Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2014

Kalau kita meyakini Paham Jabariyah sebagai patokan kita dalam memahami TAQDIR, boleh dikatakan kita akan berada pada sebuah ektrim atau kutub dalam bersikap, yaitu kita akan cenderung untuk menjadi orang yang FATALIS, atau dalam bahasa Indonesia disebut PASRAH. Bahwa semua taqdir adalah kekuasaan Mutlak Allah Swt, dimana manusia dianggap tidak punya daya upaya sama sekali. Kita tidak bisa apa-apa. Oleh sebab itu apapun usaha kita untuk merubah taqdir kita, itu dianggap tidak akan membawa hasil apa-apa. Sehingga akhirnya kita terpaksa MEMUTUSKAN untuk mengerjakan sesuatu dalam keadaan terpaksa, sebatas apa yang kita ANGGAP telah ditaqdirkan untuk kita saja. Atau bisa pula lebih parah dari itu, yaitu tidak melakukan apa-apa.

Ciri-ciri paham jabariyah ini adalah kita akan menjadi orang yang tidak terlalu aktif untuk menjalankan peradaban kita sebagai manusia. Sebab kita dihalangi oleh keyakinan bahwa seaktif apapun kita, hasilnya tetap akan begitu-begitu saja, sebab semuanya sudah ditaqdirkan oleh Allah untuk kita.

Seringkali orang yang berpaham Jabariyah ini bergumam: “Kalau begitu ya sudah, saya akan pasrah saja kepada taqdir, atau nasib yang telah ditetapkan Allah untuk saya. Kalau saya miskin, ya sudah…, saya pasrah saja. Kalau saya sakit, ya… saya tinggal pasrah saja. Toh Allah sudah menetapkan taqdir saya seperti ini…”.

Pada posisi kutub extrim yang sangat bertolak belakang dengan Paham Jabariyah diatas, terdapat kutub paham QADARIAH atau MUKTAZILAH. Kalau kita berpegang pada paham Qadariah ini dalam menjalani kehidupan, maka ciri khas yang akan kita lakukan adalah kita akan bersikap sangat RASIONALIS. Kita merasa bahwa kita bisa melakukan apa saja selama hal itu bisa kita pikirkan dan bisa pula diterima oleh akal kita. Sungguh kita merasa sangat bebas untuk memilih (free will) dan bebas pula untuk berkatifitas apa saja (free act) didalam hidup kita. Sampai-sampai kita tergoda untuk meniadakan peran Allah di dalam hidup kita.

Godaan untuk menafikan peran Allah itu begitu kuatnya, sebab saat ini hukum-hukum fisika quantum seperti memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada kita untuk memengaruhi kejadian dan peristiwa sesuai dengan niat (pemusatan pikiran) kita terhadap sebuah kejadian atau peristiwa yang kita ingin “ciptakan”. Dan ajaibnya itu bisa terjadi dengan sangat mudahnya. Kalau kita ikut menonton acara pertunjukan olah fisika quantum itu, kita akan sangat kelelahan untuk menjawab sebuah pertanyaan nakal berikut ini: “Lalu peran Tuhan dimana?”. Apalagi kalau pertanyaan itu diajukan dengan nada yang slengekan, meremehkan, dan dibarengi pula dengan tambahan wkkwkkwkk dibelakangnya. Tidak jarang kekaguman kita kepada Allah akan terkikis habis dibuatnya. Tetapi…, hal ini tentu saja hanya akan terjadi pada orang-orang yang tidak mengenal Allah (makrifatullah).

Sekilas memang akan terlihat segi positive dari paham Qadariah ini. Bahwa banyak sekali penemuan-penemuan baru yang tercipta dalam bidang fisika, kimia, kedokteran, antariksa, dan cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya yang kesemuanya itu akan membuat kita lebih mudah dan lebih nyaman dalam menjalani kehidupan kita. Akan tetapi hasil yang kita dapatkan itu tidak serta merta bisa membuat kita bisa menikmati kehidupan ini dengan bahagia. Hidup yang bebas dari segala macam rasa takut dan rasa khawatir. Ditengah-tengah kemudahan dan kenyamanan yang ada dimana-mana, kita malah sedang dibebani oleh rasa takut dan khawatir yang entah kenapa muncul begitu saja di dalam lubuk hati kita. Sehingga hampir semua umat manusia saat ini sedang berusaha tanpa henti untuk menemukan jalan keluar dari ketakutan dan kekhawatiran itu. Menemukan jalan menuju kebahagiaan. Namun nampaknya jalan itu masih sangat panjang dan berliku.

Sebagai jalan tengah diantara kedua sisi ekstrim Jabariyah dan Qadariyah itu, muncullah paham Asy ‘ariyah yang merupakan paham yang dianut oleh sebagian besar umat Islam. Kalau kita memakai paham Asy’ariyah ini dalam mengimani Taqdir, maka secara tidak sadar kita akan dibawa untuk bisa menerima paham Jabariyah dan Qadariyah secara seimbang. Paham Jalan Tengah. Dari sisi Jabariyah kita akan bisa menerima bahwa semua peristiwa dan kejadian di alam dunia ini sudah ditaqdirkan oleh Allah untuk terjadi dan terzahir. Sedangkan dari sisi Qadariyah kita akan bisa pula menerima istilah IKHTIAR yang mewakili keharusan kita untuk berusaha dan berkarya dalam menentukan nasib kita sendiri. Tapi ikhtiar yang dianggap afdal adalah ikhtiar yang bersesuaian dengan petunjuk Al Qur’an dan Al Hadist. Setelah kita BERIKHTIAR yang sebenarnya mewakili sikap Paham Qadariyah, maka kita diminta pula untuk menerima pasangan sikap sebaliknya yang mewakili Paham Jabariyah, yaitu BERTAWAKKAL. Istilah IKHTIAR dan TAWAKKAL inilah yang sering dipakai oleh orang yang berpaham Asy’ariyah untuk menghantam orang yang berpaham Qadariyah atau Jabariyah.

Ketiga paham dalam memaknai taqdir seperti diatas telah berkembang ke segala penjuru dunia islam sesuai dengan berjalannya waktu. Ada orang yang tetap memegang teguh pahamnya sampai dia meninggal, dan ada pula orang yang berpindah dari satu kutub pemahaman ke kutub pemahaman yang lainnya . Misalnya ada orang yang pada awalnya dia berpaham Jabariyah, kemudian ditengah jalan dia beralih menjadi berpaham Qadariyah ataupun sebaliknya. Yang banyak terjadi adalah orang yang tadinya berada pada kutub pemahaman Qadariyah atau Jabariyah, kemudian dia beralih menjadi orang yang berpaham Jalan Tengah atau paham Asy’ariyah. Orang yang beralih kejalan tengah ini biasanya disebut sebagai orang yang sudah TOBAT dari kesalahannya. Sebab orang yang berada di kutub pemahaman Qadariyah ataupun kutub pemahaman Jabariyah ini masih dianggap oleh mayoritas umat Islam sebagai orang yang berpemahaman sesat. Begitu pula orang yang berpaham Qadariyah akan menyesatkan orang yang berpaham Jabariyah dan Asy’ariyah. Dan orang yang berpaham Jabariyah akan bersemangat pula menyesatkan paham Qadariyah dan paham Asy’ariyah.

Alhasil, alih-alih kita bisa bersikap kepada Allah untuk mengimani taqdir Allah yang merupakan rukun iman yang ke-enam, akhirnya hampir semua dari kita malah terperosok menjadi orang-orang yang saling menyalahkan dan saling bertengkar satu sama lainnya tentang taqdir itu sendiri. Ramai sekali, dan hasilnyapun sangat minim untuk kemaslahatan umat.

Kenapa bisa Begitu?. Ada rahasia apa disebalik semua tragik hidup yang seperti itu?. Dan bagaimana pulakah gerangan orang yang memegang Paham Makrifatulullah dalam menyikapi taqdir?.

Bersambung

Iklan

Read Full Post »

Jawabannya pun sudah di bimbing oleh Rasulullah (Saw) ketika Beliau ditanya: “Jika demikian (sudah ditentukan) tidakkah lebih baik kami pasrah saja ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “janganlah begitu, beramallah dan jangan berpasrah”. Sunan Ibnu Majah.

Walaupun dari sisi Allah, taqdir dari semua ciptaan itu sudah direncanakan dan ditulis-Nya di dalam buku yang nyata, Lauhul Mahfuz, namun dari sisi makhluk, khususnya manusia, taqdir itu tetap menjadi sebuah misteri terselubung yang hanya akan dibukakan oleh Allah pada waktu yang tepat dan tempat yang cocok berupa penzahiran kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa.

Kalaupun Allah berkenan membukakan sedikit rahasia penzahiran itu kepada kita, maka itulah yang dinamakan sebagai ilham, pengajaran, atau pemberitahuan dari Allah kepada kita sebelum kejadian dan peristiwa itu terzahir. Khusus untuk Rasulullah SAW, rahasia besar itu dibukakan oleh Allah untuk Beliau mulai dari kejadian awal alam semesta ini sampai dengan peristiwa akhir dari semua ciptaan itu nantinya. Sehingga Beliaupun paham betul tentang: Dialah Yang Awal, dan Dia pulalah Yang Akhir.

Misteri itulah yang mengharuskan kita untuk selalu beramal dan beramal setiap saat sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Dan amalan kita itu bukanlah amalan yang aneh-aneh dan bukan pula amalan yang memberatkan kita. Tidak. Kita cukup mengikuti dan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh Rasulullah dalam keseharian Beliau. Sebab amalan apapun yang kita lakukan tapi itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah ternyata itu hanya akan menyengsarakan dan melelahkan kita saja dalam menjalaninya.

Tapi harus diingat pula bahwa apapun amalan yang kita lakukankan itu, begitu kita melakukannya, itu juga sudah tertulis di Lauhul Mahfuz. Peristiwa kita melakukan amalan itu bukanlah akibat dari usaha kita sendiri yang telah memutuskan dan memilih untuk melakukannya. Sebab apa-apa yang kita pilih dan putuskan untuk kita lakukan itupun sudah tertulis di Lauhul Mahfuz. Sehingga dengan begitu benar-benar tidak ada lagi tempat bagi kita untuk mengaku dan berbangga diri: “Aku telah memilih begini, maka hasilnya seperti ini. Atau kejadian ini adalah karena saya melakukan ini dan itu, karena saya begini dan begitu”.

Misalnya, ketika suatu saat suatu daerah dilanda kemarau panjang, tanah pertanian jadi kering kerontang, tanaman dan hewan mati kehausan, manusia kesulitan air, lalu sekelompok orang berkenan melakukan shalat istisqa secara bersama-sama untuk minta hujan. Tak lupa mereka membawa berbagai hewan ketempat shalat itu dilaksanakan. Tidak lama setelah orang-orang tersebut melaksanakan shalat istisqa, alhamdulillah hujan turun dengan sangat derasnya. Pertanyaannya adalah: apakah hujan yang turun itu adalah karena akibat dari orang-orang melaksanakan shalat istisqa?, atau bagaimana?.

Kalau jawaban kita adalah: bahwa hujan turun itu adalah karena hasil atau pengaruh dari shalat istisqa yang kita lakukan itu, maka saat itu juga runtuhlah tauhid kita. Sebab dengan begitu, ada dua yang wujud yang berkehendak dan berkuasa saat itu, yaitu Allah dan orang-orang yang melakukan shalat istisqa itu. Allah seakan-akan menyerah atau takluk dengan kehendak orang-orang yang shalat istisqa itu sehingga Allahpun terpaksa mengubah taqdir-Nya dari menciptakan musim kemarau menjadi menciptakan suasana musim hujan.

Akan tetapi, kalau jawaban kita adalah: bahwa hujan itu sudah ditaqdirkan oleh Allah terjadi, shalat istisqa yang dilakukan oleh orang-orang itu juga sudah ditaqdirkan oleh Allah terlaksana, bahkan siapa-siapa yang shalat istisqa itu, apa bacaannya, dan apa do’anya, semuanya juga sudah ditaqdirkan oleh Allah terlaksana. Sehingga dengan begitu, peristiwa hujan, orang shalat istisqa, do’a-do’a yang dipanjatkan, semuanya itu hanyalah penzahiran dari taqdir Allah yang sudah ditulis-Nya di Lauhul Mahfuz. Inilah jawaban orang-orang yang bertauhid. Sebab tauhid mensyaratkan bahwa yang wujud hanyalah Dzat Allah, Sang Wajibul Wujud. Sedangkan yang lain selain Dzat Allah adalah tidak wujud.

Sampai sekarang, memang ada 4 macam pemahaman yang berkenaan dengan masalah taqdir ini. Yaitu:

1. Paham Jabariyah, yang mengatakan bahwa kita sama sekali tidak bebas untuk berbuat dan berkehendak sesuai dengan pilihan kita. Kita hanya semata-mata berada pada posisi orang yang TERPAKSA menerima untuk melakukan sebuah perbuatan tertentu yang telah ditetapkan qada dan qadarnya oleh Allah.
2. Paham Muktazilah atau Qadariah, yang mengatakan bahwa kita bisa bebas memilih apa saja yang akan kita perbuat dan kita kehendaki, baik itu untuk keburukan maupun untuk kebaikan. Pilihan itu adalah mutlak atas kekebasan kita sendiri dalam memilih dan menentukan. Kebebasan kita itu tidak bisa diintervensi oleh Allah. Bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya.
3. Paham Asy ‘Ariyah, yang menjadi paham mayoritas umat islam, yang mengatakan bahwa segala perbuatan baik dan buruk itu memang adalah karena kehendak Allah, semua sudah ditaqdirkan oleh Allah. Akan tetapi manusia diwajibkan berikhtiar untuk mengusahakan agar perbuatannya itu adalah perbuatan baik yang sesuai dengan petunjuk Al Quran dan As Sunnah.
4. Paham Makrifatullah, adalah paham orang-orang yang sedikit, yang mengatakan bahwa orang yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya niscaya pastilah ia menyadari bahwa ia tiada mempunyai wujud bagi dirinya sendiri. Karena ia sudah tidak wujud, maka tidak ada pula baginya urusan dengan punya kekuasaan atau tidak punya kekuasaan dalam memilih atau tidak memilih sebuah perbuatan dan kehendak. Sebab ia sudah menyadari bahwa dirinya adalah tidak wujud. Bahwa dirinya hanyalah semata-mata penzahiran atas sangat sedikit sekali diantara sangat sedikit Dzat Allah dari keseluruhan Dzat-Nya Yang Maha Agung. Dzat-Nya yang sedikit itu “terkurung” di dalam sistem tertutup di dalam ruang penciptaan yang agung yang disebut sebagai Lauhul Mahfuz. Sehingga mata hati merekapun menjadi sangat tajam untuk memahami bahwa: “Maka bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tapi Allah-lah yang melempar…”, Al Anfal (8): 17. Lalu mulut merekapun terdiam untuk mengaku-ngaku. Apa yang mau mereka akui, kalau mereka sadar bahwa mereka tidaklah wujud.

Empat macam pemahaman ini pulalah nantinya yang akan membedakan setiap manusia dalam menerima rukun iman yang ke enam, yaitu “PERCAYA KEPADA TAQDIR ALLAH. Berbeda dalam penerimaan kita terhadap taqdir Allah itu, maka akan berbeda pula sikap kita dalam bertindak dan beraktifitas terhadap sesama ciptaan yang lainnya maupun terhadap sikap kita kepada Allah dan juga sikap kita kepada Rasulullah Muhammad SAW. Sikap Berketuhanan…!. Mari kita lihat perbedaan-perbedaan itu dengan lebih detail.

Bersambung

Read Full Post »

« Newer Posts

%d blogger menyukai ini: