Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2018

Belasan tahun kucari yang ingin kucari.

Tapi aku tidak tahu apa yang kucari itu.

Puluhan BUKU t’lah kubuka dan kuintip,

Belasan GURU t’lah kudatangi,

Ratusan ribu dzikir t’lah kurangkai dan kuucapkan,

Beberapa gua dan petilasan t’lah kususuri,

Ribuan kilometer jalan t’lah kurayapi sampai larut malam,

Getaran dan Power yang paling kuat sampai paling lemah t’lah kulewati,

Tapi yang kucari-cari itu tetap bersembunyi entah dimana.

——

Namun, atas berkat Rahmat Allah, fajarpun merekah bagi sebuah keimanan.

Kunci yang kucari itu akhirnya mulai kutemukan.

Kuncinya ternyata ada di dalam BUKU kecil, sederhana, dan tipis ini…

Buku Sang Arif Billah Ustadz Hussien Bin Abdul Latiff.

Segala pencarianku jadi terhenti…

Ternyata, dengan mengetahui dan memahami yang kucari itu Dzat-Nya ada bersamaku, sungguh sangat melegakan. Tapi anehnya aku tidak terperangkap pada Pahaman Wahdatul Wujud dan Pahaman Nur Muhammad.

Dan sekarangpun saya hanya jadi orang biasa saja.

Saat lapar, saya makan.

Saat haus, saya minum,

Tiba waktu shalat, saya tinggal shalat (wajib walaupun sunnah)

Puasa alhamdullah bisa 5 hari perminggu, untuk setiap minggu.

Baca Al qur’an tempo-tempo juga kulakukan.

Saat tiba waktu bekerja, saya bekerja,

Saat sakit, saya berdoa dan berobat.

Saat punya masalah, saya tinggal berpaut: Naik, Serah, Tunggu (NST), dan masalahnya tidak pernah saya pikirkan sedikitpun,

Saat tidak punya masalah, saya tinggal ROC (Relax one Corner), dan Dzikrullah.

Minda selalu saya jaga agar tidak dimasuki oleh berbagai sampah dan sarap dengan cara yang sangat mudah yaitu mengingat Allah di dalam minda. Tidak perlu ada suara, umpama, dan rupa.

Tempo-tempo minda itu saya bersihkan dengan 3 x qulhu, 1x al falaq, 1x An Naas, dan 1x al fatihah.

Tatkala melihat dunia jadinya tak lebih dari Hanya Panggung Ilahi semata, dimana saya adalah penonton dan sekaligus juga sebagai pemain di dalam Panggung Ilahi itu.

Pemainnya hanya satu, yaitu Dzat-Nya.

Dzat mematuhi aturan Lauhul Mahfuz membentuk berbagai SIFAT.

Lalu setiap melihat berbagai Sifat, segera saja kunafikan Sifat itu dan kuisbathkan Dzat.

Itu jadi sangat melegakan sekali.

Karena ternyata Allah sendiri yang telah mengijinkan Sedikit Diri-Nya menjadi Dzat yang Wajibul Wujud bagi terzahirnya berbagai Sifat.

Dia yang mengatur Dzat-Nya berlakon,

Dia yang mengijinkan berbagai sifat tergerai,

Dia yang menakar dan mengukur kadar dari berbagai peranan,

Dia yang menempelkan bahan pelajaran (hikmah) pada setiap lakonan yang terbentang.

Dia yang mengijinkan Dzat-Nya berlakon BAIK

Dia yang mengijinkan Dzat-Nya berlakon JAHAT.

Sehingga lidah sayapun jadi kelu untuk bertanya, kenapa, seandainya. Mulut sayapun jadi tertutup dan terkunci untuk memutus-mutuskan dan menetap-netapkan sesuatu. Karena saya sadar bahwa saya juga hanyalah sebentuk sifat yang terzahir dari Dzat.

Lalu masih adakah masalah ?….

Read Full Post »

Pengenalan tentang ayat-ayat dan hadist tentang makrifatullah diatas tentu saja akan membawa impak atau pukulan yang amat dahsyat kepada jiwa kita. Pengenalan kita kepada Kebenaran tentang Allah itu sangat MENGEJUTKAN kita, sehingga akan membawa kita kepada sebuah KEADAAN dimana, air mata kita akan jatuh bercucuran, atau tubuh kita menggigil oleh rasa DINGIN yang amat sangat (bukan bergetar-getar karena karena adanya getaran yang mengendalikan tubuh) , atau muncul sebuah perasaan takut yang amat sangat yang muncul begitu saja di dalam hati kita, atau bisa juga muncul perasaan rindu dan cinta yang sangat pekat di dalam hati kita untuk beribadah kepadanya.

• “Engkau melihat mata mereka mencucurkan airmata disebabkan KEBENARAN yang mereka Ketahui sambil mereka berkata: Wahai Tuhan kami, kami beriman, oleh sebab itu tetapkanlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi. Al Maidah (QS 5: 83).

• “Orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah (mereka ingat kepada Allah) maka bergetarlah hati mereka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)

• Pengenalan kepada Allah swt itu melalui kesedaran yang jati di mana seorang itu benar-benar sedar atau DIKEJUTKAN kepada KewujudanNya atau KeesaanNya atau KebesaranNya, Saiyid Ahmad Ar Rifai, Benteng Ahli Hakikat Dalam Meniti Makrifat Kepada Allah, 42 (1994)

• Tegasnya dia sedang nyenyak dalam tidurnya bersama-sama orang yang tidur dan sedang mabuk bersama-sama orang yang mabuk. Kelak apabila terangkat kelalaian ini lantaran suatu pukulan dari herdikan kebenaran pada hatinya, barulah hatinya akan terbuka oleh seruan Allah menyerupai hati hamba-Nya yang Mukmin. Ibnul Qayyim, Roh, 410 (1996).

• Terangkat tutup yang menutupi sehingga jelaslah kenyataan kebenaran Allah pada semuanya itu dengan sejelas- jelasnya laksana mata memandang yang tidak diragukan lagi. Imam Ghazali, Ihya Ilumiddin Bk.1, 97 (1981).

• Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. Qaaf (QS 50: 22).

• Ketahuilah bahawa Yang Maujud yang paling terang dan nyata ialah Allah Ta’ala. Dan ini menghendaki kepada Makrifatullah. Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk.7, 478 (1981).

• Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. Az Zumar QS : 23)

Pukulan dari pengenalan kita kepada Allah ini, dengan pengenalan yang Jati, akan meninggalkan parut atau bekas luka di dalam hati kita. Luka yang akan kembali menganga dan berdarah ketika kita ingat kepada-Nya, ketika kita beribadah kepada-Nya, ketika kita merasa rindu kepada-Nya, ketika kita didera rasa cinta kepada-Nya, atau ketika muncul perasaan yang takut yang amat sangat kepada-Nya. Begitu juga ketika, tempo-tempo, kita merindui Rasulullah SAW, kita bershalawat untuk Rasulullah, air mata dan cairan ingus kita akan bercucuran dan meleleh tanpa bisa kita bendung.

Pukulan makrifatullah inilah yang akan membuat hati kita menjadi mudah untuk mengingat Allah di dalam ibadah shalat kita maupun di luar shalat. Ingatan kita menjadi fokus untuk hanya ingat kepada Allah. Seakan-akan ingatan kita kepada hal-hal lain selain dari Allah menyingkir dengan sendirinya. Sebab hati ternyata hanya bisa mengingat satu hal dalam satu waktu. Hati kita tidak bisa dihuni oleh dua penghuni dalam waktu yang bersamaan.

Read Full Post »

SETELAH PENGENALAN

Setelah pengenalan kepada Allah itu, maka kita akan bisa mengenal mana yang Allah, dan mana yang bukan Allah. Seperti halnya juga dengan kita mengenal anak kita, kalau anak kita itu dikumpulkan dengan 100 anak yang lain di depan kita, lalu kita disuruh memilih dan menunjukkan mana yang anak kita, maka dengan sangat mudah kita akan menunjukkan mana yang anak kita. Anak kita itu tidak akan tertukar dengan anak orang lain.

Oleh sebab itu, ketika kita ditanya tentang siapa Tuhan kita, dengan cepat dan tanpa berpikir sedikitpun, secara otomastis kita bisa segera langsung menjawabnya: “Tuhanku adalah Allah…”. Dan untuk menjawab itu, kita TIDAK PERLU terlebih dahulu membayangkan, merupakan, mengumpamakan, mengasosiasikan Allah dengan sesuatu apapun juga.

Begitu juga saat kita shalat. Walaupun didepan kita diletakkan orang berbagai berhala, atau iblis meletakkan berbagai gambaran di dalam pikiran kita melalui TELEPATI, namun kita tetap saja meneruskan shalat kita tanpa terganggu sedikitpun dengan berbagai berhala itu. Karena kita sudah mengenal Allah yang kita sembah. Ketika mereka mengatakan: “Kok kamu shalat menyembah berhala yang di depan kamu?”. Dengan enteng kita bisa menjawab: “Yang saya sembah adalah Allah. Bukan berhala itu. Berhala itu bukan Tuhanku. Itu Tuhan kamu!”.

Yang tidak kalah pentingnya adalah, setelah pengenalan kita kepada Allah, kita bisa mengenal tentang KEBENARAN akan KEWUJUDAN, KEBESARAN, dan KEESAAN Allah sebagai Tuhan kita, sehingga setelah itu tidak akan ada lagi kejahilan, pertanyaan, dan pencarian kita tentang Allah. Tuhan Semesta Alam. Dengan ilmu makrifatullah itu, maka terbukalah kepada kita pintu pengenalan atas KEBENARAN akan maksud dari ayat-ayat makrifatullah. Pengenalan disini bukan saja MENGETAHUI AYAT-AYATNYA saja akan tetapi juga MEMAHAMI BAGAIMANA maksud dari ayat-ayat makrifatullah itu.

Misalnya, ilmu makrifatullah tidak hanya mengetahui sekedar dalam tatanan bahasa saja tentang “Dia Maha Meliputi segala sesuatu, Fusshilat (41): 54)”, akan tetapi juga “memahami BAGAIMANA ALLAH Maha Meliputi segala sesuatu”. Begitu juga dengan ayat-ayat yang lain seperti:

• Dia Yang Maha Besar, Ar Rad (13): 9, dan bagaimana Dia Maha Besar.

• Allah yang Maha Luas, Al Hajj (22): 62, dan Bagaimana Dia Maha Luas.

• Dia-lah Yang Maha Tinggi, Al Mukmin (40): 12, dan bagaimana Dia Maha Tinggi.

• Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Al Hadid (57): 3, dan bagaimana Dia Yang Awal dan Yang Akhir.

• (Dia-lah) Yang Zahir dan Yang Batin, Al Hadid (57): 3, dan bagaimana Dia Yang Zahir dan Batin

• Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?, Al Mulk (67): 14, dan bagaimana Dia Maha Halus dan Maha Mengetahui

• Tiada sehelai daun jatuh tanpa Dia mengetahuinya, Al An’aam(6): 59, dan bagaimana Dia Mengetahui.

• Allah sentiasa Meliputi akan tiap-tiap sesuatu, An Nisa (4): 126, dan bagaimana Dia Meliputi

• Dia Maha Meliputi segala sesuatu, Fusshilat (41): 54)., dan bagaimana Dia Maha Meliputi

• Demi Dzat yang menguasai diriku!, Sahih Muslim Bk.1, 57 (1994), Bagaimana Dia Menguasai

• Sesungguhnya Dia Maha Melihat, Al Mulk (67):19, Bagaimana Dia Melihat

• Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu, syarah-hadits-jibril-tentang-islam-iman-dan-ihsan.

• Sesungguhnya Allah Mengetahui segala sesuatu, Al Hijr (15):25., dan bagaimana Dia Mengetahui

• Dan Allah Maha mengetahui segala isi hati, At Taghabun (64):4

• Dialah yang Maha Mendengar, Al Mukmin (40):56, Bagaimana Dia Maha Mendengar

• Allah Maha Mengawasi segala sesuatu, Al Mujadilah (58):7., dan bagaimana Dia Maha Mengawasi

• Dan Allah jualah yang memiliki timur dan barat, maka ke mana sahaja kamu menghadap di situ ada wajah Allah, Al Baqarah (2):115, dan Bagaimana Wajah Allah Yang dimaksudkan. Sehingga ungkapan shalat: inni wajjahtu wajhiya…, kudadapkan wajahku kepada Wajah-Nya, menjadi terang dan clear.

• Dia bersama kamu di mana sahaja kamu berada, Al Hadid (57):4, dan bagaimana Dia bersama kita.

• Kami lebih dekat kepadanya dari urat nyawanya, Qaaf (50):16., dan bagaimana Dia Lebih Dekat.

• Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allah yang melempar, Al Anfaal (8):17.

• Dia Istiwa diatas Arsy, Thaha (20): 5, dan bagaimana Dia Istiwa itu.

• Anak Adam melukaiKu dengan mencaci Masa kerana Masa itu adalah Aku, Sunan Abu Dawud Vol. 3, 1452 (1990).

• Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, An Nur (24):35

 

Dengan terbukanya rahasia penggenalan kepada Allah dan terbuka pula pemahaman kita tentang ayat-ayat makrifatullah diatas, maka kita tidak perlu lagi mencari-cari Allah. Sehingga ketika kita menyembah Allah, maka kita benar-benar bisa terhindar dari mensyirikkan Allah dengan sesuatu yang bukan Allah. Setelah itu kita tinggal hanya memperkemaskan peribadatan kita kepada-Nya, sebagai tanda bahwa kita adalah sebenar-benar hamba-Nya yang patuh dan tunduk kepada-Nya, dan menghormati-Nya dengan sebenar-benar dan selayak-layaknya penghormatan. Dan selama kita melaksanakan ibadah-ibadah wajib maupun sunnah itu, maka ingatan kita akan selalu fokus kepada Allah yang sudah kita kenal. Ini yang paling penting.

Oleh sebab itu tepat sekali kalau dikatakan bahwa ilmu makrifatullah itu adalah lmu yang paling dasar yang perlu kita miliki sebelum kita melakukan suatu peribadatan atau amalan tertentu sebagai tanda penghormatan kita kepada Allah. Ia adalah ibarat sebuah pijakan anak tangga pertama kita dalam beribadah. Ia seperti sebuah tumpuan pertama agar kita bisa melakukan ibadah-ibadah kita dari waktu ke waktu. Kalau pijakan pertama kita itu kuat, maka langkah kita yang berikutnya akan menjadi ringan, lapang, dan mudah. Kalau tumpuan pertama kita itu kokoh, maka aktifitas ibadah kita yang selanjutnya akan menjadi nyaman dan mengasyikkan.

Sebaliknya kalau tumpuan dan pijakan pertama kita itu masih sangat lemah, atau bahkan kurang jelas sama sekali, maka itu adalah sebuah pertanda awal bahwa ibadah-ibadah yang akan kita lakukan selanjutnya akan sulit, berbelit dan susah. Kita akan masih banyak bertanya dan galau tentang Allah, kita masih akan sibuk mencari Allah, kita masih akan banyak berusaha untuk dapat tersambung-sambung dengan Allah. Sementara itu, ditengah-tengah permasalahan kita itu, kita bisa melihat dengan sangat jelas tentang KEBENARAN akan kehebatan Allah atas segala sesuatu yang ada di alam semesta tempat dimana kita hidup ini. Tapi kita tidak berhasil mendapatkan manfaat dari kebenaran yang kita lihat itu. Kita masih tetap bingung dan risau seperti sedang mencari-cari sesuatu yang tak kunjung bersua…

Read Full Post »

TENTANG ILMU MAKRIFATULLAH

Banyak orang yang menyangka dan berkata bahwa hakekat/makrifatullah itu adalah sebuah ilmu yang sangat tinggi. Katanya ia adalah puncak pencerahan seperti cahaya yang dipancarkan kedalam hati seorang hamba yang telah melalui berbagai riyadah seperti tadzkiyatunas (penyucian diri) yang sangat berat, keras, dan dalam waktu yang lama pula. Atau paling tidak ia dipercayai hanya diberikan Allah kepada orang-orang khusus selevel waliullah atau orang-orang yang dianggap suci.

 

Ada pula orang yang menganggap bahwa ilmu hakekat/makrifatullah ini sama sekali tidak boleh dibicarakan apalagi ditulis. Ya dianggap sebuah ilmu rahasia yang tidak boleh dibuka dengan lidah (pembicaraan) dan tulisan. Membacanya saja juga sudah dilarang, apalagi menuliskannya. Barang siapa yang mencoba membaca, membicarakannya, dan menulisnya konon ia dianggap sudah KAFIR. Karena ia adalah ilmu tentang rasa, ilmu tentang batin, ilmu tentang SIRR yang konon katanya dahulu juga tidak diajarkan bebas oleh Rasulullah dan para Sahabat Beliau. Katanya, yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabat Beliau adalah MODAL dari ilmu hakekat/makrifat itu, yaitu ilmu syariat berupa ilmu muamalah dan ibadah.

 

Akan tetapi sejak munculnya kajian makrifatullah oleh Arif Billah Ustadz Hussien Bin Abdul Latiff, ilmu makrifatullah itu sudah berubah. Ia adalah ilmu yang sangat mudah dipelajari dan dipahami. Lalu dengan pembukaan pintu ilmu makrifatullah itu, maka terbuka pulalah berbagai ilmu yang tadinya tidak pernah terpikirkan apalagi untuk dipahami. Semua menjadi terang benderang dan jelas, sehingga setelah itu kita hanya tinggal memperbaiki ibadah-ibadah wajib maupun sunnah saja. Dan ternyata ilmu makrifatullah itu adalah sebuah ilmu yang wajib dipelajari diawal-awal sebelum kita melakukan ibadah-ibadah tersebut. Pantas sekali ada unngkapan bahwa: “Awaluddin Makrifatullah, awal dari agama adalah mengenal Allah”.

 

Ilmu Makrifat adalah sebuah ilmu paling dasar atau paling awal yang harus kita punyai sebelum kita melakukan sesuatu perbuatan atau amalan. Ilmu Makrifat artinya adalah ilmu untuk mengenal KEBENARAN sesuatu yang kita sembah dan hormati sampai TUNTAS atau SELESAI. Setelah itu tidak ada lagi pertanyaan, pencarian, lamunan, khayalan-khayalah, dan bahkan pergaduhan  kita dengan sesuatu yang kita sembah dan hormati itu. Kita hanya tinggal melakukan berbagai aktifitas secara bersungguh-sungguh untuk membuktikan penyembahan dan penghormatan kita kepadanya.

 

Sedangkan Ilmu Makrifatullah adalah sebuah Ilmu yang bertujuan untuk MENGENALKAN ALLAH kepada kita sebagai Tuhan yang akan kita sembah dan hormati sepanjang hidup kita. Oleh sebab itu ilmu makrifatullah ini adalah sebuah ILMU yang Paling Dasar, paling Fundamental, atau paling Awal, yang harus kita ketahui sebelum kita bisa menyembah dan menghormati Allah dengan penyembahan dan penghormatan yang sebenar-benarnya. Penyembahan kepada Allah yang tidak terkotori sedikitpun oleh syirik atau menyekutukan Allah dengan sesuatu ciptaan-Nya. Penghormatan kepada Allah dengan penghormatan kita yang tidak terkotori oleh persepsi dan sangkaan-sangkaan kita kepada-Nya.

 

Oleh sebab itu, sangatlah keliru kalau ada yang mengatakan bahwa ilmu makrifatullah ini adalah sebuah ilmu puncak yang sangat tinggi dan sangat sulit untuk mendapatkannya. Ia malah ilmu paling awal yang harus kita ketahui sebelum kita beribadah dan menyembah Allah. Makanya ungkapan, Awaluddin Makrifatullah, bahwa awal dari aktifitas beragama adalah dengan mengenal Allah, sangatlah relefan untuk kita pakai.

 

 

 

PERAN ILMU MAKRIFATULLAH.

 

ILMU MAKRIFATULLAH adalah sebuah ilmu yang berperan untuk mengantarkan kita langsung sampai kepada Allah. Setelah pengenalan itu, maka kita juga sudah tidak perlu lagi memikirkan tentang bagaimana cara-cara pertemuan dengan Allah. Ilmu makrifatullah itu membawa kita untuk bisa langsung bertemu dengan Allah, sehingga dengan begitu kita akan terhindar dari proses bertele-tele dan mengada-ada yang penuh dengan lamunan untuk bertemu dan sampai kepada Allah.

 

Kalau kita belum mengenal Allah dengan sebagaimana mestinya, maka kita seakan-akan akan masih harus berjalan dan mengembara tak tentu arah untuk mengenal-Nya, untuk datang kepada-Nya, untuk berhubungan dengan-Nya, untuk tersambung dengan-Nya. Kita seakan-akan masih harus mencari-cari pijakan dan tumpuan kita dalam beribadah kepada-Nya. Umur kita habis dalam masa pencarian yang tak tentu ujung pangkalnya itu. Selama proses itu, kita mengira telah melakukan amalan-amalan tertentu dengan penuh semangat, dan dalam waktu yang lama, akan tetapi apa-apa yang kita lakukan itu ternyata hanyalah sebatas lamunan dan khayalan belaka. Alangkah menyedihkan sekali. Umur kita hilang untuk mengerjakan sesuatu yang sia-sia…

 

Kalaupun ada hasilnya, itupun tidak lebih dari hasil yang didapatkan melalui proses afirmasi pikiran dan olah kesadaran seperti yang saat ini dikenal dalam Teknik Hipnoterapi dan NLP. Paling tinggi kita hanya akan mendapatkan rasa tenang di dalam pikiran kita. Karena kita memang dibawa atau diafirmasi untuk hanya mengingat atau memikirkan satu objek pikir tertentu saja pada suatu rentang waktu tertentu, misalnya fokus kepada gerakan nafas kita dan sebagainya.  Karena ingatan atau pikiran kita hanya fokus kepada gerakan nafas kita, maka tentu saja itu akan mendatangkan rasa tenang, walau hanya sesaat. Tenangnya sih tetap ada, tapi hanya tenang yang sementara. Begitu dapat masalah, kita kembali goyang dan berantakan. Bahagianya memang ada, akan tetapi bahagianya hanya sekelas bahagia mendengarkan irama musik saja.

 

Jadi, sebagai sebuah PENGENALAN kepada Allah, maka Makrifatullah itu haruslah sesuatu yang sangat sederhana sekali. Ia sebenarnya lebih berhubungan dengan sebuah ILMU dari pada berbagai PRAKTEK, AMALAN, ataupun LELAKU. Sebagai Ilmu, maka Makrifatullah itu haruslah sangat mudah sekali untuk dipahami. Ia haruslah sangat sederhana sehingga ia bisa dipahami oleh semua orang dengan sangat mudah. Begitu ilmunya sudah diketahui, maka setelah itu tidak akan ada lagi pertanyaan dan keraguan kita tentang Allah.  Sebab dengan ilmu itu, semua pertanyaan kita tentang Allah sudah biasa terjawab dengan sangat amat jelas sekali.

 

Untuk mendapatkan Ilmu Makrifatullah itu bukanlah dalam bentuk amalan-amalan yang sulit dan rumit seperti anggapan kebanyakan orang selama ini. Ia tidak butuh prasyarat laku dan praktek yang susah dan berbelit-belit. Ia tidak mempersyaratkan pengertian-pengertian yang membutuhkan banyak lamunan dan khayalan untuk mendapatkannya. Ia bahkan tidak membutuhkan sebuah alat bantu apapun untuk memahaminya.

 

Makrifatullah itu haruslah sangat mudah sekali untuk di jalankan dan diamalkan. Sebab kalau ia sulit untuk di jalankan dan diamalkan, maka selesailah sudah. Agama yang mengajarkan makrifatullah itu akan ditinggalkan orang. Ibarat sebuah warung atau toko, kalau untuk masuk ke dalam warung atau toko itu sangat sulit, tidak nyaman, dan bahkan menakutkan, maka warung atau toko itu akan tutup dengan cepat. Karena tidak ada orang yang akan masuk atau singgah ke dalam toko atau ke warung itu untuk berbelanja.

Read Full Post »

SHALAT-DOA-DZIKRULLAH-ROC

Ahmad Saifudin:
Assalamualaikum. Ustad mohon nasehat, insyaAllah saya paham tentang LM [Lauh Mahfudz], tetapi rasanya masih sulit berada didalam keadaan itu.
Salam ustad.

Rozi Jogja:
Seperti hal nya bang udin, saya juga begitu ustad. selalunya bolak balik.

Ustadz Hussien Abd Latiff:
• Ahmad & Faozi. Bila kamu mendapat ujian yang amat berat serta sukar dipikul, dan pada masa itu hanya Allah swt sahaja yang dapat membantu. Maka pada masa itulah kamu akan berpaut kepada Allah swt dan mengharapkan pertolongNya. Sesudah Dia melepaskanmu dari ujian yang dasyat itu maka insya-Allah, hatimu tidak akan berbolak balik lagi.

• Ramai yang sudah melalui ini, dan sesudah itu tidak lagi hati mereka berbolak balik. Seperti Rosli Surabaya, Jasdur dan lain-lain.

• Ada orang mengerti dengan ilmu, ada hanya mengerti dengan latihan, namun tetap Allah swt yang mengajar.

• Orang-orang kafir masa dahulu tidak faham akan siksa Allah swt di hari kemudian, dan minta dari Nabi mereka turunkan siksa itu, maka diturunkan dan mereka menjadi sejarah.

Rozi Jogja:
Terima kasih ustad. Tatkala berdoa itulah sangat sulit keluar dari pintu depan. Apakah memang begitu ustad?

Ustadz Hussien Abd Latiff:
Apa yg sulit?

Rozi Jogja:
Keluar dari rasa wujud’ ustad.

Ustadz Hussien Abd Latiff:
• Doa mesti dari “pintu depan” seperti juga makan & minum, tidak boleh “pintu belakang”.
• Kalau “pintu belakang” tidak payah doa, makan dan minum, akhirnya wassalam kerana kelaparan dan kehausan.
• Tidak wujud bersandarkan ilmu iaitu kita nafikan kewujudan kita dengan ilmu, bukan pakai bom.
• Seperti kamu naik sepeda yang cantik tetapi kamu tahu sepeda itu bukan milikmu tetapi milik rakan mu.
• Begitu juga dalam hidup keseharian kamu, seperti makan, minum, shalat, doa dan sebagainya (ini yang Rasulullah saw suruh iaitu hidup macam biasa), tetapi dalam minda kamu ilmu kamu menyedarkan “kamu tidak wujud”, yang berinteraksi ialah DzatNya.

• Nah, sudah sedar mahu buat apa ya? Jawapan, “ROC.” [Relax One Corner]

Yusdeka:
Pak Ustadz, mohon penjelasan tentang capture ini yang saya ambil dari dzikrullah 6 (ihsan). “Jangan fanakkan diri. Diri masih wujud. Jangan hilangkan diri”.

Ustadz Hussien Abd Latiff:
“Jangan menghilangkan wujudmu” maknanya hidup macam biasa. Masa makan maka makanlah, masa minum maka minumlah, masa shalat maka shalatlah, masa dzikir maka dzikirlah dan sebagainya. Justeru kamu tidak boleh ngatakan, “Oh aku ngak wujud maka apa perlu aku shalat atau dzikir!”

Rio:
• Ustadz…. barulah saya paham bedanya approach sholat dan “naik”.
• Kalau sholat, itu “pintu depan”. Kita melihat kebesarannya, kita memujiNya, kita minta ampun, meminta perlindungan. Semua pintu depan. Kita melihat kebesaran DIA lewat macam-macam kejadian dalam hidup, lalu kita sholat kita membesarkan DIA lewat puji-pujian.
• Kalau pintu belakang, kita “naik” ROC. Tak ada apapun.
• Kebesaran-Nya, Ampunan-Nya, dan sebagainya itu adalah sifat-sifat yang hanya bisa ditafsir dari “depan”. maka Sholat itu melihat-Nya dari “depan”.
• Kalau pintu belakang dan ROC, kita tak tengok apa-apapun.
• Betulkah pemahaman begitu ustadz?
• Sudah lama saya penasaran, kenapa ustadz tak gunakan approach sholat sebagai latihan spiritual? Tetapi ustadz gunakan “naik“.
• Baru saya paham, kalau sholat itu meletakkan puji-pujian untukNya karena kebesaran Dia yang kita tengok dari pintu Depan.
• Kalau Naik dan ROC di pintu belakang itu latihan menghapus segala-galanya. Bahkan kebesaranNya pun bukan yang kita tuju.
• Wallahualam ustadz. mohon koreksi bila keliru

Ustadz Hussien Abd Latiff:
• Benar Rio sekarang baru dapat jus durian sebelum ini belum boleh.
• Walaupun shalat pintu depan tetapi minda mesti ingat Allah swt
• Bila kita NST kita tinggalkan yang lain dibawah. Seperti Shaikh Abdul Qadir Jilani berkata masuklah pintu khalwatmu seorang diri dan tinggalkan yang lain di luar pintu khalwatmu.
• Apa makna khalwat iaitu berdua-duan dengan Allah swt (tanpa minum jus durian).

 

Sahry Ramadhan:
• Ustad, kenapa dulu saat ikut tarekat, minat dan keinginan terus hanya berusaha sebanyak-banyaknya dzikir (baik jahar maupun siir). Sedangkan shalat-shalat sunnah, dan mengajipun kurang dilaksanakan.

• Tetapi tassawuf jalan nabi-nabi dengan dzikrullah yang diajarkan ustad lebih kerasa ke dalam bathin, tetapi justru terbalik aktifitas fisik ingin sebanyak-banyaknya melaksanakan shalat-shalat sunnah serta mengaji Al Quran, dan kecenderungan belajar kembali syariah minatnya menjadi lebih tinggi? Kenapa berbeda ya ustad suasananya? Tetapi minat juz es duren tetap tak berobah…

Ustadz Hussien Abd Latiff:
• Tarikat berzikir untuk mendapatkan makrifat.
• Kita sudah makrifat dan kini memperkemaskan diri untuk beribadah lebih bagus untuk Allah swt: seperti ingat Allah sentiasa, shalat malam, puasa sunat, membaca al Quran dll serta pegang Syariah dengan kuat. Kerana Rasulullah saw ada bersabda bahawa kalau kita pegang al Quran & As Sunnah kita tak akan sesat. Maka ini dua komponen adalah tulang belakang Syariah.

Shalat:
Seperti seorang ibu hidup di rumah dua lantai. Dia ada di lantai satu bersama ahli keluarga yang lain sedang makan durian serta minum jus durian tapi mindanya hanya teringat anaknya yang baru satu bulan yang berada dibilik di lantai dua.

Jasadnya dilantai satu (hidup macam biasa makan durian & minum jusnya) tapi minda nya di lantai dua.

Dzikrullah
Pula dia naik ke lantai dua (tinggalkan semua yang ada dilantai satu) dan masuk ke bilik babynya itu untuk berdua-duan melepaskan rasa cinta rindu & sayang kpd babynya.

Masuk pintu belakang seperti rasa bosan dan sebagainya lalu masuk bilik stor yang kosong dan ROC.

NST:
Pula seperti dalam kantor bekerja tetapi kerana kerjanya sudah terkebiasaan (terlampau rutin) maka bisa kerja seperti robot ngak payah berfikir. Tetapi kalau ada sesuatu yang akan merubahkan suasana ini usah memikirkannya. Masuk pejabat Boss dan buat lampuran. Boss ada “Smart Alex” (seorang yg suka memandai) mahu merubah kehidupan rutin pejabat ini. Boss tolong lihat perbuatannya ini dan beri jawapan.
Harap kiasan di atas memberi pencerahan kepada semua, insya-Allah.

Read Full Post »

« Newer Posts

%d blogger menyukai ini: