Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2013

Silahkan mau pilih yang mana…

Wassalam Deka

Iklan

Read Full Post »

Mencapai Puncak Ibadah

Shalat merupakan puncak dari seluruh ibadah yang ditetapkan Allah dan sebagai dzikir yang paling tinggi bagi yang sudah terbuka hatinya. Akan tetapi bagi hati yang tertutup, buta serta membatu, shalat merupakan beban yang sangat menyiksa hatinya. Ibnu Qayyim menguraikan pengalaman nikmatnya berjumpa dengan Allah bagi ahli ma’rifat diwaktu shalat sebagaimana dibawah ini.

Mula-mula dibukakan untuknya pintu kelezatan beribadah yang tidak pernah membuatnya merasa kenyang. Ia mendapatkan kelezatan dan kenikmatan di dalam ibadah beberapa kali lipat dibanding kelezatan dan kesenangan permainan dunia dan syahwat. Bila ia memasuki shalat, ia tidak ingin keluar darinya.

Kemudian dibukakan untuknya kelezatan mendengar kalam Allah, sehingga ia tidak pernah merasa kenyang dengannya. Hatinya menjadi tenang seperti bayi yang menjadi tenang apabila diberi sesuatu yang sangat dicintainya.
Kemudian dibukakan untuknya kesaksian tentang keagungan Allah, kesempurnaan sifat-Nya, kesempurnaan hikmah-Nya dan makna pembicaraan-Nya, sehingga hatinya tenggelam dalam hal tersebut. Hatinya merasakan, bahwa dirinya telah memasuki alam lain, bukan alam yang ditempati manusia ini.

Kemudian dibukakan untuknya pintu rasa malu kepada Allah. Ini merupakan bukti pertama ma’rifat, yaitu berupa cahaya yang masuk ke dalam hatinya. Cahaya ini memperlihatkan bahwa ia berdiri di hadapan Tuhannya. Lalu ia merasa malu kepada-Nya dalam semua keadaannya. Saat itu ia dikaruniai rasa senantiasa diawasi oleh Yang Maha Mengawasi. Ia juga dikaruniai rasa ingin melihat kepada-Nya sehingga seolah-olah ia melihat-Nya diatas segenap Langit-Nya, bersemayam diatas Arasy-Nya, menyaksikan semua makhluk-Nya dan mendengar suara-suara mereka, bahkan mengetahui bathin mereka.

Bila ia terkuasai oleh keadaan ini maka keinginannya kepada dunia menjadi tertutupi. Ia berada di suatu keadaan yang lain, ia berada dihadapan Tuhannya dan memandang Kekasihnya dengan hatinya.

Manusia terhijab dari alam nyata di dunia untuk memandang kekasihnya. Padahal Dia melihat mereka sedangkan mereka tidak bisa melihat-Nya. Mereka tidak melihat dari-Nya kecuali apa yang sesuai dengan alam dan wujud mereka.
Kemudian dibukakan untuknya kesadaran tentang qayyumiyah (Allah yang mengurus dan mengatur segala sesuatu).

Kemudian ia melihat semua peristiwa di alam ini terjadi karena perbuatan-Nya semata. Maka ia menyaksikan Pemilik bahaya dan manfaat, Penguasa makhluk dan rizki, Yang menghidupkan dan Yang mematikan, sehingga ia menjadikan-Nya sebagai Pelindung, ia menjadikan-Nya sebagai Rabb, Pengatur dan Pemberi kecukupan. Saat itulah apabila melihat sesuatu dan penciptaan ini maka sesuatu itu menunjukkan tentang Sang Pencipta, sifat kesempurnaan-Nya dan gambaran keagungan-Nya, sehingga ciptaan-Nya tidak dapat menghalanginya dari Tuhannya. Bahkan semua ciptaan-Nya memanggilnya dengan lisan keadaannya : “Dengarlah kesaksianku untuk Dzat yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Aku adalah ciptaan Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sangat cermat”.

Bila keadaan ini berlangsung terus maka alam dilipat dari hatinya sehingga yang ada di dalam hatinya hanyalah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa. Kemudian cahaya ma’rifat, mu’amalah, kejujuran, keikhlasan dan cinta memancar dari hatinya, sebagaimana cahaya matahari memancar dari sumbernya. Saat itulah dia tenggelam di dalam cahaya, sebagaimana penjelajah lautan tenggelam di dalam laut. Hal itu hanya bisa terjadi di alam riyadhah, alam mujahadah, yaitu lenyapnya hukum-hukum alam dan ia bersedia berdiri lama menunggu didepan pintu Kekasihnya.

Ketika keadaan “berdiri di depan pintu Kekasihnya” ini berlangsung, dia tidak menoleh ke kiri dan kekanan dan ia tidak ingin menjawab panggilan orang yang tidak mengajaknya kepada-Nya. Dan ia mengetahui, bahwa ia belum sampai. Karena bila ia mengira telah sampai, pastilah akan padam semangatnya. Maka ia mengharapkan akan dibukakan untuknya pembukaan yang lain. Ia berada di atas keadaannya selama ini. Hatinya tenggelam di dalam cahaya penyaksian Keagungan-Nya setelah munculnya Cahaya Wujud yang benar. Lalu hatinya tetap berenang di lautan cahaya dalam pengaruh keagungan-Nya. Ia mendapati hatinya sangat tinggi dan naik menuju Dzat Yang Maha Tinggi. Kemudian Allah menaikkannya lalu ia menyaksikan cahaya pemuliaan (ikram) setelah menyaksikan cahaya keagungan (jalal), lalu ia tenggelam di dalam cahaya sinar keindahan (jamal).

Di dalam keadaan ini ia merasakan cinta khusus yang menyentuh ruh dan hatinya. Kemudian hatinya tertawan di tangan Kekasihnya dan Pelindungnya, dalam keadaan teruji oleh cinta-Nya. (Madarijus salikin)

Cuplikan dari draft buku baru Ustad Abu Sangkan

Read Full Post »

ILMU TERAKHIR

Kata Pak Abu ini ilmu terakhir, wes manggono nang Allah, iki wes terakhir, “ightanimu addu’a inda riqqoti fainnaha rahmah” artinya segeralah berdoa ketika Riqqoh itu turun, karena itu adalah rahmah.

Riqqoh adalah getaran jiwa yang sangat melembutkan hati, melunakkan hati, menundukkan jiwa, memiliki rasa takut kepada Allah, cinta dan rindu kepada Allah, sehingga Allah memberikan rahmat agar kita segera berdoa…

(Abu Sangkan)

Read Full Post »

Dasar-dasar saya keluar dari GETARAN PATRAP ternyata sangat kuat sekali, seperti berikut ini:

Bismillahirrahmanirrahim..

Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata : Rasulullah saw membaca ayat, Bukankah Allah membuka dada seseorang untuk Islam, dia diatas cahaya dari Tuhannya (Az Zumar 39 : 22).

Kami para bersahabat bertanya : Ya Rasulullah bagaimana dadanya orang itu bisa lapang ?

Rasulullah menjawab : Kalau cahaya Allah sudah masuk ke dalam hati seseorang, maka hatinya menjadi lapang dan luas.

Kami para sahabat bertanya : Tandanya apa ya Rasulullah ?

Jawab Rasulullah saw : Yaitu kembali kepada negeri yang kekal, meninggalkan dunia yang penuh tipuan. Dan mempersiapkan mati sebelum mati kita.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” Q39:22

Pertanyaan Allah dalam ayat diatas sederhana sekali: “Apakah sama ? .. Apakah sama, orang yang dibuka dadanya… dengan orang yang tidak dibuka?

Jawabannya: “pastilah tak sama…”, sebab bagi yang dibukakan dadanya ada tanda-tandanya.

Tandanya : Seperti mati… , seperti kembali ke alam abadi.

Tanda yang diberi tahu oleh Rasulullah itu bukanlah sekedar kalimat puitis yang indah. Bukan… Sebab itu adalah sebuah praktek yang dialami langsung oleh Rasulullah. Keadaan yang dialami oleh Rasulullah adalah seperti mati sebelum mati..

Kalau tidak begitu: neraka wail, celaka.. bagi mereka yang keras hati, padahal mereka menyebut asma Allah. Mereka itulah dalam kesesatan yang nyata.

Malik bin Dinar berkata; tidaklah seorang hamba itu disiksa dengan pukulan yang sangat keras yang rasanya melebihi dari kerasnya hati. Dan tidaklah Allah marah kepada suatu kaum, kecuali pasti rahmat dicabut.

Jadi kalau Allah marah kepada kita, rahmat dicabut…
Kalau begitu…, rahmat itu ada…
Dan rasa dicabut itu juga ada…
Rasa diberi rahmat itu juga ada…

Cuma sayang, banyak diantara kita yang sudah tidak bisa lagi membedakan rahmat itu ada atau tidak ada. Kita tidak tahu rahmat itu letaknya dimana. Itu karena memang kita umat islam ini belum selesai dalam belajar Imam, Islam, dan Ihsan. Kita juga belum selesai belajar Nafas, belajar memahami Ilham, sehingga kita luput dari berita-berita yang dikirimkan oleh Allah kedalam hati kita. karena hati kita sedang mati dan gelap. Sehingga ilham itu tidak terbaca, rahmat itu tidak terbaca, riqqah itu tidak terbaca.

Harusnya semua sudah berposisi menjadi “duduknya” kaum salik yang mendekat kepada Allah. Dan bisa pula melaporkan kebaikan-kebaikan yang didapatkan bersama riqqah yang turun kedalam dada kita.

Orang yang mengerti ilmunya saja, tak akan sempat berdebat. Kenapa? Malu.. yang sangat malu.. Malu karena belum juga mengerti apalagi mampu memraktekkannya. Mau praktek?

Satu saja praktek. Pasti anda berhenti berdebat dan melakukan hal-hal yang tak perlu. Contoh satu ayat saja..

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Al A’raf 7: 205)

Kalau betul kita menyebut nama Allah, kita tak akan sempat berkata yang lain. Apalagi berpaling…

Sebab: Barangsiapa yang berpaling dari mengingat Tuhan yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan). Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Az Zukhruf 43:36)

Langsung diancam oleh Allah, barangsiapa yang hatinya tidak berdzikir kepada Allah.. maka PASTI hatinya dikerumuni syaitan..

Dan… : Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi. (Al Mujaadilah 58 : 19)

Tambahan tanda-tandanya lagi.., dikuatkan lagi ayatnya…

Menjadi bergetar kulit-kulit orang yang takut kepada Tuhan mereka karena Dzikir Allah (dzikrullah) kemudian menjadi lembut kulit-kulit mereka, hati-hati mereka karena Dzikir Allah (dzikrullah) (Az Zumar 39:3)

Kalau disebut ayat-ayat tentang siksa. Kulit mereka bergetar, karena takut kepada Allah.

Kalau disebut ayat-ayat yang mengandung rahmat Allah. Hatinya menjadi lembut dan tenang.

(Sebagaimana firman Allah ta’ala : Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(Qs. Ar Ra’du 13 : 18)

Dari ‘Ibnu Abbas bin ‘Abdul Muthalib, ia berkata, berkata Rasulullah saw, “Man iqsya’rra jilduhu min khasy yatillahi ta’ala tahatat ‘anhu dzunubuhu kama yatahatu ‘an asy syajratil yabisati waraquha, Kalau kulit hamba bergetar karena takut kepada Allah, maka dosa-dosanya luruh. Seperti luruhnya daun-daun dari pohon yang kering”.

Berkata Rasulullah : kalau seorang hamba kulitnya bergetar karena takut kepada Allah, maka Allah mengharamkannya atas neraka.

Qatadah berkata inilah sifat para wali Allah..

yang Allah mensifati mereka dengan hatinya bergetar dan tenang ketika menyebut nama Allah.

tetapi Allah tidak menyifati mereka bahwa ketika dzikir itu akalnya hilang dan pingsan.

Kalau itu bisa terjadi, maka dia berarti ahli bid’ah dan termasuk kelakuan syaitan.

Dari Ibnu Umar, Sesungguhnya Ibnu Umar melewati seorang pemuda Iraq yang tiba2 terkapar (keter2). Ibnu Umar bertanya, ma balin hadza ? Apa-apaan orang ini ???

Qaaluu : Innahu idza quri’a alaihi al qur’an au sami’a dzikrullah , saqatha ! Jawab orang2 Iraq : Sesungguhnya dia apabila dibacakan al quran kepadanya atau mendengar sebutan nama allah dia terkapar (keter2).

Ibnu Umar berkata “Kami ini (para sahabat) adalah orang2 yang takut pada Allah, tapi kami tidak pernah keter2.

inna syaithana yad’khulu fi jaufi ahadihim maa kana hadza shani’u ash habi Muhammad Saw.
Kalau syaitan sudah masuk ke rongga dada manusia, seperti inilah yang terjadi. Sedangkan hal ini tidak pernah aku temui pada masa Muhammad saw. (tidak pernah terjadi pada para sahabat). — Kitab Al baghawi hal: 1125

Jadi tanda-tanda dibukanya dada seseorang oleh Allah bukanlah tubuhnya keter-keter, muter-muter selapangan, jungkir balik dan sebagainya.

Yang dibenarkan oleh al qur’an dan hadist: kulit dan hati mereka bergetar yang berasal dari keimanan mereka.

Kemudian Allah menurunkan ketenangan dan kelembutan yang disebut RIQQAH, ightanimuu du’a ‘inda riqqati fainnaha rahmah ( hadist) .

Adanya bukan keter-keter, tapi “Riqqah”. Kelembutan yang muncul dari keimanan dan cahaya Allah. Itulah rahmat, yang tidak akan pernah dirasakan orang yang tidak beriman.

Kalau ada yang berdzikir dan dia keter-keter, tapi dia tidak shalat. Walau dia meneriakkan “Allaaaaaaaaah!!!”, tapi dia tidak shalat. Berarti bukan..

Jika tanpa shalat bisa khusyu’.. pasti itu dari syaitan.

Dalil berikutnya:
Dari Urwah bin Zubair (Zubair adalah cucu Abu Bakar) berkata kepada neneknya Asma binti Abu Bakar. “Nenek bagaimana di jaman Rasulullah, apa yang terjadi pada para sahabat apabila dibacakan Al Quran kepada mereka? Asma berkata “Mereka seperti disifati Al Quran kulit mereka bergetar kulit mereka dan bercucuran air mata mereka.” Urwah bertanya lagi.. bagaimana yang terjadi dengan orang2 di jaman kita ini. Apabila dibacakan Al Quran mereka tersungkur kemudian pingsan. Asma berkata ; A’udzubillahi minna as-syaitân ar rajîm”.

Dengan dalil-dalil yang sangat kuat ini, Al Qur’an dan Hadist, sayapun menjadi tidak berkutik. Saya hanya akan memegang GETARAN Shalat ini saja dalam sisa-sisa hidup saya. Tidak akan ada lagi getaran-getaran lain yang akan saya lirik.

Alhamdulillah saya telah menemukan kembali kitab yang telah ditulis oleh para ulama’ yang shaleh dan sesuai dengan tuntunan kanjeng Nabi SAW.

Wassalam

Deka…

Read Full Post »

5. Getaran SHALAT.

Di dalam shalat, terutama shalat wajib dan shalat tahajud, ternyata Allah menurunkan getaran khusus yang hanya bisa ditangkap oleh hati orang-orang yang beriman yang khusyu dalam shalatnya. Getaran itu adalah getaran RIQQAH. Ya…, getaran RIQQAH ini ternyata tidak akan bisa dibaca oleh siapapun juga, kecuali hanya oleh orang-orang yang beriman yang khusyu dalam shalatnya. Kalau didalam shalat seseorang sudah merasakan getaran riqqah ini, maka insyaalah dia juga akan bisa merasakannya diluar shalat. Dan riqqah itu tidak sama dengan semua getaran yang telah saya alami seperti kisah diatas. Diatas semua itu. Diatas…

Rasulullah mengatakan bahwa segeralah berdoa ketika riqqah turun, karena bersama riqqah itu ikut mengalir turun rahmah: “ightanimuu du’a ‘inda RIQQATI fainnaha rahmah ( hadist)”.

Hal ini dibenarkan oleh Al qur’an dan Al hadist : kulit dan hati mereka bergetar yang berasal dari keimanan mereka. “Riqqah” itu berupa kelembutan yang muncul dari keimanan dan cahaya Allah. Itulah rahmat. Dan itu tidak akan pernah bisa dirasakan orang yang tidak beriman.

Karena, begitu kita berpaling saja sedikit dari iman, keluar dari khusyu, dan bahkan ketika kita berbuat maksiat, walau maksiat yang kecil saja, maka getaran Riqqah itu tidak akan muncul. Riqqah itu hilang. Walau dipaksa bagaimanapun, riqqah itu tidak akan muncul. Rasanya kita menjadi kalangkabut. Terasa sekali bahwa saat itu Allah sedang marah kepada kita. Allah sedang tidak suka kepada kita. Allah sedang menjauhi kita… Apalagi kalau tidak ada iman di dalam dada kita, bukan iman yang ada di kepala kita. Riqqh itu tidak akan turun.

Kalau tidak ada riqqah ini, shalat kita akan tidak menimbulkan kesan apa-apa. Saya sudah puluhan tahun shalat, walau ketika saya masih menerapkan getaran patrap, saya bisa tenang dan lama dalam shalat, kadang-kadang tubuh saya berguncang dan bergetar seperti sedang dialiri oleh sebentuk energi, namun kesan dan peristiwa bahwa saat shalat itu saya sedang berkomunikasi aktif dengan Allah, dan Allah juga sedang berkomunikasi aktif dengan saya jarang sekali muncul. Jarang sekali. Hal itu terjadi karena saya tidak paham sebuah bahasa yang sangat umum, saking umumnya, saya seperti melecehkannya saja, yaitu bahasa ILHAM. Ya…, saya tidak mengerti bahasa ILHAM dari Allah. Saya kalah kelas dengan lebah, yang sangat paham bahasa ILHAM itu.

Padahal ayat tentang bagaimana cara Allah memberikan hidayah, petunjuk, dan pengajaran kepada kepada seluruh manusia saya sudah sangat hafal. Dan saat melatih patrap dulu, ayat ini juga yang menjadi salah satu dasar dalil yang dipakai. Yaitu surat Az Zumar ayat 22,23.

“Bukankah orang yang Allah telah lapangkan atau bukakan dada/hatinya untuk ISLAM lalu dia hidup diatas cahaya petunjuk dari Tuhannya?. Maka celakalah bagi yang telah membatu hatinya dari mengingat Allah, karena mereka saat itu berada dalam kesesatan yang nyata”. (Az Zumar 22)

Kenapa sesat yang nyata, sesat yang tidak main-main, sehingga Allah menyamakannya seperti ia sedang berada di neraka wail (fawail) ? karena dia tidak akan bisa menerima pengajaran dan petunjuk dari Allah yang cara turunnya adalah sebagai berikut:

“Allah telah menurunkan (nazzala) sebaik-baik perkataan berupa kitab yang serupa mutu ayatnya secara berulang-ulang, menjadi merinding karenanya kulit-kulit orang-orang yang mereka takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut dan condong (talinu) kulit-kulit mereka dan dan hati mereka kepada mengingat Allah. Demikian itulah (cara) petunjuk Allah (turun). Dia memberi petunjuk dengan kitab itu kepada siapa yang yang Dia kehendaki, dan adapun siapa yang Allah sesatkan dia, maka tidak akan ada petunjuk baginya dari siapapun yang ingin memberinya petunjuk”. (Az Zumar 23).

Dua ayat ini sangat mendasar sekali bagi siapapun juga yang ingin mendapatkan petunjuk dari Allah. Puluhan kali kita berdoa kepada Allah: “Ihdinashshirathal mustaqiim…”, ya Allah tunjukkanlah kami jalan yang lurus…”. Tapi kita tidak mengerti bagaimana caranya Allah menurunkan petunjuk-Nya dan pengajaran-Nya. Kenapa?. Karena saat itu hati kita masih dalam keadaan keras membatu dan gelap. Hati kita mati. Karena petunjuk Allah itu turunnya melalui cahaya yang dikirimkan-Nya kedalam hati kita yang bersih, hidup dan lunak, lalu setelah itu barulah kita akan bisa berjalan diatas cahaya petunjuk-Nya itu.

Kalau kita ingin diberi petunjuk oleh Allah tentang MAQAM-MAQAM (posisi hati) berupa IMAN, ISLAM, TAQWA, IHSAN, SABAR, TAQWA, TAUBAT, KHUSYU, dan tentang berbagai keadaan atau suasana hati ketika kita berhadapan dengan ALLAH, seperti Sima’, Khauf, Zuhud, Wara’, Raja’, Muraqabah, Ikhlash, Istiqamah, Tawakkal, Ridha, Syukur, Haya’, Shidq, tawadu’, Iradah, Yakin, Dzikir, Faqr, al Ghina, Ilmu, Hikmah, Sakinah, Mahabbah, Himmah, Ghirah, Syaud, WAJD (ekstasi ruhani), SIRR, TAMAKKUN, MUKASSYAFAH, MU’AYANAH…, dan sebagainya, maka satu-satunya cara untuk mendapatkan pengajaran itu hanyalah dengan jalan kita meminta tuntunan dan petunjuk kepada Allah. Kalau kita hanya membaca melalui buku-buku saja, maka insyaallah kita hanya akan menetap dan duduk di alam ILMU, tanpa kita bisa memasuki keadaannya yang sebenarnya.

Semua ilmu diatas disebut juga sebagai Kitab perkataan-perkataan Allah yang serupa mutu ayatnya yang turun secara berulang-ulang sepanjang zaman. Perkatan Allah kepada seluruh Nabi, Rasul, Sahabat Nabi, Para Shalihin sepanjang zaman adalah SAMA, dan TIDAK akan pernah berubah sedikitpun. Kalau Allah menurunkan pengajaran-Nya tentang IMAN, misalnya, maka pengajaran yang turun itu persis sama dan serupa mutunya dengan pengajaran yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi, Rasul, para Shalihin sepanjang masa, sepanjang zaman.

Ciri-ciri turunnya pengajaran itu adalah…, menjadi merinding karenanya kulit-kulit orang-orang yang mereka takut kepada Tuhannya. Begitu kita menghadapkan wajah kita kepada “wajah” Allah: “Inni wajjahtu wajhiya…”, maka Allah akan menurunkan Riqqah kedalam dada kita. Dada kita menjadi dingin. Kita menjadi malu kepada Allah, kita menjadi takut berbuat macam-macam dihadapan Allah. Kulit kita merinding, bulu roma kita berdiri, karena saat itu ada rasa takut kita karena kita sedang berhadapan dengan Allah. Rasa dingin itu menjalar keseluruh kulit ditubuh kita. Nabi Muhammad ketika menerima Wahyu pertama juga mengalami hal yang serupa. Beliau merasa kedinginan dan minta diselimuti oleh istri Beliau, Siti Khadijah.

Peristiwa bergetar tubuh seperti inilah yang kadang-kadang disalahpahami oleh kebanyakan umat islam, termasuk saya. Bergetar itu saya kira bergetar hebat, keter-keter, jatuh berguling-guling, berteriak-teriak dan menangis histeris, karena saat itu kita seperti sedang dialiri, terdorong, dan digelundungkan oleh sebuah POWER yang sangat besar.

Ternyata TAQSYAIRRU itu bukan bergetar seperti kita sedang dialiri power seperti itu. Tapi getarannya adalah berupa RIQQAH… yang melunakkan kulit dan hati kita. Kalaupun kita sampai menangis saat itu, tangisan kita itu adalah sebuah tangisan bahagia. Tangisan penuh dengan rasa nikmat bersama Allah. Getaran riqqah itu sangat lembut sekali. Menggetarkan kulit kita, tapi TIDAK sampai menggoncang tubuh kita secara liar.

Ya…, hati kita menjadi sangat lunak, kulit kita menjadi lembut sehingga kemudian hati kita akan mudah menerima turunnya Bahasa Allah berupa ILHAM kedalam hati kita itu. Allah akan mengubah keadaan hati kita yang tadinya tidak khusyu menjadi khusyu, dari yang tadinya tidak takut kepada Allah menjadi begitu takut dan sungkan sekali kepada Allah. Semua istilah-istilah yang telah diberikan dalam list diatas, satu persatu dipahamkan Allah kepada kita dengan cara Allah mendudukan kita di dalam MAQAM-MAQAM diatas secara langsung.

Ihdinashhirathal mustaqiim…, Derr…, lalu kitapun didudukkan oleh Allah di sebuah Maqam yang Dia sendiri menghendaki kita untuk mengetahui dan mengalaminya sendiri. Boleh jadi suatu maqam akan diajarkan-Nya secara berulang-ulang kepada kita dengan intensitas yang semakin lama semakin kuat.

Ya Allah…, maafkanlah kebebalan dan kebodohan saya selama ini, sehingga hati saya menjadi gelap dan mati.

Bersambung

Deka

Read Full Post »

4. Getaran PATRAP.

Pertengahan tahun 2000, kemudian saya mengikuti sebuah latihan dzikir dalam bentuk lain. Dzikir itu disebut PATRAP. Lama sekali saya mengikuti latihan patrap ini. Rutin dari tahun 2000 sampai dengan 2010 akhir, dan secara sporadis setelah tahun 2010. Pada awalnya latihan selalu dibimbing oleh Bapak H. Slamet Oetomo dari Banyuwangi dan Ustad Abu Sangkan dari Jakarta. Saya sering sekali mengikuti acara-acara latihan bersama di Cibubur, Bogor, Surabaya, Tuban, bahkan sampai ke Banyuwangi.

Getaran Patrap yang saya dapatkan sungguh sangat luar biasa. Ketika pertama kali berlatih, dengan hanya menyebut dan memanggil-manggil Allah: “Ya Allah…, Ya Rahman…”, berulangkali, tubuh saya jadi menggigil, keter-keter, dan bergetar hebat. Saya menangis sejadi-jadinya. Daya yang muncul saat PATRAP-I sangat kuat sekali. Seringkali dalam latihan itu saya dan juga teman-teman saya yang lainnya sampai jatuh berguling-guling puluhan meter jauhnya. Kadangkala ada pula yang sampai muntah-muntah. Kadangkala jatuh tersungkur sampai histeris dan menangis. Dorongan diagfragma seperti yang saya dapatkan dalam dzikir di tarekat dulu muncul kembali dengan sangat kuat, dibarengi dengan ucapan HUU…, HUU… yang sangat mencekam.

Untuk merasakan keadaan tenang, hening, dan tubuh menjadi luas tak terbatas, sangat mudah sekali didapatkan dalam latihan PATRAP ini. Terutama dalam latihan PATRAP-II.

Disini juga ada wilayah Dzikir Nafas yang sekarang sedang dikembangkan dengan penuh semangat oleh seorang teman saya. Saya juga telah mencobanya. Inti dari Dzikir Nafas ini adalah pengaturan keluar masuknya nafas yang dibarengi dengan pengucapan huu… Allah, yang merupakan penyederhanaan dari Patrap-II. Getaran yang dihasilkan dalam Dzikir Nafas ini adalah getaran hening, tenang. Pikiran dan hati menjadi sangat luas…., tapi sebenarnya dalam keluasan hati dan pikiran ini belum ada Allahnya. Yang ada masih diri saya sendiri yang sedang merasa luas dan tenang, dan sedang menyebut huu Allah…Kalaupun saya menangis, tangisan saya itu masih dalam tatanan emosinal saya saja ternyata. Tapi setelah berlatih sekian lama, saya tidak bisa menangis lagi…, padahal Nabi, Abu Bakar, sahabat-sahabat lainnya, dan para shalihin sangat sering menangis didalam shalat Beliau.

Sedangkan dalam Latihan PATRAP-III, getaran yang saya dapatkan lebih mirip dengan Getaran Alam dalam Latihan Silat dulu. Hanya saja gerakannya kadang-kadang berputar-putar seperti tarian Jalaludin Rumi, kadang-kadang saya lari kesana kemari tanpa henti. Sampai kadang-kadang tubuh saya jatuh bergulingan juga ketanah. Hanya saja dalam semua latihan itu, saya selalu memanggil-manggil YA ALLAH…, Ya Rahman…, atau HUU Allah… Huu Allah, atau HUU HUU saja. Sampai kemudian saya dan teman-teman lainnya menjadi tenang. Suasananya sangat hening dan luas sekali.

Dari latihan PATRAP ini, saya menghasilkan sebuah buku yang berjudul; “Membuka Ruang Spiritual”. Dampak latihan Patrap ini sungguh sangat besar sekali bagi saya. Terutama dalam hal ketenangan emosi dan pengalaman rohani. Kalau disebutkan satu persatu bisa sangat panjang ceritanya.

Namun sejak beberapa tahun yang lalu, karena saya sering berkeliling ke beberapa daerah untuk memberikan “Pelatihan Shalat Khusyu”, Pak Ustad Abu Sangkan, seperti selalu mengingatkan saya, bahwa saya harus meninggalkan latihan patrap untuk bisa melatih shalat khusyu. Kalau tidak, maka khusyu yang akan saya dapatkan adalah khusyu yang menipu.

Lalu saya mencoba untuk mengevaluasi diri, khusyu yang menipu seperti apa yang telah saya dapatkan selama ini. Dalam shalat saya merasa bahwa shalat saya bisa tenang, damai, dan durasi shalat saya bisa lama sekali dari takbiratul ihram sampai salam. Rukuk dan sujud saya bisa lama sekali. Getaran rasa tenangnya ada. Saya jadi lebih sabar dan pemaaf. Tapi kok saya juga menyaksikan beberapa teman saya yang kalau membenci orang lain, terutama benci kepada Ustad Abu Sangkan, bencinya bisa sampai ke puncak rasa benci. Semakin benci, patrapnyapun semakin kuat.

Bagi saya sendiri, akibat rasa tenang yang saya rasakan, yang membuat saya bisa merasakan getaran-getaran pribadi dan getaran alam dengan lebih baik, malah getaran rasa takut saya kepada ALLAH menjadi nyaris hilang. Kalau saya agak melalaikan shalat, rasanya biasa-biasa saja. Saya jadi jarang membaca Al qur’an, ya biasa-biasa saja rasanya. Saya tidak shalat malam, walaupun saya bangun jam 02 malam, ya biasa-biasa saja. Saat jam 2 malam itu saya malah asyik duduk berlatih PATRAP sampai subuh.

Lho ada apa ini, kok saya merasa lebih tenang, lebih nyaman, lebih enak PATRAP daripada SHALAT. Padahal saya tahu bahwa SHALAT adalah Dzikir Yang Tertinggi “ “Waladzikrullahi Akbar”, kata Allah didalam surat Al Ankabut ayat 45.

Yang lebih menakutkan saya adalah, saking tenangnya, saya sampai tidak mampu lagi menangkap respon Allah atas apa-apa yang saya lakukan setiap hari. Saya tidak bisa merasakan kapan Allah marah dan tidak suka kepada saya dan kapan Allah senang dan suka kepada saya. Dalam shalat, getaran-getaran yang muncul hanyalah getaran-getaran halus tubuh dan keluasan suasana hati dan pikiran. Saya sudah sangat jarang sekali menangis dalam shalat saya. Padahal Rasulullah, Abu Bakar, dan sahabat-sahabat Beliau hampir selalu menangis di dalam shalat Beliau, terutama shalat malam…

Dalam kebimbangan ini, saya tetap datang ke acara-acara yang diadakan oleh Ustad Abu Sangkan, dan acara-acara patrap yang dibawakan oleh Bapak H. Slamet Oetomo. Saya bimbang sekali, karena kedua Beliau itu adalah orang-orang yang saya hormati dan saya cintai. Karena dari kedua orang inilah saya banyak mengalami perubahan yang sangat fundamental dalam kehidupan saya.

Ada suatu hal yang mulai membuat saya takut dalam melatihkan Shalat Khusyu dengan PATRAP ini, di Samarinda, di Tanggerang, dan di Cilegon sendiri, di masing-masing tempat itu ada satu orang yang setelah berlatih dengan saya mengalami gejala-gejala seperti orang yang kurang waras. Mereka seperti berada dalam suasana TRANCE, kesurupan. Kata-katanya tidak karuan dan ngaco…

Saya juga menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri sebuah keluarga yang berlatih PATRAP ini kemudian mereka mendapatkan getaran yang sangat kuat, lalu istrinya sampai mengaku dan berkata-kata telah kedatangan berbagai ROH. Mulai dari Roh nabi-nabi, roh khidir, roh Nabi Isa, Roh Imam Mahdi, dan sebagainya. Dan setiap dzikir, ceritanya jadi seru sekali.

Juga seorang ustad tamatan Medinah, setelah mengikuti latihan PATRAP ini, kemudian dia mendapatkan getaran yang sangat besar, lalu diapun mengalami perubahan yang sangat aneh. Dia seakan-akan telah menjadi seorang utusan untuk merubah keadaan umat yang sudah centang perenang ini. Dia jadi sibuk dengan tadzkiyatunnafs. Karena dia merasa sedang berhadapan dengan ribuan bentuk-bentu An-Nafs nya sendiri dan Nafs orang lain yang sedang menghantui dunia. Seru sekali ceritanya.

Lalu sayapun mulai bimbang dan ragu. Kenapa dengan berdizikir malah ada kejadian-kejadi aneh seperti ini. Sementara Pak Ustad Abu Sangkan sudah menyatakan bahwa Beliau tidak melatihkan PATRAP lagi. Beliau hanya melatih Shalat Khusyu yang kata Beliau sangat berbeda dengan PATRAP.

Sementara saya seperti berada di dua alam. Alam Patrap dan alam Shalat Khusyu. Saya terombang ambing.

Tanggal 25 April 2011, saya terbangun agak lebih cepat dari tidur saya. Saya terbangun jam 02:00 dinihari. Dan entah kenapa saat itu ada keinginan saya untuk shalat Tahajud. Dan entah kenapa pula dalam shalat tahajud itu, saya merasakan sebuah rasa nikmat yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Rasa nikmat itu jauh melampau rasa nikmat yang pernah saya rasakan sebelum-sebelumnya di dalam PATRAP.

Lalu sejak itu saya rutin shalat tahajud tanpa terputus setiap malam. Paling tidak, kalau saya ada halangan, saya masih sempatkan untuk shalat witir saja. Tapi hal seperti itu hanya beberapa kali saja. Saya juga sengaja mengurangi kontak, baik melalui fisik maupun melalui TELPON, dengan Ustad Abu Sangkan dan dengan Pak H. Slamet Oetomo. Tapi beberapa kali, hasil yang saya dapatkan dalam shalat tahajud tanpa terputus selama setahun itu, tetap saya beritahukan kepada Ustad Abu Sangkan. Beliau hanya tertawa renyah saja meresponnya.

Setahun kemudian, 25 April 2012, saya lewati hari-hari saya dengan sebuah titik terang yang mulai menerangi jalan saya. Begitu juga 25 April 2013. Titik terang itu semakin jelas. Shalat…, Shalat…, dan Shalat. Tidak ada yang lain yang bisa mengalahkan kehebatan shalat. Sebab shalat adalah DZIKIR yang Tertinggi.

Dan menjelang puasa bulan juli 2013, Ustad Abu Sangkan mengalami sakit yang cukup berat sehingga selama bulan Ramadhan itu beliau absen mengisi acara di berbagai daerah dan televisi. Dan ketika itulah saya mengambil sebuah keputusan untuk membantu Ustad Abu Sangkan untuk bergerak di Shalat Center Indonesia. Saya hanya ingin mensyiarkan Shalat Khusyu saja…

Menjelang cuti lebaran 2013, saya menelpon Pak H. Slamet Oetomo untuk minta ijin dan ridho kepada beliau bahwa saya telah meninggalkan PATRAP. Tekad saya sudah bulat untuk hanya mensyiarkan shalat saja. Saya akan berhenti mensyiarkan PATRAP. Karena memang selama hampir dua tahun belakangan, sejak tanggal 25 April 2011, saya sungguh merasakan nikmat Shalat yang ternyata memang melebihi nikmat yang saya dapatkan dalam berlatih PATRAP selama ini. Bahkan melebihi nikmat dzikir apapun juga yang pernah saya lakukan.

Akhirnya pada acara halal bi halal tanggal 9 Agustus 2013 malam di Jatibening, saya sampaikan kepada Pak Ustad Abu Sangkan bahwa saya sudah minta ijin dan ridho melalui telpon kepada Pak H. Slamet Oetomo untuk meninggalkan PATRAP. Saya akan bergerak di Shalat Center Indonesia saja untuk mensyiarkan Shalat Khusyu bersama Ustad Abu Sangkan. Saat mengatakan itu, ada kebahagiaan yang tak terlukiskan yang saya rasakan. Rasa bahagia Ustad Abu Sangkanpun ketika mendengar ucapan saya ini seperti bisa saya tangkap dengan dada saya. Malam itu tidak banyak kata-kata yang kami ucapkan. Yang ada hanyalah rasa nikmat dan bahagia yang amat sangat…

Bersambung

Deka

Read Full Post »

3. Getaran Dzikir Tarekat.

Bulan Ramadhan 1998, saya masuk dunia tarekat melalui sebuah SULUK di suatu desa kecil di Payakumbuh, Sumatera Barat. Di dalam sebuah surau kecil yang diisi oleh puluhan pesuluk (salik) saya ikut salah satu didalamnya. Modal saya hanya, kasur tipis dan kecil, bantal, dan kelambu. Disitulah nanti saya akan duduk seharian untuk berdzikir, shalat-shalat sunah, dan bahkan makan. Saya keluar kelambu hanya untuk shalat wajib berjamaah saja, dan untuk bersuci. Setelah itu saya harus kembali duduk di dalam kelambu, diatas kasur sampai datang waktu shalat wajib berikutnya.

Dzikir dalam tarekat tersebut pada dasarnya adalah pengulangan-pengulangan kalimat-kalimat Dzikir, seperti Allah…, Allah…, Allah…, atau Laa ilaha illallah…, Laa ilaha illallah…, atau huu Allah…, huu Allah…, atau huu…, huu…, huu…, dan kalimat-kalimat lainnya.

Saat membacanya kalimat-kalimat itu, ada beberapa titik konsentrasi pikiran yang kesanalah kesadaran saya tertuju. Titik-titik itu disebut sebagai LATHAIF yang letaknya hampir sama dengan titik-titik CAKRA dalam berbagai meditasi yang saya pelajari dalam sebuah aliran Pencak Silat.

Secara ringkas posisi-posisi Lathahif itu bisa dilihat dalam tabel berikut ini:

Nama Lathaif Lokasi Tembus dengan Banyaknya Zikir
Qalb 2 jari dibawah susu kiri, 2 jari lagi kearah tengah dada Jantung Jasmani

5000
Roh 2 jari dibawah susu kanan, agak 2 jari lagi ketengah dada Paru-paru Jasmani 1000
Sirri 2 jari diatas susu kiri, agak 2 jari lagi ketengah dada Hati Jasmani 1000
Khafi 2 jari diatas susu kanan, agak 2 jari lagi ketengah dada Limpa Jasmani 1000
Akhfa Ditengah dada Empedu 1000
Nafsun Natiqah diantara 2 alis Otak 1000
Kullu Jasad 2 jari diatas pusar, tembus menuju ubun-ubun, lantas meliputi seluruh tubuh Seluruh badan 1000

Sebelum berdzikir, saya diharuskan menghadapkan kesadaran saya terlebih dahulu kepada guru atau syech yang sedang memimpin saya dan jamaah lainnya dalam berdzikir. Lalu saya harus mendengarkan guru saya menyebut silsilah nama-nama syech yang menjadi guru dari guru saya itu dan seterusnya, sampai nama-nama itu tersambung kepada Nabi Muhammad.

Kemudian mulailah saya melakukan dzikir. Setiap Lathaif itu harus saya dzikiri dengan cara saya harus berkonsentari pada Lathaif itu, kemudian saya mengucapkan kalimat Allah…, Allah.., kedalam Latahif itu. Kalimat Allah itu harus saya bayangkan didalam pikiran, lalu hati saya membaca kalimat Allah itu secara berulang-ulang yang dihunjamlan atau ditujukan kedalam Latahif itu. Sedangkan mulut saya adakalanya juga mengucapkan kalimat Allah-Allah pula atau kalimat Laa ilaha illalah dengan keras yang frekuensinya semakin lama semakin tinggi dan iramanya sangat monoton. Kadangkala beberapa lathaif digabungkan menjadi satu dalam dzikir laa ilaha illallah yang membuat kepala dan badan saya seperti bergoyang-goyang ke kiri dan kekanan (seperti tripping).

Dzikir tersebut dilakukan di dalam kelambu atau di tempat-tempat yang lampunya dibuat temaram (sedikit cahaya). Makanan diatur sedemikian rupa sehingga nyaris saya mengalami gejala kurang gizi. Tidak ada aktifitas lain yang saya lakukan selain shalat dan dzikir yang jumlahnya puluhan ribu kali.

Karena saya melakukan kegiatan yang monoton itu selama berhari-hari, mengucapkan kalimat dzikir berulang-ulang, konsentrasi kepada Lathaif, dan kadang-kadang berdizikir dengan frekuensi suara yang kadang tinggi melengking dan kadang rendah mendayu-dayu, maka pada suatu ketika, saya mengalami kelelahan tubuh yang membuat tubuh saya seperti melayang begitu saja. Dan saat itulah seperti ada getaran yang berdesir keluar dari ubun-ubun saya. Ubun-ubun saya itu seperti terbuka dan dimasuki oleh cahaya dan kemudian oleh dzat seperti cairan. Rasanya cahaya dan cairan itu seperti membasuh seluruh tubuh saya.

Kemudian, diagfragma dirongga dada bergelombang seperti sedang mendorong sesuatu agar keluar dari dada saya. Dorongan diagfragma itu sampai membuat saya mengucapkan kata HUU secara berulang-ulang. Setiap desakan diagfragma itu muncul, maka ucapan HUU itu pun muncul sampai membuat saya berteriak histeris dan menangis. Seperti ada wujud yang mau melepaskan diri dari tubuh saya. Gerakan diagfragma ini bisa sebentar dan bisa pula sampai berjam-jam lamanya. Dan itu bisa terjadi berkali-kali, setiap habis dzikir.

Pada beberapa pedzikir yang berdzikir disebelah saya, ada yang tubuhnya bergetar hebat, terguling-guling dan meronta-ronta hebat sambil menangis dan menjerit-jerit. Bahkan ada yang sampai seperti jatuh dan pingsan. Ada yang tubuhnya keter-keter dan bergerak terus menerus tanpa henti.

Sampai pada suatu ketika, saya seperti kehabisan tenaga, tubuh tubuh saya lunglai, dada saya bergelombang halus, sehalus nafas saya yang saya rasakan sangat enteng. Rasanya seperti mau tidur, maka tiba-tiba saya seperti keluar dari tubuh melalui dada saya. TESS… Saya bisa melihat tubuh saya sedang duduk atau tidur dibawah saya. Dan untuk selanjut-selanjutnya inilah saat yang saya ditunggu-tunggu setiap berdzikir. Karena setelah itu saya akan bisa pergi kemana saja yang saya inginkan.

Saya bisa terbang dengan sangat cepat ketempat-tempat yang saya INGINKAN. Ketika saya berpikir ingin membersihkan diri saya, maka tiba-tiba saja diri saya bisa saya liputi dengan sebentuk gelembung yang sangat tipis seperti gelembung sabun yang kemudian gelembung sabun itu seperti bisa mencuci bersih diri saya.

Ketika saya berniat ingin ke Mekkah, maka tiba-tiba saja saya bisa terbang dengan sangat cepat ke Mekkah. Padahal saya belum pernah kesana sebenarnya. Ketika saya berniat ingin ke alam mahsyar, maka tiba-tiba saja saya sudah berada di suatu tempat bersama-sama dengan ribuan orang yang memakai pakaian putih-putih yang sedang berjalan kesatu arah yang sama. Suasananya sangat mencekam dan menakutkan. Ketika saya ingin terbang menuju langit, maka saya seperti masuk kedalam sebuah lorong yang menghisap yang membawa saya masuk kealam yang tidak terang dan tidak pula gelap. Tapi disitu tidak ada mataharinya. Apa yang saya niatkan, maka semua itu langsung ada dan saya berada berada disana.

Bahkan ketika saya berniat untuk berjumpa dengan Rasulullah Muhammad SAW, saya sampai di masjid Madinah, dan melihat sosok yang berjubah putih, tapi wajah orang berjubah itu tidak bisa saya lihat. Ketika ini saya ceritakan kepada guru saya tentang hal itu, entah kenapa guru saya itu malah mencium kening saya.

Ketika saya ingin bertemu dengan makhluk-makhluk gaib lain, saya dihadapkan dengan berbagai bentuk yang menakutkan. Saya lalu lari menyelam kedalam air yang sangat luas dan tenang, tapi tidak dalam. Dari dalam air itu saya bisa menjentikkan permukaan air, sehingga permukaan air itu bisa menggulung dan melumerkan bentuk-bentuk yang menakutkan itu. “Aman…”, kata saya.

Perjalanan yang kelihatannya sama dengan perjalanan ASTRAL itu bisa berlangsung lama dan bisa pula hanya sebentar saja. Kemudian pada akhir dari perjalanan itu, saya seperti tersedot kembali kearah tubuh saya. Ketika saya memasuki tubuh saya, tubuh saya itu seperti terloncat sedikit keatas. TESS…, lalu saya seperti berada kembali di dalam tubuh saya.

Ketika saya tanya guru saya tentang fenomena tersebut, beliau mengatakan bahwa saya baru saja melakukan perjalanan “Mi’raj”. Dan dengan begitu dzikir saya sudah dianggap berhasil. Tinggal ditingkatkan saja jumlah dzikirnya sebanyak-banyaknya. Saat itu saya merasa sumringah sekali. Dan sayapun berhak berdzikir di lingkaran terdekat dengan guru saya.

Bahkan waktu saya belajar itu, ketika guru saya menjadi imam shalat seringkali tiba-tiba dia jatuh kebelakang seperti orang pingsan. Lalu saya yang shalat di belakang guru saya itu maju menggantikan beliau sebagai imam. Sedangkan guru saya itu tetap saja tertelentang seperti pingsan sampai kami selesai shalat. Shalat seperti beliau itu kemudian dianggap sebagai shalat yang sebenarnya, shalat yang mi’raj. Shalat di alam astral. Kalau kemudian beliau sudah bangun, maka shalatnya tetap dianggap sah.

Sejak saat itu, yang saya tunggu-tunggu adalah dzikir untuk mendapatkan suasana perjalanan mi’raj seperti itu. Shalat saya malah tidak ada perubahan apa-apa. Rasanya tetap tidak ada. Saya ingin cepat-cepat selesai dalam shalat saya, untuk kemudian saya berlama-lama dalam dzikir dan perjalanan Astral itu. Dilain pihak, entah kenapa saya tetap menjadi orang yang temperamental dan egoistis yang sangat tinggi.

Beberapa teman saya yang juga mendalami tarekat yang lain malah ada yang kemudian meninggalkan shalatnya. Mereka menganggap kalau sudah sampai pada dzikir tingkat tinggi seperti dzikir Muraqabah dan maqam-maqam tertentu seperti “Fanafillah”, shalat itu mereka anggap sudah tidak perlu lagi.

Keadaan bertarekat ini saya jalani terus sejak dari ramadhan tahun 1998 ampai dengan saya melaksanakan ibadah haji bersama istri di tahun 2000. Selama itu, saya sangat sibuk dalam berdzikir didalam sebuah ruangan khusus yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun ketika saya sedang berdzikir itu, termasuk anak dan istri saya juga tidak boleh.

Sampai suatu saat di waktu wuquf di padang Arafah tahun 2000, muncul sebuah pertanyaan sederhana didalam diri saya: “apakah memang seperti ini yang diajarkan oleh Rasulullah?. Kok rasanya sulit sekali jalan yang harus saya lalui. Bukankah Islam itu sangat mudah dizaman Rasulullah sehingga orang mau berbondong-bondong memeluk agama Islam?”.

Entah kenapa saat itu saya berdo’a: “Ya Allah tuntunlah saya, kenalkan saya dengan orang yang bisa mengenalkan saya kepada Engkau”. Lalu sepulang dari ibadah haji itu saya berhenti dari proses dzikir yang telah saya jalani cukup lama itu. Saya kembali ke kehidupan saya yang biasa. Saya tidak lagi melakukan dzikir yang panjang dan lama seperti yang saya lakukan sebelum-sebelumnya.

Bersambung

Deka

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: