Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2014

Kalau sudah begitu, maka setiap kali HATI kita mengingati Allah, maka MATA HATI kita akan melihat Dzat-Nya yang tidak bisa diserupakan dengan apapun juga. Tidak ada rupa, tidak ada umpama, tidak ada huruf, tidak ada warna, tidak ada ejaan. KOSONG. Kemudian kita tinggal MENUMPUKAN pandangan Mata Hati kita saja lagi secara terus menerus pada INGATAN KEPADA ALLAH itu. Sehingga Mata Hati kita akan selalu melihat kekosongan secara terus menerus, sementara ingatan kita kepada Allah juga akan TETAP bertahan secara terus menerus.

Agar kita tidak terjebak kedalam paham Wahdatul Wujud, yang menyatakan bahwa disebalik semua ciptaan ini adalah Allah SWT, yang nantinya bisa berujung pada ungkapan: bahwa hakikat alam ciptaan (makhluk) ini adalah Allah, dan Allah adalah alam, atau aku adalah Allah, Dia adalah aku, aku adalah Dia, atau ungkapan HULUL, ITTIHAD, BAQA FILLAH, dan ungkapan lainnya yang sejenis, maka kita lakukan proses penafian DUA tahap, yaitu:

Tahap Pertama, kita nafikan wujud semua ciptaan, semua sifat, semua ilmu, dan nama-nama, kemudian kita isbatkan bahwa wujud yang nyata disebalik semua itu adalah Dzat-Nya yang sedikit…

Laa maujud illa Dzatillah…, tidak ada sifat-sifat yang wujud, tidak ada ciptaan yang wujud, tidak ada ilmu-ilmu dan nama-nama yang wujud, kecuali hanya wujud yang nyata, yaitu Dzat-Nya yang sedikit, the Secondary Essense. Dzat-Nya yang berada di dalam Lauhul Mahfuz yang lindungan oleh 70 Tirai Nur. Mata hati kita nampak pada yang Kosong.

Pada penafian tahap pertama ini, kita akan mulai dikejutkan dan disadarkan bahwa di dalam Lauhul Mahfuz, tempat dimana pargelaran kehidupan semua makhluk terselenggara, tidak hanya ada ciptaan, ilmu, dan nama-nama, yang bisa kita eksplorasi dengan panca indera kita, atau Dzat Yang Dzahir, akan tetapi juga ada Dzat Yang Bathin, Dzat yang tidak bisa dilihat dengan mata, akan tapi bisa kita LIHAT dengan MATA HATI dan kita IMANI dengan HATI kita.

Pada posisi ini, setiap kali mata kita memandang pada Yang Dzahir, maka mata hati kita sekaligus juga sudah tajam dan bisa melihat pada Yang Bathin. Keduanya terlihat saling pengaruh- mempengaruhi. Hubungan antara Yang Dzahir dan Yang Bathin itu diikat oleh sebuah TALI yang sangat kuat, yaitu berupa KETETAPAN atau TAQDIR yang tidak akan pernah berubah.

Pada SAAT YANG SAMA ada Yang Dzahir berubah menjadi Yang Bathin, dan ada pula Yang Bathin berubah menjadi Yang Dzahir. Pada detik yang sama, ada yang mati berubah menjadi yang hidup, dan ada pula yang hidup berubah menjadi yang mati. Pada waktu yang BERSAMAAN, mulai pada sel yang terkecil (mikro kosmos), sampai dengan di alam semesta raya (makro kosmos), terjadi proses bersamaan pula antara penzahiran dan penghancuran. Sangat sibuk sekali. Dan kesemuanya itu terjadi dengan secara OTOMATIS, seperti yang terjadi di dalam sebuah pabrik otomatis. Misalnya di dalam pabrik mobil, atau pabrik minuman kaleng, atau dipabrik lainnya. Semua bahan dan alat yang terlibat di dalam pabrik itu bekerja dengan kadar dan ukurannya masing-masing.

Begitulah, dengan adanya KETETAPAN atau TAQDIR itu, Semua Yang Dzahir (in the Universe) juga seperti bisa bergerak dengan sendirinya, bisa tercipta dengan sendirinya, dan bisa pula hancur dengan sendirinya. Kita sendiripun bebas-bebas saja dalam berkeinginan ini dan itu. Seakan-akan tidak ada SESUATU yang mengatur-atur dan mencipta-ciptakan semuanya.

Kalaupun kita bisa melihat seperti ada SESUATU yang MEMEGANG benda-benda di alam semesta raya ini, agar semuanya bergerak secara teratur, mereka hanya bisa menyebutnya sebagai Gaya Grafitasi dan beberapa gaya lainnya. Ya…, hanya GAYA, tidak lebih. Sehingga dengan begitu, banyaklah orang yang berkesimpulan bahwa sebenarnya TIDAK ada Allah, tidak ada syurga, dan tidak ada pula kehidupan akhirat sama sekali.

Seperti ini pulalah yang terlihat oleh STEPHEN HAWKING sehingga diapun berkesimpulan: “We are each free to believe what we want and it is my view that the simplest explanation is there is no God. No one created the universe and no one directs our fate. This leads me to a profound realization, there is probably no heaven, and no afterlife either. We have this one life to appreciate the GRAND DESIGN of the universe, and for that I am extremely grateful”.

Walaupun Stephen Hawking seperti tidak percaya dengan Allah, tidak percaya adanya syurga, tidak percaya pada kehidupan sesudah mati, akan tetapi diakhir kalimatnya dia masih mengakui bahwa mau tidak mau dia tetap menghargai Grand Design dari alam semesta ini, dan dia juga mengucapkan terima kasih yang sangat dalam untuk kehidupan yang telah dia lalui. Hanya saja kalau the Universe itu adalah itu sebuah Grand Design, lalu siapa yang Mendesignnya ???. Dan kalau dia ingin berterima kasih, lalu kepada siapa dia akan berterima kasih?. Di sinilah dia menjadi buntu…

Bersambung…

Iklan

Read Full Post »

Untuk menjawabnya, mau tidak mau kita harus kembali memasuki Alam Hakekat yang sangat menakjubkan. Buat sejenak, kita akan melampaui, melewati, menembus, dan bahkan meninggalkan alam ilmu-ilmu dan nama-nama, alam energi dan materi, alam getaran dan gelombang, alam fractal, alam informasi, untuk kemudian kita masuk ke ALAM ESSENSI. Kita akan “berjalan” meninggalkan semua Alam Sifat menuju Alam Essensi. Alam yang menjadi DASAR atau INTI dari semua Ilmu, Nama-nama, dan semua CIPTAAN. Alam yang menjadi UNSUR ASAS dari semua SIFAT-SIFAT. Alam ESSENSI itu adalah DZAT-NYA…. Ya…DZAT-NYA.

 

Bahwa essensi dari Semua Ciptaan itu adalah SEDIKIT dari Dzat-Nya yang besarnya hanyalah seukuran sebutir pasir ditengah padang pasir yang sangat luas, atau setetes air masin ditengah samudera raya dibandingkan dengan KESELURUHAN Dzat-Nya Yang Maha Suci dan Maha Indah.

 

Allah berkenan menciptakan seluruh Alam Ciptaan, alam Ilmu, dan Alam Nama-nama dari Sedikit Dzat-Nya sendiri, yang terlebih dahulu “dikenai-Nya” dengan SABDA KUN. Allah lalu mengurung Dzat-Nya Yang Sedikit itu di dalam sebuah Panggung Pagelaran Kehidupan (Lauhul Mahfuz) yang dilindungi-Nya dengan 70 lapis Tirai Nur, agar panggung dan para pemain di dalam sandiwara kehidupan itu tidak musnah terbakar akibat terpandang kepada Keagungan dan Kesucian Keseluruhan Dzat yang Maha Indah.

 

Dari sedikit sedikit Dzat-Nya yang sudah terkena sabda Kun itulah kemudian, sesuai dengan TAKDIR atau KETETAPANNYA masing-msing, terzahir seluruh Ciptaan, termasuk semua Ilmu dan Nama-nama. Dzat-Nya Yang sedikit itu kemudian menjadi HAKEKAT dari semua Ciptaan, Ilmu, dan Nama-mana. Ia menjadi BATHIN dari semua Makhluk yang tergelar. Bahwa disebalik semua makhluk, apapun juga, ada sedikit Dzat-Nya yang menjadi essensi (batin, hakekat) dari semua makhluk itu.

 

Sudahlah sedikit Dzat-Nya sendiri yang dilibatkan-Nya, ditambah lagi dengan kesempurnaan Rencana dan Ketetapan-Nya terhadap TAKDIR untuk menjadi apa, siapa, bagaimana, dan dimana Dzat-Nya itu akan terzahir dengan diantar oleh Waktu atau Masa, maka tentu saja Penzahiran Dzat-Nya itu akan menjadi Sangat sempurna pula. Tidak bisa tidak. Kalau tidak sempurna, maka pastilah itu bukan Allah. Sebab Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna dalam segala hal.

 

Sekarang dengan berdasarkan ILMU HAKEKAT ini, marilah kita pandang dengan MATA LAHIRIAH dan MATA HATI kita WUJUD yang eksist (ada) di dalam Lauhul Mahfuz itu. Yang Bathin adalah Dzat-Nya, Yang Zahir membentuk Sifat-Sifat (semua Ciptaan, Ilmu, dan Nama-nama), mau tidak mau, itu juga adalah Dzat-Nya juga. Makanya Allah berhak berkata: Akulah Yang Bathin, dan Akulah Yang Dzahir. Karena yang Dzahir dan Yang Batin itu adalah Dzat-Nya sendiri.

 

Artinya, saat Mata Lahiriah kita memandang Sifat-sifat, kita sudah tahu bahwa yang terpadang itu sebenarnya adalah Dzat-Nya juga, yaitu Dzat-Nya Yang Dzahir. Sedangkan DISEBALIK semua sifat itu, Mata Hati kita juga sudah bisa pula memandang keberadaan Dzat-Nya Yang Batin. Mata hati kita sudah menjadi sangat tajam dan awas. Sehingga kitapun jadi tergigit lidah dan malu untuk mengaku-ngaku ada ilmu dan nama-nama yang bisa menjadi hak kita, milik kita, dan atribut kita.

 

Kita juga tidak sanggup lagi untuk mengatakan aku, walaupun dalam bentuk aku kecil, yang sedang berhadapan dengan Aku Besar seperti anggapan kebanyakan spiritualis selama ini. Sebab ternyata aku kecil itu tidak pernah wujud sejak dari awal sampai akhir kelak. Yang wujud semata-mata hanyalah Dzat-Nya. Sehingga dengan begitu lunturlah paham Wahdatul Wujud, Hulul, Ittihad, Baqa Fillah, dan paham-paham lain, yang mempersyaratkan ada dua wujud yang ingin menjadi satu. Aku kecil yang ingin bersatu dengan Aku besar, sehingga pada suatu waktu sang aku kecil seakan-akan bisa merasa menjadi Aku besar.

 

Karena kita sudah tidak mengaku-ngaku wujud, yang nyata-nyata wujud ternyata adalah Dzat-Nya semata-mata, maka saat itulah hati kita akan menjadi lunak, lembut, dan cair. Kita akan dikejutkan oleh suatu kenyataan bahwa Allah ternyata sangat Pengasih dan Penyayang kepada Dzat-Nya sendiri, jauh lebih besar dari kasih dan sayang seorang ibu kepada anaknya. Kenyataan seperti inilah yang membuat kita ingin berlama-lama merasakan kasih dan sayang-Nya itu di dalam Shalat, di dalam Do’a, di dalam I’tikaf, di dalam Tahanus, sehingga hati kita semakin lama semakin cair, semakin lunak, bahkan semakin hancur berkeping-keping. Sehingga saat itu kitapun segera BERMAKRIFAT kepada Allah. Kita akan selalu INGAT kepada Allah Sang empunya DZAT.

 

Dengan begitu, kita akan semakin mudah pula mendapatkan NATIJAH, RIQQAH, JAWABAN-JAWABAN ALLAH kepada kita, yang tak ubahnya seperti hantaman dan pukulan yang sangat lembut di dalam hati kita. Hantaman dan pukulan yang membuat kulit kita menggigil, sel-sel tubuh kita menggelepar, mata kita meleleh, hati dan mata hati kita bercahaya…

 

Keadaan seperti inilah tujuan yang sebenarnya dari proses TAZKIYATUNNAFS…, proses penyucian diri untuk menjadi diri yang tidak lagi mengaku wujud. Sebab Yang Wujud ternyata adalah Dzat semata-mata.

Bersambung…

Read Full Post »

DIBALIK setiap ketetapan dan rencana-Nya itu, sebagai perwujudan dari KEMAHABIJAKSANAANNYA, Allah juga telah menyiapkan berbagai HIKMAH dalam bentuk ILMU-ILMU BARU dibalik semua ketetapan-Nya. Dengan hikmah itu, setiap aktor dan pelakon yang bermain di dalam panggung sandiwara kehidupan itu akan menjadi lebih mudah dan sempurna dalam menjalankan peran dan lakonannya masing-masing. Peran yang tanpa cacat. Peran yang tidak bisa ditolak, Peran yang, mau tidak mau, rela ataupun tidak, harus dijalankan oleh semua pemain dalam sandiwara kehidupan itu.

 

Kalau kita sudah DITAKDIRKAN untuk memerankan keburukan dan kejahatan, maka keburukan dan kejahatan itu akan kita lakukan dengan mudah, bersungguh-sungguh, dan sangat sempurna sekali. Kalau kita sudah DITETAPKAN pula untuk menjalankan kebaikan, maka kebaikan itupun akan kita lakukan dengan sangat sempurna. Begitu juga untuk peran-peran kita yang lain, misalnya, peran si ragu-ragu, si pencuri, si pembunuh, si pemadat, si pemalas, si pememabuk, si pelacur, si kafir, si munafik, si fasik, si sombong, si cengengesan, si sabar, si khusyu, si beriman, si rajin, si pandai, si pioner, dan peran-peran lainnya, akan kita melakukannya dengan sama sempurnanya.

 

Kisah dan serba serbi peran para pemain sandiwara itulah yang menjadi SEBAGIAN BESAR kisah yang diceritakan dan diberitahukan oleh Allah kepada kita di dalam Al Qur’an, maupun kisah perjalanan hidup mereka dengan Nabi Muhammad SAW di dalam Al Hadist.

 

Oleh sebab itu, seyogyanya tugas kita masing-masing hanyalah untuk bercermin bagi diri kita sendiri atas peran-peran yang sedang kita jalankan, untuk kemudian kita banding-bandingkan dengan ayat-ayat Al Qur’an dan Al hadist itu, sehingga kitapun bisa tahu persis posisi diri kita dari waktu ke waktu. Nanti kita akan bisa melihat apakah kita ini sedang menjalankan peran diri yang bersyukur ataukah sedang menjadi diri yang kufur terhadap nikmat Allah.

 

Ya…, tugas kita sebenarnya bukanlah untuk melihat cermin diri para pemeran sandiwara yang lainnya dan menghakimi mereka dengan ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadist itu. Sebab aktor yang lain itupun sebenarnya sedang menjalankan perannya sendiri pula, yang ciri-cirinya pastilah sesuai dengan salah satu dari ayat al Qur’an atau Al Hadist yang tertentu. Merekapun sama dengan kita. Sama-sama tidak bisa keluar dari KETETAPAN yang telah ditetapkan untuk kita masing-masing untuk kita perankan.

 

Ketetapan Allah itulah nantinya yang akan melahirkan berbagai SIFAT yang akan bisa kita LIHAT, DENGARKAN, RASAKAN, BAUI, dan RESAPI melalui Panca Indera kita. Tepatnya, apapun cita-rasa yang sedang kita alami atau rasakan, maka pada hakekatnya kesemua itu adalah KETETAPAN ALLAH semata. Dan itu adalah yang TERBAIK buat kita. Menerima segala keadaan sebagai hal yang terbaik bagi kita itulah yang jadi masalah utama kita selama ini. Tantang hal menerima ketetapan Allah ini, nanti akan kita bahas lebih lanjut dalam bahasan: Kalung Yang Sudah Terpasang Dileher.

 

Cita-rasa dari sifat-sifat itu dapat pula kita NIKMATI kembali secara berulang-ulang walaupun hanya dengan cara mengingat-ingatnya kembali di lain waktu melalui pintu INGATAN kita. Dengan mengingat-ingat kembali berbagai sifat-sifat itulah kemudian yang akan menghasilkan bermacam ILMU dan Nama-nama yang menyebabkan kita mempunyai rasa memilikinya. Rasa yang seakan-akan memperkuat eksistensi kita ditengah-tengah masyarakat. Rasa berilmu, rasa mengetahui, rasa bisa.

 

Ya…, gara-gara hati kita jadi terpaku kepada SIFAT-SIFAT yang telah berubah wujud dihadapan kita menjadi berbagai ILMU dan Nama-nama, maka ingatan kita kepada Allahpun lama-lama menjadi tertutup. Kita nyaris lupa total kepada Allah. Karena semua Sifat itu kelihatan begitu sempurnanya bertinglah laku di hadapan kita. Kita bisa memperkirakan kejadian ini dan itu di masa depan dengan sangat baik. Kita malah seakan-akan bisa mempengaruhi masa depan kita, orang lain, maupun kejadian-kejadian dimasa yang akan datang dengan hanya memberikan STIMULUS tertentu melalui tangan, kata-kata, ataupun hanya sekedar melalui pikirkan kita saja.

 

Lalu dengan ilmu dan nama-nama itulah kita kemudian dikenal orang dan mengenal orang lain. Kalau kita ingin mengetahui tentang ilmu ini dan itu, maka si anu dan si anilah ahlinya. Ketika kita berhadapan dengan nama-nama tertentu, maka ingatan kita harus kita alihkan kepada si ex atau si ye.

 

Misalnya, untuk Hipnoteraphy dan Hipnotis, si A lah ahlinya. Untuk Gendam, si B. Untuk ilmu Metafisika dan Supranatural, si C. Untuk Quantum Vibration, si R. Untuk Powerfull Prayer (Spirituality), Provocative Therapy, Energy Therapy (EFT), Loving Kindness Therapy, Cognitive Therapy (NLP), Behavioral Therapy, Logotheraphy, Psychoanalisa, Self Hypnosis (Ericksonian), Sugesty & Affirmation, Visualization, Gestalt Therapy, Meditation, Sedona Method, dan sebagainya, maka ahlinya adalah si A,B,C,D,E,F,…, X, Y, dan si Z. Semua kehebatan dari ilmu dan nama-nama itu kemudian membuat HATI kita BUTA dan TULI dari mengingati Allah Sang Pemilik Ilmu dan Nama-nama itu.

 

Pertanyaannya yang sangat menggelitik adalah, kenapa ilmu-ilmu dan nama-nama itu bisa hebat dan ada hasilnya dengan sangat meyakinkan?. Semuanya seperti sudah bisa berjalan dengan sendirinya, dan ia seperti bisa pula kita pengaruh-pengaruhi. Seakan-akan peran Allah sudah tidak diperlukan lagi di dalamnya.

 

Bersambung

Read Full Post »

Menembus Alam Ilmu dan Nama-nama…

 

Iblis telah DITAKDIRKAN oleh Allah menjadi makhluk yang hatinya buta dan tuli yang ciri utamanya adalah kesombongannya dihadapan Allah terhadap ketetapan atau AF’AL Allah. Oleh karena itu, iapun haruslah menjalankan KESOMBONGANNYA itu terhadap Nabi Adam AS secara total dan tanpa reserve ketika Allah telah menetapkan pula bagi Diri-Nya sendiri untuk menciptakan Adam AS dari unsur atau saripati tanah.

 

Sebaliknya, Malaikat telah DITAKDIRKAN pula oleh Allah menjadi makhluk yang rela untuk kehilangan kesombongannya dihadapan Allah, sehingga iapun harus pula menjalankan takdir Allah bagi dirinya untuk menjadi makhluk yang hatinya sudah menjadi TAJAM dan WASPADA melihat HAKEKAT dari penciptaan Nabi Adam AS, sehingga iapun rela untuk sujud kepada Adam AS.

 

Sedangkan Adam AS., juga telah DITAKDIRKAN oleh Allah menjadi makhluk yang harus menghuni dan memakmurkan Bumi yang memang telah disiapkan untuknya selama milyaran tahun. Oleh sebab itu, iapun haruslah keluar dari alam syurgawi melalui sebuah DRAMA yang telah dijalankan dengan sangat sempurna oleh para pemeran utamanya, yaitu Adam AS, Iblis, dan Malaikat.

 

Kelak bagi anak keturunan Adam AS, merekapun telah ditakdirkan pula oleh Allah untuk bisa memakai kesombongan atas diri mereka terhadap sesama mereka, seperti yang dulu dilakukan oleh iblis terhadap Adam AS, atau mereka bisa pula menjadi makhluk yang rela kehilangan kesombongan atas dirinya terhadap sesama mereka seperti yang dilakukan oleh Malaikat terhadap Adam AS..

 

Hanya saja untuk Adam AS dan keturunannya, Allah telah MENAKDIRKAN pula baginya ada senjata baru yang sangat-sangat hebat yang bisa dipakai oleh Adam AS dan keturunannya kelak untuk menjadi diri-diri yang sombong, melebihi kesombongan iblis. Yaitu kemampuannya untuk memahami berbagai ILMU dan NAMA-NAMA. Alam ilmu dan nama-nama inilah salah satu penyebab yang sangat kuat, yang bisa membuat HATI kita menjadi Buta dan Tuli dari INGAT kepada Allah (dzikrullah).

 

Kesombongan iblis kepada Adam AS hanya terhadap satu hal saja, yaitu tentang anasir dirinya yang tercipta dari API, yang dia kira lebih baik dari anasir diri Adam AS yang tercipta dari TANAH. Akan tetapi dengan senjata ILMU dan NAMA-NAMA tersebut, umat manusia telah ditakdirkan pula oleh Allah untuk bisa menjadi sombong melebihi kesombongan iblis, atau bisa pula menjadi tidak sombong melebih ketidaksombongan Malaikat.

 

Maksud dari kesombongan manusia yang bisa melebihi sesombongan iblis itu adalah: dengan ilmu dan nama-nama itu, tidak saja manusia itu bisa menjadi sombong terhadap sesamanya (misalnya dalam hal SARA= SUKU, AGAMA, RAS, ANTAR GOLONGAN), akan tetapi ia juga bisa menghancurkan dan merusak terhadap bumi, tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan, dan bahkan saling berbunuhan antar sesamanya. Dan semuanya itu dilakukannya dalam keadaan hatinya yang sedang buta dan tuli dari mengingat Allah.

 

Sedangkan maksud dari ketidaksombongan manusia yang bisa melebihi ketidaksombongan malaikat itu adalah: bahwa ILMU dan NAMA-NAMA itu sudah TIDAK lagi membuatnya sombong atau bersikap SARA terhadap sesamanya, HATINYA juga sudah menjadi terang-benderang untuk bisa selalu mengingat Allah (dzikrullah), dan dari TANGAN dan LIDAHNYA lahir pula PERADABAN yang baharu dari zaman ke zaman. Inilah sebenarnya fungsi kekhalifahan yang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk dijalankan oleh setiap manusia.

 

Keberadaan Adam, Malaikat, Iblis, Ilmu-ilmu, dan Nama-nama itulah yang kemudian akan meramaikan Sandiwara atau Pelakonan Drama Kehidupan yang Skrip atau Skenarionya sudah TERTULIS di dalam LAUHUL MAHFUZ, Sebuah Kitab yang sangat lengkap dan sempurna. Kitab yang di dalamnya memuat KETETAPAN dan RENCANA-RENCANA ALLAH yang TIDAK akan pernah BERUBAH sedikitpun.

 

Ketetapan dan rencana Allah itu bukanlah sebuah LAUTAN KEMUNGKINAN atau SAMUDERA KETIDAKPASTIAN seperti anggapan kebanyakan orang. BUKAN…!. Ketetapan dan Rencana Allah itu SANGATLAH PASTI, KOKOH, KUAT, dan TAK TERGOYAHKAN. Ia berisikan dan memuat tentang segala hal, segala keadaan, segala sebab dan akibat, peristiwa-peristiwa, ukuran-ukuran, dan hukum-hukum yang akan dialami, dilalui, dijalankan, dihadapi, dirasakan oleh Aktor dan Pelakon dalam panggung sandiwara kehidupan itu.

 

Ketetapan dan rencana Allah itu tidak bisa diubah. Ia akan mematahkan dugaan-dugaan kebanyakan orang selama ini, yang menyangka bahwa ketetapan dan rencana Allah itu bisa kita ubah-ubah dan kita pengaruhi-pengaruhi dengan mengubah-ubah pikiran dan perasaan kita. Padahal anggapan mereka itu semata-mata hanyalah karena hati mereka sedang buta dan tuli untuk menyadari bahwa perubahan-perubahan perasaan dan pikiran mereka itupun, sebenarnya juga sudah tertulis di dalam Lauhul Mahfuz. Kapan dan kepada objek pikir apa perubahan-perubahan pikiran dan perasaan mereka itu terjadi, dan apa pula perubahan-perubahan yang akan mereka alami setelah itu, sebenarnya kesemuanya itu sudah tertulis dengan lengkap di dalam lembaran-lembaran Lauhul Mahfuz. Tidak ada satupun yang baru dan berubah dari rencana yang telah ditetapkan untuk mereka.

 

Karena sudah ditetapkan, maka itu pulalah yang terjadi dan terzahir. Setiap aktor dan pelakon dalam sandiwara itu akan menjalankan TEPAT SATU PERAN yang hanya cocok untuk dirinya sendiri. Peran untuk seorang aktor tidak akan pernah tertukar dengan peran-peran lain, yang hanya cocok di jalankan oleh aktor dan pelakon yang lainnya pula.

 

Tidak ada satupun yang terlupakan di dalam ketetapan dan rencana Allah itu, walau itu untuk keperluan peran sebuah atom ataupun lakonan materi-materi yang lebih kecil lagi dari atom. Misalnya untuk energi-energi, untuk quanta-quanta, untuk cahaya, dan bahkan untuk apapun juga yang saat ini belum dibukakan rahasianya oleh Allah kepada kita.

 

Bersambung

Read Full Post »

Ya…, KESENDIRIAN. Kita akan masuk ke alam eksistensi keakuan yang sangat pekat, yang bermuara pada keangkuhan dan kesombongan kita. “Aku bisa ini dan itu, aku mempunyai ini dan itu, aku memiliki ini dan itu, dan berbagai pengakuan kita yang lainnya”. Karena saat itu kita memang merasa serba bisa, sehingga kita merasa tidak butuh siapa-siapa lagi, kecuali orang-orang yang mengerti dan membutuhkan keberadaan kita, dan orang-orang yang bisa memperkuat eksistensi diri kita. Bahkan, disadari atau tidak, kita juga seperti tidak lagi membutuhkan Allah sedikitpun, walaupun saat kita sudah tidak berkutik dalam menghadapi berbagai nestapa kehidupan. Saat itu kita malah mencari orang-orang yang kita anggap lebih hebat dari kita dan bahkan bisa menandingi Allah untuk menyelesaikan masalah-masalah kita.

 

Oleh karena itu, pada tingkatan keangkuhan yang sangat EKSTRIM, kita dengan sangat mudahnya bisa terperosok kepada pengakuan bahwa kita adalah sepadan dengan Allah. Kita adalah perwujudan Allah, Kita dan Allah berada dalam sebuah kesatuan eksistensi. Kalau tidak kitanya yang tidak ada, ya Allahnya yang tidak ada. Misalnya “aku tidak ada, yang ada adalah Allah”, atau “Allah tidak ada, yang ada adalah aku”. Atau bisa pula kalimat-kalimat pengakuan lainnya yang menyiratkan paham WAHDATUL WUJUD, HULUL, FANA BILLAH, dan sebagainya.

 

Ciri-ciri dari kesendirian kita itu mudah saja kok untuk kita kenali, yaitu saat kita shalat, kita seperti sedang berkata-kata, rukuk, sujud, menyembah, dan berdoa dihadapan DINDING TEMBOK yang mati dan dingin. Kadang-kadang kita bisa juga sih mendapatkan ketenangan di dalam shalat itu, terutama kalau saat shalat itu kita barengi pula dengan pengaturan nafas kita, atau kita merasa-rasakan getaran energi yang ada di sekeliling kita. Akan tetapi akibatnya saat itu kita tidak akan mendapatkan respon atau sambutan sedikitpun dari Allah Yang Maha Hidup atas semua aktifitas kita di dalam shalat itu. Ya…, kita melakukan shalat seperti orang yang sedang ngelindur di siang bolong, atau kita seperti sedang berlatih TAICHI atau MEDITASI ENERGY-ENERGY di dalam shalat.

 

Jadi di dalam shalat yang benar itu, yang akan kita dapatkan bukanlah HANYA sekedar RASA TENANG saja. Tidak. Tapi kita akan mendapatkan rasa tenang dan tenteram yang ada komunikasi dua arah (dialog) antara kita dengan Allah. Sebab kalau hanya sekedar untuk mendapatkan rasa tenang dan tenteram saja sih, dengan beberapa teknik meditasi dan olah nafas saja kita sudah akan bisa mendapatkannya. Kita tidak perlu capek-capek lagi memaksa-maksakan diri untuk melakukan shalat maupun ibadah-ibadah lainnya.

 

Karena di dalam shalat yang ada komunikasinya, antara hamba dan Tuhannya, akan ada rasanya. Kadang-kadang kita diberi rasa senang dan bahagia oleh Allah, yang rasanya melebihi rasa senang dan bahagia kepada apapun juga yang pernah kita rasakan di dalam hidup kita. Dilain waktu, kadangkala kita diberi pula oleh Allah rasa takut kepada-Nya, yang rasanya melebihi rasa takut kita kepada siapapun juga yang pernah kita rasakan selama ini. Perubahan-perubahan rasa inilah yang akan membuat air mata kita jatuh berderai-derai, menyebabkan suara kita terisak lirih, dan menimbulkan sedu-sedan yang sangat mengherankan. Tapi semuanya itu tetap tidak sampai menggoncangkan tubuh atau badan kita.

 

 

Sebab rasa yang muncul itu ternyata bukanlah berada di dalam dada kita, tapi rasa itu berada jauh di dalam JIWA (NAFS) kita. Bagi yang berkenan, silahkan lihat kembali uraian terdahulu tentang Jiwa ini. Singkatnya adalah, bahwa tananan jiwa ini adalah pada dimensi RUH dan AQAL / HATI kita. Dimana RUH dan AQAL/HATI itu, dua-duanya sudah sudah bisa “terlepas” dari pengaruh JASAD. Makanya rasa-rasa itu, walaupun sangat kuat, namun sudah tidak mempengaruhi JASAD kita lagi.

 

Keadaan seperti ini disebut NATIJAH yang diberikan oleh Allah kepada kita yang akan berdampak kepada HATI kita. Hati kita akan menjadi tenang, tenteram, bercahaya, dan menimbulkan pula berbagai pengalaman rohani yang tak eloklah untuk dibicara-bicarakan.

 

Kalau dulu, karena rasa-rasa itu saya hasilkan dari proses olah emosional, maka tubuh saya sampai tergoncang-goncang, bahkan sampai berguling-gulingan seperti anak kecil umur tiga tahun, yang karena kesal, sampai berguling-guling dan menghentak-hentak tanah sambil menangis ataupun berteriak-teriak. Tapi ya nggak apa-apa. Itu adalah sejarah masa lalu saja.

 

Nanti, Allah pulalah yang akan menurunkan kedalam Jiwa kita rasa Cinta kepada Rasulullah tanpa kita harus terjebak kepada upaya dan prosesi pengkultusan terhadap Beliau. Sebab ternyata kalau kita mencintai Rasulullah dengan dorongan hawa nafsu atau emosi kita sendiri, maka kita akan terjebak pada ritual-ritual yang kental sekali dengan aroma pengkultusan terhadap Beliau dan juga terhadap Ahlul Bait.

 

Karena kita mendasarinya dengan emosi kita, maka proses pembangkitan emosi kita agar kita bisa “ekstasis” dalam mencintai Beliau dan dalam beribadah juga harus memakai prosesi-prosesi yang sangat emosional sekali. Itulah sebabnya ada kelompok-kelompok yang harus memulai aktifitas ibadah mereka dengan memaki-maki Para Sahabat Rasulullah, atau mengingat-ngingat penderitaan cucu Nabi Hasan dan Husein Ra., atau bahkan ada yang sampai harus menyakiti dan melukai diri mereka sendiri terlebih dahulu. Kalau ini yang kita lakukan, karena ada proses menangisnya, ada ekstasisnya, maka kita akan sangat sulit sekali untuk bisa keluar dari cengkraman kelompok ini dikemudian hari. Sulit sekali…!. Dan akhirnya kita, tanpa berpikir panjang lagi, akan mengikuti saja apa-apa yang diperintahkan oleh petinggi kelompok itu.

Bersambung.

Read Full Post »

Keadaan seperti inilah yang membuat kita ingin berlama-lama dengan Allah. Kita tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan shalat kita. Saat rukuk dan sujud, kita enggan untuk cepat-cepat mengangkat kepala kita. Saat do’a iftirasy, kita duduk agak lama setiap ada jawaban-jawaban Allah turun menjawab do’a-do’a kita itu. Begitu juga ketika kita membaca do’a iftitah, membaca Al Fatihah, dan membaca Tahiyat, setiap Allah menurunkan sambutan atau respon-Nya kita tidak ingin cepat-cepat untuk menyelesaikan prosesi shalat kita itu sebelum ada RASA SELESAINYA. Sebab setiap respon itu ada rasa mulainya, dan ada pula rasa selesainya. Kalau sudah selesai, ya sudah…, kita lanjutkan gerakan dan bacaan shalat kita untuk yang selanjutnya. Kalau tidak ada respon sama sekali, ya… itu tandanya shalat kita tidak diterima oleh Allah…, dan itu sangatlah menyakitkan sekali. Rasanya seperti layangan putus. Kita akan kelimpungan dan merasa serba salah. Karena saat itu terasa betul kita seperti ditinggalkan oleh Allah… Kita bisa merasakan saat ibu kita kecewa kepada kita. Nah rasanya mirip itu…

 

Di dalam buku-buku tasawuf kita sering pula membaca istilah-istilah, CINTA, RINDU, TAKUT, MALU, TAWADHU, TAWAKAL, SABAR, RIDHA, SYUKUR, SAKINAH, dan lain-lain sebagainya. Dulu saya kira itu adalah istilah-istilah yang harus kita hafal yang kemudian kita paksa-paksakan untuk menjalaninya. Tetapi ternyata kesemua itu adalah perubahan-perubahan suasana di dalam HATI kita yang silih berganti yang diturunkan oleh Allah ke dalam hati kita akibat kita ISTIQAMAH dalam MENGINGAT ALLAH (Dzikrullah). Artinya semua itu adalah proses ADZKURKUM dan JAWAB-JAWABAN ALLAH terhadap FADZKURINI dan IBADAH-IBADAH yang kita lakukan kepada Allah.

 

Apalagi kalau ibadah itu kita tambahi dengan ibadah-ibadah sunnah yang sering dianggap sepele oleh sebagian besar umat islam. Hasilnya sungguh sangat mencengangkan. Itu sesuai sekali dengan yang dikatakan Allah dalam sebuah Hadist Qudsi: “There is NO OTHER WAY for you to get CLOSE TO ME other than by doing the non-obligatory worships in addition to obligatory worships and this will eventually earn you MY AFFECTION”. Artinya TIDAK ADA JALAN LAIN yang bisa mendekat kita kepada Allah kecuali dengan melakukan ibadah-ibadah Sunnah disamping ibadah-ibadah Wajib…”.

 

Tegas sekali Allah di dalam Hadist Qudsi itu. “TIDAK ADA CARA LAIN…!”. Tapi nampaknya hanya segelintir umat islam saja yang ditakdirkan untuk mempercayainya dan mendapatkan suasananya sekaligus. Yaitu suasana rasa DEKAT, DIKASIHI, dan DISAYANGI oleh ALLAH Ta’ala. Inilah pesan-pesan universal yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, Nabi dan Rasul Sebelum Beliau, Sahabat Nabi, Tabi’iin, Tabi’ittabi’in, para Arif Billah, dan beberapa Wali Allah yang mengikuti jalan Nabi-Nabi. Walau banyak yang tidak percaya, tapi Beliau-beliau itu tetap menyampaikan risalah Allah dengan penuh semangat, tak kenal lelah sampai tetes darah terakhir. Karena memang Beliau-beliau hanyalah para penyampai belaka. Sedangkan hasilnya sudah dikalungkan disetiap leher umat manusia sesuai dengan takdirnya masing-masing, yang telah ditetapkan oleh Allah sejak Sabda “KUN” pertama kali menggelegar.

 

Dan yang paling menakjubkan adalah, diantara agama-agama yang ada, hanya islamlah yang layak untuk disebut sebagai agama paling “up-to-the-minute”. Karena islamlah satu-satunya agama yang memberikan guidance yang memenuhi kriteria “state-of-the-art” tentang bagaimana cara-cara kita berhubungan dan berinteraksi dengan Allah, dengan sesama umat manusia, dan dengan alam semesta. Bahkan islam jugalah yang mengajarkan umat manusia tentang JALAN KELUAR yang sangat MUDAH dan sangat MUJARAB dari segala permasalahan hidup yang kita alami, sekeras, sehebat, dan sedahsyat apapun juga. Yaitu sebuah pencapaian keadaan rohani kita yang diwakili oleh ungkapan kalimat “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UUN”, yang lebih dari hanya sekedar ucapan dibibir saja. Makna dari kalimat ini, insyaallah, akan kita bahas pada pada artikel yang lain nantinya.

 

Sebab ternyata sekarang ini banyak diantara kita yang mencari dan melakukan CARA-CARA LAIN yang tujuannya hanya untuk mendapatkan KETENANGAN, ditambah dengan sedikit KEBAHAGIAAN disana-sini, dan diberikan pula sedikit KEHEBATAN diatas orang rata-rata. Dan kesemuanya itu kita dapatkan pula ditengah-tengah beban dan persoalan-persoalan yang membebani hidup kita. Tentu saja itu akan terasa sekali asyiknya. Tapi sayang tujuannya hanya disitu-situ saja. Untuk mencari Tenang, tapi tenangnya seperti kita sedang berhadapan dengan tembok. Mencari Bahagia, tapi bahagianya hanya sekedar membuat kita sumringah dan terkekeh-kekeh. Serta mencari Hebat, tapi hebatnya hanya untuk sekedar bisa untuk bermain-mainan dan berkata-kata saja. Dan yang pasti, kesemuanya itu akan membawa kita dalam alam kesendirian yang semakin pekat.

 

Bersambung

Read Full Post »

RASA dari ayat-ayat IHSAN tersebut diatas, yang diturunkan oleh Allah kedalam HATI kita, akan membuat HATI kita bergetar, gemetar, dan bergegar. Kulit kitapun merinding, bulu roma kita berdiri. Airmata kita berdesakan, berpacu, dan berloncatan keluar dari sudut-sudut mata kita. Kita menangis dan tergetar dari dalam.

 

Rasa ihsan kepada adanya syetan atau jin saja yang kita yakini ada disekitar kita, terutama disekitar kuburan dan rumah kosong, akan membuat kita merinding dan merasa dingin di tengkuk kita. Masak sih rasa ihsan kepada Allah tidak ada rasanya sama sekali?. Kan kelewatan sekali kita ini dihadapan Allah. Padahal kalau rasa ihsan kita itu adalah kepada Allah, tentu saja rasanya sangat jauh beda dengan rasa ihsan kepada syetan atau jin yang memang sudah sangat ditakuti oleh banyak orang.

 

Akibat dari bergetar dan bergegarnya hati kita itu, karena rasa ihsan kepada Allah itu, seketika itu juga hati kita, yang tadinya keras dan membatu, menjadi pecah dan hancur berkeping keping. Hati kita yang tadinya membatu berubah menjadi cair seperti cairnya batu es. Hati kita dibersihkan dari dalam sehingga hati kita itu menjadi bersih seperti hati bayi yang baru lahir. Hati kita yang tadinya buta dan tuli akan berubah menjadi Hati yang terang benderang dan bercahaya. Hati kita berubah menjadi hidup, cair, dan lembut. Hati yang dapat mengerti dan merasakan respon atau jawaban-jawaban Allah terhadap apa-apa yang kita lakukan dan ucapkan kepada-Nya.

 

Tetapi gemetarnya hati kita karena kita menyebut Nama Allah dalam SIKAP IHSAN itu akan sangat BERBEDA sekali dengan ketar-ketarnya tubuh kita karena dialiri oleh ‘GETARAN” atau VIBRASI akibat dari gerakan EMOSI kita. Di dalam latihan patrap dan dalam proses dzikir disebuah tarekat dulu, saya lama sekali terjebak dalam getaran-getaran tubuh karena vibrasi emosi ini, sehingga dulu itu saya nyaris tidak bisa sedikitpun merasakan rasa IHSAN seperti hal diatas.

 

Buah yang lainnya dari ingatan kita kepada Allah itu adalah Qulub atau hati kita akan menjadi tenteram. Karena Allah juga sudah memastikan dan menegaskan bahwa HANYA dan HANYA dengan mengingat Allahlah hati kita akan menjadi TENTERAM. Allah langsunglah yang memasukkan ketenteraman itu kedalam hati kita. Ketenteraman ini akan berlanjut dan diperkuat lagi ketika kita melakukan shalat yang berikutnya. Ketenteraman itu menetap, dalam, dan melembutkan hati. Ketenteraman yang mempunyai unsur kehidupan. Karena kita memang sedang mengingat Allah, Dzat Yang Maha Indah, Dzat Yang Maha Hidup.

 

Artinya ketenteraman macam apapun juga yang BUKAN berasal dari proses INGAT kita kepada Allah, maka ketenteraman itu adalah ketenteraman yang palsu, ketenteraman yang menipu, ketenteraman yang hanya bisa bertahan dalam waktu yang singkat saja.

 

Hati kita yang sudah TENTERAM, ditambah dengan munculnya rasa IHSAN kita kepada Allah, ditambah lagi dengan dapatnya kita MERASAKAN balasan-balasan atau RESPON Allah yang tak henti-hentinya dari ucapan dan ibadah kita, secara mengejutkan itu akan memberikan dampak yang sangat kuat kepada kita untuk lebih bersemangat dalam melakukan ibadah-ibadah sunnah, apalagi ibadah yang wajib. Kita jadi terangsang untuk melaksanakan amalan-amalan tambahan tanpa kita perlu memaksa-maksakan diri. Semua itu kita lakukan seperti tanpa lagi mengharapkan pahala ini dan ganjaran itu dari Allah.

 

Sebab ternyata semua pahala dan ganjaran itu sudah otomatis saja diberikan oleh Allah kepada kita. Bahkan adakalanya ganjaran dan pahala itu sudah diberikan terlebih dahulu oleh Allah kepada kita, sehingga kita merasa begitu malunya kepada Allah kalau kita masih berpaling dari-Nya. Ada sebuah kerinduan yang amat sangat, yang kadangkala diiringi dengan sedu sedan dan lelehan air mata yang tidak bisa kita bendung, ketika kita melakukan shalat, terutama shalat tahajud. Kadangkala dalam shalat wajibpun suasana itu muncul, terutama kalau shalat wajib itu kita lakukan dengan kualitas seperti shalat tahajud itu.

 

Kerinduan itu seperti menekan jiwa kita. Sedu-sedan dan rintihan kita muncul karena rasa rindu dan cinta kepada Allah. Air mata kita keluar dan melelah KHUSUS untuk Allah. Yaa… KHUSUS UNTUK ALLAH, bukan untuk yang lain atau hal-hal yang lainnya. Keadaan seperti inilah barangkali yang menyebabkan Dada Rasulullah terdengar seperti air bejana yang mendidih saat-saat Beliau Shalat Tahajud dimalam hari. Wallahu a’lam

 

Bersambung

Read Full Post »

« Newer Posts

%d blogger menyukai ini: