Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2012

DARI DIAM DAN HENING 6.

Kalau sampai disini dihentikan dzikirnya, dan si salik keluar dari tempat suluknya kembali ketengah masyarakat, biasanya si salik akan berperilaku aneh. Misalnya tertawa sendiri, lalu menangis, lalu tertawa lagi dan bahkan mungkin berbicara sendiri berkepanjangan. Mirip orang sakit jiwa. Atau bisa juga si salik seperti bisa berhubungan dengan berbagai makluk halus, yang sebenarnya hanyalah fenomena getaran biasa saja. Tapi walaupun getaran biasa, namun tetap ada saja interferensinya dengan dunia jin, karena jin sendiri adalah sebentuk getaran pula.

Nah untuk inilah sebenarnya fungsi guru mursyid (kalau memang harus ada) di tarekat tertentu dibutuhkan, yaitu untuk menjaga agar si salik mau meneruskan proses suluknya sampai selesai. Sebab sesudah tangisan histeris, bergetar, dan meronta liar itu, biasanya pikiran si salik sudah tidak bekerja lagi selain hanya berkonsentrasi kepada lathaif-lathaifnya, kepada huruf Allah, dan ucapan dzikirnya. Akibatnya pada suatu saat, sepersekian detik pikiran itu benar-benar seperti berhenti dan terlepas dari diri si salik. Dia seperti keluar dari dirinya. Dia seperti terlepas dari jeratan hatinya. Dia seperti meluncur kedalam alam-alam yang disana semua serba mungkin. Katanya proses seperti ini adalah sebuah perjalanan astral. Fenomena Out of Body experience (OBE).

Saat itu, ada yang sampai merasakan sedang meniti titian rambut dibelah tujuh, ada yang seperti sedang berbaris di padang mahsyar, dan sebagainya. Pokoknya apa-apa yang ada di dalam memori si salik keluar semuanya saat itu. Bukankah semua yang dialaminya itu sebenarnya hanyalah gerombolan memori VACOG si salik yang selama ini tersembunyi, bermunculan keluar dari tempat persembunyiannya. Dan memang begitu kok.

Pada tahapan yang lebih lanjut, biasanya si salik bertemu bermacam-macam fenomena, termasuk fenomena seperti memasuki alam yang tenang, damai, luas tak terbatas. Biasanya pada kondisi seperti ini si salik disebut sedang “KARAM, EKSTASI”, dan dia dianggap terbebas dari syariat. Makanya kalau si salik KARAM saat shalatnya, dan biasanya dia terjatuh, shalatnya dianggap shalat yang hakiki. Dia tidak diwajibkan untuk menyempurnakan shalatnya saat dia selesai dari karamnya. Biasanya karam seperti ini berlangsung selama 30 menit sampai satu jam.

Nah, dalam dunia tarekat umumnya, suasana KARAM atau EKSTASI inilah yang lebih disukai dari pada melaksanakan shalat atau syariat-syariat lainnya. Suasana yang mirip KARAM ini juga bisa didapatkan si salik dengan cara melakukan gerak berputar seperti gasing secara konstan dalam jangka waktu tertentu yang diiringi dengan suara-suara dzikir atau musik monoton yang tertentu pula. Efeknya hampir sama dengan hasil berbagai metoda diatas.

Bersambung
Deka

Iklan

Read Full Post »

DARI DIAM DAN HENING 5.

Adakalanya kita seperti ingin memraktekkan cara mati sebelum mati. Tapi dengan cara seperti kita ingin benar-benar mati. Misalnya, kita bisa saja melakukan aktivitas-aktivitas yang sebenarnya akan merusak syaraf-syaraf otak yang sudah terbentuk itu dengan cara menahan nafas untuk mengurangi suplai oksigen kedalam otak kita. Atau kita bisa melakukan metoda penyiksaan diri lainnya seperti bertapa ditempat sunyi, bermeditasi dibawah air terjun, dan dengan pemakaian obat-obatan penyebab halusinasi lainnya seperti yang banyak dilakukan orang-orang di pedalaman rimba Amazon Brazil. Tujuannya satu, yaitu agar kita bisa untuk beberapa saat melepaskan diri kita dari penjara pikiran yang membelenggu kita selama ini.

Salah satu cara mengurangi suplai oksigen kedalam otak kita adalah dengan jalan penahanan nafas kita selama waktu tertentu. Semakin lama kita bisa menahan nafas, biasanya kita akan lebih cepat “kehilangan” kesadaran kita. Sampai pada suatu saat keadaan kita menjadi seperti orang yang sedang tercekik. Kita gelagapan. Kalaulah kita bisa tenang dan tidak panik saat itu, kita keluarkan nafas kita dengan perlahan, maka akan terasa seperti ada letupan kecil, TASSS, didalam otak kita. Saat itu kita seakan-akan memasuki alam yag semakin lama semakin luas, dan juga hening.

Orang yang sudah pernah mengalami keadaan ini biasanya akan melakukannya kembali berulang-ulang dan berlama-lama. Untuk bisa melakukannya kembali dengan mudah, kita butuh semacam jangkar berupa ucapan, atau bentuk perpaduan tertentu jari-jari kedua tangan kita seperti dalam ilmu ninja, atau sikap tubuh tertentu, atau bisa pula gambar tertentu. Mungkin suasana yang didapatkan dengan cara seperti ini yang disebut orang sebagai memasuki keadaan Somnambulisme, entahlah.

Didalam tarekat-tarekat tasawuf tertentu, ilmu dan praktek menghentikan pikiran ini juga sangat beragam sekali. Salah satunya adalah proses suluk, dimana seorang salik harus berdiam diri didalam sebuah ruangan yang gelap karena pintu ruangannya tidak pernah dibuka. Setiap salik harus berdiam diri didalam kelambu yang diberi kasur tipis untuk beberapa lama, biasanya sebulan penuh selama bulan ramadhan.

Salik hanya diwajibkan berdzikir sepanjang hari, sepanjang malam, didalam kelambu itu. Bahkan makan dan minumpun harus didalam kelambu. Salik boleh keluar kelambu hanya di saat shalat berjamaah dan di saat mandi. Selebihnya salik diwajibkan melakukan dzikir yang jumlahnya puluhan ribu kali. Selama dzikir salik diwajibkan mengarahkan kesadarannya kepada satu objek pikir tertentu saja berupa lathaif (cakra dalam praktek meditasi Hindu dan Budha) yang jumlahnya sangat beragam, ada yang tujuh, ada yang lima, ada yang tiga. Umumnya tujuh, sehingga disebut sebagai Lathaif Tujuh. Ketika berdzikir itu, disamping si salik mengucapkan kalimat-kalimat tertentu, seperti laa ilaha illallah, Allah-Allah dan sebagainya, bisa juga ditambah dengan si salik berusaha menghujamkan gambar huruf Allah dalam bahasa arab kedalam lathaif utama, yaitu lathaif qalb yang berada dibawah susu kiri.

Kombinasi antara makan yang kurang gizi (karena biasanya hanya nasi putih, sayur nangka, dan ikan teri), ditambah dengan ruangan yang gelap, pikiran terpusat pada lathaif-lathaif, ucapan monoton laa ilaha illallah, Allah-Allah, tulisan Allah dalam bahasa arab, kecapean, kelelahan, ngantuk, emosi ingin melepaskan diri dari jebakan tubuh dan pikiran, maka pada suatu ketika pastilah muncul juga keadaan seperti Somnambulisme diatas. Tapi bedanya didalam tarekat ini hampir selalu diawali dengan tangisan histeris yang sangat hebat, gerakan meronta yang liar, dan ucapan-ucapan yang tidak terkontrol. Keadaan seperti ini bisa saja sebentar dan bisa pula berhari-hari lamanya.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

DARI DIAM DAN HENING 4.

Kan ini yang menjadi masalah kita selama ini. Kita rindu untuk bisa kembali merasakan dan mereguk indahnya kehidupan seorang bayi. Seorang yang tidak punya rasa takut, khawatir, dan sedih sedikitpun. Sehingga kehidupan seorang bayi adalah kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan. Hidup yang aman dan sentosa. Hidup dengan semua fasilitas makanan, minuman, pakaian, dan rumah yang terbaik dan terindah dari orang tuanya. Hidup dimana semua orang ingin mencubitnya dengan gemas. Senyum dan pandangan matanya menggetarkan rohani semua orang, sehingga semua orang yang melihatnyapun dialiri oleh rasa senang yang melimpah ruah. Tangisnya menyentuh rohani semua orang, sehingga siapapun yang mendengar tangisnya itu akan tergopoh-gopoh ingin mengusir apa-apa yang membuatnya menangis. Kata-kata dan kalimat-kalimat pertama yang diucapkannya sangat ditunggu-tunggu. Walaupun kata dan kalimatnya itu masih terbata-bata. Saat dia berkata mamah, ibu, umi…, mata ibunya akan segera saja berlinang dengan air mata sambil memeluk dan menciumnya dengan lembut. Ketika dia panggil papah, abi, bapak…, bapaknya akan bergetar penuh haru dan bangga. Ketika dia panggil, nenek…, kakek…, sang kakek dan neneknya akan terkekeh penuh rasa bahagia…

Walau sang bayi tidak berpikir apapun, tetapi kecerdasannya bisa terlihat dengan jelas. Semangatnya tidak pernah kendor untuk merangkak, berlari, melihat, membaca, memegang, memukul, menghancurkan, membentuk, menyusun, dan menemukan hal-hal yang baru dalam hidupnya. Semua aktifitas itu dilakukannya dalam kondisi sadar penuh. Kondisi yang sangat berbeda dengan kondisi seseorang yang sedang dalam stage hipnotis. Dimana saat seseorang berada dalam stage hipnotis itu, dia hanya akan merespon dan patuh kepada apapun yang dikatakan oleh orang yang menghipnotisnya.

Kalau berbicara tentang hipnotis ini, saya jadi ingat dengan Cecar Millan, seorang Dog Whisperer yang terkenal dengan kata “SSSST” nya, yang sering muncul di Nat Geo Wild Channel. Kombinasi antara kata “SSSST” dan pemberian reward serta punishment terhadap seekor anjing dan juga beberapa arahan kepada pemiliknya, dia bisa mengubah karakter, sifat, dan perilaku seekor anjing yang pada awal sangat kasar, galak, pemarah, dan suka berkelahi menjadi seekor anjing yang manis, patuh, menyenangkan, jinak, dan mudah bersosialisasi dengan anjing-anjing lainnya. Ternyata anjingpun bisa dihipnosa untuk bisa berubah. Jadi melalui sebuah pertanyaan nakal berikut, siapa yang bisa menjawabnya?. “Kalau hanya mengandalkan hipnotis untuk mengubah karakter seseorang, lalu apa bedanya kita dengan binatang ternak??”.

Nah…l, kitapun ternyata ingin pula untuk tidak berpikir seperti bayi itu. Sementara itu, otak kita sudah penuh dengan berbagai pola pikiran yang masuk melalui alat indera kita selama bertahun-tahun. Inilah yang sulit. Sulit yang membawa kerisauan. Sehingga pada puncak kerisauan kita, dengan mudah kita akan mencoba melakukan proses penyiksaan diri yang memang pernah dilakukan orang diberbagai zaman.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

DARI DIAM DAN HENING 3.

Istilah-istilah dan praktek-praktek Yang Boleh Jadi Rancu.

Selama ini kita dibuat rancu tentang istilah mengosongkan pikiran, istilah menjadi bayi, dan istilah menutup howo songo. Belum lagi kalau ditambah dengan istilah-istilah yang berasal dari dunia NLP, Hipnotherapy, Psikologi. Dunia tasawuf atau suffiyah dengan berbagai tarekatnya cukup pula menjadi sebuah konsep yang misterius yang berada diatas sebuah menara gading spiritualitas yang sepertinya tidak akan bisa didapatkan oleh sembarangang orang, kecuali dengan bantuan seseorang yang katanya haruslah bermaqam Waliyyam Mursyida yang Kamil Mukammil.

Misalnya, ketika kita baru mengenal sebuah metoda meditasi, dimana dalam salah satu metodanya kita diajarkan untuk mengosongkan pikiran, menutup howo songo, maka kitapun diharuskan untuk menjauhi suatu objek pikir, agar objek pikir itu tidak membelenggu dan menawan kita. Katanya ini adalah proses Zero Mind. Proses mengosongkan pikiran.

Karena namanya mengosongkan pikiran, makanya tidak heran kalau ada pemrakteknya yang kemudian tidak mau menikah sampai tuanya, karena dia menganggap bahwa istri atau suaminya itu kelak akan membelenggu dirinya. Dia menghindar dari pernikahan. Sehingga akibatnya didalam memori pikirannya tidak ada file tentang seluk beluk pernikahan dengan segala permasalahannya. Ya, otaknya kosong. Ada pula yang menghindar dari kekayaan dan punya harta benda, menghidar dari keramaian untuk selamanya. Mereka biasanya ingin hidup ditempat yang sunyi dan menyepi kepuncak gunung, seperti yang dilakukan oleh pemraktek posisi kependetaan, atau pemangku posisi orang suci ala kepercayaan tertentu.

Adapula istilah lain yaitu bersih dan suci seperti halnya keadaan seorang bayi. Akan tetapi kita dihadapkan pada perbedaan keadaan yang sangat ekstrim antara kita dengan seorang bayi. Dimana otak seorang bayi masih benar-benar bersih dari beragam objek fikir VAKOG, sementara otak kita sudah terbentuk selama puluhan tahun dengan berbagai objek fikir VAKOG. Bagaimana caranya agar kita bisa membersihkan memori kita dari semua objek VAKOG itu?. Ini tentu sulit sekali kalau kita hanya mengandalkan olah VAKOG saja.

Akan tetapi, sebenarnya ada yang bisa kita contoh dari seorang bayi, yaitu kebeningan dan kebersihan rohaninya. Kalau keadaan rohani seperti ini bisa kita contoh, maka tentu saja keadaannya akan menjadi lain. Namun yang membuat kita risau selama ini adalah bahwa kita tidak tahu bagaimana caranya untuk meraih posisi kebeningan rohani seorang bayi itu !?.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

DARI DIAM DAN HENING 2.

Sedikit tentang pikiran dan proses berpikir.

Sebenarnya disini hanya ada dua entiti saja yang saling berinteraksi, yaitu saya (kita) sebagai subjek dan sesuatu yang lain sebagai objek. Kita dan objek itu saling terhubung oleh sebuah “perhatian” yang sedang kita berikan. Sebuah pikiran adalah sebentuk objek yang sedang menjadi pusat perhatian kita. Objek itu biasanya sesuatu yang dengan mudah bisa kita kenali melalui VAKOG atau alat indera kita, yang kesemuanya bisa kita sebut sebagai Objek Pikir saja. Jadi yang disebut sebagai Pikiran itu adalah Objek Pikir yang sedang kita ambil perhatikan lebih terhadapnya. Disini ada kita yang terlibat, ada Objek Pikir sebagai pusat perhatian kita, dan ada pula Perhatian lebih yang kita berikan terhadap Objek Pikir itu dibandingkan dengan Objek pikir lainnya. Ketika kita sedang memberikan perhatian lebih kepada sebuah Objek Pikir, maka kita disebut sebagai orang yang sedang berpikir. Sebaliknya, kalau kita sedang tidak memberikan perhatian apa-apa kepada sebuah objek, maka kita juga dikatakan sedang tidak berpikir. Itu saja kok. Sederhana kan?.

Namun dalam kesederhanaan inilah seluruh problematika kita umat manusia ini berawal. Bahwa hampir-hampir saja kita semua tidak bisa lagi menerobos hambatan dan halangan dari berbagai macam objek pikir yang sedang menahan pergerakan ruhani kita menuju ketidakterbatasan. Tanda-tandanya adalah kita seperti telah berubah menjadi objek pikir kita sendiri. Kita menyangka dan merasa bahwa diri kita adalah objek pikir kita sendiri. Kita terhalang dan tersiksa, hampir disetiap saat dalam hidup kita. Bahkan di dalam beribadah sekalipun halangan dan siksaan itu terjadi, sehingga ibadah kitapun nyaris seperti tidak berasa dan hanya berdampak minimum kalau tidak mau dikatakan tidak bermanfaat sama sekali.

Dan dari kesederhanaan ini pulalah peran penting Nabi-nabi, Rasul-Rasul, serta wali-wali Allah yang diutus oleh Allah bermula. Yaitu untuk memberikan contoh kepada kita, seluruh umat manusia ini, agar kita bisa pula dengan mudah dan sederhana menerobos segala hambatan dan halangan dari berbagai objek pikir yang silih berganti datang dan pergi menyergap kita. Cara yang dicontohkan Beliau itupun pastilah sangat sederhana pula. Sebab tidak mungkinlah suatu permasalahan yang sebenarnya sangat sederhana saja, harus diselesaikan dengan sebuah solusi dan metoda-metoda yang rumit. Tidaklah. Sehingga diharapkan pada akhirnya kita bisa kembali dengan mudah menjadi diri yang merdeka, diri yang bebas tak terbatas, diri yang seluas alam semesta, diri yang dalam bahasa arab disebut sebagai diri yang Muthmainnah. Diri yang sedang dipanggil oleh Allah untuk menghadap kepada-Nya secara sukarela dan diredhai.

Untuk bisa menjadi diri yang Muthmainnah ini, tidak ada cara lain kecuali hanya dengan cara Tadzkiyatunnafs (Penyucian Diri) seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah, sahabat Beliau, dan wali-wali Allah disetiap zaman sebagai pelanjut tradisi penyucian diri dari Beliau. Dan itu pastilah mudah, praktis, menyeluruh, sederhana, dan tentu saja dengan hasil yang maksimal. Kalau tidak, pastilah ada kerancuan didalamnya. Dia pasti telah tercampur aduk dengan berbagai tradisi penyucian diri ala berbagai olah VAKOG, atau bisa pula ala tradisi olah Penyiksaan Diri lainnya, yang tentu saja caranya sulit, partial, dan hasilnya juga tidak maksimal. Cuma ada sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik, siapakah yang berpikir?, siapakah kita?. Silahkan dijawab sendiri…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

DARI DIAM DAN HENING 1.

Ketika disuruh DIAM, saya hanya ikut. Saya tidak mengajukan tanya kenapa. Berbilang hari berlalu. Lalu semua simpul hubungan-hubungan pemikiranpun menjadi nyata…

Diam dan hening, adalah sebuah keadaan dimana pergerakan RUHANI kita sudah tidak dihambat dan dihentikan lagi oleh berbagai file pikiran, sebut saja objek pikir atau objek saja, yang tersimpan didalam memori kita yang telah kita kumpulkan selama hidup kita. Berbagai objek itu dalam ilmu NLP sering disebut dengan istilah keren sebagai objek VAKOG (Visual. Auditory, Kinestetik, Olfactory, Gustatory), atau dalam bahasa kampung kita disebut sebagai objek yang bisa dikenali dengan mudah oleh panca indera kita.

Sebenarnya objek yang tertangkap oleh panca indera kita itu netral saja sifatnya. Apakah objek itu hanya bisa dikenali dengan memakai salah satu alat indera kita saja, atau ia bisa pula dikenali dengan memakai alat indera kita yang lain, itu tidak jadi masalah. Tetap saja informasi yang masuk kedalam setiap indera kita itu hanya akan berubah menjadi kode sinyal listrik arus sangat lemah dibagian-bagian tertentu di dalam otak kita. Jadi semua objek yang tertangkap oleh alat indera kita sebenarnya hanya tipuan dan sesuatu yang tidak nyata didalam otak kita. Makanya apapun objek pikir kita di dunia ini yang berhubungan dengan fungsi otak dan panca indera kita disebut juga sebagai permainan. Ya…, Allah di dalam Al Qur’an menegaskan bahwa dunia ini hanyalah alam permainan dan senda gurau belaka. Permainan fungsi dari berbagai tetes enzim dan unsur kimiawi yang terjadi didalam otak kita.

Hanya saja objek-objek permainan itu kemudian kita beri nama-nama untuk memudahkan kita dalam mengkomunikasikannya dengan orang lain. Nama-nama itulah nantinya yang akan menjadi landasan berpikir kita dalam berasosiasi terhadap sebuah objek dihadapan orang lain. Misalnya saat kita saling berkata-kata tentang jeruk nipis, maka sebenarnya didalam otak kita tidak ada itu yang namanya gambar jeruk nipis. Yang ada adalah sekumpulan kode kode listrik sangat lemah, dari barbagai bagian otak kita, bersatu membentuk sebuah asosiasi yang lengkap tentang jeruk nipis. Mulai dari bentuknya, warnanya, rasanya, baunya, dan sebagainya. Akhirnya ketika kita menyebut kata jeruk nipis, ada atau tidak ada objeknya, tetap saja air liur kita akan keluar, dan wajah kita akan merengut seperti orang yang sedang merasakan asamnya jeruk nipis. Kan seperti main-main saja itu.

Nah…, selama ini kebanyakan kita, sejak dari bangun tidur sampai dengan tidur kembali, bahkan ketika tidurpun, pergerakan ruhani kita selalu terhambat atau dihalangi oleh berbagai objek permainan dan senda gurau yang sudah tersimpan didalam memori kita. Semakin kita memberikan perhatian lebih kepada sebuah objek tertentu, maka gerak ruhani kita juga akan semakin ditahan dan dihambat oleh objek itu. Padahal ruhani kita sifatnya sangatlah ekpansif. Secara ruhani kita selalu ingin bergerak dan meluas secara tak terbatas. Karena gerak ruhani kita itu tertahan, maka pastilah rasanya sangat sempit, sakit, dan tidak nyaman, hatta ketika tidur sekalipun. Sehingga tidak jarang setelah kita tersiksa terus menerus dikala sadar, kita juga sering mendapatkan mimpi buruk dan menakutkan di dalam tidur kita. Dan itu menyiksa sekali.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Bagaimana esok?. Entahlah saya tidak tahu
yang saya tahu hanyalah saat ini
dan saat inipun saat saya memiliki kesadaran saja
saat saya sadar maka saya nikmati detik-detik saat saya sadar
menikmati keberadaan kesadaran saya untuk menjadi saksiNya
menyaksikan alam semesta hasil kreasinya
menjadi saksi atas rencana-rencanaNya
menjadi saksi atas keberadaan kesadaran saya yang menyaksikan
menikmati perjalanan (journey) hidup dengan sewajarnya
dalam semua rasa yang ditiupkan di dada ini
menikmati setiap rasa dalam satu rasa yang sama
yaitu rasa “La ilaha illah Muhammad Rasulullah”.

Sebuah rasa yang akan meliputi semua rasa yang ada
sebuah rasa menerima Allah
yang akan selalu membawa nikmat

rasa nikmat yang menyebar ke seluruh jiwa
nikmat dalam langkah kaki
nikmat dalam hela nafas
nikmat dalam penglihatan
nikmat dalam pendengaran
nikmat dalam indera perasa
nikmat di dalam jiwa
nikmat di dalam hati sanubari

nikmat di dalam iman
nikmat di dalam Islam
nikmat di dalam penerimaan kepada Allah

Maka perjalanan hidup adalah menikmati
rasa “Menerima Allah” di dalam jiwa kita

Apakah kehidupan akan berhenti?
justru sebaliknya, perjalanan realitas justru baru dimulai
langkah kaki kokoh menapaki jalan realitas
yang baru akan melangkah dalam kegembiraan hidup
menunggu dan menjalani “takdir” yang tidak diketahui
sesuatu yang kita tidak tahu
dalam sebuah keyakinan yang utuh: Bersama Allah

Bersuka cita menyambut takdir

Saya cuplik lagi tulisan akhir dalam email ini:

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. (Al An’am 125)

Sungguh terasa dada ini terasa begitu lapang, terasa seluas alam semesta ini.
semoga Allah selalu memberikan petunjuk dan semakin melapangkan dadaku.

Semoga tak ada terasa sempitnya dada yang sungguh menyiksa bagaikan dalam neraka,
seperti dihimpit bumi dan ditekan oleh langit, sempit dan menyakitkan.

Semoga ALlah ridho.

Salam hangat selalu,
Wass Deka on Behalf of IB

Selesai…

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: