** Jan 14 Sat 15:03 **
DALYONO: Hadits masuk surga tanpa dihisab:
Nabi SAW bersabda: “Beberapa umat diperlihatkan kepadaku, maka aku melihat ada seorang Nabi lewat bersama umatnya, kemudian lewatlah seorang Nabi bersama beberapa orang, kemudian lewatlah seorang Nabi bersama sepuluh orang, dan Nabi bersama lima orang, dan seorang Nabi yang berjalan sendirian. Tiba-tiba aku melihat ada rombongan besar, maka saya tanyakan kepada Jibril; ‘Apakah mereka umatku? ‘ ‘bukan, namun lihatlah ufuk, ‘ jawab Jibril. Aku melihat, tiba-tiba ada serombongan besar. Kata Jibril; ‘Itulah umatmu, dan itu ada tujuh puluh ribu orang mula-mula yang masuk surga dengan tanpa hisab dan tanpa siksa.’ Saya bertanya; ‘Mengapa mereka bisa seperti itu? ‘ Jibril menjawab; ‘Karena mereka tidak minta di obati (dengan cara) kay (ditempel besi panas), tidak minta diruqyah dan tidak meramal nasib dengan burung, dan kepada rabb-Nya mereka bertawakkal.”(Shahih Bukhari:6059 Muslim:320 Ahmad:115 Darimi:2686 )
** Jan 14 Sat 17:48 **
ABU SANGKAN: Jadi orang2 X… dan Y…. banyak mengembangkan ruqiyah gimana dong,
** Jan 14 Sat 19:57 **
Yan Kasiran: Semoga para sahabat LM tidak meminta selain kepada ALLAH SWT,apalagi dgn cara Ruqiyah,
** Jan 14 Sat 20:29 **
Edy Musoffa : Apakah ruqyah memang tdk boleh..” ‘An ‘auf bin malik, kunna narqaa filjahiliyah faqulna: ya Rasulallah kaifa tara dzalik? Faqala I’radluu ‘alyya riqaakum. La baksa birraqa malam yakun fihi syirkun”. (H Muslim dan Abi Dawud). Di masa jahiliyah, kami mlkkn pengobatan dg mantera (ruqyah). Lalu kami tanyakan: ya Rasulallah, bgmn pendapatmu dlm hal itu? Rasul mnjwb,: coba bawa kpdku mantera2 mu (ruqyahmu) itu. Kata Rasul, tdk apa2 mantera (ruqyah) selama tdk mengandung kemusyrikan”. (HR. Muslim dan Abi Dawud).
** Jan 14 Sat 20:29 **
ABU SANGKAN: Hadist ini rasulullah diminta pendapatnya, soal ruqyah, sebab mereka sebelum islam mempunyai tradisi jahiliyah membaca mantra, dalam hal ini nabi memproses peradaban jahliyah kpd tauhid, makanya yg penting jangan syirk, sama halnya soal tahlilan yg menggunkan hari kesatu sampai ketujuh dst, awalnya tradisi hindu yg diislamkan oleh para wali, tetapi lihatlah hadist yg mengatkan siapakah yg tanpa hisab, yaitu yg tdk melakukan ruqyah, konsep ini adalah nasikh wa mansukh, penghapusan dgn dengan dalil yg kebih jernih dalm bertauhid dan tdk bercampur, sama halnya dalm pelarangan terhadap khamr tdk langsung haram, pertama hanya jgn mendekati shalat kalau masih mabok,kemudian dijelaskan manfaatnya sedikit, ketiga barulah diharamkan. Contoh lain, pada mulanya ziyarah qubur dilarang, kemudian dinaskh dihapus dengan hukum terbaru diperbolehkan fa zuruha, dalil yg lain lagi, tadinya muth’ah diperbolehkan namun pada akhirnya dilarang, wallahu a’lam, terserah, mau pake ruqyah atau tdk, terserah yg mau pake hisab atau tdk pake hisab masuk syurganya ? Orang hakikat lebih memilih tawakkal ‘alallah tdk membaca mantra, sebab yg muncul malah khdam atau qarin.
** Jan 14 Sat 20:29 **
ABU SANGKAN: Memahami hadist jangan hanya melihat HR Bukhari Muslim dll, tetapi asbabul wurud nya, kalau tdk memahaminya disangkannya antara matan hadsit jadi bertentangan, seperti plin-plan. Periwat hanya pengumpul data atas kesahihan jalur matan hadist. Anehnya orang meruqyah membaca ayat yg tdk ada hubungannya dgn masalahnya, misalnya, ngobati orang kesurupuan malah pake surat al baqarah “faidzaa tadayantum binainin ila ajalamusamma faktubuh ,,,,,padahal ayat ini menerangkan tentang perjanjian jual beli”. Syetannya juga bingung, kata syetan : lha wong saya nyusup… malah dibacakan suruh bayar utang, kebetulan syetannya hapal betul surat tsb. He he he,
** Jan 14 Sat 20:58 **
Lulu Samodra: Matur nuwun pencerahannya….:):D
** Jan 14 Sat 21:02 **
DALYONO: Nyuwun sewu Ustadz, bagaimana dg kalimat:
“Itulah umatmu, dan itu ada tujuh puluh ribu orang mula-mula yang masuk surga dengan tanpa hisab dan tanpa siksa”. Apakah ini berarti ada gelombang ke2 ke3 dst yg tanpa dihisab, ustadz?
** Jan 14 Sat 21:09 **
Imam buchori: Sangat menarik pembahasannya, ustad abu.. Semoga menjadi ilmu manfaat.. Mohon ijin untuk dijadikan bahan ceramah..
** Jan 14 Sat 21:09 **
ABU SANGKAN: Pak kyai kita mau pilih yg tanpa hisab, soalnya yg mau dihisab tdk ada, apanya yang mau dihisab, wong amalannya tdk memadai, terlalu banyak dosanya ketimbang amalannya. Tdk mungkin saya melalui jalur normal pak kyai, sampai sekarang sodaqah saya nggak sampe semilyar, ibadah tahajjud tdk setiap malam, puasa senin kamis sakit perut terus, baca Al qur’an tdk setiap hari. Yang pasti neraka sudah dikantong pak kyai, artinya pasti neraka sudah menunggu kita.
Nanti di akhirat pas antri nimbang amal, saya nggak mau ikut antri pak kyai, saya mau langsung saja nyebur, soalnya saya sadar apanya yg mau ditimbang, wong amalan tdk punya.
Jadi begini pak kyai, ini rahasia jangan bilang yang lain, kata imam syafi’i: “laisa lirabbikum lailan wa naharan”, dilanjutkan (jawaban atas) sebuah pertanyaan seorang hamba kepada rasulullah: faiza sa’alaka ‘ibadi ‘anni fa inni qariib,….wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil wariid.
Berarti tdk ada bagi Allah waktu siang dan malam, Allah tdk perlu waktu dan tempat, tetapi Ia dekat, bahkan sangat dekat. Bagi Allah tdk perlu waktu akan datang dan masa lalu, Ia ada sekarang dan Abadi, al awalu wal akhiru, adh dhahiru wal bathinu.
Kemudian bisakah melalui jalan tdk normal tetapi menurut syar’i, fa inni qariib,..kita disuruh datang ke Allah terlebih dahulu apa ke syurga dulu ?
Lebih jauh mana antara Allah dan syurga neraka terhadap urat lehermu ? Allah lebih dekat berada lebih dekat dari pada urat leher, dan kita disuruh datang ke Allah bukan ke syurga, ir ji’ii ila rabbiki, bukan irji’i ilal jannah atau ilannar.
Bagi Allah siapapun yg berdosa melampau langit dan bumi, akan lebur sebelum ke syurga, ketika kita mendekat kpd yg maha dekat dlm keadaan membawa dosa yg besar akan lenyap oleh ridho dan rahmat-Nya, termasuk engkau ya rasulallah, ya aku masuk syurga karena rahmat Allah. Irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah. Kita disuruh datang ke Allah kemudian barulah ke syurga,
** Jan 14 Sat 21:20 **
Edy Musoffa : Syukran katsiran ustadz…. Lana walahumul-fatihah…. Amin..({})
** Jan 14 Sat 21:47 **
Imam buchori: Sepakat, ustad abu.. Sangat betul sekali.. Terlalu sombong rasanya kalo mengandalkan amal ibadah qt yg sangat sedikit sekali
** Jan 14 Sat 21:48 **
Imam buchori: Belum lagi ibadah kita hilangkan dg riya’ hasud dan ghibah..
** Jan 14 Sat 21:51 **
Imam buchori: Jadi bagaimana kita bisa berharap pada timbangan amal yg seperti itu ? Terima kasih ustad abu, atas taushiyah yg membuka wawasan
** Jan 14 Sat 21:55 **
DALYONO: قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰهَا
** Jan 14 Sat 22:01 **
Ustadz Hamid: Sy ikut pak abu dan pak kyai Iman. Males mikir. Datang kepada Allah dgn tdk membawa apa 2, ikhlas pasrah dgn keridloan Allah.
** Jan 14 Sat 22:01 **
Imam buchori: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينََ
** Jan 14 Sat 22:01 **
DALYONO: Ayat penutup tausyiah ustadz Abu akhir tahun di Jogja
** Jan 14 Sat 22:01 **
Imam buchori: Kyai hamid dan saya juga teman LM yg lain iinsya alloh setuju..
** Jan 14 Sat 22:24 **
Ustadz Hamid: Amiin. Di dunia seiman dan sejamaah di akhirat satu jamaah (zumara)
** Jan 14 Sat 22:30 **
DALYONO: Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin
** Jan 14 Sat 22:46 **
Lulu Samodra: O:)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Copied by Deka
Assalamualaikum wr.wb., Salam Ukhuwah pa Ustadz….
Subhanalloh tausyahnya meng inspirasi saya. saya ingin selalu dekat dengan Allah,,, Mohon izin untuk share ustadz??