Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2013

5/8 Shalat – Sujud

Dalam setiap aktifitas mewujudkan kehendak, pasti ada yang mengaku sebagai sang pelaku, yakni diriku (an nafs). Sang diri pasti sangat mencintai dirinya, sehingga bersedia mengorbankan apapun demi kepuasannya. Sang diri bersinggasana di rasa cinta yang dalam (syaghaf). Hal ini digambarkan dalam Al Qur’an dengan perumpamaan:

QS Yusuf 12: 30, “Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam (syagaf). Sesungguhnya Kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.””

Sang diri akan selalu berupaya menunjukkan eksistensinya atau keakuannya. Patah hati, kegagalan, kecewa adalah peringatan kepada diri agar tidak terjebak dalam keakuannya. Melalui kejadian-kejadian tersebut, sang diri akan menyerah hingga disaksikan akan keberadaan yang sejati, yaitu Sang Hidup, Sang Ada, Sang Sendiri, Satu, Ahad. Dinyatakan dalam Qur’an surat Az Zumar 39: 54, “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong.”

Kebersediaan untuk kembali dan berserah diri, menerima ketiadaannya akan mendorong sang diri menjadi tenang (muthmainah). Hal ini digambarkan dalam Qur’an surat Al Fajr 89: 27, “Hai diri (jiwa) yang tenang.”

Melalui pintu ketakutan atau pemahaman, sang diri akan terpaksa atau sukarela untuk kembali kepada Sang Ada (Al Wujud). Tanpa kita sadari rasa cinta yang dalam yang semula hanya ditujukan kepada keakuannya, akan berangsur-angsur bersedia menerima Allah sebagai Tuhannya. Tundukkan diri kita kepada-Nya dengan penuh rasa cinta serta kembalikan keberadaan wujud kita kepada-Nya, hingga tersujud dan memahami makna sujud tersebut, Subhana Rabbiy Al ‘Ala.

Dalam ketuma’nihahan sujud, akan muncul kerelaan dalam diri kita untuk menerima kenyataan hidup ini bahkan rela kembali kepada Allah, maka tubuh kita akan ditarik-Nya untuk duduk.

Semoga dengan selalu bersikap mengembalikan diri, maka sikap-sikap negatif angkuh, sombong, takabur, egois, dan lain-lain akan terkikis habis, diganti dengan hamba yang tenang, yang hanya mencintai (hubb) Allah.

Inilah awal kita menjadi wayang, yang dikatakan mati dalam hidup, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku sukai, daripada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sunat-sunat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku menjadi Pendengaran untuk pendengarannya, Penglihatan untuk penglihatannya, Tangan untuk perbuatannya dan Kaki untuknya berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya, jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku lakukan, seperti kebimbangan-Ku terhadap jiwa [nafsi] hamba-Ku yang beriman yang tidak senang mati, sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadap-Nya [Hadits Bukhari – Muslim].

Bersambung

Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

4/8 Shalat – I’tidal

Di atas kemampuan (qudrat) terdapat kehendak (iradat). Tanpa kehendak, jasmani dan kemampuan akan diam tak berguna. Melalui kehendak bebas manusia inilah, maka terjadilah perkembangan peradaban. Perkembangan peradaban diperuntukkan untuk mendapatkan kenikmatan lebih dari Allah. Kehendak ini muncul setelah kita mendapatkan informasi, ide (ilham), baik berupa kejahatan maupun kebaikan. Manusia-manusia yang tidak terjebak dalam kebenaran subyektif telah mampu mengelola ilham kejahatan dan kebaikan, untuk mendapatkan manfaat terbesar baginya. Sebagai contoh, kita seringkali malas melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki, hal ini akan mengilhami kita untuk menciptakan sarana transportasi, yang akan memudahkan kita bepergian, hingga berkembanglah teknologi transportasi. Mereka yang akunya duduk di al fu’ad dan bila terdorong oleh hawa nafsunya akan menjadi takut tidak kebagian, loba, tamak dan lain-lain. Padahal al fuad adalah suatu kemampuan melihat sesuatu yang lebih bermanfaat dibalik yang tampak oleh indra. QS An najm 53: 11-13,

“(Al Fuad) hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.

Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu pada waktu yang lain,

Kita diberi kemampuan untuk mengekspresikan diri untuk mendapatkan kenikmatan atau dalam rangka menjalankan tugas melalui berbagai media. Media yang bisa kita gunakan beragam, yang dengan itu kita disebut dengan sebutan an nafs al mulhamah atau an nafs as sufiyyah dalam QS Asy Syams 91: 7 – 10, “Dan diri (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada diri (jiwa) itu kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Gambarannya adalah seperti pedagang, pengusaha, pemimpin dan lain-lainnya yang berupaya untuk mendapatkan kesenangan / untung sebesar-besarnya. Akibatya adalah eksploitasi sumber daya alam dan manusia hanya demi yang namanya keuntungan tanpa mampu melihat dampak secara global. Dengan keuntungan tersebut manusia menjadi loba dan tamak, lupa kepada Allah, hingga dihadapkan dengan kebangkrutan, kehancuran dan lain-lain. Pada saat itulah, kita akan mulai memahami makna bersyukur dan mulai mengikuti tarikan ruhani, mulai mengingat Allah kembali. Bilamana mereka menyempurnakan dirinya, mereka akan terdorong untuk selalu mensyukuri nikmat tersebut, bukan sekedar menikmati. Mereka inilah yang dianggap beruntung, karena telah mensucikan dirinya.

Kita yang bersinggasana al fuad akan menyembah Tuhan semesta alam dengan berdiri i’tidal, dengan sikap bersyukur kepada Allah Al Hamid, Sami’a Allahu liman Hamidahu, Rabbana wa laka Al-Hamdu. Kembalikan diri kita sambil menyampaikan rasa syukur dengan kesungguhan untuk sampai kepada-Nya. Sikap-sikap negatif yang menyertai al fuad, seperti takut rugi, takut tak kebagian, loba, tamak, dan lain-lain diserahkan kepada Allah sampai tidak ada. Sang diri yang duduk di kehendaknya bersedia untuk kembali kepada Allah, hingga tubuh kita tersujud.

Insya Allah dengan mengembalikan diri dan al fuad kepada Allah, maka dorongan untuk mencari kesenangan diri, tidak toleran, takut rugi, takut kalah dan lain-lain akan dicabut Allah digantikan dengan sikap selalu bersyukur kepada Allah.

Bersambung
Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

3/8 Shalat – Ruku’

Pada proses pengembalian diri, informasi yang diperoleh dari kesadaran, akan diberi penilaian. Baik berupa penilaian benar-salah atau baik-buruk. Penilai inilah yang disebut dengan qalbu. Diberi istilah qalbu, karena penilaiannya akan selalu berubah tergantung dari informasi yang diterima dan kemampuan kita dalam melakukan analisa.

Pada zaman sekarang kita umumnya akan terjebak dalam penjara benar-salah atau baik-buruk ini. Penilaian adalah salah satu bentuk kemampuan yang kita miliki. Salah satu kemampuan yang paling diandalkan oleh manusia zaman ini adalah kemampuan akal-budinya yang berhubungan dengan otaknya. Otak yang disuplai darah oleh jantungnya. Yang dengan itu, otak menjadi hidup dan berfikir hingga mampu memberikan analisa kepada dirinya. Otak bernaluri untuk melakukan analisa benar salah – baik buruk.

Bagi kita yang tidak kuat dengan tarikan kemampuan ini, akan terjebak dalam kebiasaan bahkan meningkat menjadi reflek untuk menilai segala sesuatu dalam kacamata benar-salah atau baik-buruk. Inilah yang sekarang menjadi bidang keahlian yang menjadi trend, yaitu sebagai komentator. Yang paling berbahaya adalah kita berlagak menjadi hakim, yaitu menindak orang-orang yang memiliki pandangan berbeda. Kita membentuk kelompok-kelompok yang sependapat, lalu memvonis siapa saja yang berbeda.

Bilamana semakin terjerumus, kita akan semakin berlebihan dalam mengatas-namakan kebenaran. Kita secara tidak sadar mengakui dua Tuhan, yakni Tuhan yang benar dan setan yang sesat. Kita tidak sadar bahwa kita berada di jurang kemusyrikan atau kesesatan, karena adanya dua penguasa, yaitu Penguasa yang baik, yaitu Tuhan dan penguasa kejahatan, yaitu setan. Teguran inilah yang disampaikan dalam QS Al Mu’minuun 23: 52 – 54,

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka. Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.”

Bahkan kemurkaan Allah secara tegas dinyatakan dalam QS Ar Ruum 30: 30 – 32,

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

Selain berupa kemampuan melakukan penilaian, juga kita akan memahami bahwa tekad/kekuatan lah yang membuat sesuatu perwujudan tersebut ada. Inilah yang disebut dengan al qudrat, yaitu kekuatan diri kita untuk memastikan bahwa keinginan kita akan terwujud. Contohnya adalah biarkan tubuh ini loyo tak berdaya, apa yang akan terjadi, pasti sakit-sakitan. Demikian juga kalau kita tidak punya tekad untuk mewujudkan keinginan, niscaya juga tidak akan terwujud. Pun kalau terwujud, pastilah asal jadi.

Manusia yang dirinya duduk dalam kemampuan diri (qudrat) akan memiliki dorongan (hawa) meremehkan, mencela, tidak menghormati (An Nafs Al Lauwwamah). Sampai kemampuan mereka dicabut sehingga mereka menyesali dirinya, sebagaimana disebut dalam QS Al Qiyamah 75: 2, “Dan aku bersumpah dengan jiwa (diri) yang amat menyesali (dirinya sendiri).”

Permasalahan hidup yang dialami manusia akan memaksa manusia untuk kembali ingat kepada Allah, melalui munculnya kesadaran akan ketidak-mampuan dirinya. Sang diri yang menyadari ketidak-mampuannya akan menyembah kepada Tuhan semesta alam dengan ketundukan diri melalui sikap menghormati-Nya, maka tubuh akan tunduk dengan ruku’.

Berbeda dengan mereka yang mendustakan karena merasa memiliki kemampuan pribadi, sebagaimana QS Al Mursalatin 77: 47-48 menyebutkan, “Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Rukuklah”, niscaya mereka tidak mau ruku’.”

Melalui sikap menghormat dan menyadari bahwa kita sebenarnya tidak berkemampuan, maka akan mendorong kita berhenti dari sikap mencela, baik mencela orang lain maupun diri sendiri. Kita berkehendak menyerahkan diri kita beserta kemampuan kita kepada Allah dan tubuhpun akan tunduk ruku’, untuk menghormat kepada Allah, Yang kita sembah. Karena sesungguhnya, Allah sendiri lah Yang memiliki kekuasaan atau kemampuan tak terkalahkan, “Subhana Rabbiy Al ‘Azhim.”

Ruku’lah hingga tuma’ninah, dengan mengembalikan segala kemampuan (qudrat) diri hingga muncul rasa hormat kepada-Nya, maka akan muncul tarikan Ilahi agar kita bersyukur atas anugerah-Nya. Atau dengan kata lain kembalikan pengakuan diri yang terjebak dalam qudrat diri kita kembali kepada fitrahnya, yaitu Allah, Rabbul ‘alamin. Insya Allah, kebiasaan kita, mengomentari, mencela membenci bahkan ingin menyingkirkan yang berbeda dengan kita, secara bertahap akan menghilang berganti dengan semakin fokus kepada tujuan.

Bersambung

Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

2/8 Shalat – Berdiri

Umumnya diri manusia berada pada posisi ini, yakni dirinya adalah jasmaninya (shadr – dada). Dirinya berada di alam yang bisa diindrai, yaitu alam al mulk wa asy syahadah. Jasmani terdiri atas tubuh yang dilengkapi dengan organ seperti otak, jantung, kulit, mata, kemaluan, telinga, lidah, hidung dan lain-lain. Anasir yang menyusun tubuh ini adalah sama dengan anasir alam semesta, yang menurut Qur’an diwakili oleh unsur tanah. Perwujudan di alam ini bisa dikenal dengan menggunakan panca indra. Ini adalah posisi diri yang sadar yang bersifat informatif, namun belum memiliki penilaian.

Bersinggasana di posisi ini kita memiliki dorongan (hawa) atau reflek yang senantiasa bersemangat karena didorong oleh naluri / perintah / amar untuk dipuaskan. Pada tahapan ini, aktifitas kita didorong oleh semangat untuk mendapatkan kepuasan jasmaniah, seperti makan, minum, syahwat dan lain-lain. Intinya adalah adanya dorongan untuk mempertahankan kenikmatan hidup, berkembang biak dan mencari keselamatan diri atau dengan kata lain adanya dorongan emosi (ghadhab) dan dorongan ambisi (syahwat). Karena dorongan jasmani dalam mencapai kepuasan tanpa mengenal aturan dan moralitas, maka disebut dengan diri yang memerintahkan kepada kejahatan (An nafs al amarrah bi al-suu’).

QS Yusuf 12: 53, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan (an nafs al amarah bi al suu’),kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kita secara fitrah atau secara reflek akan mencintai dunia dan berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Sehingga dikatakan bahwa kita seperti binatang ternak bahkan lebih rendah daripada itu, yakni seperti golongan reptilia yang tidak memiliki kecerdasan emosi dan intelektualitas, tidak peduli apakah telurnya menetas ataukah anak-anaknya selamat atau tidak? Kesadaran kepada Tuhan baru akan muncul ketika mereka ini diambil kesenangannya sehingga mengalami frustasi dan ingat kepada Tuhannya karena membutuhkan pertolongan-Nya.

Sang diri yang terikat pada jasmani (shadr), bilamana mendapatkan pencerahan (cahaya Ilahi), kemudian muncul kesediaan untuk menyembah kepada Allah, Tuhan semesta alam, akan melakukan penyerahan diri dengan cara berdiri, untuk melawan dorongan fitrah tanah yang selalu ke bawah.

QS Al An’aam 6: 79, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama (sikap) yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Seringkali, kita ketakutan akan segala dosa dan kesalahan kita, sehingga timbul sangkaan bahwa Allah marah dan benci kepada kita. Ternyata sangkaan tersebut tidak benar berdasarkan hadits berikut:

Dari Anas Bin Malik ra, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman:

“Wahai anak Adam, sesungguhnya selama kamu berdoa dan mengharap kepadaKu, Aku memberi ampunan (maghfirah) kepadamu terhadap apa yang ada padamu dan Aku tidak mempedulikannya.

Wahai anak Adam, seandainya dosamu sampai ke langit, kemudian kamu minta ampun kepadaKu, maka Aku memberi ampunan (maghfirah) kepadamu dan Aku tidak mempedulikannya.

Wahai anak Adam sesungguhnya apabila kamu datang kepadaKu dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian kamu menjumpai Aku dengan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan (maghfirah) sepenuh bumi.”””

Dan juga hadits berikut:

Abu Hurairah ra berkata bahwa Nabi saw bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, “Aku menurut sangkaan [zhanniy] hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepada-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam dirinya [fi nafsihiy], maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku [fi nafsiy]. Jika ia ingat kepada-Ku dalam kelompok, maka Aku mengingatnya dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil.” [1]

Oleh karena itu, sambil berdiri, ingatlah kepada Tuhan dalam dirimu, sebagaimana disebutkan dalam QS Al A’raaf 7: 205, “dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”

Marilah kita lakukan meski kita mulai dari sekedar sangkaan (zhan) sedang bertemu Allah atau dilihat Allah, sebagaimana disampaikan dalam QS Al Baqarah 2: 45-46, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang menyangka, bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Bersikaplah berserah diri untuk hadir ke hadirat-Nya, tunduk kepada Yang Maha Besar (Allahu Akbar), sehingga seluruh tubuh kita menerima Allah sebagai Tuhan kita. Berserah dirilah kepada-Nya dengan menyebut nama-Nya (yaa Allah atau Yaa Rabb) dalam diri kita.

Lakukanlah dengan kesungguhan dan serahkan diri kita kembali kepada Allah, niscaya tubuh kita akan terangkat berdiri. Apa pun yang muncul, baik itu bosan, gatal, pikiran lari kesana kemari, serahkan kepada Allah dengan menyebut Allah … Allah … Allah. Insya Allah semuanya akan musnah dan yang ada hanyalah kesambungan dengan Allah. Bahkan dikisahkan dalam hadits, beberapa sahabat Nabi saw meminta dicabut panah yang menancap di tubuhnya ketika sedang shalat.

Untuk membuka kesambungan dengan Allah, kita perlu memutar kunci iftitah, agar pintu gapura Al Fatihah terbuka, hingga kita bisa melangkah menelusuri jalan lurus shiratal mustaqim. Telusurilah jalan lurus shiratal mustaqim menuju Allah dengan puja kita melalui bacaan Qur’an.

Teruslah mengembalikan diri, sampai muncul dorongan untuk merunduk, menghormat – ruku’.

Bersambung

Deka on Behalf of HCS

Read Full Post »

1/8 Shalat Khusyu’

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

QS Thaha 20: 14.

Seseorang bertanya tentang apa tujuan shalat?

Jawabannya adalah sesuai ayat di atas, yaitu untuk mengingat Allah.

Lalu dia berkata, “Kalau tujuan shalat adalah mengingat Allah, untuk apa harus melakukan berdiri ruku’, sujud, duduk dalam shalat? Bukankah kita bisa mengingat Allah sambil duduk, sambil tiduran, dan lain-lain.”

“Betul juga sih pernyataan anda, tapi bolehkah saya bertanya, untuk apa kita berjuang mendapatkan gelar? Untuk apa kita bersusah payah meniti karir? Untuk apa kita berpeluh keringat berlatih?”

Beliau menjawab, “Ya untuk mendapatkan kemuliaan.”

“Nah, kalau begitu manusia akan menjadi mulia, terhormat, terpuji adalah akibat dari perjuangannya, betulkah?

Dan bapak itu mengangguk.

Oleh karena itu lah saya menjalankan shalat untuk menyembah Allah, Tuhan semesta alam dengan cara yang nampaknya tersulit, tetapi paling mulia. Meski sebenarnya itu mengikuti fitrah manusia. Mudah-mudahan dengan dialog tersebut orang-orang yang mengaku berTuhan, mau menjalankan shalat.

Memang menjalankan shalat khusyu’ itu tidak mudah. Gerakan tubuh pada waktu shalat akan membuat perubahan pada sistem peredaran darah ke otak. Keadaan ini akan membuat kita menjadi sangat sulit untuk mengingat Allah. Belum lagi gangguan dari luar, seperti gigitan nyamuk, angin, dingin, suara-suara, dan lain sebagainya. Apalagi kalau shalat kita merupakan shalat untuk sekedar memenuhi kewajiban.

Alhamdulillah, Allah melalui Rasulullah saw menjelaskan kepada kita, bagaimana mendirikan shalat itu. Dalam Haditsnya, Rasulullah saw menyampaikan, “Sesungguhnya Shalat itu adalah:

 Ketetapan Hati / Tamaskun,

 Ketundukan Diri / Tawadlu’,

 Kerendahan Hati / Tadlarru’,

 Ratapan Batin / Ta-assafu,

 Penyesalan Diri / Nadamu dan

 Engkau Rendahkan Dirimu / Tadla’u Yadayka,

Seraya berucap, “Allahumma…, Allahumma…, Allahumma…,”Barang siapa yang tidak berbuat demikian, maka shalatnya tidak sempurna.” Hadits ini memberikan pemahaman bahwa dalam shalat, diri kita harus selalu menjaga komunikasi dengan Allah dengan bersikap menyerahkan diri. Proses penyerahan diri ini harus sampai betul-betul diserahkan, dan ini nampaknya bertingkat-tingkat sebagaimana hadits berikut:

“Banaytu fi jawfi bni Adama qashran, wa fi al qashri shadran, wa fi al shadri qalban, wa fi al qalbi fu’adan, wa fi al fu’adi syaghafan, wa fi syaghafan lubban, wa fi al lubbi sirran, wa fi al sirri ana.”

Yang artinya:

Aku bangun dalam tubuh Bani Adam itu istana / qashr dan dalam qashr ada shadr / dada, dalam shadr / dada ada qalbu / hati / jantung, dalam qalbu ada fu’ad / kesadaran, dalam fu’ad ada syaghaf / rasa yang dalam, dalam syaghaf ada lubb / lubuk hati, dalam lubb ada sirr / rahasia / sebelum adanya kehendak, dalam sirr ada Aku.

Jadi shalat adalah perjalanan penyerahan diri (aku) kembali kepada Allah. Bilamana pengembalian diri ini kita sempurnakan, pastilah ayat Qur’an di bawah ini akan terbukti:

QS 29: 45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Jadi shalat itu sebenarnya sangat sederhana, yaitu lakukan dengan sikap menyerahkan diri sampai betul-betul diterima Allah. Namun kita lebih suka sesuatu yang lebih berkelas dan lebih rumit, sehingga esensinya akan tertutup, mungkin penjelasan berikut akan menjelaskan:

Bersambung

Deka on behalf of HCS

Read Full Post »

PROSES BERIMAN ITU MUDAH.

Proses untuk menjadi beriman itu sebenarnya mudah saja.

1. Pertama, semua “wajah-wajah” berhala harus telah kita singkirkan dari hadapan wajah kita. Sebagian dari berhala-berhala itu sudah kita bahas diatas sebelumnya. Yang boleh ada hanya Satu Wajah saja, Wajah yang tidak bisa kita singkirkan lagi, yaitu Wajah Sang Pencipta langit dan bumi. Dengan begitu, kita artinya telah masuk kedalam suasana nyata dari kalimat: laa ilaha illallah…

Langkah pertama inilah yang sering jadi permasalah utama atas kegagalan kita dalam beriman kepada Allah. Langkah pertama inilah yang harusnya sampai tuntas, sampai ntek…!.

Untuk menjadi tuntas itu sebenarnya tidaklah sulit. Mudah sekali sebenarnya. Contoh kemudahnnya adalah seperti yang disampaikan oleh salah seorang peserta “uzlah 3 hari di Shalat Center Bandung, tanggal 29-31 Maret 20013”, saya juga ikut hadir disana. Pesan ini dikirim oleh adik saya Yus Ansari, yang menjadi Intruktur selama 3 hari itu:

“Pak Yus, saya haturkan banyak terimakasih ….Alhamdulillah, setelah dibimbing untuk menyadari dan meyakini bahwa Allah itu ada …. waktu itu setelah pak Yus menjelaskan Bab Kemana Kita Menghadap, saya mendapatkan suasana/ keadaan bahwa yang Maha itu benar2 ada dan terasa, suasana itu ada munculnya mulai jam 15.30… dimana waktu saya coba keluar ruangan saya lihat Gunung, saya lihat sawah, dan kembali ketempat waktu pagi harinya melihat pohon… Nyata sekali ada Dia sang Maha Penggerak…. Alhamdulillah !! Saya dapatkan ” suasananya”, dan dpt merasakannya sampai saat ini…. Mohon do’anya agar Allah selalu sayang kepada saya….. Nuhun

Alhamdulillahi Allahuakbar, Pak XYZ, keadaan yang Pak XYZ rasakan adalah peristiwa diruntuhkannya dinding hijab seorang Hamba dengan Allah oleh Allah Sendiri sebagai Sang Pembuka Hijab . Ini disebut dengan Mukhasyafah. Dimana Pak XYZ melihat dengan sadar dan benar akan adanya Allah (Ru’yah satiiqa). Disini sebenarnya baru perjalanan Rohani dengan Allah di mulai. Disinilah kekhusyu’an akan semakin nyata.. Lakukan selalu penjagaan kondisi zikir ini setiap saat. Sediakan waktu untuk duduk diam dalam keadaan zikir hingga bisa melihat bagaimana Allah menguatkan keadaan zikir tersebut, sehingga iman pun akan terus teperbaharui.. selamat melakukan perjalanan bersama Allah ( Program Uzlah Lanjutan ).”

Jadi untuk melanjutkan ke langkah kedua, memang harus mukasyyafah dulu dengan Allah. Dalam istilah saya dalam buku MRS adalah “INI”. Setelah itu…

2. Wajah kita lalu kita hadapkan kepada Wajah Dia yang telah tersingkap. Wajah Yang menciptakan langit dan bumi itu. Wajah Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu. Wajah kita bertemu Wajah-Nya. “Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamaawaati wal ardhi”.

3. Baru wajah bertemu Wajah saja, sebenarnya sudah ada rasanya. DERR…!. Rasanya seperti KITA bertemu kembali dengan Wajah yang dulu pernah kita ketahui dan kita kenal dengan sangat baik, tapi Wajah itu telah kita lupakan untuk sekian puluh tahun lamanya. Lama sekali.

Saat itu, bahagia sekali rasanya. Rasa bahagia itu diturunkan seperti turunnya hujan kedalam dada kita. Kerinduan yang terlepaskan itu seperti ikut pula mengajak beberapa butir air mata kita untuk berebutan keluar dari sudut-sudut mata kita untuk menyaksikan pertemuan kita itu.

Dari dalam dada kita, seperti ada sebuah daya yang sangat kuat, yang siap mendorong ujung lidah dan pita suara kita untuk bergetar dan menyebutkan sebuah nama. Nama itupun seperti sudah lama sekali kita kenal. Nama yang juga selalu disebut-sebut oleh langit, oleh burung-burung saat pagi maupun petang hari, oleh para malaikat. Nama itu, dulu, begitu cairnya keluar dari mulut Rasulullah Muhammad SAW.

Daya itu kemudian pecah membentuk sebuah kata yang sangat Agung. Allah…!. Lidah kita bergetar, pita suara kita bergetar, setiap sel tubuh kita bergetar, bulu-bulu di tubuh kita merinding, air mata kita berhamburan. Semuanya seperti seirama dengan setiap penghuni langit dan bumi untuk menyebutkan sebuah Nama Yang Sangat Agung itu. Ya… Allah…, Allah…, Allah…!.

Walaupun kadangkala ucapan kita itu hanya lirih saja, Allaahhhh…, tapi vibrasinya seperti dapat menembus setiap sudut paling kecil sel-sel tubuh kita, menembus relung hati kita yang paling dalam, menembus cakrawala arasy yang tak berujung.

DERR…, sejak itu mulailah proses Allah mengajari kita tentang berbagai seluk beluk Iman kepada-Nya. Kadangkala Allah membuat kita disanjung, dihormati, disegani, ditakuti, dimulyakan oleh orang-orang yang ada disekitar kita. Tapi kadangkala kita juga dibuat-Nya jatuh, terhina, direndahkan, dianiaya oleh orang lain, bahkan oleh orang yang paling dekat dengan kita.

Akan tetapi, selama kita tidak pernah berpaling dari Wajah-Nya, kita akan diperkenalkan-Nya satu persatu jalan keluar dari segala permasalahan kita. Kita diperkenalkan-Nya pula tentang Iman, tentang khusyu, tentang sabar, tentang ikhlas, tentang taqwa, tentang bahagia, tentang tenang tentang kuat, tentang hebat, tentang sehat, tentang cerdas, tentang tahu,…, tentang 99 kehebatan-Nya seperti yang tergambar dari 99 Nama-Nya yang Sangat Agung.

4. Kita dipindahkan-Nya dari satu keadaan ke keadaan lain dengan cara yang sangat menakjubkan. Kita diperjalankan-Nya, kita direngkuh-Nya, kita dituntun-Nya, kita ditarik-Nya dengan sangat lembut untuk bisa keluar dari sebuah keadaan untuk masuk ke keadaan yang berikutnya. Proses kita diperjalankan-Nya itu mirip sekali seperti kita menarik seutas benang dari setumpukan tepung terigu. Benangnya bergerak, tapi tepungnya diam tidak bergoyang dan tidak berantakan sedikitpun. Ya…, Ada yang diam, dan ada yang diperjalankan….

Wassalam, Deka
Cuplikan artikel “Yang Berjalan Dan Yang Kembali”

Read Full Post »

Bersedia Menerima Allah Sebagai Tuhan dan Pendidik kita…

Bagian berikut ini hanya akan berguna bagi orang-orang yang telah bersedia menerima dan menjadikan Allah sebagai Tuhan dan Pendidiknya. Karena memang disinilah kunci yang kita bicarakan diatas bisa kita temukan. Allah yang kita bicarakan pun adalah ALLAH yang dijadikan Illah atau Tuhan oleh Nabi Muhammad SAW, oleh Nabi Isa, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Idris, Nabi Nuh, dan Nabi-Nabi lain yang namanya tertera didalam Al Qur’an dan Al Hadist.

Bukan Tuhan seperti yang dipertuhankan oleh orang-orang musyrik dan munafik di zaman Rasulullah dulu saat Beliau menyampaikan Risalah Islam. Sebab al Qur’an sendiri menyatakan bahwa Rasulullah saat itu berhadapan dengan orang-orang yang kalau ditanya tentang siapa Tuhan mereka, jawaban mereka persis sama dengan jawaban kita sekarang. Bahwa Tuhan mereka adalah Allah. Akan tetapi anehnya mereka masih menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan mereka. Ketika mereka ditanya oleh Nabi, kenapa mereka masih menyembah berhala kalau mereka percaya bahwa Tuhan mereka adalah Allah, jawaban mereka adalah jawaban ngeles berikut ini: “Kami tidak menyembah mereka tetapi kami hanya menjadikan berhala-berhala itu sebagai sarana kami mendekatkan hati kami kepada Allah”.

Lalu…

Bagaimana teknik dan prosesnya menerima Allah sebagai Tuhan dan sebagai Maha Pendidik kita?.

Apa yang disebut dengan berhala dan apa pula pengaruh berhala-berhala itu terhadap perjalanan rohani kita?.

Bagaimana cara kita mendekat dan kembali kepada Allah, dan apa yang mendekat dan kembali kepada Allah itu?.

Bagaimana membedakan getaran iman yang datang dari Allah dengan getaran hawa nafsu dan getaran pikiran kita serta getaran-getaran alam lainnya yang memenuhi alam semesta ini, termasuk getaran-getaran yang berasal dari jin, iblis dan syaitan ?. Semuanya akan jelas kalau kita tahu alat pembedanya. Furqan…

Topik-topik ini, kalau Allah mengizinkan, insyaallah akan kita sambung dalam artikel berikutnya; “YANG BERJALAN DAN YANG KEMBALI…”, dimana artikel ini nantinya akan bercerita banyak tentang bagaimana seluk beluk menyalakan tombol kehidupan kita sebagai Khalifatullah, Wali Allah, sehingga kitapun bisa menjalankan fungsi keberadaan kita di muka bumi ini sesuai dengan design semula jadi dari Allah.

Akan tetapi kalau Allah belum mengizinkan untuk itu, maka artikel ini akan berhenti hanya sampai di serial artikel “Menyalakan Tombol Kehidupan” ini.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

Wallahu a’lam.

Selesai…
Deka…
Cilegon, 02 April 2013
Jln Santani no 31

Read Full Post »

Menemukan Jalan Kembali…

Untuk menemukan jalan kembali ini langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah menjawab sebuah pertanyaan sederhana berikut ini: “apakah kita yakin bahwa Allah memang mengirim kita ke dunia ini hanya untuk menjalani hidup kita seperti yang kita jalani sekarang ini?”.

Kalau jawaban kita ya, maka selesai sudah. Kita akan tetap berada pada jalan hidup kita seperti yang sedang kita lalui sekarang ini. Artinya kita akan tetap menjadi hamba hawa nafsu kita sampai pada saat yang telah ditentukan Allah buat kita. Mati.

Akan tetapi kalau jawaban kita tidak, maka masih ada secercah harapan yang tengah membayang didepan kita. Harapan untuk kita bisa kembali menjadi Khalifatullah, Hamba Allah, Wali Allah dizaman kita sekarang ini.

Dan…, harapan itu akan segera berubah menjadi kenyataan ketika kita bersedia untuk menjadikan pokok-pokok Al Qur’an dan Al Hadist sebagai peta kita dalam berjalan melewati jalan lurus yang terbentang lebar didepan kita. Disamping mengikuti peta itu, yang paling penting malah, kita bersedia pula untuk menjadikan Allah sebagai Sang Maha Penuntun kita selama dalam perjalanan kita.

Ya…, menjadikan Allah sebagai Sang Maha Penuntun, Maha Mengajari, Maha Mendidik kita. Ini yang paling penting. Karena tidak ada Penuntun yang lain, tidak ada Mursyid yang lain, tidak ada Murabbi yang lain kecuali hanya Allah. Karena memang hanya Allah lah yang bisa bertindak sebagai “WALIYYAN MURSYIDA”. Bukan manusia seperti yang dianggap oleh kebanyakan manusia selama ini.

Maka nikmat dan sukacita yang seperti apa lagikah yang ingin kita cari, sehingga kita berani-beraninya melupakan nikmat dan sukacita Bertuhankan Allah, dan berpetakan pokok-pokok Al Qur’an dan Al Hadist?.

Al Qur’an akan bercerita banyak kepada kita tentang Allah dan Nabi-Nabinya. Al Qur’an juga bercerita tentang Allah yang Maha Mendidik (Murabbi) terhadap semua makhluk-Nya. Sedangkan Al Hadist akan bercerita banyak tentang bagaimana Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabat Beliau bersikap dihadapan Allah sebagai “murid” yang bersedia untuk dituntun dan dididik oleh Allah selama hidup Beliau. Terus terang…, sikap seperti inilah sebenarnya yang perlu kita contoh dari Beliau dan dari para sahabat Beliau. Bukan mencontoh Beliau-Beliau secara artificial seperti yang kita pikirkan dan lakukan selama ini.

Untuk membuktikan bahwa cara-cara kita dalam beragama dan bersikap terhadap Allah, seperti yang kita tunjukkan sekarang ini adalah cara yang artificial, sebenarnya mudah saja. Jawablah pertanyaan berikut: “kalaulah benar sikap Rasulullah dan sahabat-sahabat Beliau sama dengan sikap yang kita perlihatkan sekarang ini, mungkinkah islam akan berkembang sedemikian pesatnya seperti yang telah terjadi selama ini?”. Saya yakin, tentu tidak …

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Menemukan Anak Kunci Yang Hilang

Dari sekian banyak galau yang tak terjawab sebelumnya, tentang banyak hal, tentang banyak tanya kenapa, tentang begitu sulitnya kita untuk konsisten dalam berbuat baik, maka setitik cahaya terang sebenarnya sudah mulai membayang dihadapan mata kita. Bahwa tanpa kita kembali menyadari titik awal kenapa Allah menciptakan kita untuk hidup dimuka bumi ini, kita tidak akan pernah bisa untuk mengubah keadaan kita menjadi manusia seperti yang diinginkan oleh Allah. Bahwa Allah sengaja menciptakan kita untuk menjadi Khalifatullah, Wali Allah, Hamba Allah yang bertugas untuk menebarkan rahmat Allah bagi semesta alam. Tugas yang dibangga-banggakan sendiri oleh Allah kepada para Malaikat dan Iblis.

Dan agar kita bisa hidup di dunia ini sebagaimana mestinya, maka satu-satunya cara adalah dengan kita kembali bersedia untuk menjadi Khalifatullah, Wali Allah, Hamba Allah. Titik.

Yaitu pribadi yang hatinya dipenuhi oleh Allah, sehingga dia selalu akan menggadang-gadangkan Allah, pembicaraannya adalah segala sesuatu tentang Allah, kehebatan yang dia bicarakan adalah kehebatan Allah, yang dia takuti hanyalah Allah, tempat memintanya adalah kepada Allah, tempat bersandarnya adalah kepada Allah, tempat bergantungnya adalah kepada Allah, tempat larinya adalah kepada Allah, bentengnya adalah Allah. Apa-apa Allah…, Allah…, Allah…

Setiap saat wajahnya menghadap ke Wajah Allah dengan teguh. Kokoh… Saat itu keadaannya benar-benar sudah jadi cerminan dari kalimat: Laa Ilaaha illa Allah… Nyata…

Saat dia dihadapkan kepada berbagai kesulitan hidup, dia segera memperteguh aktivitas menghadapkan wajahnya ke Wajah Allah, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, DERR…!. Diapun kemudian dikeluarkan oleh Allah dari segala permasalahannya itu seperti sehelai benang ditarik keluar dari dalam sekarung tepung. Benang itu keluarnya sangat halus sekali. Tepungnya tidak sampai berhamburan dan berserakan. Sang benang hanya ditarik dengan lembut. Dia effortless. Dia dikeluarkan dan dibebaskan oleh Allah dari berbagai kesulitan hidupnya itu dengan cara yang sangat berkualitas. Walaupun masalahnya tetap ada, tapi dia telah berada diluar dari masalahnya itu. Dia kemudian tinggal melihat dengan sangat takjub bagaimana cara Allah menyelesaikan masalahnya itu. Tangannya hanya tinggal menjadi penyambung tangan Allah dalam menyelesaikan segala masalahnya itu. Ternyata masalahnya itu hanyalah sebuah cara Allah untuk meningkatkan kualitas keimanannya kepada Allah.

Begitu juga ketika dia diberikan oleh Allah berbagai kenikmatan hidup, diapun segera memperkuat aktivitas menghadapkan wajahnya ke Wajah Allah, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, DERR…!. Allahpun kemudian mencelupnya dengan Cahaya-Nya. Allah menambah nikmat itu sampai ketingkat yang lebih dari nikmat-nikmat yang sebelumnya. Dia seperti dicelup dengan rasa sukacita yang amat sangat, sehingga diapun tinggal melaksanakan segala aktivitasnya ditengah-tengah rasa suka cita itu.

Pada suatu saat DERR…, ketika dia berkata-kata, dia tidak lebih hanyalah sebagai penyambung Lidah Allah. Ketika dia bekerja, dia tidak lebih hanyalah sebagai penyambung Tangan Allah. Saat dia berjalan, dia semata-mata hanyalah sebagai penyambung Kaki Allah. Sungguh menggetarkn sekali. Soekarno saja begitu bangga dan bersemangatnya ketika dia berkata bahwa dia adalah penyambung lidah rakyat Indonesia.

Setelah dia selesai melakukan suatu tugas, dia datang kembali menghadapkan wajahnya ke Wajah Allah untuk melaporkan kebaikan-kebaikan yang telah dia lakukan untuk orang lain, untuk lingkungannya, untuk alam semesta. Sehingga Allah pun kemudian akan memberinya kesibukan-kesibukan baru yang lain. Dia kembali menebarkan berbagai Rahmat Allah untuk alam semesta seperti tak henti-hentinya. Dia akan menjadi orang yang sangat sibuk, tapi sibuknya adalah untuk Allah…

Diapun tahu kapan Allah memperbolehkan dia untuk melakukan sesuatu dan kapan pula Allah melarangnya. Karena antara dia dengan Allah selalu terjadi komunikasi dua arah, komunikasi timbal balik. Bahkan kalau dia menginginkan sesuatu, dia tidak akan berani meminta dan berdoa kalau Allah belum mengizinkannya untuk meminta dan berdo’a tentang sesuatu itu.

Akan tetapi ketika Allah sendiri yang berkenan untuk memberikan sesuatu kepadanya, Allah akan memanggilnya: ”wahai fulan…, berdoalah, mintalah, Aku punya sesuatu yang terbaik untukmu ini, mintalah… pasti akan Ku-kabulkan, ud ‘uuni as tajib lakum…”, maka dengan santun diapun bermohon akan sesuatu itu. Walaupun saat itu belum ada materialisasi dari do’anya, tapi rasa sukacitanya sudah lebih dulu diturunkan Allah kedalam dadanya.

Dia penuh perhatian kepada Allah, sehingga Allahpun penuh perhatian pula kepadanya. Dia akan menyampaikan segala rahasianya kepada Allah, sehingga Allahpun akan membukakan berbagai rahasia-Nya kepada dia.

Saat suatu kali barangkali dia lupa dengan Allah karena berbagai kesibukannya, Allah malah berkenan memanggilnya dan mengingatkannya, sehingga dengan sepenuh perasaan malu dan menyesal kemudian dia kembali mendekati Allah dengan berlari. Taubat…

Saat dia beribadah, shalat misalnya, dia terus menerus akan dibimbing dan dituntun oleh Allah untuk mendekat kepada-Nya (taqarrub ilallah), dia akan dibimbing dan dituntun oleh Allah untuk menemui-Nya ( Mulaqu rabbihim), dia akan dibimbing dan dituntun oleh Allah untuk lebih mengenal-Nya (Ma’rifatullah), dia akan dibimbing dan dituntun oleh Allah untuk menyembah-Nya. Dia benar-benar dibimbing dan dituntun oleh Allah untuk Ihsan kepada-Nya. Dia benar-bena dituntun oleh Allah untuk mencintai-Nya. Itu semua terjadi karena Allah sendiri memang mencintainya.

Kesemua ungkapan diatas sebenarnya tidak lebih dari bentuk perwujudan nyata dari kata DZIKRULLAH…, yang sangat tidak tepat untuk diterjemahkan hanya menjadi Ingat Allah saja. Karena memang kata “Ingat Allah” itu dalam bahasa Indonesia sudah menjadi kata yang sedemikan dangkalnya sehingga kitapun kehilangan hampir seluruh makna yang seharusnya ada didalamnya.

Dia juga tidak akan disibukkan lagi dengan berbagai istilah-istilah dan definisi-definisi seperti zuhud, sabar, taqwa, wara, syukur, taubat, tenang, bahagia, kaya, sehat, kuat, dan sebagainya. Karena semua istilah-istilah dan definisi-definisi itu telah menjadi sikap hidupnya sendiri dihadapan Allah. Sikap Berketuhanan.

Inilah anak kunci yang hilang dari kebanyakan kita selama ini. Sehingga kitapun berubah menjadi hamba dari hawa nafsu kita sendiri yang sangat liar. Kita menjadi hamba dari nafsu syahwat kita, menjadi hamba dari hawa nafsu untuk mempertahankan diri dan anak keturunan kita, menjadi hamba dari nafsu syahwat kita yang selalu merasa lebih baik dari orang lain dalam segala hal.

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Fitrah Puncak

Apakah fitrah puncak itu??.

Disamping ketiga fitrah dasar seperti diatas itu, ternyata Allah juga telah membekali kita dengan sebuah fitrah istimewa, sangat istimewa malah, yang dengannya sampai-sampai malaikat, dengan sedikit pemaksaan, harus bersujud kepada nenek moyang kita, Nabi Adam, dan Iblis tergelincir menjadi makhluk yang dimurkai Allah disaat-saat awal Allah memperkenalkan Beliau kepada mereka. Fitrah istimewa itu adalah dalam bentuk kemampuan kita untuk menjadi khalifatullah, waliyullah, utusan Allah yang akan mewakili Allah untuk menebarkan Rahmat Allah bagi kesejahteraan alam semesta dan seluruh penghuninya, termasuk bagi diri kita sendiri. Rahmatan lil alamin. Sebuah fitrah yang sangat hebat yang ternyata tidak sanggup dipikul oleh gunung-gunung, dan bahkan oleh langit dan bumi sekalipun. Tapi itu sanggup dipikul oleh manusia.

Dengan melihat cakupan fungsinya, sebagai rahmatan lil alamin, maka rasanya tidak mungkinlah bagi kita yang masih sibuk dan belum selesai dengan fitrah dasar diri kita sendiri akan mampu menjalankan fungsi khalifatullah ini sebagai rahmatan lil alamin dengan mudah. Wong fitrah dasar diri kita sendiri belum berhasil kita rahmati, bagaimana kita akan bisa untuk merahmati alam semesta. Tentu tidak mungkin. Itulah anggapan kita.

Namun disinilah terletak sebuah rahasia yang tidak banyak orang yang berhasil membacanya. Bahwa agar kita berhasil merahmati fitrah diri kita, maka kita tinggal bersedia untuk menjadi khalifatullah, waliyullah, utusan Allah. Ya…, kita tinggal menyatakan kepada Allah untuk kembali bersedia menjalankan sebab musabab awal kenapa kita ini diturunkan oleh Allah kemuka bumi ini. Yaitu sebagai wakil Allah untuk merahmati alam semesta, bukan hanya sekedar untuk kepentingan dan kenikmatan hawa nafsu atau diri kita dan keluarga kita sendiri seperti yang kita lakukan selama ini.

Dan …, disinilah letak hebatnya. Begitu Allah menerima kesediaan kita itu, untuk menjadi khalifah-Nya, wali-Nya, maka seketika itu juga Allah akan melepaskan kita dari sergapan dan dorongan fitrah dasar kita yang tadinya liar dan tak terkendalikan itu. Bayangkan…, kita dilepaskan oleh Allah Sendiri dari keliaran fitrah dasar kita yang sebelumnya tidak bisa kita kendalikan. Tiba-tiba saja, pikiran kita yang tadinya ruwet, mumet, dan sempit berubah menjadi pikiran yang luasnya seluas alam semesta, hati kitapun berubah dari yang tadinya sempit menjadi hati yang luas seluas alam semesta. Lapangnya luar biasa. Lembutnya juga luar biasa. Keadaan seperti inilah yang akan mengantarkan fitrah-fitrah dasar kita untuk berkembang biak, untuk mempertahankan hidup, dan untuk bisa hidup lebih baik menemukan jalan yang sesuai dengan takaran dan intensitas yang pas untuk kita. Indah sekali.

Tidak hanya kita selesai dengan masalah-masalah fitrah dasar diri kita yang dirahmati oleh Allah, tetapi Allah ternyata juga mencukupi segala kebutuhan kita dan keluarga kita dengan takaran yang pas dan diluar perkiraan kita. Dan yang paling mencengangkan adalah begitu kita bersedia untuk menjadi khalifatullah, menjadi wali Allah, maka Allah akan membantu kita untuk mengeluarkan segala sesuatu yang selain Allah dari dalam hati kita. Sehingga kita akan dipalingkan oleh Allah dari kehebatan semu dari ilmu-ilmu seperti hipnotis, gendam, kontak, getaran, dan segala bentuk variannya yang walaupun kelihatan beragam tetapi tetap sama saja. Kita akan dipahamkan bahwa kesemua ilmu itu ternyata adalah ilmu yang berawal dari pengolahan dan pengembangan pikiran dan ego kita atau hawa nafsu kita sendiri. Ilmu yang artificial, semu, menipu, dan salah kaprah, yang hasilnya juga adalah sesuatu yang artificial, semu, menipu, dan salah kaprah. Ungkapan ini, terutama adalah untuk kita-kita yang mengaku sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah nya Muhammad SAW saja. Sedangkan bagi yang tidak mengaku muslim dan tidak beriman pula kepada Allah nya Muhammad SAW, frasa kalimat ini tidak berlaku, silahkan saja dilanjutkan praktek-praktek yang anda lakukan selama ini.

Tapi bagi umat islam yang beriman kepada Allah nya Muhammad SAW, cobalah perhatikan dengan seksama hal-hal berikut agak sejenak. Betapa tidak menipunya kalimat-kalimat berikut ini. Ketika kita galau, kita gelisah, dan hidup kita dipenuhi oleh rasa kepedihan, lalu kita disuruh hanya untuk mengatakan: saya tidak galau; saya tidak gelisah; saya menerima galau itu; saya menerima kepedihan itu; saya bahagia dengan segala galau, gelisah dan kepedihan saya itu; lalu setelah itu kita seperti bisa tidak merasa galau, tidak gelisah, tidak takut, dan tidak merasa pedih lagi dalam kehidupan kita. Begitu juga, ketika tidak ada sedikitpun rasa cinta kepada sesama yang mengalir didalam dada kita, kita malah berkata aku cinta padamu, aku sayang padamu. Setelah itu kita seakan-akan benar-benar bisa mencintai dan menyayangi seseorang.

Bahkan beberapa instruktur yang jelas-jelas tidak beragama islam dan tidak bertuhankan Allah nya Muhammad SAW telah menambah kata-kata Tuhan dalam kalimat-kalimat motivasinya seperti berikut ini: dengan rahmat Tuhan saya menerima kegelisahan dan kepedihan hidup saya ini; Tuhan saya menerima dan bahagia dengan galau dan penderitaan saya ini; dan berbagai kata-kata sugestive lainnya. Entah Tuhan seperti apa yang mereka maksudkan itu.

Karena banyak diantara kita umat islam ini yang tidak tahu lagi cara-cara pendekatan diri kepada Allah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, maka acara-cara seperti ini sangat banyak pula dihadiri oleh umat islam yang bahkan mengenakan kerudung dan kopiah haji ketika menghadiri acara-acara itu. Kemudian, bagi yang sudah merasa bisa dan mahir, ada pula diantara kita umat islam ini, yang ikut-ikutan memotivasi umat islam lainnya dengan memakai metoda artificial seperti itu. Karena kita merasa beragam islam, kitapun kemudian menambahkan kalimat-kalimat Allah, atau ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadist untuk mensugesti subjeknya. Misalnya, ya Allah saya menerima penderitaan ini, saya bersedia untuk menjadi berbahagia dalam penderitaan ini.

Berhasil…, sehingga tanpa kita sadari kita pun semakin terjauh dari Allah dan Rasul-Nya. Tanda-tandanya sederhana saja, kita membesar-besarkan apa dan siapa, menyebut-nyebut apa dan siapa, membicara-bicarakan apa dan siapa, menggadang-gadangkan apa dan siapa, dalam setiap pembicaraan kita dan dalam setiap hembusan nafas kita. Amati sendirilah dan jawab sendirilah tanda-tanda itu di dalam diri kita. Karena jawabannya sangat pribadi sekali. Pribadi…, antara kita dengan Allah dan Rasul-Nya.

Sebab ada sebuah pernyataan Allah yang sangat sederhana, tetapi itu alangkah sangat berbahaya dan sangat menakutkan sekali: “Aku seperti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku”. Dalam kalimat ini Allah seakan-akan membiarkan dan membenarkan kita dengan apapun pikiran kita tentang Dia. Seakan-akan apapun persangkaan kita terhadap sesuatu, itu bisa berubah menjadi Tuhan kita. Terhadap persangkaan kita itupun Allah telah melengkapinya dengan hasil seperti yang kita harapkan. Misalnya kesembuhan dari penyakit, kekayaan, dan kekuasaan. Misalnya, sekedar percaya kepada PONARI saja yang bisa menyembuhkan penyakit kita, itu direspon oleh Allah dengan memberikan kesembuhan kepada kita. Sehingga tanpa sadarpun kita menghebatkan si Ponari itu. Saat itu kita telah menuhankan ponari sebenarnya. Singkat kata, sekarang ini tanpa kita dasari kita sedang dipertotonkan dengan terang benderang tentang berbagai berhala seperti ponari itu. Sehingga tanpa sadar kita pun menuhankan dukun, menuhankan paranormal, menuhankan penyembuh yang katanya spiritualis, menuhankan hipnoterapis, menuhankan OVJ, menuhankan segala bentuk hiburan yang melalaikan kepada Allah, bahkan juga menuhankan getaran dan energi. Sekali lagi semuanya itu tanpa kita sadari, karena saat itu hasilnya memang ada. Yaitu kita bisa lepas sejenak dari segala persoalan hidup kita. Tapi saat itu pula kita lupa dengan Allah. Lupa…

Astagfirullahal adhiem…..

Dengan semua keadaan seperti itu, kemudian kita shalat, kita puasa, kita mengaji, kita berdzikir menyebut Nama Allah. Sementara saat itu kesadaran kita sedang berhenti diberbagai berhala itu. Alangkah munafiknya kita. Inilah makna orang-orang musyrik yang sebenarnya yang dulu diperangi oleh Rasulullah. Bukan orang musyrik seperti orang Yahudi dan Nasrani. Tapi orang musyrik yang kalau ditanya siapa Tuhannya dia akan menjawab Tuhannya adalah Allah. “Kami tidak menyembah berhala, kami menyembah Allah”, katanya. Akan tetapi karena dia tidak pernah yakin atau beriman kepada Allah, maka diapun memakai berbagai berhala seperti yang telah disebutkan diatas untuk mendekatkan dirinya ke Allah. Persis seperti keadaan yang kita hadapi di zaman kita sekarang ini.

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: