunakan dalam shalat atau untuk berdzikullah dengan makna yang sebenarnya (mengingat Allah), ataupun ketika kamu berniaga, iaitu:

 

  1. Kamu mengingat Allah swt tanpa mensyirikkan-Nya.
  2. Kamu fokus atau memberi sepenuh tumpuan kepada mengingati Allah swt.
  3. Sesudah focus barulah kamu mulai shalat, ataupun dzikrulah sampai selesai, atau ketika kamu sedang berkerja dan berdagang.

 

Ketika Shalat

shalat

 

 

Ketika Dzikrullah

dzikir

 

 

Ketika Hidup Keseharian.

keseharian

Lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli daripada mengingati Allah. An Nur (24):37”.

 

Bersambung

Read Full Post »

4. Cara untuk mengingat Allah swt (Dzikrullah):

 

“Anakku, saya sudah sampaikan kepadamu sebelumnya bahwa cara yang paling baik untuk mengingat Allah adalah dengan menggunakan pintu doa. Istimewanya pintu doa ini adalah karena:

 

a. Pintu doa itu senantiasa terbuka bagi kamu untuk berkomukasi ataupun menghubungi Allah swt kapan-kapan saja. Ini sesuai dengan dalil-dali berikut ini, yang bermaksud:

 

  • Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Al Baqarah (2):152.

 

  • Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Al Baqarah (2):186

 

  • Aku bersamanya jika ia mengingati Aku. Sekiranya ia mengingati Aku dalam dirinya, Aku akan mengingatinya dalam DiriKu. Sahih Muslim Buku 4, 608 (1994)

 

  • Apabila hamba-Ku mendekati Aku sejengkal maka Aku mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati Aku sehasta maka Aku mendekatinya sedepa. Dan bila dia mendekati Aku sedepa, Aku akan datang menemuinya lebih cepat lagi. Sahih Muslim Buku 4, 608 (1994).

 

 

b. Semasa kamu berdoa   atau   bermunajat   kepada   Allah swt, kamu hanya  mengingati-Nya tanpa merupakan ataupun mengumpamakan-Nya.

 

  • Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa jua An Nisa (4):36.

 

  • Oleh itu jika kamu tumpukan hati kepada yang lain dari Allah maka kamu telah syirik. Oleh sebab itu janganlah sekutukan Allah itu secara kasar dan secara halus. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Op cit, 27.

 

c. Kamu memberikan sepenuh tumpuan (fokus) untuk mengingati Allah swt saat kamu berdoa itu.

 

fokus

 

  • Gerak minda batin (hati) dan gerak fikiran hendaklah diarahkan hanya kepada mengingat Allah swt. Imam Ghazali, Roh Sembahyang 17 (1994)

 

d. Sesudah kamu bisa fokus maka barulah kamu mulai berdoa dengan sesungguhnya tentang segala permasalahanmu.

 

doa

 

Bersambung

Read Full Post »

3. Bagaimana mau mengingat Allah swt (Dzikrullah):

 

“Kamu tidak ada keterangan sedikitpun tentang bagaiman rupa  Allah  swt, dan kamu juga akan binasa walau kamu hanya sampai terlihat kepada Dzat saja. Oleh sebab itu, apabila kamu mengingati Allah swt, kamu tidak akan pernah dapat merupakan atau mengumpamakan-Nya. Tidak akan. Dengan tidak merupakan dan mengumpamakan-Nya, berarti kamu sudah tidak mensyirikkan-Nya, seperti firmanNya berikut ini:

 

  • Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Asy Syura, (42): 11.
  • Tidak ada seseorangpun yang seumpama dengan Dia. Al Iklas (112):4.
  • Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata. Al Anaam (60):103”.

 

Ia benar-benar merasa dipermudah oleh makna baru yang ia dapatkan tentang dzikrullah ini oleh ayahnya. Inilah kemudahan yang paling besar yang diberikan Allah kepada seluruh umat manusia. Walaupun mindanya adalah juga tempat ia berpikir, memahami, dan mengetahui, selain dari mengingat, ia hanya butuh satu fungsi mengingat saja dari mindanya itu ketika ia melakukan proses dzikrullah itu.

 

Ia hanya butuh mengingat bahwa ada Allah swt tempatnya bergantung dan mengadu. Dan matahatinya akan mengkonfirm ingatannya itu dengan tidak ada rupa dan umpama yang bisa dilihat oleh matahatinya. Hatinya mengingati Allah, maka matahatinya akan membuktikan itu dengan cara matahati itu tidak akan melihat rupa dan umpama apa-apa. Matahatinya boleh dikatakan melihat kosong begitu saja.

 

Kalau matahatinya masih melihat ada rupa dan umpama, maka berarti hatinya saat ini masih mengingat sesuatu yang bukan Allah swt. Mungkin saat itu ia masih mengingat patung, gambar, wajah manusia, pemadangan alam, dan lain-lain sebagainya yang masih bisa dirupakan dan diumpamakan. Kalau ia shalat dalam keadaan hati yang seperti itu, hati yang tidak ingat kepada Allah, walaupun bacaan shalatnya bagus, walaupun shalatnya lama, maka saat itu tetap saja ia telah mensyirikkan Allah dengan apa-apa yang sedang ia ingat itu.

 

Sekarang:

  • Ia tidak perlu memikirkan bagaimana Wujud Allah itu,
  • Ia tidak perlu mengetahui dimana Allah berada,
  • Ia tidak perlu tahu bagaimana rasanya kalau ia dekat dengan Allah.
  • Ia tidak perlu mencari-cari Allah seperti yang ia cari-cari selama ini melalui apa yang disebutnya sebagai perjalanan rohani, baik berjalan ke dalam hatinya maupun berjalan keluar dirinya menuju angkasa raya tak terbatas, katanya.
  • Ia juga tidak perlu melakukan usaha menyambung-nyambungkan ruhnya dengan Allah seperti yang ia lakukan selama di dalam shalatnya.

 

Ia sekarang hanya butuh ingat kepada Allah saja di dalam minda atau hatinya, lalu setelah itu barulah ia melakukan shalat dan berdoa. Selanjutnya, Ia hanya butuh sedikit latihan saja lagi untuk mempertahan ingatannya kepada Allah itu dalam waktu yang lama. Sehingga nantinya ia akan bisa ingat kepada Allah itu di dalam shalat, di luar shalat, dan dalam setiap aktifitasnya dalam kesehariannya.

 

Bersambung

Read Full Post »

2. Keutamaan Dzikrullah:

 

“Rasulullah saw ada bersabda bahwa mengingati Allah swt adalah ibadah yang sangat utama melebihi sedekah emas dan perak serta juga melebihi jihad (membunuh atau dibunuh musuh)”.

 

“Maukah aku beritahukan kepada kamu semua dengan amal-amal yang terbaik dan paling diredhai di sisi Tuhan kamu dan membuat kamu mencapai derajat tinggi dan lebih baik untuk kamu semua daripada memberi sedekah emas dan perak dan lebih baik daripada kamu semua bertemu musuh lalu kamu penggal leher mereka dan mereka memenggal leher kamu semua.” Mereka menjawab, “Mahu!”. Baginda menjawab, itulah “Dzikrullah (Mengingati Allah).Terjemahan Sunan Ibnu Majah Bk 4, 494 (1993)”

 

“Barangsiapa karena sibuk mengingati-Ku, sehingga dia lupa meminta-minta (kepada-Ku), Aku akan memberinya sebelum dia meminta. H. Salim Bahreisy, 272 Hadits Qudsi, 86 (1980)”

 

“Senantiasalah kamu ingat kepada-Nya. Jangan kau lupakan Dia. Janganlah kau meninggalkan zikir (ingatan) kepada-Nya kecuali ajal telah mendatangimu. Sebab (baru saja mau) ingat pada saat itu tiada berguna. Ingatlah Allah swt sebelum ajal menimpamu. Perbaikilah hatimu sebab jika ia baik maka akan baiklah keseluruh tingkah lakumu. Syeikh Abdul Qadir Al Jalani, Al Fath Ar Rabbani, 2-3 (1996)”

 

“Sangat pentingnya ingat kepada Allah swt ini dapat kita lihat dalam firman-firman Allah swt yang menyuruh kita mengingati-Nya di dalam shalat, di luar shalat dan di dalam hidup keseharian (perniagaan/ jual-beli) kita”.

 

“Allah swt berfirman yang artinya:

 

  • Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan Dirikan shalat untuk mengingati Aku”, Thaahaa (20):14.

 

  • Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan dirinya dan dia mengingat akan nama Tuhannya lalu dia sembahyang, Al A’laa (87):14-15.

 

  • Ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring, An Nisa (4):103.

 

  • Lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli daripada mengingati Allah, An Nur (24):37”.

 

“Berkenaan dengan keutamaan mengingati Allah swt ataupun Dzikirullah, Allah swt juga ada berfirman yang maksudnya:

 

  • Ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung, Al Jumu’ah (62):10.

 

 

  • Lelaki dan perempuan yang banyak mengingati Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar, Al Ahzab (33):35”.

 

“Sedangkan bagi mereka yang gagal mengingati Allah swt ataupun Dzikrullah dalam ibadah mereka, natijahnya sangatlah buruk:

 

  • Maka (Neraka) Wail-lah (balasannya) bagi orang yang sembahyang, iaitu mereka yang berkeadaan lalai daripada menunaikan sembahyang. Al ma’un : ayat 5

 

  • Kamu hadirkan untuk Ku badan-badan kamu dan menunjukkan kepada Ku ucapan-ucapan kamu tetapi jiwa kamu jauh dari Ku. Sungguh sia-sialah perbuatan kamu. Terjemahan Sunan An Nasa’iy; Imam Ghazali, Rahsia Hakikat Sembahyang Menurut Tauhid, Fekah & Tasauwwuf, 149 (1994)”.

 

“Sehubungan dengan ini Sayidina Umar (ra) ada bersabda yang maksudnya:

 

  • Seseorang yang beribadah sehingga hari tua dan putih janggut-nya, ibadah-nya terhapus hanya kerana jiwa- nya gagal mengingati Tuhan dan pada masa yang sama dia gagal dalam melakukan dan tidak memberi perhatian penuh kepada ibadah-nya. Imam Ghazali, Rahsia Hakikat Sembahyang Menurut Tauhid, Fekah dan Tasawuf, 149 (1994)

 

  • Ibnu Zaid (ra), Qatadah (ra), Salman (ra), Ibnu Abbas  (ra), Abu Dzar (ra) dan Muadh bin Jabal (ra) juga ada menekankan tentang keutamaan mengingati Allah swt karena ianya dapat menolong kita di Hari Kemudian: Ibnu Qayyim, Tafsir Ibnu Qayyim, 478 , 594 (2000); Imam Malik, Al Muwatta Vol. 1, 286 (1994)”.

 

Bersambung

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: