Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2013

Setelah itu semua terjadi, energi yang tadinya terkumpul sudah terbebaskan dengan cara-cara yang tidak wajar, maka mulailah muncul hal-hal sebagai berikut. Kalau di dalam ruang otaknya ada sedikit pikiran tentang dosa dan neraka, dia mulai dijalari oleh benih pikiran tentang dosa dan neraka itu. Begitu berpikir tentang dosa neraka itu, maka sebentuk rasa ketakutan muncul di dalam jiwanya. Rasa takut itu menyebabkan adanya sebentuk daya yang menyentuh otaknya. Daya itu kemudian menyalakan kode DNA yang akan mengurangi suplai energi di dalam darah dan di dalam sel-sel tubuhnya. Karena darah dan sel-sel tubuhnya kekurangan energi maka dia akan gelisah. Dalam kegelisahan itu muncul rasa penyesalannya. Kalau rasa penyesalan sudah muncul, maka pikirannya mulai bekerja untuk membawanya berkelana mencari cara-cara pemaafan dari rasa berdosanya itu.

Boleh jadi kemudian dia akan lari ke agama. Dia rajin shalat dan mengaji. Sepintas dia akan kelihatan telah berubah menjadi orang yang sangat baik dan shaleh. Akan tetapi tombol fitrahnya untuk berkembang biak telah terlanjur menyala. Cuma saja salurannya adalah saluran yang salah. Sehingga secara berkala “daya” untuk berkembang biak itu kembali akan menyalakan kode-kode DNA tertentu agar otaknya kembali mengeluarkan hormon-hormon dan enzim yang diperlukan untuk proses perkembangbiakan itu. Apalagi kesempatan untuk itu ada.

Daya itu kembali akan bekerja dengan cara-cara yang sama seperti diatas. Tak terlawan. Makanya dimasyarakat dikenal istilah TOMAT BALI, tobat lalu komat kembali. Adakalanya orang terlihat baik dan shaleh, akan tetapi pada kesempatan lainnya nafsu syahwatnya muncul kembali tak tertahankan. Kalau dia tidak menemukan cara yang tepat untuk keluar dari keadaan seperti itu, maka keadaan seperti diatas akan terjadi kembali secara berulangkali. Itu bisa terjadi dari hari kehari, dari bulan ke bulan, bahkan dari tahun ketahun. Dan itu baginya sangat melelahkan sekali.

Pengaruh pada fisiknya juga terjadi. Tubuh dan seluruh instrument ketubuhannya akan mengikuti dorongan hawa nafsu, yang sebenarnya murni untuk berkembang biak, menjadi hawa nafsu yang tak terkendalikan terhadap lawan jenisnya. Matanya, ucapannya, tangannya, dan bahkan semua tubuhnya akan berperilaku lebih dari pada seperti yang dilakukan oleh binatang terhadap pasangannya dan terhadap lawan atau saingannya. Matanya liar, ucapannya tidak senonoh, pikirannya licik, dan dia akan mudah sekali marah bahkan sampai berkelahi, baik itu perkelahian secara fisik ataupun hanya sekedar perang kata-kata.

Yang lebih tragis lagi adalah andaikata saat itu sunatullah lain terjadi. Seorang calon bayi berhasil tertanam di rahim seorang perempuan, baik itu pada istrinya yang sah (bagi yang sudah punya istri) maupun yang bukan istrinya, maka sang bayi membawa serta pula kode genetik DNA yang sudah menyala dari kedua orang tuanya yang cenderung suka kepada perzinaan itu. Sehingga keturunannya, mungkin sampai keanak cucunya kelak bisa diperkirakan akan cenderung pula kepada perzinaan. Kecuali kalau Allah sendiri yang berkehendak untuk memutus rantai kode genetik itu, untuk kemudian keturunannya bisa menjadi orang yang baik dan benar.

Siapapun yang sedang menjalani siklus kehidupan seperti ini, baik itu dia pezina dan peselingkuh betulan, atau dia hanya sekedar mendekati zina saja (pezina imaginer), mulai dari saat dia bangun tidur sampai dia tidur kembali selama bertahun-tahun, maka dia akan selalu berada dalam ruang kehidupan yang dipenuhi oleh kepedihan. Sel-sel tubuhnya mudah sekali kekurangan energi. Dia akan cepat bosan dan capek dengan segala kehidupannya. Itulah kemudian yang menyebabkan dia ingin mendapatkan energi kembali dengan cara mengulangi perilakunya yang tidak baik itu. Karena disitu memang penuh dengan daya dan kekuatan yang tak terbendung dan sangat dahsyat. Daya untuk berkembang biak. Daya yang juga mengalir di dalam tubuh seluruh binatang. Dia akan diikat dan dikendalikan oleh daya itu sepanjang hidupnya, kalau dia tidak mau berubah…

Tapi bedanya antara manusia dengan binatang adalah bahwa kalau pada manusia setelah itu dia akan menyesal, dia akan didera oleh rasa takut, dia akan berusaha untuk keluar dari tragik kehidupannya sebagai penghamba hawa nafsu syahwat dengan cara-cara yang keliru itu. Sedangkan pada binatang semua penyesalan itu tidak ada. Kalau di dalam diri kita juga tidak muncul penyesalan sedikitpun, akankah kita mau disamakan dengan binatang, balhum adhal…, bahkan lebih, menurut kata Al Qur’an?.

Hanya saja, sayang sekali tidak banyak orang yang bisa melihat mutiara yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW ketika Beliau berhasil mengubah para sahabat Beliau yang tadinya hidup dalam periode jahiliah seperti diatas menjadi pribadi-pribadi yang bisa menjadi contoh bagi kehidupan umat manusia sampai sekarang…

Bersambung…
Deka…

Iklan

Read Full Post »

Keadaan pada saat tubuh dipenuhi oleh daya seperti itu tidak ubahnya seperti yang dialami oleh binatang-binatang mulai dari binatang yang sangat buas sampai kepada binatang kecil yang sangat lemah. Kalau pada binatang buas, sesama pejantan bisa saling berkelahi terlebih dahulu sampai ada yang terluka atau mati, atau paling tidak ada salah satunya yang lari. Pada beberapa binatang, proses itu bisa pula berlangsung dengan cara mereka memamerkan keindahan suaranya, warna bulunya, tariannya, dan berbagai aktifitas lainnya untuk memikat pasangannya. Saat itulah hormon Pheromon bertebaran diudara, sehingga akhirnya proses perkembangbiakan hewanipun bisa terjadi.

Tapi akibatnya yang terjadi pada manusia jauh lebih hebat dan lebih dahsyat dari pada itu.

Bagi lelaki atau perempuan yang sudah punya istri atau suami, maka sejak bangun tidur itu, dia akan mulai melakukan satu kebohongan dan kemudian diikuti oleh kebohongan-kebohongan berikutnya. Ketika sebuah kebohongan itu terjadi, seketika itu pula sebuah “daya” menyentuh bagian tertentu lapisan otaknya. Ada dua hal yang terjadi setelah itu.

Pertama, daya itu bekerja seperti memaksanya untuk mencari file tertentu di memorinya tentang setiap kata, tindakan, siasat, dan sikap yang akan mendukung kebohongannya itu, dan kebohongan-kebohongannya yang berikutnya. Dan itu pasti ketemu. Sampai akhirnya perzinaannya terjadi, terjadi, dan terjadi lagi. Berkali-kali.

Kedua, daya itu kemudian menyalakan kode DNA tertentu yang akan mensekresikan hormon-hormon yang menyebabkan dia punya nyali untuk berbohong. Selesai berbohong itu, rasanya dia juga seperti lepas dari sebuah pengaruh daya yang sangat kuat. Karena untuk berbohong itu ternyata butuh energi yang sangat besar pula. Dia akan merasa capek dan lelah. Makanya ada orang yang merasa sangat puas dan terbebas dari beban sesaat setelah dia berhasil membohongi orang lain. Dia akan berkata dengan bangga: “Kubohongi kau!”. Dan itu ada rasa nikmatnya. Nikmat terlepas dari beban berat berbohong.

Bagi laki-laki dan perempuan yang belum menikah, tapi sudah punya pasangan, keadaanya juga tidak kalah dahsyatnya. Setiap hari dia akan berhenti diruang pikirannya yang dipenuhi oleh imaginasi tentang keindahan, kecantikan, dan kehebatan pasangannya itu. Karena yang dipikirkannya adalah lawan jenisnya, maka daya itu juga bekerja dengan cara yang sama. Daya itu mengaliri otaknya, menyalakan kode DNA yang menyebabkan sekresi hormon berkembang biak, sampai seluruh pembuluh darahnya dipenuhi oleh daya itu sehingga dia dan pasangannya siap untuk melakukan proses awal perkembangbiakan. Kalau sudah sampai pada tahap seperti ini, maka daya yang terkumpul sudah sangat sulit untuk dibendung. Sehingga perzinahan dengan cara yang bagaimanapun juga akan terjadi dengan sangat mudahnya. Apalagi di zaman sekarang kesempatan untuk itu sangat-sangat terbuka lebar.

Bagi yang belum punya pasangan, baik laki-laki atau perempuan, sekali saja pikirannya dimasuki oleh bibit pikiran tentang lawan jenisnya, misalnya melalui bacaan, foto-foto, atau video yang tidak senonoh, maka daya yang disebutkan diatas itu tetap akan bekerja dengan sama kuat dan efektifnya. Ujung-ujungnya adalah terjadinya zina sungguhan ataupun zina imaginer. Dan itupun akan terjadi seterusnya…, dan seterusnya.

Kalau daya untuk melanjutkan keturunan itu sudah muncul, baik bagi yang sudah berkeluarga atau belum, laki-laki atau perempuan, terutama laki-laki, maka daya itu butuh alamat untuk menyalurkannya. Dalam mencari alamat penyalurannya itulah kadang-kadang orang bisa bertindak ekstrim yaitu dengan cara memperkosa dan bahkan sampai membunuh. Karena memang daya itu berkerja sangat kuat sekali.

Dan…, yang paling ekstrim, yang membuat manusia berkualitas lebih rendah dari binatang ternak, adalah ketika dia terperosok kedalam sebuah keadaan, dimana dia melakukan kesemuanya itu kepada ibunya, atau neneknya, atau anaknya sendiri. Untuk itupun kadang-kadang dia masih bisa tersenyum saat dia tertangkap. Sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan oleh binatang ternak sekalipun seperti sapi, kambing, atau oleh binatang buas seperti singa dan harimau. Bahkan hal seperti itu juga tidak akan pernah dilakukan oleh binatang yang lebih rendah lagi tingkatannya, seperti ular, buaya, semut, dan binatang melata lainnya.

Kalau itu yang terjadi, maka sebenarnya saat itu sudah terjadi kiamat bagi peradaban kita sebagai manusia. Karena kualitas kita sebagai manusia sudah jauh lebih rendah dari binatang ternak. Bal hum adhal…, kata al Qur’an. Maka pantas Nabi mengatakan bahwa kalau keadaan seperti itu sudah bertebaran di muka bumi, maka itu merupakan salah satu dari beberapa tanda-tanda akan terjadinya kiamat.

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi didalam diri kita, mari kita lihat sejenak beberapa contoh berikut ini dalam sebuah lingkaran kehidupan untuk sehari penuh. Kita langsung saja mengambil contoh yang sangat ekstrim, yaitu apa sebenarnya yang terjadi di dalam diri seorang Pezina, Koruptor, dan para penerus Fir’aun. Yaitu 3 jenis manusia yang keliru dalam menjalankan fitrahnya sebagai Khalifatullah yang diutus oleh Allah ke muka bumi ini.

Para Pezina atau Peselingkuh…
Pezina atau peselingkuh yang dimaksud disini adalah laki-laki atau perempuan yang sudah tidak bisa lagi keluar dari dorongan hawa nafsu syahwatnya, selain kepada istri atau suaminya yang sah. Atau para lelaki dan perempuan yang belum menikah yang terjebak dalam hebatnya dorongan nafsu syahwatnya, baik itu sampai dia melakukan zina sungguhan atau hanya sekedar zina imaginer saja. Nanti akan kita lihat bahwa pengaruh keduanya, zina benaran atau zina imaginer, sebenarnya sama saja.

Apa yang terjadi?…

Dipagi hari, biasanya dia akan bangun dari tidurnya jauh setelah azan subuh berkumandang. Kalaupun bangunnya sebelum atau saat azan subuh, maka suara azan itu tidak akan terlalu berpengaruh kepadanya untuk segera mendirikan shalat. Kalaupun setelah itu dia shalat, maka shalatnya biasanya seperti shalat orang yang “tidak bertuhan”. Cueepat banget.

Begitu membuka mata, dia segera disergap oleh ruang pikirannya yang di dalamnya sudah ada menunggu segala bentuk dan rupa yang akan mendorongnya untuk melakukan zina seperti yang dimaksudkan diatas. Kalau dia seorang lelaki atau wanita pezina sungguhan, maka di dalam ruang pikirannya yang sangat dominan saat itu adalah segala sesuatu tentang wanita atau lekaki teman berzinanya. Kalau dia hanya seorang pezina imaginer, maka di dalam ruang pikirannya dipenuhi oleh berbagai angan-angan, gambar dan video seronok, bacaan cabul, dan bayang-bayang kenikmatan syahwat lainnya.

Karena saat itu dia sudah tidak punya lagi ruang pikiran yang berisikan benih pikiran lain yang lebih baik dan lebih kuat, maka secara otomatis dia akan kecemplung kedalam ruang pikirannya yang berisikan wanita atau lelaki teman berzinanya itu, atau pada segala fasilitas khayal yang menyebabkan dia mampu melakukan zina imaginer.

Begitu seorang lelaki memikirkan tentang seorang wanita, atau seorang wanita memikirkan tentang seorang lelaki, baik itu bagi pezina sungguhan maupun pezina imaginer, maka otaknya akan dipaksa oleh sebuah “DAYA” untuk bekerja sesuai dengan fitrahnya. Yaitu fitrah agar manusia bisa untuk BERKEMBANG BIAK.

Daya itu menyentuh titik-titik tertentu di dalam otaknya. Lalu daya itu memerintahkan otaknya untuk menyalakan kode DNA tertentu yang fungsinya untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia untuk mengembangkan keturunannya. Daya itu memaksa DNA untuk mensekresikan hormon-hormon tertentu untuk merangsang tubuhnya agar tubuhnya bisa melakukan aktifitas berkembang biak. Daya itu memaksa hormon itu mengalir ke dalam darahnya sehingga darahnyapun dipaksa pula oleh daya itu untuk mengalir lebih cepat dan lebih banyak ketempat-tempat yang dibutuhkan untuk aktifitas berkembang biak itu. Daya itu seperti penyiapkan seluruh tubuh seorang lelaki atau seorang wanita untuk siap-siap melakukan aktifitas perkembangbiakan.

Daya itu begitu kuat. Dahsyat tak tertahankan. Daya yang dulu juga pernah dirasakan kedahsyatannya oleh Nabi Yusuf dan Zulaiha. Saat itu Zulaiha sudah ingin melakukannya, Yusuf pun sudah ingin pula melakukannya. Dua-duanya sudah siap go…!. Kalaulah Yusuf saat itu tidak melihat Burhan dari Tuhannya, dan Yusuf kemudian bersedia untuk berserah diri kepada Allah, pastilah mereka berdua sudah terjatuh kedalam tindakan keji dan mungkar. Perzinaan.
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu, andaikata dia tidak melihat “Burhan” atau tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang berserah. (Yusuf 24)

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Menyalakan Tombol Kehidupan-6

Untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi didalam diri kita, mari kita lihat sejenak beberapa contoh berikut ini dalam sebuah lingkaran kehidupan untuk sehari penuh. Kita langsung saja mengambil contoh yang sangat ekstrim, yaitu apa sebenarnya yang terjadi di dalam diri seorang Pezina, Koruptor, dan para penerus Fir’aun. Yaitu 3 jenis manusia yang keliru dalam menjalankan fitrahnya sebagai Khalifatullah yang diutus oleh Allah ke muka bumi ini.

Para Pezina atau Peselingkuh…

Read Full Post »

Mungkin tidak banyak yang paham bahwa begitu kita mencoba untuk memahami Hipnotis, Gendam, Mesmer, misalnya, maka saat itu juga suasana didalam hati kita akan dibawa masuk kedalam suasana hati orang-orang yang memperkenalkan hipnotis itu berikut dengan segala variant nya dikemudian hari. Orang-orang itu antara lain adalah Milton H. Erickson, James Braid, Frans Mesmer, to say the least. Sehebat-hebatnya benih-benih pikiran dan kemampuan kita dalam hipnotis dan yang sejenisnya, tetap saja kehebatan kita itu hanya akan sebelas dua belas (sama) dengan pemikiran-pemikiran dan kemampuan mereka. Tidak lebih.

Pertanyaannya adalah, apakah sama orang-orang yang hatinya dipenuhi oleh Allah dengan orang-orang yang hatinya dipenuhi oleh segala sesuatu yang selain Allah?. Dan apakah orang yang hatinya dipenuhi oleh Allah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah akan kalah sakti dengan orang-orang yang hatinya dipenuhi oleh ilmu hipnoptis dan yang sejenisnya?. Jawabannya ada didalam dada kita masing-masing. Kalau bagi saya, jawabannnya adalah: itu pastilah tidak sama. Dan saya sudah membuktikan dengan haqqul yakin bahwa hati yang dipenuhi dengan Allah jauh lebih sakti dari hati yang diisi dengan apa-apa yang selain Allah. Hati yang penuh diisi oleh Allah saktinya adalah benaran. Bukan sakti yang semu.

Akan tetapi, karena tercampur aduk seperti itu, hatta didalam shalat sekalipun, saat kita sudah mencoba untuk meniru seluruh sikap, gerakan, dan bacaan-bacaan Rasulullah Muhammad SAW saat shalat itu, tapi anehnya hati kita ini tetap saja tidak bisa meniru hati Beliau. Karena memang dalam keseharian kita, hati kita memang sudah kita biarkan untuk dipenuhi oleh apa-apa yang selain Allah. Shalatmu seperti shalat orang munafik, kata Al Qur’an dengan sangat pedas.

Begitulah, akhirnya, tahu-tahu kita sudah tua, tahu-tahu kita sudah sakit-sakitan, tahu-tahu kita sudah ditinggalkan oleh dunia. Itu pulalah sebabnya aspek kehidupan dunia bagi kita yang berasal dari dunia pesantren maupun dunia fakultas syariah biasanya menjadi sangat kedodoran. Sementara diluar sana kehidupan duniawi sangat-sangat gemerlap dan mencengangkan. Semuanya melambaikan tanggannya kepada kita agar kita mengikutinya.

Jadilah kita mengalami konflik hebat di dalam batin dan di alam pemikiran kita. Konflik antara kita ingin kenikmatan dunia yang memabokkan disatu sisi, atau kita ingin mereguk kenikmatan syurgawi di akhirat kelak disisi yang lainnya. Kalau kita memilih kenikmatan dunia, maka kita cenderung untuk meninggalkan seluk beluk aturan agama yang sekilas kelihatan rumit.

Sebaliknya kalau kita memilih kenikmatan syurgawi di akhirat kelak, maka kita cenderung untuk meninggalkan gemerlapnya kehidupan di dunia ini. Hal seperti inilah yang menimbulkan kesan bahwa antara otak (yang mewakili kenikmatan hidup di dunia) dengan hati (yang mewakili kenikmatan kehidupan di akhirat kelak) seperti seperti sudah tidak bisa disatukan sama sekali. Sementara itu, kita selalu berdoa untuk mendapatkan keduanya. Kita ingin dapat syurga di dunia dan ingin pula dapat syurga di akhirat. Akhirnya konflik di dalam batin kitalah yang terjadi.

Kalaupun ada yang disebut sebagai pondok pesantren modern, itupun sebenarnya tidak lebih dari sebuah institusi pendidikan yang mengajarkan murid-muridnya tentang asah otak (ilmu pengetahuan umum) dan asah hati (ilmu pengetahuan agama) dengan porsi yang hampir seimbang. Ciri-cirinya, murid-muridnya bisa berbahasa Inggris dan bisa pula berbahasa Arab. Mahasiswanya bisa hafal rumus-rumus matematika dan perhitungan-perhitungan ilmu alam (kima, fisika, biologi, psikologi), dan mereka bisa pula hafal ayat-ayat al Qur’an dan lembaran-lembaran Al Hadist serta kitab-kitab agama lainnya dengan sangat menakjubkan.

Akan tetapi, dengan semua paradoks diatas, asah otak dan asah hati yang kelihatannya tidak pernah selesai, tetap saja masalah utama kita adalah, bagaimana agar kita bisa keluar dari permasalah yang dengan sangat sederhana seperti yang dikeluhkan oleh Mas RS di Milis Dzikrullah berikut ini:

Assalamu alaikum,

Milist yang terhormat, sudilah kiranya membagi kiat-kiat untuk memerangi hawa nafsu berbuat maksiat.

Gagal dan selalu gagal, itulah yang selalu dialami ,,, berat sangat untuk menghadapinya. Selalu terjatuh dan menyesal setelahnya ,,, mohon pencerahannya sudah membuncah rasa penat di hati untuk menghadapi tapi tak kuasa menolak.

Wassalamu alaikum.
RS…

Karena memang apa yang dikeluhkan oleh Mas RS ini adalah permasalahan dan problematika seluruh umat manusia. Hatta bagi orang-orang yang datang dari dunia santri yang paling santri atau dunia spiritual manapun. Sehingga dengan segala permasalah seperti itu, pengajian-pengajian bisa penuh dan tumpah ruah, pelatihan-pelatihan untuk mencari bahagia dan ketenangan hati saling mengiklan diri mencari peserta. Berbagai panggung hiburan digelar agar orang-orang bisa tertawa, menangis, dan melonjak-lonjak kegirangan walau hanya untuk beberapa saat.

Akan tetapi, semua kegiatan itu hanya mampu memindahkan kita keluar dari segala permasalahan kita untuk sementara waktu saja, untuk tidak beberapa lama kemudian semua permasalahan kita itu satu persatu kembali bermunculan. Dan itu rasanya sangatlah penat sekali. Hati kita rasanya sesak, karena kita kembali tidak kuasa untuk menolak dorongan hawa nafsu kita yang seperti mengikat kita dengan kuat untuk kembali berbuat yang tidak baik menurut ukuran agama maupun kepatutan manusia.
Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Cara pengajaran dari Allah seperti ini disebut juga dengan cara Allah menyusupkan WAHYU kedalam Dada Beliau, atau Allah langsung berbicara melalui TABIR kepada Beliau. Untuk membedakan Beliau dengan umat Beliau, maka pengajaran untuk umat Beliau biasa disebut melalui ILHAM. Para sahabat Beliau serta Wali-Wali Allah yang hidup jauh setelah Beliau wafat biasanya disebut menerima ILHAM dari Allah untuk mengetahui hal-hal yang belum mereka ketahui. Termasuk kepada kita sebenarnya. Ya…, kepada kitapun Allah akan berbicara melalui ILHAM ini. Inilah cara rabbaniyyah menurut Al Qur’an.

Beda antara kita dengan Rasulullah adalah bahwa Rasulullah sudah berada pada posisi ruhani yang sangat bening sehingga Beliau tidak pernah berkata-kata dan berperilaku atas dorongan hawa nafsu Beliau sendiri. Semua yang Beliau bicarakan dan lakukan adalah atas tuntunan dan dorongan dari Allah sendiri. Sedangkan bagi kita, saat kita berkata-kata dan bertindak, hampir sebagian besar ruhani kita masih dikotori oleh dorongan hawa nafsu kita sendiri, sehingga sering sekali salah menganggap bahwa dorongan hawa nafsu itu kita kira adalah dorongan ilham dari Allah. Padahal dorongan ilham yang kita terima ketika ruhani kita masih kotor itu adalah ilham-ilham yang disusupi oleh ilham dari syaitan. Karena saat ruhani kita kotor, Allah segera mengirimkan syaitan ke dalam dada kita. Syaitan itulah yang akan meniupkan was-was kedalam hati kita, sehingga kitapun terperosok menjadi orang-orang yang menimbulkan angkara murka dimanapun kita berada.

Jadi cara belajar yang di beritahu oleh Al Qur’an bukanlah dengan cara kita menghafal beragam ilmu seperti yang kita lakukan sekarang ini. Bukan. Tapi dengan cara Iqraa, yaitu dengan sebuah cara Ilahiyah. Cara ilhami. Cara dengan menjadikan Allah sebagai Rabbi atau Maha Pendidik kita. Sebuah cara yang sedemikian rupa sampai kita dimengertikan sendiri oleh Allah atas apa-apa yang kita pelajari itu mulai dari keadaannya, suasananya, seluk beluknya, rasanya, luarnya, dalamnya, enaknya, tidak enaknya. Jasmani dan rohani kita , lahir dan batin kita, otak dan hati kita, kedua-duanya mendapatkan porsi pembelajaran yang setara terhadap sebuah topik yang sedang kita pelajari. Utuh pelajaran itu. Utuh, menyeluruh, dan lengkap. Secara “Kaffah” menurut istilah Al Qur’an.

Misalnya, kalau kita mau belajar tentang shalat, maka harus dengan cara sedemikian rupa sampai kia bisa mencontoh shalat Rasulullah. Mencontoh Rasulullah itu bukan hanya sekedar mencontoh seperti cara yang diajarkan kepada kebanyakan kita selama ini. Bukan begitu. Kita harus belajar sampai bisa mencontoh tidak hanya gerakan fisik dan bacaan-bacaan Beliau saja, tapi kita juga harus sampai bisa menontoh bagaimana suasana, keadaan, dan rasa hati Beliau ketika Beliau shalat. Yang pasti ketika shalat itu, Beliau shalat sebagai seorang yang beriman, berislam, dan berihsan pada saat yang bersamaan. Shalat lahir dan batin, shalat jasmani dan rohani. Dan itupun kemudian ditambah pula dengan dampak nyata realitas manfaat shalat itu ketika Beliau kembali ketengah-tengah masyarakat dalam bentuk amal shaleh yang sangat sempurna.

Sehingga kalau kita berhasil pula mencotoh Rasulullah seperti itu, maka ketika kita berbicara kepada orang lain tentang hal itu, tentang shalat misalnya, tercapai dua hal pokok sebagai berikut. Satu…, agar kita tidak dianggap bohong dan munafik oleh Allah dengan mengatakan kepada orang lain apa-apa yang sebenarnya tidak kita ketahui dan tidak kita lakukan dengan pas. Sebab Allah ternyata sangat marah dan murka kepada kita ketika kita berani-beraninya berkata-kata kepada orang lain atas apa-apa yang sebenarnya tidak kita ketahui dan tidak kita pahami dengan pas. Kedua…, agar apa-apa yang kita sampaikan kepada orang lain, akan berbekas didalam hati dan pikiran mereka, sehingga merekapun seperti tergerak pula untuk melakukan apa-apa yang kita sampaikan itu.

Karena cara-cara ilhami (iqraa) seperti itu TIDAK kita lakukan, maka dari sini pulalah tragik hidup umat Islam berawal. Yaitu tatkala kita sudah tidak bisa lagi membaca dan memahami berbagai proses yang terjadi di alam ini dan kita tidak bisa pula memahami Ilham yang langsung diturunkan Allah ke dalam hati kita untuk menyelesaikan berbagai problematika kehidupan kita. Tegasnya, kita tidak bisa lagi berkomunikasi dan berdialog dengan Allah. Lalu kitapun gagal untuk memenuhi sebab musabab kenapa kita diturunkan Allah kedunia ini, yaitu untuk menjadi khalifah, menjadi wali Allah untuk mengatur alam semesta ini. Ya…, kita gagal menjadi khalifah Allah, gagal menjadi wali Allah.

Dampaknya sangat nyata sekali. Coba bayangkan betapa anehnya kita ini, kita selalu shalat dan berdo’a kepada Allah, tapi kita nyaris tidak tahu sedikitpun apa jawaban dan respon Allah terhadap shalat dan do’a-do’a kita itu. Kita dalam keseharian seperti berhadapan dengan Allah yang bisu dan tuli. Saat kita berbicara dengan Allah, kita seperti berhadapan dengan batu atau benda mati. Tidak ada respon dan balasan yang bisa terima. Hambar. Garing. Kering.

Jadilah kita umat islam ini ragu dengan Allah. Kita memang sering menyebut nama Allah, sering mengucapkan syahadat, sering mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah, tapi anehnya ekspresi kita penuh keraguan tentang Allah. Keimanan kita kepada Allah begitu tipisnya, sehingga begitu ada masalah, kita jadi goyah. Kita seperti kehilangan tempat berpegangan dan alamat bergantung. Menjadi orang yang kebingungan ditengah-tengah banjir ilham Allah yang bertebaran memenuhi ufuk cakrawala.

Lalu, betapa banyak diantara kita yang sedang bermasalah kemudian menanyakan solusi masalah kita kepada dukun, paranormal, dan orang-orang yang sejenisnya. Dan berapa banyak pula diantara kita yang sangat terpesona dengan kehebatan ilmu kontak, ilmu getaran, ilmu magic, ilmu hipnotis, dan ilmu-ilmu sejenis lainnya, baik yang dengan sangat halus disesuai-sesuaikan dengan istilah-istilah agama maupun yang sebisa mungkin menyingkirkan istilah-istilah agama didalamnya. Semuanya berpalun menjadi satu keadaan yang membingungkan kita. Seakan-akan kita ini kalau hanya berbekal ilmu “laa haula wala quwwata illa billah” sudah menjadi tidak ada apa-apanya lagi.

Otak kita sudah kita isi dengan ilmu yang mencampur adukan antara yang hak dan yang batil. Hati kita sudah tidak sama lagi dengan hati yang dimiliki oleh Rasulullah, sahabat, dan wali-wali Allah. Sementara kita sering berkata bahwa kita umat islam ini harus mencontoh Nabi dalam segala Hal. Mau mencontoh apanya?. Wong hati Beliau-beliau itu selalu dipenuhi oleh Allah, sehingga setiap saat Beliau-beliau itu selalu Dzikrullah (menyadari, menghormati, dan menyebut-nyebut) Allah. Sementara hati kita dipenuhi oleh segala sesuatu yang selain Allah, sehingga setiap saat kita selalu dzikir (menyadari, menghormati, menyebut-nyebut) segala sesuatu yang selain Allah.

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Coba kita bayangkan, saat menerima wahyu pertama kalinya, Rasulullah diperintahkan oleh Jibril untuk Iqraa, membaca. Padahal dihadapan Beliau saat itu tidak ada selembar bukupun yang bisa Beliau baca. Tidak ada pula huruf-huruf dan kalimat-kalimat yang bisa Beliau rangkai untuk dibaca. Bahkan konon kabarnya Beliau itu tidak bisa menulis dan membaca huruf-huruf dan kalimat-kalimat dalam bentuk bahasa tulisan. Tapi anehnya saat itu Beliau disuruh oleh Jibril untuk membaca. Mau membaca apa?. Sehingga Beliau jadi kebingungan sendiri dihadapan Jibril. “Maa ana bi qari…, maa ana bi qari…, maa ana bi qari… (saya enggak bisa baca)”, kata Beliau berulang kali.

Tapi dengan telaten Jibril menunjukkan kepada Beliau sebuah cara belajar yang sangat sempurna. Sangat sempurna sekali malah. Yaitu dengan cara belajar langsung kepada Sang Maha Sumber dari segala Ilmu. Allah Rabbul ‘alamin, Allah Yang Maha Mendidik bagi alam semesta dan semua isinya. “Iqraa bis mirabbika…al ladzi Khalaq”, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu (terlebih dahulu), Tuhan yang Maha Menciptakan…?.

“Bismillah…, dengan nama Allah, atas nama Allah…”, ungkap Beliau. Sederhana sekali sebenarnya ungkapan Beliau itu. Tapi dalam kesederhanaan itu telah tercakup segala hal yang diperlukan dan yang seharusnya terjadi dalam sebuah proses ajar mengajar antara pihak yang bersedia diajar (Rasulullah sendiri) dan pihak yang bersedia mengajar (Allah SWT).

Beliau memulainya bukan atas nama hawa nafsu Beliau, bukan dengan mengatasnamakan dorongan hawa nafsu Beliau. Tetapi Beliau memulainya atas nama Allah, dengan nama Allah. Artinya Beliau saat itu tidak jauh-jauh dari Allah. Beliau bersama Allah. Sehingga hasilnya pun beliau sampaikan kepada seluruh umat manusia atas nama Allah dan mewakili Allah…

“Bismillah…”, lalu dengan seketika itu juga Beliau “dituntun” oleh Allah untuk memasuki Ruang Penciptaan Awal. Ruang dimana segala sesuatu bermula dan berawal. Suasananya langsung berubah total. Dari suasana sebelumnya yang penuh hiruk pikuk dan membingungkan, berubah menjadi suasana yang sangat hening dan mencekam. Beliau dituntun oleh Allah untuk memasuki suasana sebelum ada apa-apa, sebelum segala sesuatu ada, sebelum manusia tercipta…

Disini ada wujud yang ridho dan bersedia untuk dituntun dan ada pula Wujud yang ridho dan bersedia untuk Menuntun. Wujud yang dituntun hanya diam menghadap dan berserah dengan penuh keteguhan sikap, sedangkan Wujud yang Menuntun sangat aktif mengantarkan wujud yang dituntun sampai ketujuannya yang seharusnya. Wujud yang dituntun hanya “duduk” dalam ketiadaan daya. Dia effortless. Sementara Wujud Yang Menuntun sangat aktif merengkuh wujud yang dituntun dengan sepenuh Daya Milik-Nya. Dia sangat Kuat dan tak terkalahkan. Dia Sangat Powerfull.

Wujud yang dituntun dalam perjalanan itu bukanlah berupa pikiran, karena pikiran adalah bentuk lain dari materi dan vibrasi. Kalau pikiran yang diperjalankan, maka ujung-ujungnya pastilah akan berhenti di materi dan di vibrasi. Wujud yang dituntun itu juga bukanlah rasa yang dirasa-rasakan, karena rasa itu juga hanyalah bentuk lain dari materi dan energi. Kalau rasa yang diperjalankan, maka ujung-ujungnya juga pastilah hanya akan berhenti di materi dan di vibrasi.

Lalu apakah wujud yang dituntun itu?. Insyaallah ini akan dibahas dalam topik tersendiri “YANG BERJALAN DAN YANG KEMBALI”

Selama dalam perjalanan itu ada pula informasi atau bahasa yang mengalir dari Wujud Yang Menuntun kepada wujud yang dituntun. Informasi itu sangat bersih dan bening. Informasi yang tidak sedikitpun dipengaruhi terlebih dahulu oleh cetusan hawa nafsu dan buah pikiran Beliau. Tidak. Informasi itu murni yang semurni-murninya diturunkan dari Wujud Yang Maha Mengajari. Bahasa dari informasi itu sangat jelas. Bahasa yang bisa dimengerti oleh Lebah, bahasa yang dimengerti oleh angin, bahasa yang dimengerti oleh langit, bahasa yang dimengerti oleh seorang bayi…!. Ya… seorang bayi…

Akan tetapi bahasa itu tidak akan pernah bisa dibaca dan dimengerti oleh siapapun yang dirinya sedang jadi tawanan hawa nafsunya, dirinya yang sedang dihambat dan dikendalikan oleh pikirannya, dirinya yang sedang dibawah kendali egonya. Tidak akan bisa. Karena bahasa itu bukan dalam bentuk bahasa getaran (vibrasi-vibrasi), atau energi-energi yang sangat banyak bertebaran di alam semestas ini. Bahasa itu juga bukan dalam bentuk bahasa vibrasi pikiran dan perasaan. Bukan. Sebab kalau hanya sekedar bahasa vibrasi-vibrasi yang ada di alam semesta ini, termasuk vibrasi pikiran dan perasaan, itu akan bisa dibaca dan diolah oleh setiap orang dengan modal sedikit latihan saja. Bahkan orang-orang yang tidak mempercayai Allah sebagai Tuhannya sekalipun akan bisa membaca getaran-getaran tingkat rendah itu dengan mudah. Tapi bahasa ini bukanlah bahasa getaran-getaran tingkat rendah seperti itu.

Demikianlah Beliau dipahamkan, Beliau diperjalankan untuk mengikuti betapa dahsyatnya peristiwa penciptaan manusia yang bermula dari tiada…. Kemudian Allah menyusun berbagai unsur saripati tanah menjadi berbagai bentuk dan ukuran, Lalu saripati tanah itu diberi kehidupan sehingga masing-masing bentuk dan ukuran saripati tanah itu bisa bergerak dan tumbuh sesuai dengan fitrahnya masing-masing. Sari pati tanah itu ditumbuhkan-Nya menjadi segumpal darah, lalu dibentuk-Nya menjadi segumpal daging, lalu dibentuk-Nya kembali menjadi tulang belulang, lalu tulang belulang itu dibungkus-Nya kembali dengan daging. Tidak hanya sampai disitu, bentuk janin masih sangat kecil itu juga dibekali oleh Allah dengan meniupkan Ruh-Nya kepada sang janin itu sehingga dengan Ruh-Nya itulah nantinya sang janin akan bisa mendengar, melihat, dan berhubungan kembali dengan Allah melalui ruang hatinya…

Beliau dibawa oleh Alah untuk merasakan sendiri betapa dahsyatnya daya yang bekerja pada proses penciptaan manusia itu. Daya itu terukur dengan sangat presisi dan akurat. Daya itu mengatur, mengantarkan, dan menempatkan milyaran sel-sel pada tempatnya masing-masing. Daya itu juga menahan setiap sel itu agar tidak melenceng dari fitrahnya, agar sel-sel itu tidak tumbuh liar dan saling membunuh satu sama lainnya…

Beliau dibawa oleh Jibril untuk memahami daya yang tak pernah berhenti sepanjang masa itu. Sehingga Beliaupun menggigil seperti kedinginan…

Dari tiada menjadi wujud manusia, menjadi…, menjadi…, menjadi sejuta apa-apa. “‘allamal insaana maa lam ya’lam, begitulah cara Allah mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya. Yaitu dengan cara Iqraa, membaca peristiwa, membaca keadaan, membaca proses, membaca kejadian, membaca Kalam. Dan semuanya itu jelas dan nyata. Bukan sekedar kira-kira dan duga-duga. Kemudian untuk membahasakan proses itu, maka Jibril menuntun Beliau agar Beliau tidak keliru ucap dan huruf. Maka jadilah proses pengajaran pertama Beliau itu menjadi ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan pertama kali kepada Beliau. Untuk selanjutnya proses seperti itu berlanjut selama masa kerasulan Beliau.
Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: