Mungkin tidak banyak kita yang tahu bahwa Allah punya cara sendiri yang sangat dahsyat untuk merestorasi kesadaran ruhani seseorang ataupun suatu kaum ketika seseorang atau kaum itu telah lupa dengan kesejatiannya dan mereka juga telah lupa pula atau sudah tidak lagi menjalankan tugas-tugas mereka, seperti yang seharusnya, sebagai seorang manusia atau sekelompok umat yang berguna untuk hidup dimuka bumi ini.
Sebab setiap orang diturunkan Allah kemuka bumi ini bisa menggunakan seluruh jasmani dan ruhaninya untuk menjadi berguna tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain dan alam sekitar dimana dia berada. Dan di dalam menjalankan tugas kebergunaannya itu, seseorang hanya diminta oleh Allah untuk menyadari bahwa statusnya tetap hanyalah sebagai seorang hamba Allah yang sedang memikul amanah Allah, sedang menjalankan tugas-tugas dari Allah. Tidak lebih…!. Sehingga sampai kapanpun, dia akan punya rasa sungkan yang amat sangat untuk menyatakan pengakuannya: “ ini aku lho…, ini hebatku lho…, ini kekuatanku lho…, ana khairun minhu (aku lebih baik dari dia lho)…, aku…!.
Bagaimana dia akan bisa mengaku, ketika dia mau mengaku atas kekuatan dan kehebatan yang dia punyai, dia segera menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan Sang Maha Meliputi yang sedang mengalirinya dengan daya yang membuat dia bisa kuat dan hebat. Sehingga dengan sangat malu diapun segera mengaku takluk kepada Sanga Maha Meliputi: “Laa haula wala quwwata illa billah…, Sungguh…, tiada daya dan kekuatan yang hamba miliki kecuali sekedar yang paduka turunkan kepada hamba…!”.
Begitulah seterusnya…
Ucapan-ucapan pengakuannya terhadap segala peran Allah, Sang Maha Meliputi, mengalir dari bibirnya dengan santun. Kadangkala ada sejumput pekat suasana takjub yang melanda batinnya, sehingga diapun berkata dengan santun kepada Sang Maha Meliputi; “Subhanallah…, Subhanaka…, subharabbial a’laa…, subhanrabbial adhiem…, subhanakallahuma wabihamdika…”. Derr…
Adakalanya ada suasana sukacita yang kental menyusup kedalam batinnya, sehingga diapun lalu bergegas mengucapkan “Alhamdulillah…, alhamdulillahirabbil ‘alamin…” tepat kepada Wajah Sang Maha Meliputi. Derr…
Ketika suasana kesendirian, yang tiada siapa-siapa dan tiada apa-apa, menyinggahi batinnya, sehingga dia langsung berhadapan dengan Wujud Yang Maha Meliputi segala sesuatu, maka saat itu dia diapun terpekik histeris kepada Sang Maha Meliputi “Laa ilaha illa Allah…, laa ilaha illa Allah…, laa ilaha illa Allah…, laa ilaha illa anta…, laa ilaha illa anta inni kuntu minazzalimin…”. Derr…
Begitu juga ketika batinnya terangkat dan melayang menuju ruang kosong, tanpa batas dan tak bertepi, diapun berkata dengan dada yang bergemuruh dan kulit yang bergetar “Allahu Akbar…, Allahu Akbar…, Allahu Akbar” kepada Sang Maha Meliputi Yang Memiliki Segala Ketinggian dan Kebesaran. Derr…
Sebaliknya, ketika ada sebentuk keadaan dan suasana kering, gersang, dan garing melanda batinnya, sebagai pertanda bahwa saat itu Sang Maha Meliputi sedang tidak berkenan kepadanya, diapun duduk bersimpuh bahkan sampai tersujud sambil berucap lirih kepada Sang Maha Meliputi Yang Maha Dekat: “astagfirullah…, astagfirullah…, rabbigfirli…, rabbigfirli…”. Derr…
Saat dia merasakan batinnya sedang menjerit minta tolong atas sesuatu beban yang tidak bisa dia pikul sendirian, maka diapun bersegera berpegangan teguh kepada Sang Maha Meliputi seraya berdoa: “warhamni…, wajburni…, warfa’ni…, wardzuqni…, wahdini…, wa’aa fini…, wa’fuanni…”. Dan berbagai do’a lainnyapun begitu santun keluar dari bibirnya, yang menandakan bahwa saat itu dia benar-benar telah kehilangan tempat bergantung kepada apapun dan siapapun juga selain daripada Allah, Sang Maha Meliputi. Derr…, Derr…, Derr…
Saat itu benar benar terjadi sebuah komunikasi timbal balik antara dia dengan Allahnya… ada think-thank, ada proses ajar mengajar, ada informasi yang mengalir antara yang membuka batin dengan yang dibuka batinnya. Sehingga tidak ada lagi apa-apa dan siapa-siapa yang membuatnya takut dan khawatir. Laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanun…. Ada proses bela membela antara Allah dengan dia. Ya…, ada pembelaan yang terus menerus dari Dzat Yang Maha meliputi terhadap diri dia yang diliputi, karena dia telah bersedia menyerahkan dan meluruhkan keakuannya kepada Dzat Yang Maha Meliputi.
Karena ada tempat bergantungnya ke Allah itu, dia seperti (seakan-akan) jadi orang yang angkuh dan tak kenal takut. Misalnya saja Nabi Muhammad. Saat Beliau mau dibunuh oleh Tsalabah dengan sebuah pedang yang sudah terhunus dileher Beliau, dan Tsalabah bertanya: “siapa yang yang akan membelamu dari tebasan pedang ini ya Muhammad?”. Dengan santai dan rileks saja Nabi menjawab: “Allah…!”. Karena memang Nabi dibela oleh Allah, maka seketika itu juga sebuah daya iman yang membuat lunglai menyapa tubuh Tsalabah.
Kalau dalam bahasa populernya sekarang, barangkali jawaban Beliau itu sesederhana ini: “Allahku…, INI lho”, kata Beliau dengan santai. Beliau hanya menunjukkan keberadaan Allah yang Maha Meliputi segala sesuatu kepada Tsalabah. INI…!. Seketika itu juga Ruhani Tsalabah seperti ditarik menuju Sang Maha Meliputi. Batinnya gemetar, tubuhnya gemetar, tangannya gemetar, sehingga pedangnyapun jatuh ketanah. Tsalabahpun kemudian menyatakan kesaksiannya terhadap keberadaan Allah dan terhadap kerasulan Muhammad Saw.
Andaikan kita yang menghadapi hal seperti diatas, barangkali yang kita lakukan adalah sebagai berikut:
Kalau kita merasa punya ilmu kebal, maka seketika itu juga kita akan ingat ilmu kebal kita. Kita akan melakukan persiapan kilat agar ilmu kebal kita itu muncul. Lalu kita akan menantang Tsalabah dengan jumawa: “hayooo… tebas, saya punya ilmu kebal kok”. Kalau kita merasa punya ilmu beladiri, maka kitapun akan mencari kesempatan untuk melepaskan diri dari todongan pedang Tsalabah itu, sambil mencari kesempatan untuk melumpuhkan dan mengalahkannya. Ini mirip sekali dengan yang dilakukan Steven Siegel, atau James Bond, dalam filem-filemnya. Tapi kalau kita merasa tidak punya ilmu apa-apa, dan tidak punya siapa-siapa pula untuk tempat bergantung dan berlindung, maka kita akan menggigil ketakutan, kita akan terkencing-kencing dan gacar (mencret) menahan rasa takut, kita akan memelas untuk minta diampuni oleh Tsalabah. Beda sekali dengan yang dilakukan oleh Rasulullah ketika itu. Beda sekali…
Wassalam
Deka
Assalamualaikum pak.
dua hari ini saya shalat dengan memperhatikan daya yang masuk didada saya. ketika shalat, saya seperti dituntun gerakan dan bacaannya. tetapi dalam shalat dhuhur barusan, sepertinya ada daya yang menyuruh saya untuk diam.
diamlah….
bacalah…
saya jadi bingung juga apa yang musti dibaca, lha wong tidak ada apa2.
lalu kemudian, saya mencoba bicara pada Allah
Ya Allah, apa yang musti saya baca? tetep saja saya disuruh untuk membaca.
saat itulah keadaan saya malah jadi buyar, karena tidak mampu membaca dan tidak tahu apa yang harus saya baca.
Menurut pak ustad, apa yang musti saya lakukan dan saya baca?
Adib
Subhanallah….
ternyata saya berada dalam lautan kehendak Allah…
tinggal bersedia atau dipaksa.
Subhanallah…
Adib