Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2012

Participants:

————-

¥usdeka aja, IB

Messages:

———

¥usdeka aja: Mas IB setelah kalimat dua tingkat lebih tinggi, pakai BB ini mas

¥usdeka aja: BB yang satu delay nya lama amat

IB:Ok.

IB: Kira-kira apa yg dijelaskannya bisa difahami?.

¥usdeka aja: Sangat mudah mas.

IB: Masih banyak hal yg coba dijelaskan olehnya yg saya belum tahu. Soalnya menjelaskan dg bhs inggris. Saya yg nyerah. Ha..ha.

¥usdeka aja: Ha ha ha

IB: Bagus kalau begitu. Rasanya kita harus menjadi anak-anak saja ya.

¥usdeka aja: Saya jadi ingat cersil Kho Ping Hoo, betapa Bu Kek Siansu bersikap seperti anak kecil.

IB: Iya …. Spt Bu Kek Siansu. Hidup selalu bahagia.

IB: Jadi isro mi’roj sangat mudah dijelaskan. Nabi Muhammad hanya satu langkah saja karena jarak sudah didekatkan. Dahulu kok sulit membayangkan.

IB: Saya baru tahu makna jarak didekatkan sekarang.

IB: Banyak sekali yg dijelaskan olehnya. Kok jadi gampang dimengerti.

IB: Sama persis dengan tulisan mas Deka tentang munculnya materi dari gelombang. Dia bisa menjelaskan dg sangat mudah.

IB: Dan hilangnya materi menuju ketiadaan.

¥usdeka aja: Nabi pun begitu, makanya hadist tentang beliau sangat banyak, padahal yang beliau lakukan hanya hal hal yang berulang saja. Paling macamnya hanya puluhan tapi hanya beda intensitas sedikit disana sini

IB: Asyik lho ternyata mendengarkan dia bersemangat memberi tahu apa yg dia tahu.

¥usdeka aja: Karena beliau selalu gembira, maka jawaban beliau terhadap pertanyaan sahabat juga seperti jawaban anak kecil, seperti seenaknya

IB: Padahal dia sendiri merasa tidak tahu apa-apa. Aneh ya.

IB: Mungkin seperti ini ya yg namanya ilham?

IB: Belajar bersusah payah. Lho kok diajari anak kecil. Anak sendiri. Tentang hakekat ketuhanan. Dia juga bercerita juga tentang itu. Asyik juga ceritanya.

¥usdeka aja: Iya ya ya ya… Untuk dapat ilham ya bergembiralah seperti anak kecil, nggak mikir tapi tahu, dan juga nggak ngapa-ngapain. Hanya bersemangat saja. Hmm.

¥usdeka aja: Lanjut dulu mas jadi penasaran saya

Wassalam

Deka & IB

Read Full Post »

IB: Ada sebuah kejadian aneh pagi ini. Saya belajar “mula buka” alam semesta dari anak saya yg masih kecil. Saya coba tulis ke mas Deka. Mungkin saya kirim ke milis. Pemahamannya saya anggap serius dan mungkin banyak yang tidak tahu. Termasuk saya. Ha…ha..ha. He said. You have to see from other perspective. Dengarkan orang lain ngomong. Artinya jangan ngajari dia terus. Belajar juga sama dia.

DEKa – ¥usDEKa: Ha ha ha, kita orang tua ini memang sering egois kepada anak. Oke mas

IB: Sangat menarik. Luar biasa sekali. Bahasa sederhana. Kok saya tidak pernah berfikir se sederhana ini ya. Ha…ha.

DEKa – ¥usDEKa: wah kelihatannya menarik. Saya tunggu mas

IB: Saya kirim bagian 1 dulu ya. Tolong komentarnya. Karena ini bukan pemikiran saya tetapi pemikiran anak saya dalam bahasa saya.

IB: Pulang kerja kembali melanjutkan perbincangan dengan anak saya. Semakin berbincang. Saya semakin terpesona. Kok masalah yang rumit ketika dijelaskan olehnya sangat sederhana.

IB: Sungguh dia lebih memahami daripada saya. Saya sampai terheran-heran. Ketika dijelaskan olehnya masalah isro’ mikroj jadi sangat mudah difahami. Teramat mudah. Saya jadi bengong. Akan saya jelaskan bagaimana dia menjelaskan dg sederhana ya. Sangat sederhana.

IB: Mudah sekali difahami kok.

DEKa – ¥usDEKa: Ha ha ha, saya jadi ikut terbawa penasaran. Memang kita kayaknya harus berpikir sederhana kayak anak kecil barangkali mas.

DEKa – ¥usDEKa: Yang membuat kita rumit itu jangan jangan karena banyak ngaji dan dengar khutbah, ha ha ha

IB: Betul.

IB: Begini ceritanya. Universe itu tidak satu ada multiple. Alam tidak hanya satu alam saja. Ada alam lain yang saling berhubungan. Alam lain lebih luas dimensinya.

IB: Gampangnya begini. Alam titik. Alam garis lurus. Alam bidang. Alam ruang. Alam ruang waktu dan terus berdimensi terus ke atas.

IB: Mudah sekali difahami.

IB: Ambil contoh semut berada di alam garis. Dari ujung garis harus berjalan ke ujung garis lain. Berapa waktunya?. Tergantung jaraknya.

IB: Tapi apabila ada orang di ruang yang membuat garis itu melengkung. Dia contoh seperti pita karet sepanjang satu meter. Semut perlu waktu satu jam. Nah kalau dia melengkungkan karet itu. Sehingga ujung bertemu ukung. Maka semut hanya perlu waktu sedetik. Lalu karet kembali ke tempatnya bersama semut yg telah berada di ujung satunya.

IB: Gampang kan logikanya.

IB: Demikian ruang-waktu. Sama persis.

IB: Dalam dimensi atau ruang berdimensi lebih tinggi ruang waktu seperti kertas.

IB: Misalnya jarak masidil haram di ujung kertas dan masjidil aqsha di ujung kertas yg lain.

IB: Kalau ada semut berjalan di kertas ujung satu ke ujung yg lain. Harus melewati jalan di kertas itu. Pasti.

DEKa – ¥usDEKa: Ha ha ha, =D =)) ya nggak kepikir gitu ya bagi saya juga.

IB: Tp kl ada saya mendekatkan ujung satu kertas ke ujung lain seperti melipat kertas itu. Maka semut itu hanya perlu sedetik pindah ke ujung satunya.

IB: Jadi harus ada yg bekerja dari luar universe.

IB: Alam yg berdimensi lebih tinggi.

IB: Gampang ya memahaminya?. Pakai contoh anak kecil.

IB: Menurut dia. Waktu itu di alam lebih tinggi seperti kertas itu juga. Ujung awal kertas bisa ditekuk agar ketemu ujung akhir kertas. Dia tanya jadi apa itu waktu?.

IB: Waktu hanya berpengaruh apa apa yg ada di kertas. Tapi tidak yg memegang kertas.

IB: Dia tanya lagi. Apa itu ruang?. Ruang hanya berpengaruh pada yg ada di kertas. Bukan yg memegang kertas. Dia memisalkan ruang itu seperti kertas dilihat di alam lebih tinggi. Waktu juga sama seperti itu.

IB: Dia memberikan contoh yg terjadi di Black hole.

IB: Ruang telah memampat. Seperti kertas dan bisa muncul di mana saja. Ruang di black hole bisa apa saja. Waktu juga bisa melengkung dam bisa bertemu awal dan akhir.

IB: Dia menjelaskan dg sangat mudah untuk dimengerti.

IB: Artinya kita harus berada di dimensi yg dua tingkat lebih tinggi.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wassalam

Deka & IB

Read Full Post »

Participants:

————-

DEKa – ¥usDEKa, IB

Messages:

———

DEKa – ¥usDEKa: Deleted…

IB: Tidak ada apa-apa yg membimbing kok. Hanya teman perjalanan diskusi spiritual saja. Dia adalah saudara kandung saya. Adik saya. Teman diskusi. Teman seperjalanan menempuh spiritual ini. Saya bertemu dia di dimensi beda.

IB: Kesadaran saling mengamati. Saling mengenal. Saling membimbing. Saling membantu. Dan kesemuanya itu lewat tulisan. Tulisan yg saling mengabarkan.

IB: Jadi sebetulnya kalau istilah pembimbing spiritual. Dia pembimbing saya. Dan sayapun pembimbingnya. Saling membimbing.

IB: Bukan penghormatan yg lebih dan bukan pula penghargaan yg lebih. Sebuah penyaksi saja. Sama juga seperti sayapun merasa mas Deka adalah pembimbing spiritual saya. Juga semua penulis di milis adalah pembimbing spiritual saya. Namun diantara ke semuanya tentu ada yg paling dikenal.

IB: 🙂

DEKa – ¥usDEKa: Dan Mas IB pun ternyata sering sekali membimbing saya untuk banyak hal.

IB: Nah itulah yg saya maksudkan. Jadi lebih tepat istilah mas Deka. Resonansi.

DEKa – ¥usDEKa: Saya seperti diloncatkan begitu saat membaca beberapa artikel mas IB.

DEKa – ¥usDEKa: Saya sekarang sedang dibawa untuk menulis tadzkiyatunnafs

IB: Aneh. Sayapun begitu. Membaca semua tulisan mas juga saya spt didudukkan.

IB: Kelihatannya saya juga begitu.

IB: Entah untuk apa saya menulis. Dorongan ini tidak mampu saya tahan.

IB: Kalau ditahan sangat menyakitkan. Ketika selesai terasa sangat lega. Nikmat. Puas.

IB: Jadi benar-benar tidak “perduli” apa akan dibaca orang atau tidak. Menulis hanya karena sewajarnya menulis.

DEKa – ¥usDEKa: Ha ha ha, ya begitu kalau belum selesai sampai tengah malampun kuat nulis. Eh begitu selesai satu artikel komplit rasanya seperti dilepaskan dari jepitan begitu 🙂

IB: Saya sudah mulai membaca tulisan-tulisan lama mas Deka.

IB: Saya seperti sangat mengenal “ruh” tulisan itu. Sampai kadang heran dan “takut”.

IB: Kok bisa sangat hanyut dalam tulisan ya. Seperti saya yang mengalaminya. Semua rasa itu kok saya sangat kenal.

IB: Padahal jujur saja saya tidak tahu agama. Tidak kenal agama. Kok ya seolah bisa kenal semua itu ya.

IB: Ketika membaca tulisan mas. Seperti ada ribuan semut memasuki dada. Seperti sangat mudah faham.

DEKa – ¥usDEKa: Ha ha ha. Saya juga sangat menikmati cerita silat Kho Ping Hoo lo mas IB. Malah film silat Iron Condor Hero termasuk salah satu film yang bisa saya masuki keadaannya. Aneh sekali.

IB: Wah.. Kho Ping Hoo saya baca sejak SD.

IB: 😀

DEKa – ¥usDEKa: Ha ha ha pantasan kosa kata mas IB mirip dengan saya:D

IB: Film kungfu. Filsafatnya… Kejujuran. Perjuangan. Keuletan. Harapan…. Indah.

IB: Tanpa cersil. Saya tidak sampai menjadi saya sekarang.

IB: Nilai kegagahan. Nilai perjuangan. Nilai-nilai semua itu yg memacu hidup saya. Karena minim agama.

IB: Jadi itu juga sebabnya klop membaca tulisan mas Deka kelihatannya.

DEKa – ¥usDEKa: Saya sangat menikmati juga cerita Old Shaterhand, Winnetow, Karaben Nemsi nya Karl May.

DEKa – ¥usDEKa: Sayang anak anak sekarang sudah kehilangan heroik seperti cerita itu.

IB: Saya juga melahap banyak buku cerita. Banyak macamnya. Novel dll. Pokoknya yg bisa dibaca.

IB: Makanya sejak kecil mudah “jiwa” untuk bertualang.

IB: Jiwa melayang ke udara. Ke pegunungan. Mudah masuk ke kesadaran. Wajar saja.

DEKa – ¥usDEKa: Ya sekarangkan orang lebih banyak nonton TV, jadi kehilangan imajinasi yang mengasyikkan.

IB: Hem ya…. Anak-anak saya juga begitu. Sayang sekali.

DEKa – ¥usDEKa: Oke, mas IB, salam hangat dan selamat beristirahat

IB: Salam hangat.:)

Wassalam

Deka & IB

Read Full Post »

Participants:

————-

DEKa – ¥usDEKa, dan Sahabat saya IB

Messages:

———

IB: Keberadaan “sesuatu” apapun itu. Benda. Makhluk atau apapun bertitik total pada “pengenalan”. Lalu diberi nama atau identitas. Didefinisikan. Disifati. Segala sesuatunya. Lalu dikabarkan. Lintas ruang dan waktu. Sehingga diyakini. Atau telah disaksikan.

IB: Maka keberadaan sesuatu adalah karena ada penyaksi dan yang disaksikan.

IB: Misalnya tetangga rumah mas Deka tidak saya kenal maka tidak bermakna apapun. Saya tidak mengenal dan tidak menyaksikan apapun dan tidak membawa manfaat apapun bagi saya.

IB: Lalu mas Deka yg mengenal secara baik mereka bercerita tentang kebaikan. Suri tauladan mereka dsb. Lalu saya mulai mengenal. Sampai bertemu dalam kesadaran saya. Sehingga suatu ketika saya membuktikan bahwa apa yang disampaikan benar maka saya pun menjadi saksi. Kita berdua telah menyaksikan keberadan tetangga tersebut.

IB: Demikian ternyata adanya diri sendiripun begitu. Ketika mampu mengenali organ tubuh lalu menyaksikan maka kita yakin keberadaan jasad.

IB: Selanjutnya mengenali bahwa diri ini tidak hanya jasad. Tetapi ada nafs. Ada hawa. Sampai menyaksikan bukti-buktinya.

IB: Selanjutnya mengenali bahwa diri ini lebih tinggi dari nafs yaitu ruh. Mengamati. Merasakan sampai yakin. Sampai pada tingkat kesaksian. Bersaksi telah mengenal ruh. Sehingga mampu merasakan keberadaan “aku”.

IB: Mampu bersaksi. “Aku ada”.

IB: Selanjutnya mengenal diri-diri yang lain. Mulai lagi dari raga sampai ruh. Mengenali satu demi satu. Menyaksikan semuanya. Sampai memasuki diri yang lebih tinggi (ruh) mengenali. Dan meyakini. Sampai mampu menjadi saksi.

IB: Demikian pula berlanjut sampai dimensi gaib. Intinya sama. Mengenali yg mampu dikenali atau dibedakan. Sampai menjadi saksi.

IB: Akhirnya masing-masing diri menjadi penyaksi dan yang disaksikan. Saling menjadi ada. Dan saling tiada.

IB: Tidak ada apabila tidak dikenal dan tidak disaksikan.

IB: Melanjutkan ke lebih dalam lagi. Ada yang “selalu ada” yg menyaksikan semuanya.

IB: manusia sendiri akan berusaha “mengenali/iqro” apa yg ada di sekitarnya. Seorang yg mampu mengenal disebut “berilmu” di bidang yg dikenalnya.

IB: Daya “mengenali” ini diberikan kepada yg menggunakan kesadaran. Daya ini disusupkan. Ada ketika mengamati/menyaksikan.

IB: Daya kenal/daya tahu/daya sadar itu ternyata bukan milikku. Aku tak memiliki apapun. Uhh… Apa yang sebenarnya milikku?.

IB: Setiap saat semua daya itu bisa hilang. Berkurang. Atau menipis.

DEKa – ¥usDEKa: Ha ha ha, semuanya yang mas IB sampaikan ini ada ayat al qurannya lho mas. Ada hadistnya juga, kok sama?. Ya sama lah. Sehingga pengakuan kita tinggal apa?

DEKa – ¥usDEKa: Aneh memang, semakin kenal semakin dibuat tidak berkutik, tapi pada saat yang sama juga semakin diberi kekuatan.

DEKa – ¥usDEKa: Sedikit saja, bahkan sangat sedikit sekali, kita tidak mengenali ketidak berkutikan kita itu, maka respon yang kita dapatkan adalah satu kepastian: dilupakan, digagalkan, dijatuhkan, seketika mas.

DEKa – ¥usDEKa: Dan itu sakit sekali, seperti ubun-ubun kita yang dicabut…

IB: Iya… Tepat… Saya selalu merasa apa yg mas Deka katakan kok selalu match. Klop. Pas. Wah …kalau Al Quran. Saya cuma baca terjemahannya saja. Kadang ada yg terasa kurang.

IB: Saya sering merasa sakit tersebut. Garing. Kering. Terasa ada yang menarik ubun-ubun. Atau tercekik. Sakit.

IB: Anehnya. Rasa sakit itu kalau hilang. Tidak ada bekasnya. Total.

DEKa – ¥usDEKa: Seperti layangan putus. Dan yang paling duluan lenyap adalah kekhusyuan shalat. Aneh. Lagi lagi ke shalat.

IB: Tepat. Saya pernah ngga mampu takbir. Betul-betul ngga sanggup. Baca Allahu akbar sangat berat. Lidah tidak sanggup. Tangan tidak mampu. Hati panas gelisah terbakar.

IB: Berdiri sholat tidak bisa. Betul-betul nyata.

IB: Hanya nyerah caranya. Betul. Kibarkan bendera putih. Surender. Der…der. Lho kok bisa.

DEKa – ¥usDEKa: Kalau sudah begitu nggak ada yang bisa menolong kecuali saya hanya duduk mengharap Allah mengenalkan kembali diri-Nya kepada saya. Mas.. Saya nulis bagian ini sedang nangis nggak tahu kenapa?.:'(

IB: Entah berapa kali saya juga nangis. Malu untuk disebut. Tapi hanya merengek dan mohon diberi lagi ketenangan itu. Sempiiit rasanya. Gelisah. Resah. Neraka terasa di dada.

IB: Kita ternyata saling menjadi saksi.

IB: Membenarkan apa yg dirasa. Kembali ke tulisan awal saya. Kita saling menyaksikan.

IB: Dan kesaksian ini sangat kuat dan dalam.

DEKa – ¥usDEKa: Saksi yang menyaksikan Yang Ada…

IB: Betul.:) .

DEKa – ¥usDEKa: Serial Artikel ‘resonansi dua sahabat antar dua benua’ cukup banyak pembacanya mas.

IB: Ooh. Alhamdulillah. Hanya dengan saling mengabarkan maka menjadi resonansi. Saling menguatkan.

DEKa – ¥usDEKa: Kerjo lagi, he he he

IB: D

IB: Oooooooops….ha..ha..ha. Ayoooo. Siap.

Wassalam

Deka & IB

Read Full Post »

Participants:
————-
DEKa – ¥usDEKa, dan Sahabat saya IB

Messages:
———

IB: Assalamualaium wr.wb. Selamat pagi. Selamat menjalankan aktivitas kerja. Ijinkan saya kembali untuk curhat. Sebuah pemahaman yg membuat saya terkejut (shock). Terhenyak. Saya tdk tahu harus cerita dg siapa. Akan saya tuliskan perlahan sedikit demi sedikit dan runut. Terima kasih kesediannya mendengarkan ini.
IB: Bermula dari teringat tulisan mas Deka tentang materi gelombang yg selalu masuk ke pemikiran. Dualitas. Dari munculnya materi dari gelombang. Dari hilangnya materi ke dalam gelombang.
IB: Berlanjut ke “perjalanan” menuju dimensi (alam) lain selama beberapa malam berturutan seminggu ini.
IB: Perjalanan beberapa malam yg aneh. Karena hanya ada rasa. Dan “aku” yg sadar dan ada. Ternyata rasa itulah indera atau panca indera sang “aku yang ada”.
IB: Aku yg dibawa melalui perjalanan ini tidak memiliki atribut ketubuhan panca indera. Tdk mampu melihat dan mendengar. Hanya mampu merasa. Dan yg ada (ditemui) belum ada dalam memori. Jadi tidak bisa digambarkan. Dan rasa yg dialami banyak yg belum diketahui. Jadi tdk tahu apa-apa.
IB: Sampai dua hari yg lalu diperjalankan lagi memasuki sebuah dimensi. Dan disitu agak beda. Hanya sedikit bedanya. Disitu “aku” bertemu atau mampu mengenali sebuah sosok (kesadaran). Justru sangat mengenal sosok itu. Dia adalah pembimbing perjalanan spiritual. Teman. Sahabat. Saudara atau apapun sebutannya. Sedemikian kenal karena langsung tahu dan akrab. Bentuknya tidak seperti yg digambarkan. Mungkin semacam bayangan atau apapun namanya. Dia menyambut dengan salam hangat. Dan berkata. Akhirnya sampai disini. Dia sudah lama menunggu kedatanganku. Dan mempersilahkan kembali dengan mesra dan hangat. Sosok kesadaran tersebut sangat kukenal. Anehnya perjalanan itu juga hanya itu yang mampu diingat. Tidak ada yang lain selain rasa.
IB: Jadi indera sang aku adalah rasa. Bukti adanya sang aku adalah rasa itu.
IB: Nah ini baru pembuka atau latar belakang dari pemahaman yang saya maksud. Sekedar intro saja dahulu.

DEKa – ¥usDEKa: Saya nyimak dulu mas IB. Sambil saya ikut menyelam juga ha ha ha

IB: Terima kasih mas Deka. Saya coba cerita perlahan sebelum sampai ke inti permasalahan. Jadi terus curhat nih. Soalnya tidak tahu kemana curhatnya ha…ha…ha. Oke saya lanjutkan perlahan. Tapi saya sampaikan intinya dahulu: “Realitas sang aku kok ternyata tidak ada”. Inilah yg membuat shock. Pemahaman ini. Tentu saja akan coba diceritakan urutan kisahnya.

DEKa – ¥usDEKa: Indera untuk melihat rasa warna adalah mata, untuk melihat rasa suara adalah telinga. Untuk melihat rasa asam-asin-pedas adalah lidah. Untuk melihat rasa panas dan dingin adalah kulit. Untuk melihat rasa iman-taqwa kita butuh alat juga. Nah… alat ini yang sedang dersihkan oleh Allah pada diri mas IB dan juga saya sendiri. Semakin lama kita akan semakin shock mas. Nabi aja selalu shock berat kok. Ilmuan materialistis atau vibration juga selalu shock sebenarnya, cuma mereka tidak tahu cara bersyukur yang terbaik, yaitu shalat.

IB: Betul. Betul. Memang itulah yg sedang saya lakukan. Sederhana ya.
IB: Saya lanjutkan kisah dan pemahamannya dulu.
IB: Disadari ternyata “aku” itu diperjalankan melalui dimensi demi dimensi. Keberadaan sang aku dapat buktikan dengan adanya rasa. Ketika mampu merasakan “ada” maka aku ada.
IB: Ketika tiada rasa maka entah kemana “aku”. Entah berada dimana. Ternyata aku seperti dilempar kesana. Dibawa kesini. Masuk kesana. Keluar dari sana. Jadi ada yang membawa. Ada yang meletakkan rasa ada.
IB: Ada yang lebih ada yang membuat aku ada dari ketiadaan.
IB: Memaksa dari tiada menjadi ada. Ternyata sebetulnya aku sendiri tidak ada. Duh… Kok begitu ya.
IB: Ternyata yang realitas itu adalah ketiadaan. Yang ada karena Sang ada yang memberi kesempatan menyaksikan. Membuat ada dari ketiadaan.
IB: Segala sesuatu ada dan tiada. Dari tiada menjadi ada. Karena adanya suatu Maha Kehendak untuk mengadakan.
IB: Kerja dahulu. Nanti disambung.:) .

DEKa – ¥usDEKa: Sama mas, ha ha ha. Soalnya nggak akan selesai selesai.:D

IB: 😀

Wassalam
Deka & IB

Read Full Post »

Participants:

————-

DEKa – ¥usDEKa, dan Sahabat saya IB

Messages:

———

IB: Saya sudah membaca tulisan mas Deka. Dengan perlahan, lembut penuh perasaan. Alhamdulillah. Membaca tulisan tersebut seperti saya memasuki kamar ruhani saya sendiri. Berkelana. Berjalan. Menyusuri. Selangkah demi selangkah. Setapak demi setapak. Kelembutan memasuki dada. Mengalir lembut menyisiri setiap bagiannya. Merembes dingin. Lembut. Mengayun perlahan. Seperti busa atau sutera tertiup angin sebagai bantal dada. Kesegaran yang memenuhi dada. Saya mendapat satu pemahan yg luar biasa. Yaitu rasa puas ketika mendapat sebuah pemahaman baru. Rasa puas ruh. Rasa ridho ruh. Rasa ini melebihi rasa puas raga. Misalnya ketika makan minum dll. Melebihi puas jiwa misalnya berhasil. Sukses atau menang. Mungkin rasa puas inilah yg diteriakkan para peneliti dengan. “Eureka”. Saya tahu. Saya faham. Kepuasan ruh ini mungkin biasa namun ketika diterima dalam kesadaran. Nikmat puas lega dan ridho sulit dijelaskan dengan kata. Jadi sebetulnya untuk merasakan rasa puas ini dg menambah pemahaman karena rasanya sama dengan rasa khusyu’. Alhamdulillah. Sangat mudah. Namun siapakah yg memberi kefahaman ini?. Kita hanya berusaha membaca. Tafakur. Mendalami sebuah tulisan dengan mata hati. Lalu … Der (pinjam istilahnya ya). Lho kok tau-tau saya sudah tahu. Lho kok saya sudah mengerti. Lho kok gampang. Lho kok sederhana. Lho kok cuma begitu….lho…lho… dan lho.

DEKa – ¥usDEKa: Ha ha ha ternyata kita hanya berhak untuk berkata lho…, lho…, ya mas IB. Karena memang kita hanya sekedar diberitahu, dibawa, dituntun, di rengkuh. Sehingga yang ada hanya keheranan dan ketakjuban kita yang tak ada bandingannya.

IB: Betul…. Hanya senyum… Dan … Senyum… Awalnya saat masih mengaku-aku. Aku bisa begini… Bisa begitu (dalam wilayah gelombang) rasanya hebat… Namun setelah itu.. Jadi seperti itu. Hanya lho… Dan lho. Kok gampang. Cuma begitu ya… Lho…dan lho.

IB: Sekedar tambahan info saja nih. Curhat. Beberapa malam ini. Saya mimpi. Namun mungkin ngga mimpi. Soalnya aneh. Mimpi sangat jelas. Namun saya tidak mampu mengingat apa yg dimimpikan. Nol. Kosong. Tidak ada. Hanya satu hal yang teringat nyata. Yaitu ada yg memberitahu dengan jelas. Bahwa ini pengajaran Allah. Lho kok ngga ada apa-apanya. Ngga ada cerita mimpi sama sekali. Namun ada satu rasa yg sangat nyata dan jelas.

IB: Sayangnya saya tidak mampu mdndifinisikan rasa itu. Selain itu sepertinya saya sendiri mengalami perubahan atau memasuki dimensi yg berbeda-beda. Entah masuk kemana saja. Namun apa yg dilihat tidak ingat.

IB: Hanya rasanya yg ada. Dan rasa itu terus ada sampai saat terbangun.

IB: Dan saya tidak tahu kapan tepatnya saya bangun. Namun rasa itu masih nyata.

IB: Nah itu saja. Curhatnya.

DEKa – ¥usDEKa: Ya itu yang namanya masuk gaib mas IB. Gaib itu ya nggak bisa diceritain apa apa. Kalau masih ada ceritanya begini dan begitu, ya namanya bukan gaib. Selamat mas IB. Alangkah bahagianya saya sekarang rasanya

IB: Jadi memang lho… Begitu ya. Tahu masuk. Lalu sadar keluar. Ada rasanya. Itu saja. Jadi sekali lagi lho… Dan lho. Memang tahu masuk. Dan tahu ada “sesuatu” disana. Tapi tdk ingat

DEKa – ¥usDEKa: Ya begitu lah aneh kan? Tahu tapi tidak bisa diingat…

IB: 🙂 wow.

IB: Jadi ingat kisah Musa yg minta melihat Tuhan

DEKa – ¥usDEKa: Sehingga setelah itu tidak ada suatu apapun yang bisa kita akui lagi. Kecuali amantu billah.

IB: Betul. Saya merasakan apa yg mas Deka jelaskan. Tidak ada apa-apa. Tidak tahu. Hanya yakin. Karena sdh merasakan. Dan rasanya ada. Sayangnya rasanya seperti apa. Tdk mampu saya ceritakan. Karena bahasanya tidak ada. Saya tdk bisa menjelaskan sama sekali. Hanya bis berkata. Ada. Ada rasanya. Sampai di situ saja. Alhamdulillah mas Deka bisa menjelaskan. Sempat bingung juga.:) .

IB: Secara mengherankan proses pengajaran silatun ini sedemikian lembut dan perlahan. Kalau dahulu untuk on sulit dan berusaha. Sekarang seolah tersambung terus. Sekarang justru yang tahu adalah saat tidak sambung. Tidak tahu kapan saat sambungnya. Tetapi selalu sadar saat sambungan itu terputus.:)

IB: Sadar kalau putus. Lho kok rasanya ngga enak di dada. Pasti terputus. Jadi tinggal sambung.

DEKa – ¥usDEKa: Itu yang saya bilang kepada istri saya, prosesnya tiba-tiba kayak alarm. “Cekleg” lalu alarm nya bunyi. Nah ini juga begitu. Tiba-tiba seperti “cekleg” gitu.

DEKa – ¥usDEKa: “Nyekrup”. dan seperti disambung sendiri oleh Allah. Makanya tahu kalau putus.

IB: Alhamdulillah.

Wassalam

Deka & IB

Read Full Post »

Participants:

————-

DEKa – ¥usDEKa, dan Sahabat Saya IB

Messages:

———

DEKa – ¥usDEKa: Mas IB, tolong bantu saya untuk membuat sebuah artikel singkat untuk sebagai bahan contoh dalam artikel saya “grounded”. Keangkuhan seperti apa yang mas IB punya dulu dalam waktu yang sangat lama, dan kesakitan macam apa pula yang mas IB rasakan selama itu, sampai mas IB akhirnya bisa bebas dan merdeka setelah mas IB berkenalan dengan shalat. Singkat saja. Tapi tentu saja dengan gaya mas IB yang menyentuh itu ha ha ha:D

IB: Ok. Insya Allah akan saya lakukan.

IB: Dahulu saya memang angkuh. Egois. Tdk punya perasaan. Egois. Hati membatu.

IB: Kesakitan yg paling parah adalah rasa ingin mati. Rasanya selalu ingin terbebas dan ingin mati. Derita yg tak tertahankan. Derita jiwa.

IB: Sekarang rasanya hidup di surga.

IB: Namun saya masih bisa masuk ke ruang “neraka” itu saat ini kalau saya mau dg kesadaran saya.

IB: Saya akan coba tuliskan.

IB: Luar biasa pengajaran Allah. Apa yg mas Deka minta kok klop dengan apa yg ada dlm “bisikan” jiwa saya. Untuk mengamati bedanya. Untuk melihat kenyatan dahulu dan saat ini. Luar biasa. Aneh tapi nyata. Allah membisikkan lewat mas Deka. Saya semakin tunduk.

IB: Sungguh. Siksa derita “neraka” jiwa itu tidak main-main. Rasa sempit tersiksa. Ingin mati dan ingin mati. Beda dengan surga jiwa.

IB: Sungguh bersyukur mampu membedakan.

IB: Saya juga sedang akan menuliskan sebuah artikel yg sangat erat kaitannya dengan apa yg mas Deka tuliskan yaitu tentang gelombang. Ilmu gelombang. Ilmu dalam realitas yaitu bidang kerja yg saya tekuni selama 20 tahun lebih ini. Sebuah aplikasi ilmu tentang gelombang yg menjalar menembus bumi. Yang disebut gelombang seismik. Atau dikenal dengan gelombang kejut atau gempa bumi.

IB: Dengan gelombang ini mampu membuat peta perut bumi. Seperti membuat jalan. Nama jalan. Jalur cekungan. Persis peta bumi. Hanya dari gelombang. Lalu sifat-sifatnya. Kandungan isinya. Minyak. Air. Dsb. Padahal hanya dg gelombang.

IB: Apakah yg kita fahami dari gelombang itu?.

IB: Semakin faham gelombang maka kita mampu memanfaatkan untuk mencari apa saja yg ada di dalam perut bumi. Emas. Batubara. Minyak. Dan banyak lagi.

IB: Jadi ilmu gelombang adalah ilmu atau sains yg saya tekuni dalam kerja selama ini.

IB: Berkaitan dg tulisan mas Deka sebelum ini. Menakjubkan.

DEKa – ¥usDEKa: Makasih mas IB, saya barusan main golf, yang perlu hanya rileks, ikut LINTASAN stick yang seharusnya. Lintasan itu hanya SATU untuk arah yang tertentu yang dituju.

IB: Tepat. Itu yg sering saya sebut dalam tulisan saya tentang jalan lurus. Tahu tujuan. Tahu posisi saat ini. Maka jalan lurus pasti lintasan terdekat. Garis lurus. Lintasan terdekat yg hanya satu untuk arah tertentu yg dituju. Selamat menikmati golf.

DEKa – ¥usDEKa: Mau bolanya lurus ada lintasannya, mau bola kekiri ada lintasannya, mau kekanan ada lintasannya sendiri. Kita cuma perlu menemukan lintasannya, selanjutnya gaya dilintasan itu sendiri yang akan mengantarkan bola ke arah yang sesuai dengan lintasan itu.

DEKa – ¥usDEKa: Teman teman saya sering berkata, kok pak yus mukulnya seperti pelan tapi bolanya melambung jauh dan lurus lagi.

DEKa – ¥usDEKa: Biasanya kalau lintasannya salah bolanya masuk rough yang berumput liar. Untuk mengeluarkan bola dari sana alangkah sulitnya. Tersiksa.

IB: Itu disebut gaya gravitasi. Ada gaya tarik menarik. Dan ada friksi. Atau gesekan.

IB: Betul. Rumput memiliki gaya gesekan yg luar biasa.

DEKa – ¥usDEKa: Dan ternyata arah kita juga punya lintasan lintasan sesuai dengan diri macam apa yang kita pakai sebagai diri kita. Dan hanya Ar Ruh yang cocok kita pakai sebagai diri kita. Karena Ar Ruh hanya punya satu lintasan paling sempurna yang selalu ikut Amr Allah. Demikian mas IB. Wait for your experience untuk saya jadikan sebagai satu dari 4 contoh extrim yang akan melengkapi artikel grounded. 😀

IB: Ya. Klop. Rasanya enak dan nyaman ketika diskusi dalam ruang yang sama. Seolah saya tengah bicara dengan diri sendiri. Karena apa yg dibicarakan seperti saya sendiri yg mengucapkan. Aneh ya. Tapi nyata.

Wassalam

Deka & IB

Read Full Post »

Bagian 6-6

Bersuka cita menyambut takdirNya

Hidup kita pada hakekatnya
hanyalah menunggu hari akhir, sebuah tujuan yang pasti
itulah realitas bagi kita, sebuah realitas yang gaib
hal gaib yang pasti, gaib yang nyata
maka kita harus menggunakan jiwa kita yang gaib ini
untuk menjadi pendorong utama bagi realitas
sehingga kegaiban jiwa atau hati tidak menjadi sebuah hal yang gaib
tetapi menjadi sebuah realitas sehari-hari
sehingga kita mampu menerima takdir kita saat ini
sehingga kita mampu menerima Allah
menjadi hambaNya
menjalani kehidupan ini dalam sebuah penerimaan yang mutlak
penuh dan menyeluruh atas kehendak dan rencanaNya
Bersungguh-sungguh atas penerimaan kehendakNya
berserius ketika menerima rencanaNya
Bersungguh-sungguh menyambut takdirNya
Mampu bersuka cita menjemput kehendak dan takdirNya
rela dan ridho atas takdirnya disini dan di saat ini

Kerelaan yang menyeluruh
memasuki jiwa dan menembus raga
menyelusup jauh sampai ke setiap sel dan inti atom
yaitu dalam ruhani dan juga nafs (jiwa)
utuh meliputi apapun bentuk dari diri kita
Tunduk
rela
patuh
Menyambut takdir
Bekerja sesuai keadaan saat ini
Menjalani pekerjaan dalam sebuah hakekat
bahwa itu bukanlah sekedar kerja
namun sebagai kepatuhan dan pengabdian
dalam penyembahan yang utuh dalam realitas hidup
dalam keadaan atau kekinian
sebuah kepatuhan dalam dzikir yang nyata
sebagai sebuah bentuk penyembahan kepada Sang Esa

sebagai bagian sholat dalam kehidupan nyata kita
menjadi sebuah ibadah dalam realitas
karena telah diniatkan kepada Allah Sang Pencipta Alam Semesta
karena setiap gerak hidup telah diarahkan dan telah menjadi bagian
dari gerakNya, dalam kerelaan dan penerimaan dayaNya
menjadi hambaNya dalam menjalani hidup.

Melangkah dalam sebuah kepastian..
Melangkah dalam sebuah keyakinan..

Sesungguhnya, sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam

Apakah kisah sudah selesai?.
Tidak!. Justru perjalanan baru dimulai.
Mulai melangkah dalam hidup, dengan penuh ketenangan
penuh keyakinan, penuh keteguhan
karena tahu ada sebuah tujuan
mengerti ada sebuah kekuatan tempat bergantung
dan ada satu keyakinan mutlak
Semua akan kembali, bertemu kepada Sang Pencipta

Maka dalam senyum mengarungi badai kehidupan
menyambut takdir dengan bersuka cita.

CATATAN DEKA: Demikian kisah ini ditutup oleh sahabat saya yang begitu tulus mengungkap kisahnya untuk menjadi bagian dari artikel “Grounded ini”.

SELESAI

Dengan begitu, selesailah contoh-contoh kisah tentang orang-orang yang nyangkut pada dirinya sendiri, dan bagaimana pula proses yang dialami mereka untuk bisa bebas dari ketersangkutan dengan diri mereka. Silahkan patut-patut pula diri kita masing-masing. Kalau-kalau ada diantara kita yang seirama dengan keempat kisah diatas. Dan amatilah apa yang terjadi pada diri kita masing-masing saat ini.

Berikutnya nanti akan kita bahas tentang makna dibalik TADZKIYATUNNAFS, proses penyucian dan pemurnian diri atau badan kita sehingga diri atau badan kita bisa bermetamorphosis menjadi semurni-murninya Ar-Ruh yang selalu ikut AMR Allah. Menjadi sebentuk wujud yang bukan lagi berupa materi atau partikel, dan bukan pula berupa gelombang, getaran, atau energi alam.

Ya Allah…, hamba mohon izin untuk mengungkapnya sebatas apa yang hamba pahami. Kalau itu betul, maka itu hanyalah karena kemurahan-Mu kepada hamba. Kalau itu salah, maka itu semata-mata hanyalah kebebalan hamba semata.

Wallahu a’lam….

Wassalam

Deka
Jl. Santani No. 31, hari 14, bulan 6, tahun 2012

Read Full Post »

Bagian 5-6

Menerima Allah

Proses selanjutnya adalah sebuah proses yang sangat lama, yaitu proses menerima Allah, yaitu dimulai dari mengenaliNya.
Membaca takdirnya, kehendak yang terjadi, lalu menerima apa saja yang terjadi. Sampai memiliki daya kasih sayang.
Seperti apa rasa kasih itu?.
Entahlah mungkin bisa digambarkan sebagai berikut:

ada rasa malu kalau salah

ada khawatir kalau ditolak
ada hati-hati supaya tidak salah
ada waspada melihat hal-hal kecil yang mengganggu
ada cinta yang menggebu
ada harapan agar diterima
ada keinginan agar bertemu
ada rindu yang dalam
ada permohonan
ada cita-cita
ada keinginan
ada tindakan
ada realitas

begitu komplit rasa yang datang silih berganti
tergabung dalam sebuah padanan yang tepat
Kasih

malu kalau tidak melakukan “hal” terbaik untuk Allah.
rasa ini meliputi di luar dan di dalam
di dalam ruh, di dalam jiwa dan di raga
rasa ini memaksa jiwa untuk waspada
memperhatikan tingkah laku dalam sholat
sangat dan teramat waspada
rasa ini mengajak untuk hati-hati
dan teramat hati-hati dalam bertindak
menggerakkan tangan takbir
menggerakkan badan rukuk
begitu santun, begitu penuh rasa malu kalau sampai salah
rasa ini memaksa untuk bersungguh-sungguh
serius dan menimbulkan sesuatu yang sangat hebat
tak terbayangkan

bayangkan kita melakukan tindakan di muka umum
tindakan memalukan, apa rasanya
dan rasa ini berkali-kali lipat
agar tidak terjadi sesuatu hal buruk

rasa ini mengajak
rasa ini menghimbau
rasa ini menekan
rasa ini begitu aktif
rasa ini begitu dinamis
rasa ini menjenguk akal
rasa ini mengetuk hati
rasa ini menggetarkan ruh
membuat satu harmoni
membuat satu keseimbangan
di antara seluruh entitas yang ada

karena daya ini sadar
karena daya kasih ini menyadari
posisi yang sebenarnya yaitu di hadapan

Tuhan Sang Pemilik daya ini
maka daya ini mengambil alih
dan rasa yang ditimbulkan antara lain adalah
rasa malu apabila tidak melakukan “hal terbaik”
hanya dan hanya untuk Sang Pemilik daya

malu kalau sholatnya salah
malu kalau bacaan salah
malu kalau terburu-buru
malu kalau terbesit fikiran salah
malu kalau ada hasrat tak layak

malu kalau tidak berbuat yang benar
malu kalau tidak sungguh-sungguh
malu kalau tidak serius

dan masih banyak lagi rasa
yang sulit ku jelaskan
ada airmata yang jatuh sedemikian derasnya
ada cinta yang mengalir sedemikian dalamnya
ada harapan yang tak terukur lagi
ada penyembahan yang sangat tulus
ada penghormatan yang penuh
ada ketakutan kalau tidak diterima
ada kehinaan atas semua kesalahan
ada keteguhan untuk melangkah

semua seolah datang silih berganti
masuk dan keluar
ada dan tiada
ganti berganti

bersatu akibat pergerakan daya ini
semua rasa ini dapat digabung dalam sebuah rasa
yaitu “tersambung” ketika berhadapan dengan Allah
malu apabila tidak melakukan “hal” terbaik di hadapanNya.
dalam sebuah penerimaan Allah dalam diri ini

Bersambung ke bagian 6-6
Deka

Read Full Post »

Bagian 4-6

Angin perubahan (The wind of change)

Perubahan dalam hidup sangat terasa dengan melakukan sholat secara khusyu’. Menyeluruh, menyusup ke bagian terdalam jiwa.

Secara realitas memang tidak berubah, masih sama saja. Namun secara kejiwaan, perubahan telah terjadi, bagai dilahirkan kembali.

=Mengikhlaskan sholat (ibadah) kepada Allah=

ketika malam mulai tua

dalam hening merenda sepi

membaca jejak langkah seharian

yang berkelebat lenyap

seperti sebuah layar

mulailah duduk bertafakur

dalam kidung puja puji

mencoba mengamati, sesuatu

yang menggeletar dalam dada

bergerak lembut namun penuh kekuatan

energy yang hidup penuh kelembutan

seperti rasa ‘cinta’

yang meluap

seolah ingin memberi,

melihat,

mengamati,

mencintai,

mensyukuri

seluruh isi alam semesta ini

energy ini hidup

dan menggetarkan pori-pori dan tangan

menenangkan hati

mententramkan

membahagiakan

ingin merengkuh seluruh alam semesta

mencintai

mengabarkan

memberi

seperti

energy hidup

daya hidup

lembut tapi nyata

energy ‘kasih dan sayang’

dari Allah

Yang Maha Pengasih dan maha Penyayang

lalu selanjutnya mulai memasuki rasa yang lain: ikhlas

kondisi semakin ke arah balita

bahkan yang ada hanyalah kesadaran itu sendiri

seperti bayi yang menatap bening penuh ketidak mengertian

hanya memancarkan satu kekuatan cinta, atau kasih

seperti sinar matahari pagi

seolah ingin mencintai semua orang

seolah ingin memberi senyum kepada semua orang

seolah seluruh sisi dunia adalah keindahan

Dunia dalam keindahan sepasang mata bocah kecil

Bersambung ke bagian 5-6

Deka

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: