Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2015

Perbedaan Pada Paham-paham ini, bukan hanya sebatas pada BAHASA saja, tetapi juga sangat berbeda dalam hal pendalaman lelakunya. Intinya adalah sebagai berikut:

1. Pada Paham Nur Muhammad, segala sesuatu yang berkenaan dengan ciptaan berhubungan terlebih dahulu dengan Nur Muhammad. Ciptaan adalah Nur Muhammad dan Nur Muhammad adalah Ciptaan. Kenal dengan Nur Muhammad, dan telah dapat pula berhubungan (tersambung) dengan Nur Muhammad, barulah setelah itu seseorang bisa berhubungan pula dengan Allah. Dan yang bisa tersambung dengan Nur Muhaammad itu hanyalah Guru-guru Mursyid yang Kamil Mukamil saja, yang silsilahnya tersambung sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Sambungan itu adalah melalui GETARAN ROHANI dari Mursyid ke grand-grand mursyid sebelumnya. Kasihan sekali kalau begitu bagi siapa yang tidak punya mursyid…, dia tidak akan pernah bisa tersambung dengan Allah… &&&&

2. Pada Paham Wahdatul Wujud, segala sesuatu yang berkenaan dengan ciptaan adalah manifestasi dari Allah. Tidak ada lagi perbedaan antara Allah dan ciptaan. Allah bisa beremanasi kepada ciptaan. Ciptaan bisa manunggal dengan Allah. Besi panas sudah tidak ada bedanya lagi dengan Api. Dia adalah aku, aku adalah Dia. Hanya orang-orang khusus, Mursyid yang kamil mukamil, yang mempunyai silsilah tersambung kepada Rasulullah, pulalah yang akan bisa membuat seseorang bisa tersambung dengan Allah melalui hubungan getaran Rohani. Tanpa bantuan getaran rohani mereka seseorang tidak akan pernah bisa mengenal Allah dan tersambung kepada Allah. &&&

3. Pada Paham Dzatiyah, segala sesuatu yang berkenaan dengan Ciptaan HANYALAH berhubungan dengan Dzat-Nya yang sedikit saja, yang besarnya tidak lebih dari ukuran sebutir pasir dibandingkan dengan padang pasir, atau setetes air masin di dalam lautan.

Akan tetapi TIDAK terpisah Dzat-Nya yang sedikit itu dengan Dzat-Nya yang Keseluruhan, seperti tidak terpisahnya diri kita dengan kuku tangan atau jari tangan kita.

Semua ciptaan dan peristiwa yang dialami oleh ciptaan itu adalah penzhahiran dari apapun yang telah ditetapkan oleh Allah terhadap Dzat-Nya yang sedikit itu. Sedangkan Dzat-Nya yang Maha Besar adalah Maha Suci dari segala persepsi, prasangka, dan peristiwa-peristiwa. Dari sisi pandangan Makhluk, apapun yang terjadi terhadap Setiap Makhluk, apapun yang dilakukan oleh Setiap Makhluk, itu tak lebih dan tak kurang adalah Penzhahiran dari aktifitas atau Af’al Allah yang telah Dia TETAPKAN semenjak Firman Kun terhadap Dzat-Nya yang sedikit sahaja.

Jadi tidak ada tempat sedikitpun tempat bagi makhluk, walau yang sehebat apapun juga, untuk mengatakan bahwa apapun yang dia lakukan, itu adalah perbuatan atau Af’al Allah. Misalnya, dia mengaku bahwa perkataannya adalah perkataan Allah, atau perbuatannya adalah perbuatan Allah, apalagi untuk mengatakan bahwa dirinya adalah Diri Allah. Tidak bisa.

Paling banter kita hanya bisa berkata: Alhamdulillah, subhanallah, laa ilaha illallah, Allahu Akbar, lahaula wala quwwata illa billah, insyaallah…, dan yang sejenisnya.

Akan tetapi dari sisi pandangan Allah, Dia berhak mengatakan bahwa semua aktifitas makhluk, semua peristiwa yang terjadi terhadap makhluk-Nya, itu adalah Aktifitas atau Af’al-Nya sendiri terhadap Diri-Nya sendiri. Sebab semua ciptaan itu adalah bagian yang sangat sedikit atau kecil sekali dari Dzat-Nya yang Maha Indah, Yang Maha Besar.

Misalnya, saat seseorang sakit: Allah berhak berkata: “Aku sakit, kenapa tidak ada satupun dari kamu yang mengunjungi Aku?…”. Allah sangat bisa berkata seperti itu.

Walau ada tujuh milyar orang yang sakit, Allah tetap bisa berkata bahwa yang sakit tujuh milyar orang itu adalah Diri-Nya. Sebab tujuh Milyar manusia itu tak lebih dari hanya bagian yang sangat kecil saja dari Dzat-Nya yang sedikit.

Akan tetapi bagi kita yang sedang sakit, TIDAK ADA ruang sedikitpun bagi kita untuk berkata: “yang sakit ini bukanlah aku, tapi yang sakit adalah Allah”. Nggak bisa begitu…, nanti setiap orang bisa menjadi Allah, sehinga Allah bisa menjadi tujuh Milyar banyaknya.

Untuk berhubungan dengan Allah, kita cukup hanya mengikuti proses: Mengenal Allah (Makrifatullah, pembukaan pintu Makrifatullah, dan Lauhul Mahfuz yang akan membawa kita beriman penuh kepada takdir atau rukun iman ke-6) dalam sekali atau beberapa kali Syarahan atau Kuliah Umum, setelah itu diajarkan pula tentang Hati dan Mata Hati, lalu diajarkan pula lebih lanjut tentang Dzikrullah (mengingati Allah), Ibadah, Keredhaan, dan Arah Tujuan Umat. Lalu semua ibadah dan aktifitas yang kita lakukan kita bingkai dengan Ingatan kepada Allah secara istiqamah.

Dan setelah itu tidak ada akan lagi kejahilan insyaallah…

Iklan

Read Full Post »

Berikut ini adalah Perbandingan Intisari Ilmu Makrifatullah dari tiga zaman. Silahkan lihat diri kita masing-masing, dibagian manakah kita berada?.

Deka On Behalf of Rio Benny Arya

Slide1

Slide2

Slide3

Read Full Post »

« Newer Posts

%d blogger menyukai ini: