Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2015

Membaca Maha Senda Gurau 

Allah bergurau senda dengan SEDIKIT Dzat-Nya, SEJUMPUT KECIL Diri-Nya, seperti kita bersenda gurau dengan jari-jari tangan kita sendiri. Tetapi senda gurau Allah dengan SEJUMPUT KECIL Diri-Nya itu telah membentuk Drama Kehidupan dan Kematian Yang Maha Dahsyat dan Maha Kolosal kalau dilihat dari sisi kita sebagai seorang manusia.

Drama itu:
Durasi Waktu tayangnya adalah milrayan tahun.
Panggung pergelarannya adalah seluas Lauhul Mahfuz.
Para Pelakonnya adalah Semua Ciptaan yang memenuhi Lauhul Mahfuz.
Skenarionya sudah direncanakan, dituliskan, dan ditetapkan oleh Allah saat Firman KUN tersabda.

Skenario itu:
* sudah sangat sempurna,
* sudah sangat detail,
* sudah tidak ada yang terlupakan,
* sudah ada aturan main, ukuran-ukuran, besaran-besaran, hukum-hukum, peristiwa-peristiwa, sebab-akibat,
* sudah ada apa – berapa – kenapa – siapa – bagaimana – dan kapan,
* sudah ada rangkaian keadaan awal, perubahan-perubahan yang harus terjadi, dan keadaan akhir yang mengikuti perubahan-perubahan itu sesuai dengan waktunya.
* sudah tidak ada perubahan dan revisi lagi walau hanya sebesar titik dan koma sekalipun.

Setiap Peran selalu mengandung hikmah atau bahan pelajaran.
Setiap Pelakon selalu hanya akan menjalankan sebuah Peranan yang juga hanya dan hanya cocok dan pas untuk dijalankan oleh sang Pelakon itu sendiri pada slot waktu yang telah ditentukan untuknya. Peran itu tidak pernah tertukar antara satu pelakon dengan pelakon yang lainnya.

Karena Dzat-Nya yang sejumput itu adalah bagian yang sangat kecil dari Diri Allah, maka tentu saja Dzat itu akan patuh kepada Allah seperti patuhnya jari-jari tangan kita kepada kita. Oleh sebab itu Dzat-Nya yang sejumput itu akan memastikan bahwa semua PELAKON akan menjalankan peranannya masing-masing sesuai dengan skenario yang telah dituliskan baginya untuk kemudian membentuk Lakonan atau Tontonan yang akan melahirkan Sifat-Sifat.

Jadi kita masing-masing sebenarnya adalah salah satu saja dari sifat-sifat itu. Kalau ada diantara kita yang sudah ditakdirkan untuk memerankan Si LUPA terhadap KEBENARAN HAKIKI ini, maka kitapun, tanpa kita sadari, akan mengakui habis-habisan bahwa sifat-sifat itu adalah kita.

“Aku dan milikku”, kata kita dengan sangat jumawanya. Dan dari sini pulalah pangkal mula dari segala penderitaan yang akan kita lalui. Karena kita mengakui sebagai milik kita apa-apa yang sebenarnya bukan hak kita untuk mengakuinya.

Akan tetapi kalau diantara kita ada yang sudah ditakdirkan untuk memerankan Si Ingat, si Dzikr akan Kebenaran Hakekat ini, maka kitapun akan segera saja menyadari bahwa ternyata kita adalah TIDAK MEMPUNYAI KEWUJUDAN atas diri kita sendiri Karena kita sudah bisa melihat KEBENARAN yang JATI bahwa yang Wujud sebenarnya adalah Dzat-Nya Yang sedikit.

Dzat-Nya Yang Sedikit itulah yang menjadi Wajibul Wujud bagi semua Ciptaan yang akan melahirkan Sifat-sifat. Jadi semua Sifat yang terzhahir itu pada hakekatnya adalah penzhahiran dari Dzat-Nya yang sedikit itu saja. Tidak ada yag perlu kita aku-aku sebagai atribut kepemilikan kita.

Dan dari sinilah awal mula dari segala ketenteraman yang akan kita jalani. Karena kita sudah ditakdirkan untuk bisa mendudukan diri kita pada tempat yang seharusnya. Duduk dalam ketiadaan Wujud. Sebab yang Wujud ternyata adalah Dzat-Nya Yang sedikit. Dan tidak terpisah Dzat-Nya yang sedikit itu dengan Dzat-Nya atau Diri-Nya Yang Keseluruhan Yang Maha Indah, seperti tidak terpisahnya jari tangan kita dengan diri kita.

Paradigma seperti inilah yang menjadi syarat utama yang akan kita perlukan kalau kita mau beriman dengan Rukun Iman ke-6.

Wallahu a’lam…

Iklan

Read Full Post »

NAFI-ISBATH.

Sejarah awal Proses pengenalan Allah dengan cara Nafi-Isbath ini ternyata bermula ketika Nabi Ibrahim AS ingin mengenal Allah. Dalam Surat Al An’am ayat 75 sd 79, Allah menceritakan bagaimana Allah mengajari Ibrahim untuk memahami tanda-tanda keagungan Allah di langit dan di bumi dalam rangka untuk memantapkan ketauhidan Beliau.

Pada awalnya Beliau melihat kearah Bintang, dan menyatakan bahwa Bintang itu adalah Tuhan Beliau. Akan tetapi ketika Beliau melihat bahwa bintang itu tenggelam oleh sinar Bulan, lalu Beliau Menafikan Bintang itu sebagai Tuhan Beliau dan mengsibathkan bahwa Bulanlah sebagai Tuhan Beliau.

Akan tetapi ketika Bulan juga tenggelam oleh sinar Matahari, maka Beliau kembali menafikan Bulan sebagai Tuhan Beliau dan mengisbathkan Matahari Sebagai Tuhan Beliau.  Namun begitu Matahari ternyata juga tenggelam diujung cakrawala, maka Beliau kembali menafikan Matahari itu sebagai Tuhan Beliau, dan akhirnya mengisbathkan bahwa Tuhan Beliau bukanlah semua yang bisa hilang lenyap seperti itu. Beliau memastikan bahwa Beliau hanya akan menghadapkan diri Beliau kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi…

Proses Nafi-Isbath yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dalam mencari Tuhan ini sebenarnya adalah sebuah proses ilmiah yang masih sangat relevan untuk kita lakukan sampai sekarang ini. Proses yang Beliau lakukan itu sama saja dengan proses yang dilakukan oleh semua Ilmuan yang bergerak di bidang Ilmu Fisika, Biologi, Kimia, Astronomi, dan ilmu-ilmu lain yang bertujuan untuk menguak berbagai rahasia Alam semesta yang memang SUDAH DITULISKAN di dalam Lauhul Mahfuz sejak Firman KUN pertama kali Disabdakan oleh Allah.

Dalam hal ini Nabi Ibrahim memulainya dengan melihat melalui ilmu Astronomi, dan yang beliau amati itupun hanya SIFAT dari tiga objek pikir astronomi saja, yaitu Bintang, Bulan, dan Matahari. Beliau menafikan SIFAT dari objek pikir yang satu dan kemudian mengisbathkan SIFAT dari objek pikir yang berikutnya.. Tidak Berhala sebagai Tuhan tapi Bintang. Tidak Bintang Bintang Sebagai Tuhan, tapi Bulan. Tidak Bulan sebagai Tuhan, tapi Matahari. Beliau bergerak dari satu SIFAT kepada SIFAT yang lain.

Karena tidak ada sedikitpun bedanya antara SIFAT dari Bulan, Bintang, dan Matahari, maka Beliau lengsung menafikan SIFAT itu untuk kemudian masuk kepada Alam HAKEKAT. Bahwa disebalik SIFAT bintang, bulan, dan matahari itu ada DZAT yang tidak pernah tenggelam, sehingga dengan mudah Beliaupun kemudian mengakhiri pencarian Beliau di Alam MAKRIFAT. Beliau berhenti mencari. Beliau berhenti bergerak dari memadang satu sifat kepada sifat yang lain. Beliau sudah menemukan KEBENARAN bahwa Beliau hanya akan menghadapkan Wajah Beliau kepada Dzat Yang menciptakan Langit dan Bumi.

Siapa saja bisa melakukan proses Nafi-Isbath seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS itu. Sebab, dilihat dari sisi ilmu apapun juga, maka kita akan tetap terpesona dengan kesempurnaan SIFAT dari objek apapun yang kita lihat itu. Namun kita tidak perlu berlama-lama dalam mengagumi kesempurnaan SIFAT-SIFAT itu. Kita cukup masuk melalui dua atau tiga SIFAT saja, untuk kemudian kita bergegas masuk ke Alam HAKEKAT. Alam yang berada DISEBALIK semua SIFAT-SIFAT itu. Yaitu Alam DZAT. Sebuah Alam yang tidak bisa dirupakan, tidak bisa diumpamakan, tidak bisa dihurufkan, tidak bisa dibunyikan, tidak bisa dibayangkan. Kita hanya bisa sebutkan bahwa DZAT yang berada disebalik semua SIFAT-SIFAT itu besarnya hanyalah sebesar sebiji PASIR di padang pasir dibandingkan dengan DZAT ALLAH yang keseluruhan.

Setelah kita melihat kebenaran Hakekat Dzat ini, maka kita akhirnya akan berhenti di Alam Makrifat. Begitu kita menyebut Allah, maka tidak ada lagi PERBUALAN kita tentang Allah. Kita selesai sampai disitu. Allah…, maka kita tinggal MENGINGATNYA saja lagi. DZIKRULLAH. Mata hati kita tidak melihat apa-apa. Sebab Dia tidak bisa dirupakan, tidak bisa diumpamakan. Mata hati kita tidak mendengarkan apa-apa. Sebab dia tidak bisa dibunyikan dan dihurufkan.

Saat memanggil nama Allah itu, MATA kita dan MATA HATI kita tidak harus kita arahkan-arahkan untuk melihat keatas menembus ketinggian cakrawala setinggi apapun juga. Sebab KETINGGIAN dan KEBESARAN ALLAH tidak akan seperti yang kita bayangkan itu.

Jadi Nafi-Isbath yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS itu adalah dengan menafikan SIFAT dan mengisbathkan HAKEKAT (DZAT yang sedikit). Kemudian Beliau Nafikan pula Dzat Yang Sedikit itu untuk kemudian Mengisbathkan DZAT Keseluruhan Yang Maha Indah sebagai Tuhan Beliau. Dzat yang akan menjadi alamat BERGANTUNG Beliau dalam keadaan apapun juga. Dzat yang Maha Indah itu menamakan Diri-Nya sendiri sebagai Allah…

Sederhana sekali sebenarnya yang Beliau lakukan itu. Tapi bagi kita sekarang ini, untuk sampai kesana kita masih membutuhkan Ilmu Makrifatullah. Tanpa ini, kita boleh dikatakan akan sangat sulit untuk menempuh jalan yang sesederhana Nabi Ibrahim diatas. Dan kesulitan itu telah dijalani oleh Umat Islam sejak 400 Tahun setelah kewafatan Nabi Muhammad SAW. Sejak masa itu, Umat Islam mulai terperangkap untuk menjalankan proses Nafi-Isbath seperti yang dilakukan oleh orang-orang HINDU dalam membersihkan jiwa mereka.

Bersambung…

Read Full Post »

MEMBERSIHKAN PIKIRAN dan HATI (QALB)

 

Sekarang coba bayangkan, betapa sulitnya kalau kita harus membersihkan PIKIRAN dan INGATAN yang sudah mengendap sekian lama di dalam OTAK kita, agar ia bisa bersih kembali seperti keadaan otak BAYI. Untuk itu lahirlah berbagai paradigma yang diantaranya adalah:

 

  1. MENINGGALKAN sama sekali apa-apa yang bisa menjadi pikiran dan ingatan kita. Misalnya, untuk itu kita harus meninggalkan dan menolak untuk punya harta benda, punya keluarga, punya kekayaan, punya kehidupan dunia. Biasanya kita akan hidup di goa-goa, di tempat-tempat sepi dan jauh dari kehidupan normal. Praktek seperti ini banyak dilakukan oleh pemuka-pemuka agama tertentu seperti Pandita, Bikhu, Empu, Resi, Biarawan-biarawati, Rahib, dan sebagainya. Orang-orang yang seperti Itu kemudian yang disebut sebagai orang suci. 

 

  1. MENYIKSA BADAN atau Melakukan AKTIFITAS EKSTRIM yang tujuannya adalah untuk menimbulkan aliran ADRENALIN yang sangat deras di dalam pembuluh darah kita. Sehingga buat sejenak kita memang bisa lupa dengan berbagai PIKIRAN dan INGATAN yang sangat mengganggu kita pada keadaan normal. Misalnya seperti yang dilakukan oleh meditator-meditor di pegunungan Himalaya atau di Dataran Tinggi Tibet.

 

  1. MENIADAKAN PIKIRAN-PIKIRAN dan INGATAN-INGATAN, yang sudah bercokol sekian lamanya di dalam OTAK kita, dengan cara kita HANYA memikirkan dan mengingat SATU pikiran dan ingatan tertentu saja pada suatu waktu tertentu.

Cara ketiga ini mirip sekali dengan proses NAFI-ISBATH yang pada awalnya dulu dipraktekkan oleh Nabi Ibrahim dalam mencari Allah. Akan tetapi sekarang proses Nafi-Isbath ini sudah berubah menjadi berbagai macam ragam teknik yang tujuan utamanya adalah untuk mengalihkan ingatan dan pikiran kita dari berbagai pikiran dan ingatan yang mengganggu kita selama ini.

  

Cara-cara yang mirip dengan proses Nafi-Isbath inilah yang banyak beredar disekitar kita sekarang ini dengan berbagai nama, misalnya, Meditasi Cakra, Dzikir Lathaif, Wirid-wirid, Dzikir Nafas, Patrap, Dzikir Cahaya, Meditasi Gerak, permainan Energi dan Getaran, dan sebagainya.

 

Kemiripan dari berbagai cara diatas bisa kita lihat dari kemiripan dalam OBJEK PIKIR dan OBJEK INGATAN yang kita pakai selama kita melakukan aktifitas diatas. Semuanya masih memakai objek-objek yang BISA DIBAYANGKAN, atau BISA DIRUPAKAN, atau BISA DIUMPAMAKAN, atau BISA DIRASA-RASAKAN, atau BISA DIARAH-ARAHKAN, atau BISA DIWUJUD-WUJUDKAN, atau bisa DISUARA-SUARAKAN, atau bisa DIHURUF-HURUFKAN.   

Disini kita tidak memandang kepada KATA-KATA dan KALIMAT-KALIMAT yang kita ucapkan atau SIKAP-SIKAP tubuh yang kita lakukan dalam melakukan  berbagai cara diatas. Sebab ucapan dan sikap tubuh itu hanyalah bentuk LUAR atau KULIT saja dari cara-cara tersebut yang boleh jadi berbeda antara satu sama lainnya.

 

Hanya saja pada cara ketiga ini sudah diikutkan pula cara untuk membersihkan HATI (QALB), terutama dalam proses berbagai Dzikir yang dilakukan oleh Umat Islam, yang tujuannya adalah untuk MENIADAKAN sifat-sifat HATI (QALB) yang buruk untuk mendapatkan sifat-sifat HATI (QALB) yang baik.

 

  1. DZIKR…, atau mengingat SESUATU yang TIDAK bisa dibayang-bayangkan, atau TIDAK bisa dirupa-rupakan, atau TIDAK bisa diumpama-umpamakan, atau TIDAK bisa dirasa-rasakan, atau TIDAK bisa diarah-arahkan, atau TIDAK bisa diwujud-wujudkan, atau TIDAK bisa dipikir-pikirkan, atau tidak bisa disuara-suarakan, atau tidak bisa dihuruf-hurufkan.

Dan untuk itu hanya SATU SAJA yang bisa kita lakukan, yaitu dengan jalan MENGINGAT ALLAH…, DZIKRULLAH…!. Namun cara ini pulalah yang telah nyaris hilang dalam KHASANAH praktek Sprititual ajaran Islam sejak berbilang zaman yang lalu.

 

Akan tetapi alhamdulillah, ternyata Allah telah berkenan mengirimkan orang yang akan menjadi LANTARAN bagi umat manusia di masa sekarang ini agar bisa kembali mengenal keajaiban dan keistimewaan cara Dzikrullah ini melalui Arif Billah Ustad Hussien BA Latiff.

 

Sekarang marilah kita fokuskan pembahasan kita pada konsep pembersihan jiwa yaitu proses NAFI-ISBATH dan proses DZIKRULLAH. Kita akan lihat beda caranya ada dimana, dan hasilnya masing-masing seperti apa.

 

Bersambung…

Read Full Post »

Hanya saja selama ini banyak kita yang KELIRU tentang HATI ini, dan juga tentang proses BERPIKIR dan MERASA ini. Kita menganggap bahwa BERPIKIR dan MERASA itu dilakukan oleh dua entity yang berbeda di dalam diri kita. Banyak kita yang tertipu dengan menganggap bahwa yang BERPIKIR itu adalah OTAK dan yang MERASAKAN itu adalah DADA. Entah sejak kapan kekeliruan itu bermula. Tapi yang pasti kekeliruan itu telah menyengsarakan kita semua begitu lamanya.

 

Padahal yang berpikir dan yang merasakan itu tetap hanya satu saja, yaitu HATI yang berkedudukan di dalam OTAK kita. Di dalam otak kita itulah ADA ANASIR DIRI KITA YANG MELIHAT, YANG MENDENGAR, dan YANG MERASAKAN, yang tidak lain dan tidak bukan adalah HATI kita sendiri. HATI pulalah anasir diri kita yang bisa BERPIKIR (TAFAKUR), MENGINGAT. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bahwa HATI kita pulalah tempat Allah menurunkan ILHAM agar kita bisa menjadi orang yang BERTAQWA atau orang yang FAJUR/FASIK sesuai dengan TAKDIR yang akan kita jalankan.

 

Dengan begitu jelas sekali terlihat bahwa yang harus dibersihkan itu adalah HATI ini. Sehingga hati yang tadinya buta bisa menjadi melihat, hati yang tadinya tuli bisa menjadi mendengar, hati yang tadinya keras bisa menjadi lembut, hati yang tadinya lupa bisa menjadi ingat, hati yang tadinya bodoh bisa menjadi berpikir, hati yang tadinya lupa bisa menjadi ingat, hati yang tadinya dilalui oleh ilham FUJUR bisa dilalui oleh Ilham TAQWA.

 

Akan tetapi karena kita sudah SALAH KAPRAH tentang HATI,   dengan mengatakan bahwa yang berpikir adalah OTAK, dan yang merasa adalah DADA, maka banyak pulalah muncul ungkapan-ungkapan SALAH KAPRAH seperti: “jangan gunakan pikiran, gunakanlah hati yang ada di dalam dada; bekerja atau beribadahlah dengan hati, jangan bekerja dan beribadah dengan otak atau pikiran; bersihkanlah hatimu yang berada di dalam dadamu sehingga hatimu itu bisa menjadi TAJAM untuk mendengarkan Ilham-ilham dari Allah”; dan ungkapan-ungkapan lainnya yang serupa.

 

Karena sudah dimulai dengan pemahaman yang Salah Kaprah seperti itu, maka langkah untuk membersihkan HATI itupun juga menjadi aktifitas yang Salah Kaprah pula. Perintah Allah agar kita membersihkan JIWA kita (Tadzkiyatunnafs),  yang dalam hal ini adalah HATI SPIRITUAL kita, telah kita ubah menjadi membersih-bersihkan PIKIRAN yang kita anggap berada di dalam OTAK, dan menyucikan HATI (QALB) yang kita anggap berada di dalam DADA kita. Lain yang diperintahan, lain pula yang kita kerjakan.

 

Bersambung… 

Read Full Post »

TADZKIYATUNNAFS

 

Tadzkiyatunnafs artinya adalah sebuah proses untuk membersihkan kembali NAFS atau JIWA kita yang sudah sudah kotor atau dikotori oleh berbagai sampah yang kita kasukkan ke dalam HATI kita sepanjang Hidup kita.

 

Kita sudah tahu bahwa yang disebut dengan JIWA itu adalah HATI bersama RUH. Kalau HATI saja itu bukanlah JIWA, begitu juga kalau RUH saja itu bukan pula disebut JIWA. Kalau RUH dan HATI sudah bersama, barulah itu disebut sebagai JIWA atau SPIRIT.

 

Kita juga sudah tahu bahwa RUH adalah anasir Diri kita yang SUCI. Ia akan selalu PATUH kepada AMR Allah. RUH adalah KENDARAAN atau DAYA yang telah disiapkan oleh Allah bagi HATI untuk menjalankan dan mencapai apa-apa yang diinginkan oleh HATI. Nanti kita akan sampai pula kepada kajian bahwa sebenarnya apa-apa yang diinginkan oleh hati itu sebenarnya DIILHAMKAN oleh ALLAH sesuai dengan TAKDIR yang harus kita jalankan masing-masing. Tapi itu pada bagaian nanti…

 

Karena RUH adalah Anasir diri kita yang SUDAH SUCI, maka satu-satunya cara untuk menyucikan JIWA itu tanggal hanya dengan jalan MEMBERSIHAN HATI. Kita juga sudah tahu bahwa HATI yang dimaksud disini adalah HATI SPIRITUAL yang berkedudukan di DALAM OTAK kita. Bukan hati yang berada di dalam DADA kita seperti yang banyak diyakini orang selama ini.

 

Kalau HATI kita sudah BERSIH, maka RUH akan mengantarkan kita untuk bisa melakukan berbagai perbuatan BAIK. Dan RUH juga akan memberikan pula umpan balik ke dalam  HATI kita atas perbuatan baik yang kita lakukan itu. Umpan balik itu adalah dalam bentuk berbagai RASA yang nyaman dan membahagiakan yang dirasakan oleh HATI.

 

Sebaliknya, kalau HATI kita masih KOTOR, maka RUH akan tetap setia mengantarkan dan memberi kita DAYA untuk melakukan berbagai perbuatan BURUK dan JAHAT. RUH juga akan mengirimkan umpan balik ke dalam HATI kita berupa RASA yang tidak nyaman, sempit, hambar, dan mengecewakan, yang akan dirasakan oleh HATI.

 

BERSIH atau KOTORNYA HATI kita itu bisa kita lihat dengan mudah dari apa-apa yang sedang kita PIKIRKAN atau kita INGAT-INGAT di setiap waktu. HATI yang BERSIH adalah ibarat HATI seorang BAYI yang baru lahir. Hati sang bayi tidak sedang mengingat dan tidak sedang memikirkan apa-apa. Hatinya begitu tenteram, hening, diam, dan tidak berkocak. TRANQUIL kata Barack Obama. Kalaupun sang bayi menangis, atau tersenyum, atau bahkan tertawa, semua itu dia lakukan bukan karena hatinya sedang berkocak, atau dia sedang ingat dan memikirkan sesuatu.

 

Sedangkan HATI yang KOTOR adalah HATI yang di dalamnya sudah dipenuhi dengan berbagai INGATAN dan PIKIRAN. Hati yang seperti itu akan selalu berkocak, akan berubah, akan gelisah, akan bergerak dari satu ingatan kepada ingatan yang lain, akan berubah dari satu pikiran kepada pikiran yang lain. Kalau kita menangis dan tertawa, menangis dan tertawa kita itu berasal dari ingatan dan pikiran yang sedang kita ingat-ingat dan pikir-pikirkan.

 

Dan apa-apa yang kita pikirkan dan ingat-ingat itu akan ada pula sekaligus RASA-RASA yang mengikutinya. RUH akan mengantarkan RAGA kita untuk merealisasikan apa-apa yang kita pikirkan dan ingat-ingat itu menjadi sebuah TINDAKAN atau AKTIFITAS yang kita lakukan tepat pada WAKTUNYA. Dan Rasa dari setiap TINDAKAN dan AKTIFITAS yang dilakukan oleh RAGA itupun kemudian dikembalikan oleh RUH kedalam HATI kita agar kita tahu bahwa tindakan dan aktifitas kita itu adalah BAIK atau BURUK. Rasa-rasa inilah yang akan membuat kita menangis atau tertawa gembira.

 

Kita juga sudah tahu bahwa proses perpindahan Informasi berupa Pikiran dan Ingatan dari Hati kepada RAGA untuk dilaksanakan, dan perpindahan informasi umpan balik berupa RASA dari RAGA ke HATI atas apa-apa yang kita lakukan itu adalah melalui sebuah Port Interkoneksi yang disebut dengan OTAK. Dimana otak kita ini terbagi menjadi dua belahan, belahan kiri dan belahan kanan, yang masing-masingnya hanya bisa dilalui oleh Informasi yang sesuai dengan karekaternya masing-masing. Sederhana sekali sebenarnya…

 

Bersambung

Read Full Post »

Saat ini, memang sangat sedikit sekali buku dan referensi yang bisa menceritakan bahwa sebenarnya Spiritual Islam, yang bisa disebut TASAWUF, sangatlah berbeda dengan Spiritual ala ajaran-ajaran MISTIK lainnya itu. Kalaupun ada buku-buku karangan ulama-ulama besar seperti Imam Al Ghazali, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziah, Syech Abdul Qadir Al Jilani, dan lain-lain sebagainya, namun buku-buku tersebut tidak serta merta bisa mengangkat penghargaan orang orang terhadap TASAWUF ke tingkat yang seharusnya.

 

Hal itu terjadi karena memang sangat jarang sekali orang yang bisa memahami buku-buku Ulama Besar tersebut dengan pengertian dan sekaligus prakteknya yang utuh seperti TASAWUF yang dijalankan oleh NABI, Sahabat, Tabi’in dan Tabiut Tabi’in, serta beberapa orang yang berhasil menjalankannya setelah itu. Sehingga banyak orang yang kemudian mencoba memahami dan menjalankan ketasawufan itu dengan menyentuhkannya dengan pemahaman-pemahaman dan latihan-latihan ala TARIQAT dan juga ala NEW AGE MOVEMENT (NAM) yang bermuara kepada HIPNOTIS dan NLP.

 

Akibatnya, walaupun dalam segi pengamalan SYARIAH memang ada PERBEDAAN yang cukup signifikan antara Umat Islam dan ajaran-ajaran Mistik lainnya itu, namun dari segi keadaan BATINIAH atau JIWA dari masing-masing pengamal ajaran itu hampir sama saja. Tidak ada perbedaan  sama sekali.

 

Sehingga sekarang ini banyak sekali kita lihat orang-orang yang secara fisik dan pakaian bercirikan penganut Islam (seperti kerudung dan peci haji), tapi mereka sedang asyik masyuk duduk berdzikir atau bermeditasi mengikuti cara, sikap tubuh, bacaan, dan objek pikir yang dipakai pada ajaran-ajaran Mistik lainnya. Sehingga timbul kesan bahwa semua agama dan kepercayaan itu seakan-akan pada akhirnya sudah menjadi SAMA SAJA.

 

Padahal Tasawuf adalah adalah sebuah laku batin TINGKAT TINGGI yang sudah ada semenjak zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup. Pernah suatu ketika, setelah mengetahui bahwa Nabi sudah berada di Madinah, sebanyak 400 orang ahli Sufi datang dari pegunungan dan lembah-lembah ke Madinah untuk berjumpa dengan Rasulullah dan memeluk Agama Islam ditangan Rasulullah. Rasulullah meletakkan mereka di Masjid Beliau dan mereka diberi gelar Ahli Sufah.

 

Kalau dilihat secara sekilas, hasil yang ingin kita dapatkan melalui semua jalan Mistik atau Jalan Rohani itu memang nyaris sama. Yaitu bagaimana caranya agar HATI kita, yang sudah sangat lama kita ISI dan PENUHI dengan berbagai Data dan Informasi, bisa menjadi BERSIH dan SUCI kembali seperti HATI seorang BAYI yang baru lahir. Atau paling tidak, kita ingin agar HATI kita yang kita rasakan telah menjadi KOTOR, SEMPIT, dan SUMPEK oleh berbagai Informasi dan Data itu. Kita ingin agar hati kita bisa menjadi BERSIH, LAPANG, NYAMAN kembali seperti HATI kita waktu kita kecil dulu. Kita seperti ingin MENJADI BAYI DEWASA atau DEWASA YANG BAYI.

 

Masalahnya adalah, HATI kita di waktu bayi yang tadinya BERSIH, SUCI, dan LAPANG  karena hanya memuat SATU ingatan saja, yaitu ingatan kepada Allah, kemudian mulai dikotori oleh adanya BERCAK-BERCAK hitam, kuning, merah, dan sebagainya. Setiap bercak-bercak warna itu mewakili sebuah INGATAN kita terhadap sesuatu yang baru dan sudah teregistrasi di dalam HATI kita. Akibatnya HATI kita lalu menjadi KOTOR, TERNODA, dan SEMPIT.

 

Suasananya sungguh menyiksa sekali. Karena kekotoran, noda, dan kesempitan di dalam HATI kita itu terasa semakin hari semakin bertambah. Hati kita seperti menarik-narik kekotoran, noda dan kesempitan yang baru untuk masuk ke dalam HATI kita. Tetapi sebenarnya bukan begitu. RUH lah yang MENGANTARKAN kita memasuki kekotoran, noda, dan kesempitan yang berikutnya, karena memang di dalam HATI kita saat itu yang ada adalah INGATAN yang bukan kepada ALLAH.

 

Kita semua INGIN agar HATI kita ini bisa kembali menjadi SUCI, BERSIH, dan LAPANG. Tapi tampaknya kita semua nyaris terbentur kepada cara-cara pembersihannya. Al Qur’an menyatakan bahwa yang dibersihkan itu adalah NAFS, makanya namanya adalah TADZKIYATUNNAFS. Tapi anehnya yang dibersihkan malah LATHAIF atau CAKRA, sehingga cara-caranyapun pasti akan berbeda pula.

 

Padahal tujuan utama dari Tadzkiyatunnafs ini sebenarnya adalah agar kita bisa kembali MENGENAL ALLAH seperti pengenalan kita kepada Allah saat di Alam Azali dulu. Inilah yang disebut sebagai proses BERTASAWUF. Sebab dengan berbagai informasi yang telah kita masukkan ke dalam HATI kita, ditambah dengan sentuhan-sentuhan SYAITAN ke dalam hati kita, maka kita telah menjadi LUPA dengan ALLAH. Lupa yang benar-benar lupa. Hanya saja naluri untuk ingat kepada Allah itu tetap ada di dalam HATI kita sepanjang masa. Makanya setiap kita punya masalah, ada kecenderungan kita untuk mencari pertolongan kepada Allah, walaupun kadangkala kita tidak tahu siapa yang akan kita mintakan pertolongan itu.

 

Setelah mengetahui berbagai hal yang berkenaan dengan HATI kita seperti diatas, sudah saatnya kita mulai membedah proses Tadzkiyatunnafs (pembersihan jiwa) ini agar kita bisa melihat bahwa proses pembersihan jiwa itu sebenarnya SEDERHANA saja. Tambahan-tambahan karena ketidaktahuan kitalah yang menyebabkan proses itu kemudian menjadi sulit dan ribet untuk kita jalankan dan praktekkan.

 

Bersambung..

Read Full Post »

BERTASAWUF DAN BERSPIRITUAL..

Nah…, sekarang banyak orang menganggap bahwa kalau OTAK KANAN kita sudah banyak mengirimkan INFORMASI seperti diatas ke dalam HATI kita, dan kita sudah merasakan pula fenomena-fenomenanya yang bisa menguras RASA dan AIRI MATA, maka kita disebut sebagai orang yang sudah BERSPIRITUAL. Makanya di dalam berbagai buku dan pengajaran spiritual yang ada sekarang ini, termasuk dalam spiritual ISLAM sekalipun, cerita-ceritanya hampir saja. Yaitu sama dengan keadaan atau ciri-ciri yang dialami oleh orang-orang yang OTAK KANANNYA sudah aktif dilalui oleh berbagai informasi dari dan ke HATINYA seperti yang telah diterangkan diatas.

Akibatnya, ketika orang-orang berbicara tentang Spiritual, maka kita akan sulit membedakan antara Spiritual Islam dengan Spiritual Hindu, Budha, Kejawen, TAO, Kabbala, dan aliran-aliran KEBATINAN atau MISTIK lainnya. Tokoh yang dijadikan bahan referensipun selalu saja orang-orang yang berkecimpung di dunia METIDASI, apakah itu Hindu, Budha, atau meditasi-meditasi lainnya. Jarang sekali yang menjadi referensi itu adalah ulama-ulama Islam masa kini.

Mungkin ulama-ulama Islam dianggap mereka tidak mempunyai sama sekali sisi KEBATINAN yang menarik untuk dikupas atau dieksplorasi. Karena pada kenyataannya, atau paling tidak yang tersiar ke ranah umum, adalah bahwa diantara ulama-ulama Islam ataupun diantara sesama umat Islam sendiri memang selalu terlihat RAMAI dan SUKA BERANTAM satu dengan yang lainnya, paling tidak berkelahi secara kata-kata atau kalimat-kalimat.

Seakan-akan umat Islam ini dianggap mereka tidak punya sikap MEDITATIF sedikitpun. Yaitu sikap orang-orang yang OTAK KIRINYA sudah bisa SILENCE (DIAM) dan tidak penuh lagi dengan CHATING (berbalas kata) untuk beberapa saat. Memang pikiran umat Islam terkesan sangat RAMAI SEKALI walau di dalam SHALAT sekalipun. Makanya orang Islam yang ikut berlatih meditasi akan lebih bisa bercerita tentang pengalaman bermeditasinya dibandingkan dengan pengalaman bershalatnya. Aneh memang.

Jadilah jalan cerita dari spiritalitas itupun nyaris sama saja, begitu juga cara-cara untuk menjalankannya. Kesamaan itu terjadi karena memang sejak 400 tahun setelah Rasulullah Muhammad SAW wafat, dan berakhir pula zaman Tabi’it Tabi’in, pengajaran Spiritual Islam dan spiritual-spiritual lainnya itu sudah saling bersinggungan sangat dekat sekali. Tapi pada kenyataannya ternyata cara-cara berspiritual Islamlah yang banyak mengadopsi cara-cara berspiritual diluar ajaran Islam. Cara-cara baru berspiritual di dalam Islam inilah kemudian yang lebih dikenal dengan TAREKAT.

Contoh kesamaannya adalah, OBJEK PIKIR saat berdzikir di dalam TAREKAT sudah tidak ada bedanya lagi dengan objek pikir saat BERMEDITASI atau di dalam berbagai aliran MISTIK lainnya. Tarekat memakai objek pikir yang disebut LATHAIF, dan Meditasi atau aliran MISTIK lainnya memakai objek pikir yang disebut CAKRA. Hanya letak atau posisi dari beberapa Lathaif dan Cakra itu saja yang sedikit berbeda-beda.

Kalau Cakra mengambil tempat mulai dari Cakra Dasar, yaitu di wilayah tulang ekor paling bawah, dan bergerak keatas sepanjang tulang belakang kita menuju ke ubun-ubun (Cakra Mahkota). Diantara kedua cakra itu ada cakra-cakra lain yang mereka namakan: Cakra Ajna (mata ketiga), Cakra Tenggorokan, Cakra Jantung, Cakra Solar Plexus, dan Cakra Sex.

Sedangkan Lathaif-lathaif kebanyakannya mengambil tempat mulai dari sekitar wilayah Cakra Jantung, naik keatas sampai ke ubun-ubun dan kemudian ke seluruh tubuh (kullu jasad). Hanya saja di TAREKAT Cakra jantung ini dibuat lebih sedikit rumit dengan menambahkan beberapa Cakra kecil lainnya, sehingga jadilah diwilayah sekitar jantung itu penuh dengan lathaif-lathaif seperti: Lathifatul QALB, Lathifatul ROH, Lathifatul SIRR, Lathifatur KHAFI, Lathifatul AKHFA, Lathifatul NATIQAH. Dan setelah itu baru Lathifatul KULLU JASAD.

Perbedaannya dengan CAKRA adalah bahwa di dalam Tarekat, Objek Dzikir dan Objek Pikir yang dilakukan adalah Pembersihan Lathaif-lathaif itu. Karena setiap Lathaif dianggap sebagai pusat dari berbagai perbuatan BURUK. Misalnya, LATHIFAH QALB dianggap sebagai pusat dari keberadaan sifat kemusyrikan, ketahayulan, kekafiran, dan sifat-sifat iblis lainnya. Membersihkan Lathaif-lathaif itu dengan Dzikir dianggap dapat membersihkannya dari sifat-sifat Buruk tersebut. Begitulah seterusnya dengan lathaif-lathaif yang lainya. Masing-masing dibersihkan agar kita dapat dengan mudah melakukan perbuatan-perbuatan baik. Inilah kemudian yang dikenal dengan proses Tadzkiyatunnafs ala Tarekat.

Sedangkan pada meditasi Cakra, Objek Meditasi dan Objek Pikirnya adalah pembersihan cakra-cakra yang tadinya gelap dan tidak bergetar menjadi terang benderang dengan berbagai warna, dan juga bergetar dengan berbagai frekuensi. Di dalam meditasi Cakra ini, kita akan dapat merasakan berbagai fenomena warna, getaran, dan daya yang berada disetiap cakra yang kita bersihkan dengan cara BERIMAJINASI.

Walaupun Bacaan dan Objek Pikir antara Dzikir dan Meditasi itu berbeda, akan tetapi pencapaian saat BERDZIKIR di dalam berbagai cara berdzikir Umat Islam yang ada sekarang ini hampir sama saja dengan pencapaian saat BERMEDITASI di dalam agama-agama dan kepercayaan lainnya. Misalnya, ada fenomena bergetar-getar, menangis, rasa dipengaruhi oleh daya-daya tertentu, dan sebagainya.

Pada akhirnya, semuanya bisa pula sama-sama merasa bahagia, merasa tenang, merasa dapat jawaban-jawaban dalam dzikir atau meditasinya, terbukanya MATA BATIN sehingga bisa melihat hal-hal yang Ghaib (Kasyaf), dan dapat melakukan perjalanan Astral, serta terbukanya MATA KETIGA. Setelah pencapaian itu biasanya juga akan dibarengi dengan status yang sama, yaitu kita akan terbawa-bawa untuk bersikap dan berperilaku sebagai seorang PARANORMAL kalau tidak mau dikatakan DUKUN.

Ya…, DUKUN… Itu lho orang-orang yang mengaku PINTAR dan HEBAT, yang katanya bisa mengubah-ubah dan menukar-nukar Cuaca dan Nasib. Atau paling tidak ada orang lain yang percaya dengan kehebatan dan kepintarannya sehingga dia didatangi oleh orang lain yang meminta bantuan atas penyelesaian masalah-masalahnya.

Bersambung

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: