Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2016

PAHAM HAKEKAT DZATIYAH

Ditengah-tengah ketakutan umat dan kebuntuan pemikiran yang seperti itu, maka muncullah Arif Billah H. Hussien Bin Abdul Latiff menawarkan sebuah konsep Paham yang tidak saja mencerahkan, tetapi juga sangat mudah dan sederhana untuk dipahami dan dipraktekkan. Paham yang Beliau sampaikan bisa disebut sebagai Paham Dzatiyah.

Paham ini berpijak pada landasan bahwa semua yang berkenaan dengan ciptaan hanya ada dan terjadi di dalam Lauhul Mahfuz saja. Di luar lauhul Mahfus tidak yang bisa mengetahuinya. Sebab di luar Lauhul Mahfuz itu, semuanya akan mampus karena terbakar hangus oleh keagungan Dzat Allah Yang Maha Indah.

Nah…, paham Dzatiyah ini mengatakan bahwa HAKEKAT dari semua ciptaan yang ada di dalam Lauhul Mahfuz itu adalah SEDIKIT dari DZAT Allah yang besarnya hanyalah seukuran sebutir pasir dibandingkan dengan padang pasir, atau setetes air masin dibandingkan dengan lautan. Sangat kecil sekali.

Kepada Dzat-Nya yang sedikit itulah Allah berfirman KUN, sehingga DARI Dzat-Nya yang sedikit itu pulalah kemudian TERZHAHIR semua yang berkenaan dengan ciptaan.

Mari kita uji pernyataan paham ini dengan berbagai pertanyaan, sebagai berikut:

Semua ciptaan berasal dari apa atau dari mana?. Kapan semua ciptaan itu di ciptakan?.

Paham Dzatiyah ini dengan jelas mengatakan bahwa asal-usul (HAKEKAT) semua ciptaan adalah dari Sedikit Dzat atau Diri Allah. Bukan dari ketiadaan, bukan dari kosong, dan bukan pula dari sesuatu yang lain dari selain Diri atau Dzat Allah. Karena sebelum ada segala sesuatu, yang ada hanya DIRI Allah sahaja.

Oleh sebab itu, ketika Allah berfirman KUN, maka Allah berfirman kepada Diri-nya sendiri. Akan tetapi Diri-Nya yang dikenai-Nya dengan firman Kun itu hanyalah sedikit sekali, bukan DIRI-NYA keseluruhan. Sedikit Diri-Nya yang terkena firman KUN itupun berubah fungsi menjadi DZAT atau UNSUR yang menjadi asal-usul dari semua Ciptaan.

Jadi sekarang sudah menjadi jelas sekali bahwa: Hakekat dari manusia adalah Dzat. Hakekat dari binatang adalah Dzat. Hakekat dari tumbuhan adalah Dzat. Hakekat dari bumi, bulan, matahari dan bintang-bintang adalah Dzat. Hakekat dari Angkasa Semesta Raya adalah Dzat. Hakekat dari Tujuh Lapis Langit adalah Dzat. Hakekat dari Sidratul Muntaha adalah Dzat. Hakekat dari Syurga dan Neraka adalah Dzat. Hakekat dari Lapisan Air, Arasy, dan 70 tabir Cahaya yang melindungi Lauhul Mahfuz adalah Dzat. Jelasnya…, Hakekat dari Lauhul Mahfuz itu adalah DZAT.

Kemanapun mata kita memandang, kita sudah tahu bahwa disebaliknya ada DZAT yang menjadi HAKEKAT dari semua yang terpandang. Hakekat itu meliputi semua ciptaan. Tiada sesuatu apapun yang bisa lepas dari liputan Dzat. Tidak ada sesuatu apapun yang bisa bersembunyi ataupun menghindar dari Dzat. Sehalus dan sekecil apapun sesuatu itu, maka Dzat juga akan meliputinya tanpa kecuali. Karena Dzat itu memang sangatlah Maha Halus.

Kalau kita melihat kepada diri kita, maka di sebalik tubuh kita ada Dzat. Di depan kita ada Dzat, di belakang kita ada Dzat, di dalam tubuh kita ada Dzat. Disebalik semua sel tubuh kita ada Dzat. Disebalik Ruh kita ada Dzat. Disebalik hati kita ada Dzat, disebalik jiwa kita ada Dzat. Disebalik nyawa kita ada Dzat.

Kita, seperti halnya juga dengan semua ciptaan yang lainnya, hanya seperti suatu SIFAT yang MENGAPUNG begitu saja di dalam DZAT. Apapun yang terjadi pada diri kita maupun pada semua ciptaan, semuanya itu semata-mata adalah karena lakonan atau aktifitas dari Dzat yang sangat patuh kepada Qada dan Qadar yang telah ditetapkan oleh Allah untuk mendzahirkan berbagai sifat.

Dengan mengenal hakekat seperti ini, maka kemanapun mata kita memandang, mata hati kita sudah KASYAF melihat bahwa disebaliknya adalah Dzat. Disebalik gerak nafas kita ada Dzat. Disebalik tumbuhan ada Dzat. Disebalik daya yang menggerakkan bumi dan bintang-bintang ada Dzat.

Dzatlah yang menyebabkan gerak itu terjadi. Karena Dzat memang meliputi segala sesuatu. Dzat akan sangat patuh kepada apa-apa yang sudah diperintahkan oleh Allah terhadap Dzat-Nya yang sedikit itu yang telah direncanakan oleh Allah sejak Firman KUN. Dzatlah yang mendzahirkan gerak itu, sehingga gerak itu kemudian menggerakkan Dzat-Nya Yang Dzahir. pada waktu yang telah ditentukan,

Sejak dari Firman KUN itu, telah selesai pulalah Rencana Allah yang Maha Sempurna terhadap apa-apa yang akan didzahirkan oleh Dzat-Nya menjadi berbagai SIFAT yang terlihat ataupun yang tidak terlihat oleh panca indera kita. Pendzahiran itu hanya tinggal menunggu waktu saja lagi.

Karena memang untuk semua pendzahiran itu segala sesuatunya telah difasilitasi pula oleh Allah tanpa ada yang dilupakan-Nya sedikitpun. Di dalam Dzat-Nya yang sedikit itu sudah tersedia daya, power, pengkodean, informasi, dan berbagai kebutuhan lainnya untuk pendzahiran segala macam makhluk dengan berbagai macam aktifitasnya. Dengan kata lain, Dzat akan patuh sepatuh-patuhnya mengikuti Qada dan Qadar yang sudah ditulis dan terencana dengan sangat Sempurna sejak firman Kun..

Sejak itu, semuanya sudah berjalan secara otomatis seperti beroperasinya pabrik mobil BMW atau Marcedes Benz yang berjalan secara otomatis. Allah sudah tidak ikut campur tangan lagi terhadap apa-apa yang akan terdzahir di dalam Lauhul Mahfuz. Karena memang Allah telah menciptakan Lauhul Mahfuz itu menjadi sebuah sistem yang bisa beroperasi secara otomatis yang tiada bandingannya. Manusia saja bisa membuat sebuah sistem otomatis berjalan tanpa campur tangan manusia itu sendiri. Apalagi Allah. Sang Maha Pencipta yang Maha Sempurna. Tentu Dia sangat-sangat bisa.

Makanya, setelah Firman Kun itu, Allah tinggal bersemayam atau terduduk meliputi Dzat-Nya Yang sedikit itu untuk mengawasi segala sesuatunya. Ayat Al qur’an mengistilahkannya dengan “… Lalu Dia bersemayam diatas Arsy…”, Al A’raf 54, dan di dalam beberapa ayat lainnya.

Istilah bersemayam diatas Arsy ini sebenarnya sangat mudah sekali untuk dipahami kalau kita sudah Mengenal Allah (makrifatulah) dengan pengenalan yang sebenar-benarnya. Arsy itu berada di dalam Lauhul Mahfuz. Sementara Lauhul Mahfuz itu sendiri hakekatnya adalah sedikit saja dari Dzat atau Diri Allah sendiri, maka dengan begitu Allah bisa dikatakan seperti “terduduk” diatas Arasy yang berada di dalam Dzat-Nya yang sedikit itu.

Hal itu tak ubahnya seperti terduduknya lautan pada setetes air masin. Atau seperti terduduknya padang pasir pada sebutir pasir. Atau seperti terduduknya sebuah gunung pada sebuah terowongan yang dibuat menembus perut gunung itu.

Dan segala kesibukan yang berkenaan dengan ciptaan hanya terjadi di dalam Dzat yang seukuran sebutir pasir itu, atau di dalam Dzat yang seukuran setetes air masin itu. Seperti halnya juga dengan segala kesibukan manusia dan kendaraan yang hanya terjadi di dalam sebuah terowongan yang menembus perut sebuah gunung saja.

Diluarnya, tidak ada yang tahu. Maha Rahasia. Apa yang terjadi di padang pasir yang luas tidak akan diketahui oleh jasad renik yang hidup di dalam sebutir pasir. Apa yang berlaku lautan yang luas tidak akan bisa diketahui oleh makhluk kecil yang berada di dalam setetes air masin. Dan apa yang berlangsung di seluruh badan gunung tidak akan bisa diketahui oleh makhuk yang berada di dalam terowogan di dalam perut gunung itu.

Jadi tidak ada masalah sedikitpun dengan istilah Allah bersemayam atau duduk diatas Arsy seperti yang disebutkan Allah di dalam Al Qur’an itu. Yang bermasalah adalah kitanya saja selama ini. Begitu dikatakan Allah duduk atau bersemayam, maka kita sudah membayangkankannya sama dengan duduk dan bersemayamnya kita diatas sebuah kursi atau tempat istirahat. Ya akhirnya kita bingung sendiri dibuatnya.

Dengan mengenal Hakekat semua ciptaan yang seperti ini, kita akan menjadi sangat mudah untuk bermakrifat kepada Allah. Sebab dari mengenal ALAM HAKEKAT yang SANGAT KECIL inilah kemudian kita jadi bisa pula mengetahui KEBENARAN akan KEMAHABESARAN ALLAH, KEWUJUDAN ALLAH, dan KEESAAN ALLAH. Dan entah kenapa, saat itupun air mata kita jatuh bercucuran tanpa bisa kita tahan-tahan. Sungguh mengherankan sekali.

Kalau tidak ada si kecil, maka kita juga tidak akan tahu ada si besar. Hanya saja, si kecil itu adalah bagian yang sedikit saja dari si besar. Tidak berpisah antara si kecil dan si besar. Ini ibarat kita membandingkan ujung kuku kita dengan diri kita yang keseluruhan. Siapapun juga bisa melihat bahwa diri kita sangatlah besar bila dibandingkan dengan ujung kuku kita. Dan kitapun bisa melihat bahwa tidak ada keterpisahan antara ujung kuku kita itu dengan diri kita.

Dengan mengenal bahwa Dzat yang meliputi semua ciptaan itu adalah sedikit dari Diri Allah sendiri, maka pastilah Allah bisa melihat, mendengar, dan mengetahui apa-apa yang terjadi dengan semua ciptaan-Nya itu. Dia melihat, mendengar, dan mengetahui tentang semua ciptaan-Nya itu melalui Dzat-Nya yang sedikit itu. Dan semua itu tak ubahnya seperti Allah melihat, mendengar, dan mengetahui terhadap Diri-Nya Sendiri.

Oleh karena semua makhluk adalah tercipta dari Dzat atau Diri Alah sendiri, maka semua mahkluk yang tercipta itupun bisa disebut sebagai Dzat-Nya juga, akan tetapi berbeda sifat dengan Dzat-Nya yang menjadi unsur pembentuk dari semua ciptaan itu. Untuk membedakannya, semua ciptaan itu disebut-Nya dengan Diri atau Dzat-Nya Yang Dzahir. “Dialah yang Dzahir”, firman Allah dalam Al Hadid (57):3. Sedangkan Dzat pembentuk semua ciptaan itu disebutnya dengan Diri atau Dzat-Nya Yang Bathin. “Dialah Yang Bathin”, firman Allah dalam Al Hadid (57):3.

Karena dari Dzat-Nya yang sedikit itulah berawalnya semua ciptaan, dan pada akhirnya semua ciptaan akan lenyap, sehingga yang tersisa kembali hanyalah Dzat-Nya yang sedikit itu, maka Dzat-Nya yang sedikit itu disebutnya juga dengan Diri atau Dzat-Nya Yang Awal dan Dzat-Nya Yang Akhir. “Dialah yang Awal dan Yang Akhir”, firman Allah dalam Al Hadid (57):3. Sedangkan Allah sendiri tidak berawal dan tidak berakhir.

Yang tidak kalah pentingnya adalah, dengan mengetahui bahwa apapun yang terjadi pada setiap ciptaan, apakah itu SEBAB atau AKIBAT, apakah itu BAIK atau BURUK, maka semua kejadian itu pada hakekatnya dilakukan oleh Dzat-Nya semata-mata. Dzat-Nya yang patuh melaksanakan apa-apa yang sudah tertulis di dalam Lauhul Mahfuz berupa Qada dan Qadar untuk menzhahirkan berbagai SIFAT yang berbeda-beda.

Inilah cikal bakal bagi kita untuk bisa memahami Rukun Iman yang ke-6, yang akan sangat sulit kita pahami tanpa kita melihatnya dari sudut pandang Ilmu Makrifatullah. Sebab dengan cara pandang seperti inilah, kita baru bisa terbebas dari keterikatan kita dengan berbagai kejadian baik yang kita lihat, kita baca, kita dengar, maupun yang kita alami. Karena dengan pandangan seperti ini, kita benar-benar sudah menjadi tidak wujud. Yang wujud adalah Dzat-Nya semata-mata. Dan Allah bebas berbuat apa saja terhadap Dzat-Nya.

Begitulah selanjutnya, dengan mengenal Dzat sebagai Hakekat dari semua ciptaan. Dimana Dzat itu meliputi semua ciptaan, maka dengan sangat mudah kita akan bisa mengenal maksud dari ayat-ayat atau hadist makrifatullah yang lainnya.

Misalnya:
Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?, Al Mulk (67):14;
Allah sentiasa Meliputi akan tiap-tiap sesuatu, An Nisa (4):126;
Dan Allah jualah yang memiliki timur dan barat, maka ke mana sahaja kamu menghadap di situ ada wajah (Dzat) Allah, Al Baqarah (2):115;
Dia bersama kamu di mana sahaja kamu berada, Al Hadid (57):4;
Kami lebih dekat kepadanya dari urat nyawanya, Qaaf (50):16;
Anak adam melukaiKu dengan mencaci Masa kerana Masa itu adalah Aku, Sunan Abu Dawud Vol. 3, 1452 (1990), dan sebagainya.

Semua ayat-ayat makrifatullah tersebut diatas adalah mengacu kepada Dzat-Nya yang sedikit saja. Oleh sebab itu, maka bagaimanapun juga kita, yang katanya bisa, berjalan lurus menuju Allah, maka yang akan kita jumpai itu hanyalah Dzat-Nya yang sedikit saja. Tidak lebih.

Jadi…, kita TIDAK akan pernah bisa berjumpa dengan Allah kalau kita HANYA mencoba untuk MENJALAN-JALANKAN RUH kita, atau Jiwa kita, atau Ruh Suci kita, atau apa sajalah namanya, seperti yang dipakai dalam kebanyakan ajaran tasawuf seperti yang telah diterangkan diatas. Karena kemanapun kita berjalan atau mengarah, maka yang akan kita temukan hanyalah Dzat-Nya yang sedikit saja. Mau dinamakan apa saja yang kita capai dalam memperjalan-jalankan RUH kita, apakah itu alam Ghaib, alam yang Maha Ghaib, dan sebagainya, maka yang kita temukan itu maksimum hanyalah Dzat-Nya yang sedikit saja.

Karena banyak kita umat islam ini yang TERSILAP dalam bermakrifat, dan kita mendirikan ibadah-ibadah kita diatas fondasi makrifatullah yang tersilap itu, maka pengaruh dan manfaat dari ibadah-ibadah yang kita lakukan itupun menjadi sangat kecil sekali kalau tidak mau dikatakan tidak ada.

Akan tetapi, insyaallah untuk dimasa-masa yang akan datang, dengan berbekal ilmu makrifatullah yang lebih mudah dan sederhana, seperti yang diajarkan oleh Ustadz Hussien BA Latiff, umat Islam akan kembali menemukan kejayaannya seperti dizaman-zaman awal islam dulu tumbuh dan berkembang.

Untuk memudahkan kita dalam memahami Perbandingan ketiga alternatif paham tersebut diatas, saya telah mencoba untuk menyederhanakannya dalam bentuk tabel seperti berikut:

DZAT-WAHDATUL (2)

Nur muhammmad (2)

Bersambung

 

Iklan

Read Full Post »

Sekarang marilah kita lihat sebuah contoh tentang bagaimana ilmu tasawuf yang umumnya ada saat ini mengajarkan kita untuk mencari hakekat diri kita dan kemudian baru setelah itu kita bisa bermakrifat kepada Allah.

Pertama kali yang diajarkan kepada kita adalah untuk BERDZIKIR dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang lama, sampai pada suatu saat kita akan bisa dengan sendirinya menemukan HAKEKAT diri kita. Siapa diri sejati kita. Who Am I.

Setelah kita bertemu dengan diri sejati kita, Hakekat diri kita, yang konon katanya adalah RUH SUCI, yaitu Jiwa kita yang sudah suci bersih dari segala kotoran, maka Ruh Suci itulah nantinya yang akan bisa kembali kepada Allah, bisa berbicara dengan Allah, dan mendapatkan Ilham dari Allah. Karena memang Ruh Suci itu diangap sebagai PERCIKAN dari Allah sendiri. Ia berasal dari Allah. Ia adalah Ruh Allah sendiri yang ditiupkan kedalam tubuh kita. MIN-RUHI. Sehingga dengan begitu ada pula orang yang menganggap bahwa Ruh Suci itu bukanlah ciptaan Allah, tapi percikan Ruh Allah sendiri yang diberikan Allah kepada manusia.

Untuk menguatkannya, berbagai ayat dan hadist pun ditambahkan. Dengan berbekal itu, hakekat manusia itu dibahas dan dicari dengan sangat bersemangat sekali. Akan tetapi bahasan dan pencarian itu tetap berdasarkan filsafat-filsafat yang telah berkembang ditengah-tengah masyarakat sejak berbilang zaman yang lalu. Kemudian, ketika hakekat manusia itu digabung dengan hakekat dari semua ciptaan, maka muncullah kesimpulan akhir yang sangat berbeda-beda. Perbedaan hasil akhir inilah yang kemudian melahirkan berbagai Paham atau filsafat dalam aliran Tasawuf.

Misalnya, pada filsafat WAHDATUL WUJUD muncullah pandangan bahwa hakekat semua ciptaan adalah ALLAH sendiri. Ciptaan adalah Allah, dan Allah adalah ciptaan. Ciptaan adalah wujud yang dzahir, sedangkah Allah adalah wujud yang bathin. Tiada terpisah antara yang dzahir dengan yang bathin. Jadi tidak terpisah antara makhluk dengan Allah. Disebalik semua ciptaan adalah Allah. Yang menggerakkan nafas kita ini adalah Allah langsung, yang mengerakkan tubuh kita ini adalah Allah langsung.

Makanya orang yang berpegang pada filsafat wahdatul wujud ini seringkali merasa bingung, “saya ini makhluk atau Allah sih, saya ini Allah atau makhluk sih”, tanya mereka membatin. Sebab kadangkala dia merasa seperti bisa berkuasa dan kadangkala pula dia merasa seperti tidak bisa berkuasa terhadap dirinya. Dia terombang ambing dalam sebuah ketidakpastian yang sangat menyakitkan. Dia merasa tersiksa.

Maka untuk menghindar dari rasa tersiksa itu, muncullah kemudian berbagai usahanya yang sangat aneh-aneh untuk memfanakan dirinya agar dia bisa merasa TIDAK WUJUD sehingga ia menjadi tidak tersiksa lagi. Sebab kalau dia sudah FANA, maka (katanya) yang tinggal hanya Allah sendiri. Dan itu dilengkapinya pula dengan ayat; “kullu man ‘alaihaa faanin wayabqaa wajhu rabbik, semua yang ada dibumi akan FANA, dan yang tetap BAQA (kekal) Wajah Tuhanmu…”, Ar Rahman 26-27.

Namun upaya untuk menjadi FANA itulah yang seru. Saya sudah melatihnya dengan berbagai cara dan metoda selama belasan tahun, seperti yang telah saya ceritakan dalam bagian terdahulu. Tetapi sampai saya akhirnya meninggalkan cara dan metoda itu, saya tetap merasa masih BELUM bisa menjadi FANA.

Ada memang yang mengaku sudah sampai menjadi FANA, tapi anehnya adalah ia masih bisa berkata-kata. Dan ketika dia berkata-kata itu dia mengaku pula: “perkataanku ini bukanlah dari ku, tapi Allahlah yang berkata-kata; perbuatanku ini bukanlah dariku sendiri, tapi perbuatan dari Allah; marahku ini bukanlah dariku sendiri, tapi marahnya Allah; dan sebagainya”. Masak sih kalau Allah yang berkata-kata, kalau Allah yang berbuat, kalau Allah yang marah, kualitasnya hanya semelikitik begitu. Terlalu kecil.

Pertanyaan selanjutnya, kalau Allah yang menjadi hakekat dari semua makhluk, lalu makrifatnya apa?. Masak Allah lagi?. Hakekatnya Allah, makrifatnya Allah. Ya nggak nyambunglah. Pasti bingung jadinya. Makanya ada yang merasa bahwa kalau di dalam shalat seakan-akan dia merasa bahwa dirinya yang diluar menyembah dirinya yang di dalam. Atau ketika dia merasa dirinya sudah menjadi diri yang universal, diri yang luas, maka dia merasa bahwa dia menyembah dirinya sendiri. Membingungkan sekali keadaan dan suasana yang dialaminya. Sehingga tidak jarang setelah itu dia tidak akan shalat lagi. Karena dia merasa seperti menyembah dirinya sendiri.

Atau kalau ada yang masih shalat, maka shalatnya itu tak lebih dari usahanya untuk mendapatkan rasa tenang dan bahagia saja. Dan untuk mendapatkan hal itu selalu harus ditandai dengan adanya TERASA getaran DI DALAM DADANYA. DERR. Dan getaran itulah, katanya, yang menandakan bahwa RUH nya telah bersambung dengan Allah. Kalau tidak ada DERR nya, maka ia akan sangat gelisah dan ketakutan sekali. Karena saat itu seakan-akan Allah sudah menjauh darinya. Lalu dia akan melakukan berbagai aktifitas tadzkiyatunnafs lagi agar ia dapat kembali merasakan getaran rasa sambung itu. Lagi…, lagi…, dan lagi…

Keadaan seperti ini pulalah yang telah saya alami selama bertahun-tahun lamanya. Dan ternyata saya tidak kuat untuk menahannya, sehingga sayapun meninggalkan cara-cara ini secara total sejak bulan Februari 2014 sampai sekarang.

Pada filsafat NUR MUHAMMAD lain lagi. Walaupun cara latihan dan aktifitas yang dilakukan hampir sama saja dengan filsafat WAHDATUL WUJUD, yaitu DZIKIR sebanyak-banyaknya dan dalam waktu yang selama-lamanya, namun perbedaan utamanya adalah dalam hal memahami HAKEKAT dari semua ciptaan.

Di dalam faham ini, yang menjadi HAKEKAT dari semua ciptaan adalah NUR MUHAMMAD. Bukan Allah seperti dalam faham Wahdatul Wujud. Sebelum Firman KUN Allah terlebih dahulu menciptakan Nur Muhammad dari setengah Dzat-Nya sendiri. Lalu setelah itu barulah Allah berfirman KUN kepada Nur Muhammad itu. Dan dari Nur Muhammad itulah kemudian tercipta semua makhluk. Jadi menurut paham ini, semua ciptaan ini adalah berasal dari Nur Muhammad.

Pertanyaannya sih simple saja, Hakekat dari Nur Muhammad itu sendiri apa?. Asal usul dari Nur Muhammad apa?. Masak Nur Muhammad ada tanpa berasal dari sesuatu. Kan nggak mungkin. Selama masih bisa dipertanyakan begitu, maka Nur Muhammad itu belumlah bisa dianggap sebagai hakekat dari seluruh ciptaan.

Akan tetapi, karena telah terlanjur menganggap Nur Muhammad adalah hakekat dari semua ciptaan, maka segala aktifitas penganut paham ini akan ditujukan untuk menemukan Nur Muhammad itu. Penganutnya akan mencoba menghubungkan diri mereka dengan Nur Muhammad itu melalui proses rabithah dan proses lamunan lainnya.

Sebelum beribadah mereka terlebih dahulu harus membayangkan wajah guru mereka. Guru merekapun dibayangkan sedang terhubung dengan gurunya…, …, sampai ke Nabi Muhammad Saw. Mereka harus yakin bahwa mereka merasa bisa terhubung sampai ke Nabi Muhammad Saw, dengan harapan bahwa suatu saat nanti mereka juga bisa melihat Allah seperti Nabi Muhammad SAW melihat Allah di waktu peristiwa isra’ mi’raj dulu. Padahal apakah Nabi bisa melihat Allah atau tidak disaat peristiwa isra mi’raj itu, masih terjadi silang pendapat para ulama. Ada yang mengiyakan, ada yang menidakkan, dan ada pula yang netral. Semuanya lengkap dengan dalil-dalilnya pula.

Aktifitas UTAMA yang harus kita lakukan kalau kita menganut paham Nur Muhammad atau paham Wahdatul Wujud ini adalah kita harus BERDZIKIR sebanyak-banyaknya. Dan berdzikir disini lebih cocok disebut sebagai WIRIDAN. Karena aktifitasnya memang lebih banyak dengan cara menyebut-nyebut (nama) Allah dari pada mengingat Allah. Sehingga urutan prosesnya adalah: SYARIAT-TAREKAT-HAKEKAT-MAKRIFAFAT.

Bagaimana caranya, silakan saja lihat di youtube. Disana banyak sekali tersedia teknik-teknik untuk wiridan atau dzikir untuk mencapai makrifat, seperti dzikir nafas, dzikir goyang-goyang, dan berbagai dzikir tarekat lainnya.

Begitu pentingnya akitfitas berdzikir ini kita lakukan, bahkan sampai-sampai dikatakan bahwa kita tidak akan pernah bisa mencapai makrifat kepada Allah kalau kita tidak berdzikir menurut cara atau tarekat tertentu. Menakutkan sekali.

Bersambung.

Read Full Post »

HAKEKAT DARI SEMUA CIPTAAN.

Mengenal HAKEKAT dari segala ciptaan adalah sebuah TITIK AWAL yang sangat penting (WAJIB) bagi siapapun juga agar supaya setelah dia bisa BERMAKRIFAT dengan MUDAH. Sebab setelah mengenal hakekat, kita hanya tinggal selangkah kecil saja lagi untuk bermakrifat kepada Sang Pemilik Hakekat. Kita tidak butuh usaha ataupun bahasan apa-apa lagi untuk bermakrifat.

Kalau kita sudah mengenal Hakekat dari Semua Ciptaan ini dengan betul dan tepat, maka dengan tak terbantahkan lagi kita akan mengenal pula bahwa Sang Pemilik dari Hakekat itu adalah Allah SWT. Dan mengenal Allah SWT sebagai pemilik hakekat itulah yang dinamakan sebagai MAKRIFATULLAH.

Tanpa mengenal hakekat dari semua ciptaan terlebih dahulu, maka kita akan sangat kesulitan untuk bermakrifat kepada Allah SWT. Kita akan kesulitan dalam mengenal Allah. Padahal segala macam peribadatan yang akan kita lakukan fondasi utamanya adalah pada pengenalan kepada Allah SWT (makrifatullah) itu. Tidak bisa tidak. Keliru bermakrifat, maka keliru pula peribadatan yang akan kita lakukan.

Masalahnya adalah, JALAN yang tersedia di depan mata kita saat ini, untuk mengenal hakekat dari semua ciptaan ini agar kita bisa bermakrifat kepada Allah SAJA, sungguh sangat sulit dan beragam sekali.

Ada jalan yang penuh dengan teka teki silang seperti: Allah wujud tapi tidak bertempat. Allah dekat tapi tidak bisa disentuh. Allah wujud, tapi tidak bertempat dan tidak berwaktu. Mbulet begitu pembahasannya saja setiap saat. Akhirnya muncul kesimpulan, hakekat dan makrift tidak perlu dibahas. Cukup jalankan saja dzikir ini dan itu sampai tua dan beruban.

Ada pula jalan berliku yang harus kita lakukan terlebih dahulu agar kita bisa BERJUMPA dengan Allah. Misalnya dengan cara kita berusaha MEMPERJALAN-JALANKAN RUH atau JIWA kita LURUS menuju Allah. Katanya sih itu perjalanan spiritual. Atau bisa pula dengan cara seolah-olah kita bisa menyambung-nyambungkan RUH kita dengan Allah. Atau ada pula yang membuat kita harus sampai berangan-angan atau menyadar-nyadarkan diri kita seperti sedang berada di alam ghaib. Pokoknya aneh-aneh saja aktifitas yang harus kita lalui dan lakukan. Katanya sih itu agar kita bisa FANA dihadapan Allah.

Akan tetapi, sekarang ini ada sebuah jalan alterntif yang sangat mudah tersedia melalui jalan ILMU PENGETAHUAN seperti yang diajarkan oleh Arif Billah Ustadz H. Hussien BA Latiff. Jalan melalui ILMU PENGETAHUAN ini memang jauh lebih mudah dan lebih tinggi tingkatannya dari pada jalan-jalan yang berdasarkan lamunan dan latihan-latihan yang tidak jelas asal-usulnya seperti diatas. Cara yang Beliau ajarkan jauh lebih sederhana dan lebih mudah dari latihan-latihan tadzkiyatunnafs berdasarkan buku-buku tasawuf lama yang bercerita tentang berbagai perjalanan rohani dari pengarang kitab-kitab tersebut.

Saya sendiri sudah menjalani ke tiga cara tersebut diatas dengan sangat intens. Dan saya merasakan bahwa melalui JALAN ILMU PENGETAHUAN seperti yang diajarkan oleh Ustadz Hussien BA Latiff adalah jalan yang tercepat, terpenak, dan termudah bagi saya, dan juga bagi banyak sahabat saya yang lainnya. Karena Allah SWT sendiri memang sudah menjamin tingginya derajat ILMU PENGETAHUAN dibandingkan dengan cara-cara lamunan dan halusinasi yang banyak beredar saat ini. Mari kita simak ayat-ayat berikut ini:

1.“… Allah SWT akan meninggikan orang-orang yang BERIMAN diantaramu dan orang-orang yang diberi ILMU PENGETAHUAN beberapa derajat…”, Al Mujadilah (58):11.

2.“… Jika kamu MENGETAHUI dengan PENGETAHUAN YANG YAKIN, niscaya kamu benar-benar akan MELIHAT NERAKA JAHIIM..”, At Takathur (102):5-6.

3.“… Adakah sama antara orang-orang yang MENGETAHUI dengan orang-orang yang TIDAK MENGETAHUI…?, Az Zumar (39): 9.

4.“… Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah ULAMA (orang yang BERILMU)…”, Fathir (35): 28.

5.“… Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada memhaminya kecuali orang-orang yang BERILMU…”, Al Ankabut (29): 43;

6.“… Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam SHADRAH (DADA atau KESADARAN) orang yang diberi ILMU”, Al Ankabut (29): 49.

7.Bukan hanya diantara sesama manusia saja orang yang berilmu di tinggikan derajatya oleh Allah SWT, tetapi syaitanpun mengakui bahwa: “satu orang FAQIH (yang BERILMU) adalah lebih berat bagi syaitan daripada 1000 orang ABID (ahli ibadah)”, Sunan Ibnu Majah Bk. 1, 179 (1992).

Dan disinilah letak kesalahan saya dulu dalam beribadah dan dalam mengikuti beberapa pelatihan spiritual yang saya lakukan selama belasan tahun. Bahwa semuanya saya lakukan dengan TANPA ILMU. Semuanya nyaris hanya coba-coba dan ikut-ikutan orang. Saya melaluinya seperti sedang meraba-raba di dalam gelap gulita. Apa kata guru, saya ikut saja. Padahal guru-guru saya itupun boleh jadi juga masih dalam tahapan meraba-raba juga. Makanya selama itu pula saya seperti dihinggapi oleh berbagai rasa tertekan, rasa tidak nyaman, dan rasa bosan yang sulit untuk saya hilangkan.
Mari kita lihat sejenak beberapa usaha umat manusia untuk mengenal jati dirinya, untuk mengenal hakekat dari dirinya sendiri dan juga semua ciptaan.

Selama ini banyak orang yang mencari, membahas, mendefinisikan tentang apa itu hakekat manusia, apa itu hakekat alam semesta, atau bahkan apakah gerangan hakekat dari semua ciptaan ini. Namun semua bahasan itu umumnya tidak pernah bisa sampai pada titik akhir yang tidak bisa dipertanyakan lagi. Sebab hakekat memang maknanya adalah kita harus sampai kepada titik akhir pembahasan tentang ASAL-USUL YANG SEBENARNYA dari sesuatu yang kita pertanyakan asal-usulnya itu.

Misalnya kalau saya ditanya berasal dari mana, maka saya bisa menjawab bahwa saya berasal dari BUKITTINGGI, SUMATERA BARAT. Jelas asal saya. Sehingga orang yang sudah sudah tahu dimana Bukittinggi itu berada tidak akan bertanya-tanya lagi. Ooo…, Bukittingi. Ya sudah PAHAM saja. Kalau saya ditanya lagi, paling yang ditanyakan adalah dimana alamat lengkap saya. Siapa tahu yang bertanya itu masih tetangga saya yang sudah tidak berjumpa sejak sekian puluh tahun yang lalu.

Begitulah, banyak yang membahas dari mana asal-usul manusia ini. Ada yang membahasnya dari sudut pandang FALSAFAT bahwa manusia adalah makhluk hewani yang berakal. Atau sudut pandang POTENSI manusia bahwa manusia adalah hasil puncak dari mata rantai evolusi yang terjadi dengan sendirinya di alam semesta. Atau manusia adalah makhluk ekonomi, makhluk yang tidak bisa lepas dari orang lain, makhluk yang memiliki jiwa yang mana jiwa itu merupakan hal yang esensisal dari diri manusia dan kemanusiaannya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa manusia ini berasal dati TIADA, kemudian menjadi ADA dengan sendirinya. Aneh-aneh saja jawabannya. Yang ditanya apa, jawabannya entah apa pula.

Ada pula memang yang sudah menjawabnya dengan membawa-bawa ajaran Islam, misalnya Manusia adalah Makhluk Ciptaan Allah SWT. Dan ia telah mencantumkan pula ayat berikut ini:

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani menjadi segumpal darah, menjadi segumpal daging yang diberi bentuk dan yang tidak berbentuk, untuk Kami perlihatkan kekuasaan Tuhanmu.”Q.S. Al-Hajj ayat 5.

Dan itu bisa pula ditambahkan dengan ayat:

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (al Mu’minuun 14), dan ayat;

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kepadanya RUH (CIPTAAN) -NYA dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. As Sajdah ayat 7-9, dan ayat;

“Dialah yang menciptakanmu dari satu diri”, Q.S. Al-A’raf 189,

Tapi dengan jawaban-jawaban yang seperti itu, akal manusia zaman sekarang biasanya masih belum cukup puas. Masih akan muncul pertanyaan: Diciptakan dari apa, dimana diciptakan, kapan diciptakan, bagaimana proses penciptaannya?. Sementara itu teori revolusi dengan perlahan tapi pasti seperti menarik-narik kita untuk meragukan teori penciptaan itu. Sebab secara kasat mata memang terlihat adanya sebuah proses evolusi yang selalu berubah setiap saat yang mengantarkan terciptanya berbagai makhluk pada waktu tertentu. Sementara ulama syariah dan tasawuf juga seperti telah kehabisan peluru untuk mempertahankan teori penciptaan oleh Allah untuk melawan dan mematahkan teori evolusi tersebut.

Bersambung.

Read Full Post »

Untuk memahaminya mari kita lihat beberapa contoh berikut ini terlebih dahulu:

1. Kalau kita melihat ke dalam sebuah toko kue, maka kita akan melihat berbagai macam warna, ukuran, bentuk, model, dan cita rasa kue yang di jual di dalamnya. Kelihatan sekali begitu banyak ragam dan bedanya antara satu kue dengan kue yang lain.

Kalau kita lihat lebih teliti lagi, maka dari sekian banyak beda dan ragam itu, sebenarnya antara satu kue dengan kue yang lain itu hanya berbeda dalam hal SIFAT saja. Dengan pandangan mata yang seperti ini, maka setiap kali kita melihat kue yang berbeda-beda, maka yang kita lihat sekarang adalah hanya sekedar perbedaan sifat saja. Kita tidak akan memikirkan lagi kenapa kue-kue itu berbeda, bedanya apa, sebabnya berbeda apa, mana yang lebih baik, mana yang lebih enak, mana yang lebih ini dan itu. Ketika kita mencoba sebuah kue, kita sudh tidak akan membandingkannya lagi dengan kue-kue yang lain, karena perbedaannya hanya dalam hal sifatnya saja kok. Berbeda sifat, maka berbeda pula cita rasanya. Tinggal kita pilih kue yang cita rasa cocok dengan lidah dan selera kita tanpa kita melecehkan kue-kue yang lain. Dengan cara pandang seperti ini, maka satu masalah yang tadinya rumit akan bisa selesai dengan sangat mengherankan.

Akan tetapi berhenti pada melihat sifat ini masih bisa menimbulkan potensi bahaya yang sangat besar. Karena melihat sifat itu memang atributnya masih terlihat banyak. Ada sifat ini dan ada sifat itu. Masih bisa berbeda-beda, yang tergantung kepada selera dari masing-masing kita menamainya.

Andaikan kita melihat lebih dalam lagi kepada UNSUR PEMBENTUK dari semua kue itu, maka kita akan tercengang dibuatnya. Bahwa semua kue itu ternyata dibuat dari TEPUNG. Ya…, ternyata unsur dasar dari semua kue itu adalah tepung. Dengan menyadari bahwa tepunglah yang menjadi unsur dasar dari semua kue, maka kita akan semakin tenteram melihat berbagai perbedaan kue yang ada di depan mata kita. Karena kita sudah melihat HAKEKAT sebenarnya dari kue-kue itu, yaitu tak lebih dan tak kurang hanyalah TEPUNG saja. Tepung yang di diemplek-emplek menjadi berbagai SIFAT.

Setelah kita mengenal tepung sebagai Hakekat dari kue-kue itu, maka kita tinggal selangkah lagi untuk mengenal dari mana tepung itu BERASAL. Mengenal darimana sebuah HAKEKAT itu berasal, itulah yang disebut sebagai BERMAKRIFAT. Mengenal Yang Asal. Misalnya, asal dari tepung itu adalah dari Gandum, atau dari Beras.

Maka Gandum atau Beras itulah yang disebut sebagai MAKRIFAT dari KUE-KUE yang sifat-sifatnya beragam. Sedangkan Tepung adalah HAKEKAT dari kue-kue itu.

2.Kalau kita melihat berbagai perabotan dirumah atau disebuah toko meubel, maka kita akan melihat berbagai macam perabotan seperti Meja, Kursi, Lemari, Bangku, Tempat tidur, dan sebagainya. Dengan cara seperti diatas, maka kita tidak akan kesulitan untuk mengatakan bahwa perbedaan antara satu meubel dengan yang lainnya hanyalah berbeda dalam hal SIFATNYA saja. Meja, kursi, bangku, lemari dan tempat tidur itu hanya mempunyai sifat-sifat yang berbeda saja satu dengan yang lainnya. Akan tetapi hakekatnya adalah satu saja, yaitu KAYU.

Dengan melihat bahwa hakekat semua meubel itu hanyalah satu, yaitu kayu, maka penilaian dan penghargaan kita kepada sifat-sifat itu juga akan menjadi netral-netral saja. Tidak ada lagi yang lebih antara satu meubel dengan meubel yang lainnya. Semuanya hakekatnya sama saja. KAYU. Dan kayu itu asalnya adalah dari POHON. Jadi makrifat dari meubel itu adalah POHON.

3.Begitulah seterusnya, kalau kita melihat sandal jepit yang beraneka warna dan model, maka kita sudah tahu saja bahwa hakekat dari sandal jepit itu sebenarnya adalah KARET. Sedangkan makrifatnya adalah GETAH. Kalau kita melihat sepotong BAJU, maka kita sudah tahu saja bahwa hakekat dari baju itu adalah BENANG, dan makriftnya adalah KAPAS. Dengan mengenal makrifat dari sandal jepit dan baju seperti itu, maka kita akan berhenti bergaduh untuk membicarakan tentang segala perbedaan sifat dari berbagai jenis sandal jepit ataupun berbagai model baju. Karena memang tidak ada gunanya membicarakannya.

Jadi untuk mengenal MAKRIFAT sebagai tempat berhentinya kita berpikir atas sesuatu, maka kita harus MENGENAL HAHEKAT dari sesuatu itu terlebih dahulu. Tanpa mengenal hakekat, maka jangan harap kita akan bisa bermakrifat tentang sesuatu itu.

Hakekatlah yang MENYATUKAN segala SIFAT yang berbeda-beda itu. Mengenal Hakekat, maka berarti kita akan sangat mudah untuk menghilangkan segala perbedaan dalam hal sifat. Karena hakekat itu hanya satu. Tidak dua, apalagi tiga. Kalau sudah satu, maka dimana lagikah adanya perbedaan?, dimana lagikah adanya pergaduhan?.

Setelah mengenal Hakekat, maka hanya tinggal selangkah kecil saja lagi bagi kita untuk bermakrifat. Karena makrifat adalah pemilik dari hakekat. Makrifat adalah asal dari hakekat. Tidak bercerai antara SIFAT – HAKEKAT – dan MAKRIFAT.

Proses inilah yang disebut oleh Arif Billah Ustadz H Hussien BA Latiff sebagai dari SIFAT kepada HAKEKAT untuk kemudian BERMAKRIFAT. Dan proses itu bisa berlangsung sangat cepat sekali, tanpa terlebih dahulu harus melalui laku wiridan yang jumlahnya sampai ratusan ribu kali dan dalam jangka waktu yang lama pula. Proses yang ajarkan oleh Beliau adalah melalui syarahan Makrifatullah dan Pembukaan Pintu Makrifatullah. Syarahan ini sudah diakui kebenaran dan kecepatan prosesnya oleh berbagai penganut tarekat yang pernah mengikuti syarahan Beliau, baik di Singapore, Malaysia, Indonesia, maupun di berbagai belahan dunia lainnya.

Bersambung.

Read Full Post »

PENTINGNYA MENGENAL HAKEKAT.

Sampai sekarang, untuk mempelajari Ilmu Makrifatullah ini, umat islam terpecah menjadi dua golongan besar, yaitu golongan pertama yang mengatakan bahwa untuk belajar makrifatullah itu cukup hanya melalui pintu SYARIAT – MAKRIFAT, dan golongan kedua yang memercayai bahwa untuk bermakrifatullah itu wajib terlebih dahulu bertarekat sehingga urutannya proses menjadi sebagai berikut: SYARIAT – TAREKAT – HAKEKAT – MAKRIFAT.

Golongan pertama tidak mempersyaratkan apa-apa dalam memelajari makrifat itu. Kita cukup hanya membaca nash-nash al qur’an, al hadist dan pendapat-pendapat salafush sholeh tentang serba serbai Allah. Lalu setelah itu, tanpa melakukan amalan apa-apa, kita sudah dianggap bisa mengenal Allah. Setelah itu kita tinggal beribadah sesuai dengan contoh dari Nabi SAW.

Akan tetapi golongan kedua sangat mewajibkan kita untuk ikut salah satu atau lebih dari beberapa TAREKAT MUKTABARAH terlebih dahulu. Barulah pada akhirnya kita akan bisa mendapatkan pengenalan kepada Allah melalui sebuah ILHAM dipuncak pelaksaan tarekat itu.

Program utama dari sebuah tarekat biasanya adalah WIRIDAN atau MENYEBUT-NYEBUT kalimat-kalimat TASBIH, TAHMID, TAHLIL, TAKBIR, atau menyebut ALLAH-ALLAH-ALLAH sebanyak-banyaknya, yang jumlahnya bisa ribuan, puluhan ribu, bahkan ratusan ribu. Kegiatan yang seperti ini disebut dengan DZIKIR.

Karena butuh hitung-hitungan, maka sebagai alat bantu hitung dibutuhkanlah TASBIH yang bentuknya mirip MALA atau GANITRI seperti yang dipakai oleh umat Budha atau Hindu, akan tetapi dengan ukuran yang sedikit lebih kecil. Atau ROSARIO seperti yang dipakai oleh umat kristen, terutama umat katolik Roma.

Akan tetapi, sebenarnya aktifitas yang seperti ini tidak cocok untuk disebut sebagai DZIKIR. Karena DZIKIR maknanya adalah MENGINGAT. Sehingga dzikrullah akan bermakna sebagai aktifitas untuk MENGINGAT ALLAH. Bukan menyebut-nyebut atau memanggil-manggil Allah dalam jumlah hitungan tertentu, baik secara JAHAR maupun secara SIRR.

Masalah yang dihadapi kedua golongan ini adalah; golongan pertama kebanyakan ngomong dan sering dalam keadaan bingung, sedangkan golongan kedua kelamaan waktu prakteknya. Sehingga yang tersisa bagi umat islam kebanyakan seperti kita ini, adalah kita hampir saja kehilangan fondasi di dalam ibadah-ibadah yang kita lakukan.

Mari kita lihat dimana letak pokok permasalahannya.

Al Qur’an dan Al Hadist sering menyatakan bahwa Makhluk adalah Ciptaan Allah. Tidak akan ada makhluk kalau tidak ada Allah. Allah pulalah yang mengatur dan mengasuh semua mahkluk-Nya. Apapun yang terjadi pada setiap makhluk itu, semuanya adalah dalam kerangka pengaturan dan pengasuhan Allah. Karena memang Allah adalah RABB (Sang Maha Pegasuh, Sang Maha Pengatur) AL ALAMIN (bagi alam semesta beserta segala isinya).

Oleh sebab itu yang wajib diingat oleh umat manusia sebenarnya adalah sederhana saja. Ketika kita melihat berbagai Makhluk, maka kita langsung Ingat kepada Allah. Ketika kita melihat segala macam pengaturan dan pengasuhan yang terjadi terhadap Makhluk, maka kita segera Ingat kepada Allah Yang Maha Mengasuh. Lalu setelah itu barulah kita sembah Allah yang telah kita ingat tersebut. Kita jalankan pula tugasan yang telah ditetapkan Allah untuk kita laksanakan dengan sebaik-baiknya dan dengan kualitas diri kita yang hanya sebagai BONEKA atau ALAT PERKAKAS ALLAH saja.

Dizaman-zaman generasi awal Islam, pemahaman dan pengertian seperti ini sangat mudah sekali didapatkan. Setiap melihat Makhluk atau memperhatikan segala pengasuhan yang terjadi atas Makhluk itu, mereka berhenti dalam kekaguman yang amat sangat terhadap Kewujudan Allah dan Sempurnaan Pengaturan Allah.

Jadi bagi mereka tidak ada masalah untuk bisa bermakrifatullah, Mengenal Allah. Sehingga tidak ada masalah sedikitpun bagi mereka untuk bersikap IHSAN kepada Allah kapanpun juga dan dimanapun juga. Mereka juga mampu menghargai sesama dengan penghargaan, penghormatan, dan kasih sayang yang sangat mengagumkan, tidak hanya kepada sesama umat muslim tetapi juga kepada umat yang non muslim.

Akan tetapi 300 tahun setelah kewafatan Rasulullah SAW sampai sekarang, ternyata hal yang mudah itu telah menjadi sulit dan rumit untuk dipahami. Pengenalan umat Islam terhadap Allah kelihatannya telah mundur ke level yang sangat rendah. Dan tentu saja itu dengan segala akibatnya pula seperti yang sudah kita lihat selama ini.

Bagaimana kita akan bisa mengenal Allah kalau yang terlihat oleh kita selama ini adalah berbagai makhluk dengan segala atribut dan tingkah lakunya yang banyak dan berbeda-beda. Kita juga dibuat terkaget-kaget dengan perilaku orang-orang yang ada disekitar kita. Kita terheran-heran dengan temperamen umat islam yang sangat kasar terhadap sesama umat islam. Sedikit perbedaan saja telah sanggup memicu sumpah serapah dan hujatan yang mematikan keluar dari mulut orang-orang yang mengaku lebih hebat dan lebih benar.

Sebenarnya banyak orang yang bermimpi untuk menyatukan umat islam ini menjadi satu umat yang besar yang ditakuti oleh lawan dan disegani oleh kawan. Ada yang ingin membentuk khalifah islamiah, ada yang memimpikan daulah islamiah, ada yang berusaha untuk membangun pemerintahan islamiah, dan sebagainya.

Akan tetapi bagaimana akan bisa menjadi umat yang SATU kalau yang terlihat di depan mata masih hal yang BANYAK dan BERBEDA-BEDA. Bagaimana akan bisa menjadi daulah yang satu kalau yang terlihat masih terpisah-pisah dan terpecah belah. Bagaimana mau bergabung menjadi SATU umat yang solid kalau yang ada masih berbetuk makhluk-makhluk yang penuh dengan EGO, KEHENDAK, dan KESOMBONGANNYA masing-masing. Tentu sangat jauh panggang dari api.

Sebab untuk bisa menjadi satu, semua yang tadinya terlihat banyak, berbeda-beda, dan terpisah-pisah, haruslah sudah terlihat pula menjadi satu. Ego dan kehendak yang tadinya telah melahirkan berbagai kesombongan, haruslah telah berubah menjadi sebuah ego dan kehendak yang satu pula. Inilah persyaratan yang harus ada. Kalau tidak jangan harap semua mimpi itu akan bisa terwujud.

Apakah yang satu dan mempersatukan itu?.

Bersambung

Read Full Post »

ILMU MAKRIFATULLAH YANG MELINTASI ZAMAN.

Makrifatullah adalah sebuah ilmu yang mampu melintas zaman demi zaman yang akan mengantarkan umat manusia kembali bisa MENGENAL ALLAH. Namun perlu digarisbawahi bahwa Mengenal Allah itu bukanlah berarti kita bisa Memahami dan Mengerti tentang Allah. Bukan. Karena Allah memang tidak akan pernah bisa kita MENGERTI dan PAHAMI sampai kapanpun juga. Dia adalah Dzat Yang “Laitsa kamistlihi syai’un”, Dia tidak serupa dan tidak seumpama dengan apapun juga. Dia adalah Dzat yang teramat Rahasia. Dia akan tetap menjaga Kerahasian-Nya itu selama-lamanya. Abadi.

Mengenal Allah itupun bukan mengenal Allah sampai njlimet seperti apa begitu. Tidak. Mengenal Allah itu cukuplah hanya sampai kita benar-benar SADAR dan TERKEJUT akan KEWUJUDANNYA atau KEESAANNYA atau KEBESARANNYA. Jadi tidak usah dikaji sampai macam-macam.

KETERKEJUTAN kita itupun tanda-tandanya jelas sekali, yaitu: “Kamu melihat MATA mereka mencucurkan AIR MATA disebabkan KEBENARAN yang telah mereka KETAHUI; seraya berkata: “”Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.” Al Maidah (5):83.

Jadi air mata kita itu jatuh bercucuran karena kita SUDAH MENGETAHUI KEBENARAN akan KEWUJUDAN, KEESAAN, dan KEBESARAN ALLAH. Bukan karena sebab-sebab yang lain.

Terangkat tutup yang menutupi sehingga jelaslah kenyataan KEBENARAN ALLAH pada semuanya itu dengan sejelas-jelasnya LAKSANA mata memandang yang tidak diragukan lagi. Imam Ghazali, Ihya Ilumiddin Bk.1, 97 (1981).

Akan tetapi ungkapan Iman Al Ghazali ini jangan dianggap bahwa Allah bisa dilihat dengan mata. Jangan. “Karena Allah tidak bisa dilihat dengan pandangan mata”, Al Anaam (60):103. “Ketahuilah bahawa Maujud yang paling terang dan nyata ialah Allah Ta’ala. Dan ini menghendaki kepada Makrifatullah”. Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk.7, 478 (1981). Hal ini juga dikuatkan oleh Sayidina Ali RA: “Aku menyembah yang aku lihat, namun begitu bukan dengan penglihatan mata tetapi dengan penglihatan mata-hati”. Thowli Akhyar, Rahasia Kehidupan Sufi, 232 (1992).

Mengenal Allah (Makrifatullah) inilah seharusnya yang TERLEBIH DAHULU menjadi pokok perhatian umat Islam sebelum melakukan apa-apa. Karena ia adalah FONDASI bagi segala macam peribadatan yang akan dilakukan oleh umat Islam. Fondasi itu haruslah kokoh dan kuat. Dan dalam membangun fondasi itu, waktunya haruslah cepat serta akurasinya haruslah tepat.

Kokoh dan kuat, cepat dan tepat adalah kata-kata kunci yang harus kita pegang dalam tahapan membangun Pengenalan terhadap Allah (Makrifatullah) ini, yang merupakan fondasi dari segala peribadatan Islam. Sebab kalau fondasi ini lemah, maka lemah pulalah kualitas peribadatan umat islam yang didirikan dan dibangun diatasnya. Sebaliknya, kalau kokoh seperti yang dulu ada di zaman Nabi SAW, maka kokoh pulalah bagunan ibadah umat islam dalam menghadapi berbagai terjangan badai sekuat apapun juga. Kalau tidak, maka bangunan itu akan menjadi sangat mudah goyah, dan bahkan runtuh sama sekali walau hanya akibat dari sedikit goyangan saja. Dan itu sudah terbukti sejak berbilang abad yang lalu sampai sekarang. Padahal kalau runtuh bangunan ibadah itu, maka secara ototmatis akan runtuh pulalah Islam.

Kalau untuk membangun fondasi itu butuh waktu yang lama, misalnya harus memakan waktu yang berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun, maka umat islam akan kehilangan waktu-waktu berharganya untuk melakukan ibadah itu sendiri dan melakukan hal-hal yang lebih berguna bagi kemaslahatan umat manusia. Umat Islam memang akan kelihatan sibuk mengerjakan banyak hal, akan tetapi sibuknya itu adalah untuk mengerjakan sesuatu yang bukan saja tidak jelas akan tetapi juga tidak berguna sama sekali.

Umat islam, sejak berbilang zaman, sanggup untuk berdebat, ribut, dan bahkan sampai berkelahi untuk membahas sesuatu yang tidak perlu dibahas. Waktu dan energi sanggup kita habiskan untuk saling membahas detail demi detail tentang sesuatu yang sebenarya sangat mudah dan sederhana sekali. Alasannya adalah demi untuk kemurnian sebuah ILMU. Padahal yang dibahas itu hanyalah definisi-definisi yang sangat dipengaruhi pengertian BAHASA dari masing-masing yang membahasnya.

Misalnya yang sangat ramai dibahas di dalam Wall FB saya baru-baru ini adalah tentang HATI. Hati itu apa?. Letaknya dimana?. Di dada atau di kepala?. Dan wuiiih…, ramainya minta ampun. Sampai-sampai kata-kata SESAT berhamburan keluar dengan mudahnya dari mulut orang-orang yang katanya sudah berada pada tingkatan spiritual yang sangat tinggi. Akhirnya energi dan waktu yang digunakan untuk membahas itu menjadi tidak bermanfaat bukan hanya bagi dirinya sendiri, akan tetapi juga bagi orang lain.

Sedangkan kalau dalam membagun fondasi itu akurasinya tidak tepat, maka umat islam akan sangat mudah sekali untuk jatuh tergelincir melakukan praktek-praktek ibadah yang mendekati kemusyrikan, atau bahkan sampai pada kemusyrikan yang sangat nyata. Karena untuk melihat musyrik atau tidak musyrik itu sebenarnya mudah sekali. Kalau dalam beribadah kita INGAT kepada sesuatu yang selain Allah, maka itu pastilah itu musyrik.

Misalnya, ketika kita sedang shalat kita malah ingat kepada nafas, ingat kepada gerak nafas, ingat daya, ingat getaran, ingat perjalanan jiwa, ingat ilham, ingat wajah guru, ingat jantung atau hati, ingat ka’bah, dan sebagainya, maka sudah dapat dipastikan bahwa kita akan berbenturan dengan ayat al quran yang mengatakan bahwa “aqimishshalahti lidzikri, dirikanlah shalat dengan atau untuk mengingat-Ku (Allah)”.

Barangkali inilah yang menyebabkan minimnya tanda-tanda shalat, berupa budi pekerti yang luhur, bagi sebagian besar umat islam sudah sejak berbilang zaman. Mengerjakan shalat, tapi tidak ada bekasnya. Sehingga kalau ini berlanjut terus, maka dimasa-masa mendatang warung yang namanya islam itu bukannya tidak mungkin untuk tidak dimasuki atau dilirik orang lagi. Warung itu akan tutup dimakan masa.

Akan tetapi Allah ternyata punya skenario dan rencana yang sangat indah dan sangat sempurna, karena memang Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana. Ditengah-tengah kebuntuan yang seperti itu, Allah memberikan Ilham kepada Arif Billah Ustadz H. Hussien BA Latiff untuk menyampaikan rangkaian mutiara hikmah yang sangat mencerahkan. Ratusan video syarahan Beliau di youtube sudah terbukti mampu memberikan berubahan yang sangat berarti bagi banyak orang yang telah menyaksikannya.

Begitu juga bagi orang-orang yang telah mendengarkan syarahan langsung dari Beliau, mereka dapat merasakan keindahan ilmu makrifatullah, ilmu dzikrullah, dan ilmu-ilmu lainnya yang beliau sampaikan. Walau memang ada pula satu-dua orang yang belum mampu untuk merasakan manfaatnya, itu wajar-wajar saja.

Bersambung

Read Full Post »

Tingkat imaginasi berikutnya yang diajarkan kepada saya adalah untuk mengamati DAYA yang berada diatas GERAK. Daya yang sedang menggerakkan nafas saya keluar masuk paru-paru saya. Gerak itu disebabkan oleh sebuah DAYA yang memaksa dan tidak bisa saya lawan. Ketika saya lawan, nafas saya menjadi sesak. Saya menjadi tersiksa. Lalu saya diajarkan untuk berserah saja mengikuti DAYA yang sedang bekerja itu. Saya imaginasikan saya ikut daya itu. Saya tidak melawan kepada DAYA itu. Saya berserah kepada DAYA itu. Sampai saya betul-betul merasa tidak mempunyai daya apa-apa lagi kecuali hanya daya yang berasal dari daya yang menggerakkan nafas saya. Katanya sih ini sudah sampai pada derajat FANA. Tapi dampaknya tetap masih belum terlalu kuat.

Saya lalu diajak untuk melakukan imaginasi berikutnya, yaitu untuk merasakan bahwa daya yang menggerakkan nafas saya itu adalah sama dengan daya yang menggerakkan alam semesta, daya yang menggerakkan bulan dan matahari, daya yang menggerakkan bintang-bintang. Untuk itu saya harus mampu membawa tubuh saya untuk bisa merasakan daya alam semesta itu. Ini yang seru.

Saya tinggal merilekskan tubuh saya, lalu saya bergerak mengikuti tarikan sebuah daya yang memang seperti terasa menarik-narik saya kearah tertentu. Saya bersandar saja kepada daya itu. Tubuh saya kadang-kadang sampai jatuh dan berguling-guling. Tapi saya bangun lagi…, jatuh lagi…, bangun lagi. Lalu bergerak lagi mengikuti daya yang menggerakan alam semesta.

Gerakan yang paling kuat pengaruhnya yang saya rasakan adalah ketika saya harus bergerak berputar-putar seperti gasing dalam gerakan tarian Sufi RUMI. Atau bisa pula gerakan-gerakan tidak beraturan seperti gerakan orang mabok.

Gerakan-gerakan itu memberikan sensasi kepada saya bahwa saya sedang terbang ke angkasa mengikuti daya centrifugal yang sedang menggerakkan tubuh saya. Sensasi seperti ini akan terasa lebih kuat kalau saya membuka mata saya saat berputar-putar itu. Pohon-pohon seperti bergerak, bintang-bintang seperti bergerak seirama dengan gerakan tubuh saya. Otak kanan kita menjadi sangat aktif dengan memberikan sensasi bahwa diri saya menjadi semakin besar dan semakin luas.

Lalu saya berakting seperti bisa menyerah kepada daya itu, saya seakan-akan bisa mengikuti daya itu tanpa perlawanan. Saya seperti dibungkus oleh sebuah energi atau daya, yang konon katanya itu adalah keadaan ISTIGHRAQ (dipenuhi). Pada puncaknya bisa saja saya diafirmasi untuk masuk ke imaginasi berikutnya, yaitu imaginasi seakan-akan saya sudah FANA. DIAM dan BERSERAH. Dan itupun memang adapula rasanya. Rasa tiada, rasa tidak berdaya, rasa tidak berkuasa.

Dan biasanya saya akan dihentikan pada keadaan bahwa yang ada ketika saya sudah fana itu adalah Allah…, apapun perkataan saya setelah itu dikatakan itu adalah ILHAM dari Allah. Tentu saja afirmasi seperti ini hanya berlaku bagi orang-orang yang dari proses awal sampai akhir dimana dia menjadi fana itu diikuti dengan membaca Allah…, Allah…, atau Huu Allah…, Huu Allah…”. Sebab sebenarnya dengan menyebut nama Allah atau tidakpun, hasilnya tidak akan jauh berbeda. Sama saja. Hal ini dapat dilihat dalam berbagai video di youtube. Misalnya berbagai aliran soul journey, Falun dafa, Psikotronika, bermacam, tarian dan dzikir sufism, dan sebagainya.

Menurut pengalaman saya, proses mengaktifkan belahan otak kanan melalui cara kita memperhatikan gerakan nafas seperti ini, atau kita memandang gerak, atau kita berserah kepada daya yang menggerakkan nafas dan alam semesta itu memang jauh lebih mudah bagi kita untuk mendapatkan SENSASI dibandingkan dengan cara kalau kita hanya menggunakan Imaginasi kita saja berupa lamunan seperti kita sedang berjalan keluar tubuh kita menuju Allah, yang biasa disebut sebagai perjalanan Mi’raj.

Dengan berharap sensasi-sensasi itulah kemudian saya melakukan shalat dalam keseharian saya. Shalat saya bisa menjadi begitu lama. Karena saya memang sedang menunggu sensasi pada setiap ucapan dan gerakan saya. Rukuk saya bisa lama, sujud saya bisa lama, sehingga kemudian mulailah saya terganggu ketika hendak shalat ditengah-tengah masyarakat.

Ketika saya menjadi makmum dan berhadapan dengan gerakan dan bacaan shalat imam yang begitu cepat, maka saya langsung MENGHAKIMI bahwa shalat imam itu adalah tidak nyambung atau tidak khusyuk. Langsung saja rasanya tidak enak.

Akan tetapi ketika saya harus menjadi imam, malah sayanya justru yang jadi takut. Takut shalat saya kelamaan sehingga jamaah menjadi gelisah dan bubar meninggalkan saya. Atau rasa takut sebagai imam yang tidak bisa membawa jamaahnya untuk khusyuk. Karena konon kabarnya banyak sahabat saya waktu itu yang bisa membaca getaran khusyuk atau tidak khusyuknya shalat seseorang. Sungguh menakutkan sekali.

Dengan keadaan yang seperti itu, malah jadi memudahkan saya mencari alasan untuk tidak shalat berjamaah di masjid, walau masjid itu dekat dari rumah saya. Karena saya merasa bahwa shalat sendirian atau bersama keluarga dirumah bisa jauh lebih khusyuk dari pada shalat berjamaah di masjid. Aneh dan problematika sekali memang. Dan itu berlangsung lama sekali.

Demikianlah sekilas perjalanan spiritual terpenting yang pernah saya lalui. Dan saya merasa gagal mendapatkan apa yang saya harapkan saat itu. Walau setelah itu saya mendapatkan pelajaran baru lagi mengenai Nafs Awal, Nafs Tsani, dan Nafs Tsalis. Pelajaran tentang Dzikr, Tamakun, Mukasysyafah, Ilham, dan sebagainya. Namun pelajaran-pelajaran dari kitab Madarijus Salikin yang sangat bagus itu tetap gagal untuk saya pahami dan praktekkan.

Duh…, itu begitu sulitnya bagi saya. Saya merasa begitu bodohnya untuk bisa mengerti dan memahaminya. Namun anehnya selama itu pula saya telah berhasil melahirkan berbagai tulisan di blog saya. Ada yang sudah saya bukukan menjadi Buku Membuka Ruang Spiritual, dan ada pula yang masih dalam bentuk berbagai tulisan bebas di blog saya: yusdeka.wordpress.com.

Lalu pada suatu saat di awal tahun 2014, Allah telah menakdirkan saya untuk mendapatkan semua jawaban dan solusi dari semua kesulitan saya yang sudah sangat lama itu. Solusi itu muncul dari syarahan demi syarahan dan praktek demi praktek yang diajarkan oleh Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff. Dan itupun menjadi TONGGAK AWAL sejarah baru lagi dalam kehidupan saya. Hanya Allah sajalah yang maha tahu bagaimana akhirnya nanti…

Dan sekarang sudah saatnya kita meninggalkan permasalahan-permasalahan diatas. Kita akan mencoba menjawab pertanyaan diatas berdasarkan pendekatan Ilmu Makriftatullah. Kita akan melihat bahwa TIDAK ADA YANG SALAH dengan kejadian-kejadian seperti diatas. Tidak ada yang sesat dan tidak ada pula yang tidak sesat. Tidak ada yang benar dan tidak ada pula yang salah. Semua kejadian itu terjadi berdasarkan sebuah hukum yang sudah pasti dan sangat jelas.

Bersambung

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: