Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2015

Pada Titik Peristirahatan

Setelah bertahun lamanya tersasar-sasar. Sekarang sebuah pintu menuju taman yang sangat indah sudah terbuka. Taman tempat berkhalwat. Untuk beberapa saat berikutnya, ENTAH BERAPA LAMA, saya akan beristirahat dari menulis. Berhenti… Saya hanya akan DUDUK DIAM DI DALAM BILIK KHALWAT itu untuk mengingati Allah. Yaitu di dalam MINDA untuk Membina sebuah BASE CAMP sebagai Tempat PERSINGGAHAN bagi saya untuk bisa Berhubungan dengan Allah. Sebuah hubungan FADZKURUNI ADZKURKUM.

Wassalamulaikum warahmatullahi wabaraktuh…

Iklan

Read Full Post »

Selanjutnya, saat MINDA kita KOTOR dengan berbagai INGATAN dan PIKIRAN (Pikiran Kotor), maka RUH kita akan GELISAH dan MEMBERONTAK.

Gelisahnya RUH ini akan mempengaruhi TUBUH kita. Dada kita berubah menjadi sempit, nafas kita sesak, jantung kita berdebar-debar, sekresi hormon adrenalin akan meningkat di dalam aliran darah kita.

Kalau saat Ruh itu gelisah, tapi Ruh itu sudah disuruh-suruh berjalan keluar tubuh atau dipaksa untuk merasa-rasakan atau menyadar-nyadari sesuatu yang berada diluar tubuh kita, maka tubuh kita bisa keter-keter, kelojotan, terbanting-banting, atau menari-nari seperti orang kesyetanan. Keadaan ini terjadi karena saat Minda kita masih kotor, Ruh sudah dipaksa untuk menyadari sesuatu yang asing yang belum ada keadaannya di dalam minda kita.

Dengan cara-cara paksaan seperti ini, maka Ruh akan memberontak. Tubuh kita akan terbawa oleh pengaruh pemberontakan Ruh ini. Makanya tubuh kita ada yang sampai bergetar-getar, atau kita akan menangis histeris, atau kita ada yang tertawa-tawa, berteriak-teriak, dan sebagainya.

Walaupun begitu, beberapa lama sesudah itu, tubuh kita memang bisa menjadi tenang kembali, Ruh kita seperti bisa merasa tenang dan damai. Akan tetapi tenang dan damainya itu bukan karena Minda kita telah mengingat Allah. Bukan. Tenangnya RUH kita itu karena RUH itu, dengan terpaksa, dia berhenti memberontak. Ruh kita terpaksa menerima keadaan yang dipaksakan kepadanya. Makanya setiap kita melakukan kembali perjalanan-perjalanan Ruh yang katanya itu adalah perjalanan Jiwa atau perjalanan spiritual, itu selalu akan di dahului kembali dengan tubuh keter-keter dan kelojotan kembali. Lalu sesudah itu baru bisa tenang kembali.

Kenapa bisa begitu?.

Sebab RUH hanya dan hanya bisa menjadi TENANG dan TENTERAM saat MINDA sedang MENGINGAT ALLAH. Sebab saat MINDA bisa mengingat Allah, maka minda itu akan menjadi BERSIH sebersih-bersihnya dari ingatan-ingatan lainnya, sehingga MINDA itu menjadi tidak berkocak sedikitpun, seperti minda seorang bayi yang baru lahir. Saat Minda sudah bersih, tidak berkocak, tenteram, dan tenang, maka saat itu RUH dengan sangat SENANG kembali pula menemukan Ketenteraman dan Ketenangan seperti di alam Azali.

Jadi untuk membuat dada kita kembali lapang, nafas kita menjadi lembut seperti nafas bayi, jantung kita kembali berdenyut normal, dan hormon adrenalin menghilang dari aliran darah kita digantikan oleh hormon endorpin, artinya RUH kita sudah tidak BERKOCAK lagi, maka caranya MUDAH SEKALI. TIDAK sulit sama sekali. Kita tinggal INGAT kepada Allah (dzikrullah) di dalam MINDA KITA. Ya…, sederhana sekali.

Sebab ketika MINDA kita ingat kepada Allah, maka MINDA kita secara otomatis akan menjadi KOSONG dari ingatan apapun juga. Karena saat minda ingat kepada Allah, di dalam minda kita tidak akan ada bayangan, tidak ada rupa, tidak ada khayalan, tidak ada huruf-huruf, tidak ada suara-suara, tidak ada warna warni, bahkan juga tidak ada luas, tidak ada pepadang, tidak ada tinggi, tidak ada besar, tidak ada sunyi, tidak ada rupa dan umpama. Tidak ada apa-apa. Sebab Allah tidak bisa diserupakan dan diumpamakan.

Keadaan minda kita yang seperti itu sama dengan keadaan minda seorang bayi yang baru lahir, sehingga RUH kitapun menjadi sangat tenteram, tenang, lunak, lembut, mudah tersentuh, mudah menangis, mudah tertawa, mudah tersenyum. Dan kesemuanya itu benar-benar ASLI dan tidak dibuat-buat.

Tidak ada satupun dari perbuatan RUH sang bayi yang aktualitasnya terpancar melalui gerakan anggota tubuh bayi yang tidak menimbulkan simpati, kegembiraan, ketenangan, dan juga kekhawatiran bagi siapapun yang melihatnya. Karena JIWA sang bayi memang masih dalam keadaan BERSIH dan SUCI. Mindanya bersih dan suci, Ruhnya jadi tenang dan tenteram, sehingga keberadaannya benar-benar bisa menjadi rahmat bagi ibu-bapak dan keluarganya.

Jadi betul sekali sebenarnya bahwa untuk membersihkan hati kita yang halus (minda), maka satu-satu cara adalah dengan minda itu mengingati Allah. Dzikrullah. Tidak ada cara lain lagi.

Ustadz Hussien BA Latiff langsung membawa kita untuk melatih cara-cara agar Minda kita bisa mengingat Allah. Kita TIDAK perlu lagi mengingat-ingat dan mengolah-olah seluruh anggota tubuh kita dari batas MATA turun KEBAWAH SAMPAI KE KAKI. Kita juga tidak perlu mengingat cakra-cakra, lathaif-lathaif, jantung, qalb, atau gerakan keluar masuk nafas lagi. Kita tidak perlu melihat keluar, ke alam disekitar kita, ke tumbuhan, ke bintang, kelangit. Kita tidak perlu merasa-rasakan getaran-getaran yang membuat tubuh kita keter-keter, berputar-putar, dan sebagainya. Tidak perlu. Karena semuanya itu ternyata adalah GHURUR. Sesuatu yang penuh dengan TIPUAN dan MAIN-MAINAN.

Kita tinggal MENGINGAT ALLAH di dalam MINDA. Di dalam minda kita TIDAK ada rupa dan tidak ada umpama. Lalu MATAHATI kita tinggal kita TUMPUKAN kepada MINDA kita yang sedang mengingat Allah itu. Sehingga minda kita bisa dikonci untuk hanya bisa mengingati Allah saja.

Jadi yang kita lakukan disini adalah MENGINGAT ALLAH, bukan MEMIKIRKAN tentang ALLAH. Lama-lama minda kita akan terasa menjadi KAKU, PEJAL dan KERAS. Ingatan-ingatan kepada yang lain selain Allah pun tidak bisa lagi masuk ke dalam minda kita.

Kalau minda kita sudah kaku dan selalu ingat kepada Allah, maka dengan sangat mengherankan, kita akan bisa mengingat Allah dalam waktu yang lama. Apakah di dalam keadaan shalat, di luar shalat, sambil duduk, berdiri, dan berjalan, sambil menyetir, sambil berdagang, sambil bekerja, kita akan selalu bisa ingat kepada Allah.

Saat ingat Allah seperti ini, kita tidak akan merasa NGANTUK. Tidak. Kalau dulu, saat saya melatih dzikir sampai dengan dzikir diam (tapi tidak ingat kepada Alah), saya hanya bisa bertahan beberapa belas menit saja, setelah itu saya akan ngantuk habis dan tertidur. Sekarang anehnya, kalau mengingat Allah dengan cara yang diajarkan oleh Ustadz Hussien ini, saya jadi tidak “ngantukan” sama sekali.

Selanjutnya kita akan dapat merasakan pula bahwa yang mengingat Allah itu adalah seluruh jiwa kita, dan jiwa kitapun jadi tenteram secara keseluruhan. Kita mengingat Allah di dalam diri kita, dan jiwa yang ada di dalam diri kitapun akan terasa tenteram. Minda kita rileks, Ruh kita rileks, Jiwa kita rileks, tubuh kita juga akan rileks secara otomatis. Saat itulah kita baru kita berada pada TITIK AWAL untuk membina hubungan dengan Allah…

“Aku bersamanya jika ia mengingati Aku. Sekiranya ia mengingati Aku dalam dirinya, Aku akan mengingatinya dalam DiriKu”. Sahih Muslim Buku 4, 608 (1994).

Sampai disini saja, masalah DZIKRULLAH ini sudah lebih dari cukup untuk kita ketahui dan praktekkan. Ini sangat-sangat mudah dan sederhana. Tidak berbelit-belit dan rumit lagi. Untuk lebih jelasnya silahan lihat syarahan-syarahan Beliau secara berseri di Youtube, Farhan4U2C. Atau menghadirkan diri di seminar rutin yang Beliau adakan di Singapore, Malaysia, Indonesia, dan negara-negara lainnya.

Pada tahapan berikutnya, Ustadz Hussien mengantarkan kita untuk memasuki Paradigma Berpikir sebagai bekal bagi umat manusia untuk menghadapi MASA DEPAN. Paradigma yang benar-benar membuat kita merasa TIDAK WUJUD sama sekali. Karena Yang Wujud pada Hakekatnya adalah DZAT. Dzatlah yang punya kelakonan. Dzatlah yang punya kelakuan. Dzatlah yang sedang bermain dan berinteraksi. Allah sedang bermain-main, dan bersenda gurau dengan Dzat-Nya sendiri. Sedikit Dzat-Nya.

Paradigma ini akan membawa kita untuk percaya penuh kepada Takdir. Bahwa takdir yang baik dan takdir yang buruk berasal dari Allah. Bahwa semua sudah dituliskan di Lauhul Mahfuz sejak firman KUN. Dzat akan memastikan semua takdir itu akan terlaksana atau terzhahir menjadi sifat-sifat dalam wujud ciptaan-ciptaan dan peristiwa-peristiwa.

Sungguh banyak sekali syarahan Beliau yang saya tidak sanggup untuk menuliskannya satu persatu. Paradigmanya begitu tinggi. Sehingga saya hanya bisa TERTUNDUK LAYU mengikutinya. Laa Maujud Illa Dzatillah…

Dengan demikian, maka berakhirlah artikel Anjakan Paradigma ini saya tuliskan dengan segala kekurangan yang ada.

Setelah bertahun lamanya tersasar-sasar. Sekarang sebuah pintu menuju taman yang sangat indah sudah terbuka. Taman tempat berkhalwat. Untuk beberapa saat berikutnya, ENTAH BERAPA LAMA, saya akan beristirahat dari menulis. Berhenti… Saya hanya akan DUDUK DIAM DI DALAM BILIK KHALWAT itu untuk mengingati Allah. Yaitu di dalam MINDA untuk Membina sebuah BASE CAMP sebagai Tempat PERSINGGAHAN bagi saya untuk bisa Berhubungan dengan Allah. Sebuah hubungan FADZKURUNI ADZKURKUM.

Demikian, mohon diperbanyak maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan tulisan-tulisan saya selama ini.

Wassalam…
Cilegon, hari 15 bulan 12 tahun 2015…

Deka…

Read Full Post »

Mari kita lanjutkan tentang bagaimana Ustadz Hussien mengajarkan tentang Dzikrullah ini…

Beliau menegaskan makna DZIKR adalah MENGINGAT, bukan menyebut-nyebut. Jadi Dzikrullah adalah bermakna MENGINGAT ALLAH. BUKAN MENYEBUT-NYEBUT ALLAH, Bukan.

