Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2010

Kalau bagi kita saat ini sungguh sangat berbeda. Kita lebih banyak memberi makan otak kita dengan berbagai bacaan dan kajian, tapi minus keadaan atau suasananya. Kita tahu dan hafal banyak istilah agama, tapi saat melaksanakan aturan agama itu dada kita garing. Semakin otak ini kita isi dengan berbagai kajian dan tafsiran terhadap Al Qur’an dan Al Hadist, maka semakin agama ini terasa berat. Kita kadangkala tidak tahu lagi mana aturan agama ini yang harus kita jalankan terlebih dahulu dan mana yang kemudian.

Misalnya saja, pengetahuan agama yang paling umum dan paling dasar yang kita dapatkan adalah bahwa untuk bisa beriman kepada Allah dengan mudah, terlebih dahulu kita haruslah berhati-hati dengan makanan, minuman dan pakaian yang kita lekatkan ketubuh kita. Karena makanan dan minuman serta pakaian itu akan mempengaruhi segumpal daging didalam tubuh kita yang disebut sebagai HATI. Terutama, kalau makanan dan minuman kita adalah barang yang baik dan halal, maka dikatakan hati kita juga akan menjadi bersih dan mudah untuk beriman kepada Allah. Akan tetapi kalau makan dan minuman kita dari barang yang haram dan yang tidak baik, maka kita diminta untuk percaya bahwa hati kita pastilah akan hitam, gelap, dan tidak mudah untuk beriman kepada Allah.
Sementara dinegara kita ini, hampir tidak ada wilayah atau area yang benar-benar bersih dari hal-hal yang diharamkan seperti itu. Misalnya semua uang yang beredar saat ini nyaris berasal dari bank convensional, baik dari dalam maupun luar negeri, yang konon katanya itu adalah peredaran uang yang tidak syar’i. Dan kita membeli makanan, minuman dari hasil peredaran uang yang dianggap sebagai non syar’i itu. Akhirnya kita menjadi ragu-ragu kembali dengan kualitas keimanan kita kepada Allah.

Dari hal makanan, minuman, dan hati ini kemudian lahirlah berbagai ilmu tentang tata-cara agar kita bisa menyucikan harta benda dan hati kita. Ada fatwa ini dan fatwa itu dari otoritas ulama tentang bagaimana ekonomi ala islami dan bagaimana ekonomi ala kafirin. Ditambah dengan ancaman neraka dan iming-iming syurga, akhirnya kita lebih sibuk mengingat, membicarakan, dan berpolemik dengan istilah-istilah yang dibumbui dengan kata syariah versus non syariah. Kita dipaksa untuk saling bercerita dan berdebat tentang ekonomi syariah versus ekonomi konvensional. Gegap gempita sekali…

Disisi lain, agar kita bisa membersihkan hati kita, maka tubuh dan hati tersebut kemudian dibelah-belah orang pula menjadi bagian-bagian kecil dengan nama-nama yang keren, yaitu lathaif. Kemudian lathaif-lathaif itu harus pula kita sucikan dengan dzikir-dzikir tertentu (lihat buku Membuka Ruang Spiritual, by Deka). Maka sibuk pulalah kita bersih-bersih hati itu, sehingga kadangkala iman kepada Allah yang kita harapkan malah tidak muncul. Kita jadi sibuk sendiri dengan segala dzikir dan wasilah yang kita lakukan disetiap saat itu.

Untuk melakukan sebuah perbuatan atau aktifitas apapun juga, terutama yang berkaitan dengan agama, pertanyaan standar yang ditanamkan kedalam otak kita oleh para ulama adalah: Ada contohnya nggak dari Nabi?. Ada hadistnya nggak?. Hadistnya shahih nggak?. Dan setelah itu pastilah muncul argumen-argumen yang kadangkala dari dulu, dari zaman ke zaman, rasanya hanya itu ke itu saja.

Baru dari topik sederhana tentang bagaimana agar kita bisa beriman kepada Allah, ternyata telah muncul dengan menggurita topik-topik lain yang sepertinya tidak habis-habisnya untuk kita perbincangkan. Pantas saja akhirnya kita jadi bingung sendiri. Boro-boro iman kita kepada Allah bisa meningkat, malah sebaliknya kita terjerembab kepada ketidak harmonisan hubungan antar sesama muslim, maupun sesama manusia.

Bersambung
Deka

Iklan

Read Full Post »

Sudah umum persepsi yang melekat diotak sebagian besar kita bahwa untuk beriman kepada Allah itu sungguh sangat sulit sekali. Begitu kita ingin berbicara tentang iman kepada Allah, maka yang muncul kemudian adalah berbagai teori, definisi, dan tata cara yang kadangkala membuat kita kesulitan untuk menjalankannya. Sehingga didalam benak kita sering muncul kata-kata tak terucapkan: “Oh…, betapa sulitnya iman itu. Ah…, nggak mungkin rasanya saya untuk beriman seperti itu. Aa…, iman itu rasanya seperti berada di puncak menara gading yang tak akan pernah tersentuh oleh orang-orang biasa seperti saya…, dan berbagai keluhan lainnya”.

Kalau dilihat dengan seksama, kadangkala antara berbagai teori, definisi dan tata cara untuk mendapatkan iman itu satu dengan yang lainnya susah untuk ditemukan benang merah yang saling menghubungkannya. Padahal yang sedang dibicarakan dan dipelajari itu adalah hal yang sama dan sangat sederhana sekali, yaitu tentang Iman Kepada Allah, misalnya. Dan dasar pijakan berfikirnya juga selalu didengung-dengungkan dari dua pokok yang sama, yaitu Al Qur’an dan Al Hadist. Akan tetapi begitu ilmu tentang Iman kepada Allah itu sampai kepada kita, yang kita dapatkan adalah ilmu olah pikir, ilmu olah gatuk-gatuk, ilmu olah katanya-katanya, ilmu olah hafalan… dan sebagainya, sehingga yang kita dapatkan sungguh membuat sebagian besar kita menjadi bingung… ngung…, ngung untuk memilih mana yang pas buat kita. Kita jadi saling rancu satu sama lainnya untuk satu hal yang sama, yaitu IMAN kepada Allah…

Keadaan seperti ini persis sama dengan saat kita diminta untuk memahami tentang batang sebuah pohon mangga, kita malah asyik masyuk membahas tentang cabang, ranting, daun, bahkan kuncup dari pohon mangga tersebut. Kita asyik membahas dan mengolah kata bahwa ada daun yang hijau, ada daun yang kuning, ada daun yang mengering, dan berbagai ada-ada lainnya. Akhirnya yang kita bahas, kita diskusikan, kita seminarkan, dan yang kita pahami hanyalah sebatas ilmu olah kata tentang daun. Sedangkan batang pohon mangga itu tetap menjadi sebuah misteri yang tak terkuakkan bagi kita. Karena memang kita tidak pernah membuka, menguliti, dan mengamati pohon mangga itu dari dekat. Kita tidak pernah mengeksplorasi pohon mangga ini bagain perbagian.

Kalau dalam membahas pohon mangga itu hanya sebatas memakai ilmu olah kata itu tadi, maka kita akan bertabrakan dengan ilmu olah-olah kata yang dimiliki oleh orang lain. Sebab setiap orang bisa memandang sebuah pohon mangga dari sisi yang berbeda sesuai dengan isi otak mereka pula. Dan itu akan ramai sekali….
Sementara Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sudah terlebih dahulu ketemu dan masuk kedalam keadaan Iman kepada Allah itu, lalu keluarlah ajakan Beliau: “wahai sahabatku, marilah masuk kedalam keadaan iman kepada Allah. Iman itu enak…, iman itu bahagia, iman itu nikmat…!. Wahai sahabatku, mari beriman kepada Allah…, singgahlah untuk beriman kepada Allah… Singgahlah untuk masuk kerumahku, rumah iman yang penuh dengan kesukacitaan”.

Demikianlah Beliau menyampaikan berbagai ajakan lainnya agar para sahabat Beliau masuk kedalam keadaan demi keadaan yang diterangkan Allah didalam Al Qur’an. Lalu masuklah semua sahabat Beliau kesana… DERR…, DERR…, sehingga saat itu tidak banyak aktifitas seperti yang getol kita lakukan saat ini, yaitu menafsirkan Al Qur’an dan mengupas Al Hadist. Saat itu tidak ada tafsir…, tafsir…, dan tafsir terhadap Al Qur’an dan Al Hadist. Tidak ada juga apa yang namanya kajian…, mengaji…, dan mengaji. Tidak ada itu semua.

Yang ada adalah begitu Beliau mendapatkan wahyu dari Allah, Beliau DUDUK dalam suasana wahyu itu, kemudian Beliau kabarkan wahyu beserta keadaannya itu kepada para sahabat Beliau. Kabar dari Beliau itulah yang kemudian dinamakan orang sebagai Al Hadist. Beliau-beliau hanya tinggal melakukan…, melakukan…, dan melakukan apa yang diperintahkan Al Qur’an sesuai dengan lingkungan yang ada saat itu. Jadi Al Hadist itu bukanlah sekedar perkataan dan perbuatan Beliau saja. Tapi Al Hadist itu adalah DUDUK Beliau dengan sangat sempurna pada sebuah KEADAAN yang diterangkan oleh Al Qur’an. Beliau hanya Just do it…, dan hasilnya adalah sebuah keniscayaan peradaban yang cemerlang ditengah-tengah kegelapan disaat itu…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

« Newer Posts

%d blogger menyukai ini: