Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2014

Sifat-sifat itu menyelinap masuk ke dalam otak kita melalui mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit kita. SEKALI sifat-sifat itu masuk ke dalam PIKIRAN kita, maka ia akan menetap disana membentuk PINTU-PINTU INGATAN yang akan selalu melambai-lambai kepada kita untuk kita buka dan masuki dilain waktu.

Begitu pintu ingatan terhadap sebuah SIFAT kita buka dan kita masuki, maka ingatan kita akan dipegang dengan sangat kuat oleh sifat itu. Ingatan kita akan terikat seperti seekor ikan yang terikat pada sebilah mata pancing. Semakin kita menggeliat dan melawan untuk melupakan sifat itu, kita malah akan semakin tersangkut erat dalam cengkraman sifat itu.

Kadangkala kita dipaksa oleh sifat itu untuk merasakan sakit dan capek yang sangat luar biasa. Namun dilain waktu kita diiming-imingi oleh sifat itu dengan rasa nikmat, senang, dan bahagia. Sampai akhirnya kita akan mengikuti apa saja maunya sifat itu terhadap diri kita. Lalu hari-hari kita akan disibukkan untuk membesar-besarkan sifat itu. Kita puja, kita jajakan, kita sebut-sebut kehebatan sifat itu dengan harapan orang lain juga mau mengingat-ingat sifat itu setiap saat, seperti yang kita lakukan.

Karena hati kita buta dan tuli, maka kita akan diperlihatkan bahwa Sifat itu seperti punya KUASA. Sifat itu kita anggap bisa menentukan masa depan kita. Contoh yang sangat populer saat ini, tentang Kuasa Sifat ini, adalah anggapan segelintir orang bahwa GETARAN atau VIBRASI PIKIRAN dan PERASAAN yang kita pancarkan bisa mempengaruhi MASA DEPAN yang akan kita alami dan lalui. Pertanyaannya nanti adalah bagaimana posisi dari Rukun Iman yang ke-enam, percaya kepada takdir baik dan buruk yang berasal dari Allah. Sebab kalau kita bisa menentukan takdir dan nasib kita, maka kita sebenarnya telah menciptakan Rukun Iman yang ke-tujuh, yaitu kita bebas mengatur masa depan kita dengan mengatur-atur vibrasi atau getaran yang berasal dari pengaturan pikiran kita.

Dengan berbagai cara, kita akan diperlihatkan bahwa seakan-akan vibrasi pikiran dan perasaan (emosi) yang kita pancarkan akan bisa mempengaruhi perolehan kita di masa depan. Maka kita akan diperkenalkan dengan konsep POWER dan FORCE ala David R Hawkins yang memang sedang mendunia. Bahwa kalau kalau kita bisa menggunakan getaran pikiran dan emosi dengan energi tingkat tinggi, maka kita disebut sedang menggunakan POWER. Sebaliknya kalau kita lebih banyak menggunakan getaran pikiran dan emosi energi tingkat rendah, kita disebut sedang menggunakan FORCE.

Kalau kita lebih banyak mengalami emosi negatif seperti rasa minder, rasa bersalah, ketakutan dan depresi, marah dan sombong, maka kita disebut orang yang sedang menggunakan getaran pikiran dan perasaan pada level FORCE dalam menjalani kehidupan kita. Hati kita digambarkan sebagai hati yang sempit dan sedang sakit.

Sebaliknya kalau kita bisa meningkatkan getaran pikiran dan perasaan kita sampai ketahapan emosi positif seperti kerelaan, penerimaan, cinta kasih, suka cita, kedamaian, apalagi sampai ketahap mendapatkan pencerahan, maka kita disebut sedang berada pada wilayah getaran pikiran dan perasaan pada level POWER. Dimana keadaan hati kita saat itu digambarkan sebagai hati yang lapang dan sehat.

Sebenarnya keadaan level perasaan atau emosi kita dalam istilah Power dan Force ini tidak ada yang baru sama sekali. Dari dulu ya begitu-begitu juga adanya. Dalam bahasa agama Islam bisa dipadankan dengan istilah Taqwa untuk Power dan Fujur untuk Force. Yang dibicarakan adalah SYMPTON atau GEJALA-GEJALA apa yang ada di dalam perasaan kita ketika pikiran atau hati kita tengah berhadapan dengan sebuah objek pikir tertentu. Dengan mengetahui sympton itu, kita seperti sudah bisa meramalkan atau memperkirakan bagaimana arah jalan kehidupan yang akan kita jalani esok-esok hari, ketika sympton tersebut sedang ada di dalam diri kita. Jadi dengan begitu kita sedang memperbincangkan masalah umat manusia sepanjang masa saja sebenarnya.

Masalah utama kitakan bukan terletak pada pengenalan sympton-sympton itu. Hampir semua orang, baik yang beragama ataupun bukan, sudah tahu dengan sypmton-symton itu. Akan tetapi bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari hidup dalam keadaan sympton Force atau Fujur itu untuk kemudian bisa masuk kedalam hidup dengan keadaan sympton Power atau Taqwa inilah yang telah menjadi pencarian panjang umat manusia sepanjang zaman.

Hanya saja karena kebanyakan kita saat ini benar-benar sedang Barat-Minded, ditambah lagi dengan telah terjadinya distorsi yang sangat hebat dalam pengajaran agama-agama, terutama agama Islam yang notabene adalah agama yang sangat mutakhir, maka hampir saja praktek-praktek ibadah dalam agama Islam ditinggalkan oleh banyak umat islam sendiri. Begitu juga sebenarnya yang terjadi dengan ibadah-ibadah pada umat agama yang lainnya, tak terkecuali.

Bersambung

Iklan

Read Full Post »

Apa yang akan terjadi kalau kita tidak berhasil berada dalam posisi sebuah Wayang terhadap Dalang, yang dalam Kacamata Makrifatullah adalah SERUPA dengan posisi Semua Ciptaan terhadap Perlakuan dan Perbuatan Allah terhadap sedikit dari Dzat-Nya?.

Jawabannya adalah kita akan berada pada sebuah keadaan yang membuat kita identik dengan orang yang BUTA dan sekaligus TULI… Karena kita tidak mampu untuk untuk memandang dan mendengarkan KEBENARAN yang sebenar-benarnya Kebenaran atau HAKIKAT. Kita hanya akan bermain di tataran SIFAT saja.

Kalau kita selalu bercerita hanya tentang sifat dan sifat saja, maka artinya kita hanya akan bercerita tentang semua alam ciptaan ini dengan hanya memakai SETENGAH dari diri kita sendiri, yaitu diri kita dari sisi LAHIRIAH saja. Kita hanya akan bercerita tentang apa-apa yang bisa kita telisik dengan Panca Indera kita saja. Makanya yang akan ketemu oleh kita adalah istilah-istilah EVOLUSI, Materi dan Energi, dualitas Partikel dan Gelombang, dengan perilaku dan sifat-sifatnya masing-masing yang kelihatan bak Lautan Kemungkinan saja.

Dengan hanya memakai setengah diri kita seperti itu, kita akan luput untuk memahami tentang SANG PENYEBAB dari terzahirnya semua sifat-sifat itu, yang alangkah sempurnanya. Saking sempurnanya Sang Penyebab itu berbuat dan berperilaku, sehingga kita seakan-akan bisa melupakan-Nya sama sekali. Sang Penyebab telah menirai Diri-Nya dengan sangat sempurna melalui tirai sifat-sifat-Nya yang terzahir pada semua ciptaan-Nya.

Kita lalu akan melihat bahwa semua tumbuhan, binatang, dan manusia seakan-akan berevolusi dengan sendirinya untuk menyesuaikan dirinya terhadap tantangan-tantangan yang diberikan oleh Alam pada waktu-waktu tertentu. Pemikiran seperti inilah yang coba diformulasikan oleh DARWIN, yang terkenal dengan TEORI EVOLUSI-nya. Sehingga kita diajak oleh Darwin untuk tidak malu-malu mengatakan bahwa kita ini adalah keturunan MONYET yang telah berevolusi menjadi MANUSIA. Sementara monyetnya sendiri masih ada dan hidup berdampingan dihutan sebelah kita.

Begitu juga kalau kita melihat tingkah polah Materi dan Energi, Dualitas cahaya dalam bentuk Partikel dan Gelombang, Bintang-bintang dengan garis edarnya, dan lain-lain sebagainya, semuanya seperti menari dan berlenggang lenggok dengan sendirinya di depan mata kita membentuk keindahan yang sangat mencengangkan. Dan sekali lagi kita akan melupakan Sang Penyebab dari semua kejadian dan peristiwa itu. Kitapun telah menjadi orang yang materialisitis.

Sebab hanya dan hanya dengan memakai setengah diri kita yang lainnya sajalah kita akan bisa memandang dengan utuh tentang Sang Penyebab dari terzahirnya semua sifat-sifat itu. Dan setengah diri kita itu adalah diri kita yang bersifat RUHANI, yaitu AKAL atau HATI. Kalau Akal / Hati kita ini tidak hidup, MATI, maka kita dikatakan sebagai orang yang Buta dan Tuli secara hakiki.

Ya… kita seketika itu juga akan berubah menjadi orang yang BUTA dan TULI. Tapi yang Buta itu bukanlah Mata kita, dan yang Tuli itu bukan pula Telinga kita. Yang buta dan tuli itu adalah HATI/AKAL kita. Sebab, walaupun mata kita masih bisa melihat, telinga kita masih bisa mendengar, tapi Hati/Akal kita tetap tertutup mati (tercofer) untuk memandang Alam HAKIKAT dan MAKRIFAT. Sehingga tatkala kita berkata-kata kepada orang lain, kita seperti si bisu dan si buta yang sedang bercerita tentang BESARNYA seekor GAJAH dengan hanya memegang ekor gajah, atau belalainya, atau kupingnya, atau kakinya saja. Tepatnya, kita akan terjerembab untuk selalu bercerita tentang segala hal tentang SIFAT-SIFAT.

Padahal kalau kita buta, tuli, dan bisu selama kita hidup di dunia ini, maka seperti itu pulalah kita akan hidup kelak di akherat. Buta, tuli,dan bisu di dunia saja sangatlah tidak enak, apalagi kalau buta, tuli dan bisu itu terjadi di akhirat kelak. Sungguh tak terbayangkan sengsaranya.

Sebab kalau kita jadi SI BUTA di dunia ini, maka kita akan segera ditangkap dan disandera oleh berbagai SIFAT yang ingin menjadikan dirinya sebagai diri kita. Sifat-sifat itu, apa saja, akan memaksa kita untuk berkata “aku” kepada siapapun, saat kapanpun, dimanapun kita berada, dan kemanapun kita pergi.

Bersambung

Read Full Post »

« Newer Posts

%d blogger menyukai ini: