Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2015

Salah Satu Nazam (Lagu) Makrifat Ustadz Hussien BA Latiff yang akan segera di rilis…

Bilaku terpandang dunia yang permai ini.
Bilaku melihat langit indah terperi
Namun di dalam hatiku, aku mengetahui
Dzat-Mu disebalik semua ini

Benarlah benarlah pandangan hati
Benarlah benarlah pandangah hatiku ini

Bilaku melihat burung-burung berterbangan
Bilaku merasakan angin bertiupan
Namun di dalam hatiku, aku mengetahui
Dzatmu di sebalik semua ini

Benarlah benarlah pandangan hati
Benarlah benarlah pandangah hatiku ini

Bilaku tercium haruman bunga-bunga
Bilaku merasakan nyaman suasana
Namun di dalam hatiku, aku mengetahui
Dzatmu di sebalik semua ini

Benarlah benarlah pandangan hati
Benarlah benarlah pandangah hatiku ini

Bilaku memandang di sekelilingku
Dan melihat pada kewujudanku
Namun di dalam hatiku, aku mengetahui
Dzatmu di sebalik semua ini

Benarlah benarlah pandangan hati
Benarlah benarlah pandangah hatiku ini

Bila kesemua ciptaan dinafikan
Maka hilanglah segala kewujudan
Namun di dalam hatiku, aku mengetahui
Dzatmu di sebalik semua ini

Benarlah benarlah pandangan hati
Benarlah benarlah pandangah hatiku ini…
&&

Read Full Post »

4. Ilmu-ilmu NAM yang berkembang sejak abad 20 ini, dan mayoritas Ilmu-ilmu tasawuf wali-wali tarekat yang berkembang sejak 400 tahun setelah kewafatan Nabi Saw, serta pemecah belahan islam menjadi berbagai golongan, mahzab, fikih, syiah, sunni, dan sebagainya, tanpa kita sadari, kebanyakan akan membuat kita merasa JAUH dan TERPISAH dengan Allah. Bahkan kita merasa bahwa Allah seperti hilang entah kemana.

Masih mendingan sedikit kalau kita hanya sekedar merasa bahwa Allah itu jauh dan terpisah dari kita. Masih ada Allah yang kita percayai. Sebab karena kalau kita merasa jauh dan terpisah dengan Allah itu, maka kita jadinya masih ingin MENDEKAT… mendekat…, dan mendekat… kepada Allah. Malah adakalanya kita tidak hanya sekedar ingin mendekat kepada Allah, tapi ingin sekalian BERSATU dengan Allah.

Yang  paling parah adalah ketika kita merasa bahwa Allah telah hilang entah kemana. Kita berlaku seperti kita sendirilah yang memiliki segala sesuatu. Kita lakukan ini dan itu seperti orang yang tidak dilihat oleh Allah sama sekali. Kita mencuri. Kita korupsi dengan mudah. Kita maksiat berkali-kali. Kita mencaci orang lain, kita memaki ciptaan Allah yang lain, dan bahkan kita mencaci maki WAKTU. Sekarang ini, media sosial, media cetak, dan media visual lainnya, penuh dengan arena caci maki seperti ini.

Disamping itu, karena kita merasa bahwa Allah kita telah hilang, maka kita jadinya akan sibuk mencari-cari Allah kemana-mana. Maka untuk itu, kemudian bermunculan berbagai cara dan metoda baru yang katanya itu adalah untuk menemukan kembali Allah kita yang telah hilang dan untuk mendekatkan diri kita dengan Allah.

Ada yang mencari-cari Allah dikedalaman HATINYA dan di dalam apa yang dinamakannya LATHAIF-LATHAIF tertentu dengan cara berdzikir sekian puluh ribu atau bahkan ratusan ribu selama bertahun-tahun. Ada yang mencari-cari Allah didalam nafasnya. Ada yang mencari-cari Allah di dalam gerakan-gerakannya seperti dalam Tarian Sufi, Gerakan di lapangan mengikuti arah getaran yang acak seperti gerakan Taichi. Ada yang mendekat-dekatkan Ruhnya kepada Allah yang disebut sebagai Perjalanan Ruhani, dan sebagainya. Banyak sekali macam dan ragamnya.

Metoda-metoda baru dalam mencari-cari Allah dan dalam mendekat-dekatkan diri kepada Allah seperti itulah sebenarnya yang disebut dengan BID’AH. Sebab tiga generasi Islam awal, Rasulullah SAW, para sahabat, Tabiin dan Tabit tabiin dulu tidak pernah melakukannya. Jadi Bid’ah itu bukan untuk masalah-masalah yang berhubungan dengan perkembangan PERADABAN. Yang namanya peradaban itu PASTILAH akan berubah menerusi WAKTU.

Saat itu, dengan KUNCI ILMU yang sedang ada ditangan Rasulullah SAW, setiap kali Rasulullah SAW mengajarkan sesuatu ilmu tentang mengenal Allah (Makrifatullah), semua orang yang mendengarkan syarahan Beliau saat itu, dengan sangat mudahnya bisa memahaminya.  Ya…, tanpa bersusah-susah melakukan cara-cara yang aneh seperti diatas, seketika itu juga para sahabat yang Beliau ajar atau syarah itu bisa mengerti dan paham. Mereka langsung BERIMAN kepada Allah dan BERIMAN pula kepada Kerasulan Beliau.

Dan yang lebih aneh lagi saat itu adalah, begitu SATU PINTU ILMU dibukakan oleh Rasulullah kepada para Sahabat Beliau, maka, dengan sangat mengejutkan, pintu-pintu Ilmu yang lainnya terbuka pula satu persatu dengan sangat mudahnya. Makanya dengan sangat mudah para sahabat itu berkata, “shadaqta ya Rasulullah, kami dengar, kami mengerti, dan akan kami lakukan ya Rasulullah”. Saat itu memang umat Islam sedang berada pada puncak ketinggian Ilmu dan kemegahan peradaban. Satu persatu hukum-hukum Allah (sunatullah) tersibak menjadi berbagai Ilmu dan Teknologi yang nantinya akan sangat berguna bagi kemaslahatan hidup umat manusia.

Akan tetapi, walaupun saat itu ilmu dan teknologi sudah berkembang dengan sangat pesat dan mencengangkan, namun dalam hal BERIBADAH, tidak ada satupun diantara para tiga generasi Awal Islam itu yang menambah-nambah cara beribadah kepada Allah dengan cara-cara yang baru diluar yang dicontohkan oleh Rasulullah. Semuanya hanya MENYAMPAIKAN apa-apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada mereka. Tidak ada diantara mereka yang MEMAKAI ilmu yang disampaikan oleh Rasulullah itu sebagai Ilmu milik mereka sendiri. Tidak ada. Mereka bahkan tidak berani  menambah-nambahinya dengan pemahaman dan cara-cara ibadah menurut rekaan dan ciptaan mereka sendiri. Mereka tidak menyampaikan tafsiran-tafsiran yang nantinya akan menyusahkan umat.

Makanya ibadah-ibadah pada zaman itu tidak ada yang aneh-aneh. Praktek mengingat Allah (dzikrullah) yang mereka lakukan tidak ada yang aneh-aneh. Puasa mereka tidak ada yang aneh-aneh. Haji dan umrah mereka tidak ada yang aneh-aneh. Haji dan Umrah mereka tidak perlu berkali-kali seperti yang dilakukan oleh umat Islam sekarang ini. Malam hari mereka isi dengan beribadah, terutama di sepertiga malam terakhir sampai pagi. Siang mereka banyak berpuasa. Shalat wajib dan shalat-shalat sunnah mereka kerjakan dengan istiqamah. Sedekah mereka lakukan dengan penuh semangat. Kepada tetangga mereka sangat penuh perhatian. Mereka tidak pernah memaki dan menghardik. Kehidupan mereka benar-benar seperti kehidupan orang biasa saja. Tidak ada perbedaan yang berarti antara khalifah dengan rakyat jelata. Mereka saling membantu dan saling menghormati.

Kalau mereka ingin berjumpa dengan Allah, mereka hanya melakukan Shalat, baik yang wajib maupun yang sunat. Setiap punya masalah mereka Shalat dua rakaat. Setiap minta pertolongan atas permasalahan apa saja yang sedang mereka hadapi, mereka hanya melakukan shalat…, shalat…, dan shalat…!. Dan merekapun kemudian mendapatkan JAWABAN-JAWABAN dari Allah terhadap semua permasalahan yang sedang mereka hadapi. Pertolongan demi pertolongan dari Allahpun datang kepada mereka dalam bentuk sesuatu yang tanpa mereka duga-duga sama sekali.

Dan saat pertemuan dengan Allah di dalam Shalat itu, Para Sahabat Nabi yang mulia itu juga tidak perlu melakukan berbagai PERJALANAN ROHANI apa-apa seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang hidup pada generasi 400 tahun setelah kewafatan Rasulullah. Praktek-praktek seperti ini ternyata ada yang berlanjut sampai sekarang ini.

Pertanyaannya adalah: “kita mau berjalan kemana?; kita mau pergi kemana?”. Proses pergi dan memperjalankan rohani itulah sebenarnya yang nantinya akan menyebabkan kita merasa terpisah dan jauh dengan Allah.

Nantinya, dari sinilah titik awal munculnya berbagai konsep spiritualitas yang ternyata masih bertahan sampai saat ini, seperti Wahdatul Wujud, Nur Muhammad, Hulul, emanasi, Fana Fillah, Baqabillah. Dan kalau kita amati dengan seksama, maka ketika kita berusaha mendekat kepada Allah atau malah sekalian bersatu dengan Allah itu, maka saat itu akan ada DUA KEWUJUDAN. Adanya DUA WUJUD seperti ini, dalam pandangan Kacamata Makrifatullah, adalah sebuah KESYIRIKAN.

Dan sejak itu pulalah umat Islam mulai kehilangan ilmu yang sebenarnya tentang MENGENALI ALLAH (Makrifatullah) dan ilmu tentang MENGINGATI ALLAH (Dzikrullah). Hilang kedua hal ini, Makrifatullah dan Dzikrullah, maka hilang pulalah makna SHALAT yang sebenarnya yang sedang kita lakukan. Karena shalat itu sebenarnya adalah prosesi Dzikrullah…!. Dan sejak itu, hilang pulalah dengan cepat bekas-bekas shalat, bekas puasa, bekas sedekah, bekas haji dan umrah dari sebagian besar umat Islam. Walaupun jumlah umat Islam berkembang dengan sangat pesat, namun JEJAK yang ditorehkan oleh umat Islam dalam membangun peradaban sangatlah KECIL sekali.

Saya sendiri begitu terkaget-kaget saat mengetahui tentang hal ini. Sebab sebelum saya mengenal ilmu Makrifatullah menerusi jalan Nabi-Nabi ini, saya masih berkutat dengan hal-hal seperti diatas. Untuk bertemu Allah harus di depan Ka’bah. Saya juga masih beranggapan bahwa untuk bertemu Allah itu saya juga harus melakukan sebuah PERJALANAN ROHANI. Perjalanan RUH saya yang pergi mendekat kepada Allah, atau Ruh saya didekat-dekatkan kepada Allah. Dan karena saat itu memang ada rasanya, maka saya anggap itu adalah hal yang benar. Apalagi dari buku-buku tasawuf yang saya baca, dan pengajaran-pengajaran yang saya terima, seakan-akan memang perjalanan rohani itu adalah sebuah aktifitas wajib yang harus saya lakukan agar saya bisa khusyu dalam beribadah, apalagi kalau saya ingin bisa mendapatkan ilham dan pengajaran dari Allah, dan agar saya bisa tenang dan bahagia.

Akan tetapi dengan berbekal ilmu Makrifatullah yang disampaikan oleh Arif Billah Ustadz Hussien Bin A Latiif, ternyata semua paradigma dan ilmu-ilmu diatas yang juga sedikit banyaknya telah saya punyai sebelumnya, seketika itu juga rontok dan gugur tanpa sisa. Karena, dengan ilmu Mengenal Allah (makrifatullah) dengan kesadaran yang Jati, yang KUNCI ILMUNYA ternyata ada pada Beliau, saya dikejutkan dengan kenyataan bahwa sebenarnya saya, semua manusia, dan semua ciptaan Allah yang lainnya TIDAK PERNAH TERPISAH dengan Allah.

Kita semata-mata adalah penzhahiran dari sedikit Dzat-Nya Yang sedikit. Kita dan semua ciptaan-Nya tenyata adalah TIDAK WUJUD. Kita dan seluruh ciptaan-Nya yang lain ternyata adalah Dzat-Nya Yang Dzahir. Dan Disebalik Dzat-Nya Yang Dzahir itu ada SEDIKIT Dzat-Nya Yang Bathin. Tidak terpisah Dzat-Nya Yang Dzahir dengan Dzat-Nya Yang Bathin itu. Dzat-Nya Yang Dzahir dan Dzat-Nya Yang Bathin itu bisa disebut juga dengan Dzat-Nya yang berada di dalam Lauhul Mahfuz. Tidak terpisah Dzat-Nya yang sedikit itu dengan Dzat-Nya yang keseluruhan Yang Maha Indah.

Pantas Imam Al Ghazali berkesimpulan bahwa: “Orang yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya niscaya sudah pasti ia mengenal bahawa ia tiada mempunyai wujud bagi dirinya”, Ihya Ulumiddin Bk. 7, 427 (1981). Sebab yang wujud sebenar-benar wujud ternyata adalah Dzat-Nya saja. Dzat-Nya itulah yang menjadi Wajibul Wujud bagi semua ciptaan. Tanpa Allah merelakan sedikit Dzat-Nya atau DIRI-NYA menjadi Unsur dasar bagi penciptaan semua ciptaan, maka tidak akan pernah ada satupun ciptaan yang akan terzhahir.

Bersambung

Read Full Post »

3. Dengan memakai ilmu-ilmu NAM diatas, ataupun sebagian besar ilmu Tasawuf wali-wali Tarekat, cepat atau lambat kita akan digiring untuk masuk ke dunia MAGIC, dunia KESAKTIAN, dunia PERDUKUNAN (Tuk Bomoh), dunia Fuh… Fuh…, Fuh…, bagi orang yang sudah menggelutinya. Sedangkan bagi orang-orang yang baru memasukinya, dunia itu boleh jadi masih berupa mimpi dan lamunan saja.

Dunia yang katanya bisa mewujudkan seribu mimpi dan sejuta harapan dengan sekejap waktu. Seperti: dapat menyembuhkan lusinan penyakit dan timbunan trauma psikis; bisa bermain-main dengan energi alam semesta yang bisa kita perintah-perintah; dapat menjanjikan sukses dan keberlimpahan hanya dengan kita berusaha memanfaatkan energi kosmis yang katanya memenuhi diri manusia dan alam semesta, dan bisa pula dengan melantun ribuan dzikir-dzikir dengan cara-cara yang tertentu pula.

Makanya ada istilah bagaimana di dalam diri kita maka begitu pulalah diluar. Bagaimana suasana hati kita, maka begitu pulalah yang realitas kehidupan yang akan kita lalui. Bagaimana macro cosmos (energi alam semesta) merespon, itu tergantung dari bagaimana micro cosmos (atau manusia) berperasaan dan berpikiran. Kalau kita berpikir begini dan berperasaan begitu, maka hasilnya nanti akan seperti ini dan begitu. Hasil itu akan mengikuti pola-pola yang sudah bisa diprediksi dari awal-awal. Dan untuk kesemuanya itu kita hanya butuh meditasi, samadi, berpikian positif, mengelola hati atau Qalbu, dan menciptakan ikhlas di dengan pikiran dan perasaan kita.

Kalaupun ada ibadah-ibadah yang kita lakukan, maka di dalam ibadah itu sebenarnya kita tak ubahnya sedang bermeditasi, sedang bersamadi, sedang mengolah qalbu, sedang mencari-cari rasa yang bisa dirasa-rasa. Karena semua aktifitas yang kita lakukan itu kadangkala memang ada rasanya, maka saat itulah kita menganggap apa yang kita lakukan itu adalah benar. Ibadah yang kita lakukan sambil bermeditasi, sambil bermain-main dengan rasa di Qalbu yang katanya berada di dalam dada itu kita anggap adalah hal yang benar menurut syarak.

Dan setelah itu, kita hanya menunggu waktu saja untuk membesar-besarkan diri kita dan metoda samadi, meditasi, dan olah Qalbu yang kita lakukan itu. Kita menjadi tenar, metoda kita menjadi tenar. Sedangkan Allah entah sudah jadi nomor berapa. Syariat yang di contohkan oleh Rasulullah juga entah jadi nomor berapa pula. Saat dikatakan bahwa ketika itu sebenarnya kita tengah sangat dekat dengan syaitan sebagai teman dan sahabat karib kita, sulit sekali kita untuk mempercayainya. Kita hanya cengengesan saja.

“Ini tak ada hubungannya dengan syaitan bung”, kata kita terkekeh-kekeh.

“ini murni proses alamiah dan ilmiah…”, kata kita dengan bangga.

“ini adalah murni hasil dzikir, puasa, dan proses tadzkiyatunnafs…”, bantah kita dengan gagah.

Akan tetapi kalau kita kembali melihat jejak Nabi dan Rasul Allah yang jumlahnya sekitar 124.000 orang, semuanya diutus kemuka bumi ini TIDAK untuk mengembangkan magic, kesaktian, dan keajaiban-keajaiban. Walaupun sebagian mereka diberikan Mu’jizat oleh Allah berupa berbagai peristiwa luar biasa, seperti Nabi Ibrahim tidak terbakar oleh nyala api yang sedang berkobar-kobar, Nabi Yunus bisa keluar hidu-hidup dari perut ikan Nun, Nabi Musa yang tongkatnya dapat berubah menjadi ular dan dapat membelah Laut Merah, Nabi Yusuf dengan tafsir mimpi yang jitu, Nabi Isa dapat menyembuhkan orang sakit kusta, buta, dan juga menghidupkan orang yang sudah mati, Nabi Muhammad SAW yang dapat melakukan Perjalanan Isra’ dan Mi’raj, dan sebagainya, namun tugas semuanya BUKAN untuk mengembangkan magic, kesaktian, dan keajaiban. Tidak…

Tugas Beliau semua hanyalah satu yaitu MENGENALKAN ALLAH kepada umat manusia dan Jin, sehingga umat manusia dan Jin pun bisa MENYEMBAH Allah, BERIBADAH kepada Allah dengan SENANG dan GEMBIRA. Karena Allah memang tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Nya. Jin dan manusia itu tidak diciptakan untuk bermain magic, bermain kesaktian, dan berbuat keajaiban-keajaiban.

Sedangkan mu’jizat-mu’jizat dan keajaiban-keajaiban yang diberikan kepada Nabi dan Rasul itu adalah sebuah peristiwa incidental, sewaktu-waktu dan “kebetulan”, yang memang berguna pada saat itu saja. Setelah Mu’jizat itu terjadi, ia tidak dibahas dan dilatihkan lagi oleh mereka menjadi sebuah ilmu yang bisa dipakai setiap waktu dan berulang-ulang untuk gagah-gagahan. Tidak…

Itu pulalah sebabnya Mu’jizat Nabi Muhammad SAW yang sangat fantastis dan fenomenal, yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj, tidak pernah dibahas panjang lebar oleh Nabi dan para sahabat setelah peristiwa itu terjadi. Sebab Nabi sudah menutupnya dengan hadist Beliau: “Shalat adalah Mi’rajnya orang yang beriman”. Selesai sudah…!.

Dan sahabat juga tidak bertanya-tanya lagi tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu. Sebab dengan melakukan shalatpun mereka sudah mendapatkan realitas mi’raj seperti yang dilakukan oleh Nabi SAW. Realitas bertemu dengan Allah, berkata-kata dengan Allah, dan mendapatkan jawaban-jawaban dari Allah.

Makanya Abu Bakar As Shiddiq setelah Beliau juga melakukan shalat, dengan bergegas Beliau berkata: “Shadaqta ya Rasulullah…, betul yang engkau katatakan ya Rasulullah…”. Dan setelah itu Abu Bakar As Shiddiq pun selalu tenggelam dalam Shalat yang sangat intense. Begitu juga dengan para Sahabat yang lainnya, sehingga saat itu terbentuklah masyarakat yang berlomba-lomba melakukan kebaikan. Masyarakat yang dengan sendirinya akan meramaikan masjid. Masyarakat yang tidak mengenal takut, sedih dan khawatir. Karena saat itu yang ada di dalam ingatan mereka, di dalam mind mereka, di dalam hati atau akal mereka hanya ada satu penghuni saja, yaitu INGATAN KEPADA ALLAH (Dzikrullah). Mereka menjunjung tinggi ingatan kepada Allah. Kemana-mana yang mereka bawa-bawa adalah ingatan kepada Allah. Mereka memikul ingatan kepada Allah setiap saat.

Oleh sebab itu, dengan akal yang selalu mengingati Allah, apa-apa yang mereka bicarakan juga jadinya adalah tentang Allah. Mereka saling bercerita tentang kehebatan Allah, tentang kebesaran Allah, tentang kasih dan sayang Allah, tentang ilmu Allah, tentang keagungan Allah, tentang kesempurnaan ciptaan Allah, tentang aturan-aturan Allah, tentang siksa Allah. Sehingga ucapan-ucapan seperti: “Allahlah tujuanku…, cukuplah Allah bagiku…, dan ucapan mereka yang lainnya, merupakan ucapan-ucapan yang bersesuaian antara apa yang diucapkan mereka dengan keadaan hati mereka. Sama…

Bersambung

Read Full Post »

« Newer Posts

%d blogger menyukai ini: