Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2014

Jangan merasa tinggi hati dengan kelebihan ilmu. Kesombongan ini akan mudah memasuki dimensi iblis. Semakin santun. Semakin lembut. Semakin penuh kasih sayang. Di ruang pengajaran Allah untuk menyempurnakan jiwa hamba yang disayangiNya. Semua tidak ada yang kebetulan. Sudah ada ketetapan yang mendahului. Maka hanya diri yang mau menerima dengan suka rela… atau terpaksa. Atau berusaha menolak dan mengingkarinya. Sebuah pilihan bebas. Dan rasa di dalam dada. Tergantung pilihan yang akan kita ambil.

Sesungguhnya semua ilmu itu ada disisi Allah. Ketika kita bersedia diliputi oleh ilmu-Nya dengan sukarela. Maka itulah proses pengajaran Tuhan. Namun bila kita sudah mulai mengaku tahu dan merasa lebih baik maka kita telah menetapkan diri memasuki ruangan iblis. Berdansa dengan iblis.

Mas sebetulnya bukan masalah beda pendapat. Lebih tepatnya harmonikan pendapat. Penyelarasan. Penyesuaian. Penyempurnaan. Saling melengkapi. Atau semacam itu. Sebuah konsep hanya bisa diterima bila telah teruji. Bila sudah menerima masukan. Bila sudah menerima banyak pembetulan. Konsep diri yang terdiri empat anasir ini janganlah menjadi klaim kebenaran. Jadikan sebagai cara murid membaca alam. Seperti para saintis yang membuka lembar pelajaran alam. Sebagai murid dalam sikap berketuhanan. Maka selalu hindari klaim kebenaran yang menggurui. Selalu membuka diri bagi perbaikan konsep yang diajukan. Ketika konsep telah diajukan maka konsep itu bukan menjadi milik dirinya lagi. Konsep itu menjadi milik umum yang harus diuji kebenaran. Bukan menjadi klaim kebenaran. Justru menjadi jalan menuju kebenaran.

Konsep diri terdiri dari empat anasir dengan sedikit mengubah kalimat akan sangat mudah saya fahami. Yaitu menjadi Konsep berpasangan atau konsep dialitas bahwa seluruh alam tercipta dalam keadaan berpasangan. Yaitu diri. Jasad. nyawa. Ruh. Fikiran (akal/hati/bashiroh/aku). Konsep berpasangan. Adalah jasad (mati) dan hidup. Yang mati diliputi yang hidup atau nyawa. Nyawa berpasangan dan diliputi oleh ruh dalam dimensi yang lebih tinggi. Yaitu program ilahi dan energy ilahi. Dan diliputi oleh fikiran atau aku atau pasangan akal dan hati. Dan seterus selalu diliputi oleh pasangan.

Seperti hukum alam yaitu konsep berpasangan (dualitas). Maka tidak ada bedanya antara konsep diri dengan konsep cahaya menurut ilmu alam atau ilmu fisika. Dan mungkin saja bersesuaian dengan Al Quran yang menyebutkan segala sesuatu diciptakan “berpasangan” dalam sisi pandang pasangan yang lebih luas. Jadi bukan masalah jumlah anasirnya yang 4. Tetapi lebih ke arah konsep logis. Karena bisa saja akan ada yang menyatakan lima enam atau tujuh. Konsep berpasangan dengan sangat sederhana mampu membuat perubahan yang lebih mudah. Konsep berpasangan ini bila dianggap konsep 4 juga bisa sama persis. Bila kita mengambil 4 bagian terpentingnya. Dan konsep inipun terbuka lebar untuk diuji. Difikirkan. Ditelaah. Diperbaiki. Harmoni. Disempurnakan.

Ketika konsep ini sudah disampaikan maka konsep ini bukan lagi milik sang penyampai. Tetapi sekedar membaca alam dan menyampaikan untuk diuji kebenaran konsep ini bukan mengklaim konsep ini lebih baik dari konsep yang lain. Apapun konsep yang membuat lebih beriman itulah konsep yang baik dan benar. Maka bertambahnya konsep juga memberi ruang kebebasan bagi yang belum memahami konsep sebelumnya. Konsep bentuk atau struktur atom yang gaib itu selalu di update dan dikembangkan. Disempurnakan. Tetapi konsep pertama selalu disandingkan dengan konsep paling sempurna atau yang paling baik. Karena konsep pertama biasanya adalah konsep yang paling mudah difahami.

Bersambung

Iklan

Read Full Post »

Proses penyempurnaan bila diterima dengan suka rela maka semua terasa nikmat. Seperti berlatih silat. Bila tidak tahu tujuan. Dan tidak mengerti apapun. Terasa seolah memasuki ruang penyiksaan belaka. Dipukul… dibanting… dipelintir… ditendang dsb. Namun kesadaran yang memiliki ilmu akan mengerti semua ini adalah latihan menuju penyempurnaan jiwa. Semua ada atas kehendak-Nya. Terima apapun secara sukarela. Seperti keinginan menulis ini. Daya apakah yang menggerakkan. Siapa yang belajar dan siapa yang mengajar?. Untuk apa menuliskan panjang lebar seperti ini?. Ada tujuan apakah?. Daya apa yang menggerakkan saat pertama kali ingin menyapa?. Untuk apa kemarin mengirimkan itu?. Lalu apakah pengajaran itu?. Siapa yang mengajar?. Daya apa yang meliputi sehingga sang diri mengerti?. Daya apa yang menarik dan membuang rasa tahu itu saat akan tertidur?.

Bagaimana sikap mengajar?. Dan bagaimana sikap belajar?. Bagaimana bila Allah ingin mengajar dan diri tidak siap atau menolak?. Tentu saja akan diseret… dibanting… dipaksa untuk tunduk mengikuti kelas pengajaran Allah. Kelas pengajaran yang berisi dua hal yaitu shabar dan syukur. Bagaimana sikap saat pengajaran Allah turun dan diri merasa sudah tahu. Merasa lebih baik?. Merasa lebih hebat?. Merasa lebih berilmu?. Itulah sang iblis. Iblis diajar Allah untuk sujud kepada Adam. Namun iblis merasa dirinya lebih tahu..lebih berilmu.

Dan bila mau tunduk mendengar pengajaran Allah yang Dia Allah lebih tahu dari diri maka itulah malaikat. Maka puncak ilmu adalah keadaan menjadi iblis. Ketika merasa berilmu dan lebih baik dari yang lain. Maka beradalah diri di kutub iblis. Ketika kita menundukkan diri dan tidak tahu menyerah maka berada di kutub malaikat. Dan ketika berusaha belajar menjadi murid maka itulah posisi Adam. Proses belajar. Adalah kewajiban Allah yang mengajari manusia membaca menulis dan ilmu. Prosesnya bisa saja melalui siapa saja. Maka selalu bersiap untuk menerima pelajaran Allah dari arah mana saja. Dan sang aku mengerti tanda atau mampu membaca lambang ketika pengajaran itu turun. Ada suasananya.. dan keadaan yang mendahului. Ada proses. Ada ketenangan. Dan sang aku mampu meyakini itu seolah sedemikian jelas dan pasti seolah pesan itu adalah pesan pribadi Allah. Kepada diri sendiri. Sangat khusus dan pribadi.

Berada pada sang aku sebagai manusia maka semua kebaikan hanyalah karena pertolongan dan rahmat Allah sedangkan sang nafs selalu mengajak kepada keburukan. Maka taubat adalah sebuah jalan untuk kembali dan mendekat kepada Allah. Taubat yang menembus kulit daging… tulang… darah… dan pembuluhnya… rambut… kuku dsb. Sehingga sang aku akan kembali kosong… tidak tahu apapun… Semua hanya diliputi rasa tahu. Ketika daya itu muncul mendadak rasa itu muncul. Bila tidak ya tidak ada apa-apa.

Sang diri akan selalu merasa di dasar atau dibawah.. tidak ada kelebihan apapun karena semua hanya karena rahmat dan kasih sayang Allah semata.

Penuh kelembutan hati.. penuh kasih sayang. Dll. Penuh pengabdian. Akhlak sempurna. Akhlak kasih sayang. Akhlakul karimah. Semakin lembut dan penuh kasih sayang kepada yang lain yang bertanya.

Mengajar adalah menuangkan kendi ilmu.
Agar sang diri mampu belajar lagi.
Mengisi kendinya yang kosong.

Bersambung

Read Full Post »

Dalam tulisan itu hanya ada sedikit yang dalam referensi atau memory saya kurang pas. Tetapi tentu saja terserah dimaknai begitu yaitu tentang anasir diri yang terbagi empat. Seolah benar namun terasa kurang pas karena seolah ada empat entitas. Dalam referensi saya entitas itu seperti sepasang yang satu yang meliputi dan yang satu yang diliputi. Dan meningkat terus menerus. Selalu dalam pasangan. Atau dimensi yang diatas muncul dalam wujud dimensi yang lebih rendah dan seterusnya. Makin naik dan makin tinggi dimensinya. Tentu saja ini pendekatan atau penyederhanaan. Jadi yang mana saja yang menambah keyakinan maka itulah yang benar bagi diri sendiri.

Contoh di alam materi wujud gerak yang meliputi materi, maka wujud gerak adalah perubahan materi. Lalu energylah yang meliputi gerak. Penampakan wujud energy adalah adanya gerak. Energy adalah wujud potensi atau energy potensial. Maka wujud potensi atau kehendak adalah energy itu. Kehendak itu diliputi oleh sesuatu yang hidup. Yang membedakan benda mati dan makhluk hidup adalah kehendak. Maka entitas yang hidup meliputi kehendak. Wujud dari yang hidup adalah kehendak.

Yang hidup ini diliputi oleh rasa atau hawa atau udara. Bentuk perasaan inilah yang membedakan tingkat atau level hidup.

Rasa ini diliputi akal. Akal yang mampu membedakan rasa. Tingkat kesadaran akal inilah yang membedakan level akal.

Akal ini diliputi ruh.. dan ruh ini diliputi ruh lagi dan seterusnya. Jadi sebenarnya ya cuma satu saja. Satu yang meliputi entitas di bawahnya. Dan sampai entitas cahaya di atas cahaya. Cahaya seperti lubang yang tidak tembus. Dibawahnya hanyalah layar tempat munculnya cahaya. Seperti proyektor film. Cahaya dari luar membuat gambar hidup di layar. Setiap dimensi adalah sebuah layar. Layar demi layar yang tidak tembus. Setiap layar adalah wujud ddari dimensi yang lebih tinggi yang meliputinya. Batas dua samudaria yang tidak bisa ditembus ke samudaria yang satunya. Seperti di layar komputer. Yang tidak bisa keluar dari dalam komputer itu. Namun bila empat entitas diri ini lebih meyakinkan maka itulah yang lebih baik.

Waduh malah kemana-mana nih.. artinya ilmu adalah memang sudah di level penyempurnaan jiwa. Ilmu adalah kunci memasuki kesadaran. Namun setelah itu akhirnya masuknya justru dari rasa. Yaitu dari rasa ingat. Dengan mengingat dan memasuki rasanya. Rasa ingat.

Ketika mengingat Allah maka muncullah rasa akibat mengingat Allah. Rasa ingat. Proses penyempurnaan inilah yang seharusnya melembutkan jiwa. Melunakkan hati. Menenangkan hati. Meyakinkan. Menyempurnakan akhlak. Budi pekerti. Pemaaf. Kasih sayang. Pengasih penyayang. Pemurah. Selalu rendah hati. Berendah diri dihadapan Allah. Selalu dalam syukur dan selalu dalam taubat. Jiwa semakin lunak dan lembut. Demikianlah semakin disempurnakan jiwa. Disempurnakan akalnya. Disempurnakan akhlaknya. Semoga semakin dalam rasa itu. Semakin dalam cinta kepada Allah. Menjadikan Allah pusat hidup. Poros hidup. Menjadi inti hidup. Dan merasakan alam kematian seperti di pelupuk mata. Dan maaf juga lho bila kebanyakan nulisnya ya mas.

Semakin mengingat Allah semakin dekat dengan Allah. Kesadaran membalik. Maka yang nampak hanya Allah. Dimanapun mata memandang. Kesadaran “melihat” Allah. Kesadaran naik ke rahmat Allah. Dan kembali turun membawa nikmat dari Allah. Allah akan menyempurnakan jiwa

Bersambung

Read Full Post »

Berikut ini, sebanyak 10 artikel, adalah Resonansi saya dengan sahabat saya IBA yang berada diujung Benua.

DK: Mas IBA, apa kabar?. Lama ndak kontak nih.

IBA: Alhamdulillah. Bersyukur kepada Allah. Masih selalu gembira dan bahagia. Ridho. Sy juga masih aktif membaca tulisan mas kok. Salam.☺

DK: Ha sip mas IBA. Tulisan saya sekarang agak melenceng dari pakem … he he he he

IBA: Lha setiap diri kita kan belajar.. dan diri kita yang bertanggung jawab nantinya di hadapan Tuhan. Prinsipnya kan kita puas dan ridho dengan Tuhan .. betul ngga?

DK: Begitulah mas. Ada satu kalimat sekarang yang jadi idola saya, yaitu “So REMEMBER Me, I shall REMEMBER you. Al baqarah 152. Jelas sekali arti dzikr itu adalah remember. Setelah saya coba ternyata betul. Dan mengingat itu adanya di pintu pikiran. Nggak ada hubungannya dengan dada atau jantung. Selama ini saya mencoba mengingat di hati atau dada. Makanya gagal total. Karena dada atau jantung tidak bisa mengingat. Suasana dada hanya akibat dari ingatan kepada Allah. Begitu saja mas he he he

IBA: Dan kalau sudah jatuh cinta maka ingat terus seperti lagu lama kok.. aku mau makan ingat Dia.. mau tidur ingat Dia.. bahkan mencoba tidak ingat saja sulit sekali..😃

DK: Nah itu dia mas IBA. Kalau sudah ingat, nyebut namanya saja langsung gemetar, rindu, kangen.

IBA: Saya pernah menuliskan prinsip ketidakpastian Jiwa seperti prinsip Heisenberg. Kita tidak bisa keduanya. Memasuki akal maka tidak bisa mengatur dada. Mengamati dada maka fikiran tidak bisa di atur. Maka hanya seperti bermain golf. Arahkan fikiran ke satu titik. Lalu gunakan energy. Mengarahkan fikiran itulah mengingat.. setelah itu ya suasana dada mengikuti arah fikiran itu… 😃 Ketika dada sudah cinta maka fikiran ingat terus. Ketika dada belum ada cinta. Memikirkan terus maka dada akan terisi cinta. Tidak bisa dua-duanya.😃

DK: Simple. Tapi kenapa kita berbelit-belit ya?. Heran

IBA: Mungkin kebanyakan teori..ha..ha..ha.. kalau langsung cinta pada Allah kan selesai.. masalahnya cinta pada yang tidak memiliki referensi sangat sulit. Bagaimana mengenali Allah bila tanpa referensi? Bagaimana mencintai bila belum mengenalinya? Bila pernah jatuh cinta kepada Allah maka selanjutnya hanya perlu menjelaskan saja.. tapi sebagian besar baru sampai pengetahuan saja karena hakekatnya sebagian besar tidak tahu rasanya cinta kepada Allah.

DK: Itulah yang saya lakukan. Saya belajar mengenal Allah dari seorang GURU saya yang lain. maka lahirlah tulisan saya sejak Yang Awwal. Mengenal Allah itu ternyata dari ILMU. Dan yang menyampaikannya harus orang yang sudah diberi ilmu itu oleh Allah. Alhamdulillah kayak menggambar lingkaran. Rasanya lingkarannya sudah nutup mas. Kalau dulu lingkaran itu masih menganga. Ujung dan pangkalnya belum ketemu. Kalau sekarang sudah bulat. Walau masih LONJONG. Ha ha ha. Yang saya lakukan, saya nggak perlu tahu rasanya. Yang penting saya ingat Allah. Ingat Allah. Ingat Allah. Eh rasanya diberi sendiri oleh Allah. Kadang senang dan bahagia. Kadang takut dan mengerikan. Kalau rasa Jalalnya yang dia berikan, ampun…, ngeri. Tapi kalau rasa Jamalnya yang dia berikan, wuihh nikmatnya. Entahlah… Berganti ganti begitu..

IBA: Alhamdulillah. Saya bisa mengerti dan bisa merasakan apa yang mas sampaikan ini. Karena sayapun mengalami dan merasakan sehingga sayapun mampu membayangkan apa yang dimaksud dalam tulisan ini. Alhamdulillah. Saya sendiri belum pernah bertemu guru seperti mas ini. Bersyukurlah bertemu guru yang mau mengajarkan ilmu seperti ini. Guru saya sendiri adalah alam. Angin. Gunung. Awan. Binatang tumbuhan. Dan yang mengajak ini adalah anak saya sendiri. Yang selalu mengingatkan dan bertanya. Sehingga tidak ada waktu selain memikirkan alam semesta ini. Penciptaan manusia. Memikirkan sang pencipta dengan duduk..berbaring.. atau berdiri. Kadang suka rela. Kadang ada daya yang memaksa untuk terus menerus memikirkan Allah. Itu saja. Benar seperti mas sampaikan pintu masuk adalah ilmu. Dan mas bertemu guru yang mengajarkan ilmu. Tapi yang mengajar itu bisa apa saja kok. Seumpama Einstein dialah yang pertama kali tahu lalu siapa yang mengajarinya?.

Demikian jadi pengetahuan bisa saja dicari sendiri selama tekun dan sungguh-sungguh. Seumpama bayi yang pertama dilakukan adalah belajar. Untuk tahu sehingga berilmu. Proses dari bayi menjadi tahu adalah proses penyempurnaan jiwa. Jadi ya proses biasa dan alamiah. Karena yang mengajari adalah Allah. Allah yang menyempurnakan jiwa. Sehingga semua proses pengajaran Allah ini adalah agar Allah menyempurnakan jiwa kita. Kita menerimanya dengan suka rela. Dengan ceria. Gembira. Menerima proses penyempurnaan jiwa yang disebut takdir dengan suka cita.

Bersambung

Read Full Post »

Malam ini lidah ini jadi KELU untuk menilai debat Capres. Karena HATI ini dikejutkan oleh kenyataan manakala MATA HATI ini telah mampu memandang tajam bahwa debat itu ternyata adalah Sandiwara Allah belaka terhadap DZAT-NYA yang sedikit yang terzahir menjadi dua calon Presiden Indonesia yang sedang menjalankan perannya masing-masing sebelum nantinya terzahir dalam bentuk sebuah KETETAPAN ALLAH jadi Presiden Indonesia periode 2014-1019.

KETETAPAN itu sudah DITULIS dan DIRENCANAKAN dengan sangat MATANG oleh ALLAH di Lauhul Mahfuz. Waktu akan MEMAKSA Rencana itu untuk terzahir menjadi Presiden RI tepat pada waktunya.

Dua capres kita ini dan juga penonton semua, termasuk pemirsa di rumah, tak lain dan tak bukan hanyalah WAYANG-WAYANG belaka yang sedang dimainkan dan digerakkan oleh SANG DALANG. Yang berbicara adalah DALANG, yang bertanya adalah DALANG, yang MENJAWAB adalah DALANG. Yang bersorak sorai juga adalah DALANG.

WAYANG adalah Dzat-Nya Yang DZAHIR, sedang DALANG adalah DZAT-NYA yang BATHIN, yang hanya SEDIKIT dari DZAT-NYA keseluruhan Yang Maha Indah dan Maha Agung. Allah memperlakukan sedikit dari Dzat-Nya yang akan menjadi BATHIN dari Dzat-Nya Yang Dzahir berupa semua CIPTAAN. Makanya Allah berhak berkata bahwa DIALAH YANG DZAHIR, DIALAH YANG BATHIN. Karena semuanya adalah DZAT-NYA belaka.

Allah telah MENETAPKAN apa-apa yang akan mereka bicarakan. Pertanyaan dan jawaban hanyalah penzahiran belaka atas apa-apa yang TELAH DITETAPKAN itu.

Lalu…, how come…, bagaimana bisa saya untuk menilai, menghina, mencerca, dan menyalahkan CAPRES YANG SATU dibandingkan dengan CAPRES YANG LAIN?. Padahal kedua-duanya adalah DZAT-NYA Yang DZAHIR ?. Dan menilai…, dengan cara membenarkan dan menyanjung salah satu Capres dan menghina atau merendahkan yang lainnya, berarti saya juga akan menghina KETETAPAN ALLAH yang telah ditetapkan-Nya terhadap kedua CAPRES kita itu, seakan-akan ketetapan Allah itu tidak sempurna dan bisa saya leceh-lecehkan.

Akan tetapi saya juga tidak bisa menyalahkan siapapun yang telah menjalani ketetapannya pula untuk menilai serta mendukung Capres yang mereka sukai dan meremehkan Capres yang tidak mereka dukung. Sebab semua orang AKAN DIMUDAHKAN untuk menjalani apa-apa yang telah DITETAPKAN untuk mereka.

SUNGGUH:
• Tak seorangpun daripada kalian kecuali sudah DITETAPKAN tempatnya di SYURGA atau di NERAKA. Sunan Ibnu Majah Bk.1, 66 (1992).
• Tiap-tiap manusia telah Kami TETAPKAN amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Al Israa 17: 13.
• Semua orang akan DIPERMUDAH untuk yang mana telah DITETAPKAN untuknya. Shahih Al Buchari, Bk. 8, 402 (1987).
• Orang-orang golongan BAHAGIA, mereka akan dipermudah untuk melakukan amalnya orang-orang yang BAHAGIA. Adapun golongan orang CELAKA, dia juga pasti akan mengerah pada amalnya orang-orang CELAKA. Sahih Muslim Bk. 4, 575 (1994) dan Sahih Al Bukhari bk.8, 402 (1997).

Wallahu A’lam
Deka

Read Full Post »

ESENSI KHALIFATULLAH

Orang yang belum SELESAI dalam beragama, Ia tidak akan mampu untuk memikul tugas Khalifatullah di muka bumi ini. Karena Ia hanya akan disibukkan secara terus menerus untuk mencari Siapa Tuhannya dan kadangkala sampai bertengkar pula tentang cara-cara untuk berhadap-hadapan dengan Tuhannya; Ia akan selalu sibuk untuk menelisik tentang orang macam Apakah Nabi-Nya; Ia akan sibuk untuk menelisik tentang ESENSI jati dirinya; dan Ia akan selalu sibuk pula untuk mencari-cari orang lain yang akan dijadikannya sebagai Objek untuk dihakiminya dan diajarinya demi pelampiasan EGONYA.

Dia akan selalu bergaduh dan dan bertengkar dengan orang lain, dengan pikiran dan dirinya sendiri, bahkan dengan Tuhannya sekalipun.

Dia akan selalu berkata dan menyalah-nyalahkan: “Kenapa…?”. “Seharusnya…!”, “Kalau…!”, dan tentu saja “ini Aku dan ini Miliku…!.

Sehingga Ia lupa untuk IQRA’ , MEMBACA HIKMAH dari setiap ciptaan, kejadian, dan peristiwa. Sebab Allah ternyata telah menyembunyikan Hikmah yang sangat dahsyat dibalik setiap apa yang Dia Ciptakan dan Zahirkan yang berasal dari sedikit Dzat-Nya sendiri.

Karena Ia luput dalam membaca hikmah itu, maka Iapun akan luput pula untuk mendapatkan ILMU dan KEMANFAATAN yang TERBARUKAN yang KEMASLAHATANNYA bisa Ia dan orang lain rasakan dizaman dimana dia berada saat ini maupun dimasa yang akan yang akan dinikmati oleh anak keturunannya.

Dan inilah tugas yang TIDAK bisa dipikul oleh SEMUA Makhluk Allah, kecuali oleh kita umat MANUSIA. Karena kita memang telah diperlengkapi oleh Allah dengan AKAL/HATI (MIND) yang sungguh teramat SEMPURNA, agar kita mampu untuk menjalalankan fungsi KEKHALIFAHAN kita dimuka bumi ini.

Sebab ternyata fungsi Khalifatullah itu bukanlah hanya sekedar untuk bisa membantu yang lemah dan yang miskin, bukan hanya sekedar untuk bisa berbuat baik bagi sesama, bukan hanya sekedar untuk bisa mengajari orang lain agar bisa shalat-mengaji dan ibadah-ibadah lainnya, dan bukan pula untuk sekedar bisa mengajarkan kepada orang lain tentang ilmu-ilmu yang telah tua, basi, dan tidak terpakai lagi dizaman sekarang, terutama untuk ilmu-ilmu Alamiah. Tidak seperti itu ternyata.

Sebab, Subhanallah…!, ternyata tugas kekhalifahan itu sungguh sangat Agung dan sangat Mulia, yang hanya akan bisa dikerjakan dan dijalankan oleh umat manusia yang sekelas dan sekaliber ULUL ALBAB.

Yaitu: orang yang selalu bisa BERINTERAKSI dengan Allah, baik saat berdiri, duduk, maupun tiduran. Kemudian dengan AKAL/HATINYA Ia mampu untuk MEMBACA HIKMAH atau PENGAJARAN ALLAH, yang disembunyikan oleh Allah disebalik semua ciptaan-Nya, semua kejadian dan peristiwa yang di-Zahirkan-Nya tak henti-hentinya.

Lalu ia bersedia mewakili Allah untuk merumuskannya menjadi sebuah ILMU dan merealisasikannya dalam bentuk sebuah KEMANFAATAN yang bisa dinikmati dan dirasakan oleh orang lain.

Lalu Ia akan semakin Dalam untuk tunduk dan berserah dalam berinteraksi dengan Allah. Karena Mata Hatinya sudah sangat tajam untuk memandang bahwa Tidak ada satupun dari ciptaan, peristiwa, dan kejadian yang diZahirkan oleh Allah secara sia-sia.

Mata Hatinya sudah mampu memandang kemahasucian Allah yang TERBEBAS dan TERHINDAR dari kesemberonoan dan kelemahan perencanaan. Lalu akhirnya Ia duduk bersimpuh dalam sebuah do’a yang lembut agar Ilmu yang telah Ia baca dan ungkapkan itu tidak menjadi SIKSAAN bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain, tidak hanya di dunia ini tetapi juga di akhirat kelak.

Wallahu a’lam…
Deka

Read Full Post »

Cuma saja bedanya dengan Pagelaran Wayang adalah:
Ciptaan itu (Wayang-wayang) adalah Dzat-Nya yang Zahir.
Dzat-Nya Yang Zahir itu berasal dari Dzat-Nya Yang Batin (Sang Dalang), yang merupakan sedikit Dzat-Nya dari keseluruhan Dzat-Nya Yang Maha Indah (Sang Penanggap).

Jadi semua yang ada di dalam Panggung Pagelaran Wayang itu tak lain dan tak bukan adalah perlakuan Allah sendiri terhadap Dzat-Nya sendiri pula yang telah dikurung-Nya di dalam Lauhul Mahfuz. Keadaan ini terjadi mirip seperti kita memperlakukan tangan kita mulai dari pergelangan tangan sampai ke ujung-ujung jari. Kita BATASI arena permainan kita hanyalah sampai sebatas pergelangan tangan kita kebawah saja. Kita gerak-gerakan masing-masing jari tangan kita menjadi 5 karakter sifat yang saling bermain-main satu sama lainnya.

Nah…, mulai dari pergelangan tangan sampai dengan ke ujung-ujung jari itulah yang bisa disebut sebagai sedikit dari diri kita (Sang Dalang) bila dibandingkan dengan keseluruhan diri kita (Sang Penanggap). Sedangkan jari-jari tangan kita yang bergerak, berbicara dan beraktifitas bisa kita sebut sebagai Sang Wayang. Kita kurung jari-jari tangan itu di dalam di dalam arena permaian yang besarnya hanya sebatas pergelangan tangan kita saja yang boleh diartikan sebagai Lauhul Mahfuz.

Jari-jari tangan kita itu tidak pernah bisa mewakili diri kita secara keseluruhan, sehingga dengan begitu dapatlah kita umpamakan bahwa Dzat-Nya yang sedikit itupun TIDAK akan pernah bisa mewakil Keseluruhan Dzat-Nya Yang Maha Indah, sehingga dengan begitu tidak akan ada Wahdatul Wujud.

Kalau sudah memahami ini, maka barulah kita akan bisa memahami ayat Al Qur’an yang berbunyi:

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika engkau melempar, tapi Allahlah yang melempar”, Al Anfal (8); 17.

Sebenarnya Allah-lah yang berkehendak dan beraktifitas kepada semua ciptaan-Nya MELALUI Dzat-Nya yang sedikit. Sehingga dari Dzat-Nya yang sedikit itulah kemudian terjadi semua aktifitas yang dilakukan oleh semua CIPTAAN. Sehingga lidah kitapun jadi KELU untuk MENGAKU-NGAKU. Kita hanya menjadi Wayang, menjadi KOSONG, menjadi NOL.

Dengan begitu tidak akan ada Wahdatul Wujud. Bagaimana akan menjadi Wahdatul Wujud?, wong semuanya itu terjadi hanya pada SEDIKIT dari Dzat-Nya saja kok. Bukan pada keseluruhan Dzat-Nya Yang Maha Agung, Yang Maha Indah, Yang Maha Tinggi, Yang Maha… Segalanya.

Inilah pandangan MATA HATI bagi orang-orang yang sudah tidak buta terhadap HAL atau KEADAAN yang sebenarnya (HAKEKAT). Sehingga kita bisa RIDHO terhadap apa-apa yang datang dan pergi menyinggahi kita. Artinya tidak ada lagi PERTANYAAN-PERTANYAAN yang terlontar dari mulut kita, yang akan menghalangi kita untuk beriman kepada Rukun Iman yang ke-6. Beriman TOTAL kepada Qada dan Qadar Allah tanpa reserve.

Tidak ada lagi tanya KENAPA…
Tidak ada juga kata SEHARUSNYA…
Tidak ada pula kata KALAU dan ANDAIKATA…

Yang ada hanyalah:
Punya MATA pakailah untuk memandang,
Punya TELINGA pakailah untuk mendengar,

Punya TANGAN tepuk-tepuklah bertalu-talu.
Buatlah diri TIDAK TAHU…
Telanlah PAHIT ataupun MANIS.

Namun MULUT tetap Diam.
Diam tak berbicara.
Diam tak mengeluh.
Diam dalam tangis ataupun tawa.

Diam untuk menjadi LAKON.
Diam dalam menjalankan PERAN.
Diam untuk menjadi PESURUH SEJATI…

Sampai disini selesailah artikel Menengok Kilasan Sandiwara Dzat. Insyaallah, kalau Allah mengizinkan, kita akan lanjutkan dalam artikel lainnya yaitu “Bagaimana Kalau Kita Buta”.

SELESAI

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: