Selama ini mungkin kita menganggap enteng saja untuk menyebut nama Allah. Karena memang pada kenyataannya kalau hanya sekedar menyebut nama Alah, kesannya tidak ada susahnya sedikitpun. Nama Allah bisa diucapkan oleh orang beragama apa saja, bahkan orang yang tidak beragamapun dengan mudah bisa mengucapkannya.
Allah…, ah mudah sekali mengucapkannya.
Tapi berikut ini adalah dua buah kisah nyata tatkala ada orang yang sangat susah menyebutkan nama Allah itu, dan pada kesempatan lain ada pula orang yang terhalang rohaninya menuju Allah. Seakan-akan Allah menahan dan menghalangi seseorang untuk menyebut nama Allah yang sebenarnya menggetarkan alam semesta, atau Allah menghalangi seseorang untuk datang kepada-Nya, padahal itu hanyalah sebuah keniscayaan belaka. Kisah ini saya nukilkan dari pengalaman seorang sahabat saya ketika dia melatih berketuhanan kepada dua orang yang berbeda.
Kisah pertama:
Suatu saat seorang yang mengaku muslim ikut berlatih dengan sahabat saya tersebut. Pada awalnya saat disuruh menyebut nama Allah, dia bisa mengucapkannya dengan mudah. Ya Allah…, ya Allah…
Pada saat ruhaninya mulai direspon oleh Allah. Tubuhnya bergetar. Kemudian dia diminta untuk bersyahadat. Sahabat saya mencontohkan mengucapkan Laa ilaha illallah…. Tapi yang keluar dari mulut orang tersebut hanya ucapan laa ilaha illa…, berulangkali dia diminta untuk menyempurnakan kalimat tauhid tersebut, namun dia tetap hanya bisa mengucapkan laa ilaha illa… Tidak dengan kalimat yang lengkap. Dia seperti dihalangi untuk mengucapkan kata Allah dalam kalimat laa ilaha illa Allah… Dia tidak bisa mengucapkan kata Allah. Hatinya dan lisannya seperti dihalangi oleh Allah untuk mengucapkan kata Allah itu, untuk menyempurnakan kalimat tauhidnya. Akhirnya dia disuruh berhenti dan diam. Kemudian dia diminta kembali untuk menyebut nama Allah. Anehnya saat itu lidahnya kembali bisa menyebut nama Allah itu dengan mudahnya.
Lalu sahabat saya bertanya:
“Ada apa dengan anda, sampai-sampai anda tidak bisa sedikitpun mengucapkan dan menyebut nama Allah yang Agung dengan ruhani dan lisan anda tadi”.
Lalu dia bercerita panjang lebar, bahwa dia memang orang islam. Tapi beban hidupnya sangat berat. Sampai suatu saat karena sudah tidak kuat lagi menahan beban penderitaan, dia datang kepada seorang pintar. Dia berharap bahwa orang pintar itu bisa mengurangi penderitaannya. Singkat kata, sejak itu sampai sekarang dia selalu berharap bahwa orang pintar itu bisa membuat hidupnya lebih baik. Berkali-kali begitu.
Cuma sayang, orang ini setelah latihan pertama itu, tidak melanjutkan latihannya lagi sampai sekarang.
Kisah kedua:
Saat sahabat saya berlatih dengan seseorang yang lain lagi, kejadian diatas berulang kembali, tapi dengan keadaan yang berbeda. Rohani orang tersebut seperti tertahan dan tidak bisa bergerak. Walau dia sudah berteriak sekerasnya menyebut nama Allah, namun Allahnya seperti diam saja. Tidak ada respon sedikitpun dari Allah. Seakan-akan dia sedang memanggil benda mati. Memangggil batu. Dia memang menangis menangis, tapi tetap saja seperti ada yang menghalangi perjalanan ruhaninya menuju Allah Tuhan Semesta Alam.
Kepada orang ini, sahabat saya juga mengajukan pertanyaan yang sama:
“Ada apa dengan anda?. Anda seperti dihalangi oleh Allah untuk mendatangi-Nya.”
Orang tersebut lalu bercerita tentang dirinya. Bahwa dia sudah sekian lama belajar sebuah tarekat atau sebuah aliran tertentu. Setiap dia ingin berzikir, dia selalu harus terlebih dahulu membayangkan wajah gurunya. Begitulah setiap saat dia lakukan dari dulu sampai sekarang…
Singkat kata, akhirnya orang tersebut diminta untuk istighfar kepada Allah. Dia diberitahu dan ditunjukkan bahwa Allah kita adalah Tuhan Semesta Alam. Allah yang tidak mau disekutukan dengan siapapun dan disejajarkan dengan bentuk apapun juga. Allah yang tidak mau diserupakan Wajah-Nya dengan rupa dan wajah manusia atau benda-benda.
Lalu setelah itu, dia diminta menghadap kepada Allah. Lalu memanggil nama Allah dengan perlahan. Ajaib, rohaninya seperti melesat menuju Yang Maha Tinggi. Tubuhnya tersungkur. Dia menangis histeris. Saat dia diminta mengucapkan Laa ilaha Illallah…, ucapan laa ilaha illallah itu seperti keluar dari lubuk hatinya yang terdalam. Ucapan Laa ilaha illallah dia keluar dengan utuh dan sempurna. Ruhaninya bersaksi, lidahnya berucap. Diapun seperti terlepas dari sebuah tembok penghalang yang menghijab dirinya dengan Allah selama ini…
Pelajaran yang bisa dipetik…
Mengucapkan nama Allah…, memang sangat mudah sekali kita lakukan. Semudah menarik nafas kita. Karena untuk mengucapkan kata Allah itu kita hanya tinggal menggetarkan kerongkongan dan lidah kita, lalu keluarlah suara dengan lafaz berbunyi ALLAH…
Tetapi sungguh tidak banyak kita yang paham dan mengerti, walau kita sudah tahu, bahwa saat kita mengucapkan kata Allah itu berbarengan antara ruhani dan jasmani kita (ruh dan lidah kita), maka ucapan itu akan sangat jauh berbeda dengan ucapan yang hanya sekedar dibibir kita saja. Kalau ada yang tidak percaya, ya nggak apa-apa kok. Karena ini memang sebuah keadaan yang berasal dari pengalaman. Bukan hanya sekedar ilmu.
Pada dasarnya, karena ruh kita adalah milik Allah yang ditiupkan Allah kedalam jasmani (nafs) kita, maka ruh itu akan selalu punya kecenderungan untuk kembali kepada Allah. Selalu begitu. Salah satu contoh saat-saat kembalinya ruh kita kepada Allah adalah ketika kita tidur. Ketika tidur itu ruh kita kembali kepada Allah. Ini adalah hal yang sangat niscaya. Makanya tidak ada manusia yang tidak ingin untuk tidur. Semua kita pada saat-saat tertentu ingin tidur. Saat tidur itu, tubuh kita seakan-akan telah menjelma menjadi seonggok daging hidup yang tidak punya kesadaran apa-apa. Ruh penghuni tubuh kita seperti sedang diambil kembali oleh Allah, sang empunya ruh itu. Oleh karena itu, walaupun saat tidur itu jantung kita masih berdenyut, paru-paru kita masih menguncup dan membuka, darah kita masih mengalir, namun rasa melihat kita, rasa mendengar kita, rasa tahu kita, rasa hidup kita, rasa kesadaran kita seperti hilang tak berbekas. Kita seolah-olah telah menjadi tubuh yang mati. Tubuh yang tidak bisa apa-apa. Nanti ketika ruh itu dikembalikan oleh Allah kedalam tubuh kita, maka kita kembali punya kesadaran. Kita kembali punya rasa melihat, rasa mendengar, rasa tahu, rasa hidup. Dan biasanya, setelah tidur itu kita akan menjadi lebih sehat dan lebih segar dari keadaan kita sebelum tidur.Selalu begitu.
Kadangkala perjalanan pulang ruh kita pulang ke Allah itu terhalang oleh sesuatu. Misalnya saja, sesaat sebelum tidur kita menonton sebuah film horor yang menakutkan didepan tivi, lalu kita tertidur, maka biasanya tidur kita akan seperti berhenti dialam film horor yang kita tonton tadi. Tidur kita akan gelisah. Kita seperti terkurung dialam yang menakutkan. Ini disebut juga berada di alam mimpi. Walaupun mimpinya hanya sebentar, tapi kita capeknya luar biasa.
Keadaan yang sama juga akan kita alami ketika kita tidak sering-sering melatih pengembalian ruhani kita ini kepada Allah dengan sukarela. Ketika perjalanan ruhani kita terbiasa kita hentikan kepada segala sesuatu yang bukan Allah, berhala, maka ruhani kita juga akan tertahan di berhala itu. inilah yang disebut sebagai syirik. Yaitu menempatkan sesuatu antara kita dengan Allah, sehingga kepulangan ruhani kita ke Allah jadi terhalang. Ruhani kita berhenti di berhala tersebut.
Syirik itu, memang sangat-sangat tidak kentara. Dulu saat saya sedang getol-getolnya ikut sebuah tarekat, dengan sedikit pengolahan pernafasan, saya ingin bertemu dengan seorang guru gaib, dan itu ternyata memang bisa. Tetapi dibalik itu semua, yang saya dapatkan saat itu, malah menyulitkan saya untuk memenuhi panggilan shalat dengan khusyu. Dalam shalat saya malah asyik berkelana kealam-alam yang entah alam apa namanya. Keadaan seperti Itu namanya adalah KARAM. Lebih enak karamnya dari pada shalatnya.
Ciri-ciri berikutnya tentang tanda-tanda adanya penghalang antara ruhani kita dengan Allah adalah munculnya keangkuhan kita. Kita merasa hebat dan serba bisa. Apa-apa, aku kitanya yang ditonjolkan. Sedikit-sedikit kita akan berbicara tentang saya. Dimana-mana berbicara tentang aku. Kalau berhala kita itu adalah guru kita, mursyid kita, maka dimana-mana pembicaraan kita adalah tentang mursyid kita itu, guru kita itu. Kita akan berbicara tentang kehebatan guru kita, kesaktian mursyid kita, kesucian mursyid dan guru kita. Kalau penghalang kita itu adalah berupa ilmu kita, maka setiap saat kita akan berbicara tentang ilmu kita, tentang tahu kita. Saat yang menjadi penghalang kita itu adalah harta kita, maka kita akan berbicara terus tentang seluk beluk harta kita, cara mendapatkan harta kita, tentang kedermawanan kita.
Kita jadi sulit sekali untuk merendah kepada Allah. Kalau hanya sekedar rukuk dan sujud saja sih sangat mudah sekali. Kalau hanya sekedar berkomat kamit sih gampang banget. Tapi untuk sujud dan rukuk yang ada rasa sujud dan ada rasa rukuknya jadi sulit sekali. Untuk merendah yang ada rasa merendahnya kepada Allah…, duh ampun sulitnya.
Jadi …, ternyata apapun juga bisa menjadi penghalang kita dengan Allah. Tahu tidak, akibat yang paling menggenaskan adalah bahwa kita sekarang ini sudah tidak sanggup lagi membaca dan memahami bahasa Allah dibalik hijab-Nya. Percaya atau tidak, sebenarnya, ketika hujan turun atau hanya sekedar mendung tebal menggayut dilangit, yang merupakan salah satu bentuk hijab-Nya, Allah saat itu sedang menyampaikan sebuah pesan kepada semua orang. Bisa saja pesan itu berupa kemurkaan-Nya, kemarahan-Nya, tidak ridha-Nya dan bisa juga itu hanya sekedar pesan awal dari-Nya atas sebuah kejadian yang akan terjadi. Begitu juga saat kilat menyambar, petir bergemuruh, saat itu Allah juga sedang menyampaikan sebuah pesan-Nya kepada kita. Pesan itu bisa berupa kesedihan, bisa juga sebuah kabar gembira. Pesan yang bisa ditangkap dengan mudah oleh lebah, oleh, semut, oleh binatang ternak, bahkan oleh tumbuhan.
Padahal Allah berpesan bahwa:
“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (As Syuura 51).
Pembicaraan Allah yang bagaimanakah yang bisa kita tangkap, baca, dan pahami sekarang?. Sebab ketiga cara Allah berbicara dengan kita seperti yang diterangkan ayat diatas masih terjadi sekarang ini, saat ini juga, dan disini…
Astagfirullahal adhiem…
Ya Allah…, hamba berlindung kepada-Mu dari kemusyrikan. Sudah kusaksikan hamba-Mu yang mengaku muslim namun masih tetap berharap kepada orang pintar jadi tidak mampu menyebut namamu dari dalam hatinya hingga lisannya. Meski dalam keadaan biasa dia bisa menyebut nama-Mua lewat lisannya.
Ya Allah hamba berlindung kepada-Mu dari keakuan hamba yang membuat hamba digurukan. Sudah hamba saksikan para guru kerohanian menghijab pengikutnya untuk datang kepada-Mu…
Ya Allah…, ampunilah hamba kalau hamba bersalah…
Wassalam…
Cilegon, 19 Desember 2011
Deka, Jl. Santani no 31.
pak yus terima kasih atas uraian dan wejanhannya, semoha kita bisa belajar dari kejadian itu…
saya ingin bertanya dengan keadaan saya, dan mungkin jadi pertanyaan sekian teman2 yang sejalan…awal awal belajar patrap saya merasa sangat mudah untuk sambung ke Allah baik dalam sholat, duduk, bekerja ataupun lainnya, namun setelah sekian lama kenapa sensasi ataupun kesadaran yang begitu kuat pada Allah (Pekat menyelimuti kesadaran saya) seolah berangsur menjauh atau seperti ada perubahan ketimbang yang awal2 dulu..apakah hal ini karena dosa2 atau gmna pak?? ataukah karena latihan saya tidak seperti yang dulu2??
mohon sharingnya pak.
sebenarnya itu bukan menjauh pak, tapi kita stagnant, berjalan ditempat, sehingga otak kita jadi bosan. Yang tidak akan bosan ternyata adalah ketika kita mendapatkan getaran iman yang tak henti-hentinya.
salam
deka
benar ustad..kemudian..apa yang harus saya perbuat ust agar bisa keluar dari keadaan “jalan ditempat” itu?