Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2013

Menyalakan Tombol Kehidupan-6

Untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi didalam diri kita, mari kita lihat sejenak beberapa contoh berikut ini dalam sebuah lingkaran kehidupan untuk sehari penuh. Kita langsung saja mengambil contoh yang sangat ekstrim, yaitu apa sebenarnya yang terjadi di dalam diri seorang Pezina, Koruptor, dan para penerus Fir’aun. Yaitu 3 jenis manusia yang keliru dalam menjalankan fitrahnya sebagai Khalifatullah yang diutus oleh Allah ke muka bumi ini.

Para Pezina atau Peselingkuh…

Read Full Post »

Mungkin tidak banyak yang paham bahwa begitu kita mencoba untuk memahami Hipnotis, Gendam, Mesmer, misalnya, maka saat itu juga suasana didalam hati kita akan dibawa masuk kedalam suasana hati orang-orang yang memperkenalkan hipnotis itu berikut dengan segala variant nya dikemudian hari. Orang-orang itu antara lain adalah Milton H. Erickson, James Braid, Frans Mesmer, to say the least. Sehebat-hebatnya benih-benih pikiran dan kemampuan kita dalam hipnotis dan yang sejenisnya, tetap saja kehebatan kita itu hanya akan sebelas dua belas (sama) dengan pemikiran-pemikiran dan kemampuan mereka. Tidak lebih.

Pertanyaannya adalah, apakah sama orang-orang yang hatinya dipenuhi oleh Allah dengan orang-orang yang hatinya dipenuhi oleh segala sesuatu yang selain Allah?. Dan apakah orang yang hatinya dipenuhi oleh Allah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah akan kalah sakti dengan orang-orang yang hatinya dipenuhi oleh ilmu hipnoptis dan yang sejenisnya?. Jawabannya ada didalam dada kita masing-masing. Kalau bagi saya, jawabannnya adalah: itu pastilah tidak sama. Dan saya sudah membuktikan dengan haqqul yakin bahwa hati yang dipenuhi dengan Allah jauh lebih sakti dari hati yang diisi dengan apa-apa yang selain Allah. Hati yang penuh diisi oleh Allah saktinya adalah benaran. Bukan sakti yang semu.

Akan tetapi, karena tercampur aduk seperti itu, hatta didalam shalat sekalipun, saat kita sudah mencoba untuk meniru seluruh sikap, gerakan, dan bacaan-bacaan Rasulullah Muhammad SAW saat shalat itu, tapi anehnya hati kita ini tetap saja tidak bisa meniru hati Beliau. Karena memang dalam keseharian kita, hati kita memang sudah kita biarkan untuk dipenuhi oleh apa-apa yang selain Allah. Shalatmu seperti shalat orang munafik, kata Al Qur’an dengan sangat pedas.

Begitulah, akhirnya, tahu-tahu kita sudah tua, tahu-tahu kita sudah sakit-sakitan, tahu-tahu kita sudah ditinggalkan oleh dunia. Itu pulalah sebabnya aspek kehidupan dunia bagi kita yang berasal dari dunia pesantren maupun dunia fakultas syariah biasanya menjadi sangat kedodoran. Sementara diluar sana kehidupan duniawi sangat-sangat gemerlap dan mencengangkan. Semuanya melambaikan tanggannya kepada kita agar kita mengikutinya.

Jadilah kita mengalami konflik hebat di dalam batin dan di alam pemikiran kita. Konflik antara kita ingin kenikmatan dunia yang memabokkan disatu sisi, atau kita ingin mereguk kenikmatan syurgawi di akhirat kelak disisi yang lainnya. Kalau kita memilih kenikmatan dunia, maka kita cenderung untuk meninggalkan seluk beluk aturan agama yang sekilas kelihatan rumit.

Sebaliknya kalau kita memilih kenikmatan syurgawi di akhirat kelak, maka kita cenderung untuk meninggalkan gemerlapnya kehidupan di dunia ini. Hal seperti inilah yang menimbulkan kesan bahwa antara otak (yang mewakili kenikmatan hidup di dunia) dengan hati (yang mewakili kenikmatan kehidupan di akhirat kelak) seperti seperti sudah tidak bisa disatukan sama sekali. Sementara itu, kita selalu berdoa untuk mendapatkan keduanya. Kita ingin dapat syurga di dunia dan ingin pula dapat syurga di akhirat. Akhirnya konflik di dalam batin kitalah yang terjadi.

Kalaupun ada yang disebut sebagai pondok pesantren modern, itupun sebenarnya tidak lebih dari sebuah institusi pendidikan yang mengajarkan murid-muridnya tentang asah otak (ilmu pengetahuan umum) dan asah hati (ilmu pengetahuan agama) dengan porsi yang hampir seimbang. Ciri-cirinya, murid-muridnya bisa berbahasa Inggris dan bisa pula berbahasa Arab. Mahasiswanya bisa hafal rumus-rumus matematika dan perhitungan-perhitungan ilmu alam (kima, fisika, biologi, psikologi), dan mereka bisa pula hafal ayat-ayat al Qur’an dan lembaran-lembaran Al Hadist serta kitab-kitab agama lainnya dengan sangat menakjubkan.

Akan tetapi, dengan semua paradoks diatas, asah otak dan asah hati yang kelihatannya tidak pernah selesai, tetap saja masalah utama kita adalah, bagaimana agar kita bisa keluar dari permasalah yang dengan sangat sederhana seperti yang dikeluhkan oleh Mas RS di Milis Dzikrullah berikut ini:

Assalamu alaikum,

Milist yang terhormat, sudilah kiranya membagi kiat-kiat untuk memerangi hawa nafsu berbuat maksiat.

Gagal dan selalu gagal, itulah yang selalu dialami ,,, berat sangat untuk menghadapinya. Selalu terjatuh dan menyesal setelahnya ,,, mohon pencerahannya sudah membuncah rasa penat di hati untuk menghadapi tapi tak kuasa menolak.

Wassalamu alaikum.
RS…

Karena memang apa yang dikeluhkan oleh Mas RS ini adalah permasalahan dan problematika seluruh umat manusia. Hatta bagi orang-orang yang datang dari dunia santri yang paling santri atau dunia spiritual manapun. Sehingga dengan segala permasalah seperti itu, pengajian-pengajian bisa penuh dan tumpah ruah, pelatihan-pelatihan untuk mencari bahagia dan ketenangan hati saling mengiklan diri mencari peserta. Berbagai panggung hiburan digelar agar orang-orang bisa tertawa, menangis, dan melonjak-lonjak kegirangan walau hanya untuk beberapa saat.

Akan tetapi, semua kegiatan itu hanya mampu memindahkan kita keluar dari segala permasalahan kita untuk sementara waktu saja, untuk tidak beberapa lama kemudian semua permasalahan kita itu satu persatu kembali bermunculan. Dan itu rasanya sangatlah penat sekali. Hati kita rasanya sesak, karena kita kembali tidak kuasa untuk menolak dorongan hawa nafsu kita yang seperti mengikat kita dengan kuat untuk kembali berbuat yang tidak baik menurut ukuran agama maupun kepatutan manusia.
Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Cara pengajaran dari Allah seperti ini disebut juga dengan cara Allah menyusupkan WAHYU kedalam Dada Beliau, atau Allah langsung berbicara melalui TABIR kepada Beliau. Untuk membedakan Beliau dengan umat Beliau, maka pengajaran untuk umat Beliau biasa disebut melalui ILHAM. Para sahabat Beliau serta Wali-Wali Allah yang hidup jauh setelah Beliau wafat biasanya disebut menerima ILHAM dari Allah untuk mengetahui hal-hal yang belum mereka ketahui. Termasuk kepada kita sebenarnya. Ya…, kepada kitapun Allah akan berbicara melalui ILHAM ini. Inilah cara rabbaniyyah menurut Al Qur’an.

Beda antara kita dengan Rasulullah adalah bahwa Rasulullah sudah berada pada posisi ruhani yang sangat bening sehingga Beliau tidak pernah berkata-kata dan berperilaku atas dorongan hawa nafsu Beliau sendiri. Semua yang Beliau bicarakan dan lakukan adalah atas tuntunan dan dorongan dari Allah sendiri. Sedangkan bagi kita, saat kita berkata-kata dan bertindak, hampir sebagian besar ruhani kita masih dikotori oleh dorongan hawa nafsu kita sendiri, sehingga sering sekali salah menganggap bahwa dorongan hawa nafsu itu kita kira adalah dorongan ilham dari Allah. Padahal dorongan ilham yang kita terima ketika ruhani kita masih kotor itu adalah ilham-ilham yang disusupi oleh ilham dari syaitan. Karena saat ruhani kita kotor, Allah segera mengirimkan syaitan ke dalam dada kita. Syaitan itulah yang akan meniupkan was-was kedalam hati kita, sehingga kitapun terperosok menjadi orang-orang yang menimbulkan angkara murka dimanapun kita berada.

Jadi cara belajar yang di beritahu oleh Al Qur’an bukanlah dengan cara kita menghafal beragam ilmu seperti yang kita lakukan sekarang ini. Bukan. Tapi dengan cara Iqraa, yaitu dengan sebuah cara Ilahiyah. Cara ilhami. Cara dengan menjadikan Allah sebagai Rabbi atau Maha Pendidik kita. Sebuah cara yang sedemikian rupa sampai kita dimengertikan sendiri oleh Allah atas apa-apa yang kita pelajari itu mulai dari keadaannya, suasananya, seluk beluknya, rasanya, luarnya, dalamnya, enaknya, tidak enaknya. Jasmani dan rohani kita , lahir dan batin kita, otak dan hati kita, kedua-duanya mendapatkan porsi pembelajaran yang setara terhadap sebuah topik yang sedang kita pelajari. Utuh pelajaran itu. Utuh, menyeluruh, dan lengkap. Secara “Kaffah” menurut istilah Al Qur’an.

Misalnya, kalau kita mau belajar tentang shalat, maka harus dengan cara sedemikian rupa sampai kia bisa mencontoh shalat Rasulullah. Mencontoh Rasulullah itu bukan hanya sekedar mencontoh seperti cara yang diajarkan kepada kebanyakan kita selama ini. Bukan begitu. Kita harus belajar sampai bisa mencontoh tidak hanya gerakan fisik dan bacaan-bacaan Beliau saja, tapi kita juga harus sampai bisa menontoh bagaimana suasana, keadaan, dan rasa hati Beliau ketika Beliau shalat. Yang pasti ketika shalat itu, Beliau shalat sebagai seorang yang beriman, berislam, dan berihsan pada saat yang bersamaan. Shalat lahir dan batin, shalat jasmani dan rohani. Dan itupun kemudian ditambah pula dengan dampak nyata realitas manfaat shalat itu ketika Beliau kembali ketengah-tengah masyarakat dalam bentuk amal shaleh yang sangat sempurna.

Sehingga kalau kita berhasil pula mencotoh Rasulullah seperti itu, maka ketika kita berbicara kepada orang lain tentang hal itu, tentang shalat misalnya, tercapai dua hal pokok sebagai berikut. Satu…, agar kita tidak dianggap bohong dan munafik oleh Allah dengan mengatakan kepada orang lain apa-apa yang sebenarnya tidak kita ketahui dan tidak kita lakukan dengan pas. Sebab Allah ternyata sangat marah dan murka kepada kita ketika kita berani-beraninya berkata-kata kepada orang lain atas apa-apa yang sebenarnya tidak kita ketahui dan tidak kita pahami dengan pas. Kedua…, agar apa-apa yang kita sampaikan kepada orang lain, akan berbekas didalam hati dan pikiran mereka, sehingga merekapun seperti tergerak pula untuk melakukan apa-apa yang kita sampaikan itu.

Karena cara-cara ilhami (iqraa) seperti itu TIDAK kita lakukan, maka dari sini pulalah tragik hidup umat Islam berawal. Yaitu tatkala kita sudah tidak bisa lagi membaca dan memahami berbagai proses yang terjadi di alam ini dan kita tidak bisa pula memahami Ilham yang langsung diturunkan Allah ke dalam hati kita untuk menyelesaikan berbagai problematika kehidupan kita. Tegasnya, kita tidak bisa lagi berkomunikasi dan berdialog dengan Allah. Lalu kitapun gagal untuk memenuhi sebab musabab kenapa kita diturunkan Allah kedunia ini, yaitu untuk menjadi khalifah, menjadi wali Allah untuk mengatur alam semesta ini. Ya…, kita gagal menjadi khalifah Allah, gagal menjadi wali Allah.

Dampaknya sangat nyata sekali. Coba bayangkan betapa anehnya kita ini, kita selalu shalat dan berdo’a kepada Allah, tapi kita nyaris tidak tahu sedikitpun apa jawaban dan respon Allah terhadap shalat dan do’a-do’a kita itu. Kita dalam keseharian seperti berhadapan dengan Allah yang bisu dan tuli. Saat kita berbicara dengan Allah, kita seperti berhadapan dengan batu atau benda mati. Tidak ada respon dan balasan yang bisa terima. Hambar. Garing. Kering.

Jadilah kita umat islam ini ragu dengan Allah. Kita memang sering menyebut nama Allah, sering mengucapkan syahadat, sering mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah, tapi anehnya ekspresi kita penuh keraguan tentang Allah. Keimanan kita kepada Allah begitu tipisnya, sehingga begitu ada masalah, kita jadi goyah. Kita seperti kehilangan tempat berpegangan dan alamat bergantung. Menjadi orang yang kebingungan ditengah-tengah banjir ilham Allah yang bertebaran memenuhi ufuk cakrawala.

Lalu, betapa banyak diantara kita yang sedang bermasalah kemudian menanyakan solusi masalah kita kepada dukun, paranormal, dan orang-orang yang sejenisnya. Dan berapa banyak pula diantara kita yang sangat terpesona dengan kehebatan ilmu kontak, ilmu getaran, ilmu magic, ilmu hipnotis, dan ilmu-ilmu sejenis lainnya, baik yang dengan sangat halus disesuai-sesuaikan dengan istilah-istilah agama maupun yang sebisa mungkin menyingkirkan istilah-istilah agama didalamnya. Semuanya berpalun menjadi satu keadaan yang membingungkan kita. Seakan-akan kita ini kalau hanya berbekal ilmu “laa haula wala quwwata illa billah” sudah menjadi tidak ada apa-apanya lagi.

Otak kita sudah kita isi dengan ilmu yang mencampur adukan antara yang hak dan yang batil. Hati kita sudah tidak sama lagi dengan hati yang dimiliki oleh Rasulullah, sahabat, dan wali-wali Allah. Sementara kita sering berkata bahwa kita umat islam ini harus mencontoh Nabi dalam segala Hal. Mau mencontoh apanya?. Wong hati Beliau-beliau itu selalu dipenuhi oleh Allah, sehingga setiap saat Beliau-beliau itu selalu Dzikrullah (menyadari, menghormati, dan menyebut-nyebut) Allah. Sementara hati kita dipenuhi oleh segala sesuatu yang selain Allah, sehingga setiap saat kita selalu dzikir (menyadari, menghormati, menyebut-nyebut) segala sesuatu yang selain Allah.

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Coba kita bayangkan, saat menerima wahyu pertama kalinya, Rasulullah diperintahkan oleh Jibril untuk Iqraa, membaca. Padahal dihadapan Beliau saat itu tidak ada selembar bukupun yang bisa Beliau baca. Tidak ada pula huruf-huruf dan kalimat-kalimat yang bisa Beliau rangkai untuk dibaca. Bahkan konon kabarnya Beliau itu tidak bisa menulis dan membaca huruf-huruf dan kalimat-kalimat dalam bentuk bahasa tulisan. Tapi anehnya saat itu Beliau disuruh oleh Jibril untuk membaca. Mau membaca apa?. Sehingga Beliau jadi kebingungan sendiri dihadapan Jibril. “Maa ana bi qari…, maa ana bi qari…, maa ana bi qari… (saya enggak bisa baca)”, kata Beliau berulang kali.

Tapi dengan telaten Jibril menunjukkan kepada Beliau sebuah cara belajar yang sangat sempurna. Sangat sempurna sekali malah. Yaitu dengan cara belajar langsung kepada Sang Maha Sumber dari segala Ilmu. Allah Rabbul ‘alamin, Allah Yang Maha Mendidik bagi alam semesta dan semua isinya. “Iqraa bis mirabbika…al ladzi Khalaq”, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu (terlebih dahulu), Tuhan yang Maha Menciptakan…?.

“Bismillah…, dengan nama Allah, atas nama Allah…”, ungkap Beliau. Sederhana sekali sebenarnya ungkapan Beliau itu. Tapi dalam kesederhanaan itu telah tercakup segala hal yang diperlukan dan yang seharusnya terjadi dalam sebuah proses ajar mengajar antara pihak yang bersedia diajar (Rasulullah sendiri) dan pihak yang bersedia mengajar (Allah SWT).

Beliau memulainya bukan atas nama hawa nafsu Beliau, bukan dengan mengatasnamakan dorongan hawa nafsu Beliau. Tetapi Beliau memulainya atas nama Allah, dengan nama Allah. Artinya Beliau saat itu tidak jauh-jauh dari Allah. Beliau bersama Allah. Sehingga hasilnya pun beliau sampaikan kepada seluruh umat manusia atas nama Allah dan mewakili Allah…

“Bismillah…”, lalu dengan seketika itu juga Beliau “dituntun” oleh Allah untuk memasuki Ruang Penciptaan Awal. Ruang dimana segala sesuatu bermula dan berawal. Suasananya langsung berubah total. Dari suasana sebelumnya yang penuh hiruk pikuk dan membingungkan, berubah menjadi suasana yang sangat hening dan mencekam. Beliau dituntun oleh Allah untuk memasuki suasana sebelum ada apa-apa, sebelum segala sesuatu ada, sebelum manusia tercipta…

Disini ada wujud yang ridho dan bersedia untuk dituntun dan ada pula Wujud yang ridho dan bersedia untuk Menuntun. Wujud yang dituntun hanya diam menghadap dan berserah dengan penuh keteguhan sikap, sedangkan Wujud yang Menuntun sangat aktif mengantarkan wujud yang dituntun sampai ketujuannya yang seharusnya. Wujud yang dituntun hanya “duduk” dalam ketiadaan daya. Dia effortless. Sementara Wujud Yang Menuntun sangat aktif merengkuh wujud yang dituntun dengan sepenuh Daya Milik-Nya. Dia sangat Kuat dan tak terkalahkan. Dia Sangat Powerfull.

Wujud yang dituntun dalam perjalanan itu bukanlah berupa pikiran, karena pikiran adalah bentuk lain dari materi dan vibrasi. Kalau pikiran yang diperjalankan, maka ujung-ujungnya pastilah akan berhenti di materi dan di vibrasi. Wujud yang dituntun itu juga bukanlah rasa yang dirasa-rasakan, karena rasa itu juga hanyalah bentuk lain dari materi dan energi. Kalau rasa yang diperjalankan, maka ujung-ujungnya juga pastilah hanya akan berhenti di materi dan di vibrasi.

Lalu apakah wujud yang dituntun itu?. Insyaallah ini akan dibahas dalam topik tersendiri “YANG BERJALAN DAN YANG KEMBALI”

Selama dalam perjalanan itu ada pula informasi atau bahasa yang mengalir dari Wujud Yang Menuntun kepada wujud yang dituntun. Informasi itu sangat bersih dan bening. Informasi yang tidak sedikitpun dipengaruhi terlebih dahulu oleh cetusan hawa nafsu dan buah pikiran Beliau. Tidak. Informasi itu murni yang semurni-murninya diturunkan dari Wujud Yang Maha Mengajari. Bahasa dari informasi itu sangat jelas. Bahasa yang bisa dimengerti oleh Lebah, bahasa yang dimengerti oleh angin, bahasa yang dimengerti oleh langit, bahasa yang dimengerti oleh seorang bayi…!. Ya… seorang bayi…

Akan tetapi bahasa itu tidak akan pernah bisa dibaca dan dimengerti oleh siapapun yang dirinya sedang jadi tawanan hawa nafsunya, dirinya yang sedang dihambat dan dikendalikan oleh pikirannya, dirinya yang sedang dibawah kendali egonya. Tidak akan bisa. Karena bahasa itu bukan dalam bentuk bahasa getaran (vibrasi-vibrasi), atau energi-energi yang sangat banyak bertebaran di alam semestas ini. Bahasa itu juga bukan dalam bentuk bahasa vibrasi pikiran dan perasaan. Bukan. Sebab kalau hanya sekedar bahasa vibrasi-vibrasi yang ada di alam semesta ini, termasuk vibrasi pikiran dan perasaan, itu akan bisa dibaca dan diolah oleh setiap orang dengan modal sedikit latihan saja. Bahkan orang-orang yang tidak mempercayai Allah sebagai Tuhannya sekalipun akan bisa membaca getaran-getaran tingkat rendah itu dengan mudah. Tapi bahasa ini bukanlah bahasa getaran-getaran tingkat rendah seperti itu.

Demikianlah Beliau dipahamkan, Beliau diperjalankan untuk mengikuti betapa dahsyatnya peristiwa penciptaan manusia yang bermula dari tiada…. Kemudian Allah menyusun berbagai unsur saripati tanah menjadi berbagai bentuk dan ukuran, Lalu saripati tanah itu diberi kehidupan sehingga masing-masing bentuk dan ukuran saripati tanah itu bisa bergerak dan tumbuh sesuai dengan fitrahnya masing-masing. Sari pati tanah itu ditumbuhkan-Nya menjadi segumpal darah, lalu dibentuk-Nya menjadi segumpal daging, lalu dibentuk-Nya kembali menjadi tulang belulang, lalu tulang belulang itu dibungkus-Nya kembali dengan daging. Tidak hanya sampai disitu, bentuk janin masih sangat kecil itu juga dibekali oleh Allah dengan meniupkan Ruh-Nya kepada sang janin itu sehingga dengan Ruh-Nya itulah nantinya sang janin akan bisa mendengar, melihat, dan berhubungan kembali dengan Allah melalui ruang hatinya…

Beliau dibawa oleh Alah untuk merasakan sendiri betapa dahsyatnya daya yang bekerja pada proses penciptaan manusia itu. Daya itu terukur dengan sangat presisi dan akurat. Daya itu mengatur, mengantarkan, dan menempatkan milyaran sel-sel pada tempatnya masing-masing. Daya itu juga menahan setiap sel itu agar tidak melenceng dari fitrahnya, agar sel-sel itu tidak tumbuh liar dan saling membunuh satu sama lainnya…

Beliau dibawa oleh Jibril untuk memahami daya yang tak pernah berhenti sepanjang masa itu. Sehingga Beliaupun menggigil seperti kedinginan…

Dari tiada menjadi wujud manusia, menjadi…, menjadi…, menjadi sejuta apa-apa. “‘allamal insaana maa lam ya’lam, begitulah cara Allah mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya. Yaitu dengan cara Iqraa, membaca peristiwa, membaca keadaan, membaca proses, membaca kejadian, membaca Kalam. Dan semuanya itu jelas dan nyata. Bukan sekedar kira-kira dan duga-duga. Kemudian untuk membahasakan proses itu, maka Jibril menuntun Beliau agar Beliau tidak keliru ucap dan huruf. Maka jadilah proses pengajaran pertama Beliau itu menjadi ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan pertama kali kepada Beliau. Untuk selanjutnya proses seperti itu berlanjut selama masa kerasulan Beliau.
Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Cobalah perhatikan dengan seksama, ketika kita berbicara tentang otak, kita seakan-akan langsung dibawa kepada hal-hal yang berkenaan dengan alam dunia, atau alam ilmu pengetahuan umum saja. Sebaliknya, kalau kita berbicara tentang hati, maka kita seakan-akan digiring untuk membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan alam akhirat, atau alam ilmu pengatahuan agama saja. Tapi sungguh sangat sedikit kita diberikan pemahaman untuk memakai keduanya sekaligus, otak dan hati kita, pengetahuan umum dan pengetahuan agama kita, alam dunia dan alam akhirat, dalam kehidupan kita saat ini, sekarang ini. Sehingga kita tidak bisa lagi menikmati keindahan kehidupan alam akhirat dialam dunia dunia saat ini. Padahal sebenarnya bisa. Sangat bisa malah. Padahal kita sangat sering berdoa untuk merasakan dan mendapatkan kebahagiaan syurgawi di dunia dan syurgawi pula di akhirat. Kita tahu pula bahwa bagaimana keadaan kita di akhirat kelak akan sangat tergantung pada keadaan kita di di dunia saat ini.

Ketika di dunia ini hidup kita penuh dengan siksaan dan kepedihan, suasana neraka dunia, maka di akhirat kelakpun kita pasti akan mendapatkan siksaan dan kepedihan seperti itu, suasana neraka akhirat. Sebaliknya, saat di dunia ini hidup kita penuh dengan kebahagiaan dan sukacita yang sebenarnya, syurga dunia, syurga yang bukan dari hasil permainan pikiran kita, maka seperti itu pulalah kehidupan kita di akhirat kelak setelah kita mati. Nanti akan kita bahas betapa permainan pikiranpun ternyata bisa menghasilkan kebahagiaan sesaat di dalam dada kita. Tapi kebahagian itu adalah kebahagian artificial, semu dan menipu. Percaya deh…

Karena kita, khususnya di Indonesia, tidak paham tentang tentang itu, makanya sejak dari dulu kita mengenal adanya sekolah umum dan ada pula sekolah agama atau pesantren, yang masing-masingnya mempunyai kurikulum dan cara belajarnya sendiri-sendiri. Di sekolah umum kurikulumnya lebih banyak bernuansa keduniaan, yang tujuannya adalah agar kita bisa mendapatkan kenikmatan dunia sebesar-besarnya. Dari sini bermunculan seminar-seminar, training-training, dan berbagai forum ilmiah yang bertujuan untuk mengisi dan mengasah otak kita agar menjadi cemerlang. Hasilnya…, memang sangat hebat dan luar biasa. Walaupun di sekolah umum itu ada juga diberikan pelajaran agama, tapi itu hanya sekedar untuk membuat kita tahu dan bisa melakukan aktifitas agama pada tingkat yang minimum saja.

Sedangkan di dunia pesantren, bahkan juga di dunia universitas yang berlabelkan syariah, kurikulumnya lebih banyak berhubungan dengan ilmu yang bernuansa keakhiratan. Dan itupun seperti belajar sejarah saja. Hafal ini…, hafal itu…, lalu diuji…, dan lulus. Kalaupun ada materinya yang berkenaan dengan keduniaan, itupun lebih banyak yang berhubungan dengan hukum fikih dan masalah-masalah muamalah saja. Buku referensi yang dipakai sungguh sangat banyak dan beragam. Berbagai kitab putih dan kitab kuning dikaji. Pemikiran ulama-ulama besar terdahulu diterjemahkan dan ditafsirkan dengan penuh semangat.

Berbagai kajian agama banyak pula yang diilmiah-ilmiahkan. Pengajian-pengajian diadakan dengan sangat intensif. Seakan-akan sampai tuapun kita ini kok rasanya belum akan selesai-selesai untuk mempelajarinya. Sehingga akhirnya banyak diantara kita yang lupa untuk melaksanakan dan mengamalkan ilmu agama itu sampai mendapatkan hasil yang diharapkan oleh ilmu agama itu sendiri. Kalaupun kita mengamalkannya, itupun tidak lebih karena kita takut dosa dan neraka, harap akan pahala dan syurga kelak diakhirat. Sekali lagi…, diakhirat.

Seperti yang sudah dinyatakan diatas, ada kesamaan cara yang kita lakukan dalam menekuni kedua kutub ilmu pengetahuan itu, ilmu pengetahuan alam (umum) dan ilmu pengetahuan agama (khusus), yaitu dengan cara kita menghafalkan berbagai kitab, dalil-dalil, dan rumus-rumus. Ya…, kita menghafalnya. Akibatnya kita jadi jarang sekali bisa mempelajari segala hal dengan cara seperti yang dianjurkan oleh Al Qur’an, yaitu belajar dengan cara IQRAA. Cara belajar yang sama dengan yang dilakukan oleh Rasulullah, para Sahabat dan penerus-penerus Beliau dizaman-zaman awal kejayaan Islam.

Hasilnya adalah hati dan otak Beliau bekerja bersamaan dengan sangat sinkron dan harmonis. Dimana hati Beliau selalu dipenuhi oleh Allah, kemahabesaran Allah, kemahahebatan Allah, dan kemahaagungan Allah, sehingga hati Beliau pun selalu berada dalam keadaan sukacita dan bahagia yang amat sangat bersama Allah. Sukacita dan bahagia yang langsung diturunkan oleh Allah. Bukan bahagia dan sukacita yang berasal dari olah pikiran Beliau sendiri. Sedangkan otak Beliau selalu Beliau pergunakan sebagai alat untuk melakukan fungsi koordinasi bagi seluruh aktifitas fitrah ketubuhan Beliau seperti fungsi-fungsi panca indera (VAKOG) dan fungsi-fungsi intelektualitas Beliau untuk membaca (IQRAA) segala kemahaindahan dan kemahasempurnaan ayat-ayat (tanda-tanda) Allah dimanapun Beliau berada.

Ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan Beliau tidak pernah lepas dari aroma pengangungan yang amat sangat kepada Allah, sehingga dengan itu Allah pun berkenan pula mengalirkan Rahmat-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya. Beliau memang telah menjadi sebab kenapa Allah menurunkan Rahmat-Nya bagi alam semesta ini. Beliau telah menjalankan fungsi Beliau yang sebenarnya, yaitu fungsi sebagai pribadi yang menjadi rahmatan lil alamin. Fungsi Khalifatullah…

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

Bismillahirrahmanirrahim…
Bimillahi tawakkaltu ‘alallahi wala haula wala quwwata illa billahil ‘aliiyil ‘adhim…
Bismillahi Allahu Akbar..

Sungguh Allah Maha Sempurna dalam memfasilitasi kita dengan beragam instrumen kehidupan, sehingga kita bisa melakukan berbagai tugas, beraktifitas dan berbuat apa saja selama hidup kita. Apa saja…!. Fasilitas yang diberikan Allah itu membuat kita bisa berhubungan dengan segala hal yang ada disekitar kita, mulai dari berbagai macam unsur materi sampai kepada beragam unsur non materi. Semuanya bisa kita ketahui asal kita bisa menggunakan alat yang tepat untuk itu. Semua Itu bukan hanya bisa kita ketahui, tapi juga bisa kita eksplorasi, ekploitasi, dan manfaatkan sampai kebatas yang sangat mencengangkan, kalau tidak mau dikatakan mustahil, untuk menjadinya sebagai sebuah kenyataan.

Semua instrumen itu bermuara pada dua “tempat” di dalam tubuh kita yang satu sama lainnya “sekilas” kelihatan saling berlawanan. Namun, walaupun saling berlawanan, tapi kedua tempat itu tetap saling terhubung dengan sangat eratnya. Keduanya mirip seperti seperti ujung-ujung kutub positif dan kutub negatif dari sepotong magnet yang berada di dalam tubuh kita. Kedua tempat itu punya sifat yang sangat unik. Adakalanya, kalau satu tempat sedang menyala atau hidup, maka tempat yang satu lagi akan padam atau mati. Akan tetapi adakalanya juga kedua tempat itu bisa hidup dan menyala secara bersamaan, sehingga dari keduanya bisa muncul cahaya yang menyinari setiap langkah yang kita ambil dalam menjalani kehidupan kita. Kedua tempat itu adalah OTAK dan HATI (SUDUR, DADA, JIWA) kita. Dan percaya atau tidak, pada kedua tempat inilah sebenarnya segala permasalahan, problematika, rona, ragam, dan liku-liku kehidupan semua manusia berasal dan bermula. Sungguh Otak dan Hati ini adalah dua tempat didalam tubuh kita yang sudah menjadi topik perbincangan hangat umat manusia sepanjang zaman.

Namun pada kesempatan ini kita tidak akan berbicara tentang berbagai kehebatan dan kedahsyatan otak dan hati ini. Karena cerita tentang segala kedahsyatan otak itu, dan juga bagaimana pengaruh kelainan otak kita pada kehidupan kita, serta bagaimana melatih otak kita untuk mengubah kehidupan kita, bisa kita baca di buku-buku yang sangat banyak tersedia ditoko buku. Tiga buku yang menurut saya sangat bagus adalah: “Brain Rules”, oleh John Medina; “Change Your Brain Change Your Life”, oleh Daniel G. Amen, M.D.; “Train Your Mind Change Your Brain”, oleh Sharon Begley.

Namun, walaupun uraian buku-buku itu sangat hebat dan mencengangkan, akan tetapi tidak satupun dari ketiga pengarang itu yang mencoba membawa pembacanya untuk bisa “melihat” adanya Wujud Tunggal yang sedang bekerja tanpa henti, tanpa lelah, tanpa istirahat, dan tanpa tidur mengatur otak kita itu. Yaitu Allah SWT. Dengan telaten, Dia menganyam “harmoni gerak” antara sel-sel, DNA, Hormon, Enzim yang ada di dalam otak dan di dalam tubuh kita, dengan berbagai unsur materi, partikel, serta cahaya diluar tubuh kita yang kesemuanya itu membentuk sebuah symphoni kehidupan yang sangat mencengangkan.

Semua itu dilakukan-Nya agar kita bisa mengenali-Nya dari “tempat” Persembunyian-Nya yang sangat-sangat dekat dengan kita. Bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Sehingga pada akhirnya, mau tidak mau, terpaksa atau sukarela, kita akan menyerah dan tunduk kepada-Nya. Kita akan mengibarkan bendera putih kepada-Nya sebagai tanda ketidakberkutikan kita kepada-Nya. Sebab, siapapun juga yang mampu MELIHAT dan MENYADARI Dzat Tunggal itu, lalu dia memanggil namanya: “ya Allah…, ya Allah…”, maka pastilah dia akan jatuh tersungkur, tersujud, menangis, dan bahkan sampai menjerit histeris di depan-Nya. Pasti…

Kita juga tidak akan membahas tentang HATI (SUDUR, DADA, JIWA) dengan segala seluk beluknya, baik itu berupa letaknya, wujudnya, sifatnya, dan cara-cara untuk membersihkan, mengolah, dan meng eksplorasinya sesuai dengan keinginan kita. Tidak. Karena buku-buku yang bercerita tentang itu semua bisa pula kita temukan di berbagai toko buku ditanah air. Sebutlah diantaranya: Risalah Qusairiyah, Sirr Al Asrar Fi Ma Yahtaj Ilayh Al Abrar, Raitullah, Al Hikam, Madarijus Salikin, Ihya Ulumuddin, Misykah al-Anwar, Sinar Keemasan, dan sebagainya.

Memang betul bahwa buku-buku diatas adalah buah karya ulama-ulama besar terdahulu dari proses panjang tadzkiyatunnafs dan pendekatan diri mereka kepada Allah SWT. Sangat hebat dan fenomenal sekali. Namun dengan cara hanya membaca buku-buku tersebut berulang kali, atau sekedar ngalap berkah, atau kadangkala juga sudah mempraktekannya dengan penuh semangat, ternyata tidak serta merta bisa mengantarkan kita untuk menemukan makna hakiki yang ingin disampaikan oleh mereka yang mulia pengarang-pengarang buku itu. Kita malah seringkali jadi sibuk dan ribet sendiri satu sama lainnya.

Dengan cara hanya membaca berbagai buku seperti diatas, akibatnya malah muncul kesan bahwa di antara otak dan hati kita itu seperti ada jurang pemisah yang sangat dalam. Keduanya seakan-akan tidak bisa lagi kita satukan. Keduanya seakan-akan telah menjadi dua kutub yang benar-benar berbeda fungsi dan manfaat yang saling berseberangan.

Bersambung…
Deka…

Read Full Post »

« Newer Posts

%d blogger menyukai ini: