Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2013

Dengan mengamati gerak nafas kita itu, ternyata kita bisa melepaskan diri kita, hampir dengan seketika, dari segala pikiran kita yang selama ini menggangu kita. Kita seperti terlepas dari pikiran-pikiran kita DIMASA LALU dan DIMASA DEPAN. Semua pikiran kita sudah kita lupakan. Habis. Dan semua rasa dari masing-masing pikiran kita itupun sudah tidak kita rasakan lagi. Lenyap.

• Sekarang kulanjutkan lagi.
• Yang ada sekarang adalah aku yang sedang mengamati GERAK.
• Aku bukan mengamati udaranya.
• Tapi yang aku amati adalah gerakan yang membuat udara itu bergerak keluar masuk kedalam paru-paruku.
• Aku mengamati sebuah GERAK.
• Entah GERAK apa namanya.

• Untuk mengetahui Gerak itu, Kemudian coba untuk MERASAKAN gerak itu.
• Kurasakan GERAK itu dengan MENGIKUTI pergerakan gerak itu.
• Kuikuti GERAK itu TANPA perlawanan.
• Aku tidak melawan Gerak itu.
• Ternyata aku juga bisa mengambang didalam Gerak itu seperti aku mengambang di dalam Air
• Lalu akupun ikut mengambang saja di dalam gerak itu.
• Aku mengambang mengikuti GERAK itu.

• Aku ikuti pergerakan gerak itu.
• Gerak itu bergerak sebanyak sekian kali gerakan dalam satu menit.
• Teratur sekali.
• Konsisten sekali.
• Teliti sekali.
• Lembut sekali.
• Santun sekali.
• Tidak menyakitkan sedikitpun.

• Oya… Gerak itu memang ada
• Aku bisa menunjuk Gerak itu dengan jelas.
• Mana?.
• INI…
• Ku palingkan pengamatanku ke kiri dan ke kanan.
• Yang ada INI juga. GERAK
• Ku amati kebawah dan keatas…
• Yang ada INI juga. GERAK.
• Ku amati kesana dan kemari…
• Yang ada INI juga. GERAK.
• Ku amati yang ada disitu…, disitu…, disitu…
• Eh…, yang ada INI juga. GERAK.

• Kemanapun aku memandang,
• Ternyata yang terpadang adalah INI. GERAK.
• Sekarang aku sudah benar-benar terpisah dengan pikiran-pikiranku selama ini.
• Aku hanya sedang memandang GERAK INI. DISINI, dan SAAT INI.

• Kucoba merasakan GERAK INI
• GERAK INI ternyata tidak dibatasi oleh rongga dadaku.
• Rongga dadaku hanya membatasi udara, bukan membatasi GERAK INI.
• Saat rongga dadaku penuh dengan udara, kurasakan ujung dari GERAK INI.
• Ujungnya melampaui rongga paru-paruku.
• Kurasakan ujung GERAK INI.
• Ujungnya tak ada ujungnya.
• Ku rasakan ujung yang tak berujung itu.
• Aku terpekik, ujungnya diketinggian tak terukur.
• Iiiiihhh…, aku meringis…, ujungnya seperti menyedotku.
• Ujung gerak itu seperti mengantarkanku ke sebuah tempat yang sangat luas.
• Ujung gerak itu seperti menarikku ke sebuah tempat yang sangat besar.
• Ujung gerak itu seperti membawaku ketempat yang sangat tinggi.

• Aku tidak peduli lagi dengan GERAK INI
• Aku sudah melupakan GERAK
• Aku hanya mencoba merasakan INI
• Kurasakan INI yang sangat luas…
• Kurasakan INI yang sangat besar
• Kurasakan INI yang sangat tinggi.

• Kurasakan sekelilingku…
• Kalau-kalau ADA yang selain INI, DISINI dan SAAT INI.
• Kosong…, tidak ada apa-apa.
• Tidak ada apa-apa dan siapa-siapa lagi DISINI SAAT INI.
• Kecuali hanya aku yang sedang memandang INI.

• Suatu saat kemudian…
• Aku pun merasa menjadi Luas
• Aku merasa menjadi besar.
• Aku merasa menjadi Tinggi.
• Aku merasa menjadi sendiri.
• Sehingga akupun bisa berkata:
• Aku adalah yang luas…
• Aku adalah yang besar…
• Aku adalah yang tinggi…
• Aku adalah yang sendiri…
• Aku sudah tidak peduli lagi dengan INI
• Karena aku sendiri jadi merasa bahwa akulah yang luas…
• Ooo. Aku jadi tahu
• Aku tahu…
• Aku tahu bahwa akulah yang besar…
• Aku tahu bahwa akulah yang tinggi…
• Aku tahu bahwa akulah yang sendiri…
• Sehingga akupun bisa berkata aku…
• Aku…
• Ya, aku…, aku…, aku…

Pada titik aku seperti inilah para MEDITATOR biasanya berhenti. Yaitu setelah mereka ketemu dengan akunya. Yaitu akunya yang merasa sendirian. Akunya yang sudah terpisah dengan segala pikirannya. Akunya yang mereka rasakan menjadi aku yang sangat luas tak terbatas. Akunya yang sendirian.

Wilayah yang ditempati oleh para meditator ini lebih tinggi setingkat dari wilayah yang dihuni oleh para ilmuan yang telah kita terangkan diatas. Makanya kemudian banyak para ilmuan yang mengikuti meditasi tertentu, seperti yoga, agar dia bisa pulang. Tapi dengan cara begitu mereka tidak sadar bahwa mereka baru sampai ketahap SERASA pulang saja. Belum sampai kealamat rumahnya yang sebenarnya. Sayang sekali sebenarnya.

Tapi jarang sekali orang yang memulai hidupnya dengan meditasi, dan menemukan akunya, yang RELA turun kembali ke alam nyata. Menjadi ilmuan, untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dan menciptakan peradaban. Mereka sudah keenakan berada dalam alam kesendirian, Moksa, sehingga mereka malas untuk turun kealam keramaian.

Nanti akan kita lihat betapa longgarnya posisi akhir Rasulullah Muhammad SAW, karena Beliau berhenti di rumah Beliau yang HAKIKI, yang ternyata sangat didambakan pula oleh seluruh umat manusia.

Bersambung
Deka

Iklan

Read Full Post »

AKU DAN GERAK NAFASKU.

Kalau kita mengamati nafas kita, maka sebenarnya kita sedang berada pada suasana SAAT INI. Untuk mengamati nafas kita tidak perlu berpikir seperti apa nafas itu. Kita juga tidak perlu berpikir seperti apa gerakan nafas itu. Dengan mengati nafas, secara otomatis kita akan terlepas dari pikiran MASA LALU dan MASA DEPAN. Bahkan kita tidak ingat dengan kejadian satu detik yang lalu atau angan-angan kita satu detik yang akan datang.

Untuk mengamati nafas, kita juga tidak perlu pergi jauh-jauh. Amatilah DISINI, di DADA kita. DEKAT sekali.

Dengan begitu yang kita sadari tinggal SAAT INI dan DISINI.

Mari kita amati gerak nafas kita. Duduklah rileks saja, nggak usah tutup mata kok.
Duduk rileks itu maksudnya adalah, bagi yang biasa berenang di air, kita seperti mengambang saja di dalam air. Kalau ada udara di dalam dada kita. Saat tubuh kita rileks itu, kita pasti akan mengambang. PASTI. Tubuh kita sudah seperti menjadi air itu sendiri. Kita tidak perlu lagi melawan air yang ada di sekeliling kita agar kita bisa mengambang. Suasana rileks itu terasa sekali. Sebab kalau kita kejangkan tubuh kita sedikit saja, dengan seketika itu juga kita akan merasa seperti terpisah dengan air. Kita langsung goyah, bahkan bisa tenggelam. Kalau ada yang belum pernah merasakan rasa mengambang di dalam air, maka sebaiknya cobalah lakukan., dan rasakan. PASTI BERMANFAAT.
Kenapa kita haruss rileks seperti itu?.

Karena kita nanti akan ikut mengambang pula seperti mengambang di dalam air itu, tapi airnya kita ganti dengan udara. Rasanya akan sama. Rasa mengambang. Rasa tenggelam di dalam udara. Rasa menjadi satu dengan udara yang ada disekitar kita. Kita tidak perlu mencari udara itu jauh-jauh. Karena udara itu juga ada disekitar kita. DISINI dan SAAT INI.

Catatan: Pada artikel berikutnya “PINTU GERBANG MENUJU KEKINIAN” kegunaan rileks ini akan kita bahas lebih dalam lagi agar kita bisa masuk ke kekinian waktu, meninggalkan waktu lalu yang sudah jadi sejarah dan waktu akan datang yang masih sekedar angan-angan kita. Untuk kali ini kita akan membahas hanya salah satu dari pintu itu, yaitu PINTU NAFAS.

Nah…, kita juga harus bisa pula merasakan rasa mengambang bersama angin. Bersama udara. Bersama RIH…, dalam bahasa arabnya. Tapi nanti JANGAN berlama-lama disini, karena ini hanya sekedar PINTU MASUK saja ke gerbang WAKTU SEKARANG. Untuk keluar dari PIKIRAN kita yang selama ini menggangu kita. Kalau berlama-lama disini, artinya kita telah menjadikan udara itu sebagai berhala kita. Ya…, masih masuk dalam kategori BERHALA juga sebenarnya.

• Amatilah…
• SAAT INI, DISINI, di dalam DADAKU ada udara yang sedang bergerak.
• Udara itu sedang bergerak masuk dan keluar dari paru-paruku.
• Ya…, ada udara yang sedang bergerak keluar-masuk paru-paruku melalui hidungku atau mulutku.
• Kuamati…,
• Hanya kuamati saja…
• Aku tidak memikirkannya.
• Aku tidak perlu membayangkannya.

• Sesekali kuhirup udara itu secara perlahan.
• Kukeluarkan pula secara perlahan.
• Kunikmati rasa udara itu.
• Kunikmati aliran udara itu.
• Sejenak aku bermain-main dengan udara itu.

• Selama waktu itu, otomatis aku sudah tidak ingat lagi MASA LALU dan MASA DEPAN.
• Aku berada DISINI dan SAAT INI
• Aku sedang mengamati nafasku.
• Mengamati udara yang keluar masuk paruk-paruku.
• Ada aku dan
• Ada udara yang kuamati.
• Aku bukanlah udara.

• Kembali kuamati keluar masuknya nafasku…
• Kembali kurasakan pergerakan udara itu.
• Ya…, KURASAKAN pergerakan udara itu.
• Sebenarnya Apakah akukah yang menggerakkan udara itu?
• Atau udara itu bergerak sendiri keluar masuk paru-paruku?.

• Aku mencoba diam saja.
• Ya…, aku hanya diam.
• Tapi udara itu tetap bergerak dengan sendirinya masuk dan keluar dari paru-paruku.
• Ternyata untuk keluar masuknya nafasku itu, aku tidak berperan apa-apa.
• Ya…, aku tidak berperan apa-apa. Sedikitpun tidak.
• Ooo…, ternyata aku salah selama ini kalau aku mengaku bahwa akulah yang bernafas.
• Ternyata bukan…
• Aku hanya diam.
• Nafasku bergerak dengan sendirinya.

• Untuk memastikan apakah aku atau bukan yang menggerakkan udara itu keluar masuk paru-paruku, aku lakukan langkah berikut ini.

• Aku hirup udara memenuhi paru-paruku..
• Lalu aku mencoba menahan udara itu didalam paru-paruku selama mungkin.
• Aku amati pengaruh yang muncul ketika aku menahan gerak paru-paruku untuk mengeluarkan udara.
• Satu…, dua detik…, ok, nggak ada masalah.
• Belasan detik kemudian, mulai ada sebuah dorongan yang semakin lama semakin kuat agar aku bersedia melepaskan udara yang sudah tertahan lama didalam dadaku.
• Semakin aku tahan, semakin kuat pula dorongan itu.
• Kalau aku tahan terus, aku merasa seperti sedang berada dalam sebuah Tungku Penyiksaan.
• Aku gelagapan. Aku ngap-ngapan. Aku limbung.
• Kalau aku segera melepaskan udara dari paru-paruku dan aku kemudian membiarkan udara masuk kembali kedalam paru-paruku, rasanya aku seperti LONGGAR. Aku seperti lepas dari siksaan yang tadi aku alami.
• Kalau aku masih tetap ngotot menahan nafasku, walau aku sudah limbung, maka suatu saat aku akan Blackout. Pingsan, atau bahkan bisa mati.
• Ooo…, ternyata memang bukan aku yang menggerakkan nafasku.

• Sekarang kuamati yang membuat udara keluar masuk dari partu-paruku.
• Hei…., seperti Ada Gerak yang diikuti oleh nafasku.
• Udara seperti bersandar begitu saja kepada sebuah gerak yang bergerak secara teratur, berulang-ulang dan sangat halus sekali.
• Sekarang kuamati pergerakan nafas itu.
• Ya…, sebenarnya udara itu sedang ikut dan patuh kepada sebuah GERAK yang sedang bergerak.
• Kemudian kubiarkan nafas itu bergerak seperti biasa.
• Aku tidak melawan gerak nafas kita itu,
• Karena aku kita tidak akan pernah bisa melawannya.
• Sampai aku yakin sekali bahwa ternyata bukan aku yang menggerakkan nafasku.
• ADA GERAK yang menggerakkan nafasku.
• Kuamati gerak itu untuk sekian lama.
• Ooo… Gerak itu ternyata berbeda dengan udara.
• Ooo… Gerak…

Sekarang berhentilah sejenak. Dan coba ingat-ingat, selama kita melakukan pengamatan pergerakan keluar masuknya nafas kita tadi, apakah kita masih ingat kepada pikiran-pikiran kita yang sebelumnya selalu bermunculan didalam benak kita?. Pasti tidak ingat kan?.

Sampai disinilah para ilmuan kebanyakan BERHENTI. Ilmuan Molekuler, Ilmuan Quantum, Ilmuan Mikro Sel, Ilmuan Makro Kosmos, Ilmuan Mikro Kosmos. Ilmuan Energi, Ilmuan Cahaya. Ilmuan Semua Cabang Pengetehuan. Semuanya sudah paham betul bahwa Alam itu bergerak, bintang bergerak, sel-sel bergerak, hormon bergerak, cahaya bergerak, energi bergerak, getaran bergerak. Semuanya seperti bergerak dengan sendirinya. Sendiri…!.

Ketika mereka diberitahu bahwa gerak itu ada yang menggerakkan, sebagian ada yang percaya, dan sebagian lagi mereka tetap teguh berpendirian (keukeuh -bahasa Sunda) bahwa semua itu bergerak dengan sendirinya.

Stefans Hawking, salah seorang ilmuan Quantum masa kini, tetap mempercayai bahwa semua yang di alam ini bergerak dengan sendirinya. Sampai sekarang dia tetap mempercayai bahwa di alam ini TIDAK ada peran TUHAN sedikitpun. Sementara fitrah dirinya ingin pulang kerumahnya yang sebenarnya, tapi dia lawan fitrah itu. Akibatnya fisiknya tidak kuat menahan kerinduan itu, sehingga perlahan-lahan dia menghancurkan tubuhnya sendiri. Sampai suatu saat tubuhnya tidak kuat lagi menahan kerinduan itu, MATI, barulah dia bebas untuk kembali kerumahnya yang hakiki. Tapi karena pulangnya dengan tidak sukarela, dia pulang dengan DIPAKSA, MATI, maka diapun akan tidak pernah bisa pulang kerumahnya yang hakiki. Disisi Allah.

Karena gambaran akhirat itu adalah persis seperti gambaran kita di dunia saat ini. Kalau di dunia kita TIDAK pernah bisa pulang ke sisi Allah, maka di akhiratpun kita TIDAK akan pernah bisa pulang ke sisi Allah. Tidak bisa pulang ke sisi Allah berarti itu adalah siksaan yang pedih. Di dunia kita tersiksa dengan sangat pedih, maka diakhiratpun kita akan tersiksa dengan pedih pula. Neraka…, kata Al Qur’an

Bersambung
Deka

Read Full Post »

TENTANG SAKIT

Assalamu’alaikum wr wb.

Mohon maaf pak ustad kami akan menanyakan beberapa hal :

1). Dimana kami dapat mendengarkan ceramah langsung pak ustad yha

2) Pak ustad, yang bagus adalah berfikir kita berpedoman dg Alquran & Hadist yha pak pak ustad. . Jika kita sedang SAKIT, kita ingat janji Allah ‘Barang siapa sakit jika sabar menerima akan berguguranlah dosanya bagai daun kering jatuh dari pohon’ Apakah ingat janji semacam ini bisa dianggap sebagai mengingat Allah juga yha pak ustad ( meski levelnya rendah ).

Trima kasih pak
Wassalam
Andang depok

Alaikum salam, mas Andang
1. Saya tidak pernah memberikan ceramah mas, karena saya memang bukan seorang ustad. Saya hanya seorang pekerja di sebuah perusahaan. Sesekali saya mengadakan pelatihan shalat khusyu saja di beberapa daerah. Di Cilegon saya hanya buka Halaqah Shalat Khusyuk saja setiap hari minggu jam 16:00 sd jam 19:00

2. Setiap penyakit yang kita derita sebenarnya adalah sebuah pertanda saja bahwa Allah sedang menyapa kita. Allah sedang mempertegas keberadaan-Nya kepada kita. Boleh jadi sebelumnya kita lupa, lalai, atau bahkan berpaling dari Allah. Kemudian Allah berkenan mengingatkan kita kepada-Nya dengan memberi kita penyakit. Biasanya kalau kita sakit begitu, apalagi agak berat, barulah saat itu kita ingat kembali kepada Allah.

Atau bisa pula sakit kita itu sebagai cara bagi Allah untuk memperteguh pegangan kita kepada-Nya. Melalui sakit itu, kita bisa melihat dan merasakan bagaimana Allah menurunkan sakit ke dalam tubuh kita, memasukkan bibit penyakit ke dalam tubuh kita. Kita juga bisa membedakan bagaimana rasanya kalau kita menerima penyakit itu dengan ikhlas dibandingkan dengan kalau kita menerima sakit itu dengan tidak ikhlas. Bagaimana bedanya kalau kita gelisah dan tidak menerima sakit itu, dan bagaimana pula jika kita menerimanya dengan ridha.

Kita bisa melihat bagaimana cara Allah menyembuhkan penyakit kita itu. Ada dokter yang digerakkan Allah untuk menolong kita. Ada obat yang sudah ditakdirkan oleh Allah yang bisa mengubah komposisi enzim dan hormon di dalam darah kita untuk bisa menjadi normal kembali. Ada rizki dari Allah yang saling bertukar tempat saat itu.

Kalau sakitnya terasa, pada saat itulah kesempatan bagi kita untuk datang kepada Allah. Semakin sakit, semakin kukuh kita menghadap kepada Allah. Rasa sakit itu bisa kita jadikan sebagai kendaraan kita untuk lebih cepat menghadap kepada Allah. Sampai suatu saat nanti rasa sakit itu seperti terpisah dengan kita. Saat itulah nikmat sekali rasanya. Walaupun orang lain mungkin takut melihat penyakit kita itu, tapi kita saat itu malah merasakan sebuah kenikmatan yang tiada tara. Nikmat karena kita sedang berada disisi Allah.

Nanti kalau kita ditakdirkan Allah untuk sehat kembali, kita tinggal memasuki kembali ruangan yang penuh nikmat tiada tara itu dengan mudah. Kita tinggal melangkah selangkah untuk segera duduk disisi Allah.

Kalaupun Allah menakdirkan kita untuk berpulang dengan sebab penyakit kita itu, saat itu kita akan kelihatan lebih sehat atau bahkan kelihatan seperti sudah sembuh. Dengan begitu kita bisa minta maaf kepada karib kerabat kita yang bisa kita temui atau hubungi. Sehingga setelah itu kita bisa menunggu malaikat maut datang menjemput kita. Kita tunggu malaikat maut itu disisi Allah.

Saya ingin share sedikit tentang cara almarhum nenek saya berpegang teguh kepada Allah ketika mata Beliau tiba-tiba tidak bisa melihat. Kisah ini terjadi saat saya masih kuliah sekitar 30 tahun yang lalu.

Suatu pagi nenek saya berkata kepada anak-anak beliau (om dan ibu saya). “saya tadi pagi sehabis subuh ingin membaca Al qur’an seperti biasa. Tapi mata saya tiba-tiba tidak bisa melihat apa-apa. Semua kabur. Huruf-huruf Al Qu’ran tidak kelihatan. Tapi saya ingin selalu baca Al Qu’ran seperti biasanya”. setelah itu beliau hanya diam.

Om saya mulai sibuk mencari dokter sampai siang harinya. Kesimpulannya mata nenek saya mungkin perlu dioperasi.

Sehabis shalat isya, nenek saya terlihat agak lama duduk di sajadah. Setelah itu beliau tidur.

Subuh-subuh, lamat-lamat kami semua mendengar kembali suara beliau sedang membaca Al Quran. Kami mendengarkannya dengan perasaan yang haru biru. Biasanya kami mendengarkan seperti itu juga. Tapi kali itu suasananya sangat berbeda. Suara bacaan Beliau itu seperti mempunyai daya yang mampu membuat jantung kami seakan-akan ingin meloncat keluar dari dalam dada kami.

Setelah beliau selesai membacanya, kami segera berkerumun dihadapan beliau.

“Kok nenek bisa membaca al qur’an lagi? Kemaren kan tidak bisa?”, tanya kami dengan penuh rasa keingintahuan.

Jawaban beliau sederhana saja:” tadi malam sehabis isya, saya duduk disajadah agak lama, saya katakan kepada Allah. Saya ingin selalu membaca ayat-ayatmu ya Allah. Tapi tadi pagi mata saya ternyata tidak bisa melihat satupun ayat-ayat-Mu yang agung itu. Ya Allah, saya boleh saja tidak melihat ya Allah, tapi saya ingin tetap membaca ayat-ayat-Mu setiap pagi seperti biasa, setelah itu saya tidur”.

Kemudian beliau melanjutkan: “tadi pagi, begitu bangun, mata saya sudah seperti biasa saja. Saya shalat, saya ambil al quran, dan saya tinggal baca saja seperti biasa. Sungguh Allah sangat mendengarkan doa hamba-hamba-Nya.”

Dan kami, anak-anak dan cucu-cucu beliaupun, terdiam dengan pikiran kami masing-masing.

Demikian mas Andang
Wallahu a’lam….
Wassalam.

Read Full Post »

MENGENAL AKU

Jangan-jangan semua permasahan yang kita hadapi selama ini adalah karena kita tidak mengenal siapa diri kita yang sebenarnya, sehingga kita menganggap bahwa pikiran-pikiran kita itulah yang menjadi diri kita.

Mari kita urai…

Ada Aku  ada Pikiranku.

Yang menjadi masalah bagi kita adalah, bagaimana kita bisa memisahkan diri kita dari sejuta pikiran yang sudah kadung ada di dalam memori kita.

Kalau kita melakukan dengan cara kita mengamati objek-objek pikir apapun yang sedang menjadi buah pikiran kita, maka kita akan menjadi sangat tersiksa dalam waktu yang lama. Bisa berjam-jam, bisa berhari-hari. Cara seperti ini bisa disebut sebagai “Meditasi Mengamati Pikiran”. Semua pikiran-pikiran masa lalu yang ada di dalam memori kita seperti berloncatan keluar. Baik yang sudah kita lupakan, apalagi yang masih segar di dalam ingatan kita. Ingatan bawah sadar kita keluar semua. Biasanya kita bisa muntah-muntah, pusing tujuh keliling, atau berkunang-kunang. Karena memang setiap objek pikir kita itu masing-masing ada rasanya. Sehingga setiap kali kita berpindah objek pikir, maka rasanya juga berbeda dengan objek pikir kita yang sebelumnya.

Pada metoda EFT (EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE), misalnya, saat kita punya emosi yang negatif terhadap sebuah objek pikir, maka kesadaran kita dipindahkan kepada objek pikir lain berupa ketukan-ketukan halus pada beberapa titik di wajah dan di tubuh kita.

Contohnya begini:
“Aku takut pada kucing, aku diminta untuk memikirkan seekor kucing. Atau yang paling manjur adalah dengan meletakkan kucing benaran di dekatku. Aku diminta untuk merasakan rasa takut yang muncul ketika aku memikirkan atau berdekatan dengan kucing itu. Aku diminta untuk mengukur rasa takutku itu dengan memakai skala 1 sd/ 10. Aku diminta untuk menaikkan rasa takutku ke tingkat yang paling tinggi. Takut sekali. Caranya bisa dengan memikirkan banyak kucing yang ada disekitarku, atau bisa pula lebih mendekatkan kucing benaran itu ke pangkuanku. Semakin tinggi rasa takutku, akan tergambar dari emosiku yang semakin meningkat pula. Bahkan aku bisa sampai berteriak histeris dan menangis.

Pada puncak ketakutanku, dengan lembut beberapa titik diwajahku diketuk oleh istruktur (penyembuh) EFT dengan ujung jarinya. Seketika itu juga kucing bukan lagi menjadi objek pikirku. Objek pikirku berubah menjadi beberapa titik diwajahku yang diketuk-ketuk oleh ujung jari instrukturku itu. Kemudian instrukturku itu berkata, sekarang saya tidak takut lagi kepada kucing, rasa takut saya berkurang, 10…, 9…, 8…, rasa takut ku berkurang…., 2…, 1 saya sudah tidak takut lagi kepada kucing.

Ketika instrukturku meminta agar aku mengukur kadar rasa takutku kembali, aku memang sudah tidak merasakan rasa takut kepada kucing lagi. Karena memang objek pikirku sudah bukan kucing lagi, tapi titik-titik yang tadi disentuh oleh instruktur itu. Sejak itu aku dikatakan tidak takut lagi kepada kucing. Karena aku percaya kepadanya maka akupun seperti bisa tidak takut lagi kepada kucing… Plok…, plokk…, plokk…, tepuk tanganpun membahana diruang latihan itu.

Yang lebih jelas lagi adalah ketika aku didekatkan dengan kucing benaran. Takutku itu takut benaran juga. Semakin didekatkan, rasa takutku juga semakin meningkat. Pada puncak ketakutanku, kembali jari-jari instrukturku itu mengetuk-ngetuk beberap titik diwajah dan badanku. Aku diminta untuk MERASAKAN ketukan jari instrukturku itu. Mataku masih tetap melihat kepada kucing, tapi pada saat yang sama aku diminta pula untuk merasakan ketukan jarinya diwajahku.

Ketika aku merasakan ketukan jarinya, dengan seketika itu juga objek pikirku akan pindah dari kucing yang ada didepanku kepada beberapa titik diwajahku yang diketuk olehujung jarinya. Sejenak aku seperti menjadi TERPISAH dari kucing yang ada tepat didepanku. Kemudian kata-kata hipnosa seperti diatas dipaksakan kembali masuk kedalam otakku.

Sekarang otakku jadi konflik. Ada kucing yang tepat didepanku, ada ketukan-ketukan diwajahku yang harus aku rasakan, dan ada pula kata-kata hipnosa yang menghantam otakku untuk membuang rasa ketakutanku kepada kucing itu. Saat ada kucing didepanku, aku dipisahkan dari pikiranku tentang kucing itu melalui ketukan di beberapa titik diwajahku yang cukup lemah. Kemudian aku benar-benar seperti bisa terpisah dari kucing yang ada didepanku. Apalagi karena aku berada dalam pengaruh kata-kata hipnosanya maka akupun bisa menjadi tidak takut lagi kepada kucing itu”.

Metoda seperti ini sebenarnya adalah metoda hipnotis juga. Metoda yang mengacaukan kesadaran internal kita melalui perubahan-perubahan objek pikir kita dengan cepat dan tiba-tiba. Dan untuk bisa seperti ini, kita harus bayar mahal. Dan tak lupa kita diiming-imingi bahwa semua permasalahan emosional kita bisa kita selesaikan dengan cepat.

Kalau instrukturnya beragama Islam, maka kata-kata hipnosanya dirubahnya dengan memakai istilah-istilah agama Islam. Misalnya dengan membawa-bawa nama Tuhan. Seakan-akan metoda itu sudah berubah menjadi sebuah metoda yang bercirikan SPIRITUALITAS secara Islam. Sehingga kemudian metoda EFT yang dikembangkan oleh seseorang di Amerika sana, dirubah menjadi metoda XYZT yang seakan-akan menjadi sebuah metoda spiritual ala Islam yang dia ciptakan sendiri. Apalagi kemudian semua teknik yang pernah dipelajari oleh sang instruktur di jejalkan satu persatu di dalam training itu. Seakan-akan cara itu bisa menjadi sesuatu cara yang paling top sejagad.

Padahal sebenarnya untuk melepaskan diri kita dari pikiran-pikiran kita seperti itu, tidak sulit-sulit amat kok. Mari kita coba…

Sekarang coba amati sesuatu yang menjadi pikiran kita.

• Duduklah rileks.
• Pikirkanlah sesuatu, atau letakkanlah sesuatu yang kita takuti didepan kita.
• Misalnya kucing kita yang kita takuti tadi.
• Amatilah pikiran kita tentang kucing itu, atau amatilah kucing itu.
• Amati saja…

• Ada kucingku yang sedang kupikirkan atau yang ada didepanku, dan ada “aku” yang sedang mengamati kucingku yang kupikirkan atau yang ada didepanku.
• Ada Aku yang mengamati kucingku yang ada dipikiranku atau didepanku.
• Ada aku, ada kucingku.
• Ini aku yang mengamati, dan itu kucingku yang kuamati
• Ini aku…, itu kucingku…
• Lha…, ternyata aku bukanlah kucingku seperti yang kurasakan selama ini.
• Aku ternyata bisa terpisah dari kucingku.
• Ini aku…, itu kucingku.
• Ooo…., aku ternyata terpisah dari kucingku.
• Dengan santai aku bisa katakan kepada diriku sendiri, “ah nggapain aku takut kepada kucingku ini”.
• Santai saja…
• Rasakanlah keterpisahan itu.

Duduklah dalam suasana keterpisahan itu buat sejenak. Sebab biasanya setelah itu pikiran kita akan bergerak kembali kepada pikiran-pikiran lain yang sedang “hangat” dikepala kita.

Kalau pikiran kita banyak, alangkah capeknya kalau kita harus melakukan hal seperti itu satu persatu. Tapi kalau kita ingin memakai metoda konsentari kepada sebuah objek pikir saja seperti LILIN, ujung hidung, atau titik konsentrasi diantara kedua mata kita, ya ada juga sih metodanya seperti itu. Tapi yang namanya konsentrasi, kita butuh tenaga yang sangat besar agar kita bisa bertahan pada satu objek pikir saja untuk jangka waktu yang lama. Itu namanya kita masih berada pada pikiran kita juga, walau hanya satu objek pikir. Makanya lama, dan butuh tempat yang sepi dan sunyi pula untuk melakukannya.

Oleh sebab itu, berikut ini kita akan mencoba sebuah metoda yang sangat sederhana yang bisa melepaskan diri kita dari jeratan pikiran-pikiran kita yang selama ini telah mengganggu perjalanan pulang kita menuju Yang Maha Gaib.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Ya begitu…!.

Sebab bismillah bukanlah sebuah ungkapan yang bisa dibaca-baca begitu saja oleh sembarangan orang. Bukan…. Karena bismillah itu adalah sebuah ungkapan yang sangat suci yang hanya berhak diucapkan oleh orang-orang yang sudah punya perjanjian dengan Allah untuk bersedia menjadi Khalifatullah, Wali Allah, Hamba Allah yang akan bertugas mewakili Allah untuk urusan Allah di muka bumi ini. Makanya ungkapannya juga bismillah…, mengatasnamakan Allah.

Apapun yang kita lakukan benar-benar adalah sebuah pekerjaan yang mengatas namakan Allah. Kita melakukan pekerjaan yang telah dimandatkan oleh Allah kepada kita sebelumnya. Allah telah memberikan izin-Nya kepada kita sebelum kita melakukan pekerjaan itu. “Silahkan hamba-Ku, lakukanlah ini, Aku telah memberi izin-Ku agar kamu melakukannya atas nama-Ku”.

Saat serah terima mandat dari Allah itu kepada kita, terasa sekali sukacita dan bahagianya. Sukacita yang teramat sangat (RIQQAH) turun keadalam ada kita. Dada kita terasa menjadi sangat lapang, selapang jagad raya. Dada kita terasa sangat lunak dan cair, selunak dan secair samudera luas. Rasa dingin mengalir dari dada kita menyebar keseluruh sudut-sudut sel di dalam tubuh kita. Bahagianya menggetarkan tubuh, menggetarkan mata, menggetarkan seluruh cairan tubuh kita termasuk cairan yang dengan deras mengalir dari sudut-sudut mata kita. Mulut kita sudah tidak sempat lagi untuk berkata-kata. Adapun suara yang muncul dari ujung lidah kita hanyalah sepatah dua patah kata yang paling menggetarkan, yaitu “ya Allah…”, dan itupun nyaris hanya berbisik saja. Ya Allah…, terima kasih ya Allah…, alhamdulillah….

Setelah ada RIQQAH itu ada, berupa sakinah, berkah, aflaha, salamah yang diturunkan dan dimasukkan oleh Allah ke dalam dada kita, barulah kemudian kita bergegas menebarkannya buat diri kita sendiri, buat keluarga kita, buat tetangga kita, buat masyarakat kita, buat siapapun yang kita jumpai dalam perjalanan kita.

• Bismillah…, mata kitapun kita rahmati dengan mengajaknya melihat segala keindahan yang telah Allah gelar di depan mata kita.
• Bismillah…, telinga kitapun kita rahmati dengan mengajaknya mendengarkan ayat-ayat Allah yang bertebaran di sekeliling kita.
• Bismillah…., bismillah…, bismillah, rongga perut kita, otak kita, faraj kita, kita rahmati dengan memberikannya apa-apa yang diridhai oleh Allah. Lidah kita, tangan kita, kaki kita, kita pergunakan untuk menebarkan RIQQAH yang sedang menggumpal di dalam dada kita kepada siapapun yang kita temui. “salamun qaulan mirrabbirrahiim”. Semuanya itu kita lakukan seperti kita sedang berada di samping “ibu kita”. FEEL AT HOME BANGET (ini merupakan tema artikel selanjutnya setelah artikel “PINTU GERBANG MENUJU KEKINIAN”). Kita bekerja, berkarya, menolong, meringankan beban orang lain dengan nyaris tanpa lelah. Mengherankan sekali.

Kalau saat membaca bismillah itu tidak ada proses serah terima mandat dari Allah kepada kita seperti diatas, namanya saat itu kita membaca bismillah untuk mewakili hawa nafsu kita, mewakili ego kita. Kita melakukan sesuatu dengan mengatasnamakan hati kita yang kotor, syirik, gelap, dendam. Artinya saat itu kita sedang mempertuhankan hawa nafsu kita sendiri. Bacaan bismillah kita itu tak lebih hanyalah sekedar ucapan pemanis bibir saja. Atau istilah yang lebih keras untuk itu adalah “ucapan seorang pengkhianat kepada Allah”.

Anehnya, semakin kita kuat dan kukuh membaca bismillah ketika keadaan hati kita kotor seperti itu, getarannya pun akan sangat besar pula. Ada kekuatan juga yang mucul ketika itu. Tapi kita jangan bangga dulu dengan segala getaran dan kekuatan walaupun saat itu sedang mewakili hawa nafsu kita itu, karena iblispun saat meminta kesaktian dan kekuatannya juga melalui getaran. Tujuannya hanya satu, yaitu agar dia bisa menyesatkan seluruh umat manusia.

Iblis meminta kepada Allah dengan dorongan hawa nafsunya dan dengan menyebut Nama Allah juga kok. “Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya”. Dan Allah pun berkenan memberinya. Hasilnya pun sedikit banyaknya sudah kita ketahui pula. Mirip dengan apa yang kita lakukan ketika kita telah mengatakan Ana Khairu Minhu kepada sesama …

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Antara KAFIR, MUNAFIK, dan MUSYRIK.

Nah…, kalau kita sudah beriman kepada Yang Maha Gaib, Allah, seperti diatas, maka masalah utama kita untuk mencari jalan pulang yang sebenarnya sudah SELESAI. Kita tinggal mencari PETA yang cocok yang bisa mengantarkan kita kearah Tujuan akhir kita itu, dan kita mencari CONTOH atau PANUTAN pula tentang siapa-siapa yang sudah berhasil menjalani Jalan menuju Yang Gaib itu dengan cepat, tepat, benar, dan Lurus.

Kalau kita tidak beriman dan tidak yakin kepada keberadaan Yang Maha Gaib, Allah, maka kita dikatakan sebagai orang yang tercover. KAFIR…!. Ya selesai sudah. Tamat. Kita tinggal menunggu hidayah saja, atau kita mati di dalam kekafiran.

Kalau kita percaya kepada Yang Maha Gaib, Allah, tapi kadang-kadang kita lupa kepada-Nya, kadang-kadang kita lalai, kadang-kadang kita sadar lagi, maka kita disebut sebagai orang MUNAFIK. Biasanya kita lebih sering lupa dari pada ingat dan sadar kepada-Nya. Istilah kerennya adalah TOMAT. Kita kadang-kadang Tobat, tapi kadang-kadang Kumat kembali. Untuk keadaan kita yang seperti ini, sebenarnya masih ada harapan bagi kita agar kita kembali menjadi beriman kepada Allah. Ada…

Akan tetapi kalau kita sudah percaya kepada Allah, tapi pada saat yang sama kita masih memakai perantara-perantara untuk datang dan meminta kepada Allah, maka kita disebut sebagai orang MUSYRIK. Artinya antara Allah dan kita masih ada berbagai berhala yang membatasi kita. Berhala-berhala itu kita anggap (kita PIKIR) bisa membuat kita lebih dekat dan lebih berkonsentrasi kepada Allah. Padahal semakin ada berhala didepan kita, maka kita akan semakin terhalang dan jauh dari Allah.

BERHALA-BERHALA…

Ketika kita mengaku beriman kepada Allah, tapi pada saat yang sama kita masih nyangkut, tertahan di PIKIRAN kita, maka kita disebut sebagai orang yang musyrik. Artinya saat itu kesadaran kita nyangkut di berhala-berhala. Kita tidak bisa lagi berjalan meneruskan perjalanan kita.

Misalnya, ketika kita mengaku percaya kepada Allah, tapi ketika kita ingin menghadap kepada Allah dengan lebih khusyu kita masih menggunakan berbagai objek VAKOG seperti yang sudah dicontohkan diatas, maka saat itu kita disebut sebagai seorang musyrikin. Seorang yang menyekutukan Allah dengan sesuatu yang kita jadikan sebagai perantara antara kita dengan Allah.

Ketika kita ingin khusyu menghadap kepada Allah, kemudian kita menggunakan suara-suara, nada-nada, dan bunyi-bunyian dengan berbagai frekuansi tertentu, maka seberapa lama pun kita menyebut nama Allah, kita tetap tidak akan bisa sampai ke Allah. Kita seperti tertahan oleh vibrasi suara itu. Kita berhenti di vibrasi suara itu.

Ketika kita ingin khusyu menghadap kepada Allah, kita menggunakan patung-patung atau benda benda sebagai objek perantara kita, maka selama dan sekuat apapun kita menyebut nama Allah, maka kita tidak akan pernah bisa sampai ke Allah. Kita seperti tertahan dan berheti di benda-benda dan patung-patung itu.

Ketika kita punya masalah, kita lari ke dukun, paranormal, hipnoterapis, dan sebagainya yang sejenis itu, maka mereka pasti tidak akan mengenalkan kita kepada Allah. Pasti. Itulah yang disebut sebagai musyrik.

Kalau masih musyrik seperti ini, saat kita melakukan sesuatu kita mau baca BISMILLAH atau tidak, mau menyebut nama Allah atau ayat-ayat tertentu dari Al Qur’an atau tidak, hasilnya akan tetap sama. Itu bisa, dan hasilnya tetap ada. Menyebut atau tidak menyebut nama Allah, tidak akan mempercepat atau memperlambat hasilnya. Hasilnya semata-mata hanya akan tergantung pada ketekunan kita berlatih dan besarnya keyakinan kita saat berlatih. Itu saja. Lhooo…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJI’UN

Dari cerita panjang diatas, sudah saatnya kita untuk mengambil sebuah kesimpulan bahwa, perjalanan yang kita lakukan seperti diatas, perjalanan di dunia pikiran, untuk mendapatkan KESUKACITAAN di dalam setiap langkah kehidupan kita, ternyata tidak bisa kita dapatkan. Karena semua cara diatas ternyata tidak akan pernah berhasil membawa kita kembali pulang kerumah kita yang HAKIKI.

Adakah barangkali tempat untuk kembali yang benar-benar bisa membuat kita bisa nyaman, bahagia, tenang, enak, damai, bersemangat, setiap saat tanpa dimulai dengan pikiran-pikiran kita?. Bisakah kita BERSUKACITA setiap saat tanpa menciptakannya dengan pikiran kita?.

Adakah yang bukan pikiran?. Adakah objek pikir yang TIDAK BISA kita pikirkan yang bisa kita jadikan sebagai alamat kita untuk kembali?.

Setiap kita punya masalah, setiap kita menghadapi cobaan, yang menimbulkan rasa DUKACITA yang dalam, kita akan kembali pulang kerumah kita itu. Sehingga rasa dukacita kitapun berganti seketika itu juga dengan rasa SUKACITA. Adakah?.

Kalau ada, Objek pikir itu haruslah TIDAK BISA kita lihat dengan mata, kita dengar suaranya dengan telinga, kita rasakan dengan kulit, kita kecap dengan lidah, kita hirup dengan hidung kita. Objek itu tidak tidak bisa kita bayang-bayangkan, tidak bisa kita lamun-lamunkan, tidak bisa kita persepsikan dengan pikiran kita sendiri.

Artinya Objek itu pastilah GAIB, TERSEMBUNYI dari jangkauan Panca Indera kita (VAKOG). Masalahnya adalah, PERCAYAKAH kita terhadap KEBERADAAN sesuatu YANG GAIB itu.

Nah…, sesuatu yang gaib itu bukanlah IBLIS, SYETAN, JIN, ataupun MALAIKAT. Bukan…!. Karena mereka semua itu masih bisa digambarkan, paling tidak berdasarkan hadist-hadist atau cerita-cerita dari mulut kemulut yang pernah kita dengar. Bahkan Jin, Iblis, Syetan itu bisa kita ketahui keberadaannya dengan sedikit bermain-main dengan getaran-getaran seperti yang telah kita bahas diatas. Karena wujud mereka sebenarnya tidak jauh-jauh dari getaran-getaran saja. Getaran yang setara dengan getaran API yang sifatnya PANAS. Makanya Iblis hanya tahu tentang GETARAN TANAH yang ada pada diri ADAM ketika dia pertama kali dipertemukan Allah dengan Adam ketika masa-masa penciptaan Adam dulu. Iblis mengira bahwa getaran API lebih baik dari Getaran Tanah.

Sedangkan tentang Malaikat, Nabi Muhammad juga bisa menggambarkan bentuknya, misalnya Malaikat JIBRIL, ketika Nabi sudah berada dalam sebuah Kesadaran yang nanti akan kita sebut sebagai BERKESADARAN RUHANI. Ya…, Kesadaran RUHANI. Dimana Kesadaran RUHANI ini juga punya getaran yang bisa disebut sebagai Getaran RUHANI yang kualitasnya sangat jauh berbeda dengan kualitas Getaran Api ataupun Getaran TANAH. Sebab api dan tanah masih bisa saling berinteraksi dengan berbagai getaran ALAM lainnya seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Sedangkan AR-RUH hanya akan bisa saling berinteraksi dengan Malaikat melalui getaran RUHANI. Karena keduanya adalah wujud yang sangat patuh kepada Allah TANPA SYARAT. MIN AMRI RABBI…

Sedangkan kepada Getaran Alam, Getaran Tanah, Getaran Api, dan getaran-getaran Alam lainnya yang sebenarnya bukan tujuan kita untuk berada disitu, kita masih banyak yang tidak mempercayai keberadaannya. Walaupun kita sudah duduk berlama-lama disana. Buktinya sangat gampang kok. Ketika kita marah benci, sedih, takut, iri, dan sebagainya, getarannya itu sangat mirip dengan getaran Api yang dimiliki oleh Iblis. Panas membakar. Apalagi kalau kita berbicara tentang Getaran RUHANI. Akan semakin banyak saja kita yang tidak mempercayainya.

Padahal, kalau kita tidak percaya dengan adanya Getaran Ruhani, bagaimana kita akan bisa percaya dengan Sesuatu Yang GAIB. Sebab hanya dan hanya dengan menggunakan Getaran Ruhani inilah kita akan bisa mengenal Sesuatu Yang Gaib. Zat Yang Maha Gaib, Zat Yang Maha Tersembunyi.

Getaran Ruhani itu bisa kita rasakan hanya dan hanya ketika kita bisa menyadari bahwa diri kita ini sebenarnya adalah MIN-RUHI, AR-RUH milik Allah. Sama halnya dengan MALAIKAT. Yaitu ketika kita bisa menyadari dan memposisikan diri kita sebagai SEMURNI-MURNINYA RUH Milih ALLAH. Sehingga kitapun bisa merasakan betapa PATUH dan TUNDUKNYA AR RUH itu mengikuti AMR-AMR Allah.

AR-RUH itu juga BERGETAR. Getaran itu kita sebut sebagai saja GETARAN RUHANI, biar memudahkan kita dalam memahaminya. Di Ujung awal dari Getaran Ruhani itu pastilah ada sesuatu yang menggetarkan Ar-Ruh itu. Karena AR-RUH itu adalah Milik Allah, yang sangat patuh mengikuti Amr Allah, yang selalu patuh kemanapun Allah menggerakkannya, maka getaran AR-RUH itu pasti akan MENGARAH pula kepada ALLAH.

ALLAH Inilah Zat Yang Maha Gaib yang harus kita Imani kalau kita mau pulang kerumah kita yang sebenarnya. Karena kita ingin pulang KESISI ALLAH. Untuk meringkuk di dalam Pelukan Allah, di dalam LIPUTAN ALLAH.

Dengan mengikuti atau menumpang pada Getaran Ruhani, yang digerakkan sendiri oleh Allah, inilah kita akan bisa bertemu dengan-Nya ditempat persembunyian-Nya yang Sangat Tersembunyi. Kita akan diantarkan sendiri oleh Allah untuk mengenal Diri-Nya. Lalu satu-per satu Rahasia Kemahahebatan-Nya akan dibukakan-Nya buat kita. Sehingga kitapun benar-benar habis. Kita tidak bisa sedikitpun untuk mencoba mengaku-ngaku dihadapan-Nya. FANA. Karena Yang berhak mengaku-aku hanya Dia Sendiri.

Dan disinilah RUMAH kita yang sebenarnya. Disisi Allah. Rumah dimana kita tidak kuasa lagi mengaku-ngaku. Karena tidak mengaku, maka kita tidak dibebani lagi dengan tanggung jawab. Kita tidak akan dihantui lagi oleh berbagai rasa yang selama ini menakutkan kita. Yang ada saat itu hanyalah sebuah KESUKACITAAN yang sangat kuat. Karena semua yang terjadi pada diri kita ternyata sudah ditanggung oleh Allah sendiri.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku sukai, daripada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sunat-sunat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku menjadi Pendengaran untuk pendengarannya, Penglihatan untuk penglihatannya, Tangan untuk perbuatannya dan Kaki untuknya berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya, jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku lakukan, seperti kebimbangan-Ku terhadap jiwa [nafsi] hamba-Ku yang beriman yang tidak senang mati, sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadap-Nya [Hadits Bukhari – Muslim].

Dan kemanapun kita menghadap, itu kita bisa melihat bahwa semua yang tergelar dan peristiwa-peristiwa yang terjadi adalah sebagai bukti akan keberadaan Sang Perbendaharaan Tersembunyi, Sang Maha Gaib, yang sedang Mengenalkan Diri-nya kepada kita.

Kuntu kanzan makhfiyyan ahbabtu an ‘urifa fa khalaqtu khalqa li ‘urifa
Aku adalah Perbendaharaan Tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk-Ku, (dengan Allah lah) agar mereka mengenal Aku (Al Hadits)

Bersambung
Deka

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: