Muatan Utama Al Quran adalah untuk menunjukkan: “itu lho Allah”…!.
Tujuannya agar kita tidak ribut lagi berbicara tentang Allah.
Agar kita bisa berkata: “oo… iya ya…, Ehh… betul lho…”.
Dengan harapan kita bisa selesai tentang Allah…
Karena apapun perbincangan kita tentang Allah diluar Al Quran itu, pastilah Allah tidak serupa dengan isi perbincangan kita itu.
Selanjutnya, tinggal sederhana sekali sebenarnya:
Kita tinggal menghadap.
Kita tinggal merunduk.
Kita tinggal sujud.
Kita tinggal sering-sering mendekati-Nya.
Kita tinggal sering memanggil Nama-Nya dengan lembut setengah berbisik,
Seakan kita punya sebuah pembicaraa rahasia dengan-Nya,
Sebagai tanda kedekatan atau keakraban kita dengan-Nya.
Ya Allah…, kita diam sejenak menunggu respon Beliau.
Ya Rabbi…, kita berhenti sejenak menanti jawaban Beliau.
Ya Allah…, kita sabar sejenak sampai Beliau berkenan menyapa kita.
Karena Allah sebenarnya selalu bertanya kepada kita:
“Kau datang menghadap-KU dengan membawa amal shaleh apa kali ini, wahai hamba-Ku??”,
maka kita tinggal datang kepada Allah secara berkala untuk melaporkan progres amal saleh kita terhadap segenap penghuni bumi, terutama terhadap sesama manusia…!.
Al quran juga memberitahu tentang keberhasilan seorang Muhammad SAW.
“Ada Muhammad lho…”
Yang teguh dalam berketuhanan,
Yang menggigit kuat tali Allah,
Wa’tashimu bihablillah.
Yang SANGAT DEKAT dengan Allah disetiap saat.
Al Quran kemudian memperkenalkan hasil kedekatan Muhammad dengan Allah.
Muhammad yang berhasil MENJADI…
Sang berguna bagi alam semesta…
Sang peduli pada penderitaan umatnya…
Sang berkarya…
Sang pembaharu…
Sedang Al hadist berupaya menerangkan, ditengah kerumitan,
ADA Kesederhanaan Muhammad dalam tadzkiyatunnafs:
Bagaimana Beliau Dzikrullah.
Bagaimana Beliau Shalat.
Bagaimana Beliau Puasa.
Bagaimana Beliau Zakat, infaq, sedeqah.
Bagaimana Beliau melaksanakan Haji.
Kesederhanaan Beliau dalam bermuamalah.
Kegigihan Beliau dalam beramal shaleh
Kemumpunian Beliau dalam berbangsa dan bernegara.
Sebenarnya kita tinggal mengikuti dan mencontoh Beliau dengan PAS (TEPAT) tentang bagaimana Beliau BERKETUHANAN. Sedangkan dalam AMAL keseharian, kita tinggal mencontoh Beliau sesuai dengan FITRAH atau UKURAN kita masing-masing. Sebab setiap kita pastilah punya tugas khusus yang boleh jadi berbeda dari orang ke orang.
Tapi entah kenapa kebanyakan kita, sudah sejak lama sekali, malah senangnya:
Ngotot berbicara tentang Allah menurut pendapat si fulan.
Sibuk menafsirkan keteladanan Muhammad menurut persepsi golongan-golongan.
Akibatnya kita tidak bisa lagi dalam keseharian kita untuk:
Memahami KEHIDUPAN dan KEMATIAN secara sederhana.
Memilah antara BENAR dan SALAH secara sederhana.
Memisahkan antara BAIK dan BURUK secara sedehana.
Kita malah jadi sibuk dengan pesan LEGENDA.
Kita jadi terbelah dalam dunia serba KULTURAL.
Kita jadi sangat ahli dalam ILMU BAHASA dan HUKUM-HUKUM.
Kita jadi sibuk menjalankan RITUAL tanpa makna.
Kita jadi asyik BERMITOLOGI.
Ah…, apakah sama antara kesederhanaan dengan kerumitan?.
Wassalam
Deka.
Andaikan ustad ustad di Taklim taklim seperti Bapak,saya yakin islam diIndonesia mempunyai Ruh ,jadi tidak hambar,tidak sekedar ritual ritual keagamaan ,
Assalamualaikum wbt, Ustaz Yus, sungguh bermakna buat saya penerangan ini..yaAllah yaRahman yaRahim..ingin sangat mendapatkan apa yg Ustaz katakan ini.
Mohd Sarif Attip
Sabah