Apalagi aktifitas yang lainnya, seperti membayangkan dan memikirkan Allah, merupakan Allah, mengumpamakan Allah, mengkhayalkan Allah bertempat (dekat, jauh, tinggi, besar), menyadar-nyadari Allahlah yang menggerak-gerakkan (diri kita, nafas kita, jantung kita), dan khayalan-khayalan lainnya. Bukan seperti itu.

Karena semua itu sudah terbantahkan dengan sangat meyakinkan dalam syarahan Beliau yang bertajuk Makrifatullah. Semua itu adalah ciri-ciri dari paham Wahdatul Wujud, Hulul, Ittihad, yang sudah menyulitkan umat Islam sendiri selama ini dalam.

Setelah menerangkan dalil-dalil tentang begitu pentingnya mengingat Allah bagi kita, seperti yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, maka Beliau kemudian menerangkan sambil berlatih tentang Dimana Fungsi MENGINGAT ini berada. Karena banyak kita yang sudah terkeliru mengatakan bahwa yang mengingat itu adalah HATI, atau QALBU, atau JANGTUNG, yang letaknya DI DALAM DADA. Terutama kaum sufi Thareqat.

Maka kaum sufi [Thareqat] itu tidak sanggup menetapkan dengan dalil-dalil dari mereka sendiri bahwa mereka telah bersalah memberi nama itu. Kerana cara yang demikian itu tidak terhapus begitu sahaja dari hati kaum sufi sesudah demikian berkembang pada mulut orang banyak dan melekat pada hati. Lalu kaum sufi itu MENCELA MINDA dan apa yang difahami oleh minda. Iaitu minda yang dinamakan dengan demikian pada mereka. Imam Ghazali, Ihya Ilumiddin Bk 1, 326 (1981).

Di tengah-tengah perjuangan ini, kadang-kadang tabiat menjadi rosak, akal menjadi kacau dan badanpun sakit. Apabila latihan dan pendidikan nafsu tidak mendahului datangnya hakikat segala ilmu, maka akan maharajalela di hati khayalan-khayalan yang merosakkan, di mana nafsu akan puas dengan khayalan-khayalan tadi pada masa yang lama sehingga habislah umurnya padahal apa yang dikhayalkan itu belum pula diperoleh. Imam Ghazali, Keajaiban Hati, 47 (1979).

Banyak orang-orang sufi yang menempuh jalan ini, kemudian ia sentiasa berada pada satu KHAYALAN dalam masa 20 tahun. Dan apabila dari dulunya ia sudah mempunyai suatu ilmu yang kukuh tentu terbukalah baginya segi kepalsuan khayalan tadi seketika. Imam Ghazali, Keajaiban Hati, 47 (1979).

Beliau kemudian memastikan bahwa yang bisa MENGINGAT itu adalah MINDA atau HATI yang Halus. Saat minda ingat bermacam-macam objek pikir yang saling berhubungan, maka proses itu disebut sebagai proses BERPIKIR.

Nah…, kalau JANTUNG yang kita anggap anasir diri kita yang bisa mengingat, maka ORANG GILA yang dirumah sakit jiwa sudah bisa kita lepaskan. Kita cukup berkata kepada mereka: “Ingatlah dengan jantungmu, berpikirlah dengan jantungmu, karena otakmu saat ini sedang sakit”.

Al Qalbu (hati) dalam arti yang halus bersifat ketuhanan dan Rohaniah yang ada hubungan dengan hati jasmani tadi. Imam Ghazali, Keajaiban hati, 1 (1979); Ihya Ilumiddin Bk. 4, 7 (1981).

Dalam hal ini Minda Batin bererti “hati” dalam arti yang halus dan matahati pula merujuk kepada Mata (Minda)Batin. Imam Ghazali, Keajaiban hati, 4-5 (1979); Ihya Ilumiddin Bk. 4, 10 (1981). Imam Ghazali, Ihya Ilumiddin Bk 1, 326 (1981).

Tiap-tiap sesuatu itu mempunyai tiang . Tiang orang mukmin ialah mindanya. Menurut tingkat mindanya, berada ibadahnya. Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk 1, 310 (1981); Dirawikan Ibnul-Mahbar dari ‘Amr bin Syu’aib .

Apabila manusia itu mendekati Tuhan dengan pintu-pintu kebajikan dan amal salih maka engkau dekatilah Tuhan dengan Mindamu. Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk 1, 316 (1981); Dirawikan Ibnul Mahbar dari Ali, isnad dhaif.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian dan amal-amal kalian.” [Muslim no. 2564]

“…Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia itu adalah SEBONGKAH daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila ia buruk maka buruk pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” [Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599]

“Hati ibarat raja, sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Apabila baik rajanya maka baik pula pasukannya, apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya.” [Atsar Shahih: riwayat al-Baihaqi dalam al-Jaami’ li Syu’abil-iimaan: 1/257, no. 108]

Al Qur’an pun mengatakan dengan jelas bahwa proses Dzikrullah itu maknanya adalah serupa dengan proses kita mengingat orang tua kita:

“… Fadzkurullaha kadzikrikum ABAA akum…, Ingatlah Allah seperti engkau mengingat bapakmu, nenek moyangmu…”, (al Baqarah (2): 200.

Setelah kita mengingat Allah, barulah kemudian kita bisa berkata-kata tentang Allah yang sedang kita ingat. Misalnya, kita menyebut-nyebut Allah, atau memanggil-manggil Allah, “qulid ‘ullah, awid urrahmaan (Al Isra (17):110), katakanlah Allah, atau Ar Rahman”; atau kita mengucapkan, subhanallah, alhamdulillah, laa ilaha illah, Allahu akbar, laa haula wala quwwata illa billah, atau kita melakukan SHALAT untuk berbicara, memuji, merukuki dan menyujudi Allah yang sedang kita INGAT. Saat kita melakukan semua itu, kita sudah tidak ingat kepada apapun yang selain Allah. Sebab saat itu kita sedang ingat hanya kepada Allah. Clear sekali…

Kemudian Dia menyempurnakan kejadiannya, serta meniupkan padanya: Roh ciptaanNya. Dan Dia mengurniakan kepada kamu pendengaran dan penglihatan serta HATI (MINDA), (supaya kamu bersyukur, tetapi) amatlah sedikit kamu bersyukur. As Sajdah (32):9

Untuk memperjelas pemahaman bahwa yang dimaksud dengan HATI itu adalah HATI yang HALUS atau MINDA, maka Beliau kemudian menjelaskan apa yang dimaksud dengan JIWA, yaitu anasir diri yang dipegang oleh ALlah saat kita TIDUR:

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Az Zumar (39):42

Lalu Beliau menerangkan tentang manusia yang terdiri dari 4 anasir diri, yaitu: TUBUH, NYAWA, MINDA, dan RUH. Tubuh dan nyawa akan selalu berkait erat selama nyawa masih dikandung badan. Minda adalah anasir yang bebas, dia bisa bersama RUH dan bisa pula bersama Raga.

Ruh adalah motor Penggerak bagi Tubuh dan bagi Minda. Tanpa RUH tubuh kita tidak akan bisa bergerak. Ruh ini punya mata yang disebut dengan MATAHATI atau MATA BATIN. Matahati yang bersama RUH inilah sebenarnya yang Mendengar dan Melihat, bukan telinga dan mata. Ruh juga adalah Anasir yang Merasa. Jadi bukan dada dan kulit kita yang merasakan, tapi RUH…

Dengan memahami anasir-anasir diri manusia yang seperti ini, maka kita sudah menjadi sangat mudah untuk memahami apa yang dimaksud dengan JIWA, yaitu anasir yang dipegang oleh ALLAH saat kita tidur.

Bahwa JIWA itu adalah MINDA bersama RUH. Berarti MINDA saja, atau RUH saja, tidak bisa disebut dengan JIWA. Harus dua-duanya sekaligus. Sedangkan TUBUH kita saat kita tidur itu masih HIDUP, karena pada tubuh kita itu ada NYAWA yang tetap menghidupi jantung, aliran darah, dan menggerakkan Nafas kita.

JIWA inilah sebenarnya yang menentukan kualitas seorang manusia. Sebab yang melakukan semua aktifitas yang kita lakukan adalah JIWA ini. Badan hanya mengikuti saja apa-apa yang diperbuat oleh JIWA. Saat jiwa tidak berada di dalam tubuh, misalnya saat kita tidur, maka tubuh kita juga tidak bisa apa-apa. Tubuh kita tidak bisa bergerak, tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa merasakan, tidak bisa mengingat dan berpikir, dan tentu saja tidak bisa berbicara dan berkata-kata.

Tubuh yang tidak ada jiwa di dalamnya tak ubahnya seperti tubuh orang yang sudah mati. Tanda-tanda bahwa tubuh itu masih hidup hanyalah detak jantung dan aliran nafasnya saja. Keadaan tubuh yang seperti inilah yang terjadi pada orang tidur, comma, atau sedang melakukan out of body experience.

 

Bersambung ke bagian terakhir…

Read Full Post »

Oleh sebab itu, mata orang yang sudah bermakrifat akan dapat memandang DZAT disebalik segala sesuatu. Bukan Melihat Allah… Tapi Dzat itu tidak dapat dilihatnya dengan matanya. Dzat itu hanya bisa dilihatnya dengan MATAHATINYA. Matahatinya sudah TAJAM dan bisa memandang sampai menembus SIFAT-SIFAT. Saat matahatinya melihat kepada Dzat, maka matahatinya itu TIDAK MELIHAT APA-APA. Tidak ada rupa dan tidak ada umpama. Inilah pandangan Hakehat.

Kalau matahati kita SUDAH MAMPU melihat Dzat yang Tanpa Rupa dan Tanpa Umpama, artinya kita sudah TIDAK terpandang lagi kepada sifat-sifat dari segala ciptaan, bahkan kita sudah tidak terpandang lagi pada diri kita, kepada harta atau kepemilikan kita, sebab yang terlihat hanyalah semata-mata Dzat, maka saat itulah kita tinggal memantapkan di dalam MINDA kita sebuah INGATAN bahwa Dzat itu ADA yang memiliki, yaitu ALLAH.

Inilah yang disebut dengan MAKRIFATULLAH. MENGENALI ALLAH. Dialah Sang Pemilik Dzat Yang sedikit itu, yang dari Dzat-Nya yang sedikit itulah kemudian telah mendzahirkan berbagai sifat dalam wujud berbagai Ciptaan dan Peristiwa. Tidak terpisah antara Allah dengan Dzat-Nya yang sedikit itu, seperti tidak terpisahnya EKOR GAJAH dengan GAJAH.

Dzat-Nya yang sedikit saja, yang berada DI DALAM Lauhul Mahfuz, sudah sedemikian rahasianya. Mata dan Matahati kita sudah TIDAK dapat melihat seperti apa bentuk dan rupa Dzat itu. Sebab siapa yang terpandang Dzat pastilah dia akan hangus binasa. Apalagi kalau kita hendak mengetahui Dzat-Nya yang Maha Indah Yang berada DI LUAR Lauhul Mahfuz. Dzat Maha Indah Dan Maha Rahasia, yang ditabiri oleh 70 Tabir Cahaya, agar Keindahan Dzat Maha Indah itu tidak menghanguskan dan membinasakan apa-apa yang ada Di DALAM Lauhul Mahfuz.

Oleh sebab itu segala upaya dalam bentuk apapun juga yang akan kita lakukan, itu tidak akan pernah menyentuh Dzat-Nya Yang Maha Indah dan Maha Rahasia itu. Lalu bagaimana kita akan bisa berhubungan dengan-Nya kalau dirinya sendiri tidak tergapai oleh khayalan, tidak terbayang dalam perumpamaan, tidak terdefinisikan dalam perupaan, dan sebagainya?.

Tetapi syukurlah, Alhamdulillah, Dia telah membukakan RAHASIA untuk hamba-Nya bisa berhubungan dengan-Nya. Yaitu melalui PINTU INGATAN. Ya…, untuk melakukan kontak dengan Allah kita hanya tinggal MENGINGAT ALLAH di dalam MINDA kita. Itulah DZIKRULLAH (INGAT ALLAH).

Sehingga dengan begitu terbentuklah sebuah rangkaian utuh jiwa kita yang ada di dalam badan kita. Diri di dalam diri…

MINDA MENGINGATI ALLAH, MATAHATI melihat DZAT tanpa Rupa dan tanpa Umpama, RUH menjadi TENANG dan TENTERAM

MINDA MENGINGATI ALLAH (Dzikrullah), sehingga minda itu menjadi tenang dan tenteram karena tidak ada lagi ingatan kepada yang lain-lain di dalam Minda kita itu; kemanapun MATA melihat, MATAHATI kita hanya melihat DZAT yang tanpa Rupa dan tanpa Umpama; maka saat itulah RUH akan menjadi TENANG dan TENTERAM.

MINDA dan RUH yang sudah tenang dan tenteram itulah yang biasa disebut dengan JIWA yang TENANG dan TENTERAM (NAFSUL MUTHMAINNAH). Jiwa yang lunak, halus, dan tidak berkocak, Jiwa yang sudah siap untuk mejawab panggilan-panggilan Allah dengan ungkapan Labbaik Allahumma labbaik…, Labbaik Allahumma Labbaik…

Inilah Jiwa yang sangat dekat dengan Allah. Allah menyebut Jiwa yang seperti ini sebagai orang-orang-Nya. Orang-orang Allah. Jiwa yang berada dalam PENJAGAAN ALLAH. Jiwa yang Allah Sendiri yang akan menyelesaikan segala permasahalahannya.

Jiwa yang boleh jadi tidak ada orang yang mengenalnya, tidak dihormati orang, tidak dianggap orang, dihina dan dilecehkan orang, dibenci dan disakiti orang. Dimarahi tanpa sebab yang jelas, DIBOHONGI dan DITIPU. Akan tetapi Jiwanya tetap hanya bergantung kepada Allah…

Karena disitulah sebebarnya letaknya kemuliaan orang-orang Allah tersebut. Kemuliaan mereka bukan pada puja dan puji orang lain kepada mereka, bukan pada penghormatan orang lain kepada mereka, bukan pada pengkultusan diri mereka oleh orang lain. Bukan. Kemuliaan mereka justru terletak pada keadaan yang tidak ada orang yang mengenal mereka itu. Kemuliaan mereka terletak pada penderitaan mereka itu sendiri yang disebabkan oleh karena mereka dihina, dilecehkan, disakiti, disiksa, dibohongi, ditipu, bahkan mau dibunuh oleh orang lain itu. Akan tetapi mereka tidak mempedulikan semua itu.  Mereka “naik” dan kembali rujuk dengan Allah. Karena saat itu mereka memang sudah tidak punya siapa-siapa dan apa-apa untuk tempat bergantung mereka, kecuali hanya kepada Allah. Itulah kemuliaan mereka, seperti kemuliaan seorang BILAL bin RABBAH pada awal-awal keislamannya. seperti kemuliaan Uwais Al Qarnain, seperti kemuliaan Khidir AS, dan tentu saja seperti kemuliaan para NABI dan RASUL ALLAH…

Keadaan jiwa yang seperti ini persis dengan keadaan jiwa yang dimiliki oleh seorang BAYI yang baru lahir. Walau matanya terbuka, tetapi matahatinya tetap tidak dapat melihat rupa dan umpama, mindanya masih kosong dan tidak ingat apa-apa, serta Ruhnya masih tenteram tak merasakan takut, khawatir, dan sedih apa-apa. Ibunya diutus sendiri oleh Allah untuk memberikan makanan, minuman, dan pakaian yang terbaik buatnya. Senyumnya dapat menghapuskan duka, tertawanya dapat menghangatan suasana, tangisannya dapat mengguncangkan ketenangan.

Bukankah keadaan seperti ini yang sangat kita rindu-rindukan untuk bisa kita dapatkan dan masuki kembali saat kita DEWASA atau TUA?. Saat kita telah dihimpit oleh berbagai beban dan masalah berat yang datang bertubi-tubi mendera kita?. Bukankah ini kerinduan seluruh umat manusia?.

Kalaupun kita ingin berkata-kata, maka ucapan kita paling bisa hanyalah LAA MAUJUD ILLA DZATILLAH. Kita sudah tidak wujud…, yang wujud adalah DZAT. Lalu setelah itu, peristiwa apapun yang terjadi pada diri kita atau apapun kejadian yang tergelar di depan mata kita, MULUT kita tetap tinggal DIAM, walau saat itu air mata kita harus meleleh-leleh, dan darah kita harus memanar-mancar…

Untuk mencapai keadaan seperti ini, Alhamdulillah, Allah telah mengilhamkan kepada Ustadz Hussien BA Latiff sebuah cara yang sangat cepat dan mudah untuk kita bisa MENGINGATI ALLAH ini dalam waktu yang lama. Cara yang bisa melipat dan membungkus segala kesulitan-kesulitan, yang sudah berusia ratusan tahun, yang dihadapi oleh umat manusia untuk bisa mengingati Allah secara istiqamah…

Mari kita lanjutkan Silabus yang Beliau sampaikan tentang Dzikrullah ini…

Read Full Post »

MENARIK SEDIKIT PENGERTIAN…

Dengan memahami bahwa HAKEKAT dari semua ciptaan ini hanyalah SEDIKIT saja Dzat-Nya dari Keseluruhan Dzat-Nya yang Maha Indah, maka siapapun juga sebenarnya sudah TIDAK punya RUANG, WAKTU, dan KESEMPATAN lagi untuk bisa berkata-kata bahwa:

Di depannya ada Allah;
Di atas langit ada Allah;
Di dalam dirinya ada Allah;
Di dalam pohon ada Allah;
Di dalam hatinya ada Allah;
Yang menggerakkan awan adalah Allah;
Yang menggerakkan bulan, matahari, dan bintang-bintang adalah Allah;
Yang menggerakkan nafanya adalah Allah;
Yang menggerakan tubuhnya adalah Allah;
Yang menggerakkan jantungnya memompa darahnya adalah Allah;
Saya tidak wujud (fana), yang wujud adalah Allah (fillah), LAA MAUJUD ILLALLAH…
Saya tidak marah, tapi yang marah adalah Allah,
Dzahir saya adalah abdi, bathin saya adalah Allah,

Tidak bisa lagi seperti itu. Sebab kalau masih ada yang berkata-kata seperti itu, maka sebenarnya dia, dengan sangat berani, sedang berkata-kata bahwa HAKEKAT dari semua ciptaan dan peristiwa yang terjadi di alam ciptaan ini adalah Allah semata. Sehingga semua PERWUJUDAN dari PERBUATAN dan SIFAT-SIFAT ciptaan pada HAKEKATNYA adalah Perbuatan dan Sifat-sifat Allah jua.

TERLALU KECIL Allah bagi dia kalau begitu. Sebab Allah bagi dia bisa dia rasa-rasakan. Allah bagi dia bisa dia tempat-tempatkan didepan, dibelakang, diatas, dibawah, di dalam dada atau hatinya. Allah bagi dia bisa dia rupa dan umpamakan. Allah bagi dia bisa dia wujudkan dalam bentuk perbuatan dan sifat-sifat ciptaan, termasuk perbuatan dan sifatnya sendiri.

Dan syarat untuk bisa merasakan Allah sebagai HAKEKAT dari semua ciptaan seperti itu, apalagi hakekat diri kita sendiri, itu alangkah sulitnya. Konon katanya, kita harus bisa terlebih dahulu mencapai MAQAM FANA, FANA FILLAH, BAQA BILLAH, dan sebagainya. Riyadah atau gemblengan DIRI untuk sampai kesana alangkah berat, sulit, dan lama sekali yang harus kita lalui. Sakit dan melelahkan sekali rasanya.

Paling tidak, terlebih dahulu kita harus bisa KETER-KETER, atau menari-nari meliuk-liuk, atau teriak-teriak, atau nangis-nangis, baru setelah itu kita bisa mulai mengkhayalkan bahwa diri kita, ego kita, atau aku kita sudah tidak ada lagi. Karena semua milik kita itu sudah kita serahan kembali kepada Allah. FANA.

Dan alhamdulillah, semua itu sudah pernah saya coba, tapi hasilnya tetap NOL BESAR. Saya begitu bodoh rasanya untuk sampai ketingkat Maqam yang sangat tinggi itu. Walaupun lama kelamaan dalam riyadah itu ada juga saya rasakan tenangnya, ada rasa lapangnya, ada rasa puasnya, dan shalat sayapun rasanya lebih enak (khusyuk ?), akan tetapi tenang, luas, puas, dan khusyuk yang saya rasakan itu hanya bisa bertahan sebentar saja.

Rasanya saya seperti sedang mendaki gunung, tapi semakin tinggi mendaki, semakin tidak bisa naik-naik lagi. Yang terasa hanya rasa kesendirian saja, sehingga kadangkala terlontar juga dengan sendirinya dari mulut saya kata-kata Ana…, Ana…, Aku…, Aku…, entahlah… Entah apa maksudnya. Tapi itu sangat menyesakkan sekali. Seperti ada sesuatu yang hilang dan nggak ketemu…

Kalau uraian FAFA itu hanya sebatas kata-kata sih, di dapur mbah Google atau beranda Facebokan, akan bisa kita dapatkan kajian tentang FANA itu menyampah.

Ustadz Hussien BA Latiff ternyata telah diilhamkan oleh Allah sebuah Ilmu yang dengan Ilmu itu terbuka pulalah berbagai ilmu yang lainnya. Ilmu yang memudahkan untuk mencapai sesuatu yang selama sangat sulit saya rasakan.

Beliau dengan sabar memahamkan saya dan para sahabat saya bahwa HAKEKAT dari CIPTAAN hanyalah sedikit saja dari DZAT ALLAH yang telah Dia Sabda dengan FIRMAN KUN. Setelah FIRMAN KUN, dari Dzat-Nya yang sedikit itu terdzahirlah LAUHUL MAHFUZ. Lalu semua yang berkenaan dengan CIPTAAN pun kemudian terdzahir di dalam Lauhul Mahfuz itu. Apapun juga yang ada di dalam Lauhul Mahfuz, semua itu adalah ciptaan.

Jadi…., semua ciptaan itu tak lain dan tak bukan hanyalah pendzahiran SIFAT-SIFAT saja dari DZAT-Nya yang sedikit itu. Sifat-sifat itu adalah wujud yang Dzahir, sedangkan Dzat adalah wujud Yang Bathin. Yang namanya SIFAT-SIFAT pastilah berupa, berumpama, dan BANYAK. Akan tetapi yang namanya DZAT pastilah TIDAK ada rupa, tidak ada umpama, dan hanya SATU. Tidak terpisah antara Sifat dan Dzat. Seperti tidak terpisahnya dua sisi mata uang koin.

Oleh sebab itu, sejauh apapun mata memandang, setinggi apapun kita menggapai, seluas apapun rasa yang kita rasakan, maka yang wujud disebalik semua itu adalah DZAT. Bukan Allah…

Makhluk apapun yang kita lihat dan temui, apakah itu pohon, kursi, meja, dinding, nasi, air, angin, awan, burung-burung, bulan, matahari, bintang, langit, maupun diri kita sendiri, jantung kita, dada kita, nafas kita, maka disebalik itu semua, yang menjadi HAKEKATNYA adalah DZAT. Bukan Allah…

Sehalus apapun suara yang kita dengar, sekuat apapun tenaga yang kita hadapi, maka disebalik semua itu, yang menjadi hakekatnya adalah DZAT. Bukan Allah…

Sehebat apapun peristiwa yang kita alami, sedahsyat apapun bencana yang kita lalui, seberat apapun beban yang kita jinjing, sekeras apapun derita yang kita pikul, sebrutal apapun perang yang terjadi, sebanyak apapun darah yang mengalir, sebanjir apapun air mata yang tumpah, disebalik semua itu, yang menjadi Hahekat dari semua peristiwa itu adalah DZAT. Bukan Allah…

 

Bersambung

Read Full Post »

2) .KANDUNGANNYA

i. TIADA SATU PUN DILUPAKAN-NYA

Sesungguhnya Allah Mengetahui segala sesuatu. Al Hijr (15):25.

Tidaklah Kami alpakan sesuatupun di dalam al Kitab. Al Anaam (6):38.

Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata Loh Mahfuz.  Yunus (10):61; Al Qamar (54):52-53.

.
ii. SEMUA SUDAH DITETAPKAN-NYA

Dialah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan makhluk-makhluk itu dengan ketentuan takdir yang sempurna. Al Furqan (25):2

Sesungguhnya Allah tetap melakukan segala perkara yang dikehendaki-Nya. Allah telahpun menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatu. At Talaq (65):3)

.
iii. SEMUA DENGAN IZIN-NYA

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): Insya-Allah.” Al Kahfi (18):23-24.

 

iv. RENCANANYA TEGUH

Sesungguhnya rencana-Ku amatlah teguh. Al Araaf (7):183.

Kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. Al Ahzab (33):62.

Dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi KETETAPAN Kami itu. Al Isra (17):77

 

v. SEMUA AKAN DAPAT BAHAGIAN MEREKA.

Orang-orang itu akan memperolehi bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam kitab (Loh Mahfuz). Al Araaf (7):37

Tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Al Israa (17):13.

Nabi Musa as berkata, ”Hai Adam, engkau adalah bapa kami tetapi engkau telah mempersia-siakan kami serta mengeluarkan kami daripada syurga kerana dosa-dosamu.” Nabi Adam as menjawab, ”Hai Musa, Allah telah memilihmu dengan Kalam-Nya dan menulis Taurat untukmu dengan tangan-Nya maka apakah engkau menyalahi aku atas perkara yang telah ditakdirkan Allah kepadaku 40 tahun sebelum aku diciptakan?”. Terjemahan Sunan Ibnu Majah Buku 1, 68 (1992).

 

vi. TIADA PILIHAN

Semua itu terletak pada tangan Allah semata-mata. Daripada itu datangnya buruk dan baik. Dia yang menentukan segala-galanya semenjak dari awal-awal lagi. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futh Ghaib, 25 (1990)

Kamu tidak ada pilihan sendiri dalam perkara ini. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futh Ghaib, 32 (1990)

Dengan lain perkataan, kamu adalah dalam takdir atau qadha dan qadar Allah semata-mata. Kamu dalam lautan takdir Allah dan ombak takdir itu melambung-lambungkan kamu ke sana sini. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 145 (1990).

 

vii. TIDAK ZALIM

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah. An Nisa (4):40.

Kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. An Nisa (4):77.

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. Yunos (10):44; Ar Rum (30):9.

 

a. KARENA DIPERBUAT-NYA atas HAK-NYA

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?“Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?“. Al Mukminin (23):85

Segala-galanya adalah milik Allah dan tidak ada orang yang berkongsi dalam milik itu. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 153 (1990).

.
b. KARENA DIPERBUAT-NYA atas DZAT-NYA

Dia Yang Zahir Dan Yang Batin. Al Hadid (57):3

.
c. SEMUA BERHIKMAH

Maka adakah patut kamu menyangka bahawa Kami hanya menciptakan kamu sahaja dengan tiada sebarang hikmah pada ciptaan itu?. Al Mu’minun (23):115

Dan tiadalah Kami menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya sebagai ciptaan yang tidak mengandungi hikmah dan keadilan; yang demikian adalah sangkaan orang-orang yang kafir! Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir itu dari azab Neraka. Shad (38):27.

Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Ar Ra’d (13):11

a). JALAN KELUAR

Dan berikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar (iaitu) orang–orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka mengucapkan, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami dikembalikan.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Al Baqarah (2):156.

b). ILMU & FAEDAH

Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Al Baqarah (2):239

(Ingatlah), tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya melainkan dengan ada gunanya yang benar. Al Ahqaf (46):3.

Allah tidak menjadikan semuanya itu melainkan dengan adanya faedah dan gunanya yang sebenar. Yunos (10):5.

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir. At Jaathiyah (45):13

Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia. Ali Imran (3):191

.
d. GAMBARAN

a). Filem?

Aku tengok di neraka lalu aku lihat penghuninya yang terbanyak adalah wanita dan aku tengok di syurga lalu aku lihat penghuninya yang terbanyak adalah orang-orang fakir miskin. Sunan At Tirmidzi Bk 4 :224 (1993).

b). Komik ?

Dan berkatalah orang-orang yang berilmu serta beriman: Demi sesungguhnya, kamu telah tinggal menurut yang terkandung dalam Kitab Allah sampai ke hari kebangkitan. Ar Rum (30):56

c). Animasi ?

d). Hologram ?
Is the universe a hologram by Staff Writers Vienna, Austria (SPX) Apr 28, 2015

At first glance, there is not the slightest doubt: to us, the universe looks three dimensional. But one of the most fruitful theories of theoretical physics in the last two decades is challenging this assumption. The “holographic principle” asserts that a mathematical description of the universe actually requires one fewer dimension than it seems. What we perceive as three dimensional may just be the image of two dimensional processes on a huge cosmic horizon.
http://www.spacedaily.com/reports/Is_the_universe_a_hologram_999.html

 

viii. TIDAK BOLEH DIUBAH

Karena kalau boleh diubah maka berarti:

a. Allah Tidak Bijaksana, padahal,

Sesungguhnya Allah Mengetahui segala sesuatu. Al Hijr (15):25.

 

b. Tidak perlu IzinNya, padahal,

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): Insya-Allah.” Al Kahfi (18):23-24

 

c. Ayat-ayat Al Quran termansukh, padahal,

Sesungguhnya Allah Mengetahui segala sesuatu. Al Hijr (15):25.

Tidaklah Kami alpakan sesuatupun di dalam al Kitab:
Al Anaam (6):38.

Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata Loh Mahfuz.  Yunus (10):61; Al Qamar (54):52-53.

.
d. Rencana Allah Tiada Keteguhan, padahal,

Sesungguhnya rencana-Ku amatlah teguh. Al Araaf (7):183.

.
e. Berpahaman Mutazilah.

Satu dari cabang pemikiran dalam Islam yang terkenal dengan sifat rasional dan liberal. Ciri utama yang membezakan pemikiran ini dari pemikiran teologi Islam lainnya adalah pandangannya yang lebih banyak menggunakan dalil ‘aqliah (akal) sehingga sering disebut sebagai aliran rasionalis Islam. Pemikiran Muktazilah tidak mendapat simpati umat Islam, terutama di kalangan masyarakat awam kerana mereka tidak begitu memahami ajaran Muktazilah yang bersifat rasional dan sarat dengan falsafah. Alasan lain mengapa pemikiran ini kurang mendapat sokongan umat Islam pada saat itu adalah kerana pemikiran ini dianggap tidak selari (sesuai) dengan sunnah Rasulullah SAW dan para sahabat.
http://ms.wikipedia.org/wiki/Muktazilah

 

ix. SUDAH BERJALAN

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Al Hadid (57):22

.
x. DIA YANG MENGURUS

Allah mengatur urusan (makhluk-Nya). Ar Ra’d (13):2;At Talak (65):3.

Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah.Ar Ra’d (13):31.

Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur. Al Baqarah (2):255; Ali Imran (3):2;; Thaahaa (20):111.

Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Ar Rahman (55):29.

 

xi. TIADA CAMPUR TANGAN SESIAPA

Mereka berkata, “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campurtangan) dalam urusan ini?”Katakanlah, “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Tuhan.” Ali Imran (3):154.

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. Ali Imran (3):128; Al Maidah (5):128.

 

Bersambung

Read Full Post »

5. LOH MAHFUZ

Setelah menerangkan tentang Pembukaan Pintu Makrifatullah yang tujuannya adalah untuk mengantarkan kita agar tidak tersalah-salah dalam memahami Hakekat dari Ciptaan, yaitu SEDIKIT DZAT-NYA, untuk kemudian kita bisa Bermakrifat Kepada Allah, Sang Pemilik Dzat, maka Beliau kemudian menyampaikan tentang LOH MAHFUZ, atau Lauhul Mahfuz. Yaitu sebuah tempat dimana terjadi proses pendzahiran daripada DZAT menjadi SIFAT-SIFAT dalam bentuk wujud semua CIPTAAN.

Bahwa SEMUA yang berkenaan dengan Ciptaan terjadi di dalam Lauhul Mahfuz ini. Sedangkan di luar Lauhul Mahfuz, semuanya tetap menjadi Maha Misteri yang tidak ada sesiapa yang tahu, termasuk Rasulullah SAW sekalipun.

Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lohmahfuz).  Yasin (36):12.

Di sisiNya-lah terdapat Ummul Kitab (Loh Mahfuz). Ar Ra’d (13):39.

Beliau menerangkan seluk beluk Lauhul Mahfuz ini yang hampir semuanya dibenarkan oleh Science, terutama yang berkenaan dengan apa-apa yang ada Bumi dan di Luar angkasa raya.

Beberapa point yang sangat penting adalah:

1).INFRASTUKTUR

i. SUSUNAN

Lalu jibril (as) membawaku ke langit. Sahih Muslim Bk 1, 194 (1994)

Penjaga Langit (pertama) membuka pintu untuk kami. Di sana saya berjumpa Nabi Adam.

Penjaga Langit (kedua) membuka pintu untuk kami. Di sana saya berjumpa Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria.

Penjaga Langit (ketiga) membuka pintu untuk kami. Di sana saya berjumpa Nabi Yusuf.

Penjaga Langit (keempat) membuka pintu untuk kami. Di sana saya berjumpa Nabi Idris.

Penjaga Langit (kelima) membuka pintu untuk kami. Di sana saya berjumpa Nabi Harun

Penjaga Langit (keenam) membuka pintu untuk kami. Di sana saya berjumpa Nabi Musa.

Penjaga Langit (ketujuh) membuka pintu untuk kami. Di sana saya berjumpa Nabi Ibrahim. Sahih Muslim (1):77

Jibril (as) membawaku naik ke langit ketujuh. Ternyata disana aku menemukan Ibrahim (as) sedang menyandarkan punggungnya pada Al Baitul Makmur. Ternyata setiap hari ada 70 ribu malaikat masuk ke Baitul Makmur itu dan mereka tidak kembali lagi kesana . Terjemahan Sahih Muslim Bk 1, 195 (1994)

Dekatnya ada surga jannatu almawa. An Najm (35):15

Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratil Muntaha. Sahih Muslim Bk 1, 194 (1994)

Dan sesungguhnya (Muhammad) telah melihat (Jibril itu) pada waktu yang lain (iaitu) di Sidratil Muntaha. An Najm (53):13

Selepas itu Jibril naik bersama ku ke satu tempat di mana aku terdengar bunyi Pena. Sahih Al Bukhari Vol.1, 213 (1984).

Selepas itu Jibril naik bersamaku sehingga aku ternampak Al Mustawa. Di situ aku terdengar bunyi Pena. Sahih Muslim Bk.1, 202 (1994).

Arasy-Nya berada di atas air. Hud (11):7.

Malaikat Jibrail a.s. berkata bahawa ada 70 tirai Nur yang meniraikan Dzat dan sekiranya dia mendekati tirai Nur yang pertama sahaja, dia akan binasa. Al Hadis (Miskatul Masabih) Vol 4, 226 (1994).

Tirai-Nya adalah Nur dan seandainya terangkat pasti keagungan Dzat-Nya akan membakar makhluk yang terpandang oleh-Nya: Terjemahan Sahih Muslim Bk.1, 228 (1994).

Rasulullah saw menerima perintah Allah swt untuk umat baginda bersembahyang 50 kali sehari lepas diatas nasihat nabi Musa (as) baginda naik dan merayu dan diturunkan kepada 25 kali selepas itu diatas nasihat nabi Musa (as) baginda naik dan merayu sekali lagi dan diturun kepada 5 kali sehari. Terjemahan Sahih Muslim Bk.1, 202 (1994).

Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Al Baqarah (2):255
ii. MASA DIBINA

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua MASA. Al Fussilat (41):12

Katakanlah: Sesungguhnya tidak patut kamu kufur kepada Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua MASA. Al Fussilat (41):9

Ia menentukan ada padanya bahan-bahan keperluan hidup Penduduknya, sekadar yang menyamai hajat yang diminta dan dikehendaki oleh keadaan mereka dalam empat MASA. Al Fussilat (41):10
iii. UMUR YANG DIBERI KEPADA LANGIT & BUMI

Allah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya dalam enam FASA. As Sajdah (32):4.

Bersambung

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: