Banyak orang yang bertanya-tanya atau ingin tahu, tentang sebenarnya apa sih yang diajarkan dan dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw ketika Beliau mengenalkan Islam kepada para sahabat Beliau. Sehingga begitu Beliau menyampaikan Risalah Islam, seakan-akan para sahabat utama seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, istri Beliau Khadijah, seketika itu juga langsung beriman kepada Rasulullah setelah mereka bertemu dengan Rasulullah.
Sebenarnya tidak ada yang aneh yang Beliau lakukan kalau ditinjau dari sudut ilmu komunikasi, psikologi, para psikologi, dan ilmu-ilmu lain yang sangat banyak berkembang dizaman sekarang ini. Pada dasarnya Beliau hanya melakukan restorasi ulang (memulihkan kembali) ruhani para sahabat itu agar mereka bisa kembali berada dalam suasana semula jadi. Para sahabat itu bisa kembali merasakan suasana azali. Sehingga akhirnya mereka merasa tidak punya alasan lagi untuk menolak kerasulan Muhammad Saw. Wong ada buktinya…, ada proses berubahnya, ada proses menjadinya.
Risalah Islam itu pada hakekatnya hanyalah ingin memulihkan kembali suasana hati, suasana jiwa, suasana batin, suasana ruhani umat manusia, sehingga kegembiraan syurgawi yang dulu pernah dirasakan oleh Adam dan Hawa mampu kita restor ulang dan kita rasakan kembali disaat sekarang ini.
Saat ini, jauh diruang batin terdalam kita, yang menurut istilah ilmu zaman sekarang disebut sebagai alam bawah sadar, sebenarnya sudah tertanam dua macam memori yang saling bertolak belakang. Yaitu memori tentang nikmatnya kehidupan di alam syurgawi, disatu sisi, dan memori tentang kepedihan panjang Adam dan Hawa ketika suasasa alam syurgawi itu lenyap tak berbekas dari kehidupan mereka, disisi lainnya.
Dengan sebuah proses panjang yang sangat rumit dan cerdas, yang sekarang dikenal orang sebagai proses hereditas, proses genetika, suasana ruang batin itu seperti diturunkan dari Adam dan Hawa sampai kepada kita saat ini, dan juga kepada anak cucu kita kelak. Sehingga kita sekarang tidak pernah belajar sedikitpun untuk bisa merasakan tentang bagaimana rasanya bahagia, senang, tenang, sukacita, rindu yang merupakan beberapa contoh dari memori kehidupan syurgawi. Dan kita juga kita tidak pernah belajar sedikitpun untuk merasakan rasa sedih, takut, marah, benci, iri, dan kepedihan yang merupakan beberapa contoh dari suasana diluar alam syurgawi (alam neraka).
Tiba-tiba saja, berbarengan dengan sebuah peristiwa, ada rasa sukacita yang menyeruak kedalam dada kita. Tempo-tempo dada kita seperti digandoli oleh rasa pedih yang amat sangat akibat dari sebuah kejadian yang menimpa kita.Tidak ada sekolahnya untuk kita bisa merasakan sukacita atau untuk bisa merasakan kepedihan itu. Sebab sukacita dan kepedihan itu sudah ada didalam memori batin kita terdalam. Derr…, tiba-tiba kita dialiri rasa sukacita. Wuuss…, tiba tiba kita dilanda kepedihan. Semuanya itu muncul kembali kepermukaan rasa kita dengan sangat mudahnya.
Rasulullah hanya mengajak para sahabat itu untuk singgah diruangan batin Beliau yang ternyata telah direstorasi oleh Allah di Gua Hira. Beliau bisa kembali merasakan suasana kehidupan syurgawi yang alangkah menakjubkan. Lalu beliau berkata: “Singgahlah wahai Abu Bakar, singgahlah wahai sahabatku, ada syurga nih. Diluar itu nggak enak, diluar itu neraka namanya”.
Untuk itu, Rasulullah hanya mengenalkan kembali kepada Abu Bakar tentang Ada SATU DZAT YANG MAHA MELIPUTI SEGALA SESUATU. DZAT YANG MAHA DEKAT. Dzat Yang Maha Memulihkan, Maha Memperbaiki, Maha Mengajari, Maha Merespon, Maha Menjawab, Maha Memberi Petunjuk. Maha Memaafkan, Maha Mengasihi, Maha Menyayangi…, Maha Segalanya…!. Setelah itu Beliau hanya mengajarkan Abu Bakar cara untuk berpegang teguh dan menggantungkan batinnya kepada Dzat itu dengan TALI yang kokoh. Wa’tashimu billah…., wa’tashimu biHABlillah…!. Dan sebagai hasilnya, Abu Bakarpun seketika bisa merasakan dan mengalami kembali suasana syurgawi seperti yang dirasakan oleh Rasulullah.
Begitu Rasulullah memberi petunjuk, dan Abu Bakar BERSEDIA menghubungkan batinnya dengan Allah, maka seketika itu pula seuntai Tali, Hab, diulurkan oleh Allah kedalam dada Abu Bakar. Lalu melalui tali itu turunlah sebentuk vibrasi iman yang sangat berbeda dengan “vibrasi-vibrasi kasar” lainnya. Daya IMAN itu tidak sama dengan daya-daya atau getaran-getaran yang berhubungan dengan dunia fisika mulai dari fisika klasik sampai ke fisika quantum, atau dunia metafisika sekalipun. Berbeda sekali. Bedanya seperti perbedaan antara siang dan malam.
Getaran iman itu adalah sebentuk Sirr ul Asrar. Petunjuk rahasia antara dua batin yang saling mencintai. Petunjuk yang tak terdengar dan tak terbaca oleh orang lain, oleh jin dan oleh syaitan sekalipun. Petunjuk dimana yang memberi petunjuk ingin memperlihatkan kepada kekasihnya sesuatu yang terdalam dan rahasia secara bolak balik dan berulangkali…!. Allahu Akbar…
Allah menantang kita semua dengan sebuah pertanyaan yang sangat sederhana: “Apakah sama dada orang beriman dengan dada orang yang mengikuti hawa nafsunya?”. Tentu yang bisa menjawabnya adalah kita dengan berbagai pengalaman kita masing-masing. Menurut pengalaman saya sih itu tidak sama…, entahlag bagi yang lain…
Dengan cara seperti itu, Dada Abu Bakar seperti DIRESTORASI (DIPULIHKAN) menjadi seperti sediakala. Dada Abu Bakar kembali bisa menangkap suasana dan keadaan “semula jadi” (azali) saat mana Allah pernah bercakap-cakap dengan Beliau di alam ruh:
“Alastu birabbikum??, Bukankah Aku Tuhan mu ya Abu Bakar?”, Dan saat itu setiap Ruh, semua Ruh, akan menjawab: “Bala Syahidna…, Benar Ya Allah, hamba bersaksi bahwa Padukalah Tuhan Hamba…”.
Keadaan dan suasana semula jadi itulah yang tertangkap kembali oleh batin Abu Bakar. Dan seketika itu juga Abu Bakarpun dengan lancar bisa mengulang kembali kesaksian Beliau dihadap Allah itu. Dengan penuh takjub Abu Bakarpun segera bersyahadat kembali: “Asyhadu an laa ilaaha ilallaah…!.
Abu Bakar menjadi sangat yakin dan beriman pula, bahwa Muhammad ini pastilah seorang yang dipakai oleh Allah sebagai alat-Nya untuk menyampaikan risalah tentang ada Allah Yang Maha Merestorasi. Lalu terloncatlah dari bibir Abu Bakar ungkapan “Sadaqta ya Muhammad, Benar engkau Ya Muhammad. Wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, dan aku bersaksi pula bahwa benar engkau adalah seorang utusan Allah”. Sejak itu Abu Bakarpun dikenal orang sebagai As Siddiq, seorang yang selalu membenarkan Rasulullah.
Begitulah cara Rasulullah menyampaikan Risalah Islam kepada penduduk Mekkah dan Medinah. Sehingga dalam kurun waktu 20 tahunan kerasulan Beliau, puluhan ribu orang telah dipulihkan kembali suasana atau keadaan ruang dadanya oleh Allah menjadi seperti sediakala. Suasana alam kesaksian (Musyahadah). Suasana Syurgawi. Suasana alam Ruh.
Setelah itu, hasil yang mencengangkanpun muncul. Penduduk Mekkah dan Medinah berbondong-bondong datang kepada Rasulullah untuk menyatakan kesedian mereka menjadi Abdullah, menjadi hamba yang menyediakan diri mereka (tubuhnya, pikirannya, dan hatinya) dipakai oleh Allah sebagai Allat-Nya untuk menyampaikan serta mengalirkan rahmat dan berkah dari Allah untuk semesta alam, bagi seluruh umat manusia.
Ada mereka-mereka yang menyediakan dirinya dipakai oleh Allah untuk membuka berbagai rahasia ilmu Allah dialam semesta ini. Merekapun menjadi Abdul ‘Alim. Berbagai ilmu pengetahuanpun memancar deras keluar dari otak mereka. Diantaranya ada Al Kindi, Ibnu Rusydi, Ibnu Sina, Al Farabi, Al Biruni, Jabir Ibn Hayyan, Al Khawarizmi, Al Mas’udi, Ibnu Batuta, Ibnu Maskawih, Ibnu Haitham, Ibnu Tufail, Ibnu Bajjah, Ar Razi, dan sebagainya.
Ada pula orang-orang yang menyediakan dirinya untuk dipakai oleh Allah sebagai alat-Nya untuk memelihara syariat islam, al qur’an dan al hadist. Misalnya ada Abu Hasan Al Asy’ari, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Bukhari dan Muslim, Imam Ghazali, Ibnu Qayyim, Ibnu Taimiyyah, dan lain-lain.
Banyak pula orang yang bersedia untuk memanfaatkan harta dan kekuasaannya untuk membantu fakir miskin, anak yatim, dan untuk orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Para dermawan itu bermunculan sebagai perwujudan nyata dari seorang Abdur Razaq, seorang hamba Allah yang bersedia dirinya dipakai oleh Allah untuk memberi rejeki kepada orang-orang yang Allah hendak beri rejeki.
Antar sesama manusia terjalin pula hubungan persaudaraan yang kental dengan rasa tolong menolong dan saling menghargai. Apalagi penghargaan seorang anak terhadap orang tuanya. Karena mereka tahu bahwa ridha Allah adalah buah manis dari ridho orang tua, terutama ridho ibu, kepada anaknya.
Semua aktivitas mereka itu tak lain dan tak bukan adalah bentuk nyata dari pengamalan agama dalam keseharian manusia seperti yang seharusnya. Amal shaleh saja sebenarnya. Tapi, walaupun biasa, mereka sangat bergairah untuk berlomba-lomba memberikan yang terbaik dalam beramal shaleh itu.
Jika Allah merestorasi diri orang-orang yang bersedia untuk dipulihkan oleh Allah, maka hasilnya adalah munculnya umat yang terbaik yang mewarnai peradaban zamannya. Makanya zaman itu, sekitar tahun 750-1250 M, dikenal orang sebagai zaman keemasan peradaban Islam. Zaman dimana cikal bakal ilmu dan peradaban modern berhasil digali oleh orang-orang yang menyediakan tubuhnya, otaknya, an hatinya dipakai Allah untuk menyibakkan berbagai HIJAB (tabir) Allah.
Itu semua bisa terjadi karena mereka punya hubungan batin dengan Allah. Ada tali Allah, hablillah, yang menghubungkan batin mereka, dada mereka, ruh mereka dengan Allah. Sehingga Allah pun berkenan menurunkan ilham dan wahyu-Nya kepada mereka tentang berbagai rahasia kehidupan. “ ‘Allamal insana ma lam ya’lam. Allahlah yang mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahui mereka”. Sementara di Eropa sendiri saat itu masih berada dalam zaman kegelapan.
Namun, ditengah gemerlapan ilmu dan peradaban itu, mulai pula muncul keadaan dimana ruhani umat islam mulai terputus dari Allah. Tali batin mereka mulai terikat dengan berbagai materi, dengan berbagai buku, dengan berbagai kelompok, dengan berbagai golongan. Saat itu banyak orang yang sudah tidak punya lagi tali yang menghubungkan batin mereka dengan Allah. Tidak ada lagi hubungan rahasia antara dua batin yang saling mencintai. Sehingga dengan ketiadaan tali itu, terputus pulalah turunnya pengajaran-pengajaran langsung dari Allah dalam bentuk ilham atau wahyu.
Umat islam tidak bisa lagi membaca bahasa Allah yang ada di seekor lebah, di tiupan angin, di dalam cahaya matahari, di kilatan petir, di getaran alam, di sejuta tabir-Nya. Sebagai gantinya, umat islam mulai sibuk dan asyik saling membahas kitab-kitab yang ditulis oleh para pendahulu mereka, yang menuliskan kitab itu berdasarkan pengalaman mereka dalam menjalankan syariat agama. Karena yang dibahas adalah kitab, maka terjadilah perang pikiran, perang kata-kata, dan perang senjata benaran antara sesama umat islam sendiri. Masing-masing ingin mempertahankan kebenaran sebuah buku sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing.
Peran Allah sebagai Rabbi, sebagai Murabbi, juga telah diambil alih oleh umat manusia. Ada pengkultusan umat kepada para guru dan mursyid. Ada pengagungan berlebihan oleh sebagian orang, kepada sesama manusia, termasuk kepada Rasulullah dan Ahlul Bait sekalipun. Ada binding (kemelekatan) pikiran dan hati sebagian besar umat islam terhadap konsep-konsep dan persepsi-persepsi yang sudah mengarah kepada pertentangan hebat antar golongan-golongan. Semuanya itu nyaris berfungsi seperti berhala yang telah memutus tali hubungan batin manusia dengan Allah.
Sejak itu, sebuah prinsip yang sangat penting dicabut oleh Allah dari kesadaran sebagian besar umat islam. Yaitu kenyataan bahwa Allah Maha Meliputi Segala Sesuatu, bahwa Allah senantiasa Maha Sibuk Setiap Saat.
Ya…, prinsip-prinsip super penting ini dicabut oleh Allah dari pemahaman umat islam, walau saat itu banyak orang yang hafal dan tahu tentang ayat-ayat yang berkenaan dengan prinsip itu. Sehingga jadilah umat islam hanya bisa memahami bahwa saat ini Allah sedang duduk jauh di Arsy sana, dilangit ketujuh yang entah dimana. Sedang untuk mengurus alam semesta ini, Allah telah mendelegasikannya kepada para malaikat-Nya.
Umat islam juga digiring untuk mempercayai bahwa Allah sudah tidak pernah lagi menurunkan ilham dan wahyu semenjak wafatnya Rasulullah. Untuk menyelesaikan berbagai masalah dan problematika hidup, umat islam juga diarahkan untuk cukup tinggal membaca dan melihatnya didalam al qur’an, al hadist, dan kitab-kitab ulama yang ada saja. Jadilah ketika menghadapi berbagai masalah, mereka terjauhkan dari Allah.
Padahal kalau kita lihat ayat-ayat Al qur’an dan Al Hadist itu, begitu kita punya masalah, kita disuruh Allah untuk datang menghadap Allah dan minta pertolongan kepada Allah. Tapi ketika kita ingin minta tolong ke Allah, kita dibuat tidak percaya lagi kalau cara Allah mengajari kita ini adalah melalui bahasa ilham atau wahyu. Sementara itu, kita sendiri tidak pernah tahu lagi dengan bahasa ilham dan bahasa wahyu itu. Bagimana cara menangkap bahasa ilham itu, bagaiman bentuknya. Kan semua jadinya seperti MBULAT begitu. Nggak jelas ujung pangkalnya. Akhirnya kita hanya bisa duduk termangu merenungi ketidakmampuan kita. Kalaupun kita berjalan, pundak kita seperti digayuti oleh beban dihati hati kita yang seberat gunung. Capek, lelah, dan putus asa.
Akibatnya…, selama ratusan tahun yang lalu bahkan nyaris sampai sekarang ini umat islam seperti terkucil dari peradaban dunia. Sebenarnya ruang batin kita semua sedang dilanda oleh berbagai kepedihan, dan itu kan seperti kepedihan hidup di dalam neraka saja sebenarnya…
Lalu masihkah kita tidak bersedia untuk singgah diruang batin kita sendiri, dimana Allah berkenan untuk dengan mudah merestorasinya menjadi ruang batin seperti yang dimiliki oleh Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali?. Seperti juga ruang batin para Waliyullah, misalnya Al Ghazali, Ibnu Qayyum, Ibnu Athailah, dan sebagainya?.
Entahlah…,
Fabiayyiaala irabbikuma tikazzibaan…
Wallahu a’lam
Deka,
Penghujung tahun,
29 Desember 2011
Jl. Santani No 31, Cilegon.
Subhanallah… Teramat indah dan idaman tiap insan,apa yang pak deka jabarkan… Menambah keyakinan untuk tetap dan tetap berada disini,bersama para sahabat,orang tua dan guru saya…yg berada di solat center ini. Terima kasih ya allah.. Engkau baik… Pak deka semoga allah tetap melimpahkan karunia ilham dan ilham yg akan jadi pencerahan,bagi kami yg baru menemui perjalanan menuju pulang .. Alhamdullilah… Terima kasih ya allah.
Sgt berguna bagi saya,dan saya senang dapat pesan ini dari teman saya.its good
Assalamualaikum wbt, Ustaz Deka..sungguh sangat jelas cara untuk mendekatkan diri ke Maha Agung..Syukur yaAllah..terima kasih pada Ustaz..
Allah…I am home.. i am home…i am home….terima kasih atas pencerahannya pak Deka….