Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2013

8/8 Shalat – Duduk Tasyahud

Dalam sujud kedua tersebut, Allah dengan suka rela (ridha) menerima kita hingga mendudukkan kita dan mempersilahkan kita memasuki jama’ah hamba-hamba-Nya dan memasuki surga-Nya sebagaimana difirmankan dalam QS Al Fajr 89: 29 – 30 dan menjadi bacaan shalat dalam duduk tasyahud akhir,

“Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”

Mereka yang sudah bersedia kembali dengan suka cita, akan mendapatkan cinta Ilahi. Cinta Allah ini dinyatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan sebagai berikut,

“Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku sukai, daripada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sunat-sunat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengaran untuk pendengarannya, penglihatan untuk penglihatannya, tangan untuk perbuatannya dan kaki untuknya berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya, jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku lakukan, seperti kebimbangan-Ku terhadap jiwa [nafsi] hamba-Ku yang beriman yang tidak senang mati, sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadap-Nya.”

dan mendapatkan ucapan selamat dari Yang Maha Pengasih sebagaimana disebutkan dalam QS Yaasiin 36: 58,

“(kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang.”

Serta QS Ar Raad 13: 23 – 24,

“(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

Yaa Allah, jadikanlah hamba-hamba-Mu ini selalu mampu melaksanakan shalat dengan penuh kecintaan untuk memuja-Mu, merendahkan diri di hadapan-Mu dan mengembalikan diri kami kepada-Mu. Dan jadikanlah shalat hamba-Mu ini menjadi kesenangan tertinggi bagi hamba-Mu.

Selesai
Wassalam
Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

7/8 Shalat – Sujud Kedua..

Allah ridha kepada hamba-Nya yang ridha, sebagaimana disebut dalam Qur’an surat Al Fajr 89 ayat 28 di atas. Yang diridhai atau Al Mardhiyyah bermakna sudah tahu sama tahu. Yang diridhai sudah bisa memahami wahyu Allah. Digambarkan dalam Al Qur’an surat Asy Syuura 42: 52,

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepada ruhmu (ruhan min amrina) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

Memahami berarti berkomunikasi. Berkomunikasi berarti menggunakan bahasa yang sama. Bahasa yang dimaksud adalah sesuatu yang dalam diri, sebelum kita berkehendak. Inilah Sirr atau yang lebih dalam lagi disebut dengan akhfa. Dinyatakan dalam Al Qur’an surat Thaha 20: 7,

“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.”

Buktikanlah pemahaman ini dengan membangkitkan sirr atau akhfa kita, kemudian serahkan sirr atau akhfa yang kita bangkitkan kepada Allah. Niscaya kalau ada kesepahaman, maka akan semakin mantap. Sedangkan bilamana tidak ada kesepahaman, maka akan diganti dengan yang lebih baik.

Lama-kelamaan kita akan semakin mudah memahami perintah Allah yang berarti kita semakin mengenal ruhani kita, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Isra’ 17 ayat 85,

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu dari Tuhan-ku perintah (min amri Rabbiy), dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.”

Pada tahap ini tidak ada lagi upaya yang bisa kita lakukan, kecuali kepasrahan total untuk bersedia kembali kepada Allah. Terserah Allah, dan pada kenyataannya akan muncul sikap berprasangka baik kepada Allah bahwa Allah meridhai kita, maka tubuh kita pun disujudkan kepada-Nya, untuk kembali kepada-Nya.

Bersambung
Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

6/8 Shalat – Duduk Di Antara Dua Sujud

Allah menyukai yang sukarela / rela / ridha kepada–Nya sebagaimana disebut dalam Qur’an surat Al Fajr 89 ayat 28, “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha lagi diridhai-Nya.”

Yang ridha (ar radhiyyah) adalah yang rela dengan apa yang diterimanya dan meyakini bahwa semuanya datang dari Allah demi kesempurnaan atau kebaikannya. Pada posisi ini, sang diri sudah moksa, yang ada adalah yang ridha, sehingga tidak dipanggil dengan an nafs ar radhiyyah atau diri yang ridha, tapi ar radhiyyah atau yang ridha, karena sudah rela kembali.

Untuk bisa mencapai keadaan rela ini, kita harus bisa menarik pelajaran dari apa-apa yang digelar di alam semesta ini, termasuk memahami jati diri kita. Pemahaman ini adalah hadiah dari Allah, yaitu dengan dibukakan lubb (lubuk hati) dirinya. Imam Sayyidina Ali kw menasehatkan bahwa lubb adalah tempat terbitnya tauhid. Mereka-mereka yang lubb-nya sudah dibukakan Allah, disebut sebagai Ulul Albab, sebagaimana dinyatakan dalam QS Ali Imran 3: 190-191,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ulil Albab),

(yaitu) orang-orang yang mengingat (dzikr) Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan (tafakkur) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.””

Juga di ayat lain dijelaskan tentang mereka yang disebut sebagai Ulil Albab, namun dihubungkan dengan pemahaman Al Qur’an, yaitu dalam QS Ali Imran 3: 7,

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat. Itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal (Ulil Albab).”

Untuk mengetahui tentang lubb kita ini, marilah kita merenungkan perihal diri kita, yaitu sebagai makhluk yang disebut hidup. Hidup manusia, bilamana kita amati tidak sama dengan hidup tumbuhan, hidup binatang, bahkan hidup homo erektus. Hidup manusia memiliki kemampuan menarik kesimpulan (memahami) tanpa data awal. Contoh kita bisa memahami ini pedas, ini cinta, aku tahu dan lain-lain tanpa diajari oleh orang-orang lain. Dan ini bukan kemampuan otak. Meski kemampuan otak mampu mengembangkan peradaban, sebagaimana homo erektus digambarkan memiliki kecerdasan, walau tidak semaju manusia. Manusia mampu mengembangkan peradaban, selain kemampuan otak yang lebih maju dari homo erektus, juga adanya ‘sesuatu’yang mampu memahami tanpa data awal. ‘Sesuatu’ ini adalah lubb yang merupakan bagian dari ruhani, sebagaimana dikisahkan dalam Qur’an surat Al Baqarah 2 ayat 30 -34,

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Jadi yang ridha, yang bersinggasana di lubb (lubuk hatinya) adalah sang ruhani itu sendiri. Sehingga pantaslah oleh Imam Ali kw disebut sebagai tempat terbitnya keimanan. Inilah yang dalam pengajaran orang-orang terdahulu disebut sebagai sang dalang. Dan dalang inilah yang mampu memahami kehendak Sang Penanggap yang merupakan gambaran atas perintah Ilahi, yang tentunya dilaksanakan oleh manusia sebagai wayangnya dalam wujud perkembangan peradaban di dunia.

Yang ridha hanya bisa menunggu keridhaan Yang Dituju, hanya bisa menanti penerimaan Allah. Mereka yang mampu mencapai posisi ini, tentunya memiliki ciri senantiasa bahagia dan hanya berharap kepada Allah dan yakin akan penerimaan Allah kepadanya. Apapun yang mereka terima dari Allah, dinikmati dengan bahagia. Mereka rela serela-relanya dengan ampunan, rahmat, penutupan aib, pengangkatan derajad, rezeki, petunjuk, kesehatan, ataupun pemberian maaf dari Allah, karena fokus mereka hanyalah Allah sendiri, bukan hadiah dari Allah lagi.

Bersambung
Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

5/8 Shalat – Sujud

Dalam setiap aktifitas mewujudkan kehendak, pasti ada yang mengaku sebagai sang pelaku, yakni diriku (an nafs). Sang diri pasti sangat mencintai dirinya, sehingga bersedia mengorbankan apapun demi kepuasannya. Sang diri bersinggasana di rasa cinta yang dalam (syaghaf). Hal ini digambarkan dalam Al Qur’an dengan perumpamaan:

QS Yusuf 12: 30, “Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam (syagaf). Sesungguhnya Kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.””

Sang diri akan selalu berupaya menunjukkan eksistensinya atau keakuannya. Patah hati, kegagalan, kecewa adalah peringatan kepada diri agar tidak terjebak dalam keakuannya. Melalui kejadian-kejadian tersebut, sang diri akan menyerah hingga disaksikan akan keberadaan yang sejati, yaitu Sang Hidup, Sang Ada, Sang Sendiri, Satu, Ahad. Dinyatakan dalam Qur’an surat Az Zumar 39: 54, “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong.”

Kebersediaan untuk kembali dan berserah diri, menerima ketiadaannya akan mendorong sang diri menjadi tenang (muthmainah). Hal ini digambarkan dalam Qur’an surat Al Fajr 89: 27, “Hai diri (jiwa) yang tenang.”

Melalui pintu ketakutan atau pemahaman, sang diri akan terpaksa atau sukarela untuk kembali kepada Sang Ada (Al Wujud). Tanpa kita sadari rasa cinta yang dalam yang semula hanya ditujukan kepada keakuannya, akan berangsur-angsur bersedia menerima Allah sebagai Tuhannya. Tundukkan diri kita kepada-Nya dengan penuh rasa cinta serta kembalikan keberadaan wujud kita kepada-Nya, hingga tersujud dan memahami makna sujud tersebut, Subhana Rabbiy Al ‘Ala.

Dalam ketuma’nihahan sujud, akan muncul kerelaan dalam diri kita untuk menerima kenyataan hidup ini bahkan rela kembali kepada Allah, maka tubuh kita akan ditarik-Nya untuk duduk.

Semoga dengan selalu bersikap mengembalikan diri, maka sikap-sikap negatif angkuh, sombong, takabur, egois, dan lain-lain akan terkikis habis, diganti dengan hamba yang tenang, yang hanya mencintai (hubb) Allah.

Inilah awal kita menjadi wayang, yang dikatakan mati dalam hidup, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku sukai, daripada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sunat-sunat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku menjadi Pendengaran untuk pendengarannya, Penglihatan untuk penglihatannya, Tangan untuk perbuatannya dan Kaki untuknya berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya, jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku lakukan, seperti kebimbangan-Ku terhadap jiwa [nafsi] hamba-Ku yang beriman yang tidak senang mati, sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadap-Nya [Hadits Bukhari – Muslim].

Bersambung

Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

4/8 Shalat – I’tidal

Di atas kemampuan (qudrat) terdapat kehendak (iradat). Tanpa kehendak, jasmani dan kemampuan akan diam tak berguna. Melalui kehendak bebas manusia inilah, maka terjadilah perkembangan peradaban. Perkembangan peradaban diperuntukkan untuk mendapatkan kenikmatan lebih dari Allah. Kehendak ini muncul setelah kita mendapatkan informasi, ide (ilham), baik berupa kejahatan maupun kebaikan. Manusia-manusia yang tidak terjebak dalam kebenaran subyektif telah mampu mengelola ilham kejahatan dan kebaikan, untuk mendapatkan manfaat terbesar baginya. Sebagai contoh, kita seringkali malas melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki, hal ini akan mengilhami kita untuk menciptakan sarana transportasi, yang akan memudahkan kita bepergian, hingga berkembanglah teknologi transportasi. Mereka yang akunya duduk di al fu’ad dan bila terdorong oleh hawa nafsunya akan menjadi takut tidak kebagian, loba, tamak dan lain-lain. Padahal al fuad adalah suatu kemampuan melihat sesuatu yang lebih bermanfaat dibalik yang tampak oleh indra. QS An najm 53: 11-13,

“(Al Fuad) hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.

Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu pada waktu yang lain,

Kita diberi kemampuan untuk mengekspresikan diri untuk mendapatkan kenikmatan atau dalam rangka menjalankan tugas melalui berbagai media. Media yang bisa kita gunakan beragam, yang dengan itu kita disebut dengan sebutan an nafs al mulhamah atau an nafs as sufiyyah dalam QS Asy Syams 91: 7 – 10, “Dan diri (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada diri (jiwa) itu kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Gambarannya adalah seperti pedagang, pengusaha, pemimpin dan lain-lainnya yang berupaya untuk mendapatkan kesenangan / untung sebesar-besarnya. Akibatya adalah eksploitasi sumber daya alam dan manusia hanya demi yang namanya keuntungan tanpa mampu melihat dampak secara global. Dengan keuntungan tersebut manusia menjadi loba dan tamak, lupa kepada Allah, hingga dihadapkan dengan kebangkrutan, kehancuran dan lain-lain. Pada saat itulah, kita akan mulai memahami makna bersyukur dan mulai mengikuti tarikan ruhani, mulai mengingat Allah kembali. Bilamana mereka menyempurnakan dirinya, mereka akan terdorong untuk selalu mensyukuri nikmat tersebut, bukan sekedar menikmati. Mereka inilah yang dianggap beruntung, karena telah mensucikan dirinya.

Kita yang bersinggasana al fuad akan menyembah Tuhan semesta alam dengan berdiri i’tidal, dengan sikap bersyukur kepada Allah Al Hamid, Sami’a Allahu liman Hamidahu, Rabbana wa laka Al-Hamdu. Kembalikan diri kita sambil menyampaikan rasa syukur dengan kesungguhan untuk sampai kepada-Nya. Sikap-sikap negatif yang menyertai al fuad, seperti takut rugi, takut tak kebagian, loba, tamak, dan lain-lain diserahkan kepada Allah sampai tidak ada. Sang diri yang duduk di kehendaknya bersedia untuk kembali kepada Allah, hingga tubuh kita tersujud.

Insya Allah dengan mengembalikan diri dan al fuad kepada Allah, maka dorongan untuk mencari kesenangan diri, tidak toleran, takut rugi, takut kalah dan lain-lain akan dicabut Allah digantikan dengan sikap selalu bersyukur kepada Allah.

Bersambung
Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

3/8 Shalat – Ruku’

Pada proses pengembalian diri, informasi yang diperoleh dari kesadaran, akan diberi penilaian. Baik berupa penilaian benar-salah atau baik-buruk. Penilai inilah yang disebut dengan qalbu. Diberi istilah qalbu, karena penilaiannya akan selalu berubah tergantung dari informasi yang diterima dan kemampuan kita dalam melakukan analisa.

Pada zaman sekarang kita umumnya akan terjebak dalam penjara benar-salah atau baik-buruk ini. Penilaian adalah salah satu bentuk kemampuan yang kita miliki. Salah satu kemampuan yang paling diandalkan oleh manusia zaman ini adalah kemampuan akal-budinya yang berhubungan dengan otaknya. Otak yang disuplai darah oleh jantungnya. Yang dengan itu, otak menjadi hidup dan berfikir hingga mampu memberikan analisa kepada dirinya. Otak bernaluri untuk melakukan analisa benar salah – baik buruk.

Bagi kita yang tidak kuat dengan tarikan kemampuan ini, akan terjebak dalam kebiasaan bahkan meningkat menjadi reflek untuk menilai segala sesuatu dalam kacamata benar-salah atau baik-buruk. Inilah yang sekarang menjadi bidang keahlian yang menjadi trend, yaitu sebagai komentator. Yang paling berbahaya adalah kita berlagak menjadi hakim, yaitu menindak orang-orang yang memiliki pandangan berbeda. Kita membentuk kelompok-kelompok yang sependapat, lalu memvonis siapa saja yang berbeda.

Bilamana semakin terjerumus, kita akan semakin berlebihan dalam mengatas-namakan kebenaran. Kita secara tidak sadar mengakui dua Tuhan, yakni Tuhan yang benar dan setan yang sesat. Kita tidak sadar bahwa kita berada di jurang kemusyrikan atau kesesatan, karena adanya dua penguasa, yaitu Penguasa yang baik, yaitu Tuhan dan penguasa kejahatan, yaitu setan. Teguran inilah yang disampaikan dalam QS Al Mu’minuun 23: 52 – 54,

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka. Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.”

Bahkan kemurkaan Allah secara tegas dinyatakan dalam QS Ar Ruum 30: 30 – 32,

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

Selain berupa kemampuan melakukan penilaian, juga kita akan memahami bahwa tekad/kekuatan lah yang membuat sesuatu perwujudan tersebut ada. Inilah yang disebut dengan al qudrat, yaitu kekuatan diri kita untuk memastikan bahwa keinginan kita akan terwujud. Contohnya adalah biarkan tubuh ini loyo tak berdaya, apa yang akan terjadi, pasti sakit-sakitan. Demikian juga kalau kita tidak punya tekad untuk mewujudkan keinginan, niscaya juga tidak akan terwujud. Pun kalau terwujud, pastilah asal jadi.

Manusia yang dirinya duduk dalam kemampuan diri (qudrat) akan memiliki dorongan (hawa) meremehkan, mencela, tidak menghormati (An Nafs Al Lauwwamah). Sampai kemampuan mereka dicabut sehingga mereka menyesali dirinya, sebagaimana disebut dalam QS Al Qiyamah 75: 2, “Dan aku bersumpah dengan jiwa (diri) yang amat menyesali (dirinya sendiri).”

Permasalahan hidup yang dialami manusia akan memaksa manusia untuk kembali ingat kepada Allah, melalui munculnya kesadaran akan ketidak-mampuan dirinya. Sang diri yang menyadari ketidak-mampuannya akan menyembah kepada Tuhan semesta alam dengan ketundukan diri melalui sikap menghormati-Nya, maka tubuh akan tunduk dengan ruku’.

Berbeda dengan mereka yang mendustakan karena merasa memiliki kemampuan pribadi, sebagaimana QS Al Mursalatin 77: 47-48 menyebutkan, “Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Rukuklah”, niscaya mereka tidak mau ruku’.”

Melalui sikap menghormat dan menyadari bahwa kita sebenarnya tidak berkemampuan, maka akan mendorong kita berhenti dari sikap mencela, baik mencela orang lain maupun diri sendiri. Kita berkehendak menyerahkan diri kita beserta kemampuan kita kepada Allah dan tubuhpun akan tunduk ruku’, untuk menghormat kepada Allah, Yang kita sembah. Karena sesungguhnya, Allah sendiri lah Yang memiliki kekuasaan atau kemampuan tak terkalahkan, “Subhana Rabbiy Al ‘Azhim.”

Ruku’lah hingga tuma’ninah, dengan mengembalikan segala kemampuan (qudrat) diri hingga muncul rasa hormat kepada-Nya, maka akan muncul tarikan Ilahi agar kita bersyukur atas anugerah-Nya. Atau dengan kata lain kembalikan pengakuan diri yang terjebak dalam qudrat diri kita kembali kepada fitrahnya, yaitu Allah, Rabbul ‘alamin. Insya Allah, kebiasaan kita, mengomentari, mencela membenci bahkan ingin menyingkirkan yang berbeda dengan kita, secara bertahap akan menghilang berganti dengan semakin fokus kepada tujuan.

Bersambung

Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

2/8 Shalat – Berdiri

Umumnya diri manusia berada pada posisi ini, yakni dirinya adalah jasmaninya (shadr – dada). Dirinya berada di alam yang bisa diindrai, yaitu alam al mulk wa asy syahadah. Jasmani terdiri atas tubuh yang dilengkapi dengan organ seperti otak, jantung, kulit, mata, kemaluan, telinga, lidah, hidung dan lain-lain. Anasir yang menyusun tubuh ini adalah sama dengan anasir alam semesta, yang menurut Qur’an diwakili oleh unsur tanah. Perwujudan di alam ini bisa dikenal dengan menggunakan panca indra. Ini adalah posisi diri yang sadar yang bersifat informatif, namun belum memiliki penilaian.

Bersinggasana di posisi ini kita memiliki dorongan (hawa) atau reflek yang senantiasa bersemangat karena didorong oleh naluri / perintah / amar untuk dipuaskan. Pada tahapan ini, aktifitas kita didorong oleh semangat untuk mendapatkan kepuasan jasmaniah, seperti makan, minum, syahwat dan lain-lain. Intinya adalah adanya dorongan untuk mempertahankan kenikmatan hidup, berkembang biak dan mencari keselamatan diri atau dengan kata lain adanya dorongan emosi (ghadhab) dan dorongan ambisi (syahwat). Karena dorongan jasmani dalam mencapai kepuasan tanpa mengenal aturan dan moralitas, maka disebut dengan diri yang memerintahkan kepada kejahatan (An nafs al amarrah bi al-suu’).

QS Yusuf 12: 53, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan (an nafs al amarah bi al suu’),kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kita secara fitrah atau secara reflek akan mencintai dunia dan berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Sehingga dikatakan bahwa kita seperti binatang ternak bahkan lebih rendah daripada itu, yakni seperti golongan reptilia yang tidak memiliki kecerdasan emosi dan intelektualitas, tidak peduli apakah telurnya menetas ataukah anak-anaknya selamat atau tidak? Kesadaran kepada Tuhan baru akan muncul ketika mereka ini diambil kesenangannya sehingga mengalami frustasi dan ingat kepada Tuhannya karena membutuhkan pertolongan-Nya.

Sang diri yang terikat pada jasmani (shadr), bilamana mendapatkan pencerahan (cahaya Ilahi), kemudian muncul kesediaan untuk menyembah kepada Allah, Tuhan semesta alam, akan melakukan penyerahan diri dengan cara berdiri, untuk melawan dorongan fitrah tanah yang selalu ke bawah.

QS Al An’aam 6: 79, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama (sikap) yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Seringkali, kita ketakutan akan segala dosa dan kesalahan kita, sehingga timbul sangkaan bahwa Allah marah dan benci kepada kita. Ternyata sangkaan tersebut tidak benar berdasarkan hadits berikut:

Dari Anas Bin Malik ra, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman:

“Wahai anak Adam, sesungguhnya selama kamu berdoa dan mengharap kepadaKu, Aku memberi ampunan (maghfirah) kepadamu terhadap apa yang ada padamu dan Aku tidak mempedulikannya.

Wahai anak Adam, seandainya dosamu sampai ke langit, kemudian kamu minta ampun kepadaKu, maka Aku memberi ampunan (maghfirah) kepadamu dan Aku tidak mempedulikannya.

Wahai anak Adam sesungguhnya apabila kamu datang kepadaKu dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian kamu menjumpai Aku dengan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan (maghfirah) sepenuh bumi.”””

Dan juga hadits berikut:

Abu Hurairah ra berkata bahwa Nabi saw bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, “Aku menurut sangkaan [zhanniy] hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepada-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam dirinya [fi nafsihiy], maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku [fi nafsiy]. Jika ia ingat kepada-Ku dalam kelompok, maka Aku mengingatnya dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil.” [1]

Oleh karena itu, sambil berdiri, ingatlah kepada Tuhan dalam dirimu, sebagaimana disebutkan dalam QS Al A’raaf 7: 205, “dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”

Marilah kita lakukan meski kita mulai dari sekedar sangkaan (zhan) sedang bertemu Allah atau dilihat Allah, sebagaimana disampaikan dalam QS Al Baqarah 2: 45-46, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang menyangka, bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Bersikaplah berserah diri untuk hadir ke hadirat-Nya, tunduk kepada Yang Maha Besar (Allahu Akbar), sehingga seluruh tubuh kita menerima Allah sebagai Tuhan kita. Berserah dirilah kepada-Nya dengan menyebut nama-Nya (yaa Allah atau Yaa Rabb) dalam diri kita.

Lakukanlah dengan kesungguhan dan serahkan diri kita kembali kepada Allah, niscaya tubuh kita akan terangkat berdiri. Apa pun yang muncul, baik itu bosan, gatal, pikiran lari kesana kemari, serahkan kepada Allah dengan menyebut Allah … Allah … Allah. Insya Allah semuanya akan musnah dan yang ada hanyalah kesambungan dengan Allah. Bahkan dikisahkan dalam hadits, beberapa sahabat Nabi saw meminta dicabut panah yang menancap di tubuhnya ketika sedang shalat.

Untuk membuka kesambungan dengan Allah, kita perlu memutar kunci iftitah, agar pintu gapura Al Fatihah terbuka, hingga kita bisa melangkah menelusuri jalan lurus shiratal mustaqim. Telusurilah jalan lurus shiratal mustaqim menuju Allah dengan puja kita melalui bacaan Qur’an.

Teruslah mengembalikan diri, sampai muncul dorongan untuk merunduk, menghormat – ruku’.

Bersambung

Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: