Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2009

BERSATU 2/6

September pukul 21:26
Beruntunglah suatu saat, setelah diajarkan oleh sahabat dan guru saya Ustadz Abu Sangkan dan dipermatang oleh orang tua dan guru saya Pak Haji Slamet Utomo, tentang cara membaca (iqraa), maka sedikit demi sedikit saya mulai dipahamkan Allah tentang makna Iqraa seperti yang diperintahkan oleh JIBRIL dulu kepada Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu pertama di GUA HIRA.

Saat Nabi dipaksa oleh Jibril “Iqraa ya Muhammad…, baca ya Muhammad ”, Nabi menjawab : “Ma ana bi qari, aku nggak bisa baca”. Namun Jibril tetap memaksa Beliau. Sampai-sampai Jibril dan Rasulullah seperti sedang berbantah-bantahan tentang perintah membaca itu sampai tiga kali. Jibril memerintahkan baca…!, namun Nabi menolaknya dengan mempertanyakan apa yang harus Beliau baca. Wong saat itu nggak ada buku, nggak ada huruf, nggak ada warna, nggak ada suara. Apalagi Beliau memang seorang Ummi, seorang yang tidak bisa baca tulis huruf-huruf.

Jibril lalu memerintahkan Nabi membaca dengan nama Tuhan, “ Iqraa bis mirabbik, bacalah dengan nama Tuhanmu…”. Akhirnya, karena Beliau memang tahu bahwa nama Tuhan adalah Allah, maka Beliaupun membaca “sesuatu” sambil menyebut nama Allah; Beliau mengamati “sesuatu” sambil membaca nama Allah. “Allah…”, dan Beliau bersikap waspada. “Allah…, dan Beliau menunggu dengan sikap siap menerima “sesuatu” itu. Dan dengan seketika itu pula sebuah prosespun terjadi di dalam diri Beliau seperti yang diterangkan Allah dengan simple didalam al Qur’an surat Az Zumar ayat 22-23. Beliau lalu diajari Allah apa-apa yang sebelumnya tidak Beliau ketahui tentang islam.

“Maka apakah orang yang telah Allah lapangkan dada/hatinya untuk islam lalu dia (hidup) diatas cahaya dari Tuhan-nya?, maka celakalah bagi yang telah membatu hatinya dari mengingat Allah, mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata.

Allah, Dia telah menurunkan sebaik-baik perkataan kitab yang serupa, sebagian ayatnya berulang-ulang, menjadi merinding karenanya kulit-kulit orang-orang yang mereka takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut dan condong kulit-kulit mereka dan hati mereka kepada mengingat Allah. Demikian itu adalah petunjuk Allah. Dia memberi petunjuk dengan itu kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan adapun siapa yang Allah sesatkan dia maka tidak ada baginya dari pemberi petunjuk”.

Mari kita runut proses pengajaran Allah kepada Rasulullah tentang islam yang kemudian Beliau sampaikan kepada sahabat-sahabat Beliau saat itu. Karena proses itu sama dan persis akan terjadi pula kepada orang-orang beriman sebelum maupun sesudah generasi Beliau, sampai ke generasi kita sekarang dan generasi yang akan datang.

Bersambung…

Salam,
Deka
Iklan

Read Full Post »

BERSATU 1/6

September pukul 21:20
Kita mungkin pernah mendengar atau membaca ayat berikut ini:

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (As shaaf 2-3)

Namun tidak sedikit diantara kita yang bisa paham apa maksud dan tujuan sebenarnya dari ayat tersebut diturunkan oleh Allah. Sekilas terlihat muatan ayat ini hanya biasa-biasa saja. Orang beriman, saat dia ingin berkata-kata, maka dia diminta oleh Allah untuk mengatakan sesuatu yang pernah dia kerjakan dan perbuat. Wajar sekali ayatnya. Namun, kenapa kebencian dan ketidaksukaan Allah sangat besar kalau kita mengatakan, terutama kepada orang lain, sesuatu yang tidak pernah kita kerjakan dan lakukan?. Mengerjakan atau melakukan macam apa yang diminta oleh Allah kalau kita ingin berkata-kata dengan orang lain?.

Saat kita ingin berkata-kata tentang shalat, zakat, puasa, misalnya, kita sering membatin, masak sih kita sebagai orang beriman belum pernah melakukannya?. Saat kita ingin berkata-kata tentang iman, ihsan, taqwa, kita pikir masak sih kita sebagai orang beriman belum pernah jadi orang yang beriman atau percaya?. Saat kita ingin berkata-kata tentang kasih sayang kepada keluarga, orang tua, istri, anak, dan saudara-saudara, tetangga, anak yatim, fakir miskin, masak sih kita sebagai orang beriman belum pernah menyayangi mereka?.

Kita juga sering merasa bahwa kita telah melakukan apa-apa yang diperintahkan Allah dan Nabi, serta meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah dan Nabi. Dan itupun ditambah pula dengan banyaknya hafalan kita yang berasal dari berbagai buku dan literatur yang pernah kita baca tentang semua hal diatas. Oleh sebab itu, dengan gagah berani kitapun mencoba berkata-kata kepada khalayak umum bahwa shalat itu begini dan begitu, zakat ini begini dan begitu, puasa ini adalah untuk meningkatkan ketaqwaan. Kemudian kita banyak pula yang membahas baik secara lisan maupun tertulis tentang serba-serbi taqwa, iman, ihsan, silaturrahim, ukhuwah, dan sebagainya. Ramai sekali. Dunia perda’ian, dunia perustadzan, dunia perkiyaian, dan tak terkecuali dunia perspiritualan, kemudian tumbuh marak sekali ditengah-tengah masyarakat kita.

Namun yang menggelitik adalah, dengan semaraknya pengajian seperti itu, kok kelihatannya kualitas hidup, kesukacitaan, dan kesabaran kita umat islam ini dalam menjalankan agama dan hidup bermasyarakat bukannya bertambah baik, malah sebaliknya ada kecenderungan menurun terus kualitasnya dari waktu kewaktu. Ada apa ini gerangan??.

Kemudian saya coba amati keadaan yang terjadi dibeberapa tempat saat khotbah jum’at disampaikan. Hampir 90% jemaah berada dalam posisi tidur sambil duduk. Sebagian lagi melamun entah kemana. Sebagian lagi gelisah menunggu khotbah selesai. Kata-kata khatib seperti tidak punya daya apa-apa untuk menggugah kesadaran jama’ahnya. Kenapa ini gerangan terjadi?.

Di acara-acara pengajianpun, apa-apa yang telah disampaikan bertahun-tahun oleh ustadz kita, kiyai kita, atau murobbi kita, seperti lewat begitu saja dari telinga kanan untuk kemudian keluar lagi dari telinga kiri kita. Sehingga hasil mengaji kita selama belasan bahkan puluhan tahun itupun seperti tidak mampu memberikan kita hasil yang memadai kalau tidak mau dikatakan hanya sekedar pas-pasan.
Bersambung…

Salam,
Deka

Read Full Post »

Sisi Lain Temu Rohani

Minggu pagi, 30 Agustus 2009…,
Di sebuah ruangan di Shalat Center Bekasi…
Dengan takzim kusalami Pak Haji Slamet Utomo.
Beliau balas menyambut tanganku dengan lembut.
Ku kecup tangan beliau dengan takzim.
Lalu aku bersimpuh didepan Beliau.
Aku bersandar di paha Beliau.
Aku luruh didepan Beliau.
Aku Diam…

Lalu Beliau usap pundak kananku dengan lembut.
Aku tetap diam…

Bibir Beliau seperti mengucapkan sebait do’a, lalu Beliau diam….
Aku juga diam…

Tiba-tiba beliau menyapaku dengan lembut.
Terlalu lembut malah…
“assalamulaikum warah matullahi wabarakutuh…”.

Kujawab dengan lembut pula…
“alaikum salaam warahmatulahi wabarakaatuh…”.
Aku mulai berpendar lewat mataku…
Mataku meleleh…

Sekali lagi Beliau menyapaku dengan lirih.
Lirih sekali…
“assalamulaikum warah matullahi wabarakutuh…”.

Kujawab dengan sama lirihnya.
“alaikum salaam warahmatulahi wabarakaatuh…”.
Kali ini aku mulai berpendar lewat hatiku.
Hatiku mencair.
Mataku mencair.

Berbilang hirupan nafas aku diam…, Beliaupun diam…
Lalu terasa Beliau mendorong tubuhku dengan lembut.
Sudah…, kata Beliau lirih…

Untuk pertama kalinya seumur hidup,
Aku merasa begitu ringan mengangkat tubuhku.
Aku begitu ringan melewati hatiku.
Aku begitu ringan melewati mataku.
Aku begitu ringan melewati otakku.

Saat lidahku berucap…, “terima kasih pak Haji…”
Ucapanku Itu seperti memancar deras keluar dari hatiku…
Ringan sekali…
Namun ucapan terima kasih ku itu seperti lolos begitu saja.
Seperti tidak ada yang menahannya.
Seperti tidak ada yang menerimanya.
Pak Haji seperti tiada…

Kemudian kudengar Pak Haji berucap kepadaku,
“Saya juga berterima kasih kepada Pak Haji (Beliau memanggilku dengan Pak Haji juga),
yang telah bersedia membantu Rasulullah Muhammad SAW dalam menyebarkan Shalat”
Ucapan Beliau itu seperti memancar deras kearahku.
Tapi ucapan itu juga seperti los begitu saja saat menerpa hatiku.
Hatiku tidak menahannya sedikitpun.
Hatiku los begitu saja.
Dia tidak membesar seperti biasanya tatkala ada yang memujiku.
Dia tidak sumringah seperti biasanya saat ada yang berterima kasih kepadaku.
Aku seperti tidak punya hati…

Lalu akupun beranjak keluar ruangan, menuju Gedung Shalat Center.

Kupandang Gedung Shalat Center itu sekilas melalui hatiku.
Hatiku balik menerima kesukacitaan.
Mataku berbinar…

Kupandang kumpulan sahabatku yang berlalu lalang dengan hatiku.
Mardibros…, my brother Yus Ansari, Abd Aziz, oh… semua…
Hatiku balik dialiri kesukacitaan.
Mataku tambah berbinar.

Dari kejauhan kupandang sahabatku, guruku, Salim Bahreisy melalui hatiku.
Hatiku balik dialiri kesukacitaan yang pekat.
Mataku berbinar dan berbinar.
Kujabat lembut tengannya.
Kutarok pipiku lembut dipipinya.
Kutempelkan hatiku kehatinya.
Aku pamit pulang bisikku…
Beliau hanya mengangguk pelan.

Dari dalam mobil…, sekilas kembali kupandang semuanya dengan hatiku.
Hatiku berbinar hebat.
Sekilas istriku memandangku dengan hatinya.
Hatinya juga tengah berbinar hebat.
Aku tidak tahu apakah dia melihat setetes cairan bening mengalir disudut mataku….

Salam,
Deka,
31 Agustus 2009, Cilegon

Read Full Post »

Temu Ruhani

29 Agustus 2009 jam 6:25
Siap-siap menghadiri:

Temu Ruhani 1000 Generasi Pertama Pencinta Shalat Yang Sukacita.

Di Shalat Center, Jati Bening, Bekasi..

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Salam
Deka

Read Full Post »

Merdeka

Laa ilaha illallah….

Dengan seketika aku merdeka…
Aku merdeka…
Merdeka…

Aku merdeka dari pikiranku.
Aku merdeka dari hatiku.
Aku merdeka dari hawa diriku.
Aku merdeka dari hawa atributku.
Aku merdeka dari hawa pengakuanku.

Aku kosong…
Aku tiada…
Aku diam…
Aku hening…

Kosong.
Tiada.
Diam.
Hening.
….

..
.

Kun…
Oh…, Ada Yang Ada.
Ohh…, Ada Yang Maha Ada.
Kutatap Sang Maha Ada.

Kun…
Oohhh…, Sang Maha Ada Maha Sibuk…
Maha Sibuk memberi Hidup.
Maha Sibuk memberi Mati.
Maha Sibuk memberi Gerak.
Maha Sibuk memberi Diam.

Kun…
Oohhh…, Sang Maha Ada Maha Sibuk…
Maha Sibuk memberi Tahu.
Maha Sibuk memberi Melihat.
Maha Sibuk memberi Mendengar.
Maha Sibuk memberi Rasa.

Aku tidak mau mengganggu ke-Mahasibukan-Nya.
Namun…, aku mulai tercenung.

Aku tidak mau mengganggu Aktifitas-Nya.
Namun…, aku mulai tercekam.

Kusentuh Sang Maha Ada.
Oooh…, Ada…
Ada…
Kusapa Sang Maha Ada.
Wahai Ada…,
Ada…

Sang Ada balik menyapaku:
“alastu birabbikum…, bukankah Aku ini Tuhanmu ???”

Sejenak ku coba mengelak.
Sejenak ku coba berpaling.
Namun yang ada hanya Sang Maha Ada.

Dua jenak ku coba mencari selain Sang Maha Ada.
Namun yang ada tetap hanya Sang Maha Ada.
Tiga jenak ku berpaling ke kiri…, ke kanan…, ke atas…, ke bawah…
Namun yang ada tetap saja hanya Sang Maha Ada.

Akupun tercekam…
Aku terhenyak.
Aku tersungkur.
Aku tidak berkutik.
Aku menyerah.

Seketika Sang Maha Ada menarok Kehendak-Nya di dadaku.
Merembeslah Kehendak-Nya kedalam dada-ku.
Mengalirlah Kehendaknya kedalam dada-ku.
Menyusuplah Kehendaknya kedalam dada-ku.
Kehendakku menjadi seirama dengan Kehendak-Nya.

Sang Maha Ada adalah Sang Maha Mempercayai, Al Mukmin.
Maka akupun mulai dirembesi percaya.
Akupun mulai dialiri yakin.
Akupun mulai mengakui.
Akupun mulai beriman.
Aku telah menjadi Abdul Mukmin

Sang Maha Ada lalu mencabut kebingunganku.
Sang Maha Ada lalu menghentikan pencarianku.

“Bala syahidna…, duhai Maha Ada…, benarlah Paduka Tuhanku”.

Sang Maha Ada lalu memberitahuku tentang Dia Sendiri:
“Innani anallah laa ilaha illa ana fa’budni wa aqimishshalata lidzikri,
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah,
tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku,
maka menghadaplah kepada-Ku,
sembahlah Aku,
menghambalah kepada-Ku,
dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”.

Lalu aku dituntun-Nya untuk memanggil-Nya
Allah…, Allah…, Allah…
Lalu aku dituntun-Nya untuk TETAP menghadapkan wajahku ke Wajah-Nya.
Lalu aku diantar-Nya untuk menyembah-Nya.

Lalu aku diantar-Nya pula keposisi penghambaan.
Aku menjadi siap untuk disuruh-suruh-Nya.
Aku menjadi siap untuk diperintah-perintah-Nya.
Aku menjadi siap untuk dilarang-larang-Nya.
Ya…, aku hanyalah hamba-Nya.

Sehingga akupun menjadi sibuk dihadapan-Nya.
Aku menjadi sibuk disisi-Nya.
Aku menjadi sibuk dipelukan-Nya.

Iqraa kata-Nya…
Akupun sibuk membaca dengan mataku.
Akupun sibuk membaca dengan telingaku.
Akupun sibuk membaca dengan hatiku.

Lalu..
Aku sibuk menulis…
Aku sibuk memberi tahu…
Aku sibuk mempersilahkan orang untuk singgah…
Singgahlah…

Aku juga sibuk bekerja…
Aku sibuk mengatur perusahaan…
Aku sibuk berkarya…
Aku sibuk memberi …
Aku sibuk membahagiakan…
Aku sibuk menyayangi…

Ditengah semua sibuk itu…
Aku aku tetap dituntunnya untuk rukuk.
Aku diantar-Nya untuk sujud.
Aku direngkuh-Nya untuk mendekat.

Agar aku tidak lupa dengan posisiku,
Bahwa aku hanyalah hamba.
Agar aku selalu sadar,
Bahwa Allah lah majikanku.

Akupun semakin percaya
Bahwa Muhammad adalah utusan Allah

Laa ilaha illallah
Muhammadan Rasulullah
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

I really feel at home now.
I really feel free.
Merdeka, wahai sahabatku
Merdeka…

Singgahlah…
Allahu ma’ana…

Salam,
Deka,
28 Agustus 2009, Cilegon

Read Full Post »

Turut Mengantar…

 21 Agustus 2009 jam 16:27
Ya Allah…, izinkan hamba turut mengantar para sahabat hamba dengan do’a dan permintaan maaf saat kami semua ingin meniti jalan taqwa dalam kesukacitaan saat berpuasa …

Salam
Deka & Keluarga

Read Full Post »

Rumahku…

Laa ilaha illallah…, DERR…
Semua coverku pun disingkirkan oleh Allahku..
Allahku lalu memasukkanku kedalam benteng-Nya.
Benteng Allahku…, rumahku…

Rumah yang penuh kesejahteraan…
Dimana aku bisa tersenyum melihat kenakalan hatiku.
Tersenyum melihat keliaran pikiranku.
Tersenyum melihat beragam fitrah tubuhku.
Tersenyum melihat indahnya pelangi.
Tersenyum mendengarkan untaian nada dan irama

Bahkan…
Aku bisa tersenyum melihat serba-serbi kenakalan hati manusia.
Tersenyum mengamati keliaran pikiran manusia.
Tersenyum ditengah beragam keangkuhan manusia.
Tersenyum dicelah-celah bencana dan prahara.

Aku telah dipisahkan oleh Allahku dari penjajahan semua itu.
Kekuasaan semua itu telah diambil Allahku dariku.
Aku telah dimerdekakan oleh Allahku dari penjajahan semua itu.
Aku merdeka…
Aku sikacita…

La khaufun…,
Rumah yang didalamnya tiada lagi kekhawatirkan.
Tiada lagi kegamangan.
Tiada lagi keraguan.

La tahzan…,
Rumah yang didalamnya tiada lagi ketakutkan.
Tiada lagi kepedihan.
Tiada lagi kegalauan.

Laa ilaha illallah…
Ah…, inilah rumahku yang sesungguhnya.

Inilah rumahku…, singgahlah…
Disinilah tempatku menuai tahu dengan sukacita.
Tempatku mereguk paham dengan sukacita.
Tempatku memetik takjub dengan sukacita.
Tempatku menerima AHA…, AHA…, dan AHA dengan sukacita.

Inilah rumahku…, singgahlah…
Disinilah tempatku mengurai langkah dengan sukacita.
Tempatku mengukir jejak diri dengan sukacita.
Tempatku menebar karya dan cipta dengan sukacita.
Tempatku memutus peristiwa-peristiwa dengan sukacita.

Inilah rumahku…, singgahlah…
Disinilah tempatku rukuk menghadap Allahku dengan sukacita.
Tempatku sujud menghadap Allahku dengan sukacita.
Tempatku bersimpuh dihadapan Allahku dengan sukacita.
Tempatku menangis dihadapan Allahku dengan sukacita.

Inilah rumahku…, singgahlah…
Disinilah tempatku menjadi saksi atas perwujudan Al Qur’an dengan sukacita.
Tempatku menjadi saksi atas butir-butir kebenaran Muhammad SAW dengan sukacita.
Muhammadan Rasulullah…

Ah…, Rumah yang penuh kesukacitaan…
Rumah yang didalamnya terlantun doa “Subhanakallahumma”,
Rumah yang didalamnya berkumandang “Salam”.
Rumah yang didalamnya terucap “Alhamdulillaahi Rabbil `aalamin”.

Inilah rumahku…, singgahlah…
Rumah untuk seluruh umat manusia…
Rumah bagi manusia yang mau menjadi Muhammad
Walau hanya untuk sebutir atom kebajikan sekalipun.

Salam,
Deka,
20 Agustus 2009, Cilegon

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d blogger menyukai ini: