Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2015

PAMFLET-SEMINAR-UPDATE

BIAYA-SEMINAR-REVISI-2-oct

http://yamasindonesia.org/

Iklan

Read Full Post »

Dengan sedemikan banyaknya ketidakperluan dan ketidakbermanfaatan kita mempelajari ilmu-ilmu NAM ataupun ilmu-ilmu yang sejenis lainnya yang berkenaan dengan JIWA MANUSIA, maka masihkah kita mau memakai atau menghabiskan umur kita untuk hal-hal yang tidak berguna seperti itu?.

Kelihatannya saja ilmu-ilmu itu seperti bermanfaat, akan tetapi sebenarnya tidak bermanfaat sama sekali. Umur kita habis untuk mempelajarinya, melatihnya, dan mengejarnya kesana kemari, tapi manfaatnya bagi kejiwaan kita nyaris sedikit sekali kalau tidak mau mengatakan tidak bermanfaat sama sekali.

Untuk membuktikannya mudah saja kok. Coba perhatikan diri kita sendiri saat kita berhadapan dengan bermacam-ragam orang berikut dengan bermacam pemikiran, tindakan, tulisan, dan perkataannya, begitu juga saat kita menghadapi berbagai peristiwa dan kejadian bencana alam di sekitar kita apakah itu menimpa kita langsung ataupun bukan, apa dampak PUKULANNYA terhadap diri kita.

Kalau dalam menghadapi berbagai persoalan dan permasalahan diatas NAFAS kita masih sering sesak dan memburu (kita masih seperti tersengal-sengal seakan-akan kita sedang mendaki gunung yang sangat tinggi), kalau TEKANAN DARAH kita masih saja terasa meningkat dari biasanya, kalau “spanning” (EMOSI) kita masih saja turun naik seperti turun naiknya voltase listrik PEELEN, kalau tangan kita masih saja gemetar karena MENAHAN PERASAAN (marah, benci, takut, dsb), kalau masih saja timbul penolakan demi penolakan kita yang berkobar-kobar, kalau kita masih sering tidak menerimanya dengan kita sering berkata: “KENAPA…, kenapa…, sungguh sayang… kan seharusnya begini dan begitu, dan berbagai kalimat penolakan kita yang lainnya”, MAKA sebenarnya saat itu RUH kita sendiri sedang memberikan indikasi atau UMPAN BALIK kepada kita melalui TUBUH kita (terutama di wilayah dada kita) bahwa saat itu sebenarnya kita masih sedang bermasalah dalam penerimaan kita terhadap TAKDIR atau RUKUN IMAN KE-6, kita juga masih sedang bermasalah dalam memahami ILHAM, dan kita masih sedang bermasalah pula dengan MUATAN atau ISI yang sedang memenuhi HATI atau AKAL kita.

Banyak memang kita yang sudah berkata-kata bahwa kita harus berusaha kembali menjadi suci bersih seperti bersih dan sucinya seorang BAYI yang baru lahir. Untuk itu, banyak kita yang sudah berusaha untuk melakukan berbagai proses penyucian diri (Tadzkiyatunnafs) yang kadangkala malah sangat sulit dan melelahkan kita. Akan tetapi sebanyak itu pula kita yang gagal dalam memahaminya apalagi dalam mengujudkankannya dalam keseharian hidup kita.

Sebab sulit sekali memang untuk bisa kembali menjadi bayi itu. Bagaimana tidak sulit. Bayi itu seperti TIDAK punya PENGERTIAN sedikitpun dalam melihat kehidupan yang ada disekitarnya. Baginya belum ada salah atau benar, baginya belum ada milikku dan milikmu, baginya belum ada kata kenapa, baginya belum ada seharusnya, baginya belum ada protes dan penolakan. Sang bayi hanya melihat semua yang ada didepannya seperti sedang melihat KERTAS PUTIH. Kertas yang belum ada gambaran dan coretan. Walaupun didepannya terjadi perang, bom meletus, orang cakar-cakaran, diletakkan buku berlemari-lemari, diceramahi berjam-jam, namun kalaulah bayi itu bisa bicara saat itu, paling dia hanya akan berkata-kata sembari terheran-heran: “Ada apa ya?, Ada masalah?, Saya nggak ngerti tuh, saya ndak tahu?”.

Kata-kata tentang KETIKDAKMENGERTIAN inilah ciri-ciri bagi orang yang sudah memahami TAKDIR atau Rukun Iman ke-6. Karena baginya semua yang terjadi di alam semesta ini hanyalah ibarat sebuah LILIN yang sedang menyala yang lidah apinya sedang bergoyang dan bergerak kekiri dan kekanan mengikuti perjalanan waktu, atau ibarat Cahaya Bintang yang sedang berkerlap berkerlip digelapan malam. Dia akan melihat setiap awal dan akhir dari sebuah kejadian tak lain dan tak bukan hanyalah sesuatu yang memang sudah seharusnya begitu. Semua sudah dituliskan, semua sudah ditetapkan, semua sudah digambarkan, semua sudah diijinkan, semua sudah disusun dan direncanakan dengan sangat amat rapi sehingga sudah tidak bisa berubah lagi sejak firman KUN, tidak ada yang terlupakan walau sebuah titik sekalipun.

Baginya juga sudah tidak masalah lagi tentang paham dan tidak paham tentang mengerti dan tidak mengerti tentang berbagai kejadian dan peristiwa, karena paham dan pengertian itu Allah sendiri yang akan memberikan kepadanya ILHAM sebagai cara Allah untuk mengajarinya tentang kepahaman dan pengertian. Karena memang Allahlah pemilik dari segala PENGERTIAN dan KEPAHAMANAN. Dan setelah mengerti dan paham itupun ia segera kembali menjadi TIDAK MENGERTI dan TIDAK PAHAM, sampai Allah kemudian mengajarinya kembali dengan pengertian dan kepahaman yang lainnya lagi.

Sang bayipun tidak pernah berkata-kata, tidak pernah menangis dan tertawa kecuali hanya atas apa-apa yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya. Kalau perutnya lapar, dia lalu diilhamkan untuk menangis, begitu juga saat dia sakit, tidak enak badan. Saat tubuhnya nyaman, ya akan tertidur lelap bahkan kadangkala sambil tersenyum-senyum. Kalau dia kita tanya dengan berbagai pertanyaanpun, paling bisa dia hanya menjawabnya dengan tersenyum-senyum saja, karena memang dia tidak diilhamkan untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita itu.

Dan diatas semua itu, ketidakmengertiannya, ketidakpahamannya, dan ketidakberkata-kataannya itu terjadi karena memang HATINYA atau AKALNYA tidak ada ISI atau MUATANNYA sama sekali untuk bisa dikeluarkannya dalam bentuk kata-kata dan kalimat-kalimat. HATINYA hanya seperti kertas putih saja. Hatinya itu jadi tidak pernah bergoncang karena pengaruh dari satu ingatan kepada ingatan-ingatan yang lainnya. Karena memang di dalam hatinya tidak ada ingatan apa-apa. Hatinya begitu TENTERAM, sehingga apapun yang dimunculkan oleh perilaku bayi itu akan membuat siapapun juga akan ikut-ikutan kecipratan rasa TENTERAM itu.

Dengan paling kurang tiga kriteria yang dimiliki oleh seorang bayi, yaitu: tetap TIDAK ada PENGERTIAN dalam menghadapi segala sesuatu, dia berbicara dan berbuat berdasarkan ILHAM, dan dia mempunyai HATI yang BERSIH, lalu langkah apa yang haru kita lakukan?.

Satu hal saja, untuk membersihkan hati atau akal kita agar bersih dan suci saja misalnya, kita sudah sangat kesulitan. Betapa tidak, bagaimana caranya agar hati atau akal kita yang telah sekian tahun atau bahkan sekian puluh tahun terlanjur terisi dengan berbagai ingatan yang membentuk memori kita, isinya itu bisa tumpah kembali keluar. Sehingga hati atau akal kita itu bisa kembali menjadi kosong, zero, sifar dari ingatan kepada apapun juga, kecuali nantinya hanya satu ingatan saja, yaitu ingatan kepada Allah. Sementara dalam keadaan seperti itu kita masih tetap bisa bekerja, beribadah, dan berkarya sebagai SEORANG MANUSIA BIASA. Bukan sebagai seorang Ustadz atau Kiyai atau bahkan Waliyullah. Sebab boleh jadi gelar-gelar itulah nantinya malah yang akan membelenggu langkah kita sendiri.

Jutaan orang telah merindukan tentang HATI yang bersih seperti ini sejak lama, barangkali sudah sejak 1000 tahun yang lalu. Berbagai cara baru juga telah banyak tumbuh, hilang, dan berganti sejak saat itu. Namun cara-cara baru itu alangkah bertele-telenya, memakan waktu lama, dan bahkan menyulitkan kita sendiri. Memang adapula beberapa orang tersembunyi yang bisa mengantarkan kita untuk mencapainya, akan tetapi tetap saja mereka tidak bisa menerangkan kepada khalayak ramai secara terbuka seperti terbukanya Rasulullah dalam berdakwah kepada Umat dizaman Beliau.

Namun solusi dari kesulitan demi kesulitan itu nampaknya mulai terkuak sejak beberapa tahun belakangan ini, karena Allah ternyata telah mengutus seorang yang bermartabat Arif Billah, yaitu Ustadz Hussien Bin Abdul Latiff, untuk mengurai benang merah kegalauan umat manusia sejak berbilang zaman itu. Dengan sangat terstruktur rapi, bagian demi bagian kekusutan pemahaman umat manusia itu berhasil Beliau urai dan lokalisir sehingga terbentuklah sebuah generasi baru dengan paradigma baru untuk bisa menyambut keriuhrendahan kehidupan di abad-abad yang akan datang.

Beliau mulai dengan syarahan Makrifatullah, lalu Pembukaan pintu Makrifatullah, Hati dan Mata hati, Dzikrullah, Arah Tujuan Umat, dan Keredhaa sebagai syarahan dasar atau azazi. Dan kemudian Beliau lanjutkan pula dengan berbagai syarahan tingkat lanjutan lainnya yang benar-benar merupakan tanda-tanda akan kearifbillahan Beliau. Kajian Beliau yang sangat tinggi dan berat, berhasil Beliau sampaikan dengan sangat ringan dan kadang-kadang melucu habis. Sehingga para penunggu syarahan Beliau tahu-tahu sudah berpindah paradigma saja kepada paradigma yang dulunya hanyalah seperti sebuah mimpi di siang bolong belaka. Tapi sekarang nyata terjadi…

Bersambung

Read Full Post »

SEBUAH SALAM PERPISAHAN

Hari ini, 04 Oktober 2015, saya telah melepaskan diri dari KEILMUAN yang disyiarkan di Shalat Center (SC) oleh Ustad Abu Sangkan. Kebodohan saya adalah saya tidak pernah bisa mengerti apa-apa yang telah beliau ajarkan kepada saya. Hampir 14 tahun saya mencoba untuk mengerti dan memraktekkan apa-apa yang diajarkan Beliau, selama itu pula saya tidak mengerti dimana pintu masuknya yang HAKIKI.

Kitab Madarijussalikin karya syech Ibnul Qayyum Al Jauziah yang sangat fenomenal itu yang sekarang menjadi salah satu rujukan utama kajian di SC, dari uzlah ke uzlah, tetap tidak bisa saya mengerti. Bodoh sekali saya rasanya untuk menerima ilmu yang sedemikian tingginya itu.

Akhirnya pintu masuk yang hakiki itu dihantarkan oleh Allah kepada saya melalui lisan Arif Billah Ustad Hussien Bin Abd. Latiff sejak Bulan Februari 2014 sampai sekarang. Dan sekelumit dari ilmu tersebut, sebatas yang saya pahami, telah saya sampaikan kepada Ustad Abu Sangkan pada hari Minggu 04 Oktober 2015 baru lalu. Hasilnya adalah, dengan bismillah, Beliau menyalami saya dan mempersilahkan saya untuk tidak membawa-bawa nama Shalat Center lagi kemanapun saya pergi. Sayapun menerimanya dengan Ridho. Karena seperti itulah TAKDIR berbicara. Lagi pula, memang sudah sejak lama saya sebenarnya sudah tidak aktif lagi dalam jamaah SC.

Untuk para sahabat yang dulu kita pernah bersama dalam wadah SC, saya hanya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya seandainya saya punya khilaf dan salah selama kita bersama-sama itu.

Saya sekarang hanya orang biasa saja yang bertugas menjadi fasilitator di Indonesia agar syarahan Ustad Hussien BA Latiff bisa dinikmati oleh masyarakat banyak. Yamas Indonesia, Yayasan Makrifat Sedunia, Indonesia adalah wadah resmi yang telah kami bentuk untuk kelancaran aktiftas ini.

Terus terang saya belum pernah menemukan syarahan lain yang selengkap, semudah, seteratur, sedalam, dan seaplikatif yang Beliau sampaikan diumur saya yang sudah lebih dari setengah abad ini.

Wassalamualaikum…

Read Full Post »

« Newer Posts

%d blogger menyukai ini: