Kisah ini adalah “sejumput” pengalaman pribadi saya dari Temu Nasional Little Madinah di Shalat Center Jatibening tanggal 24-25 Desember 2011…
Shalat Dzuhur…
Siang itu, 600 orang jamah siap-siap melakukan shalat Dzuhur berjamaah. Karena jamaah yang ikut adalah orang-orang yang sudah pernah mengikuti pelatihan Shalat khusyuk, maka dengan logika berfikir sederhana saja, semuanya tentu ingin khusyu pula dalam shalat Dzuhur itu.
Pak Ewien meminta saya untuk jadi imam…
Allahu akbar…
Lho kok…Hambar…
Entah kenapa, Dzuhur ini shalatnya terasa hambar. Banyak jemaah yang ngantuk dalam shalat itu.
Saya sebagai imam, jadi asyik sendiri dengan rasa sambung saya, sementara jemaah tidak terbawa. Lokomotifnya tidak membawa gerbongnya. Walaupun rukuk sujudnya lama, tapi shalat itu tetap hambar…, kosong…!. Siang itu saya digayuti oleh sebongkah rasa bersalah kepada para sahabat saya. Karena saya tidak bisa memegang amanah sebagai seorang imam.
Tapi alhamdulillah, Allah menurunkan sebentuk kepahaman kedalam dada saya.
“La tahzan…, diamlah hamba-Ku…
Akulah yang menurunkan kekhusyuan itu. Siang ini, Ku buat shalat kalian hambar, sebagai pelajaran pertama bagi kalian semua. Agar kalian punya rasa pembanding. Agar kalian tahu bahwa walaupun kalian sudah tahu khusyu, sudah paham khusyu, tapi ada Aku yang menurunkan rasa khusyuk itu kedalam dadamu…!. Ketika kalian luput menghadap kepada-Ku, maka Akupun tidak menurunkan respon-Ku”.
Ketika materi pelatihan berikutnya disampaikan oleh Ustad Abu Sangkan, terbetiklah dari mulut Beliau tentang KEADAAN shalat Dzuhur tadi. Bahwa Itu adalah shalat dzuhur yang kosong dan hambar. Tidak ada sinkronisasi antara imam dan jamaah. Walaupun secara fisik, kami semua kelihatan shalat berjamaah, tapi pada kenyataannya kami shalat sendiri-sendiri, karena shaf-shaf rohani imam dan jamaah tidak lurus menghadap kepada Sang Akbar, Sang A’laa, Sang Adhiem…, sehingga tidak ada respon-Nya yang turun dalam shalat itu. Jadilah shalat dzuhur itu hambar dan kosong…
Saat Ustad Abu menyebutkan kesalahan saya itu, sayapun memandang Sang Maha Meliputi…, saya hanya berucap kepada Sang Maha Meliputi: “Benar ya Allah…, maafkanlah hamba…”.
Lalu acarapun berlanjut dengan berbagai pemahaman dan sekaligus prakteknya.
Bahasa Allah…
Banyak diantara kita yang mengira bahwa iman, taqwa, ihsan, ikhlas, sabar, bahagia, khusyuk, dan beberapa terminologi lainnya dalam agama islam, seperti zuhud, ikhbat, wara’, raja’, istiqamah, tawakkal, ridha, syukur, tawadhu’, azam, mahabbah, musyahadah, mukasyafah, musyahadah, hayat, ma’rifat, fana, wujud, dan lain-lain sebagainya adalah ilmu yang bisa dipelajari melalui buku-buku maupun melalui ceramah-ceramah agama. Makanya umat islam seperti berusaha untuk membeli berlemari-lemari buku, dan menghadiri berbagai pengajian serta ceramah seperti tak henti-hentinya. Kelihatan sekali kita umat islam ini sibuk dan ramai mencari sesuatu yang belum ketemu. Entah apa yang kita cari.
Padahal sebenarnya banyak sekali terminologi dalam agama islam ini yang berkenaan dengan keadaan atau suasana didalam diri kita sendiri. Yaitu keadaan atau suasana jiwa kita, keadaan dada kita, keadaan hati kita sebelum, sedang, dan sesudah kita melakukan sebuah aktifitas agama (syariat). Tidakkah aktifitas shalat itu mudah sekali kita lakukan?. Puasa dan dzakatpun pada tatanan tertentu sangat mudah kita laksanakan. Begitupun menunaikan ibadah haji. Apalagi kalau hanya sekedar menyebut nama Allah dan kalimat-kalimat thayyibah (baik) lainnya. Sama mudahnya.
Tetapi masak sih agama islam itu hanya begitu-begitu saja. Mungkinkah dulu Rasulullah akan berhasil mengislamkan dan mengimankan bangsa Arab jahiliyah saat itu, kalau kualitas beragama yang Beliau sampaikan hanya seperti yang kita sampaikan dan lakukan sekarang-sekarang ini?. Bukankah dengan cara-cara seperti yang kita lakukan sekarang ini malah membuat umat islam ini terpecah-pecah jadi nggak karuan?. Padahal dulu Beliau berhasil merubah sebuah kaum, bangsa, dari bangsa yang berada dalam masa kegelapan dan keterpurukan yang amat sangat menjadi umat yang terbaik yang pernah hidup dimuka bumi ini.
Saat itu ditengah-tengah panas terik cahaya matahari gurun yang memanggang kulit, bangsa arab malah seperti hidup dalam keadaan gelap gulita yang terus menerus. Cahaya matahari itu seperti tidak berhasil menembus hati mereka, sehingga hati mereka tetap gelap gulita.
Tapi cukup dengan hanya sebuah peristiwa, yaitu peristiwa di Gua Hira’, maka penduduk Mekkah seperti mulai mendapatkan sinar matahari yang menerangi jalan-jalan yang akan mereka lalui. Ada cahaya yang menerangi batin mereka. Sehingga dengan pasti merekapun seperti menjalani sebuah destiny mereka untuk menjadi umat yang terbaik.
Ketika di Gua Hira’ tersebut, Beliau dituntun oleh Malaikat Jibril untuk membaca “sesuatu”: “Iqraa ya Muhammad…, bacalah ya Muhammad…!”. Beliau menjawab: “Ma ana bi qari…, saya nggak bisa baca…, apa yang harus saya baca…, saya nggak ngerti?. Berkali-kali Beliau disuruh membaca oleh Jibril, dan berkali-kali pula Beliau hanya menjawab bahwa Beliau tidak tahu apa yang akan dibaca. Sebab didepan Beliau hanya ada keadaan yang gelap gulita dengan sedikit cahaya dari kerlap-kerlip bintang dilangit.
Iqraa’ bismirabbik…, bacalah dengan nama Tuhanmu…!. Bacalah…
Lalu Beliaupun memanggil nama Allah…!.
Ya Allah…,
Ya Allah…, lalu dengan seketika itu juga terbentuklah sebuah TALI hubungan batin yang sangat rahasia antara Beliau dan Allah. Batin Beliau seperti dibuka oleh Allah untuk menerima seuntai TALI yang dijulurkan oleh Allah sendiri. Nantinya tali itu akan berfungsi sebagai sarana bagi kedua batin itu untuk saling membawa dan mengantarkan informasi.
Karena Beliau memang seorang manusia yang agung, diri yang dipilih oleh Allah sendiri untuk menyampaikan ayat-ayat Allah kepada seluruh umat manusia, maka Allah sendiri pulalah yang membuat tali penghubung antara batin Beliau dengan Allah itu. Akibatnya, melalui tali itulah Beliaupun dengan deras menerima berbagai informasi yang memang seharusnya diketahui oleh seluruh umat manusia.
Melalui tali antara dua batin itu, maka kemudian mengalirlah sebentuk vibrasi atau daya yang tidak terbaca oleh hati yang gelap. Daya yang tak terbaca oleh Iblis. Daya atau vibrasi itu hanya akan terbaca oleh hati yang bening seperti hati yang dimiliki oleh Beliau. Proses mengalirnya informasi dan kepahaman dari Allah kedalam dada Beliau inilah yang disebut juga sebagai Wahyu, atau Ilham.
Begitu vibrasi itu turun, tubuh Beliaupun bergetar hebat. Tapi bergetarnya tubuh Beliau itu hanya sebagai pertanda awal saja bahwa, setelah itu, sebuah informasi penting siap untuk diturunkan Allah melalui Tali penghubung antara kedua batin yang saling mencintai itu tadi.
Lalu beberapa saat kemudian, sejumput Daya vibrasi yang sangat lembut yang membawa kepahaman, yang membawa kemengertian, yang membawa pengetahuan, yang membawa keadaan saat awal penciptaan awal manusia di dalam rahim ibupun turun memasuki dada Beliau. Malaikat Jibrilpun hanya tinggal menuntun Beliau untuk membahasakan Wahyu Pertama itu kedalam bahwa Arab. Bahasa kaum Beliau dimana Beliau akan memulai tugas Beliau sebagai Rasulullah. Beliau dituntun untuk membahasakan wahyu pertama itu menjadi beberapa ayat didalam surat Al ‘Alaq.
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(QS Al ‘Alaq 1-5)
Begitulah, salah satu diantara beberapa cara, turunnya setiap Pengajaran dan Perintah dari Allah kepada Beliau untuk dipakai oleh seluruh umat manusia untuk menyelesaikan urusan-urusan mereka, atau segala informasi yang akan berguna untuk kebaikan hidup seluruh suku dan bangsa. Memang ada beberapa lagi cara Beliau menerima Pendidikan dan Pengajaran dari Allah. Tapi itu bukan menjadi sesuatu hal perlu dibahas disini.
Dengan turunnya Wahyu Pertama ini, maka metoda pengajaran Allah kepada Beliau kembali mengikuti cara-cara seperti yang pernah dialami oleh Nabi-Nabi dan Rasul-rasul sebelum Beliau. Dan dengan metoda seperti ini pulalah kelak Allah akan mengajari seluruh umat manusia setelah Beliau wafat. Yaitu melalui bahasa ilham. Bahasa wahyu yang langsung diturunkan Allah kedalam dada setiap umat manusia.
Atau, bahasa Allah itu bisa pula terlebih dahulu diawali dengan sebuah tabir (tanda) yang diperlihatkan oleh Allah, dimana dengan tabir itu sebenarnya Allah sedang menyampaikan sebuah informasi yang baik ataupun yang buruk kepada umat manusia. Atau, bisa pula Allah mengutus seseorang yang sebelumnya telah diberi pengertian dan pemahaman terlebih dahulu melalui wahyu atau ilham seperti diatas untuk kemudian dia tinggal hanya menyampaikannya kepada orang-orang yang sama-sama mau belajar dan memahami tentang hal yang sebenarnya.
Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (As Syuura 51).
Dengan cara seperti inilah Allah akan mengajarkan umat manusia yang bersedia untuk diajari Allah tentang keadaan yang sebenarnya dari: iman, taqwa, ihsan, ikhlas, sabar, bahagia, khusyuk, dan beberapa terminologi lainnya dalam agama islam, seperti zuhud, ikhbat, wara’, raja’, istiqamah, tawakkal, ridha, syukur, tawadhu’, azam, cinta, mahabbah, musyahadah, mukasyafah, musyahadah, hayat, ma’rifat, fana, wujud, dan lain-lain sebagainya.
Yaitu melalui tali yang menghubungkan dua batin. Melalui tali itulah Allah menurunkan vibrasi pengajaran-Nya kepada orang-orang yang bersedia untuk menyediakan batinnya untuk dihubungkan dengan batin Allah.
Tapi, percaya atau tidak, Allah tidak akan mengalirkan informasi itu kalau kita tidak punya urusan dengan Allah, dan Allah tidak punya urusan pula dengan kita. Allah hanya akan menurunkan ilham tentang serba serbi ketaqwaan itu hanya bagi orang-orang yang bersedia untuk menjadi penyampai ayat dan pengajaran Allah kepada orang lain disekitarnya. Walau itu hanya sekedar satu atau dua ayat sekalipun, itu tidak jadi masalah. Sebab Allah, dengan segala keagungan-Nya, selalu mencari dan mencari orang-orang yang mau dan bersedia dipakai oleh Allah sebagai alat-Nya untuk menyampaikan pengajaran-Nya dan untuk menjadi agen bagi kemaslahatan umat manusia. Siapapun yang bersedia, pasti akan dibantu dan dibela oleh Allah. Pasti.
Kalau kita ujug-ujug datang kepada Allah, walau dengan dzikir dan wiridan yang sebanyak apapun, Allah tidak akan menurunkan pengajaran-Nya kecuali untuk apa-apa yang kita kehendaki ketika kita datang menghadap kepada-Nya. Walau dengan zikir atau wiridan itu kita bisa menangis dan tubuh kita bergetar, Allah tetap hanya akan memberikan apa-apa yang kita minta didalam doa kita itu sekedar apa yang Dia ijinkan. Allah hanya akan memberikan respon-Nya sekedar atas apa-apa yang kita niatkan.
Kalau kita menghadap Allah dengan membawa keinginan hawa nafsu kita, maka Allah tidak akan memberi yang lain kecuali apa-apa yang berguna untuk pemenuhan hawa nafsu kita itu. Dan nanti kita akan semakin diperbudak oleh keinginan berikutnya dari hawa nafsu kita itu yang seperti tidak habis–habis. Dalam istilah agama islam keadaan seperti ini disebut sebagai ISTIDRAJ. Keadaan dimana kita seperti sedang diulur oleh Allah dengan cara kita bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan. Bisa?. Ya bisa. Karena Allah sendiri menyatakan bahwa Dia itu berkenan bersifat dan berbuat seperti apa yang kita pikirkan.
Sebenarnya tugas kita ini mudah saja. Yaitu untuk mengamati batin kita. Kita sedang menghubungkan batin kita dengan siapa ataupun apa. Kalau batin kita sedang terhubung dengan benda, maka pastilah pembicaraan kita akan selalu tentang benda itu. Kalau batin kita sedang terhubung dengan sebuah konsep atau persepsi, maka seluruh pembicaraan dan tingkah laku kita pastilah akan berkenaan dengan konsep dan persepsi itu. Kalau batin kita sedang menghubungan batin kita dengan batin guru kita sekalipun, maka pembicaraan kita pastilah akan lebih sering untuk mengagungkan guru kita itu. Kalau batin kita sedang kita hubungkan dengan sebuah kitab atau buku, maka seluruh pembicaraan kita pastilah akan berkenaan dengan kehebatan kitab atau buku itu.
Lalu hubungan batin kita dengan batin Allah kita jadikan hubungan yang keberapa?. Bukankah Allah tidak berkenan untuk dinomorduakan?. Apalagi untuk dinomorsekiankan. Akibatnya, karena ketiadaan Tali yang menghubungan batin kita dengan Allah, maka maka segera saja batin kita akan terhubung dengan apa-apa yang selain Allah. Dan kitapun akan menjadi budak dari apa-apa yang selain Allah itu.
Tahu tidak, bahwa akibat yang paling menyiksa sebenarnya adalah ketika kita tidak dapat lagi memahami jawaban Allah terhadap apa-apa yang kita lakukan atau kita sampaikan kepada Allah. Saat kita shalat, shalat kita hambar dan kosong. Saat kita berdo’a, kita tidak bisa lagi paham tentang apa jawaban Allah atas do’a-do’a kita itu. Saat kita berucap rabbighfirli, warhamni, wajburni, warfa’ni, wardzuqni, wahdini, wa’afini, wa’fuanni, kita tidak paham apa jawaban Allah kepada kita.
Bahkan kita juga tidak paham apakah do’a kita itu adalah do’a karena keinginan hawa nafsu kita, atau apakah do’a itu karena Allah memang telah BERKENAN atau MENGIJINKAN kita untuk segera berdo’a.
Demikianlah sekelumit cara Allah merestorasi pemahaman saya dalam Temu Nasional Little Madinah di Shalat Center Jatibening tanggal 24-25 Desember 2011…
Allah memulai dulu dengan dengan sebuah keadaan dimana saya sebagai imam dan 600-an makmum gagal dalam mendapatkan keindahan shalat dzuhur dihari pertama temu nasional LM seluruh Indonesia. Lalu secara bertahap, kemudian Allah berkenan merestorasi, memulihkan kembali, kegagalan itu dalam sebuah proses yang alangkah lembutnya.
Setelah jamaah berlatih menghubungkan batinnya dengan Allah, maka jemaahpun secara mengejutkan dapat membaca keadaan yang turun melalui tali yang menghubungkan batin jamaah dengan Allah. Maka diakhir acara, jamaahpun seperti berebutan untuk mengucapkan kesediaan mereka untuk menjadi wakil Allah, menjadi wadah tempat dimana Allah menurunkan pengajaran-Nya untuk nantinya disampaikan kepada orang-orang yang ada disekitar mereka saat mereka nanti kembali pulang kedaerah masing-masing.
Bismilllahi Allahu akbar…
Lalu semua pesertapun pulang kedaerah masing-masing, termasuk Malaysia dan Singapore, dengan mata berbinar, dan dengan dada yang bergemuruh…
Salamun qaulan minRABBI rahim…
Deka
26 Desember 2011.
Cilegon, Jl . Santani no 31
dahsyat…pak…..terima kasih Allah